[Korean Fanfiction/ Straight/ Series] Whether I Hate You or Not (Chapter 16 || Ending)

Cover ff Whether I Hate You or Not chapter 16Title                       : Whether I hate you or not

Author                  : Kim Sae na a.k.a Devi

Rating                   : PG13/NC17/Straight/Series/On Writing

Genre                   : Romance/Angst/Tragedy/Family/Life

Cast                       :

Main Cast            :

Super junior – Lee Donghae

Kim Yoonmi

Choi Saena (OC)

Support cast           :

SHINee – Choi Minho, Kim Jonghyun

Kim Yoonhee(OC)

Other Cast : FIND BY YOURSELF!

Disclaimer          : Super junior,SHINee, and SNSD  are belong to God,SM Entertaiment,and their parents. The Original Character is mine. This fanfic is just for fun. Please No Bash! and please don’t sue me. If you don’t like this fanfic. Please don’t read. This story is mine. Don’t take this fanfic without permission from me. If you want to take this fanfic. Please take with full credit.          

Warning               : Lolicon,a little bit violence and NC

A/N : Baca cuap-cuap aku di bawah ^__^

Prev chapter :

Prolog-The mistake that I made │ Chapter 1-the reality is.. │Chapter 2- Find a new love │Chapter 3-this secret will kill me slowly │Chapter 4 – Love Blossomed │Preview Chapter 5 – Love After Love │FULL CHAPTER 5 – Love After Love (Password Protected) Preview Chapter 6- Help me to hate you │FULL CHAPTER 6 – Help me to hate you  │Preview Chapter 7 – To Love You More │Chapter 7- To Love You more( A B (Password│ Protected)  )  │Preview Chapter 8- My Destiny is You…  │ Chapter 8 – My Destiny is You… ( A │B │C )   │ Chapter 9 – The Past is Comeback │ Chapter 10 – Your Heart… is Hollow Inside  ( AB (Password Protected)  │ Chapter 11 A- Beautiful Mistake │ Chapter 11 B – Wrong Love  (Password Protected) │ Chapter 12- Save Me From This Pain  │Chapter 13-Fragile │Chapter 14- Say Goodbye │ Chapter 15 A- Take Me Away (Password Protected) │ Chapter 15 B – I’m Ready To Get Hurt  (Password Protected)

The Last Chapter – Chapter 16- Miserable

#NP

Cha Soo Kyung- I Can’t Forgive (OST. Temptation of Wife)

Infinite – A person Like Me

Lee Seung chul – Geu Saram ( OST Baker King)

Kalau kau memang tidak ditakdirkan untukku… aku akan tetap kehilanganmu, walau dengan cara apapun aku berusaha mempertahankanmu tetap disisiku…

Selamat tinggal, semoga kau bahagia tanpa adanya diriku…

         ***

I erased all memories
But why do I feel so sad
I try to hold back again
I try to erase you
That person who will come back again

Author Pov

           “ Bagaimana keadaan Saena sekarang? Aku tidak sempat bertemu dengannya saat pengambilan ijazah kemarin. Ia sepertinya sedang terburu-buru.”

Yoonhee mengambil mangkuk popcorn yang berada di sebelahnya dan menyodorkannya pada Minho. Pria itu mengambil beberapa butir makanan berbahan dasar jagung itu dan memasukkannya ke dalam mulut.

Ia tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Yoonhee. Tatapannya hanya mengarahkan fokus ke depan. Pikirannya menerawang jauh ke arah kejadian yang baru saja terjadi beberapa saat yang lalu, saat ia melangkahkan kakinya menuju rumah gadis itu.

Yoonhee dan Jonghyun…

Pemandangan yang pertama kali didapatkannya saat datang ke sana adalah Yoonhee dan Jonghyun yang sedang berbincang-bincang. Terlihat akrab dan terikat, entah apa yang mereka bicarakan tapi itu membuat Minho merasa aneh. Mereka terlihat dekat… bahkan lebih dekat dibandingkan dulu saat Jonghyun masih mengharapkan Yoonhee bersamanya.

Bukan berarti pria itu sudah melepaskan perasaannya pada Yoonhee, Minho tidak yakin kalau tidak ada sisa-sisa cinta yang pernah tumbuh di sana. Walaupun sekarang mereka berteman, Minho tidak akan melarang mereka melakukannya. Karena dia sendiri mempunyai banyak teman wanita dan Yoonhee tidak pernah melarangnya.

Cemburu?

Mungkinkah perasaan cemburu yang menderanya saat ini? Tapi kenapa ia tidak lagi merasakan sakit yang sama seperti pertama kali ia melihat Yoonhee berdua dengan pria itu?

Apa mungkin karena sekarang mereka berteman dan sekarang Yoonhee sudah resmi jadi miliknya? Mungkinkah hanya sesederhana itu alasannya?

“ Minho…”

Yoonhee melambaikan tangannya di hadapan Minho saat menyadari pria itu tak kunjung memberikan respon atas pertanyaannya.

“ CHOI MINHO, APA KAU DENGAR?!”

“ Ahh… eh, apa?”

Minho tersadar dari lamunannya dan langsung mengarahkan tubuhnya menghadap Yoonhee.

“ Kau tidak mendengar pertanyaannku? Kenapa kau melamun, Minho-ah? Memikirkan hasil raport? Tenang saja! Kau kan pria yang cerdas, aku yakin kau bisa mendapatkan nilai tinggi untuk semua mata pelajaran.”

“ Tidak… bukan itu… sungguh, aku bahkan lupa kalau tiga hari lagi adalah pengambilan raport.”

“ Lalu kenapa? Kau terlihat seperti ada masalah.”

“ Hmm… mianhae, Yoonhee-ah, aku harus bertanya ini padamu, aku bukannya ingin mencurigaimu atau apa tapi… apa kau pernah membicarakan soal keadaan Saena noona pada Jonghyun?”

Yoonhee menggelengkan kepalanya, sedikit heran dengan pertanyaan Minho. Ia memang cukup dekat dengan Jonghyun setelah hubungan mereka membaik, tapi bertemu dengan pria itu baru saja dilakukannya tadi sebelum Minho datang, itupun hanya membicarakan beberapa hal ringan dan Jonghyun tidak mengungkit masalah Saena sedikit pun.

Aishh… lantas darimana pria itu tahu?”

“ Siapa? Jonghyun? Dia tahu?! Keadaan Saena sekarang? Bagaimana bisa dia tahu?”

Yoonhee langsung bereaksi, ia mengubah posisi duduknya dan mensejajarkan  wajahnya tepat dengan wajah pria itu.

Ne, Saena noona bilang Jonghyun tahu tapi dia tidak mengatakan dia tahu hal itu darimana… Memang dia mengatakan kalau dia tidak akan membicarakan hal itu ke permukaan, tetapi tetap saja Saena noona khawatir.”

“ Tenang saja, aku mengenal Jonghyun sudah cukup lama dan aku tahu bagaimana dia, dia tidak akan mengingkari janjinya. Pada dasarnya Jonghyun adalah pria baik.”

Tanpa sadar Yoonhee tersenyum, Minho melihat ekspresi gadis itu bercahaya ketika membicarakan tentang Jonghyun dan hal itu membuat Minho sedikit kecewa.

“ Ah, bagaimana kalau kita bertemu dengan Saena? Untuk sekedar mengetahui keadaannya saja. Hari-hari ini pasti menjadi berat untuknya.”

Yoonhee berinisiatif, senyuman langsung menggantikan ekspresi kecewa tersembunyi pria itu, setidaknya apa yang lebih membahagiakan selain melihat kekasih dan keluarganya menjadi akrab? Apalagi sebelum ini, Saena dan Yoonhee hampir-hampir bermusuhan, karena hal sepele, menurutnya.

“ Nanti aku akan menghubunginya.. Yoonhee-ah…”

Nde?”

“ Kalau boleh aku tahu bagaimana perasaanmu pada Jonghyun sekarang?”

Yoonhee tidak bisa menjawab… Pertanyaan Minho bagaikan membuka kotak Pandora, menampilkan sisi lain yang lebih gelap. Ekspresi wajah Yoonhee berubah mendung.

“ Kalau kau tidak mau menjawab, aku tidak keberatan…”

Minho mengambil gelas berisi mint tea yang disajikan Yoonhee untuknya sejak setengah jam yang lalu. Uap panas masih setiap mengepul dari sana.

“ Untukku… Jonghyun tidak lebih dari teman. Teman yang baik… itu saja, kenapa kau bertanya?”

“ Tidak… tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu.”

Minho tidak ingin memaksa Yoonhee mengungkapkan hal lebih, ia tahu gadis itu membutuhkan garis batas pribadinya.

“ Ah, kenapa rumahmu sepi sekali? Kau hanya tinggal bertiga dengan eomma dan appa-mu?” Minho mencoba mengalihkan pembicaraan ke arah lain.

“ Bisa dibilang hanya kami bertiga dan euhmmm ya sebenarnya dia anak dari suami kedua eomma, dia yang menjadi appa-ku sekarang, dia bahkan belum bertemu langsung denganku, dia sedang berada di luar negri sekarang untuk meneruskan kuliah S3nya.”

Minho bisa bernafas lega karena pengalihan topiknya berhasil. Jangan sampai karena pertanyaan itu, suasana diantara mereka menjadi canggung. Namun Jauh di dalam lubuk hatinya, Minho tidak pernah yakin kalau Jonghyun hanya sebatas teman di hati Yoonhee.

Bukan… bukan hanya sebatas teman biasa.

Whether I Hate You or Not │©2011-2012-2013

The Last Chapter – Miserable

ALL RIGHT RESERVED

         Donghae memandang pintu ruangan yang masih tertutup rapat itu dengan tatapan khawatir. Bola matanya bergerak liar menyusuri setiap hal yang bisa mengalihkan perhatiannya. Bahkan duduk menjadi hal yang sulit untuknya, ia ingin bersikap tenang dan berusaha menenangkan Yoonmi yang meledak dalam tangis.

Tapi jangankan menenangkan orang lain, dirinya sendiri pun memerlukan seseorang untuk membuatnya berhenti gelisah. Hampir satu jam mereka menunggu di sini, namun tidak ada tanda-tanda manusia yang akan keluar dari ruangan itu dan hal itu cukup membuat Donghae menyesal.

Kenapa ia harus menyakiti gadis itu sekali lagi?

Kali ini pernyataan itu bukan hanya mengarah pada Yoonmi, sebagaimana yang ia katakan pada Saena. Donghae melakukan semua kebaikan dan perhatian pada Saena, karena pria itu melakukan semuanya untuk Yoonmi. Tetapi ia juga menyesal mengatakan hal itu pada Saena di saat jiwa gadis itu sedang labil dan rapuh.

Sungguh, Donghae tidak bermaksud membuat gadis itu menangis apalagi sampai membuat gadis itu hendak meninggalkan rumah mereka. Ia hanya ingin berlaku sedikit keras pada Saena, karena gadis itu sudah mengatakan hal-hal yang kelewat batas pada Yoonmi, ibu kandungnya sendiri.

“ Hae-ah… ini semua salahku…”

Entah sudah berapa kali Yoonmi mengucapkan kata-kata itu dari mereka masih dalam perjalanan menuju ke sini. Donghae kesulitan untuk memberikan penghiburan pada Yoonmi, bukan karena gadis itu benar-benar salah melainkan karena ia menyadari kalau penyebab Saena seperti ini adalah dirinya sendiri bukan Yoonmi.

“ Yoonmi, bisakah kau tenang? Saena akan baik-baik saja di dalam sana dan sekarang kau harus tenang untuk bisa memberikan dukungan padanya.”

Donghae memutuskan untuk menempatkan dirinya di sebelah Yoonmi dan memeluk gadis itu dalam diam. Yoonmi sudah berhenti terisak, sekarang yang bisa dilakukan gadis itu hanya memejamkan matanya dan berusaha tenang. Mengikuti saran yang diberikan Donghae.

Ceklek!

Suara pintu yang dibuka disusul dengan keluarnya beberapa orang dari sana, segera mencuri perhatian Yoonmi dan Donghae. Kedua manusia itu langsung berdiri dan menghampiri salah seorang dari sosok itu.

“ Ba… Bagaimana keadaan Saena, uisa-nim? Apa dia dan kandungannya baik-baik saja?”

Donghae berusaha menahan rasa khawatirnya yang meluap, nada suaranya terdengar bergetar, detak jantungnya berubah ritme menjadi tidak beraturan, menunggu jawaban dengan was-was. Melihat ekspresi sang dokter yang terlihat aneh, Donghae tahu, sesuatu sudah terjadi.

Ia hanya bisa berdoa semoga pemikirannya salah, semoga tidak ada yang terjadi pada Saena dan gadis itu berada dalam kondisi baik, semoga saja firasatnya tidak benar. Semoga saja ekspresi dokter itu bukan menunjukkan keadaan yang buruk.

“ Nyonya Saena berada dalam kondisi baik walaupun ia masih terbaring lemah karena kehilangan cukup banyak darah…”

Yoonmi dan Donghae bisa menghembuskan nafas tanda kelegaan luar biasa yang segera menyelimuti mereka, namun hal itu tidak bertahan lama karena sang dokter belum selesai menyampaikan kondisi Saena secara utuh.

“ … tapi dengan segala penyesalan kami harus menyampaikan bahwa… kami tidak bisa menyelamatkan bayi yang sedang dikandung nyonya Saena. Hampir beberapa minggu ke belakang ini kondisi kandungannya memburuk, saya sudah menyampaikan padanya untuk mengubah pola pikirnya ke arah hal yang positif, karena faktor stress dan pikiran akan berpengaruh besar bagi perkembangan janinnya, tetapi sepertinya nyonya Saena belum melakukan hal itu, sehingga ini membuat kandungannya yang baru menginjak usia 15 minggu tidak bisa diselamatkan. Kami benar-benar meminta maaf atas hal ini.”

“ Apa? Sa… Saena keguguran? Anda bercanda, uisanim… katakan anda bercanda.”

Yoonmi memajukan tubuhnya ke arah dokter muda itu dengan tatapan penuh harap. Ia benar-benar berharap apa yang dikatakan dokter itu salah.

Mianhaeyo, saya benar-benar menyesal, kami tidak bisa menyelamatkan bayinya.”

Andwae! Tidak… tidak! Pasti ada kesalahan.”

Reaksi yang diberikan Donghae sedikit terlambat dari reaksi yang diberikan Yoonmi. Pria itu tidak mempercayai apa yang didengarnya. Benarkan dokter itu mengatakan ia baru saja kehilangan seorang anaknya?”

“ Maafkan kami, tuan, nyonya… kami sudah melakukan apapun yang kami bisa untuk menyelamatkannya, tetapi kondisi kandungan nyonya Saena sudah parah, jika tetap dipertahankan, itu malah akan membahayakan nyawa nyonya Saena sendiri.”

Donghae berusaha menenangkan dirinya yang terlalu terkejut dengan berita itu. Setetes air mata lolos menggenangi pipinya. Kenapa penyesalan selalu datang terlambat? Kenapa hal itu tidak bisa dicegah sebelum terjadi? Kenapa semua ini harus terjadi padanya?

Memang pada awalnya ia menolak kehadiran anak itu, kehadiran manusia baru yang mendiami rahim Saena karena hasil perbuatan mereka. Tetapi setelah ia kehilangan calon manusia itu yang kelak menjadi salah satu penerus darahnya, semuanya terasa menyakitkan.

“ Bolehkah kami bertemu dengan Saena, uisanim?”

Yoonmi kembali berkata-kata setelah ketenangannya kembali. Tetapi air mata tetap setia menjadi penghias wajahnya, menandakan kesedihan gadis itu masih tertera jelas.

Ne, silahkan… sebentar lagi nyonya Saena akan dipindahkan ke kamar inap, tetapi tenangkan diri kalian sebelum bertemu dengannya. Kondisi psikologis seseorang yang baru saja keguguran sangat rentan. Kami takut jika kondisi psikisnya tidak baik, kondisi fisik nyonya Saena juga akan menurun.”

“ Baik, uisanim… kami akan memastikan bahwa Saena akan baik-baik saja. Kami akan menghiburnya dan memberikan semangat padanya.”

Selepas sang dokter berlalu dari hadapan mereka, Donghae tidak bisa lagi menyembunyikan tangisannya. Pria itu mendundukkan wajahnya dan menghempaskan pukulannya ke dinding.

“ Kenapa semua ini harus terjadi?!”

***

         “ Aishhh! Noona, kenapa kau tidak kunjung mengangkat panggilanku?”

Minho melepaskan ponsel yang sejak hampir dua menit yang lalu menempel pada telinganya. Tatapan pria itu berubah khawatir. Terakhir kali sejak Saena menolak mengangkat panggilannya adalah ketika gadis itu memutuskan untuk pulang ke rumah aslinya dan tidak memberitahu Minho perihal kepulangannya itu.

