[Korean Fanfiction/Straight/Mini Drama] You Only Love (Chapter 1)

Title       : You only Love

Author  : Kim Saena a.k.a Devi

Rating   : PG13/Straight/Mini Drama

Genre   : Romance/Angst/Comedy/Friendship/School Life

Cast       : SHINee- Key,Taemin,Minho,Onew,Jonghyun

–          Yoon Sagwa 

–          Kang Heerin 

–          Han Sung hyo 

–          Shin Min rin

Disclaimer           : SHINee is belong to God,SM Entertaiment,and their parents.It’s just for fun. Please don’t sue me. This story is mine.Don’t take this fanfic without permission from me. If you want to take this fanfic. Please take with full credit.

A/N : FF ini merupakan ide cerita lama FF aku yang berjudul wasurenaide. Pada awalnya Wasurenaide aku  bikin seperti ini,tetapi karena file FF ini sempat hilang,jadi aku membuat wasurenaide versi barunya. Setelah aku pikir-pikir aku membuat cerita ini dengan konflik yang sama dengan Wasurenaide tetapi jalan ceritanya berbeda. Jadi kalo ada yang pernah baca FF aku yang judulnya wasurenaide dan FF ini agak mirip sama FF itu,aku minta maaf,karena emang ide pokoknya sama,cuma versinya berbeda.

Chapter 1- Our love story

Author Pov

Bila kita sudah menemukan cinta akankah kita mengejarnya atau membiarkannya hilang bersama hembusan angin?

“ Sagwaa… ireonaa.. kau tidak lihat matahari sudah bersinar terik?” Heerin membuka gorden yang menutupi jendela kamar Sagwa.

“ Aishhh.. memangnya sudah jam berapa?” Sagwa berkata sambil memejamkan matanya,enggan untuk membukanya,ia menarik kembali selimut yang tadi sudah ditarik Heerin dari tubuhnya.

“Jam 8.30,kau kan ada kuliah pagi,kau lupa?”

“ Ahhh sudahlah,aku pasti terlambat.” Sagwa membalikkan tubuhnya dan menenggelamkan wajahnya pada bantal,berusah meredam suara Heerin yang memekikkan telinga.

“ Sudah tahu kau akan terlambat,masih saja tidur seperti itu,kau ini benar-benar..”

“ Aigooo.. Kau ini berisik sekali.. Ne,ne,aku akan bangun.” Sagwa menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya dan beranjak ke kamar mandi.

“ Dia sudah tahu akan terlambat masih saja dengan gaya santai seperti itu.” Heerin menggelengkan kepalanya bingung melihat kelakuan ‘ajaib’ milik sahabatnya itu.

***

          “ Sudah kuduga pasti aku akan terlambat,lalu untuk apa aku datang ke sini?” Sagwa memandangi lorong campusnya yang cukup sepi,hanya terisi beberapa siswa yang memenuhi sudut-sudut campus dan terlihat fokus pada kesibukan mereka masing-masing.

“ Sedang apa kau di sini? Berniat membolos? Huh?” Saena menoleh dari kegiatannya memandangi orang-orang yang berlalu-lalang tanpa memperdulikannya sama sekali.

“ Mwo? Ahh.. ternyata kau Jonghyun,sedang apa kau di sini?”

“ Bukankah aku bertanya lebih dulu padamu? Kenapa kau malah balik bertanya? Hahahaha..”

“ Mianhae aku sedang melamun tadi..”

“Aku bertanya padamu,sedang apa kau di sini?”

“ Aku terlambat masuk mata kuliah Park Seongsaenim dan tidak diizinkan masuk.”

“ Dosen killer itu? Jelas saja! Kau mencari mati dengan terlambat di mata kuliah dosen itu?” Jonghyun ikutan duduk di sebelah Sagwa. Walaupun ia dan Sagwa berbeda jurusan,tetapi fakultas mereka letaknya berdekatan. Jonghyun mengambil jurusan fotografi dan Sagwa mengambil jurusan hukum. Jurusan yang sangat membosankan bagi sebagian besar orang,tetapi entah apa yang mendorong Sagwa mengambil jurusan seperti itu.

“ Chamkanman,kau anak fotografi kan?”

“ Ne,lalu?”

“ Darimana kau tahu soal Park Seongsaenim yang killer?” Sagwa bertanya dengan raut wajah polos,membuat Jonghyun mengembangkan senyumnya.

“ Aku punya banyak teman di fakultas hukum,info seperti itu mudah sekali menyebar,apa yang membuatmu heran?”

