[Korean Fanfiction/Straight/Oneshoot] Dear Friend

Title      : Dear Friend

Author : Kim Sae na a.k.a Devi

Rating         : Pg 13/staright/oneshoot

Genre          : Friendship/Angst/A little bit romance

Cast  :

Big bang –  G-Dragon a.k.a Kwon Ji yong

T-ara  – Ryu Hwa young , Ham Eunjung

                 

Disclaimer  :   G-Dragon is belong to YG Entertaiment and his parent

                                Ryu Hwa young and Ham Eunjung are belong to their parents

                                I don’t make money from this fanfic.

                                It’s just for fun. Please don’t sue  me.

 

Cerita dalam Fanfic ini saya ambil dari komik Dear friend karangan Ryo Takase. Saya hanya menuliskan cerita komik ini dalam bentuk fanfiction dan mengganti tokoh-tokoh dalam komik dengan cast yang berada di atas serta menambahkan beberapa kejadian tanpa mengubah jalan cerita utama. Jalan cerita utama adalah milik Ryo Takase.


Apa itu sahabat?

Apa itu hidup?

 

Waktu kecil kita bisa tertawa-tawa

Sambil menyebut diri kita sebagai

Seorang “teman” dengan naifnya

 

Setelah kita beranjak dewasa

Apa kita masih bisa menjadi “ teman”?

 

Hwayoung pov

 

            “ GAME SET! WON BY EUNJUNG-SUNYOUNG PAIR…”

“ Hyaaa,Eunjung eonni..”

“ Kita maju ke kejuaraan nasional..”

Dalam sekejap tepuk tangan dan teriakan kegembiaran membahana ke seluruh ruangan yang dipakai untuk Arena eliminasi kejuaraan tennis SMA tingkat nasional. Eunjung dan Sunyoung segera mendapat sambutan dari guru-guru dan teman-teman dalam hadir di sini. Terutama dari klub tennisnya.

“ Eunjung hebat..” aku menghampirinya dan memberi ucapan selamat padanya. Aku sangat bangga padanya.

“ Kamu lihat? Aku berhasil.. Rasanya seperti mimpi saja!!” Eunjung segera memelukku yang berdiri di depannya dengan erat.

“Chukkhae,Eunjung-ah..” Aku membalas pelukannya. Senyum manis terkembang di wajahnya. Aku tahu.. ini mimpinya dan sebentar lagi ia akan mencapai apa yang sudah diimpikannya sejak dulu.

“ Mungkin jimat buatan Hwayoung bekerja dengan baik.” Eunjung merogoh saku seragam tennisnya dan mengeluarkan sebuah boneka panda yang sedang memegang raket tennis ukurtan kecil. Boneka itu sengaja aku buat untukku. Untuk menyemangatinya di eliminasi kejuaraan nasional tennis ini dan akhirnya ia berhasil lolos. Tentu saja bukan karena boneka itu,tetapi karena usahanya selama ini.

“ Sempurna sekali ya,bukan hanya wajahnya yang cantik tapi ranking sekolahnya juga bagus!! Katanya dia itu salah satu calon penerima beasiswa dari Seoul University loh..”

“ Jeongmal? Ahh hebat sekali,padahal dia masih kelas dua.”

“ Tapi coba lihat, lagi-lagi Eunjung eonni bersama orang itu..”

Aku melihat dari sudut mataku beberapa anak sedang membicarakan Eunjung. Sahabatku ini memang selain pintar dalam bidang olahraga,ia juga pintar dalam bidang akademis. Semua orang menyukainya.

“ Huwahhh aku lapar nih.” Eunjung berteriak sambil memegang perutnya. Aku tertawa kecil mendengarnya. Aku segera mengelurkan sebuah kotak bekal dari dalam tasku.

“ Aku sudah membuatka bekal makan siang untukmu,karena aku tahu kau akan lapar.”

“ Benar nih? Gomawo..”