“ Masih belum diangkat juga diangkat oleh Saena?”

Yoonhee menghampiri Minho yang berdiri frustasi di depan pintu rumahnya. Mereka berdua memang memutuskan untuk bertemu dengan Saena hari ini, mumpung besok adalah hari Sabtu, di mana weekend dimulai dan secara otomatis Minho tidak harus melangkahkan kakinya kembali ke sekolah setelah libur selama beberapa waktu, penyegaran setelah ujian berakhir, sehingga mereka bisa bepergian lebih lama malam ini tanpa harus dibatasi waktu yang cukup berarti.

NeAishh! Jinjja!”

“ Mungkin dia sedang tidak memegang ponselnya, Minho-ah…”

Minho tidak menjawab, pria itu masih sibuk dengan kegiatannya untuk bisa tersambung dengan Saena.

Yoboseyo…”

“ N…”

Minho menghentikan ucapannya karena menyadari suara seseorang yang sedang berbicara dengannya saat ini bukanlah Saena. Melainkan suara seorang gadis yang terdengar parau, pertanda bahwa gadis itu habis menangis.

Mi… mianhae… bukankah ini ponsel Choi Saena?”

Minho berusaha memastikan, kalau-kalau saking terburu-buru ia salah menekan nomor ponsel dan akhirnya terhubungan dengan orang lain.

“ Benar, ini ponsel Saena, Minho-ah… ini Yoonmi noona.”

“ Ah, noonamianhae, aku tidak mengenal suaramu, aku ingin berbicara dengan Saena noona, bisakah kau berikan ponsel ini padanya?”

Yoonmi tidak langsung menjawab atau memberikan respon. Minho harus menunggu beberapa saat, namun Yoonmi tetap bungkam, akhirnya pria itu memberanikan dirinya berbicara.

NoonaNoona, kau masih di sana?”

“ Ah, yemianhaeyo, Minho, Saena… Saena belum sadarkan diri. Sekarang kami semua berada di rumah sakit. Kalau kau ingin bertemu Saena da… datanglah ke Seoul Hospital sekarang.”

Mwo? Baiklah, noona… aku akan segera ke sana. Ghamsahamnida sudah memberitahuku.”

Minho segera memutuskan sambungan teleponnya dan memasukan benda kecil itu ke saku jaketnya. Tatapannya berubah khawatir… sangat khawatir… Yoonhee yang berada di sebelah pria itu hanya bisa membalas tatapan Minho dengan tatapan heran.

“ Ada apa, Minho? Kenapa kau terlihat khawatir?”

“ S… Saena noona sedang berada di rumah sakit sekarang, tadi yang mengangkat teleponku adalah eonnimu, Yoonmi noona… Ia mengatakan kalau Saena noona masih belum sadarkan diri.”

“ Di… dia kenapa?”

Molla, Yoonmi noona tidak mengatakan apa-apa lagi, aku disuruh ke sana, apa kau mau ikut?”

“ Aku ikut! Aku akan ganti baju sekarang, kau tunggu dulu di sana, ne?”

Yoonhee segera melesat ke dalam rumahnya dan meningglkan Minho di ruang tamu. Pria itu melangkah menuju sofa yang berada di sana dan menghempaskan tubuhnya di atas benda itu. Pikirannya kacau.

Beberapa hari yang lalu saat bertemu dengan Saena di taman dekat rumah keluarga Choi, Saena masih dalam keadaan baik, walaupun gadis itu mengatakan beberapa hal yang mengganggu ketenangan pikirannya. Lalu sekarang gadis itu ada di rumah sakit? Apa yang sudah terjadi dengannya?

Noona, kenapa… kenapa kau selalu membuatku khawatir?”

***

         Kedua bola mata itu bergerak liar sebelum kelopak mata yang menutupinya terbuka, gadis yang terbaring dengan selang infus menancap di lengan kirinya itu perlahan mendapatkan kembali kesadarannya.

“ Ugh… kenapa aku bisa berada di sini?”

Gadis itu memandang sekelilingnya yang terasa asing. Ditambah lagi tidak ada seorang pun yang berada di dekatnya untuk dapat diajak berkomunikasi. Gadis itu memandang tubuhnya dan merasakan tubuhnya menjadi lebih ringan dari biasanya. Kenapa ia merasa ada yang hilang dari sana?

Krieettt!

Suara pintu yang dibuka membuatnya mengalihkan perhatian ke sana dan ia menemukan sosok Yoonmi yang melangkah masuk.

“ Saena, kau sudah sadar? Bagaimana perasaanmu, sayang? Apa masih ada yang sakit?”

Gadis itu… gadis yang dipanggil Saena itu, hanya diam. Ia mengingat pertengkarannya dengan Yoonmi beberapa waktu yang lalu, mungkin sekitar tiga sampai empat jam yang lalu sebelum ia tidak mengingat apa-apa lagi termasuk kenapa ia bisa sampai di sini.

“ Saena, perlukah eomma memanggil uisanim?”

Yoonmi menatap gadis itu dengan tatapan gelisah. Bagaimana pun juga kondisi  yang menimpa Saena saat ini adalah salah satu hal terberat dalam hidup gadis itu, bagaimana cara mereka menyampaikan masalah itu tanpa membuat Saena histeris?

“ Tidak usah, eomma, aku tidak apa-apa… kenapa aku bisa sampai di sini?”

“ Kau pingsan tadi pagi dan tidak sadarkan diri selama beberapa jam.”

“ Aku pingsan?”

Saena berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum ia pingsan tadi, ada sensasi rasa sakit yang mendera perutnya. Ia merasa ada sesuatu yang mencakar-cakar tubuhnya dari dalam, menyempurnakan rasa sakit itu.

Tiba-tiba Saena menyadari sesuatu, jangan-jangan rasa sakit yang mendera tubuhnya tadi diakibatkan oleh keadaan bayinya? Beberapa waktu lalu, saat ia memeriksakan kandungannya ke dokter, dokter sudah mengatakan padanya untuk tidak terlalu lelah dan stress, karena kandungannya berada dalam kondisi yang kurang baik.

“ Bayiku…”

Saena berusaha merubah posisi tidurnya menjadi posisi duduk bersandar, refleks Yoonmi membantu gadis itu.

“ Argh…”

Saena meringis pelan saat rasa sakit lain datang mendera tubuhnya, tidak sesakit tadi pagi, namun cukup untuk membuatnya kembali meringis.

“ Kau jangan banyak bergerak dulu, Saena…”

Gadis itu memegang bagian tubuhnya, sesuatu yang berhasil membuatnya kehilangan kesadaran, seharusnya di tempat itu juga bayinya berada. Namun apa yang dirasakannya saat ini? Kosong… Kekosongan yang teramat jelas bahkan untuk bisa dimengertinya.

Eomma… bayiku baik-baik saja, kan, eomma? Dia… dia tidak apa-apa, kan? Kenapa aku merasa ada yang hilang? Kenapa aku merasa kosong? Kenapa aku tidak bisa merasakan kehadirannya?!”

Saena menyadari bentuk tubuhnya telah kembali seperti sedia kala. Itu adalah hal yang aneh karena seharusnya jika bayinya masih berada di sana, perutnya sudah cukup membesar karena usia kandungannya. Tapi yang didapatinya adalah hal yang berbeda. Saena tahu ada yang terjadi padanya dan juga bayi yang sudah menemaninya selama hampir 4 bulan terakhir.

“ Saena… tenang dulu, nak…”

“ Bayiku… bayiku… dia baik-baik saja… itu pasti.”

Perhatian Yoonmi tercuri ke arah pintu yang terbuka, Donghae melangkah masuk ke sana. Terlihat jelas ekspresi tertekan pria itu dan matanya yang masih memerah, meninggalkan cukup bukti di sana kalau pria itu baru saja selesai menangis.

“ Saena… lebih baik kau kembali berbaring, kondisimu belum pulih.”

“ Kenapa eomma enggan menjawab?! Ada apa dengan bayiku? Bagaimana keadaannya sekarang?”

“ Saena… tenang dulu, kami akan menjelaskan semuanya nanti.”

Donghae membantu Yoonmi yang sedang menenangkan Saena yang mulai histeris karena tidak ada jawaban pasti yang didapatkannya.

“ Kalian harus jawab sekarang! Sekarang, aku mohon… katakan bahwa bayiku tidak apa-apa… jebal…”

Pertahanan yang dibangun Yoonmi dan Donghae beberapa saat lalu sebelum memberanikan diri bertemu dengan Saena, hampir saja runtuh melihat perilaku gadis itu. Mereka tentu saja sangat mengerti bagaimana perasaan seorang Saena, tetapi tidak ada hal yang bisa mereka lakukan kecuali mencoba hal terbaik untuk menghibur Saena.

“ Saena, berjanjilah untuk tenang, oppa akan mengatakan semuanya padamu.”

Donghae berkata tegas dan hal itu berhasil membuat Saena berhenti memberontak dalam dekapan Yoonmi. Pria itu sudah mendapat isyarat ‘ jangan katakan hal itu sekarang padanya’ dari tatapan mata Yoonmi, tetapi Donghae mengabaikan itu semua.

“ Saena… mianhae… kau keguguran… kita kehilangan bayi kita.”

“ APA?! APA?! APA KAU BILANG OPPA?”

“ Kau keguguran Saena…”

Suara Donghae mulai bergetar diiringi tetesan air matanya. Pria itu mencoba yang terbaik untuk menjadi kuat, tetapi ia tidak sanggup melakukannya.

ANDWAE! Bayiku… bayiku… tidak mungkin! Kalian pasti bohong! Katakan padaku kalau kalian bohong! Ini tidak lucu! Ini tidak pantas dijadikan bahan lelucon.”

Saena tidak bisa lagi bersikap tenang, walaupun ia sudah berjanji pada Donghae untuk tetap tenang. Berita yang sejak awal ditolaknya dalam pemikiran kini menjadi nyata. Ia kehilangan bayinya… Bayi yang sudah dipertahankannya selama beberapa bulan. Ia harus kehilangan hampir semuanya karena anak itu, namun ia tidak pernah menyesal mempertahankan bayi itu tetap dikandungannya. Tetapi apa yang dikatakan Donghae barusan membuyarkan harapannya untuk segera bertemu dengan bayi itu. Menggendongnya, memberinya susu, menyanyikan lagu untuknya.

Semua hal…

Semua hal yang dibayangkannya ketika ia akan menjadi seorang ibu.

“ TIDAK! BAYIKU! Siapapun tolong kembalikan bayiku!”

***

         Yoonmi mengelus rambut Saena pelan, gadis itu baru saja tertidur hampir lima belas menit yang lalu setelah dokter menyuntikkan obat penenang padanya. Tangan Yoonmi beralih dari rambut gadis itu ke arah pipinya yang masih terdapat bekas-bekas jejak air mata. Hati gadis itu segera diliputi perih.

Mengingat betapa syok dan depresi Saena setelah mendengar keadaan bayinya yang tidak bisa diselamatkan. Tidak ada yang bisa dilakukan Yoonmi dan Donghae kecuali memberikan kata penghiburan. Mereka berdua tidak akan bisa memutar kembali waktu ataupun mengembalikan bayi yang dikandung Saena.

Rasa bersalah memenuhi relung hati gadis itu. Dia turut bertanggung jawab atas Saena yang kehilangan bayinya. Kalau saja tadi pagi mereka tidak bertengkar sehebat itu, kalau saja dirinya tidak memancing amarah Saena. Tentu saja hal ini tidak akan terjadi.

“ Donghae-ah… lebih baik kau pulang saja, biar aku yang menunggu Saena di sini.”

Yoonmi refleks berbicara ketika mendengar suara pintu dibuka, walaupun gadis itu tidak melihat siapa yang baru saja masuk.

Annyeong, noona… ini aku Minho.”

Yoonmi menoleh dan mendapati Minho serta Yoonhee berdiri di pintu masuk. Sontak gadis itu langsung tersenyum dan mendekat ke arah dua manusia itu.

Mianhaeyo, Minho-ah… tadi kukira Donghae yang masuk ke sini.”

Yoonmi tesenyum dan mengalihkan tatapannya pada Yoonhee.

“ Yoonhee, apa kau tidak merindukan eomma?”

Yoonmi merentangkan kedua tangannya, bersiap memeluk Yoonhee, segera saja gadis itu menyambut Yoonmi, membalasanya dengan pelukan yang lebih erat.

“ Tentu saja! Eomma, neomu bogoshipoyo.”

“ Baiklah, kajja… kita mengobrol di luar. Biar Minho menjenguk Saena terlebih dahulu. Euhmm, Minho, a… apa kau sudah tahu keadaan Saena sekarang?”

Ne, noona, aku sudah tahu dari Donghae hyung… kau tenang saja noona, kalau nanti Saena noona sadar saat aku masih di sini, aku tahu bagaimana cara untuk menghadapinya.”

“ Aku dan Yoonhee keluar dulu.”

Yoonmi segera menarik Yoonhee keluar, gadis itu mengerti kalau Minho butuh waktu sendiri untuk menemui kakaknya.

Minho baru melangkahkan kakinya mendekat pada Saena ketika Yoonhee dan Yoonmi benar-benar keluar dari sana. Pria itu menarik kursi yang diletakkan di sebelah tempat tidur Saena dan menjatuhkan dirinya di sana. Selama beberapa menit, tidak ada yang dibicarakannya pada Saena.

Pria itu tetap diam bahkan ia hanya menyaksikan wajah tenang Saena ketika tidur. Entahlah apalagi yang akan dilakukan kakaknya ketika ia sadar nanti. Donghae sudah mengatakan semua hal tentang keadaan Saena dan reaksi gadis itu ketika ia tahu bahwa ia kehilangan bayinya. Minho amat sangat mengerti itu, tetapi entah kenapa dalam hati ia merasa lega.

Setidaknya kalau Saena kehilangan bayi itu, perlahan ia bisa mendapatkan kembali masa depannya. Ia tidak perlu khawatir orang-orang akan bertanya di mana ia melanjutkan kuliah dan sebagainya itu. Hal yang terpenting adalah Saena tidak lagi harus menanggung derita karena menjadi ‘istri tak diharapkan seorang Lee Donghae’ , Saena akan terbebas dari itu semua.

Hal itu mampu mengembangkan senyuman di wajah Minho, dibalik ekspresi prihatinnya atas musibah yang menimpa Saena. Salahkah jika ia berbahagia demi kebaikan Saena walaupun kebahagiaan itu tidak menular pada Saena? Minho tahu persis gadis itu akan menjadi sangat-sangat terpukul, karena ia perlahan mulai bisa menerima kehadiran sang bayi, tetapi sekarang ia harus kehilangan bayi itu.

Noona, apa kau tahu apa yang aku rasakan ketika aku mendengar kabar keguguranmu? Aku merasa sedih, aku seolah bisa merasakan apa yang kau rasakan tapi kau tahu apa yang aku dapatkan dibalik kesedihan itu? Perasaan lega, noonamianhae, bukan aku bermaksud jahat, senang di atas penderitaaanmu, tetapi dengan begini, semuanya akan menjadi lebih baik. Kehidupanmu tidak akan pernah bahagia, noona, kalau kau masih mengharapkan Donghae hyung. Tanpa harus dikatakan olehnya aku tahu, noona, ia hanya mencintai Yoonmi noona, tanpa siapa-siapa lagi di hatinya, bahkan untukmu yang mengandung dan kelak melahirkan anaknya nanti. Kau tetap hanya akan menjadi bayangan dan aku tidak tega melihatmu begitu.”

***

         “ Apa kau mau menemuinya sekarang, Yoonhee-ah? Aku sudah selesai, Saena noona masih belum sadar.”

Ne, aku akan masuk ke dalam.”

Minho tersenyum canggung ke arah Yoonmi, karena ia menyela pembicaraan pasangan ibu dan anak itu.

Minho melangkahkan kakinya ke arah dinding tepat di sebelah kursi yang sedang diduduki Yoonmi, tatapannya tidak fokus, bola matanya bergerak liar, namun tidak ada satu pun objek yang benar-benar ditangkapnya.

Pikiran pria itu masih fokus pada sosok seorang gadis yang terbaring tanpa daya di tempat tidur berseprai putih itu. Sosok yang sekarang menjadi amat rapuh. Lalu tanpa sadar matanya menangkap sosok Donghae yang sedang duduk di sebrangnya. Hanya dipisahkan oleh dinding kamar rawat Saena. Pria itu menundukkan wajahnya, Minho tidak yakin apa yang dilakukan pria itu. Mungkinkah melanjutkan tangisannya?

