[Korean Fanfiction/Straight/Mini Drama] Angel Without Wings (Chapter 1)

Title       : Angel without wings

Author  : Kim Saena a.k.a Devi

Rating   : PG15/Straight/Mini Drama

Genre   : Romance/Angst/Life

Cast       :

Main Cast            : Super Junior    – Eunhyuk

Jung Yunsoo

Other Cast          : FIND BY YOURSELF!!

Disclaimer           : Super junior is belong to God,SM Entertaiment,and their parents.It’s just for fun. Please don’t sue me.This story is belong to Malaikat tanpa sayap-februari 2012,but this fanfic is mine.Don’t take this fanfic without permission from me.If you want to take this.Please take with full credit.

FF ini adalah adaptasi dari Film berjudul ‘Malaikat Tanpa Sayap’,semua adegan dan dialog dalam fanfic ini murni mengambil dari Film tersebut.Ide pokoknya adalah dari film itu,tetapi ada beberapa penambahan kejadian dan beberapa dialog tambahan dari imajinasi saya di dalam fanfic ini. 

A/N : Annyeong SN-Holic😀,aku minta maaf karena belom bisa ngepost FF whether chap 8,nah untuk sementara ff ini aja dlu yang aku post.

Kalian tahu film Indonesia yang judulnya Malaikat tanpa sayap? Nahh aku suka banget sama tuh film,buat aku tuh film bener2 ngasih kita pelajaran tentang hidup jadi bukan cuma romance biasa. Aku nyoba2 bikin FF adaptasi dari tuh film,yaa walaupun hasilnya mungkin ga maksimal,karena aku bkinnya dalam masa ujian

Ini adalah FF adaptasi film pertama aku setelah sebelumnya aku bikin FF adaptasi dari komik hohoho. Mungkin ke depannya aku bakalan banyak bikin FF adaptasi😀

Okehh silahkan membaca😀

 

Chapter 1- My Broken life

Dalam hidup,tidak ada jaminan untuk terus bahagia

Tidak ada kepastian untuk apapun

Setiap orang bisa terlempar keluar dari kotak rasa nyamannya

Secara tiba-tiba..

Author pov

“ Yaa!apa yang kau lakukan di sini?” Eunhyuk sama sekali tidak menoleh saat merasakan tepukan di bahunya. Tatapannya terkunci pada satu arah,ia sama sekali tidak memperdulikan ucapan-ucapan yang menghampiri telinganya,lalu keluar lagi tanpa masuk ke dalam otaknya untuk memproses respon.

“ Ayolah,kita ke kantin..”

Saat terdengar sebuah pintu terbuka,Eunhyuk langsung merespon dengan menoleh ke arah di mana suara itu berasal. Ia melangkah dengan cepat ke arah pintu yang hampir tertutup itu,kemudian menahannya agar pintu itu kembali terbuka lebar,menimbulkan suara decitan yang teredam keramaian koridor.

Eunhyuk melangkah masuk dengan emosi yang ditekan pada setiap langkahnya,memberikan sensasi tersediri saat melihatnya dalam keadaan seperti itu. Bahkan harusnya ruangan itu tidak bisa dimasuki oleh sembarangan orang,tetapi dengan langkah tenang Eunhyuk membuka pintu penghubung yang ada di dalam ruangan itu menuju ruangan lainnya yang lebih kecil,mengabaikan seseortang yang berusaha menahannya agar tidak masuk.

“ Biarkan dia masuk..” Suara berat seseorang yang menghentikannya langkah Eunhyuk tepat di hadapan orang itu,hanya dibatasi sebuah meja dan sebuah kursi.

“ Kenapa saya harus keluar dari sekolah ini?” Eunhyuk bertanya dengan ekspresi sedater mungkin,walaupun di dalam tubuhnya mengalir deras lambing emosi tersirat. Ia hanya berusaha setenang dan sedatar mungkin menghadapi satu sosok paling berpengaruh dalam kehidupannya mendatang.