“ Eunjung kemarilah. Anak-anak klub mau merayakan kemenangan nih..” aku menoleh dan mendapati salah seorang anggota klub tennis melambaikan tangannya pada Eunjung.

“ Euhmm tapi aku ada janji dengan Hwayoung..” Aku lega karena Eunjung lebih memilih bersamaku. Tetapi sebagian hatiku merasa bersalah karena Eunjung harusnya bisa bersenang-senang dengan teman-temannya di klub.

“ Eunjung  pergi saja bersama mereka.”

“ Aniya.. aku kan sudah janji akan memakan bekalmu.”

“ Gwechana,kau pergi saja..” aku berusaha tersenyum agar Eunjung mau pergi bersama teman-temannya.

“ Tapi kamu kan sudah..”

“ Ahh aku juga tidak yakin rasanya akan enak atau tidak..” aku memotong perkataan Eunjung.

Akhirnya Eunjung pergi dengan teman-teman klub tennisnya. Aku melambaikan tangan padanya sambil tersenyum. Ia menoleh padaku,pandangan matanya terlihat khawatir padaku. Tapi aku tidak akanpernah mau menjadi penghambat baginya.

Seperti orang bodoh saja rasanya,aku orang luar yang mengganggu acara mereka.Padahal aku bangun jam 5 pagi untuk membuatkan bekal ini. Tapi ya sudahlah. Aku melangkahkan kakiku keluar gerbang.

“ Hwayoung….” Aku mendegar seserang berteriak memanggil namaku.Aku pun menoleh dan mendapati Eunjung berlari ke arahku.

“ Aku akan menyusul mereka nanti. Aku benar-benar kelaparan sekarang.Hahahha.” Eunjung tersenyum dan menarikku ke sebuah taman yang tidak jauh dari sana.

“ Wuahhh kau membuatkan makanan kesukaanku kan?” Eunjung mengambil sepotong kimbab dari kotak bekalku lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.

“ Enak..”

“ Hahahaha,syukurlah,aku pikir rasanya aneh.”

Aku dan Eunjung selalu bersama-sama sejak kecil. Apakah hari-hari seperti ini akan terus berlanjut? Itulah yang kupikirkan,tapi…

***

Tenggg Tenggg

Bel pelajaran terakhir berbunyi. Setelah seongsaenim keluar dari kelas. Satu per satu anak-anak keluar dari kelas. Aku melihta salah satu teman sekelasku datang menghampiriku.

“ Hwayoung,kau gantikan tugas piketku hari ini ya.Aku ada urusan,tolong kau susun fotocopy-an ini.”

“ Ahh,ne..”

“ Gomawo. Annyeong.”

Aku segera mengerjakan tugas piket kelas,setelah selesai aku menyusun fotocopy-an. Setelah kelas rapi,aku berjalan meninggalkan kelas. Saat akan berbelok menuju koridor aku melihat Eunjung sedang berbicara dengan Lee seongsaenim.

“ Eunjung berjuanglah di kejuaraan nasional dan juga pada ujian penerimaan beasiswanya..”

“ Ne,seongsaenim,saya akan berusaha sebisanya.”

Saat aku melangkahkan kakiku menuju loker ingin menyimpan beberapa bukukku di sana. Eunjung menoleh padaku,lalu erlari menghampiriku.

“ Hwayoung,kenapa kau belum pulang?”

“ Ahh,aku masih ada urusan sebentar tadi..”

“ Kita pulang bersama saja ya,tapi tunggu dulu,aku masih ada urusan,aku akan ke rumah Hwayoung untuk mengerjakan PR bersama.” Eunjung berlari kecil ke arah pintu klub tennis.

Saat menunggu Eunjung,tanpa sengaja aku mendegar beberapa orang sedang berbicara mengenai kami.

“ Eunjung,mengapa kau berteman dengan anak itu?”

“ Menurutku sih,penampilannya dan prestasinya biasa saja. Ia juga tidak pernah ikut klub manapun,jadi dia tidak menonjol.”