Waktu Minho melangkahkan kakinya ke tempat itu, Donghae sudah selesai menangis, bahkan tak ada tanda-tanda ia akan melanjutkan tangisnya. Pria itu berusaha kelihatan tegar, untuk Yoonmi dan juga… Saena.

Tidak dapat dipungkiri, walaupun Donghae tidak menginginkan anak itu. Ada bagian dari dirinya yang tercambuk saat kehilangan anak itu. Apapun yang terjadi dan walaupun anak itu belum lahir. Anak itu tetap mengaliri darahnya, anak itu tetap menjadi salah satu penerusnya, tidak peduli pada rahim siapa anak itu bertumbuh.

Namun entah darimana asalnya, sebersit rasa benci muncul dalam hati Minho untuk pria itu. Pria itu berperan besar dalam merusak masa depan Saena. Seseorang yang sampai kapanpun tetap akan dianggapnya sebagai kakak, walaupun status gadis itu sudah berubah.

Tetapi tetap tanpa ingkar di hatinya, pria itu sudah menyakiti kakaknya lebih dari siapapun. Tanpa harus diperkatakan, Minho tahu, Saena tidak pernah bahagia menjalani pernikahan dengan Donghae, lalu sekarang alasan pernikahan itu sudah hilang, haruskah ia meminta Saena menceraikan Donghae?

Bukankah itu terdengar sedikit keterlaluan, apalagi gadis itu baru kehilangan bayinya, haruskah sekarang gadis itu kehilangan pria yang dicintainya?

Kalau boleh jujur, Minho sangat ingin marah pada Donghae, pria itu terlalu banyak memberikan rasa sakit pada Saena, tetapi untuk saat ini tidak ada yang bisa ditumpahkannya, terlebih dalam suasana duka yang menyelimuti di antara mereka semua, termasuk dirinya. Luka untuk Saena…

“ Minho… “

Yoonmi menyadarkan lamunan pria itu, ketika ia menyadari kalau tatapan pria itu mengarah pada Donghae dan terkunci di sana. Bukan hanya tatapan biasa, bukan tatapan sedih atau prihatin melainkan ada amarah berkobar jelas di sana. Yoonmi menyadari kalau sejak awal Minho tidak pernah menyetujui pernikahan Saena dan Donghae.

Tapi apa alasan pria itu mencegahnya? Bukankah malah baik jika Donghae ingin bertanggung jawab pada Saena? Kenapa tiba-tiba Yoonmi menyakini ada alasan lain di balik semua itu? Alasan tersembunyi di dalam diri Choi Minho.

“ Minho…”

“ Ah, nde, noona? Mianhae… aku sedang melamun tadi.”

“ Bisa kau duduk di sebelahku? Ada yang ingin aku sampaikan padamu.”

Yoonmi menepuk bangku di sebelahnya yang kosong, tempat di mana Yoonhee duduk tadi.

Geurae…”

Minho langsung terdiam, dalam hati, ia bertanya-tanya, kenapa Yoonmi ingin membicarakan sesuatu dengannya. Pertemuannya dengan wanita itu secara resmi bahkan baru tiga kali. Kira-kira hal apa yang dibahas oleh wanita itu?

“ Minho, hmmm… maafkan… maafkan kami yang tidak bisa menjaga kakakmu dengan baik. Aku tahu keadaan Saena sekarang sangat tertekan, kami… kami hanya bisa berusaha untuk menghiburnya…”

“ Tenang saja, noona, aku akan membantu untuk bisa mengubur kesedihan Saena noona.”

Ada yang berbeda…

Yoonmi yakin ada yang berbeda dari nada suara pria itu. Pria itu menyimpan emosinya di sana.

“ Aku percaya kau bisa melakukannya, Minho… Ada yang ingin aku tanyakan padamu.”

“ Tanya apa, noona?”

“ Bagaimana hubunganmu dengan Yoonhee?”

Minho mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Yoonmi. Kenapa tiba-tiba ia bertanya hubungannya dan Yoonhee?

“ Hubungan kami baik, noona, kenapa tiba-tiba kau bertanya?”

“ Aku hanya ingin tahu, mianhaeyo, Minho-ah… bukannya aku ingin ikut campur, tapi Yoonhee sudah kuanggap seperti anakku sendiri, aku hanya ingin memastikan apa… apa kau benar-benar mencintainya?”

Minho menatap Yoonmi intens, ia ingin menjawab, sama seperti yang sering diutarakannya namun melihat sinar mata Yoonmi. Minho urung menjawabnya.

“ Kalau kau tidak ingin menjawabnya… aku mengerti.”

Yoonmi tersenyum maklum, saat menyadari Minho tidak kunjung menjawab pertanyaannya.

“ Aku… tentu saja aku mencintainya, aku bahkan berharap ini bisa bertahan dalam jangka waktu yang tidak bisa ditentukan, noona, kau tenang saja, aku akan menjaga Yoonhee sebaik mungkin.”

Jawaban Minho membuat Yoonmi tersenyum, membuahkan keyakinan baru atas ketegasan pria itu. Sedangkan Minho… ini pertama kalinya ia ragu akan jawaban dari pertanyaan sederhana itu. Ia merasa ada yang salah, entah apa…

***

A Few Days later…

Donghae menarik koper berisi pakaian Saena yang baru diturunkannya dari mobil sementara Yoonmi sibuk menuntun Saena. Hari ini gadis itu diperbolehkan pulang ke rumah setelah beberapa hari pemulihan kondisi fisiknya dan juga setelah berkonsultasi dengan psikolog, untuk menentukan warna jiwanya setelah kehilangan.

Walaupun sang pakar menyatakan kalau kondisi jiwa Saena akan membaik, maksimal satu minggu ke depan, Yoonmi dan Donghae tetap khawatir dengan Saena, apalagi jika gadis itu dibiarkan sendirian. Oleh karena itu, Yoonmi akan mengambil cuti yang lumayan panjang untuk menemani Saena di rumah.

“ Saena-ah… kau mau makan apa? Dari pagi kau belum makan, sayang…”

Yoonmi merapikan rambut Saena yang sedikit berantakan, kemudian tersenyum ke arah gadis itu. Hanya keheningan yang menyambut suara Yoonmi, sedang gadis yang ditanyai olehnya hanya diam. Tatapan gadis itu kosong, mengarah ke arah lemari yang terletak hanya beberapa langkah dari tempat tidurnya.

“ Kau mau eomma membuatkanmu sup?”

Diam… gadis itu tetap bungkam.

“ Yoonmi-ah, mungkin Saena ingin istirahat. Ia baru saja pulang dari rumah sakit satu jam yang lalu, bahkan ia baru saja sampai di rumah. Sebaiknya kita jangan mengganggunya dulu.”

Yoonmi menatap Donghae dengan tatapan sendu. Namun wanita itu menyadari adanya kebenaran dalam kata-kata Donghae.

“ Baiklah, eomma tinggal dulu ya, Saena… kau istirahat saja.”

Kali ini Yoonmi mendapat respon, Saena menganggukkan kepalanya, namun ekspresi gadis itu tetap datar.

“ Saena, oppa tinggal dulu ya.”

Saena tidak memperlakukan Donghae layaknya Yoonmi, gadis itu tetap bungkam dan membiarkan pria itu sampai berlalu dari hadapannya.

Setelah kedua orang itu meninggalkannya, barulah Saena menoleh ke arah pintu, kemudian mengarahkan tangannya ke atas perut dan mengusapnya pelan. Seperti yang dilakukannya selama masa sebelumnya. Saat bayi itu masih berdiam di dalam sana.

Tinggal beberapa minggu lagi sampai ia bisa merasakan bayinya menunjukkan reaksi. Kaki-kaki mungilnya bergerak memberikan tendangan kecil pada perutnya. Sesuatu yang luar biasa yang ingin dialami ibu manapun, termasuk Saena. Sejak awal ia memang tidak menolak kehadiran anak itu, namun ia juga tidak bisa menghindar, kalau kehadiran anak itu akan mengganggu kehidupannya.

Mengganggu masa depannya, menyentil harga dirinya sampai titik terendah, walaupun Donghae sudah menikahinya hal itu tidak akan merubah pandangan orang lain terhadapnya, bahkan mungkin lebih dari sekedar hinaan yang akan diterimanya karena ia hamil dari seorang pria yang sudah memiliki istri.

Tetapi tak kuasa ditahannya semua rasa itu… kehilangan bayinya adalah salah satu hal paling berat dalam hidupnya. Ia bahkan masih bisa membayangkan masa depannya dengan anak itu. Dengan sesosok manusia mungil dalam dekapannya, tersenyum dan menyambut erat genggaman tangannya.

“ Nak… apa… apa kau masih bisa mendengar eomma? Apa kau bahagia di sana? Kenapa kau meninggalkan eomma? Apa kau membenci eomma? Mianhae…”

Air mata gadis itu pun jatuh.

***

         “ Saena…”

Lagi-lagi hanya keheningan yang mengepung panggilannya, sedangkan seseorang yang harusnya merespon tetap diam dalam lamunannya. Posisi gadis itu bahkan belum berubah sejak delapan jam yang lalu, walaupun sudah berkali-kali Yoonmi berusaha mengajaknya berkomunikasi.

Donghae melangkah hati-hati ke arah Saena dan duduk di pinggir tempat tidur gadis itu. Tatapan Saena yang sendu, melemparkan perih tersendiri di dalam diri seorang Lee Donghae. Pria itu tidak bisa memungkiri perasaan terlukanya, sama seperti Saena, anak yang dikandung gadis itu juga anaknya.

Melebihi semua perasaan itu ada satu rasa yang sangat menohoknya. Perasaan yang mampu membuatnya merasa bahwa ia adalah pria yang paling jahat. Ia sudah memberika derita bagi gadis itu, entah bagaimana harusnya ia meminta maaf.

“ Saena, oppa tahu kau pasti mendengarkan semua yang akan kukatakan.”

Saena tetap tidak memberikan respon yang berarti.

Mianhae… mungkin kalaupun ratusan kali aku mengatakan hal itu padamu, itu tidak akan cukup. Tapi aku akan tetap mengatakannya, aku merasa bersalah Saena… Aku bebar-benar menyesal karena sudah terlalu banyak menyakitimu.”

Donghae menunggu beberapa saat, namun Saena tetap diam dalam dunianya. Pria itu tak urung melanjutkan kata-katanya.

“ Memang pada awalnya aku tidak bisa menerima kehadiranmu dan bayi kita… aku sama sekali bingung dengan kondisimu saat itu, di satu sisi aku tidak ingin menyakitimu, aku ingin bertanggung jawab tapi aku juga tidak sanggup menyakiti Yoonmi…”

“… Apalagi sejak awal kedatanganmu dalam keluarga kami, aku mulai menyadari kalau kehadiranmu mengekang kebahagiaan kami. Aku tahu Yoonmi selalu membelamu dalam setiap hal, aku tahu alasannya… kau adalah anak kandungnya dan ia rela memberikan apa saja untuk kebahagiaanmu. Hal itu membuat perasaan benci mulai tumbuh di hatiku. Aku merasa kau akan merusak semuanya, apalagi sebentar lagi aku dan Yoonmi akan memiliki anak. Kehadiranmu dan juga anak itu hanya akan menjadi beban.”

Donghae mulai merasa semakin berat untuk mengucapkan kata-katanya. Ia tidak tahu harus dengan cara bagaimana untuk mengungkapkan kejujuran pada Saena. Menjelaskan pada gadis itu, alasan yang sesungguhnya, bagaimana perasaannya, sesuatu yang bahkan tidak dikatakannya secara jujur pada Yoonmi.

“ Ta…Tapi jauh di dalam lubuk hatiku, aku tidak pernah bermaksud untuk melakukan hal itu. Aku menyayangimu Saena, hanya saja rasa sayangku tertutup oleh perasaan lain yang menekanku, membuatku menjadi sosok yang dingin untukmu. Se… setelah kita kehilangan anak itu, a… aku mulai menyadari ka… kalau… kalau dia terlalu berharga untuk kusia-siakan.”

Saena mulai memberikan sedikit responnya, gadis itu menolehkan kepalanya ke arah Donghae, tatapan dukanya terlihat jelas, air matanya kembali menetes. Donghae baru saja akan meletakkan tangannya untuk menghapus air mata Saena, gadis itu terlebih dahulu bangun dari posisi duduknya, gadis itu berhadapan dengan Donghae.

“ Sa…”

“ KAU! KAU PEMBUNUH LEE DONGHAE!”

Tanpa disangka, Saena mendorong pria itu ke arah dinding dan menahan tubuh pria itu. Donghae pasrah dengan perlakuan Saena.

“ Aku tahu sejak awal kau membenciku, kau tidak pernah mengharapkanku menjadi istrimu, tapi bisakah… Bisakah sedikit saja kau memberikan kasih sayangmu untuk anak itu?! Dia manusia, hae! Dia membutuhkan itu semua, aku tidak mau anakku tumbuh dengan rasa benci dari ayah kandungnya sendiri!”

“ Sa… Saena, sungguh aku tidak pernah berpikir seperti itu. A…”

“ Pembohong! Kau senang kan kalau aku kehilangan bayi itu? Kau senang kan kalau sekarang aku menderita? Kau tidak pernah mengharapkan anak itu! Ketika dia mati sekarang, kau akan tertawa di atasnya. Kau bahagia dengan semua ini, Lee Donghae. Apa kau memiliki hati? Apa nuranimu sudah dibutakan?!”

“ Saena! Aku tidak pernah bahagia atas kehilangan bayi kita, kenapa kau menuduhku seperti itu?”

Saena tersenyum getir… senyuman pertamanya setelah beberapa hari dalam masa kedukaan. Senyuman itu bukanlah pertanda ada pelangi setelah badai yang menerpanya, melainkan senyuman pertanda bahwa badai itu belum berakhir.

“ Donghae-ssi! Kau tidak mengerti, apa yang aku rasakan! Bukan kau yang berada dalam posisi sepertiku. Bukann… bukan kau!”

Saena memindahkan posisi tangannya dari mengunci kedua lengan Donghae ke arah leher pria itu. Mencekiknya dengan semua kekuatan yang dipunyai oleh Saena. Secara normal, hanya memasukkan cairan infuse ke dalam tubuhnya tak akan mungkin membuatnya mempunyai tenaga sebesar itu. Namun seolah-olah ada sesuatu yang meminjamkan kekuatan padanya untuk melakukan itu. Kekuatan kebencinya, mata gadis itu berkilat-kilat penuh amarah saat melihat ekspresi Donghae yang kesakitan.

“ Saena, le… lepas… lepas Saena.”

Donghae berusaha melepaskan tangan gadis itu dari lehernya tetapi ia tetap menjaga agar gerakannya tidak menyakiti Saena. Pria itu sangat mengerti kondisi emosi gadis itu yang belum sepenuhnya stabil.

“ Saena… jebal, lepaskan… kita bisa bicarakan hal ini baik-baik.”

“ Tidak ada kata baik untuk orang jahat!”

“ Uhukkk… uhukkk.”

Donghae mulai kesulitan mengambil nafasnya karena gerakan tangan Saena yang semakin keras mencengkram lehernya.

“ Saena! Oppa mohon Saena!”

Yoonmi yang sedang membaca majalah di kamarnya tersentak mendengar teriakan dan rintihan dari pria itu. Ada sesuatu yang terjadi diantara keduanya. Yoonmi segera meletakkan majalah yang sedang dibacanya ke sembarang arah dan berlari menuju kamar Saena yang terletak di sebelah kamarnya.

Pemandangan pertama yang dilihatnya tentu merupakan suatu kejutan. Saena sedang mencekik Donghae. Dari raut wajah pria itu, Yoonmi tahu Donghae sudah mulai kehabisan nafas, segala perkataan yang dilontarkannya untuk Saena seakan tidak didengar oleh gadis itu.

“ SAENA! Lepaskan Donghae…”

Refleks Yoonmi menarik tangan Saena, pegangan gadis itu mengedur tapi ia tidak melepaskan tangannya.

“ Saena, ayo lepaskan, sayang…”

Saena melihat sorot mata Donghae yang berada dalam kesakitan, ia bahagia melihat sorot mata pria itu yang menderita namun ada bagian lain dalam dirinya yang memberontak. Ia tidak bisa melihat seseorang yang dicintainya itu berada dalam posisi menyakitkan. Tidak… tidak akan bisa… sesakit apapun luka yang ditancapkan pria itu padanya.

Perlahan ia mulai melepaskan tangannya dari leher Donghae dan mengalihkan perhatiannya pada Yoonmi.

EOMMA! hiks… hiks… eomma, dia jahat, eomma, aku tidak mau bertemu dengannya lagi.”

