[Korean Fanfiction/ Straight/ Mini Drama] Without Words (Chapter 2)

 

 

Cover ff Without words chapter 2

 

Title       : Without Words

Author  : Kim Saena a.k.a Devi

Rating   : PG13/NC17/ Straight

Length : Mini Drama (8-10 Chapter)

Genre   : Romance, Married Life, Friendship, Hurt,  Angst, A Little Bit Comedy

Cast       :

Main Cast            : Super Junior- Lee Donghae

Kim Saena (OC)

Support Cast      : Ahn Seorin (OC)

Super Junior – Lee Sungmin, Lee Hyukjae a.k.a Eunhyuk

Han Sohee (OC)

Other Cast          : FIND BY YOURSELF!

Disclaimer          : Super junior is belong to God, SM Entertaiment, and their parents. It’s just for fun. Please don’t sue me. This story is mine. Don’t take this fanfic without permission from me. If you want to take this fanfic. Please take with full credit.          

#NP – Jang Geum Seuk & Park Shin Hye – Without Words (OST. You’re Beautiful)

Chapter 2 – The Day When I Love You

Special Guest                                                           

Apink – Son Naeun, Jung Eunji

B.A.P – Bang Yongguk

Flashback

” Diumumkan kepada seorang siswi kelas 12 Social Science 3 bernama Kim Saena untuk segera datang ke depan perpustakaan pada saat jam istirahat nanti. Terima Kasih.”

Perhatian seluruh siswa yang tadinya tertuju pada pengumuman yang terdengar melalui speaker yang dipasang di setiap ruangan di sekolah itu, langsung pecah saat mengetahui pengumuman itu bukan bersifat universal. Mereka langsung menuju kegiatan mereka masing-masing yang sempat tertunda karena pengumuman itu. Ada yang menggerutu, ada yang hanya diam saja, berusaha terasing dari keadaan.

Aish… kenapa sih aku harus dipanggil segala?” Sang empunya nama berkomentar kecil dengan volume suara yang ditekan. Tindakan yang wajar, karena ia berada di dalam kelas.

” Barangkali kau mau mendapat hadiah…” celetuk seseorang yang kebetulan berada di dekatnya.

” Aku tak pernah ikut kuis atau lomba apapun…” gadis itu menjawab dengan nada datar.

” Siswa berprestasi?”

” Jangan bercanda, Son Naeun… aku bahkan tidak pernah mencetak angka yang benar-benar fantastis.” gadis itu berbalik tampa ketahuan, keadaan sedang mendukungnya untuk melakukan itu.

” Ah, aku kan hanya mengira-ngira…” gadis berambut panjang itu kembali fokus pada buku paketnya.

” Apa pernah kau melakukan kesalahan?” Gadis lainnya membelah percakapan kedua orang itu.

” Mungkin tidak, Eunji-ah…” gadis itu mencoba mengingat-ingat apa yang pernah dilakukannya. Mungkin salah satu dari hal itu menjadi catatan buruk baginya.

“…. atau mungkin pernah, tapi aku tidak sadar.” gadis itu melanjutkan dengan nada tenang.

” Tapi anehnya kenapa harus di depan perpustakaan?” Eunji melanjutkan argumentasinya.

” Nah itu yang aku tidak tahu…”

” Kau pernah merusak buku perpustakaan mungkin atau pernah belum mengembalikan buku?”

” Tidak sesadis itu juga, Naeun-ah. Kau pikir aku senakal itu? Bahkan meminjam buku di perpustakaan saja baru dua kali.”

” Lalu apa?”

Ketiga gadis itu malah sibuk membicarakan kemungkinan-kemungkinan kenapa Saena dipanggil tiba-tiba, tapi mereka bertiga lupa satu hal. Hal yang mungkin akan menimpa mereka sebentar lagi.

” JUNG EUNJI, SON NAEUN, KIM SAENA, keluar dari kelas sekarang juga dan lanjutkan obrolan kalian di luar. Tunggu hukuman saya setelah pelajaran ini selesai.”

Ketiga gadis itu refleks menghentikan obrolan mereka dan melangkah sambil menundukkan wajah mereka di bawah tatapan geli anak-anak 1 kelas.

Ya, satu hal yang mereka lupakan adalah mereka masih berada di dalam kelas!

***

Saena melangkah gontai menuju perpustakaan tempat ia diminta untuk datang. Hal yang membuatnya terpaksa dikeluarkan dari kelas serta diberi hukuman menulis essay 5000 kata tentang pergeseran lempeng bumi. Sungguh hari yang benar-benar menyenangkan bagi seorang Kim Saena.

” Sepi?!” Saena mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru koridor, namun yang didapatinya hanya kesunyian.

” Benar kan di depan perpustakaan?” Saena berusaha mengingat-ingat apa yang diumumkan nelalui pengeras suara hampir satu jam yang lalu.

” Jangan-jangan… aku hanya dikerjai oleh Naeun dan Eunji! Bisa saja mereka menyuruh teman mereka yang berada di radio sekolah untuk menyebarkannya.” Saena menggeram dan menjatuhkan tubuhnya di atas kursi di depan ruangan itu.

Memang hanya anggota OSIS dan murid yang tergabung dalam radio sekolah yang bisa menggunakan fasilitas pengeras suara, yang biasa digunakan untuk memberi pengumuman, dengan lebih leluasa. Saena tahu persis kedua temannya itu cukup dekat dengan beberapa anggota radio sekolah. Apalagi Eunji pernah tergabung dalam organisasi itu sebelum memutuskan keluar karena ingin fokus pada pelajaran apalagi ia disibukkan dengan setumpuk kegiatan lain, yang memaksanya melepaskan jabatan.

” Kalau benar, salah satu dari mereka atau bahkan dua-duanya bekerja sama untuk mengerjaiku. Awas saja… akan aku balas mereka semua.”

Bruk!

          “ As…”

          Saena bangkit dari posisi duduknya dan hampir saja naik ke atas kursi, saking kagetnya dengan kemunculan seorang pria yang tiba-tiba jatuh di hadapannya.

          Saena tidak berniat membantu pria itu bangun, bukan karena ia tidak kasihan, ataupun karena hati nuraninya tidak terketuk, melainkan lebih karena rasa kagetnya yang belum hilang dengan kehadiran pria itu.

          Saena hanya melihat pria itu bangkit dari posisi jatuhnya yang terlungkup dan sekarang berada dalam posisi duduk. Setelah kesadaran Saena kembali, gadis itu memutuskan untuk mengambil kacamata milik pria itu yang terhempas tidak jauh dari tempatnya berdiri. Kemudian melangkah hati-hati menuju pria itu.

          “ I… Ini kacamatamu… Neo gwenchana?”

          Saena menghampiri pria itu dan menyodorkan kacamata yang dipegangnya. Pria itu mengambil kacamatanya dari tangan Saena.

          “ Aku baik-baik saja… terima kasih…”

          Pria itu mengangkat wajahnya dan tertegun saat mengetahui siapa yang baru saja memberikan pertolongan padanya. Saena juga tertegun melihat wajah pria itu tanpa kacamata yang membingkai di sana, lebih memukau dengan bola mata kecoklatan itu yang mengurungnya.

          “ Sa… Saena… Kau sudah datang rupanya… ah, mianhae, aku terlambat.” Pria itu bangkit dari posisi duduknya dan membersihkan sisa-sisa debu yang menempel di permukaan celana panjangnya.

          “ Terlambat?! Jadi kau yang menyuruhku datang ke sini?”

          Sejenak Saena merasa bingung, apalagi pria itu, walaupun dikenalnya, cukup jarang berkomunikasi dengan dirinya. Hanya membicarakan hal-hal tidak penting dan sebatas lalu, kemudian terputus karena mereka tidak lagi satu kelas.

          “ Ne, euhmmm maaf aku yang terlambat.”

          “ Baiklah… ada apa, Donghae-ah?”

          Pria itu tidak langsung menjawab, ia menundukkan wajahnya dan berjalan dalam diam ke arah balkon, membuat tanda berbentuk lingkaran menggunakan jari-jarinya di udara, seolah memberi pertanda akan satu hal yang akan dimulai.

