[Korean Fanfiction/Straight/Series] Whether I Hate You or Not (Chapter 11A)

Cover ff Whether I Hate You or Not chapter 11A

Title                       : Whether I hate you or not

Author                  : Kim Sae na a.k.a Devi

Rating                   : PG13/NC17/Straight/Series/On Writing

Genre                   : Romance/Angst/Tragedy/Family/Life

Cast                       :

Main Cast            :

Super junior – Lee Donghae

Kim Yoonmi

Choi Saena (OC)

Support cast           :

SHINee – Choi Minho, Kim Jonghyun

Kim Yoonhee(OC)

Other Cast : FIND BY YOURSELF!

Disclaimer          : Super junior,SHINee, and SNSD  are belong to God,SM Entertaiment,and their parents. The Original Character is mine. This fanfic is just for fun. Please No Bash! and please don’t sue me.If you don’t like this fanfic. Please don’t read. This story is mine.Don’t take this fanfic without permission from me. If you want to take this fanfic.Please take with full credit.          

Warning               : Lolicon,a little bit violence and NC 

Author Notes : Baca cuap2 aku di bawah ^___^

Chapter 11A – Beautiful Mistake                

#NP

Nam Gyuri – That Man

Nu’est – Not Over You

Super Junior – It’s You

Terkadang kita salah mengartikan sesuatu sebagai cinta, padahal sesuatu itu hanyalah ketertarikkan dan emosi sesaat…

***

You may be over me but I’m not over you
How can I forget you that easily? It’s still really hard
Even if a long time passed
The reality was just the same
We used to be one – I want you back

Author Pov

“ Aku rasa kemarin kau terlalu keras pada eommonim…”

Yoonmi mengaduk-aduk makanan di piringnya, seharian ini ia tidak semangat melakukan aktivitas apapun, bahkan ia terpaksa tidak masuk ke kantor. Kalaupun hari ini ia masuk, ia hanya akan melamun sepanjang hari dan tidak konsentrasi kerja, jadi Donghae memberinya libur satu hari untuk memulihkan pikirannya.

“Aku hanya… molla, hae… aku begitu mencintai Yoonhee, aku meninggalkannya selama belasan tahun bersama eomma dan appa, demi mengejar kepentinganku sendiri. Aku berusaha menebus kesalahanku padanya, bagaimana jika… bagaimana jika dia bukan putri kandungku? Lalu dimana dia?”

Yoonmi menundukkan wajahnya, menatap taplak meja yang menghiasi meja makannya. Kristal bening itu jatuh dari sudut matanya, membuat titik-titik kecil di atas taplak meja itu. Donghae meraih Yoonmi ke dalam pelukannya, tangisan gadis itu semakin keras, disertai isakan-isakan kecil yang keluar dari bibirnya. Donghae mengusap punggung gadis itu perlahan.

“ Semuanya pasti memiliki penjelasan, chagi. Eommonim pasti punya alasan kenapa ia dipanggil ke pengadilan. Belum tentu semua tuduhan itu benar.”

“ Tapi bagaimana aku harus menghadapi semua ini, hae? Bagaimana kalau eomma harus masuk penjara?”

“ Ssssttt… tenang, chagi semuanya pasti akan baik-baik saja. Aku akan membantu eommonim dalam menyelesaikan kasus ini, tapi kau harus tenangkan dirimu dan bicaralah baik-baik pada eommonim.”

Yoonmi mengusap air matanya, ia melingkarkan tangannya ke pinggang pria itu dan membenamkan wajahnya di tubuh Donghae.

“ Aku akan membantumu, Yoonmi-ah. Aku janji.”

“ Mungkin besok aku akan mencoba untuk berbicara dengan eomma lagi, aku harus tahu yang sebenarnya, hae. Aku tidak bisa hidup dalam tanda tanya selama terus-menerus, aku tidak tahu apa eomma berbohong atau tidak padaku, tapi yang jelas dan yang ingin kutahu adalah siapa Yoonhee sebenarnya.”

“ Lalu setelah kau tahu, apa yang akan kau lakukan dengannya? Kau sudah sangat menyayanginya, bukankah begitu?”

Mollayo, setelah aku mengetahui semuanya, aku baru bisa menentukan sikapku ke depannya.”

Whether I Hate You or Not │©2011-2012-2013 by Ksaena

Chapter 11A – Beautiful Mistake

ALL RIGHT RESERVED

        “ APA KAU BILANG?”

Tuan Kim melonggarkan ikatan dasinya, tatapannya lurus mengarah pada sang istri yang menangis di hadapannya. Ia baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah setelah dua hari tugas di luar kota. Fisik dan pikirannya masih lelah dan perlu mendapat istirahat yang cukup, tetapi apa yang didapatkannya ketika pulang ke rumah?

Istrinya yang menangis tersedu-sedu dan membawa kabar buruk untuknya. Hyehwa menuntut istrinya ke pengadilan untuk memperebutkan Hak Asuh Anak. Lelucon macam apa yang sebenarnya sedang terjadi.

“ Hyehwa, wanita itu, menuntut hak asuh Yoonhee kembali padanya, apa yang harus aku lakukan? Kemarin Yoonmi membaca surat itu dan sekarang ia membenciku.”

Tuan Kim menghembuskan nafas berat melihat kondisi istrinya saat ini, dari matanya yang bengkak dan memerah, bisa diketahui wanita itu telah menangis dalam jangka waktu yang lama.

“ Biar aku yang berbicara pada Hyehwa, sepertinya tidak ada jalan lain untuk menghadapi masalah ini selain mengembalikan apa yang menjadi haknya.

“ Maksudmu, kita harus membiarkannya mengambil Yoonhee? Itu maksudmu?”

Tuan Kim meletakkan tangan pada pundak istrinya itu, memberikan kekuatan padanya. Pria itu mengambil tempat di sebelah istrinya dan memindahkan tangannya dari pundak ke tangan istrinya, menggengamnya erat. Sejak awal, keputusan istrinya untuk menyembunyikan anak itu adalah salah, membuat kebohongan selama tujuh belas tahun bukanlah pilihan yang tepat.

Perasan bersalah menyelusup ke dalam hati pria itu. Bagaimana pun juga ia memiliki andil yang besar dalam masalah ini. Melibatkan putri kandung semata wayangnya, istrinya, serta anak yang dilahirkan Yoonmi, yang seharusnya menjadi cucunya, namun hal itu selalu ditepisnya. Bagaikan hidup dalam sandiwara selamanya.

“ Bicaralah jujur pada Yoonmi, ia sudah menikah sekarang, ia bukan lagi anak kecil yang bisa kau bohongi. Ia sudah dewasa untuk tahu segalanya, kita tidak bisa menyembunyikan identitas Yoonhee selamanya.”

“ Tapi bagaimana kalau Yoonmi akan membenciku? Aku tidak sanggup kehilangan anakku.”

“ Aku juga bersalah, aku akan berbicara pada Yoonmi, aku tahu dia adalah gadis yang tegar dan dewasa, ia tidak akan marah selama itu. Ia pasti bisa mengerti kenapa kita melakukan semua itu untuknya.”

“ Lalu bagaimana jika Yoonmi menanyakan anak kandungnya? Aku bahkan tidak tahu di mana anak itu berada sekarang.”

“ Yoonmi tidak usah mencari anak itu. Itu sama saja akan mengganggu masa depannya yang mulai terbentuk bersama suaminya, anak itu hanya akan membayangi langkahnya dengan perbuatan masa lalunya yang kelam. Dia sudah melangkah sejauh ini, aku tidak ingin ia kembali mengingat apa yang seharusnya sudah dilupakannya.”

“ Tapi aku tahu persis bagaimana Yoonmi sangat mencintai Yoonhee bahkan mungkin melebihi cintanya pada dirinya sendiri, Yoonmi akan sangat tertekan kalau ia tahu Yoonhee bukanlah anak kandungnya. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Yoonmi… mianhae… maafkan eomma,Yoonmi.”

***

        “ Jika kulihat dari ekspresimu, aku yakin pasti kau berhasil.”

Minho melangkah cepat menghampiri Saena yang sedang menekuni buku di hadapannya, tapi pria itu yakin Saena tidak benar-benar konsentrasi membacanya, karena gadis itu tahu saat pria itu membuka pintu dan melangkah masuk.

“ Tebakanmu benar, noona… Kau tahu, baru kali ini aku membuatnya menangis karena bahagia!”

“ Berarti selama ini kau membuatnya menangis karena menderita? Ouch… Aku tidak menyangka kau sejahat itu, katanya kau mencintai gadis itu, lalu kenapa kau membuatnya menangis?”

Minho mendekati Saena dan meraih buku yang menjadi fokus utama pandangan gadis itu. Saena menoleh dan melihat wajah pria itu, senyumannya terasa berbeda. Ada kebahagiaan luar biasa yang tercipta di sana. Saena ikut tersenyum melihatnya, ia merasa bahagia karena ia telah berhasil membuat Minho kembali memamerkan senyumannya yang seperti itu.