“ Kalau dibandingkan dengan Eunjung,dia itu seperti katak merindukan bulan loh.”

“ Astaga kau jahat sekali berkata seperti itu…Hahahahha”

“ Apa sih? Kalian juga berpikiran sama kan?”

“ Mereka itu tidak selevel,tapi anak itu terus menempel pada Eunjung,rasanya anak itu seperti memanfaatkan Eunjung saja.”

“ Paling-paling juga ketika mereka bersekolah di tempat yang berbeda dan tahu jalan hidup masing-masing. Mereka tidak akan menyebut diri sebagai ‘teman’ lagi”

Aku tidak tahan lagi mendengar semua cemoohan dari mereka. Setelah kami tumbuh dewasa,kami semakin sering dibanding-bandingkan. Aku jadi semakin tahu nilai diriku ini. Apa boleh kalau kami terus bersama seperti ini? Dibawah garisan takdir yang sudah jelas menunjukkan jalan yang berbeda. Anatara aku dan dirinya.

“ HWAYOUNG… “ Eunjung berlari megikutiku yang berjalan menjauh dari sana. Semakin aku mendengarkan omongan mereka. Semakin aku sadar perbedaan yang terjadi antara aku dan Eunjung sangatlah jauh.

“ Ahh gara-gara Eunjung ganti bajunya lama.Hampir saja aku pulang duluan.”

“ Kau dengar apa yang mereka katakan?”

“ Lebih baik kita belu kue. Acara bikin PR pasti terasa lebih seru..” aku mencoba berkelit dari pertanyaan Eunjung.

“ Kalau begitu aku traktir.Kajja..” Eunjung menarik tanganku.

“ Kalian jangan bermesraan begitu dong. Kalian ini tidak normal ya?”

Aku dan Eunjung menoleh bersamaan ke arah sumber suara. Seenaknya saja dia mengatakan aku dan Eunjung tidak normal.

“ Ji yong..” Ucapku dan Eunjung bersamaan melihat seorang namja berjalan ke arah kami.

“ Eunjung,ini formulir ujian beasiswa dari seongsaenim. Tadi ia menitipkannya padaku saat aku sedang belajar sendiri.” Ji yong mengambil sebuah kertas dari dalam tasnya dan memberikannya pada Eunjung.

“ Huwooo,kau masih belajar sampai jam segini?” Eunjung membulatkan matanya menatap Ji yong.

“ Aku tidak sepintar kau,Eunjung-ah..”

Ji yong dan Eunjung sama-sama pintar di kelas. Mereka berdua cocok,dan juga digosipkan jadian. Apa itu benar?

“ Hwayoung,lagi-lagi kau disuruh menggantikan tuga piket kan?” entah mengapa tiba-tiba Ji yong berkata seperti itu padaku. Aku melirik ke Eunjung yang memandangku dengan tatapan sulit dijelaskan.

“ Ehh itu…”

“ Apa benar Hwayoung?” Eunjung bertanya padaku dengan nada suara marah.

“ Ne,habisnya dia bilang tadi dia ada urusan penting,jadi aku yang menggantikan tugasnya.”

“ Kau itu terlalu baik.” Ji yong berkata dengan ekspresi datar.

“ Hwaaa,Ji young apa-apan sih bicaramu itu?”Eunjung menatap Ji young yang masih berdiri di sebelahnya.

“ Sudahlah aku pulang dulu. Annyeong..” Ji yong melangkah pergi meninggalkan aku dan Eunjung.

“ Apa benar kau pacaran dnegan Ji yong?’ aku tidak tahan untuk tidak bertanya pada Eunjung.

“ Aniya.. aku hanya berteman dengannya,lagipula kalau aku pacaran dengannya sudah pasti aku cerita dengan Hwayoung kan?”

“ Ne..aku tahu..”

“ Tidak ada rahasia diantara sahabat.” Eunjung kembali merangkulku. Kami berjalan bersama menuju apartemnetku.

