[Korean Fanfiction/Straight/Series] Whether I Hate You or Not (Chapter 10A)

Cover ff Whether I Hate You or Not chapter 10

Title                       : Whether I hate you or not

Author                  : Kim Sae na a.k.a Devi

Rating                   : PG13/NC17/Straight/Series/On Writing

Genre                   : Romance/Angst/Tragedy/Family/Life

Cast                       :

Main Cast            :

Super junior – Lee Donghae

Kim Yoonmi

Choi Saena (OC)

Support cast           :

SHINee – Choi Minho, Kim Jonghyun

Kim Yoonhee(OC)

Other Cast : FIND BY YOURSELF!

Disclaimer          : Super junior,SHINee, and SNSD  are belong to God,SM Entertaiment,and their parents. The Original Character is mine. This fanfic is just for fun. Please No Bash! and please don’t sue me. If you don’t like this fanfic. Please don’t read. This story is mine. Don’t take this fanfic without permission from me. If you want to take this fanfic. Please take with full credit.          

Warning               : Lolicon,a little bit violence and NC 

Author Notes : Baca cuap2 aku di bawah ^___^

Chapter 10- Your heart… is hollow inside

#NP

Juniel – Illa illa

Super Junior – All My Heart

Lady Antebellum – Need You Know

Apa arti hubungan kita selama ini jika kau tidak berusaha mengikatnya? Ini hanya akan menjadi hubungan tanpa status yang bisa kau akhiri kapan saja tanpa kepastian…

***

Author Pov

“ Tidak seharusnya kau berteriak-teriak padaku kemarin, aku tahu tindakanku memang salah.” Saena meletakkan tangannya di atas pundak Minho dengan ragu-ragu. Sejak kejadian Minho memergoki Saena masih memberanikan diri menemui Donghae pada ia sendiri tahu pria itu sudah menikah, lagi-lagi hubungan kakak-beradik ini menjadi sedikit renggang. Berdiam dalam emosinya masing-masing, hanya saja kali ini sang kakak yang merasa bersalah, meminta maaf pada sang adik, untuk menyudahi perang dingin mereka yang berjalan kurang dari 24 jam.

“ Aku tidak habis pikir denganmu, noona.”

“ Aku tidak merasa ada kesalahan dalam tindakanku, kenapa kau harus begitu marah?”

Minho menggelengkan kepalanya dan berbalik membelakangi Saena. Pria itu tidak berusaha membalas kata-kata yang dilontarkan Saena, karena menurutnya seharusnya gadis itu sudah paham dengan sendirinya kenapa ia melarang gadis itu untuk menemui Donghae lagi.

“ Minho-ah…”

“ Minho, tolong jelaskan…”

“ Minho!”

“ Baik kalau kau masih tidak mau berbalik dan mengatakan padaku apa maksud perkataanmu, aku tidak akan membantumu untuk menjalankan misi pe..”

Kali ini perkataan Saena berhasil membuat Minho menoleh kepadanya. Gadis itu hanya tersenyum mengejek, walaupun pria di hadapannya memasang wajah mengerikan.

Ne, ne, dengarkan noona, aku tidak mau kau menjadi mayat hidup hanya karena memikirkan pria yang bahkan tidak mempunyai rasa apapun untukmu, berhenti mengganggunya karena ia sudah menjadi suami orang lain, apa tanggapan orang lain padamu kalau melihat tindakanmu yang seperti itu?”

“ Minho, aku tidak akan peduli apa kata orang lain tentangku. Kau tahu hal itu, Minho, kau mengenalku lebih baik dari siapapun!”

“ Lalu apa yang kau inginkan sekarang?! Tetap mengganggu hubungan mereka dan lambat laun membuat mereka bercerai sehingga kau bisa bersama sang pria lalu kemudian sang pria yang tidak mencintaimu hanya akan mencampakkanmu, begitu?”

Plak!

Sebuah tamparan melayang ke pipi pria itu. Saena memandangnya dengan tatapan penuh emosi dan kebencian yang menumpuk di sana.

Geumanhae! Minho-ah! Kau tidak mengerti apa-apa tentang perasaanku. Kau belum pernah merasakan orang yang kau cintai tidak membalas cintamu dan ia malah menikah dengan wanita lain!” nafas gadis itu tersenggal menahan amarah yang memuncak dan siap meledak kapan saja.

“ Kau keterlaluan, Minho! Kau keterlaluan.” Saena berjalan keluar dari kamar Minho dan membanting pintunya sehingga menimbulkan suara yang keras.

Minho memegang bagian wajahnya yang mendapat tamparan dari Saena. Rasa sakit dan panas yang tercipta di sana tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Timbul sedikit penyesalan di dadanya.

“ Aku hanya berusaha peduli, noona…”

Whether I Hate You or Not │©2011-2012 by Ksaena

Chapter 10- Your Heart… is hollow inside

ALL RIGHT RESERVED

        “ Ti…tidak mungkin! Pasti kau bohong… Kau bohong! Siapa kau sebenarnya dan apa maumu?”

“ Aku bisa membuktikannya kalau kau mau…”

“ Kenapa kau yakin sekali aku adalah putrimu? Mianhae… mungkin kau salah orang, ahjumma…” wajah gadis itu pias ditempa ketakutan, mendengar penuturan yang mungkin akan dilakukan oleh orang yang berada di hadapannya saat ini.

“ Ada beberapa hal yang perlu kujelaskan padamu, Yoonhee, termasuk identitas keluarga Kim yang sebenarnya. Siapa itu Kim Yoonmi? Ia tidak lebih dari hanya sekedar ibu tidak bertanggung jawab yang menelantarkan anaknya.”

“ Kim Yoonmi… Kim Yoonmi adalah…” Yoonhee melihat sekelilingnya dengan tatapan waspada. Ia tidak ingin ada satu orang pun yang mendengar suaranya yang bergetar diiringi dengan irama detak jantungnya yang berpacu cepat.

“ Kau tidak perlu mengatakannya Yoonhee, aku sudah tahu semuanya, dan cepat atau lambat status Kim Yoonmi akan berubah.”

“ Apa maksudmu? Kim Yoonmi adalah i…ibuku.” Yoonhee menekankan nada suaranya pada kata ibu.

“ Mungkin sekarang kau belum mengerti, Yoonhee, ini semua adalah kesalahanku.” Hyehwa menghela nafasnya dan menatap Yoonhee dengan tatapan sedih. Yoonhee tertegun melihat tatapan itu. Tatapan kesedihan yang sarat akan kerinduan samar, tatapan yang tidak pernah didapatkannya dari siapapun. Yoonmi memang pernah memandangnya dengan tatapan kerinduan namun ada kekosongan yang cukup jelas di tatapan Yoonmi, berbeda dengan tatapan yang didapatkannya dari Hyehwa saat ini.

“ Aku tidak mengerti, ahjummamianhae aku harus pergi.” Yoonhee berjalan mundur sebelum membalikkan tubuhnya menjauhi Hyehwa yang masih terus menatapnya dengan tatapan sama.

