[Korean Fanfiction/Straight/Series] Whether I Hate You or Not (Chapter 14)

Cover ff Whether I Hate You or Not chapter 14

Title                       : Whether I hate you or not

Author                  : Kim Sae na a.k.a Devi

Rating                   : PG13/NC17/Straight/Series/On Writing

Genre                   : Romance/Angst/Tragedy/Family/Life

Cast                       :

Main Cast            :

Super junior – Lee Donghae

Kim Yoonmi

Choi Saena (OC)

Support cast           :

SHINee – Choi Minho, Kim Jonghyun

Kim Yoonhee(OC)

Other Cast : FIND BY YOURSELF!

Disclaimer          : Super junior,SHINee, and SNSD  are belong to God,SM Entertaiment,and their parents. The Original Character is mine. This fanfic is just for fun. Please No Bash! and please don’t sue me. If you don’t like this fanfic. Please don’t read. This story is mine. Don’t take this fanfic without permission from me. If you want to take this fanfic. Please take with full credit.          

Warning               : Lolicon,a little bit violence and NC 

Author Notes : Baca cuap2 aku di bawah ^___^

Chapter 14- Say Goodbye

#NP

Yiruma – Kiss The Rain

Christina Aguilera – Hurt

Mungkin ini adalah kali terakhir aku bertemu denganmu… Terima kasih untuk segalanya…

***

I’m sorry for everything

I just couldn’t do…

Author Pov

Yoonhee gelisah menatap kalender yang sudah dilingkari spidol merah olehnya, bukan… itu bukan tanggal penentuan kelulusan ujian akhir. Bukan juga tanggal istimewanya dengan Minho, melainkan tanggal itu… tanggal yang hanya tinggal berjarak 1 bulan lagi, adalah di mana ia harus memberikan jawaban akhir apakah ia akan tinggal bersama Hyehwa atau tetapi di keluarganya sekarang.

Gadis itu kini kembali merenung setelah beberapa bulan sebelumnya ia tidak terlalu peduli dengan hal ini. Ya, tentu saja… siapa yang mau memikirkan hal itu jika di depan mata ada hal yang lebih penting, hal yang menyangkut keputusan masa depannya. Namun hal itu kini sudah berlalu, sekarang saatnya ia benar-benar menentukan pilihannya.

Yoonhee sadar, sudah terlalu banyak yang diberikan keluarga Kim padanya, sampai-sampai ia mungkin tidak tahu bagaimana  cara membalas kebaikan keluarga itu, suatu tindakan yang sedikit tidak tahu diri mungkin jika ia meninggalkan keluarga yang sudah merawatnya sejak kecil hanya demi keluarga lain yang memang satu darah dengannya tetapi sudah membiarkannya hidup dengan keluarga lain belasan tahun. Apa itu yang dinamakan keluarga?

Drrtt drrrt

Yoonhee mengambil ponsel dari saku celananya dan mengangkat panggilan itu tanpa melihat siapa yang menghubunginya.

Yeoboseyo?”

“ Yoonhee apa kau suka bunga mawar yang kuberikan beberapa bulan lalu?”

Yoonhee segera mengarahkan ponsel itu ke hadapan wajahnya dan melihat siapa yang menghubunginya saat ini. Nomor tidak dikenal…

“ Si… siapa ini?”

Yoonhee melangkah masuk ke kamarnya dan menutup pintu balkon yang tadi dibukanya, malam ini cukup cerah, tanpa ada salju yang turun, membuat Yoonhee memutuskan untuk menyendiri di balkon kamarnya.

Gadis itu berjalan pasti ke arah vas bunga yang berada di kamarnya dan melihat isinya. Bunga mawar yang didapatkannya beberapa bulan lalu masih ada di sana, sudah layu dan mengering. Ia hampir-hampir melupakan bunga itu kalau saja beberapa minggu lalu, pelayan yang membersihkan kamarnya tidak meminta izin padanya untuk membuang bunga itu. Namun Yoonhee memilih membiarkan bunga itu di sana, karena ia yakin ada maksud tertentu sang pengirim memberikannya bunga cantik itu.

“ Kau tidak mengenal suara eomma, Yoonhee?”

“ Jadi kau yang memberikan bunga itu?! Apa maksudmu?”

Yoonhee memundurkan tubuhnya dan bersandar di dinding, memejamkan matanya dan berusaha untuk fokus mendengarkan penuturan sang penelpon.

“ Kita satu darah, Yoonhee, like mother like daughter, eomma menyukai mawar dan kau juga…”

“ Ti… tidak, aku tidak menyukai bunga.”

“ Aku tahu ada saat special kenapa kau tiba-tiba menyukai bunga itu, Minho pria yang baik, aku tidak keberatan kalau kau menjalin hubungan khusus dengannya.”

“ Ba… bagaimana kau tahu?”

“ Tanpa sadar aku selalu memperhatikanmu, Yoonhee, kau saja yang tidak menyadarinya, hal yang kau tahu hanyalah aku meninggalkanmu dan itu adalah kesalahan terbesarku di hidup ini, tetapi yang kau harus tahu adalah aku menyayangimu dan peduli padamu lebih dari yang kau tahu…”

Tut tut tut…

Sambungan telepon dari wanita itu terputus, bukan Yoonhee yang mengakhiri panggilan itu melainkan wanita yang mengaku sebagai ibu kandungnya, Hyehwa.

E… eomma…”

Whether I Hate You or Not │©2011-2012-2013 by Ksaena

Chapter 14- Somebody, please take me away

ALL RIGHT RESERVED

          “ Mi… Minho-ah?”

Ne, hyung… Kau tenang saja, aku sudah tahu semuanya, bahkan aku yang menyuruh Saena noona bilang yang sejujurnya padamu. Saena noona sedang tidur sekarang.”

Minho berusaha menahan diri untuk tidak berteriak di depan Donghae, ia masih memegang teguh kesopanan, semarah apapun dia, ia tetap jauh lebih muda di bawah Donghae dan pria ini, pria yang dicintai kakaknya ini, mungkin suatu hari akan menjadi kakak iparnya.

Ah, baiklah, katakan padanya kalau aku menghubunginya tadi, gomawo, Minho.”

Ne, cheonmaneyo, hyung… bolehkah aku meminta sesuatu?”

Minho menunggu jawaban Donghae dengan perasaan was-was, ia tahu Donghae bukan pria jahat tetapi dalam kondisinya saat ini, mustahil baginya untuk bertanggung jawab pada Saena.

“ Katakan saja…”

“ Tolong jangan sakiti, noonaku… Apapun keputusan yang kau ambil aku tahu itu semua demi kebaikanmu, Yoonmi noona dan juga Saena noona tapi aku mohon apapun itu jangan sampai membuat noonaku terluka…”

“ A… aku akan berusaha mengambil keputusan yang terbaik.”

“ Aku serahkan semuanya padamu, hyung.”

Minho meletakkan ponsel Saena di meja belajar gadis itu. Kemudian melangkah mendekati Saena yang sedang tertidur setelah kurang lebih satu jam menangis di pelukan ayah mereka.

Noona, apa kau benar-benar menderita? Kenapa hidupmu bisa sedemikian rumit?”

Minho memandang Saena dengan wajah prihatin, gadis itu memang selalu berusaha kelihatan kuat walaupun ia rapuh dan sudah menjadi takdirnya berada di tengah-tengah gadis yang seperti itu. Yoonhee mempunyai sifat yang sama dengan Saena, dan saat ini dua-duanya sedang mengalami masalah.

Tetapi Minho tidak tahu masalah apa yang sedang dialami kekasihnya itu, Yoonhee tidak pernah mau berkata jujur padanya, mungkin ia merasa menyembunyikannya adalah hal terbaik karena tidak ingin seorang pun merasa kasihan padanya. Itulah sifat Yoonhee… membenci rasa kasihan, bahkan dirinya dipenuhi rasa seperti itu, tapi sudah sejak lama Yoonhee berubah, ia tidak lagi menjadi gadis jahat karena memang bukan begitu sifat dasarnya.

“ Jadi bukan kau yang mengirimkan bunga itu?”

        “ Memangnya kemarin apa yang ditulis oleh pengirim itu?”

        “ Rose like you… beautiful but painful.”

Sekelebat memori terkenang dalam pikiran pria itu. Bunga… bunga mawar yang pernah dikira Yoonhee adalah pemberian darinya.

“ Apa ada sesuatu yang berhubungan dengan mawar?”

***

          Hari-hari berlalu begitu cepat, tanpa terasa liburan yang diberikan selama beberapa hari pada anak kelas tiga, sebagai masa refreshing setelah ujian sudah berakhir dan mereka harus kembali ke sekolah untuk mempersiapkan beberapa kegiatan sekolah yang menyangkut acara kelulusan dan perpisahan mereka dari sekolah ini.

Namun tetap saja, yang namanya kegiatan sekolah bukan lagi belajar mengajar, melainkan hanya beberapa rapat kelas untuk foto Year book dan kesibukan OSIS untuk acara Pentas Seni dan Prom Nite, membuat cukup banyak murid yang menambah jatah liburan mereka dengan tidak menginjakkan kakinya di sekolah hari ini. Hari pertama di mana mereka harusnya sudah kembali dari liburan. Walaupun tingkat kehadiran mereka akan mempengaruhi absensi tetap saja mereka nekat untuk tidak masuk sekolah dengan berbagai alasan.

“ Kalau kau masih tidak enak badan tadinya, kau tidak usah masuk saja, noona…”

Minho berkata dengan wajah mengantuk yang kentara jelas, itu semua adalah akibat begadang untuk ujian hari ini. Kalau beberapa minggu lalu Saena yang melakukan hal itu sekarang ia yang kebanjiran ulangan harian sebelum ulangan umum tiga minggu lagi.

“ Sepertinya malah kau yang sedang tidak enak badan.”

Saena menahan tawa saat melihat Minho mempunyai lingkaran hitam di sekitar matanya, membuatnya tampak seperti panda.

“ Aku hanya mengantuk, kemarin aku mengerjakan PR sampai jam 2 pagi. Hoahhhmmm…”

“ Jangan sampai kau ketiduran di kelas nanti.”

“ Mudah-mudahan, arghhh andai saja hari ini tidak ada dua ulangan, pasti aku sudah bolos.”

Aishhh! Anak nakal! Aku saja tidak pernah membolos sekolah. Hmm, itu kekasihmu, temui dia sana.”

Saena melangkah pergi meninggalkan Minho yang berjalan menghampiri Yoonhee. Sejujurnya kondisi tubuhnya menurun belakangan ini, ia sudah mulai mengalami apa yang dinamakan morning sickness. Memang ini adalah hal yang wajar bagi wanita hamil sepertinya, tapi itu benar-benar sangat menganggu dan untungnya hal itu hanya terjadi pada pagi hari dan tidak terlalu sering seperti wanita hamil yang dilihatnya di televisi.

“ Sekarang aku masih bisa menyembunyikanmu, lalu kalau kau sudah besar bagaimana aku bisa menyembunyikannya? Kau ada ide, baby?”

Saena mengusap perutnya dan bergumam pelan, koridor menuju kelasnya masih sangat sepi, wajar saja walaupun jam masuk tinggal lima belas menit lagi, tidak akan ada anak yang benar-benar rajin untuk datang jauh sebelum bel masuk, malah mungkin banyak yang akan datang terlambat.

Itu bukan masalah karena guru-guru baru akan mengabsen setengah jam setelah bel masuk, jadi masih ada peluang setengah jam sebelum nama mereka tidak tercatat sebagai siswa atau siswi yang hadir, hal itu sama saja dengan sia-sia, untuk apa masuk kalau tidak diabsen?

YAA! Minra-ah!” Saena berlari kecil kemudian memeluk tubuh Minra dari belakang, sontak gadis itu menoleh dan tersenyum pada Saena.

“ Uhuk… Kau pakai parfum baru?”

Saena tiba-tiba merasa mual saat mencium bau parfum milik Minra. Ini kali pertama ia menghirup parfum dengan wangi seperti itu di tubuh Minra. Padahal biasanya ia bisa dengan cepat menyesuaikan diri dengan bau parfum yang dipakai sahabatnya itu, namun kali ini ia merasa tidak nyaman dengan baunya yang menggelitik hidung.

