[Korean Fanfiction/ Straight/ Mini Drama] Without Words (Chapter 3)

Cover FF Without Words chapter 3

Title       : Without Words

Author  : Kim Saena a.k.a Devi

Rating   : PG13/NC17/ Straight

Length : Mini Drama (8-10 Chapter)

Genre   : Romance, Married Life, Friendship, Hurt,  Angst, A Little Bit Comedy

Cast       :

Main Cast            : Super Junior- Lee Donghae

Kim Saena (OC)

Support Cast      : Ahn Seorin (OC)

Super Junior – Lee Sungmin, Lee Hyukjae a.k.a Eunhyuk

Han Sohee (OC)

Other Cast          : FIND BY YOURSELF!

Disclaimer          : Super junior is belong to God, SM Entertaiment, and their parents. It’s just for fun. Please don’t sue me. This story is mine. Don’t take this fanfic without permission from me. If you want to take this fanfic. Please take with full credit.          

#NP – Jang Geum Seuk & Park Shin Hye – Without Words (OST. You’re Beautiful)

Chapter 3 – OK! My New Life Start from Here…

” Soheeee…cepat suruh Yongguk ke sini.” Saena menarik tubuh Sohee yang berada di sampingnya dan berbisik di telinga gadis itu. Tatapannya terlalu fokus pada sesuatu yang berhasil ditangkap oleh matanya.

Mwo? Dia memang akan menjemputku… memangnya kenapa?” tanpa sadar Sohee ikut berbisik dan melihat ke arah yang Saena tuju, namun ia belum mengerti apa yang dicemaskan gadis itu sampai tatapannya berhenti pada seorang pria yang berdiri bersandar pada sebuah mobil. Pria itu sedang memperhatikan ponselnya, sehingga Sohee tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Aishhh… suruh dia cepat ke sini.” Saena mulai gelisah, ia tidak akan mengira pria itu berani menemuinya lagi.

” Memangnya kenapa? Ah! Aku tahu… itu, pria yang sedang bersandar pada mobil itu…. dia yang bernama Lee Donghae kan?”

” Bagaimana kau bisa tahu?” Saena menjawab, namun nada suaranya tidak terdengar antusias. Ia terlalu terkejut dengan kehadiran sosok itu.

Sohee tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya, geli. Gadis itu berjalan mendekat sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Sohee memperhatikan wajah pria itu dari jendela kaca besar di dalam kantornya.

” Tampan juga dia… kenapa pula Saena, sahabatku yang memang aneh itu menolaknya? Ishhh memang dasar gadis aneh.”

” Bagaimana menurutmu? Dia aneh kan? Ya kan? Aishhh eommaaaa kenapa kau tega sekali membiarkan pria seperti itu menjadi calon suamiku.”

” Tampan…” Sohee berkata sambil tersenyum. Langkah kakinya sudah sampai di depan Saena.

MWO?! Kau bilang apa? Kau sudah tidak waras ya? Astaga!”

“ Ih, aku rasa aku kau yang tidak waras…” Sohee meletakkan tangannya di atas dahi Saena dan meletakkan tangan satunya di dahinya sendiri.

Yaa! Apa yang kau lakukan?” Saena berteriak dan melepaskan dirinya dari tangan Sohee.

“ Aku hanya mengetes apa suhu tubuhmu tinggi atau tidak? Habisnya pria setampan dia… kau bilang dia aneh? Dia bahkan tampak sangat normal… Mungkin jika bersanding dengannya, kau yang malah akan tampak aneh, Saena-ah!”

Chagi? Kau sudah lama menunggu? Mianhae, aku terlambat… Kajja kita pulang.” Seorang pria tiba-tiba meletakkan tangannya untuk merangkul Sohee. Gadis itu berbalik dan tersenyum pada sosok pria berperawakan tinggi dan senyum yang mempesona. Setidaknya Saena mengakui hal itu, ia bisa menebak pria itu yang bernama Yongguk. Ia pernah melihat pria itu dalam foto namun ia tidak menyangka pria itu sangat mempesona, pantas saja Sohee tergila-gila pada pria itu.

“ Oh… annyeong, chagiya… kau sudah datang…”

Yongguk menyentil hidung Sohee dan berhasil membuat gadis itu tertawa. Entah mengapa melihat pemandangan romantis itu membuat Saena merasa sedikit iri… ya, iri… Bagaimana pun juga sebagai wanita normal, Saena mengharapkan prilaku seperti itu yang didapatkannya suatu saat nanti, bersama pria yang dicintainya.

Ne, Euhmmm kau yang bernama Saena ya? Sahabat Sohee?” Yongguk menyadari kehadiran gadis lain dalam ingkaran romansa yang dibuatnya dan Sohee.

Ne, Kim Saena imnida, manasso bangapseuminda, Yongguk-ssi…”

Saena mengulurkan tangannya dan disambut oleh pria itu lengkap dengan senyumannya dan lagi-lagi membuat Saena terpesona.

YAA! Kenapa kau melihat kekasihku dengan tatapan bernafsu seperti itu? Aishhh… jangan-jangan…” Sohee melihat Saena dengan tatapan membunuhnya dan berhasil membuat gadis itu salah tingkah.

“ Jangan salah paham, Sohee sayang… aku hanya mengaguminya, aku akui Yongguk-ssi, kau sangat … euhmm mempesona… ah ya, aku memerlukan bantuanmu…”

Ne, chagi… Saena ingin kau berpura-pura jadi kekasihnya seperti yang aku ceritakan kemarin…” Sohee menarik Yongguk ke arah jendela dan menunjuk Donghae yang masih mengutak-atik ponsel dalam genggamannya.

“ Itu calon suami Saena…”

Yongguk memperhatikan wajah pria itu dan mengerutkan keningnya. Ia mengenal wajah pria itu sebelumnya, tapi ia tidak tahu bagaimana menggambarkannya. Tapi wajah Donghae terasa familier baginya.

“ Saena-ssi, calon suamimu tampan… kenapa kau tidak mau dijodohkan dengannya?”

Aigoooo kau dan Sohee sama saja, kalian benar-benar gila… Bagian mana dari dirinya yang tampan? Huh?! Aku tidak mengerti… sama sekali tidak mengerti dan Sohee! Bukankah tadi aku sudah menceritakan salah satu kegilaannya padamu?”

“ Tapi dia memang tampan, Saena-ah… mungkin hanya kau yang menganggapnya aneh.”  Yongguk menimpali, membuat Sohee yang berada dalam rangkulan pria itu tersenyum geli dan melihat ke arah Saena dengan tatapan yang seolah-olah berkata ‘lihat, kami menganggapnya tampan, kau saja yang menganggapnya dalam persepsi lain’.

Whatever…” Saena berjalan kesal ke arah pintu, meninggalkan Sohee dan Yongguk yang tidak sependapat dengannya. Namun ketika mengingat apa yang menunggunya di luar sana, Saena kembali melangkahkan kakinya ke arah Yongguk dan Sohee. Baiklah untuk kali ini, dia kalah.

“ Kenapa kau kembali? Tidak jadi marah?” Sohee menatakan hal itu dengan nada mengejek.

Sabar… Saena… sabar, untuk kali ini kau membutuhkan bantuan keduanya…

Saena menjerit dalam hatinya, wajah gadis itu memerah menahan kesal. Gadis itu hanya diam dan berjalan ke arah Yongguk.

“ Yongguk-ssi, aku membutuhkan bantuanmu. Pria itu ada di luar sekarang dan aku benar-benar tidak ingin menikah dengannya, aku dan kau harus menyakinkannya kalau kita adalah sepasang kekasih.”

” Saena-ah… sepertinya aku berubah pikiran.” Sohee melingkarkan tangannya di lengan Yongguk. Menandakan kepemilikkannya atas pria itu. Gadis tertawa seraya memeletkan lidahnya ke arah Saena, membuat gadis itu berdecak kesal.

” Jangan bercanda, Sohee… aku ingin cepat-cepat pulang dan aku hanya perlu menunjukkan kekasihmu itu pada pria gila di luar sana lalu semuanya selesai.”

Mianhae… tapi aku rasa aku tidak jadi meminjamkan Yongguk padamu.”

