[Korean Fanfiction/Straight/Mini Drama] It’s about your decision (Prolog + Introduction)

Title       : It’s about your decison

Author  : Kim Saena a.k.a Devi

Rating   : Pg13/Straight/Mini Drama

Genre   : Romance/Angst/Tragedy

Cast       :

Main Cast            : Teen Top – Chunji a.k.a Lee Chanhee

Lee Jin hee

Support Cast      : Teen Top – L Joe a.k.a Lee Byunghun

Ahn Seo rin

Other Cast          : FIND BY YOURSELF!

Disclaimer          : Teen top is belong to God,T.O.P Media,and their parents

 It’s just for fun. Please don’t sue me. This story is mine.

Don’t take this fanfic without permission from me. If you want to take this fanfic.

Please take with full credit.      

Summary             : Sebuah kesalahan membuat Jinhee dan Chunji harus menikah dalam usia dini. Kesalahan yang membuat rasa cinta dan kagum Jinhee pada Chunji menguap dan berubah menjadi benci dan amarah. Chunji yang sejak awal tidak menaruh perasaan apapun pada Jinhee,merasakan hal yang sama,ia membenci gadis yang sudah merusak masa depannya. Sejak mereka menikah,pertengkaran terus terjadi ,sampai akhirnya suatu kejadian membuat mereka berpisah.

A.N : Hallloo semuaaaa saya kembali lagi membawa FF baru padahal yang lama masih banyak yang belum kelar ^^v 

Nah kali ini aku mengangkat tema MBA, ya emang sih udah banyak yang bikin tema beginian, tapi aku pengen aja gitu bikin sesuatu yang beda di FF ini..

Apa yang beda? itu masih dirahasiakan kekekeke…. *minjem evil smriknya kyu*  mudah-mudahan FF aku yang ini tidak mengecewakan semuanya ya😀

gomawo*bow

If you don’t like this fanfic. Please No Bash.

Don’t Like. Don’t Read 

 Introduction

L Joe- sekuntum bunga yang diabaikan

Keindahan yang terpancar

begitu menyilaukan mata

membuat semua orang terkagum-kagum akan sosoknya

yang terlalu sempurna untuk manusia

senyumnya, gesturnya, bahkan apa yang menjadi cacatnya

tidak mampu membuat semua orang berpaling darinya

L Joe, salah satu pria dari jutaan pria di luar sana yang sangat lihai dalam memainkan perasaannya. Terluka seujung jari saja bisa membuat sisi macam tidurnya mengamuk ,apalagi menyangkut sesosok makluk yang menurutnya tidak lebih dari sekedar sebuah permainan.

Luka dan kekelaman masa lalu akan sosok lawan jenisnya ,membuat dia secara tidak langsung menganggap remeh makhluk berlabel ‘perempuan’. Sama seperti yang lainnya terluka dan akhirnya membenci makluk itu, namun L Joe berbeda. Ia sama sekali tidak membenci sosok itu, hanya saja luka itu semakin menguak saat ia mencoba serius dengan seorang gadis.

Mencoba tegar sebisanya, namun ia hanyalah sekuntum bunga. Tidak akan abadi, hanya bertahan beberapa saat dan layu dimakan usia. Seeprti itulah dirinya yang sebenarnya ,ia tidak berusaha palsu. Ia menunjukkan semua sisinya ,kecuali sisi di mana ia tidak mampu lagi bertahan. Ia benci menjadi lemah ,ia memainkan semua gadis itu hanya sebagai pelampiasan rasa sakit yang coba ia tahan.

***

Lee Jinhee – Karang yang tersingkirkan

Sekuat apapun kau

bertahan dalam derasnya kehidupan

ada satu sisi di mana kau harus menyerah

pada kelamnya arus yang kelak kan membawamu

pergi ke tempat yang bahkan tidak kau kenal

dunia ini kejam bagi semua makhluk

bahkan kesempurnaan yang tercipta di luar

akan hancur sesaat jika takdir mulai berbicara

Jinhee, seorang gadis yang berusaha kuat melawan dunia. Walaupun arti dunia baginya adalah samar, tidak mengenal kata bahagia, tidak mengenal kata kecewa, tidak mengenal kata bersedih. Hanya seseorang yang berharap terus berdiri di tengah gelombang kehancuran yang menerpa keluarganya.

