[Korean Fanfiction/Straight/Series] Wasurenaide (chapter 4)

Title : Wasurenaide

Author : Deviyana cassiopeia a.k.a Yunnie_Dv a.k.a Kim Sae na

Rating : PG 13

Genre : Straight/On Writing

Cast :

Kim Chae eun

Lee Jang mi

Kim Sae na

All member TVXQ

dislaimer : Tvxq are belong to SM entertaiment and their parents

I don’t make money from this fanfic. It’s just for fun

Please don’t sue me.

If you don’t like this fanfic. Please no bash.

Don’t Like Don’t read

Chapter 4

Yoo chun menekan tuts piano yang berada di hadapannya. Ia belum menemukan nada yang pas. Yoo chun melempar kertas partiturnya hingga berserakan di lantai.Ia mengusap-usap wajahnya putus asa.Kemudian ia bangun dari tempat duduknya dan menutup pianonya dengan kasar menimbulkan suara yang keras.

Yoo chun berjalan pelan ke arah jendela kamarnya. Ia menatap kosong ke arah luar. Ia merasa asing,ia tidak bisa mengenal siapapun,bahkan dirinya sendiri.Selama ini ia hanya berpura-pura bahagia. Tersenyum namun hatinya tidak,ia tidak mau mengecewakan omma dan appanya.Walaupun ia belum bisa mengingat apapun.

Jang mi..

Selama ini hanya Jang mi yang berusaha membantu Yoo chun mengingat semuanya. Ia merasa nyaman berada di dekat Jang mi,gadis itu mampu membuatnya tertawa. Namun  entah mengapa di saat ia bersama Jang mi,ada perasaan bersalah yang menghimpitnya.

Berada di dekat Jang mi menimbulkan dua perasaan baginya. Satu,perasaan aman dan nyaman berada di dekatnya. Yoo chun merasa Jang mi merupakan salah satu hal yang paling berharga dalam hidupnya. Dua,perasaan aneh,ia merasa bersalah dan takut. Seperti melakukan kesalahan besar yang tak termaafkan.

Hal itulah yang membuat Yoo chun membuat garis batas antara dirinya dan Jang mi. Garis yang mengharuskan Jang mi tetap berada di belakangnya,Yoo chun tidak mengizinkan Jang mi masuk ke wilayahnya. Banyak sekali ruang tertutup dan terlarang bagi Jang mi. Yoo chun tidak mau  memberikan kuncinya pada Jang mi. Mungkin tidak sekarang atau bahkan mungkin tidak sama sekali.

Tok tok tok!!

Yoo chun melangkahkan kakinya menuju pintu,lalu memutar kuncinya perlahan.

“ Yoo chun,omma mau mengenalkanmu dengan seseorang.” Ommanya masuk kedalam kamar Yoo chun sambil membawa sebuah foto. Foto close up seorang gadis yang sedang tersenyum.

Yoo chun hanya tersenyum memandang foto itu,sekarang ada satu orang lagi yang menambahkan tanda tanya di hidupnya.

***

          Love Stories

Sae na tersenyum membaca papan nama café itu. Lalu ia melangkahkan kakinya masuk ke café yang sederhana itu. Ia cukup terkejut melihat dekorasi café itu. Sederhana namun memberi kesan hangat dan ramah. Wallpaper dinding café itu berwarna soft pink garis-garis putih,meja dan kursinya pun berbentuk hati dengan warna coklat muda yang disusun sedemikian rupa sehingga terlihat sistematis,di tengah-tengah ruangan terdapat sebuah air mancur kecil dengan patung cupid sebagai hiasannya.

“ Annyeong,kim Sae na-ssi?”

Sae na menoleh dan mendapati sesorang gadis dengan kacamata tersenyum ke arahnya.Wajahnya terlihat ramah namun bersahaja. Gadis itu memakai pakaian yang sama dengan para pelayan di café itu. Sae na mengira gadis di hadapannya adalah pelayan di café itu.

“ Ne. Aku ingin bertemu nona Jung Hee jin.Apakah dia ada?”

“ Aku Jung Hee jin. Mari kita bicara di ruanganku.”

Wajah  Sae na memerah dan memanas karena malu. Ia berjalan perlahan mengikuti Hee jin yang sudah naik ke tangga menuju ruangannya yang terletak di lantai dua.

“ Jadi kau masih kuliah?” Hee jin memperhatikan biodata Sae na yang terletak di hadapannya.

