[Korean Fanfiction/Straight/Twoshots] Cry for you (1/2)

 Title       :  Cry For You

Author  : Kim Saena a.k.a Devi

Rating   : PG13/Straight/TwoShots

Genre   : Romance/Angst

Cast       :

Main Cast            : B.A.P – Jung Daehyun

Shin Nae ra(OC)

Support Cast      : B.A.P – Moon Jong up

Lee Jin hee(OC)

Disclaimer           : B.A.P is belong to God,TS Entertaiment,and their parents.It’s just for fun. Please don’t sue me. This story is mine.Don’t take this fanfic without permission from me. If you want to take this fanfic. Please take with full credit.

Summary : Semoga rasa takut yang menderaku ini hilang karena aku yakin aku akan aman di tanganmu..

A.N : HUWAAA MAAF,karena saya telat ngepost,udah lewat satu minggu nih,ya seperti yang di Minggu Surprise Super Junior ya,berarti Minggu Surprise B.A.P bakalah berakhir kalo aku udah ngepost FF yang aku tulis waktu itu bakalan terbit.Maaf juga karena aku belom balesin komen T.T,nanti pasti aku bales kok hehehe ^^V *author galau

Soal FF ini,aku sendiri merasa gagalll banget padahal idenya udah mateng nih cuma pas ngetik kok tiba2 feel ilang2 gtu deh.Jadi maaaffff banget kalo yang ngerasa nih ff abal dan jelek,aku ngerti kok T.T

Penjelasan sedikit tentang FF ini,FF ini tentang phobia sebenernya aku udah pernah bikin FF tentang tema phobia*lirik2 FF aku yang judulnya Always Be My Hero* cuma temanya tetep beda kalo ini lebih ke romance angst kalo itu lebih ke mystery adventure. 

FF ini terinspirasi dari film yang aku lupa judulnya pokoknya tentang phobia2 juga gtu deh tapi jangan nyangka aku plagiat tuh film loh ya.. Aku cuma terinspirasi dari tuh film cuma tetep aja biarpun inti ceritanya sama,konflik dan semua jalan cerita murni milik aku. Kalo ada kesamaan dan sebagainya itu murni ketidaksengajaan.

Nah daripada makin lama dengerin aku curcol sekaligus cuap2 mending langsung aja deh,Enjoy This Fic😀

If You don’t like this fanfic. Please No Bash.

Don’t Like. Don’t Read.

Chapter 1 -Different love for different heart

I have to laugh in front of you

I have to have a bright smile in front of you

But when I think of you, I start to cry

I have to forget you now

I have to erase you from my memories

I leave you now

(DBSK – White Lies)

Author Pov

Seorang gadis berjalan pelan menyusuri lorong demi lorong tempat di mana ia mendapatkan ilmu,atau bahasa sederhananya sebuah tempat bernama sekolah. Gadis itu terus menunduk selama perjalanannya ke sebuah tempat melewati berbagai jenis orang yang menatapnya dengan tatapan aneh. Seharusnya tatapan itu tidak lagi diberikan karena ini sudah tahun keduanya di sekolah,tetapi tetap saja hal itu tidak bisa menghilangkan pandangan orang-orang yang menganggapnya aneh.

Memang tidak semuanya yang berada di sana memandangnya aneh tetapi banyak juga yang tidak peduli pada kehadirannya dan menganggapnya hanyalah angin lalu. Sesuatu yang malah diharapkannya karena ia tidak perlu bersusah payah menghadapi orang-orang yang membuatnya tidak nyaman.

“ Naera..” sebuah suara memanggilnya dari belakang,membuat gadis bernama Naera itu berbalik dan melihat siapa sosok yang sudah memanggilnya.

“ Kajjaa..” sosok itu menarik tangannyua dan membawanya menjauh dari keramaian yang memang dibencinya. Seseorang itu tahu apa yang membuat Naera merasa tidak nyaman,sehingga ia tahu apa yang harus ia lakukan.

“ Gomawo..” Naera berkata setelah mereka berdua sampai di perpustakaan. Sebuah tempat yang bisa membuat Naera tenang,karena tempat itu sepi dan hanya terdapat beberapa siswa yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing sehingga tidak akan mengganggu orbolan kedua orang itu.

“ Cheonmaneyo,Naera-ah.. Kau harusnya tidak usah berterima kasih padaku.”

Naera hanya menunduk dan berusaha fokus pada buku yang berada di hadapannya. Berusaha memahami kalimat demi kalimat yang tertera pada lembar demi lembar buku itu.

“ Ada apa denganmu? Wajahmu lebih pucat dari biasanya. Yaa! Katakan padaku kau tidak separah itu kan?”

