[Korean Fanfiction/ Straight/ Mini Drama] Without Words (Chapter 1)

Without words chap 1-3 by Andinarima (andinarima.wordpress.com)

Credit poster : Andinarima 

Title       : Without Words

Author  : Kim Saena a.k.a Devi

Rating   : PG13/NC17/ Straight

Length : Mini Drama (8-10 Chapter)

Genre   : Romance, Married Life, Friendship, Hurt,  Angst, A Little Bit Comedy

Cast       :

Main Cast            : Super Junior- Lee Donghae

Kim Saena (OC)

Support Cast      : Ahn Seorin (OC)

Super Junior – Lee Sungmin, Lee Hyukjae a.k.a Eunhyuk

Han Sohee (OC)

Other Cast          : FIND BY YOURSELF!

Disclaimer          : Super junior is belong to God, SM Entertaiment, and their parents. It’s just for fun. Please don’t sue me. This story is mine. Don’t take this fanfic without permission from me. If you want to take this fanfic. Please take with full credit.          

#NP – Jang Geum Seuk & Park Shin Hye – Without Words (OST. You’re Beautiful)

 

Chapter 1- Married?!

Sejak pertemuan kita yang pertama aku tidak bisa melepaskan ingatanku barang sedikit saja tentangmu

Inikah cinta pada pandangan pertama?

Without Words │©2013 by Ksaena

Chapter 1- Married?!

ALL RIGHT RESERVED

Author Pov

“ Kenapa kau malah tidur di saat jam kerja?”

Sohee menepuk pundak seorang gadis yang sedang bermalas-malasan, padahal seharusnya ia menyelesaikan tugas yang hampir mencapai deadline-nya. Tapi kantuk keburu datang mendera, membuat gadis itu harus menguap beberapa kali dan akhirnya menyerah. Ia menelungkupkan kepalanya di atas meja dan baru saja akan tertidur saat sahabatnya itu datang ‘mengganggu’ ritualnya.

“ Tidak apa-apa, aku kan tidak melakukannya setiap hari… hoaahhmmm aku ngantuk…”

“ Ishh, kenapa kau ini malas sekali sih? Kalau Park Sajangnim tahu ada karyawannya yang selalu malas-malasan ketika berada di kantor, kau pasti akan dipecat! Kau dengar? D-i-p-e-c-a-t…”

Sohee sengaja menekankan kata-kata dipecat agar, gadis itu segera menyadari tindakannya, namun sepertinya gadis itu tetap diam dan tenang.

Yaa! Kau dengar aku tidak?”

Ne, ne… aku dengar, aishh, kau ini berisik sekali… lagipula sekarang Park Sajangnim tidak ada di tempat.”

Gadis itu bangkit dari posisi tidurnya dan merapikan kuncir rambut ekor kudanya yang sudah berantakan.

“ Nah, akhirnya kau bangun juga… kau tahu tidak artis siapa yang konsernya akan kita tangani nanti? Ahh! Kalau kau tahu konser siapa nanti pasti kau tidak akan mengantuk lagi.”

“ Memangnya siapa?” gadis itu tampak tidak tertarik dan masih menguap, menandakan kantuknya yang belum habis.

“ Janji kau tidak akan tidur lagi… baru aku akan mengatakan siapa orangnya…” Sohee tersenyum misterius.

Ne… halah palingan hanya idolamu si Cho Kyuhyun itu kan?”

“ Bukan… bukan… kau salah besar… Yah walaupun aku masih berharap kalau agensi kita yang mempersiapkan konsenya sih, tapi benar-benar bukan dia orangnya, Saena-ah… ayo tebak lagi!”

Saena hanya menggerutu pelan, ia paling tidak suka jika harus disuruh menebak seperti ini.

Nan mollayoo… yang pasti aku yakin dia bukan Sungminku barangkali artis pendatang baru yang akan menjadi calon idolamu yang jelas aku tidak akan tertarik.”

Saena baru saja akan menelungkupkan kepalanya kembali di atas meja saat Sohee menguncangkan bahunya dengan heboh.

“ Kau sudah janji untuk tidak tidur!” rengeknya dengan nada manja.

“ Aku juga tidak tertarik…” balas Saena, acuh tak acuh tentang berita yang akan dibawa Sohee.

“ Benar ya?”

“ Hmm…” Saena hanya menggumam pelan, bersiap kembali ke alam bawah sadarnya.

“ Yasudah… aku yakin kau akan menyesal karena penyanyi soloist yang akan konser nanti dan tim kita yang kebetulan ditunjuk untuk mempersiapkan konsernya adalah Lee Sungmin…”

Hak sepatu yang digunakan Sohee mengetuk lantai saat gadis itu berjalan beberapa langkah, kembali ke meja kerjanya, yang berada tepat di sebelah meja kerja Saena.

Gadis itu langsung duduk tegak saat mendengar sebuah nama disebutkan. Ia bahkan bangkit dari posisi duduknya hampir semenit kemudian, respon yang lambat. Rasa kantuknya segera menguap entah kemana.

“ Katakan sekali lagi Han Sohee? A… apa dia ada Lee Sungminku?!”

***

          Donghae tersenyum simpul saat memandangi kotak yang baru saja diberikan sang pegawai toko padanya. Sebuah cincin emas putih, sederhana, hanya terdapat hiasan kecil berlian di tengah-tengahnya. Tetapi pria itu tahu, ia akan mengukir nama seseorang di bagian dalam cincin itu.

“ Apakah anda sudah memutuskan tuan, cincin mana yang akan anda beli? Kami masih mempunyai banyak stock jika anda ingin melihatnya, salah satunya adalah ini… cincin ini…OUCH!”

Benda mungil dengan perhiasan yang menempel pada permukaan tubuhnya itu jatuh terhempas pada lantai marmer dan memberikan bunyi gemerincing yang cukup jelas karena adanya logam yang bergesekan dengan permukaan datar itu. Donghae terkejut saat tanpa sadar pegawai itu menabrak tubuhnya dan menyebabkan cincin yang sedang dipegangnya terhempas entah kemana.

“ Maaf, tuan… maafkan saya…” gadis itu segera meletakkan kotak berisi cincin lain yang dibawanya dan mencari kemana perginya benda mungil yang sedang dipegang Donghae tadi, sebelum kedatangannya.

