[Korean Fanfiction/Straight/Series] Whether I Hate You or Not (Chapter 12)

Cover ff Whether I Hate You or Not chapter 12

Title                       : Whether I hate you or not

Author                  : Kim Sae na a.k.a Devi

Rating                   : PG13/NC17/Straight/Series/On Writing

Genre                   : Romance/Angst/Tragedy/Family/Life

Cast                       :

Main Cast            :

Super junior – Lee Donghae

Kim Yoonmi

Choi Saena (OC)

Support cast           :

SHINee – Choi Minho, Kim Jonghyun

Kim Yoonhee(OC)

Other Cast : FIND BY YOURSELF!

Disclaimer          : Super junior,SHINee, and SNSD  are belong to God,SM Entertaiment,and their parents. The Original Character is mine. This fanfic is just for fun. Please No Bash! and please don’t sue me.If you don’t like this fanfic. Please don’t read. This story is mine.Don’t take this fanfic without permission from me. If you want to take this fanfic.Please take with full credit.          

Warning               : Lolicon,a little bit violence and NC 

Author Notes : Baca cuap2 aku di bawah ^___^

Chapter 12- Save me from this pain

#NP

Super Junior – Y

FT Island – Love Sick

DBSK – Toki Wo Tomete

Kenapa mencintaimu bisa begitu menyakitkan?

***

I’m a fool to have made you cry
Letting you go was because I was lacking
Forgive me for trying to erase you
Please- so that I can breathe again

Author Pov

“ Begitukah? Gomawo, hyuk-ah, kau sudah membantuku… Jadi kemarin Donghae terlalu mabuk sehingga tidak bisa menyetir sendiri? Lalu pelayan itu meminta tolong pada seorang gadis untuk membawa Donghae pulang?”

Perasaan khwatir dan gelisah segera menyelimuti hati Yoonmi, lebih dari sebelumnya. Memang semalaman ia tidak bisa tidur karena menunggu Donghae, pria itu hanya mengatakan padanya agar jangan menunggunya karena ia akan pergi bersama Eunhyuk. Namun bagaimana bisa Yoonmi tidak menunggunya apalagi pria itu tidak pulang semalaman dan sekarang ia mendapat kabar pria itu dibawa pulang oleh wanita yang dari ciri-cirinya tidak dikenali olehnya maupun Eunhyuk.

Ne, itu yang dikatakan pelayan yang kuhubungi tadi pagi, mereka mengatakan mobil Donghae masih ada di sana. Apa kau mau aku mengambilnya?”

“ Ah, ye… aku akan ke rumah eomma sebentar lagi… Menunggu Donghae di rumah sendirian membuat pikiranku berkabut. Kalau kau sudah mendapat kabar tentangnya, tolong sesegera mungkin kabari aku, ne?”

Geurae… kau baik-baiklah di sana, aku akan mengabarimu sesegera mungkin… Mianhae, Yoonmi, ini semua karena aku meninggalkannya di sana sendirian.”

Gwenchana, hyuk, kau tidak salah, kemarin anakmu sakit, jadi kau tidak mungkin tetap berada di sana bersama Donghae kan?”

“ Aku yakin Donghae baik-baik saja…”

Yoonmi meletakkan ponselnya di atas meja dan kembali tercenung di depan cermin rias besar di kamarnya. Untungnya ini adalah hari Minggu, jadi ia tidak harus pergi ke kantor. Ia tidak akan bisa bekerja dengan tenang kalau pikirannya masih terfokus pada Donghae. Yoonmi bergerak gelisah sambil memperhatikan jarum jam yang terus berputar menandakan hari yang beranjak siang namun tidak ada satupun kabar yang membuatnya yakin Donghae dalam keadaan baik.

“ Donghae, kau di mana?”

Yoonmi mencoba menghubungi pria itu entah untuk yang keberapa kalinya sejak kemarin, namun hasilnya masih sama, ponsel pria itu aktif namun tidak ada yang menjawabnya. Pikiran Yoonmi mulai mengarah ke hal negative, bagaimana kalau gadis itu menculik Donghae demi kepentingan pribadi? Lagipula bagaimana bisa pelayan itu begitu ceroboh menyerahkan Donghae pada gadis asing?

“ Aku berharap kau benar-benar dalam keadaan baik, hae…”

Whether I Hate You or Not │©2011-2012-2013 by Ksaena

Chapter 12- Save Me From This Pain

ALL RIGHT RESERVED

Donghae Pov

Eughhhh…”

Aku bergeliat gelisah dalam tidurku, entah kenapa kepalaku terasa sakit, seperti ditusuk ribuan jarum. Aku menggerakkan tanganku secara refleks ke arah kiriku, tempat di mana Yoonmi biasa berbaring, namun aku tidak bisa menemukan dia di sana. Mungkin dia sedang menyiapkan sarapan seperti biasa.

Tunggu… kenapa aku seperti mendengar suara tangisan di sini? Apa jangan-jangan Yoonmi menangis?

Segera kupaksakan kedua mataku terbuka dan aku mendapati diriku bukan berada di tempat yang seharusnya. Lalu di mana aku? Suara tangisan itu makin terdengar jelas, sepertinya ia berada dekat denganku.

Ouch…” Aku menghalangi sinar matahari yang menusuk mataku dengan kembali menutup mataku dan membukanya perlahan-lahan, menyesuaikan dengan pancaran sinar yang menerangi ruangan ini.

Aku merubah posisi tidurku menjadi posisi duduk dan memandang sekelilingku yang ternyata benar-benar adalah tempat asing. Aku tadi sempat berpikir kalau ini adalah mimpi. Tunggu… kenapa rasanya ada yang aneh. Aku melihat ke tubuhku yang polos dan mulai menyadari ada sesuatu yang tidak benar terjadi di sini.

Aku bisa melihat seorang gadis yang meringkuk di sudut ruangan ini. Aku yakin dia bukan Yoonmi, aku sangat mengenali lekuk tubuh istriku dan aku yakin gadis yang sedang menangis itu bukan dia. Apa yang terjadi denganku semalam? Siapa dia? Kenapa aku ada di sini?

Ribuan pertanyaan lainnya masuk ke dalam pikiranku dan aku mulai bingung dengan keadaan ini. Aku dengan tubuh polos, tempat asing, gadis yang menagis… semua kenyataan itu membuatku menyadari sesuatu. Apa aku telah?

Aku berusaha mengusir pikiran itu, namun bukti-bukti yang berada mengarah ke sana. Sesuatu yang tidak seharusnya kuselami, tetapi aku tidak bisa mengingat apapun. Apa gadis itu yang membawaku ke sini dan aku tanpa sengaja telah menodainya? Itukah hal yang terjadi?

Aku ingin menghampiri gadis itu dan menyuarakan semua pertanyaanku namun aku menahan semua keinginan itu karena menyadari tubuhku yang masih belum terbalut apa-apa. Perlahan aku menarik selimut yang menutupi tubuhku dan dengan gerakan cepat memunguti semua pakaianku yang berceceran di lantai.

Aishh…”

Aku mengumpat pelan dan aku melihat gadis itu sepertinya belum menyadari kalau aku sudah bangun. Aku segera masuk ke dalam kamar mandi tanpa memperhatikannya lagi. Aku harus meminta penjelasan darinya setelah ini.

***

          “ Yaa! Siapa kau dan kenapa kau bisa berada bersamaku di sini?”

Aku menyentuh tangannya dan bisa merasakan tubuhnya menjauh dariku, bahkan aku kesulitan melihat wajahnya yang ditutup dengan kedua telapak tangannya. Aku merasa kasihan padanya, tubuhnya bergetar, dan tampaknya sentuhanku membuat keadaan tubuhnya bertambah buruk, ia tampak seperti gadis yang ketakutan.

Mianhae, tadi aku membentakmu… Angkat wajahmu dan katakan secara jujur apa yang terjadi semalam… Aku janji, aku tidak akan marah.”

Gadis itu tetap diam dan aku tidak bisa memaksanya untuk bicara. Hal yang bisa aku lakukan sekarang hanya diam dan duduk di depannya, menunggunya untuk berbicara.

Aku melirik jam yang terpasang di dinding kamar ini, jam 10 pagi, pasti Yoonmi mengkhwatirkanku yang tidak pulang semalaman. Setelah aku berkeliling dan melihat keseluruhan isi kamar ini, aku tahu gadis ini membawaku ke hotel. Aku tidak tahu keyakinan darimana, tetapi sepertinya gadis ini tidak bermaksud jahat padaku.

Dia bukan tipe gadis yang akan memanfaatkanku dengan membawaku ke hotel. Aku bisa mengingat sedikit demi sedikit kejadian semalam, aku bertemu dengan Eunhyuk, lalu dia pergi karena ada urusan, aku ditinggal sendiri dan aku mabuk.

Setelah itu aku tidak mengingat apa-apa lagi, sepertinya aku terlalu banyak meminum alkohol, pengaruhnya masih terasa sampai saat ini, kepalaku masih terasa sakit.

“ Bicaralah sesuatu, aku tidak akan menyakitimu.”

Oppa, jebal, mianhae…”

Suara itu…. Aku mengenalnya.

Aku mengarahkan tanganku dan meletakkannya di dagu gadis itu, meraba wajahnya yang basah oleh air mata dan perlahan ia mengangkat wajahnya sehingga aku bisa melihat wajahnya yang penuh dengan duka itu. Aku tidak bisa berkata apa-apa saat aku mendapati wajah seseorang yang kukenal berada di sana.

“ S… Saena?”

Gadis itu menepi kasar tanganku dari wajahnya. Aku tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini, aku seperti tenggelam dalam rasa bersalah, apa yang terjadi dengan kami semalam? Apa jangan-jangan…? Tidak! Pikiranku pasti salah.

Oppa, maafkan aku, aku tidak bisa mengendalikan tubuhku untuk menolak semuanya. Aku terlalu terhanyut dalam atmosfer itu.”

Saena berkata dengan nada pelan, tangisan kembali mewarnai ruangan ini. Aku tiak perlu penjelasan lebih, aku tahu apa yang telah terjadi semalam. Aku ingin memarahi diriku sendiri yang ceroboh, tetapi apa daya aku tidak bisa melakukan apa-apa selain diam. Terlalu terkejut dengan berita yang baru saja diproses di dalam otakku.

“ Saena, kau tidak salah… oppa yang bersalah.”

End of the Pov

***

Author Pov

Eonni, wajahmu kenapa pucat sekali?”

Yoonhee memundurkan tubuhnya dan membiarkan Yoonmi masuk ke dalam rumah. Gadis itu hanya melemparkan senyuman pada Yoonhee. Memang sejak insiden itu hubungannya dan Yoonhee sudah mulai membaik, tetapi tetap saja ada jarak diantara mereka.

“ Aku sedang tidak enak badan, Yoonhee.”

“ Apa kau sakit, eonni?”

Yoonhee meletakkan tangannya di dahi Yoonmi dan menemukan suhu tubuh gadis itu lebih tinggi dari yang seharusnya, seperti terserang demam.

“ Kau sudah minum obat, eonni? Sepertinya badanmu panas.”

Aniya… tidak usah aku baik-baik saja, Yoonhee, dimana eomma?”

Yoonhee tidak percaya begitu saja apa yang dikatakan oleh gadis itu. Wajah Yoonmi sarat dengan luka, entah apa yang disembunyikan oleh gadis itu, dibalik wajah tirus miliknya tersimpan ekspresi lain yang menandakan derita.

“ Ahh, eomma sedang berada di kamar, aku akan memanggilnya sekarang.”

Ne, gomawo, Yoonhee-ah.”