          Saena memperhatikan tingkah pria itu dari jauh dan terkejut dengan apa yang terjadi setelah pria itu menurunkan tangannya. Sebuah spanduk, dengan ukuran cukup besar, dengan tulisan warna-warni, terpasang jelas di gedung yang berada di sebrang tempat mereka berdiri sekarang ini.

Kim Saena

Would You Be My Girl?

          “ Saena… sebenarnya aku… sebenarnya aku sudah lama menyukaimu dan menyimpan perasaan padamu.”

          DUAR!

          Saena tidak sanggup mengatakan apapun, berita yang diterimanya hari ini benar-benar mengejutkan dan berada pada saat yang tidak tepat.

          “ Ayolah, Saena! Terima saja… Kasihan loh dia sudah menyiapkan semua ini sejak lama…”

          “ Iya, terima saja, kalian berdua cocok kok…”

          “ TERIMA… TERIMA…TERIMA…”

          Saena melihat ke bawah dan sudah banyak manusia berkerumun di sana. Tulisan yang dipasang Donghae memang cukup besar dan jelas terbaca oleh mereka semua. Saena merasakan pipinya bersemu merah, ia tidak bisa bergerak dari tempatnya sekarang.

          “ Saena…aku…”

          “ KAU KETERLALUAN, LEE DONGHAE! Kau membuatku malu! Aku membencimu…”

          Saena berlari meninggalkan Donghae sendirian. Pria itu terkejut dan langsung mengejar Saena, sayangnya gadis itu tidak pernah mau mendengar penjelasan Donghae.

          Sejak saat itu Saena membenci Donghae, untuk alasan yang sebenarnya terdengar sepele.

Flashback End

Without Words │©2013 by Ksaena

Chapter 2- The Day When I Love You

ALL RIGHT RESERVED

 

” Arghhh!”

Saena terbangun dari tidurnya dan refleks memegang dadanya, menyeimbangkan detak jantungnya yang terlalu bebas. Tidak stabil, seolah organ yang menunjang kehidupannya itu akan loncat keluar menembus tulang rusuk pelindungnya, membelah dadanya.

“Kenapa aku bisa memimpikan hari itu?”

Tentu saja… tidak pernah hilang dalam ingatannya, bagaimana cara Donghae menyatakan perasaan padanya. Sulit diterima oleh Saena, betapa cara itu mempermalukannya di depan semua orang.

Bahkan hampir seminggu setelahnya Saena diledek seluruh murid yang melihat atau mendengat perihal kejadian itu. Membuat gadis itu enggan untuk sekedar bertatap muka dengan Donghae apalagi mendengar penjelasan pria itu.

Baginya prilaku Donghae terlalu di luar nalar, mereka bahkan tidak pernah dekat sebelumnya, lalu apa hal yang mendasari keinginan pria itu untuk memintanya menjadi kekasih? Mungkin Saena yang tidak peka terhadap kemungkinan Donghae mencintainya sejak lama, tetapi tetap saja untuknya langkah yang diambil Donghae terlalu terburu-buru.

Hal yang terdengar kekanakkan memang tapi Saena terlanjur membencinya dan rasa itu tidak pernah hilang walaupun Donghae tidak pernah lagi mengganggunya. Tapi apa yang yerjadi sekarang sungguh di luar dugaannya. Pria itu kembali bahkan membawa hal yang lebih ekstrim untuk kehidupannya.

Pernikahan…

Hal yang bahkan dalam mimpi pun tidak pernah terbesit di dalam pemikirannya, apalagi dengan pria itu… pria yang pernah membuatnya malu, pria yang pernah hampir membuatnya bersumpah untuk tidak menerima pria manapun lagi untuk mendekatinya.

Lalu bagaimana dengan Lee Sungmin idolanya?

Saena tidak pernah menganggap ucapan tentang pernikahan adalah hal yang serius. Ia hanya menganggapnya lalu. Menikah dengan Sungmin?! Itu hal yang mustahil baginya, jadi untuknya sah-sah saja mengatakan hal itu sama seperti fans lainnya mengatakan hal yang sama. Untuk main-main dan sekedar pemanis bibir.

Lalu sekarang muncul lelucon baru mengenai pernikahannya dan Donghae. Walaupun penampilan pria itu sudah jauh berubah dari sejak pertama kali Saena bertemu denganya bahkan pria itu sempat membuatnya terpesona. Sebagai wanita normal, Saena mengakui Donghae tampan… sangat tampan.

Pria itu kaya, bisa dilihat dari penampilan luarnya, bagaimana cara pria itu berpakaian, barang bermerk yang dikenakannya dan hal-hal lain yang memperlihatkan kemampuan finansial pria itu. Pria itu luar biasa dan pastinya mempunyai hal-hal yang membuat orang tuanya tertarik dan akhirnya setuju menikahkannya dengan Donghae.

Terkadang Saena sendiri tidak mengerti apa yang dilihat pria itu darinya. Dia tidak cantik bahkan bisa dibilang jelek dengan penampilan awut-awutannya.

Kaya?

Itu lebih tidak mungkin lagi… untuk apa seorang Lee Donghae yang sudah kaya raya melihat dirinya yang lebih miskin daripada pria itu?

Cerdas?

Sepertinya julukan itu malah lebih cocok disandangkan dengan seorang Lee Donghae. Walaupun Saena menjauhi pria itu, bukan berarti ia tidak tahu, Donghae mendapat peringkat pertama kelulusan di tahun ajaran mereka.

Lalu apa yang dilihat pria itu dari sosok Kim Saena? Bahkan di luar sana ada jauh lebih banyak gadis yang bisa dinikahinya dan tentu saja lebih baik dibandingkan diri seorang Kim Saena.

Aishhh! Lama-lama aku bisa gila kalau memikirkannya terus… mudah-mudahan ia percaya dengan alasanku kemarin dan menjauhiku.”

Cukup lama Saena terdiam di atas tempat tidurnya, sampai ia sadar akan satu hal. Bagaimana kalau pria itu meminta untuk bertemu dengan kekasih ‘palsunya’ ? Bagaimana jika Donghae baru percaya jika ia mengenalkan kekasihnya, yang bahkan tidak nyata itu, pada Donghae?

“ Astaga! Sekarang aku harus bagaimana?!”

***

          Donghae mengacak rambutnya sebelum benar-benar bangkit dari posisi tidurnya. Ia harus menguap beberapa kali sebelum benar-benar membuka kedua matanya secara sempurna.

“ Sekarang jam berapa?” pria itu menoleh ke arah jam weker yang terletak di sebelah tempat tidurnya. Benda itu bahkan sudah bernyanyi sejak hampir dua jam yang lalu untuk membangukannya dari tidur.

Tapi hal itu sia-sia, karena sang pemilik kamar baru saja membuka matanya beberapa menit yang lalu. Oh tentu saja, karena pria berpostur hampir mendekati sempurna itu baru bisa tidur pukul empat pagi setelah sebelumnya uring-uringan dan bergerak gelisah tak kauan dalam tidurnya.

Siapa lagi yang bisa membuat seorang Lee Donghae uring-uringan seperti itu kalau bukan seorang Kim Saena?

Bahkan sejak kelas 1 SMA sampai sekarang, itu sudah berlalu sekitar hampir tujuh tahun yang lalu, sosok Kim Saena tidak pernah hilang dalam ingatan Donghae. Setelah ia gagal mendapatkan Saena saat SMA, sekaranglah saatnya pembuktian itu. Ia tidak boleh gagal lagi dan kali ini ia harus membuktikan kesungguhannya.

Namun apa daya, berita yang diberikan Saena kemarin, lagi-lagi harus membuatnya termenung. Ia sedikit kecewa ketika mengetahui gadis itu sudah memiliki kekasih. Tetapi bukan Lee Donghae namanya kalau ia menyerah begitu saja, baiklah waktu SMA ia menjadi pengecut karena tidak berani mendekati Saena setelah kejadian itu.

Tapi sekarang ia akan dengan sigap dan berani menghadapi semua itu, termasuk untuk mendapatkan Saena kembali. Lalu apa yang harus dilakukannya sekarang untuk membua Saena berpaling padanya?

