[ Korean Fanfiction/Straight/Series] Whether I Hate You or Not (Chapter 8C)

 

Title                      : Whether I Hate You or Not

Author                  : Kim Sae na a.k.a Devi

Rating                   : PG13/NC17/Straight/Series/On Writing

Genre                   : Romance/Angst/Tragedy/Family/ Marriage Life/School Life

Cast                       :

Main Cast            : Super junior – Lee Donghae

Kim Yoonmi

Kim Saena a.k.a Choi Saena

Kim Yoonhee

Support cast           : SHINee – Choi Minho,Kim Jonghyun

SS501 – Kim Hyun joong

Super junior – Cho Kyuhyun

Other Cast : FIND BY YOURSELF!

Disclaimer           : Super junior is belong to God,SM Entertaiment,and their parents.SS501 Kim Hyun joong is belong to God,DSP Entertaiment,and his parents.SHINee Choi Minho is belong to God.SM Entertaiment,and his parents.It’s just for fun. Please don’t sue me. This story is mine.Don’t take this fanfic without permission from me. If you want to take this fanfic.Please take with full credit.

Warning  Lolicon,A little bit violence,and NC

A/N : Annyeong semuaaaaaa

mianhaeee aku ngaret ngepostnya hiatus lama banget T.T nahhh karena udah mau lebaran *liat jam eehhhh udah lebaran blm ya? 

Aku mau mengucapkan selamat merayakan Idul Fitri bagi yang merayakannya dan Mohon maaf lahir batin kalo aku suka ada salah-salah :D 

Nahhh karena ini udah lebaran aku kasih hadiah,PART INI NGAX AKU PROTECT!!😀 seneng kan? Seneng dong! *lebay

Oke deh sampai di sini cuap2 saya :D 

selamat membaca🙂

Chapter 8C -My Destiny is You

Author Pov

Yoonmi melihat itu semua dengan jelas. Kedua matanya menangkap kejadian itu dan dengan cepat memprosesnya ke dalam otak. Yoonmi mulai menyadari kalau gadis yang sedang berbicara dengan Donghae adalah Jessica,gadis yang tidak sengaja ditabraknya dan gadis pemilik butik anggun ini. Gadis yang kemungkinan besar mempunyai hubungan khusus dengan Donghae.

“Nona Kim Yoonmi..”

“ Ah,ne?” Yoonmi menoleh cepat saat menyadari seseorang memanggil namanya.

“ Apa perlu saya panggilkan Tuan Lee?” Yoonmi menoleh ke arah Donghae yang masih membicarakan sesuatu dengan Jessica. Dari ekspresi pria itu yang berhasil ditangkap Yoonmi,pria itu sedang membicarakan sesuatu yang tidak mengenakan dengan Jessica.

Yoonmi tidak ingin bersikap egois dengan memotong pembicaraan calon suaminya itu. Tetapi ia merasakan pembicaraan kedua orang itu sudah memasuki wilayah canggung.

“ Ne,baiklah,bisa kau panggilkan dia? Aku ingin dia melihat aku dalam balutan gaun ini.” Yoonmi tersenyum ke arah pelayan itu.

“ Baiklah,nona Kim Yoonmi,saya yakin dia akan terpesona melihat anda.”

“ Ghamsahamnida..”

Yoonmi melihat pelayan itu berbicara sesuatu pada Donghae. Yoonmi hampir yakin kalau ekspresi wajah pria itu berubah menjadi sedikit kaku. Mungkin Donghae tidak suka jika pembicaraannya diganggu oleh seseorang.

Yoonmi menyimpan baik-baik semua rasa kecewanya,ia segera mengangkat ujung gaunnya yang menjuntai menyentuh lantai dan berjalan dengan langkah sedikit dipaksa karena gaun itu menyulitkannya.  Ia segera menuju ke fitting room dan berdiri memandangai cermin tiga sisi yang memerangkapkan bayangan tubuhnya di sana. Tidak ada lagi kebahagiaan yang meluap-luap di sana,yang tersisa hanyalah kekecewaan.

Yoonmi merasakan pintu fitting room itu terbuka dan Donghae masuk ke dalamnya dengan senyuman. Yoonmi tidak sebodoh itu untuk tidak tahu kalau senyuman itu bukanlah senyuman Donghae yang tulus untuknya.

“ Kau cantik sekali..”

Yoonmi merapikan rambutnya yang berantakan dan membiarkannya tergerai menutupi punggungnya yang terbuka.

“ Kau menyukainya?”

“ Tentu saja..”

Tidak lama kemudian Jessica masuk ke sana dengan senyuman yang sama seperti ditunjukkan oleh Donghae. Senyuman terpaksa..

Yoonmi hampir saja membentak dan mengusir gadis itu kalau ia tidak ingat gadis itu yang akan membantunya mengurus pernikahannya.

“ Jadi kapan kalian akan melakukan foto pre-weeding?”

“ Secepatnya..” Yoonmi menyadari adanya emosi dalam suaranya. Beberapa saat kemudian ia mengubah suaranya menjadi lebih lembut.

“ Ahh maksudku aku ingin segera menyelesaikan ini secepatnya.” Yoonmi tersenyum terpaksa agar dua orang ini tidak mencurigai perubahan sikapnya.

“ Baiklah kami akan segera menyusun semuanya seperti yang anda berdua inginkan.”

Whether I Hate You or Not │©2011-2012 by Ksaena

Chapter 8c – My Destiny is you

ALL RIGHT RESERVED

          Pria itu memainkan ballpoint di tangannya. Tampak sesekali ia melihat objek itu dengan pandangan kosong. Ia mengehela nafas berat sebelum meletakkan ballpoint itu ke tempatnya.

Pikirannya melayang jauh menuju memori di mana kenangan indah terkumpul. Ia tampak menikmati semua itu. Semua hal indah yang tercipta di sana membentuk satu wajah yang sangat dikenalnya. Wajah seorang gadis yang sangat dicintainya,gadis kecil yang sangat diharapkannya.

“Yoonmi,apakah appa terlalu bersikap egois padamu?” Mata pria itu berkaca-kaca seiring dnegan bertambahnya kerutan di dahinya. Menandakan ada sesuatu yang menggantung di dalam pikirannya.

Setelah hening beberapa saat,pria itu mulai bisa mengontrol emosinya,ia mengambil ponsel yang diletakannya di dalam saku jas formalnya. Menekan beberapa nomor yang dihafalnya di luar kepala namun tidak pernah sama sekali dihubunginya. Setelah menunggu beberapa saat,terdengar suara seorang gadis. Suara gadis itu terdengar ragu-ragu seperti tidak yakin pada siapa yang menghubunginya.

“ Yoonmi,segera ke kantor appa.. Ada beberapa hal yang ingin appa bicarakan padamu sebelum kau menikah.”

Sebelum gadis itu sempat berkata apa-apa,pria itu segera memutuskan sambunga teleponnya.Terdengar helaan nafas berat darinya.. Seolah menyerahkan sesuatu yang sangat berharga,mutiara dalam kehidupannya. Melepaskan putri satu-satunya itu untuk bahagia bersama pria lain. Penyesalan kembali memayungi hatinya tatkala ia menyadari seberapa jauhnya ia dengan putrinya sendiri selama belasan tahun belakangan.

Mungkin ia akan merasa teramat bersalah apabila ia tidak memberikan restu secara langsung pada Yoonmi. Keputusan yang berat yang harus diambilnya apalagi ia sama sekali tidak mengenal sosok laki-laki yang akan mendampingi putrinya seumur hidup. Sosok yang akan menjadi malaikat pelindung dalam hidup putrinya.

“ Appa bersalah padamu,Yoonmi..”

***

          Lagu yang terputar dari ipod yang berada di dalam saku kemejanya menjadi pengeiring langkah panjang Yoonhee. Bukan kebiasaan gadis itu untuk berjalan dengan menyumpalkan headset pada kedua telinganya,namun berbeda pagi ini. Ia memerlukan sesuatu untuk menjadi pengalihan pikirannya. Apa yang diucapakannya pada Minho beberapa hari yang lalu kembali terputar dalam benaknya.