Yoonmi mengeratkan pelukannya pada Saena, tatapan matanya secara tidak langsung menyuruh Donghae untuk keluar dari kamar gadis itu.

“ Ssstt… Uljima… Saena-ah, eomma di sini.”

***

         “ Sebenarnya apa yang terjadi padamu tadi?”

Yoonmi mengelus punggung Saena perlahan dan konstan. Yoonmi baru berani mengeluarkan kata-katanya setelah tangisan gadis itu mereda, berganti dengan isakan-isakan kecil.

“ Ah, biar eomma ambilkan minum dulu ya?”

Saena melepaskan pelukannya dari Yoonmi dan kembali terdiam. Perasaan dinginnya telah kembali, ia memang membutuhkan seseorang untuk bersandar tetapi ia sadar Yoonmi bukanlah seseorang yang didambakannya untuk bisa berbagi pemikiran. Bagaimana pun juga, Yoonmi adalah salah satu ‘saingannya.’ Walaupun status gadis itu adalah ibu kandungnya, entah kenapa Saena tetap membencinya.

“ Tidak usah, aku mau tidur.”

Saena membalikkan badannya, memunggungi Yoonmi dan menarik selimut hingga hampir menutupi seluruh badannya.

“ Baiklah, kalau kau membutuhkan sesuatu, eomma ada di depan, selamat beristirahat, sayang.”

Yoonmi menutup pintu kamar Saena dan segera melangkah keluar dari sana. Setelah Yoonmi keluar, Saena tidak tidur seperti yang dikatakannya pada gadis itu. Saena segera menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya, perlahan gadis itu membuka pintu kamarnya dan melangkah menuju ruang lain di apartement itu, tempatnya biasa menyendiri. Otomatis ia harus melewati kamar Yoonmi dan Donghae.

Pemandangan yang dilihatnya dari celah pintu kamar yang terbuka adalah sepasang suami istri yang sedang berpelukan, terbawa dalam tangis. Saena memundurkan tubuhnya, agar Yoonmi dan Donghae tidak melihat kedatangannya. Sebenarnya kalaupun Saena berdiri di depan pintu kamar mereka, mereka tidak akan menyadari kehadiran gadis itu.

Yoonmi dan Donghae tidak saling bicara, mereka hanya berdiam diri namun dari gerakan tubuh dan bahasa mata, Saena seolah mengerti apa yang mereka sampaikan. Mereka pasti sedang membicarakan dirinya.

Saena merasa sedikit miris, kenapa di saat kondisinya sedang berantakan seperti saat ini, pemandangan seperti itu… pemandangan yang sangat menyakitkan itu harus disaksikannya entah untuk yang keberapa kalinya. Bukan hal yang aneh memang, hanya saja entah mengapa setiap kali ia mengatakan kalau ia membenci Donghae, rasa cinta yang tertinggal untuk pria itu di hatinya, mencuat keluar, memberikan keraguan dalam dirinya.

“ Kenapa terlalu sulit untuk kita berbahagia, Yoonmi-ah?”

Deg!

Kata-kata yang diucapkan Donghae langsung menusuknya. Ia tahu apa yang diucapkan pria itu padanya hampir satu jam yang lalu, tidak ada yang mengada-ada, walaupun pria itu hanya berusaha jujur, mengatakan dengan gamblang semua yang dialaminya. Saena tidak dapat berbohong, ia merasa marah atas semua itu.

Memangnya hanya mereka yang berhak berbahagia? Lalu bagaimana dengan dirinya? Bagaimana kondisinya saat ini?

Saena memutuskan untuk segera berlalu dari sana, tidak ada gunanya lebih lama menyaksikan semua kegiatan itu, hanya akan membuat emosinya yang sudah mereda kembali menguasai permukaan hatinya, mencakar, memberikan luka yang tidak akan pernah mengering.

***

         “ Ne, tunggu sebentar…”

Yoonmi meletakkan gelas berisi susu yang baru saja dibuatnya ketika mendengar bel pintu berbunyi. Gadis itu berjalan cepat untuk membukakan pintu dan menyapa seseorang yang berada di luar sana.

Mianhaeyo, lama menunggu…”

Yoonmi mengangkat wajahnya dan mendapati dua orang yang menjadi tamunya adalah mereka yang dikenalnya. Bahkan sangat dikenalnya…

Eommaappa…”

Yoonmi berkata dengan nada pelan, sedikit terkejut mendapati kedua orang tuanya berada di sana, secara mendadak. Kunjungan resmi pertama ayah dan ibunya ke apartementnya dan Donghae, karena selama ini mereka yang pergi ke rumah ayah dan ibunya. Bukan ayah dan ibunya yang datang ke apartementnya seperti saat ini.

“ Kenapa kau melamun, Yoonmi? Kau tidak mempersilahkan eomma dan appa masuk ke dalam?”

Nyonya Kim berinisiatif memulai pembicaraan saat ia melihat Yoonmi tak kunjung sadar dari keterkejutannya.

“ Ah, neeommaappa… silahkan masuk.”

Yoonmi memundurkan tubuhnya dan membiarkan kedua orang tuanya masuk. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang sangat penting yang membawa kedua orang itu ke sini.

“ Di mana Donghae?”

Nyonya Kim mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru tempat tinggal anaknya itu, sedangkan Tuan Kim hanya duduk diam dan tersenyum kaku saat Yoonmi menyapanya.

“ Dia sedang berada di kamar eomma… biar aku panggilkan. A… apa kau mau bertemu dengan Saena juga? Ah, aku akan membuatkan minuman untuk kalian.”

“ Tidak usah repot-repot, Yoonmi-ahNe, dia baru pulang dari rumah sakit beberapa hari yang lalu kan? Bagaimana keadaannya sekarang?”

“ Kondisi fisiknya sudah mulai membaik, eomma… tapi… tapi kondisi psikisnya belum mengalami kemajuan berarti. Ia memang sudah bisa berkomunikasi dengan baik, tetapi ia belum bisa mengontrol emosinya, ia masih suka melamun dan terkadang menangis sendirian. Yah, seperti itulah keadaannya setelah kehilangan bayinya…”

Nyonya Kim mengangguk paham, ia mengerti dengan kondisi cucunya itu. Saat Saena masih di rumah sakit, ia sempat menjenguknya, untuk melihat keadaan gadis itu, namun yang didapatinya adalah kondisi Saena yang cukup parah. Gadis itu hanya melamun dan melamun, seolah terkurung dalam kesedihannya.

“ Aku akan menemuinya nanti, sekarang ada yang ingin kubicarakan denganmu dan juga Donghae. Ini penting dan sebaiknya tidak diketahui dulu oleh Saena.”

Yoonmi melangkah menuju kamarnya, sementara Tuan dan Nyonya Kim menunggu dalam keheningan sampai Tuan Kim mengeluarkan suaranya.

“ Kau yakin ingin mengatakan hal itu pada mereka? Aku tidak yakin mereka akan menyetujuinya, terlebih Yoonmi. Kita sudah sangat tahu peringai anak itu.”

“ Aku memang tidak begitu yakin Yoonmi akan setuju tapi kurasa ini yang terbaik untuk semuanya, termasuk untuk Saena.”

“ Ta…”

Tuan Kim terpaksa menunda pembicaraannya dengan sang istri saat melihat Donghae dan Yoonmi berjalan ke arah mereka.

AbeonimeommonimAnnyeong haseyo…”

Donghae membungkukkan badanya di hadapan kedua mertuanya itu kemudian melemparkan senyumannya. Tidak peduli bagaimana kondisinya saat ini, Donghae tahu ia harus tersenyum dan memberikan sambutan seceria mungkin pada dua orang yang sangat dihormatinya itu.

Annyeong, Donghae-ah… kalian berdua bisa duduk sebentar? Ada yang ingin eomma dan appa sampaikan.”

Yoonmi dan Donghae menurut, mereka segera mengambil tempat di hadapan kedua orang itu.

Mianhae, karena datang mendadak dan mengganggu waktu kalian.”

Ne, eommonim, gwenchana, kami senang kalau eommonim dan abeonim datang ke sini.”

“ Jadi, langsung saja… kalian tentu sudah menyadari semuanya. Eomma tidak bermaksud jahat dengan mengatakan ini, tapi… kalian tahu kondisi Saena… dia sudah keguguran…”

Nyonya kim sengajan memotong kalimatnya. Ingin mengetahui reaksi keduanya. Mereka berdua sama-sama diliputi ketegangan.

“ Donghae…”

Nde, eommonim?”

“ Tidak ada lagi kan alasan bagimu untuk mempertahankan pernikahan dengannya?”

Donghae tidak sanggup menjawab. Ia terpaku pada kalimat yang dilontarkan ibu mertuanya itu.

Eomma, apa maksudmu? Kau mau menyuruh Donghae menceraikan Saena, begitu?”

“ Memang kedengarannya eomma jahat! Tapi kau tahu, Yoonmi, pernikahan mereka tidak benar. Pernikahan mereka tidak akan bertahan lama.”

Dalam hati Yoonmi membenarkan perkataan ibunya. Donghae tidak bisa bersikap manis pada Saena, sebesar apapun usahanya mendekatkan mereka berdua.

“ Tapi eomma, Saena baru saja kehilangan anaknya. Tidak bisakah kita menunda pembicaraan ini?”

“ Sampai kapan, Yoonmi?! Saena juga tidak akan bisa bertahan menjadi yang kedua di hati suaminya sendiri. Dia berhak bahagia tetapi tidak dengan mengganggu kebahagiaanmu dan Donghae.”

Semuanya diliputin perasaan gundah, terutama Donghae, sebagai tokoh utama dalam permasalahan ini.

Di balik dinding yang memisahkan lorong kamarnya dengan ruang tengah. Saena mendengar hal itu dengan jelas. Ia merasa semakin tersiksa karenanya. Tidak cukupkah ia hanya kehilangan anaknya? Haruskah ia kehilangan suaminya juga?

“ Kenapa… kenapa semua orang menuntutku untuk kehilanganmu? Apa aku begitu tidak berharga di matamu? Kenapa hanya kebahagiaan kalian yang penting? Lalu bagaimana aku harus meneruskan hidupku?”

***

         Minho memandang boneka kelinci yang sedang dipegangnya. Pria itu tersenyum melihat ekspresi boneka yang dipegangnya sangat mirip dengan seseorang yang akan ditemuinya saat ini. Dengan gemas, pria itu mencubit hidung kelinci yang ada di tangannya sambil membayangkan ekspresi orang itu saat menerima pemberiannya.

Boneka kelinci yang sedang cemberut…

Menggemaskan memang tetapi Minho tidak yakin apakah itu adalah pemberian yang tepat untuk orang itu. Bukankah dia tidak menyukai boneka? Bahkan kamar gadis itu bisa dibilang bersih untuk ukuran anak remaja perempuan. Tidak ada poster artis idola, tidak banyak boneka, ataupun tidak didominasi oleh warna khas anak perempuan.

Kamarnya hanya berwarna standar dan dipenuhi buku-buku pelajaran dan beberapa buku pelajaran dan ilmu pengetahuan. Dindingnya pun bersih dari poster, hanya ada tempelan rumus, kalender, jadwal pelajaran, dan jam dinding. Sederhana…

“ Kalau nanti ia bertemu denganmu, aku yakin kau dan dia akan saling adu cemberut… Hei kelinci… tolong buat dia tersenyum, ne? Jangan buat dia berekspresi sama denganmu…”

Ceklek!

“ Minho-ah…”

“ Eh, noonaannyeong haseyo…”

Minho segera membungkukkan badannya ketika melihat Yoonmi yang membukakan pintu. Pria itu mengangkat wajahnya dan ia yakin ada rona kemerahan yang menghiasi pipinya. Malu, karena ketahuan sedang berbicara dengan boneka.

Annyeong, Minho-ah… kau mau bertemu dengan Saena? Ayo, masuklah…”

Yoonmi tersenyum dan mempersilahkan Minho untuk masuk. Minho mengikuti Yoonmi yang berjalan beberapa langkah di depannya, mengatarkan pria itu ke kamar Saena.

Noona, kau tidak pergi ke kantor?”

Minho baru menyadari kalau hari itu bukanlah hari libur, melainkan hari kerja, saat mereka tidak sengaja melewati kalender ukuran cukup besar yang terpajang di dinding lorong yang mereka lewati.

Ne, keadaan Saena yang belum stabil tidak memungkinkan aku pergi meninggalkannya, jadi aku mengerjakan tugasku di rumah. Aku akan kembali ke kantor saat Saena sudah jauh lebih baik.”

Wajar bila Minho tidak tahu, sejak liburan kenaikan kelas dimulai secara resmi dua hari yang lalu. Ia tidak pernah lagi memperhatikan tanggal maupun hari, baginya setiap hari sama saja, libur dan bermalas-malasan di rumah.

Saat-saat libur seperti ini, Minho jadi berkali-kali lipat merindukan Saena. Kalau kemarin pikirannya terhadap gadis itu bisa sedikit teralihkan dengan ujian akhir dan segudang kegiatan setelah ujian. Sekarang saat libur, pikiran-pikiran tentang Saena kembali menghantuinya.

Maka dari itu, ia memutuskan untuk mengunjungi Saena, sekedar melihat keadaan gadis itu ketika sudah keluar dari rumah sakit.

“ Memangnya sekarang keadaannya bagaimana, noona?”

“ Dia sering sekali melamun dan masih susah disuruh makan, emosinya juga masih tidak stabil. Minho-ah, aku minta tolong… bicaralah padanya, aku tidak mau kondisinya seperti ini terus.”

“ Aku akan mengusahakannya, noona…”

“ Silahkan masuk…”

Yoonmi membuka pintu kamar Saena kemudian meninggalkan Minho di sana. Minho melangkah hati-hati ke dalam kamar kakaknya itu dan mendapati Saena sedang melamun.

Annyeong noona, aku datang…”

Saena menoleh dan barulah terlihat jelas oleh Minho, waja tirus gadis itu disertai lingkaran hitam yang menghiasi matanya.

“ Kau datang Minho-ah…”

Suara gadis itu terdengar seperti bisikan, hati pria itu miris mendengarnya. Tetapi setidaknya Saena masih memberikan respon padanya.

Noona, bagaimana keadaanmu?”

Minho memainkan boneka kelinci di tangannya, pengalih rasa gugup yang tiba-tiba menyergapnya.

“ Buruk… sangat buruk.”

“ Kenapa kau berkata seperti itu, noona? Tidak cukupkah masa bersedihmu selama satu minggu ini?! Kau harus bangkit, noona! Kau tidak bisa selamanya seperti ini.”

Saena mengalihkan wajahnya dari Minho. Kata-kata pria itu tidak ada yang salah, namun Saena merasa tidak ada yang bisa membuatnya bangkit dari rasa terpuruknya kecuali mendapatkan bayinya kembali.

“ Aku akan bangkit kalau bayiku kembali…”

Minho mengacak rambutnya frustasi. Kenapa Saena noona yang dikenalnya dulu adalah wanita yang kuat bisa sedemikian itu berubah?

Noona, aku tahu kau kehilangan anakmu dan itu adalah cambukkan berat bagimu, tapi sampai kapan kau harus seperti ini? Bayimu tidak mungkin kembali, noona! Kau hanya membuang waktu berhargamu jika ka uterus seperti ini.”

“ Kau tidak mengerti, Minho… Anak itu adalah sebagian dari jiwaku, kalau anak itu pergi, jiwaku juga ikut lenyap bersamanya…”

Air mata gadis itu kembali menetes.

Noona, kenapa kau harus sampai seperti ini?”

Minho melihat keadaan Saena dengan perasaan kacau. Hatinya ikut hancur melihatnya. Minho meraih tangan Saena dan menggenggamnya.

Noona, lihat aku…”

Saena mengalihkan wajahnya kembali pada Minho.

“ Masih ada aku di sini… jika kau masih memiliku, semuanya akan baik-baik saja, bayimu sudah bahagia di sana, noona… kalau kau seperti ini terus maka anakmu tidak akan tenang melihat ibunya dalam keadaan seperti ini. Percayalah, noona… dalam setiap musibah yang kita alami, kita akan mendapatkan hasil yang terbaik. Tuhan mempunyai rencana lain untukmu. Kalau Ia mengambil anakmu, berarti kau belum siap menjadi seorang ibu. Akan tiba masa di mana kau akan siap untuk melahirkan dan membesarkan anak-anakmu.”

“ Kau tidak mengerti, Minho… kau tidak mengerti.”

Hanya kata itu yang terus berulang dari mulut gadis itu. Tatapan Minho mengisyaratkan keyakinan… Ia harus melakukan sesuatu untuk membebaskan Saena dari belenggu kesedihan yang menyeretnya ke dalam black hole. Gadis itu masih hidup dan ia harus melanjutkan kehidupannya.