Saena membulatkan matanya dan melangkah pasti ke arah Sohee, mengguncang pelan lengan gadis itu seraya merajuk dan menunjukkan aegyonya.

” Ayolah… Sohee-ya… Kau bersedia kan, Yongguk-ssi?”

” Kalau aku…” Yongguk menghentikan ucapannya saat Sohee memberikan death glare padanya.

” Ehm… kalau aku sih… tergantung kekasihku saja.”

” Sohee-ah… ayolah… kau ini kenapa? Aku kan sahabatmu, lagipula hanya satu kali ini saja untuk meyakinkan dia. Ayolah…” Saena kembali merajuk, namun karena pertemanannya dan Saena sudah terjalin cukup lama. Gadis itu sudah kebal dengan bujuk rayu Saena.

” Memang apa yang akan kita dapatkan kalau kita membantumu?” Sohee mengerling jahil dan dibalas tatapan kesal Saena.

” Baiklah! Aku akan memberikan apa yang kau inginkan…”

” Bagiaimana jika voucher candle light dinner di hotel bintang lima untuk kami berdua? Setuju?”

” Baiklah, deal… sekarang bantu aku.”

Sohee melepaskan genggaman tangannya pada Yongguk dan membiarkan Saena menarik tangan pria itu. Sohee tersenyum geli melihat pemandangan yang berada di depannya. Ia tidak serius saat mengucapkan permintaan imbalan itu, ia hanya ingin menggoda Saena namun tampaknya gadis itu serius saat mengatakan ‘deal’.

” Saena… semoga berhasil.” teriak Sohee sebelum Saena dan Yongguk menghilang di balik pintu.

Without Words │©2013 by Ksaena

Chapter 3- OK! My New Life Start From Here

ALL RIGHT RESERVED

Donghae menunggu dengan tenang. Sesekali pria itu hanya melemparkan tatapan bosan ke arah jalan yang berada di depannya. Hampir satu jam ia berada di sana namun sosok yang ditunggunya belum juga datang. Sebenarnya kalau boleh jujur ia masih menyimpan perasaan kesal pada gadis itu.

Bagaimana tidak?

Gadis itu hampir saja membuatnya gila, karena terpaksa mendekam di kantor petugas keamanan dan menjawab berbagai pertanyaan yang seharusnya tidak mengarah padanya, seolah-olah ia benar-benar seorang pria hidung belang yang memang ingin merampas kehormatahan wanita lugu dan polos bernama Kim Saena. Benar-benar membuatnya tidak habis pikir.

Untung saja, gadis yang membuatnya merasa harga dirinya terinjak karena dituduh melakukan perbuatan memalukan itu, sangat-sangat menarik menurutnya. Kalau tidak mungkin Donghae sudah memutuskan untuk menyerah dan membatalkan keinginannya untuk menikah dengan Saena.

Tidak menutup kemungkinan kan, gadis itu akan melakukan hal di luar nalar lainnya hanya untuk menghindari dari pernikahan?

“Sayang, bagaimana hari ini?”

Donghae tersadar dari lamunannya saat mendengar sebuah suara yang tidak asing baginya. Suara Saena…

Pria itu menoleh dan melihat Saena berjalan melewatinya, hal yang paling membuatnya shock adalah tangan gadis itu melingkari lengan seorang pria. Mau tidak mau Donghae harus mengakui kalau mereka terlihat cukup mesra.

Tanpa sadar tangan Donghae mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Pria itu berjalan menghampiri Saena dengan ekspresi yang nyaris tak terbaca campuran antara emosi dan amarah, semuanya membuat Donghae takut, ia harus kehilangan kontrol dirinya. Berani-beraninya calon istrinya itu menggamit mesra lengan pria lain di depan wajahnya.

“ KIM SAENA!” Donghae berteriak, Saena memalingkan wajahnya dan tersenyum tanpa beban. Dengan santainya, gadis itu merubah posisi tangannya menjadi menggenggam tangan pria yang berada di sebelahnya, membuat Donghae semakin geram.

“ Oh! Annyeong Lee Donghae, apa yang kau lakukan di sini?”

Bukannya menjawab pertanyaan Saena, Donghae malah memperhatikan penampilan pria yang berjalan bersama Saena dari atas hingga ke bawah, dengan tatapan menilai yang kelewat jelas.

“ Siapa dia?”

“ Kenalkan dia Yongguk, namjachingu-ku…”

Saena sengaja menekankan nada suaranya pada kata ‘namjachingu’, sengaja membuat Donghae berpikir bahwa ia dan Yongguk memang adalah sepasang kekasih.

MWO? Kenapa kau bisa mempunya namjachingu padahal kau akan menikah denganku Saena?!”

Chagi… siapa pria ini? Kenapa ia mengatakan padamu kalau ia adalah calon suamimu?”

Yongguk bertanya pada Saena dengan nada tidak suka, seolah-olah ia merasa cemburu. Saena tersenyum aneh ke arah Yongguk, tidak menyangka pria ini mempunyai bakat acting yang sangat bagus mungkin lain kali ia akan mengatakan pada Sohee agar kekasihnya ini debut menjadi actor.

“ Ah, dia… memang eomma menjodohkanku dengannya, tapi aku sama sekali tidak menyukainya, jadi kau tenang saja chagiya, aku hanya akan menikah denganmu bukan dengannya.”

“ Eoh? Begitukah? Jangan harap Kim Saena! Kau adalah milikku, kau hanya akan menikah dengaku!”

Donghae meninggalkan Saena dan Yongguk dengan tatapan yang cukup menyakitnya. Saena refleks melepaskan genggaman tangannya pada tangan Yongguk ketika melihat Donghae menatapnya seperti itu. Ada sensasi sakit yang mendera batinnya, entah mengapa, melihat Donghae menatapnya dengan cara yang menyedihkan, menyentak hati nuraninya.

“ Silahkan buktikan perkatannmu itu, Mr Lee! Aku tidak akan percaya.”

Saena berjalan meninggalkan Donghae sementara Yongguk masih berjalan berjajar dengannya, pria itu mendekatkan tubuhnya ke arah Saena seraya berbisik pelan.

“ Kau kenapa?”

Saena hanya mengangkat bahunya, kaki jenjangnya membawa tubuh gadis itu ke arah mobilnya yang terparkir di antara deretan mobil yang bisa dibilang ‘mewah’ lainnya. Dengan cekatn gadis itu mengambil kunci mobilnya dari dalam tas.

Pip!

Saena segera membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam. Sementara Yongguk hanya memandang gadis itu, bingung.

“ Di mana mobilmu di parkir?”

“ Di daerah depan pintu masuk kantormu, kurasa tidak jauh dari mobil calon sumamimu itu.”

Aishhh! Masuklah, aku akan mengantarmu ke sana kemudian setelah Donghae pergi kau bisa menjemput Sohee dan satu hal… jangan sebut dia calon suamiku!”

Yongguk menuruti keinginan Saena, pria itu melangkah masuk ke dalam mobil Saena. Pria itu tahu ada sesuatu yang sedang mengganggu hati Saena dan itu semua karena Donghae. Hal yang membuat pria itu heran, kenapa Saena harus susah-susah menjauhi Donghae? Tampaknya pria itu baik dan tidak ada hal yang bisa ditolak dalam diri seorang Donghae. Sebagai pria, Yongguk tahu, Donghae adalah simbol kesempurnaan pria.

***

          “ Entah sudah berapa lama aku tidak ke sini.”

Sungmin menatap sebuah taman di hadapannya dengan tatapan mengiba. Pria itu datang sendiri kali ini, tidak disertai Junshin yang biasanya selalu pergi bersamanya kemanaun juga pria itu melangkah. Hari ini ia bisa terbebas dari segala macam jadwal padat yang biasa mengikatnya. Pria itu berjalan pelan, di bawah langit yang sedang tersenyum, namun sayangnya hal itu tidak menulari Sungmin. Pria itu tetap pada tatapannya yang menyedihkan ke arah jalan setapak kosong yang ada di depannya.

Taman ini memang tidak seperti dulu saat lima tahun yang lalu, ketika ia masih di sini. Melakukan hampir segala aktivitasnya di taman favoritnya itu. Belajar, bermain, atau bahkan sekedar untuk merenung.  Sungmin tersenyum saat ia seperti bisa melihat keadaan dirinya beberapa tahun silam di kursi taman itu.