Saena hampir-hampir tidak pernah lagi melihat senyuman itu sejak Minho mengenal Yoonhee. Saena menyadari, ia adalah salah satu gadis yang menghapuskan senyuman itu dari wajah Minho dan sekarang ia merasa lega telah berhasil mengembalikan senyuman itu di wajahnya. Yoonhee, gadis yang membuat adiknya tertawa sekaligus menangis di saat bersamaan.

Noona, kau telah membantuku… Terima kasih…” Minho meraih gadis itu ke dalam pelukannya. Saena membalas pelukan Minho, entah emngapa ia merasa pelukan pria itu menjadi jauh lebih hangat dari biasanya. Saena memejamkan matanya, menikmati harum tubuh pria itu.

“ Itu sudah menjadi tugasku untuk membuatmu bahagia, Minho-ah… Jangan sungkan dalam meminta bantuanku.”

“ Sekarang giliranku untuk membuatmu bahagia, noona.”

Saena tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia tidak menginginkan hal lain di dunia ini selain dua hal. Pertama, benar-benar menjadi anak kandung keluarga Choi. Kedua, mendapatkan Lee Donghae sepenuhnya. Saena tahu persis Minho tidak bisa mengabulkan keduanya, bahkan mengabulkan salah satu diantaranya.

Ada bagian yang hilang dalam diri pria itu ketika melihat senyuman kepedihan yang dilemparkan Saena. Minho bisa menebak apa yang diinginkan gadis itu. Ia sendiri tidak akan setuju dengan keinginan kakaknya yang terlalu mustahil. Tidak mungkin ia membiarkan kakaknya mendekati pria yang bahkan sudah memiliki kehidupannya sendiri. Saena tidak punya tempat di hati dan di hidup pria itu. Entah mengapa itu semua menjadi sesuatu yang menyakitkan untuknya.

“ Minho,ini adalah sebagian kecil dari permintaanku, aku ingin Donghae menjadi bagian dalam panggung sandiwara hidupku.”

Minho tahu tebakannya tidak salah tentang hal itu.

***

        “ Jadi kau sudah mendapatkan surat panggilanku?”

Dua orang yang berhadapan, saling menggali kekakuan dan kebisuaan. Bagaikan dua orang yang tidak pernah saling bertemu padahal mereka pernah saling terikat sebuah hubungan. Hubungan yang istimewa, begitu dekat dan erat, hubungan yang dinamakan ‘persahabatan.’ Dua orang itu kini saling melemparkan tatapan satu sama lainnya, salah satu diantara mereka memerkan senyum kemenangan.

Senyuman yang jarang dipamerkannya pada orang lain. Selama ini tertutup oleh dusta dan kebencian yang dipupuknya setiap saat, berakar di hatinya, tumbuh menjadi selubung yang mengikat dirinya menjadi satu pribadi yang berbeda dari sebelumnya, sehingga ia menjadi sulit dikenali, termasuk oleh pria yang berada di hadapannya saat ini.

“ Kau banyak mengalami perubahan Hyehwa, aku tidak menyangka berpisah dari keluargamu yang begitu sempurna, akan membuatmu menjadi seperti ini. Berbisa…”

“ Huh… Aku sudah bukan menjadi bagian dari keluarga itu lagi. Lagipula bukan itu kan yang membawamu untuk bertemu denganku di sini?”

“ Aku hanya ingin membicarakan perihal surat panggilan itu…”

“ Seperti yang sudah kuduga, jadi bagaimana kau akan datang menemani istrimu itu kan minggu depan?”

“ Tidka bisakah kau mencabut tuntutan itu? Aku akan berbicara pada istriku untuk segera mengembalikan Yoonhee padamu, tanpa jalan hukum.”

“ Hhh… Kau pikir aku akan percaya? Sayang sekali Tuan Kim, bertahun-tahun aku mengenal keluargamu, aku sudah sangat hafal bagaimana karakter kalian. Kalian tidak akan pernah mengembalikan Yoonhee padaku, kecuali dengan jalan paksaan seperti ini.”

Wanita itu mengambil cangkir di depannya, meminum isinya dalam diam, senyuman tidak pernah terlepas dari wajahnya. Berbanding terbalik dengan pria yang berada di hadapannya, pria itu tidak menyentuh minumannya sama sekali, cairan kental kehitaman itu hanya menemani masa gelisahnya. Wajah pria itu pucat pasi, merasa gentar dengan perkataan wanita itu.

“ Baiklah kalau kau merasa sudah menang, Hyehwa… Tapi bukankah Yoonhee sudah cukup dewasa untuk menentukkan masa depannya?”

Hyehwa mengerutkan dahinya dan meletakkan cangkir yang dipegangnya ke tempat semula.

“ Apa maksudmu?”

“ Kalau kau menuntut hak asuhnya ketika ia masih kecil, kemungkinan besar kau akan menang, tetapi Yoonhee sudah cukup dewasa untuk bisa menentukan siapa yang akan ia pilih. Kau pikir ia mau hidup bersama seseorang asing yang mengaku sebagai ibunya tapi pada kenyataan, wanita itu juga yang meninggalkannya selama tujuh belas tahun. Sedangkan kami merawatnya selama tujuh belas tahun dengan kasih sayang melimpah, kau pikir siapa yang akan ia pilih kalau begitu?”

Wanita itu kehilangan senyumannya, matanya menatap tajam pada pria paruh baya yang kini melemparkan senyuman padanya. Satu sama satu, bagaikan jam pasir yang diterbalikan, saling mengisi dua sisi yang berbeda dalam ritme yang bergantian.

“ Kita lihat saja nanti, Yoonhee akan kembali padaku cepat atau lambat.”

***

Yoonmi Pov

Aku meremas jari-jariku dan menunduk dalam diam. Eomma masih menangis di hadapanku, entah sudah berapa lama hal itu dilakukannya sejak kemarin. Donghae, tentu saja tidak bisa menemaniku hari ini karena aku masih izin untuk tidak masuk ke kantor sedangkan dia sebagai Presdir tidak mungkin ikut-ikutan bolos, sudah mengantarkanku sejak pagi ke rumah.

Tidak ada yang benar-benar aku lakukan sejak tadi, aku dan eomma bahkan baru bertemu beberapa menit yang lalu. Karena sewaktu aku datang eomma sedang pergi jadi aku harus menunggunya selama enam jam dalam kebosanan. Tapi setidaknya enam jam itu cukup untukku menyiapkan mental lagi setelah semalam Donghae memelukku dan terus-menerus berkata ‘kau pasti bisa menghadapinya’ sampai aku tertidur.

Aku merasa tersayat melihat ekspresi eomma yang begitu perih, tetapi hatiku masih terbakar luka yang aku sendiri tidak mengerti rasa itu muncul dari mana. Aku bahkan diam saja saat eomma memelukku ketika ia melihatku duduk di ruang tamu. Aku bukannya tidak ingin membalas pelukan eomma, tetapi aku tidak sanggup melakukannya. Terlalu sakit…

Eomma, uljima…” setelah sepuluh menit diam tanpa kata, aku akhirnya memberanikan diri mengatakan sesuatu pada eomma.

“ Yoonmi, eomma bisa menjelaskan semuanya padamu, eomma mohon jangan benci eomma. Eomma memang salah.”

Aku tersenyum pahit mendengar perkataan eomma, tangisnya sudah lebih mereda dibandingkan tadi, aku sedikit lega mengetahuinya, setidaknya aku bisa menahan emosiku untuk tidak meledak dan akhirnya memarahi wanita yang sudah melahirkan dan merawatku sampai sejauh ini.

Mollayo, eomma… aku tidak bisa berjanji untuk tidak marah saat kenyataan pahit itu kau katakan, tapi membencimu, aku rasa itu hal paling sulit yang akan aku lakukan seumur hidupku. Aku tidak akan mungkin membencimu, eomma.”

Ragu-ragu aku mengatakan hal itu, jujur saja aku sudah bisa menebak kenyataan apa yang akan eomma katakana padaku. Bahkan mataku mulai memanas lagi bila aku mengingat kemungkinan pahit itu. Menyedihkan sekali…

“ Baiklah, Yoonmi… Soal surat itu, memang eomma dituntut oleh Hyehwa ke pengadilan.”

“ Hyehwa?”

“ Kau masih ingat wanita yang datang ke sini beberapa bulan yang lalu? Eomma mengatakan kalau ia adalah teman eomma dan itu adalah benar.”

“ Lalu?”

Sejujurnya aku sama sekali tidak bisa mengingat siapa wanita yang dimaksud eomma, mungkin karena kejadian itu sudah cukup lama dan aku hanya bertemu dengannya satu kali, jadi kemungkinan aku mengingatnya sangat tipis. Namun aku ingin mendengar lanjutan cerita eomma tentang wanita itu.

“ Dia adalah Hyehwa dan kedatangannya waktu itu adalah untuk mengambil anaknya.”

“ Anaknya? Siapa?”

Entah mengapa aku bisa merasakan debaran jantungku yang tidak karuan. Aku sudah menyiapkan mental untuk mendengar kemungkinan terburuk yang akan dikatakan oleh eomma. Tetapi aku harus kembali memupuk rasa penasaranku karena eomma belum menyebutkan nama anak itu.