Ne, ini adalah oleh-oleh dari eommaku kemarin saat beliau pergi ke Italy. Baunya enak ya? Aku suka…”

Minra mengalungkan tangannya di bahu Saena sementara gadis itu menutup hidungnya menggunakan tangan, berusaha mengusir perasaan mual yang menghantuinya.

“ Uhukk… aku… aku ke toilet dulu, ne? Kau ke kelas saja duluan.”

Tanpa menunggu jawaban Minra, Saena segera berlari meninggalkan gadis itu membuat Minra mengernyitkan dahinya, heran dengan perubahan sikap Saena yang tiba-tiba.

“ Aneh, kenapa tiba-tiba ia batuk seperti itu? hmm… benar kok, bau parfumku enak, apa Saena tidak menyukainya ya?”

***

          “ Hueekk… hueekkk…”

Saena membuka keran dan membasuh wajahnya menggunakan air yang mengalir dari sana. Ia merasa tidak enak dengan Minra kalau harus menyuruh gadis itu berhenti menggunakan parfum yang membuatnya mual, sepertinya gadis itu menyukai parfumnya, ia juga tidak bisa tiba-tiba menjauh dari Minra, gadis itu akan sangat bersedih dan pasti ia juga harus menjelaskan alasannya.

Saena ingin menyembunyikan kehamilannya, selain karena itu adalah permintaan Donghae yang disampaikan lewat Minho, ia tidak ingin membuat sahabatnya itu kecewa. Walaupun Saena dan Minra hanya sepasang sahabat, Minra sangat menyayangi Saena seperti saudara begitupun Saena. Apalagi Saena tidak menceritakan soal perasaannya pada Donghae, pasti akan menjadi aneh kalau tiba-tiba Saena mengatakan ia sedang mengandung benih pria itu.

Aishhh, aku harus belajar untuk terbiasa dengan bau-bau yang akan membuatku mual, pasti akan sangat mencurigakan jika aku mual-mual di tempat umum dan banyak orang di sana.”

Untungnya keadaan toilet sedang sepi, jadi ia tidak harus mencuri perhatian beberapa orang yang sedang berada di sini, dengan tingakh mual-mualnya yang memang mencurigakan. Walaupun Saena yakin mereka tidak akan peduli padanya, kecuali yang berada di sana adalah guru-guru. Mungkin ia akan ditegur atau bahkan disuruh pindah ke UKS kalau ia terlihat sakit.

“ Ehh… itu Minra, kukira dia sudah masuk ke dalam kelas.”

Saena baru saja akan mendekati gadis itu ketika ia menyadari gadis itu sedang melihat ke satu arah. Saena berjalan pelan sambil mencari sesuatu yang sedang diperhatikan oleh gadis itu. Kemudian ia menyadari siapa yang sedang mencuri perhatian Minra. Tiga orang yang sedang berbincang-bincang, lebih tepatnya satu orang yang mendominasi percakapan, sisanya hanya mengangguk atau menggeleng jika ditanya, tanpa berniat masuk lebih dalam ke percakapan itu.

“ Huh… Jonghyun masih menyukai Yoonhee ternyata, projectnya untuk melupakan gadis itu belum berhasil… Tapi… siapa yang sedang dilihat oleh Minra?  Jonghyun atau… Minho?”

Saena melangkah ke sebelah Minra, namun gadis itu belum menyadari kedatangannya. Gadis itu sengaja meletakkan kedua tangannya untuk menutupi mata sahabatnya itu.

Aishhh! Saena-ah, lepaskan.”

“ Ugh…”

Saena segera berjalan menjauh dari Minra, perasaan mual itu kembali namun ia masih bisa menahannya dan segera menguasai tubuhnya agar ia tidak harus kembali memuntahkan udara seperti yang dilakukannya beberapa saat lalu di toilet.

“ Kau tahu darimana ini aku?”

“ Bau parfummu itu jadul tahu, berapa lama sih kau memakai parfum dengan merek itu? Ganti saja! Mau kupinjamkan parfum milikku? Aku bawa, chamkanman, aku ambilkan.”

“ Ahhh tidak usah, hehehehehe… nanti pulang dari sini kau temani aku beli parfum saja.”

Geurae…”

“ Tadi siapa yang sedang kau perhatikan?”

Saena melihat ke arah di mana ada tiga orang yang tadinya sedang berbincang namun sekarang ia  hanya menemukan kekosongan di sana. Kemana perginya tiga orang itu?

“ Ah, bukan siapa-siapa, aku hanya bosan di kelas, baru hanya ada 5 orang yang datang termasuk kau dan aku, tapi itupun hanya tasnya saja yang di kelas.”

Mwo? Ihh kalau begitu besok aku mau datang lima menit sebelum Geum Seongsaenim mengabsen saja, kalau begini kita yang kepagian tahu…”

Saena baru menyadari kalau ia belum sempat meletakkan tasnya, ia segera melangkah masuk diikuti Minra.

Hufffttt… liburan cepatlah datang…”

Saena baru menyadari kalau sejak tadi Minra tidak membalas perkataannya, Saena menoleh dan mendapati gadis itu malah asyik melamun di depan pintu kelas mereka yang setengah terbuka.

YAA!  Lee Minra, ke sini!”

“ Ah? Ne… aku ke sana.”

Minra yang tersadar dari lamunannya langsung menghampiri Saena dengan langkah cepat, setengah berlari.

“ Kau melamunkan apa tadi?”

“ Ah bukan apa-apa…” Minra tersenyum menyakinkan, namun Saena tahu ada yang disembunyikan gadis itu.

“ Kau ada masalah, ne? Sepertinya hari ini kau kelihatan lesu, waktu aku ke toilet tadi, apa ada yang mengganggumu?”

Saena menyadari perubahan sikap sahabatnya itu tercipta setelah ia meninggalkan Minra sendirian di koridor. Lalu saat ia kembali gadis itu malah sedang asyik memperhatikan Yoonhee, Minho, dan Jonghyun yang kelihatannya sedang membicarakan sesuatu yang ringan, ekspresi wajah mereka menunjukkan itu.

“ Tidak ada, aku hanya memikirkan hasil ujian.”

Ckitt!

Bunyi pintu yang dibuka perlahan membuat Saena dan Minra menoleh dan mendapati Yoonhee berjalan memasuki kelas. Tatapan Minra langsung berubah sedih, ia melihat Yoonhee yang berjalan ke arah mereka, lebih tepatnya ke arah kursinya yang memang harus melewati meja Saena dan Minra.

Annyeong…”

Annyeong…”

Hanya Saena yang membalas sapaan gadis itu. Dalam hati, ia sendiri heran kenapa gadis itu tiba-tiba menyapanya seramah itu, apa mungkin karena suasana hatinya sedang baik? Padahal walaupun sudah resmi menjadi kekasih adiknya, hubungan Yoonhee dan Saena belum sepenuhnya membaik.

Lalu kenapa Minra tidak menjawabnya?

Saena melihat ke arah sebelahnya dan mendapati Minra sedang menelungkupkan wajahnya di atas tangannya di atas meja, sepertinya ia berpura-pura tidur, kentara sekali gadis itu sengaja menghindari Yoonhee.

“ Ada apa ya?”

Saena bergumam pelan dan sepertinya baik Minra maupun Yoonhee, karena hanya mereka bertiga di kelas itu, tidak ada yang mendengar suaranya.

***

          “ Donghae-ah…”

Yoonmi mendekati Donghae yang sedang menenggelamkan dirinya di dalam tumpukkan pekerjaaan.

Ne, ada apa, yeobo?”

“ Aku mau buah strawberry, tolong belikan.”

Donghae mengalihkan wajahnya dan menarik tubuh Yoonmi mendekat padanya, lalu membuat gadis itu duduk dipangkuannya.

“ Ugh… berat badanmu bertambah berapa kilo? Lama-lama aku tidak akan bisa memangkumu atau menggedongmu lagi… Hmm ya saat ini aku sedang sibuk, Yoonmi, nanti aku suruh office boy saja untuk membelikannya, ne?”

“ Aku ini sedang hamil, hae! H… A… M… I… L… dan ini semua kan karena ulahmu, bayi dalam kandunganku bertumbuh dan bertambah besar! Kalau beratku tidak bertambah bukankah itu akan sangat aneh? Shireo! Aku tidak mau nanti, aku maunya sekarang.”

Geuraewait a minute. Aku akan menyuruh seseorang membelinya sekarang.”

Donghae meraih telepon yang berada di samping kirinya dan baru akan menemkan beberapa angka yang menghubungkannya dengan pantry, tetapi Yoonmi sudah menahan tangannya.

“ Tidak, jangan office boy, aku mau kau sendiri yang membelikannya untukku.”

Yoonmi berdiri dari pangkuan Donghae dan membuat pria itu ikut berdiri dari kursinya. Saat berdiri berjajar, Yoonmi menyadari tingginya dengan pria itu berpaut hampir 15 cm dan hal itu membuatnya kesal. Selama ini ia bisa menggunakan high heels untuk bepergian kemana saja, tetapi semenjak hamil, Donghae menyuruhnya menyingkirkan semua sepatu bertongkat itu dan menggantinya dengan flat shoes.

“ Donghae, kau duduk saja.”

Donghae kembali duduk di kursinya dan memandang Yoonmi dengan tatapan heran yang terlihat jelas dari raut wajahnya.

“ Kenapa, chagi?”

“ Kau terlihat lebih pendek dariku ketika duduk, aku tidak suka jika tinggi kita berbeda terlalu jauh, huh…”

“ Kau tahu kan alasanku melarang kau memakai sepatu runcing itu? Aku tidak ingin kau jatuh, chagi… kau sedang mengandung, itu akan sangat berbahaya, bukan hanya untuk bayi kita tapi juga untukmu.”

Ne, aku tahu… Sekarang, pergilah!”

Aish, Yoonmi-ah, setengah jam lagi aku ada rapat penting dengan bagian HRD membahas kemungkinan kita akan menambah jumlah desaigner.”

“ Aku tahu… tapi apa susahnya pergi ke supermarket yang berada hanya 100 meter dari kantor ini? Cepat pergi.”

“ Baiklah, ini semua demi kalian berdua, aku pergi.”

Donghae mengecup pipi Yoonmi sekils sebelum beranjak dari sana. Yoonmi hanya bisa berteriak sebelum Donghae menghilang di balik pintu.

“ Ugh… dasar tukang cari kesempatan.”

Yoonmi duduk dengan hati-hati di kursi Donghae dan kembali melamun. Beberapa saat kemudian tangannya bergerak, iseng membuka-buka laci kerja Donghae. Yoonmi tidak pernah melihat isi ruangan Donghae secara mendetail sebelumnya. Bukannya ia ingin mengorek privasi suaminya, ia juga tahu batas-batas yang harus dilewatinya, Donghae juga tidak pernah menggeratak isi ruangannya.

Jelas saja, kalaupun Donghae melakukan hal itu, dia akan menjadi pusat perhatian para designer yang berada di ruangan-ruangan sebelaah ruangan miliknya. Lagipula Yoonmi tidak pernah menyimpan sesuatu yang berharga di ruang kerjanya, menurutnya tempat itu tidak aman. Hanya akan membuatnya khawatir secara terus-menerus, kalau-kalau nanti ada yang mengorek isi ruangan itu.

Mian, Donghae-ah, aku hanya penasaran.”

Senyuman Yoonmi semakin lebar saat menemukan foto dirinya di laci paling atas meja kerja Donghae, ia memperhatikan lamat-lama foto yang diambil pria itu secara diam-diam sepertinya dan tampaknya belum terlalu lama, baru sekitar lima bulan yang lalu. Karena Yoonmi menyadari foto itu diambil Donghae saat mereka berbulan madu di Paris.