Benarkah yang diucapkannya waktu itu merupakan representatif dari isi hatinya yang terdalam? Sesuatu yang benar-benar diinginkannya? Membiarkan orang lain bahagia sementara hatinya sendiri hancur?

Yoonhee mendengarkan setiap kata yang keluar dari suara merdu milik sang penyanyi. Sesuatu yang menyakitkan memang timbul,ketika suasana hati yang sedang buruk diperindah dengan lagu-lagu yang memiliki lirik dalam namun seperti ‘menyindir’. Seolah memompakan rangkaian-rangkaian cerita menyakitkan ke dalam inderan pendengarannya. Seperti kisah yang dijalaninya saat ini.

Yoonhee tidak memperdulikan sapaan-sapaan dari beberapa temannya yang biasanya selalu ditanggapinya dengan senyuman centil dan perkataan ramah. Sekilas sifat Yoonhee menjadi mirip dengan sifat Saena. Sifat dingin dan kaku,seolah menjauh dari dunia.. Sifat yang selama ini dibencinya namun tanpa sadar sifat seperti itulah yang sekarang mendominasi kepribadiannya.

Yoonhee tidak tahu kehidupannya akan berubah menjadi seperti ini,sedemikian drastisnya dari kehidupan normal yang selama ini dijalaninya. Kehiudpan normal monoton tentang anak remaja yang tumbuh menjadi dewasa dengan sifat kekanakan yang masih menempel erat pada sifat dasar manusianya.

Sejak kehadiran Minho,semuanya berubah,entah kehadiran pria itu membawa pertanda akan adanya badai besar yang mengubah dunianya,atau kesalahan memang terletak pada dirinya sendiri yang terlalu egois untuk mengungkapnya kerapuhan hatinya. Tetapi ia juga tidak bisa memungkiri kehadiran pria itu membawakan warna baru dalam hidupnya,mengambil alih rasa kasih sayang seorang ayah yang selama ini didambakannya.

Satu fakta besar lain dalam hidupnya,tidak bisa dicerna oleh akal sehat namun itulah yang terjadi. Yoonmi,seseorang yang selama ini sangat dekat dengannya dan disayanginya seperti ia menyayangi dirinya sendiri bahkan dalam beberapa hal Yoonmi lebih bisa mengerti dirinya dibandingkan wanita yang selama ini dikiranya adalah ibunya.

Kenyataan berkata lain padanya,dunia seolah ingin mempermainkan hatinya. Yoonmi ternyata memang adalah ibunya. Sesuatu yang hampir mustahil dan tidak bisa dipercayainya. Selama ini ia memang sangat dekat dengan Yoonmi bahkan tanpa ia ketahui tentang fakta itu. Namun itu semua belum cukup untuk membuatnya bisa menerima Yoonmi sebagai ibunya.

Tanpa bermaksud jahat,namun Yoonhee sendiri tidak memahami apa yang membuatnya melakukan hal itu. Tidak bisa lebih mendekatkan diri lagi pada Yoonmi,malah semakin menjauh karena terhamparnya kenyataan di antara mereka,semakin memperjelas batas-batas. Harusnya tidak ada lagi batasan itu,namun Yoonhee sendiri yang menggambarnya di antara mereka.Ia sendiri yang bersikeras bersikap acuh tak acuh pada Yoonmi.

Sesuatu yang membuatnya melakukan semua itu. Kekecewaan dalam yang terlanjur menimbulkan luka,menggoreskannya diantara luka-luka lain yang sudah tertanam di sana. Yoonhee masih tidak bisa menerima Yoonmi sebagai ibunya.. Mungkin memang benar seharusnya ia tidak tahu.

Mungkin seharusnya mereka tetap menutupinya selama mungkin. Mungkin harusnya ia hidup dalam kebohongan. Bukannya hidup dengan dikejar-kejar oleh beragam kenyataan pahit dalam hidupnya dan tidak ada tempat baginya untuk bergantung.

Yoonhee berusaha menepis pikirannya tentang Yoonmi. Ia tidak ingin menambahkan beban baru pada hati dan otaknya. Biarlah masalah Yoonmi menjadi kelabu,buktinya selama ini ia hidup dengan baik tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Masalah Yoonmi memang salah satu masalah terbesar dalam hidupnya,namun sekarang ada masalah yang harus diselesaikannya.

Ia sendiri bingung apa yang memulai hubungan rumit antara dirinya dan seorang Choi Minho. Hubungan cinta dan perasaan lain yang menyelubungi semuanya. Yoonhee tidak bisa mengalihkan pikirannya dari Minho. Berusaha melupakan pria itu adalah suatu hal yang bukan tidak mungkin bisa dilakukannya,hanya saja perlu banyak waktu untuk melakukannya.

“ Tidak perlu memaksakan diri untuk terus bersamaku,Minho.. Percayalah padaku kalau aku akan terus mencintaimu apapun yang terjadi..”

Kata-kata itu kembali bergaung dalam ruangan kosong pikirannya. Ia mengucapkan kata-kata itu semata karena ia tidak ingin terus-menerus menyiksa dirinya dengan mencintai pria itu. Memang harusnya kata-kata kasar yang dilontarkannya bukan kata-kata penuh harapan dan janji yang mungkin tidak bisa ditepatinya.

Ia mungkin memang akan terus mencintai pria itu sama seperti yang diucapkannya. Namun ia tidak bisa hidup tanpa kehadiran pria itu di sisinya. Tanpa pria itu,ia hanya seperti mencintai bayangan. Antara nyata dan ilusi belaka.. Kembali lagi menghantarkannya dalam dorongan perasan lain dan keegoisan yang bercokol dalam kepribadiannya.

“ Aku tidak serius,Minho.. Aku memang akan terus mencintaimu,tetapi aku tidak bisa kalau tidak bersamamu.. Aku berusaha meredam keegoisanku untuk memilikimu,tetapi nyatanya aku hanyalah manusia biasa.. Aku punya perasaan dan aku bisa terluka.”

Mulut pria itu terbuka,hendak menyampaikan kata-kata,namun ketika indera pendengarannya mendengar rangkaian kata-kata yang keluar dari mulut gadis itu,seketika itu juga kata-kata yang hendak dilontarkannya tertelan kembali. Ia mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat. Melangkah ragu menjauhi gadis itu padahal beberapa langkah lagi ia bisa mencapainya.

Ia yakin Yoonhee tidak tahu dan tidak menyadari keberadaannya,karena pandangan mata gadis itu tertuju ke lantai dingin yang menjadi pijakan kakinya sedangkan indera pendengar gadis itu mungkin sedang diisi oleh dentingan melodi dan nada suara dari headset yang dipakainya.

Langkah kakinya yang menjauh merupakan pertanda bagi pria itu. Sama seperti hubungannya dengan Yoonhee,semakin menjauh. Ia berusaha mendekati dan menggapai gadis itu namun itu semuanya hanya sia-sia. Sepenggal kenangan yang ia tinggalkan di benak gadis itu mungkin sekarang hanya tinggal serpihan-serpihan memori terlupakan dalam benak gadis itu. Sama seperti arti dirinya.. tidak berharga..

“ Kenapa di matamu hanya ada dia saja,Yoonhee?” pria itu menggumam pelan sebelum benar-benar keluar dari kelas Yoonhee.

“ Kalau kau mencintainya,kenapa kau menjauh?” pria itu menengok ke belakang ke asal suara yang menyerukan pertanyaan baginya.

Cukup terkejut mengetahui siapa yang berada di sana..

***

            Donghae mengerang,keringat dingin meluncur mulus dari dahinya. Ia melonggarkan ikatan dasinya dengan sedikit paksaan,membuat kancing baju bagian atasnya terlepas dan menggelinding jatuh ke lantai. Donghae terlihat frustasi dnegan setumpuk laporan di hadapannya. Profesionalisme yang selama ini dipegangnya teguh hampir saja dipertanyakan dengan beberapa kejadian yang menimpanya secara beruntun.