“ Ah, negwenchana…”

Donghae tersenyum, walaupun dalam hatinya menggerutu, jelas saja karena kedatangan gadis itu, imajinasinya buyar, ditambah benda yang belum ada lima menit dalam genggamannya itu sekarang menggelinding dan ia harus mencarinya di toko seluas ini dan untungnya sedang sepi pengunjung.

“ AHA, Ini di…AWWW!”

Donghae mengusap kepalanya bersamaan dengan gadis itu yang melakukan hal yang sama.

Mi… mianhamnida, tuan… jeongmal mianhamnida…” Gadis itu memungut benda yang tadi membuatnya berbenturan kepala dengan Donghae dan memberikan benda itu pada sang pria yang kelihatannya mulai kesal dengan tingkahnya.

“ Gwenchana… Aku beli yang ini saja, nona… dan tolong tambahkan nama seseorang di badan cincin itu.”

Donghae memberikan cincin yang baru saja diberikan gadis itu padanya. Nada bicara pria itu tidak seramah saat pertama. Tampak kekesalan mulai muncul di hatinya.

Bagaimana mungkin gadis ini bisa sangat ceroboh?

          Donghae berpikir sambil menggelengkan kepala, menunggu gadis itu selesai membungkus benda yang baru saja dibelinya.

Untungnya saat ini ia berada dalam mood yang baik dikarenakan kabar gembira yang dibawa oleh orang tuanya beberapa hari yang lalu. Kabar yang sempat ditolaknya mati-matian namun sekarang ia mensyukurinya dan bahkan terlalu bersemangat untuk menyambut hal itu.

“ Tuan, silahkan tulis nama yang ingin anda letakkan di cincin ini…”

Gadis itu menatap Donghae bingung, karena pria yang berada di hadapannya itu tidak langsung memberikan respon, malahan tersenyum, entah karena apa.

“ Mianhamnida, tuan…”

Gadis itu mengulangi perkataannya sambil melambaikan tangannya di depan wajah Donghae.

“ Eh? Apa? Oh… mianhae…”

Wajah Donghae sedikit memerah, malu. Gadis itu hanya menunjuk kertas dan ballpoint yang harus diisi Donghae sambil berusaha menahan tawanya. Wajah pria itu ketika sedang malu, terlihat lucu dengan semburat merah menghiasi kedua pipinya.

Donghae segera menuliskan sebuah nama di sana dan kembali tersenyum. Bahkan hanya dengan menulis namanya saja, ia bisa segembira ini…

“ Kemudian ini ada sejumlah uang muka yang harus anda bayar…” gadis itu memberikan sebuah nota pembayaran pada Donghae

Donghae segera mengeluarkan dompet dan mengambil beberapa lembar won sesuai dengan yang tertera pada nota pembayaran yang ditulis gadis itu.

“ Baiklah, tuan, kami akan menghubungi anda jika pesanan anda sudah selesai…  Ghamsahamnida… “

Gadis itu membungkukkan badannya dan lagi-lagi Donghae hanya membalasnya dengan senyuman seolah membagi kebahagiaan.

“ Yahhh… padahal aku berharap dia lebih lama di sini… Seorin-ah, kenapa kau biarkan dia pergi?”

Gadis pegawai itu, yang ternyata bernama Seorin, menoleh dan mendapati teman sesama rekan kerjanya sedang membersihkan etalase kaca tempat mereka menyimpan beberapa perhiasan.

“ Ishhh, memangnya aku bisa melakukan itu?”

“ Bisa saja kalau kau berlama-lama melayaninya sambil mengajaknya berbicara…”

“ Aku saja sudah malu tadi saat tanpa sengaja menjatuhkan cincin yang hendak dibelinya…”

“ Hmm, sepertinya kau tertarik padanya. Lihatlah wajahmu yang memerah itu!”

“ Hahahahaha… mana mungkin seperti itu… kalaupun iya, sayang sekali sepertinya dia akan segera menikah atau minimal bertunangan.” gadis itu tersenyum simpul, masih terbayang di benaknya wajah bingung Donghae saat pertama kali masuk ke toko itu.

“ Bagaimana kau tahu?”

“ Benda yang dibelinya dan nama seorang wanita yang ingin diukirnya dicincin itu…” jawab Seorin sambil memperhatikan kertas berisi tulisan tangan Donghae.

“ Hahaha… kalau kalian berjodoh, kau akan bertemu lagi dengannya.”

“ Mudah-mudahan seperti itu…” jawab Seorin sekenanya. Ia bahkan tidak terlalu berharap hal itu terjadi, hanya seperti candaan yang terlewatkan.

***

          “ Yaa! ShinAe, apa kau sudah mengecek venue-nya? Bagaimana keadaan di sana? Apa sudah sesuai untuk quota yang ditargetkan?”

Saena tampak sibuk mencoret-coret kertas daftar yang berada di tangannya. Pertama kalinya ia benar-benar bersemangat dalam mempersiapkan sebuah konser, padahal biasanya ia akan tampak bosan, walaupun pekerjaan seperti ini yang dipilihnya.

“ Sudah eonni… sepertinya kita harus ganti tempat, pihak OXY Entertainment menolak venue yang kita ajukan untuk tempat konser Sungmin nanti.”

Aish… memangnya kenapa?”

Saena tampak mulai kesal dengan pihak entertainment artis pujaannya itu, bagaimana tidak? Sudah lima tempat yang mereka sarankan dan semuanya ditolak.

“ Katanya tempat itu kurang strategis, penonton akan sulit untuk mencapai lokasinya, walaupun quotanya besar dan mencapai target…”

Aigooo… lalu bagaimana sekarang?”

“ Sudahlah… tenangkan pikiranmu, kenapa kau marah-marah seperti ini?” Sohee berjalan mendekati Saena, tangannya menggenggam sekantung keripik.

“ Aku hanya berusaha membuat semuanya sempurna…”

“ Huh?! Tumben…” Sohee tersenyum mengejek.

Saena mengabaikan perkataan gadis itu, ia masih sibuk dalam dunianya sendiri. Jelas saja, kapan lagi ia bisa turun tangan dalam mempersiapkan konser artis idolanya? Hal itulah yang memicu seorang Kim Saena yang tadinya selalu cuek berubah menjadi bersemangat.

Yaa! Ayolah… rileks sedikit…” Sohee mendekati Saena dan memijat bahu gadis itu, berusaha membuatnya tampak lebih santai.