“ Aku terharu… Donghae ternyata selalu memperhatikanku ketika ia berada di kantor, padahal aku kan satu kantor dengannya. Besok aku juga akan memasang fotonya di ruang kerjaku, agar ia tahu kalau aku juga selalu memperhatikannya. Eh…”

Yoonmi baru menyadari sesuatu ketika ia hendak meletakkan foto itu kembali di tempatnya sebelum Donghae kembali. Bingkai foto tempat Donghae menyimpan foto dirinya terdiri dari dua bagian dan dibaliknya terdapat sisi kaca yang sama untuk menyimpan foto. Dengan penasaran Yoonmi membalik bingkai foto itu, menjadikan fotonya berada di bawah dan foto dibaliknya menjadi di bagian atas.

“ I… ini…”

Yoonmi tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat foto yang terpasang di sana bukan foto Donghae seperti perkiraannya melainkan foto seseorang yang sangat mengganggu kehidupannya beberapa bulan ke belakang.

“ Jes… Jessica. Kenapa Donghae menyimpan fotonya?”

Tok Tok Tok

Yoonmi segera sadar dari lamunannya dan meletakkan foto itu di tempatnya semula, tepat sebelum Jaehwa masuk ke ruangan Donghae.

“ Eh, Nyonya Lee… Jwesonghamnida, saya mengira Tuan Lee berada di ruangannya.”

“ Ah, gwenchana, Jaehwa, aku akan segera kembali ke ruanganku. Sebentar lagi Donghae akan kembali.”

“ Aku hanya ingin memberikan ini…”

Jaehwa meletakkan amplop cokelat tipis di hadapan Yoonmi.

“ Ah, ne, aku akan sampaikan padanya.”

“  Ghamsahamnida, nyonya, saya permisi.”

Yoonmi tersenyum seraya mengambil amplop itu dari meja Donghae dan memperhatikannya.

“ Tidak ada nama pengirim?”

Yoonmi memutuskan untuk meletakkan amplop itu kembali ke atas meja Donghae, menurutnya hari ini ia sudah terlalu banyak mengorek privasi Donghae, walaupun pria itu adalah suaminya, ia tidak berhak melewati batas-batas pribadi pria itu terlalu jauh. Walaupun ia penasaran kenapa pria itu masih menyimpan foto Jessica, ia memutuskan untuk mengabaikannya.

YAA!  Kau pasti sudah mengacak-acak isi ruang kerjaku kan?”

Donghae segera berlari, meletakkan bungkusan yang dibawanya di atas meja dan memeluk Yoonmi dari belakang.

“ Ishhh, kau curiga sekali, Presdir Lee, pekerjaanku masih banyak, aku akan kembali, Gomawo sudah membelikan ini untukku. Ah, itu ada surat untukmu, Jaehwa yang mengantarkannya.”

Ne, selamat bekerja, chagi…”

“ Selamat bekerja juga, suamiku yang tampan tapi terkadang kelewat narsis.”

YAA! Ka…”

Yoonmi keburu menutup pintu ruangan kerja Donghae sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya.

Aishh… tapi setidaknya ia mengakui kalau aku ini tampan.”

Tok tok tok

Jaehwa kembali ke ruangan kerja Donghae. Kegiatan pria itu untuk membuka surat yang dikirimkan padanya terhenti.

“ Tuan Lee, anda sudah ditunggu untuk rapat.”

Ne, aku akan segera ke sana, ghamsahamnida, Jaehwa.”

***

          “ Baiklah, jadi kita sudah sampai pada keputusan final untuk menambahkan tiga orang designer lagi di dalam Shining Dream? Ada yang keberatan?”

Semua manusia yang berada di ruangan itu hanya terdiam. Itu pertanda mereka semua sudah menyetujui hasil rapat yang sudah berlasung selama satu jam itu.

“ Kalau semuanya sudah setuju, sekarang silahkan kembali ke ruangan masing-masing.”

“ Baik, Presdir Lee.”

Satu per satu mereka keluar dari ruang rapat dan meninggalkan Donghae seorang diri, pria itu masih asyik membenahi laptop dan beberapa berkasnya sebelum melangkah meninggalkan ruangan dengan kapasitas tiga puluh orang itu.

Hal yang pertama kali dilakukannya ketika kembali ke ruangan kerjanya adalah meneruskan kegiatan membuka amplop yang dikirimkan padanya beberapa saat yang lalu itu. Rasa penasaran kembali menguasai hatinya, apalagi tidak ditemukan identitas sang pengirim di dalam amplop itu.

“ Apa ini?”

Donghae menyadari amplop itu bukan berisi surat melainkan berisi sebuah kertas berikuran kecil yang ternyata adalah sebuah hasil sonogram. Donghae tidak perlu bertanya siapa pemilik foto itu. Foto seorang makhluk kecil yang masih belum terbentuk, entah mengapa Donghae merasa tersentuh dengan makhluk yang berada dalam foto itu. Tidak kelihatan jelas memang, tetapi ia masih sadar kalau makhluk itu tumbuh dan ada karenanya.

“ Saena… apa tujuannya mengirimkan foto ini padaku?”

Donghae memang belum menyelesaikan urusannya dengan gadis itu dan mendadak ia merasa egois. Di umur gadis itu yang baru akan menginjak usia dewasa, masalah kehamilannya adalah masalah yang bisa membuatnya sangat tertekan. Belum lagi kalau orang tuanya tahu, entah hukuman macam apa yang akan diberikan orang tua Saena padanya. Sebagai laki-laki, Donghae harusnya bertanggung jawab.

Tetapi ia tidak sanggup untuk menyakiti Yoonmi, gadis itu sudah mendapat terlalu banyak masalah dalam hidupnya. Ia tidak akan sanggup membuat gadis itu menderita lebih dalam, cukup masalah Jessica, Yoonhee, dan ibunya yang mengganggu pikiran gadis itu. Tapi Donghae sendiri tidak bisa mengabaikan perasaan Saena, gadis itu juga sedang menderita karenanya.

ARGGGHHH! LEE DONGHAE, Kau bodoh! Benar-benar bodoh… sekarang bagaimana kau bertanggung jawab?”

***

Srkkk srkkk

Saena mengaduk-aduk isi laci meja belajarnya sampai isinya berserakan di lantai kamarnya. Namun benda yang dicarinya tidak kunjung ditemukan.

Aishhh! Dimana aku letakkan ya?”

Benda yang dicarinya bukan benda biasa, kalau saja yang menemukan benda itu Minho, Saena masih bisa bernafas lega tapi kalau ada pelayan yang membersihkan kamarnya menemukan benda itu. Maka dalam waktu sekejab ia akan habis, orang tuanya akan tahu apa yang sedang terjadi padanya saat ini. Tidak mungkin ia bertanya pada pelayan yang mungkin membersihkan kamarnya, hal itu juga akan menimbulkan kecurigaan.

Huft…”

Saena mengelap keringat yang membanjir di dahi dan beberapa bagian tubuh lainnya. Ia beranjak membereskan isi lacinya dan mengambil tempat di depan laptopnya yang menyala. Untungnya ia baru mengecek lacinya saja dan bukannya mengacak-acak seluruh kamarnya. Bagaimana pun juga dokter sudah mengatakan padanya untuk tidak terlalu sering melakukan pekerjaan berat.

Saena kembali merenung, sudah beberapa hari sejak ia membiarkan Donghae berpikir namun pria itu tidak kunjung memberinya kabar. Walaupun Saena bisa mengerti kalau pria itu butuh waktu dan juga karena pria itu sudah memiliki istri. Tetapi sampai kapan? Saena juga butuh kepastian, ia tidak bisa menunggu sampai perutnya membesar hanya untuk mendapatkan keputusan dari pria itu.

Saena memandang datar layar laptopnya yang menampilkan sederetan info yang dibukanya mengenai kehamilan, kemudian ia membuka tab baru dan mengetik kata aborsi di sana, ia mencari info tentang kegiatan biadab itu, jadi suatu saat jika ia harus melakukannya, ia sudah tahu bagaimana dampak dan prosesnya.

Gadis itu bukannya bermaksud keji, membunuh calon manusia yang berdiam di rahimnya kini, tetapi ia hanya mencoba berpikir realistis. Donghae sudah memiliki istri dan Saena tahu istri dari pria itu juga tengah mengandung, terlihat dari perutnya yang sedikit membesar, Donghae tidak akan meninggalkan wanita itu hanya untuk bertanggung jawab padanya. Saena cukup tahu siapa dirinya di mata pria itu, ia hanya gadis tak berarti, tak berharga.

“ Ini…”

Saena segera menutup tab yang dibukanya, menampilkan gambar-gambar bayi yang diaborsi, membuatnya merasa pusing melihat semua gambar itu. Perasaan tidak tega segera memenuhi relung hatinya. Apa ia sekejam itu untuk membunuh manusia yang bahkan belum mengenal warna dunia? Apa dosanya akan diampuni? Saena tidak mau menambah dosa baru ketika ia baru saja melakukan sebuah dosa besar. Namun ia tidak tahu pilihan apa yang harus diambilnya saat ini.

Tok tok tok

“ Masuk…”

Saena segera mematikan laptopnya dan memindahkan dirinya ke atas kasur. Duduk di sana dalam diam dan kembali merenung.

Noona, eomma dan appa memanggilmu untuk makan malam.”

Begitu Minho muncul di depan pintu kamarnya, Saena segera menarik pria itu masuk dan mengunci pintunya.

“ Ada apa, noona?”

“ Minho-ah, apa kau lihat foto hasil USG pertamaku kemarin? Aisshhh! Aku tidak percaya ini, aku menghilangkannya.”

Mwo? Coba lihat buku catatan medismu, noona, kemarin bukannya uisa-nim menempelkannya di sana?”

“ Justru tadi aku membukanya untuk melihat foto itu, tapi sekarang sudah lenyap.”

Saena tertunduk sedih, Minho mengusap lembut bahu kakaknya. Mencoba menghibur Saena dengan bahasa tubuhnya.

“ Aku takut foto itu ditemukan orang lain, Minho-ah, lalu bagaimana aku?”

“ Aku akan membantumu mencarinya nanti, sekarang kita turun saja, eomma dan appa akan curiga kalau kita lama di sini.”

“ Ah, nekajja.”

Saena baru akan melangkah keluar kamar ketika Minho memanggilnya. Pria itu tampaknya masih belum merubah posisi duduknya.

“ Apa?”

“ Aku akan membantumu mencari foto itu setelah kau membantuku mengerjakan PR sejarah dari Shin Seongsaenim.”

MWO?! Aish kau ini masih saja mencari kesempatan untuk menguntungkan dirimu!”

***

          Minggu ini murid-murid tingkat tiga dilanda perasaan campur aduk, bukan hanya karena mereka telah mendengar pengumuman bagaimana hasil belajar mereka selama tiga tahun penuh di bangku SMA dan hasil ujian itu berhasil memuaskan seluruh anak karena tidak ada satupun yang harus menunda kelulusan mereka tahun depan atau dengan kata lain mereka semua lulus 100%. Melainkan setelah pengumuman membahagiakan itu, mereka harus kembali merasa sedih karena dengan begitu mereka akan segera berpisah dengan teman-teman 1 angkatan.

Acara mengharukan pun dimuliai, setiap anak perempuan yang tidak bisa menahan air mata mereka segera membanjiri kelas masing-masing dengan tangisan, saling berpelukan satu sama lain, antar teman, antar sahabat, bahkan antar musuh sekalipun, karena mereka menyadari masa-masa sekolah mereka hampir berakhir ditutup dengan acara prom night besok malam di hall sekolah mereka yang cukup untuk menampung anak-anak seluruh angkatan.

Tetapi namanya acara yang dikhususkan untuk anak tingkat tiga, tentu saja yang diundang hanyalah anak-anak kelas tiga dan juga guru-guru serta bebera alumni yang akan mengisi acara mereka. Anak kelas dua dan kelas satu yang datang hanyalah mereka yang akan mengisi acara dan yang bergabung dalam kepengurusan OSIS.

Berbeda dengan anak perempuan yang saling tenggelam dalam isak tangis, anak laki-laki merasa lebih kuat, bahkan tidak ada satupun dari mereka yang meledak dalam tangisan, mereka hanya saling berpelukan dan meneriakkan kata perpisahan, walaupun hati mereka dikendarai rasa sedih yang sama.