Lahir dikelilingi dengan cahaya kebahagiaan, hidup dan tumbuh besar dengan gelimangan harta dan kerlap-kerlip duniawi, sampai semuanya terpaksa dicabut dari hidupnya, menyisakan sebuah pribadi baru yang tidak akan berubah. Sesuatu yang mampu membuatnya bertahan untuk terus menginjakkan kakinya di dunia penuh tipu muslihat.

Bagaikan batu karang yang terus-menerus di hempas ombak, sekuat apapun dia bertahan ,selama apapun dia mampu berdiri tegar, lama-lama akan terkikis sedikit demi sedikit dan akan hancur. Sama halnya dengan daun yang jatuh dari pohon dan hancur terkena goncangan, karang yang begitu kuat dan tegar akan hancur, hanya waktulah yang membedakan keduanya.

***

Chunji – api yang bersahabat

Sesuatu yang tadinya hanya terlupakan

kecil dan tidak berarti

bersinar dengan sendirinya

terlalu sombong untuk meminta bantuan

terjatuh dan terlupakan

bangkit dengan kekuatan seadanya

mencoba menghancurkan dinding yang membatasinya untuk berlari

menembus senja yang perlahan berubah menjadi gelap

 Chunji, seseorang yang tercipta untuk menjadi yang paling menderita. Senyuman dan kehangatan yang terpancar dari wajahnya hanyalah fatamorgana untuk menutupi kekeringan hatinya. Menginginkan sesuatu yang manis dalam pahitnya dunia yang menyuruhnya untuk menyerah   .

Obsesi, yang menyuruhnya tidak pernah berhenti, walaupun kakinya sudah mulai lelah untuk menapak, tidak ada yang bisa menghentikannya, karena dosis tekanan dan amarah yang sudah didapatkannya membuatnya menjadi pribadi yang abstrak. Sifatnya yang terkadang gelap, diam dan membisu, membuat semua orang tidak mendekat padanya.

Jika sifat terangnya muncul, kehangatan dan keramahan yang dibuat-buat, membuat semua orang mendekat, semakin menunjukkan sisi bahayanya. Kecil dan bersahabat, sama seperti nyala api kecil dalam tungku ,tidak berbahaya. Ataukah seperti nyala api besar? Yang menimbulkan kebakaran dan kehancuran, jeritan dan tangisan. Dua sisi yang saling berkaitan menimbulkan berbagai ekspresi yang tidak dapat ditebak. Dua sisi yang menipu, dua sisi yang merupakan benteng pertahanannya.

***

Ahn Seo rin – Pelangi penuh misteri

Pembawa warna-warni kehidupan

membuat setiap orang mampu menghadapi garisan takdirnya

menjadi munafik dan pembohong

untuk menutupi badai yang akan terjadi setelah kemunculannya

terlalu sedih untuk di dalami warna hidupnya yang abu-abu

berusa membuat orang lain bahagia

walaupun kehancuran adalah tanggungannya

Seorin ,keindahan yang muncul setelah terjadi kekelaman. Bagaikan embun yang jatuh ke permukaan tanah gersang. Memberikan sedikit rasa sejuk pada tanah yang menahan perih akibat hujan yang tidak turun. Bagaikan pelangi yang datang setelah langit berwarna kelabu dan hujan yang menyeramkan dengan petir yang bagaikan gendering perang.

Menjadi penenang bagi setiap emosi yang bergejolak. Bagaikan malaikat yang turun menyelesaikan medan perang. Mampu menjadi terang dalam gelap. Sentuhannya yang ringan namun membawa damai mampu membuat semua orang merindukan kehadirannya. Senyumannya yang membawa pencerahan, membuat semua orang tidak merasa bosan untuk terus menatapnya.