“ Ah… rasanya aku ingin…”

Drrttt drrttt

          Kata-kata Saena terputus ketika ponselnya bergetar, gadis itu segera mengambil benda itu dari saku jeansnya. Setengah kesal karena benda itu mengganggu pekerjaannya.

“ Eh? Eomma?!”

Saena menekan tombol untuk mengangkat panggilan itu.

Yeoboseyo, eomma… ada apa? Aku sedang berada di tempat kerja dan sedang sibuk sekarang, kalau kau mau menghubungiku nanti saja ya, eommaAnnyeong…”

Bahkan sang lawan bicara belum memberikan sepatah katanya ketika Saena memutuskan panggilannya.

“ Ihhh… itu eomma-mu kan? Kenapa kau memutuskan panggilannya? Dasar tidak sopan!” Sohee mendaratkan jitakannya pada kepala Saena.

Yaa! Kenapa kau menjitakku?”

“ Karena kau tidak sopan…”

“ Memangnya kau siapa? Ibuku?! Seenaknya saja kau, a…”

Drrttt Drrttt

Aishhh! Pasti ini eomma lagi…”

“ Angkat sana…”

Ne, eomma kedua…”

Yaa! Ka…”

Kata-kata Sohee terputus ketika Saena berlari menjauhinya sambil memencet tombol untuk menyambungkan panggilan. Sohee hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menggerutu pelan.

Yeoboseyo, eomma? Aku kan sudah bilang aku sedang di tempat kerja…”

“ DASAR ANAK TIDAK TAHU SOPAN SANTUN! Seenaknya saja kau memutuskan sambungan telepon eomma.”

          “ Hehehehe… mianhae, eomma… aku sedang sangat sibuk sekali bahkan untuk makan saja tidak sempat.”

Tentu saja Saena bohong, gadis itu hanya malas. Karena setiap kali ibunya menelpon pasti tidak jauh dari kegiatan memarahinya atau memberikannya banyak wejangan.

Aish… sudahlah, eomma ingin kau pulang hari ini, ada yang appa dan eomma ingin bicarakan denganmu.”

“ Hmmm hari ini ya? Aku tid…”

“ Kau harus bisa! Titik! Kalau kau tidak pulang nanti malam, eomma dan appa tidak segan-segan akan menghentikan seluruh bantuan untuk keperluan hidupmu sekaligus mengambil fasilitas yang kau punya sekarang.”

Eomma, kau tidak bisa seenaknya begitu…”

Tut tut tut

YAA! EOMMAAAA….EOMAAAAA! Aigooo… ”

Saena melihat display ponselnya dengan pandangan kesal. Ia segera memasukkan benda kecil itu ke saku celananya.

“ Kenapa?” Sohee mendapati adanya gelagat yang tidak beres dari Saena, sekembalinya gadis itu ke ruang kerja mereka.

Eomma menyuruhku pulang ke rumah tiba-tiba, ia bilang kalau aku tidak pulang malam ini, eomma dan appa akan mencabut seluruh fasilitasku termasuk biaya hidupku.”

“ Hahahaha… kalau begitu pulang saja. Apa susahnya? Apa kau tidak rindu pada orang tuamu?”

Sohee tahu persis Saena adalah gadis yang mencintai kebebasan, itulah mengapa gadis itu memutuskan untuk tinggal di luar rumah dan menyewa sebuah apartement yang berada tidak jauh dari tempat kerja mereka. Berada di rumah, membuatnya kurang nyaman apalagi dengan segala macam peraturan yang mengikatnya. Walaupun pada awalnya kedua orang tua gadis itu menolak keinginannya untuk tinggal sendiri, tapi selama ini Saena dapat membuktikan kalau ia bisa hidup mandiri.

Tetapi tetap saja walaupun begitu, biaya untuk menyewa apartement dan beberapa kebutuhan lainnya masih dipenuhi oleh orang tuanya, karena jika hanya mengandalkan uang hasil jerih payahnya saja, semua itu tidak akan cukup untuk semua kebutuhannya.

” Kau tahu alasanku keluar dari rumah kan, sohee-ah? aku benci dikekang oleh eomma-ku sedangkan appa bahkan terlalu sibuk untuk sekedar menanyakan kabarku.” ucap Saena perih.

“… lagipula agak terdengar janggal kalau eomma menyuruhku pulang dan dengan menggunakan ancaman juga.” lanjut Saena sambil berpikir.

” Sudahlah pulang saja….daripada nanti uang untuk kebutuhanmu dihentikan…”

Saena hanya mengangkat kedua bahunya. Malas membahas hal itu lebih lama. Tetapi dalam hatinya, ia mulai berpikir akan ada sesuatu yang berhubungan dengannya tapi apapun hal itu Saena tidak akan peduli. Ia sudah terbiasa untuk menentang argument yang diletakkan oleh orang tuanya, termasuk ketika ia pergi dari rumah untuk tinggal sendiri.

Ne… aku akan pulang.”

***

Pria bertubuh tinggi itu melangkah masuk ke apartement yang disediakan untuknya. Sebuah tempat seluas 200 meter yang hampir sama luasnya dengan kamar pribadinya. Tapi pria itu menyadari tidak ada apartement yang lebih luas dari ini, hanya tempat inilah yang tersisa dari gedung apartement paling mewah, entah di urutan keberapa, yang berhasil di temukan oleh Junshin, managernya.

” Hari ini aku ada jadwal?” suara pria itu terdengar, sedangkan tatapannya terkunci pada pemandangan di bawah sana, tempat kesibukan Seoul terlihat.

” Tidak ada…kau bisa istirahat sekarang.”

” Akhirnya…” pria itu kembali hanyut dalam kegiatannya.

” Tapi jangan lupa besok kau jangan kemana-mana. Jam 2 kau ada konferensi pers untuk rencana konsermu bulan depan.”

” Masih bulan depan… lalu kenapa aku disuruh cepat-cepat ke sini, huh… aneh.”

” Tentu saja kegiatanmu ada banyak di sini, Sungmin-ah. Lahipula ini kan negara kelahiranmu, apa tidak banyak hal yang ingin kau nikmati selagi kembali?”

” Ini juga negara kelahiranmu, Choi Junshin…”

” Makanya aku senang jika kau kembali ke sini, dengan begitu aku bisa kembali ke negara kelahiranku juga.” pria berambut sedikit ikal itu memberikan senyumannya, namun seperti biasa hanya dianggap lalu oleh seorang Lee Sungmin.

