[Korean Fanfiction/Straight/Series] Wasurenaide (chapter2)

 

Title : Wasurenaide

Author : Deviyana cassiopeia a.k.a Yunnie_Dv a.k.a Kim Sae na

Rating : PG 13

Genre : Straight/On writing

Cast :

Kim Chae eun

Lee Jang mi

Kim Sae na

All member TVXQ

dislaimer : Tvxq are belong to SM entertaiment and their parents

I don’t make money from this fanfic. It’s just for fun

Please don’t sue me.

Chapter 2

Jae joong mengusap keringat yang mengalir di wajahnya. Ia melihat papan skor, ia ketinggalan 4 angka dari Junsu. Jae joong berusaha merebut bola yang berada di tangan Junsu,namun usahanya selalu gagal. Junsu dengan sigap mempertahankan bola di tangannya dan mendrible bola itu,berusaha membawanya ke ring.

Jae joong berusaha sekuat mungkin agar Junsu tidak mencetak angka lagi. Tapi Junsu sangat pandai mengecoh Jae joong. Ia sengaja berlama-lama karena ia tahu waktu pertandingannya tinggal 10 detik lagi.

 

Kringggg!!

 

Bel tanda pertandingan telah usai berbunyi,Jae joong berlari ke pinggir lapangan berusaha mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal.

“ Jae joong kau kalah.” Junsu menghampiri Jae joong yang sedang minum dengan rakus.

“Katakan saja, Junsu, apa maumu?” Jae joong mendelik kesal ke arah Junsu.

“ Kau harus ikut kontes pangeran dan putri kampus dua minggu lagi.” Junsu tersenyum penuh kemenangan.

“ Yaaa. Aniya,aku tidak suka acara-acara seperti itu.”

“ Kau kan kalah tanding denganku,jadi kau harus memenuhi permintaanku.”

“ Ahh kau curang.”

“ Hahahahhahahaha,apanya yang curang kita kan tanding secara sehat.Ayolah Kim Jae joong.”

“ Aku akan ikut,tapi aku tidak akan menang aku jamin itu.”

“ Kau jangan merendah,kaukancantik.” Junsu mengusap pipi Jae joong yang mulus.

“ Jangan pegang-pegang! Kau tidak normal ya?” Jae joong berlari menjauh dari Junsu yang sedang tertawa terpingkal-pingkal.

“Hyung,kau jail sekali.” Chang min sudah berada di belakang Junsu yang sedang memasukkan botol minumnya ke dalam tas.

“ Ahahaha habisnya dia jarang sekali tersenyum,aku hanya ingin membuatnya bersenang-senang.”

“ Aku tidak yakin,Jaejoong hyung akan senang dengan apa yang kau lakukan.”

“ Hahahahahaha, tapi setidaknya ia bisa santai menikmati hidupnya,ia terlalu serius dengan ujian pianonya sebulan lagi.”

“ Aku rasa kau ada benarnya juga,hyung.”

 

***

          “Chagiya,sudah belum belanjanya?” Yun ho melirik jam tangannya. Sudah hampir satu jam Yun ho menemani Chae eun mencari gaun untuk kontes pemilihan konyol itu. Tapi Chae eun sepertinya belum menentukan pilihannya. Yun ho sudah sangat bosan berada di sana,berkali-kali ia berusaha menutui rasa bosannya namun sepertinya ia tidak bisa tahan lagi.

“ Sebentar lagi nih. Aku bingung mau beli yang mana.” Chae eun sibuk memilih-milih aksesori.

“ Bagaimana kalau yang ini?” Yun ho mengambil sebuah gaun secara acak dari rak di sebelahnya.

Chae eun membelalakan matanya melihat gaun pilihan Yun ho. Gaun berwarna hijau mencolok dengan hiasan manik-manik sederhana di bagian depannya. Gaun yang lebih cocok dijejalkan ditubuh ibu-ibu.