“ Pertama kau tidak bisa masuk ke ruangan ini tanpa sopan-santun,Lee Hyukjae..”

“ Jadi anda minta dihargai oleh saya?” Eunhyuk merasakan sekujur tubuhnya menegang karena emosi yang berusaha ditahannya mati-matian.

“ Itu semua bukan keputusan yang diambil oleh saya,semua itu keputusan yayasan,kau sudah tidak membayar uang sekolah selama 3 bulan,Hyukjae,apa yang lagi yang kau harapkan?” Pria bernama asli Lee Hyukjae,tetapi biasa dipanggil Eunhyuk oleh teman-temannya itu,kehilangan control atas dirinya,ia sama sekali tidak bisa membiarkan sesosok pria paruh baya,pemimpin sekolah itu,menghinanya.

“ Tetapi ayah saya sudah menyumbang cukup banyak di sekolah ini.”

“ Harusnya kau bersyukur,Lee Hyukjae,sekolah masih memberikanmu waktu 1 minggu untuk melunasinya.”

“ Jwesonghamnida,tidak untuk satu minggu,saya akan keluar dari sekolah sekarang juga.” Eunhyuk membuka pintu itu dengan emosi dan meninggalkan ruangan itu dengan langkah gontai,tidak lagi dengan langkah penuh emosi. Karena semuanya percuma,ia sudah kehilangan tujuan.

Kita memang hidup dalam sekat-sekat

Pengotakkan,Pelabelan

Dan saat label kita dicabut

Kita bukan siapa-siapa lagi..

          “Tadi dipanggil ke ruang kepala sekolah?” Eunhyuk lagi-lagi mengabaikan sapaan demi sapaan yang diterimanya dari orang di sekelilingnya.

Pikirannya sudah tidak terarah ke tempat yang benar,ia hanya menggantungkan dirinya pada kesadaran bahwa ia masih hidup dan ia mempunyai satu tujuan,yaitu rumah.

***

          Prangg!!

Bunyi suara suatu benda yang dibanting dengan keras menjadi backsound ketika Eunhyuk hendak membuka pagar pembatas rumahnya. Ia melihat appa dan eommanya sedang bertengkar di depan pintu. Untungnya tidak menjadi tontonan orang lain,mengingat pertengkaran mereka cukup keras untuk didengar,apalagi jarak antara pintu masuk,pintu pagar,dan jalan raya sangat dekat.

“ Shinyoo,kau mau kemana? Apakah kau tidak memikirkan keadaan anak-anakmu? Kenapa kau bertindak egois seperti ini?”

“ SABAR? Kau bilang aku harus sabar?”

“ Keadaan kita tidak akan selamanya seperti ini.”

“ Aku tidak bisa bertahan lagi.Kau hanya bisa memberikan janji-janji yang tidak akan bisa kau penuhi,aku lelah dengan semua ini.”

Satu kenyataan yang harus dihadapinya,rumah adalah suatu tempat yang bisa membuat kita menjadi nyaman,merasa aman ketika di dalamnya. Tetapi ketika rumah menjadi suatu tempat yang dinamakan neraka kehidupan? Dimana lagi kita bisa berteduh?

Eunhyuk meremas kuat-kuat besi pagar rumahnya,sebelum memutuskan untuk masuk ke dalamnya dan menghadapi apa yang sudah digariskan untuk terjadi. Keluarganya diambang kehancuran..

“ Jadi,eomma ingin pergi dari sini?” Eunhyuk sudah kehilangan perasaan bersedihnya,ia hanya bisa meneima semuanya dengan kepasrahan,semuanya tidak bisa dipertahankan lagi. Percuma menangis dan memohon,tidak akan merubah keadaan menjadi lebih baik,tidak bisa menghentikan buku takdir menulis semua yang akan terjadi ke depannya,lebih baik atau lebih buruk.

“ Kita sudah tidak mempunyai apa-apa lagi,hyuk..”