***

         Sepeninggal Minho, keadaan Saena masih belum membaik. Gadis itu masih terperangkap dalam perih. Yoonmi pun sudah menyerah menyapa gadis itu sejak pagi namun hanya keheningan yang membalas ucapannya.

Saena meraih boneka yang ditinggalkan Minho untuknya. Gadis itu perlahan bisa mengembangkan senyuman. Boneka itu memang sangat lucu, Minho memang mengerti bagaimana cara untuk membuatnya sedikit terhibur.

Yaa! Kelinci! Apa yang hendak disampaikan tuanmu lewat kau? Kau ingin menghiburku? Atau kau ingin bernyanyi?”

Saena memeluk boneka itu, tatapannya kembali menerawang. Tiba-tiba entah dari mana ia bisa melihat sesosok bayi merangkak ke arahnya. Awalnya Saena merasa biasa saja, ia malah tersenyum ke arah bayi itu dan berusaha menggapainya. Anak itu memiliki struktur wajah yang familiar baginya.

Tidak asing…

Seolah Saena pernah melihat anak itu sebelumnya, entah di mana. Wajah anak itu bersahabat, seolah memanggilnya untuk mendekat. Saena hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

Eomma…”

Saena menoleh, ia merasa ada seseorang yang memanggilnya. Namun panggilan itu harusnya hanya digunakan oleh calon anaknya yag sekarang sudah tiada. Lantas siapa lagi yang bisa memanggilnya dengan sebutan ibu?

Eomma…”

Saena menolehkan kepalanya, ia bisa melihat bayi itu menjauh darinya dan melambaikan tangan mungilnya.

“ Nak, apa itu kau?”

Saena mengarahkan tangannya, hendak membawa bayi itu ke dalam gendongannya, tetapi anak itu makin menjauh darinya dan akhirnya hilang tertelan cahaya yang seolah menenggelamkan sosoknya.

ANDWAE! Kajima! Kembali, nak… kembali… eomma sangat merindukanmu, eomma tidak mau kehilanganmu.”

Usaha Saena sia-sia, anak itu sudah lenyap dari pandangannya. Saena melangkahkan kakinya ke tempat di mana anak itu muncul, ia meringkukkan badannya di sana.

“ Kembali, sayang… eomma mohon jangan tinggalkan eommaeomma ingin bertemu lagi denganmu.”

Gadis itu melangkah menuju meja belajarnya dan menemukan benda yang dicarinya, gadis itu segera meringkuk ke tempatnya semula. Tangan kanannya menggenggam benda itu kuat-kuat. Hatinya diliputi kebimbangan.

Eomma ingin bertemu denganmu, nak… apa kau terlalu bahagia di sana sehingga kau tidak ingin kembali? Apa di sana adalah tempat yang indah? Apa di sana ada muara keceriaan yang tidak akan berakhir? Apa di sana kita tidak lagi merasakan penderitaan?”

Saena melihat dimensi benda tajam itu, Saena tersenyum. Hanya satu kali… hanya satu tusuk… lalu semuanya akan bermuara pada kebahagiaan. Tanpa ada rasa sakit, tanpa ada rasa perih yang menyiksa. Ia tidak harus kehilangan lagi… ia yang akan meninggalkan semuanya.

Setelah ia pergi, tidak akan ada yang mencarinya, tidak akan ada yang peduli padanya. Di dunia ini pun, tidak ada yang menginginkannya. Ia hanya perusak kebahagiaan orang lain. Tidak ada yang mau mengetahui apa yang menjadi kebahagiaannya, semua orang hanya peduli pada orang lain tanpa tahu apa rasa sakitnya. Jadi apa gunanya hidup lebih lama?

Setelah ia pergi, semua orang mungkin akan tersenyum bahagia, tidak akan ada yang sudi meneteskan air mata untuknya. Sama seperti saat kedatangannya di dunia ini yang tidak diinginkan oleh siapapun, termasuk oleh keluarganya sendiri. Kepergiannya pun  akan berlalu tanpa arti.

Saena mengarahkan benda itu ke pergelangan tangan kirinya dan menggoreskan benda tajam itu di sana, membentuk sayatan memanjang, tidak lama setelahnya, cairan merah berbau tajam menyeruak dari luka yang dibuatnya. Saena tidak merasakan perih, ia hanya tersenyum… Seakan tubuhnya sudah kebal terhadap rasa sakit.

Kini yang dirasakannya hanyalah luka yang belum sepenuhnya mengering dalam hatinya, memperdalam rasa sakit batin yang dideranya. Luka di tangannya tidak akan seberapa, yang ingin dirasakannya adalah kepuasan… kepuasan karena rasa sakit itu hanya sementara dan akan berganti dengan kebahagiaan.

Saena memejamkan matanya karena ia merasa penglihatannya sedikit kabur, ia meletakkan tangannya yang terluka ke samping kirinya, membiarkan aliran darah yang mengalir deras dari sana dengan cepat membentuk sungai berwarna merah yang mengelilingi tubuhnya.

***

         “ Saena, eomma mau memasak makan siang, kau mau makan apa, nak? Apa kau tidak merasa lapar? Sejak pagi kau belum makan apa-apa kecuali air putih.”

Yoonmi sedikit heran karena tidak mendapatkan Saena di atas tempat tidurnya, ia hanya menemukan boneka kelinci yang dibawa Minho pagi tadi untuk diberikan pada Saena di atas tempat tidur gadis itu.

“ Kemana dia?”

Yoonmi melangkah mendekati tempat tidur Saena dan mengambil boneka kelinci itu. Yoonmi tersenyum memandang dimensi empuk berwarna putih itu.

“ Untunglah, Minho adalah dongsaeng yang baik untuk Saena…”

Yoonmi meletakkan boneka itu di tempatnya. Ia sempat berpikir kehidupan Saena di rumah keluarga Choi sangat buruk, Tapi ternyata masih ada bagian dari keluarga Choi yang memberikan rasa sayangnya pada Saena. Yoonmi bersyukur akan hal itu, setidaknya masih banyak orang yang menyayangi Saena, hanya saja gadis itu jarang menyadarinya.

Cukup lama bergelut dalam lamunannya, Yoonmi menyadari kalau ia mencium sesuatu yang asing berada di tempat itu. Anyir… berbau seperti logam. Kaki-kaki jenjangnya bergerak mengikuti bau itu. Matanya tetap terperagkap pada setiap sisi ruangan itu.

Ouch…”

Fokusnya pecah saat ia merasakan sesuatu yang hangat dan basah menyentuh permukaan kakinya. Yoonmi menundukkan wajahnya dan terperangah saat menyadari jenis cairan itu. Ia juga menyadari kalau dari cairan itu berasal bau yang mengganggu hidungnya.

“ Darah…”

Yoonmi segera mengarahkan matanya ke sisi lain ruangan itu, di daerah asal cairan merah pekat itu mengalir. Sesosok tubuh manusia yang sudah tidak asing baginya. Dengan tubuh lunglai, rambut hampir menutupi seluruh wajahnya, tangan gadis itu terkoyak dengan darah yang masih terus mengalir.

“ SAENA!”

Tanpa berlama-lama lagi Yoonmi segera berlari menuju tubuh gadis itu. Memeluknya dan membiarkan darah ikut membasahi pakaiannya.

***

         Suara derap langkah kaki berlarian di sepanjang koridor. Pria itu dengan wajah khawatir yang kentara jelas, menyusuri lorong-lorong yang diberitahukan oleh sang perawat. Di belakangnya terdapat seorang gadis yang berusaha mengimbangi laju lari pria itu, tetapi ia tetap tertinggal jauh di belakang karena kemampuan lari pria itu berada jauh di atasnya.

Dengan nafas nyaris putus, mereka berdua tetap berpacu dengan waktu. Berusaha sampai secepat mungkin pada objek yang dituju. Di kejauhan ia bisa melihat mereka sedang duduk menunggu. Minho mulai merasa tingkat kekhawatirannya mencekik, ia kehilangan kemampuan bicaranya.

Ia hanya bisa berdiri diam tidak jauh dari kerumunan orang itu. Tak lama setelahnya Yoonhee menyusul di belakangnya. Masih dengan nafas tersenggal, ia meletakkan tangannya di bahu Minho. Minho membalikkan badannya dan menatap gadis itu. Tatapan sendu tertangkap jelas oleh matanya, terbelenggu dalam lingkaran hitam bola mata pria itu.

“ Ayo kita ke sana…”

Yoonhee hendak melangkah mendahului Minho saat tangan pria itu menahannya. Lalu perlahan pria itu menyelipkan jari-jarinya diantara jari-jari Yoonhee, Menggenggam tangan gadis itu baru kemudian berjalan menyusuri beberapa meter yang tersisa.

“ Minho-ah… Yoonhee-ah…”

Yoonmi berusaha menyapa kedua orang itu dengan sisa-sisa suara yang dipunyainya. Gadis itu terlalu lama tenggelam dalam tangisan.

“ Ada apa dengan Saena noona? Apa yang terjadi padanya hingga ia harus kembali ke tempat ini?”

Yoonmi menarik nafasnya sebelum berkata-kata, namun tangisan mengurung dirinya. Ia tidak sanggup menceritakan apa yang terjadi lagi, sama seperti ia menceritakan hal itu pada Donghae beberapa saat yang lalu.

“ S… Saena…Saena melakukan usaha bunuh diri, ia memotong urat nadinya…”

Donghae berkata dengan nada pasrah, pria itu terlalu lelah menghadapi semuanya. Ia hanya bisa menunduk menyembunyikan wajahnya, namun tidak ada lagi air mata yang menghiasi wajahnya, berbanding terbalik dengan sang istri. Donghae berusaha kuat dan tegar menghadapi semuanya, walaupun rasa lelah terkadang menerpanya.

“ Apa? Kenapa semuanya bisa terjadi?!”

Minho tidak akan menyangka setelah pembicaraannya dengan Saena hampir tujuh jam yang lalu akan membuahkan keadaan Saena yang seperti ini. Ia berusaha membangkitkan Saena untuk melanjutkan kehidupannya bukan malah untuk mengakhiri kehidupannya. Bahkan kehidupannya jauh lebih berharga dari masalah yang sedang menghimpitnya.

Buagh!

Entah kekuatan dari mana, Minho melepaskan pukulannya pada wajah Donghae. Pria itu segera terhuyung beberapa meter ke belakang, menabrak dinding yang menjadi latar belakang pijakannya. Pria itu menatap Minho dengan amarah jelas.

Hampir terjadi perkelahian di sana kalau saja Yoonhee tidak menahan Minho dan Yoonmi tidak menahan Donghae.

“ Kau! Kau brengsek! Kenapa kau tidak berhenti menyakitinya?!”

Donghae terdiam, emosi yang sempat hampir menguasai dirinya kembali surut. Ia mengerti kenapa Minho memukulnya, ia pantas mendapatkan itu. Ia tidak menjaga Saena dengan baik, bahkan terlalu banyak menorehkan luka pada gadis itu. Ia memang pria yang jahat untuk Saena. Bahkan satu pukulan tidak berarti apa-apa untuk semua yang sudah dilakukannya pada Saena.

“ Minho… tenanglah…”

Yoonhee berbisik pada telinga pria itu. Minho menuruti gadisnya, ia berjalan mundur menjauhi Donghae. Menenggelamkan dirinya di kursi yang berada di sana. Ia menundukkan wajahnya dan memandang tangan yang digunakannya untuk memukul Donghae.

Kenapa ia tiba-tiba melayangkan pukulan pada pria itu? Bagi Saena? Benarkah hanya untuk luka yang diderita kakaknya?

***

         “ Ini… minumlah…” Yoonhee menyodorkan gelas plastik berisi kopi ke hadapan Minho, tatapan pria itu nanar diwarnai dengan ekspresi datar yang tidak berubah sejak satu jam yang lalu.

Gomawo… bagaimana kau tahu aku sedang menginginkan kopi saat ini?”

Minho berusaha tersenyum, ia menghargai usaha kekasihnya itu. Yoonhee mengambil tempat di sebelah Minho. Gadis itu menyandarkan tubuhnya di dinding dan memejamkan mata, tetapi mulutnya tetap berkata-kata.

Cheonmaneyo… Aku melihat daritadi kau menguap terus, padahal kau ingin menunggu sampai kau tahu keadaan Saena, kan?”

Ne, kau memang kekasih yang pengertian. Aku jadi terharu.”

“ Ishhh…tidak usah berlebihan… euhmmm, Minho-ah…”

Minho meneguk kopi yang masih mengepulkan uap panas itu, membiarkan cairan pahit itu membasahi tenggorokkannya. Ia menoleh saat Yoonhee memanggil namanya.

“ Ada apa, chagi?”

Nde? cha… chagi?”

Yoonhee sedikit terkejut mendengar panggilan baru Minho. Hatinya langsung berdebar-debar, tetapi debaran itu malah memberikan sensasi gelisah padanya, bukan lagi sensasi menyenangkan.

“ Hahahaha… memangnya tidak boleh?”

“ Bu… bukan begitu, aku hanya merasa sedikit aneh, hmm… jangan marah, Minho-ah, aku ingin kau memanggilku seperti biasa saja.”

“ Baiklah, aku akan melakukannya, tadi kau mau bicara apa?”

“ Kenapa kau memukul Donghae oppa?”

Pertanyaan itu…

Minho merasa seperti ditusuk saat mendengarnya. Ia akui, tadi ia memang lepas kontrol. Pukulannya melayang begitu saja saat melihat wajah Donghae. Ia memang menyadari semua yang dialami Saena, penderitaan gadis itu bersumber dari Donghae, tetapi pria itu tidak sepenuhnya salah. Saena juga bersalah dalam hal ini…

Tapi kenapa hanya Donghae yang menjadi sasaran amukkannya?

Mollayo… aku hanya… aku hanya tidak bisa mengontrol emosiku tadi, aku merasa Donghae hyung sudah menyebabkan ini semua. Aku sangat mengenal Saena noona, ia tidak akan semudah itu berputus asa.”

“ Apa kau menyesal membiarkan kakakmu menikah dengan orang lain?”

Minho mengerutkan keningnya, pertanyaan Yoonhee sungguh aneh apalagi diucapkan dengan nada ketus yang kentara jelas.

“ Yoonhee, kau kenapa?”

“ Ahhh… gwenchana.”

Gadis itu merubah raut wajahnya menjadi tersenyum, tetapi itu belum menjadi jawaban bagi Minho.

“ Aku hanya berusaha melindungi kakakku, Yoonhee-ahmianhaeyo…”

“ Aku mengerti, tapi tidak seharusnya kau seperti itu. Ini masalah rumah tangga Donghae oppa dan Saena. Kita tidak boleh ikut campur dalam masalah mereka, Minho-ah, walaupun tujuanmu adalah melindungi kakakmu.”

Ne, Yoonhee, aku tidak akan seperti itu.”

Minho berusaha menyakinkan gadis itu, walaupun dirinya sendiri tidak yakin akan melakukannya. Entah mengapa ia merasa tidak akan bisa menghindari hal itu, ia tidak bisa hanya bediam diri melihat Saena dalam keadaan tersiksa.

“ Minho…”

Nde?”

“ Aku yakin Saena akan baik-baik saja, ia adalah gadis yang luar biasa kuat.”

Minho hanya bisa menjawabnya dengan senyuman. Kepedihan terpeta jelas di sana, dalam senyuman indah pria itu.

Yoonhee tidak mengalami kesulitan dalam menilai senyuman itu. Minho pernah beberapa kali menunjukkan senyuman itu padanya, karenanya… Namun sekarang senyuman itu ditujukan untuk Saena… walaupun status gadis itu adalah kakak dari Saena. Tapi status itu hanyalah masa lalu, sekarang mereka berdua tidak terikat hubungan apapun walau tidak ada yang berubah.

Yoonhee tidak yakin dengan hal itu, tetapi ia rasa Saena perlahan-lahan bisa menjadi bumerang bagi hubungannya dan Minho.

Aishhh, tidak mungkin…” Yoonheee berucap dalam keheningan.

Yoonhee berusaha menyangkal prediksinya sendiri.

“ Minho…”

Merasa namanya terpanggil, Minho menoleh, Yoonhee mengikuti jejaknya dan mereka melihat Yoonmi mendekat ke arah mereka.

Nde, noona?”

“ Masuklah, uisa-nim bilang Saena sudah sadar, sepertinya ia ingin bertemu denganmu.”

***

         “ Noona…”

Saena menoleh dan tersenyum. Wajah gadis itu masih pucat, wajar… Ia kehilangan banyak darah di saat kondisinya belum pulih benar. Seminggu yang lalu Minho terpaksa menginjakkan kakinya di sini, sekarang ia harus melakukan hal yang sama. Ironis…

“ Minho…”

Noona, jujur… aku kecewa padamu, apa yang kau pikirkan saat mencoba bunuh diri?”