“ Aku pulang.” Aku melepaskan sepatuku dan meletakkannya di rak sepatu yang berada di depan pintu.

“ Soal ini nanti saja dibahasnya!”

“Ohhh kerja lagi..selalu saja seperti itu alasanmu.”

“ Hwayoung-ah,Umma akan pulang terlambat karena ada urusan. Tolong urus sisanya ya.”

Setelah berkata begitu,umma memakai sepatunya lalu keluar dari pintu. Selalu saja begitu,hubungan keluargaku memang tidak baik.

“ Eunjung,mianhae,sudah melihat hal yang aneh,sebentar lagi orangtuaku akan bercerai.Mereka tidak menanyakan pendapat padaku soal itu.” Ku berusaha tersenyum sebiasanya,agar Eunjung tidak tahu aku menderita.

“ Mau minum apa? Kita pesan makanan saja,bagimana?” aku meletakkan tas sekolahku di atas meja belajar.

“ Huwaaa bagaimana kalau aku menginap saja ya hari ini. Hahaha..” Eunjung duduk di atas tempat tidurku.

“ Ahh,ternyata Hwayoung menulis sebuah novel ya?” aku melihat Eunjung sedang membuka-buka file di lapotoku.

“ Ahhh,jangan dilihat,memalukan.” Aku berusaha mengambil alih laptopku darinya.

“ Ayolah,aku mau baca…”

“ Aniya…”

“Hwayoung..”

“ Ne.Waeyo?”

“ Si Ji yong itu…”

“ Ada apa dengannya?”

“ Ahh aninya,gwechana..”

“ Waktu kecil itu menyenangkan ya.Kita bisa bermain dan tertawa dengan polosnya” Eunjung berbicara sambil memandnag langit-langit kamarku.

“ Euhmm,aku juga merindukan masa-masa itu..”

“ Yaaa! Hwayoung kau masih ingat tempat itu kan? Tempat yang sering kita datangi waktu masih kecil?”

“Ne,Padang Bunga Kosmos kan?”

“ Ayo kita ke sana sekarang..”

“ Ne,aku juga sudah lama tidak ke sana.”

“Kajja..”

Aku dan Eunjung berjalan di antara bunga-bunga yang terhampar di sekliling kami. Padang bunga ini begitu indah,tidak pernah berubah sejak terakhir kali kami ke sini. Tetap indah,keindahan yang sama seperti waktu kami kecil. Berbagai kenangan tersimpan dengan rapi di sini. Di padang bunga ini.

“ Waktu kita kecil,kita pernah ketiduran di sini kan? Orang-orang tidak bisa menemukan kita karena tertutup bunga-bunga. Waktu itu sampai heboh…” Eunjung berlarian diantara bunga-bunga yang bermekaran dengan indahnya. Eunjung seperti menikmati kembali kenangan waktu kami kecil.

“ Mahkota bunga ini cocok untukmu…” Eunjung meletakkan sebuah rangkaian bunga di kepalaku.

“ Ahhh memalukan..”

“ Cocok loh .. Kau tahu arti bahasa bunga untuk bungan kosmos. Katanya artinya adalah ‘hati suci seorang wanita’ “

“ Hwayoung,boleh aku mengatakan sesuatu?” Eunjung berkata sambil terus berjalan menyusuri padang bunga ini.

“ Ehh apa?”

“ Teruslah jadi temanku ya?”

Aku terdiam mendegar kata-katanya. Bibirku terkunci,aku tiba-tiba bingung harus mengatakan apa.

“ Biarpun kita sudah dewasa nanti dan jadi nenek-nenek,teruslah jadi temanku.”

“ Tentu saja..” aku berlari dan memeluknya.

***

          Aku melihat Eunjung dan Ji yong sedang bersama di sebuah café. Apakah aku tidak salah lihat?

“Mianhaeyo,aku hari ini ada urusan di rumah teman..”