Eunhyuk tidak membals perkataan eommanya yang penuh nada keputusasaan itu. Hari ini mungkin ia akan menganggap semua orang hanyalah bayangan yang bisa ditembusnya,tanpa memperdulikan kehadiran orang itu,termasuk jika orang itu adalah orang tua kandungnya sendiri. Ia hanya melemparkan tatapan penuh luka dan emosinya pada seorang sosok yang selama ini dipanggilnya dengan sebutan ‘appa’.

“ Kau lihat saja dia,anak kita sendiri sudah tidak peduli lagi dengan kita.”

“ Itu semua dipelajarinya darimu.”

Dua orang egois,masih melanjutkan pertengkaran mereka,saling melemparkan tatapan kebencian dan cacian yang mengotori telinga orang lain yang mendengarnya. Tidak lagi peduli pada sesosok anak mereka yang lain,yang sedang meneteskan air matanya mendengar semuanya. Ketakutan..

Eunhyuk mengusapkan air ke wajahnya,berharap masalahnya bisa berkurang dengan sensasi rasa dingin dari air yang mengalir dari keran,atau berharap masalahnya hilang sama seperti putaran air yang perlahan menghilang ke saluran pembuangan.

Eunhyuk hanya menoleh sekilas pada Heerin,adiknya yang masih menangis sambil memeluk bonekanya. Sama sekali tidak berniat merangkul ataupun berusaha menenangkan sosok rapuh yang masih belum mengerti dan mengenal betapa dunia bisa sangat kejam. Betapa roda berputar dengan cepat,membalikkan semua yang ada di atas menjadi di bawah,seseorang yang tadinya sangat berjaya menjadi terhina. Dengan sadisnya..

Pria itu melangkahkan kakinya ke kamar dan menoleh sekilas pada ayahnya yang sedang termenung di ruang tamu,tidak ada lagi pertengkaran,tidak ada lagi dua suara yang saling berteriak,yang tertinggal sekarang hanyalah keheningan.

“ARGHHHHHHH APPAAAAAAAAAA..”

Eunhyuk membuka kedua matanya tatkala ia mendengar suara Heerin menjerit memanggil ayahnya,ia segera melompat bangun dari tempat tidurnya dan melihat Heerin berlumuran darah.

***

          “ Tolong.. Tolong anak saya..” para perawat segera membawa tubuh anak berumur sekitar 7 tahun itu ke ruang UGD,Eunhyuk hanya bisa menyaksikan semuanya di depan kaca ruangan itu.

Suara-suara teriakan ayahnya dan para perawat dan dokter yang berusaha menenangkannya,serta jeritan dan tangisan adiknya hanya mampir begitu saja di telinga Eunhyuk,bagaikan sebuah rekaman televisi yang diputar berulangkali. Suara itu terasa jauh padahal jarak tempatnya berdiri dengan tempat di mana adiknya berbaring dan beberapa orang yang mengelilinginya hanya tinggal beberapa langkah.Hari ini adalah hari terberat dalam hidupnya,menyaksikan beberapa kejadian beruntut bagikan sebuah beban berat yang baru saja diletakkan pada pundaknya.

“ Tolong,anda mengurus administrasinya di sana..” seorang perawat menunjuk bagian lain lorong rumah sakit itu.

“ Baiklah,suster.”

***

          Sesosok pria terlihat di sudut rumah sakit itu,mengamati setiap makluk yang keluar masuk sebuah tempat yang bisa disebut sarang kesedihan. Di mana terdapat tangisan dan jeritan menyayat yang mengelilinginya.Entah sudah berapa banyak air mata yang menetes di tempat itu,entah itu adalah tangisan kesedihan atau tangisan kebahagiaan.

“ Keluarga Heerin?”

“ Ada apa,suster?”

“ Pasien kekurangan darah,kita butuh donor darah secepatnya. Golongan darah A rhesus negative.”

“ Golongan darah saya,sus..”

“ Saya juga bergolongan darah A rhesus negative,ambil darah saya..” Eunhyuk menjawab cepat,menyela perkataan ayahnya.