Yoonmi mengambil bantal yang berada di dekatnya dan memeluk benda itu erat-erat. Pikirannya sedikit tenang setelah bertemu dengan Yoonhee. Walaupun kecemasan tetap mendominasi, setidaknya ia tahu ada yang bisa membuatnya merasa nyaman di sini.

“ Yoonmi, di mana Donghae? OMONA! Kenapa wajahmu pucat sekali?”

Nyonya Kim segera berlari menemui anaknya itu. Dengan panik, disapunya wajah Yoonmi perlahan. Mimik khawatir segera mengganti ekspresi wajah senangnya.

“ Kenapa kau bisa seperti ini, Yoonmi? Apa kau terlalu lelah bekerja? Eomma kan sudah bilang padamu untuk banyak beristirahat. Apa kau meminum vitaminmu?”

Yoonmi berusaha tersenyum, menunjukkan pada ibunya, bahwa ia baik-baik saja. Namun rasa sakit datang mendera kepalanya, seolah-olah ada yang ingin mencabut seluruh rambut gadis itu dari permukaan kepalanya. Yoonmi memijit keningnya pelan, namun rasa sakit itu tidak berkurang.

Eomma, a…”

Yoonmi tidak meneruskan kata-katanya, rasa sakit itu semakin menyiksa, membuat pandangannya tidak lagi fokus. Wajah khawatir ibunya dan Yoonhee seperti berbayang di matanya. Gadis itu memejamkan matanya, berusaha mengusir sensasi perih yang semakin menusuknya.

“ Yoonmi, neo gwenchana?”

“ A… Aku…”

Gadis itu tidak sempat menyelesaikan kalimat yang hendak diucapkannya. Tubuhnya melorot ke pelukan ibunya. Nyonya Kim histeris mendapati anaknya secara tiba-tiba tidak sadarkan diri.

“ YOONMI… Ireona… Yoonmi…”

Eomma, tenang… Aku akan segera meminta ahjussi membawa Yoonmi eonni ke rumah sakit.”

***

          “ Bagaimana ciri-ciri gadis itu? Bisa kau jelaskan.”

“ Gadis itu berambut panjang sebahu, dari penampilannya gadis itu sepertinya masih remaja, sebelum bertemu dengan Tuan Lee Donghae di sini, gadis itu bertemu dengan temannya, lalu ketika gadis itu akan pulang ia menghampiri Tuan Lee dan menyapanya, karena Tuan Lee suah terlalu mabuk, saya minta tolong pada gadis itu itu membawanya pulang… Jwesonghamnida, Tuan…”

Pelayan itu tampak ketakutan, ia terus menundukkan wajahnya. Eunhyuk tidak bisa meluapkan emosinya begitu saja pada sang pelayan. Bagaimana pun juga posisi mereka saat itu serba salah, mereka tidak mungkin menyuruh Donghae tidur di café, atau membiarkan pria itu tidur di jalanan, sedangkan Donghae berada dalam keadaan tidak sadar akibat pengaruh alkohol.

Perasaan bersalah langsung memenuhi hatinya, kenapa ia tidak kembali ke sini setelah mengantarkan anaknya ke dokter?

Drrt drrrt

Pria berambut pirang itu merogoh saku celananya. Sedikit kesal karena ada seseorang yang menghubunginya di saat-saat seperti ini. Ia hanya bisa berharap yang menghubunginya bukan Yoonmi, karena ia masih belum tahu kabar apapun tentang Donghae. Ia juga berharap yang menghubunginya bukan Jessica, ia tidak mau gadis itu masuk terlalu jauh dalam kehidupan Donghae, padahal statusnya saat ini hanya sebatas masa lalu bagi Donghae.

“ Lee Donghae?! Akhirnya pria ini menghubungiku…”

Eunhyuk segera mengangkat panggilan dari pria yang sudah membuatnya kepalanya sakit sejak tadi pagi.

YAA! NEO EODDIGA? Kau tahu hae, sepagian ini aku sudah dipusingkan dengan kau yang tiba-tiba menghilang dari café, aku sudah bilang padamu untuk jangan terlalu banyak minum. Sekarang kau membuat Yoonmi sangat khawatir, jangan katakan sekarang kau sedang diculik anak remaja labil dan gadis itu mau meminta tebusan… astaga, hae… Ka…”

YAAAA! Aku baru saja akan menjelaskannya padamu dan hentikan celotehanmu yang membuat kepalaku sakit, aku akan pulang sebentar lagi. Satu hal, aku tidak diculik remaja labil, tapi aku ditolong oleh seseorang yang sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Jadi kau diam dan … oh ya tolong ambil mobilku di café tempat kita bertemu kemarin.”

Eunhyuk menjauhkan telinganya dari ponsel yang tengah dipegangnya. Ia tidak menyangka Donghae, seseorang yang sudah menjadi sahabatnya lebih dari lima belas tahun, bisa berubah menjadi manusia yang lebih ceriwis daripada dirinya.

“ Hyuk! Hyuk! Kau dengar aku?”

Aishh, ne, ne, aku sedang berada di café tempat kita bertemu semalam, istrimu tadi pagi sudah meminta tolong padaku untuk mengambilkan mobilmu di sini. Aku jadi bingung, sebenarnya aku ini sahabat kalian atau pesuruh kalian, huh?”

Mianhae, aku sedang ada urusan penting saat ini, aku akan menjelaskannya padamu setelah aku menjelaskan pada Yoonmi semuanya.”

“ Baiklah, Tuan Lee, kau berhutang padaku. Pertama, membuaku pusing karena semua orang mencarimu dan menanyakannya padaku. Kedua, menyuruh aku mengambil mobilmu di sini dan yang terakhir adalah berhutang penjelasan.”

“ Semua orang? Bukankah hanya Yoonmi saja yang mencariku?”

“ Ah, itu… sebenarnya ada satu orang lagi yang datang ke rumahku sambil marah-marah dan mencarimu.”

Nugu?”

“ Jessica…”

***

          Yoonmi mengedipkan matanya beberapa kali sebelum berhasil menyesuaikan keadaan matanya dengan banyaknya cahaya yang masuk. Yoonmi hanya mengingat beberapa kejadian sebelum ia berada di sini, gadis itu tahu ibunya dan Yoonhee pasti membawanya ke rumah sakit karena tiba-tiba saja ia kehilangan kesadaran dan pasti membuat kedua wanita itu histeris.

“ Yoonmi, kau sudah bangun?”

Eomma… ahhh…” Yoonmi berusaha bangkit dari posisi tidurnya menjadi bersandar. Nyonya Kim bergerak membantu Yoonmi.

“ Hati-hati, Yoonmi, uisa-nim mengatakan kau terlalu banyak pikiran dan kelelahan, daya tahan tubuhmu menjadi lemah dan akhirnya kau demam.”

Ne, eomma… aku memang sudah merasa tidak enak badan sejak kemarin tapi aku belum minum obat, setelah pulang dari sini aku akan meminumnya sekaligus meminum vitamin yang kau berikan.”

“ Untunglah kau belum memasukkan obat apapun ke dalam tubuhmu, apa kau tidak tahu wanita dalam kondisi sepertimu dilarang minum obat sembarangan?”

“ Kondisi sepertiku? Apa maksudmu, eomma?”

Nyonya Kim tersenyum dan mengusap kepala Yoonmi dengan gerakan halus.

“ Kenapa kau tidak bilang pada eomma kalau kau sedang mengandung?”

MWOYA? Mengandung? Siapa yang sedang mengandung? A… Aku?”

Yoonmi mengarahkan jari telunjuknya kepada dirinya sendiri. Ekspresi terkejut tercetak jelas di wajahnya. Kabar ini datang terlalu tiba-tiba dan di saat yang kurang tepat. Yoonmi bahagia mengetahui dirinya tengah mengandung benih dari Donghae namun di sisi lain ia sedang mengkhawatirkan keadaan pria itu.

Ne, Yoonmi-ah… Usia kandunganmu sudah menginjak enam minggu. Apa kau tidak pernah merasakan tanda-tanda kehamilan atau semacamnya?”

Yoonmi menggeleng pelan, ia merasa tidak ada yang berubah dari tubuhnya, tidak ada tanda-tanda seperti wanita hamil pada umumnya. Tidak ada morning sickness atau semacamnya yang memberikan petunjuk adanya kehidupan lain di dalam tubuhnya.

“ Ah, tidak apa-apa, untungnya cepat ketahuan sebelum kau memulai aktivitas di kantor besok. Eomma sudah hafal tabiatmu yang workaholic itu, Yoonmi. Bisa-bisa karena keasyikkan bekerja kau lupa untuk makan dan sebagainya.”

Yoonmi menundukkan wajahnya dan mengelus perutnya pelan. Memang belum jelas terlihat perubahan bentuk tubuhnya, namun Yoonmi seolah-olah bisa merasakan adanya tanda-tanda kehidupan dari sana.

Eomma bahagia sekali, Yoonmi, akhirnya kau memberikan eomma dan appa seorang cucu. Appamu pasti akan senang mendengar kabar ini.”

“ Apa maksud eomma dengan akhirnya? Bukankah aku sudah memberikan appa dan eomma seorang cucu?”

“ Ah itu… sudahlah lupakan.”

Nyonya Kim menyadari kesalahan dalam kata-katanya, dalam kondisi fisik Yoonmi yang kurang sehat ditambah keadaan gadis itu yang sedang mengandung, sangat rentan jika membicarakan hal-hal yang berbau sensitive. Nyonya Kim tahu akan hal itu dan memutuskan untuk berhenti membicarakan hal-hal yang hanya akan membuat emosi Yoonmi terpancing.

“ Di mana Yoonhee?”

“ Tadi dia minta izin pulang karena ingin mengerjakan tugas, nanti malam ia akan kembali ke sini.”

“ Katakan padanya untuk tidak usah kembali, eomma… Besok ia sekolah dan ia akan kelelahan jika memaksakan diri ke sini, aku sudah merasa jauh lebih baik, eomma.”

Yoonmi merubah posisi duduknya menjadi tiduran dengan gerakan yang amat perlahan dan terbatas. Mulai saat ini ia harus sangat berhati-hati dalam menggerakan tubuhnya. Ini pertama kalinya Yoonmi merasakan bahagia saat masa-masa kehamilan. Kehamilannya terdahulu tentu saja sangat berbeda jika dibandingkan dengan kehamilannya saat ini.

Ne, eomma akan pulang setelah Donghae sampai di sini.”

“ Donghae?”

Ne, eomma sudah menghubunginya tadi dan ia dalam perjalanan ke sini.”

Perasaan lega segera memenuhi hatinya, setidaknya ia sudah tahu Donghae berada dalam keadaan baik-baik saja. Untuk masalah pria itu yang tidak pulang semalam, Yoonmi yakin pria itu punya penjelasan dan ia tidak ingin merusak moment bahagia mereka dengan amarah yang meluap-luap, mencecar betapa lelah dirinya menunggu kabar dari pria itu.

Eomma, bisakah aku yang memberitahukan padanya tentang kabar ini?”

Nyonya Kim mengangguk, tentu saja ia paham dengan hal ini. Hal terbesar yang terjadi dalam kehidupan pernikahan mereka, Yoonmi pasti ini menjadikan berita gembira ini sebagai kejutan terindah untuk suaminya.

***

          “ Sudah sampai…”

Donghae menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Saena. Ini pertama kalinya ia mengantarkan gadis itu sampai ke rumahnya dan ia tidak menyangka saat seperti ini terjadi setelah sebuah peristiwa yang melibatkan mereka berdua. Membuat pikiran Donghae semakin berkabut, apalagi setelah tadi ibu mertuanya menghubungi dan memberitahu kalau istrinya masuk rumah sakit. Donghae benar-benar merasa bersalah, menyakiti dua orang gadis yang disayanginya secara bersamaan.