Terlahir sebagai seseorang yang membawa keindahan, namun, masih menyimpan misteri di balik hatinya, semua keindahan itu adalah nyata atau sesuatu yang merupakan peyangkalan dari apa yang menjadi perasaannya. Sama seperti pelangi yang muncul tiba-tiba di langit. Hanya sebuah hiasan langit ,replika warna yang timbul setelah hujan reda, ataukah pertanda bagi terjadinya sesuatu?

***

Prolog – Someone About You..

Author Pov         

Musim dingin..

Salah satu musim yang menyimpan misteri dunia. Musim yang menyimpan banyak kisah tak terurai di dalam butiran-butiran mutiara rapuh yang terjatuh ke dunia. Membuat tanda tanya besar pada sang pemilik hati. Sama seperti butiran yang indah saat mereka melayang,dan hancur saat menyentuh tanah, bergabung dengan jutaan butiran lainnya yang bernasib sama, menjadi selimut bagi jalan serta bangunan-bagunan yang menjulang.

Seorang gadis merapatkan mantel yang dikenakannya ,berjalan menyusuri jalanan setapak yang sudah dipenuhi selimut salju, menuju bangunan bergaya klasik dan megah. Beberapa tampak mengenakan seragam berlogo sama dengannya, hanya saja mantel yang menjadi lapisan luar seragam mereka yang berwarna-warni, layaknya sapuan warna yang ditorehkan pada selembar kertas putih.

“Annyeong Jinhee..” Gadis itu hanya tersenyum saat beberapa orang yang melewatinya menyapanya.

“ARGHHH…ITU L JOE!” Segerombolan gadis berteriak liar saat mendapati seorang pria dengan rambut berwarna pirang dan ditata sedemikian rupa sehingga mempunyai bentuk runcing dan mencuat-cuat di beberapa sisinya, menambah karisma yang dihasilkan pria itu. Pria yang dipanggil dengan nama L Joe itu, tersenyum dengan gaya khasnya dan menggoda gadis-gadis yang dianggapnya menarik.

Membuat segerombolan gadis yang menggilainya itu, semakin histeris saat tahu L Joe memberikan perhatian pada mereka. Berlomba-lomba menjadi sesuatu yang istimewa di hadapan pria itu ,tidak lagi peduli harus berdesak-desakkan hanya untuk melihat pria itu. Sungguh sesuatu yang luar biasa!

“ Huh! Dasar namja yang haus popularitas.” Jinhee hanya menyunggingkan senyum mengejek saat L Joe dan para fansnya berjalan melewatinya ,membuatnya harus menyingkir beberapa langkah karena jalan itu terlalu sempit untuk dilewati mereka.

“ Sudah bisa tercium dari sini, kalau kau menyukai namja itu.” Jinhee menoleh dan mendapati Minra tersenyum misterius padanya.

“Apakah aku terlihat mengaguminya?”

Ne, tentu saja ,kau pikir apa?”

“ Salah ,Minra-ah, pemikiranmu tentangku salah besar.”

Jinhee tidak menyangkal dari kenyataan,memang bukan L Joe yang menjadi fokus utamanya saat ini, melainkan sesosok pria yang terlihat kesal dengan kegiatan tebar pesona L Joe yang menghalangi jalannya untuk masuk ke sekolah, sama seperti dirinya yang kesal pada pria yang menurutnya tidak ada sisi istimewa.

***

“ Sudah puas bermain dengan pesonamu?”

Lee Byunghyun, atau yang biasa dipanggil L Joe ,hanya menyeringai penuh arti menatap Choi Jonghyun, atau yang biasa dipanggil Changjo, yang sedang menatapnya risih.

“ Aku tidak menyebarkannya, mereka saja yang terlalu jeli menangkap lewat indera mereka.”

“ Huh! Alasan konyol macam apa itu.”

“ Aku bersungguh-sungguh, Changjo ,mereka saja yang kelewat batas memujaku.” L Joe mengecilkan volume suaranya karena dilihatnya beberapa fansnya itu masih mencuri-curi pandang ke arahnya.

“ Lalu bagaimana pendapatmu?”