Dimulai dari persiapan pernikahannya dengan Yoonmi,datangnya kenangan masa lalu ke dalam kehidupannya,Saena gadis yang selama ini hanya dianggapnya sebagai adik tiba-tiba mengatakan satu hal yang tidak akan disangkanya. Perbuatannya selama ini terhadap gadis itu berdampak besar. Membuahkan harapan yang tidak akan bisa dipenuhinya. Hanya akan menambah setiap goresan pada lembaran hati yang rapuh.

Semua hal itu membuat Donghae kembali menilik ke bagian hatinya yang terdalam. Semua yang tercatat di sana,semua yang diketahuinya tidak akan bisa terhapus. Ada sebuah nama yang benar-benar telah diukirnya ke dalam hati.. Nama yang tidak akan bisa hilang kecuali hatinya hancur.

Sejujurnya Donghae tidak tahu harus melakukan apa dengan semua kejadian yang ada. Ia tidak mengerti bagaimana ia harus membuat semuanya menjadi lebih baik,untuknya,untuk Yoonmi,untuk Saena,dan untuk Jessica,sang pengambil alih masa lalunya,datang dalam masanya sekarang,dan entah apa yang akan dilakukan gadis itu pada masa depannya.

“ Ternyata apa yang digosipkan oleh para karyawanmu di luar itu benar,Presdir lee..” Donghae mengangkat wajahnya dari berkas yang sedang berusaha dipahaminya. Namun kesinkronan antara kinerja otaknya dan berbagai tekanan dari luar membuat semua pekerjaannya menjadi kacau. Donghae merasa seperti baru masuk ke dalam perusahaan ayahnya. Semua hasil pembelajarannya selama bertahun-tahun seolah lenyap.

“ Lee Hyukjae bisakah anda mengetuk pintu sebelum masuk?” Donghae mengacak rambutnya frustasi dan menyadarkan kepalanya di kursi yang sedang didudukinya,memejamkan matanya.

“ Aku rasa kau lebih parah daripada apa yang mereka bicarakan.”

Donghae membuka matanya dengan cepat dan segera menatap Eunhyuk dengan tatapan tanya.

“ Semua orang sedan sibuk membicarakanmu dan Yoonmi. Kinerjamu memburuk,hae.. Itu kata mereka,sedangkan sepertinya Yoonmi baik-baik saja dengan pekerjaannya. Apa yang sebenarnya terjadi? Pre Married Syndrom,huh?!” Tanap disuruh Eunhyuk menghempaskan tubuhnya ke atas kursi di depan Donghae.

“ Ne,mungkin ia.. Aku terlalu gugup menghadapi pernikahan yang tinggal beberapa minggu lagi.” Donghae meletakkan ballpoint yang sedari tadi digenggamnya kuat-kuat,menyalurkan emosinya di sana.

“ Ada masalah lain,hae? Aku rasa bukan karena kau gugup menghadapi pernikahanmu..Aku mengenalmu terlalu baik.. Jessica?”

Donghae merasa sekujur tubuhnya menegang saat mendengar nama wanita yang beberapa minggu terakhir mengacaukan sistem kerja otaknya. Eunhyuk memang terlalu baik mengenalnya,pria itu pasti tahu apa yang menjadi pertimbangannya saat ini semua berhubungan dan bermuara pada satu titik.

“ Kau benar..” Donghae bergumam pelan.Tidak ada gunanya menyembunyikan sesuatu dari sahabatnya itu.

“ Ada apa,hae? Kenapa hanya karena Jessica datang dalam hidupmu,kau jadi berantakan?”

“ Dia mengambil alih sistem kerjaku,hyuk.. mengacaukan semuanya!”

“ Dia yang mengacaukan semua sistem kerjamu atau kau yang terlalu tidak bisa melupakannya?”

“ Aku memang tidak pernah melupakannya,hyuk.. Aku pikir kami bisa menjalani kehidupan kami masing-masing,aku tidak tahu dia akan kembali.”

“ Seharusnya kau akan baik-baik saja jika kau sudah menghapus rasa itu. Itu masalahmu,hae.. Kau belum.. atau lebih tepatnya tidak mau menghapus rasa itu.”

“ Ne?” Donghae terperangah mendengar perkataan Eunhyuk. Ia merasa pria itu terlalu pedas dalam mengeluarkan kata-katanya.

“ Cari dan tanyakan pada hatimu sendiri,hae..Aku akan menemui calon istrimu dulu.. Kau tenang saja,aku tidka berpikiran untuk mengambilnya..” Eunhyuk meninggalkan kursi yang sedang didudukinya dengan gummy smile andalannya.

“Menjaganya dan bertanggung jawab..” Eunhyuk berkata pelan sebelum menutup pintu ruang kerja Donghae. Matanya menyorot lantai keramik putih yang menjadi tempatnya berpijak. Tangannya berhenti pada gagang pintu ruangan itu,menarik nafasnya pelan,dan melepaskan genggaman tangannya dari sana.

***

            Matahari tidak berhasil membuat kedua orang yang duduk bersebelahan itu menyingkir dari sana. Walaupun sinar mentari itu tepat menyorot kedua orang yang berada di sana,bahkan mereka sesekali harus menyeka keringat yang menetes dari sela-sela jari tangan dan wajah mereka,harus memicingkan mata satu sama lain karena sinar matahari yang terlalu menganggu penglihatan mereka.

“ Kau mendengar kata-kataku tadi?” Jonghyun bertanya dengan nada sarkatis. Ia tidak menyukai kenyataan dirinya terlalu lemah dalam menghadapi Yoonhee diketahui oleh orang lain.

“ Kata-kata yang mana?” sang wanita hanya berkata ringan sambil sesekali mengibaskan tangannya,mengusir rasa gerah.

“ Kau tahu maksudku,Choi Saena..”

“ Ne.. Jangan kira aku bermaksud menguping pembicaraanmu dan Yoonhee,aku hanya tidak sengaja mendengarnya.”

“ Setelah kau tahu,haruskah aku menjawab pertanyaanmu?”

“ Ahh.. Tidak juga.. kau bisa menjawabnya jika kau mau tetapi kalau kau tidak mau,aku tidak akan bertanya lebih lanjut.. Aku tidak akan melanggar batas privasimu.”

Jonghyun melepaskan kaca matanya dan memejamkan mata. Menikmati sensasi rasa hangat dari sang penguasa langit. Saena memperhatikan wajah Jonghyun lekat-lekat,ia merasa pria itu lebih tampan tanpa kaca berbingkai yang menghiasi matanya. Mungkin akan jauh lebih baik jika pria itu menggunakan lensa kontak.

Saena menepis jauh-jauh khayalannya tentang Jonghyun yang memakai lensa kontak berwarna dan matanya terlihat jauh lebih indah. Ia merasa sedikit bersalah karena pembicaraan sensitif ini,ia sama sekali tidak bisa mengontrol mulutnya untuk tidak mengatakan hal itu. Hanya sebuah komentar kecil namun membawanya mengenal sisi lain seorang Kim Jonghyun.

“ Aku memang mencintainya,Saena..” Jonghyun berkata sambil memejamkan matanya.

“ Lalu kenapa kau menjauh?” Saena bertanya untuk memastikan apakah Jonghyun tahu perihal hubungan Minho dan Yoonhee.

“ Minho adalah dongsaengmu,Saena,kau pasti tahu alasannya..” Jonghyun membuka matanya dan menatap dalam kedua mata Saena.

“ Ne,aku tahu dan kesalahan terbesarku adalah ketika aku melarang hubungan mereka berdua,jadi aku berharap kau melakukan hal yang sama denganku. Melepaskan orang yang kau sayangi.. Bahagia..”

Jonghyun tersenyum tipis,membenarkan kata-kata Saena dalam hatinya. Ia memang akan melepaskan Yoonhee untuk Minho. Namun ia tidak akan berhenti mengawasi gadis itu.

“ Haruskah aku memanggilmu,noona?”