Lee Sungmin, seorang pria kelahiran Korea yang tinggal dan berkarya di negaranya sendiri sampai berumur 20 tahun lalu memutuskan pindah mengikuti jejak kedua orang tuanya untuk menetap di Australia, melanjutkan karir bernyanyinya di sana dan berhasil menjadi soloist yang sukses sampai ke mancanegara. Hingga sampai saat ini, ia menggali karirnya di beberapa negara Asia, termasuk negara kelahirannya sendiri, Korea…

Maka di sinilah Sungmin, kembali untuk menatap serpihan kenangan masa lalunya yang hampir terlupakan. Menata kenagan itu kembali menjadi genggaman utuh untuk dapat diraihnya kembali.

” Akhirnya aku di sini lagi ya.” pria itu terpaku seorang diri. Junshin sudah hampir lima menit meninggalkannya di sana sendirian.

Tiba-tiba pria itu tertegun, teringat lagi tentang alasan utamanya tidak menolak saat agensi, tempat ia membesarkan nama, memasukkan negara Korea sebagi salah satu tujuan world tour concert-nya.

Pria itu tertawa, namun yang menyedihkan adalah terdapat kekosongan yang kelewat jelas dalam tawanya. Pria itu hanyut dalam pemikirannya sendiri, tujuan yang harus dicapainya, walaupun ia cukup lama berada di negara itu, karena selain konser, ia juga berada dalam masa promosi album barunya dan Korea adalah salah satu negara tempat ia mengembangkan sayapnya.

I will found you…” begitu yakin dengan tekadnya sendiri.

***

Saena mematikan mesin mobilnya, kaki jenjangnya melangkah pasti menuju tempat di mana ia menghabiskan 20 tahun terakhirnya. Senyuman tidak terukir di wajahnya, mengingat kedatangannya ke tempat itu yang memang dipaksakan, bukan berasal dari keinginan hatinya sendiri.

Ting Tong

Annyeong, nona Saena… anda sudah ditunggu di dalam.”

” Baiklah, terima kasih Jung Ahjumma…” Saena tersenyum, mencoba bersikap sopan terhadap wanita yang telah merawatnya sejak ia masih bayi.

” Mari saya antar, nona…”

Saena melepaskan jaket yang sedang dikenakannya, udara di dalam lorong rumahnya terasa panas. Langkah-langkah mereka semakin menjauh, Saena mulai menyadari kemana mereka menuju, Saena merasa janggal dengan ini. Walaupun hampir satu setengah tahun Saena meninggalkan rumah. Bukan hal sulit untuknya mengingat setiap detail rumah ini, rumah yang hampir seperti penjara untuknya.

Ahjumma, kenapa kau mengantarku ke ruang tamu? Apakah eomma sedang dikunjungi oleh seseorang?”

“ Anda sudah ditunggu, nona…”

Wanita paruh baya itu tidak menjawab pertanyaan Saena, ia hanya membuka pintu ruangan itu dan segera pergi meninggalkan Saena, menambah kerutan-kerutan kecil di dahi Saena.

Saena tidak membuang waktu lebih lama untuk sekedar melamun dan berpikir, gadis itu segera melangkah ke dalam ruang tamu rumahnya. Dari kejauhan ia bisa melihat sesosok wanita yang telah memberikan kehidupan padanya di dunia, wanita yang seharusnya dihormati olehnya namun sekarang, dengan perbuatannya seperti ini, berusaha melawan kehendak wanita itu, bukankah itu berarti ia telah membuang rasa hormatnya?

Wanita itu tampak sedang berbincang-bincang, entah dengan siapa. Saena bisa melihat raut wajah eomma-nya berbinar-binar, satu hal yang jarang sekali bisa dilihatnya.

Annyeong, eomma…”

Wanita itu menoleh dan tersenyum saat mendapati putri tunggalnya melangkah ke arahnya. Saena merasa aneh dengan senyuman ibunya, bukan karena sang ibu jarang tersenyum kepadanya, melainkan ada yang membuat senyuman itu tampak lebih cerah daripada yang biasanya. Entah apa…

“ Saena, sini…”

Gadis itu melangkah menuju ibunya dan langsung membuat Nyonya Kim, ibu dari gadis itu, terperangah sebelum menarik tubuh Saena mendekat dan berbisik di telinga gadis itu.

“ Kenapa dengan penampilanmu?”

Refleks gadis itu melihat baju yang dikenakannya. Gaya khas yang biasa ia gunakan, sederhana dan memang terlihat sedikit berantakan.

Wajar saja, Saena bukan tipe gadis yang suka memperhatikan penampilannya sendiri, ia hanya tampil rapi di kantor dan di acara-acara penting, namun jika hanya ingin berjalan-jalan keluar rumah atau sekedar mengunjungi teman-temannya, maka gaya seperti itulah yang dipilihnya.

“ Memangnya ada masalah, eomma?” gadis itu juga ikut berbisik.

“ Ah, aku lupa! Saena, segera ganti pakaianmu… kau tidak sopan sekali.” Nyonya Kim menarik Saena keluar sebelum gadis itu mengerti apa yang terjadi.

“ Tidak apa-apa, ahjumma… Saena tidak usah mengganti pakaiannya…”

Saena segera menoleh ke sumber suara. Mata gadis itu terbelalak menyadari siapa yang sedang berada di ruang tamu rumahnya, seseorang yang sejak tadi berbincang-bincang dengan ibunya. Saena tidak menyadari kehadiran pria itu di sini, karena ia lebih dulu disibukkan dengan kritik ibunya, yang lagi-lagi menurutnya tidak penting.

“ Kenapa kau ada di sini?” Saena berubah ketus menghadapi pria itu. Campuran rasa kaget dan heran yang berlebihan.

“ Saena… apa-apaan kau? Donghae di sini untuk mengobrol dengan eomma…”

MWO? Sejak kapan eomma mengenalnya dan kenapa aku harus dipanggil ke sini kalau ia datang hanya untuk mengobrol dengan eomma?”

Nyonya Kim menarik tangan Saena untuk duduk kembali, gadis itu itu meronta sebenarnya, namun ia terpaksa menurut karena tatapan ibunya yang seolah-olah berkata ‘duduk dan turuti perkataan eomma, atau kau tahu apa yang akan kau dapatkan nantinya.’

“ Donghae juga ingin mengobrol denganmu, sayang… bukankah kau dan dia hampir lima tahun tidak bertemu?”