Srroottt…”

Suara-suara ajaib yang berasal dari sebelahnya membuat Saena yang masih diliputi perasaan haru, menghapus air matanya dan menatap orang itu dengan risih.

“ Kau jorok, Minra-ah, aku tidak mau berpelukan lagi denganmu.”

YAA! Jangan begitu… waktu kita bersama tinggal beberapa hari lagi tahu, aku sedang dalam masa-masa bersedih hati.”

“ Kata-katamu mengarah seolah kita akan berpisah selamanya, padahal kalau liburan kita bisa saling bertemu kan?”

“ Tetap saja akan berbeda rasanya, hampir setiap hari aku melihatmu dan bersenda gurau denganmu dan juga dengan yang lainnya, ketika kuliah masa-masa seperti ini mana bisa diulang?”

“ Uhh… aku terharu.”

“ Huwaaaaa tapi yang paling menyedihkan adalah aku harus berpisah dengan namja pujaanku.”

Mwo? Kau mempunyai seseorang yang kau suka?! Katakan padaku! Katakan sekarang siapa? Aishhh! Kau jahat sekali…”

Saena mengguncang-guncang bahu Minra dengan semangat, membuat tubuh gadis itu bergerak tak karuan.

YAA! YAA! Geumanhae, Saena-ah, kau membuatku pusing.”

Ne, mianhae, aku hanya penasaran.”

“ Hmm, belum saatnya aku bicarakan ini padamu. Lagipula yang aku inginkan darinya bukan menjadi yeojachingunya melainkan aku hanya ingin dia tahu bagaimana perasaanku padanya, hanya itu, sebelum aku dan dia benar-benar berpisah.”

“ Aku tahu, kau pasti mau mengatakan perasannmu itu saat prom night besok kan?”

“ Bukan, dia tidak akan hadir di prom night besok…”

Mwo? Jadi dia hoobae kita?”

Minra mengangguk dan menunduk malu, wajahnya sudah memerah sekarang, seandainya Saena tahu siapa pria yang dimaksudnya ia mungkin akan sangat terkejut. Namun menurutnya, Saena tidak perlu tahu, biarlah hanya Tuhan dan dirinya sendiri dan juga pria itu nantinya yang tahu bagaimana perasaannya saat ini kepada sang pujaan hati.

“ Sekarang kau tidak mau cerita padaku ya, huh… aku marah padamu.”

Saena membalikkan badannya membelakangi Minra, sebenarnya kata-kata itu juga cocok ditujukan padanya namun skala masalahnya jauh lebih besar dari Minra dan ia belum siap menceritakan masalah itu kepada siapapun juga, walaupun Minra adalah sahabatnya yang paling baik.

Aishh, nanti kau juga tahu, hmmm, Saena-ah, mungkin saat waktu istirahat nanti aku akan mengatakan hal ini padanya, kau… kau doakan aku ya supaya berhasil.”

Geurae! Bahkan aku berharap dia juga menaruh perasaan padamu, sehingga kau dan bisa bisa menjadi sepasang kekasih.”

Di luar dugaan Minra hanya menundukkan wajahnya dan tertunduk lesu, kata-kata Saena seolah menusuknya dari dalam. Ia tahu apa yang dikatakan oleh gadis itu adalah hal baik namun dalam kasusnya hal itu tidak akan mungkin menjadi nyata tanpa menyakiti pihak-pihak tertentu.

“ Sayangnya, pria itu… sudah mempunyai yeojachingu.”

***

          Saena berjalan menuju satu kelas yang belum pernah didatanginya sebelum-sebelumnya, karena jika ia ingin menemui seseorang ini, mereka akan janjian di luar sekolah atau orang itu yang menghampiri Saena. Namun kali ini berbeda karena Saena merasa mungkin inilah saat-saat terakhir ia bisa bertemu dengan pria itu.

Salah satu pria yang berhasil memutar hidupnya yang terasa kelam kembali ke zona terang, walaupun ia baru mengenal pria itu selama beberapa bulan, Saena merasa kalau pria ini adalah salah teman terbaik yang pernah dimilikinya. Seseorang yang mampu membuatnya tersenyum setelah tangisan.

“ Wow, Saena… tumben kau ke sini, aku baru saja ingin ke kelasmu.”

Jonghyun cukup terkejut melihat kemunculan gadis itu di depan pintu kelasnya. Raut wajahnya sedikit terlihat sedih, aneh memang, mengingat kalau harusnya ia senang karena hasil belajarnya selama ini dilambangkan dengan kata lulus bercetak tebal di ijazahnya nanti.

“ Bertemu denganku apa dengan Yoonhee?”

“ Dengan kalian berdua… Ah iya, Chukae… karena kau sudah lulus.”

Gomawo, Jonghyun-ah, aku terlihat sedih karena harus berpisah dengan teman-temanku, percayalah walaupun selama satu tahu di kelas kau tidak pernah dekat dengan mereka tapi jika sudah sampai tahap akhir seperti ini kau baru akan merasa kalau betapa waktu-waktumu bersama mereka sangatlah berharga.”

Ne, mungkin memang sekarang aku tidak bisa merasakan tapi nanti mungkin, hahaha…”

Saena merasa iri dengan pria ini, kenapa dengan mudahnya ia tertawa? Padahal dirinya sendiri sedang merasa sedih karena akan segera berpisah dengan pria ini.

“ Hmm, Jonghyun-ah, apa kita masih bisa bertemu ketika aku sudah lulus dari sekolah ini?”

Jonghyun menghentikan tawanya dan menatap Saena intens. Saat ini memang adalah saat-saat ia harus serius karena ekspresi Saena sama sekali tidak bisa dibilang sedang bercanda.

“ Tentu saja, kita kan teman, lagipula suatu saat nanti kita akan lebih sering lagi bertemu walaupun kita sudah tidak satu sekolah.”

Jonghyun berkata dengan volume kecil, seolah tidak ingin Saena mendengar kata-katanya padahal ia sedang berbicara dengan gadis itu.

“ Kau bicara apa?”

“ Ah, itu aku hanya bilang kita masih bisa bertemu, kau kan bisa sering ke sini dan aku bisa ke rumahmu atau kita bisa jalan bersama seperti yang sudah-sudah.”

“ Aku senang mendengarnya.”

Dalam hati Saena mengakui hal itu, tetapi ia tidak bisa menjaminnya, satu bulan lagi perutnya akan mulai membesar, makin sulit baginya untuk menutupi hasil perbuatannya itu, Saena sudah memikirkan akan segera memberitahu orang tuanya, apapun resikonya akan ia tanggung semuanya, sendirian. Lelah baginya menunggu jawaban Donghae yang tak kunjung datang, sementara masalah ini tidak bisa ditunda lama.

Lebih baik orang tuanya tahu hal sepenting ini dari mulutnya sendiri daripada dari orang lain dan akan membuatnya semakin merasa bersalah. Ia hanya bisa berharap kalau orang tuanya tidak akan membenci dirinya, tetapi sepertinya itu adalah hal yang mustahil, ia sangat tahu bagaimana kedua orang tuanya sangat menyayangi dan perhatian padanya.

Walaupun sang ibu tidak menunjukkan secara langsung, Saena tahu ibunya itu masih menyimpan kasih sayang untuknya. Pemikiran seperti itu yang membuat air mata Saena kembali mengalir, membentuk dua aliran kecil membasahi pipinya. Jonghyun yang melihat keadaan Saena yang tiba-tiba menangis, tidak bertanya lebih lanjut, ia hanya menarik Saena ke dalam pelukannya.

Masih banyak hal yang harus dipelajarinya tentang gadis itu, termasuk mendalami bagaimana kepribadian Saena yang tertutup. Maka dari itu ia memutuskan hanya diam dan menenangkan gadis itu lewat bahasa tubuh, bahasa yang tidak harus menuntut penjelasan lebih dan berkepanjangan, hanya sebuah pelukan hangat yang berarti.

“ Saena… Aku akan berusaha berada di sampingmu, selama yang aku bisa.”

***

          Berbeda dengan pemandangan yang terjadi beberapa meter di depan mereka, hanya dipisahkan dengan lapangan basket yang cukup luas, menjadi jarak diantara dua lorong kelas itu, namun karena kedua pasangan itu berada di balkon koridor, mereka bisa saling bertatapan, namun satu pasang lainnya bahkan tidak menyadari adanya pasangan lain yang berada di sebrang mereka. Satu pasang laki-laki dan perempuan itu larut dalam kegiatan mereka.

Minra ingin bertanya sebenarnya apa yang sedang dipikirkan pria itu saat melihat kakaknya berpelukan dengan seorang laki-laki. Minra bahkan bingung bagaimana sahabatnya itu bisa sedemikian dekat dengan adik kelas mereka, mungkin ia akan menuntut penjelasan gadis itu nanti setelah masalahnya dengan pria ini selesai.

“ Min… Minho-ah…”

Pria itu tesadar dari lamunannya yang tercipta karena melihat pemandangan dua orang yang masih berpelukan di sebrang sana, sehingga melupakan kehadiran seseorang sejak lima menit yang lalu di sampingnya itu.

“ Ah, nde, noona? Mianhae, aku jadi melamun.”

“ Itu, ada yang ingin aku katakan padamu.”

Minra melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Itu hanya gerakan untuk menutupi rasa gugupnya, jam istirahat bahkan baru akan berakhir dua puluh tiga menit lagi. Ia seharusnya mengatakan hal itu dengan cepat, mumpung pria ini sendirian, sebelum kekasih pria ini tiba.

“ Katakan saja, noona… Kau kenapa jadi gugup begitu? Aku ini kan sudah seperti dongsaengmu sendiri.”

Senyuman pria itu mampu meluluhkan sedikit demi sedikit lembaran keraguan yang sudah ditulisnya berulang kali dalam buku catatan rasa hatinya.

“ Aku tahu aku tidak sepantasnya berkata seperti ini padamu, kita bahkan baru bertemu dan mengobrol secara jelas dua kali… Ta… tapi aku hanya ingin kau tahu mungkin ini adalah saat terakhirku untuk bisa berdua denganmu. Nanti kita mungkin tidak akan bisa bertemu lagi…”

Minra menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya, Minho tampaknya sangat penasaran dengan kelanjutan perkataan gadis itu.

Sa… saranghae, Minho-ah, aku menyimpan perasaan ini sejak pertama kali bertemu denganmu.”

Minho tertegun, ia tidak akan menyangka kalau sahabat dari kakaknya akan menyimpan perasaan khusus padanya. Sejujurnya Minho bahkan tidak begitu mengenal Minra, ia hanya tahu status gadis itu sebagai sahabat dari Saena, hanya itu. Tiba-tiba bibirnya kelu, ia tidak tahu bagaimana harus berkata-kata pada gadis itu.

Mi… mianhae, Minho, ak… aku.”

Minra baru saja akan berlari meninggalkan pria itu saat Minho menahan tangannya dan menggengam tangan Minra erat. Gadis itu terdiam, kenapa Minho memperlakukannya seperti ini?

Noona, aku hanya bisa menjadi temanmu… menjadi adikmu, aku berharap kau mengerti.”

Minra mengeluarkan senyumannya, ia merasa lega dengan jawaban Minho. Memang jawaban seperti itulah yang diharapankannya. Ia tidak mungkin menuntut lebih pada seorang pria yang statusnya tidak lagi sendiri.

***

          Saena memandang pantulan wajahnya di cermin besar yang berada di kamarnya. Tatapan keraguan yang ada padanya terlihat jelas, ia kembali merapikan polesan make up tipis yang digunakannya.     Ia ingin terlihat cantik, setidaknya ini adalah pengalaman sekali seumur hidup baginya. Waktu ia masih berada di bangku SMP ia memang pernah menghadiri pesta perpisahan seperti ini, namun tentu saja rasanya tidak lagi sama ketika ia sudah menginjak jenjang yang berbeda. Dalam waktu dan suasana berbeda, yang belum berubah adalah ia belum menggenggam tangan seorang pria pun dalam menghadiri acara ini.

Tentu saja, menurutnya tidak ada yang menarik dalam dirinya yang bisa membuat pria-pria berebut mengajaknya datang bersama ke prom night, oleh karena itu ia terpaksa mendatangi pesta itu sendirian.