“ Apa aku terlambat?” Donghae merasa sudah mengambil jalan yang tepat hanya saja waktu yang tidak terlalu diperhitungkannya.

“ Tunggu saja, Saena… aku pasti bisa mendapatkanmu kembali!”

Pria itu muncul dengan tekad baru di hatinya. Sebelumnya ia harus tahu siapa sosok pria yang tengah menjadi kekasih Saena sekarang, karena sesungguhnya ia belum 100 % percaya pada omongan gadis itu.

Donghae segera berlari ke kamar mandi dan menghilang di baliknya.

A few minutes later…

Donghae berlari menuju ke meja makan dan ia hanya mendapati sosok ibunya di sana. Itu sudah jelas mengingat dirinya sudah sangat terlambat untuk datang ke kantor. Ayahnya pasti sudah berangkat sejak tadi, tetapi Donghae sudah siap jika nanti ia mendapat teguran. Ini pertama kalinya ia datang terlambat, jadi sudah pasti ia akan mendapat dispensasi walaupun ia terlambat hampir tiga jam.

“ Donghae! Akhirnya kau bangun juga… eomma sudah lelah membangunkanmu sejak tadi… apa yang terjadi, huh?! Kau terlihat kurang tidur.”

Sang ibu segera menghampiri putra semata wayangnya itu dan menyentuh lingkaran hitam di sekitar matanya.

“ Hmm, ne, eomma, semalam aku tidak bisa tidur. Eomma kenapa belum berangkat?” Donghae segera duduk di kursinya dan bergerak cepat mengambil beberapa potong roti dan mengoleskan selai di atasnya. Ia tidak punya banyak waktu sekarang, bisa-bisa ia sampai di kantor menjelang jam makan siang.

Eomma menunggumu, honey…”

“ Euhmm, eomma… aku boleh meminta satu hal?”

Donghae berkata di sela-sela kegiatan sarapannya. Sang ibu hanya mengangguk dan menunggu kata-kata selanjutnya yang akan keluar dari mulut Donghae.

“ Aku ingin pernikahanku dan Saena dipercepat.”

Tercetak ekspresi sumringah dari wajah wanita paruh baya itu, ia pun tersenyum sebelum memberikan jawaban.

Ne, tentu saja… semakin cepat semakin baik.”

Donghae tersenyum, namun ia tidak menyadari ada ekspresi lain di balik senyuman ibunya.

***

          “ Arghhh… bagaimana ini?! Apa yang harus aku lakukan?”

Saena berteriak untuk yang kesekian kalinya hari itu. Tentu saja gadis itu tidak bisa konsentrasi untuk melanjutkan pekerjaannya. Pikirnnya terlalu fokus pada satu hal dan hal itu berhasil membelenggunya, memecah konsentrasi yang berusaha dibangunnya.

“ Sudahlah… terima saja nasibmu itu… menikah tidak terlalu buruk kok…”

Sohee menyambung teriakan Saena di sela-sela kegiatannya bermesraan di telepon dengan sang kekasih, membuat Saena mendelik padanya.

“ Kau tidak tahu bagaimana rasanya, Sohee-ah, jadi diam saja! Lagipula ini jam kerja kenapa kau malah asyik menelpon kekasihmu itu?!”

Sohee mengeser kursinya sehingga ia bisa bertatapan dengan Saena. Tangan kirinya masih asyik memegang ponsel, sementara tangan kanannya diletakkan di atas penyangga meja kerjanya dan Saena

Chagi… nanti aku hubungi lagi, ne? Ada pengganggu di sini…”

Saena menolehkan wajahnya pada Sohee dan mendengus kesal melihat tingkah sahabatnya itu. Ia menggerak-gerakkan bibirnya mengikuti ucapan Sohee barusan.

“ Huh! Dasar sok pamer.”

“ Jangan iri, nona Kim Saena… makanya cari pacar… ah! Aku tahu, bahkan kau tidak akan mempunyai pacar, melainkan seorang suami. Jadiii… nanti kau akan tahu bagaimana rasanya memiliki seseorang yang menyayangimu.”

Saena tidak menjawab pernyataan Sohee, ia tahu gadis itu hanya berusaha meledeknya. Gadis itu menatap foto Lee Sungmin yang memenuhi layar laptopnya dan mulai berandai-andai.

Andai saja yang dijodohkan dengannya Lee Sungmin mungkin tidak terlalu sulit baginya untuk menerima. Saena mulai tersenyum saat menyadari khayalannya tidak akan menjadi nyata. Oh… ayolah… bahkan Sungmin tidak mengenal dirinya, mereka belum pernah bertemu secara langsung dan kalaupun apa yang dibayangkannya terjadi. Bukan berarti menikah dengan idolanya adalah hal yang bagus kan?

“ Huftt… tapi setidaknya aku pernah mengidolakannya… Ah! Kenapa aku malah memikirkan soal Sungmin di saat ada hal penting lain yang harus aku pikirkan?” Saena membuka file-file kerjanya sambil sesekali melirik Sohee yang sedang menempelkan beberapa foto dirinya dan sang kekasih di bilik kerjanya. Di samping foto-foto Cho Kyuhyun, foto penyanyi idola Sohee.

Sesungguhnya apa yang dilakukan Sohee membuat Saena iri, Kalau saja ia benar-benar mempunyai kekasih, ia pasti akan melakukan hal yang sama dengan Sohee. Memajang foto mereka dan menunjukkan pada setiap orang yang melihat, bahwa mereka adalah pasangan paling bahagia di dunia, tidak peduli jika mungkin ada pasangan lain yang lebih berbahagia.

Tiba-tiba satu pemikiran muncul di benaknya, Saena menjentikkan jarinya dan tersenyum. Ia melangkah menuju bilik kerja Sohee dan sukses membuat gadis itu menjatuhkan beberapa foto yang belum dipajangnya karena tepukan Saena yang mendarat terlalu mendadak.

YAA! Apa yang kau lakukan di sini? Uhh…” Sohee bangkit dari kursinya dan memunguti beberapa lembar foto yang berserakan.

Saena mengambil salah satu foto yang terbang ke dekat kakinya dan melihat foto itu dalam diam.

“ Euhmm… cukup tampan…”

“ Memang! Namjachingu-ku tampan dan aku cantik… kami serasi…”

“ Siapa yang memujimu?”

Saena menyerahkan selembar foto yang dipegangnya ke arah Sohee kemudian mengikuti langkah gadis itu ke meja kerjanya.

“ Ada apa? Kerja sana!”

“ Kau sendiri memangnya sedang apa? Huh?!”

Sohee tidak menjawab dan malah asyik menggunting selotip untuk menempelkan beberapa foto lainnya.

“ Aku punya satu ide untuk menyelesaikan masalahku! Aku ingin meminta bantuanmu, Sohee-ah.”

“ Apa?” Sohee bertanya tanpa minat.

“ Aku ingin meminjam siapa namanya… Yo… Yongguk… ya, Yongguk kekasihmu itu!”

***

          Pria itu melepaskan kaca mata hitam yang bertengger indah membingkai wajahnya, serta merta tangannya turut melepaskan penutup hoodie yang dikenakannya bersamaan dengan kakinya yang menjejak sebuah bangunan yang berdiri kokoh di depannya.

“ Kita harus menemui mereka di mana?”

Junshin melihat ponselnya tempat sebuah pesan masuk di sana. Ia memerhatikan alamat yang tertulis di sana dengan seksama, meyakinkan tidak ada yang salah.

“ Di lantai lima… nanti akan ada seseorang yang dikirim mereka untuk menjemput kita.”

Sungmin melangkah mendahului sang manager, tangannya memencet tomobol lift dan menunggu dalam diam. Matanya menyapu seluruh bagian dalam kantor yang dimasukinya. Pria itu tidak berekspresi, design yang menarik tidak cukup untuk menyita perhatiannya.

Begitu pintu lift terbuka, Sungmin dan Junshin segera melangkah masuk ke dalamnya. Junshin menekan tombol bertuliskan angka lima dan memperhatikan layar yang bergerak maju.

“ Kita akan lama di sini?”

“ Aku belum bisa memastikan berapa lama kita di sini, memangnya kenapa?”