Sekarang taman itu sudah kehilangan kejayaannya, anak-anak tidak ingin bermain di dalamnya lagi. Bukan hanya karena sekarang mereka diperdaya teknologi melainkan karena taman itu sudah lama ditinggalkan. Bahkan pohon yang berdiri tegak di tengahnya akan bingung di mana lagi ia bisa menggugurkan daunnya yang kecoklatan karena seluruh ruang kosong di taman itu sudah dipenuhi oleh daunnya.

Sungmin melangkah ke arah kursi yang biasa didudukinya, pria itu melepaskan semua memorinya. Ia ingin mengingat satu sosok itu, mungkin saja hal tersebut akan memberikan petunjuk di mana sang diva berada. Sungmin bukannya tidak beruaha menyusuri jejak orang itu. Namun angin membuatnya seolah tiada. Bahkan rumah gadis itu yang berada di sekitar taman ini sekarang sudah berganti pemilik.

          “ Dia memang sudah lama pindah sejak perusahaan ayahnya bangkrut… Tapi gadis itu masih tinggal di dekat sini, lebih tepatnya di perumahan di belakang kompleks ini… Aku sering melihatnya lewat sini satu atau dua kali dalam seminggu… Mungkin ia merindukan rumah lamanya…”

” Kalau aku beruntung…mungkin aku bisa bertemu dengannya lagi sekarang.” Sungmin kembali bergumam, berbicara dengan dirinya sendiri. Pria itu sebenarnya tidak terlalu mengerti apa alasannya ingin bertemu dengan gadis itu lagi. Mungkinkah karena sebersit perasaan bersalah yang hampir-hampir selalau muncul dan mengganggunya?

Mungkin pria itu ingin lepas dari masalahnya dan semuanya hanya bermuara pada sosok gadis itu. Namun Sungmin tidak juga bisa menyangkal kalau ia bukan hanya ingin lepas dari perasaan bersalah itu melainkan karena rasa lain yang masih disimpannya namun tidak berani diungkapnya secara jelas. Pria itu terlalu takut untuk berjanji, sedangkan ada hal lain yang masih menunggunya.

Drrt drrrtt

Dengan enggan, Sungmin merogoh saku celananya meraih benda yang mengganggu ketenangannya. Ia berdecak kesal sebelum memutuskan untuk mengangkat panggilan mendadak itu.

Yoboseyo? Ada apa? Bukankah sekarang waktu bebas untukku? Bisakah kau tidak menggangguku dulu?”

” Maaf tapi kau harus segera pulang… Ada panggilan mendadak untuk mewawancaraimu. Bagaimana pun juga kau sudah lama tidak berada di sini, ada banyak cerita yang bisa kau ungkap pada telinga-telinga yang haus akan berita.”

” Huh! Membosankan…. baiklah aku akan segera ke sana. Lain kali suruh mereka membuat janji lebih dulu sebelum bertemu denganku.”

Pip!

Sungmin menekan tombol merah untuk memutuskan sambungan teleponnya. Pria itu berdecak kesal sebelum melanjutkan langkahnya menuju mobilnya yang terparkir tidak jauh dari taman itu. Untuk hari ini ia terpaksa menunda keberuntungannya.

Dari balik sebuah pohon yang menjulang tidak jauh dari taman itu, namun cukup untuk mengamati segala sesuatunya dari sana. Untunglah tubuhnya kecil, ia bisa bersembunyi di balik rimbunan daun pohon itu yang menjuntai. Gadis itu memperhatikan sosok Sungmin yang menjauh.

“ Sejak kapan dia kembali dan mau apa dia di tempat ini?!”

***

“ Jadi sekarang ikan patah hati?”

“ Behenti menggodaku, hyuk, moodku sedang berantakan… aku pikir ucapannya waktu itu hanyalah gertak sambal, tapi sekarang ia benar-benar membawa seorang pria! Gila…”

Donghae mencoret-coret kertas di hadapannya dengan tatapan kesal. Ia membayangkan wajah Saena dan Yongguk yang sedang tersenyum seolah mengejeknya. Hati pria itu bertambah panas setiap kali mengingatnya. Donghae adalah pria biasa yang sedang termakan rasa cemburu. Bagaimana tidak? Ia merasa lebih segalanya dari Yongguk tapi kenapa gadis itu lebih memilih bersama Yongguk.

Terlebih selama lima tahun pria itu mati-matian berubah demi Saena, demi membuat gadis itu jatuh hati padanya, apakah semua itu harus berakhir sekarang hanya karena gadis itu sudah memiliki kekasih?

“ Tidak! Tidak bisa…”

“ Apanya yang tidak bisa?” Eunhyuk mengerutkan dahinya, bingung dengan sepupu sekaligus sahabatnya itu yang tiba-tiba bergumam sendiri.

“ Saena tidak boleh jatuh ke tangan pria itu! Aku akan mengambil gadis itu lagi…”

“ Itu baru Donghae yang kukenal… ayolahh mereka baru berpacaran, menikah saja bisa bercerai, apalagi pacaran.”

“ Tidak! Kalau nanti aku menikah dengan Saena aku tidak akan membiarkannya berpaling dariku. Aku hanya berharap menikah satu kali seumur hidupku, aku tidak akan melepaskannya.”

“ Itu urusan nanti, Mr. Lee… lalu sekarang kau akan melakukan apa untuk membuat Saena ‘putus’ dengan kekasihnya itu?”

Donghae terlihat berpikir sejenak, sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya. Ia sendiri bingung bagaimana caranya, Saena lebih licik daripada perkiraannya, ia bahkan belum berhasil menjalankan misi dari calon mertuanya untuk ‘menculik’ Saena dan membawanya pulang ke rumah sampai saat di mana mereka akan menikah.

Molla… aku saja tidak tahu bagaimana cara menculiknya dan membawanya pulang ke rumah.”

“ Kau itu bodoh atau bagaimana? Itu dia jawabannya!” tanpa sadar Eunhyuk berdiri dari kursinya dan menepuk bahu Donghae, cukup keras sehingga membuat pria itu meringis.

“ Apa?”

“ Kau cari cara untuk menculiknya dan membawanya pulang. Biarkan orang tuanya mengurus sisanya, ia tidak akan bisa menolak untuk menikah denganmu. Jika ia sudah menikah, secara tidak langsung ia akan berpisah dengan kekasihnya itu. Sederhana, bukan?”

Donghae tersenyum, ia seolah mendapat pencerahan atas masalahnya. Kenapa tidak terpikirkan olehnya untuk mencoba scenario lain dengan tema yang sama yakni untuk membawa Saena pulang.

“ Kau benar, hyuk… baiklah sepulang dari sini nanti aku akan mempersiapkan semuanya! Terima kasih…”

Donghae mengambil sebuah map yang diletakkan di atas mejanya dan membawa map itu pergi untuk diperiksa apakah hasil pekerjaannya sudah benar atau belum.

“ Cinta itu membuat orang lain menjadi aneh ya… tsk…”

Eunhyuk berjalan kembali ke tempatnya, sebelum pria itu menyadari sesuatu. Dengan gerakan cepat pria itu memeriksa meja kerja Donghae dan menemukan file pekerjaannya di sana dalam keadaan hancur penuh coretan. Tadi ia memang meminta Donghae membantunya memeriksa file itu sebelum diserahkan. Tapi sekarang ia menemukan hasil pekerjaannya itu dalam keadaan berbeda jauh dari semula.

“ LEE DONGHAE!!!”

***

          “ HAHAHAHAHAHA… Aku sangat puas hari ini… bisa kau lihat wajahnya?”

Saena mengangkat cangkir berisi cappuccino miliknya dan meminum cairan kental manis itu sambil tertawa.

“ Uhuk… uhukkk…” dengan sigap Sohee menepuk punggung Saena dan memberikan gadis itu gelas air putih miliknya.

“ Terima kasih…”

“ Makanya kalau sedang minum, telan dulu baru tertawa… dasar aneh.”