“ Dia yang bersalah karena sudah meninggalkan putrinya selama belasan tahun tanpa kabar, eomma memang berharap dia meninggalkan putrinya selamanya dan tidak pernah muncul kembali di hadapan anak itu dan dengan begitu semua rencana eomma dan appa akan berjalan mulus.”

“ Rencana apa?”

Aku bertanya dengan nada suara yang sedikit ditinggikan, aku tidak bermaksud membentak eomma, bisa kulihat ekspresi mendung semakin menggelapkan wajah eomma.

Mianhae, eomma, silahkan lanjutkan… Aku terbawa emosi tadi.”

“ Tetapi kemudian dia muncul kembali ke rumah ini dan mengatakan ingin mengambil kembali anank itu, padahal sewaktu ia menitipkan anak itu pada kami, dia tidak pernah mengatakan akan kembali.”

“ Siapa anak itu, eomma?”

Aku bisa merasakan sistem kerja otakku menjadi kacau karena hal ini, tubuhku bergetar hebat dan entah sejak kapan air mataku kembali mengalir, padahal semalam aku sudah menangis lama sekali sampai-sampai membasahi seluruh kaus Donghae. Tadinya malah aku sempat berpikir mungkin stok air mataku menipis akibat belakangan ini aku sering sekali menangis.

Sedangkan dahulu aku termasuk wanita yang jarang mengeluarkan air mata, sehingga agak aneh kenapa sekarang setelah aku menjadi lebih dewasa aku lebih sering mengeluarkan air mata, terlebih belakangan ini emosiku sedang naik turun. Aku sering sekali marah dan menangis tanpa sebab yang jelas.

“ Anak itu…”

Aku menunggu dengan sabar lanjutan kalimat eomma. Aku bahkan sudah siap jika hatiku lagi-lagi harus tersilet mendengar perkataan eomma tentang hal itu. Aku berusaha menguatkan diriku sendiri karena tidak ada Donghae di sampingku untuk tempat aku bersandar, tidak ada tangan yang akan merangkulku dan memelukku jika aku tidak sanggup lagi mempertahankan tanggul air mataku.

Aku harus menghadapinya sendiri dan aku harus kuat, karena sebenarnya apapun yang eomma katakan aku sudah bisa menerkanya, hanya saja aku harus tahu dari mulut eomma sendiri dan aku harus tahu apa alasannya.

“ Anak itu adalah… Yoonhee…”

“ Aku sudah bisa menduganya! Wanita itu benar… wanita itu tidak berbohong.”

Aku menoleh ke belakang dan melihat gadis kecilku berada di sana. Hatiku semakin berdarah melihat air mata dan ekspresinya yang terlalu menyakitkan. Namun aku tidak bisa bergerak 1 inci pun untuk memeluknya, aku hanya terdiam dan menundukkan wajahku, menyembunyikan derasnya aliran air mataku.

Maafkan eomma, Yoonhee. Masih pantaskah aku dipanggil eomma olehmu?

End of the Pov

***

Author Pov

Mungkin kalimat iri sangat cocok untuk menggambarkan keadaan Saena saat ini. Beberapa meter dari tempatnya duduk sekarang, ia bisa melihat dengan jelas dua orang anak muda yang sedang bergurau, melihat tingkah mereka, Saena bisa meyakinkan dirinya, kalau kedua manusia itu adalah sepasang kekasih.          

          Ekspresi mereka mengandung kebahagiaan, setiap orang pasti bisa tertular hanya dari melihat tingkah mereka, minimal memberikan senyuman kecil, termasuk Saena. Gadis itu tersenyum melihat tingkah dua orang yang bahkan tidak dikenalnya itu. Seandainya kehidupannya begitu indah, sehingga dengan mudahnya ia bisa tertawa lepas seperti mereka.

Seandainya juga kehidupan percintaannya seperti dalam drama, berakhir bahagia dengan laki-laki yang dipujanya, tetapi sayangnya ini adalah kehidupan nyata, walaupun hidup adalah sandiwara, hidup tidak akan mudah dan menyenangkan di dalam drama, begitu pun sebaliknya, kehidupan tidak akan terlalu kejam dan menyedihkan seperti diceritakan. Tetapi Saena merasa hidupnya seperti drama-drama klasik, tentang seorang gadis yang menderita sampai ia berpikir untuk mati, tetapi kemudian ada seseorang yang datang ke kehidupannya, menawarkan bantuan dan mereka berakhir bahagia.

Pertanyaannya adalah apakah akan ada seseorang itu dalam hidupnya? Kalaupun ada orang itu hanyalah Lee Donghae, pria yang tidak ditakdirkan untuk bersamanya saat ini. Setidaknya kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di depan, karena pernikahan bukan berarti kita telah bermuara pada belahan jiwa kita, melainkan kemungkinan bertemu dengan orang yang salah dan akhirnya perpisahan itu akan terjadi.

Saena tidak pernah berharap Donghae akan berpisah dengan istirnya, walaupun keinginan itu pernah ada, namun ia sadar ia bukanlah seseorang yang bisa diperhitungkan Donghae untuk masuk ke dalam kehidupan pria itu.

“… Cinta membuatku berubah, aku tidak akan lagi menemuinya, Minho-ah, aku memang tidak akan mudah untuk melupakannya, tetapi setidaknya aku tahu bagaimana aku harus menggarisi diriku untuk tidak masuk terlalu jauh dalam kehidupannya.”

Kalimat yang diucapkannya pada Minho dua hari yang lalu terlintas di benaknya. Kalimat itu memang merupakan janjinya pada Minho sekaligus pada dirinya sendiri. Ia memang tidak ingin menemui Donghae lagi, ia bukannya manusia yang tidak bisa merasakan lelah. Ia hanya manusia biasa yang mempunyai perasaan dan menurutnya Donghae bukan orang yang sepantas itu untuk mendapatkan seluruh hidupnya.

Tetapi sekarang ia mulai sedikit ragu dengan kalimatnya itu, mungkin ia bisa tidak menemui Donghae, tetapi bukan tidak mungkin jika suatu saat hatinya akan menuntut lebih, memupuk rasa itu semakin dalam. Bagaimana mungkin ia bisa menggarisi hidupya untuk tidak masuk terlalu jauh dalam kehidupan pria itu, kalau sampai sekarang ia masih tidak bisa mengalihkan pikirannya untuk hal lain selain pria itu?

“ Kau masih di sini…”

“ Pertanyaan atau pernyataan?”

Saena tidak menoleh ke samping kanannya, tempat seseorang telah duduk di sana. Ia sudah bisa mengetahui siapa manusia itu tanpa harus melihat ke arahnya.

“ Pertanyaan…”

“ Wajar kalau aku tidak tahu, kau berkata dengan nada seolah-olah itu adalah pernyataan tetapi kau mengatakannya padaku.”

“ Baiklah, aku ulang… Kenapa kau masih di sini, noona?”

“ Sepertinya aku pernah bilang jangan panggil aku noona… Kenapa kau juga masih di sini?”

“ Bisakah kalau sedang berbicara, kau melihat ke arahku?”

“ Memangnya siapa kau, sampai aku harus memandang wajahmu?”

Saena mendengus sebelum akhirnya menoleh pada pria di sampingnya. Tanpa diberitahu pun Saena sudah tahu, pria ini merasakan sakit yang sama dengannya. Namun lihatlah wajah tenang itu, Saena menginginkan ekspresi itu ada padanya, Jonghyun begitu tegar dalam menghadapi rasa sakit hatinya.

“ Aku ada tugas kelompok tadi, jadi aku menyuruh Minho pulang duluan, setelah itu baru nanti aku dijemput lagi.”

Jonghyun menggangguk, tanda mengerti, namun ia tidak berkomentar lebih lanjut tentang hal itu, matanya memandang ke arah objek yang sama dengan Saena. Sepasang kekasih itu, masih di sana.

“ Rasanya tidak sesakit yang kubayangkan…”

Saena terhenyak mendengar penuturan Jonghyun, ia tidak akan menyangka pria itu mau membahas masalahnya. Namun gadis itu hanya diam dan membiarkan Jonghyun melanjutkan kalimatnya.

“ Pada awalnya mungkin aku tidak bisa merelakan Yoonhee untuk pria manapun, aku sudah mencintainya bahkan sebelum Minho bertemu dengannya. Namun setelah ia dan Minho bersama, aku baru menyadari kalau rasa sakit itu ternyata indah.”

“ Indah? Apa maksudmu?”

Jujur saja Saena sedikit merasa bersalah pada pria ini ketika ia memutuskan membantu Minho mendapatkan Yoonhee, tetapi melihat raut wajah tenang milik Jonghyun, segala perasaan bersalah itu bisa sedikit menguap.

“ Lihatlah ke dalam dirimu dan temukanlah keindahan itu sendiri.”

***

        “ Nona Jung, ada yang ingin bertemu dengan anda.”

Perhatian gadis itu pada selembar kertas di hadapannya teralihkan tatkala ada seseorang yang masuk ke dalam ruangannya, menjadi ‘pengganggu’ kesendiriannya.

“ Siapa? Bukankah aku tidak ada janji dengan client ?”

Ne, nona, dia mengatakan kalau dia mengenal anda.”