Gomawo, oppa…”

Saena baru saja akan melangkah turun dari mobil Donghae saat pria itu menahan tangannya.

“ Ada yang ingin kau sampaikan, oppa?”

“ Hmmm… Mianhae, Saena.”

Gadis itu tersenyum samar, namun Donghae bisa melihat kepedihan tercipta di sana.

Gwenchana, oppa, semuanya sudah terjadi, bukan hanya kau yang salah, aku juga salah, kau tahu kalau aku bisa saja mencegah hal itu terjadi, namun aku membiarkannya.”

Donghae tertegun, hati nuraninya tertampar mendengar ucapan Saena yang bermakna ambigu baginya. Mungkinkah gadis itu benar-benar telah jatuh cinta padanya dan bukan hanya emosi sesaat yang akan hilang dimakan waktu?

“ Saena, apa… apa kau benar-benar mencintaiku?”

“ Seperti yang sudah pernah kukatakan, oppa… Aku mencintaimu dan aku tahu perasaan ini salah, jadi tidak ada yang bisa aku lakukan selain… melepaskanmu berbahagia bersama orang yang kau cintai.”

“ Saena, aku mohon lupakan aku dan bersikaplah seolah-olah hal ini tidak pernah terjadi.”

Saena tidak menyangka Donghae akan mengatakan hal itu padanya, namun gadis itu mengerti Donghae tidak akan pernah menganggapnya sebagai sesuatu yang istimewa. Kejadian semalam hanyalah kenangan dan memori pahit bagi kehidupannya dan akan segera terlupa ditelan gelombang waktu. Saena berusaha menerimanya, walaupun ia merasa hatinya telah dicambuk ribuan kali sampai hancur.

Semudah itukah pria itu berkata-kata setelah noda yang ditorehkannya pada kesucian?

“ Kau tenang saja, oppa… aku gadis hebat dan aku tidak akan goyah pada prinsipku untuk melupakanmu. Tapi, apa… apa aku masih bisa menganggapmu hanya sebagai kakak?”

Donghae tersenyum, tulus dan kelegaan terpancar di wajahnya. Pria itu mengangguk, mengiyakan permintaan sederhana Saena.

“ Baiklah,oppa, aku masuk dulu.”

***

          “ Nona , anda sudah pulang?”

Ne, ahjumma. Semalam aku menginap di rumah temanku. Orang tuanya sedang pergi dan ia takut sendirian di rumah, di rumah pun aku sendirian jadi aku pikir tidak ada salahnya aku menginap.”

Saena berbohong, tentu saja ia tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya pada Song ahjumma, kepala pelayan di rumahnya. Saena tahu wanita berumur di atas enam puluh tahun itu sudah bekerja di rumah kakek dan neneknya sejak ayahnya masih remaja, wajar saja jika wanita itu menjadi salah satu orang kepercayaan ayahnya.

“ Ah, begitu…”

Ahjumma…”

Nde?”

“ Tolong jangan katakan pada siapapun kalau semalam aku tidak pulang ke rumah, jebal… Aku tidak mau appa dan eomma menghukumku.”

Tatapan memelas Saena membuat wanita paruh baya itu tidak tega. Bagaimana pun juga wanita itu sudah melihat Saena sejak gadis itu masih bayi, walaupun hubungan mereka tidak dekat, wanita itu tahu persis kebahagiaan Saena yang terpenjara oleh statusnya. Satu hal yang tidak diketahui olehnya dan oleh anggota keluarga Choi yang lain adalah Saena tahu siapa arti dirinya dalam keluarga itu.

“ Baiklah, nona.”

Ghamsahamnida, ahjumma…”

“ Ah ya, apakah Minho sudah pulang?”

“ Belum, nona…Tuan muda Choi Minho belum kembali dari rumah temannya.”

“ Baiklah, aku ke kamar dulu, ahjumma.”

Saena bisa menghela nafas lega karena kedua orang tuanya dan Minho belum kembali ke rumah dan ia adalah orang pertama yang kembali. Ia bisa bersikap seolah-olah tadi malam tidak ada yang terjadi antara dirinya dan Donghae. Sehingga ia tidak harus menyiapkan diri diintrogasi terlebih oleh adiknya, Minho, yang terkadang sangat protective padanya.

***

          “ Eommonim, bagaimana keadaan Yoonmi?”

Donghae mengusap peluh yang mengalir di wajahnya, ekspresinya tampak begitu khawatir. Berbanding terbalik dengan ekspresi wanita yang sedang duduk tenang di ruang tunggu itu.

“ Donghae, kau sudah datang? Segeralah temui istrimu. Keadaannya baik-baik saja, ia hanya demam dan sekarang dokter sudah memberikannya obat. Mungkin besok ia bisa pulang ke rumah.”

Ne, eommonim, mianhaeyo aku telah membuat Yoonmi seperti ini.”

Nyonya Kim mengerutkan dahinya, tidak mengerti apa yang dikatakan pria itu. Jelas saja, Yoonmi tidak memberitahukannya kalau semalam pria itu tidak pulang dan Yoonmi terpaksa menunggu pria itu sampai akhirnya kurang tidur dan demamnya bertambah parah.

“ Sudahlah… Kau masuk sana.”

Donghae melangkah pasti ke dalam kamar istrinya dan menemukan Yoonmi sedang tertidur. Wajahnya damai sekali, Donghae tersenyum melihatnya. Pria itu segera mengambil tangan Yoonmi dan menggengamnya. Suhu tubuh Yoonmi memang masih cukup tinggi, tangan gadis itu yang menjadi bukti.

“ Yoonmi, mianhae…”

Donghae merasa sangat bersalah bukan hanya karena membuat Yoonmi sakit dan akhirnya berbaring di sini melainkan karena kesalahan lain yang tidak sengaja dilakukannya terhadap salah satu gadis yang sudah dianggapnya seperti adik. Tak terasa air mata pria itu luluh dan menetes di kemejanya.

Eughh…”

“ Yoonmi… kau sudah sadar, chagi? Mianhaemianhae…”

Donghae menyeka air matanya dan meletakkan kedua tangannya di atas tangan Yoonmi yang sedari tadi digenggamnya.

“ Donghae, kau sudah pulang?”

Ne, aku bisa menjelaskan semuanya padamu. A…”

“ Sssstt…”

Gadis itu meletakkan jari telunjuknya di bibir dan mengisyaratkan pria itu untuk berhenti berbicara. Yoonmi mengarahkan tangan Donghae ke bagian perutnya dan membuat gerakan seolah-olah Donghae mengusapnya.

Aegi-ah… ini appa.”

Donghae tertegun saat Yoonmi memanggilnya dengan sebutan appa. Mungkinkah… Donghae membelalakkan matanya dan memandang ke arah Yoonmi.

“ Di dalam sini ada uri aegi, hae-ah.”

Mwo? Ka… Kau hamil Yoonmi?”

Secercah harapan seolah timbul saat mendengar kabar bahagia itu. Mata Yoonmi berbinar-binar dan gadis itu mengangguk.

“ Terima Kasih Tuhan, semoga anak ini bisa menyelamatkan kita.”

Yoonmi merubah posisinya menjadi duduk bersandar, Donghae membantu gerakan Yoonmi dengan sangat hati-hati, seolah takut menyakiti gadis itu.

Ne, Donghae-ah… Aku hamil… aku hamil.”

Donghae segera memeluk gadis itu dengan perasaan gembira tak terucapkan, kemudian melepaskan pelukannya seraya mendaratkan kecupan pada dahi gadis itu.

“ Kita akan menjadi pasangan paling berbahagia, Yoonmi.”

***

Tok Tok Tok

Yoonhee meletakkan buku yang sedang ditekuninya ke atas meja dan bangkit dari kursi yang didudukinya ketika mendengar ada ketukan di pintu kamarnya. Gadis itu merengganggkan tubuhnya yang terasa pegal karena sudah mendekam di sana selama dua jam penuh, sebelum melangkah menuju pintu kamar dan membukanya.

“ Nona, ada kiriman untuk anda…”

Ne, Gomawo…” ucap Yoonhee seraya menerima sebuah kotak kayu ukuran sedang. Pelayan yang mengantarkan paket itu segera undur diri dari hadapan Yoonhee begitu menyelesaikan tugasnya.

Yoonhee membawa kotak itu ke dalam kamarnya dengan perasan bingung. Dilihat dari tampilan luarnya kotak itu terlihat sangat misterius. Perasaan takut langsung menyelubungi hatinya, mengganti letak rasa bingung yang sempat mendera.

“ Tidak ada nama pengirim?”

Dengan perlahan Yoonhee membuka tutup kotak itu dan tersenyum mendapati isinya. Bunga mawar merah…

Gadis itu mengambil setangkai mawar yang berwarna merah menyala dari dalam kotak. Yoonhee menyentuh perlahan permukaan kelopak bunga itu yang masih basah, meninggalkan jejak-jejak tetesan air ke dalam dimensi selembar kertas putih yang dibawa bersamanya. Bunga itu kelihatan segar, seperti baru saja diambil dari kebun.

Yoonhee meletakkan bunga itu di atas meja dan beranjak mengambil kertas yang terdapat di sana, gadis itu menyingkirkan jejak salju yang sepertinya ikut terbawa saat meletakkan bunga itu disana. Gadis itu paham, jejak air yang tadi sempat dikiranya adalah efek disiram, ternyata adalah efek salju yang mencair. Memang sore tadi sempat turun hujan salju di minggu kesekian musim dingin ini.

Rose like you… Beautiful but painful…

          “ Minho…”

Nama pria itu yang terucap dari bibirnya ketika melihat bunga cantik itu namun entah kenapa Yoonhee merasa bukan pria itu pengirim bunga mawar beserta pesan singkat padanya.

Memang sejak pria itu menyatakan cinta padanya beberapa minggu yang lalu, Yoonhee tiba-tiba menyukai bunga cantik namun menyakitkan itu. Padahal sebelumnya tidak satu jenis bunga pun yang berhasil menarik perhatiannya. Mawar memang bisa melambangkan Minho, sama seperti yang dikatakan pria itu. Ia ingin memilikinya namun harus siap merasa perih karena duri yang berada di sekujur tangkai mawar akan siap menyakiti.

Pesan singat yang diterimanya mengatakan mawar sepertinya, Yoonhee menyadari pesan itu benar. Tidak banyak orang yang tahu apa yang tersembunyi dari seorang Kim Yoonhee, dibalik keindahan gadis itu tersimpan perih tersendiri.

Yoonhee terus memperhatikan pesan dan bunga yang berada di hadapannya kini, menutupi lembaran buku pelajaran yang terbuka di hadapannya. Perasaan bingung kian mendera batin, di sisi lain hanya Minho satu-satunya orang yang tahu ia menyukai bunga misterius ini. Di sisi lainnya, perasaan gadis itu mengatakan hal yang berbeda.

“ Apa mungkin memang Minho yang sengaja ingin memberikan kejutan untukku ya? Ah sudahlah…”

Yoonhee meletakkan mawar itu di dalam vas bunga berisi beberapa tangkai mawar lainnya yang berbahan dasar plastik. Yoonhee memang sengaja membeli bunga plastic agar awet dalam jangka waktu tak terhitung, dibandingkan dengan bunga asli yang keindahannya hanya bisa dinikmati dalam waktu singkat.

Namun sekarang diantara beberapa tangkai bunga tiruan itu, terdapat satu tangkai yang paling mencolok. Bunga mawar merah dengan tetesan-tetesan salju cair di kelopaknya, membuat pesona yang dimilikinya semakin terasa nyata.

Yoonhee kembali menekuni buku pelajarannya, tanpa peduli pada sang mawar yang seolah memperhatikan tingkah lakunya.