“ Soal apa? Aku hanya menganggap mereka permainan, ketika aku jenuh atau bosan aku akan meninggalkannya, tidak ada kata serius di sini.”

“ Seperti itukah pandanganmu tentang mereka?”

“ Untukku mereka tidak berharga.”

Changjo hanya menatap nanar sahabatnya itu. Sesuatu yang terlanjur tergores tidak akan hilang selamanya, walaupun kau sudah berusaha memperbaikinya.

Tell me. Why are you being like this?”

Because I never know what is love.”

“ Kau akan mengatakan padaku kalau kau masih terluka? Sadarlah, Joe, kalau luka itu sudah mengering.”

“ Bagaimana kalau aku mengatakan luka itu kembali berdarah?”

“ Apa maksudmu?”

“ Dia yang membuatku kembali berdarah.”

***

Suatu tempat tersembunyi, tidak bisa dijangkau, tidak bisa ditebak, berubah dalam keheningan, rapuh saat terkena badai kepedihan. Dia yang memegang kendali atas perasaan. Sedih, senang, marah, kecewa, puas, semua untaian rasa yang berwarna.

Hati…

Sebuah tempat untuk menyimpan rasa yang abstrak, yang akan muncul dalam hati setiap insan, entah bagaimana caranya ia datang dan menorehkan tintanya dalam hati. Bersinggasana di sana dan mempunyai tempat khususnya sendiri. Sebuah rasa yang menggoreskan sebuah nama yang akan tertinggal dan terlupakan. Namun tidak akan hilang selamanya.

Cinta…

“ Apa yang membuatmu tertarik untuk terus memandanginya?”

“ Kau pikir aku sedang melihat L Joe lagi? Salah… bukankah sudah kukatakan begitu?”

“ Aku yang begitu bodoh sehingga tidak peka apa yang sesunggungnya menjadi fokus utamamu dan jelas bukan si penebar pesona.”

“ Senyum palsu yang ditebarkannya, tidak akan mampu menembus perisai pelindungku.”

“ Lalu apakah kehangatan dan kebekuan yang biasa timbul tenggelam dalam pesonanya membuatmu tertarik?”

Jinhee terdiam dan mengalihkan dua manik berwarna cokelat gelap yang tadi memenjarakan satu sosok, ke arah Minra.

“ Chunji… sang pembawa awan panas dan karang es, dia yang selalu menjadi pusat pandanganmu.”

“ Untukku dia memang menarik…” Jinhee menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya, “ …termasuk semua tipu muslihatnya.”

Dibalik semua kesempurnaan yang tercipta, tersimpan satu sisi kelabu.Tertutupi oleh senyuman hangat itu, terkelabui oleh perilaku bak malaikat ,terpenjara dalam semua sisinya yang masih misteri.

Senyumnya bagaikan lonceng pembawa bencana ,semakin ia panas semakin ia berbahaya. Tiada yang tahu bagaimana ia mengelabuhi semuanya, di balik semua kemanisan yang ia tebarkan. Begitu indah, begitu menyilaukan,sampai semuanya terlena dan terpesona dalam jeratannya.

“ Berhati-hatilah pada sikapnya yang hangat itu, karena dibaliknya bisa muncul racun.”

“ Aku tahu, Minra-ah, aku sudah tahu itu sebelumnya, tetapi sayangnya hal itu tidak mengturangi rasa kagumku padanya, aku sudah terlanjur sampai pada tahap memujanya. Salahkah perasaanku?”

“ Salahkan cara berpikirmu yang terlalu berfantasi tinggi ,hentikan sebelum semuanya menjadi semakin parah.”

***

Hujan…

Salah satu kejadian alam yang menghentikan seluruh aktivitas, apalagi yang terjadi adalah hujan salju, dan kemungkinan besar akan terjadi badai. Seluruh siswa sudah pulang sebelum turunnya masalah ini, kecuali beberapa siswa yang memang ada keperluan di sekolah dan Jinhee termasuk salah satu siswa yang tidak beruntung itu, terjebak hujan dan ia tidak tahu harus menunggu berapa lama lagi.