“ Siapa dia sebenarnya? Kenapa… kenapa sepertinya jauh di dalam lubuk hatiku aku mengenalnya? Apa dia benar?” Yoonhee memandang sekelilingnya dengan ekspresi ketakutan yang terlihat jelas. Kabar yang dibawa wanita itu memang cukup mengguncangnya. Ia ingin tidak memperdulikan kata-kata wanita itu, tetapi sayangnya kata-kata itu terus menghantuinya.

Sesampainya di dalam mobil Yoonhee segera membuka salah satu folder di ponselnya. Folder yang semuanya berisi foto-fotonya dengan Yoonmi, kakak kesayangannya, setidaknya statunya seperti itu sebelum semuanya terungkap jelas.

Eonnieomma? Atau siapa kau sebenarnya?”

Setetes air mata jatuh membasahi layar ponselnya tepat mengenai wajah Yoonmi yang tengah tersenyum. Mata wanita itu bahkan ikut tersenyum, tangannya merangkul Yoonhee yang berekspresi lucu saat difoto. Keduanya bahkan terlihat sangat akrab. Mungkikah semua itu hanyalah ilusi?

***

        “ Presdir Lee tidak ada ditempat, nona, apa ada pesan khusus untuknya?”

Tidak urung pernyataan yang didapatkannya membuat ekspresi Jessica yang tadinya cerah menjadi murung. Gadis itu kecewa mendapati orang yang paling ingin ditemuinya malah tidak ada di tempat.

“ Ahh aniya… katakan saja Designer utama DFuz Coorporation ingin bertemu dengannya, kalau boleh saya tahu, kapan Tuan Lee Donghae akan kembali?”

“ Mungkin sekitar hari Kamis, Tuan Lee akan kembali beraktivitas seperti biasa.”

“ Kamis? Kenapa lama sekali? Apa Tuan Lee sedang dalam perjalanan bisnis?”

“ Bukan, nona, Tuan Lee Donghae sedang pergi berbulan madu dengan istirinya ke Paris dan baru akan kembali hari Rabu nanti.”

Mwo? Bulan madu?”

Ne, nona, mereka sedang berbulan madu.”

“ Ah baiklah, Ghamsahamnida… Boleh saya meminta kertas dan ballpoint? Saya berubah pikiran, saya ingin meninggalkan pesan untuknya.”

Jaehwa memberikan secarik kertas dan ballpoint. Gadis itu menuliskan beberapa huruf di sana kemudian melipatnya, mengembalikan kertas dan ballpoint itu kembali ke tangan Jaehwa dengan senyuman. Membuat wajahnya semakin anggun, tetapi sayang itu semua hanyalah kehampaan dan kekosongan.

Jessica meninggalkan meja Jaehwa dengan tatapan lesu yang berkali-kali lipat ditambah dengan sensasi rasa sakit dan cemburu yang membuat perpaduan mengerikan dalam hatinya. Donghae berbulan madu bersama istrinya? Jessica tidak pernah membayangkan berpisah dengan Donghae rasanya akan sesakit ini. Bukan hal yang aneh ketika pasangan suami istri akan pergi berbulan madu, bahkan ini adalah hal yang wajar yang dilakukan setiap orang.

Tetapi tidak untuk Lee Donghae,pria yang dicintainya…

Gadis itu juga sebenarnya tidak mengerti apa yang diharapkannya pada Donghae yang jelas-jelas meninggalkannya tanpa alasan yang jelas, yang diyakini Jessica adalah karena hati pria itu berpagut pada wanita lain. Setelah bertemu dengan ibunya, Hyehwa sudah mengirimkan beberapa informasi tentang keluarga tempat anaknya tinggal sekarang.

Fakta mengejutkannya adalah keluarga itu adalah keluarga Yoonmi dan melihat semua bukti itu Jessica yakin pertemuan Yoonmi dan Donghae belum terlalu lama, lalu kenapa mereka berdua bisa menikah?

Jessica tersadar dari lamunannya sepanjang perjalanan dari lantai tujuh, lantai di mana ruangan Donghae berada, sampai di di depan mobilnya yang terparkir rapi di lapangan parkir yang dipadati berbagai mobil beragam jenis dan merek. Gadis itu merogoh saku blazernya dan mengeluarkan ponselnya yang bernyanyi, menandakan ada panggilan masuk.

Nomor tidak dikenal? Apakah Hyehwa ahjumma lagi?

Jessica Pov

Aku memutuskan untuk mengangkat panggilan dari nomor tidak dikenal ini, siapa tahu ini adalah panggilan dari salah satu relasi bisnisku.

Yoboseyo?”

“ Sooyeon-ah, kenapa kau tidak bilang pada eommonim kalau kau sudah pulang ke Seoul? Aigoo…”

Tunggu sebentar!

Suara ini… aku merasa familiar dengan suaranya dan ditambah lagi ia memanggilku dengan nama Sooyeon dan eommonim?

Jangan-jangan?

Eommonim?” Aku membuka pintu mobilku dan masuk ke dalamnya sambil memasangkan headset pada ponselku, sedikit kesulitan mengatur posisi ponsel dan headset yang sudah menyumpal telingaku.

Ne, Sooyeon-ah, kau lupa? Huft… jangan hanya karena hubunganmu dan Donghae sudah berakhir dan kalian tidak berhubungan selama hampir 10 tahun, hubungan kita harus ikut berakhir.”

Apa aku sedang bermimpi? Benarkan ini adalah Lee Jiyoung ahjumma yang sudah kuanggap seperti ibuku sendiri. Memang sejak Hyehwa ahjumma pergi, aku tidak mempunyai pijakan yang tepat untuk berdiri tegak, namun setelah bertemu dengan Donghae, pria itu memberikan semua yang aku butuhkan untuk menjalani hidupku dengan normal. Pria itu adalah matahari bagiku, tanpanya dunia ini serasa menakutkan. Namun setelah pria itu mengkhianatiku dan meninggalkanku, kurasa bukan hal yang sulit untuk membencinya. (Read Next : Walk Away-Whether I Hate You or Not side story)

Sooyeon… ah atau harus kupanggil Jessica, apa kau masih di sana?”

“ Ah, ne, eommonim…maksudku ahjumma.”

Walaupun Jiyoung ahjumma masih menganggapku anaknya dengan memperbolehkan aku memanggilkanya eommonim, tetap saja aku merasa tidak seharusnya aku memanggilnya begitu.

“ Panggil saja aku eommonim.”

“ Ah, ne…”

Kemarin sewaktu di resepsi pernikahan Donghae, aku melihatmu,sayang sekali sewaktu aku akan mendekatimu, kau keburu pergi dengan tergesa-gesa.”

Ne, eommonim, mianhamnida, aku sedang ada urusan waktu itu.”

Aku berbohong. Tentu saja …

Siapa yang tahan melihat pria yang dicintainya bersanding dengan wanita lain dan tersenyum bahagia, sementara aku yang menderita dan diabaikannya.

“ Bisakah kita bertemu, Sooyeon? Ada yang ingin eommonim bicarakan padamu, kalau bisa secepatnya karena lusa, aku harus kembali ke London.”

“ Siang ini aku ada waktu, eommonim. Jadi di mana kita akan bertemu ?”

Ne, akan segera kukirimkan pesan berisi alamatnya.”

Ye, algaseumnida…”

Klik!