Sohee menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan perbuatan sahabatnya itu. Mungkin alasan yang diungkap Saena tidak cukup masuk akal untuknya, malahan Sohee berpikir, gadis seperti apa Saena sehingga bisa menolak pria seperti Donghae yang tergila-gila padanya? Mungkin gadis itu memiliki masalah dalam penglihatannya sehingga tidak mampu memindai pria sesempurna Donghae atau malah jangan-jangan otaknya yang terlalu kusut akibat terlalu lama jomblo.

“ Biarkan saja, yang penting sekarang aku bahagia…”

“ Kau yakin, Donghae akan melepaskanmu begitu saja?”

Yongguk yang sejak tadi hanya diam memberanikan diri bertanya. Sejak tadi ia terus memikirkan di mana ia pernah bertemu dengan Donghae sebelumnya, memang mungkin saja ia salah orang, bisa saja orang yang hanya mirip. Lagipula sepertinya ingatan tentang Donghae itu bukan sesuatu yang penting sehingga dengan mudah ia lupakan.

“ Kenapa tidak? Aku sudah membuat banyak hal yang mungkin akan membuatnya berpikir ‘gadis macam apa dia’ dan akhirnya dia tidak jadi menikah denganku… Hahahaha…”

“ Sepertinya melihat perjuangannya selama ini, ia tidak akan menyerah begitu saja…” Sohee menambahkan dan Yongguk mengiyakan perkataan kekasihnya. Saena kesal sendiri melihatnya, pantas saja mereka menjadi sepasang kekasih. Mereka kompak dalam segala hal.

Sebenarnya jauh di dalam lubuk hati Saena, ia hanyalah seorang gadis biasa yang merindukan seorang kekasih untuk mengisi harinya. Tapi ia sendiri belum yakin tentang hal itu, hidup bersama dengan orang lain untuk jangka waktu lama, mungkin selamanya. Karena tidak ada manusia yang mengharapkan pernikahannya berakhir.

Yaa! Kenapa melamun?”

“ Ah, tidak ada…” Saena tersenyum canggung. Sebenarnya tidak ada salahnya ia menikah dengan Donghae, pria itu mampu menanggung seluruh kehidupannya. Ia akan bahagia dengan hidup yang terjamin, enak bukan?

Gadis itu memandang keluar jendela dan menemukan keganjilan di sana. Satu sosok, berbaur dengan ratusan orang lainnya yang berlalu lalang namun Saena masih mengenali sosoknya.

“ Tunggu sebentar!”

“ Saena! Kau mau kemana?”

Sohee berteriak ke arah Saena, namun gadis itu sudah tidak memperdulikan panggilan Sohee.

Aishh… semoga dia belum menghilang.” Saena menolehkan kepalanya dan mencari sosok gadis itu.

“ Itu dia!”Saena berlari menghampiri sosok gadis itu dan menepuk bahunya.

“ Ahn Seorin!”

Seorin menoleh dan mendapati Saena tersenyum ke arahnya, gadis itu mengernyitkan dahinya, lalu satu ingatan masuk ke otaknya namun cepat-cepat gadis itu menghindar.

Ne, si… siapa ya?” Seorin bertanya dengan nada gugup yang tak dapat disembunyikannya.

“ Kau… Kau lupa padaku?” Saena mendesah kecewa.

“ Maaf, apa kita saling mengenal?”

“ Aku Saena… Kim Saena, kau tidak mungkin lupa padaku kan? Ayolah Seorin, kita ini sahabat… Aku punya buktinya, tunggu sebentar.” Saena melihat tubuhnya dan sadar ia ke sana tanpa membawa tas.

“ Maaf, Saena-ssi, aku buru-buru…”

Seorin segera menepis tangan Saena dan berlalu dari hadapan gadis itu. Saena mengejar Seorin dan berhasil menghadang langkah gadis itu.

“ Setidaknya, bisakah kau katakan padaku di mana kau tinggal? Aku akan membawa eomma dan appa ke sana, kami mencarimu kemana-mana Seorin.”

“ Maaf…”

Seorin segera berlari menghindari Saena. Saena tidak lagi berusaha mengejar Seorin, gadis itu hanya menatap Seorin yang berlalu dari hadapannya dengan tatapan pilu.

Sementara Seorin yang menyadari Saena tidak lagi mengejarnya mulai memperlambat langkahnya dan mengatur nafasnya. Gadis itu menoleh ke belakang dan melihat sosok Saena yang berjalan berlawanan arah darinya. Tidak lagi berusaha menyampaikan informasi yang sebenarnya tidak pernah ia lupakan.

“ Maafkan aku, Saena…”

***

          Saena hampir saja memuntahkan seluruh isi minuman yang berada di dalam mulutnya dan untunglah urung dilakukannya, ia berhasil menelan cairan putih itu melalu tenggorokkannya dengan selamat sebelum akhirnya terbatuk-batuk beberapa detik.

Chagiya, gwenchanayo?”

“ Lepaskan aku…” Saena menepis tangan manusia yang berada di depannya. Sedikit menyesal tidak memuntahkan cairan itu di wajah sang pria, yang entah bagaimana lagi caranya bisa dibuatnya menjauh.

“ Kenapa kau masih sekasar itu pada calon suamimu, sayang?”

Andwae! Kau tidak akan pernah bisa menjadi calon suamiku, harap catat ini di dalam pikiranmu, Donghae-ssi… aku sudah memiliki Yongguk dan kami akan menikah mungkin dalam waktu dekat ini!”

Refleks Saena menutup mulutnya sendiri, ia sendiri heran kenapa ia tiba-tiba bisa berkata seperti itu? Kalau nanti Donghae minta bukti apa yang harus ia katakan, tidak mungkin kan ia harus menikah pura-pura dengan Yongguk? Bagaimana dengan orang tuanya dan juga Sohee? Bisa-bisa ia habis dibantai oleh Sohee dan juga Yongguk yang terpaksa kena imbas karena perkataannya.

MWO? Tidak akan! Kau tidak akan pernah bisa menikah dengannya karena kau hanya milikku, Kim Saena… Kau hanya akan menikah denganku dan hidup bersamaku…”

“ Cishh… dalam beberapa hal kau terlalu percaya diri Mr. Lee…”

“ Aku akan membukatikannya sebentar lagi, Saena… kita akan menikah kurang dari satu minggu lagi. Aku dan juga orang tuamu sudah menyiapkan segalanya, nyonya Lee… kau tinggal duduk manis saja.”

“ APA? Tidak! Aku tidak akan pernah mau menikah dengan orang aneh sepertimu…”

“ Aku yang dulu bukanlah aku yang sekarang, sayang… baiklah kalau dulu aku terlalu kuper dan cupu tapi kau bisa lihat sekarang aku bagaimana kan Saena? Jadi alasan apa lagi yang bisa kau gunakan untuk menolakku?”

“Aku…”

Saena terdiam saat wajah Donghae tepat berada di hadapan wajahnya dan mata mereka bertemu, seolah saling berbicara. Saena terhanyut dalam bayangan pria itu, entah mengapa Donghae jadi kelihatan berbeda dalam posisi mereka saat ini. Ia menyadari kalau sebenarnya ia tidak mempunyai alasan yang jelas untuk menolak Donghae. Pria itu sempurna, yang ada malah dirinya yang merasa terlalu hina untuk bersama dengan Donghae. Ia tidak dapat memungkiri itu semua.

“ Tuh, buktinya sekarang kau terpesona pada tatapanku kan…”

Donghae menjauhkan wajahnya dari wajah Saena dan tersenyum geli saat melihat wajah gadis itu bersemu merah.

Aishhhh… aku tidak terpesona… aku hanya…”

“ SSTTT…” Donghae mengeluarkan sesuatu dari saku celana panjangnya. Sebuah dimensi persegi, Saena bahkan harus menahan nafasnya saat menunggu Donghae membuka kotak beludru merah itu. Ia hanya pernah melihat adegan ini dalam drama namun sekarang, kenyataan?

Donghae membuka kotak itu di depan Saena dan tampaknya sebuah cincin, polos dan sederhana, melambangkan makna cinta itu sendiri, sederhana tanpa harus adanya hal-hal lain yang mengitarinya. Cinta memang seperti itu tanpa kita sadari kita yang menuntut terlalu banyak dan melupakan apa makna yang sebenarnya.

“ Saena, Would you marry me?”