“ Suruh dia tunggu di luar, aku akan menemuinya sebentar lagi.”

Ne, algeseumnida…”

Jessica menyimpan kertas yang sedang dibacanya ke dalam salah satu laci kerjanya, kemudian melangkah keluar dari sana. Ekspresi bingung terpancar dari wajahnya saat melihat sesosok tubuh wanita yang sedang duduk membelakanginya. Sepertinya ia megenal gesture tubuh itu.

Annyeong haseyo, ada yang bisa saya bantu?”

“ Kau sudah satang rupanya.”

Wanita itu berdiri dan menyambut kedatangannya, Jessica mendengus saat melihat siapa tamu yang mendatanginya. Hyehwa…

“ Silahkan duduk lagi, ahjumma.”

“ Baiklah, apa tujuanmu kali ini? Bukankah eomma sudah membantumu?”

“ Kau sudah menerima semua bukti itu kan?”

Ne, lalu ?”

“ Jangan bodoh, nona Jung, apa kau benar-benar tidak tahu apa yang harus kau lakukan setelahnya? Kenapa kau masih merendahkan harga dirimu di depan wanita itu kalau kau bisa dengan sekejap menghancurkannya?”

Jessica memandang sekelilingnya dengan was-was, untungnya saat ini butiknya berada dalam keadaan yang tidak terlalu ramai. Sangat berbahaya jika ada seseorang yang mencuri dengar pembicaraannya dengan Hyehwa.

“ Kurasa aku mempunyai jalan lain yang lebih tepat untuk melakukannya, lagipula apa pedulimu, ahjumma?”

“ Tidak… tidak ada…”

Jessica memcingkan matanya, menilisik ke dalam kegelapan bola hitam milik Hyehwa, mata itu seolah tertawa, mempunyai rahasia lain dibaliknya. Namun sayang, Jessica bukan seseorang yang bisa membaca bahasa mata, gadis itu hanya berusaha menemukan sisi lain wanita yang berada di hadapannya itu.

“ Aku tidak percaya…”

“ Aku hanya ingin mengingatkanmu saja sebagai ucapan terima kasih.”

“ Kua kan belum sepenuhnya menang, pengadilan belum dimulai, masih banyak kemungkinan yang akan terjadi.”

“ Memang benar, tapi aku yakin kalau aku akan mendapatkan anakku kembali dan semoga kau mendapatkan cintamu kembali. Aku yakin ketika kita bersatu kita bisa menghancurkan keluarga Kim sepenuhnya.”

“ Aku tidak ingin menghancurkan keluarga mereka, hanya satu orang yang ingin aku hancurkan… Kim Yoonmi, kalau dia hancur, aku akan bahagia walaupun Donghae tidak bersamaku, Donghae juga tidak boleh bersamanya.”

***

        “ Terima kasih, kau sudah mengatarku pulang.” Saena melepas helm yang menutupi kepalanya dan menyerahkan benda itu pada Jonghyun.

Hari sudah berganti menjadi gelap ketika mereka sampai. Saena memutuskan untuk berada lebih lama bersama Jonghyun, apalagi pria itu ternyata teman yang asyik untuk diajak bicara, sehingga ia meminta untuk tidak dijemput. Kemudian pria itu menawarkan untuk mengantar Saena ke rumah karena sudah terlalu malam bagi gadis itu untuk pulang sendiri.

Cheonmaneyo, noona…”

“ Berapa kali aku katakan untuk tidak memanggilku dengan panggilan seperti itu? Aku hanya berjarak dua tahun darimu, aku jadi merasa tua jika dipanggi noona.”

“ Aku kan tidak bilang begitu… hanya saja kau pantas dipanggil seperti itu.”

“ Apa kau bilang?” Saena mencubit pinggang pria itu dan membuat Jonghyun meringis perih.

Aniya… Tapi memang benar kan kau pantas untuk panggilan itu, noona.”

        “ Kau ingin aku mendaratkan cubitan di bagian mana?” Saena sudah bersiap untuk mencubit pinggang Jonghyun sekali lagi ketika pria itu secara refleks menjauh.

Aniyaa andwae! Cubitanmu memang tidak sakit, hanya perih.”

“ Itu sama saja, pabo…” Saena tertawa melihat ekspresi ketakutan di wajah Jonghyun, hal yang jarang diperlihatkannya ketika bersama orang lain. Jonghyun terpaku melihat tawa gadis itu yang jernih sehingga tanpa sadar ia ikut tersenyum, entah kenapa hatinya merasa lega.

“ Kau terlihat cantik jika tersenyum, Saena…”

Tanpa sadar Jonghyun bergumam dengan volume suara kecil namun cukup untuk didengar Saena. Gadis itu menghentikan tawanya dan memandang Jonghyun dengan tatapan bertanya.

“ Kau bilang apa tadi? Bisa kau ulang?”

Aniya, aku tidak berbicara apa-apa. Lebih baik kau masuk saja sana, apa orang tuamu tidak akan khawatir? Sekarang sudah hampir jam delapan malam.”

Saena terdiam, jujur hatinya merasa iri, ia ingin bisa merasakan bagaimana rasanya dimarahi oleh orang tua, ayahnya terlalu sibuk bekerja, walaupun ia tahu ayahnya menyayangi dirinya sama seperti ia menyayangi Minho, tetap Saena merasa ayahnya terlalu sibuk bahkan untuk memperhatikan mereka berdua.

Ibunya bahkan hampir tidak pernah menunjukkan kasih sayangnya lewat amarah, ia hanya marah ketika membela Minho ketika Saena dan Minho bertengkar ketika mereka masih kecil dan keduanya sedang sama-sama egois untuk meminta maaf dulan. Sama sekali bukan jenis amarah yang ditunjukkan oleh orang tua pada  anak mereka demi kebaikan dan karena rasa sayang pada sang anak. Bertegur sapa saja jarang terjadi, apalagi sampai ibunya harus memperhatikannya untuk hal kecil semacam pulang terlambat.

“ Saena, waeyo?”

“ Ah, nan gwenchana, Jonghyun-ah, aku akan masuk kalau kau sudah menghilang di tikungan sana.”

“ Baiklah, Annyeong, sampai jumpa besok… Jaljayo, ne?”

Ne, hati-hati di jalan.” Saena melambaikan tangannya dan menunggu sampai motor Jonghyun menghilang dari jarak pandangnya, baru kemudian ia masuk ke dalam rumah.

Saena melangkahkan kakinya melewati ruang tamu yang sudah gelap, langkahnya terhenti saat melihat seseorang yang sedang duduk di ruang tengah seperti menunggu sesuatu. Ia melangkah mendekati orang itu dengan perasaan campur aduk.

E… eomma, belum tidur?”

Pertanyaan aneh sebenarnya karena mengingat jam masih menunjukkan angka delapan pada jarum pendeknya, bukan waktu yang tepat untuk beristirahat, malah biasanya beberapa orang baru saja melakukan aktivitas malamnya.

“ Darimana saja kau?”

“ Tadi aku mengerjakan tugas kelompok, eomma.”

“ Seharusnya kau sudah dijemput jam enam sore tadi di sekolah namun kata Minho kau menolak untuk dijemput, jadi kau kemana saja?”

“ A… ah… itu tadi aku bertemu teman, lalu…”

“ Jadi selama eomma dan appa tidak ada di rumah, kau sering pulang malam tanpa tujuan yang jelas, Saena? Benar begitu?”

Aniya, eomma… aku tidak pernah seperti itu.”

Nada suara Saena mulai terdengar takut namun ada perasaan puas dan kebahagiaan tersendiri saat ibunya menegurnya seperti ini.

“ Huh! Ini peringatan untukmu Saena, eomma dan appa memberikan kalian kepercayaan dan jangan pernah sia-siakan hal itu.”

Nyonya Choi membalikkan badannya dan berjalan menjauhi Saena.

Eomma, chamkanman.”

Saena memanggilnya dan ada yang berbeda dari suaranya, tidak seperti layaknya seseorang yang baru dimarahi orang tuanya. Nada suara Saena terdengar jelas kalau ia bahagia mendapat teguran seperti itu.

Nde? Ada apa?”

“ Terima kasih karena sudah menegurku, eomma, aku bahagia karena akhirnya eomma mau memberikan perhatian padaku.”

Nyonya Choi berjalan menjauh, ia tidak membalas perkataan Saena. Hatinya diliputi persaan haru, sebagai seorang ibu mungkin ia bersikap terlalu kelewatan pada anak pertamanya itu. Walaupun darahnya tidak mengalir dalam tubuh Saena, ia tetap adalah seorang ibu yang membesarkan gadis itu hampir delapan belas tahun. Bukan waktu yang singkat untuk belajar membuka ruang hatinya untuk gadis itu.

***

        “ Ada apa, eommonim?”

Jessica menjauhkan dirinya dari kebisingan yang ditimbulkan dari dalam café tempat di mana ia sedang bertemu dengan clientnya. Kalau saja yang menghubunginya tidak terlalu penting, ia tidak akan bernai meninggalkan client yang sangat berharga untuknya hanya demi mengangkan panggilan itu.”

“ Kau mengirimkan paket apa untukku?”