“ Aku hanya bertanya saja..”

“ Sa..”

“ HEERINN!!” kata-kata Jonghyun terpotong oleh teriakan Sagwa. Jonghyun mengikuti arah pandang gadis itu dan mendapati bahwa gadis itu sedang melambai pada salah seorang gadis yang baru saja keluar dari gedung fakultas teater.

“ Jonghyun,aku duluan ya..Annyeong..” Sagwa mengambil tasnya dan berjalan sambil melambai ke arah Jonghyun.

“ Aishh kenapa aku harus selalu kehabisan kata-kata saat bersama dia?”

***

          “ Apa yang sedang kau lihat,hyung?” Taemin menepuk pundak Jonghyun dan menyadarkannya dari objek yang sedari tadi menjadi pusat perhatiannya.

“ Aniya,aku tidak melihat siapa-siapa..” Jonghyun berusaha mengelak dengan mengganti objek pandangannya.

“ Jangan berbohong,hyung,aku tahu kau sedang melihat ke arah Sagwa dan temannya itu.” Taemin hanya tertawa kecil melihat Jonghyun yang salah tingkah.

Jonghyun terdiam beberapa saat,ia tidak bisa mengela dari perkataan Taemin,memang sejak tadi ia melihat ke arah Sagwa,seperti apa yang dilakukan gadis itu bergitu menarik dan menyita perhatiannya. Taemin bisa mengenal Sagwa karena ia satu jurusan dengan gadis itu.

“ Siapa incaranmu sekarang,hyung? Sagwa atau temannya yang cukup cantik itu?”

“ Aniya,Taemin,aku tidak mengincar Sagwa ataupun Heerin,aku..aku rasa aku jatuh cinta pada Sagwa.”

“ MWO?” reaksi Taemin sungguh di luar dugaan. Jonghyun merasa aneh dengan perubahan ekspresi Taemin,menurutnya jatuh cinta adalah hal biasa.

“ Hyung,aku sudah mengenalmu cukup lama,tidak mungkin kau semudah itu jatuh cinta pada Sagwa.”

“ Molla,Taemin,kali ini terasa berbeda..”

“ Itu hanya perasaan sesaat,hyung,untukku Sagwa bukanlah gadis istimewa.”

Jonghyun terdiam dan dalam hati membenarkan perkataan Taemin. Sagwa bukan gadis istimewa,bahkan ia sama sekali tidak masuk tipe gadis yang biasa dimainkan Jonghyun,apalagi gadis idamannya.

“ Bagaimana kalau kau mempermainkan dia? Sama seperti yang kau lakukan pada gadis lainnya.”

“ Aku tidak setuju,Taemin-ah..”

“ Waeyo? Kau juga ingin tahu perasaanmu yang sebenarnya padanya,iya kan,hyung?”

“ Ne..”

“ Dengan kau mempermainkannya secara tidak langsung kau bisa mengenalnya lebih dalam,lalu kau akan tahu seberapa besar perasaanmu padanya.”

“ Mungkin perkataanmu ada benarnya.”

***

          “ Kau tertarik menonton acara itu?”

“ Ne?” Sunghyo menoleh saat mendapati sebuah suara  di sebelahnya. Ia memang sejak tadi terpaku pada pengumuman mading tentang konser yang akan diadakan anak-anak fakultas musik.

“ Aku melihatmu memasang ekspresi serius saat membaca brosur mengenai acara itu.”

“Ne,aku ingin menontonnya..Boleh kan,chagi?” Sunghyo menatap kedua mata Key dengan tatapan andalannya. Tatapan yang digunakannya saat ingin meminta sesuatu.

“ Kau tahu kalau aku tidak pernah bisa menolakmu saat kau memberikan tatapan seperti itu padaku..” Key tersenyum sambil mengacak rambut Sunghyo.

“ Ahhh gomawo,chagi.” Sunghyo memeluk Key dan dibalas dengan pelukan yang sama eratnya dari pria itu.

Keadaan lorong itu memang sepi,tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa ada sepasang mata yang melihat kejadian itu dengan jelas.Secercah sinar kepedihan tertangkap jelas pada dua bola matanya. Ada hati yang hancur berkeping-keping melihat sesuatu yang menyakitkan itu.

Bahkan sampai Key dan Sunghyo meninggalkan tempat itu,gadis itu tidka beranjak 1 cm pun,ia masih tetap diam dan berusaha menata kembali hati dan pikirannya yang sudah kacau,terguncang karena pemandangan yang dilihatnya beberapa menit yang lalu.