“ Ada yang harus aku lakukan…” Sungmin menjawabnya, dengan ketus, seperti biasa.

“ Apa yang lebih penting daripada ini? Ini semua menyangkut keberhasilan konsermu, Lee Sungmin.”

“ Kau tidak akan tahu…”

Ting!

Pintu lift terbuka, Sungmin baru saja melangkah keluar ketika dirinya dikejutkan dengan segerombol manusia yang sudah menunggunya di sana. Beberapa di antaranya membawa kamera dan memakai tanda pengenal yang dikalungkan di leher mereka.  Beberapa lainnya membawa poster, handbanner, dan beberapa hal lainnya yang berhubungan dengan Sungmin. Sungmin tahu siapa mereka semua…

“ Junshin! Kenapa bisa banyak wartawan dan penggemar di sini?!”

Sang manager hanya diam, tampaknya belum sepenuhnya bisa memahami keadaan. Sungmin menggeram kesal, kaki-kakinya berjalan pelan ke sisi lain, berusaha kabur sebelum ketahuan. Namun tangan seseorang segera menariknya menjauh dari sana.

“ ITU DIA LEE SUNGMIN!”

Orang itu berteriak, menarik perhatian semua orang yang menunggu di sana. Tangannya menunjuk ke satu arah, tubuhnya berdiri tepat di depan Sungmin menutupi keberadaan pria itu. Tanpa harus menunggu lama, kerumunan yang terdiri dari fans dan para warwatan itu bergerak ke arah yang ditunjuk. Beberapa bahkan berteriak sambil mengibaskan handbanner yang dibawanya. Terlalu histeris bahkan untuk menyadari apa yang sebenarnya terjadi.

Tanpa berkata apa-apa, sang gadis asing segera menarik Sungmin berlawanan arah dengan gerombolan itu. Ia mulai menyadari triknya tidak akan bertahan lama, kalau mereka menyadari Sungmin tidak ada di sana, mereka akan kembali mengepung tempat yang sama dan bahkan terlalu bodoh jika berharap mereka akan tertipu untuk yang kedua kalinya.

“ Kau siapa?”

Gadis itu tidak menjawab pertanyaan Sungmin, ia tetap menarik tangan pria itu sambil sesekali melirik ke arah belakang. Takut-takut kalau ada yang menayadari pergerakan mereka, namun yang bisa dilihatnya hanyalah Junshin dan itu membuatnya sedikit lega.

Sungmin mulai merasa takut dengan tingkah gadis itu… bagaimana jika seseorang yang dari tindakannya itu berhasil meyelamatkannya malah ternyata adalah bagian dari fansnya yang berusaha menculiknya. Apalagi tatapan Junshin juga menyatakan kalau pria itu tidak tahu apa-apa tentang gadis ini.

“ Nona, kau siapa? Kalau kau masih tidak mau menjawab…terpaksa aku melaporkanmu ke polisi atas tindakan penculikkan!”

Sungmin merogoh saku hoodienya dan mengeluarkan ponsel dari sana dengan tangannya yang bebas.

“ Diam! Kalau kau tidak mau tertangkap oleh mereka… Aku orang yang disuruh menjemputmu…”

Sungmin diam dan menuruti keinginan gadis itu. Namun dalam hatinya tetap bertanya-tanya. Bagaimana bisa kantor itu mengizinkan wartawan dan tentu saja penggemarnya untuk bisa mendapat akes masuk ke dalam ? Mungkin jika tadi ia tidak ditarik oleh gadis itu, sekarang ia sedang mengadakan confrensi pers di depan sana.

***

          “ Uhukk… uhukkk…” Sungmin menutup mulut dan hidungnya dari debu-debu yang berterbangan di sekelilingnya.

Pria itu tampak kesal, namun tidak ada yang bisa dilakukannya selain duduk diam. Protes yang dilayangkannya tidak akan diterima oleh gadis aneh yang sedang duduk di sampingnya, melakukan hal yang sama dengannya. Bahkan lebih ekstrim, menyingkirkan sarang laba-laba yang kebetulan jatuh mengotori celana jeansnya.

Junshin yang berdiri bersandar pada pintu pun tidak bisa melakukan apa-apa kecuali melihat keadaan di luar sana, apa mereka sudah aman untuk keluar atau belum, dari jendela berkaca gelap yang berada tepat di sampingnya. Junshin sebenarnya ingin tertawa melihat pemandangan langka seorang Lee Sungmin di hadapannya. Pria berkepribadian dingin itu hanya bisa duduk pasrah sambil sesekali mengusir debu yang tertangkap oleh matanya.

“ Berapa lama lagi kita harus berada di sini, nona Kim Saena?”

Junshin bertanya, tanpa merubah posisinya, tetap bersandar pada pintu bercat cokelat tua yang sudah usang itu. Kalau ada yang ingin bertanya di mana mereka sekarang? Jawabannya adalah di gudang barang penuh debu dan makhluk sejenisnya, yang biasa bersarang di tempat-tempat seperti itu.

“ Sampai gerombolan itu pulang mungkin…”

MWO?! YAA! Kau jangan bercanda!!”

Sungmin tahu persis, orang-orang di luar sana tidak akan pergi dalam waktu dekat, bahkan mungkin setidaknya meraka harus menunggu selama dua sampai tiga jam lagi. Atau mungkin fans-fansnya itu akan menunggu sampai besok pagi kalau perlu. Sungmin tidak bisa membayangkan dirinya harus menginap di gudang itu sampai besok pagi.

“ Habisnya kau mau pilih mana? Menunggu sampai mereka semua pergi atau kau mau menerobos gerombolan itu. Aku tidak bisa menjamin kau akan sampai dalam keadaan utuh… mungkin terkena cakaran atau jambakan itu minimal.”

Saena berkata dengan nada sesantai mungkin padahal sejak tadi berada di dekat Sungmin membuat debaran jatungnya tidak normal. Jelas saja… kapan lagi ia bisa berada dalam jarak kurang dari satu meter dengan idolanya itu?

“ Tapi aku tidak mungkin harus bermalam di sini kan?!”

Molla… kalau kau mungkin iya, kalau aku pasti bisa pulang… karena aku bukan seorang idol.”

“ Jadi kau menyalahkan profesiku?” Sungmin bangkit dari posisi duduknya dan melihat ke arah Saena sementara gadis itu hanya diam dalam posisinya.

“Aku tidak bilang begitu.”

“ Tapi pembicaraanmu mengarah ke sana.”

“ Kau saja yang terlalu sensitive!”

“ Tidak! Aku tidak sensitive, kau saja yang terlalu menyebalkan, kalau ada orang lain yang mendengar perkataanmu tadi… mereka juga akan berpikir sama denganku.”

Jinjja?! Sepetinya tidak…”

“ Kenapa aku bisa bertemu dengan orang yang menyebalkan sepertimu?”

YAA! Dasar tidak tahu terima kasih… aku sudah menolongmu tahu…”

“ Itu tugasmu! Aissshhh kenapa juga agensiku memilih promotor seperti ini? Tidak professional sekali! Bisa-bisanya mereka mempunyai karyawan sepertimu.”

“ Apa maksudmu?”

“ Ini semua ka…”

STOP! STOP! Bisa tidak kalian berdua diam?! Ruangan ini tidak kedap suara kan, nona Kim?”

Ne, Tuan Choi Junshin… mianhamnida…” Saena bangkit dari posisi duduknya dan segera membungkukkan badannya.

Kenapa juga ia jadi lepas kendali padahal tadinya ia hanya berniat untuk bercanda? Tapi ia tidak menyangka kalau Lee Sungmin idolanya itu ternyata sangat menyebalkan… Berbeda sekali saat sedang berada di wawancara televisi ataupun di acara lainnya. Ternyata benar, semua artis kalau sedang berada di tv, di dalam acara reality show sekalipun, perilaku mereka adalah acting.

Drrrttt Drrttt

Saena meraih ponsel di saku celananya dan mengangkat panggilan yang masuk tanpa melihat nama pemanggilnya.

Yoboseyo?”