Dari sudut matanya Jinhee bisa menangkap sosok Chunji yang berdiri tidak jauh dari tempatnya sekarang. Semuanya terlalu nyata,Jinhee terhisap oleh pesona pria itu. Terlalu indah untuk dilewatkan.

“ Kau belum pulang?” Basa-basi membosankan itu meluncur begitu saja dari bibir berwarna merah muda milik Jinhee.

“ Sekarang hujan salju dan mungkin akan terjadi badai, pulang sama saja dengan membunuh diri sendiri.”

Satu pertanyaan bodoh yang membuat Jinhee salah tingkah. Chunji benar, mana mungkin mereka pulang dalam keadaan cuaca buruk.

Jinhee hanya bisa mematung memandangi langit yang semakin menggelap. Awan hitam perlahan menggantikan posisi awan-awan berwarna putih yang tadi masih menggantung di langit.

“ Sepertinya badai tidak akan berlangsung sebentar, kita harus pulang sekarang kalau tidak mau terjebak di sini sampai besok pagi.”

Jinhee terpana saat Chunji berkata padanya, walaupun tatapan pria itu masih terfokus pada pemandangan langit di hadapan mereka. Jinhee sadar saat melihat sekeliling mereka sudah sepi dan hanya tertinggal beberapa suara-suara deru kendaraan bermotor yang bergesekkan dengan jalanan.

“ Kau benar, mungkin aku akan menginap di sini, karena mustahil mendapatkan kendaraan untuk pulang dalam cuaca seperti ini.”

“ Pulanglah denganku…”

Hanya dua kata sederhana yang diucapkan pria berwatak misterius itu, namun bisa membuat aliran suasana di sana membeku, seakan pria itu mengendalikan suasana yang terasa semakin mencekam.

Nde?”

“ Aku akan mengatarkanmu sampai di rumah, Kajja…” Chunji melangkah menuju kendaraan beroda dua yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

         Kalau ia membawa kendaraan, mengapa tidak sejak tadi ia pulang? Apa ia menungguku? Apa benar? Apakah ini sebuah halusinasi?

“ Ayo naik…”

Jinhee tersadar dari semua pemikiran liar yang mampir ke otaknya. Ia tidak lagi memperdulikan jeritan nuraninya yang menyuruhnya berhenti. Jeratan kehangatan itu seakan mengurungnya dalam ilusi. Membawanya ke suatu alur yang tidak dapat dimengertinya.

“ Ahh ne, mianhae Chunji, mungkin kau tidak bisa mengantarku. Rumahku jauh sekali dari sini. Mungkin kita akan terkena badai saat di jalan,lebih baik kau pulang saja sendiri. Ghamsahamnida atas tawarannya.”

“ Pulang dan membiarkanmu sendirian di sini? Apakah aku terlihat setega itu,Jinhee-ah?”

Tersihir oleh kata-kata itu. Jinhee menepis semua keraguannya dan naik ke motor pria itu. Setelah memastikan gadis itu aman di belakangnya, Chunji menyalakan mesin motornya dan membelah lalu lintas kota Seoul yang semakin sepi karena hujan salju semakin lebat.

Kabar mungkin akan terjadinya badai, mungkin bukan sesuatu yang bisa diabaikan, karena baru beberapa kilometer mereka meninggalkan sekolah, tanda-tanda akan terjadinya badai  mulai muncul ke permukaan, hujan yang tadinya turun perlahan, tiba-tiba menjadi tak terkendali, seakan langit baru saja terbatuk dan memuntahkan semuanya ke bumi. Kabut dan angin dingin membuat pandangan Chunji terbatas. Ia menepikan motornya di tepi jalan.

“ Sudah kubilang, Chunji, rumahku jauh…” Jinhee merasa sedikit menyesal karena sudah menerima paksaan pria berwajah sendu itu.

“ Aku tahu dan kita terjebak, tidak jauh dari sini ada penginapan kecil. Mungkin kita bisa berteduh di sana.”

Jinhee mengangguk kecil, sesuatu hal apapun jika itu berhubungan dengan Chunji, ia akan terhipnotis dan mengikuti semuanya. Bagaikan alunan musik indah yang terekam dalam pikirannya, suara Chunji adalah komando baginya.