“ Minrin?” Gadis itu menghapus air matanya yang belum sempat mengotori pipinya.

“ Kau menangis?”

“ Aniya..Nan Gwechana,sebaiknya aku pulang. Annyeong Minho..” Minrin melangkah meninggalkan Minho. Tetapi Minho dengan sigap menahan tangan gadis itu.

“ Perlu kuantar pulang?” Minho merasa khawatir karena kondisi gadis itu tidak baik-baik saja.

“ Tidak perlu,aku tidak mau merepotkanmu,aku akan pulang sendiri saja.” Minrin melepaskan genggaman tangan Minho di tangannya dan pergi meninggalkan pria itu. Minho hanya bisa menatap kepergian Minrin dengan hati miris.

***

          “ Sepertinya aku tahu apa yang mengganggu pikiranmu akhir-akhir ini.” Sagwa tidak begitu menghiraukan perkataan Heerin,ia tetap melanjutkan acara membaca kamus hukumnya. Karena ia tidak hadir di kelas Park seongsaenim,padahal guru itu baru saja memberikan quiz mendadak,ia terpaksa harus mengerjakan makalah yang rumit. Sagwa berjanji dalam hatinya,ia tidak akan mau lagi terlambat di kelas dosen yang tidak mempunyai hati seperti itu.

“ Sagwa,bisakah kau mengalihkan perhatian sejenak dari buku yang membuatku mual itu?”

“ Aishh,ne,ada apa?”

“ Aku menemukan diarimu.”

“MWO?”

“ Aku ini sahabatmu dan harusnya kau berbagi padaku dan bukannya pada buku bodoh itu.”

“ Heerin yang manis! Itu bukan buku bodoh!” Sagwa menekankan setiap kata dalam kalimat yang terlontar dari mulutnya.

“ Kau merindukan pria itu kan?”

Sagwa menutup kamus hukum yang sejak tadi menyita perhatiannya. Topik ini sanat dihindarinya,tetapi tatapan mata Heerin yang seolah akan menelannya membuatnya terpaksa mengikuti alur pembicaraan gadis itu.

“ Ne,memangnya kenapa?”

“Kau masih bertanya memangnya kenapa? Sagwa! Sadarlah pria itu sudah meninggalkanmu dan tidak memeberimu kabar.”

“ Bisakah kita bahas ini lain waktu? Aku tahu dia sudah meninggalkanku tanpa alasan yang jelas dan ia tidak memberikan kabar padaku. Aku sudah cukup tahu dengan semua itu.”

“ Sagwa..”

“ Heerin..” Sagwa menatap kedua mata Heerin dengan tatapan memelas. Memohon agar Heerin tidak melanjutkan topik bahasan yang menyinggung perasannya.

“ Aishhh,ne aku mengerti,mianhae karena sudah mengusik hal yang bersifat sensitif bagimu.”

“ Sejujurnya aku juga sudah lelah,Heerin.”

“ Kalau begitu lupakan saja dia..”

“ Kau tahu,aku tidak akan bisa melupakannya.”

Heerin memandang Sagwa yang sedang melamun lagi,mungkin ia amsih memikirkan seseok pria yang selama ini selalu ditunggunya. Namun pria itu seakan menghilang,tidak memberikan kabar sedikit pun. Mungkin saja ia ingin melupakan Sagwa,tetapi tidak seharusnya ia membiarkan Sagwa menunggu tanpa kepastian.

“ Sebenarnya aku harus mencarinya di mana?” Sagwa bergumam tanpa sadar,walaupun perkatannya itu sangat pelan,Heerin masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas.

Heerin hanya bisa mendesah pelan,tidak tahu apa yang harus dikatakannya pada Sagwa,perlukah kata-kata penghiburan yang malah akan membawa harapan semu?

***

          “ Kita pergi ke supermarket ya?Aku ingin membeli kebutuhan kita di apatement.” Sagwa dan Heerin berjalan beriringan menuju gerbang kampus. Kuliah mereka sudah selesai setengah jam yang lalu.

“Ne,kajja..” Sagwa dan Heerin melangkah dalam diam sampai ada seseorang yang menghalangi langkah mereka.

“ Jonghyun?” Sagwa menatap pria yang berada di depannya dengan pandangan bertanya.

“ Aku ada perlu denganmu,Sagwa.”

“ Ada apa?”

“ Heerin,bisakah aku pinjam Sagwa sebentar?”

