[Korean Fanfiction/Straight/Mini Drama] You are…? (Chapter 2)

Title : You are…?
Author: Kim Sae na a.k.a Devi
Rating : PG 15
Genre : Fantasy romance / straight/mini drama
Cast:
main cast :
Kim Sae na
Park Hye soo
SHINee- Minho
Onew
Taemin
2PM – Junsu

other cast :
Jung Yue lee
SHINee – Key & Jonghyun
2PM – Junho

Disclaimer : SHINee are belong to SM entertainment and their parents
2PM are belong to JYP entertainment and their parents
I don’t make money from this fanfic. It’s just for fun. Please don’t sue
me. This story is mine. Don’t take this fanfic without permission from me.If you want to take this. Please take with full credit.

 

If you don’t like this fanfic. Please no bash.

Don’t Like Don’t read

Chapter 2

Minho pov

            Aku membawa Sae na ke atap sekolah. Tempat ini sepi dan jarang sekali dikunjungi orang  apalagi ini saat jam pulang sekolah. Sae na baru saja menceritakan mimpinya yang menjadi kenyataan dengan suara terbata-bata. Aku heran padanya,harusnya ia tidak perlu merasa bersalah pada Hye soo. Kegagalan Hye soo bukan salahnya,tentu Sae na tidak mau jika harus mengalami hal itu.

Sebagai sahabatnya,sudah menjadi kewajibanku untuk menghiburnya apalagi ia pernah menyadarkanku dari suatu hal. Suatu hal yang merusak hidupku sekarang aku sudah terbebas dari semua itu dan itu semua karena Sae na. Tetapi ada satu hal yang masih aku lakukan sampai saat ini dan aku harap Sae na tidak pernah mengetahui hal itu.

End of the pov

            “Sebenarnya aku ingin menyuruhmu berteriak,tetapi masih banyak orang di bawah dan kau tidak mau jadi bahan tontonan kan?” Minho mengerling pada Sae na dan Sae na berusaha tertawa untuk menghargai usaha Minho.

“ Aku sudah merasa lebih baik,Minho,gomawo.” Sae na merapikan rambutnya yang tertiup angin.

“ Aku antar kau pulang ya?”

“ Aniya,gomawo Minho,aku naik bus saja.” Entah mengapa Sae na merasa risih jika ia pulang bersama Minho.

“ Ayolah Sae na,atau kau tidak suka karena aku tidak membawa mobil?” Minho bertanya dengan nada aneh.

“ Ahh,aniya,baiklah Minho.” Akhirnya Sae na mau pulang diantar Minho,memang Minho lebih suka membawa motor dibandingkan mobil.

***

          Minho berjalan menyusuri suatu gang yang gelap. Gang itu hanya diterangi beberapa lampu yang redup,sangat berbeda dibandingkan jutaan lampu di luar sana yang menerangi malam di kota Seoul.

“ Akhirnya kau datang juga Minho.” Minho menoleh dan mendapati seseorang yang dicarinya sedang berdiri tidak jauh darinya. Minho segera menghampiri orang itu.

“ Aku tahu kau sangat menginginkan kekuatan itu,Minho.” Pria bernama Jinki itu merapatkan jaketnya. Udara malam itu memang dingin bahkan lebih dingin dari malam-malam sebelumnya.

“ Ne,tetapi itu dahulu sekarang aku sudah tidak begitu menginginkannya lagi.” Minho menatap mata pria itu dalam-dalam.

“ Hhahahahahha,kau itu lucu Minho. Banyak sekali pria yang datang padaku hanya untuk mengetahui cara mendapatkan kekuatan itu dan kau sudah melewati beberapa tahap dan tinggal tahap-tahap terakhir dan kau mau berhenti.”

Minho terdiam ia membenarkan kata-kata pria itu di dalam hatinya. Ada sedikit rasa bersalah dalam hatinya. Ia merasa ragu dengan apa yang akan dilakukannya.

“ Sudahlah,Minho,kau turuti saja apa yang ku katakan.Kekuatan itu dapat membuatmu hidup abadi dan tidak ada satu orang pun yang bisa mengalahkanmu. Kau akan jadi penguasa dunia.”