“ Ah, itu…ternyata sudah sampai padahal aku baru mengirimkannya kemarin. Eommonim, aku tidak bisa menjelaskannya padamu, aku tidak tahu harus mulai darimana, ada baiknnya jika kau melihat sendiri.”

Jessica tersenyum, ia tidak menyangkan jalannya untuk menjalankan rencana itu akan terasa mulus seolah alam ikut mendukungnya dalam melaksanakannya.

“ Baiklah, kalau kau mau main rahasia denganku.” Wanita itu tertawa kecil sambil menarik kotak paket yang dikirimkan Jessica ke hadapannya.

“ Aku akan menghubungimu lagi jika aku sudah melihat isi paketmu.”

“ Baikah eommonim…”

Nyonya Lee memutuskan sambungan teleponnya dan dengan gerakan perlahan ia merobek kertas pembungkus kotak itu dan menemukan ada sebuah kotak kayu di dalam kotak kardus yang melapisi bagian luarnya. Dengan penasaran ia membuka kotak tersebut dan menemukan tulisan tangan Jessica di bagian atas. Ia mengambil kertas itu dan membacanya.

Eommonim aku tahu kau akan sangat terkejut melihat isi dari paket ini, sungguh aku tidak bermaksud membuatmu begitu apalagi kau baru saja pulang ke London beberapa hari yang lalu. Aku hanya tidak ingin menyimpan semua ini lebih lama lagi. Aku ingin kau mengetahui semuanya, eommonim. Ini semua demi keselamatan Donghae dari wanita bernama Kim Yoonmi itu. Ada banyak hal yang disembunyikan gadis itu dibalik topengnya dan aku ingin menyelamatkan Donghae sebelum semuanya terlambat.

Nyonya Lee mengerutkan dahinya membaca tulisan Jessica yang seolah mengandung sesuatu. Semua tentang menantunya, Yoonmi dan keselamatan Donghae? Apa yang sebenarnya ingin disampaikan gadis itu?

Tangannya bergerak mengambil kumpulan foto yang ada di dalamnya dan kembali merasakan aura kebingungan yang teramat jelas karena merasa tidak mengenal gadis kecil yang sedang menggendong seorang bayi di foto itu dan foto lainnya hanya berisi foto seorang bayi yang sedang tertidur lelap.

Nyonya Lee meletakkan kedua foto itu di atas meja dan mengambil kertas lainnya yang berisi tulisan tangan, sepertinya sebuah surat. Dilihat dari kertasnnya yang mulai menguning dan sedikit rapuh, wanita itu yakin usianya sudah bertahun-tahun. Ia semakin bingung saat membaca isinya.

      Aku akan menerima anakmu dan merawatnya dengan baik dan tulus sama seperti permintaanmu di surat sebelumnya, bawa anak itu ke rumahku dan aku akan mengatakan pada Yoonmi kalau itu adalah anaknya. Semua akan berjalan sesuai dengan rencana, kau tidak usah khawatir.

“ Anak? Yoonmi?”

Pelrhan satu fakta mulai merasuk ke dalam pikiran wanita yang sudah berumur di atas lima puluh tahun itu. Ia mulai mencari kertas-kertas lain di dalam sana untuk memperkuat keyakinannya.

“ Surat keterangan dari rumah sakit?”

Nyonya Lee membaca setiap kalimat yang tertulis di sana dengan teliti seolah takut menemukan kesalahan. Surat itu menyatakan kalau pada tanggal 17 Juli delapan belas tahun yang lalu telah lahir seorang anak perempuan dari wanita bernama Kim Yoonmi, lalu isi berikutnya di dalam surat itu adalah keterangan tentang anak yang dilahirkannya.

“ Kim Yoonmi? Mungkinkah Kim Yoonmi?”

Dengan tangan mulai bergetar, Nyonya Lee mengambil kertas lain dari dalam kotak itu dan mendadak ia yakin Yoonmi yang dimaksud di dalam kertas-kertas sebelumnya adalah Yoonmi yang sama dengan Yoonmi yang menjadi menantunya saat ini. Perasaan kalut segera menguasainya.

“ Pada saat berumur 13 tahun, nona Kim Yoonmi memutuskan untuk pindah dari Seoul ke Paris.”

        “ Apa alasannya pindah?”

        “ Karena alasan keluarga, nyonya… tetapi keluarga nona Yoonmi tidak pernah pindah ke Paris, hanya nona Kim Yoonmi yang pergi ke sana. Menurut kabar dari pihak sekolah kepindahan nona Kim Yoonmi terkesan mendadak dan terburu-buru.”

Sekelebat memori terputar kembali di benak wanita itu, seharusnya ia merasa curiga dengan fakta tersembunyi dibalik kepindahan Kim Yoonmi. Namun saat itu ia tidak terlalu memperdulikan hal itu, karena yang terpenting untuknya adalah wanita yang kelak akan menjadi menantunya haruslah wanita yang berasal dari keluarga baik-baik, hanya itu saja dan Yoonmi memenuhi syaratnya. Wanita itu meletakkan semua kertas yang tadi dibacanya kembali ke kotak itu, ia menolak membaca lebih lanjut.

Kilatan marah terpancar jelas di matanya, ia segera meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.

“ Tolong pesankan aku tiket ke Korea sekarang juga untuk penerbangan besok di jam paling pagi.”

Wanita itu memutuskan sambungan teleponnya dan mengepalkan tangannya kuat-kuat merasa seperti dibodohi dan dicurangi oleh wanita bernama Kim Yoonmi yang sekarang sudah menjadi menantunya.

“ Kim Yoonmi, kau…”

***

        Hari ini Yoonmi sudah kembali melakukan aktivitasnya yang biasa, senyum kembali menghiasi wajah cantiknya, sayang sekali senyuman seindah itu hanya ia gunakan untuk menutupi perasannya yang dilanda gelisah dan bukan karena ia benar-benar tulus ingin tersenyum.

Yoonmi merasa lebih baik ketika berada di kantor daripada di rumah, mungkin pekerjaan akan sedikit mengalihkan pikirannya dari masalah yang sedang dihadapinya. Padahal Donghae sudah memberikan padanya kelonggaran untuk masuk kerja kapan pun gadis itu siap. Tetapi Yoonmi menolak tawaran itu dan segera masuk kantor walaupun perasannya belum terlalu membaik.

Seharusnya sejak awal saja ia tidak usah mendapatkan liburan, libur dua hari membuat pikirannya tidak terbiasa mendapatkan suntikan pekerjaan yang berat, sehingga baru beberapa jam berada di depan kertas-kertas yang bertebaran, Yoonmi sudah merasa jenuh.

Tok tok tok

Yoonmi menoleh dan melihat seseorang berdiri di depan pintu ruang kerjanya yang transparan. Yoonmi cukup terkejut mendapati sosok itu berdiri di sana, namun dengan tenang ia melangkah untuk membukakan pintu.

“ Aku tidak ingin kau mencari masalah denganku, kau bisa lihat sendiri ruangan kerja kami transparan dan emosiku sedang dalam keadaan tidak stabil, aku tidak mau mereka semua menonton adegan perkelahian kita.”

Jessica tertawa kecil sebelum memtuskan untuk duduk di kursi di hadapan Yoonmi. Ia tidak langsung mengatakan apa tujuannya, matanya memancarkan ‘eye smile’ pada Yoonmi dan memmbuat gadis itu paham ada sesuatu yang disembunyikan Jessica.

“ Kalau kau ingin bertemu Donghae, langsung saja naik ke lantai tujuh, jangan ganggu pekerjaanku nona Jung.”

“ Kalau aku ingin bertemu dengannya aku tidak perlu ke sini, kau pikir kau siapa sehingga aku harus meminta izin denganmu untuk bertemu dengan teman masa kecilku?” Jessica mendekatkan wajahnya ke arah Yoonmi. Refleks gadis itu menjauhkan wajahnya, menolak bertatapan terlalu dekat dengan Jessica.

“ Kupikir kau belum setua itu untuk lupa siapa statusku sekarang, namun karena aku tahu kau adalah sahabat Donghae, aku rasa aku tidak akan melarangmu bertemu dengan suamiku.”

Yoonmi sengaja menekankan kata sahabat dan suamiku ketika berbicara dengan gadis itu. Raut wajah Jessica sedikit berubah namun dengan cepat gadis itu mendapatkan kembali senyumannya.

“ Baiklah kau boleh berbangga hati menjadi istri seorang Presdir Lee saat ini namun aku jamin status itu tidak akan bertahan lama, nyonya Lee…”

“ Apa maumu sebenarnya?”

Yoonmi mulai merasa terganggu dengan kehadiran gadis itu di ruangan kerjanya, ia merasa kehadiran Jessica di sini hanya untuk kembali lagi memperingatkannya tentang keinginan gadis itu untuk kembali pada Donghae. Yoonmi berani menjamin kalau hal itu tidak akan terjadi, ia mempunyai cara sendiri untuk mempertahankan Donghae.

“ Kita lihat saja nanti tanggal mainnya, Kim Yoonmi.” Jessica sengaja mengganti marga Yoonmi ke marganya yang asli sebelum menikah dengan Donghae, entah apapun maksud gadis itu Yoonmi tidak lagi peduli karena menurutnya Jessica hanya satu masalah kecil dalam rumah tangganya.