“ Ne. Maka aku mengambil shift dari jam 4 sampai jam 9 malam.Karena aku kuliah pagi.Tetapi hari Jumat ,Sabtu,dan Minggu aku akan mengambil shift sampai jam 12 malam.” Café ini memang di hari biasa buka sampai jam 10 lalau pada hari Jumat,Sabtu dan Minggu bukan sampai jam 12 malam. Karena di weekend seperti itu café ini memang lebih ramai.

“Baiklah kau bisa mulai bekerja besok. Untuk masa percobaannya satu bulan,aku akan melihat kinerjamu selama sebulan ini.”

“ Ne. Aku akan berusaha sebaik mungkin,Ghamsahamnida,Nona Jung Hee jin.”

“Panggil aku Hee jin saja atu Hee jin eonni. Sebenarnya aku kakak kelasmu waktu SMA.Umurku satu tahun di atasmu.”

Sae na tertegun jadi gadis di hadapnnya saat ini harusya juga masih kuliah. Hebat sekali dia bisa kuliah sambil mengurus cafenya.

“ Jadi eonni masih kuliah? Mian aku tidak bisa mengingat eonni,karena di SMA aku tidak begitu kenal dengan kakak kelas.”

“ Aku sudah lulus kuliah setahun yang lalu. Mungkin memang kau tidak mengenalku karena aku mengambil kelas akselerasi waktu SMA dan waktu kuliah aku ikut program khusus sehingga dapat menyelesaikan kuliahku lebih cepat.” Hee jin berkata sambil tersenyum.

Sae na makin kagum dengan Hee jin . Gadis ini sangat cerdas dan ia pun mampu mengolah café ini dengan baik. Café ini cukup terkenal walaupun tidak besar dan letaknya agak jauh dari keramaian kota. Justru itu yang membuat café ini terlihat nyaman,karena café ini tenang dan jauh dari ingar bingar kota Seoul.

“ Eonni hebat sekali.” Sae na memandang Hee jin kagum.

“Aku biasa saja,hanya beruntung bisa mendapatkan program-program itu.”

***

 “ Chagiya,aku juga tidak tahu ada pertemuan mendadak dan harinya sama dengan hari pemilihan putri dan pengeran campus itu.”

“ Jadi kesimpulannya kau tidak bisa ikut?” Chae eun membelalakan matanya tidak pecaya.

“ Mianhaeyo,chagiya.”

Chae eun mendengus kesal. Ia sangat kecewa dengan Yun ho. Ini sudah yang kesekian kalinya Yun ho membatalkan janjinya dengan Chae eun. Chae eun sudah sangat lelah menghitung berapa kali Yun ho melanggar janjinya. Chae eun benci berharap,karena tahu Yun ho mungkin tidak akan memenuhi janjinya.

“ Sudahlah. Aku tahu kau memang selalu begitu dan aku harus selalu mengerti kesibukanmu.”

Sejak Yun ho menjadi kapten football di sekolah mereka,kesibukannya bertambah menjadi dua kali lipat. Tidak ada lagi waktu bagi Chae eun. Chae eun tahu dua bulan lagi akan ada pertandingan,Yun ho sibuk latihan dan rapat ini itu. Namun setidaknya ia harus memberikan waktunya sedikit saja untuk Chae eun.

“Chagiya,aku mohon kau harus mengerti.” Yun ho menggenggam bahu Chae eun dengan kedua tangannya. Chae eun menepis pelan tangan Yun ho. Chae eun tahu ia sangat kecewa kali ini. Dan ia butuh waktu berpikir.

“ Yun,mian kali ini aku butuh waktu berpikir.” Chae eun berjalan meninggalkan Yun ho. Yun ho tidak berusaha mengejar Chae eun karena Yun ho tahu Chae eun butuh waktu untuk berpikir.

***

 Chae eun menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Kali ini ia benar-benar kecewa dengan Yun ho,Yun ho tidak lagi ada untuknya. Yun ho sudah tidak bisa ia jangkau. Terlalu jauh dan terlalu menyakitkan. Chae eun bingung apa yang harus ia lakukan sekarang. Di satu sisi, Chae eun mengerti ia harus mendukung apapun yang dilakukan Yun ho,asal itu baik untuknya. Namun di sisi lainnya,Chae eun juga butuh perhatian Yun ho.