“ Lalu, kenapa?”

Saena mulai merasa geram dengan tingkah ibunya yang seolah-olah ingin mendekatkan dirinya dengan pria itu padahal sudah hampir lima tahun ia tidak bertemu dengan pria itu dan tentunya ia berharap tidak aka pernah lagi bertemu dengan pria itu.

“ Aku merindukanmu…” Donghae angkat bicara. Tatapannya mengarah pada Saena, memperhatikan setiap detil penampilan gadis itu. Tentu saja dibandingkan masa sekolah dulu, penampilan Saena sudah jauh berubah. Walaupun penampilan gadis ini sekarang tampak berantakan, menutupi sisi femininnya sebagai seorang perempuan. Hal itu tidak mengurangi pesona seorang Kim Saena di mata Donghae.

“ Siapa yang menyuruhmu bicara?! Aku sedang bicara dengan eomma-ku bukan denganmu!”

Saena mengalihkan pandangannya ke arah Donghae dan tertegun sejenak, ia baru benar-benar memperhatikan penampilan pria itu sekarang. Pria itu tampak jauh lebih tampan dibandingkan waktu terakhir mereka bertemu dan hal itu mau tidak mau harus diakui oleh Saena, walaupun sekarang ia masih sedikit membenci pria itu.

“ Saena! Di mana kau letakkan sopan santunmu? Ini pasti karena kau terlalu lama berada di luar rumah tanpa pengawasan langsung dari eomma dan appa. Untunglah sebentar lagi akan ada seseorang yang bisa eomma dan appa titipkan untuk mengaturmu dan merubahmu menjadi gadis penurut.”

“ Apa? Apa maksud eomma? Aku akan dititipkan pada siapa? Huh! Aku tidak akan mau! Memangnya aku anak kecil? Umurku bahkan sudah hampir dua puluh enam tahun!”

“ Baguslah kalau kau sadar umur! Kau sudah dewasa, Saena…”

Donghae hanya tertawa kecil melihat pertengkaran orang tua dan anaknya yang berada tepat di hadapannya. Secara sifat dan karakter, Saena belum berubah dan hal itu membuat Donghae lega. Tadinya ia sempat berpikir Saena sudah banyak berubah dan hal itu akan menyurutkan niatnya, tapi ternyata Saena sama sekali tidak berubah dan hal itu membuatnya bahagia.

Ne, aku tahu… maka dari itu aku memutuskan untuk tidak lagi tinggal di dalam rumah, aku lebih suka hidup bebas dan selama ini aku tidak pernah melakukan hal-hal yang eomma dan appa takutkan kalau aku tinggal sendirian kan?”

“ Nah karena kau sudah dewasa dan cukup umur, eomma dan appa sudah memutuskan sesuatu untukmu, lagipula kau tidak bisa terus-menerus hidup di luar, kau akan menjadi gadis liar nantinya. Kalau sekarang kau bisa hidup mandiri dengan baik, bagaimana nanti? Siapa yang bisa menjamin kau tidak akan berbuat macam-macam?”

“ Terserah saja kalau eomma tidak percaya… yang jelas aku tidak akan pernah berbuat hal yang eomma tuduhkan padaku…”

“ Jadi, Kim Saena… kedatangan Donghae ke sini bukan hanya untuk berbincang-bincang dengan eomma ataupun karena ia merindukanmu… kedatangannya ke sini adalah untuk… melamarmu, eomma dan appa sudah menyetujuinya, bahkan kami sudah membicarakan hal ini dengan orang tua Donghae.”

“ APA?!”

***

          Pria itu ingin berteriak…

Bahkan kalau bisa ia ingin memberitahu seluruh dunia kalau ia sedang merasa bahagia. Sayangnya ia sedang berada di kantor dan berada dalam pengawasan atasannya, kalau tidak ia mungkin sudah berteriak-teriak sejak tadi.

Walaupun ia bekerja di perusahaan milik keluarga besarnya dan ayahnya memiliki jabatan penting dalam perusahaan itu, bukan berarti Donghae bisa berbuat seenaknya dengan hanya mengandalkan posisi penting sang ayah, apalagi semua saudara-saudaranya juga mendapatkan perlakuan yang sama.

Sang kakek yang menyuruh semua cucunya untuk berjuang dari bawah, jika kinerja mereka bagus, barulah mereka bisa naik jabatan. Jadi tidak ada istilah pilih kasih dalam perusahaan itu, jabatan mereka diperoleh berdasakan kinerja mereka untuk perusahaan dan etika baik mereka, bukan karena mereka adalah bagian dari keluarga pendiri Lee Coorporation.

“ Kulihat dari tadi kau sepertinya sedang gelisah… ada apa? Apa lamaranmu ditolak?”

Donghae menoleh dan bisa melihat Lee Hyukjae atau biasa disapa Eunhyuk, salah satu sepupu yang paling dekat dengannya, berdiri dan meyandarkan tubuhnya di sekat pembatas antara meja kerjanya dan meja kerja pria itu.

“ Aku rasa kita tidak bisa mengobrol di sini…” Donghae berusaha fokus pada pekerjaannya, walaupun ia benar-benar tidak bisa melakukan itu, pikirannya selalu melayang ke arah yang sama dan tentunya itu bukan mengenai pekerjaan.

“ Kenapa tidak? Kau takut itu akan membuat penilaian terhadap kinerja kita menurun? Tenang saja, Donghae… jika kita mengobrol saat mereka semua sedang rapat, tidak akan ada yang mengawasi kita lagipula kulihat sejak tadi kau juga tidak konsentrasi jadi percuma saja kau duduk diam di situ.”

“ Jadi mereka semua sedang rapat? Akh… kenapa kau tidak bilang daritadi?”

Donghae segera melepaskan kertas-kertas yang sejak tadi pagi mengurungnya, namun tidak ada satu perkejaan pun yang bisa diselesaikannya dengan baik.

“ Habisnya aku merasa geli melihat wajahmu yang kusut itu… jadi aku rasa aku mendapatkan sebuah hiburan…”

“ Bagus sekali kau tertawa di saat aku sedang pusing…”

“ Jadi bagaimana kunjungan ke rumah calon mertuamu kemarin? Apa kau bertemu dengan gadismu itu? Bagaimana juga perihal lamaranmu padanya?” Eunhyuk sengaja mengalihkan pembicaraan ke topik yang membuat Donghae kembali tersenyum cerah.

