[Korean Fanfiction/Straight/Series] Wasurenaide (chapter3)

Title : Wasurenaide

Author : Deviyana cassiopeia a.k.a Yunnie_Dv a.k.a Kim Sae na

Rating : PG 13

Genre : Straight/On writing

Cast :

Kim Chae eun

Lee Jang mi

Kim Sae na

All member TVXQ

dislaimer : Tvxq are belong to SM entertaiment and their parents

I don’t make money from this fanfic. It’s just for fun

Please don’t sue me.

 

Chapter 3

 

“ Mungkin saja ia sudah pindah dari kota ini,Sae na. Sudahlah hentikan saja keinginanmu untuk mencarinya.”  Chang min duduk di sebelah Sae na yang sibuk mencoret-coret kalender yang berada di agendanya. Tidak terasa dua tahun waktunya ia gunakan untuk mencari seseorang. Seseorang yang sangat berarti di hidupnya.

“ Aku tidak akan menyerah sebelum aku menemukan dia. Aku yakin dia masih tinggal di kota ini.”

“Apa yang membuatmu seyakin itu? Sudah dua tahun Sae na,tapi kau tidak menemukan dia kan?” Chang min membuka tasnya dan mengambil sebuah buku dan mulai membuka halaman pertama buku itu.

“ Aku hanya belum berusaha dengan keras,aku yakin suatu saat nanti ia akan muncul di hadapanku. Aku yakin ia akan kembali,min.”

“ Aku hanya bisa memperingatkanmu,kau masih hidup,Sae na,dan hidupmu tidak hanya didedikasikan untuk mencari dia.”

“ Cukup,min. Aku tidak mau mendegarmu berbicara seperti itu lagi. Aku tahu apa yang aku lakukan.” Sae na mengambil tasnya dan melangkah meninggalkan Chang min yang masih terpaku.

 

Sae na melangkah menuju taman campus yang sepi. Seharusnya kelasnya di mulai sepuluh menit yang lalu. Namun pembicaraannya dengan Chang min membuatnya tidak niat mengikuti kelas hari itu. Sekarang ia malah terpaku di taman campus,ia juga tidak mengerti mengapa teman-temannya bersikeras agar ia berhenti mencari orang itu.

Apakah memang ia harus melepaskan dia? Dia yang selama ini menempati ruang khusus di hatinya. Dia yang sampai kapanpun tidak akan mampu digantikan oleh siapapun juga. Mungkin sekarang jawabannya adalah tidak,dialah satu-satunya dan takkan terganti. Namun setahun lagi,dua tahun lagi,tiga tahun lagi,apakah jawabnnya masih sama?

Atau apakah ia mulai melupakan orang itu dan mencari cinta baru? Sae na malah semakin pusing memikirkan kemungkinan-kemungkinannya.

 

          “ Aku akan pergi ke Seoul. Mian aku rasa sudah saatnya kita mengakhiri hubungan kita,Sae na.”

          Sae na menatap pria di depannya dengan tatapan tidak percaya. Jadi semudah itukah mengatakan pisah? Setelah apa yang mereka lewati bersama selama ini?

          “ Kita masih bisa berhubungan kan? Kau tidak akan meninggalkanku kan?” Sae na mulai menangis,ia yakin pria itu berbohong. Ia berharap pria itu tertawa dan mengatakan ia hanya bercanda.

          “ Mianhaeyo,Sae na,orang tuaku sudah memutuskan aku harus pergi ke Seoul. Aku yakin kau akan menemukan orang yang lebih baik dariku. Aku menghargai semua waktu dan kenangan yang kau berikan padaku. Aku tidak akan melupakanmu.” Pria itu berjalan pergi meninggalkan Sae na.

          Sae na hanya menatap kepergian itu dengan tanda tanya. Kepergiannya membuat Sae na merasa ragu,ia tidak yakin pria itu meninggalkannya begitu saja. Ia yakin ada alasan khusus kenapa pria itu meninggalkannya dan ia harus tahu apa itu.

 

          Sae na mengusap air mata yang perlahan meleleh di pipinya. Setiap kali ia mengingat hari itu,ia selalu merasakan sesak yang sama. Pedih yang sama,sakit yang sama. Sejak hari itu Sae na tidak pernah melihat dia lagi. Sekeras apapun Sae na berusaha mencarinya,ia tidak pernah menemukan orang itu lagi. Entah ke mana dia pergi.

 

“ Berhati-hatilah,kalau kau menangis sendirian di taman. Bisa-bisa kau diganggu oleh makhluk halus.”

Sae na mengambil tissue dari dalam tasnya dan menghapus air matanya yang msih tersisa di pipinya. Ia menoleh dan mendapati Jun su sedang berjalan ke arahnya.

“ Oppaaaa…..” Sae na cemberut dan melipat kedua tangannya di dada dan duduk membelakangi Jun su.