Aku melepaskan headset yang menempel di telingaku. Sebuah senyuman mengembang di wajahku, setidaknya eommonim, atau harus kusebut ibu kandung dari mantan kekasihku, masih menganggap aku adalah anaknya. Awal yang baik untuk rencana ke depanku demi mendapatkan Lee Donghae kembali. Kuakui berita bulan madu mereka menebarkan racun, namun setelah mendapatkan telepon dari eommonim, aku merasa jalanku untuk mendapatkan Donghae semakin terbuka lebar selain dari data rahasia keluarga Kim yang sekarang ada padaku.

“ Dia memang ditakdirkan untukku, Kim Yoonmi… kali ini kau yang akan kalah dariku,kau tidak akan bisa tertawa di atas penderitaanku.”

End of the Pov

***

Author Pov

Langkah kaki gadis itu menghentak, menepis debu yang bertebaran di aspal yang melapisi jalan setapak menuju pintu rumahnya. Gadis yang biasanya tampil memukau itu, tidak berniat merapikan anak-anak rambutnya yang perlahan menucat dari ikatannya, menutupi sedikit penglihatannya yang memang sudah mengabur karena butiran air mata.

“ Yoonhee, kau sudah pulang,nak?”

Suara lembut yang biasanya menyapanya itu kini terasa asing baginya, ia membenci nada suara yang kelihatan polos itu. Kenyataan yang menderanya tadi, seakan-akan menguncinya di dalam satu kebohongan yang lain. Siapa yang benar dan siapa yang salah? Siapa yang harus dipercayainya? Hatinya menyuruhnya mempercayai wanita tadi yang mengakuinya sebagai anaknya.

Nyonya Kim sadar ada yang berbeda dengan Yoonhee. Wanita itu mendekati putrinya tersebut dan berniat merapikan anak-anak rambut yang menutupi wajah gadis itu.

“ Kau ada masalah,Yoonhee?”

Sejujurnya nyonya Kim tidak pernah menaruh rasa benci terhadap gadis itu, bahkan ia menyayangi Yoonhee sebagai putri kandungnya sendiri, tetapi semenjak Yoonmi pulang, nyonya Kim merasa tugasnya sudah selesai sebagai ibu asuh anak itu. Tetapi tetap saja status ibu bagi Yoonhee sudah berada di tangannya sejak anak itu lahir.

“ Jangan sentuh aku, eomma…”

Yoonhee menahan tangan nyonya Kim yang baru saja menyentuhkan tangannya di permukaan rambut Yoonhee. Dari jarak sedekat ini, wanita itu baru bisa melihat dengan jelas mata Yoonhee yang memerah akibat air mata yang meluncur turun perlahan-lahan menuruni pipinya.

“ Yoonhee…”

Eomma, jawab!”

Gadis itu berusaha berbicara disela-sela suaranya yang semakin terasa berat, digandrungi air mata yang semakin lama semakin menurun dengan deras.

“ Ada apa, Yoonhee-ah, kenapa kau menangis?”

“ A… apa aku bukan anak kandung Yoonmi eonni? Lalu aku ini anak siapa eomma?”

Deg!

Wajah nyonya Kim memucat mendengar penuturan Yoonhee, wanita itu mematung di tempatnya, mata membulat, ia kehilangan kata-katanya. Yoonhee memperhatikan perubahan ekspresi wanita yang selama ini diketahuinya sebagai ibunya, yang membesarkannya dengan kasih sayang yang cukup walaupun sang ayah tidak menganggapnya ada.

“ Kenapa kau tidak menjawab, eomma? Apa tebakanku benar?”

“ Yo…Yoonhee. Itu semua bohong, nak, kau akan kandung Yoonmi.”

***

Yoonhee Pov

Aku mencoret-coret gambar seorang gadis di atas sketch book milikku yang biasanya berisi gambar-gambar animasi. Aku tidak tahu sejak kapan aku menyukai gambar, mungkin aku tertular dari Yoonmi eonni yang seorang designer. Tertular atau bakatnya menurun padaku?

Menurun? Kedengarannya lucu…

Aku memang sudah tidak memikirkan soal perkataan wanita misterius yang mengaku sebagai ibu kandungku. Aku tidak tahu kenapa kemarin aku dengan mudahnya meneteskan air mata karena perkataannya yang terlalu mendadak. Namun pelukan eomma menghangatkanku, membuatku merasakan aku berada di keluarga yang benar.

Lagipula wanita itu tidak mempunyai bukti yang kuat untuk membuatku percaya aku adalah anak kandungnya. Jadi kenapa aku harus percaya?

“ Jadi sebenarnya kemarin siapa ahjumma itu?”

Nde?”

Aku mendapati Minho duduk di hadapanku dan menahan tangannya di atas gambar yang sedang kucoret-coret menggunakan pensil. Gambar seorang gadis yang kelihatan bersedih, aku sendiri bingung mengapa gambar seperti itu yang tertetera di atas sketsa putihku.

Mianhae, Minho-ah, bisakah kau singkirkan tanganmu dari sketsaku?”

“ Ah, ne…”

Aku bisa merasakan tatapannya tetap tertuju ke arahku, namun kali ini aku sama sekali tidak bisa membalas kedua tatapannya.

“ Yoonhee-ah, kau ada masalah?”

“ Sebenarnya iya, ta… tapi mianhae aku tidak bisa menceritakannya padamu.”

Maafkan aku Minho, aku masih menganggap masalah ini adalah mimpi buruk bagiku yang tidak bisa kubagi denganmu.

Arraseo, aku tidak akan memaksamu, Yoonhee. Aku hanya ingin mengajakmu keluar malam ini, apa kau bisa?”

Aku menaikkan wajahku yang sedari tadi hanya tertuju pada sketsa asal-asalan hasil coretan tanganku. Apa aku mendengar sebuah ajakan berkencan darinya?

“ Keluar? Kemana?”

“ Kau akan tahu nanti, Yoonhee-ah, aku akan menjemputmu malam ini jam 7, bagaimana menurutmu?”

Seketika semua mendung yang memayungi hatiku bergeser menjadi pancaran sinar matahari. Aku tidak tahu bagaimana menggambarkan ini, yang jelas aku sangat bahagia. Ini adalah kencan pertamaku di luar sekolah. Baiklah aku ralat, dulu aku pernah bertemu dengan Jonghyun sekali di café, tapi aku tidak tahu apakah itu bisa disebut sebagai kencan atau tidak. Tetapi ini berbeda! Aku akan berkencan dengan Minho, pria yang sempat kuragukan rasa cintanya.

Ne, aku mau.”

End of the pov

Minho Pov

Ne,aku mau.”

Aku bisa melihat ekspresinya yang berubah menjadi cerah. Aku tersenyum melihat kedua bola matanya yang bulat dan besar menatapku penuh harap. Aku menyukai kedua bola matanya yang indah dan besar. Kurasa jika kami memiliki anak nanti, anak kami akan memiliki mata yang indah, perpaduan antara bola mataku dan matanya. AISHHH! Kenapa aku jadi memikirkan soal anak?

“ Minho-ah? Apa ada yang aneh di wajahku?” Yoonhee dengan refleks menyentuhkan tangannya di wajahnya.

“ Ah aniya… aku hanya senang melihat kau tersenyum lagi, kau terlihat cantik dengan senyum indahmu.”