Tanpa sadar Saena memandangi cincin itu tanpa berkedip, ia mulai merasakan kehangatan menjalari hatinya. Gadis itu terus menunduk tanpa berniat memberikan jawaban pada Donghae. Adegan-adegan dalam drama yang ditontonnya kembali mengetuk memorinya, Saena menyadari sejak lama ia merindukan saat-saat diperlakukan romantis seperti ini.

“ Maaf, Donghae…” Saena membalikkan badannya, hendak masuk ke apartementnya lagi saat tiba-tiba dengan sigap Donghae memeluk tubuh gadis itu, begitu erat. Saena diam dalam pelukan Donghae, entah mengapa ia engga melepaskan tubuhnya.

“ Aku tahu Saena, kau tidak akan menolakku…” dengan gerakan cepat Donghae menutup pintu apartement Saena dan merengkuh gadis itu hanya dengan satu tangannya.

“ Kau sudah terlalu jauh dari rumah, nyonya Lee… Kajja, kita pulang.”

Saena menyadari Donghae mulai mengangkat tubuhnya. Gadis itu segera meronta-ronta namun ia tidak seberuntung kemarin. Kali ini lorong penghubung apartementnya sepi, bahkan tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana.

YAA! DONGHAE, lepaskan…”

Saena semakin heran saat Donghae melewati pos pengaman dan sang penjaga yang tempo hari menolongnya kali ini hanya memandang mereka sambil tertawa, entah apa maksudnya.

“ Ssstt… sayang, tenanglah… kau sudah terlalu lama meninggalkanku dan anak kita, kasihan dia… setiap hari ia hanya minum susu kaleng dan menangis karena merindukanmu… Ayolah, kau harus pulang…”

“ APA? APA YANG KAU KATAKAN?!”

“ Nona… benar apa yang dikatakan suamimu, kalian sebaiknya rujuk, kasihan anak kalian, ia masih terlalu kecil untuk ditinggalkan ibunya.”

Saena semakin bingung dengan jawaban yang diberikan oleh sang petugas keamanan, ia menolehkan kepalanya ke arah Donghae sementara pria itu hanya tersenyum dan mengedipkan matanya, jahil.

YAA! LEE DONGHAE, APA YANG SUDAH KAU KATAKAN?”

***

          “ Jadi kapan Donghae akan menikah dengan putri komisaris Kim’s Coorporation itu?” Nyonya Lee memandang seseorang yang merupakan sekretaris pribadinya dengan tatapan angkuh, seperti biasa.

“ Dalam waktu dekat ini, nyonya, lebih tepatnya pada hari Sabtu di minggu ini. Tuan muda Lee dan orang tua dari Kim Saena sudah mengurus semuanya.”

Nyonya Lee melihat keluar jendela, tampak tidak terlalu tertarik dengan apa yang seharusnya menjadi moment terpenting dalam kehidupan putra tunggalnya. Nyonya Lee hanya menghela nafas berat dan memijat pelipisnya, tampak lelah dengan segunung pekerjaannya. Harusnya ia ikut andil dalam mempersiapkan pernikahan putranya, apalagi ia menikah bukan dengan gadis sembarangan. Gadis itu kelak akan menjadi pimpinan salah satu perusahaan terkemuka di Korea, walaupun dari segi penampilan, Saena merupakan gadis yang sama sekali tidak ada seujung jari saja jika dibandingkan dengan Donghae.

Gadis yang liar dan urakan…

Dua kata itu yang membuat Nyonya Lee sedikit enggan untuk menyetujui pernikahan Donghae dengan gadis seperti itu. Untuk mengurus diri sendiri saja gadis itu tidak mampu apalagi kelak mengurus putranya dan cucunya nanti. Apa bisa gadis seperti Saena melakukan semua itu? Untunglah keluarga gadis itu sangat terhormat, cocok bila disandingkan dengan keluarga Lee yang terkemuka.

Nyonya Lee menggerakkan tangannya tanpa membalikkan badannya menghadap sang sekretaris, tanda agar sang sekretaris meninggalkan ruangannya. Gadis muda dan enerjik itu mengerti isyarat sang atasan dan segera membungkukkan badannya kemudian beranjak dari sana.

“ Kalau saja kau tahu apa yang sebenarnya, mungkinkah kau akan membenci eomma, nak?”

Nyonya Lee memandang foto Donghae yang berada di ruangannya dengan tatapan perih. Entah kenapa lagi-lagi perasaan bersalah mulai menghantuinya, ia mengingat dengan jelas bagaimana ia melakukan ‘kejahatannya’ dengan rapi dan terselubung. Benar-benar rapi, sehingga polisi sulit untuk mengendusnya. Namun hal itu lama-lama membuat sisi manusianya terketuk. Perasaan takut kerap kali datang membayang.

“ Tidak… aku akan aman, semuanya akan baik-baik saja.” Nyonya Lee kembali berbicara pada dirinya sendiri.

***

          “ Jadi kau berhasil membawanya pulang ke rumah? Hahaha… akhirnya, kali ini kau memakai cara apa?”

Eunhyuk memandang sepupunya yang hampir-hampir selalu tersenyum sepanjang mereka melakukan kegiatan hari ini. Benar-benar ajaib seorang Kim Saena, bisa merubah Donghae menjadi berbagai sosok yang seolah-olah berbeda. Eunhyuk jadi penasaran seperti apa sosok Saena yang sebenarnya, mungkin gadis itu memang biasa saja seperti yang Donghae katakan. Bahkan tidak lebih cantik dari Hyerin, kekasihnya, yang selalu ia bangga-banggakan di depan Donghae. Bahkan cenderung berantakan, tapi kenapa? Kenapa Donghae begitu menggilainya?

“ Aku mengatakan pada semua penjaga keamanan di sana bahwa Saena adalah istriku yang sedang kabur dari rumah karena aku memergokinya selingkuh dengan mantan kekasihnya. Lalu ia marah dan memutuskan unuk bercerai dariku dan meninggalkan anak kami, demi laki-laki itu. HAHAHAHA… kau tahu cerita picisan macam itu mampu membuat mereka percaya dan membiarkanku membawa Saena pulang! Hebat kan? Padahal kemarin mereka mati-matian menyuruhku mengaku hendak memperkosa Saena. Tsk… gila…”

Eunhyuk menggelengkan kepalanya, sepupunya itu memang nekat kalau sudah berhubungan dengan Saena. Ia tidak habis pikir bagaimana Donghae bisa mengarang cerita ala drama seprerti itu untuk menipu petugas keamanan demi membawa Saena pulang.

“ Kenapa sih kau begitu mencintainya? Padahal kau tahu sendiri kan ia menghindarimu terus, apa kau tidak lelah?”

“ Aku kadang berpikir untuk berhenti mengejarnya tapi aku merasa tidak sanggup kehilangannya, kau kan tahu ceritanya, hyuk… kenapa kau masih bertanya?”

Ne, aku hanya ingin tahu… Lain kali, bawa calon istrimu itu padaku, biar aku yang menilainya.”

“ Menilai?! YAA! Kau pikir, Saena a…”

Perkataan Donghae terputus saat ia melihat dua orang yang baru masuk ke café tempat dia dan Eunhyuk menghabiskan jam istirahat siang mereka. Donghae mengenali sosok sang pria namun wanita di sebelahnya tampak asing. Donghae yakin tanpa harus melihat dari dekat wanita itu bukan Saena. Ya, Yongguk mungkin sedang berkencan seorang wanita asing. Mereka tampak begitu mesra, hati Donghae memanas saat Yongguk dengan santainya mencium kening wanita itu padahal ia sudah memiliki kekasih.

“ Donghae! Kau kenapa?”

Eunhyuk mengibaskan tangannya di depan wajah Donghae, namun pria itu tidak menjawabnya sama sekali. Tatapannya terlalu fokus pada sepasang manusia yang tampak sangat dekat dan kehlihatan sekali mereka adalah sepasang kekasih. Bagaimana mungkin Yongguk bisa seperti itu di saat ia sudah berpacaran dengan Saena? Tanpa sadar Donghae mengepalkan tangannya, ia benci dengan keadaan itu. Ia harus susah payah mendekati Saena sedangkan pria itu bisa mendapatkan Saena namun sekarang ia harus melihat pria itu hanya mempermainkan gadisnya.