Jun su tertawa dan duduk di sebelah Sae na. Sae na masih nagmbek sehingga ia hanya diam saja ketika Jun su berusaha meminta maaf padanya.  “ Ne,Sae na-ah,Mianhaeyo. Aku tidak akan bercanda seperti itu lagi. Aigooo, Sae na. Waeyo?”

“ Aku sedang sedih,oppa. Tapi oppa malah menjailiku.” Sae na menatap kosong ke depan. Pikirannya hanya dipenuhi satu nama.

“ Memikirkan Chang min ya?” Jun su secara asal menyebutkan nama Chang min. Jun su tahu sudah sepuluh tahun Chang min menyukai Sae na,namun cinta adiknya itu tidak terbalas. Chang min sudah seperti adik kandung bagi Jun su,walaupun sebenarnya Chang min hanya saudara sepupu Jun su. Namun mereka sangat dekat,sehingga Junsu sangat mengerti perasaan Chang min, begitu pun sebaliknya.

Sejak kecil Chang min terbiasa bercerita apapun tentang dirinya kepada Junsu. Dan Junsu dengan senang hati mendengarkan keluh kesah Chang min,termasuk saat Chang min bercerita tentang Sae na,anak dari sahabat ommanya, yang tiba-tiba saja membuatnya jatuh cinta. Jun su hanya tersenyum mendengar kata cinta dari mulut Chang min padahal waktu itu dia baru kelas 4 SD.

“ Aniya,oppa,aku memikirkan kekasihku yang belum bisa aku temukan sampai hari ini.”

Junsu merasa kasihan dengan Chang min,sejak kecil Chang min sudah mengidolakan Sae na,namun Sae na malah jatuh cinta dengan orang lain sewaktu SMA. Ironis memang namun itulah kenyataan yang harus dihadapi Chang min,sekarang setelah kekasih Sae na itu menghilang selama dua tahun,Sae na tetap tidak bisa melupakan orang itu,dia tetap mengejarnya,Chang min pun enggan mencari wanita lain.

“ Kau ini masih saja nekat mencarinya,mungkin juga ia sudah bahagia bersama orang lain makanya ia meninggalkanmu dan tidak memberimu kabar.”

Sae na mengerutkan dahinya tidak mengerti. Mengapa semua orang tiba-tiba saja berkata begitu?

“ Oppa,kau sama saja seperti Chang min. Tapi aku tidak akan menyerah biarpun semua orang di dunia ini berkata aku harus melupakannya.”

“ Aku sih tidak akan memaksamu melupakannya hanya saja,aku mau kau menikmati hidupmu dengan santai, tanpa harus terbebani dengan keingininanmu untuk menemukannya.”

“ Aku tahu,oppa.Gomawo atas perhatiannya.”

***

Kau tidak sama seperti dulu

Kau sudah tidak bisa ku kenali

Perubahan itu menimbulkan jarak

Antara diriku dan dirimu

Aku berusaha menghalau semua itu

Berharap menemukan dirimu yang dulu

Namun semua itu sia-sia

Kau terlanjur jauh untuk ku gapai

Ingin rasanya aku memutar waktu

Kembali ke masa itu

Ke mana masa-masa indah yang dulu kita lalui?

Ke mana semua perasaan indah tak terkatakan?

Kenapa sekarang yang hanya tinggal adalah kenangan?

 

Chae eun menutup buku diarynya. Ia memandang sedih ke arah langit senja kemerahan. Ia ingat dulu ia sangat suka melihat sunset bersama Yun ho. Entah itu di pantai, di atap campus, di taman,atau di manapun. Chae eun menikmati setiap detik yang ia lalui bersama Yun ho. Namun sekarang jangankan melihat sunset,makan bersama di kantin saja,Yun ho sudah tidak sempat. Yun ho terlalu sibuk dengan urusannya sendiri.

Chae eun merasa kehilangan sosok Yun ho yang sangat dicintainya. Ia berusaha mengerti kesibukan Yun ho,namun terkadang semua itu membuatnya merasa jenuh,lelah,dan kesepian. Ia tinggal di Seoul sendirian,memang masih ada pelayannya yang banyak. Omma dan appanya terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri. Adik satu-satunya yang dimiliki Chae eun  di sekolahkan ke luar negeri oleh orang tuanya. Dan hanya pulang setahun sekali saat summer holiday.

Ia merasa sangat kesepian,itulah sebabnya ia menjadi menutup dirinya dan tidak mempunyai teman dekat. Hanya beberapa teman di kelasnya dan kekasihnya Yun ho.Namun sekarang ia kehilangan sosok kekasihya. Tadinya ia berharap jika ia dan Yun ho menang di pemilihan putri dan pangeran campus,itu akan mendekatkannya kembali dengan Yun ho. Namun sepertinya Yun to tidak bersemangat sama sekali mengikuti acara itu.