***

Yoonmi Pov  

“ Kenapa belum tidur? Ini sudah malam, Yoonmi-ah… Kau masih belum sepenuhnya pulih.”

Aku tidak tahu bagaimana rasanya aku menggambarkan ini semua. Apakah ini yang dinamakan bahagia? Perasaan membuncah yang membuatmu ingin terus-menerus melemparkan senyuman. Sesederhana itu?

“ Aku belum mengantuk, hae…”

Aku mengelus tangannya yang berada di atas tanganku yang sedang dipasangi selang infus dengan tanganku yang bebas. Aku bisa melihat wajahnya yang dinaungi kelelahan, aku merasa iba melihatnya.

“ Tapi kau harus tetap tidur, kau lupa sekarang kau tidak hanya harus mengurusi dirimu sendiri tapi juga… our baby.”

“ Pulanglah, hae, kau terlihat lelah, kau belum pulang dari semalam kan? Lihatlah penampilanmu yang kusut ini.”

Aku mengarahkan tanganku untuk mengusap rambutnya yang terlihat berantakkan. Jujur saja aku menyukai rambutnya yang seperti ini dibandingkan rambutnya yang selalu tertata rapi dan membosankan itu. Ugh

Aniya… aku akan pulang besok pagi denganmu.”

Huft, aku ingin pulang sekarang, hae. Aku tidak betah berlama-lama di tempat ini, aku merasa pusing.”

Aku memang tidak menyukai rumah sakit. Suasana yang menaungi tempat ini begitu menyedihkan disertai dengan bau disinfektan dan obat yang disemprotkan ke seluruh bagian bagunan ini yang membuatku mual setiap kali menghirupnya. Aku bingung kenapa setiap orang sakit harus dibawa ke tempat seperti ini, bukankah hanya akan memperburuk keadaan mereka?

“ Tidurlah…”

Shireo… aku baru akan tidur ketika kau menyelesaikan cerita tentang masa-masa SMAmu, hmm dan kali ini tambahkan bagian Jessica ke dalam ceritanya.”

Mwoya?! Tidak, aku tidak mau merusak suasana bahagia kita dengan bercerita tentangnya.”

Aku tertawa kecil melihat wajahnya yang ditekuk seperti itu. Donghae kadang bisa bersikap kekanak-kanakkan dan itu merupakan hiburan bagiku. Siapa yang tidak bosan melihat wajah seriusnya setiap hari? Donghae juga pernah mengatakan padaku untuk sering-sering ngambek. Aneh sekali permintaannya itu, padahal setahuku pria itu tidak suka direpotkan dengan hal-hal kecil.

Donghae mengatakan padaku kalau saat aku sedang marah atau ngambek padanya aku terlihat lebih manusiawi. Karena selama ini aku terlalu serius menghadapi kehidupan, kuakui itu benar.

“ Ahhh aku tidak pernah khawatir dia akan merebutmu dariku…”

Donghae langsung memberikan tatapan tidak suka kepadaku. Memang pembicaraan tentang mantan kekasih adalah hal yang sensitive.

“ Karena kau hanya milikku seorang, Lee Donghae.”

Aku mendekatkan wajahku pada wajahnya dan mengecup bibirnya. Belum pernah aku seagresif ini dalam melakukan skinship dengannya.      Mungkin ini efek dari bayi yang sedang kukandung. Huh… ini berbahaya, bisa-bisa aku yang lebih aktif sekarang dibandingkan dengan dia.

“ Hamil ternyata membuatmu seagresif ini, chagi… Hahaha, tapi aku menyukainya.”

Aishhh Jinjja! Ciuman tadi anggap saja permintaan dari baby.”

Baby-ah… Sering-sering minta eommamu melakukan hal itu ya.”

Donghae mengusap pelan perutku dan aishhhh senyumannya itu mengandung sesuatu, aku menyesal melakukan hal tadi.

“ Jangan dengarkan appamu, baby-ah.”

End of the Pov

***

Author Pov

“ Jadi bukan kau yang mengirimkan bunga itu?”

Yoonhee mengepulkan uap panas yang berasal dari cangkir cokelat panas yang dipegangnya. Minho menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan gadis itu.

“ Memangnya kemarin apa yang ditulis oleh pengirim itu?”

Rose like you… beautiful but painful.”

“ Huh… sepertinya sang pengirim sangat mengenal diri seorang Kim Yoonhee, ia menuliskan kata-kata itu dengan tepat.”

“ Jadi menurutku aku seperti bunga mawar cantik namun menyakitkan.”

Exactly… Kau memang seperti itu, yeobo.”

“ Lucu sekali mendengarnya, mengingat waktu itu kau yang mengatakan padaku kalau kau seperti mawar, sering sekali menyakiti.”

“ Aku memang seperti mawar dan kau juga, berarti kita berjodoh.” Minho merangkul Yoonhee dan membuat kepala gadis itu berdekatan dengan dadanya.

Yoonhee merasakan uap panas yang berasal dari cangkir yang dipegangnya kini berpindah ke wajahnya. Gadis itu merasa pipinya bersemu merah karena perlakuan Minho padanya. Yoonhee masih belum terbiasa dengan perilaku Minho yang tiba-tiba melakukan skinship dengannya.

“ Wajahmu memerah, chagi.”

“ Uhukk… uhukkk…”

Yoonhee tersedak beberapa detik setelah cairan kental manis itu menuruni tenggorokkannya menuju kerongkongan.

Yaa! Ini minumlah…”

Minho menyodorkan gelasnya yang berisi green tea pada Yoonhee yang masih berusaha mengatur nafasnya yang tersenggal diiringi suara batuk yang mendominasi.

Gomawo…”

Yoonhee segera meminum isi gelas Minho sampai habis, lalu meletakkan gelas itu di atas meja. Yoonhee memejamkan matanya dan menghirup sebanyak-banyaknya udara untuk mengembalikan ketenangannya.

“Hmmmphhh….”

Suara tawa yang ditahan berhasil mencuri perhatian gadis itu. Yoonhee segera membuka matanya dan melihat Minho tertawa sambil melihat ke arah lain. Pipi gadis itu bertambah merah seiring dengan rasa malunya yang membuncah.

“ Kenapa kau tertawa? Aku ini baru saja terkena musibah… Ish, kau ini.”

Ne, mianhae… Habis ekspresi wajahmu membuatku ingin tertawa. Ini pertama kalinya aku melihat wajahmu seperti itu. Wajahmu ketika sedang menderita tertanya lucu.”

Mwo? Aishhh! Jinjja! Kenapa kau malah suka kalau aku menderita! Yaa! Yaa! Choi Minho, geumanhae.”

Yoonhee mengerucutkan bibirnya dan melengos ke arah lain. Marah.

Yaa! Jangan marah, aku hanya bercanda tahu. Kau tetap cantik dalam keadaan apapun nona Kim… Ah aniya, kau adalah calon nyonya Choi.”

“ Nyonya Choi? Hahahahaha… Kau jangan bercanda, Minho-ah, kita ini masih sama-sama muda, lagipula kau yakin sekali aku akan menikah denganmu.”

Chamkanman! Siapa yang bilang kau akan menikah denganku? Pria bermarga Choi di luar sana jumlahnya ada jutaan. Kau terlalu percaya diri nona Kim.”

“ Apa kau bi…”

“ Bukankah itu Jonghyun dan… Saena noona?”

Yoonhee mengalihkan pandangannya searah dengan objek yang dilihat oleh Minho dan menyadari kebenaran pria itu. Saena dan Jonghyun berjalan beberapa meter di depan mereka. Ekspresi wajah mereka tampak serius, seperti membicarakan sesuatu.

Ne, sejak kapan mereka saling mengenal?”

***

Saena Pov

“ Tujuh menit lagi bel masuk, kembali ke kelas sana.”

“ Jadi kau mengusirku secara tidak langsung?”

“ Bukan begitu! Aku hanya tidak mau kau terlambat masuk ke kelas. Kau ini berpikiran negative saja terhadapku. Pria aneh.”

“ Kau sendiri tidak kembali ke kelas? Memangnya bel jam pelajaran anak kelas X dan kelas XII itu berbeda? Sama kan?”

Aisshhh! Jinjja! Kau ini cerewet sekali ternyata.”

Entah sejak kapan, aku mulai seakrab ini dengan Jonghyun. Mungkin bisa dibilang Jonghyun pria kedua yang benar-benar dekat denganku sampai seperti ini selain Minho tentunya. Sisanya, sahabat-sahabatku yang lain semuanya perempuan. Memang sahabatku tidak banyak malah mungkin yang benar-benar dekat denganku hanya Minra.

Itupun aku baru mengenalnya sejak masuk ke sekolah ini, namun aku sudah merasa sangat nyaman bersamanya. Dulu aku sempat berpikir untuk menjodohkan Minho dengan Minra, tapi sepertinya itu tidak mungkin, karena adikku itu sudah jatuh cinta pada Yoonhee dan sepertinya pasangan itu sudah tidak bisa dipisahkan. Lagipula Minra pernah mengatakan ada seorang pria yang disukainya tapi tidak tahu siapa.

“ Saena, kau ada masalah, ne?”

“ Huh? Bagaimana kau tahu… eh apa?”

Aduh kenapa aku bisa keceplosan mengatakan padanya kalau aku memang sedang ada masalah. Sebenarnya kalau tidak ada kejadian malam itu, Donghae oppa bukan lagi masalah untukku. Aku sudah berjanji pada Minho dan yang terpenting pada diriku sendiri untuk menjauhi Donghae oppa sejauh-jauhnya.

“ Kau tidak berbakat menjadi pembohong, Choi Saena.”

Mianhae… aku mungkin belum bisa mengatakan apa-apa padamu. Masalah ini adalah masalah pribadiku yang tidak bisa aku ceritakan pada orang lain.”

Nan arraseo…”

Aku merasa lega karena Jonghyun bukan tipe pria yang suka mengorek masalah pribadi orang lain. Pria itu hanya diam dan berusaha mengerti. Berhadapan dengannya membuatku seperti berhadapan dengan Minho. Walaupun dia baru mengenalku, ia tahu cara bersikap dan cara menghadapiku.

“ Saena…”

Nde?”

“ Jika kau mempunyai masalah… Apapun itu, berjanjilah padaku untuk tidak menyakiti dirimu sendiri. Ungkapkan semua keresahan hatimu padaku. Sebagai teman aku akan berusaha membantu sebisaku.”

Aku tersenyum mendengar penuturannya, itu semua adalah tanda kalau ia peduli kan? Setidaknya aku bisa menemukan sandaran lain setelah Minho. Seseorang yang bisa membuatku terus bertahan menjalani kehidupan yang menyakitkan ini.

“ Jonghyun… Gomawo…”

Kringg!

Bel pertanda masuk memecah percakapan kami. Dalam hati aku bersyukur karena bisa menghentikan atmosfer kaku yang tiba-tiba tercipta diantara aku dan Jonghyun.

Kajja… kita kembali ke kelas.”

End of The Pov

***

Author Pov

          Welcome home, dear…”

Nyonya Kim menyambut Yoonmi yang baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang keluarga rumahnya dengan sebuah pelukan hangat. Di belakangnya Donghae menyusul sambil membawa tas berukuran sedang berisi pakaian ganti Yoonmi dari rumah sakit.

“ Yoonmi, Donghae, untuk beberapa hari ke depan bagaimana kalau kalian menginap di sini? Setidaknya sampai kondisi Yoonmi benar-benar pulih.”

Ne, eommonim, aku memang berencana agar kami menginap di sini. Beberapa hari ke depan pekerjaanku menuntut untuk kerja lembur. Aku tidak bisa sepenuhnya menjaga Yoonmi.”