“ Aku bertemu dengannya, hyuk! Coba tebak bagaimana keadaannya sekarang?!”

“ Bagaimana memangnya?”

“ Dia memang sedikit tomboy dan yahh… boleh kubilang berantakan. Tapi sifatnya tetap sama seperti dulu dan aku bersyukur karenanya.”

“ Eoh? Lalu bagaimana perihal lamaranmu padanya? Kau kan sudah mengatakan itu pada orang tuanya dan mereka setuju, lalu bagaimana dengan gadis itu sendiri? Apakah ia juga menyetujuinya?”

“ Sayangnya, aku belum membicarakan hal ini dengannya… aku belum melamarnya secara langsung seperti yang kurencanakan.” Donghae tertunduk sedih.

MWO? Kenapa?”

“ Sepertinya kemarin dia terlalu shock mendengar kalau aku sudah melamarnya dan ia akan segera menikah denganku sehingga kemarin ia langsung pergi begitu saja… Aku rasa ia butuh waktu menghadapi semua ini.”

“ Huh… tindakan yang wajar sepertinya mengingat kau dan dia tidak pernah dekat walaupun kau sudah menyukainya sejak SMA. Bahkan kau bilang dia sempat menjauhimu kan sampai kalian akhirnya sama-sama lulus?”

“ Jangan ingatkan aku tentang hal itu! Aku yang sekarang bukan aku yang dulu saat SMA, aku yakin aku bisa mendapatkan Saena sekarang…”

“ Kenapa kau bisa begitu yakin?”

“ Karena cinta sudah mempertemukan aku dengannya, aku yakin ada cara untuk mendapatkannya.”

“ Dengan cara licik?”

YAA! Apa maksudmu?” Donghae sedikit merasa tersinggung dengan perkataan Eunhyuk yang seperti mengejeknya.

“ Ayolah, Lee Donghae, akui saja… kau melamarnya langsung ke kedua orang tuanya bahkan tanpa gadis itu tahu, itu sama saja kau memakai orang lain untuk memaksanya menikah denganmu… bukan dengan cara kau mendekatinya secara perlahan baru melamarnya…”

“ Aku pikir akan jauh lebih baik mendekatinya setelah kami menikah nanti… setidaknya ia sudah terlebih dulu menjadi milikku.”

“ Terserah kau saja, Tuan Lee… semoga berhasil!”

***

          “ Baiklah, chagi… jaga kesehatanmu, ne? Jangan lupa minum vitamin yang kuberikan padamu… Selamat bekerja… bye…”

Sohee memutuskan sambungan teleponnya, gadis itu memandang layar ponselnya dengan senyuman.

“ Huhuhuhu… hiks… hiks…”

Refleks Sohee langsung menajamkan pendengarannya dan begitu yakin suara apa itu, tubuhnya langsung bergidik ngeri walaupun itu adalah siang hari dan ia sedang tidak sendirian berada di sana.

Tapi siapa yang tidak takut mendengar suara tangisan menyayat hati itu?

“ SAENAAA… Kau dengar suara itu?” Sohee berteriak saat ia menyadari suara itu berada di dekatnya bahkan seperti ada seseorang yang menangis di sebelahnya.

Sayangnya nama seseorang yang dipanggil itu tidak kunjung menjawab, menambah rasa takut yang merambati Sohee.

“ Saena…”

Sohee mengira gadis itu sudah pingsan saking ketakutannya, gadis itu memberanikan diri itu melangkah menuju meja kerja Saena dan apa yang didapati oleh gadis itu?

“ SAENA, TERNYATA KAU YANG MENANGIS?! Aisshhhh! Tadinya kukira ada hantu, tapi masa iya hantu muncul siang-siang begini.”

“Hiks… hikss… sroottt…”

Tangisan Saena makin menjadi-jadi membuat Sohee merasa sedikit iba melihat sahabatnya yang biasa terlihat tegar menjadi sedemikian rapuh.

YAA! Kau kenapa? Kalau ada masalah ceritakan saja, Saena-ah…”

“ HUWAAAA SOHEEE-AH!”

Saena memeluk sahabatnya itu dan menangis di sana, sukses membuat baju Sohee yang tadinya bersih memiliki bercak-bercak kecil.

YAA! YAA! Sudah menangisnya di kursimu saja.”

Saena menurut dan kembali duduk di kursinya, gadis itu memijat kepalanya yang sedikit pusing karena menangis dalam jangka waktu yang cukup lama.

“ Sekarang, pelan-pelan ceritakan padaku, ada apa?”

“ Aku akan dinikahkan… HUWAAAAA…”

MWO?!!”

Sohee membulatkan matanya, bagaimana mungkin gadis pecinta kebebasan itu akan segera menikah? Ia bahkan pernah mengatakan tidak akan menikah mungkin kecuali dengan Lee Sungmin, idolanya itu.

Ne, kemarin aku di suruh pulang hanya untuk diberitahu berita menyedihkan itu…huwaa bagaimana ini? Eomma mengancam lagi dan kali ini tidak ada jalan lain selain menikah dengan pria gila itu. AAA… Aku tidak mau.”

“ Bukannya malah bagus? Daripada kau yang jadi gila gara-gara ingin menikah dengan Sungmin, padahal kau tahu itu tidak mungkin.”

“ Siapa bilang? Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini… Siapa tahu aku dan Sungmin berjodoh.”

“ Ihhh… tuh kan kau mulai ngaco lagi… lagipula kalau eomma-mu sudah setuju berarti dia pria yang baik kan?”

“ Aku tidak tahu yang jelas aku membencinya sejak SMA! Huwaaa, eommaa kenapa kau tega sekali pada anakmu yang kece ini?”

Aishhh, jadi dia musuhmu begitu?”

“ Hmm, ya bisa dibilang seperti itu…”

“ Sudahlah, terima saja nasibmu, aku tahu pasti eomma-mu mengancam untuk tidak memberikan biaya hidupmu lagi kan? Lebih baik kau menikah saja daripada kau hidup luntang-lantung.”

“ Tapi aku takut!”

“ Kenapa?”

“ Bagaimana jika pria jelek itu melarangku bekerja setelah menikah? HUWAAA! Kau tahu aku tidak akan bisa mengandalkan eomma dan appa, mereka akan mendukung niatnya, eomma dan appa memang tidak pernah setuju jika aku bekerja di sini. Kau kan tahu, Sohee-ah… kalau aku bekerja di sini aku bisa sering melihat banyak namja cakep bertebaran di mana-mana.”