“ Ne,tentu saja,Sagwa aku ke sana duluan ya..” Heerin melambaikan tangannya pada Jonghyun dan Sagwa,kemudian meninggalkan mereka berdua.

“ Kau besok ada waktu?” Jonghyun bertanya pada Sagwa tanpa basa-basi.

“ Waktu untuk apa?”

“ Aku mau mengajakmu ke satu tempat.”

“ Ke mana?”

“ Sudahlah,kau lihat saja besok,kau pasti akan suka dengan tempat itu.”

“ Jinjja? Kalau aku tidak suka bagaimana?”

“ Aishhh kau ini,sudahlah lihat saja besok,aku akan menjemputmu di apartement jam 1 siang ya.”

“ Ne,aku pulang dulu ya,sampai jumpa besok,Jonghyun..Annyeong..”

Ternyata untuk memasukkanmu ke dalam perangkapku,tidak memerlukan usaha yang banyak Sagwa.. Mudah sekali..

          Drrrttt drrrttt

Jonghyun merasakan ponselnya bergetar dalam saku celana jeansnya. Ia meraih benda itu dan melihat siapa yang menghubunginya. Nama Taemin tertera di display ponselnya,ia segera mengangkat panggilan itu.

“ Yeoboseyo,ada apa,Taemin-ah?”

“ Apakah kau sudah berhasil,hyung?”

“ Tentu saja,aku ini pandai dalam menaklukkan gadis.”

“ Percaya diri sekali kau,hyung.”

“ Memang itulah kenyatannya.Untuk apa kau menghubungiku? Hanya untuk bertanya hal itu?”

“ Ne,sekalian aku mau memperingatkan satu hal,hyung.”

“ Apa?”

“ Berhentilan bermain dengannya kalau kau merasa kau memang benar-benar jatuh cinta padanya.”

“ Ne,araseo,aku tidak yakin akan jatuh cinta,jadi kau tenang saja.”

***

          “ Haishhh ini semua gara-gara Jonghyun,apa-apaan dia malah menculik Sagwa? Sekarang aku harus sendirian.” Heerin menggerutu sambil mendorong trolinya menyusuri rak-rak yang dipenuhi bahan makanan. Saat akan mengambil sesuatu,sudut matanya menangkap satu sosok.

Sesaat ia terperangah,kemudian ia berjalan sambil mendorong trolinya mendekati sosok itu. Ia melupakan sesuatu yang tadi hendak diambilnya,sosok itu lebih menarik untuknya.

“Jadi kau mau aku membelikan sesuatu untukmu? Aishhh merepotkan saja… Ah,ne,ne… aku akan membelinya,kau tenang saja… Annyeong.” Heerin melihat punggun pria yang sedang berbicara di telepon itu. Ia memeprhatikan lekat-lekat bentuk tubuh pria itu. Tidak salah.. ini adalah..

Pria itu kemudian berbalik dan melihat ke arah Heerin. Ekspresi wajahnya menunjukkan keterkejutan saat melihat Heerin. Sama seperti ekspresi yang ditujunkan Heerin padanya. Mereka berdua sama-sama terkejut,satu sama lain.

“ Kau..Kau adalah..”

“ Heerin?” Pria itu memotong perkataan Heerin dengan bertanya sambil mengerutkan dahinya.

“ Ne.Onew?”

Sesaat keduanya mematung dalam atmosfer dingin yang menyelimuti keduanya. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut keduanya. Mereka sama-sama terkejut karena pertemuan tidak sengaja itu.

***

          Minrin membanting bingkai foto Key yang ada di kamarnya. Ia memandang serpihan-serpihan kaca yang berhamburan di lantai kamarnya. Tidak masalah baginya jika memecahkan satu saja pigura berisi foto Key,karena ia masih menyimpan puluhan bahkan ratusan foto Key dalam berbagai pose yang diambilnya diam-diam.

“ Kenapa? Kenapa?” Minrin menunjuk-nunjuk foto Key yang masih berada di dalam pigura yang kacanya telah hancur itu. Seolah-olah foto itu bisa menjawabnya.

“ Kenapa kau tidak melihatku?”

“ Kenapa kau hanya melihat orang lain dan bukan aku? Apakah aku begitu tidak pantas bagimu?”

Minrin tidak lagi mengeluarkan air matanya,ia hanya terduduk di tepi tempat tidurnya. Ia memandang foto itu dengan tatapan mengerikan,ia sudah terlalu lelah untuk menangis dan menangis hanya karena seseorang yang akan membuatnya hancur.

“ Sudah saatnya kah,aku melupakanmu?”