“  Donghae-ah, kau tidak usah khawatir terlalu berlebihan seperti itu. Besok aku akan masuk kerja, kau tenang saja.”

Andwae, Yoonmi-ah! Uisa-nim mengatakan kau harus bed rest selama beberapa hari ke depan karena kondisi fisikmu masih lemah ditambah dengan kondisimu yang yang sedang mengandung.”

“ Tapi, hae, pekerjaanku masih banyak. Bulan depan ada Fashion Show untuk busana musim dingin dan rancanganku bahkan baru jadi beberapa dan aku juga harus mengencek quality control hasil rancangan designer kita yang lain setelah itu aku harus…”

“ Ssssstttt.”

Donghae meletakkan jari terlunjukny di bibir Yoonmi dan meletakkan tangannya di pinggang gadis itu, memapahnya dengan hati-hati menuju tangga lantai dua.

Nyonya Kim tersenyum melihat kedua orang itu. Setidaknya pilihan Yoonmi untuk menikah dengan Donghae tidak salah. Pilihan gadis itu sudah tepat dan ia yakin Donghae memang malaikat yang dikirim Tuhan untuk menyembuhkan luka hati Yoonmi.

“ Aku tidak perlu dipapah seperti ini, hae, kau memperlakukanku seperti orang sakit.”

Yoonmi memulai aksi protesnya karena merasa Donghae sedikit berlebihan dalam memperlakukannya.

“ Kau memang sedang sakit dan jangan banyak protes.”

Donghae membantu Yoonmi naik ke tempat tidurnya dan membenarkan letak selimut sehingga menutupi tubuh gadis itu sampai batas dada.

Chagi, aku pergi ke kantor dulu, ne? Jaga dirimu dan uri aegi baik-baik. Mungkin hari ini aku akan lembur dan pulang malam, jangan tunggu aku.”

“ Tapi kau pasti pulang, kan? Kau masih berhutang penjelasan padaku, hae.”

Donghae terdiam beberapa saat sebelum menggangukk. Ia memang masih berhutang penjelasan pada dua orang, Eunhyuk, sahabatnya dan juga pada istrinya, Yoonmi.

Ne, itu sudah pasti, soal penjelasan itu… Aku akan menceritakan semuanya padamu setelah aku tidak lagi lembur.”

Yaksok?”

Ne, sekarang tidurlah.”

Beberapa saat setelah Donghae keluar dari kamar Yoonmi, Nyonya Kim masuk ke dalam kamar gadis itu dan mengambil tempat di kursi yang diletakkan di samping tempat tidur Yoonmi.

Eomma, boleh aku bertanya sesuatu tentang putri kandungku?”

Wajah Nyonya Kim pucat pasi, ia berusaha menyembunyikan wajah khawatirnya. Bagaimanapun juga Yoonmi berhak tahu yang sebenarnya, namun ia masih belum bisa menceritakan secara penuh pada saat kondisi Yoonmi yang seperti ini.

“ Apa yang ingin kau tanyakan?”

Eomma, di mana dia sebenarnya? Aku ingin sekali bertemu dengannya. Sekali saja, eomma, setidaknya aku tahu ia berada dalam kondisi baik-baik saja.”

“ Yoonmi, eomma masih belum bisa menjelaskannya padamu, tidak dalam kondisimu yang seperti ini. Eomma dan appa akan segera menjelaskan semuanya padamu. Tapi eomma akan berusaha mencari di mana anakmu berada.”

Kekecewaan kembali memayungi wajah Yoonmi, namun gadis itu berusaha mengerti.

Ne, eomma, aku me… Hmmppph…”

Yoonmi bangkit dari posisi tidurnya secara tiba-tiba dan berlari masuk ke kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.

“ Hueekk… huekkk…”

“ Yoonmi, neo gwenchana?”

Yoonmi menganggukkan kepalanya dan menyeka bibirnya yang basah, baru saja ia ingin melangkah keluar dari sana, sensasi mual kembali menyerangnya.

“ Huekk…”

AigooEomma akan membuatkanmu minuman hangat. Tunggu sebentar…”

Nyonya Kim berjalan menuruni tangga dengan pikiran bercabang. Ia memikirkan bagaimana harus mempertemukan Yoonmi dengan putrinya. Apa yang harus dikatakannya pada gadis itu sekarang setelah membuanga selama belasan tahun? Apa ia harus bertindak seperti Hyehwa? Suatu kekejaman batin.

Nyonya Kim berjalan ke arah dapur dan menarik sebuah gelas dari dalam rak dan membuat segelas susu hangat untuk Yoonmi. Gadis itu sangat menyukai susu apalagi ketika ia sakit, susu sudah seperti obat mujarab untuknya.

Eomma, bagaimana keadaan eonni?”

“ Ah, Yoonhee, kau sudah pulang?”

Ne, eomma…  Aku mau melihat keadaan eonni sekarang.”

Chamkanman, Yoonhee-ah, tolong antarkan ini pada eonnimu, eomma akan pergi ke satu tempat dan jika eonnimu bertanya katakan saja eomma pergi ke rumah teman lama.”

***

        “ Eomma, kau sudah pulang?”

Nyonya Kim tersenyum dan mengangguk pada Yoonhee yang sedang mengerjakan tugasnya di ruang keluarga. Dari ekspresi wanita itu, Yoonhee bisa menebak ada sesuatu yang terjadi.

“ Bagaimana keadaan eonnimu?”

“ Ah Yoonmi eonni sedang istirahat, eomma.”

Nyonya Kim menghampiri Yoonhee dan mengelus rambut gadis itu sebelum melangkah meninggalkannya.

Yoonhee memandang kepergian ibunya dengan tatapan datar. Ia memikirkan kenyataan yang baru saja diterimanya dari Yoonmi tadi. Gadis itu sedang mengandung. Suatu keadaan wajar apalagi gadis itu sudah menikah, namun yang menjadi pemikiran utama Yoonhee adalah apa semuanya akan menjadi sama ketika gadis itu memiliki anaknya sendiri.

Yoonhee bukan lagi anak kecil yang iri ketika ibunya mengatakan ia akan memiliki seorang adik, masalahnya bukan di sana. Yoonhee hanya merasa tempatnya bukan lagi di rumah ini, ditengah-tengah kebahagiaan yang bukan miliknya. Pikiran gadis itu menerawang jauh, mengingat memori tatapan wanita yang mengaku sebagai ibu kandungnya.

Tatapan berbeda, seolah ada pengikat diantara mereka, Yoonhee tidak tahu bagaimana cara menggambarkan semua itu. Namun dibalik sensasi rasa takut, ada rasa nyaman yang memenuhi hatinya. Rasa damai seperti menemukan salah satu kepingan yang akan memenuhi kekosongan hidupnya. Gadis itu seolah tahu jawaban dari pertanyaan mengenai hidupnya.

“ Apa aku masih harus berada di sini? Berbahagia di rumah yang bukan rumahku?”

Gadis itu menunduk sedih, namun ia berusaha menepiskan pikirannya jauh-jauh. Yoonmi menyayanginya dan menerimanya, begitu juga dengan anggota keluarga lainnya di sini. Kalau sejak awal Yoonmi bersikap dingin dan tak acuh padanya, dengan sendirinya ia akan kembali pada keluarga aslinya. Walaupun keluarga itu sudah menelantarkannya selama bertahun-tahun, setidaknya ia berada pada tempat yang tepat.

Nyonya Kim masuk ke kamarnya dengan kekecewaan mendera di hatinya. Memang suatu tindakan nekat mendatangi rumah itu dan harusnya ia sudah bisa menduga keluarga yang dicarinya akan pindah dari kediaman mereka yang lama, lagipula apa yang harus dikatakannya ketika bertemu dengan mereka. Pasti penolakan yang akan diterima.

Tetapi melihat tatapan memelas yang dilemparkannya Yoonmi membuatnya merasa bersalah berkali-kali lipat bukan hanya pada Yoonmi, pada Yoonhee, dan pada seseorang yang seharusnya berada dalam keluarganya saat ini, namun ia sudah menyingkirkan manusia itu bahkan sebelum ia bisa membedakan warna-warna dunia.

Mianhae…”

Kata maaf terucap dari bibirnya disertai tetesan air mata yang menetes dan meninggalkan jejak di lantai kamar wanita itu.

***

          “ Aku sedang tidak sibuk hari ini, jadi kau tahu apa tujuanku datang ke sini. Di saat waktu makan siangku yang berharga.”

Donghae mencibir kemudian melambaikan tangannya ke arah pelayan yang berdiri di sudut ruangan. Segera sang pelayan memberikan buku menu pada dua orang yang duduk berhapan di suasana restaurant yang bisa dibilang tidak terlalu ramai.

“ Bilang saja kau kau ingin kutraktir.”

Yaa! Itu memang kewajibanmu, Lee Donghae, kau sudah menyusahkanku terlalu banyak.”

“ Jadi kau tidak mau membantu sahabatmu sendiri?”

“ Bukan begitu.” Eunhyuk berkata dengan tatapan yang tetap terfokus pada buku menu yang terletak di depannya.

“ Lalu?”

“ Anggaplah aku menebus kesalahan karena malam itu aku meninggalkanmu dan akhirnya kau diculik oleh remaja labil dan untungnya kau bisa kembali.”

“ Hentikan memanggil dia remaja labil dan dia tidak menculik melainkan menolong.”

“ Lalu kemana dia membawamu?”

Donghae memainkan serbet yang terbentuk rapi di hadapannya. Pikirannya gelisah kalau mengingat dan menggali kembali memori malam itu.

“ Ke hotel.”

MWO? Hotel? Kenapa dia membawamu ke hotel?”

“ Dia tidak tahu rumahku, hyuk… Lagipula apa kata Yoonmi kalau ia melihatku pulang dalam keadaan mabuk dan diantar seorang gadis?”

“ Ah, begitu…”

“ Tapi sekarang aku ada masalah lain.”

“ Apa? Ah… ne, aku tahu jangan-jangan saat ia membawamu ke hotel, karena kau berada dalam keadaan mabuk, kau tidak sengaja menodainya. Huh…”

Donghae menelan ludahnya, berusaha menghilangkan sesasi gugup yang tiba-tiba menyergapnya karena tebakan Eunhyuk yang diucapkannya dengan nada bercanda namun hal itu benar-benar terjadi.

Yaa! Kenapa kau jadi pucat? Hae, jangan katakan hal tadi benar.”

Eunhyuk memandang sahabatnya itu dengan tatapan curiga. Donghae memejamkan matanya dan menghela nafas. Berusaha menenangkan dirinya sendiri.

Ne, hyuk, apa yang kau bilang tadi benar.”

“ Apa? Kau sudah gila, hae? Kau menodai gadis lain sedangkan kau sudah mempunyai istri?!”

“ Aku tidak tahu, hyuk, semua itu terjadi begitu saja. AHHH Donghae kau bodoh… Kalau saja malam itu aku tidak mabuk dan pulang bersamamu, semua ini tidak akan semakin rumit.”

“ Lalu apa sekarang gadis itu meminta tanggung jawab jadi kau uring-uringan?”

Aniya… dia … Arghhh ini yang membuatku semakin merasa bersalah padanya. Dia bahkan menerimanya dan meminta maaf padaku. Padahal harusnya aku yang meminta maaf padanya.”

Eunhyuk memandang Donghae dengan tatapan kasihan. Perjalanan hidup pria itu terlalu berat, bahkan setelah harusnya ia bahagia karena sudah menemukan pasangan hidupnya.

“ Hae-ah, kau harus bersabar… kau pasti bisa menyelesaikan semua ini.”

Huffttt… ini semua melelahkan. Kau sudah siap memesan?”

Eunhyuk menurunkan buku menu dari wajahnya dan mengangguk. Donghae memanggil pelayan dan mengatakan pesanan mereka. Setelah pelayan itu pergi, Eunhyuk dan Donghae melanjutkan pembicaraan mereka.