“ Baiklah sekarang apa yang harus aku lakukan berikutnya?”

***

          “ Aku merasa bersalah padamu,Hye soo,sebenarnya aku sudah memimpikan tentang seleksi itu.” Sae na menggigit bibir bawahnya,ia memutuskan mengunjungi Hye soo di rumahnya,hati Sae na tidak tenang.

“ Hahhhh lupakanlah semua itu Sae na.Aku sudah merasa lebih baik sekarang,kau tidak usah mengkhawatirkanku lagi,Sae na.” Hye soo berkata dengan nada ketus pada Sae na. Entah mengapa ia merasa lelah hari ini,ia merasa kecewa dengan hasil seleksi tadi dan ia tidak ingin diganggu siapapun.

“ Ne.Aku harap kau merasa lebih baik lagi,Hye soo,aku pulang dahulu.” Sae na berdiri dari kursi yang didudukinya dan keluar dari kamar Hye soo.

Hye soo menghela nafas sedih. Hancur sudah impiannya menjadi wakil sekolah dan yang membuatnya merasa marah dan kecewa adalah ia kalah dari Sulli. Sungguh ia tidak akan percaya hal itu terjadi padanya.

“ Nona,ada tamu untuk anda.” Seorang pelayan mengetuk pintu kamar Hye soo. Hye soo sedang malas bertemu siapapun lagi saat ini. Tetapi ia penasaran dengan tamu yang ingin menemuinya.

“ Ne,suruh dia tunggu sebentar.”

“ Baik,nona.”

Setelah mengganti bajunya dan bercermin,Hye soo turun ke bawah untuk melihat siapa tamunya. Sesaat ia tertegun melihat orang itu.

“Annyeong,Hye soo,mian menggangumu,aku tahu kau masih butuh waktu sendiri.”Junsu langsung bangkit berdiri setelah melihat Hye soo berjalan mendekatinya.

“ Ahh,gwechana,Junsu-ahh,ada apa ya?”

“ Aku ingin memberikan ini untukmu.” Junsu mengambil sebuket bunga yang tadi ia letakkan di sofa dan memberikannya pada Hye soo.

Hye soo memandang sebuket bunga anggrek warna putih yang dibawa Junsu. Ia tertegun,hatinya terasa hangat,belum pernah ada pria yang memperlakukannya sebaik itu.

“ Gomawo,Junsu.” Mata Hye soo mulai berkaca-kaca melihatnya. Junsu segera menghampiri Hye soo dan memegang tangannya.

“Sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakan padamu,Hye soo,aku tahu ini bukan saat yang tepat tetapi aku tidak mampu membohongi perasaanku sendiri Hye soo. Nado saranghaeyo.” Junsu menatap kedua bola mata Hye soo dan Hye soo bisa melihat ada kesungguhan di sana.

“ Ne,aku juga mencintaimu,Junsu.” Wajah Hye soo perlahan memerah karena malu. Moodnya mendadak meningkat dari sedih menjadi bahagia bahkan sangat bahagia.

***

Sae na pov

Hari ini Hye soo membawa kabar baik ke sekolah. Ia dan Junsu baru saja resmi berpacaran,sebagai sahabat yang baik,aku turut senang.Aku tahu sudah lama Hye soo menyimpan perasaan pada Junsu dan sekarang ia bisa bernafas lega karena cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.

Sedangkan aku? Padahal aku juga sudah lama menyukai Junho,sahabat baik Junsu,memang kisah percintaan kami unik. Aku dan Hye soo bersahabat,Junsu dan Junho juga bersahabat. Tetapi sampai hari ini aku tidak berani menyapanya. Selalu muncul keraguan dalam hatiku saat aku melihatnya. Entah apa yang membuatku ragu.

“Yaa,itu kan Junho.” Hye soo menyenggolku dan menunjuk Junho yang sedang berjalan ke arah kami dengan dagunya.

“ Mau apa ya dia?” jujur saja tiba-tiba jantungku berdegup dengan cepat tidak karuan.

“ Mollayo,mau bertemu denganmu mungkin.”

“ Ahh mana mungkin.” Aku hanya tertawa mendengar perkataan Hye soo.