Harusnya Donghae senang karena Saena akan meninggalkan pria itu dan mungkin akan berpaling padanya, sehingga ia tidak harus menjadi pria kejam yang memisahkan sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Astaga, Donghae bahkan geli menyadari pemikirannya. Tanpa berpikir lebih jauh, pria itu bergerak mendekati Yongguk diiringi tatapan bingung Eunhyuk.

“ Yongguk-ssi…”

Yongguk menoleh dan wajahnya pucat saat mengetahui Donghae berada di depannya sementara ia sedang bersama Sohee.

“ Do… Donghae…”

“ Kau brengsek!”

Buagh!

Satu pukulan mendarat sempurna di pipi Yongguk, Sohee histeris dan memegang pipi kekasihnya yang bengkak.

“ Donghae-ssi, biar aku jelaskan.”

“ APA?! Kau mengkhianati Saena kan?”

“ Tidak… baiklah karena kau sudah terlanjur tahu, biar aku jelaskan jadi… aku dan Saena…”

***

          Saena memandang tetesan air yang menuruni jalan licin di sepanjang jendela kamarnya dengan tatapan kosong yang terlalu jelas. Berkali-kali gadis itu menghela nafas dan berjalan mengelilingi kamarnya dan kembali berdiri di posisinya semula. Terlalu lelah untuk berteriak-teriak minta dibukakan, semua pelayan sudah diperintah oleh ibunya agar tidak ada yang membukakan pintu untuknya. Saena benci suasana ini, suasana saat kebebasannya terpenjara.

“ HUWAAAA EOMMAAA AYOOO BUKA PINTUNYA…”

Bosan hanya memandangi lukisan hujan dari jendela kamarnya, Saena mulai beranjak untuk mencoba kembali peruntungannya. Tangan-tangannya memukul pintu kayu yang terkunci rapat sejak semalam, saat ia datang kembali ke rumah itu.

“ SAENAA! BERISIK… EOMMA KAN SUDAH BILANG KAU SEDANG DALAM MASA PENGURUNGAN SEBELUM PERNIKAHAN(Kalau di Indonesia namanya pingit ya hahahaha ^^v, tapi di Korea aku ga tau deh apa namanya T__T)…”

Saena hanya bisa melengkungkan bibirnya saat mendengar jawaban ibunya yang sudah diulang-ulang untuk yang kesekian kalinya dari semalam. Saena sudah lelah untuk sekedar membalasnya dengan ‘ aku tidak akan menikah dengan siapapun… eomma tidak bisa mencegahku’. Lalu sang ibu hanya menjawabnya dengan ‘ baik kalau begitu, semua biaya kehidupanmu akan dihentikan… cari uang sendiri sana…’. Kalau sang ibu sudah berkata demikian, tidak ada yang bisa dilakukan gadis itu selain diam dan menggerutu, tidak ada jalan lain kecuali membuat Donghae melepaskannya, kalau begitu orang tuanya tidak akan bisa mengancamnya karena Donghae sendiri yang membatalkan pernikahan.

Krek!

“ AKHIRNYA! Gomawo eomma… kau mau mendengarkan anakmu ini, aku benci dikurung seperti ini.”

Saena menghambur ke arah pintu saat ia mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Namun bukan sang ibu yang dilihatnya melainkan seorang pria yang dengan senyuman mematikannya itu mampu membuat Saena terdiam, untuk yang kesekian kalinya.

Mungkin suatu saat senyum itu akan menjadi senyum favoritnya, ia bisa menyaksikannya setiap hari. Perlahan Saena menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman.

“ Akhirnya, kau mau terseyum untukku…”

“ Eh, apa?” Saena menyadari tindakannya dan dalam sekejap ia berubah menjadi sosok yang dingin, kembali bersikap sama pada seorang Lee Donghae.

“ Bagaimanapun juga lebih enak di rumah kan?”

“ Tidak! Aku benci dikurung seperti ini. Asal kau tahu saja, Donghae-ssi, kalaupun nanti aku mau menikah denganmu, itu semua bukan karena keinginanku dan jangan harap kau akan bahagia…”

Donghae memajukan badanya ke arah Saena, perlahan Saena memundurkan tubuhnya sampai punggungnya bertemu dinding.

“ Kau pikir aku takut, sayang? Aku bisa membuatmu mencintaiku sama besarnya dengan aku mencintaimu… aku harap kau mengingatnya.”

Saena tidak menjawab perkataan Donghae, gadis itu memilih diam dan memalingkan wajahnya dari tatapan Donghae yang mengintimidasi.

“  Ah ya, tadi… aku bertemu dengan Yongguk.”

Saena tampak tidak tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Donghae. Ia pikir apa salahnya pria itu bertemu dengan kekasih pura-puranya. Namun apa yang dikatakan Donghae selanjutnya membuat Saena membulatkan matanya.

“ Dia bersama dengan seorang gadis dan aku yakin gadis itu adalah kekasihnya…”

“ Hahahaha… mungkin itu hanya sepupunya atau saudaranya.” Saena tertawa canggung, dalam hati ia merasa gugup, bagaimana jika yang bertemu dengan Donghae dan bersama Yongguk adalah Sohee, kekasih Yongguk yang sebenarnya?

“ Bukan, sayang… Sohee, nama gadis itu, adalah kekasih Yongguk.”

Glek!

Mati-matian Saena harus berusaha untuk menelan air liurnya, Donghae sepertinya sudah mengetahui kebohongannya, jadi percuma saja ia terus berbohong. Yongguk dan Sohee pasti sudah menceritakan segalanya pada Donghae.

“ Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan… siapa itu Sohee? Hahahaha… kau lucu, Dongahe-ssi…” namun walaupun sudah terpojok, entah mengapa Saena masih meneruskan dustanya.

“ Sudahlah, Saena… aku tahu semuanya… Yongguk bukan kekasihmu, Sohee adalah kekasihnya dan sahabatmu, kau meminjam kekasihnya untuk dikenalkan denganku. Itu semua benar kan? Kenapa kau melakukannya? Kau tahu… aku sudah menghajar Yongguk karena mengira ia berselingkuh dengan Sohee padahal ia adalah kekasihnya sendiri!”

Kali ini Saena tidak bisa membantah perkataan Donghae sedikitpun, gadis itu diam. Ia tidak berani menatap Donghae, pria itu pasti sedang dalam keadaan sangat marah karena merasa dipermainkan terlebih Saena merasa bersalah pada Yongguk dan Sohee karena secara tidak langsung ia hampir merusak hubungan mereka berdua.

“ Saena… kenapa kau membenciku?”

Ada yang berbeda dari nada suara Donghae, kesedihan tergantung jelas pada kalimatnya. Saena merasa ada sesuatu yang mencubit hatinya, perih… namun gadis itu tidak mengerti apa yang menyebabkannya merasa seperti itu.

“ Aku… aku tidak tahu… aku hanya tidak suka padamu… apalagi kau menggunakan orang tuamu untuk membuatku mau menikah denganmu…”

Donghae meraih dagu Saena dan mendekatkan bibirnya pada telinga gadis itu. Lalu berbisik pelan di telinganya.

“ Aku akan membahagiakanmu, Saena… maaf kalau kau tidak menyukai caraku, selama lima tahun aku berusaha untuk berubah dan sekarang aku mau kau menikah denganku… jebal… aku janji akan membuatmu mencintaiku dan membuatku hanya bisa memandangku…”

Saena tidak sanggup mengatakan apa-apa, ia terlalu terhanyut dalam pesona Donghae, entah kenapa ia mempercayai setiap perkataan yang keluar dari bibir Donghae. Ia merasa terharu, ada seseorang yang rela mencintainya sebegitu dalam sedangkan ia merasa tidak pantas mendapatkan cinta dari seseorang seperti Donghae. Masih banyak gadis lain yang lebih pantas namun mengapa Donghae memilihnya. Mengapa?

“ Kenapa aku?”

“ Karena tidak ada yang lebih pantas dibandingkan denganmu… Aku tahu pasti kau akan berpikir mengapa bukan gadis lain? Karena yang aku inginkan hanya kau… sesederhana itu, Saena.”

“ Tapi aku…”

“ Sssst… aku janji akan membuatmu mengerti, sekarang maukah kau menikah denganku?”