Drrrttt drrrttt

Yeoboseyo, Minra-ah?”

“ Kau di mana? Di sini sudah sangat ramai, acara akan dimulai 30 menit lagi, kau tidak lupa kan? Apa jangan-jangan kau memutuskan tidak jadi datang?”

Ne, aishhh, kau ini kenapa berubah menjadi cerewet seperti itu? Aku sebentar lagi akan pergi ke sana. Kau tunggu saja!”

Klik!

Saena mengakhiri panggilan Minra bahkan tanpa memperdulikan jawaban gadis itu pada pernyataannya. Saena sudah tahu kalau ia akan terlambat ke datang ke prom night kalau ia tidak segera berangkat. Namun ia memang sengaja tidak datang terlalu cepat ke sana, karena ia tidak ingin menjadi pusat perhatian, lebih baik ia datang di tengah-tengah acara penyambutan dari kepala sekolah, setidaknya seluruh perhatian akan tersita pada sang kepala sekolah yang sedang menunjukkan kewibawaanya.

Drrrttt drrrtt

“ Ishh… Jangan-jangan Minra lagi? Apa dia masih penasaran ingin adu argument denganku, uhh… dasar.”

Saena segera menekan tombol di ponselnya untuk mengangkat panggilan yang masuk tanpa melihat nama sang penelpon.

Yeoboseyo, Minra-ah, tenang saja aku akan segera berangkat ke sana, kau carikan saja aku tempat duduk, jangan terlalu depan tapi jangan terlalu belakang juga, nanti aku tidak bisa mendengar apa yang disampaikan bapak kepala sekolah kita, hahahaha… biarlah aku sekarang ini untuk saat terakhir menaruh hormat padanya.”

“ Saena-ah…”

Deg!

Suara itu…

Saena segera melepaskan ponselnya dari telinga dan membaca nama seseorang yang menghubunginya.

“ Donghae oppa?”

Ne, Saena, bagaimana keadaanmu?”

Perasaan Saena langsung kacau balau setelah mendengar suara seorang pria yang berhasil mengacaukan hidupnya belakangan ini. Entah kenapa ia merasa sangat kesal dengan pria itu. Pria itu tampak seperti tidak ada masalah, seolah hal yang seharusnya dibicarakan dengan Saena dari beberapa hari yang lalu tidak terlalu penting untuknya.

“ Keadaanku cukup baik, oppa, ada apa kau menghubungiku?”

“ Aku… aku hanya ingin meluruskan apa yang terjadi diantara kita Saena, setelah kau mengirimkan foto itu padaku, aku tahu seharusnya aku segera memberikan jawaban padamu dan tidak membiarkamu menunggu terlalu lama.”

“ Foto? Foto apa maksudmu, oppa?”

“ Foto hasil USGmu, kemarin kau mengirimkannya padaku kan?”

          Mulai terdengar nada suara ragu dalam suara Donghae. Pria itu seperti tidak yakin dengan apa yang dikatakannya pada Saena.

“ Aku tidak mengerti apa maksudmu, oppa, aku sungguh bingung bagaimana aku bisa menghadapimu, foto itu memang hilang, tapi bukan aku yang mengirimkannya.”

Saena mulai merasa Donghae semakin bertingkah aneh. Pria itu seperti terpaksa berbicara dengannya dan lagi-lagi perasaan bersalah kembali menghantuinya. Seharusnya ia membiarkan pria itu hidup bahagia. Sesederhana itu… tanpa harus memasukkan pria itu ke dalam cerita hidupnya yang memang sudah rumit tanpa kedatangan pria itu sekalipun.

“ Benarkah? Baiklah, lupakan masalah foto… sebenarnya aku ingin bertemu denganmu Saena, tetapi aku tidak tahu kapan waktu yang tepat untuk kita.”

Donghae terdiam dan melirik Yoonmi yang sudah tertidur, hari ini memang pekerjaan mereka cukup banyak dan ketika sampai ke apartement Yoonmi langsung tertidur bahkan tanpa sempat mengganti bajunya, hal itu merupakan kesempatan bagi Donghae untuk menghubungi Saena.

Sebenarnya ia bisa menunggu beberapa lama, sampai akhirnya ia bisa berkomunikasi dan membicarakan hal ini dengan Yoonmi menggunakan hati dan kepala dingin tanpa emosi yang tersirat di dalamnya, namun Donghae tidak tahu berapa lama waktu yang ia butuhkan untuk itu. Sedangkan Saena… Donghae mengerti ia tidak bisa menunggu lama.

“ Aku tahu dan aku juga tidak bisa memaksamu untuk bertemu denganku, oppa…”

Donghae bisa mendengar adanya nada putus asa dari Saena, rasa sakit dan kasihan segera membelenggu asa. Ia sudah mengambil keputusan dan menurutnya itulah yang terbaik bagi jalannya, tetapi mungkin tidak bagi gadis itu. Donghae tidak punya pilihan lagi, sudah terlalu banyak pihak yang disakiti olehnya.

“ Sae… Saena, aku hanya bisa memberikan tanggung jawab hanya dengan membiayai anak itu, biaya makanan, susu, pakaian, sampai sekolahnya nanti… tapi untuk tindakan lain, mianhae, Saena, aku tidak bisa.”

Saena tertunduk sedih, jawaban Donghae mau tidak mau membuatnya terluka, walaupun ia sudah tahu ke arah mana Donghae berpihak, ini tetap hal yang tidak bisa diterima oleh hatinya. Menurutnya, Donghae kini bersikap sangat egois. Bukan masalah uang yang diharapkannya melainkan masalah lain. Ia tidak mungkin membesarkan anak itu sendirian, bagaimana jika sang anak suatu saat nanti bertanya kemana ayahnya pergi?

“ Aku mengerti dengan keputusanmu, oppa… aku tidak akan mengganggumu lagi.”

***

          Suara musik yang mengalun perlahan mulai menjauhi dari indera pendengarnya, seiring dengan langkah kakinya yang juga menjauhi keramaian. Gadis itu bisa merasakan hawa dingin segera menyergap tubuhnya, di tengah langkah kakinya yang memecah angin malam.

Gaun malam dengan punggung terbuka yang dikenakannya tentu tidak akan cukup untuk membuatnya tidak lagi merasa dingin, apalagi ia sudah terlanjur jauh dari ruangan yang dipasangi penghangat, meninggalkan semua orang yang sedang berpesta di dalam sana.

Gadis itu bukanlah pecinta sunyi ataupun seseorang yang tidak nyaman berada dalam keramaian justru sebaliknya, gadis itu terbiasa berada di tengah-tengah banyak orang, lalu apa yang menyebabkannya berteman dengan hampa kalau ada keramaian yang mengepung di sana?

Suatu saat, ketika hati menuntut jawaban lain, menorehkan masalah baru, tidak ada gunanya kita berlari, hanyalah mimpi pada angan tak terucap, di sanalah saat kita kembali merenung, mendengarkan suara nurani, berteman dengan sepi, dan hal itulah yang sedang dilakukan gadis itu.

Suara sepatu bertongkatnya mengentuk lantai keramik, langkah gadis itu tak terhenti di sana, ia melangkah pasti sampai ke batas koridor, di mana halaman penuh salju siap menyambutnya, dengan pakaian seperti itu, cuaca malam yang dingin siap memeluk nyawanya, tapi bukan itu yang dicarinya.

Gadis itu membenamkan hak sepatunya dan segera mungkin salju dengan ketebalan 3 cm itu hampir mengurung seluruh hak sepatunya yang hanya berkisar 5 cm. Gadis itu mengadahkan wajahnya ke atas, ada banyak hal yang wajib direnungkannya, dan tempat ini dirasa cocok untuk melakukan itu.

“ Bukan ide yang bagus kurasa jika kau mau mengakhiri hidup tertimbun salju pada saat teman-temanmu sedang berpesta di sana.”

Gadis itu menoleh cepat, dalam cahaya lampu yang meremang sosok sang pengganggu hanyalah bayangan. Tetapi bagai lonceng pemanggil, gadis itu melangkah menghampiri sosok yang berdiam beberapa meter di belakangnya, seolah ia mengenal sosok itu hanya dengan mendengar suaranya.

“ Apa yang kau lakukan di sini?”

Gadis itu segera menarik tangan seseorang yang menegurnya, melangkah menjauhi koridor yang didominasi gelap, hanya diterangi beberapa lampu temaram, membuat suasana berbeda pada bangunan yang biasanya terang benderang itu, termasuk pada malam hari. Setidaknya itulah konsep yang diadakan panitia acara untuk prom night tahun ini.

Gadis itu melepaskan tangan seseorang yang ditariknya setelah mereka cukup jauh dari koridor kelas. Barulah sang gadis menatap kedua mata orang itu, intens, membisikkan bahasa mata, sehingga hanya mereka berdua yang bisa mengerti percakapan itu.

“ Ini acara anak kelas tiga, untuk apa anak kelas satu ada di sini?”

“ Bukankah ada anak kelas satu yang diundang?”

“ Aku ragu kau termasuk diantaranya, memang kau termasuk anak band? atau modern dance? atau kau perwakilan kelasmu untuk menampilkan sesuatu? dan aku yakin kau bukan anggota OSIS…”

Pria itu tertawa, walaupun suasana gelap menyelimuti mereka, gadis itu bisa melihat dengan jelas wajah pria itu yang menunjukkan ekspresi berbeda. Ia tertawa tetapi ada kesedihan di sana.

Ne, aku memang tidak diundang, tetapi tidak ada yang melarang aku datang ke sini, lagipula aku tidak ikut pesta di dalam sana.”

“ Lalu kau sedang apa di sini?”

“ Menemani seseorang yang hampir saja menyelimuti dirinya sendiri dengan salju.”

YAA! Kim Jonghyun! Apa yang kau katakan? Aku tidak ingin bunuh diri tahu, aku hanya sedang menenangkan diri saja.”

Ne, aku tahu nona Kim Yoonhee, hanya saja kau ingin mandi salju, kan? Bukankah itu hanya bahasa halus dari bunuh diri?”

“ Bukan… bukan seperti itu… aku hanya sedang merenung.”

Yoonhee diliputu perasaan aneh saat Jonghyun berada di sampingnya, gadis itu memang membutuhkan seseorang untuk sekedar menemaninya, tanpa harus mendengarkan keluh kesahnya dan ia tahu Jonghyun bukanlah orang yang salah.

“ Apa yang sedang kau pikirkan?”

“ Sesuatu… Hmm, Jonghyun-ah, aku ingin minta maaf.”

“ Untuk?”

“ Semuanya… untuk segala sesuatu yang sudah aku lakukan padamu. Mungkin sebentar lagi kita akan jarang bertemu.”

Jonghyun mengakui kebenaran kata-kata Yoonhee, tetapi apakah ia tidak salah mengartikan? Ada nada pedih yang terdengar dalam setiap rentetan kata-kata itu. Tetapi kenapa? Bukankah Yoonhee hanya menganggapnya teman? Lalu bukankah ia masih bisa bertemu dengan Yoonhee, karena kekasih gadis itu masih bersekolah di tempat yang sama dengannya?

“ Sudahlah, jangan bersedih seperti itu… kita kan masih bisa bertemu, lagipula kau pasti akan selalu bertemu dengan Minho…”

Yoonhee menundukkan wajahnya, Jonghyun tidak akan mengerti dengan apa yang dirasakannya sama seperti dirinya sendiri yang masih tidak mengerti dengan apa yang dirasakannya ketika berdekatan dengan pria itu. Gadis itu tahu, ia tidak akan bebas bertemu dengan Jonghyun saat dirinya sedang bersama Minho. Tetapi kenapa ia harus bertemu dengan Jonghyun padahal Minho ada di sisinya? Yoonhee tahu persis kedua pria itu masih dalam keadaan canggung satu sama lainnya, namun entah mengapa ia ingin menyatukan keduanya.