“ Mari ikut saya..” Eunhyuk berjalan mengikuti perawat masuk ke dalam suatu pintu yang entah akan menghubungkannya ke mana. Sementara sang ayah hanya bisa menunggu di luar dengan raut kecemasan tergambar jelas di sana.

Pria itu menghempaskan rokok yang tadi dihimpit diantara sudut bibirnya dan menginjaknya sampai api yang menyala itu berubah menjadi asap tipis,meninggalkan jejak-jejak debu di sekeliling rokok itu.

Pria itu membenarkan letak kacamata hitamnya dan tersenyum tipis penuh makna melihat pemandangan sekilas yang tercipta beberapa menit yang lalu,kebimbangan yang sempat menderanya beberapa saat lalu berubah menjadi seringaian,pertanda ia telah menemukan celah untuk permasalahan itu.

***

          “ Eomma..” Heerin mengerjapkan matanya berusaha menyesuaikan dengan cahaya lampu yang tidak terlalu terang tetapi cukup menusuk pupil matanya.

“ Saengi,eomma sudah pergi..”

Suatu perkataan halus namun bermakna ambigu bagi anak berumur 7 tahun,yang belum mengerti apa yang terjadi dan apa makna kata ‘pergi’ yang dimaksud oleh Eunhyuk. Ia adalah gadis kecil yang polos yang tidak seharusnya terlibat dalam masalah keluarga yang terlalu rumit.

“ Seorin?”

“ Siapa Seorin?”

“ Dia boneka Barbie aku,oppa..”

“ Tadi kau meletakkannya di mana?” Eunhyuk menaikkan sebelah alisnya. Bingung.

“ SEORINNNNNNNNNNNNN…” Bukannya menjawab pertanyaan Eunhyuk,Heerin langsung histeris dan air mata mulai mengalir di kedua pipinya.

“ Ne,oppa akan mencari Seorin. Kau tunggu saja di sini..”

“ Seorinn..” Heerin menggumamkan nama bonekanya lagi dengan nada yang lebih sendu,air matanya masih membekas dan membentuk sungai-sungai kecil di kulit wajahnya.

Eunhyuk membuak pintu rumahnya dan melihat keadaan di dalamnya yang kacau balau akibat insiden dadakan tadi pagi. Bekas jejak darah Heerin masih menggenang di lantai dan sudah mongering,memberikan kesan sedikit horror pada rumah yang memang agak gelap karena pencahayaannya yang kurang.

Eunhyuk berjalan menyusuri tiap liku rumahnya untuk mencari boneka adiknya. Saat melewati pintu kamar mandi,kakinya menginjak sesuatu dan ia berjalan mundur untuk melihat apa yang diinjakknya.

Sebuah boneka Barbie tanpa kepala..

Eunyuk mencari potongan kepala boneka itu dan berusaha menghubungkannya. Tentu saja itu adalah usaha sia-sia karena boneka itu tidak akan menjadi utuh lagi bahkan kalaupun ia meneteskan lem untuk merekatkan kedua sisi yang terpisah.

Eunhyuk meletakkan boneka itu di tempat sampah dan berjalan keluar. Ia tidak mungkin memberikan boneka seperti itu pada Heerin,itu hanya akan membuat adiknya kecewa.

Tanpa sadar ia melihat ke arah sisi dinding di mana biasanya terdapat foto keluarganya dalam ukuran besar. Pria itu terdiam dan lama memandangi keharmonisan yang tercetak jelas dalam foto itu. Pria itu mendesis dan tersenyum aneh sebelum melangkah menuju pintu rumahnya dan keluar dari sana.

***

          Eunhyuk memaikan boneka Barbie yang berada di tangannya. Ia tersenyum samar saat mengingat kejadian beberapa menit yang lalu saat ia memberika boneka itu pada Heerin. Gadis kecil itu dengan tegas menolak dan melemparkan boneka,yang dibelinya dengan menghabiskan sisa uang dalam dompetnya,ke lantai dan berteriak kalau ia hanya ingin boneka bernama ‘Seorin’ itu.