***

            Yoonmi melirik sekilas ke arah jam dinding yang terpasang di ruang kerjanya. Ia menolehkan kepalanya ke arah hasil karya yang baru saja diselesaikannya. Sketsa gaun-gaun dan pakaian semi formal musim gugur. Ia tersenyum kecil melihat hasil karyanya,kali ini ia tidak puas dengan hasilnya. Ini bukan hasil karyanya yang biasa. Namun karena ia sudah memiliki janji penting dengan seseorang,ia terpaksa menyelesaikan semua itu dengan pikiran kalut. Takut dengan apa yang akan dibicarakan ayahnya.

Yoonmi memasukkan semua kertas hasil karyanya ke dalam sebuah map dan mengambil tasnya. Ia baru akan melangkah menuju pintu ketika dilihatnya seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya. Karena ruangan yang transparan itu,Yoonmi bisa melihat siapa yang datang dan sebuah senyuman terkebang di wajahnya.

“ Annyeong nona Kim Yoonmi.. Atau harus kupanggil nona lee?”

“ Lee Hyukjae.. Apa yang membawamu ke sini,huh?!” Yoonmi berjalan,setengah berlari ke arah pria itu dan memeluknya.

Eunhyuk balas memeluk Yoonmi,melepas rindu diantara dua sahabat lama itu. Setelah beberapa saat Eunhyuk dan Yoonmi saling melepas pelukan mereka.

“ Jadi sekarang kau baru mengingatku?” Yoonmi berkata sambil menampilkan wajah kesalnya.

“ Apa maksudmu?”

“ Jangan kau pikir aku tidak tahu kau sering menemui Donghae dan tidak sekalipun kau menemuiku,apa arti persahabatan kita,hyuk?”

“ Hahahahaha.. mianhae.. aku janji setiap aku ke sini aku pasti akan menemuimu juga. Jadi sebentar lagi kau akan menjadi nyonya lee,bukankah begitu?”

Wajah Yoonmi sedikit bersemu merah saat Eunhyuk menggodanya. Ia memalingkan wajahnya dan meletakkan tas tangannya di atas meja.

“ Kemana sosok Yoonmi yang manja dan cerewet,huh?”

“ Hyuk,berhenti menggodaku.. Aku ada urusan dengan seseorang,minhae aku harus pergi,kalau kau merindukanku.. Call me if you want,ok?” dengan cepat Yoonmi mengambil tasnya dan membawa map berisi karyanya keluar dari ruangan. Meninggalkan Eunhyuk yang melontarkan berbagai gerutuan padanya.

“ Yaaa! Aku baru saja tiba dan kau meninggalkanku sendiri? Kau memang benar-benar baik Kim Yoonmi!”

***

            Yoonmi memainkan kedua tangannya. Kerinagt dingin meluncur membahasi dahi dan tangannya. Percakapannya secara langsung dengan ayahnya sudah tidak pernah lagi dilakukannya sejak hampir 18 tahun. Terkahir kali percakapan mereka yang seharusnya diisi dengan ungkapan kerinduannya,malah berakhir dengan pertengkaran diantara keduanya.

“ Sebegitu sulitnya kah memulai percakapan di antara kita?”

“ Ne..” Yoonmi berkata sambil menunduk. Terlalu takut untuk memandang langsung mata ayahnya.

“ Yoonmi angkatlah kepalamu.. “

Yoonmi mengangkat kepalanya pelan dan memberanikan diri menatap wajah orang yang dulu merupakan salah satu orang yang paling dicintainya. Namun sejak kejadian itu,semuanya menjadi berubah.

“Appa bersalah,Yoonmi.. Mungkin tidak seharusnya appa mendiamkanmu selama 18 tahun. Kau sudah dewasa,Yoonmi dan kau bisa menentukan apa yang terbaik bagimu. Mungkin terlalu sulit untuk mencairkan es yang telah tumbuh diantara kita selama belasan tahun. Appa yakin sekarang sudah saatnya appa melepaskanmu ke tangan penjagamu. Appa merestuimu,Yoonmi.. menikahlah dengannya.”

Yoonmi menatap ayahnya dengan tatapan terkejut. Sama sekali tidak mempunyai bayangan ayahnya akan merestui pernikahannya.Jemarinya bergerak perlahan menyusuri meja kayu dan perlahan menyentuh tangan ayahnya yang terletak di sana. Yoonmi menggegam tangan yang dulunya sering menggengam tangannya.

            Tuan Kim hanya berdiam diri,merasakan lagi sentuhan yang selama ini dirindukannya namun terlalu sulit untuk diakuinya. Diliputi oleh perasaan egoisnya sendiri. Melukai hati permata berharganya.

“ Ghamsahamnida.. appa.” Suara Yoonmi berubah menjadi serak dikarenakan air mata yang sudah mengumpul di pelupuk matanya,siap terjun menjadi butiran-butiran air yang mengaliri wajahnya.

“ Berbahagialah,Yoonmi.. Appa..Appa menyanyangimu..”

Yoonmi tidak kuasa menahan air matanya. Ia segera berlari menghambur ke pelukan ayahnya. Tuan Kim mengusap rambut Yoonmi pelan.

“ Ghamsahamnida,appa.. karena kau sudah kembali.”

***

            “ Noona.. Apa kau akan pergi?”

Saena menoleh pada Minho yang berdiri di depan pintu kamarnya. Berdiri menyandar sambil melipat kedua tangannya,sorot matanya menusuk masuk ke dalam. Mempertanyakan tindakan yang akan dilakukan gadis itu.

“ Pergi ke mana?” Minho melangkah masuk,bahkan sebelum Saena menyuruhnya masuk. Jemari tangan pria itu menyusuri buku-buku Saena yang tertata rapi di rak meja belajarnya. Mencari-cari sesuatu di antara buku-buku itu.

Tangannya menyentuh sesuatu yang masih terbungkus rapi di dalam plastic. Ia menarik sesuatu itu dan memerlihatkannya di hadapan Saena. Sejenak gadis itu terdiam  memandangi undangan pernikahan Donghae dan Yoonmi. Mati-matian ia berusaha melupakan benda itu,tetapi Minho dengan mudahnya kembali menghancurkan pertahanannya.

“ Kau harus membacanya,noona.” Minho meninggalkan benda itu di meja Saena. Tepat di hadapan gadis itu.

“ Kenapa kau melakukannya,Minho?”

Langkah kaki pria itu terhenti,ia berbalik dan seketika keduanya bertatapan dalam atmosfer kaku. Ketegangan meliputi wajah keduanya,seakan saling menunggu untuk mengucapkan kata.

“ Bisakah kau menjawabnya? Aku sudah berusaha menghindarinya,Miinho,kenapa kau malah mengembalikannya padaku?” Saena memutus tali kekakuan diantara keduanya.

“ Masalah itu untuk dihadapi,noona,bukan untuk dihindari.. Semakin kau berusaha lari semakin hal itu akan mengikatmu.. Semakin kencang dan tak membiarkanmu lolos. Kau harus menyelesaikan semuanya,noona. Jangan jadi penakut dengan menguburkannya di sana. Suatu saat apa yang kau tanam dan pendam dalam-dalam akan muncul kembali. Apa bedanya sekarang dan nanti? Mungkin nanti kau akan merasa lebih sakit lagi dengan keadaannya.”

“ Kau tidak mengerti,Minho..”

Minho tidak menjawab pernyataan Saena,ia memutuskan untuk meninggalkan gadis itu. Sedikit merasa bersalah karena apa yang dilakukannya sudah melanggar batas privasi di antara keduanya.

Saena mengambil undangan itu dan membuka lem perekat plastik yang membungkusnya. Dengan tangan sedikit bergetar ia membuka undangan itu dan melihat tanggal yang tertera di sana.

Sekujur tubuhnya menjadi kaku saat melihat tanggal yang tertulis di sana. Minho tidak salah ketika memberitahunya,tetapi waktu yang diberikan pria itu untuknya menata diri terlalu singkat.