Aisshhh, memangnya seburuk apa sih namja itu?”

“ Aku sedang tidak ingin membicarakannya, mungkin suatu saat nanti kalau aku mood pasti aku ceritakan, kalau tidak yaaa… mungkin akan lebih baik kalau kau tidak tahu.”

Aish! Lagipula kalau dia pria yang baik dia pasti akan mengizinkanmu bekerja kecuali mungkin kalau kalian punya anak nanti… bisa-bisa dia…”

“ NAH! Itu dia!”

Saena tiba-tiba berteriak memotong perkataan Sohee. Gadis itu hanya bisa terperangah dibuatnya.

“ Kenapa kau berteriak? Aisshhh!”

“ Itu hal aku takutkan juga… soal, yaah kau tahu… bagaimana kalau aku hamil nanti?”
“ APA? Jadi karena itu? Hmmmpphhh…. Hahahahahahahaha…”

Sohee tertawa dengan sadisnya menyisakan Saena yang menatapnya dengan pandangan seolah-olah ingin mencekik Sohee.

“ Kenapa kau tertawa? Huh?! Memangnya ada yang lucu?”

“ Jelas saja! Kau ini aneh, kalau kau sudah menikah dengannya hamil itu adalah hal yang wajar, justru kalau kau sudah menikah, punya anak pasti akan jadi poin utama kan?”

“ Justru itu yang aku takutkan! Aku saja tidak bisa mengurus diriku sendiri… bagaimana aku harus mengurus anakku kelak? Rasanya aku tidak siap menghadapi semua ini. Aigoooo…”

“ Sudahlah, sekarang lebih baik kau lupakan dulu masalahmu itu. Aku punya kabar gembira.”

“ Memangnya apa?”

“ Hmmm… apa ya?” Sohee sok misterius.

“ APA?!” Saena merasa semakin kesal dibuatnya, ia berharap curhat dengan Sohee akan membawa pencerahan tetapi ternyata ujung-ujungnya ia malah diledek habis-habisan seperti ini.

Ne, akan kuberitahu… besok rencananya Sungmin akan ke kantor kita untuk membicarakan perihal konser tunggalnya bulan depan…”

Mwo?! Kau serius? YUHUUUUUU…. Akhirnya aku bisa bertemu dengan idolaku secara langsung.”

Seketika itu, Saena lupa dengan masalahnya, membuat Sohee menatap sahabatnya itu dengan tatapan heran yang teramat jelas.

Aigoo… hanya dengan mendengar nama Sungmin, ia seperti sudah melupakan masalahnya itu.”

***

          Seorin mempercepat langkahnya menuju rumah, langit yang tadinya cerah sekarang mendadak berubah menjadi mendung dengan awan berwarna kelabu yang dengan sigap melelehkan dirinya menjadi tetes-tetes air yang membasahi permukaan bumi. Gadis itu tidak ingin kehujanan, ia tahu sejak kecil ia adalah anak yang rentan. Ia mudah sekali jatuh sakit.

Hal itu bukan pertanda baik untuknya, karena ia harus bekerja keras, lebih keras lagi karena ia belum membayar sewa rumah selama beberapa bulan ke belakang. Ia harus segera membayarnya jika tidak ingin keluar dari rumah yang sudah melindunginya hampir dua tahun belakangan.

Krieeett…

Bunyi yang cukup menyiksa telinga, gesekkan antara logam besi dengan lantai semen yang berada di bawahnya, ditambah dengan engselnya yang mulai berkarat, menyisakan bunyi yang cukup mengerikan namun Seorin tidak pernah peduli, hampir setiap hari ia mendengar bunyi itu, untuknya masih mempunyai tempat berteduh adalah hal yang patut disyukurinya.

Annyeong, eonniah… aku pulang.”

Seorin melepaskan sepatunya dan meletakkan benda itu di rak yang berada tidak jauh dari pintu masuk. Gadis itu melangkah riang menuju ke dapur dan meletakkan bahan makanan yang baru saja dibelinya. Tidak banyak… mungkin hanya cukup untuk persediaan makanan selama beberapa hari, walaupun ia hanya tinggal berdua dengan sang kakak.

Seorin menyusun bahan makanan itu dengan cekatan dan menyisakan beberapa di atas meja untuk diolahnya menjadi menu makan malam.

Seorin merasa ganjil…

Tidak ada jawaban, memang selalu seperti itu… Seorin harusnya mulai terbiasa dan menerima keadaan. Kakaknya tidak pernah menjawab salam yang ia teriakkan sebelum pergi dan setelah pulang dari kerja.

Tapi entah mengapa, hal itu selalu dilakukannya setiap hari. Ia seolah tidak bosan disambut oleh keheningan yang menyiksa.

Seorin melangkah menuju kamarnya dan sang kakak, meninggalkan beberapa bahan makanan yang masih tertutup plastik bening. Menurutnya, melihat keadaan kakaknya jauh lebih penting.

Eonni, bagaimana keadaanmu saat aku bekerja tadi? Apa kau sudah merasa lebih baik?”

Seorin berjalan pelan menuju sesosok manusia yang terduduk diam di atas kursi rodanya. Manusia itu tidak berekspresi sedikit pun, tatapannya kosong mengarah pada jendela yang menampilkan lukisan hujan.

Eonni, apa kau lapar? Mianhae karena aku meninggalkamu begitu lama, hari ini aku senang sekali, eonni. Toko sedang ramai dan sepertinya manager puas dengan hasil kerja kami padahal sebelumnya sejak pagi toko sepi sekali dan setelah siang barulah ramai, kami seperti kebanjiran pengunjung.”

Gadis itu tidak bergeming… hanya deru nafasnya yang teratur serta bola matanya yang berkedip konstan yang masih menandakan adanya kehidupan di raganya.

“ Kau tahu, eonni… kalau manager senang dengan hasil kerja kami, itu berarti kami akan mendapatkan bonus untuk tahun ini! Kau senang kan, eonni? Aku bisa membayar tunggakan sewa rumah sehingga Kwon Ahjumma yang cerewet itu tidak lagi harus datang setiap hari dan berteriak-teriak menyuruhku membayar tunggakannya. Padahal harusnya ia mengerti kalau aku tidak punya uang. Huh! Dasar ahjumma galak…”

Seorin terus bercerita, tidak peduli sang kakak tidak memberikan respon sedikitpun. Senyuman tak pernah lepas dari wajah cantiknya, gadis itu seolah sudah tegar dan menerima semuanya dengan lapang dada.