Minho mengucapkannya dengan nada pedih, bukan dengan nada emosi, pria itu berusaha mati-matian menahan gejolak emosinya. Ia ingin berteriak, namun ia menyadari dalam kondisi seperti ini tidak ada yang bisa dilakukannya selain mencoba untuk sabar.

“ Minho, aku hanya ingin bertemu dengan anakku.”

Noona, dia sudah tenang…”

Saena menggeleng lemah dalam kondisi lemah isak tangis kembali menguasai dirinya. Air mata jatuh berderai dari membasahi pipi tirusnya.

“ Tidak, Minhoo… Aku ingin bertemu dengannya.”

Noona, kau jangan seperti ini terus, kau harus memperbaiki hidupmu. Jangan lakukan ini demi dirimu, tapi lakukan demi anakmu!”

Saena terdiam, cukup lama berpikir dalam imajinarinya. Gadis itu memandang keluar jendela, ia melihat matahari terbenam dengan indahnya. Sinar benda bulat berwarna orange kekuningan itu seolah memberikan harapan baru baginya. Perlahan Saena menghapus air matanya. Ia sudah tahu apa yang harus dilakukannya, apa yang dikatakan orang-orang di sekitarnya tidak ada yang salah. Ia yang terlalu bodoh untuk terus bertahan bahkan hampir menghilangkan kesempatan hidupnya yang hanya sekali.

“ Minho…”

Noona, kalau dia membuatmu menderita, tinggalkan dia, noona! Kau bisa belajar melupakan cintamu padanya, jangan siksa dirimu sendiri.”

“ A… aku… Kau tahu, Minho, apa yang aku pikirkan ketika pertama kali aku tahu aku keguguran?”

Saena mengusap bagian perutnya dan merasakan kehampaan  jelas di sana. Gadis itu  masih belum bisa menerima kepergian anaknya. Sesuatu hal yang secara jelas merobek jiwanya.

Minho langsung memfokuskan tatapannya pada Saena, menunggu kelanjutan pernyataan gadis itu.

“ Aku kehilangan satu-satunya kesempatanku bersama dengan Donghae… tapi aku sadar sekarang, ada atau tidaknya anak itu tidak akan merubah apa-apa.”

Tok Tok Tok

Perhatian keduanya tercuri oleh ketukan di pintu kamar Saena disusul dengan masuknya seseorang yang sudah tidak asing bagi keduanya.

“ Jonghyun…”

Annyeong, Saena-ah, Minho-ah…”

“ Untuk apa kau ke sini?”

Saena mendesiskan kata-kata sinisnya untuk pria itu. Sejak kehilangan bayinya, Saena menjadi dingin untuk semua orang kecuali beberapa yang memang sudah cukup dekat dengannya. Pengeculian untuk Jonghyun, walaupun pria itu cukup dekat dengannya, sejak pria itu mengetahui sesuatu tentang dirinya yang harusnya tidak diketahui orang lain, secara tidak langsung Saena menjaga jarak dengannya.

“ Aku keluar dulu, noona… Jonghyun sepertinya ingin berbicara berdua denganmu.”

Sepeninggal Minho, kecanggungan langsung menyelimuti keduanya. Jonghyun bahkan baru bergeser beberapa centi di samping Saena sementara gadis itu memalingkan wajahnya.

“ Aku turut prihatin, Saena… aku sudah mengetahui semuanya… Aku harap kau tidak akan pernah melakukan hal bodoh ini lagi! Sudah cukup kau menderita karenanya, sekarang saatnya kau melepaskan penderitaan itu. Kau tidak bahagia Saena, akui itu!”

“ Jonghyun, apa yang kau mengerti dari aku?!”

Saena ingin membentak pria itu tetapi yang keluar hanyalah suaranya yang bergetar hebat.

“ Sebagai sahabat, sebagai orang yang sangat peduli padamu. Kau tidak tahu Saena seberapa jauh aku sudah mengenalmu, mungkin kau tidak sadar kalau aku benar-benar memperhatikanmu. Jadi tolong dengarkan aku sekali ini saja, aku akan membantumu, Saena… Aku tahu kau ingin memulai kehidupan baru. Jauh dari mereka… yang telah menyakitimu.”

“ Apa maksudmu?”

“ Aku mengatakan ini karena aku peduli padamu, lepaskan dia…bercerailah dengannya dan pergi dari kehidupannya, mungkin kau tidak bisa menjauh dari ibu kandungmu dan otomatis kau juga harus berhadapan dengan Donghae secara konstan. Tapi untuk saat ini, kau harus pergi sampai kau siap menghadapi semuanya, dengan lapang dada. Tanpa adanya lagi cinta yang tersisa, yang sewaktu-waktu bisa membuatmu kembali lupa diri.”

Saena menyadari ucapan Jonghyun, Minho, kakek dan neneknya, adalah keputusan terbaik untuk melanjutkan hidupnya. Saena sadar perceraiannya dengan Donghae akan membawa banyak keuntungan, apalagi kedua orang tua pria itu juga membencinya. Paling kalau ada pihak yang menderita, itu adalah dirinya. Tidak ada orang lain…

“ Jonghyun-ah… terima kasih.”

Mwo?”

“ Terima kasih karena kau sudah membuatku sadar…”

“ Jadi?”

Jonghyun bertanya dengan penuh harap. Untungnya Saena memberikan tanggapan positif baginya. Padahal tadinya ia berpikir Saena akan mengusirnya.

“ Aku… aku akan berpisah dengannya, Jonghyun.”

***

         “ Aku sudah tidak mau…”

Saena menolak sesuap nasi yang hendak dipaksakan Yoonmi padanya. Gadis itu kini memalingkan wajahnya. Yoonmi tersenyum maklum, ia hanya meletakkan mangkuk nasi itu dan tangannya beralih mengambil segelas air.

“ Ini…”

Yoonmi menyerahkan gelas itu ke tangan Saena, gadis itu berusaha bangkit dari posisi tidurnya.

“ Biar eomma bantu…”

Refleks Yoonmi meletakkan gelasnya dan membantu Saena, tetapi tangannya langsung ditepis oleh gadis itu.

“ Tidak, eomma… aku bisa sendiri.”

Saena membantu dirinya sendiri dan dibawah tatapan sedih Yoonmi, karena penolakan jelas yang diberikan oleh gadis itu. Saena meraih gelas yang diberikan Yoonmi, tangan gadis itu sedikit bergetar, walaupun ia berusaha menguatkan dirinya.

“ Saena, sini eomma bantu…”

Saena tidak lagi menolak, ia memang membutuhkan bantuan saat ini, tidak ada lagi kata ‘tidak butuh bantuan’ dalam kamusnya.

Eomma, kapan aku pulang?”

“ Kalau kondisimu sudah lebih baik, kau boleh pulang, sayang… kenapa?”

“ Aku ingin melakukan sesuatu setelah aku kembali dari sini.”

Saena mengucapkan kata-katanya dengan nada datar, namun Yoonmi bisa menangkap adanya perubahan yang jelas di wajah Saena, gadis itu sudah mulai bisa berekspresi. Itu pertanda baik bagi kondisinya.

“ Apa yang ingin kau lakukan, Saena-ah?”

Saena terdiam, ia tidak tahu apakah ini akan menjadi keputusan yang tepat atau tidak. Ia berharap apapun yang diambilnya saat ini akan merubah poros hidupnya menjadi bercahaya bukan kembali tenggelam dalam kekelaman.

Yoonmi bisa merasakan debaran jantungnya, ia menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulut putri tunggalnya.

“ Aku… aku akan berbahagia, eomma…”

Yoonmi tersenyum, ia meletakkan tangannya di atas rambut Saena, namun gadis itu menggelengkan kepalanya, menjauhkan dirinya dari jangkauan Yoonmi.

“ Bukan kebahagiaan yang akan bisa kau prediksi, eomma… aku akan melepaskannya.”

“ Ap… apa… apa maksudmu, Saena? Melepaskan siapa?”

Yoonmi sebenarnya sudah paham apa yang ingin disampaikan Saena tetapi gadis itu berpura-pura tidak mengerti. Ia ingin Saena menjelaskan semuanya secara gamblang. Secara nyata dan tegas, tanpa adanya unsur abstrak.

“ Kau tahu, eomma… aku rasa tidak ada yang bisa aku pertahankan dari rumah tanggaku dan Donghae oppa, aku merasa dia bukan seseorang yang akan ditakdirkan untukku. Aku merasa aku seharusnya pergi.”

Akhirnya kata-kata itu berhasil keluar dari mulutnya, ia hanya tinggal menyampaikan hal itu pada Donghae. Saena yakin Donghae akan menerima keputusannya, karena cepat atau lambat ia dan Donghae harus berpisah. Hubungannya dengan pria itu tidak akan berjalan mulus sampai kapanpun. Pria itu tidak akan mencintainya, pria itu hanya akan menganggapnya sebagai adik, sebagai anak, tidak akan lebih.

Bahkan apa yang dikatakan pria itu benar, semua kebaikan yang dilakukannya bukan tulus dan murni untuk Saena melainkan karena ia ingin melihat Yoonmi bahagia. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari itu.

“ Kau yakin? Kenapa kau memutuskan hal itu?”

“ Aku melakukan semua ini demi anakku, eomma dan juga demi diriku sendiri. Tidak ada gunanya mempertahankan pernikahan tanpa landasan cinta sedikitpun darinya untukku. Euhmm, eomma bisakah kau keluar sebentar? Aku ingin istirahat lagi.”

Yoonmi mengangguk paham, gadis itu berjalan keluar dari ruangan Saena. Tak urung keputusan Saena juga memberikan kelegaan bagi hatinya. Terkesan jahat, tapi itulah yang benar-benar dirasakannya. Ia sendiri sebagai manusia normal, tidak akan bisa bertahan jika harus selalu bersaing dalam memperebutkan Donghae. Apalagi dengan anaknya sendiri. Di luar nalar…

***

         Perubahan sikap Donghae yang melembut padanya membuat Saena sedikit risau. Pasalnya niat gadis itu untuk bercerai dengan Donghae sudah bulat, ia tidak mau lagi tergoyahkan oleh perilaku Donghae yang terkesan sengaja. Sengaja berbuat lebih baik, namun Saena merasa itu malah akan membuat perlaku Donghae ganjil.

“ Terima kasih, oppa, tapi seharusnya kau tidak sampai berbuat seperti ini.”

Donghae berlutut dan membiarkan Saena turun perlahan-lahan dari punggungnya, memang sejak mereka keluar dari mobil sampai masuk ke kamar gadis itu, Donghae menyuruh Saena untuk naik ke punggungnya dan menggendong gadis itu hingga sampai di sana.

Wangi tubuh pria itu yang terasa dekat dengan hidungnya, segera mencandui Saena. Kenapa pria itu harus berbuat baik setelah kondisinya sedemikian rupa? Kenapa pria itu harus berbuat baik hanya diujung tanduk pernikahan mereka?

Gwenchana, Saena-ah… kondisimu baru saja membaik dan aku harap kau tidak melakukan hal yang membahayakan nyawamu lagi.”

Saena berusaha tersenyum, walaupun hatinya tercabik-cabik, sekarang adalah saatnya ia memberitahukan niat yang sudah direnungkannya selama beberapa hari itu. Ia berharap ia tidak akan pernah mengatakan hal itu, tapi nyatanya ia memang harus melakukannya.

“ Donghae oppa? Bisakah kau berdiam diri sebentar? Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu.”

Donghae yang ingin melangkah keluar segera berbalik dan menatap Saena dengan pandangan bingung. Melihat tatapan Donghae, Saena yakin kalau pria itu tidak tahu menahu soal apapun yang ingin disampaikannya sekarang, padahal tadinya Saena sempat berpikir buah kebaikan Donghae adalah karena ia ingin mengucapkan kata-kata perpisahan lewat perilaku padanya.

Oppa… kenapa kau terlihat begitu tegang? Hahaha… santai saja, aku tidak akan melakukan hal yang macam-macam padamu.”

Wajah Donghae yang semula kelihatan tegang berubah menjadi sedikit rileks walaupun ia tetap was-was. Ia harus berhati-hati kalau tidak ingin menjadi bahan amukan Saena seperti beberapa waktu lalu. Kalau saja Yoonmi tidak datang, mungkin sekarang kondisinya entah separah apa.

Oppa, maafkan aku soal kemarin… aku tidak akan pernah melakukannya lagi.”

Saena memutar-mutar cincin emas putih polos yang melingkari jemarinya. Ia memandang dimensi benda bulat itu dengan tatapan sakit. Apa arti pernikahan bagi mereka? Ia dan Donghae bahkan baru menikah selama satu bulan lebih beberapa hari.

Gwenchana, Saena-ah, aku mengerti.”

Donghae tersenyum, tatapannya yang teduh seakan menguatkan Saena untuk berbicara.

Oppa, aku memang membencimu tapi rasa cintaku terlalu besar hingga menutupi benci itu sendiri tapi aku tahu sampai kapanpun kau tidak akan menganggapku apa-apa, walaupun bintang dan bulan menghentikan sinarnya, matahari terlalu lelah untuk sekedar menyapa, bahkan walaupun bumi berhenti berotasi pada porosnya, kau tidak akan memberikan cintamu padaku…”

Donghae memutuskan untuk diam, ia mulai tidak mengerti ke arah mana Saena akan membawa pembicaraan mereka. Sesuatu yang bisa dilakukannya kini adalah menatap Saena dengan pancaran yang berbeda. Sesuatu yang tidak pernah lagi bisa dilakukannya pada Saena semenjak gadis itu menjadi istrinya, hanya saja sekarang saatnya menyingkirkan benci. Menggantinya dengan perasaan lain yang lebih manusiawi walaupun Saena benar. Donghae tidak akan bisa mencintainya, hatinya hanya terpaut pada dua orang dan sekarang ia sudah berjanji hanya akan memberikan seluruh hidupnya pada Yoonmi. Bukan pada gadis lain…

“ Aku benar, kan?”

Tanpa menunggu jawaban Donghae, Saena melepaskan cincin yang sudah lebih dari sebulan ini menghuni jari tangannya. Cincin yang dipakaikan Donghae untuknya, cincin yang menjadi saksi bisu pernikahan mereka. Saena menarik tangan Donghae dan meletakkan cincin itu di sana. Gadis itu tersenyum, sementara Donghae kebingungan.

“ Aku akan melepaskanmu, oppa… aku akan bercerai darimu. Simpalah cincin ini, ingat saja aku sebagai adik yang baik untukmu.”

Saena harus berusaha mati-matian agar tidak meledak dalam tangis. Gadis itu bahkan sudah terlalu rapuh sekarang. Ia memalingkan wajahnya dari Donghae dan hanya bisa melihat ke arah tangannya yang kini kosong. Tanpa cincin pernikahan lagi…

“ Saena, aku…”

“ Jangan katakan apapun, oppa. Aku tahu kau setuju, aku sudah meminta tolong seseorang untuk mengurus surat perceraian kita. Kau tinggal menandatanganinya dan datang ke persidangan lalu semuanya akan selesai.”

***

         Saena melilitkan syal tebal di lehernya, agak aneh memang, apalagi mengingat musim dingin akan berakhir di minggu ini. Walaupun sensasi dingin masih terasa mengcengkram kuat, tetapi salju mulai mencair dan hampir seluruh bagian kota telah kembali ke warna semula, menyisakan sebagian kecil saja benda lembut berwarna putih yang selama tiga bulan menghiasi seluruh sudut.

“ Saena! Fighthing!!! Kau bisa menghadapi ini semua, kau akan mengalami hal yang baik setelah ini, kau bahkan sudah melakukan yang terbaik.”

Saena menyapukan lipgloss pink ke bibir pucatnya. Ia ingin tampil secantik mungkin di hari terakhir ia bertemu dengan Donghae. Gadis itu bahkan sudah merapikan seluruh barang-barangnya dan hanya tinggal membawa semua barang itu keluar dari apartement Donghae dan Yoonmi.

Untunglah Saena mengenal Jonghyun, pria itu dengan senang hati membantunya mengurus semua itu. Perceraian, menyewakan pengacara, bahkan sampai meminjamkan apartement pribadinya pada Saena. Saena sudah menolak mati-matian semua itu namun Jonghyun tetap memaksa, ia merasa kalau sudah sewajarnya sesama sahabat saling membantu. Namun entah mengapa Saena merasa ada sesuatu di balik semua usaha Jonghyun untuk membantunya.

Namun hal itu tidak lagi penting karena sekarang ia akan melakukan hal terbesar kedua dalam hiupnya setelah yang pertama adalah menikah dengan Donghae. Ia harus bercerai dengan pria itu, bukan hanya bercerai saja melainkan melepaskan seluruh cintanya pada pria itu.