“ Aku tidak yakin, Jonghyun… A…”

Entah kekuatan dan keberanian dari mana, Jonghyun meletakkan jari telunjuknya pada bibir Yoonhee kemudian melepaskan jari tangannya dan mengganti hal itu dengan pelukannya, hanya pelukan hangat sesama sahabat, setidaknya itu adalah tujuan Jonghyun memberikan pelukan pada Yoonhee. Tidak ada tanda penolakan dari Yoonhee, gadis itu seolah larut pada pesona Jonghyun yang memang sudah lama dirasakannya. Gadis itu merasa mungkin inilah pelukan perpisahannnya dengan Jonghyun.

Seseorang melihat pemandangan itu, sepasang matanya merekam setiap kejadian dalam ingkaran waktu yang terhenti diantara kedua orang itu, berdiam dalam posisi yang sama. Perlahan ia merayap pergi, memutuskan tidak ikut campur lebih jauh tentang perihal manusia-manusia itu, tetapi hatinya merasakan hal lain.

Terlebih saat menyadari gadis itu mungkin sudah menjadi pengkhianat, tetapi apa hubungan antara kegiatan itu dengan dirinya? Ia bukanlah tokoh yang dimaksudkan untuk bermain di dalam sandiwara mereka, seharusnya ia tetap bungkam. Gaun panjang yang digunakannya menyentuh lantai, ia menoleh ke belakang sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu.

Beberapa detik berada dalam surga mereka, Jonghyun melepaskan pelukannya, tatapannya mengurung Yoonhee, rasa bersalah kembali padanya. Kenapa ia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri? Ia hanya akan merusak hubungan yang mulai membaik. Mungkin baginya ini adalah pelukan persahabatan, tapi bagi Yoonhee?

          “ Yoonhee, aku…”

“ Aku akan kembali ke dalam… Annyeong Kim Jonghyun… Terima kasih untuk segalanya.”

Jonghyun memberikan senyumannya pada sosok Yoonhee yang perlahan mulai menghilang dari jarak pandangnya. Ia tidak akan pernah melupakan rasa ini, rasa yang membuat semangat hidupnya kembali tumbuh, Kim Yoonhee, gadis itu memang bukan miliknya, tetapi ia tidak pernah menyesal pernah memberikan salah satu kunci hatinya hanya pada gadis itu.

***     

          “ Aku tidak mengerti apa maksudmu, oppa, aku sungguh bingung bagaimana aku bisa menghadapimu, foto itu memang hilang, tapi bukan aku yang mengirimkannya.”

Mata Donghae sulit terpejam malam itu, berkali-kali ia melirik ke arah jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul 3 pagi, kalau ia tidak segera terbuai ke alam mimpi sekarang, kemungkinan besar ia akan memiliki mata panda besok pagi, atau yang paling parah ia akan ketiduran di ruangannya dan sukses menorehkan satu lagi tinta pada julukannya perfect yang dulunya hampir selalu melekat pada dirinya.

Pikirannya sudah jelas mengarah pada perkataan Saena di telepon beberapa jam yang lalu. Namun ternyata masalah baru malah muncul saat ia hendak menyelesakan satu masalah yang tertunda.  Bukan… bukan Saena yang mengirim foto itu, lantas siapa?

Kata-kata pengecut dan lari dari tanggung jawab, menghantuinya saat ini, Donghae merasakan sesuatu yang akan mencekiknya setiap saat. Memang dua kata itu pantas ditunjukan padanya atas apa yang diperbuatnya pada Saena. Ia sudah secara tidak sengaja menghamili gadis itu, lantas bukannya menyelesaikan masalah itu baik-baik, ia hanya menuntaskannya melalui sambungan telepon.

Sesuatu yang keterlaluan, bukan?

Tetapi sepertinya keputusan yang diambinya tadi tidak menyelesaikan masalah, Donghae tahu persis hal itu akan menjadi derita seumur hidup bagi Saena. Masa depan gadis itu masih panjang dan ia bahkan bisa melihat contohnya di depan mata, Yoonmi… gadis itu memiliki masa lalu yang sama dengan Saena, apa ini adalah jawaban takdir untuknya?

Tidak semua orang bisa seberuntung Yoonmi, mendapatkan masa depannya kembali walaupun sesekali masa lalu datang menghantui. Donghae mencintai Yoonmi apa adanya, bagaimana pun keadaan gadis itu, masa lalu biarlah menjadi kenangan, tetapi siapa sangka ia justru akan melakukan hal kelam yang sama pada gadis lain ketika ia sudah berhasil melengkapi kepingan hidup gadis yang bernasib sama?

Haruskah ia yang membantu Saena memperbaiki masa depannya?

Itu bukan pertanyaan penting, karena jawabannya sudah jelas, tetapi Donghae akan merusak kebahagiaan Yoonmi seandainya ia melakukan itu. Pilihan yang sulit untuk pria itu.

“ Eugh… hae-ah…”

Donghae tersadar dari lamunannya dan segera kembali ke tempat tidur di mana Yoonmi sejak tadi berada di alam tenangnya.

“ Ada apa, chagi?”

“ Kenapa kau belum tidur?”

Yoonmi berkata dengan mata setengah terpejam, tanpa harus mengatakan apa-apa Donghae segera memeluk tubuh Yoonmi dan menyandarkan kepala Yoonmi didadanya.

“ Aku… aku sedang lembur untuk pekerjaan kantor.”

Yoonmi tidak semudah itu percaya pada Donghae, ia tidak benar-benar tidur saat pria itu menghubungi seseorang yang diyakini adalah gadis bernama Saena yang datang ke kantor Donghae beberapa minggu yang lalu. Yoonmi tidak mendengar dengan jelas kata-kata yang diucapkan Donghae, ia hanya mendengar selintas mengenai tidak bisa bertanggung jawab, foto, dan hal lainnya. Semua itu sukses membuatnya merasa bersalah.

Mungkin benar apa yang terjadi malam itu bukan sepenuhnya salah Saena, tetapi ia tidak bisa merelakan dirinya berbagi dengan gadis yang bahkan tidak benar-benar dikenalnya itu. Salahkah jika seorang istri berusaha mempertahankan suaminya sendiri?

“ Jangan bohong, hae… kau baru menghubungi Saena kan? Saena, gadis yang datang ke kantormu beberapa minggu yang lalu itu…”

***

          Lonceng yang terdapat di pintu café itu berdenting pelan saat seseorang membukanya dan berjalan masuk ke dalam ruangan berukuran cukup luas itu. Yoonmi mengedarkan pandangannya sejenak ke seluruh penjuru ruang, mencari sosok yang hendak ditemuinya.

“ Sepertinya ia belum datang, apa aku datang kepagian ya?”

Gadis itu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya dan menyadari kalau ia masih mempunyai waktu tiga puluh menit sebelum waktu janjiannya dengan orang itu.

“ Ahhh, lebih baik aku mencari tempat duduk saja.”

Yoonmi berjalan ke salah satu meja yang terdapat di café yang pada siang itu terlampau sepi, padahal jam sudah menunjukkan waktu makan siang.

“ Silahkan…”

Ghamsahamnida.”

Yoonmi tersenyum tulus pada sang pelayan yang memberikannya buku menu. Yoonmi segera menenggelamka dirinya membaca deretan makanan dan minuman yang terdapat di sana. Sesekali mengedarkan pandangannya, meneliti ulang apakah benar sosok yang hendak bertemu dengannya itu belum tiba.

“ Ahhh, itu dia…”

Yoonmi menemukan sesosok pria berambut cokelat gelap sedang duduk di salah satu sudut café yang memang tidak terlalu kelihatan dari bagian depan, pantas saja jika Yoonmi tidak melihat sosoknya saat ia datang tadi, tetapi Yoonmi urung mendekati sosok itu tatkala disadarinya pria itu tidak sendiri, ada seorang gadis yang sedang bersamanya.

Yoonmi melihat mereka berdua dengan cukup jelas, sambil berusaha menutupi wajahnya dengan buku menu. Ia mengenali sosok gadis itu walaupun hanya punggungnya yang terlihat dan ia tidak ingin gadis itu menyadari kehadirannya di sini. Beberapa saat dalam obrolan yang terlihat monoton, kedua orang itu mulai terlibat pertengkaran.

Dari jarak yang cukup jauh, Yoonmi tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan kedua orang itu, tetapi nampaknya apapun topic pembicaraan mereka, saat ini keduanya terlibat dalam adu mulut dan ekspresi tidak senang tercipta di wajah pria itu. Yoonmi mengerutkan dahinya heran, sepengetahuannya dan juga dari cerita Donghae, harusnya kedua orang itu bersahabat tetapi kenapa yang terlihat sekarang justru sebaliknya?

Seperti adegan dalam drama, sang gadis meninggalkan pria itu dengan emosi. Yoonmi bisa melihat dengan jelas bahkan ada jejak air mata yang melunturkan make up natural gadis itu. Apa yang sebenarnya terjadi?

Gadis itu melangkah tepat di sebelah Yoonmi dan bersamaan dengan itu Yoonmi menurunkan buku menu yang menutupi sebagian wajahnya. Keduanya bertatapan dalam diam, Yoonmi seolah sengaja menunjukkan dirinya. Gadis itu menghapus jejak air matanya dan menyunggingkan sebuah senyuman sebelum beranjak pergi.

Yoonmi tahu apa arti dibalik seyuman itu. Peperangan secara resmi dimulai… tanpa ultimatum… tanpa surat perintah… yang menandakan hanyalah siapa yang akan memulai serangan.

Secepat kilat Yoonmi membawa tas tangannya dan juga buku menu yang sedari tadi melindungi wajahnya ke arah pria yang sepertinya sedang merenungkan sesuatu.

“ Yoonmi, kau sudah datang…”

Gadis itu mengambil tempat di depan pria itu, tempat di mana lawannya duduk dan bersimbah air mata di sana, tanpa membalas sapaan dan tatapan terkejut yang dilemparkan sang pria berambut cokelat gelap yang memang sudah berjanji akan menemuinya, tapi siapa sangka pria itu bahkan membuat janji dengan orang lain terlebih dahulu.

“ Hyuk, apa yang kau lakukan sehingga Jessica menangis?”

***

          “ Kenapa kau melihatku begitu?”

Yoonmi meneruskan kegiatannya menikmati isi gelas ukuran tinggi yang berada dihadapannya tanpa terlalu peduli pada tatapan tajam Eunhyuk yang seolah-olah mengintimidasinya.

“ Aku hanya heran padamu…”

“ Heran kenapa?”

“ Donghae kemarin curhat padaku dan mengatakan kalau belakangan ini nafsu makanmu menurun dan ia khawatir dengan kondisi kesehatanmu dan calon bayi kalian, tetapi melihatmu sekarang sepertinya Donghae salah…”

YAA!”

Yoonmi melayangkan pukulan ringan pada telapak tangan pria itu yang persis berada di depannya.

“ Aku sedang dalam masa-masa stress, jadi wajar kalau nafsu makanku bertambah.”

Aigooo, memang menghadapi wanita hamil adalah hal yang sulit, aku jadi ingat ketika dulu istriku sedang mengandung… dia persis sepertimu.”

“ Aku rasa setiap wanita hamil mengalami hal yang sama, sudahlah jangan mengalihkan pembicaraan, kau belum menjawab pertanyaanku.”

“ Pertanyaan yang mana?”

Eunhyuk tahu apa yang dimaksudkan Yoonmi tetapi pria itu tidak berniat sedikitpun menceritakan apa yang terjadi dengannya dan Jessica beberapa menit yang lalu. Ia sudah memutuskan untuk menjadikan hal itu rahasia antara dirinya dan gadis itu.

“ Jangan berpura-pura tidak tahu…”

Yoonmi menatap pria itu intens, mencari jawaban pasti pada setiap detik yang terlewatkan di dalam kedua bola matanya. Eunhyuk mengambil gelas berisi air putih yang masih berada dalam jangkauan tangannya. Ia meneguk cairan itu sedikit demi sedikit memberikannya ruang berpikir sebelum memutuskan apa yang akan dikatakannya pada Yoonmi.

“ Jessica, Donghae, dan aku bersahabat sudah cukup lama… kau pasti tahu kalau gadis itu masih mencintai Donghae dan menginginkan pria itu kembali padanya.”