“ Jinhee-ah,aku rasa.. aku rasa phiobiaku makin parah belakangan ini.” Naera berkata sepelan mungkin agar tidak ada yang mendengarnya mengatakan hal itu.

Jinhee berusaha mencerna perkataan sahabatnya itu,tetapi itu semua terlalu sulit untuk dicerna oleh akal sehatnya. Hal itu membuatnya membelalakkan matanya lebar dan hampir saja berteriak tetapi untunya Naera yang menyadari keterkejutan Jinhee segera menutup mulut gadis itu.

“ Kau tidak sedang bercanda,kan?”

“ Untuk apa aku bercanda untuk hal serius seperti ini,kau tahu hal ini menyangkut hidup dan matiku.”

“ Mianhaeyo,aku hanya kaget karena aku kira kau bisa bebas dari phiobia terkutuk itu.”

Naera menautkan alis matanya tanda ia sedang tersinggung dengan perkataan Jinhee yang menurutnya terlalu frontal dan seakan menghinanya karena phobia yang dideritanya itu.

“ Apakah aku salah bicara?” Jinhee bertanya dengan ekspresi polosnya dan membuat Naera tersenyum.

“ Ah lupakan.”

“ Bagaimana bisa kau menyadari kalau phobia itu semakin parah?”

“ Aku sekarang sering merasa sesak nafas.”

“  Bukannya itu hal yang biasa?”

“ Ne,kalau hal itu terjadi ketika aku berada terlalu lama di ruangan yang dipenuhi pria atau ketika mereka mengajakku berkomunikasi,itu adalah yang yang biasa,tetapi sekarang hanya dengan melihat mereka aku merasa sesak.”

“ Omonaaa.. sampai separah itu? Bukannya dulu kau merasa sesak nafas hanya jika ada pria yang mengajakmu berbicara? Sekarang kau tidak bisa berada di ruangan yang banyak prianya dan bahkan jika kau melihat mereka kau akan merasa sesak?”

“ Ne..”

“ Lalu bagaimana jika berada di kelas?”

“ Aku masih bisa mengontrol rasa takutku dan untungnya di kelas tidak terlalu banyak pria.”

Jinhee menghela nafas sedih,melihat kondisi sahabatnya yang semakin memburuk. Suatu keuntungan karena sekolah mereka letaknya di pinggiran kota dan tidak terlalu banyak murid yang mau bersekolah di tempat itu,dan murid perempuan jauh lebih banyak dibandingkan dengan murid laki-laki sehingga Naera tidak terlalu sering histeris atau pingsan mendadak jika melihat banyak laki-laki yang berhamburan di sekitarnya.

Naera adalah seorang penderita Androphobia atau rasa ketakutan berlebih terhadap laki-laki. Naera sudah menderita phobia itu sejak SMP,sebenarnya phobia Naera tidak terlalu parah,ia masih bisa berkomunikasi lancar dengan laki-laki manapun tanpa merasa takut berlebihan,phobia itu malah semakin parah ketika Naera beranjak dewasa,Jinhee tidak tahu apa sebenarnya yang menyebabkan phobia Naera tidak juga sembuh melainkan semakin parah.

“ Tetapi setidaknya kau masih bisa belajar dengan baik kalau berada satu ruangan dengan mereka,kan?”

Naera mengangguk dan memahami apa yang dimaksud Jinhee dengan kata ‘mereka’,sudah dipastikan mereka yang dimaksud Jinhee adalah objek yang menyebabkan rasa takutnya timbul.

“ Ne,tetapi tetap saja aku merasa aneh ketika melihat mereka berada satu ruangan denganku.”

“ Kau tenang saja,Naera-ah,di kelas kita hanya terdapat 5 laki-laki.. Ingat hanya 5! Itu bukan masalah besar..”

“ Aku tahu,gomawo sudah membantuku selama ini,aku akan berusaha melawan rasa takutku.”

“ Naera-ah,kalau boleh aku tahu sebenarnya apa yang menyebabkan phobiamu makin parah? Bukannya dulu kau tidak seperti ini?”

“ Itu karena..” Naera berusaha mengingat-ingat apa yang menyebabkannya phobianya semakin menjadi-jadi tetapi ia sama sekali tidak bisa mengingatnya.

Naera hanya menggelengkan kepalanya pertanda ia tidak tahu. Jinhee mengusap-usap punggung Naera,berusaha memberikan gadis itu kekuatan.

“ Arraseo,aku tahu kau belum siap untuk menceritakannya,aku akan menunggumu.”

“ Aniya,Jinhee,bukan seperti itu,aku..aku tidak bisa mengingat alasannya.”

***

          “ Baiklah sebelum pelajaran hari ini kita mulai,ada yang ingin disampaikan oleh kepala sekolah kalian.” Kwon Seongsaenim berkata sambil memeprsilahkan kepala sekolah dan seseorang pria berjalan masuk ke kelas mereka.