Chunji naik kembali ke motornya, diikuti Jinhee. Beberapa ratus meter kemudian, mereka telah memasuki satu pekarangan kecil. Hanya terdapat beberapa mobil dan motor di sana.

Annyeong haseyo, ahjussi, apakah masih ada kamar yang kosong?”

Seorang pria paruh baya, meletakkan koran yang sedang dibacanya dan melirik sekilas pada dua orang yang masih memakai seragam, ia hanya memandang mereka dengan pandangan yang mengisyaratkan satu hal yang tidak diketahui Chunji ataupun Jinhee.

“ Hanya tinggal satu.” Pria itu meletakkan kunci yang terbuat dari besi di hadapan Chunji kemudian melanjutkan kegiatannya yang tertunda.

Ghamsahamnida, ahjussi…”

“ Bayarannya bisa kalian lunasi besok.” pria itu hanya berkata dengan nada datar dan dingin tanpa menoleh pada dua orang itu.

***

Bisikan setan yang terlalu manis

terbuai dalam suasana indah

mengabaikan semua akal sehat

membiarkan pertahanan itu runtuh

termakan oleh semua nafsu duniawi

 

Aku mencintainya.. sangat … tidakkah dia sadar? Aku tidak peduli kalau ia panas atau dingin.. yang kutahu aku ingin memilikinya.

Semua pemikiran itu membuat Jinhee ingin berteriak, membuatnya sesak dan mengikatnya dalam satu posisi sulit. Dia… seseorang yang mampu meruntuhkan pertahanan batinnya, tidur dengan pose tenang di sofa, membuat Jinhee tidak tenang. Ia menginginkan pria itu, lebih dari apapun di dunia ini. Bagaimanapun caranya dan apapun akan dilakukannya demi memilikinya.

“ Chunji-ah…”

“ Ada apa? Kau khawatir kalau keluargamu mencarimu? Tenang saja.. Besok hari Sabtu dan kita libur, .katakan pada mereka, kalau kau ada tugas dan menginap di rumah temanmu.”

“ Aku merasa dingin…”

Chunji membulatkan matanya saat tiba-tiba Jinhee duduk di sampingnya dan mendekatkan wajahnya pada wajah Chunji ,sehingga Chunji bisa menyelami kedua boda mata itu.

“ Hangatkan aku…” dengan gerakan tiba-tiba Jinhee mengecup bibir Chunji, membuat pria itu terkejut sebelum ia membalas ciuman Jinhee.

Semakin lama suasana diantara mereka semakin memanas, Chunji hanya memamerkan senyuman misterius saat mereka tanpa sadar sudah berada di atas tempat tidur. Tanpa mengenakan sehelai kain pun.

***

Kyaaaaaaaaaa Prolog macam apa ini >.<

aku minta maaf kalo kalian bacanya pada bingung soalnya aku terinspirasi dari gaya penulisan novel sastra hehehehehe ^^v

walaupun gaya bahasa ini masih jauhhhhh dari kata bagus,ditunggu ya chapter 1nya😀

8 thoughts on “[Korean Fanfiction/Straight/Mini Drama] It’s about your decision (Prolog + Introduction)

    • oke deh chingu
      oh sama dong aku juga lagi demen2nya ma 2 boyband itu
      apalagi teen top >.<
      tapi belom ngefans sih baru suka ^^V
      gomawo udah mampir chingu
      welcome to my blog😀
      sering2 mampir ya

  1. Authorrr~
    ini ff kayak nya bagus dehh.
    Terlihat dri prolognya aja udahh..errrr bangettt
    apalagi chunjiiiiii … Cepetin part 1nya yahh authorr. Pleasee.. Jeball #puppyeyes..

  2. penasaran tgkt akut nihh..
    tp tema’a MBA yaa??ky saena n donghae yg di wheter itu yaa??
    sm gak iaa kira2 kejadian’a??ywtu pihak cwe menderita lahir batin atw malah jd lucu??
    let we see..^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s