Eunhyuk menghela nafas lega saat dilihatnya ekspresi wajah Yoonmi menunjukkan kalau ia percaya pada setiap kata yang terucap dari bibirnya, walaupun kata-kata itu hanyalah pengulangan dari fakta yang sudah diketahui gadis itu, bukan menambahkan apa yang sebenarnya dibicarakannya pada Jessica tadi, sesuatu yang membuat gadis sekuat Jessica menitikkan air matanya. Eunhyuk hanya pernah melihat hal langka seperti itu beberapa kali selama bersahabat dengan gadis bermata indah itu.

“ Ahhh seharusnya aku sudah bisa menduganya, pasti gadis itu membiacarakan hal yang berhubungan dengan Donghae… Jadi kau ada di pihak siapa?”

“ Pihak? Apa maksudmu dengan pihak?”

“ Biar aku tebak, kau pasti berada di pihak Jessica, kan? Kau dan dia sudah bersahabat hampir enam belas tahun, kau mengenalnya jauh lebih baik daripada kau mengenalku, kita bahkan baru bersahabat hampir sepuluh tahun. Kau lebih mengenalnya kan?”

Entah kenapa nada suara gadis itu berubah sinis, terlalu banyak masalah yang menghimpit, membuat sosok Yoonmi yang hampir mencair mendekati sifat aslinya yang ceria berubah menjadi dingin, saat ia menjalani hari-harinya sebelum mengenal Donghae.

YAA! YAA! Kau pikir sepuluh tahun singkat, huh? Aniya… walaupun aku mengenal Jessica lebih dulu, aku tidak akan berada di pihaknya kalau ia bersalah, dalam kasus ini tindakannya adalah tindakan yang salah, bagaimanapun juga Donghae sudah menjadi milikmu dan sebentar lagi kalian akan memiliki bayi dan seharusnya jika Jessica benar-benar mencintai Donghae… “

Eunhyuk menarik nafas sebelum melanjutkan kata-katanya.

“… ia akan melepaskan pria itu untuk bahagia.”

Tanpa terduga oleh pria itu, Yoonmi menundukkan wajahnya, kesedihan yang tersurat jelas mengambil alih senyumannya.

“ Aku pernah berpikir kalau Donghae tidak sebahagia itu ketika ia menikah denganku.”

Yoonmi mengingat dengan jelas kejadian saat ia secara tidak sengaja menemukan foto Jessica tersembunyi dibalik fotonya. Kalau Donghae sudah melupakan gadis itu, tidak akan ada foto gadis itu di sana kan?

“ Kenapa kau berpikir seperti itu? Donghae sangat mencintaimu, apa kau meragukan cintanya?”

“ Bukan… bukan seperti itu, aku perempuan, hyuk, perasaanku tajam, aku tahu Donghae masih menyimpan keraguan yang besar padaku. Waktu yang singkat tidak bisa membuatku mengenalnya secara sempurna, aku takut ini semua hanyalah emosi.”

Eunhyuk memandang prihatin pada Yoonmi, ia sendiri bingung dengan masalah yang mengikat sahabat-sahabatnya. Cinta sangat keterlaluan bukan? Ia membuat sosok Donghae yang biasanya tegas menjadi plin-plan masalah hati, masalah di mana ia harus memihak. Ia membuat sosok Yoonmi yang biasanya kuat menjadi rapuh. Ia membuat gadis sebaik Jessica berbalik menjadi sosok wanita yang jahat.

Terkadang ia merasa bersalah terhadap ketiga orang itu, karena secara tidak langsung ia cukup berperan dalam kehidupan cinta ketiganya, membuat semua orang yang disayanginya itu menderita sedemikian rupa.

“ Tenanglah, Yoonmi… aku mengenal Donghae dengan sangat baik, aku tahu jika ia sudah memutuskan sesuatu, ia akan bertanggung jawab penuh atas keputusannya itu. Jika ia sudah memutuskan untuk menikah denganmu, berarti ia sudah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk menjadi malaikat penjagamu. Sebentar lagi kau akan memiliki anak, Yoonmi-ah, kebahagiaanmu sebagai wanita akan lengkap.”

Yoonmi tersenyum, Eunhyuk tidak tahu ia sudah pernah merasakan bahagianya menjadi seorang ibu, hanyalah kebahagiaan itu sempat terpenjara selama belasan tahun dan sekarang kebahagiaan itu kembali menjadi tanda tanya. Pembicaraannya dan Eunhyuk kembali membangkitkan ingatannya tentang keberadaan putrinya yang bahkan tidak diketahui.

“ Yoonmi-ah…”

Nde?”

“ Kau melamun?”

“ Ahhh, tidak, aku hanya memikirkan sesuatu tadi…”

Sekelebat ingatan lain kembali merasuki pikirannya, bahkan hal itu adalah hal yang membawanya menemui Eunhyuk sekarang.

“ Ah iya, kenapa kau ingin bertemu denganku? Pasti kau merindukan sahabatmu ini kan?”

MWO?! Aishhne, aku memang merindukanmu, hyukie, tapi bukan itu alasanmu utamaku, kalau hanya rindu padamu, aku kan bisa menyuruhmu datang ke kantor dan menghiburku.”

Aish, memangnya kau pikir aku badut apa?”

“ Aku hanya bercanda, hyukie-ah, aku hanya ingin bertanya apa benar kalau Jessica itu lulusan IFA Paris sama denganku?”

Ne, memangnya kenapa? Aish, aku sampai lupa kalau kau satu universitas dengannya.”

“ Pantas saja aku seperti pernah melihat wajahnya di suatu tempat. Dunia ini sempit sekali…”

“ Lalu kenapa kau ingin tahu?”

“ Aku rasa masalahku dengannya bukan hanya soal Donghae…”

Tiba-tiba Yoonmi menyadari sesuatu, gadis itu segera menghabiskan minuman pesanannya dengan terburu-buru.

“ Pelan-pelan saja, hari ini hari Minggu, kan, jadi kau tidak usah pergi ke kantor, bukan begitu? ”

“ Aku ada urusan sebentar, hyuk… Gomawo sudah menemaniku, sampai bertemu nanti. Annyeong… Ah iya tolong pesananku kau yang bayar sekalian, ne?”

Seusai berkata demikian, Yoonmi langsung mengambil tasnya dan melesat pergi dari sana, meninggalkan Eunhyuk yang menatapnya bingung.

Aisshhhh! Yaa! Lee Yoonmi! Nanti pertemuan berikutnya kau yang bayar, atau kutagih ke suamimu!”

***

          Minho meletakkan segelas susu di atas meja belajar Saena, gadis itu sedang asyik menekuni buku yang baru dibelinya tadi siang, sendirian. Tentu saja tidak mungkin ia mengajak Minra untuk membeli buku tentang kehamilan, itu sama saja ia harus memberikan penjelasan pada gadis itu. Minra sudah mengenalnya selama tiga tahun, tidak mungkin ia akan percaya begitu saja kalau Saena membeli buku itu untuk sepupunya atau siapapun itu.

Untuk mengajak Minho, Saena tidak tega, pria itu sudah begadang semalaman mengerjakan tugas ditambah seharian ini dari pagi sampai sore, pria itu terus menekuni buku pelajarannya. Ia tidak mungkin mengganggu pria itu hanya untuk menemaninya berbelanja keperluannya selama masa kehamilan.

Noona, apa kau sudah mendapat keputusan dari Donghae hyung?”

Saena menghentikan kegiatan membacanya, ia segera mengambil pembatas buku dan menyelipkannya di halaman yang sedang dibacanya tadi. Pembicaraannya dengan Minho adalah hal yang serius, karena ia sudah memutuskan sesuatu yang mungkin akan sulit diterima pria itu.

Ne, Minho-ah, aku sudah memutuskan untuk memberitahu eomma dan appa tentang keadaanku, kemudian aku tidak akan melibatkan Donghae dalam semua ini.”

MWO? Ka… kau serius, noona? Ini bukan masalah kecil.”

“ Aku tahu Minho, tapi aku tidak bisa menyusahkan eomma dan appa lebih dari ini, daripada mereka mengetahui hal ini dari orang lain lebih baik aku jujur pada mereka tentang semua hal, dan Donghae sudah memberitahuku kemarin kalau ia tidak bisa bertanggung jawab tetapi ia sudah berjanji akan membiayai anak ini. Itu sudah cukup untukku…”

Minho menatap kakaknya dengan tatapan nanar, ia tidak bisa begitu saja percaya apa yang terucap dari mulut gadis itu. Ini bukan hanya masalah financial, kertas bernominal, melainkan pada masalah masa depan dan harga diri. Di mana Donghae meletakkan hati nuraninya kalau dengan semudah itu ia mengatakan tidak akan bertanggung jawab? Ini semua salah Saena dan Donghae, tetapi kenapa gadis itu harus menanggung semuanya sendirian?

Noona, aku akan menghargai setiap keputusan yang kau ambil. Tapi apa kau sudah yakin dengan semua ini? Maksudku perihal appa dan eomma, apa tidak sebaiknya kau membicarakan hal ini dengan Donghae, buatlah ia bertanggung jawab, noona, ini bukan masalahmu sendiri.”

“ Minho-ah, Donghae sudah menikah. Kalau aku menuntut Donghae melakukan itu, bukan hanya dia yang menderita, tapi juga Yoonhee, kau tahu kan siapa wanita yang dinikahi Donghae? Dia adalah kakak dari kekasihmu sendiri.”

“ Aku tahu, noona, ta…”

“ Ssssttt… aku tahu apa yang aku ambil, Minho, aku siap dengan semua resikonya, terlebih ada hal-hal yang tidak kau ketahui tentangku… aku mau kau menemaniku saat aku mengatakan hal ini pada appa dan eomma, ne?”

“ Tentu saja, noona.”

Tanda tanya segera memenuhi benak itu, Saena telihat tenang, padahal sebentar lagi mungkin ia akan menjadi sasaran amukan dari kedua orang tua mereka, ada sesuatu yang tidak diketahuinya dari Saena. Kata-kata itu seolah-olah adalah sebuah kunci untuk membuka kotak misteri dibalik sikap dan perilaku Saena yang semakin aneh hampir satu tahun belakangan, entah apa yang sebenarnya disembunyikan gadis itu.

Gomawo Minho-ah, untuk… segalanya.”

Saena bangkit dari posisi duduknya dan memberikan pelukannya pada Minho. Mungkin ini akan menjadi pelukan terakhirnya, tanpa sadar air mata gadis itu meleleh. Setelah kedua orang tuanya mengetahui hal ini, mereka mungkin akan menendangnya keluar rumah, sama seperti keinginan ibunya namun waktu itu keinginan sang ibu masih ditentang oleh ayahnya, namun saat ini Saena yakin ayahnya akan sangat kecewa padanya, Saena hanya berharap ayah dan ibunya masih mau melihat wajahnya. Setelah itu ia akan pergi.

Noona, uljima… kita akan menghadapinya bersama.”

Minho merasakan ada hal lain yang mendasari air mata gadis itu. Selain karena rasa takut dengan reaksi orang tua mereka nanti. Tetapi tidak ada kata-kata yang terucap bebas dari bibirnya, ia hanya berdiam diri, yang bisa dilakukannya hanya memeluk Saena seerat mungkin, itu akan terasa lebih berarti dibandingkan kata-kata penghiburan.

***

          Deru mobil yang memasuki garasi membuat Saena segera bangkit dari posisi duduknya. Ibu dan ayahnya pasti sudah pulang dari pesta relasi bisnis mereka. Perasaan takut dan gentar segera memenuhi relung hatinya, namun ia sudah siap menghadapi itu semua. Ini adalah hasil perbuatannya sendiri, haruslah ia yang bertanggu jawab.

“ Saena, kau belum tidur? Ah ne, appa ingat besok kau sudah libur kan? Kau hanya perlu ke sekolah beberapa kali lagi untuk mengurus ijazahmu. Lalu kau Minho, kau besok masih masuk sekolah kan? Tidur sana… hanya noonamu yang boleh tidur lebih malam.”