Eunhyuk hanya mendengus kecil mendengan kepolosan adiknya. Selama ini memang ia tidak pernah peka pada apa yang sebenarnya diinginkan oleh adiknya,sehingga di saat seperti ini semuanya menjadi buram dan tanpa titik temu. Bahkan memberikan kebahagiaan kecil semacam memberikan boneka pada Heerin saja,ia tidak mampu. Ironis sekali,bukan?

“ Krisis identitas..” celetukkan seseorang mengalihkan pandangan Eunhyuk dari boneka itu. Sutau kalimat asing yang menghampiri telinganya,membuatnya penasaran.

“ Apa maksudnya?” tanpa sadar Eunhyuk bertanya pada gadis yang menggumamkan kalimat itu dengan raut wajah menahan tawa.

Gadis itu tampaknya tidak menyadari kehadiran pria di sebelahnya,ia menoleh ke belakang dan berusaha mencari seorang sosok yang mungkin sedang berbicara padanya. Ia akhirnya menoleh ke arah Eunhyuk yang duduk satu sofa dengannya,namun tidak dirasakan kehadirannya karena keseriusan gadis itu pada benda elektronik di tangannya.

“ Krisis identitas? Maksudnya apa?”

“ Ah,aku tidak berbicara padamu.. “ Gadis itu tersenyum dan mengangkat Ipadnya dan menunjukkan apa yang tertulis pada layar itu.

Eunhyuk melirik sekilas pada apa yang ditunjukkan gadis itu,tentang ramalan bintang Ophiuchus. Merasa tidak tertarik,Eunhyuk memalingkan wajahnya ke arah lain.

“ Aku sedang membaca artikel astrologi. Ada rasi bintang baru yang bernama Ophiuchus dan karena hal itu para remaja di Amerika merasa bahwa dirinya mengalami krisis identitas.Mereka percaya dengan ramalan bintang dan tentang pasangan yang ditentukan dari sana,karena adanya bintang ini,semuanya menjadi berbeda. Huh?! Menggelikan sekali,bukan?”

Melihat ekspresi Eunhyuk yang tetap datar dan tidak menunjukkan adanya ketertarikan pada apa yang dibicarakannya. Senyuman yang tadinya selalu terpancar setiap kali gadis itu melontarkan kalimat-kalimatnya,lenyap begitu saja,digantikan oleh suasana canggung. Gadis itu memainkan jarinya pada Ipad yang berada dalam pangkuannya,sedangkan Eunhyuk kembali fokus pada kegiatannya memainkan boneka.

“ Mianhaeyo.. Euhmm,kalau aku boleh tahu,kau sedang menunggu siapa?”

Eunhyuk melirik sekilas ke arah gadis itu,ia mengangkat boneka yang sejak tadi dimainkannya,seolah-olah itu merupakan jawaban.

“ Mwo?”

Gadis itu sama sekali tidak mengerti apa maksud Eunhyuk mengangkat boneka itu. Karena menurutnya itu bukan jawaban,melainkan memberikan makna samar dan ambigu.

“ Menunggu dongsaengku.” Eunhyuk menjawab ketika melihat raut kebingungan pada wajah gadis itu.

“ Yunsoo..” sebuah panggilan mengakhiri suasana canggung diantara mereka berdua.

Seorang pria paruh baya sedang berdiri dan melambaikan tangannya pada gadis itu. Gadis itu tersenyum dan membereskan barang bawaannya dan berdiri.

“ Aku..pergi dulu ya.. Annyeong.”

Eunhyuk tidak menjawab salam perpisahan gadis itu,ia hanya diam dan memperhatikan kedekatan gadis itu dan seseorang yang diyakini Eunhyuk adalah ayah dari gadis itu,karena ia sempat mendengar gadis itu menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti ‘appa’.