Saena melangkah keluar setelah ia mendengar bunyi bel di apartement itu. Ia memang masih tinggal di sana dan untungnya Yoonmi serta Donghae masih bekerja hari ini, sehingga ia tidak harus berangkat bersama kedua orang itu ke pengadilan.

“ Minho… Kau mau masuk dulu?”

Pria itu menggeleng. Raut wajahnya kentara jelas lebih ceria dibandingkan beberapa waktu lalu saat Saena bertemu dengan pria itu di rumah sakit. Namun kekhawatiran masih terpeta jelas di sana.

“ Tidak, noona, apa kau sudah siap?”

Ne, aku sudah siap.”

Saena berusaha menormalkan nada suaranya, walaupun hatinya kembali sakit. Entah mengapa lagi-lagi keraguan datang menyapa.

Noona, kau yakin tidak apa-apa?”

Saena mengangguk, ia menutup pintu apartement itu dan menggeret koper berisi pakaiannya, Minho segera mengambil alih benda itu dan membiarkan Saena berjalan hanya dengan tas tangannya.

“ Aku sudah memutuskan untuk melepaskannya, Minho-ah… aku akan pergi jauh dari kehidupannya. Kau lega sekarang? Aku harap aku merasakan kelegaan yang sama.”

Minho tersenyum bahagia mendengar penuturan Saena, ia memang menginginkan agar gadis itu berpisah dari Donghae. Walaupun Saena mencintai Donghae, tetapi pria itu tidak. Saena tidak akan menjadi bahagia dengan semua itu. Menyedihkan…

Tetapi hal yang mengganggunya adalah kenapa lagi-lagi ada orang lain yang membantu Saena memecahan semua masalahnya? Kenapa Jonghyun menjadi orang pertama sebagi dewa penolong Saena? Kenapa bukan dirinya?

“ Minho, kau melamun?”

“ Ah, tidak, noona, aku bahagia kalau kau sudah memutuskan hal yang benar.”

***

         “ Kalian resmi berpisah…”

Tiga ketukan palu yang diberikan sang hakim memberi tanda bahwa pernikahannya dan Donghae benar-benar berakhir. Saena segera berdiri dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar yang sudah dibuka dan diikuti Minho dan Jonghyun di belakangnya. Saat ini yang menemani jalannya sidang hanyalah segelintir orang.

Hanya Minho dan Jonghyun yang berada di pihaknya sedangkan di pihak Donghae terdapat keluarga Yoonmi yang notabene adalah keluarganya juga, kemudian Yoonmi sendiri dan hanya itu yang datang.

Pernikahan Donghae dan Saena saja menjadi rahasia, jadi wajar kalau perceraian mereka juga menjadi rahasia. Saena juga tidak menyukai keramaian dan dengan sedikitnya orang yang datang, berarti hanya sedikit orang yang akan menyaksikan kehancuran dirinya.

“ Saena, tunggu!”

Donghae berlari kemudian menghampiri gadis itu, Donghae meletakkan kedua tangannya di atas bahu Saena dan menatap dalam-dalam mata gadis itu.

Saena mau tidak mau membalas tatapan Donghae yang semakin menyakitkan karena pria itu sekarang bukan miliknya lagi. Bahkan tidak pernah… tidak pernah menjadi miliknya.

“ Hiduplah dengan baik, Saena… apa kau yakin akan pindah?”

Saena tersenyum sinis. Basa-basi…

Saena sadar kalau kehadirannya di apartement mereka walaupun statusnya adalah anak kandung Yoonmi tidak akan memberikan ketenangan yang cukup untuk keduanya. Keputusannya untuk pergi sudah bulat.

“ Tidak, aku akan jauh lebih baik jika tidak harus melihatmu di sekelilingku.”

Donghae menarik Saena ke dalam pelukannya. Saena ragu-ragu melingkarkan tangannya di badan Donghae. Pelukan perpisahan…

Terasa berkali-kali lipat lebih menyakitkan dari yang diperkirakan. Air mata Saena jatuh, setelah sekian lama ditahannya.

“ Donghae… Saranghaeyo… Berbahagialah, aku sadar aku tidak cukup baik untukmu.”

Saena segera melangkah meninggalkan Donghae, hatinya memang sakit, tetapi ia tidak menyesal dengan keputusan ini. Ini adalah yang terbaik. Untuknya dan juga untuk pria itu… Tidak ada yang lebih indah daripada melihat seseorang yang kita cintai bahagia.

“ Selamat tinggal, cinta pertamaku…”

***FIN***

BONUS SCENE:

GUEST STAR : SUPER JUNIOR- CHO KYUHYUN

Epilog

         Jessica melangkah pasti menuju rumahnya, setelah sekian lama ia menghilang. Bukan Jessica namanya kalau tidak bisa membenahi diri. Mungkin hari ini adalah hari yang paling membahagiakan baginya. Bagaimana tidak? Ia berhasil memenangkan tender untuk memasukkan produknya ke dalam beberapa butik ternama di Jepang.

Memang sudah lama ia menginginkan kalau bisnisnya berkembang ke negara lain. Sekarang semua itu sudah terkabul, hal lain yang bisa membuatnya bahagia adalah pernikahan Donghae dan Saena sudah berakhir. Bahkan tanpa sentuhan tangannya sedikitpun, itu artinya ia tidak harus susah-susah menyingkirkan gadis yang bahkan bukan tandingannya itu.

Tidak usah ditanya, darimana ia tahu… semuanya tentang Donghae bahkan kalau harus ke pelosok pun akan dicaritahu olehnya.

“ Hari ini semuanya terasa sempurna.”

Jessica menjatuhkan tubuhnya di atas kasurnya yang empuk. Sudah hampir seminggu ia tidak merasakan suasana kamarnya. Namun sekarang ia bisa kembali merasaka kamarnya yang didominasi bau lavender. Apalagi dengan perasaan bahagia.

Ting Tong

Jessica bangkit dari posisi tidurnya dan mengerutkan keningnya saat melihat jam dinding yang terpasang di kamarnya.

Jam 10 malam…

Siapa yang berani bertamu di jam tidak wajar seperti ini?

Tok tok tok

Tidak lama setelahnya, ia mendapat ketukan di pintu kamarnya. Dengan malas Jessica melangkah menuju pintu kamarnya dan membuka dimensi berbahan kayu bercat putih itu.

“ Ada siapa di luar?”

Sang pelayan belum mengatakan apa-apa tetapi Jessica sudah bisa menebaknya, orang itu mencarinya. Memang sudah jelas, kalau tidak datang untuk mencarinya lantas mencari siapa lagi? Di sini hanya ada dirinya dan beberapa pelayannya, ia memang tinggal sendirian sejak memutuskan hidup mandiri, jauh dari keluarga aslinya walaupun masih satu negara.

“ Seorang pria yang mencari anda, nona jung.”

Pria?

Jessica mengerutkan dahinya. Bingung…

“ Baiklah, suruh ia menunggu, katakan sebentar lagi aku akan turun.”

Jessica menutup pintu kamarnya dan segera bersiap-siap. Sambil memilih baju yang akan dikenakannya pikiran gadis itu dinodai tanda tanya. Pria mana yang ingin menemuinya?

Hampir lima belas menit kemudian Jessica menuruni tangga dan bisa melihat sesosok pria dengan perawakan tinggi sedang berdiri membelakanginya. Jessica bisa mengenal siluet tubuh pria itu walaupun ia masih tidak yakin.

“ Maaf, anda siapa?”

Pria itu berbalik dan Jessica sadar tebakannya tidak salah.

“ C…Cho K… Cho Kyuhyun?!”

Pria itu tersenyum dan melepaskan kaca mata hitam yang membingkai indah matanya. Menambah pesona yang dimilikinya.

“ Apa kabar, Jessica jung?”

***

Holaaaaa semuaaanyaaaaa

Akhirnya dengan ini aku bisa bilang FF WIHYON RESMI SELESAI setelah perjuangan selama kurang lebih 15 bulan dan disertai beragam badai, hujan, panas, dan lain sebagainya. FF ini adalah ff series pertamaku yang selesai A.A bahagianya aku

Eitssss tunggu dulu!

Seperti yang aku bilang bakalan ada sequelnya, tadaaaaaa…

Wait for Whether I Hate You or Not sequel

The Cruel Destiny!

Cover ff the cruel destiny 2

Credit cover : Misstis 

Nahhh di ff ini bakalan llebih kompleks ceritanya tapi dengan gaya yang lebih anggun dan elegant tentunya. Penjabaran yang lebih ‘nancep’ dan tentu saja dengn bumbu konflik di sana sini.

Aku bakalan berusaha bkin ff TCD lebih berkelas jauhhhh di atas WIHYON dikarenakan ff ini udah mulai ngaco T.T banyak lupa nama, lupa kejadian, dan sebagainya. Maklum deh saya manusia biasa -__-a yang bisa salah-salah juga.

Aku akan berusaha bkin TCD lebih maksimal lagi dri WIHYON jadi mudah2an ga akan ada yang kecewa dengan sequelnya nanti😀

Okeee WIHYON belum spenuhnya berakhir *lahh

Masih ada seri terakhir Side Story yaitu : Walk Away  yang kemungkinan terbitnya abis aku UN😀

Uwaaahhh UN tinggal beberapa hari lagi, doain saya ya teman-teman semua ^___^ semoga hasil yang terbaik yang saya dapatkan nanti.

Eh iyaa chapter ini harusnya aku protect tapi setelah aku pikir-pikir karena ini chapter istimewa😀 aku bakalan protect nanti ^_^, jadi kalian bisa baca tanpa harus minta password. Ayooo yang merasa SR segera komen😀

Di chapter terakhir ini aku ingin mengumumkan :

THE MOST LOYAL READER

Horeeeee *lempar kembang api

MLR ini menurut kamusku adalah reader-reader paling setia walaupun ga ngikutin ff ini dari awal aku terbitin tapi mereka inilah yang hampir selalu jadi yang pertama komen di setiap chapter ff ini.

Jadi aku ingin mengucapkan selamat kepada :

  1. Erna eonni —> username : BaboHae
  2. Lestrina eonni –> username : Lestrina
  3. Dinda –> username : Dindadey

Terima kasih karena kalian selalu menjadi reader yang baik buat aku, mendukung aku, bukan hanya dalam bentuk komentar melainkan hal-hal lain yang tidak bisa aku sebutkan satu per satu.

Hadiaaaahhhnya untuk MLR ini adalah :

Bebas merequest ff apa aja dengan cast siapa aja dan jalan cerita yang kalian tentuin sendiri😀 tapi maksimal Mini drama (5-7 chapter)

Ditunggu ya kemunculannya untuk mengkonfirmasi hadiah ini, tapi aku ga janji bisa cepet A.A

Selanjutnya aku ingin mengucapkan Special Thanks to :

1. God

Dengan bimbingan-Nya dan juga penyertaan-Nya, aku bisa mengerjalan dan menyelesaikan cerita ini. Tanpa ide yang diturunkan oleh Tuhan untukku, mustahil aku bisa menyelesaikan proyek ini.

2. Kyoonmi a.k.a Cynthia

Eommaaaku, yang bersedia namanya dinistakan di  ff ini sebagai tokoh Yoonmi

3. Erna eonni

4. Lestrina eonni

5. Dinda

Para MLR yang luar biasa, memberikan dukungan dan suntikan semangatnya untukku.😀

6. Starlit eonni

Salah satu reader yang memberikan komentar dan pemikirannya tentang ff ini dengan kata-kata yang indah😀

7. Sherina saengi

Salah satu adikku, salah satu seseorang yang membuatku semangat dalam menyelesaikan ff ini😀. This is for you🙂

8.Lee Ocha eonni

Salah satu seseorang yang memberikan motivasinya untukku, sehingga aku bisa bangkit dari rasa putus asaku untuk ff ini😀

Thanks to:

ALL READER WHETHER I HATE YOU OR NOT :

( Aku kumpulin ini dari prolog sampe chapter 15B, mohon maaf kalau ada yang terlewatkan)

diptawyj, karinput, ichidez, rima novani, @park_haelan, heenimut26, ryeongdes, kyuwoo, novi, JusTeDwina, magnae67bum, ¤~ Hambaro saranghae ~¤,Shinhyunrin, Taeminadya, mei07org, Liamvp, Kim So In, Lovelyesung, Adellia Rhea, De_Wie (@DewiSKshinee77), Aliceapril, Tiffany, @agilrestuuu, ZiJian, Yuki, Erlianachank, Celin, hyoriimnida, cindy, Soojin, moonlight, Minew, @christ_eva, erviani, Cindy Irene, Ichatamie, Sanakochan, MinNett25, Veelf, Chris, Kan Rin Rin, jesskyu861015, Dede Conan, @Siwonsyifa, specialwonnie, Kim eun kyo162, Muna, Susan, Lee hyura865, babykai, Jovialina dark, Chacha_Pumkin, Novi Oktaviani, Pu2tRyeofa’i, @Ra_ELForever, devinakyuyoung, hyena225, vbri, nona lee, Lee Ha Yoo, Han hyeon ree, ano, arifa, delia, me merry, Hyun Mie, Illa Misrawati, Rosy Nurjanah, elli, N, ree_chul, Poetoe wari, viewonie, tisa, salma, yiyi, jeshtata, w3Rd!96, Jung young ah

Maaf juga kalau penulisan nama di atas ada yang salah😄

Next : [Behind The Scene] All About WIHYON 

50 thoughts on “[Korean Fanfiction/ Straight/ Series] Whether I Hate You or Not (Chapter 16 || Ending)

  1. kyaaa uda end y saeng…
    AQ nngalin jjak dlu y c0z aQ g’ bsa bca c0z aQ bl0m bca part2 y’ d protect-sedih na ketinggalan crta-
    aQ k0x g’ trmasuk siCh d antra nma2 d ats -sedih lgi ne (brcnda dinx)
    dtnggu krya2 laen na y saeng…

    • hehehehehe gapapa eon jadi kan tahu endingnya dulu
      ntar kalo baca part sebelumnya juga ngeh kok kenapa hae nikah ama Saena dan bagaimana kerumitan hub mereka -__-a

      makasih udah baca + komen eon😀

  2. krna pnsran sma ending na akhir na aQ bca jga akhir na wlwp0n dkit…
    Smpah aQ g’ ngerti knpa seena bsa nkah sma d0nghae,tr0z seena ujg2 na sma cpa,smga aj sma j0nghyun y,tr0z jessica kox bsa sma kyu-aduh bingung-
    aQ mw bca y’ dprotect biar g’ bingung lgi-tpi blom pnya PW hiks hiks hiks-

  3. Akhirnya ending juga…perjuangan saeng ga sia2 ya, ceritanya daebak. Meskipun ending sedih, eon j sedih lihat saena. Sequelnya TCD castnya masih mrka kan, mskdnya main castnya yoonmi or saena ya.
    Waah horray, nama eon msk MLR, eon blh request. Eon request ff ttg married life ya castnya lee donghae n saena. Saeng idenya yg pernah aku ksh tau di twitter ya..ya wes, keep writing ya n dtunggu ya karya2 yg lain.gumawo

    • Iya eonnnii Puji Tuhan banget bisa ending nih ff ;D hehehehe padahal sempet mampet2 segala macem deh u___U
      masih eon Main castnya sama ;D cuma support castnya nambah evil sama hyunjoong sama ada deh :p blm pasti sihh yang ada deh *plak cuma evil ama hyunjoong udah😀

      Hmmm ocheee deh eonniii nanti kalo sempet aku kerjain secepetnya ;D
      mudah2an ga lama deh
      ditunggu ya eon

      makasih atas dukungannya selama ini eonni
      makasih juga udah baca + komen ;D

  4. Yah, abis deh. Matiin ah tipinya xD
    baru mau request sequelny. Trnyata udh ada. Haha
    saena pasti ada rasa ga rela tuh xD
    Yah, nama aku kok ga masuk list. Ngambek nih ;p
    keep writing eon😀

    • Ada kok saeng😀 kamu mah bkin eonni deg2an aja ampe baca2 ulang *plak
      Ahhh? tipi? *celingak celinguk
      ini kan bioskop saeng *plak

      rela ga rela lah saeng
      ditunggu ya sequelnya😀

      makasih udah baca + komen😀

  5. akhirx ending jg…tp mslah saena ma cpa??masih gantung…mga ja d TCD saena ma minho…hehe

    oia smoga sukses bwt UN nya saeng…

    • sama seseorang eon nanti di TCD aku ungkap semua😛
      yeayyy ama sapa ya?? minho bukan yaaa? hmmmm liat nanti eon *plak

      makasih eonni dukungannya😀
      makasih juga udah baca + komen ;D

  6. Akhirnya ending jga,. ..:-*tpi endingya msih krang greget trus smua mslah jga kyaknya blum spenuhnya slesai cma mslah donghae sma saena doang yg slsai,soal jessica jga kyaknya blum spenuhnya slesai. …..!
    &Tuk saeng smangt ya smga UN lncar dpat Llus dg nlai yg memuaskan. . . .!!
    Figthing. . . . ? ! ?:-D