“ Pilihan yang bagus ,tuan. Kalau boleh saya tahu apakah gaun ini untuk ibu anda?” Seorang pelayan tiba-tiba muncul dan mengomentari gaun pilihan Yun ho. Lalu dengan gaya sok tahu,pelayan itu mengambil beberapa gaun lagi yang modelnya hampir sama dengan gaun di tangan Yun ho dan mulai menjelaskan kelebihan-kelebihan gaun itu.

“ Mianhae,tapi kami rasa kami akan memilih gaun yang lain.” Yun ho segera menarik tangan Chae eun yang masih bengong.

“ Chagiya,mianhae. Aku tidak sengaja mengambil gaun itu.”

Chae eun kemudian melangkah pergi meninggalkan Yun ho dengan perasaan kesal bukan main. Yun ho telah membuatnya malu,untung pelayan tadi tidak tahu Yun ho memilihkan gaun itu untuknya.

“ Jangan marah,chagiya.Mianhae.” Yun ho menarik tangan Chae eun berusaha menahannya.
“ Ayolah kita ke toko lain saja.” Yun ho berusaha membujuk Chae eun. Tiba-tiba ponsel Yun ho berbunyi.

“ Yeoboseyo, ahhh aku ke sana sekarang.Kenapa tiba-tiba? Ne. Ghamsahamnida.”

“ Chae eun,aku ada rapat mendadak. Aku pergi dulu ya. Aku suka kok gaun mana pun yang kau pilih.” Yun ho mengecup kening Chae eun pelan kemudian meninggalkannya.

Chae eun memandang kepergian Yun ho dengan tatapan kosong. Ia kecewa Yun ho tidak mempunyai banyak waktu untuknya.

 

***

          “ Annyeong,kau sibuk hari ini?” Jang mi duduk di sebelah Yoo chun yang sedang berjemur. Tubuhnya masih basah karena habis berenang.

“ Annyeong,Jang mi,tumben kau hari ini datang.”

“ Memangnya tidak boleh ya?”

“ Boleh tapi aku heran saja.Memangnya besok kau tidak ada tugas?”

“ Aniya,makanya daripada aku bosan di rumah aku ke sini. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.” Jang mi mengambil handuk yang ada di meja di sebelahnya dan mengusapkannya pelan ke wajah Yoo chun yang basah.Refleks Yoo chun mengambil handuk itu dari tangan Jang mi dan melakukannya sendiri.

“  Mian,Jang mi,aku hanya tidak terbiasa.” Yoo chun memandang Jang mi dengan tatapan penuh penyesalan.

“ Ne. Aku tahu.” Jang mi tersenyum namun ada sorot luka di matanya. Yoo chun tahu Jang mi terluka,namun selama ia belum berhasil mengingat apapun. Ia harus terus menutup diri dari Jang mi.

“ Jadi kau akan mengajakku ke mana?”

“ Rahasia,salah satu tempat kenangan kita dahulu. Aku yakin kau akan menyukainya.”

“ Ne,aku ganti baju dulu ya.” Yoo chun bangun dari tempat duduknya dan berjalan sambil mengeringkan rambutnya.

Jang mi mengambil ponselnya dan mengetik SMS untuk Sae na.

Aku pulang malam nanti

Jangan tunggu aku ya,kau tidur saja

Jangan khawatir aku pergi bersama temanku kok

^_^

 

“ Aku sudah siap.” Yoo chun berdiri di samping Jang mi. Jang mi tersenyum kemudian  berdiri dan mengikuti Yoo chun.

 

“ Kita sudah sampai.” Jang mi merentangan tangannya dan tersenyum. Yoo chun memandang sekelilingnya dengan tatapan kagum. Ternyata Jang mi membawanya ke sebuah tempat bermain Ice skate.

“ Ayo kita masuk.” Jang mi menarik tangan Yoo chun bagai seorang anak kecil  yang merengek minta dibelikan sesuatu.

Yoo chun dan Jang mi bermain-main di area itu cukup lama. Yoo chun melihat sosok Jang mi yang sedang memejamkan matanya dan berjalan pelan menyusuri area yang cukup luas itu. Tiba-tiba ia merasa pernah melihat pemandangan yang serupa di kehidupan masa lalunya. Kepalanya terasa sakit bayangan itu menguncinya sosok dalam ingatannya dan sosok Jang mi yang berdiri di depannya muncul bergantian dalam kepalanya.