 

Bukankah tadi Eunjung bilang ia akan pergi ke rumah temannya? Lalu kenapa ia sekarang ada bersama Ji yong. Tidak ada rahasia diantara sahabat? Lalu kenapa Eunjung tidak mengatakan hal yang sebenarnya padaku? Apakah pacar lebih penting dari seorang sahabat?

“ Eh katanya kemarin Eunjung pergi kencan dengan Ji yong loh.”

“ Ternyata mereka memang jadian seperti yang digosipkan ya?”

Aku mendegarkan gosip itu ketika jam istirahat,entah mengapa aku jadi sakit lagi. Benarkan Eunjung dan Ji yong berpacaran? Lalu mengapa Eunjung tidak mengatakan apa-apa padaku?

“ HWAYOUNG..”aku menoleh saat Eunjung memanggilku. Ia berlari-lari mengejarku yang sudah sampai di belokan menuju halte bus. Kenapa dia di sini? Bukankah ia ada latihan untuk kejuaraan nasional besok?

“ Chankanman…Hwayoung.. Hari ini kau aneh . Ada apa?”

“ Aniya..hanya sedikit tidak enak badan. Waeyo Eunjung-ah? Mian hari ini aku tidak bisa menungguimu latihan.Aku sedang pusing.”

“ Gwechana,aku hanya ingin menyerahkan ini..” Eunjung menyerahkan sebuah amplop berwarna pink kepadaku.

“ Apa ini?”

“ Hehhehee.. Bacalah,aku harus tahu jawabannya besok ya. Aku harus kembali,kejuaraan nasionalnya dimulai besok..Annyeong.” Eunjung berlari kembali ke sekolah. Surat? Dari siapa ya?

CKKIIIIIITTTTTTTTT

BRAKKK

“ Ada anak yang tertabrak”

“ Panggil ambulans..”

***

          Kau… Kenapa kau pergi seperti ini? Kenapa kau meninggalkanku? Bukankah kita teman selamanya? Sampai kita tua nanti dan menjadi nenek-nenek,bukankah kita sudah berjanji seperti itu?

“ Ini bohong..” Beberapa guru berusaha menenangkan Lee Seongsaenim yang berteriak histeris sambil menangis di depan foto Eunjung.

Eunjung tidak bisa mengikuti kejuaraan nasional bahkan tidak bisa mengikuti ujian beasiswa itu. Ia telah pergi. Dengan damai diiringi tangisan.. Aku bahkan hanya bisa menatap fotonya dengan tatapan kosong. Berharap ini hanyalah sebuah mimpi. Eunjung tidak pergi… dia masih di sini.. dia masih di sini..

“ Kenapa harus Eunjung eonni?

“ Keterlaluan.. kenapa harus Eunjung?

Tangisan dan teriakan kesedihan membahana di aula. Semua orang mencintai Eunjung. Semuanya kehilangan Eunjung.. Termasuk aku..

“ Waktu itu dia bolos dari klub karena ingin menemui Hwayoung kan?” teman satu klub Eunjung menghampiriku. Wajahnya berurai air mata.

“ GARA-GARA KAU.. INI SEMUA KARENA KAU.. KALAU SAJA IA TIDAK BERTEMAN DENGANMU..HAL INI TIDAK AKAN TERJADI..”

“ KENAPA HARUS EUNJUNG YANG MENINGGAL? KENAPA BUKAN KAMU SAJA?”

“LEBIH BAIK JIKA KAMU SAJA YANG MATI..”

“ YAAA! GUMANAEYO…” Ji yong menarik tanganku menjauh dari kerumunan itu. Benarkah yang mereka katakan? Itu semua salahku? Apa lebih baik aku saja yang menggantikan Eunjung.

“ Aku pulang..”

Aku melangkahkan kakiku menuju kamar,tetapi saat melewati meja makan aku menemukan sepucuk surat.

Untuk Hwayoung

          Aku keluar rumah untuk sementara waktu. Sampaikan ini pada appamu.