“ Sudah? Silahkan keluar, pintunya ada di sebelah sana.” Yoonmi berpura-pura cuek dengan mengalihkan perhatiannya pada salah satu map yang ada di mejanya. Jessica mendengus dan segera melangkah keluar. Sebelum gadis itu benar-benar pergi, gadis itu melemparkan tatapan dinginnya pada Yoonmi.

“ Kita lihat saja nanti siapa yang akan menang.”

***

        Percobaan pertama…

Nyonya Kim menekan sebuah nomor yang hampir-hampir tidak pernah digunakannya. Bahkan seharusnya nomor itu sudah lenyap dari daftar kontaknya, tapi entah mengapa ia belum juga menghapus nama dan nomor itu dalam kontaknya. Setelah menunggu beberapa saat dalam keheningan yang terdengar bukanlah nada sambung melainkan suara operator yang menyatakan nomor itu sudah ditinggalkan pemiliknya.

Percobaan kedua…

Nyonya Kim menekan nomor itu lagi dan berharap ada kesalahan yang dilakukan oleh sang operator, sehingga ia bisa tersambung dengan pemilik nomor itu. Tetapi sayang harapannya seolah pupus karena lagi-lagi yang terdengar hanyalah suara sang operator.

Percobaan ketiga dan seterusnya…

Nyonya Kim hampir-hampir menyerah karena jawaban yang diberikan tetaplah sama bahwa nomor itu sudah tidak lagi digunakan oleh sang pemilik. Dalam sekejap kegelisahannya bertambah berkali-kali lipat, ia menatap lurus ke arah layar televisi flat berwarna gelap itu.

Eomma…”

“ Yoonmi…”

Gadis itu sudah jauh lebih tenang dalam menghadapi ibunya saat ini, ia bisa mengontrol emosinya dengan sangat baik, walaupun hatinya masih tidak tenang, apalagi sang ibu belum sepenuhnya jujur tentang di mana keberadaan putrinya saat ini. Namun Yoonmi tidak bisa memaksa, yang bisa dilakukan gadis berambut panjang lurus itu hanyalah menunggu.

“ Boleh aku bertanya satu hal?”

“ Tentu saja, apa yang ingin kau tanyakan?”

“ Kenapa eomma mengatakan kalau Yoonhee adalah anakku? Padahal jelas-jelas dia adalah anak teman eomma itu.”

“ I… itu….” Nyonya Kim kehabisan kata-kata dalam menghadapi pertanyaan putrinya.

“ Jujur saja, eomma, aku akan menerimanya.” Gadis itu memandang lirih ke dalam kedua bola mata gelap milik ibunya. Hanya kejujuran yang berusaha dicarinya di sana.

Mianhae, Yoonmi, eomma tidak bisa jujur padamu saat ini, eomma dan appa akan segera menjelaskannya padamu ketika kami berdua sudah siap.”

Jawaban yang sama yang didapatkan Yoonmi, ketika ia bertanya mengenai alasan mengapa mereka menyembunyikan anak kandungnya dan mengatakan kalau Yoonhee adalah anaknya. Sesuatu yang menyakitkan namun ia berusaha mengerti akan hal itu.

“ Aku menunggu, eomma… Lalu bagaimana persidanganmu minggu depan?”

Pertanyaan itu membawa kembali mendung ke raut wajah nyonya Kim. Sejujurnya ia sudah menghubungi pengacara keluarganya beberapa hari lalu, namun hal itu belum cukup untuk membuatnya merasa tenang.

Molla, Yoonmi, eomma merasa takut… Eomma merasa sangat bersalah pada Yoonhee, anak itu tidak sepantasnya menderita seperti ini.”

“ Tenanglah, eomma… aku akan selalu mendukungmu. Untuk Yoonhee, eomma tidak usah khawatir, aku tidak akan berubah menjadi membenci Yoonhee hanya karena ia bukan anak kandungku, aku tetap menyayanginya.”

Gomawo, Yoonmi-ah.”

Eomma, boleh aku tahu di mana anakku berada?” Yoonmi berkata dengan nada hati-hati agar tidak menyinggung ibunya yang sedang berada dalam kondisi emosi tidak stabil.

“ Yoonmi-ah, jujur… eomma, eomma tidak tahu, Yoonmi.”

***

        “ Tapi setidaknya kita pernah memiliki hubungan khusus, bahkan kita pernah berjanji hubungan itu akan kekal selamanya, tidak peduli bagaimana kehidupan kita ke depannya, apakah kita akan menikah dengan orang lain dan bahkan saling melupakan, kita tetap terikat satu hubungan dan itu berlaku selamanya… Your heart is my heart… your oxygen is my oxygen… as long as we are still in the same world.”

Donghae mengacak pelan rambutnya yang masih meneteskan air dari ujung-ujungnya. Pria itu memejamkan matanya sebelum memutuskan untuk keluar dari kamar, perkataan Jessica beberapa hari yang lalu di kantor membuatnya sakit kepala. Bukan karena ia masih mempunyai rasa untuk gadis itu, jujur saja tidak melihat sosoknya selama sepuluh tahun terakhir membuat Donghae merindukan gadis itu. Hanya rindu… sebatas rindu… bukan lagi cinta.

Donghae mengakui gadis itu benar, ia dan Jessica pernah mengucapkan janji abadi itu, entah apa yang dipikirannya kala itu ketika ia menyetujui untuk menyatakan janji itu dan ia tidak akan menyangka gadis itu datang dan menagih janjinya.

Flashback

Di bawah pohon itu, di tengah hembusan angin hangat, kedua tangan itu bertautan satu sama lain, melemparkan senyuman dengan bebasnya, memecah semua emosi jiwa.

Donghae tidak akan pernah melupakan senyuman itu seumur hidupnya. Salah satu senyuman terindah yang pernah dilihatnya, seolah memanggilnya untuk ikut tersenyum, mengaguminya. Gadis berambut panjang kecoklatan itu adalah keindahan untuknya, ia tidak tahu berapa banyak pujian yang patut dilontarkannya untuk mendeskripsikan gadis itu. Namun Donghae tahu tak selayaknya ia terlalu berlebihan dalam memuja gadis yang berstatus sebagai kekasihnya itu. Mungkin ia adalah pria yang paling beruntung di dunia.

“ Kenapa kau selalu melihatku seperti itu? Bukankah kau sudah terbiasa bersamaku? Tetapi kau melihatku seolah-olah kau baru pertama kali melihatku.” Gadis itu menyembunyikan wajahnya yang memerah, enggan melihat ke arah pria yang masih terpukau menatapnya. Donghae mengeratkan genggaman tangannya, membawa gadis itu duduk di bangku yang terdapat di bawah pohon itu.

“ Aku memang tidak akan pernah berhenti mengangumimu, Jessica, kau terlalu indah.”

Gadis itu melepaskan genggaman tangan Donghae, tatapannya entah sejak kapan berubah menjadi sedih. Seolah-olah akan ada butiran bening yang keluar dari sana. Gadis itu menunduk menatap tanah yang menjadi landasan berpijaknya.

“ Kenapa?”

Luka segera tercipta di tatapan mata Donghae, tatapan gadis itu benar-benar menyakitkan, entah apa yang akan disampaikan oleh gerakan bibir merahnya.

“ Donghae-ah, beberapa bulan lagi kita akan ujian akhir, kemudian lulus, apa kau berpikir kita masih bisa bersama?”

“ Tentu saja, kenapa kau bertanya seperti itu?”

Eomma dan appa menyuruhku kuliah di Paris selama 3 tahun, untukku itu waktu yang terlalu lama.”

“ Itu bukan masalah, jess, aku masih bisa menghubungimu dan mungkin mengujungimu sewaktu liburan.” Donghae mengacak pelan rambut gadis itu dan membuat Jessica tersenyum kecil sebelum tangannya menghentikan gerakan Donghae.

“ Tidak akan terasa sama, hae, entah disebut apa perasaan ini namun terkadang aku berpikir suatu saat aku akan kehilanganmu…”

“ Jess…”

Chamkanman, hae-ah, biarkan aku menyelesaikan kalimatku terlebih dahulu.”

Ne, lanjutkan.”

“ Hae, manusia sudah ditakdirkan untuk berpasang-pasangan, aku tidak tahu apa ke depannya aku akan berjodoh denganmu atau tidak.”

Gadis itu menatap Donghae sekilas, sebelum melanjutkan kata-katanya.

“ Aku bukannya ingin berpikir jelek atau bagaimana, tapi aku merasa tidak akan sanggup kehilanganmu, hae, lalu bagaimana kalau takdir berkata aku harus menikah dengan pria lain dan kau menikah dengan wanita lain? Aku tetap tidak ingin kehilanganmu, maka dari itu aku ingin kau mengucapkan janji bersamaku.”

“ Janji?”

Ne, kalau seandainya kita tidak berjodoh, kita akan tetap terikat satu tali hubungan yang hanya kita miliki berdua, mengikat kita selamanya, lebih erat dari tali persahabatan tetapi hubungan itu tidak akan merusak hubungan kita dengan pasangan kita masing-masing ke depannya, setuju?”