Saena melemparkan undangan itu ke arah tumpukan buku-bukunya. Ia mengusap wajahnya pelan. Seakan hal itu bisa menyudahi semuanya,Saena mengambil ponselnya dan menekan beberapa nomor.

“ Aku akan datang,oppa.. Sesakit apapun itu..” Saena memutuskan sambungan teleponnya bahkan sebelum pria itu mengatakan apa-apa.

Saena menyembunyikan wajahnya di atas tangannya yang terletak di meja,ia menangis. Ia berusaha meredam semua emosi yang berampur di sana,berusaha meredam teriakan frustasinya,berusaha tidak menimbulkan suara sedikit pun. Namun sepertinya usaha yang dilakukan gadis itu belum cukup,masih ada orang yang bisa mendengar suara tangisannya walaupun ia mati-matian meredam suaranya.

“ Kau melakukan hal yang benar,noona.. aku akan pergi ke sana bersamamu. Gunakan bahuku untuk menyembunyikan pandanganmu jika kau merasa terlalu lemah untuk melihatnya.”

***

            Minho melepaskan pandangannya dari buku yang sedang dipegangnya. Matanya yang awas mencari satu sosok yang hampir sebulan ini tidak ditemuinya. Seharusnya sejak Saena mengizinkannya memulai hubungan dengan gadis itu. Semuanya tidak akan menjadi masalah baginya,namun masih ada bagian dari hatinya yang menahan satu rasa yang sulit dideskripsikannya.

Ia benar-benar serius mencintai Yoonhee dan menginginkan gadis itu berada di dekatnya,tetapi entah mengapa sampai hari ini ia belum berani menemui gadis itu,walaupun sebagian dari dirinya memaksanya untuk mengatakan hal yang seharusnya membahagiakan bagi dirinya dan juga diri gadis itu.

Tetapi kenapa ia menundanya?

Apakah ia ingin berlama-lama menguji cintanya dan juga perasaan gadis itu padanya? Apakah ia ingin melihat gadis itu menderita karenanya? Menderita? Mungkinkah gadis itu masih menderita karenanya atau malah sekarang ia sudah bisa tersenyum tulus bahkan tanpa bersamanya?

“ Hampir sebulan,choi Minho..”

Jonghyun duduk bersandar pada kawat-kawat besi yang dibentuk menyilang,berfungsi sebagai pagar yang memisahkan koridor dan lapangan basket. Pandangannya terarah pada lapangan basket yang kosong tanpa siapapun yang berada di sana untuk berlomba-lomba memasukkan bola ke dalam ring. Bahkan suara gemersik daun-daun yang berjatuhan,menandakan akan dimulainya musim gugur,menjadi musik pengiring di sana.

“ Saena sudah memberikan kesempatan padamu untuk bersamanya,tetapi kenapa kau tidak melakukan apapun untuk memintanya kembali? Kau yang terlalu takut memulai komunikasi atau..” Jonghyun mendekatkan bibirnya pada teliga Minho dan berbisik pelan di sana.

“ .. kau sudah kehilangan rasa cintamu yang meluap-luap itu.” Jonghyun menjauhkan bibirnya dari telinga Minho dan memandang pria itu. Minho hanya terdiam,sama sekali tidak berniat membalas perkataan Jonghyun.

“ Aku mencintainya bahkan rasa cintaku tidak berkurang sedikit pun ketika aku mengetahui dia mencintaimu. Segeralah bertindak,Choi Minho,kalau kau tidak mau aku mengambilnya..”

Minho menutup buku yang sedari tadi berada di tangannya. Ia melangkah kaku meninggalkan Jonghyun,menuju satu tempat di mana ia bisa mengekspresikan semua yang dirasakannya.

“ Kali ini aku membiarkanmu,Choi Minho.”

***

            “ Aku perlu berbicara padamu,noona..” Yoonhee membuka matanya tatkala dirasakannya seseorang menarik lepas headset yang menyumpal telinganya.

“ Minho?” Sengatan listrik mengaliri tubuhnya. Yoonhee mulai merasakan detak jantungnya berdebar begitu cepat,bahkan terlalu cepat saat dirinya berdekatan dengan pria itu.

“ Aku perlu mengatakan seusatu padamu..” Minho memgambil tempat di sebelah Yoonhee. Pria itu duduk bersandar pada dinding yang sama dengan Yoonhee. Minho memejamkan matanya sejenak menikmati semilir angin di awal musim gugur.

“ Ada apa? Katakan dengan cepat karena aku tidak mempunyai banyak waktu untukmu.” Yoonhee berbohong. Sebulan tanpa kehadiran Minho di sisinya membuatnya menjadi sulit menjalani hidup. Untungnya ia tidak lagi harus menghindari Yoonmi,karena ibunya itu dengan sendirinya sudah sibuk dengan urusan pernikahannya.

“ Aku mencintaimu,Yoonhee dan kita bisa bersama.” Yoonhee bisa melihat senyuman tulus Minho dan mata pria itu yang menandakan kejujuran penuh.

“ Ne?” Yoonhee merasa mungkin ada sesuatu yang salah pada indera pendengarnya.Semudah itukah semuanya tercapai?

“ Saena noona mengizinkan kita bersama..” Minho menarik gadis itu ke dalam pelukannya,ia menenggelamkan kepala gadis itu pada dadanya. Yoonhee menghirup banyak-banyak oksigen yang bertebangan di sekitar pria itu. Berusaha memuaskan hasratnya untuk mencium harum tubuh pria itu.

Minho menjauhkan tubuhnya kemudian ia meletakkan kedua tangannya di pipi Yoonhee,mendekatkan wajah gadis itu ke wajahnya. Yoonhee memejamkan kedua matanya saat merasakan deru nafas teratur Minho di wajahnya. Minho mendekatkan bibirnya pada bibir Yoonhee,sekelebat bayangan muncul di benaknya. Minho tersadar dan melepaskan kedua tangannya.

Sejenak keduanya teridam,canggung akibat kejadian tadi. Yoonhee menelan kekecewaannya,karena Minho tidak jadi menciumnya. Mungkin terlalu beresiko melakukannya di sekolah,tetapi koridor ini begitu sepi apa yang ditakutkan pria itu?

“ Mianhae,Yoonhee.. Aku..” Minho merasakan wajahnya memanas dan detak jantungnya semakin tidak teratur. Ia tidak bisa meneruskan kata-katanya.

***

            Tempat yang biasanya hanya ramai pada hari-hari tertentu saja,kini mulai menampakkan kesibukannya. Beberapa orang mulai berlalu lalang di sana membawa peralatan. Para tamu pun mulai berdatangan dan memenuhi kursi-kursi yang terdapat di sepanjang ruangan itu. Ada yang langsung bersenda gurau,seolah-olah berada dalam acara reuni. Ada pula yang hanya duduk sendiria,entah karena memang hanya datang sendiri dan menolak untuk berbaur atau karena menunggu orang-orang yang dikenalnya datang.

Suasana di ruangan itu diliputi kebahagiaan. Ruangan yang tadinya sepi itu mulai ramai dengan kedatangan beberapa orang lain yang merupakan keluarga dari dua orang yang akan menyatukan diri dalam ikatan sacral. Termasuk salah satu diantaranya adalah Yoonhee. Gadis itu memang hanya pernah bertemu dengan Donghae sekali,waktu pria itu melamar Yoonmi,namun ia bisa menyakini dirinya kalau ibunya itu berada pada tangan yang tepat.

Gadis itu menarik bagian bawah gaunnya yang cukup panjang menjuntai,ia melangkah ringan ke arah pintu ruangan itu yang setengah terbuka menandakan acara belum akan di mulai. Seharusnya dengan statusnya sebagai adik dari mempelai wanita,setidaknya itu status yang diketahui orang-orang,ia yang akan menjadi pengiring pengantin,tetapi ia menolak jabatan itu. Entah mengapa Yoonhee tidak terlalu ingin berperan penting dalam pernikahan ibunya. Bukan karena statusnya yang sekarang tidak lagi sama,namun ia sudah mengikrarkan pada dirinya sendiri ia hanya mau melangkah menuju altar pernikahan sekali seumur hidupnya.