Tidak mudah bagi Saena untuk menjawab pertanyaan itu, karena baginya Donghae belum cukup untuk menjawab keraguan di hatinya namun entah karena tubuhnya ingin bergerak sendiri atau karena sarafnya yang mulai rusak atau karena itu adalah jawaban dari nuraninya sendiri. Bibir Saena mulai mengucapkan kata-kata, membentuk kalimat yang membuat Donghae meraih gadis itu dalam pelukannya dan kali ini Saena tidak membiarkan tubuhnya lepas dari dekapan Donghae.

“ Ya, aku mau…”

***

          Hari-hari menjadi semakin cepat bagi seorang Kim Saena, memang jatah hari yang diberikan ibunya bagi Saena setelah hari pengurungan gadis itu cukup singkat yakni hanya empat hari sebelum pernikahannya. Hubungan Saena dan Donghae sedikit membaik setelah secara tidak langsung Saena menerima lamaran Donghae. Gadis itu sendiri tidak mengerti kenapa ia menjawab ‘Ya, aku mau’, apa mungkin sekarang keseimbangan otaknya sedang terganggu?

Saat ini Saena dan Donghae sedang berada di lokasi foto pra-wedding mereka, sebelum mereka benar-benar menikah besok. Semuanya dilakukan serba cepat dan Saena tidak tahu kapan Donghae dan orang tuanya menyiapkan semua ini. Lihatlah gaun yang dikenakannya sekarang, sangat indah… bahkan seumur hidupnya Saena tidak pernah melihat gaun seindah itu, baik dalam film maupun kenyataan.

Gaun berwarna putih gading dengan sulaman berwarna perak di sekitar pinggang sampai ke bagian akhir gaun panjangnya. Walaupun gaun itu cukup mewah dengan banyak hiasan di bagian atasnya, gaun itu tidak seberat perkiraannya. Saena tidak perlu takut ia akan kesulitan menyeret-nyeret gaun itu selama pesta pernikahannya nanti. Memang jika dilihat sekilas tidak ada yang istimewa dari gaun itu, namun bagi Saena gaun itu berbeda, seolah-olah dibuat hanya untuk dirinya, sesuai keinginannya. Walaupun Saena tidak pernah mengatakan secara rinci bagaimana gaun pengantin yang diinginkannya saat ia menikah suatu hari nanti. Namun cukup dengan melihat gaun ini, ia sudah tahu gaun seperti inilah yang diinginkannya.

Kemudian lihatlah lokasi pra-wedding mereka sekarang, tidak kalah indah dengan lokasi-lokasi yang pernah dilihatnya dalam foto pra-wedding orang lain yang dilakukan di luar negara ini. Sebelumnya Saena dan Donghae melakukan pra-wedding menggunakan hanbok, bukan di lokasi ini. Lalu kemudian mereka baru pergi ke sana dan herannya walaupun sudah dua puluh enam tahun tinggal di Seoul, Saena tidak tahu ada taman yang benar-benar indah dan tersembunyi dari kebisingan kota.

Saena dan Donghae sudah melakukan berbagai sesi pemotretan di berbagai sisi taman ini dan sekarang tinggal menunggu sesi terakhir, saat matahari terbenam sebentar lagi. Walaupun sesi-sesi sebelumnya mengalami kekacauan karena Saena tidak mau terlalu dekat dengan Donghae dan mereka terlihat kaku, mengakibatkan mereka harus mengulang berkali-kali sampai membuat Saena berkeringat sehingga make up yang menempel di wajahnya luntur dan harus diperbaiki berulang kali.

“ Baiklah, ayo kita mulai sesi pemotretan terakhirnya.”

Sang fotografer memberi aba-aba saat langit berwarna biru cerah mulai merubah dirinya menjadi jingga kemerahan, langit khas senja yang indah.

“ Kau lelah?”

Donghae bertanya saat langkah-langkah Saena tidak secepat saat pertama kali mereka berada di sana, bahkan cenderung terpaksa sedikit menyeret gaunnya yang sekarang terasa jauh lebih berat karena tubuhnya sudah hampir remuk dengan segala sesi yang menguras tenaga ini. Semoga saja besok pagi ia bisa bangun untuk di make up sebelum pemberkatan di gereja.

“ Perlu ya kau bertanya? Kau tidak lihat aku harus memakai sepatu yang haknya lebih dari sepuluh centi karena tinggimu cukup jauh di atasku ditambah lagi gaun ini yang membuatku hampir tersandung setiap kali melangkah! Kau sih enak, tuxedo yang kau kenakan tidak seberat gaunku!”

“ Ini kan hanya sekali seumur hidup kita sayang… jadi apa salahnya kita membuatnya istimewa?”

Saena menggerutu pelan namun ia membenarkan kata-kata Donghae, walaupun ia masih belum yakin dengan pernikahan ini, ia berharap tidak akan menikah lagi seumur hidupnya, walaupun ia tidak yakin bisa hidup selamanya dengan pria itu. Pria yang sama sekali belum berhasil merebut cintanya.

“ Terserahlah…”

“ Saena, Donghae, kalian sudah siap?”

Saena mengangguk, diikuti Donghae. Lalu sang fotografer mulai menata gaya mereka yang sesuai dengan latar belakang mereka. Sebuah air mancur diikuti lukisan matahari yang hampir masuk ke peraduannya.

“ Jadi kalian saling bertatapan satu sama lain, tunjukkan cinta kalian dalam tatapan itu.”

Donghae dan Saena mulai berhadapan namun Saena masih menjaga jarak dari Donghae walaupun pinggangnya sudah dipeluk oleh pria itu.

“ Lebih dekat lagi, Saena… tatap wajah calon suamimu.”

Saena berusaha tersenyum pada sang fotografer sementara dalam hati ia menggerutu, walaupun ia akan menikah dengan pria itu besok, tetap tidak mudah baginya untuk mendekatkan diri pada Donghae. Namun ia tetap mendekatkan wajahnya pada wajah Donghae dan menatap wajah pria itu lekat-lekat, seolah tidak ingin kehilangan satu detik pun tanpa melihat wajah Donghae. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa seperti itu.

“ Yak, bagus… pemotretan selesai…”

Donghae tersenyum, tangannya tetap memeluk pinggang calon istrinya itu. Sementara Saena enggan melepaskan tatapannya dari wajah Donghae.

“ Pose kalian sangan hidup… kalian benar-benar seperti dua manusia yang saling mencintai…”

Saena segera sadar setelah kata-kata sang fotografer mampir ke gendang telinganya. Dua orang yang saling mencintai?! Apa itu berarti ia juga kelihatan mencintai Donghae?

Yaa! Kenapa melamun? Kajja, kita pulang, besok kita harus bangun sangat pagi… sebaiknya setelah sampai di rumah kau langsung beristirahat.”

Ne, kau juga… jaga dirimu baik-baik.”

Saena tidak bisa mencegah mulutnya untuk mengucapkan kata-kata itu.

***

          “ Aku tidak suka dengan ibu calon menantu kita, appa, dia kelihatannya tidak peduli pada pernikahan Saena dan Donghae, padahal yang akan menikah kan anaknya sendiri, anak tunggalnya.”

Nyonya Kim menggerutu pelan setelah pertemuannya dengan kedua orang tua Donghae untuk sekedar mengakrabkan diri sebelum mereka bersatu menjadi satu keluarga setelah pernikahan Donghae dan Saena nanti. Memang sebelum ini mereka pernah bertemu, namun sulit bagi Nyonya Kim mengakrabkan diri dengan calon besannya. Padahal nanti mereka akan menjadi mertua bagi putri tunggalnya.

“ Aku tidak habis pikir dengan perlakuannya pada kita… saat jamuan makan malam tadi ia malah sibuk dengan ponselnya… apa-apaan dia itu. Katanya istri dari salah satu pemegang saham Lee’s Coorporation yang terkenal sampai di seluruh Asia, tapi mengapa kelakuannya seperti itu? Untung saja putranya sangat tahu sopan santun, kalau tidak aku tidak akan membiarkan Saena menikah dengannya.”