Gadis itu mengulurkan tangannya ke arah Donghae, pria itu hanya terpaku melihat uluran tangan Jessica. Beberapa detik kemudian dengan tegas ia menyambut uluran tangan gadis itu dan menariknya ke dalam pelukan.

“ Jessica… aku janji, aku janji…”

“ Satu lagi, hae…” Gadis itu berkata, masih dengan posisinya yang berada dalam dekapan Donghae.

“ Apa?”

“ Janji ini berlaku selamanya…”

Ne, selamanya…”

Flashback End

Aisssshhh! Jinjja! Kenapa aku malah memikirkan  janji itu lagi?” Donghae memutuskan untuk menyalakan televisi yang berada di hadapannya, menunggu kepulangan Yoonmi.

Donghae tidak tahu apa Jessica sudah mempunyai firasat akan kehilangannya atau hanya pemikiran dewasa gadis seusianya kala itu, tapi apa yang dikatakan gadis itu tidaklah salah, ia dan Jessica memang tidak berjodoh, hatinya terpaut pada gadis lain, Yoonmi, satu-satunya gadis yang berada dalam hati dan pikirannya saat ini. Tidak tahu bagaimana kehidupan Jessica setelah berpisah dengannya, Donghae tidak ingin tahu.

Sebenarnya ia ingin menyetujui keinginan gadis itu untuk hanya sekedar bersahabat dengannya, ia sendiri mengharapkan hal itu terjadi sejak pertama kali ia dan Jessica bertemu. Namun ia tidak tahu bagaimana cara memulai persahabatan itu tanpa membuat Jessica kembali berharap dengannya dan tanpa membuat Yoonmi merasa cemburu akannya.

Lagipula menurutnya saat ini bukanlah saat-saat yang tepat untuk Jessica kembali masuk ke dalam kehidupannya. Pernikahannya dan Yoonmi bahkan baru memasuki usia satu bulan tepat satu minggu lagi. Menurutnya masih banyak hal yang harus dikenalnya dari seorang Kim Yoonmi, mengingat ia tidak melalui masa pacaran dengan gadis itu.

Semuanya muncul begitu saja, rasa cinta, rasa ingin memiliki, hasrat bersamanya, dan beragam perasaan lainnya yang membuatnya yakin untuk menikah dengan gadis itu.

“ Donghae, I’m home…”

“ Aku di sini, chagi…”

Yoonmi berlari kecil ke arah Donghae dan mendaratkan pelukannya pada pria itu. Donghae mengelus rambut panjang Yoonmi dan membiarkan gadis itu memeluknya sedemikian erat, seolah tidak ingin melepasnya.

“ Ada apa? Seharusnya aku menemanimu ke rumah eommonim tadi, apa yang terjadi, Yoonmi-ah?”

Aniya, tidak ada apa-apa, hae…”

“ Lalu apa kau mendapatkan informasi tentang anakmu?”

“ Belum, kurasa aku tidak harus terburu-buru, hae, aku masih menjaga perasaan Yoonhee, gadis itu bahkan tadi sangat canggung di depanku, aku sangat menyayangi Yoonhee seperti anak kandungku sendiri.”

“ Aku akan selalu berada di sampingmu, Yoonmi…”

Gomawo, Donghae, aku sekarang sangat yakin kau adalah malaikat pelindung yang dikirim Tuhan hanya untukku…”

Yoonmi sengaja menekankan kata ‘hanya untukku’, ia ingin menegaskan bahwa Jessica tidak bisa seenaknya mengambil Donghae dalam hidupnya, Donghae sudah menjadi suaminya dan kenyataan itulah yang harus diterima Jessica. Yoonmi tidak akan dengan begitu mudahnya menyerahkan Donghae kembali ke pelukan gadis itu.

“ Hae-ah…”

“ Hmm?”

“ Aku ingin kau mendongeng untukku sebelum tidur…”

Pria itu tertawa kecil, ini pertama kalinya Yoonmi bersikap sangat manja padanya, seolah-olah gadis yang berada dalam pelukannya ini bukan Yoonmi yang dikenalnya sangat dingin.

Geurae, kau ingin aku ceritakan tentang apa?”

“ Tentang masa-masa saat kau masih SMA.”

“ Eoh? Jinjja? Kenapa kau begitu tertarik?”

“ Aku hanya ingin tahu, tapi hae-ah… aku ingin kau melewatkan bagian tentang Jessica, aku sedang tidak ingin mendengarnya…”

“ Tentu, Yoonmi.”

Donghae memberikan senyumannya, ia pun sedang tidak ingin membahas tentang Jessica lebih jauh.

***

To Be Continued

Next Whether I Hate You or Not series : Chapter 11B- Wrong Love

Kemungkinan besar chapter 11B bakalan teribit hari Minggu ini ^___^ 

Jadi tunggu aja ya😀

Tadinya aku udah rencana terbitnya hari Rabu depan tapi pas aku itung2 berarti nih ff selesai terbitnya bulan April T.T padahal Maret aku full ga post apa2 jadinya aku putusin 1 minggu dua kali terbit yang pertama hari Rabu yang kedua hari Sabtu atau ga MInggu😀

Ah ya  1 lagi chapter depan aku protect😀, alesannya sama kyk yang sebelum2nya malah kemarin stat view buat chapter 10 B mecahin rekor selama aku ngurus blog ini, paling banyak diantara chapter lainnya, tapi komennya ga nyampe setengahnya jangan kan setengah deh 1/10nya aja engga T.T gimana aku ga nyesek coba, makanya aku protect😀

Tenang aja kalo kalian merasa udah komen di chapter 11 A ini pasti aku langsung kasih PWnya😀, kalau kalian reader baru silahkan komen dulu di salah satu chapter ff ini, trus bru deh minta ke aku😀 ntar kirim e-mail aja ke Kim(dot)Saena(at)Yahoo(dot)com

59 thoughts on “[Korean Fanfiction/Straight/Series] Whether I Hate You or Not (Chapter 11A)

  1. wajar sih yoonmi marah, dia msh belum tau anaknya dmn (walaupun feelingku saena XD) & yoonhee trnyata bkn anaknya. tp emg gak bs benci/marah sm ibu sendiri TT__TT
    udh tuh… jonghyun-saena satuin biar gak pd sakit hati😄
    ancaman terbesar tetep hubungan donghae-yoonmi. udh psti nih ibunya hae ngomel2 X-( & pengen mereka pisah. andweeee
    ms aku ada feeling yoonmi lg hamil pas dia blg emosinya naik turun, mdh2an bener .__.v
    part lanjutan ditunggu😉

    • Hmmm Saena ya? Saena bukan ya?
      ada jawabannya di chapter 13😄
      Saena ga akan sama Jonghyun kok din *ngasih bocoran
      nanti dia bakalan jadi sama someone di TCD tapi masih rahasia :p

      hmmmm iya tuh ibunya hae emang ngamuk2 >.<
      hamil? wahhh belum saatnya dia hamil *plak
      ditunggu aja ya lanjutannya😀

      Makasih udah baca + komen ^___^

  2. akhirnya yoonmi tau juga kl yoonhee bukan anaknya
    tp kenapa orang tua yoonmi ga mau jujur ttg anak kandungnya yoonmi sih
    apa anaknya yoonmi itu ilang pas masih kecil makanya ortunya yoonmi jg ga tau dmn cucunya
    duh…….eommanya donghae udah tau masa lalu kelamnya yoonmi
    jonghyun sama saena aja deh biar saena ga ngarepin donghae lagi

  3. akhirnya yoonhee tahu klo dia bukan anak kandung yoonmi.. *kasihan* -,-
    knpa masa lalu yoonmi yg kelam terungkap saat masalah yoonhee belum terselesaikan..??
    buat saena n jjong udh satuin aja mereka, kyk ny cocok bnget tuh mereka, sama-sama patah hati …hehe😀
    d tggu next part ny kim saena🙂

    • Ohhhh masalah Yoonhee mah ga lama chingu
      cuma ampe part depan juga bubar (?)
      jadi intinya itu bukan masalah utamanya jadi ga akan lama2
      justru kalo eommanya Donghae tau masa lalu Yoonmi itu bakalan jadi konflik ‘jleb’
      Maaf ya chingu kalo aku buru2 nambah konflik dan kyknya cepet2 T,T
      soalnya aku lagi ngejar waktu buat cepet2 selesain FF ini u.u

      Saena ga akan sama Jonghyun kok chingu hehehe😄
      memang di sini mereka pasangan patah tulang *eh salah * hati maksudnya

      makasih udah baca + komen chingu ;D

  4. Konflik dipart ini makin berat ya, sifat jahat jessica n hyehwa…ibunya lee donghae sdh mengetahui masa lalu yoonmi, kehidupan yoomi makin berbahagia. Sbnrnya ibunya minho ga benci saena hanya blm sepenuhnya menerima saena sbg anaknya. Sbnrnya saena itu diambil dr panti asuhan or bnr2 anak kandung dr appanya minho. Saena dh akrab sama jonghyun, sharusnya minho lihat ehh malahnya yg lihat ibunya…Makin seru aja nieh. Lanjut ya