Alasan sederhanan namun sangat bermakna baginya,melambangkan janji setianya hanya akan ia ucapkan sekali dan bersama pria yang benar-benar ia cintai dan mencintainya,bersedia menjaganya,dan selalu ada untuknya. Walaupun ia hanya menjadi pengiring pengantin,tetap saja hal itu melanggar janjinya sendiri.

Yoonhee melongokkan kepalanya ke kiri dan ke kanan,mencari satu sosok yang baru saja memenuhi hari-harinya kembali. Minho berjanji akan datang bersama kakaknya. Yoonhee tidak menyangka kalau Saena mengenal Donghae,itu cukup terkejut dengan fakta itu. Namun setelah Minho menjelaskan padanya kalau pria itu adalah pria yang diwawancarai Saena,barulah Yoonhee mengerti.

“ Kau mencariku,nona cantik?” Yoonhee menoleh ke belakang,ia melihat Minho dengan setelah jas formalnya berdiri sambil tersenyum jahil padanya.

“ Anda percaya diri sekali,tuan Choi..” Yoonhee melangkah menaiki tangga dan masuk ke dalam tempat itu dengan wajah memanas. Tadi ia memang menunggu Minho namun setelah pria itu datang ia tidak kuasa menahan rasa malunya.

Berbanding terbalik dengan Minho yang bahagia karena bertemu dengan Yoonhee,Saena terlihat menyedihkan. Senyuman di wajahnya tidak bisa menghapus sorot menyedihkan di balik senyumannya. Bahkan penata rias kenalan ibunya,harus berusaha keras menutupi matanya yang bengkak karena ia tidak tidur hampir semalaman. Harus Saena akui pernikahan Donghae sedikit membawa keberuntungan baginya karena ibunya yang selalu bersikap dingin padanya tiba-tiba pagi tadi masuk ke kamarnya sambil membawa penata rias itu. Suatu bentuk kepedulian yang dirindukan.

“ Kajja,noona..” Dengan bersemangat Minho menggandeng tangan Saena masuk.

“ Kenapa kau jadi terlihat lebih bersemangat? Apa karena gadis itu?” Sejujurnya masih ada perasaan tidak rela dalam hatinya namun Saena gtidak mau melihat Minho menjadi patung hidup seperti kemarin. Ia menyukai senyuman hangat pria itu.

“ Ne..” Sejenak tatapan Minho beradu pandang dengan tatapan sendu Saena. Ia menyadari bukan saatnya berbahagia.

“ Euhmm,noona,gwechanayo?”

“ Ne.. Aku akan baik-baik saja.”

Keduanya memilih duduk di barisan agak belakang karena barisan tengah dan depan sudah dipenuhi orang lain. Saena tertunduk lesu di kursinya,ia memandang lantai keramik gereja itu dengan tatapan kosong. Saat pembawa acara mengatakan kalau upacara sakral itu akan dimulai,barulah Saena mengangkat wajahnya dan memandang lurus ke depan,ke arah altar tempat kedua orang itu mengikrarkan janji.

“ Be strong,noona..”

***

Terlambat.. semuanya terlambat..

Saena tidak bisa menopang dirinya sendiri,ia ingin sekali berlutut dan memohon Donghae untuk bersamanya. Mengikat kuat pria itu agar tidak lepas dari sudut pandangnya. Tetapi apa yang direncakan itu tidak mungkin bisa dilakukannya,pria itu,sudah terlanjur memilih orang lain sebagai pendamping hidupnya dan jelas Saena bukanlah orang itu.

Sekarang ia hanya bisa duduk diam di sebelah Minho,berusahan menahan mati-matian luapan perasaan sakitnya saat melihat Donghae dan wanita lain bersanding di sana. Menumpahkan semua rasa sakit hatinya,menyiksanya,mencekiknya,ribuan kali lebih menyakitkan daripada kenyataan bahwa ia bukanlah anak kandung keluarga choi.

“ Kau mencintainya,noona.”

“ Tidak,Minho.. tidak,aku bukan hanya mencintainya sekarang.. Aku ingin memilikinya.. mungkin aku sudah gila,tapi perasaan ini benar-benar sudah mempengaruhiku melebihi ambang batas logika.”

Minho menepati janjinya,ia menarik Saena ke arahnya dan meletakkan kepala gadis itu di bahunya. Saena merubah posisinya dan menenggelamkan wajahnya di bahu pria itu,meluapkan lagi tangisannya. Saena tidak tahu mengapa ia masih bisa menangis padahal jelas-jelas kemarin ia sudah menumpahkan semua air matanya. Sampai-sampai ia tertidur dengan air mata masih menggenangi pelupuk matanya.

“ Berhenti mencintainya,noona..”

Yoonmi terseyum saat Donghae memasangkan cincin di jari manisnya. Ia merasakan kebahagiaannya hampir sempurnah saat ini,namun kembali wajah Donghae yang sedang berbicara dengan Jessica menggenangi ingatannya. Setelah memasangkan cincin di jari manis Donghae,Yoonmi menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan. Berharap menemukan sosok wanita bernama Jessica itu,namun sepertinya gadis itu tidak datang.

“Mempelai pria boleh memberikan ciuman kasih sayang pada mempelai wanita.” Wajah Yoonmi memerah saat Donghae membuka slayer tipis yang menutupi wajahnya. Pria itu mendekatkan bibirnya pada bibir Yoonmi dan mengecupnya pelan dan dalam. Yoonmi merasa sensasi lain menggelitiknya. Ciuman Donghae terasa kaku dan dingin.

***

            Jessica melangkahkan kakinya menuju pintu masuk hall besar itu. Setelah menunjukkan undangannya pada petugas yang berjaga di pintu masuk,Jessica melangkah pelan ke dalam ruangan yang dipenuhi banyak orang itu.

Sejenak ia ragu-ragu melangkah karena banyak orang yang sudah tidak dikenalnya,mungkin banyak diantara orang-orang itu yang merupakan teman SMA-nya namun 10 tahun berada di luar negri membuatnya melupakan sebagian besar wajah teman-teman sekolahnya itu.

“ Jessica.. Kau Jessica?” Gadis itu merasakan tepukan di pundaknya dan melihat beberapa wanita yang mungkin seumuran dengannya.

“ Ne,Nuguseyo?” Jessica bertanya dengan raut wajah bingung.

“ Aku Raesa dan ini Yunsoo.. Kita sekelas waktu SMA dulu,apakah kau lupa?”

Jessica tersenyukm simpul pada dua wanita itu,jujur saja ia memang melupakan mereka hanya beberapa wajah yang  berhasil diingatnya dan wajah-wajah itu tidak dilihatnya berada di sini.

Setelah berbasa-basi menanyakan kabar pada mereka berdua,Jessica berjalan pelan menuju tempat Yoonmi dan Donghae berada. Jessica tidak tahu apakah Yoonmi sudah mengetahui perihal hubungan pribadinya dengan Donghae atau belum. Ia memberanikan diri mendekati dua psangan itu.

“ Chukae..Yoonmi-ssi..” Jessica memeluk Yoonmi sekilas.

“ Gomawo,Jessica-ssi..” Yoonmi memberikan senyumannya. Berbeda dengan Yoonmi yang hangat. Donghae terlihat dingin menyadari kehadiran gadis itu di sana.

“ Chukae.. Donghae-ssi.” Jessica tersenyum sekedarnya dan mengulurkan tangannya memberi selamat.

“ Ne,Gomawo..” Donghae hanya tersenyum sekenanya dan ketika gadis itu berlalu dari hadapannya,ekspresi Donghae baru kembali normal.

“ Ada apa,hae?” Yoonmi yang memperhatikan wajah orang yang baru resmi menjadi suaminya beberapa jam yang lalu itu,mengernyit heran.

“ Ahh,gwechana,chagi..”