Naera merasa sedikit risih dengan kehadiran dua pria di kelasnya,walaupun ia sudah berusaha terbiasa dengan kehadiran pria-pria di sekelilingnya,tetap sulit baginya untuk bersikap normal melihat pria-pria itu.

“ Chonun Jung Daehyun imnida. Manasso Bangapseumnida.” Naera tidak mendengarkan apa yang disampaikan kepala sekolah mereka,yang ia dengar adalah ketika pria asing itu memperkenalkan dirinya,sepertinya ia adalah murid baru yang akan berada di kelas Naera.

Naera berusaha menahan debaran detak jantungnya yang semakin cepat,seakan jantung itu akan keluar dari rongganya,kalau benar pria itu akan menjadi teman sekelasnya,itu berarti ia harus membiasakan diri dengan kehadiran satu orang lagi objek ketakutannnya.

“ Daehyun,kau duduk di sebelah Minrin ya. Sepertinya itu saja tempat duduk yang kosong di kelas ini.”

Daehyun mengangguk dan melangkah menuju tempat duduknya. Naera merasa sedikit sesak ketika langkah pria itu mendekatinya. Sebenarnya Daehyun sama sekali tidak mendekati Naera,tetapi ia bermaksud duduk di samping Minrin,yang tempat duduknya tepat di seberang Naera.

“ Tenanglah,Naera…” Jinhee yang berada di sebelah Naera mulai mencoba menenangkan Naera yang mulai ketakutan.

Naera menutup matanya dan berusaha tenang,sepertinya cara itu cukup berhasil karena ia tidak melihat Daehyun yang sudah duduk di sebrangnya. Tetapi mata pria itu melihat Naera yang memang bersikap aneh bahkan sejak kehadirannya di kelas itu.

“Annyeong Daehyun-ssi,chonun Shin Minrin imnida.” Daehyun menoleh saat ada sebuah tangan yang terjulur ke arahnya.

“ Annyeong,Minrin.” Daehyun menyambut uluran tangan Minrin sambil tersenyum cerah.

Tetapi senyuman itu tidak bertahan lama tatkala Daehyun melihat pemandangan di sampingnya. Gadis yang bahkan tidak diketahui namanya itu, sedang menutup matanya dan menggumamkan kata-kata yang sulit untuk ditangkap indera pendengarnya. Wajah gadis itu pucat seperti ketakutan terhadap sesuatu,entah apa itu.

Pikiran Daehyun sudah melayang pada khayalan bahwa gadis itu mungkin saja adalah seorang anak indigo yang diberi kemampuan khusus untuk melihat hal-hal yang tidak dapat ditangkap oleh alat indera manusia lain dan saat ini gadis itu sedang mungkin bisa dikatakan berkomunikasi dengan salah satu makhluk tak kasat mata. Daehyun sedikit merasa ngeri membayangkan imajinasinya menjadi nyata.

Daehyun mengulurkan tangannya tepat di hadapan gadis itu dan secara kebetulan gadis itu membuka matanya dan melihat sebuah tangan terulur di depannya,membuatnya tertegun sejenak sebelum melihat ke arah pemilik tangan itu.

“ Annyeong,Chonun Jung Daehyun imnida..” Daehyun melemparkan senyumannya tetapi senyuman yang dilemparkannya berbeda dari yang sebelumnya ia berikan pada Minrin. Senyuman yang ia berikan pada Naera lebih hangat dan bersahabat.

Keringat dingin kembali meluncur deras dari pelipis Naera. Perkataan Daehyun memberikan sensasi berlebihan pada dirinya,bagai disetrum listrik,tubuh gadis itu melunglai. Ia sama sekali tidak bisa mengontrol rasa takutnya yang seakan siap menenggelamkannya.

Naera,tenang,dia hanya mengajakmu berkenalan

Berusaha mengtrol detakan jantungnya yang suidah semakin liar,oksigennya yang perlahan berkurang sehingga membuatnya kesulitan bernafas,pandangan matanya yang tiba-tiba berkunang-kunang menyisakan berbagai bayangan buram di depannya. Melemahkan tubuhnya hingga tanpa sadar tubuhnya sudah melorot ke lantai dan kesadarannya menghilang.

“ NAERAAA!!” Jinhee dengan panik berdiri dari kursi yang didudukinya dan berlutut di depan tubuh Naera yang tergeletak di lantai. Wajah gadis itu sudah lebih pucat dari waktu dia masih sadar,hal itu membuat Jinhee semakin panik. Daehyun refleks berlutut di sisi lain Naera dan bersebrangan dengan Jinhee.