“ Kau terlalu memujiku, Choi Minho.”

Sebenarnya aku merencanakan untuk mengatakan perasaanku padanya malam ini dengan bantuan Saena noona, seperti kesepakatanku dengannya kemarin. Tetapi akibat pertengkaranku dengannya kemarin, kurasa aku belum bisa melaksanakan rencana itu hari ini. Seperti yang sudah-sudah, Saena noona marah denganku. Aku tidak tahu mengapa belakangan ini, lebih tepatnya hampir empat bulan belakangan ini, Saena noona bersikap semakin aneh padaku.

Kami sudah terbiasa dekat sejak kecil dan jarang sekali bertengkar, terkadang aku merasa Saena noona selalu mengalah untukku, aku juga tidak tahu mengapa, mungkin karena aku anak yang lebih kecil darinya. Tetapi sekarang Saena noona menjadi lebih sering marah denganku, hanya karena masalah yang sebenarnya tidak besar.

Baiklah… cukup besar, aku tidak menyangka Saena noona akan jatuh cinta pada pria yang aku sendiri sulit menggambarkannya. Pria yang tidak sengaja dikenalnya sewaktu mengerjakan tugas, lalu entah bagaimana caranya bisa dekat dengan Saena noona, membuatnya mengharapkan lebih dari pria itu dan harus patah hati karena perasaannya sendiri.

Aku tidak ingin ia terlalu lama memendam sakit hatinya, apalagi pria itu kelihatannya tidak menaruh rasa sedikitpun pada Saena noona. Satu lagi alasan yang akan dipakainya untuk membenci Yoonhee… Pria yang dicintainya menikah dengan kakak dari gadis yang kucintai. Hubungan kami terlihat rumit bukan?

“ Kenapa sekarang jadi kau yang melamun?”

“ Eh, apa? Mianhae…”

Gwenchana… Aku tadi bertanya jam berapa kau akan mengantarkanku pulang? Eomma dan appa akan memarahiku jika pulang terlalu larut.”

“ Baiklah, aku tidak akan memulangkanmu terlalu larut, Yoonhee-ah, kau tenang saja.”

Aku memperhatukan setiap gerakan yang dibuat olehnya. Satu hal yang baru kusadari belakangan ini tentangnya, Yoonhee mempunyai kepribadian yang sama dengan Saena noona. Hanya saja yang membuat mereka berbeda adalah kalau Saena noona menutupinya dengan mengasingkan diri dari dunia luar, Yoonhee menutupi semua sifat dan perilakunya dengan berlaku seceria mungkin,seolah-olah hidupnya sudah cukup sempurna.

“ Minho, bolehkah aku bertanya sesuatu?”

Ne, tentu saja, waeyo?”

“ Apa kau mencintaiku, Minho? Benarkah apa yang kau katakan padaku waktu itu? Cinta yang sesungguhnya ataukah hanya emosi sesaat?”

Aku memandang kedua matanya yang memancarkan sinar kekecewaan yang jelas, aku tidak tahu mengapa sepertinya aku merasa Yoonhee terluka. Apa aku melakukan satu kesalahan padanya?

“ Tentu saja… Aku melakukannya dengan tulus dan bukan hanya emosi sesaat.”

“ Ah begitu.”

Yoonhee tersenyum namun sinar kekecewaan itu tidak hilang dari matanya. Aku tahu ia masih belum percaya sepenuhnya. Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk membahagiakannya dan mencintainya dengan seluruh hatiku. Gadis ini sudah seperti sumber kehidupanku.

“ Aku kembali ke kelas dulu,Yoonhee, selamat belajar…”

“ Ah ne, annyeong, selamat belajar juga.”

Aku melangkah menjauhi kelasnya yang sudah mulai dipadati beberapa anak karena memang waktu istirahat tinggal 10 menit. Jujur saja aku merasa risih ketika harus mendapatkan banyak perhatian dari mereka apalagi mereka akan berbisik-bisik dan menunjukk ke arahku dan Yoonhee. Aku tidak mau semuanya akan menjadi berat bagi Yoonhee, sebisa mungkin aku akan melindunginya dari semua yang akan menyakitinya.

“ Aku janji Yoonhee, aku akan membahagiakanmu.”

End of the pov

***

        Nyonya Kim memandang gelisah ke arah layar ponselnya yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan berbunyi atau menampilkan pesan. Ia menekan nomor yang sudah dihafalnya di luar kepala, membuat sambungan ke luar negeri. Namun baru beberapa saat nada sambung itu berbunyi, bahkan sang pemilik belum mengangkat panggilannya. Nyonya Kim sudah memutuskan sambungan itu. Hatinya diliputi keraguan luar biasa.

“ Apa aku harus menghubunginya dan merusak bulan madunya dan Donghae hanya karena masalah Yoonhee?”

Drrttt Drrrttt

Nyonya Kim melirik siapa yang menghubunginya dan hanya bisa menghela nafas sebelum menekan tombol hijau, menjawab panggilan itu.

Yoboseyo, eomma…”

“ Ah, ne?”

Kenapa eomma menghubungiku?”

“ Ah itu… ah… bagaimana kabarmu dan Donghae di sana, apa kalian bersenang-senang? Mianhae eomma mengganggu bulan madu kalian.”

Gwenchana, eomma… Donghae sedang membeli minum dan aku sedang sendirian di sini. Euhmm, eomma, bagaimana keadaan disana? Maksudku, tentang Yoonhee…”

“ Ah, dia baik-baik saja.” Nyonya Kim bisa mendengar nada suara keraguan dalam kata-katanya. Ia yakin Yoonmi akan curiga.

“ Entah mengapa, eomma, aku merasa tidak enak sejak aku pergi ke sini. Aku merasa ada yang akan terjadi dengannya.”

Nyonya Kim mengusap keringat dingin yang meluncur di dahinya, terlalu tegang untuk berkomunikasi dengan putrinya sendiri. Walaupun kenyataan akan berpihak padanya dan suatu hari rahasia besar tentang Yoonhee akan terbongkar, Nyonya Kim tidak ingin Yoonmi mengetahuinya sekarang. Tentu saja tidak, di saat-saat bahagianya bersama Donghae.

Eomma?”

“ Ah, ye?”

“ Aku ingin segera pulang dan bertemu dengan Yoonhee, aku jadi sangat merindukannya ketika berada di sini,setidaknya kalau di Seoul, walaupun aku tidak tinggal bersama dengannya,aku masih bisa menemuinya.”

“ Kau dan Donghae kan tidak selamanya berada di Paris, nikmati saja bulan madumu dan dia, jangan pikirkan kami. Yoonhee baik-baik saja.”

“ Baiklah, eomma, sudah dulu ya, Donghae sudah kembali, kami akan pergi ke Museum Louvre.”

“ Bersenang-senanglah di sana. Jaga dirimu baik-baik.”

Nyonya Kim baru saja akan meletakkan ponselnya di atas meja, ketika ada panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya. Ia mengerutkan dahinya melihat nomor asing itu, sebelum memutuskan mengangkat panggilan yang masuk.

Yeoboseyo?”

Selamat bertemu di pengadilan…”

Tut tut tut

“ Hye…Hyehwa.” Suara Nyoya Kim bergetar tatkala disadarinya siapa penelpon misterius yang baru saja menghubunginya. Ia tidak tahu kalau wanita yang menjadi sahabatnya selama belasan tahun itu akan menyeret keluarganya ke pengadilan.