Eunhyuk masih memperhatikan gadis itu,walaupun  sosok tubuhnya hampir tenggelam di ujung lorong. Entah apa yang membuat Eunhyuk begitu tertarik memperhatikannya.

“ Yunsoo..” Eunhyuk menggumamkan kata-kata itu sambil menunjukkan ‘gummy smilenya’. Satu hal yang sangat jarang pria itu lakukan.

***

          “ Heerin.. bagaimana keadaannya?” Eunhyuk bertanya sambil memainkan boneka itu. Tuan Lee,menghela nafasnya dan berusaha mencari kalimat yang tepat untuk mengatakan sesuatu tentang Heerin.

“ Uisa-nim mengatakan kalau Heerin terkena infeksi,jika tidak segera dioperasi mungkin kakinya tidak akan bisa diselamatkan.”

“ Maksud appa,amputasi begitu?”

“ Ne,dari hasil rontgen,ada serpihan besi di kakinya,mungkin akibat dari ia terjatuh di kamar mandi.”

“ Kapan operasinya harus dilakukan?”

“ Appa sudah tidak mempunyai uang,hyuki..”

“ Kau bisa meminjam uang,appa..” Eunhyuk bangkit dari posisi bersandarnya dan menatap ayahnya intens.

“Tidak semudah itu,Hyukjae.. Kau pikir uang perawatan Heerin darimana? Appa sudah menjual jam.” Eunhyuk melirik ke arah pergelangan tangan ayahnya yang biasanya dihiasi sebuah jam dengan merk terkenal,namun sekarang jam itu sudah tidak ada di sana.

“ Kau bisa meminjam ke tempa lain,appa..” Eunhyuk berdiri dan menunduk,mensejajarkan posisinya dengan ayahnya yang masih duduk.

“ Appa,setelah kau ditinggal oleh eomma,apa kau mau ditinggal oleh anak-anakmu?”

Eunhyuk melemparkan tatapan sinisnya kemudian melangkah meninggalkan ayahnya. Ia memasukkan boneka yang sedari tadi berada dalam genggamannya ke dalam tempat sampah yang dilewatinya.

Seseorang yang sejak tadi mengamati dan mendengarkan percakapan ayah dan anak itu melipat Koran yang berada dalam genggamannya,berakting seolah-olah ia sedang membaca Koran itu. Namun sebenarnya,indera pendengarannya sedang bekerja mencuri beberapa informasi yang mungkin akan berguna untuknya.

Ia perlahan pergi meninggalkan tempat ia berdiri dan berjalan perlahan mengikuti Eunhyuk.

***

          Eunhyuk terdiam memperhatikan cermin besar yang berada di hadapannya,berusaha melihat sosok yang masuk ke dalam toilet yang tadinya hanya berisi dirinya seorang. Setelah yakin tidak mengenal sosok itu,Eunhyuk melanjutkan aktifitasnya membasuh wajahnya dengan air keran.

“ Kau sedang membtuhkan uang?” tiba-tiba orang itu bertanya. Tidak perlu dijabarkan dengan siapa orang itu berbicara,karena sudah pasti lawan bicaranya adalah Eunhyuk,karena hanya pria itu dan dirinya yang berada di dalam toilet dan pria itu tidak sedang menggunakan ponsel.

“ Kau butuh berapa?”

“ Aku sedang mencari pendonor.” Pria itu meletakkan kacamata hitamnya dan melepas beberapa cincinya sebelum membasuh tangannya.

“ Lalu apa hubungannya denganku?” Eunhyuk mematikan air keran yang masih mengalir deras dan menatap pria itu.

“ Golongan darahmu sama dengan yang dibutuhkan pasienku.”

“ Huh? Lalu? Kau mencari pendonor darah? Silahkan pergi ke bagian darah.”

Tanpa disangka orang itu tertawa dan menggelengkan kepalanya beberapa kali,menganggap apa yang dikatakan Eunhyuk adalah gurauan.

“ Bukan.. bukan darah,melainkan organ tubuh bagian dalam.” Pria itu berkata sambil menunjuk satu titik pada bagian tubuhnya.