“ Biar aku yang membawanya ke ruang kesehatan.”

“ ANDWAEE..” Jinhee spontan berteriak dan membuat tangan Daehyun yang hendak menyentuh tubuh Naera berhenti di udara.

“ Waeyo?”

“ Di..dia..” Jinhee bingung harus berkata apa pada Daehyun,selama ini yang mengetahui tentang keadaan Naera hanyalah dirinya,sebagai sahabat dekat gadis itu,lagipula selama ini Naera tidak pernah pingsan karena tidak ada satu orang pria pun yang mau berkomunikasi dengannya termasuk guru-guru yang merasa enggan padanya.

“ Sudahlah,Jinhee-ah,biarkan Daehyun menolong Naera..” suara Kwon seongsaenim yang bernada perintah membuat Jinhee terdiam dan mau tidak mau membiarkan Daehyun menggendong tubuh Naera.

Jinhee hanya berharap Naera tidak tersadar di dalam gendongan pria itu,atau kalau tidak Naera akan histeris seperti waktu pria itu mengajaknya berkenalan dan itu hanya akan memperburuk kondisi mental gadis itu.

Beberapa siswa yang tadinya berkerumun di sekitar tempat duduk Jinhee dan Naera perlahan sudah mulai kembali ke tempat duduk mereka masing-masing,begitu juga Kwon seongsaenim yang mulai mengajar kembali,seolah-olah kejadian tadi bukanlah hal yang mengejutkan. Jinhee mulai melangkah mengikuti Daehyun yang sudah melangkah menyuduri lorong-lorong kelas.

“Jinhee..” Daehyun menoleh pada gadis yang berada di sampingnya.

“ Ne?” Jinhee setengah bingung karena merasa belum memperkenalkan dirinya pada Daehyun.

“ Aku tahu namamu dari Kwon seongsaenim,aku hanya ingin bertanya di mana letak ruang kesehatan.”

Jinhee tersadar dari lamunannya,wajahnya sontak memerah menahan malu. Ia segera menunjukkan letak ruang kesehatan pada Daehyun.

Daehyun dan Jinhee menunggu di luar ruangan,sementara Naera sedang diperiksa oleh petugas di ruang kesehatan. Mereka terjebak dalam suasana diam membisu tanpa ada yang berniat membuka suara satu sama lain.

“ Jinhee?”

“ Ne?”

“ Kenapa Naera tiba-tiba pingsan? Wajahnya memang sudah pucat,apakah dia sedang sakit?”

“ Ah aniya..” Jinhee memutuskan berbohong,ia tidak berani menceritakan semuanya pada Daehyun karena takut Naera akan marah.

“ Lalu..”

“ Daehyun,sebaiknya kau kembali ke kelas,biar aku saja yang menunggu Naera sadar.” Jinhee memotong perkataan Daehyun dan berharap pria itu segera pergi dan tidak bertanya apa-apa lagi.

“ Baiklah,beritahu aku kalau dia sudah sadar.”

“ Ne,tentu saja.”

Daehyun melangkah meninggalkan Jinhee yang masih berdiri mematung di depan ruang kesehatan. Ia  memang penasaran dengan keadaan Naera yang aneh,apalagi gadis itu pingsan beberapa saat setelah ia mengajak gadis itu berkenalan.Ekspresi gadis itu berubah kaku saat Daehyun mengulurkan tangannya,gadis itu terlihat seperti orang ketakutan.

***

          Setelah beberapa saat menunggu,Naera akhirnya sadar,Jinhee menghembuskan nafas lega karena melihat gadis itu sudah sadar. Naera mengerjapkan matanya berusah menyesuaikannya dengan cahaya yang masuk.

“ Naera kau sudah sadar?”

Naera bangkit dari posisi tidurnya dan duduk bersandar,matanya menerawang dan mengingat-ingat kejadian sebelum ia pingsan. Bayangan wajah Daehyun terbentuk di memori otaknya,membuat badanya gemetar tanpa sebab.

“ Naera,gwechanayo?” Jinhee yang melihat perilaku Naera kembali aneh mencoba memeluk gadis itu dan menenangkannya.

“ Aku takut..”

“ Tenanglah,sudah tidak apa-apa.” Jinhee berusah mengusap pelan punggung Naera.

Daehyun yang melihat Naera sudah sadar dari jendela ruang kesehatan berniat masuk saat Jinhee melihat bayangan pria itu melangkah menuju pintu ruang kesehatan. Secepat kilat ia melepaskan pelukannya di tubuh Naera dan berlari menuju pintu. Suara decitan pintu yang terbuka membuat Jinhee menahan gagang pintu itu dan membuat Daehyun keluar.