“ Yoonhee, anak itu… Mianhae, Yoonmi, eomma tidak bisa menjaganya dengan baik.”

***

        “ Saya ingin bertemu dengan Nyonya Lee Jiyoung…”

“ Apakah anda yang bernama nona Jessica Jung?” Satpam yang berjaga di depan rumah kediaman keluarga Lee, bertanya sambil mencatat sesuatu di notes yang dipegangnya.

Ne, saya Jessica Jung.”

“ Baiklah, nona, silahkan masuk…” Satpam itu segera membuka pintu gerbang yang tingginya hampir mencapai 4 meter, membungkus rumah itu dari luar, memberikan kesan angkuh yang sempurna.

Jessica menjalankan mobilnya masuk melewati halaman rumah dan memarkirkan mobilnya bersebelahan dengan beberapa mobil lainnya di dalam garasi yang kapasitasnya cukup untuk lebih dari 10 mobil. Sebelum Jessica datang ke sini, nyonya Lee sudah memberitahukan kepadanya untuk bisa memarkirkan mobilnya di garasi pribadi keluarga Lee. Gadis itu sudah tahu di mana tempatnya, rumah itu tidak memiliki perubahan yang berarti, catnya pun masih diperbaharui dengan warna sama, hanya saja beberapa tanaman hias koleksi nyonya Lee, yang dulunya memenuhi hampir seluruh penjuru halaman sudah dipindahkan hampir seluruhnya ke domisilinya sekarang.

“ Silahkan tunggu di sini, nona. Anda menginginkan saya menjamu anda dengan hidangan seperti apa, nona jung?”

“ Teh hijau tanpa gula sedikitpun di dalamnya.”

“ Jessica kau sudah datang?”

Gadis dengan seragam pelayan itu berjalan menjauh dan membungkukkan badanya pada sang majikan yang berdiri tegas di depan sofa ruang kerja pribadinya, tempat ia dan Jessica janjian untuk bertemu setelah sepuluh tahun mereka habiskan dengan saling tidak berkomunikasi satu sama lainnya.

Mianhae, Jessica, aku memintamu datang ke sini. Apa kau menemui kesulitan saat mencari rumah ini?”

Merasa seperti tersindir, gadis itu hanya diam dan tersenyum dengan gaya arrogant yang menempel pada dirinya. Sepuluh tahun tidak menginjakkan kaki di rumah itu, tidak membuatnya lupa bagaimana caranya untuk ke pergi ke rmah itu sewaktu-waktu. Tentu bukan hal yang sulit untuknya, bahkan dalam mimpinya hampir setiap malam, Jessica melihat kaki-kakinya melangkah masuk ke dalam rumah itu, tangannya bertautan dengan tangan Donghae, berjalan bersama dengan senyuman yang tidak pernah lepas.

“ Tentu saja tidak, eommonim, rute jalan menuju rumah ini masih sangat jelas dalam ingatanku.”

“ Baguslah, kalau begitu aku bisa sering-sering memintamu datang ke sini.”

“ Eh?”

“ Hanya bercanda, tentu saja kau tetap boleh ke sini untuk bertemu dengan Donghae dan Yoonmi, namun pastinya aku tidak akan berada di sini.”

Kata-kata itu tanpa sadar sedikit menggoresnya, Donghae dan Yoonmi… entah perasaan macam apa yang sedang berkecamuk dalam dirinya. Perasaan tidak rela jelas mendominasi perasaan lainnya.

“ Jessica, bagaimana kabarmu? Santai saja, kita buat obrolan ini tidak berakhir kaku.”

“ Aku … tentu saja baik … bagaimana kabarmu, eommonim?”

“ Seperti yang kau lihat, Jessica, aku baik-baik saja, kapan kau pulang ke Seoul? Kenapa kau tidak langusng menemui Donghae? Jujur saja aku masih berharap kalian dapat bersatu lagi, coba saja kau datang terlebih dahulu…” menyadari perubahan raut wajah Jessica, menjadi lebih mendung, nyonya Lee memotong perkataannya yang terlalu spontan. “… ah, mianhaeyo, tidak seharusnya aku membahas hal yang tidak perlu.”

Gwenchana, eommonim.” Jessica bisa merasakan ada yang berkecamuk di dadanya, seketika itu ia merasa menyesal dengan keputusannya untuk melupakan Donghae, bahkan Nyonya Lee Jiyoung, yang sudah dianggapnya seperti ibunya sendiri, mengatakan secara terang tentang keinginan untuk menyatukan Donghae dan dirinya, sesuatu yang pada masa lalu pernah dibahas mereka bersama dalam suasana bercanda namun sebenarnya Jessica mengharapkan hal itu benar-benar terjadi.

“ Aku tahu tidak mudah memperbaiki semuanya menjadi sama, apalagi kalian berdua sudah berada dalam posisi dan kondisi yang berbeda, tetapi aku sudah menganggapmu seperti anakku sendiri, berarti kau sudah seperti saudara Donghae. Bukankah ada baiknya saudara mempunyai hubungan yang erat dan bukannya saling menjauh.”

“ Ehmm… untuk masalah itu, eommonim sepertinya aku…”

“ Aku tahu kau dan Donghae sudah bertemu beberapa kali, bahkan kau yang membantu pernikahannya, tetapi sepertinya kau dan dia seperti dua orang yang tidak saling mengenal satu sama lainnya.”

“ Aku…”

“ Jessica tolong jaga Donghae.” Nyonya Lee memotong perkataan Jessica dan membuat gadis itu terkejut dengan apa yang didengarnya.

Mianhamnida, eommonim, aku tidak mengerti… menjaga?”

“ Jessica, bagaimanapun juga, kau adalah satu-satunya gadis yang kupercayai untuk Donghae, maksudku bukan aku tidak mempercayai Yoonmi, tapi dia dan Donghae belum lama saling mengenal, walaupun latar belakang gadis itu baik, tapi…”

“ Aku mengerti, eommonim… aku akan menjaganya.”

Perasaan lega menyusup ke dalam dadanya. Kesempatannya untuk bisa bersama dengan Donghae kembali terbuka lebar.

***

        “ Jangan pulang terlalu malam. “ Minho tersenyum kecil, kemudian mengangguk patuh.

“ Tenang saja, eomma, aku tidak akan pulang malam-malam.”

“ Permisi ahjumma, selamat malam…”

Yoonhee melangkah menujur motor pria itu yang terparkir di halaman depan rumahnya. Minho menyerahkan helm fullface ke arah gadis itu dan disambut dengan tangan kanan Yoonhee yang bebas sementara tangan kirinya mencari pijakan pada bahu Minho, membantunya naik ke atas motor.

Nyonya Kim memandang kepergian Yoonhee dengan tatapan berbeda. Ada kekhawatiran tersendiri yang menyusup ke dalam dadanya, semenjak ancaman Hyehwa datang, hidupnya tidak lagi digandrungi oleh ketenangan, walaupun selama ini ia tidak pernah menganggap serius ancaman Hyehwa yang ditujukan padanya perihal status Yoonhee, tetapi mau tidak mau sekarang sesuatu yang dulunya dianggap hanya gertakan biasa olehnya, berubah menjadi suatu ancaman yang cukup serius.