“ Itu juga tidak ada hubungannya denganku.”

Pria itu kembali tertawa sambil memasangkan aksesoris-aksesoris jari yang tadi dilepaskannya.

“ Di kota ini banyak sekali orang bodoh.. mereka bunuh diri karena kehidupannya yang miskin..padahal jika mereka cerdas,mereka bisa menjual organ tubuh bagian dalam mereka.”

“ Kalau begitu,aku cari saja orang bodoh yang lain di luar sana yang mau menjual organ tubuhnya padamu.”

“ Masalahnya aku tidak bisa mencari sembarangan.”

Pria itu meraih kacamatanya dan memakainya kemudian menatap Eunhyuk dari pantulan cermin di hadapan mereka. Tatapan matanya mengisyaratkan sesuatu.

“ Kalau kau mencariku,aku ada di sekitar rumah sakit ini.” Pria itu berbaik dan keluar dari sana.

***

          Yunsoo tersenyum pada ayahnya,ia melihat sang ayah sedang memikirkan sesuatu. Tergambar jelas pada wajahnya yang menampakkan keseriusan. Yunsoo meletakkan satu jarinya diantara jari-jari ayahnya yang sedang diketukkan pada kakinya,menghentikan irama ketukkan jari itu.

“ Dulu waktu eomma meninggal,appa juga seperti ini.”

Tuan Jung hanya tersenyum menanggapi perkataan anaknya. Ia tidak berkata apa-apa,pikirannya masih fokus pada masalah yang menghinggapinya saat ini. Kehilangan.. satu kata menyedihkan,namun itulah yang menimpa istrinya beberapa tahun lalu. Membuatnya berpikir ulang,seperti apa permainan dari takdir yang menentukan kata kehilangan itu?

Yunsoo meletakkan tangannya di atas punggung tangan ayahnya yang masih berada di atas pahanya,kemudian menggenggamnya beberapa saat sebelum mengetukkannya pada kaki ayahnya sama seperti yang ayahnya lakukan beberapa waktu yang lalu. Membuat senyuman Tuan Jung semakin lebar.

Yunsoo tertawa kecil sebelum meyandarkan kepalanya pada bahu ayahnya. Memberikan sensasi rasa nyaman yang berbeda untuk keduanya. Tuan Jung mengusap kepala putrinya dengan perlahan.Tersenyum untuk yang kesekian kalinya..

***

          “ Ada apa?” Tuan Lee mengambil botol berisi air mineral di kulkas kemudian menuangkannya dalam gelas.

Eunhyuk hanya diam dan mengangkat wajahnya yang sejak tadi ia telungkupkan di atas meja makan. Ia menoleh pada ayahnya yang masih memunggunginya. Tuan Lee berbalik dan melihat keadaan Eunhyuk yang berbeda dari beberapa jam yang lalu. Tubuh anak itu sekarang dipenuhi luka memar termasuk wajahnya. Tetera dengan jelas noda darah dibeberapa tempat di pakaiannya.

Tuan Lee meletakkan gelas dan botol itu di atas kulkas dengan sedikit hentakkan. Kecewa dengan perbuatan putranya,tidak perlu dijelaskan mengapa luka-luka itu ada di tubuh Eunhyuk. Tuan Lee tahu pasti putranya itu membuat masalah lagi.

“ Belum selesai satu masalah,muncul masalah baru lagi.” Eunhyuk mendengar pintu kamar ayahnya dibanting dengan keras.

Kejadian beberapa jam lalu berputar lagi dalam memorinya. Ia melihat kesempatan lain untuk bisa menyelamatkan kaki  Heerin dari kemungkinan amputasi. Mencuri..