“ Mengapa aku tidak boleh masuk?” Daehyun bertanya sambil berusaha melihat keadaan Naera dari jendela yang gordennya tidak ditutup.

“ Biar aku jelaskan nanti,sekarang kondisi Naera tidak memungkinkan untuk bertemu denganmu.”

“ Kenapa?”

“ Aishhh kau ini banyak bertanya! Kalau aku bilang nanti ya nanti sekarang kau ke kelas sana atau ke kantin atau ke mana saja asal jangan bertemu dengan Naera dulu.”

“ Baiklah,tapi kau harus berjanji kalau kau akan menjelaskan semuanya padaku.”

“ Arraseo.”

***

          “ Jadi apa penjelasanmu?” Daehyun dan Jinhee berada di depan ruang kelas mereka yang berhadapan langsung dengan lapangan yang cukup sejuk karena dihiasi beberapa pohon rindang di sampingnya.

Jam sekolah sudah lewat dua jam yang lalu dan Jinhee memenuhi janjinya untuk menemui Daehyun di sekolah setelah ia mengantarkan Naera pulang. Tadinya ia ingin membiarkan Naera pulang sendirian tetapi mengingat kondisi gadis itu yang tidak stabil akibat kejadian di sekolah yang menimpanya,Jinhee tidak tega melihat kalau-kalau sahabatnya itu nanti pingsan di jalan atau semacamnya.

“ Naera memang mempunyai penyakit.”

“ Penyakit? Parah kah?”

“ Bukan penyakit fisik maksudku,tetapi lebih ke semacam penyakit mental.”

“ Gangguan jiwa?” Daehyun menebak-nebak arti perkataan Jinhee yang menurutnya terlalu bertele-tele.

“ Tolong jaga bicaramu,Daehyun,Naera tidak gila.” kata-kata yang keluar dari bibir Jinhee menjadi tajam karena perkataan Daehyun.

“ Ne,Minahaeyo,aku tidak bermaksud mengina Naera atau semacamnya.”

“Baiklah,aku akan jelaskan,yang aku maksudkan di sini adalah phobia.”

“ Rasa takut berlebihan terhadap sesuatu?”

“ Ne,Naera menderita Androphobia.”

“ Androphia?”

Kata-kata itu tidak asing di telinga Daehyun,sepertinya pernah ada yang mengucapkan kata-kata itu padanya.

“ Androphobia?”

          “Ne,suatu phobia terhadap laki-laki,lucu sekali kedengarannya bukan?”

          “ Phobia terhadap laki-laki.” Daehyun mengguman tidak sadar,tatapannya tetap fokus pada lapangan yang sepi di depannya.

“ Ne,kau benar.”

“ Tapi kenapa?”

“ Masa lalunya yang kelam,sejak kecil eommanya terlalu over protective padanya,mungkin karena eommanya adalah orang tua tunggal dan ia harus bertindak sebagai appa dan eomma sekaligus,lalu karena tidak bisa memperhatikan Naera sepenuhnya karena sibuk bekerja,ia menanamkan semacam ya kepercayaan pada anaknya kalau laki-laki adalah sosok yang menyeramkan dan harus dijauhinya. Sejak itu Naera menjadi aneh dan ia tidak bisa terbuka pada sosok laki-laki manapun. Tetapi phobianya parah,ia masih bisa berkomunikasi dengan lancar walaupun ia masih sangat menutup diri. Tetapi entah mengapa sejak SMA,phobianya malah semakin parah,karena sifatnya yang tertutup itu,tidak ada yang mau mengajaknya bicara. Aku merasa itu adalah suatu keuntungan karena tidak ada yang tahu Naera menderita phobia ini kecuali aku,eommanya,dan juga kau.”

“ Phobianya semakin parah? Separah apa?”

“ Yak au bisa lihat sendiri contoh kasusnya tadi,kau hanya mengajaknya berkenalan ia bisa sesak nafas dan pingsan. Untungnya ia maish bisa satu ruangan dengan pria,dalam beberapa kasus,para penderita akan merasa tertekan bila berada dalam satu ruangan dengan pria atau malah hanya dengan melihat sosok pria.”

“ Kalau bertemu dengan pria bisa membuatnya semenderita itu,mengapa eommanya tidak menyekolahkan dia di sekolah khusus wanita,bukankah itu akan lebih nyaman untuknya?”

“ Ne,aku juga berpikir begitu,tetapi eomma Naera tidak sependapat,ia berpikir kalau Naera di sekolahkan di sekolah khusus wanita,Naera tidak akan bisa sembuh dari phobianya dan malah bisa jatuh cinta pada sesama jenis.”

Daehyun menganggukkan kepalanya mengerti.Sekarang ia sudah mengetahui penyebab phobia yang dialami gadis itu,hanya saja ia harus mencari tahu lebih dalam sisi gelap seorang Naera yang tidak tertembus oleh Jinhee bahkan eommanya sekalipun.