***

          Hampir setengah jam Sagwa berputar-putar di supermarket tempatnya dan Heerin janjian. Tetapi gadis itu sama sekali tidak tampak di mana-mana,berkali-kali Sagwa menghubungi ponsel Heerin,tetapi gadis itu tidak menjawab panggilannya. Ia sudah mulai lelah dan putus asa.

“ Apa dia sudah pulang ke apartement ya?” Sagwa melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.

“ Sudah jam 6 sore,mungkin benar Heerin sudah pulang. Aku pulang saja.” Sagwa melangkahkan kakinya menuju pintu keluar dengan perasaan campur aduk. Antara bingung dan khawatir.

“ Heerin..Heerin..” Sesampainya di apartement Sagwa segera menyalakan lampu sambil memanggil-manggil nama Heerin.

“ Kupikir ia sudah pulang.” Sagwa meletakkan tasnya di atas meja dan duudk di sofa. Pikirannya menjadi tidak tenang,karena Heerin jarang sekali keluar tanpa dirinya,dan biasanya Heerin akan mengabarinya,sedangkan sekarang Heerin sama sekali tidak mengabarinya,itu membuat Sagwa cemas.

“ Atau jangan-jangan..” Sagwa segera mengambil tasnya dan berlari keluar apartement.

***

          “ Jadi kapan kau datang ke Seoul?” Onew bertanya pada Heerin ketika mereka berdua sedang berada di sebuah café.

“ Sekitar 1 tahun yang lalu.”

“ Apa..apa Sagwa ikut datang?” Onew bertanya ragu-ragu.

Heerin meminum coffee lattenya sebelum menjawab pertanyaan Onew. Entah mengapa ada satu rasa yang mengusiknya ketika Onew menanyakan hal itu.

“ Ne,tentu saja,aku dan dia meneruskan kuliah kami di sini.”

“ Lalu di mana kalian tinggal?”

Heerin mengambil kertas dan menuliskan alamat serta nama campus mereka,kemudian memberikan kertas itu pada Onew.

“ Mwo? Seoul University? Kalian kuliah di sini?”

“ Ne,ada apa?”

“ Aku juga kuliah di sini.”

“Jinjja? Kenapa aku dan Sagwa tidak pernah melihatmu?”

“ Kau mengambil jurusan apa?”

“ Aku mengambil jurusan teater dan Sagwa mengambil jurusan hukum,kau?”

“ Aku mengambil jurusan sinematografi,jelas saja kita tidak pernah bertemu,letak fakultas kita berjauhan dan kemungkinan kecil kita bisa bertemu.”

“ Hahaha,mungkin juga..Aku tidak menyangka malah akan bertemu denganmu di sini.”

“ Anehnya kenapa aku bertemu denganmu dan bukan dengan Sagwa.” tawa Heerin berhenti dan ekspresinya berubah menajdi sulit diartikan. Onew tidak mengerti arti ekspresi itu,ia hanya diam dan meminum capucinnonya.

Ponsel Onew berbunyi dan menyadarkan keduanya dari suasana canggung yang terasa semakin mencekik. Bunyi ponsel itu menyelamatkan keduanya.

“ Ah ne.. aku akan segera pulang.”

“ Heerin,mianhae aku harus pulang.”

“ Ne,gwechana,Onew-ah..”

Sepeninggal Onew,Heerin melirik jam tangannya dan tersentak.

“ Omooo,sudah jam setengah delapan..Sagwa pasti mencariku.” Heerin segera melangkah meninggalkan café itu dengan tergesa-gesa.

***

          “HEERRIINN..” Sagwa berteriak begitu melihat gadis itu baru melangkah keluar dari sebuah café yang tidak jauh dari supermarket tempat mereka janjian tadi.

“ Sagwa? Apa yang kau lakukan di sini?”

“ Aku mencarimu.. kau hilang tanpa member kabar,bagaimana bisa aku tenang?”

“ Aishhh… kau pikir aku anak kecil?”

“Ne,mianhae,aku hanya mengkhawatirkanmu saja.” Sagwa merasa ada yang aneh dari nada bicara Heerin,tidak biasanya gadis itu berbicara dengan nada ketus.

“Sagwa,aku tidak bermaksud kasar padamu.”

“ Ne,aku tahu,aku saja yang terlalu berlebihan.Memangnya apa yang kau lakukan di café itu? Bertemu dengan seseorang?”

“ Itu..itu..aku tadi bertemu dengan..”

***

To Be Continued    

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s