Satu perbuatan yang tidak pernah terpikirkan olehnya,namun ia telah berusaha melakukan perbuatan itu walaupun gagal. Ia melihat ada sebuah motor lengkap dengan kunci yang masih tergantung,ditinggal oleh pemiliknya entah kemana. Mungkin sang pemilik begitu ceroboh dan membiarkan kunci itu menggantung di sana,atau pemilik itu berniat meninggalkannya sebentar dan yang jelas semua kemungkinan itu membuat Eunhyuk mengambil langkah egos dan termasuk nekat.

Walaupun pada akhirnya luka dan memar-memar kebiruan yang ia dapatkan di sekujur tubuhnya dan itu membuat kemarahan ayahnya semakin menjadi-jadi. Rasa penyesalan itu sempat hinggap di dalam hatinya,namun tidak bisa membuatnya mendapatkan jalan keluar yang lebih baik.

***

          “ Jadi,kau butuh uang untuk pengobatan Heerin?” Donghae bertanya pada Eunhyuk yang tiba-tiba dating menemuinya saat jam istirahat.

“ Ne,seperti itulah.”

“ Lalu bagaimana kau membayar uang sekolahmu?”

“ Sekarang yang terpenting adalah Heerin.”

“ Bukankah kau tidak pernah memperdulikan dongsaengmu itu? Lalu kenapa sekarang tiba-tiba?”

“ Apapun yang terjadi dia tetap dongsaengku dan aku peduli padanya walaupun selama ini aku terlihat mengacuhkannya.”

Eunhyuk menrubah posisinya yang tadi berhadapan dengan Donghae,kemudian menjadi di sebelah pria itu,membisikkan sesuatu padanya.

“ Hae,pinjamkan aku berapa saja yang kau punya sekarang.”

Donghae tidak bisa menyembunyikan rasa ibanya pada wajah Eunhyuk yang terlihat memohon. Ia merogoh saku celana seragamnya dan mengeluarkan dompetnya,ia mengambil semua uang dari sana dan memberikannya pada Eunhyuk.

“ Aku cuma mempunyai 300.000 won.”

Eunhyuk mengambil uang yang Donghae sodorkan padanya. Ia menepuk pundak sahabatnya itu dan tersenyum.

“ Aku pinjam dulu,hae..”

“ Ne,aku tenang saja,hyuk.”

“ Gomawo..Aku pergi dulu.”

***

          “ Jwesonghamnida..Saya hanya bisa memberikan uang dengan jumlah segini,nanti pasti sisanya akan saya lunasi.” Eunhyuk menyodorkan uang yang dipinjamnya dari Donghae pada petugas administrasi di hadapannya.

Namun reaksi petugas itu sangat datar melihat sejumlah uang yang terletak di meja. Tanpa memperdulikan Eunhyuk,ia kembali fokus pada ponselnya. Eunhyuk menoleh ke arah sebelahnya di mana terdapat seorang wanita yang menyerahkan sejumlah uang yang berkali-kali lipat lebih banyak daripada yang diserahkan Eunhyuk pada petugas administrasi.Melambungkan lagi asa yang sempat tercipta dalam imanjinasi liarnya.

Eunhyuk melangkahkan kakinya ke atap rumah sakit dan berdiri pada sisi pembatasnya,melihat ke arah halaman rumah sakit,mungkin perasaannya saat ini sedang kacau dan ia memutuskan satu hal lagi yang berpengaruh pada masa depannya. Dengan mengakhiri hidupnya..

Mungkin itu akan terasa lebih baik dibandingkan  melihat kehancuran dan penderitaan yang mendera keluarganya saat ini. Di saat ia tidak mempunyai jalan untuk melakukan apapun.

“ Sedang apa kau di sini?”

Eunhyuk hampir saja terjatuh mengingat posisinya yang sangat berbahaya saat ini. Apalagi karena sapaan seseorang yang mengejutkannya,untungnya Eunhyuk dengan cepat memperbaiki posisi berdirinya dan melompat turun dari dinding pembatas itu.

“ Huftt… untung saja.”

“ Kau?!”

***

To Be Continued

2 thoughts on “[Korean Fanfiction/Straight/Mini Drama] Angel Without Wings (Chapter 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s