“ Aku akan membantunya.”

“ Apa maksudmu?”

“ Kau adalah sahabatnya,apakah kau tidak mau melihat ia sembuh?”

“ Tentu saja aku mau,tetapi bagaimana caranya?”

“ Aku akan membuatnya nyaman berteman denganku.”

“ Jangan bermimpi Jung Daehyun! Kau tahu hanya dengan melihatmu dalam jarak dekat saja ia akan merasa ketakutan. Apalagi kau berusaha mengajaknya berkomunikasi,apakah kau mencoba membuatnya berada dalam ketakutan secara terus-menerus?”

“ Kita tidak akan pernah tahu jika kita tidak mencobanya,kan?”

“ Daehyun,kau tidak serius kan?”

“ Aku serius,Jinhee,aku akan membantunya dan aku harap kau membantuku.”

***

          “ Jinhee-ah!” Naera berlari-lari kecil saat melihat sahabatnya itu sedang berjalan memasuki gerbang.

“ Annyeong,Naera,apakah keadaanmu sudah lebih baik?”

“ Begitulah,setelah pulang dan beristirahat,aku sudah merasa jauh lebih baik jadi kau tidak usah khawatir lagi.”

“ Annyeong,Jinhee!” Sebuah suara menyeruak di antara percakapan dua gadis itu. Daehyun dengan senyuman yang secerah mentari menyapa Jinhee yang jelas-jelas sedang bersama Naera.

Jinhee berusaha memberikan isyarat agar Daehyun menjauh dari mereka berdua,tetapi sepertinya Daehyun berpura-pura tidak mengerti arti isyarat JInhee dan malah mengalihkan pandangannya pada Naera yang tiba-tiba menunduk,mungkin disebabkan kehadirannya.

“ Annyeong,Naera..” Daehyun masih nekat melanjutkan aksinya entah apa yang ada di dalam pikiran pria itu sebenarnya.

“ Euhmm..Naera-ah,kajja kita ke kelas.” Jinhee segera memegang pundak Naera dan membawanya menjauh dari Daehyun. Jinhee diam-diam menarik nafas lega karena Daehyun tidak lagi mengikuti mereka,Jinhee meberikan isyarat ‘temui aku nanti’ pada Daehyun dan dibalas anggukan pria itu.

***

          “ KAU SUDAH GILA?” Jinhee berteriak tepat di hadapan Daehyun. Jinhee tahu persis apa yang dilakukan Daehyun akan berdampak tidak baik bagi Naera.

“ Aku sudah bilang padamu aku akan berusaha menyembuhkan phobianya dan hal yang harus aku lakukan adalah berada di dekatnya dan membuanya merasa nyaman bersamaku. Sehingga timbul pikiran positif tentang pria,bahwa sosok pria tidak menyeramkan seperti apa yang selama ini tertanam di benaknya.”

“ Tapi bukan seperti itu caranya,kau lihat tadi Naera langsung menunduk begitu kau mendekat,dan saat aku memegang bahunya,tubuhnya sudah bergetar lagi dan jika tadi kau tetap nekat menjalankan aksimu yang aku tahu kau bermaksud baik,kau malah akan mencelakainya.”

“ Ne,arraseo,mianhae,mungkin harusnya aku lebih berhati-hati,kau harus membantuku,Jinhee,kau harus melibatkan aku dalam komunikasimu dengannya,itu akan mempermudahku untuk berteman dengannya.”

“ Jinhee..” langkah Naera terhenti saat melihat Jinhee sedang berbicara dengan Daehyun. Rasa takut itu kembali menyelimutinya,mencengkeram dadanya kuat-kuat menimbulkan sensasi tersendiri padanya.

“Annyeong,Naera..” Daehyun tersenyum saat melihat Naera berjalan ke arah mereka.

“ Naera,ada apa?” Jinhee bertanya pada Naera kelihatan jelas kalau gadis itu sedang merasa tidak nyaman.

“ Kau ada urusan dengannya?” Naera berbicara tetapi tetap dengan kepala yang tertunduk.

“ Aniyaa..Kajja kita pergi.” Jinhee meninggalkan Daehyun yang menaikkan sebelah alisnya bingung dnegan tingkah Jinhee yang seolah ingin menjauhkannya dari Naera.

***

          Daehyun tidak menyerah semudah itu hanya karena sikap Naera yang masih kelewat dingin padanya. Ia terus mencoba mendekati gadis itu namun maish dalam batas kewajaran karena ia tidak ingin membuat Naera menjadi takut padanya dan akan berakibat fatal. Bahkan menurut beberapa refrensi yang dibacanya,seseorang yang mengalami phobia parah,bisa saja berakibat fatal pada fisiknya walapun yang sebenarnya terganggu adalah mentalnya.