“ Lalu Yoonmi tahu semua ini?”

Mwo? Aniya… mungkin aku tidak akan memberitahunya, masalah yang dihadapinya sudah sangat berat. Aku tidak mau menambahkan masalah lagi dalam pikirannya. Itu akan berdampak buruk padanya dan juga bayi kami.”

Wait… bayi? WowIs she pregnant?”

Wajah Donghae berubah cerah, ia menjadi bersemangat ketika mengingat sebentar lagi ia akan menjadi sosok seorang ayah.

Ne, aaahhh aku bahagia sekali, hyuk.”

Chukae… Donghae-ah, akhirnya kau menjadi calon appa juga.”

“ Setidaknya kabar ini akan membuat eommaku mereda dan ia tidak lagi menyuruhku untuk menceriakan Yoonmi.”

“ Ini semua karena Jessica.”

Tanpa sadar Eunhyuk bergumam, tatapannya menerawang ke arah lain, menghindari tatapan kosong Donghae. Dalam hati pria itu, ia merasa bersalah pada sahabatnya yang sedang terluka.

Mwo? Apa? Karena siapa?”

“ Ahh… aniya.”

“ Aku sempat mendengar kau mengucapkan nama Jessica, apa hubungannya gadis itu dengan masalah ini. Ah ya, kemarin kau bilang kalau dia mendatangimu dan mencariku. Apa yang sudah dikatakannya padamu?”

“ Memang ia datang ke rumahku dan dengan tidak sopannya berteriak-teriak menuduhku telah menyembunyikanmu. Lalu secara tidak langsung ia mengaku kalau ia sudah mempengaruhi Jiyoung ahjumma sehingga ibumu itu membenci Yoonmi.”

“ Aku sudah menduganya. Pantas saja aku melihatnya ketika di pengadilan, pasti ia ada hubungannya dengan semua ini.”

“ Pengadilan? Siapa yang datang ke pengadilan?”

“ Ahh… bukan siapa-siapa. Lupakan!”

Donghae salah tingkah setelah mengucapkan sesuatu yang seharusnya tidak diketahui oleh Eunhyuk.

“ Kau harus berhati-hati dengannya, hae… dia lebih berbahaya dari yang kau kira.”

***

Yoonmi Pov

Eomma belum bisa menemukan anakmu, Yoonmi… Ada baiknya kau benar-benar melupakannya.”

Aku meletakkan kedua telapak tanganku di wajah, berusaha menutupi butiran air yang meleleh dari mataku. Aku sungguh kecewa dengan keputusan eomma yang menyuruhku untuk melupakannya. Aku bahkan tidak pernah melihat wajahnya kecuali ketika ia masih bayi.

Aku bisa melihat adanya raut penyesalan dari wajah eomma. Namun itu tidak merubah pendirianku untuk tetap ingin bertemu dengannya, aku tidak tahu dimana keberadaannya selama belasan tahun. Membuatku merasa telah menelantarkan anakku sendiri.

“ Yoonmi, jangan rusak hidupmu dengan selalu memikirkan masa lalu.”

Eomma, kau tidak mengerti, aku tidak akan merusak masa depan hanya dengan ingin bertemu dengan anakku sendiri.”

“ Lalu apa kau pernah memikirkan bagaimana perasaan anak itu?”

Aku terdiam dan menunggu eomma melanjutkan kata-katanya.

“ Kalau kau bertemu dengannya saat ini, apa kau pikir kau tidak akan merusak kebahagiaannya. Mungkin saja sekarang ia sudah hidup dengan tenang bersama keluarga barunya dan kalau kau memaksa ingin bertemu dengannya apa bedanya kau dengan Hyehwa yang ingin mengambil Yoonhee?”

Eomma, aku… aku…”

Aku menunduk, tidak berani membantah perkataan eomma yang kutahu ada benarnya. Aku hanya akan merusak kehidupannya. Kenapa aku bisa seegois ini? Aku tidak mau mengembalikan Yoonhee pada keluarga aslinya lalu kenapa aku harus mendapatkan anakku yang sekarang entah berada di mana? Apa yang harus aku katakan pada keluarga barunya?

“ Yoonmi, ini semua salah appa dan eomma…”

“ Semuanya sudah terjadi, eomma, aku akan menunggu appa pulang dan mendengar penjelasan kalian tentang hal ini.”

Kriett!

Suara pintu yang terbuka membuat aku dan eomma menoleh dan mendapati Donghae berdiri di sana.

“ Nah, itu dia Donghae, eomma pergi dulu ya, Yoonmi.”

Donghae datang di saat yang kurang tepat, aku sedikit kecewa karena eomma sepertinya selalu menghindari pembicaraan ini.

“ Bagaimana keadaanmu, chagi?”

Donghae mengambil tempat di sebelahku dan langsung menggenggam tanganku yang bebas. Tatapannya begitu lembut, membuat hatiku yang resah seketika itu juga menjadi tenang.

“ Aku sudah jauh lebih baik, hae… Aku akan semakin sakit kalau kau mengurungku di rumah seperti ini, pokoknya besok aku mau masuk.”

Donghae hanya tersenyum mendengar permintaanku. Wajahnya diliputi kegelisahan, mungkin ada yang terjadi di kantor tadi. Aku melepaskan genggaman tangannya dan memindahkan tangaku pada wajahnya.

“ Kenapa wajahmu seperti ini? Ada masalah?”

Aniya, Yoonmi-ah, aku hanya berpikir untuk menghubungi eomma dan memberitahukan kabar ini.”

“ Ah…”

Aku tidak tahu bantahan apa yang harus kukatakan pada Donghae, ini memang kabar gembira untuk kami berdua tetapi bagaimana tanggapan kedua orang tua Donghae jika mereka tahu tentang kehamilanku? Apakah mereka akan ikut bahagia atau justru akan semakin membenciku.

“ Terserah kau saja…”

Aku memutuskan untuk setuju dengan keputusan Donghae, bagaimanapun eommonim membenciku sekarang. Hal sebesar ini wajib diketahui olehnya.

“ Aku akan menelponnya sekarang.”

Donghae mengeluarkan ponselnya, mendadak aku merasa takut. Keringat dingin mulai membanjiri dahiku. Donghae melihatnya dan segera mengulurkan tangannya untuk kugenggam.

“ Kita pasti bisa melewati semua ini, Yoonmi.”

Setelah menunggu beberapa saat, panggilan Donghae dijawab oleh eommonim. Ia segera menekan tombol Loudspeaker agar aku bisa mendengar percakapan mereka.

“ Kau sudah memutuskan sesuatu, Donghae, makanya kau menghubungi eomma? Kau masih tahu caranya berbakti pada orang tua, bukankah begitu?”

          Eomma hentikan, aku menghubungi eomma bukan untuk membahas hal-hal seperti itu. Untukku hal itu tidak penting.”

“ Lalu?”

“ Aku mempunyai kabar gembira untumu… Sebentar lagi eomma akan menjadi seorang halmoni, bukankah itu terdengar bagus? Selama ini itu kan yang kau idam-idamkan.”

Hening…

Aku menunggu reaksi dari eommonim dalam diam. Ekspresi wajah Donghae tegang seolah-olah apapun yang akan dikatakan oleh eommonim adalah jawaban pasti untuknya dan tentu saja… untukku.

“ Ohh… Hanya itu? Kau mengganggu waktu berhargaku, Donghae.”

          Tut tut tut

Panggilan terputus, tanpa kata-kata aku mengusap bahu Donghae. Aku tahu ini tidak akan menjadi lebih mudah untuk kami.

End of the Pov

***

Author Pov

Kepolosan dan keluguan yang terpancar dari matanya seketika itu juga memecah asa dalam jiwa. Manusia yang masih bersih, belum terkontaminasi oleh hal-hal duniawi itu, mendekat padanya. Wanita itu ingin menolaknya, ia mundur, menghindari kontak mata dengannya.

          Namun seolah tidak mengerti dengan bahasa penolakkan yang keluar dari tubuh wanita itu. Sang makhluk tetap mendekat, merayap, secara perlahan namun pasti menjejakkan kaki dan tangannya dengan langkah kikuk, seolah itu adalah kali pertamanya berada di sana.

          “ Pergiii, pergi… aku mohon jangan dekati aku.”

          Tatapan makhluk itu menghujam tatapan ketakutan wanita itu. Ia tidak mengindahkan peringatan wanita itu untuk tidak mendekat padanya. Ia tertawa memamerkan bagian dalam mulutnya yang bersih, belum ditumbuhi satu gigi pun. Wanita itu terpaku, senyuman makluk itu mempesonanya. Menyeretnya untuk masuk ke dalam daya imajinasi liar.

          “ Tidak… tidakk…”

          Wanita itu menggelengkan kepalanya beberapa kali, mengusir bayangan yang siap menjeratnya. Perlahan ia seolah kehilangan kemampuan bergerak, tubuhnya kaku, seberapa keras pun ia berusaha, tubuhnya tetap diam, seolah membiarkan makhluk itu menyentuhnya.

          “ Jangan… jangan sentuh aku.”

          “ Halmoni…”

“ ARRGGGHHHH… ANDWAE.”

Nyonya Lee tersentak kembali ke alam sadarnya. Wanita itu duduk bersandar pada tempat tidurnya, memegang dadanya. Jantungnya masih berdengup kencang, ritmenya tidak teratur. Seolah-olah mimpi yang baru dialaminya tadi adalah nyata. Seolah-olah makhluk itu benar datang dan mengajaknya bermain saat ia berada dalam perpindahan antara kenyataan dan mimpi.

“ Bayi? Kenapa aku bisa bermimpi tentang bayi?”

Nyonya Lee mengambil gelas yang berada di sebelah tempat tidurnya dan meminum isinya sampai habis.

“ Apa ini semua karena perkataan Donghae semalam?”

Sejujurnya berita yang dibawa Donghae adalah salah satu berita paling membahagiakan dalam hidupnya. Satu-satunya anak yang lahir dari rahimnya akan segera memberikan penerus untuk keluarga mereka. Sayangnya hal itu harus terjadi ketika ia baru saja memantapkan hatinya untuk menolak Yoonmi sebagai pendamping hidup putranya sekaligus menolak adanya darah gadis itu dalam penerus keluarga Lee yang akan lahir.

Nyonya Lee merenungkan semua perkataan Jessica tentang status Yoonmi. Ia membenarkan perkataan gadis itu, semua yang dikatakannya masuk akal. Ia sendiri merasa bingung ketika Donghae melamar Yoonmi bahkan sebelum mengenalkan gadis itu pada keluarganya. Suatu tindakan yang tidak masuk di akal sehatnya.

“ Aku tidak peduli apakah ia akan melahirkan keturunan Donghae atau tidak, aku tetap tidak akan merestui mereka.”

Sebagai manusia biasa, ia masih mempunyai hati nurani dan ia akan dengan senang hati mendengarkan apa kata hatinya. Ia memang tidak rela Donghae menikahi gadis itu, namun di sisi lain ia merasa bukan masalah besar kalau gadis itu sudah memiliki anak sebelum menikah dengan Donghae. Status gadis itu jelas dan ia sudah berhasil mendapatkan kembali masa depannya setelah kejadian kelam yang menimpanya.

Tetapi kali ini, seperti yang hampir selalu terjadi dalam hati manusia yang sedang berseteru, keegoisan yang memegang kendali.

***

Two Months Later…

Jejak-jejak kakinya menapak di atas tumpukkan salju yang semakin menebal, walaupun ini sudah berada di penghujung musim dingin, hujan salju dengan konsisten menaburkan selimut-selimut putih tebalnya pada seluruh pelosok. Membuat pemandangan kota yang diselimuti butiran salju terhampar bebas dan bisa dinikmati seluruh orang.