Ditambah lagi dengan keberanian wanita itu menunjukkan dirinya di depan Yoonhee, sudah pasti ada sesuatu yang membuat wanita itu begitu yakin Yooonhee akan kembali padanya. Peringatan dari Hyehwa padanya tadi siang tak urung menjadikan hatinya diliputi kegelisahan, bukan hanya takut wanita itu akan mengambil Yoonhee, tetapi hal yang paling ditakutkannya adalah mengenai kebehagaian Yoonmi. Bagaimana reaksi gadis itu jika ia tahu, Yoonhee bukan darah dagignya sendiri? Seberapa banyak rasa benci akan dilontarkan Yoonmi padanya?

Walaupun sebenarnya, wanita itu cukup merasa lega jika Hyehwa akan mengambil Yoonhee kembali, itu pertanda kebahagiaan Yoonmi akan sempurna tanpa bayang-bayang masa lalunya yang kelam. Namun yang harus dipikirkan olehnya adalah bagaimana cara memberitahukan Yoonmi hal yang sebenarnya, tanpa membuat gadis itu tertekan. Apalagi Yoonmi baru saja mendapatkan kebahagiaannya dengan pria yang tepat. Semuanya terasa sempurna jika saja ia tidak harus terus-menerus lari dan menyembunyikan identitas asli anak itu.

Nyonya Kim memutuskan untuk melangkah masuk ke dalam rumah setelah Minho dan Yoonhee tidak lagi kelihatan dalam jarak pandangnya. Di luar pagar, di dalam sebuah mobil, wanita itu tersenyum samar, melihat kepergian Yoonhee.

“ Jalan…” sang pengemudi menurut, ia mulai melajukan benda beroda empat itu menyusuri jalan beraspal, menggeser debu-debu halus dari permukaan.

***

        “ Harusnya kita ke sini pada siang hari…” Yoonhee merapatkan mantel yang membungkus tubuhnya, menahan angin malam yang menusuk tubuhnya.

“ Sebenarnya bukan ke tempat ini tujuan utamaku.”

Yoonhe menoleh pada pria yang sedang berjalan santai di sampingnya. Wajah pria itu kelihatan tenang dan tidak menunjukkan tanda-tanda lelah atau semacamnya. Sedangkan Yoonhee harus mati-matian menahan tubuhnya yang bergetar.

“ Lalu kenapa kau mengajakku ke sini?”

Pria itu hanya menjawabnya dengan senyuman, senyuman kahas seorang Choi Minho. Yoonhee sedikit terpana melihatnya, bukan pertama kalinya ia mendapatkan jenis senyuman seperti itu, namun entah mengapa, dengan bantuan suasana yang berbeda dari tempat biasa ia dapat menyaksikan senyum itu, Yoonhee merasa senyum itu mampu membawa kehangatan kepadanya.

“ Aku ingin menuliskan sesuatu… tentangmu…”

Yoonhee tidak mempu membalas perkataan pria itu. Ia memalingkan wajahnya ke arah kiri, di mana seharusnya pohon-pohon dengan daun berwarna cokelat kekuningan sedang menggugurkan daunnya, pemandangan indah yang bisa didapatkannya ketika mengunjungi tempat itu pada siang hari. Namun sekarang ia mengunjunginya pada malam hari, ketika sang surya tak lagi bersinar dengan indahnya, digantikan oleh tugas sang rembulan menemani kegelapan malam, membuat guguran daun-daun itu hanya terlihat samar-samar dalam gelap.

Yoonhee memutuskan untuk melanjutkan langkahnya menyusul Minho yang sudah menjauh, sepertinya pria itu tidak menyadari kalau dirinya berhenti untuk sekedar menyapa guguran daun yang terlihat seperti bayangan. Yoonhee baru menapakkan kakinya ke anak tangga berikutnya, ketika ia mereasa seperti ada sosok lain yang sedang mengawasinya. Yoonhee menolehkan kepalanya ke belakang. Tatapannya terkunci di sana.

Di tengah guguran daun maple berwarna merah muda, seorang wanita dengan senyuman khasnya, seolah menyadari tatapan mata gadis itu yang tengah mengarah padanya, wanita itu membuka kaca mata hitamnya, menampilkan sepasang tatapan mata itu, seperti hendak mengatakan sesuatu.

“ Di… dia…” Yoonhee membalikkan matanya, menghindari tatapan mata yang menghujamnya. Seketika itu juga perasaannya diliputi keresahan.

***

Minho Pov

Aku tidak tahu apa yang sedang ditulis olehnya dan aku penasaran. Baiklah, memang aku selalu penasaran dengan segala macam hal yang berhubungan dengannya. Termasuk apa yang sedang ditulisnya di dimensi berbentuk hati itu, sesuatu yang baik tentangku atau malah sesuatu yang buruk?

Aku menoleh ke arahnya, lebih tepatnya ke arah sesuatu yang sedang ditulisnya, tetapi dengan cepat gadis itu segera menjauhkan tulisannya dari jarak pandangku.

“ Kau tidak boleh melihatnya, Minho. Kita sudah berjanji tadi untuk tidak saling melihat tulisan satu sama lain. Biarkan ini menjadi rahasia.”

“ Baiklah, nona Kim. Sesuai dengan perjanjian kita baru boleh melihatnya ketika kita kembali ke tempat ini nanti.”

Namsan Tower…

Entah kenapa tiba-tiba aku tertarik membawanya ke sini, tetarik menggantungkan tulisan-tulisan dalam gembok yang nantinya akan digantungkan di tempat berisi ratusan gembok lainnya. Selain itu tujuan utamaku adalah aku ingin tahu apa yang dituliskannya tentangku, selama ini ia menutupinya dengan baik, sehingga aku tidak tahu bagaimana diriku di matanya.

“ Minho…”

“ Nde?”

“ Sebenarnya bagaimana statusku di matamu?”

Kata-katanya sukses membuatku berhenti menulis, aku melihat ke arahnya, wajahnya diliputi mendung dan entah mengapa ekspresinya saat ini turut melukaiku.

“ Sta…”

“ Tadi siang saat aku bertanya apakah kau mencintaiku atau tidak, kau bilang ya, lalu kenapa tidak kau katakan saja? Kau pikir hubungan macam apa yang kita jalani saat ini?”

Yoonhee memotong perkataanku dengan suara yang bergetar, kemudian mengalihkan pandangannya dariku. Tanpa harus melihatnya langsung, aku tahu butiran bening itu sudah mengalir di pipinya. Aku memang benar-benar bodoh dan tidak peka. Dia merasa sakit, namun aku tidak pernah menyadarinya.

“ Aku tidak bermaksud menyakitmu, Yoonhee, maafkan aku.”

Aku menyentuh pundaknya dan hendak membalik badannya, ketika ia menepis tanganku, dengan kasar.

“ Lupakan…” gadis itu menghapus air matanya dan kembali melanjutkan kegiatannya, seolah-olah kata itu tidak pernah diucapkannya.

Aku tidak bisa melakukan apapun selain diam, apa yang dikatakannya memang benar. Aku berjanji pada diriku sendiri dan pada dirimu, Yoonhee, aku akan melakukan apapun yang membuatmu bahagia, semampu yang aku bisa.