Benar saja Junho berjalan melewati kami berdua tanpa menoleh sedikit pun. Heii tunggu,ada sehelai kertas jatuh dari saku celananya. Aku mengambil kertas itu dan bermaksud mengembalikannya. Tetapi ia sudah jauh berada di ujung lapangan,memang jalannya cepat sekali.

“ Apa itu?” Hye soo memandang kertas di tanganku dengan pandangan tertarik. Aku hanya menggelengkan kepalaku tidak mengerti.

“ Punya Junho tadi terjatuh.”

“ Wahhhh ini kesempatanmu untuk mendekatinya loh.” Hye soo tertawa sambil menepuk-nepuk pundakku dengan heboh.

“ Mungkin hari ini keberuntunganku.” Aku hanya tertawa menganggapi candaan Hye soo.

“ Ayo kita lihat isi kertasnya.” Hye soo berusaha merebut kertas itu dari tanganku.

“ Andwe!! Nanti Junho bisa tersinggung kalau kita seenaknya saja membuka barang pribadinya.” Aku segera menaruh kertas itu disaku blazerku.

“ Ne,mian,hahahhaa,aku kan hanya penasaran.Masuk yuk sudah bel tuh.” Hye soo menarik tanganku kembali ke kelas.

Aku melirik jam dinding di kelasku. Lima menit lagi bel pulang akan berbunyi dan aku akan segera berlari ke kelas Junho untuk mengembalikan kertas itu. Aku sudah tidak sabar bertemu dengannya walaupun aku masih gugup jika harus berhadapan langsung dengannya.

“ Annyeong,Junho di mana ya?” aku menyapa seseorang yang baru keluar dari kelas Junho. Kelas itu masih ramai,kemungkinan besar Junho belum pulang.

“ Ahh,Junho sudah pulang tadi saat jam terakhir.Katanya ada urusan keluarga.”

“ Gomawo..” aku melangkahkan kakiku kembali ke kelas dengan perasaan kecewa.

“ Yaa,wajamu kusut begitu. Waeyo?” Hye soo menyandarkan tubuhnya ke dinding.

“ Dia sudah pulang.” Aku kecewa,entah mengapa ada sedikit rasa sesak di dadaku. Sesungguhnya aku sangat berharap bisa bertemu dengannya.

“ Sudahlah kembalikan besok saja.” Hye soo merangkulku dan berusaha menenangkanku.

End of the pov

***

          Keesokan harinya terdengar kabar mengejutkan. Junho hilang,setelah ia meminta izin untuk pulang kemarin,ia ternyata tidak pulang ke rumah. Entah apa yang terjadi dengannya. Tidak ada satu pun yang tahu. Menrurut teman-temannya hari di mana Junho menghilang,di hari itu Junho sudah kelihatan aneh dari pagi.

“ Hye soo,ayo kita ke sana..” Sae na menarik tangan Hye soo menjauh dari kerumunan yang sedang membicarakan berita hilangnya Junho.

“ Waeyo Sae na?” Hye soo mengerutkan keningnya. Hye soo tahu persis kalau Sae na sedih mendengar berita hilangnya Junho.

“ Aku ingin melihat isi dari kertas ini.” Sae na menunjukkan kertas yang kemarin dijatuhkan oleh Junho.

“ Menurutmu misteri hilangnya Junho ada hubungannya dengan kertas itu?”  lambat laun Hye soo mulai paham maksud Sae na.

“Ne.Aku yakin kita bisa menemukan sesuatu di sini.” Perlahan Sae na membuka lipatan kertas itu,ia membacanya bersama Hye soo.

“ Bukankah alamat ini tidak jauh dari sekolah kita?” Hye soo semakin bingung karena isi kertas tersebut hanya berisi alamat.

“ Justru bagus,aku yakin Junho ke sana,maka kita bisa menemukannya.”

“ Aku tidak yakin,Sae na.”

“ Ayolah Hye soo.Mian aku terlalu memaksamu,tetapi aku butuh teman untuk pergi ke sana.”

“ Ne. Pulang sekolah kita langsung ke sana.”

 ***

To Be Continued

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s