Eonni, aku merindukanmu… cepatlah sembuh, eonni dan kembali seperti kau yang dulu.”

Gadis itu tersenyum perih.

***

          “ HUWAAAA! Hujan! Eottokkhe?!”

Saena menggerutu kesal karena tiba-tiba langit yang cerah berubah menjadi mendung dan kenapa di saat dirinya tidak membawa mobil malah sang peri hujan dengan senang hati mengayunkan tongkatnya untuk membasahi bumi?

“ Kalau saja mobilku tidak harus masuk bengkel dan aku tidak harus lembur, aku tidak akan terjebak!”

Saena menghentakkan kakinya kesal, ia melihat jam tangannya. Pukul 7 malam… kalau hujan tidak kunjung berhenti bukan tidak mungkin Saena akan menginap di kantor kecuali ia nekat basah-basahan untuk mencari taxi. Sohee sudah pulang dari dua jam yang lalu, jadi Saena tidak bisa menumpang mobil gadis itu.

Aishhh berapa lama lagi?!”

“ Mau tumpangan, nona? Tenang saja gratis kok!”

Saena menoleh saat mendengar ada seseorang yang berbicara padanya. Gadis itu cukup terkejut mendapati siapa orang itu. Refleks Saena memundurkan tubuhnya dan hampir menabrak seseorang yang berjalan di belakangnya.

Yaa! Nona, hati-hati!”

“ Ah! Mianhamnida!”

Saena membungkukkan badannya dan meminta maaf saat orang itu menegurnya. Setelah orang itu berlalu, Saena segera berjalan meninggalkan Donghae yang tiba-tiba muncul di kantornya.

“ Kau mau tidur semalaman di sini? Aku sudah berbaik hati menjemputmu lohh…”

Saena tidak memperdulikan ucapan Donghae, ia sibuk memikirkan bagaimana cara untuk menolak ajakan pria ini.

“ Ayolah… aku tahu di mana apartementmu …”

Shireooo… aku tidak butuh bantuanmu.”

“ Aku ini kan calon suamimu, kau akan sering kujemput seperti ini, jadi biasakan dirimu, chagi…”

MWO?! Tidak! Tidak akan… kau tidak akan menikah denganku.”

“ Kenapa tidak?”

“ Ka… karena… karena aku…” Saena kesulitan mencari alasan, apalagi wajah Donghae sangat dekat dengannya, membuat ia merasa sedikit gugup.

Tidak mungkin Saena hanya mengatakan alasan klasik macam ‘ aku tidak mencintaimu’ pada Donghae karena pria itu akan terus-terusan muncul.

“ Kau mau mencari alasan apa lagi, huh?! Aku tahu Saena cepat atau lambat kau akan jatuh cinta padaku.” Donghae melipat kedua tangannya di depan dada. Tatapan meremehkan yang dilontarkannya membuat Saena muak.

“ Siapa bilang, Tuan Lee, kau jangan kepedean! Aku sudah mempunyai namjachingu!”

***

To Be Continued

 Yahhhhh akhirnyaaa aku bisa ngepost ini juga😀 maaf karena jadwal kmrn terabaikan A.A. Aku lagi berusaha ngetik kok hehehe tenang aja ;D

Hmm untuk ff ini karena biar ada unsur ceria2nya begitu soalnya aku kebiasaan bikin angst A,A, jadi aku make dua jenis bahasa. Jadiii jangan heran ya kalo tiba2 dari serius berubah jdi gaje. Hahahaha itulah trik aku supaya ff ini bis lebih ya berwarna kan biasanya aku surem -__-a

Okeehhh Lestrina eonnii semoga puas ya, maaf kalo kurang panjang u.u chap depan lebih panjang kok eonni😀

13 thoughts on “[Korean Fanfiction/ Straight/ Mini Drama] Without Words (Chapter 1)

  1. Ga gaje koq saeng…ada unsur komedinya ya, gpp tuch eon jd suka bgt. Jiyeon kirain frustasi krn apa ehhh krn takut ga bis ngurus anak n takut dilarang ga boleh kerja jiahh kirain apa. disini sikap jiyeon kurang cool ya n donghae agak gokil juga ya hehehe.
    Seorin disini sbg org ketiga ya, jgn2 sungmin juga ya. Gpp yg penting happy ending hehehe

    • Ehekkk eonniiii
      Jiyeon? eonniiii ini ocnya Saena loh ^^v

      ehh iyaaa lupa aku eonn A.A harusnya di sini Saena cool kyk di WIHYON cuma berhubung cerita ini konfliknya masih ribet jadinya aku bkin ceria sifatnya cuma dingin ke Donghae aja😄
      maaf ya eon aku lupa A,A
      ntar kapan2 aku bkin lagi deh yg Saenanya kyk gtu🙂
      Seorin n Sungmin memang org ketiga n keempat😀

      Okee eonni
      makasih udah baca + komen🙂

      • Iya saena koq…Sorry lupa…inget jiyeon krn lg buat ff yg castnya jiyeon.
        Okok..tp moment saena n donhae diperbanyak ya. Dtunggu ya part 2nya

  2. huaahh..penasaraann akuuttt..
    masalah apa yg bkin saena benci sm hae? siapa cwe yg bkin sungmin smngat buat ditemuin? truz apa sebab’a eonni’a seorin jg lumpuh?

    huaahh..pertanyaan itu yg muter2 dikpalaku..
    aq mikir’a mgk gak cwe yg pngen dicari sumngmin itu eonni’a seorin??

  3. Eonni sukses bikin aku penasaran lagi. Haha
    Bext chapter jangan lama2 ya.
    Gaya bahsanya udah bagus & alurnya ga berantakan juga.
    Kwep writing eonni😀

  4. napa saena benci bgt sm hae?
    siapa gerangan gadis kecil yg dulu dpanggil hipo sm hae?
    sekarang kok hae ngejar2 saena, apa hae sdh lupa sm hipo?

  5. penasran ne saeng sma next chap na…
    Kra2 ap y y’ bkin saena tu bnci sma si Ikaan ganteng y’ stu it…
    Dtnggu lnjtan na saeng

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s