“ Kau sudah selesai?”

“ Ah, ne…”

Yoonhee bertanya dengan senyuman di wajahnya, air mata itu sudah hilang, namun kesedihannya tidak. Bisa terlihat jelas di matanya, semua yang terpendam di hatinya dan itu semua karena diriku.

Kajja… kita ke sana.”

Yoonhee berjalan mendahuluiku, suasana canggung kembali menguasai kami berdua. Tidak ada jalan lain, aku harus segera berdamai dengan Saena noona, untuk bisa menjalankan misiku, tapi bukan hanya karena Yoonhee aku ingin berdamai dengan noonaku itu, melainkan aku tidak tahan lama-lama marahan dengannya.

Perubahan sifatnya yang semakin sensitif ini mungkin disebabkan oleh perasaannya sendiri dan aku sampai saat ini masih belum tahu apa yang harus aku lakukan untuk membuatnya berpaling dari Donghae. Harusnya sejak awal aku tahu Saena noona mempunyai perasaan khusus pada Donghae, pria yang sekarang berstatus kakak ipar Yoonhee, setidaknya sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan dan semuanya sekarang terlambat.

Aku terkadang tidak mengerti dengan jalan pikiran Saena noona, apa yang diharapkannya dari pria yang sudah mempunyai istri?

“ Di mana kita akan meletakkan gembok ini ? Semua tempat sepertinya penuh.”

“ Ah, nde?”

“ Sepertinya ada yang sedang kau pikirkan.”

“ Kau bertanya apa tadi? Di mana kita akan meletakkannya?” Aku sengaja mengindar dari pertanyaannya, itu sama saja akan membuat kami berdua kembali ke permasalahan yang tadi. Aku tidak ingin melihatnya bersedih, tidak lagi.

“ Ah… di sini…”

Aku secara tidak sengaja menemukan tempat di antara ratusan gembok lainnya, tempat yang agak terpencil dan menyudut, membuatnya tulisan kami bukan menjadi yang istimewa diantara yang lainnya. Bukan masalah untukku, aku sudah hafal dengan jenis goresan tangannya, oleh karena itu tidak akan sulit bagiku untuk menemukan gemboknya suatu saat nanti jika kami kembali ke sini.

“ Kapan ya kita akan kembali lagi ke sini?”

“ Suatu saat nanti, aku akan membawamu kembali ke sini.”

End of the pov

Yoonhee Pov

Sesuatu selalu terjadi ketika aku memandang senyuman itu…

Sesuatu yang bisa membuatku menatapnya tanpa henti, bahkan tanpa berkedip, seolah-olah mataku telah kebal terhadap udara dan debu yang seharusnya membuatnya menjadi perih.

“ Kau sudah selesai, Yoonhee? ”

“ Ah… tunggu sebentar.” Aku menggantung gembok berisi tulisanku di sebelah gemboknya, membuat gembok kami berbaur dengan ratusan gembok lainnya.

Hari ini sudah dua kali aku mempermalukan diriku sendiri di depannya. Pertama, tanpa sengaja aku menangis, walaupun aku berusaha menyembunyikan air mataku darinya, ia pasti tetap mengetahuinya. Mengetahui bahwa aku menangis… karenanya. Kedua, aku kembali terpesona ketika menatapnya, tatapannya, senyumannya, semua yang ada… padanya.

“ Aku sudah selesai.”

Mataku bisa menangkap sosok lain, berdiri di sana. Menatapku dengan tatapan matanya yang sama, mengerikan. Sosok yang sama yang kutemui kemarin, sosok yang sama juga yang memberikan senyumannya padaku tadi. Senyumannya mematikan, seolah-olah ada sesuatu dibalik senyum itu. Menyuruhku untuk… lari…

“ Yoonhee, kau kenapa? Yo…” Minho berusaha menyentuhku, tetapi mataku terus terpaku pada sosok wanita itu.

Aku memundurkan tubuhku beberapa langkah. Aku merasakan tubuhku menabrak seseorang, orang itu berteriak kesal padaku, tapi mulutku terkunci untuk sekedar meminta maaf. Tubuhku secara refleks berlari, pikiranku seolah kosong. Tidak lagi kupedulikan teriakan Minho yang terus memanggil namaku, ataupun umpatan dan teriakan orang-orang yang tanpa sengaja kutabrak karena aku terus menoleh ke belakang ketika berlari. Takut kalau wanita itu akan mengejarku.

“ KIM YOONHEE!”

***

        “ Aku takut, Minho… aku takut, dia seolah-olah mengejarku.”

Aku menangis dalam pelukannya…

Kali ini aku membiarkannya melihat air mataku, aku bahkan tidak tahu mengapa aku menangis. Aku terlalu merasa takut… Takut dalam hal apa? Wanita itu sepertinya tahu dimanapun aku berada. Sampai sekarang aku masih mempertanyakan apa yang dikatakannya padaku, aku tidak ingin percaya, namun entah mengapa hatiku berkata lain.

“ Sssttt… uljima, aku tidak akan kemana-mana, aku yang akan menjagamu. Siapa dia?”

“ Di… dia…”

Aku masih ragu untuk menceritakan hal itu padanya, karena aku masih tidak yakin wanita itu adalah ibu kandungku. Bagaimana ia bisa mengaku seperti itu?

“ Baiklah kalau kau masih belum bisa menceritakannya, Yoonhee, aku pasti melindungimu, jangan menangis lagi.”

Untunglah masih ada Minho, pria yang bahkan menggantungkan statusku. Membuatku benar-benar meragukan cintanya, tetapi aku tidak tahu apa yang membuatku yakin untuk tetao bertahan, walaupun aku tidak tahu sampai kapan statusku akan berubah menjadi kekasihnya. Tetapi untuk saat ini aku benar-benar membutuhkannya.

“ Tunggu aku,Yoonhee…”

“ Apa?”

Aku melepaskan pelukannya dan memandang lurus ke arahnya, aku yakin ia menggumamkan satu kalimat, tapi aku tidak mendengar dengan jelas apa yang diucapkannya.

“ Tidak ada…” ia tersenyum dan seperti yang sudah-sudah aku merasa semua kegelisahanku pergi. Cukup ada dia… cukup bersamanya.

“ Sekarang apa yang akan kita lakukan?”

Minho melirik jam tangannya dan ekspresinya sedikit berubah.

“ Jam 9 malam… Sebenarnya aku masih ingin bersamamu, Yoonhee, tapi aku harus mengantarkanmu pulang.”

“ Baiklah…”

Sejujurnya aku masih ingin lebih dalam lagi dalam pelukannya, tapi aku tahu saat ini tidak ada tempat yang lebih aman daripada rumah, mungkin saja wanita itu akan kembali. Lagipula aku tidak bisa membiarkan eomma khawatir padaku, karena pulang terlalu larut.

“ Yoonhee…”

Nde?”

Saranghae…”

End of the Pov

***

Author Pov

A few days later…

Suara mesin pengering rambut memenuhi kamar Yoonhee, gadis itu terlalu larut dalam dunianya, sehingga tidak sadar ada seseorang yang melangkah masuk ke dalam kamarnya.