Seperti pagi ini,Daehyun berusaha mendekati Naera,dan hasilnya tidak sia-sia selama hampir dua minggu ini Daehyun menjadi tembok bagi Jinhee dan Naera,kali ini wajah Naera tidak lagi sepucat dulu saat berhadapan dengannya. Daehyun bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas,karena gadis itu tidak lagi menunduk.

“ Annyeong Naera.”

“ A..A..An..Annyeong,Daehyun.” Naera berusaha tersenyum walaupun Daehyun bisa melihat nada gugup keluar dari perkataannya dan body languagenya yang melakukan penolakan terhadap Daehyun.

Daehyun berbicara mengenai beberapa hal ringan dan dijawab Naera dengan anggukan atau gelengan kepala atau hanya berbicara beberapa patah kata,tetapi itu sudah lebih baik daripada gadis itu hanya menganggapnya angin lalu.Naera yang mengucapkan beberapa patah kata sederhana berbanding terbalik dengan Daehyun yang berbicara panjang lebar yang hanya disertai beberapa jeda.

Keinginannya yang besar untuk menyembuhkan Naera,membuat kepribadian Daehyun juga berubah,ia menjadi pribadi yang lebih ceria dan terbuka,padahal sebelumnya ia adalah sosok yang dingin dan tidak suka banyak berbicara. Tetapi demi seorang Naera,gadis yang baru dikenalnya,ia berubah sedrastis itu.

Daehyun tidak akan bisa menjawab jika ditanya apa yang menyebabkannya melakukan itu. Apakah hanya faktor rasa kasihan atau memang ia peduli pada gadis itu? Peduli? Mungkin itu adalah jawaban yang lebih tepat,ia tidak mau dibilang hanya mengasihani gadis itu karena pada kenyataannya memang ia berniat menyembuhkan gadis itu dari phobianya dan juga menjadi temannya.

***

          “ Kulihat kau sudah sedikit berhasil.. Kali ini aku bisa mengakui kalau kau hebat.” Daehyun hanya tersenyum mendengar penuturan Jinhee.

“ Aku belum sepeneuhnya berhasiul,setidaknya aku harus menghilangkan pikiran negatifnya tentang pria.”

“ Tapi kau sudah berhasil membuatnya tidak lagi pingsan kalau kau berkomunikasi dengannya,aku akui itu sudah kemajuan yang pesat.”

“ Ne,aku akan terus berusaha,kau juga berjasa besar,Jinhee,kau adalah sahabat yang baik bagi Naera.” Daehyun tersenyum tulus pada Jinhee. Baru kali ini Jinhee melihat senyuman Daehyun yang seperti itu.Selama ini Daehyun hanya melemparkan senyuman jail dan meremehkan,bukan jenis senyuman tulus seperti itu.

“ Tentu saja,kita akan berusaha lebih keras lagi!” Jinhee mengepalkan tangannya ke atas dan meneriakkan kata ‘fighting’ tanpa suara.

Lagi-lagi Daehyun tersenyum dan itu memberikan sensasi berbeda pada Jinhee.

***

          Naera termenung di kamarnya,ia merasa lebih baik akhir-akhir ini. Itu semua jelas disebabkan oleh Daehyun yang perlahan tapi pasti bisa mengoyakkan keyakinannya bhawa semua pria adalah jahat dan menyeramkan. Daehyun terasa berbeda,pria itu lebih hangat dan bersahabat,tidak jahat dan menyeramkan seperti yang dibayangkannya selama ini.

Perasaan yang pernah menghantuinya selama beberapa tahun tergantikan oleh rasa nyaman akibat Daehyun yang berusaha mendekatinya terus-menerus. Naera sama sekali tidak bermaksud bersikap dingin pada Daehyun,hanya saja secara otomatis dirinya membentuk lapisan pelindung dari semua pria termasuk Daehyun.

Tetapi lama kelamaan lapisan itu bisa terkikis oleh satu rasa aman dan nyaman yang ia rasakan hanya bersama pria itu. Mungkinkah semua rasa nyaman itu akan berubah menjadi rasa yang lebih besar.

Naera pernah merasakan sebuah rasa asing yang menelusup ke dalam hatinya. Sebuah perasaan hangat dan nyaman yang melingkupi hatinya,tetapi rasa itu sudha lama pergi dan yang selama ini ia rasakan hanya perih dan keretakan hatinya yang semakin parah,tetapi Daehyun bisa menyembuhkan semuanya bahkan memberikan kehangatan yang lebih.