“ Jangan tidur terlalu malam, Saena, itu tidak baik untuk kesehatanmu…Minho benar apa yang dikatakan appa, tidur sana…”

Saena tertegun, ini untuk yang kesekian kalinya ibunya menunjukkan secara terang-terangan sebentuk perhatian kepadanya, suatu hal yang ditunggunya sejak lama namun hal itu terjadi di saat-saat terakhir ia menjadi bagian dari keluarga Choi. Ia membenci keadaan ini, ia membenci dirinya sendiri yang dengan ceroboh mengecewakan orang-orang yang disayanginya.

Eomma, appa, ada yang ingin aku bicarakan…”

“ Baiklah, Saena, tunggu sebentar, eomma dan appa ganti baju dulu.”

Begitu kedua orang tuanya meninggalkan mereka berdua, Saena langsung meledak dalam tangis, semua sesak yang menghimpitnya mengalir pergi bersama dengan butiran air mata yang keluar. Minho segera menarik Saena mendekat padanya, ia berusaha menenangkan gadis itu.

Noona, percayalah semuanya akan baik-baik saja.”

“ Aku tidak sanggup mengecewakan mereka Minho, aku tidak bisa melihat harapan yang mereka letakkan dipundakku hancur dengan keadaanku sekarang.”

“ Saena! Kau kenapa?”

Saena mengelap air mata yang mengalir membasahi wajahnya, ia melepaskan pelukan Minho dan berjalan pelan ke arah kedua orang tuanya. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya tepat di hadapan mereka, tak urung membuat keduanya terkejut dengan tindakan Saena.

“ Bangun, Saena, apa yang terjadi?”

Appaeomma, mianhae…”

“ Ada apa Saena?”

“ Aku… aku hamil…”

Bagai tersambar petir kedua orang tua gadis itu hanya terdiam, memandangi putri mereka yang sedang menunduk, menyembunyikan wajahnya yang dipenuhi air mata.

“ Apa… kau bilang apa?”

Sang ibu rupanya lebih cepat tersadar dari rasa terkejutnya. Ia mengalihkan wajahnya ke arah sang ayah yang masih berusaha mempercayai pendengarannya tentang  berita yang dibawa anak gadis satu-satunya di keluarga mereka itu.

“ Aku hamil, eomma… maafkan aku…”

“ Aku sudah mengatakan hal ini dari dulu! Kita tidak bisa menundanya lagi! Kembalikan dia pada orang tuanya… Sekarang lihatlah! Dia bahkan sudah merusak kepercayaan yang kita berikan padanya.”

Nyonya Choi segera melangkah pergi dari sana, tanpa menjelaskan secara detail kata-katanya yang terdengar jelas baik oleh Saena dan Minho padahal seharusnya hal itu hanya diketahui oleh ia sendiri dan suaminya. Tuan Choi segera menyusul istrinya, bukan ia bermaksud jahat dengan meninggalkan sang putri yang sedang merunduk dalam penyesalan, melainkan ia terlalu terkejut untuk sekedar memberikan komentar.

“ Maafkan aku, appaeomma.”

***

To Be Continued

Next Whether I Hate You or Not series : Whether I Hate You or Not chapter 15A- Take Me Away 

Annyeong😀 hampir satu minggu kita tidak bertemu ^___^

Adakah yang rindu sama aku? xixixixixi ^^v

Alasan keterlambatan aku ngepost lagi2 karen sibuk >.<, minggu ini aku ada ujian dan sampe kemarin terakhir baru selesai kan Selasa liburan tuh aku maksudnya mau ngepost ehhh ga sempet -__-a maklum deh disamping ujian tugas juga pada numpuk T.T

oke di chapter ini udah mulai kerasa kan alurnya aku cepet2in😄 sebenernya dari chap 11 sih itu semua karena aku ga mau berlama2 jadinya ff ini ga akan molor. Aku ga mau lebih dari chapter 16 soalnya hehehehe.

Kemungkinan juga dari chapter 15 nanti FF ini ga akan terbit setiap Minggu melainkan setiap dua hari sekali, belum tahu juga sih, aku ga bisa janji soalnya aku takut mengecewakan T.T

Mudah2an sih bisa ya😀 sekali lagi aku minta doa restu buat menghadapi UN bulan depan ya😀 Semoga hasil yang memuaskan yang aku terima. Amin ^__^

52 thoughts on “[Korean Fanfiction/Straight/Series] Whether I Hate You or Not (Chapter 14)

  1. Salah tuch klo donghae berpikir masalah yoonmi paling byk, saena byk koq mulai dy mengetahui kalo dy bukan anak kandung choi, hamil diluar nikah n ga ada yg bertanggung jawab trus utk masa depannya dy menanggung penderitaan krn hamil diluar nikah, ya bisa dibilang kisah yoonmi akan terulang dlm diri saena. Makin seru nieh yg cpt2 lihat endingnya spt apa.

  2. Brati minho sekarang tau ya kaalo saena bukan noonanya. Dugaanku sih saena anak yoonmi. Cuma masi bingung aja, gimana ceritanya si yonhee sama saena ketuker. Terus yang aku dapet dari story ini, kalo bener saena anak yoonmi, si saena dapat karma dari ibunya. Ibunya hamil diluar nikah. Dan dia juga bernasib sama kaya yoonmi. Cuma aku kurang seneng aja si saena kena bagian sial mulu \=D/ “̮ћϱћϱ (♥̃͡♥̃͡) ћϱћϱ”̮ \=D/

  3. makin rumit…. yoonmi tiba2 nemu foto sica di laci donghae, keadaan saena yg skrg udh ngasih tau kehamilannya ke ortunya, mslh perang sica+yoonmi, hak asuh yoonhe yg sbntr lg & scra gak lgsg klo ibu angkatnya saena ngomong klo saena emg bukan anaknya. haduh… makin bnyk mslhnya. mana yg mau diselesaiin… X-(
    emg sih yg paling rumit soal hamil -__- bener2 kyk ngulang kisah yoonmi dulu cm peran cewek+cowoknya diganti saena+donghae. semoga aja endingnya saena+donghae gak kyk nasib yoonmi. alias biarin aja saena mendingan keguguran, drpd masa dpnnya suram tnpa tanggung jawab donghae *reader makin kejam*
    *bungkuk2 ke author*

  4. aduh masalah makin ribed aja.gmn reaksi minho stlh tau saena bkn noona kandung’y.
    donghae-ya dirimu hrs bs mengambil keputusan yg tepat lihatlah dr berbagai sudut pandang biar ga da yg merasa disingkirkan, klo bingung yah mending pilih gue aja dah#digetok yoonmi sama saena

  5. makin rumit aja ceritanya
    donghae knp msh nyimpen foto sica?
    dia msh ragu sama perasaannya atau gmn sih? kasiam yoonmi dong
    duh……saena kasian bgt deh
    sama jonghyun aja deh biar ga miris2 bgt hidupnya
    wow si minra naksir sama minho ya tp kan minho suka sama yoonhee
    kayanua sica emg udah punya dendam ke yoonmi dr waktu skola dulu deh seperti dugaannya yoonmi

  6. woow…daebaaaak thor!!! critanya tmbah sru aja..ibunya minho jahat bgt ma saena nya:-(
    next chapter nya dtunggu scptnya ya thor…

  7. Akhirnya kluar jga,, aq udh nunggu brhari”..
    Aq berfkir dsini yhonmie sngat pabo dan lemah, donghae egoiis bngtt. Dy hny brfkir pnderitaan yonmie, dy gk tw gmna pnderitaan saena..
    Aq bner” nangiss bca pov.a saena, seakan saena dilhirkan hnya utk mnderita, dri lhiir gk diinginkan, smpe bsar msih dg pnderitaan,, T_T
    Author, knpa kau mnemptkan hidup saena sebegitu rumit..😥

    Oke ditunggu next.a, moga gk lma”,, and fighting thor, moga hsil un.a sperti yg dihrapkn..

  8. daebaaaaaak saeng…
    akhirx minho tau saena bkn kkx…halah kok bhas yg g pnting part akhir…yg jelas q ska ma minsae…jonghee n dongmi ja untuk endingx hehe
    ayo saeng smgat bwt UNx…
    mga lncar n dpt hsil memuaskn amien…
    always dtggu next partx g pke lama hehe

  9. huk tragis yah sroot ff paling meranakn yg ku baca karma buah simalakama …
    eh rupanya banyak yg setuju ma akunya #kembang kempis kaya kebo bule
    saena bih menderita lair batin duh dek dek makanya dahulukan akal dari nepsong
    dah ke humku aja tak tampung
    hihihk …’thor injoot besok yah pusing nih nangiss bombay
    by by …..nyesek
    sorry yah klo komengku rada bashing bin sengak

  10. Aku suka eon. Haha😀
    konfliknya makin oke. Tp jangan siksa terus saenanya u.u kasian masa.
    Bapaknya saena nanti siapa ya ?
    Trus saena di balikin sm ortu aslinya ga ?
    Yoonhee pilih yang mana ?
    Aduh, penasaran kan. Haha. Lanjut eon. Fast update jusseo😀

  11. ceritanya mkn seru, mkn nyesek n mkn galau saeng T_T.. donghae oppa kejam bgt sich sm saena,dsr ajushi blonde egois(efek shock rambut blonde haeppa –_–).. akhirnya gmn saeng? happy ending kan? q udah puas nyesek2an smpe part ini, jd hrs happy ending ya saeng (maksa XD).. ditunggu next partnya ^^

  12. saena ma y0onmi bner2 ibu dan ank y’ kompak y…
    Uda sma2 mndrita tr0z sma2 hmil dluar nkah…
    SaeMi ksihan y,y’ tbah y…

  13. Aigoo makin pelik ni tp makin penasaran. Minho akhirnya tau dong klo saena bkn noonanya? Aq si pengennya minho-saena, yeonhee-jonghyun, yeonmi-donghae, tp jessica? Aigoo lanjut aja thor

  14. huaaaaaa daebaaakkkkk(y)
    makin gregeeetttt….
    aku suka deh jalan ceritanya walau complicated tp ttp seruuu
    author jjang(y)

  15. Makin ruwet nih cerita T^T
    Kira2 nasib saena gmna yah?
    Trus gmna reaksi minho saat tau saena bkn kk kandungny….
    Oh god! Jgn smpe minho yg mau tanggung jwb..
    Trus2 spa itu yg liat jong sma yoonhee pelukan pas promnite?? Hmmmmmhh….
    Chingu…bagi pass word chapter 15 a dan 15b iaaa….ini emailq : mizzayurara@yahoo.co.id
    Gomawo chinguu ;* ^^v

    • Annyeong chingu😀
      semua pertanyaanmu ada di chap selanjutnya ya ^^ haha
      tapi yg jelas bukan minho kk yang tanggu jawab😄

      udah dikirim ^^
      makasih udah baca + komen😄

  16. annyeong devi saeng hahahah,, aku muncul kembali… saeng eonni mau borong PW – mau baca ulang semuanya, biar afdol.. minta pw Chapter 15 A- Take Me Away , Chapter 15 B – I’m Ready To Get Hurt, The Mistaken Obsession yang full vers, Walk Away dong,, mian ya agak banyak… hahahaha,, gomawo yoo

  17. Akhirnya aku bisa liat juga chapter ke 14.
    aku cari-cari dari Blog ini Blog itu belum ketemu juga.

    aku udah nunggu keluar dan ternyata FF ‘Whether I Hate You Or Not ‘ Undah sampe selesai..

    dan semua itu ternyata ada di blog ini.

    ya tuhan…

  18. Eonni FFnya bagus banget..

    Aku baru baca sampe Chapter 13 di ffindo.wordpress.com

    dan setelah itu aku tunggu lagi sampe setiam hari setiap malam aku mantengin Laptop tapi Chapter 14 belum keluar juga.
    dan saat aku cari di Google Donghae FF dan aku liat disitu ada FFnya eonni.
    aku seneng banget.

    makasih Eonni udah Publish-in FF ini…

    Gomapseubnida, jeongmal.

  19. Aduh masalah makin ribet
    aja. Wah minhoo udh tau kalo
    saena bukan kakak kandungnya??? Donghae egoiis bngt. Dia hanya
    brfkir pnderitaan yoonmi, dia
    gk tau gmna pnderitaan
    Saena.. Truss saena sama jonghyun ajaaa *abaikan*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s