“ KIM SAENA! Kau kemanakan client kita?! Kau tahu rapat harusnya dimulai dari hampir satu jam yang lalu? Jangan mentang-mentang ia adalah idolamu, lalu kau bisa seenaknya menculik dia!”

“ Astaaaggga, aku lupa! Baiklah aku akan segera ke sana, Sohee-ah.”

Tanpa membuang waktu Saena segera bangkit dari posisinya dan menarik tangan Sungmin.

Kajja! Kita harus pergi dari sini…”

YAA! Kau bilang masih belum aman?”

“ Tapi kalau kita tetap di sini, aku yang tidak aman!”

Saena menarik tangan pria itu keluar, tanpa persetujuan pria itu. Junshin hanya bisa mengikuti mereka dari belakang, masih dengan pandangan bingung yang kelewat jelas.

YAA! Aku bisa jalan sendiri! Kenapa kau harus menarikku?”

“ Sudahlah diam saja dan ikuti aku!”

***

          “ HUWWAAAAAAAA…. Bagaimana sekarang?! Setelah hampir satu tahun kerja tanpa predikat buruk sekaranggg aku terancam mendapat Surat Peringatan! Huwaaaa… eottkhe? Sohee-ahhjeballll tolong aku!”

Entah sudah berapa banyak tissue yang bertebaran di ruangan itu, namun Saena masih belum puas untuk membuat ruangan itu menjadi lebih kotor lagi.

“ Memangnya kau kira apa yang bisa aku lakukan? Lagipula ini semua kan salahmu! Siapa suruh berbohong dan menyembunyikan Sungmin di gudang hampir satu jam?” Sohee melipat tangannya di depan dadanya.

“ Tadinya niatku tidak begitu, aku hanya ingin lebih lama bersama dengannya, jadi aku menyuruhnya berdiam sebentar di gudang dan mengatakan kalau itu tempat persembunyiannya yang teraman, padahal ada jalan pintas menuju ruang pertemuan kita tanpa ketahuan oleh fans maupun paparazzi itu.”

“ Tapi jadinya kau yang kena getah kan? Untunglah Sungmin baik, ia tidak mempermasalahkan hal itu lebih lanjut…”

MWO? Baik katamu?!”

Saena mengusap wajahnya dengan kasar sebelum membuang tissue itu di lantai, bergabung dengan barang sejenisnya di sana.

“ Memang di baik kan? Bahkan tadi dia tersenyum ramah… Aigooo, dia manis sekali! Sayang aku sudah terlanjur mengidolakan orang lain! Kalau tidak aku…” Sohee memotong kalimatnya, gadis itu meletakkan kedua tangannya di pipi dan tersenyum. Membayangkan sesuatu…

“ Kau belum tahu saja siapa dia… uhhh aku jadi sedikit menyesal mengidolakan dia. Senyumannya itu palsu… dia hanya acting.”

Jinjja? Ah tapi kau tetap mengidolakannya kan? Buktinya kau rela bersembunyi di gudang dan hampir mendapat SP hanya karena ingin bersama dengannya?”

Ne, kau benar tapi setidaknya ada pemikiranku yang berubah tentangnya… Hmm sepertinya Lee Sungmin yang berada di televisi bukanlah Lee Sungmin yang sebenarnya. Ah tapi apa peduliku… aku kan tidak berhak mencampuri masalah pribadinya dannn kembali soal niatku itu… Kau mengizinkanku untuk meminjam Yonggukmu itu kan? Jeballll… hanya di depan Donghae saja!”

Saena melihat Sohee dengan tatapan memelas. Sohee sebenarnya ingin menolak dan mengatakan ide itu konyol. Namun ia tak kuasa melihat sahabatnya itu menderita, walaupun ia berpikir kalau perjodohan adalah jalan terbaik untuk Saena. Kalau gadis itu tidak dipaksa menikah mungkin saja ia tidak akan menikah.

“ Hmm… baiklah… ini semua demi kau… tapi segala resiko kau tanggung sendiri, ne?”

“ Ahhh kau memang baik hati!” Saena segera berlari memeluk Sohee, sahabatnya itu.

“ Euhmmm memangnya sosok Donghae seperti apa sih? Kenapa kau sangat menghindarinya?”

“ Nanti kapan-kapan akan kuberitahu… tapi aku akui dia memang cukup tampan, setidaknya setelah lima tahun aku tidak bertemu dengannya… dia sudah banyak berubah.”

“ Lalu apa alasanmu untuk menolaknya?”

Saena menghela nafasnya, satu pertanyaan yang masih sulit untuk dijawabnya. Gadis itu menoleh ke arah Sohee dengan tatapan bingung.

“ Aku juga tidak tahu…”

***

          “ Dia gadis yang unik…”

Sungmin hanya diam saat Junshin mencoba mengajaknya berbicara. Tatapan pria itu terlalu fokus pada jalan di depannya, walaupun bukan ia yang menyetir dan harusnya ia bisa lebih rileks.

“ Kau harus mengakui itu, Sungmin… jarang ada gadis sepeti dia…”

Sungmin mulai gerah dengan arah pembicaraan yang dibangun, apalagi ia masih merasa kesal dengan gadis itu. Bisa-bisanya gadis itu mengerjainya dengan mengurungnya di gudang, padahal ia tahu ada jalan pintas menuju tempat pertemuan mereka. Menurut Sungmin, gadis itu bukanlah gadis yang unik melainkan gila. Ya, gila… satu kata yang paling tepat untuk menggambarkan semua itu.

“ Bisakah kau berhenti membahas gadis itu? Aku pusing mendengarnya… lagipula dia tidak unik… dia gila, untung saja aku baik hati…”

Ne, aku akui dia memang sedikit gila… Tapi bukankah itu menandakan dia adalah fans setiamu, Lee Sungmin? Bahkan dia sudah mengakui itu kan dan meminta maaf padamu?”

Sungmin tidak menjawab, ingatannya kembali ke kejadian satu jam yang lalu.  Saat gadis itu meminta maaf padanya dan mengakui kesalahannya, bahkan sampai rela berlutut dan memohon-mohon padanya. Sungmin tersenyum jika ia mengingat ekspresi gadis itu. Walaupun ia masih kesal tetapi ia tidak bisa menyembunyikan senyumannya jika mengingat ekspresi polos gadis itu.

“ Tuh kan… kau tersenyum …”

“ Eh, apa? Tidak!”

Sungmin mengalihkan perhatiannya ke arah jendela di samping kanannya, melihat keramaian jalan kota Seoul. Tiba-tiba, ia tersentak saat melihat seseorang di antara kerumunan itu. Tertutup oleh orang lain di sekitarnya, namun Sungmin yakin matanya tidak salah mengartikan.

“ Junshin! Berhenti! Cepat tepikan mobilnya sekarang…”

“ Ada apa?”

Pria itu kelihatan sedikit panik, apalagi jalan yang mereka lalui sekarang sedang dirambah kemacetan, kalau ia memaksa berhenti di sini, bukannya ia malah akan menambah kemacetan?

“ Cepat! Aku harus turun…”

CKKIIIT!

Junshin mengerem mobil yang dikemudikannya mendadak, walaupun ia sudah berusaha  menepi, tetap saja tindakannya itu membuat mobil di belakangnya menabrak. Disertai hujan klason dari mobil-mobil lain yang terganggu dengan tindakannya. Sungmin tidak peduli dengan semuanya, pria itu meraih kacamata hitamnya dan segera berlari menyebrangi jalan.

Beberapa kali ia menabrak orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Tidak dipedulikannya teriakan dan makian orang-orang terhadapnya. Ia hanya tahu satu hal… Hal yang memacunya berlari semakin cepat.

“ Di mana dia?!”

Sungmin menghentikan langkahnya dan berusaha mengatur nafasnya yang tersenggal, tatapannya menyapu sekelilingnya. Mencari satu sosok yang sempat mampir dalam jangkauan penglihatannya.

Pria itu menoleh ke belakang dan berhasil menemukan sosok itu. Tanpa menunggu lebih lama, Sungmin berlari menerobos kerumunan orang-orang. Mengejar langkah sosok itu yang semakin menjauh. Sungmin ingin berteriak memanggil namanya namun tidak ada suara yang berhasil keluar dari tenggorokkannya.