“ Yoonhee…”

Gadis itu tidak menjawab panggilan orang itu, suaranya larut bersama bunyi dengungan mesin yang mempengaruhi indera pendengarannya untuk tidak menangkap suara lainnya.

Ouch…” Yoonhee tersentak dan menoleh ke belakang dengan raut wajah kesal sekaligus kaget karena tiba-tiba benda itu berpindah dari tangannya.

Eommaaaa…”

Nyonya Kim mematikan benda itu dan meletakkannya di meja. Ia melipat kedua tangannya di dada. Bersiap untuk marah.

“ Kenapa dimatikan hair dryernya?”

“ Kau tidak mendengar panggilan eomma.”

Mianhae… ada apa eomma?”

“ Hari ini eonnimu akan pulang, apa kau mau ikut menjemputnya?”

Yoonhee terdiam sebelum akhirnya gadis itu memberikan jawaban tidak lewat bahasa tubuhnya.

“ Kenapa tidak? Apa kau tidak merindukannya? ”

“ Aku ada ujian hari ini di jam terakhir, eomma, aku tidak mungkin bisa izin pulang cepat.”

“ Baiklah kalau begitu…”

Begitu nyonya Kim melangkah keluar dari sana, Yoonhee menghembuskan nafasnya kuat-kuat. Ia berbohong… tidak ada ujian apapun di jam terakhir, bahkan hari ini tidak ada kejadian penting yang bisa menuntutnya untuk masuk sekolah, ia bisa saja meminta izin satu hari untuk tidak masuk.

Tetapi sejak ia bertemu dengan wanita itu, entah mengapa ia tidak bisa mempercayai keluarganya lagi. Bukan berarti perkataan wanita itu bisa dipercayai, bahkan ketakutan masih menguasainya ketika ia harus berhadapan langsung dengan wanita itu. Sesuatu yang lain, membuatnya hatinya diliputi keraguan luar biasa, tidak bisa membuatnya bersikap sama terhadap Yoonmi.

Yoonhee bisa bernafas lega selama beberapa hari ini karena wanita itu tidak lagi mengikutinya, tidak muncul di dalam jangkauan pandangnya. Yoonhee terbebas dari sensasi dingin yang menyisir setiap lekuk tubuhnya ketika ia terpaku untuk melihat senyuman wanita itu.

***

To Be Continued

Next Whether I Hate You or Not Series : Chapter 10B- Your Heart… is hollow inside

 

Yihaaaaaaaa janjinya Januari kelar tapinya malah udah mau akhir Januari baru ngepost setengah chapter -___-‘. Maaf ya semua, lagi2 aku entah kenapa belakangan didera WB alias Writing Block alias ide ada mood ga ada T.T

Oh iya kenapa chapter ini aku bagi dua? Ga tau kenapa ini ff pertama yang bikin aku ngetik panjangggg banget eh berasa baru ngetik berapa halaman -__- jadinya panjang chapter ini melebihi target aku, panjangnya mungkin sama kayak Sweet Moment, hayoo udah pada baca belom? Itu full HaeMi moment lohhh dan jangan bingung yang di chapter ini yang banyak dibahas MinYoon couple soalnyaini chapter terakhir konflik utama mereka sebelum di The Cruel Destiny. Sisanya bakalan fokus ke HaeMiSicaNa😀

Aku udah mutusin selama masa hiatus awal aku terhitung bulan februari aku akan publish beberapa ff bawah ini :

1.Whether I Hate You or Not : Chapter 10 B │Chapter 11( A │ B)  │Chapter 12 │ Chapter 13 │Chapter 14 │Chapter 15 (A│B) │Chapter 16- END

2. Only in a dream?! Right?! (Ficlet)

3. Childish Love ( Twoshoot)

4. The Cruel Destiny – Preview

Sebenernya mulai minggu depan aku udah mau hiatus total alias ga ngepost apa-apa, negtik sih mungkin masih nyolong2😄 abisnya aku berat juga hiatus lima bulan T.T padahal ff itu udah jadi hobi aku, jadi palingan selama aku hiatus aku bakalan ngepost drabble2 gaje atau ficlet atau paling panjang Oneshoot sebagai pelampiasan stress😄 tapi bulan Maret-April kemungkinan aku ga akan ngepost apa2 karena sibuk pacaran ama buku ^^v

Doain aku yang semuanyaa supaya bisa lulus dengan nilai terbaik *amin😀

25 thoughts on “[Korean Fanfiction/Straight/Series] Whether I Hate You or Not (Chapter 10A)

  1. Jd kasihan lihat yoonhee. Spt smua org menyembunyikan kebenaran krn takut kehilangan utk org yg disayanginya. Pdhl klo ada kejujuran, kebahagian yg didpt akan lbh besar. Ga bisa komen apa lagi, dtunggu kisah berikutnya ya.

    • Annyeong eonni😀
      Hehehehe iya eonn emang awalnya dtutupin tapi nanti di chapter 10 B sama chap 11 ada kok penjelasannya heheheh ^^V

      sip deh eonni
      makasih udah bc+ komen ya eon😀

  2. tuh kan yoonhee bukan anaknya yoonmi terus dimana anaknya yoonmi???
    kasian yoonhee galau mau percaya sama siapa, “keluarganya” atau ahjumma yg ngaku eommanya
    aduh……eommanya donghae lebih percaya ke sica, kasian yoonmi dong
    mana sica mau ngerebut si donghae lagi
    ditunggu lanjutannya saeng

    • di mana ya eonnn? *plak
      Yah di chap ini memang chap khusus galau2annya dua kopel samping eon😀

      iya eonnn aku juga ga abis pikir kok eommanya Donghae malah percaya ama Jessica *plak
      tapi eonn ini nanti menimbulkan konflik yang besar loh di chap 11 >.<

      sip deh eonni
      makasih udah baca + komen eon😀

    • iyaa dong saeng itu kan kelebihan aku *plak *malah GR
      hahaha aku mah emng demen saeng bkin konflik yang gtu deh
      ribeeeeetttt banget ampe akunya bingung kadang2 *bagaimanaini

      oke saeng
      makasih udah baca + komen😀

  3. ah… skrg aku mulai ngerti yoonhee anak siapa. makin rumit ceritanya. banyak kebohongan bertebaran hahahha tp bikin seru
    kasian yoonmi nti klo tau yoonhee malah bkn anaknya T__T apalagi ibunya hae msh rada2 -___-
    langsung lanjut aja deh ya ^^

  4. Yoonhee yg awalnya selalu bersikap egois dan mau menang sendiri akhirnya ngerasain yg namanya kesakita / kepahitan hidup ..
    Next mnungkin yoonhee bisa belajar setidaknya untuk kedepannya …
    Minho yg selalu ingin ngelindungin saena jadi malah berantem .. Hadeehhh sabar yeii minho-ya …

  5. hmmm…
    jessica makin seneng tuh rencana nya buat ngrebut donghae bakal sukses…
    smoga hae ma yoonmi bisa bertahan..
    dan ortu asli yoonhee bakal terkuak..

  6. oke selagi masih nunggu dpt password dr eonni..saya tetep izin baca walaupun loncat2..abis ceritanya bikin penasaran..izin lanjut baca ya eon *pyong**ilang*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s