“ Kenapa kau masih bisa santai seperti itu? YAA! Kim Yoonhee…”

Yoonhee menoleh dan mendapati Heejin dengan waut wajah panik, segera menariknya ke arah kelas mereka.

“ Yaa! Kenapa kita harus terburu-buru? Bel masuk akan berbunyi 20 menit lagi.”

Yoonhee berjalan, setengah belari, mengikuti langkah Heejin yang seolah-olah dikejar oleh sesuatu.

“ Pagi ini Kwon Seongsaenim akan memberikan tes dadakan, katanya sebagai simulasi latihan untuk menghadapi ujian akhir minggu depan. Aku tahu ini dari kelas sebelah… Aishhhh aku benci matematika dan kenapa pelajaran terkutuk itu harus ada di jam pertama?”

Mwo? Jinjja! Semalam aku sama sekali tidak menyentuh buku… Eottokhe?”

“ Lebih baik sekarang kita manfaatkan waktu yang ada untuk membuat contekan daripada dapat nilai hancur dan akhirnya kita harus remedial.”

“ Padahal minggu depan kita ujian akhir tapi kenapa guru-guru masih hobi memberikan penderitaan bukannya memberikan kita libur untuk minggu tenang sebelum ujian.”

“ Mana aku tahu! Aku kan bukan guru, kalau aku Kepala Sekolah, aku akan menyuruh guru-guru untuk tidak memberikan ujian mendadak pada muridnya.”

Setelah berlari cukup jauh, Yoonhee dan Heejin akhirnya sampai di koridor menuju kelas mereka.

“ Tu… Tunggu sebentar, hhhh… aku… hhhh… kehabisan nafas… hhh… hhh… hhhh.” Heejin menarik tangan Yoonhee dan memaksa gadis itu berhenti.

“ Hhhh… hhhh.. tadi kau yang menyuruh lari.”

Annyeong, chagi… Heejin noona.”

Tiba-tiba entah darimana Minho muncul di hadapan mereka. Namun Yoonhee tidak memperdulikan kedatangan pria itu, ia masih sibuk mengatur nafasnya yang tersenggal, sedangkan Heejin di sela-sela kegiatannya yang sama dengan Yoonhee, masih sempat menunjukkan senyuman pada pria itu.

“ Minho, sebenarnya aku dan Yoonhee mau berlama-lama mengobrol denganmu, tapi kami ada ujian di jam pertama dan kami belum belajar, maka dari itu… Kami pergi dulu.”

Belum sempat mengatakan apapun, Yoonhee kembali ditarik oleh Heejin. Meninggalkan Minho dengan tatapan bingung di belakang mereka.

“ Kenapa kau tidak membiarkanku menjawab sapaannya dulu?”

“ Aku tahu kau dan dia nanti malah akan mengumbar kemesraan, padahal di saat seperti ini yang paling penting adalah belajar dan membuat contekkan.”

“ Huh… dasar kau ini!”

***

          “ Yaa! Kau mau kemana?”

Jonghyun menahan tangan Saena yang secara tiba-tiba meninggalkan meja yang mereka tempati di kantin.

“ Jonghyun-ah, itu… ada Minho dan Yoonhee, aku mau meminta dongsaengku itu membelikan sesuatu dan sekaligus mengajak mereka bergabung bersama kita, otthe?”

Geurae…”

Saena berjalan cepat menghampiri Minho dan Yoonhee yang sepertinya kebingungan mencari tempat yang kosong di kantin. Memang saat jam istirahat hampir semua kursi dan meja sudah terisi, kalaupun tetap ingin makan di sana, terpaksa harus menumpang di meja yang sudah terisi oleh orang lain.

“ Minho, Yoonhee, kalian bergabung saja bersamaku dan Jonghyun.”

Kemunculan Saena yang tiba-tiba tak urung membuat Yoonhee dan Minho kaget bukan main. Pasalnya Saena langsung bergelayut manja di lengan kiri Minho yang bebas sedangkan tangan kanan pria itu digunakan untuk bergandengan dengan Yoonhee. Yoonhee memandang tingkah Saena dengan tatapan geli, entah sejak kapan, gadis itu mulai bisa menerima Saena sebagai kakak Minho dan otomatis memaksanya untuk bersikap baik pada gadis itu.

Noona… Ah kau sedang bersama… Jonghyun?”

Ne, Yoonhee, kau bisa ke sana sekarang, sedangkan kau Minho, belikan aku ice cream rasa keju di sana.”

Tanpa mendengar gerutuan yang keluar dari mulut pria itu, Saena segera menariknya menuju kios ice cream yang berada di ujung kantin.

“ Kenapa harus aku yang belikan? Kau kan punya uang jajan sendiri, noona dan kau bisa membelinya sendiri.”

“ Tapi aku mau kau yang belikan.”

Dengan semangat Saena segera memesan ice cream dan menunggunya dengan mata berbinar-binar. Hal unik yang hampir tidak pernah dilihat Minho selama seumur hidupnya mengenal Saena.

“ Tumben sekali kau ingin ice cream rasa keju, bukankah kau tidak menyukainya karena rasanya yang aneh? Kau kan pernah bilang, mana ada ice cream yang asin? Di mana-mana ice cream diciptakan sebagai makanan manis.”

Minho mengutip kata-kata yang pernah diucapkan Saena waktu itu ketika pertama kali sang kakak mencoba varian rasa baru dari ice cream yang biasanya manis menjadi asin.

Molla, hanya saja tiba-tiba aku menginginkannya.”

“ Kau sudah mengatakan kata-kata seperti itu beberapa kali, noona. Untukku itu bukan jawaban, sebenarnya kau kenapa, noona? Kau terlihat aneh belakangan ini.”

Saena hanya mengangkat bahunya, memberi tanda bahwa ia tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan Minho. Gadis itu bersenandung sambil menunggu pesanannya jadi, sementara Minho hanya melihatnya dengan tatapan geli dan tawa yang disembunyikan dalam senyuman singkatnya.

***

          “ Berapa lama sejak terakhir kali kita berdua mengobrol seperti ini?”

Gomawo…”

Yoonhee mengucapkan terima kasih seraya memberikan bonus senyuman pada orang yang mengantarkan makanan pesanannya. Yoonhee menyeret piring makanan itu mendekat ke arahnya, sebelum menatap Jonghyun, bersiap untuk menjawab pertanyaan pria itu.

“ Mungkin sekitar… hmmm 4 bulan? Sebenarnya kita masih bisa saling menghubungi kalau ada keinginan.”

Tanpa diduga pria itu tertawa, mencerminkan sosok lain dalam dirinya. Yoonhee memandang lekat pria itu, perasaan lain muncul tanpa terduga saat melihat sosok pria itu berada tepat di hadapannya. Setelah beberapa bulan, merasa seolah kehilangan sosoknya.

Kehilangan? Yoonhee tidak pernah mengerti bagaimana ia harus menyebut ‘rasa’ aneh yang selalu menyusup ke dalam hatinya saat bertemu dengan pria itu. Rasa yang tiba-tiba muncul di tahun keempat ia mengenal pria itu dan tidak pernah menganggapnya penting.

“ Memang kau masih mempunyai keinginan untuk bertemu denganku? Bukannya kau sudah berhasil mendapatkan sosok pangeranmu?”

“ Mungkin kita bisa menjadi teman…”

“ Teman? Sejak kapan kau mau berteman denganku?”

Yoonhee mengulurkan tangannya tepat di hadapan Jonghyun. Pria itu mengerutkan dahinya, bingung dengan tingkah Yoonhee yang tiba-tiba.

“ Ini…”

“ Jadi… mulai saat ini kau adalah temanku, tidak ada kata ‘pelayan dan majikan’ dalam kamus hubungan kita. Deal, Kim Jonghyun?”

Jonghyun menyambut uluran tangan Yoonhee. Hatinya dialiri perasaan haru, entah bagaimana ia berkali-kali membayangkan hal ini akan terjadi. Statusnya akan berubah di mata Yoonhee, di mata gadis yang sudah berhasil menarik perhatiannya sejak beberapa tahun yang lalu.

“ Lalu bagaimana dengan kau dan Saena?”

Yaa! Kenapa sepertinya kalian sedang membicarakan sesuatu yang seru. Bisa aku tahu, apa itu?”

Pertanyaan Yoonhee belum sempat terjawab, Saena dan Minho sudah kembali, bahkan sepertinya Saena terlihat sangat akrab dengan Jonghyun, seperti sepasang sahabat lama. Padahal Yoonhee tahu keduanya belum lama bisa sedekat ini, lebih tepatnya ia tidak tahu kapan dan apa penyebab kedekatan hubungan mereka.

“ Ishh… tidak boleh, ini pembicaraan rahasia.”

“ Aaaaahh… kau ini, aku kan ingin tahu.”

Minho memandang Saena dengan tatapan curiga. Ada yang berubah dari gadis itu, sifat, perilaku, bahkan semua hal yang dulunya disukai gadis itu sekarang menjadi hal yang membuatnya jenuh, sebaliknya hal yang dulunya tidak disukai gadis itu sekarang menjadi hal yang menarik untuknya.

Sepertinya ada sesuatu yang membuat Saena berubah, tapi apa?

***

Donghae Pov

“ Bagaimana kabarmu sekarang, Saena? Sepertinya kau terlihat jauh lebih cerah dibandingkan saat terakhir kita bertemu.”

Setelah beberapa bulan aku dan Saena tidak saling bertemu, aku memutuskan untuk mengajaknya pergi. Aku hanya ingin memastikan kehidupannya baik-baik saja setelah kejadian malam itu. Aku adalah pria yang bertanggung jawab, bagaimanapun juga hal yang terjadi diantara kami bukanlah hal yang main-main.

“ Tentu saja, oppa, aku merasa sangat baik.”

Gadis itu tersenyum, bersinar dan mempunyai sesuatu yang berbeda. Dalam beberapa bulan aku tidak mengetahui kabarnya, ia sudah mengalami banyak perubahan.

“ Saena…”

“ Hmm?”

Melihat sinar matanya, semua kata-kata yang sudah kususun dalam otakku untuk kuutarakan padanya mendadak lenyap dan hanya meninggalkan perasaan bersalah yang merayap di hatiku.

Aku tidak bisa memberikannya rasa selain hubungan sebagai kakak adik dengannya, namun aku seolah-olah memberikan harapan lebih padanya untuk tetap memendam rasa lain padaku.

“ Aku mau pesan chocolate waffle, blueberry cheese cake, Tiramisu, hmmm Ice Lemon Tea, dann ahh… Vanilla smoothie. Oppa, kau mau pesan apa?”

“ Ah, Lychee Tea dan… hmm itu saja.”

“ Saena-ah, kau yakin mau menghabiskan semua itu? Pesananmu banyak sekali.”

“ Hahahaha… tentu saja aku bisa menghabiskannya, oppa. Belakangan ini nafsu makanku meningkat pesat.”

Mwo?”

“ Mungkin aku stress karena minggu depan akan menghadapi ujian akhir yang menjadi salah satu faktor standar kelulusanku. Argghhh… ini semua membuatku gila, jadi aku melampiaskan semuanya pada makanan.”

“ Ahh begitu.”

Oppa, apa yang ingin kau katakan padaku?”

“ Aku… Aku hanya ingin bertemu denganmu.”

Kenapa malah kata-kata seperti itu yang aku ucapkan padanya? Lihatlah ekspresi wajahnya yang berubah menjadi berseri-seri, aku yakin ia masih memendam perasaan padaku, aku merasa semakin bersalah melihat ekspresi penuh harap darinya.