“ Aku rasa aku punya sesuatu yang dapat membuatmu tersenyum kembali.”

Chae eun menoleh dan mendapati Jae joong sedang berjalan pelan ke arahnya. Seperti biasa tidak ada senyum di wajahnya. Namun kali ini tidak ada tatapan dingin di matanya.Chae eun cukup terkejut mendengar Jae joong berkata seperti itu padanya. Padahal biasanya Jae joong sangat dingin terhadap Chae eun.

“ Aku tidak menyangka ternyata kau punya perasaan juga.” Chae eun meraih tasnya dan mengambil tissue kemudian ia mengusap air matanya.

Jae joong merasa tersinggung dengan perkataan Chae eun.Mana mungkin seseorang tidak punya perasaan,memangnya Jae joong patung? Jae joong berdiri persis di depan wajah Chae eun. Chae eun dapat melihat dengan jelas sorot mata Jae joong yang menampilkan kehangatan. Sesuatu yang ia rindukan dari Yun ho.

“Memang aku punya perasaan,kau saja yang tidak tahu.”

“ Apa yang ingin kau berikan padaku? Aku sedang sedih,jadi jangan mengerjaiku.”

“ Ikut aku.” Jae joong menarik tangan Chae eun,Chae eun sedikit terseok-seok mengikuti langkah Jae joong yang panjang dan cepat,apalagi ia memakai high heels.

Jae joong membawa Chae eun ke ruangan musik. Chae eun bengong di pintu masuk,bukankah selama ini Jae joong selalu marah kalau Chae eun berada di sana? Lalu kenapa sekarang malah Jae joong membawanya ke sini?

“ Ayolah masuk,kau mau menjadi penjaga pintu ya? Tenang saja,pintu itu tidak akan hilang.” Jae joong berkata sambil tersenyum. Chae eun semakin heran dengan perubahan Jae joong yang drastis ini. Chae eun curiga jangan-jangan Jae joong sakit.

Chae eun melangkah mendekati Jae joong dengan langkah yang tergesa-gesa. Ia segera meletakkan tangannya di dahi Jae joong. Jae joong yang tidak siap dengan gerakan Chae eun yang tiba-tiba hanya bisa menangkap tangan Chae eun yang belum sampai di dahinya. Chae eun hanya bisa terdiam memandangi wajah Jae joong demikian juga Jae joong yang masih menggenggam tangan Chae eun.

“Euhmmm,Mianhaeyo,Jae joong.” Chae eun melepaskan tangannya dari genggaman Jae joong.

“ Gwechana.Aku kaget saja dengan tindakanmu yang tiba-tiba.” Jae joong menjadi salah tingkah di hadapan Chae eun.

“ Habisnya kau berlaku aneh sekali hari ini. Aku pikir kau sakit.”

“ Memangnya aku seaneh itu apa?” Jae joong duduk dan mulai memainkan pianonya.

“Aku hanya tidak biasa melihat tingkahmu yang seperti itu.”

“ Duduklah di sana.” Jae joong menunjuk kursi yang terdapat di ujung ruangan.

Chae eun menurut dan berjalan ke arah kursi itu dan duduk manis di sana. Perlahan Jae joong mulai memainkan jari-jarinya di atas piano. Mengalunlah sebuah lagu yang indah dan lembut,Chae eun sangat terbuai oleh lagu ini. Chae eun hanya tersenyum memandangi Jae joong yang masih berkonsentrasi pada permainan pianonya.

“ Aku sudah bilang kau akan tersenyum.” Jae joong menoleh ke arah Chae eun yang masih terpesona oleh permainan piano Jae joong.

“ Ne. Gomawo,Jae joong,aku suka kau sudah berubah sekarang. Kau bukan lagi Jae joong yang dingin dan beku seperti es. Kau Jae joong yang hangat dan ramah.”

“ Aku tetaplah Jae joong yang dulu.” Jae joong membereskan kertas-kertas partiturnya dan melangkah keluar dari ruang music. Kali ini Chae eun sudah terbiasa dengan sifat Jae joong.

          Aku senang berada di dekatnya

Chae eun bingung dengan kata hatinya sendiri,jujur ia memang bahagia berada di dekat Jae joong. Bukan hanya perasaan senang,namun perasaan nyaman yang selama ini hilang dari hatinya muncul kembali apabila ia sedang bersama Jae joong.

          Mungkinkah?

***

To Be Continued

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s