Jessica berjalan menjauhi ruangan itu,entah kenapa sentuhan ringannya dengan Donghae kembali membangkitkan ingatannya bersama pria itu. Ia merasa dadanya tertusuk-tusuk ribuan jarum tak kasat mata,siap merobeknya menjadi serpihan kecil.

“ Kenapa rasanya bisa sesakit ini kehilanganmu,hae?” Jessica menoleh ke belakang tempat Yoonmi dan Donghae bercengkrama dengan para tamu lainnya.

“ Kau.. akan kembali,Donghae.. Aku tidak peduli kau sudah menikah.”

***

            “ Kenapa kau tidak ada waktu di resepsi,Minho-ah?” pagi itu Yoonhee menghujani Minho dengan pertanyaan.

Jujur saja resepsi pernikahan Yoonmi semalam menjadi sesuatu yang aneh baginya,sesuatu yang hambar karena tidak hadirnya pria itu di sana.

“ Mianhae,Saena noona tiba-tiba sakit.. Aku langsung pulang setelah pemberkatan pernikahan Yoonmi noona.”

Yoonhee mengernyitkan dahinya,bingung. Entah ia harus percaya atau tidak dengan alasan pria itu,memang tidak seharusnya ia meragukan Minho apalagi ini berhubungan dengan kakak dari pria itu sendiri. Namun perasaan lain mengetuk hatinya,menghempaskan kepercayaan yang susah payah dibangunnya untuk pria itu. Ia sendiri tidak mengerti mengapa ia melakukan itu.

“ Sekarang bagaimana keadaannya?”

“ Sudah agak baikkan ketika aku tinggal ke sekolah tadi.” ekspresi wajah Minho menjadi sulit untuk dibaca. Yoonhee bisa menangkap raut kesedihan yang benar-benar mendalam pada kedua mata itu.

“ Dia pasti akan baik-baik saja,Minho..” Yoonhee mengucapkan kata-kata itu dengan nada sarkastis.

“ Ada apa denganmu Yoonhee? Kau masih membencinya?” Minho tiba-tiba merasa emosinya membuncah keluar padahal kata-kata yang diucapkan Yoonhee sama sekali tidak bermakna seperti itu.

“ Ada apa denganmu,Minho?”

“ Kau yang kenapa,Kim Yoonhee!”

Yoonhee cukup terkejut saat Minho membentaknya padahal menurutnya perkataannya tidak mengandung unsur persulutan emosi sama sekali. Minho yang berada di hadapannya bukanlah Minho yang dikenalnya.

“ Mianhae..” Minho berkata pelan saat melihat ekspresi aneh di muka Yoonhee.

“ Bukankah semuanya sudah selesai Minho? Saena sudah memberikan izin padamu untuk bersamaku. Sekarang harusnya ini semua menjadi bahagia. Kau dan aku bersatu.. tapi kenapa kau seolah-olah terlihat sedih?”

Minho hanya tersenyum,dibalik senyumannya itu ia menyimpan satu rasa sendiri yang tidak mungkin bisa diceritakannya pada Yoonhee.

“ Aku hanya mencintaimu,Yoonhee,kenapa kau begitu meragukan aku?”

Yoonhee tersenyum samar. Minho sudah berada dalam genggamannya sekarang,itulah kebahagiaan yang ia cari dan ia impikan selama ini. Tapi kenapa ia merasa tidak bahagia sama seperti Minho yang terlihat tidak bahagia.

***

            Sepasang pria dan wanita itu berjalan beriringan dan menimbulkan suara-suara jahil dari beberapa staf yang melihat mereka. Beberapa diantaranya bahkan terang-terangan membuat bunyi seperti siulan.

“ Semuanya kembali bekerja..” Donghae berkata dengan nada lugas yang dipaksakan. Ia tidak dapat menahan senyuman di wajahnya. Ia benar-benar bahagia sekarang. Yoonmi menjadi pelengkap hidupnya.

Setelah suara riuh itu berhenti,Donghae menarik tubuh Yoonmi agar semakin mendekat padanya. Ia merangkul tubuh gadis itu dan membawanya menuju lift.

“ Hae-ah.. ini di kantor.” Yoonmi merasa sedikit risih saat menyadari deru nafas Donghae di lehernya. Walaupun Donghae adalah suaminya tetap saja kantor dan tempat umum lainnya tidak pantas menjadi tempat mereka bermesraan.

“ Lalu kenapa?”

“ Lepaskan hae..”

Ting!     

            Pintu lift terbuka,Yoonmi dan Donghae segera masuk ke dalamnya. Yoonmi tersenyum saat merasakan tangan Donghae meraba tangannya dan menggengammnya.

“ Selamat bekerja,my wife..” Donghae tersenyum jahil dan mengecup pipi Yoonmi sekilas.

“ Ne,kau juga,hae.. “ Yoonmi berkata sambil menundukkan kepalanya.Menyembunyikan pipinya yang bersemu merah.

Donghae baru saja meletakkan jemarinya di atas keyboard laptopnya. Saat ingatannya kembali memutar kenangan tentang Jessica. Ia berusaha fokus pada laporan dihadapannya,menenggelamkan ingatan itu jauh-jauh.

Ketukan di pintu ruangan kerjanya hanya dijawabnya singkat. Ingatan tentang Jessica merusak moodnya pagi itu.

Ketukan sepatu hak tinggi memenuhi ruangannya,Donghae masih berusaha menghilangkan ingatan tentang Jessica. Ia tidak memperhatikan gadis yang mendekatinya.

“ Aku kembali.. kembali untukmu.”

Gadis itu berlari memeluk pria yang sedang sibuk dengan sesuatu di hadapannya,sehingga tidak memperhatikan gadis itu.

“ Ka.. kau..” pria itu tidak bisa menyembunyikan lagi keterkejutannya terhadap kedatangan gadis itu. Gadis yang sudah hampir 10 tahun tidak ditemuinya. Gadis yang sudah banyak berubah penampilannya itu. Gadis yang baru saja membayangi setiap pekerjaannya. Sekarang gadis itu berada di hadapannya.

“ Kau tidak merindukanku,hmm?”

“ A.. aku.. aku.. Tentu saja aku merindukanmu.” Pria itu menarik tangan gadis itu yang masih melingkar di lehernya dan memeluk gadis itu. Menyalurkan emosi dan hasrat terpendam selama bertahun-tahun pada sosoknya yang menghilang.

“ Aku benar-benar telah membawamu kembali ke pelukanku.”

Pria itu hanya tersenyum samar,tidak berani mengatakan kalau apa yang dibilang oleh gadis itu sudah tidak mungkin terjadi karena ia sudah memberikan hatinya,pikirannya,raganya,bahkan hidupnya hanya pada satu nama. Gadis itu terlambat..

Begitu cepatkah hati berubah? Satu nama yang berganti-ganti dalam hati..Setiap sikap yang sulit ditebak.. itulah cinta..

***

_To Be Continued_

35 thoughts on “[ Korean Fanfiction/Straight/Series] Whether I Hate You or Not (Chapter 8C)

  1. Penantian akhirnya berakhir juga, akhirnya di publish juga hehehe.
    Ceritanya menegangkan… Waah donghae jg bimbang ya krn jessica, kasihan yoonmi. Jessica dtg ke ruangan donghae, mrka berpelukan seharusnya yoonmi lihat tuch biar donghae sadar klo udh ada yoonmi. Tau gtu mendingan donghae n yoonmi ga ush menikah. Kayana harus ada org ketiga/ke empat yg dtg tuch buat donghae cemburu. Si minho knp ya, bukannya saena dh rela ngelepasin buat yoonhee. Aku penasaran nieh, dilanjut ya asap

    • Hahaha tadinya aku mau bikin kaea gtu eon
      cuma nanti2 ajalah yoonmi taunya kasian dia *plak
      haha biarkan Donghae berselingkuh sebentar

      Karakter Donghae aku bikin sedikit plin-plan di sini
      karena banyak misteri yang belum terkuak dalam diri karakternya