***

          “ Jadi,kau sudah punya rencana apa hari ini?” Jinhee mendekati Daehyun yang sedang duduk di bangkunya. Pagi itu entah kebetulan atau bagaimana,Jinhee dan Daehyun datang dalam ritme waktu paling pagi walaupun alasannya berbeda. Jinhee karena appanya tiba-tiba ada urusan di kantor dan hanya bisa mengantarnya pagi sekali ke sekolah. Sedangkan Daehyun entah apa alasan pria itu datang pagi ke sekolah.

“ Hmm,mungkin masih sama seperti kemarin dan rencanaku selama ini berjalan lancar kan?”

“ Ne,aku mengakui kehebatanmu.”

Jinhee dan Daehyun larut dalam pembicaraan,mulai dari membicarakan Naera sampai akhirnya mereka bercerita tentang diri mereka satu sama lain. Satu bulan saling mengenal,ternyata mereka belum benar-benar mengetahui perihal satu sama lain,selama ini mereka hanya membicarakan Naera.

“ Awww..” Jinhee spontan memegang matanya karena merasa ada sesuatu yang masuk dan membuat matanya perih.

“ Waeyo?”

“ Molla,sepertinya ada debu yang masuk dan membuat mataku perih apalagi aku sedang menggunakan soflens.” Jinhee berusaha meniup matanya dan mengusapya pelan.

“ Sini biar aku yang meniupnya.” Daehyun mendekatkan wajahnya ke wajah Jinhee. Memang hal yang mereka lakukan adalah wajar,tetapi hal itu tidak bertahan lama karena Naera melihat kejadian itu dari pintu kelas dan ia salah paham tentang apa yang terjadi pada Daehyun dan Jinhee.

Berbagai potongan memori masuk ke dalam ingatannya,Naera akhirnya menyadari satu hal. Tubuhnya kembali terguncang dan tanpa disadarinya,tubuhnya sudah merosot ke lantai.

“ Aku tidak percaya,Jinhee,kau melakukan ini lagi..”

To Be Continued


21 thoughts on “[Korean Fanfiction/Straight/Twoshots] Cry for you (1/2)

    • uwahhh makasih eonni😀
      padahal kata aku FF ini banyak cacatnya karena ide yang timbul tenggelam gtu hehe
      ditunggu aja eon lanjutannya ;D
      gomawo udah comment eon ^^

      • Annyeong juga ^^
        Ahaha, gak apa, kasak sms-an aja ya😆
        *angguk2*
        Beneran bagus

        Ayo lanjutannya mana nih???
        Penasaran😥
        Tapi kalau chingu gak lagi sibuk hehe *berusaha mengerti*😀
        Salam kenal😀

      • makasih chingu haha dibilang bagus😀
        iya aku belom ngelanjutin lagi nih >.<
        diusahain cepet deh hahaha soalnya aku blm ada feel u.u

        salam kenal juga ^__^

  1. ceritanya unik banget ide ceritanya langka bgt hebat bgt ni author’a tapi di lihas dari tgl post’a (22 mei) ko sampe sekarang belom ada lanjutan’a ?

    • Annyeong chingu😀
      reader baru kah?
      selamat datang di blog saya dan selamat berpetualang

      ah masa ya chingu?
      hahaha aku mah biasa aja😀
      T.T maaf ya chingu
      aku belum lajutin
      nanti aku usahain secepatnya😀

      makasih udah baca + komen ^__^

  2. Aku suka chingu ceritanyaa, awalnya sempet mikir si Naera terlalu lebay banget sampe mau pingsan ga jelas -____-. Tapi masih penasaran banget niii, si jinhee tu sebenernya jahat ato baik ga sih? Jangan” gara” dia tu jadi androphobia si naera

  3. saeng ini ga ada lanjutannya ya? >.< aku suka banget sama critanya dan… uhuk Daehyun xD lanjut dong saeng

    • Ada kok eonni u.u cuma akunya yg blm sempet ngetik *plak *alesannyasibukmulu A.A
      wahh eonni suka juga kah sama Dae2? yeayyy nambah temen or saingan? hahahaha ^^v

      oke sip eonnni
      Makasih udah baca + komen ^^

      • baru2 ini sih suka sama dia, bahkan dia udah nyaingin sunggyu ku xD ada di jajaran bias xD

      • widihhh eonniiii si bang Sunggyu ntar dikemanain? A.A
        yahh klo Daehyun aku rela deh dibagi berdua sama eonni (?)

      • sunggyu? sunggyu siapa? *im sorry baby gyu just for a while*
        asiiik dibagi baby dae xD

  4. detail ceritanya asik, ga buru2 juga ga bertele2. Curiga jinhee nih yg bikin phobia naera nambah parah. Btw suka sama karakter daehyunni yg polos ky gitu kkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s