    • Pas eon! Emang ibunya Saena itu sebenernya ga benci sama dia cuma ga mau ‘terima’ aja karena merasa ga butuh ama Saena lagi sejak punya anak Minho
      Hmmm masalah kenapa Saena bisa jadi anak angkat kel Choi adanya di chap 13 eon😄

      Ada kok yang nanti scene Minho liat Saena Jonghyun “…..” *ada deh *plak

      makasih udah baca + komen eon😀

  5. ni cerita penuh konplik.aq msh penassran sm sosok ayah biologis anak yoonmi.dan kalau aq tebak ank kandg yoonmi it choi sena.betul2 rumit ni cerita.daebak
    anneyeong reader bru imnida.ree_chul.
    mintk pw next capterny y.nt q krm email deh

    • Annyeong chingu😀
      selamat datang dan selamat berpetualang di blog aku ;D
      Wahhh jawaban untuk anak kandung Yoonmi ada di chap 13 nanti😄
      tapi kalo soal ayahnya nanti di TCD sama di side story😀

      Makasih udah baca + komen chingu ^___^

  6. hemmmn…kykx saena ma jonghyun nieh…ywd gp2lah drpd saena sad tyus…trserah saeng ja…
    q ykin saena ank yoonmi…jgn pisahin yoonhae…sica klaut ja…hehe
    dtggu next partx saeng…kl next partx d protect…jgn lupa DM y…ni q reiiayu…hehe

  7. Thooorrr saya sudah kirim email k alamt authorr tp kok lum ada balasanyya y…sya mau minta pw yang part 11b,,,pllleeeaassseee tolong kirimin ya thor…ini alamat email saya putuwari@yahoo.com sebelumnya makasi y thoorr,,,maaf maksa….coz penasaran banget sama lanjutannya…yyyy….

    • Annyeong chingu selamat datang di blog aku ;D
      maaf ya aku kalo pagi aku sekolah dan sibuk dan ga buka e-mail -___-a jadi permintaan pw bisa aku penuhi pas sore2 gini atau ga malem
      sekali lagi maaf ya chingu ;D
      aku udah buka e-mailmu
      kamu komennya di e-mail ya? hehehe
      sip deh aku balas sekarang e-mailnya

  8. Tara tara *jreng jreng reader baru saeng
    nyasar dari ffindo
    <3O:-)ternyata ff.a keren2
    Hmmmm yoonmi ma onghae gimana ea nasib.a ntar kalo eoma hae ngamuk
    idih sica jahat*cakar cakar
    thor ini konflik.a banyak bener gatega …thor minta yg 11B dunk thor
    oh ya
    anyeong vie 21y.o
    saya istri siwon pacar kyu pacar hae jodoh.a yunho /abaikan
    ni email qw ya thor vitasiwon@gmail.com

    • Annyeong eonni *boleh manggil eonni kah?
      aku sudah mengirim passwordnya ya😀
      maaf eonni lama ngirimnya >.<

      wahhh makasih eonni😀
      ffku biasa aja kok🙂
      Hmmmm nasib mereka ada di chap 11B eon hehe
      tenang eon Jessica sebenarnya ga jahat kok keadaan yang memaksa dia jadi jahat -__-a

      Devi imnida, 17 y.o
      kalo aku aku pacar Yunho, tunangan kyu, istri Key *plak
      salam kenal eon

      makasih udah baca + komen eon😀

    • hehehehe itu sengaja chingu
      sebenernya bukan cuma Saena sih tapi ampir smua castnya😀
      tapi tenang chingu sequelnya nanti aku putusin buat HE kok😀
      jadi semuanya bahagia *ala drama gtu *plak

      udah ya chingu pwnya
      maaf lama >.<

      makasih udah baca + komen ;D

  9. jd yoonhee sepupuan sm jessica ya? trus anak kandung yoonmi sbnrnya siapa? kalo anak yoonmi itu ternyata saena, berarti dia suka sm ayah tirinya sndr donk ya? kasian bgt T_T.. q pnsrn sm ceritanya, sampe2 dr chapt 10A q lgsg loncat aja ke chapt ini o_Oa.. saeng, krmn q pw yg 10B+skip vers sm 11B ya? q udah krm email, email q febrianisalma38@yahoo.com
    ditunggu blsnnya ya saeng, gomawo ^^..

  10. HYAAAAA~ sebenarnya udah baca sampe episode terakhir caelah~ ngga terakhir banget sih T_T baru sempat komen hehe😀 feeling kayaknya saena sama itu tuhhhh yang ganteng banget ituhhhh hahahahah~ kalo sama jonghyun ngga mungkin, donghae juga engga mungkin. Ehm atau mungkin ada pemeran baru kah? hahahahah we’ll see later xD sorry baru sempat komen~🙂

  11. aQ bole mnggil saeng kan soal na bru tw klw umr author na t0o 17,aQ reader lma d FFindo Rieya imnida 20th…
    Saeng bsa mnta almat FB na aj g’ c0z aQ jrang bka e-mail lbih enkan bka FB… Hehheee
    aQ mnta almt FB na y buat mnta PW,0a ini nma FB aQ Rieya rin…
    Gomawo…

  12. Saena setidaknya ada jonghyun yg nemenin dia …
    Ny. Choi seharusnya perhatian sama saena dari dulu walaupun udah ada minho:/
    Next part pasti ngebahas tentang yoonmi yg kyknya kena amukan dari emaknye donghae ._.

  13. mw na ibu Hae apaan siCh…
    Sbel dech g’ pgen ap liat hae bhgia…
    Aduh saena Qmu y’ sbar y mgkin d FF in Qmu sllu traniaya tp mgkin d FF laen auth0r na mw bkin Qmu bhgia,iy kan saeng -lirik2 auth0r-

  14. penasaran gimana reaksi yoonmi kalo tahu anaknya itu saena, cewek yang pernah ditamparnya sekaligus cewek ‘tanpa sengaja’ yang mencintai donghae.
    sampai menuju ending entah kenapa chemistry antara minho dan yoonhee malah berkurang. malahan chemistry antara yoonhee dan jonghyun lebih berasa.
    disini saya lebih jujur suka karakter jonghyun. dia itu selalu bisa bikin saena tersenyum ( kadang juga yoonhee). gak jaim.
    soal minho, kok saya kurang sreg ya. oke, mungkin dia memang tampan, tapi kalo soal mengerti perasaan cewek dia amsih kalah sama jonghyun
    kasian yoonmi juga kalo dia sampe ceari sama donghae gara2 eommanya donghea dihasut jessica.
    oh, ya thor aku berharap kau memunculkan sosok appa kandung saena. yang papasan yoonmi pas di bandara. kira2 siapa ya thor? kyu??
    *mian komennya kepanjangan :D*
    nanti passnya kirrim ke zahraauryin@yahoo.co.id

    • Annyeong Chingu😀
      salam kenal🙂
      Wahhh komenmu mengalihkan duniaku chingu *plak
      hahaha aku suka nih komen yang panjang

      Iya memang karakter Minho di sini dan Jonghyun tentunya suka aku balik2 keadaannya
      jadi seolah2 bkin perasaan naik turun bacanya
      kadang kesel sama Jonghyun kadang kesel sama Minho 😄 perasaan ke tokoh lain juga sama sebenernya

      Hmm untuk sosok ayah kandung Saena udah ada chingu di Side Story
      di The Mistake Obsession😀 bisa dicek di library

      passwordnya sudah aku kirim ya chingu :))

      makasih udah baca + komen ;D

  15. Chingu, aku suka bgt sma ff ini, gila konfliknya😀
    pantesan dr dlu aku nyari chapter 11B nggk ktmu2,, trnyata d protect lg y? *baru nyadar🙂
    minta PW nya dong chingu, udh kebelet bgt pngen bca part selanjutnya,,,

    • Annyeong chingu😀
      salam kenal🙂

      hmm iya aku password🙂
      wahhh makasih udah suka :*
      emang rada gila sih konfliknya *ngaku

      minta alamat e-mailmu ya chingu ;D

      makasih udah baca + komen🙂

    • Annyeong chingu😀
      salam kenal🙂

      wehhh kebelet? ayoo dibaca dibaca😄
      hmmm minta emailmu ya buat krim pw😀

      makasih udah baca + komen😀

  16. annyeong.. aku readers ffindo thor.. aku iseng-iseng buka wordpress author eh ternyata lanjutannya udah ada…
    konfliknya itu lohhh… makin makin dah wkwk
    aku minta pw untuk chapter selanjutnya (11B) boleh?? hehehehe

  17. annyeong.. aku readers ffindo thor.. aku iseng-iseng buka wordpress author eh ternyata lanjutannya udah ada…
    konfliknya itu lohhh… makin makin dah wkwk
    aku minta pw untuk chapter selanjutnya (11B) boleh?? hehehehe

    pw nya kirimin ke margarethacempaka@yahoo.co.id
    terimakasih^^

    keep writing^o^)9

  18. Huaaaaa makin penasaran sama ceritanya ><

    Makin lama jessica makin nyebelin ._.V yoonmi fighting yaa (9'-')9 kayaknya anak kamu si saena haha *soktahu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s