Langkah Sungmin semakin dekat, pria itu meraih tangan seorang gadis yang kini berada tidak jauh darinya. Sungmin memejamkan matanya sejenak, tangannya tetap mencengkeram lengan gadis itu dan membalik badannnya.

“ Aku mencarimu kemana-mana… selama ini kau kemana sa…”

Kata-kata Sungmin terputus saat melihat sosok yang ditahannya, melihat dirinya dalam keadaan bingung. Sungmin memerhatikan wajah sosok itu dan ekspresi kecewa segera terajut di wajahnya.

“ Maaf anda siapa ya?” gadis itu bertanya dengan nada bingung.

“ Ahh… mianhamnida… aku salah orang.”

Sungmin melepaskan tangan gadis itu dan segera pergi dari sana. Wajahnya memerah karena malu, ia melangkah gontai ke tempat di mana ia membuat Junshin menyebabkan kekacauan. Ia tahu, ia kecewa… Ia sangat berharap tebakannya benar. Namun ternyata takdir belum mengizinkannya bertemu lagi dengan gadis itu.

***

Ting Tong

Saena merenggangkan tubuhnya beberapa saat setelah bangkit dari sofa yang didudukinya. Gadis itu menggerutu pelan karena sang tamu datang di saat yang tidak tepat. Di saat dirinya sedang asyik menonton drama kesayangannya.

” Siapa sih yang bertamu di jam segini? Awas saja kalau Sohee yang datang.”

Saena memang jarang mendapat tamu, wajar jika sekarang gadis itu heran. Biasanya yang datang hanya Sohee atau beberapa teman kerjanya yang lain. Paling jauh hanya orang tua dan keluarganya. Tidak ada yang lain…

” Tunggu sebentar….” Saena berteriak sebelum mencapai pintu dan membukanya.

Hal pertama yang dilihatnya adalah seorang pria dengan wajah yang ditutupi boneka panda besar, sehingga Saena tidak bisa melihat wajah siapa pria itu.

” Maaf anda siapa dan ada keperluan apa?”

Saena menduga pria itu salah tempat, siapa pula yang berniat mengunjunginya dengan keadaan seperti itu? Aneh!

” Saya ingin mencari seseorang di sini…” pria itu berkata-kata tanpa melepaskan boneka itu dari wajahnya.

” Siapa?” sebenarnya tanpa haris ditanya, Saena sudah tahu jawabannya. Ia hanya tinggal sendirian di sana, sudah pasti pria itu mencari dirinya.

” Aku mencari seseorang yang telah mencuri sesuatu dariku…”

Jawaban pria itu semain menambah kerutan di dahi Saena. Secara tidak langsung pria itu menuduhnya mencuri, kalau memang benar ia yang dimaksud. Saena mulai ketakutan sekarang, bagaimana jika pria itu bermaksud jahat padanya? Hei, ia bahkan hanya sendirian di sana, semua tetangga sebelahnya tidak ada yang masih berkeliaran di jam seperti ini. Kalaupun ia harus kabur, bagaimana cara ia melepaskan diri dari pria itu? Imajinasi Saena semakin membawanya ke dalam praduga lain, menyengsarakan batinnya.

Saena menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk mengusir bayang-bayang menyeramkan itu. Bukan saatnya untuk memikirkan hal negatif, hanya akan menimbulkan ketakutan tidak beralasan dalam dirinya. Saena memperhatikan penampilan pria itu dari atas hingga bawah. Tidak mencurigakan sama sekali memang, tapi siapa tahu? Penampilan bisa menipu…

” Maaf tuan, mungkin anda salah orang…”

” Tidak… aku yakin rumahnya di sini.”

Saena mulai heran dengan sikap pria itu. Kenapa ia harus menyembunyikan wajahnya di balik boneka itu? Seolah-olah ia tidak ingin Saena melihat wajahnya. Saena semakin yakin, pria itu berniat tidak baik padanya. Perlahan gadis itu memundurkan tubuhnya, masuk ke dalam apartementnya.

” Maaf tuan, di sini tidak ada orang yang anda maksud…” suara Saena mulai bergetar seiring dengan langkah kakinya yang semakin menjauhi pintu.

” Kau… kau orangnya…” pria itu menjauhkan boneka panda yang menutupi wajahnya. Wajah pria itu terekspos bebas dan berhasil mencuri perhatian Saena.

” Ka… kau?!” Saena menunjuk wajah yang berada di balik tubuh boneka yang dipegang oleh pria itu. Seharusnya ia bisa menebak dari awal, jadi ia bisa langsung menghindarinya. Seseorang yang beberapa hari ini selalu mengantuinya, bahkan masuk ke dalam mimpi buruknya.

Ne, kau adalah… orang yang berhasil mencuri hidupku… kau tahu lima tahun tanpa melihatmu berada di sisiku adalah kesengsaraan.”

” Aku tidak peduli! Hidupku sudah sangat nyaman tanpamu, Lee Donghae-ssi…” Saena hendak membanting pintu apartementnya tepat di depan wajah pria itu. Namun tangan Donghae keburu menahan pergerakan gadis itu.

” Saena… dengarkan aku dulu. Memangnya apa salahku sampai kau benar-benar membenciku?” lirih Donghae.

Saena tersentak mendengarnya, sungguh ia tidak bermaksud membuat pria itu terluka karena perkataannya. Gadis itu melangkah keluar dari tempatnya berdiri, ia menghampiri pria itu dan berhenti tepat beberapa centi di depannya.

” Donghae, aku minta maaf… aku tidak bermaksud berkata sekasar itu padamu… jeongmal mianhae…”

Donghae menundukkan wajahnya, sehingga Saena tidak bisa melihat raut wajah pria itu. Saena mulai merasa bersalah. Kenapa tiba-tiba ia menjadi gadis yang jahat?

” Donghae… aku…”

” Aku akan memaafkanmu kalau kau mau menikah denganku.” pria itu mengangkat wajahnya dan barulah Saena bisa melihat senyum yang tercetak jelas di wajahnya.

MWO?! Tidak akan! Aku tarik kata maafku tadi.”

Saena hendak berbalik dan meninggalkan Donghae saat tiba-tiba pria itu menyodorkan boneka panda yang menutupi wajahnya ke arah Saena.

” Baiklah… tidak secepat itu… aku akan menerima maafmu bila kau mau menerima boneka panda ini.”

Saena melihat boneka panda beukuran besar yang disodorkan Donghae padanya. Ia merutuki dirinya sendiri karena menjadi gadis pecinta boneka walaupun ia sudah tidak bermain dengan benda itu sejak menginjak bangku SMA. Namun ia tak kuasa menolak pesona boneka itu, boneka yang bisa dipeluknya saat tidur dan saat kesepian. Tapi bukankah itu berarti setiap kali ia memeluk boneka itu, ia akan teringat dengan sang pemberi? Saena bergidik ngeri membayangkannya.

” Bukankah tadi sudah kubilang kutarik maafku?”

Saena melipat kedua tangannya di depan dada. Mati-matian menolak gejolak dalam darinya untuk berlari memeluk boneka menggemaskan itu.

” Tidak ada maaf yang bisa ditarik, Saena sayang… ambil saja boneka ini, eomma-mu bilang kau sangat menyukai boneka kan?”

Ne… tapi boneka seperti itu ada banyak di pasaran. Aku bisa mendapatkannya dengan mudah.” Saena berkelit.

Jinjja? Padahal boneka ini aku pesan khusus dan kau bisa lihat ini?” Donghae menunjuk tangan panda itu. Di sana terdapat sulaman sebuah nama.

Lee Saena…

” Siapa itu Lee Saena? Bahkan untuk menulis margaku dengan benar saja kau tidak bisa.” Saena mencibir, senyum penuh ejekan tercetak jelas di sana.

” Mungkin sekarang margamu masih kim, tapi sebentar lagi kau akan menyandang margaku di depan namamu.”

” Tidak akan! Silahkan bangun dari mimpimu, Tuan Lee.”

” Saena… ayolah terima boneka ini. Setelah itu aku akan pergi dari sini.” Donghae berusaha membujuk Saena dengan puppy eyes yang dipunyainya.