Jinjja! Wahhh, apa kau merindukanku, oppa?”

“ Bisa dikatakan seperti itu, aku sudah menganggapmu sebagai adik. Jadi wajar kan kalau seorang kakak ingin bertemu dan rindu terhadap adiknya?”

Ne, oppa, aku akan menjadi dongsaengmu yang terbaik.”

“ Aku percaya itu.”

“ Cukup basa-basinya, oppa, atmosfer ini semakin aneh saat kau berusaha bersikap wajar padahal ada yang ingin kau sampaikan.”

Deg!

Saena memang mengucapkannya dengan nada ceria dan senyum yang setia menggambarkan ekspresi yang tercipta di hatinya. Namun kata-kata itu mampu membuatku bungkam, seolah tidak mengerti caranya berbicara.

“ Saena…”

Ia menoleh dan aku semakin merasa berat untuk mengatakan hal ini padanya.

“ Apakah kau masih menyimpan rasa untukku?”

Senyum di wajahnya lenyap, berganti dengan tatapan kesedihan namun itu tidak berlangsung lama karena ia berusaha menyembunyikannya dengan tatapan tegar yang mendominasi.

Ne, oppa…”

“ Bisakah kau menghapus itu untukku?”

End of The Pov

***

Author Pov

“ Semakin kau merasa tertekan, nafsu makanmu semakin menggila ya, noona?”

Saena mengerucutkan bibirnya, tangannya bergerak mengambil gelas berisi air putih yang berada tidak jauh darinya, kemudian meminumnya sampai tandas.

“ Ne, aku memang sedang banyak pikiran. Ahhh ujian… ujian di depan mata. Aku muak berpacaran dengan buku, semoga semua ini cepat berakhir.”

“ Ahh, karena masalah ujian. Aku pikir karena ada masalah lain, kau benar-benar aneh belakangan ini, noona. Kau sensitive sekali dan emosimu cepat berubah. Tadinya kau sedih dan beberapa saat kemudian kau sudah ceria kembali.”

“ Bukannya itu bagus? Itu kan artinya aku tidak usah berlama-lama marah denganmu.”

“ Tapi kalau seperti ini aku jadi merasa kau bukan Saena noona yang kukenal.”

Saena terdiam dan seperti teringat sesuatu. Emosi naik turun, nafsu makan meningkat, morning sickness

MORNING SICKNESS?!

“ Uhukk… uhukkk…”

Noona, kau kenapa?”

Saena menepuk dadanya dan mengambil gelas Minho yang masih terisi setengahnya, kemudian meminumnya sampai habis, bahkan tanpa meminta izin pada pemiliknya.

“ Aku baru ingat, Minho-ah… Aku ada ulangan besok! Aku belum belajar… Aishhh, di saat mendekati ujian seperti ini kenapa masih banyak ulangan dan tugas?”

Saena mengacak rambutnya dan meninggalkan Minho yang terdiam melihat tingkah kakaknya yang seperti baru menyadari kalau ‘ujian akhir bukan minggu depan melainkan dimajukan menjadi besok’.

Minho menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Ia sangat mengerti bagaimana perasaan gelisah menyelimuti Saena karena itu juga yang dialami Yoonhee, membuat gadis itu uring-uringan setiap hari.

“ Apa jika aku menjadi murid tingkat tiga aku akan menjadi seperti mereka? Atau malah lebih buruk? Tsk…”

***

          Saena berlari masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Ia tidak mau kalau ada seseorang yang masuk ke sana ketika ia akan melakukan kegiatan penting. Bukannya mengambil buku dan belajar seperti yang dikatakannya pada Minho, gadis itu malah mengacak-acak laci lemari bajunya, tempat ia biasa menyimpan beberapa barang pribadinya.

Setelah hampir lima menit mencari, ia menemukan benda yang dicarinya, masih terbungkus rapi dengan plastic, terlihat baru padahal benda itu sudah beberapa bulan mendiami laci lemarinya. Ia tidak pernah berharap akan memakai benda itu. Namun ia membeli benda itu selang beberapa hari setelah ia dan Donghae melakukan hubungan terlarang itu. Hanya untuk jaga-jaga saja.

Saena sudah membaca beberapa artikel di internet tentang kemungkinan kalau-kalau benih yang tidak sengaja ditabur Donghae, membuahi rahimnya, padahal mereka hanya melakukannya satu kali. Karena hal itu juga, Saena menyadari perubahan dirinya yang cukup drastis, hal yang dikiranya pelampiasan dari rasa gelisah sebelum ujian, ternyata merupakan beberapa tanda dari artikel yang dibacanya tentang kehamilan.

Takut-takut Saena membuka plastic pembungkus alat itu dan membaca petunjuk pemakaiannya. Ia benar-benar takut sekarang. Ia ingin membuang benda itu jauh-jauh dan ia merasa lebih baik tidak mengetahui hasilnya. Tapi kemudian ia berpikir kalau seandainya ia benar-benar hamil. Ia harus mengetahuinya sebelum semuanya terlambat, sehingga ia tahu apa yang harus dilakukannya ke depan.

Negative… semoga hasilnya negative…”

Saena berjalan bolak-balik di depan pintu kamar mandinya. Hatinya diliputi kecemasan luar biasa, menunggu hasil dari alat itu.

“ Mungkin sudah…”

Saena mengambil alat berukuran kecil yang diletakkannya di pinggir washtafel dan memperhatikan perubahan alat itu.

“ Ishhh ternyata belummm…. Ahhh kapan hasilnya?”

Saena melorotkan tubuhnya ke atas lantai kamar mandinya yang terasa ribuan kali lebih dingin. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya jika benar ia tengah mengandung anak dari hasil perbuatannya dengan Donghae kala itu. Apakah ia harus senang atau memutuskan untuk ‘membunuh’ anak itu sebelum anak itu menghirup udara bebas di dunia?

Saena menggelengkan kepalanya dan berusaha mengusir bayangan-bayangan negative yang menghantui pikirannya.

“ Hasilnya… hmm…”

Wajah gadis itu berubah pucat saat melihat hasil yang tertera di testpack itu. Ia  berharap semua ini adalah mimpi. Namun ia berada dalam kenyataan dan bukanlah dunia khayal.

Saena melemparkan benda itu ke sembarang arah dan meledak dalam tangis. Ia menelungkupkan wajahnya dan memeluk kakinya. Sementara benda kecil itu terlempar tidak jauh darinya. Menunjukkan sebuah hasil yang membuat dunianya runtuh seketika.

Dua garis merah…

***

To Be Continued

Next Whether I Hate You or Not Series : Whether I Hate You or Not Chapter 13-Fragile

Annyeong semuaaaa maaf ya aku kan janjinya ngepost 1 Minggu dua kali tapinya ternyata ff ini selesai ga sesuai perkiraan aku D: jadi kemungkinan ffnya aku post 1 minggu sekali atau 2 kali jadi belum pasti juga T.T

Masalahnya kemarin ada satu hal yang bkin aku badmood banget asli, mood ngetik aku ilang gtu aja gara2 sesuatu, aku jadi beteee seharian dan ujung2nya ga bisa ngetik, maafkan ketidakprofesionalan aku sebagai author ya chingudeul

Oke di chpter ini ada konflik baru?

Kenapa aku bkin ada? Buat Yoonmi lebih menderita? NO! Buat Saena lebih menderita? NO! Buat Donghae lebih menderita? NO!

Lalu?

Sebenarnya ini konflik malah udah aku rencanain dari awal aku bkin ff ini, penjelasannya nanti ada di post-an khusus ALL ABOUT WIHYON yang akan terbit abis ff ini + side storynya terbit ^__^

Ditunggu aja ya :D

About these ads

22 thoughts on “[Korean Fanfiction/Straight/Series] Whether I Hate You or Not (Chapter 12)

  1. akh… knp hrs makin kyk gini ceritanya?! pdhl udh SANGAT berharap gak terjadi apapun antara donghae-saena malam itu. tp ternyata malah menghasilkan saena hamil. cobaan apa lg ini buat kehidupan yoonmi-donghae-saena?!?!?! makin bingung buat nebak cerita selanjutnya. intinya ini udh gak bener saena hamil. krn gak seharusnya kyk gini TT__TT terbawa perasaan setiap baca

  2. kyaaaaaaaaaaa andwaaaeeeee…wae wae wae??? #triak ala b.a.p coma
    haduuuuch saeeeng knp smua ini trjd???
    kcian yoonmi…ni mslah jd tmbah ribet ja…
    kyaaa tggug jwb saeng…qm bwt q kna sragan badai pnsran pke bgt…#lebay
    ayo ayo dtggu next partx…

  3. huaaaaaaa kenapa kenapa kenapa??
    kenapa donghae-saena harus ngelakuin yg iya iya sih
    si saena hamil kan tu mana si yoonmi jg hamil
    duuuuuuh saena itu kan kayanya anaknya yoonmi, masa iya bapak tirinya ngamilin anaknya jg
    saeng…….kau tega sekali buat cerita seperti ini
    kasian yoonmi dong :(
    buseeeeet……..anaknya yoonmi dibuang sama ortunya ya
    tega bgt sih ortunya yoonmi pdhl kan itu cucu mrka jg

  4. Knp yoonmi n saena bisa hamil samaan, kasihan bgt mrka berdua. Berarti 1 ayah dua ibu, apalagi klo saena anaknya yoonmi. Seharusnya donghae jd ayah tirinya. Saeng knp konfliknya jd rumit bgt, gmn solusinya buat saena. masa dy harus gugurin, pasti saena ga mau, itu anak dr donghae yg dicintai. Penderitaan disini lengkap sudah. Ya wes, lanjut ya

  5. Sadiss ini nasibnya.
    Kenapa author begitu sadiss ㅠ.ㅠ
    dunia sangat tidak adill.
    Kasian kan dia.
    Udah lah ya nostalgianya -.-v haha
    next part di tunggu eon. Keep writing !!

  6. Huuuummmm,, :(
    wae???? Jinja?? Saena ham….????
    ya alloh, knpa seakan penderitaan hnya mliknya?? Author bner bner ratuu tega,,
    Next.a moga lbiiih fun ..

  7. allow reader baru langsung tancep baca ngebot walo rada gk ngeh
    ”thor loe harus tanggung jawab nih aku nangis bombay hua hua nih
    seperti makan buah simalakama nih nasib mb yoonmi ma saena
    bang hae teganya nglakuin yg iya2 ma anak kecil duh biyung
    hik hik …thor aku mo baca dari ke chapter 1 aja yah byar ngeh abis gratul2 jd gk konsen anyong pi pengen injot baca chapter13 abist penazaran tingkat dewa
    pe sengak nih aku liat bang hae mian klo bushing
    by mo lompat ke next

  8. konfliknya mkn rumit aja saeng, saena jg hml anak donghae ya? trus nasib yoonmi sm donghae gmn saeng T_T.. kyknya smua mslh bermuaranya di yoonmi-donghae ya? semoga mrk jgn smpe pisah saeng, ga rela jg kalo mrk smpe pisah TT_TT..

  9. aduh saena knpa sIch Qmu y’ hrus sllu mndrita,bl0m slsai stU mslah tmbUl lgi deCh mslah laen…
    Klw saena hmil kan kshan saena jga,donghae kan g’ cnta sma dy…
    Oh saena mlang na nsibmu…

  10. annyeong..
    salam kenal. Bela imnida ^^

    ini fanfic keren bnget! konflik dr awal benar2 rumit.
    q ajh smpai bingung, bakal slesai g y ni konflik’a. sulit rasa’a ad di posisi Saena / Yoonmi. Ke2′a pnya posisi kuat disini. Dan q bingung ad dipihak mana –”
    *knp q ikutan pusing –”

    tp bner dheh ini keren! :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s