      Minho? hmm perasaan dia masih ragu2 di sini blm ada penjelasan rincinya di chapter
      pokonya chapter 9 sama 10 itu bener2 fokus ke Yoonhee-Minho dan Yoonhee,Yoonmi,Saena

      Chapter 12 atau 13 mungkin baru penjelasan rinci perasaan Minho
      bisa lebih cepet juga eon wkwkwk tergantung aku bikinnya gimana hehe

      makasih udah baca + komen😀

  2. Aduhh knp tbc eonnnnn.. Tapi pasti itu sica deh *sotoy* wkwk wah aku makin penasaran nih akhirnya saena sma siapa..sbner nya sih aku lebih pgn saena sma donghae. Tapi ya sudah lah hae udh pny yoonmi wwkkw Chapter selanjutnya jangan lama” ya eon X)

    • lohh ia saeng tebakanmu bener loh :p
      Saena sama?… ada deh!
      cuma tebakanmu memang nyerempet ke jawaban bener sih haha

      oke ditunggu aja ya saeng
      makasih udah baca + komen😀

  3. akhirnya dilanjut juga di ff😀
    ya ampun kasian bgt donghae galau semuanya
    yoonmi, saena sama jessica wkwk
    akhirnya appanya yoonmi sadar juga nih
    yeah mereka nikah *prokprokprok*
    tapi donghae kayanya msh ragu sama perasaannya sendiri ya
    itu jessica dtg, dia msh aja nempel2(?)

    • Iya nih eon Donghae lagi galau2nya di sini >.<
      ga nyangka si ikan ca'ep bisa galau juga *dirajam Fishy

      Iya eon akhirnya mereka nikah juga haha
      mian udah nunggu chap ini lama😛

      makasih udah baca + komen eon😀

  4. Disini kayanya semua object menderita ya … Menderita sama perasaan masing”..
    Daebak buat peran saena.. Suka bgt sama saena..

    • Iya kan aku sengaja bikin penderitaannya merata
      Hehehehe tapi tetep fokus ke Yoonmi Donghae sebagai main castnya😛

      makasih udah baca + komen eon😀

  5. akhirnya dipublish jgha,,..lma bnget tunggu’inklnjutan ff ini,,..!!!
    krakter donghae dsni plin-plan bnget,,.!!!
    bhgia nkah sma yoonmi,tpi msih jgha mkirin sica,,..!!!
    plisss ya saeng jngan bkin sad ending buat donhae sma yoonmi,,..!!!

    • Wahh eonni lama ya nunggunya?
      maap ya eon kmrn aku sempet WB T^T
      sama yang balik dluan feel fantasy bukan feel romance

      emang tuh si donghae aneh *dilemparin ikan
      di FF ini sih kyknya sad ending eon *plak *gubrak *ditendang
      tapi di TCD happy end kok eon hehe

      makasih udah baca + komen😀

  6. akhirnya yoonmi+donghae nikah & yoonhee+minho pacaran. tp agak kesel jg sm sifat hae yg plin plan. kdg2 dia ngerasa cunta bgt sama yoonmi. tp kdg jg dia kepikiran perasan sica. minta d cuci otaknya donghae nih -___-. udh nikah tp msh aja ada sica. oh iya, bagian malam pertamanya gak ada? *ups hahaha
    nih kyknya tanda2 saena bkln sama jonghyun? krn tinggal mereka berdua yg belom pasangan hahaha
    next part jgn lama2 X-(

    • Wahhh Chingu nagih bagian NC ya
      aku ga bisa bikin >.<
      *masih polos ceritanya *plak

      ia si Donghae emang sengaja aku bkin plin plan
      haha tapi nanti2 dia udah sembuh kok

      Mau cuci otak Hae?
      *BRB *ambil deterjen *loh

      Hmm Saena sama…
      rahasia dong ah ga asik aku kasih tau :p

      makasih udah baca + komen😀

  7. akhir’a ff yg bikin penasaran tingkat dewa muncul juga,,
    aigo Hae oppa kok gi2 sih kyk’a msh smpn perasaan ma Sica eonni lah ntar si Yoonmi tau gimana?
    Ayo dong syp sih appa’a Saena?
    Ni tambah part2 tambah deg2an dan tambah penasaran…

    • Wahhh eonni nunggu lama ya?
      mianhae eonni >.<

      Yoonmi pasrah kok orangnya eon
      ga usah khawatir *jawaban macam apa ini

      Wahh soal appanya Saena ada di side story sama di TCD ya eon :p

      makasih udah baca + komen😀

  8. YAA!! DAEBAK ^ ^b
    suka banget minho-saena mesra disini kyaaa, minho suka aja sama noona nya *menghasut* haha biarin jonghyun sama yoonhee u,u~ haha
    ditunggu part part selanjutnya yah :*

    • Wahhhh ada Admin J di sini *bakar petasan *lempar kembang api
      ya ampun ga nyangka deh kmu suka ff ini >.< padahal akunya aja ga pede loh

      Soal pasangan masih nanti ya
      haha ternyata kmu malah kecantolnya sama Minho
      padahal bacanya gara2 Donghae tuh

      malasih ya udah baca + komen😀

  9. Akhirnya publish juga.. ^0^
    Aku penasaran pas Minho mau nyium Yoonhee dia inget siapa ya.
    Aku rela nya Saena sama Minho. huhuhu
    Part selanjutnya jangan lama2 ya thor
    Hwaitting

    • Annyeong reader baru kah?
      maaf soalnya aku baru pernah liat ID-mu hehehe ^^V

      hmmm sapa ya? *plak
      inget kalo itu di sekolah mungkin :p
      oke deh ditunggu aja ya ;D

      makasih udah baca + komen

  10. Eon..
    Aku blom bisa bedain yoonmi ama yoonhee ㅠ.ㅠ
    genre tragedi juga eon?? Ini tragedi nya kurang sadis (?) terutama sama tokoh utamanya (saena)
    mungkin komenku segini aja .. Hahah..
    Good job😀 keep writing .. I will always support you eonni ^^

    • Hah? Yoonhee tuh anaknya Yoonmi saeng wkwkwkwkwk
      iya masa sih kurang sadis?
      padahal banyak yang udah galau lohh
      hahaha
      tapi tenang nanti chap selanjutnya banyak galau kok saeng :p

      Makasih saengi ^___^

      • iya tau, vuma gegara namanya masih bingung2 ..
        hahaha..
        aku belom galau loh :p
        masama eon😉

  11. maf y saeng ru cment d part 4 n 8 nieh hehe

    ceritax bgtu menarik n daebaaak…
    hyaaaa donghae kok gt c..dah tau udah pnya istri eh malah msh ngarepin jess…ingat istri n ank drmh hoho

    yg aq dpet saena kyk e ank yoonmi yg sbnrx…n yoonhee ank dr mrs.park. dan minho scra g sadar suka ma saena nieh…n aq hrap mreka bsa brsatu,kn bkn swdra kandug jd sah donk…yoonhee ben ma jonghyun ja,kl g salah yoonhee jg mulai da rasa ma jonghyun kn…

    yach itu lah penafsiran dr apa yg aq bca…
    #sok tau bgt hehe

    ayo dtggu next partx saeng g pke lama…

  12. Donge ahjussi labil banget -___-
    eh, bentar itu di castnya dari part 1 until now ada nama Cho Kyuhyun!~
    tapi kenapa gk nongol-nongol ya –”
    ilang kemana tuh si evil~
    jangan-jangan kyu yang ngehamilin yoonmi?
    Andwae~ suamiku masa bejat thor *Abaikan –“

  13. ya ampun eonnie
    kasihan saena pasti sakit bgt.
    dia harus tersenyum d saat saat tersulit yang ia hadapi sekarang..
    ak suka bgt cma FF ini bkin pembacanya terus-terusan penasaran🙂

  14. Donghae oppa labil banget sih,, kasihan loh yoonmi nya,, ya ampun eon kapan ya saena nya seneng gitu,, gak tega liat saena yg miris terus hidup nya,, eon kapan donghae nya gak plin plan lagi, jadi sebel liat donghae plin plan gitu -_-,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s