Aish… sekali tidak tetap tidak.”

” Kau mau aku menginap di sini?”

Saena mulai terlihat berpikir. Tidak ada salahnya menerima boneka itu. Bukankah nama yang diukir di sana bisa ditutupinya? Lagipula boneka itu sangat menarik, lihat saja bola mata plastiknya, menatap Saena dengan polos. Saena mulai tersenyum melihat boneka itu.

” Baiklah… aku terima. Setelah itu kau pergi.” Saena mengalah dengan  keinginan hatinya yang begitu kuat untuk memiliki boneka itu.

” Ini ambil…” Donghae menyodorkan boneka itu ke arah Saena.

Namun begitu Saena bergerak mengambilnya, tangan-tangan Donghae  dengan sigap memeluknya begitu erat. Seolah tidak ingin melepaskan gadis itu dari cengkraman tubuhnya.

” DONGHAE! LEPASKAN AKU…” Saena berusaha melepaskan dirinya dari pelukan pria itu. Namun tenaga Donghae jauh lebih kuat darinya.

” Baiklah nona Kim, kau harus pulang ke rumah.”

” Ini rumahku! Lepaskan…”

Saena mulai panik, apalagi ia merasa ada gelagat tidak baik dari Donghae. Saena menolehkan kepalanya dan melihat kesempatan. Salah seorang tetangganya baru keluar dari lift dan sedang berjalan ke arahnya. Lebih tepatnya ke arah apartement orang itu yang berada beberapa pintu dari apartementnya.

” Tolong! Ada seseorang yang ingin memperkosaku! Tolong! Tolong jauhkan pria ini dariku! Tolong! Siapapun, tolong aku! Aku mohonnn…”  Saena melihat pria itu dengan tatapan mengiba. Untungnya Donghae tidak melihat kehadiran pria itu di sana.

Donghae terkejut dengan teriakkan Saena, refleks pria itu membekap mulut Saena. Pria itu memandang sekelilingnya yang tetap sepi. Sementara Saena masih meronta-ronta dalam pelukannya. Saena tahu pria tetangganya itu langsung pergi setelah mendengar teriakannya. Entah meminta bantuan atau malah melarikan diri karena takut. Saena berharap pilihan pertama yang diambil pria itu.

” Aku tidak akan menyakitimu, Saena… tenanglah. Aku melakukan ini demi kebaikkanmu lagipula aku akan membawamu ke rumahmu sendiri dan dengan izin eomma-mu sendiri.”

Apa? Ini semua atas izin eomma? aigoo… lihat saja eomma, aku tidak akan semudah itu bisa ditaklukkan apalagi dengan manusia ini.

Saena menjerit dalam hati sementara Donghae tidak mau melepaskan tangannya dari mulut Saena. Takut gadis itu berteriak lagi dan akhirnya mengundang perhatian. Sekarang yang menjadi masalah adalah bagaimana cara pria itu menggendong Saena dengan tangannya tetap menutup mulut gadis itu. Hal yang tersulit adalah karena gadis itu dalam keadan sadar.

Donghae tidak setega itu untuk membius Saena, itu sama saja ia melakukan tindak kriminal dengan menculik gadis itu.Tapi kalau seperti ini bukankah hasilnya sama saja? Ia tetap akan menculik gadis itu, walaupun sebenarnya ia hanya akan membawa gadis itu pulang ke rumahnya sendiri.

“ Hmmmppphh…”

“ Kau ingin mengatakan sesuatu?” Donghae menarik tubuh Saena perlahan-lahan menuju lift yang terletak tidak jauh dari sana. Tatapan Saena berubah panik saat tahu pria tetangganya itu tidak juga kembali. Jangan-jangan memang benar ia kabur karena ketakutan?

YAA! Berhenti! Apa yang akan kau lakukan pada nona itu?”

Saena dan Donghae menoleh ke belakang dan Saena bisa bernafas lega melihat siapa yang datang. Pria tetangganya itu kembali dan ia tidak sendirian melainkan bersama dua orang security penjaga gedung apartement itu.

Refleks Donghae melepaskan tangannya dari mulut Saena dan mundur beberapa langkah dari tubuh gadis itu. Cukup terkejut melihat beberapa petugas keamanan itu apalagi mereka melihat Donghae melakukan hal yang bisa dikategorikan sebagai percobaan penculikan.

Ahjussssiii, tolong aku! Pria itu ingin… ingin merampas kehormatanku!” tanpa menunggu lama, Saena berlari ke arah salah satu petugas keamanan itu. Memang ia tidak tahu siapa nama pria bertubuh tinggi dan sedikit berisi itu. Namun karena setiap pulang dan pergi kerja, Saena selalu melewati pos keamanan, ia cukup familiar dengan wajah petugas itu.

MWO?!”

Kedua petugas itu segera menghampiri Donghae dan mengunci tubuh pria itu tanpa ampun.

Mianhae… ini salah paham! Aku tidak bermaksud melakukan apa yang dituduhkan oleh nona itu… aku bisa menjelaskan semuanya.” Donghae memandang dua petugas keamanan itu dengan tatapan memelas.

“ Maaf tuan, anda harus ikut kami ke kantor dan anda bisa menjelaskannya di sana.”

Mwo? Tidak… tidak biar aku jelaskan di sini…”

Mereka segera membawa Donghae pergi dari sana tanpa mendengarkan teriakan pria itu. Saena tersenyum geli melihat kejadian yang berlangsung di sana. Masa bodoh dengan apa yang akan terjadi dengan Donghae selanjutnya.

Gomawo karena kau sudah membantuku.”

Cheonmaneyo…” pria itu membalas senyuman Saena.

Saena segera melangkah kembali ke apartementnya, langkah gadis itu menjadi lebih ringan dibandingkan sebelumnya. Ia bersenandung kecil dan berhenti sebentar di depan pintu apartementnya. Memandangi boneka pemberian Donghae yang tergeletak di sana.

“ Hmmm… sayang kalau boneka ini dibiarkan saja…”

Saena memeluk boneka panda itu dan membawanya masuk.

Drrttt drrttt

Saena baru saja masuk ke kamarnya ketika ia merasakan ponselnya bergetar. Ia segera meraih benda kecil itu dari saku celananya.

Yoboseyo, Sohee-ah?”

“ Saena… aku sudah bicara pada Yongguk dan… dia setuju! Kau bisa meminjamnya… hmmm kapan kau akan membawanya pada Donghaemu itu? Uhmm… sebenarnya aku masih tidak rela. Yongguk kan bukan barang tapi apa boleh buat… aku tidak tega padamu.”

Gomawo, Sohee-ah… aku hanya akan meminjamnya satu kali dan belum tahu kapan. Satu hal lagi! Catat kalau perlu, Donghae itu bukan Donghaeku. Titik… Ah ya sepertinya aku tidak harus meminjam Yonggukmu itu kalau setelah kejadian ini Donghae kapok. Hahahahaha…”

Mwo? Apa yang sudah kau lakukan padanya?”          

“ Hmm… besok aku ceritakan. Sudah ya, Sohee-ah… aku mau tidur… hari ini sangat melelahkan!”

“ Tunggu sebentar, Sae…”     

Klik!

Saena memutuskan sambungan telepon Sohee dan mematikan ponselnya. Jaga-jaga kalau gadis itu akan menghubunginya lagi.

Saena meletakkan boneka panda itu di tempat tidurnya. Ia berniat tidur sambil memeluk boneka barunya itu kalau saja ia tidak teringat satu hal.

Aish… pria itu amat sangat kepedean sekali… siapa juga yang mau menikah dengannya?” Saena mengusap ukiran namanya di lengan boneka itu.

“ Uh… panda sayang… kau gunakan ini saja, ne?” Saena meraih saputangannya dan menutup tulisan namanya yang telah diganti seenaknya oleh Donghae.

“ Tidak apa-apa ya, panda? Anggap saja kau sedang sakit…” Saena mengusap kepala panda itu sebelum membawanya tidur.

Ia hanya berharap satu hal… Semoga saja dalam mimpinya kali ini tidak ada Donghae di dalamnya!

***

          “ MWO? Kau bercanda kan, hae?!”