    • Hehehehe sengaja eonn biar ga panjang x tinggi x lebar di ff ini :p
      biar sequel aja yang makin ribet *halah nih anak apa coba -__-a
      Tapiiii tenang eon biar nanti sequelnya ribet, aku akan menjabarkannya lebih terperinci ga ngaco2 kyk ff ini -_-a
      ditunggu aja ya eon 😀

      Amin amin eonni😀
      makasih dukungannya :))
      makasih juga udah baca + komen

  7. Waaaaaaaaaahhhhh.. *mancrut
    Haduuh, tdi wktu msiih bca ditngah” cerita, udh kbyang mw komen ap,, eeh, bca cuap” yg pnjang.a kya sungai han, lupa smw..
    Yg jelas, aq ikut sneeng saen udh nylesein ff.a, pnantian.qu jg udh slese, nungguin nasib saena, wlopun blum bca cpt 15b, coz blum diksih pw.a.. *sediih…
    huuuh,, air mta.qu ta abisin dichptr ni,, nih komen.a jga smbil ngelap idung, msih nangiis,, bca yg donghae suruh nyerein saena, air mta.qu derees.. :'(( smw.a jhaatttt ma saena,,
    Msiih blum slese spenuh.a kn saen? perasaan minho+yonhe blum kejwab.. Mreka msih sling mncintai ap gk, aq ngira, minho tuh cinta ma saena, cuma blm sadar,, nah tuh, akhirnya my prince evil muncul jg, *mlirik kyuhyun oppa,😀 ,, jgn” kyu oppa tu ayh kndung.a saena yh saen??
    Haduuuh,, ff.a udh slese, tpi konflik.a lum slese spenuh.a,, ap lgi sok tmbah ribet d’squel.a,, hallah, penasaraan… Ditunggu scepat.a ya saen,, +fighting, saen bljar giat bwt un, pztii bsaa… :*

    • Annyeongg eonnniiii masaf soal pw u___u
      minta e-mailmu ya eonn ntar aku kirim😀
      soalnya biasa dehh anak sibuk*plak
      hadahhh maaf lagi eon itu cuap2 emang sengaja panjang kan ceritanya episode terakhir *huwaaa sedih pisah ama ni ff *plak *padahal sequelnya sama aja ribet2 juga -___-a

      yahhh bukan eonn ayahnya saena ada di The Mistake Obsession *nunjuk2 side stori wihyon
      ama di TCD entar kalo kyu mahhh ada deh peran dia cukup kompleks juga sih menambah angin puyuh dalam badai permasalahan ketiga tokoh utama yang aku bkin ngenes-sengenes ngenesnya >.<

      Tenangg eonni masalahnya bakalan aku jawab sembari bkin masalah baru *plak
      jadi ga akan ada yang penasaran

      amin ;D
      makasih dukungannya eonni n makasih juga udah bca + komen ;D

  8. daebak!!!!! gak nyangka akhirnya WIHYON tamat. suka bgt sih sama endingnya krn akhirnya yoonmi-donghae bahagia & saena gak hrs terbebani sama kehamilan+perasaan donghae yg gak prnh ada buat dia .___. tp sayang ya disini msh gak bgtu jelas perasaan si minho+jonghyun, tp feeling ku mereka udh pd berubah haluan dr yoonhee ke saena, jd pukpuk aja buat yoonhee *muncul jd jahat lg* eh eh tp klo dr poster buat sekuelnya yg TCD, rasanya kehidupan rmh tangga yoonmi-donghae kyk bkln masih dibayangin seseorang, entah itu saena atau bukan, tp semoga gak semiris disini walaupun udh diksh bocoran lbh complicated TT__TT

    aduh knp jd sica ketemu kyu -__- knp gak ketemu heechul aja, krn selain dipair sama donghae, aku lbh suka sica sm heechul😄

    uh… lovely author :-* sampe sebegitunya diiksh julukan MLR😄 sampe diksh hadiah jg, jd enak hahahaha pdhl gak ush diksh julukan+hadiah jg gak apa2 .__.v krn aku ngerasa kyk gak ngasih saran2 yg baik deh, lbh mengarah yg jahat kyk yg… itu tuh.. yg trjadi di part ini *ups* intinya gomawo!!

    hadiah ya? hmmm tau lah aku shippernya siapa😄 aku sih pengennya ada warna baru di wp ini. bikin cast utamanya si evil prince “Cho Kyuhyun” & evil princess “Choi Sooyoung”😄 krn mereka dua biasku, drpd kyu sm sica -,-. jalan ceritanya terserah deh, yg pntg dibikin complicated tp tetep happy ending buat mereka berdua. krn jujur gak suka sad ending TT__TT

    kebanyakan cuap-cuap nih .__.v overall WIHYON daebak bgt ceritanya. ditunggu bgt semua kelanjutan cerita ini dr side story & sekuelnya😉 :-* :-* :-*

    • Aduhhh tebakanmu bener din hahahahah
      emang dri awal rencana gtu sih *ikutan jahat
      hmmm Saena ama siapa ya? yang jelas smeua bakalan tecengang dengan akhir dari TCD nanti :p *main rahasia lagi
      soalnya bakalan lebihhhh ribet dan bkin geregetan sampe pengen cubit2 pipi aku mungkin *plak
      tapi semua masalah ada jalan keluarnya dan aku bakalan memperincinya 1 per 1 biar ga ribet *lahhh ini aja ribet -___-a

      adehhh itu karena aku sangat mengahargai apresiasi kamu, din oyeyyyy kamu kan selalu komen panjang x lebar buat setiap chapter n aku seneng bacanya😀

      adehhh *lagi
      seperti yang aku bilang di twitter ya din aku ga bisa janji
      ganti ayoo ganti
      soalnya kyudul itu bias aku * apa hubnya coba
      takut ga dapet feel aja din soalnya aku bener2 mentok sama sugen T.T
      maaffff ya atas ketidakprofesionalan aku sebagai author
      dipikir2 lagi deh ama akunya😄

      Makasih udah baca + komen ;D

  9. akhirnya saena keguguran n cerai jg sm donghae oppa.. trus saena sm siapa donk, msh gantung T_T.. trus kyuhyun oppa itu siapanya jessica? ditunggu sequelnya ya saeng n sukses bwt UNnya (^_^)9..

    • hmmm ada kok di TCD tenang semua tenang *plak
      pkoknya th ff lebih complicated eon tapi tetp eksklusif dong *halah
      nanti ketauan di side story eon yang walk away
      sengaja aku telorin terakhir soalnya itu membawa clue besar buat TCD nanti
      soal masa lalu HaeSica😄 termasuk Kyuhyun di dalamnya

      makasih dukungannya eonn🙂
      makasih juga udah baca + komen😀

  10. akhirnya tamat juga dan happy ending untuk pasangan yoonmi-donghae
    ah….jdi yg keguguran itu saena ya bukan yoonmi
    pas teaser2 kmren tu smpt mikir yoonmi yg bakal keguguran
    antara sedih dan seneng sih ya liat saena keguguran
    hmm kayanya perhatian minho tu agak berlebihan ya
    yoonmi n yoonhee aja ngerasa ada yg aneh sama minho
    jonghyun jadi malaikat penyelamat hidup saena nih ya
    mereka dicoupl-in aja deh saeng cocok kok
    itu kyu siapanya jessica deh?
    kok kaya kaget gt pas ketemu

    hihi ada nama onnie ya disitu….jadi malu (/.\)
    Sukses buat UN ya saeng, semoga lulus dg hasil yg memuaskan
    cepat comeback kl udah slsai UN ga sabar nunggu TCD nih

    • Wehehehehehe semuanya terjebak eon wkwkwk
      padahal dri awal aku mah udah bkin kerangka Saena bakalan keguguran di chap terakhir *evil smirk
      hmmm soal perasaan Minho ada dijabarkan nanti di TCD sama side stori *jangan heran ya eon n side stori ff ini beserta sequelnya ada total 7 buah! -__-a
      banyakkan side storinya dah -_-a cuma baru rencana sih eon bisa jadi lebih kurang tapi ga lebih banyak hehe ^^V

      Siapa ya? siapa?
      hmmm ada di walk away *tuh kan side stori lagi u__u
      soalnya ini menyangkut masa lalu mereka😀

      aminnn aminnn eonni😀
      makasih dukungannya
      ehhh? lagi digarap ini eonnn tenang saja😀

      makasih udah bca + komen :p

    • Ddah cinta pertama *plak😛
      hmmm sama kok kyk WIHYON heheheh cuma penambahan support cast aja
      sisanya mah sama ribetnya aja sama –____–a

      ditunggu aja ya
      makasih udah baca + komen ;D

  11. yippy walo rada sesek2 ..happy endank
    jonghyun daebak bisa ngeluluhkn hati yg beku ..joss gandos dah
    iya nih kayanya minho si galo galo
    apakah ntar minho beralih hati ke saena#doakn plakk
    trus …jesy ma kyunie da hubungan apah??
    apa kyunie tuh oppa tiri yoonhee yg gi tempuh S3 n bpk kandung saena kah dia cos dari awal chapter nih ada namanya cuma nongol doank ???
    #asli reader jelek bin sengak satu ( aku maksudnya) ini KEPO berat
    thank saeng dah folback aku
    ting ting luv ya
    sukses ma UN-nya
    i’m @dewina1112 …kembaran minong beda hari #cyius gk ada yg nanya

    • Ehhh eonnii ini mah masuknya ending gantung kata aku *plak wkwkwkwkwk
      hmmm iya ga ya?
      nanti deh eonn saksikan saja di TCD😀

      bukan kok eon itu oppanya Yoonhee mah buat hiasan doang *halah
      ga tau sih kalo aku nanti ada ide munculin dia *plak
      soalnya itu buat menjelaskan isi rumah Yoonhee yang bru ajah xixixi

      makasih dukungannya eonni ;D
      ditunggu aja ffnya
      makaish juga udah baca + komen😀

  12. wwaahh sudah tamat saja…
    dugaanku benarkan, bahwa saena adalah anak dr yoonmi. Berpisah dengan donghae adalah keputusa yg tepat.. aku harap Saena dapat jatuh cinta kembali, dan itu pada Jonghyun.
    Jd, aku berharap ada ff Jonghyun dan Saena….

    • eheheheheh iya eonni setelah berbulan2 ini :p
      hmmm Jonghyun ma Saena?
      Iya ga ya?*plak
      nanti disaksikan saja di TCD🙂

      hmm kyknya aku ga janji deh eon hehe🙂
      makasih atas sarannya
      makasih juga udah baca + komen😀

  13. nah ini yg aku pengenin dari Saena, knpa ga dari awal sebelum nikah sama donghae sadarnya???
    yaampun aku jd geregetan seendiri xD
    waahhh ditunggu bgt tuh sequelnya,, keep writing ^_^

    • Ahh kan namanya juga biar seru atuh del😀
      oke sippp sequelnya sedang digarap dulu😀

      eh iyaaa semnagat UN buat kita! Smoga lulus dengan nilai terbaik *amin
      makasih udah baca + komen ;D

    • Iyaaa akhirnya ending juga setelah sekian lama ;D
      hmmm nanti jawabannya ada di TCD chingu :p

      ada kok itu the cruel destiny *nunjuk2 atas
      okeh ditunggu aja ya
      makasih udah baca + komen😀

  14. huaaaa banjir air mata *plakkk lebay* ending’a cetarr badai bikin orng nangis😥 tapi aku masih agak pnasaran coz blom bca part 15nya,blom di ksih PW’a huh sedih😦 tapi daebakk deh buat author…minta pw chapter 15 dong yg a sma b blom di ksih😥

  15. kasian saena nya hiks hiks yang tegangnya pas dia mau bunuh diri.
    kayaknya minho suka tuh sama saena mudah2an minho sama saena hehehe
    plus plus jempol nya den buat author🙂
    aku tinggal baca yang part 15 aku minta pw nya dong, makasih:)

  16. ending’a menyedihkan nih..huhuhuhu..
    tp knp my baby kyu cm muncul sedkit duan yaa??
    oia truz ayah kandung’a saena itu siapa??

  17. hhaloo.. aq reader bru nie.. lam knl🙂
    crht dkt yahh.. aq sskkkaaa.. bgt ma WIHYON, skli bc gx mw b’hnti,ya wlwpun bc’e msti d’loncat2 cie.. gra2 bnykkk bgt yg d’protect hhhmmm..:( oyahh.. aq ta 5f yah Ru bsa cmmt d’sni, y krna k’asikan bc tu,mke’e mpe lupa cmmt.. heheheh.. 5f yahh,:) asli sbl bgt ma bg mokpo d’sni..:( dy bkn saena nnngis mulu.. gmana dunkk chingu ff kmu bkn aq sbel sngaat 5 ongae..TANGGUNG JAWAB #PLAK..
    aq leh ta PW dr ff yg d’protect ya.. cz pnasarn bgt,trus TCD’e jgn lma2.. q nunguin🙂

  18. keren end nya thor walau te2p kasian saenanya tpi bner2 keren ! Oya thor cek email ya aq minta password part 15..

  19. nangis bombay bacanyaa ><
    aku masih penasaran gitu Minho sebenernya ada rasa lebih sama Saena apa enggak sih? jonghyunnya juga sebenernya kenapa :3 smoga di sequelnya terjawab ya kkk sangat sangat ditunggu sequelnya :DD

  20. Yaampun ada sequelnya>< genrenya ape noh? Kalo gasalah di protect ya? Btw. Finalnya NGENGGGGGG dikirain saenanya bakal mati-__- taunya hidup *efek sad ending maniak/? Hehehehe lanjut eon! Bikin yang angst angst teros ya!!

  21. KYAAAAA *belom baca* harus nahan baca ep.16
    15 nya belom baca astaga gregetan nih udah di depan mata endingnya tapi belom bisa baca yg 15, need pw T_T
    omonaa susah bgt nahan biar ga ngintip chapter terakhir ini, baiklah daripada kalamaan saya hilap nanti, minta pw nya ya biar bisa baca segera yg ini >< huooooo ♥

    • komen aku kepotong masa ih bete -__-

      masi gantung tapi ceritanya antara keraguan minho ttg perasaannya, trus hub jonghyun sama saena n yoonhee aaaa >< disekuel nya ada ga lanjutannya?
      dari awal suka bgt pairingan minho-saina aaaa cucoook ♥ haha
      tetep terus bikin ff yg unyu unyu ngeselin bikin gregetan kyk gini ya dev :3 haha

  22. Wah udah ending ajaa ni FF, tapi untung ajaa Saena keguguran jadi bisa cerai sama Donghae #readers kejam
    Tapi karna dia keguguran jadi rada stres dianya, kasian juga Saena harus ngorbanin kebahagiaan. Nanti Jessica mau dibuat sama Kyuhyunn ne eon? Trus istri nya si Eunhyuk oppa siapa? #banyak tanyak.

    Tapi FF nya seru eon, TCD nya segera dibuat ne eon, maaf juga nae komen nya baru sekarang, padahal di post nya udah lama. U,u

  23. kak devi saking geregetannya. aku langsung aja baca part terakhir. dan aku sedih sesedihnya. kenapa donghae baru ngerasa kalo dia kehilangan disaat saena keguguran? aku sebel sama donghae pake banget T^T

    • Waahhhhh saenggg maaf ya membuatmu sedih T___T saya juga nangis lohh ngetiknya *eh loh malah curcol hehehe
      iyaaa saeng donghae kan dri awal emang cuma nganggep saena adiknya trus pas tau saena anak yoonmi donghae berubah nganggep saena anknya tapi ttep aja anak yang dikandung saena kan anak donghae juga jadi dia sedih hehehe

      ditunggu aja sequelnya dijamin kamu makin sebel (?)
      makasih udah baca + komen ^^

  24. Akhirnya ending juga…
    perjuangan eonnie ga sia2 ya,
    ceritanya daebak. tp mslah
    Saena ma siapa?? Trus ayah kandung Saena siapa? masih
    gantung…mga ja d TCD Saena
    ma Minho atau gk sama Jonghyun

  25. Halooo TT gue ud lama ya menamatkan ini ff pas dibaca ulang kok nysek sendiri ya?😥 hiks… banyak kata kata jeleb keselip dimana mana…
    TCDnya ditunggu yaa🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s