“ Yoo chun-ah,gwechanayo?” Jang mi menyadari Yoo chun yang sedang kesakitan sambil memegang kepalanya. Jang mi segera berlari menghampiri Yoo chun dan memapahnya keluar.

“ Gomawo,Jang mi. Aku sudah lebih baik.”

“ Kita pulang saja. Kau perlu istirahat.” Jang mi memandang Yoo chun dengan pandangan khawatir.

Yoo chun mengangguk dan Jang mi segera mengandeng tangan Yoo chun. Hati Jang mi terasa sakit ketika mengetahui Yoo chun tidak balas menggandengnya. Ia tahu perlu banyak waktu baginya untuk meyakinkan Yoo chun. Namun sampai kapan ia harus menunggu?

 

“ Ahjuma,mianhae.Aku tidak tahu Yoo chun akan sakit.”

“ Jang mi,saya sudah sering bilang padamu jangan bawa Yoo chun ke tempat yang mengingatkan dia dengan masa lalunya. Dia belum sanggup.”

Jang mi menunduk karena takut dan sedih. Bagaimana jika ia tidak diperbolehkan bertemu dengan Yoo chun lagi?

“ Ne. Mianhae,aku tidak akan mengulanginya. Aku pikir dengan membawanya ke sana,Yoo chun akan ingat masa lalunya.”

“ Sudahlah,saya hanya mengingatkanmu sekali lagi,saya tidak mau Yoo chun sakit lagi.”

“ Ne. Aku pulang dulu,ahjuma.”

***

          Jang mi melihat lampu apartementnya belum mati. Itu berarti Sae na belum tidur. Jang mi heran apa SMS nya tidak sampai?

Jang mi berjalan masuk dan menuju ke kamar Sae na. Di bukanya pintu kamar Sae na perlahan. Dan dilihatnya kamar Sae na kosong. Sayup-sayup didengarnya suara orang menangis. Jang mi segera berlari ke tempat suara itu berasal. Sae  na sedang berdiri di balkon apartemennya dan menangis. Jang mi mendekati Sae na perlahan.

“ Sae na,ada apa? Mengapa kau menangis?”

“ Gwechanayo,aku hanya teringat seseorang.”

“Dia?” Jang mi bertanya takut-takut. Ia takut menyinggung perasaan Sae na.

“ Ne. Aku sangat ingin bertemu dengannya. Sudah dua tahun aku menahan rinduku padanya.”

“ Kau yakin masih ingin mencarinya? Aku yakin ia sudah melupakanmu dan menemukan kekasih lain.”

“ Jang mi aku sangat mencintainya. Aku tahu ia pun begitu dan kalau ia tahu aku menyusulnya ke Seoul. Ia pasti akan mencariku. Hanya saja bagaimana caranya agar ia tahu?”

“ Ne. Kau pasti akan menemukannya.” Jang mi tersenyum sambil mengusap air mata yang mengair di pipi Sae na.

“ Gomawo Jang mi. Kau memang sahabatku yang paling baik.” Sae na memeluk Jang mi dan mengusap sisa air matanya.

“ Sudah jangan menangis lagi ya. Aku pasti akan membantumu.”

“ Ne,aku akan mulai mencarinya lagi.”

“ Lalu bagaimana dengan Chang min? Dia kan juga sangat mencintaimu.”

“ Ne,tapi aku tidak mencintainya dan aku yakin ia akan mengerti kalau cinta tidak bisa dipaksakan.”

“ Tapi kau kan sudah mengenal Chang min dari kecil.”

“ Ne,tapi dia hanya kuanggap sebagai seorang kakak tidak lebih dari itu.”

“ Bagaimana kalau dia yang terbaik untukmu?”

“ Kalau dia benar mencintaiku,aku yakin dia akan mengerti keputusannku untuk tidak menerimanya.”

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s