          Umma

 

Aku merobek-robek kertas itu menjadi potongan kecil. Lalu berlari keluar rumah. Aku memandang hampa pada balkon apartement. Benar juga,orang seperti aku ini. Tidak ada yang menginginkanku di dunia ini. Aku ada ataupun tidak ada,tidak akan menguntungkan bagi siapapun.

Aku memanjat balkon,siap untuk terjun dari sana. Aku tidak peduli pada apapun lagi. Tidak akan ada yang menangisiku jika aku tidak ada. Tanganku menyentuh sesuatu di saku rok seragamku. Surat… Surat ini yang diberikan Eunjung padaku. Aku merobek amplopnya dan mengambil isinya.

Untuk Hwayoung

 

          Mianhaeyo,karena belakangan ini aku merahasiakan sesuatu darimu.Aku menemui Ji yong tanpa mengatakannya padamu. Si Ji yong,itu ternyata menyukai Hwayoung. Karena aku mengetahui perasaan Ji yong,aku tidak tahan untuk tidak memastikannya. Akhirnya dia mengaku juga. Aku senang sekali! Karena akhirnya da orang yang menyadari kebaikan Hwayoung.

          Kau sangat meperhatikan orang lain.Meskipun kau merasa dirugikan dan disakiti,kau tetap tersenyum.Hanya saja,semoga kau tidak lebih tersakiti lagi dengan sikapmu. Jangan sembunyikan perasaanmu. Peliharalah baik-baik perasaan itu.Ji yong orang yang baik,mungkin dia akan menjadi namjachingumu.

          Kumohon,Hwayoung,tetaplah jadi temanku.Kita pernah berjanji waktu itu,janji paling penting yang pernah kubuat dalam hidupku.

 

Eunjung

Aku tidak bisa lagi menahan air mataku yang mengalir.Bagiku itu juga merupakan janji paling penting.Seharusnya aku lebih mempercayai perasaan Eunjung. Aku berlari ke padang bunga kosmos. Aku menangis di sana,kenapa aku tidak mengatakan perasaanku yang sebenarnya pada Eunjung.Seperti waktu kecil dulu. Aku menyayangi Eunjung…Kenapa aku tidak mengatakan hal itu sebanyak-banyaknya?

***

          “ Hwayoung,mianhaeyo,kami memutuskan untuk berpisah. Kau ingin ikut dengan siapa?”

“Kalian bertanya padaku? Selama ini aku tidak perah mengatakannya,aku ingin kalian berbaikan,seperti dulu… Karena kalian adalah orang tuaku,tapi karena tidak bisa berbicara degan kalian seperti biasa,aku jadi tidak mengatakan apa-apa.Hanya itu yang ingin kukatakan..Bicaralah lagi baik-baik..”

Beberapa tahun kemudian..

Aku ingin menulis sebuah surat balasan untukmu,Eunjung.Aku ingin menyampaikan perasaan padaku,mungkin ini akan jadi sangat panjang.

Bermacam-macam perasaan dan kenanganku bersama dengan Eunjung.

Apakah kau masih ingat novel yang Eunjung ingin baca dulu? Ternyata diterima!

Karena itu sebuah ‘surat untuk Eunjung’ menjadi buku.Dan sepertinya banyak orang yang membacanya.

Eunjung

Tunggu aku di sana ya…

Mungkin setelah aku dewasa

Mungkin setelah aku jadi nenek-nenek

Aku tidak akan melupakanmu seumur hidupku..

Karena kamu adalah sahabatku…

         

 

***Fin***

 


5 thoughts on “[Korean Fanfiction/Straight/Oneshoot] Dear Friend

  1. Eonni mian ya aku baru sempet berkunjung *bow (___ ____)

    ah eonni.. ceritanya daebakk ^^d
    aku suka, seruu banget.. !!
    gaya bahasanya enak banget terus ceritanya tentang persahabatan. aku suka kata-kata terakhir di ceritanya.. -;)
    delapan jempol buat eonni *pinjem jempol kaki + tangan Onew #plakk
    sekali lagi mian ya eonn baru sempet berkunjung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s