Eunhyuk bangkit dari tempat tidurnya. Pria itu mengucek matanya sebelum berjalan menuju balkon kamanya. Tadinya ia sempat kesal dengan sepupunya itu, seenaknya saja menelpon di tengah malam. Memangnya ia tidak butuh tidur?

“ Tidak, hyuk… aku benar-benar sedang berada di kantor security di gedung apartement tempat Saena tinggal! Ayolah… tolong aku… mereka mengancam akan membawaku ke kantor polisi. Kau ke sini, ya, ya, ya? Ah… jangan beri tahu siapapun perihal kejadian ini. Terutama eomma dan appa…”

“ Memangnya kenapa kau bisa sampai di sana sih? Pasti kau ingin berbuat macam-macam dengan gadis itu kan? Astaga, hae! Tidak lama lagi kau akan menikah dengannya, tidak bisakah kau bersabar dulu?”

Pria itu melangkah masuk kembali ke kamarnya dan mulai mengacak lemari pakaiannya. Mencari pakaian yang akan dikenakannya untuk menjemput Donghae. Sepupunya itu gila… Seperti itulah yang ada di dalam pikiran Eunhyuk saat ini.

“ BUKAN ITU BODOH! Aku sama sekali tidak pernah berpikiran ke sana! Aku memang pria normal tapi aku amat sangat menghormati wanita! Kau ke sini dulu dan aku akan menjelaskan semuanya!”

Ne, ne… aku akan segera ke sana… untunglah aku ini baik hati… coba saja kalau kau bukan sepupu yang paling dekat denganku. Aku akan dengan sangat tega membiarkanmu menginap di kantor polisi malam ini!”

Eunhyuk mematikan sambungan teleponnya dan meletakan ponselnya di atas meja sebelum melangkah menuju kamar mandi. Tatapannya terpaku pada foto dirinya dan Donghae di atas meja. Ia mengambil foto itu dan tersenyum.

“ Coba saja kau tidak terikat dengan obsesimu sendiri, hae…”

Eunhyuk meletakkan pigura foto itu kembali ke atas meja dan segera berlari menuju kamar mandi. Ia harus segera sampai di sana dan menjemput sepupunya itu kalau ia tidak mau Donghae terpaksa menginap di kantor polisi semalaman. Ayolah, ia kan tidak setega itu.

***

          “ HAHAHAHAHAHA… Ternyata sebenci itu dia padamu, hae-ah… hahaha… tapi bisa kuakui dia gadis yang cerdas dan yahh… susah untuk ditaklukan.”

Donghae hanya bisa menekuk wajahnya. Harga dirinya habis sudah di tangan gadis pujaannya itu. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya kalau Eunhyuk tidak berhasil menyakinkan dan memberikannya jaminan. Bahkan ia sudah dituduh macam-macam oleh petugas kemamanan yang mengintrogasinya itu.

Bayangkan saja seorang Lee Donghae, pria tampan, calon pengusaha sukses, mempunyai kecerdasan di atas rata-rata sekarang dituduh sebagai pria mesum yang suka melecehkan harga diri wanita?!

Aishhhh… kenapa juga aku harus jatuh cinta padanya? Lama-lama aku bisa gila! Apa yang harus aku lakukan sekarang?”

“ Hahaha… lepaskan saja dia.” Eunhyuk menjawab asal dan sukses membuat Donghae melotot ke arahnya.

Mianhae… aku hanya bercanda.” Eunhyuk tahu persis betapa sepupunya itu sangat mencintai gadisnya. Namun sayang gadis itu bahkan belum menyadarinya sampai sekarang.

“ Aku harus mendapatkan Saena… tapi aku tidak tahu dengan cara apalagi aku harus meluluhkannya… mungkin aku akan menikah dengannya dalam waktu dekat ini. Tapi itu semua hanyalah paksaan untuknya, aku tidak ingin membuatnya menderita dengan menikah denganku.”

“ Hae, kurasa kau harus meluluhkannya dengan cara perlahan… kau tidak bisa langsung memaksanya terus-menerus. Kau harus menemukan celah dalam dirinya agar kau bisa masuk… kau sudah lima tahun tidak bertemu dengannya, bukankah sangat aneh jika sekarang kau dan dia akan menikah?”

Donghae tidak menjawab, ia mengambil dompetnya. Pria itu mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya. Sebuah foto…

Donghae tersenyum melihat foto itu. Ingatannya kembali pada beberapa tahun silam, tepat saat foto itu diambil. Bersama teman masa kecilnya… teman bermain, teman bertengkar, bahkan teman menangis bersama.

“ Aku akan membuatmu mengingat semuanya kembali, Kim Saena… aku janji.”

***

To Be Continued

 

Hadeehhh sekali lagi maafff karena lama baru comeback dari hiatus panjang n lagi2 tanpa pemberitahuan T__T kali ini bukan sibuk belajar hahaha aku mah udah bebas cuma tgl tunggu ijasah sama pengumuman hasil SBMPTN *semoga diterima *amin😀

Cuma yaahh namanya libur, bawaannya males termasuk males mikir lanjutan ff *plak hehehe tpi aku tahu kalo ff2ku lagi kejar tayang mumpung liburan haha ^^v

Di sini maaf karena alurnya kecepetan, gaje, dan sebagainya U.U maklum karena kejar tayang aku jadi padet2in chapternya soalnya ga mau lebih dari 10 chp nanti jdinya series dong bukan mini drama A.A

Kenapa aku make Apink sebagai special guest? Yaahhh padahal mereka muncul di chap ini aja *.*itu dikarenakan aku suka banget sama Apink jadi pengen aja gtu mereka main walaupun cuma sebentar hahahaha soalnya dridulu aku pengen bkin ff Apink blm kesampean >.< baru dikit A.A dan kenapa Yongguk B.A.P ? Ga tau ya walaupun bias aku bukan dia tapi entah kenapa dia yang nyangkut(?) waktu akun milih support cast haha

Okeeee tunggu chapter 3nya ya

Next Without Words Series : Without Words chapter 3 – Ok! My New Life Start From Here

9 thoughts on “[Korean Fanfiction/ Straight/ Mini Drama] Without Words (Chapter 2)

  1. Dev, eon penasaran sama dibalik senyum ibunya donghae..saena sedikit kejam juga. Lumayan seru nih part 2 ini. Eon suka alurnya di part ini. Next partnya ditunggu ya

    • Annyeong eonni
      hmm itu ada selentingannya di chap 3 sih eon tp lbh ada ‘clue’ di part 4 haha
      Okee sip eonnn mudah2an chap 3 lebih bisa membuat eonni puas ya😀

      makasih udah baca + komen eon ^^

    • Wahhh maaf nih chingu kalo chingu ngerasanya gtu ^^
      nanti akan aku berusaha buat perbaiki di chapter2 selanjutnya
      makasih chingu kritiknya
      makasih juga udah baca + komen ^^

  2. oooh,, jdi donghae ma saena tmen kecil ta???
    mungkinkah saena amnesia atau ap??
    Saena juga, kenapa toh nolak pesona abang ikan-qu?? Gak bakaln rugii koooh.. #plaak
    Ditunggu lanjutnya saen,,
    semoga sukses,,

    • Heheheh bisa iya bisaaa… rahasia *plak
      amnesia sih engga eon haha soalnya klo dibuat amnesia segala mah ni ff ngalahin episode sinetron -___-a

      yahhh itu karena Saena kepincutnya ama Sungmin *plak
      okeee sip eonni

      makasih udah baca + komen eon ^^

  3. Annyeong, reader baru kecebur diwp ini. hhehe…
    Ayunie imnida, 88Line.

    Banyak banget yg bkin aq penasaran di ff ini.

    -arti senyum dari eommanya bang ikan.
    -Maksud ucapan Hyuk tadi setelah ditelp Hae, dan
    -Hbungan Hae ma Saena dimasa lalu.

    • Annyeong eonni ^^
      *boleh kah manggil eonni?

      Heheheheheh itu smua ga akan kejawab dalam waktu dekat ini eon *plak
      tapi di chap 6 soalnya chap 4 sama 5 bakalan ngurusin hal lain😄

      makasih udah baca + komen eon ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s