Chae eun menghela nafas sedih, ia sudah kehilangan semangat megikuti kontes itu. Yang ia inginkan saat ini hanyalah keluarganya yang menemaninya setiap saat,atau kekasihnya yang menghiburnya jika ia kesepian. Namun semua itu tidak didapatkannya sekarang.

 

***

          “ Jang mi,aku ingin bertanya satu hal padamu.” Kata Sae na sambil memainkan ujung rambutnya.

“ Tanya apa?” tanya Jang mi sambil masih sibuk menulis sesuatu di bukunya.

“ Sebenarnya kau kerja apa sih setiap hari Sabtu?Boleh tidak aku ikut bekerja di tempatmu?”

Jang mi menghentikan kegiatan menulisnya dan membetulkan letak kacamatanya. Jang mi sendiri sebenarnya risih ditanya seperi itu oleh Sae na. Ia ingin jujur bahwa setiap Sabtu ia tidak bekerja,melainkan menemui Yoochun. Namun ia belum bisa mengatakannya sekarang.

“ Di tempat temanku,sebagai pelayan toko,wah sepertinya tidak ada lowongan. Tumben kau mau kerja part time juga,ada apa?” Jang mi berusaha agar suaranya tidak kelihatan seperti sedang menyembunyikan sesuatu.

“ Aku ingin mengalihkan perhatian saja. Habisnya  setiap hari hanya namanya saja yang ada di otakku. Siapa tahu jika aku sibuk,aku akan cepat melupakannya.”

“Tapi di tempat temanku itu sudah penuh.” Jang mi merasa bersalah karena berbohong pada Sae na.

“ Sayang sekali ya. Padahal aku pikir aku bisa bekerja di sana. Tapi aku kan masih bisa mencari di tempat lain.”Sae na berkata sambil tersenyum.

“ Nanti aku bantu kau mencari tempat kerja yang cocok.” Jang mi kembali meneruskan pekerjaannya yang tertunda.

Jang mi merasa bersalah pada Sae na. Ada sesuatu hal yang ia tutupi dari Sae na,sesuatu hal yang dapat membuat sahabatnya itu sangat marah kepadanya. Bahkan mungkin tidak akan mau mengenalnya lagi,jika Sae na tahu apa yang disembunyikan oleh Jang mi. Jang mi menatap Sae na dengan pandangan nanar,rahasia ini seakan menghimpitnya namun ia tidak akan bisa jujur pada Sae na. Entah sampai kapan ia mampu menyembunyikannya.

***

          “ Aku selalu suka permainan pianomu. Tulus,jujur dari hati. Sehingga permainanmu dan hatimu menjadi satu.”

Jaejoong menoleh dan kembali mendapati Chae eun sedang tersenyum menatapnya. Jaejoong ingin berteriak marah karena Chae eun mengganggu latihannya,namun jika dibilang menganggu pun,Chae eun hanya diam saja dari tadi,sama sekali tidak menimbulkan suara yang dapat membuyarkan konsentrasinya.

Jae joong hanya mendengus pelan dan kembali menekan tuts-tuts piano di hadapannya,namun ia tidak dapat berkonsentrasi lagi karena tahu ada Chae eun yang memperhatikannya.

“Bisakah kau pergi?”

Chae eun hanya tersenyum sinis dari awal ia berada di sini,ia tahu Jae joong akan mengusirnya.

“ Yaa,bukankah kita belum berkenalan secara resmi?” Chae eun mengulurkan tangannya lagi.

Jaejoong menyambut uluran tangan Chae eun.

“ Kim Jae joong.” Jaejonng berkata tanpa ada ekspresi apa pun di wajahnya. Chae eun merasa sedikit seram,tidak bisakah pria di depannya ini memberikan sedikit saja senyumnya?

“ Yaa,kau tidak tahu ya kalau kau cemberut seperti itu hari-harimu akan suram?”

Jaejoong heran dengan gadis yang berdiri di sampinya. Mengapa dia hobi sekali mengganggu orang lain?

“ Lalu apa pedulimu?” Jae joong berkata namun tidak menoleh pada Chae eun. Membuat Chae eun merasa berbicara dengan benda mati. Tidak nyata. Tidak ada. Hanya banyangan saja.

“ Apa peduliku? Jelas saja aku peduli,walaupun aku baru saja mengenalmu,aku tahu kau itu akan menjadi teman yang baik untukku.”

“ Apa yang membuatmu seyakin itu?”

“ Kita lihat saja nanti.”

Chae eun melangkah keluar dari ruang musik,menimbulkan suara dentuman sepatu hak tingginya yang menggema di lantai kayu ruang musik,meninggalkan sejuta tanda tanya di kepala Jae joong.

***


2 thoughts on “[Korean Fanfiction/Straight/Series] Wasurenaide (chapter3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s