Karena sang suami tidak kunjung menjawab, Nyonya Kim menolehkan kepalanya dan melihat Tuan Kim hanya melamun di sepanjang perjalanan mereka pulang ke rumah. Tampaknya pria yang hampir memasuki kepala lima tersebut sedang memikirkan sesuatu. Ada suatu hal yang membuatnya tidak nyaman saat mengetahui putrinya akan menikah dengan salah satu putra pengurus Lee’s Coorporation. Apa mungkin hal itu hanyalah rasa ketidakrelaan seorang ayah karena akan kehilangan putri kecilnya?

Appa? Apa kau dengar?”

“ Ah, ada apa?” Tuan Kim tersadar dari lamunannya saat sang istri memberanikan diri untuk menyentuhnya.

“ Kau tidak mendengar apapun yang aku ucapkan?” nada suara Nyonya Kim meninggi seiring dengan tatapan bingung suaminya.

Mianhae…”

“ Ada apa, appa? Apa yang kau pikirkan?”

“ Tidak ada…” Tuan Kim berusaha menyembunyikan buah pemikirannya yang mungkin terlalu fantastis.

“ Untung saja, Donghae mempunyai rumah sendiri, jadi Saena tidak akan tinggal dengan calon ibu mertuanya yang sepertinya tidak ramah itu. Kasihan anak kita, appa…”

“ Suruh Saena berhati-hati…”

“ Apa?”

“ Ah tidak…” entah mengapa malah kata-kata seperti itu yang keluar dari mulut Tuan Kim, seolah memberikan peringatan akan terjadinya suatu hal yang mungkin diketahuinya atau mungkin hanya pemikirannya yang kelewat berlebihan.

“ Sudahlah, eomma… Saena sudah besar dan ia bisa melindungi dirinya sendiri. Bagaimana pun juga nanti ibunya Donghae adalah ibunya Saena juga, Saena harus menghormatinya seperti Saena menghormatimu.”

“ Tapi, appa…”

“Sssstt…”

***

Pintu-pintu yang tadinya tertutup mulai terbuka, diiringi lagu khas yang selalu terdengar sama, suasana yang mengharu biru di barisan keluarga. Serta tatapan para tamu yang terfokus pada dua sosok yang berjalan di atas beludru merah. Langkah kaki mereka terlihat gagah disertai senyuman. Semua itu mampu menutupi kenyataan bahwa tangan sang gadis membeku karena perasaannya saat ini. Gugup, itu jelas, karena ini adalah salah satu moment terpentingnya dan gadis itu tahu apapun yang terjadi ia harus melakukannya dengan baik. Hanya sekali dalam hidupnya ia akan merasakan suasana seperti ini.

Tak terasa ketukan sepatu hak tingginya yang teredam benang-benang bersulam merah di sepanjang perjalanannya, berakhir di sebuah anak tangga yang di atasnya berdiri satu sosok. Ayah dari gadis itu menyerahkan tangan gadisnya pada sesosok pria yang tersenyum menenangkan.

“ Lee Donghae, aku serahkan putriku, permataku satu-satunya ke dalam tanganmu, jaga dia baik-baik…”

“ Tentu saja, abeoji… aku akan menjaganya dengan nyawaku.”

Sepanjang sang pendeta mengucapkan janji-janji seumur hidupnya dengan Donghae, Saena merasakan seluruh tubuhnya berkeringat dingin. Ia ingin sekali lari dari penikahannya sendiri karena merasa tidak sanggup menepati janji yang mereka ucapkan bersama. Ia sendiri belum mencintai Donghae dan tidak tahu apakah perasaan itu akan muncul atau tidak. Pernikahan bukanlah main-main, ia dan Donghae kini berjanji di hadapan Tuhan, bukan hanya pada sehelai kertas bermatrai yang akan mereka tanda tangani setelah pemberkatan selesai.

“ Ya, aku bersedia…”

Saena menoleh pada Donghae, lamunannya buyar saat suara pria yang terdengar tegas dan pasti itu mewarnai indra pendengarannya. Setelah ini pasti sang pendeta akan menanyakan janji yang sama padanya, haruskah ia menjawab hal yang sama?

“ Kim Saena, maukah kau menerima Lee Donghae sebagai suamimu dalam keadaan apapun? Bersedia mencintainya dalam keadaan susah maupun senang? Sehat maupun sakit dan tidak akan meninggalkannya sampai maut memisahkan kalian?”

Saena terdiam, membuat semua tamu yang berada di sana mulai gelisah saat menunggu jawaban gadis itu.

Donghae menoleh pada Saena, tatapan pria itu mampu membuatnya yakin. Tatapan  Donghae yang tulus dan penuh kepastian seakan menyingkirkan segala keraguan yang tadinya memenuhi hatinya tepat di saat-saat penting seperti ini.

“ Ya, aku bersedia…”

“ Dengan ini kalian dipersatukan di hadapan Tuhan dan umat-Nya. Apa yang sudah dipersatukan oleh Tuhan, tidak akan bisa diceraikan oleh manusia.”

Saena dan Donghae saling menatap satu sama lain sebelum salah satu sepupu Saena datang membawa keranjang berisi sebuah kotak. Saena tahu isi kotak itu, dua buah cincin.

Donghae mengambil salah satu diantaranya dan memasangkannya di jari manis Saena. Setelah itu dengan tangan yang sedikit gemetaran Saena memasangkan cincin itu di jari manis Donghae. Gadis itu menarik nafas lega saat ia tidak menjatuhkan cincin itu dalam keadaan tangan yang gemetar.

“ Baiklah, Donghae… kau bisa memberikan ciuman kasih sayang pada istrimu.”

Sekejap kepanikan menguasai Saena sementara tangan Donghae bergerak membuka slayer yang menutupi wajahnya, kemudian mendekatkan wajahnya hingga deru nafas mereka bertemu. Refleks Saena memejamkan matanya, enggan melihat wajah Donghae saat bibir mereka bertemu dalam keheningan, lalu setelahnya barulah terdengar tepuk tangan dan beberapa teriakan heboh dari Sohee, Yongguk, dan beberapa teman kantornya yang lain. Saena memang hanya mengundang beberapa orang yang cukup dekat dengannya.

Sementara wajah Donghae mulai memerah saat samar-samar ia mendengar teriakan Eunhyuk dan beberapa teman-temannya, mereka seperti sedang meledeknya dan untunglah Saena sedang memandang ke arah di mana teman-temannya duduk.

“ Saena…”

“ Ya?”

“ Terima kasih…”

***

          Saena merasa seluruh tubunya akan lepas, apalagi besok masih ada satu hari lagi di mana ia akan memakai gaun itu untuk resepsi pernikahannya. Rasanya ia masih lelah akibat sesi pemotretan panjangnya kemarin dan pemberkatan hari ini. Ia ingin langsung tidur setelah ini.

“ Biarkan aku yang mandi duluan.” Saena berkata sambil menyeret gaunnya ke kamar mandi, tidak membiarkan Donghae menginjak wilayah kekuasaannya itu.

Anything for you, dear… aku bisa mandi di kamar mandi luar.”

Saena merendam tubuhnya di air hangat sambil bersenandung kecil. Lalu satu pemikiran masuk ke dalam otaknya. Setelah ini ia dan Donghae akan tidur satu ranjang kan, apa yang akan terjadi?

“ Tidakk… tidak… Tidak akan terjadi apa-apa…. Hahahaha…”

Saena berusaha menghibur dirinya sendiri padahal ia tetap khawatir dengan apa yang akan terjadi di antaranya dan Donghae malam ini, bagaimana pun juga ia dan Donghae suami istri sekarang, pria itu sah-sah saja melakukan apapun padanya.

Aishh, tidak akan.. aku tidak akan membiarkan itu terjadi.” Saena berusaha menepis pikiran itu walaupun hatinya mengatakan hal yang sebaliknya.

Gadis itu melanjutkan mandi dan kegiatan berendamnya dengan cepat, karena semakin lama ia berada di sana, pikiran-pikiran aneh semakin menghantuinya.

“ Saena, kau percaya hari ini akan terjadi? Kau sudah menikah Saena… Kau sudah menikah! Kau percaya ini? Kau percaya seorang Saena bisa menikah? Hahaha… hari ini seperti mimpi.”

Saena mengeringkan tubuhnya sambil berbicara dengan bayangannya di cermin besar yang berada di kamar mandi.

“ Hmm… cantik.” Saena tersenyum sambil memuji dirinya sendiri, kebiasaannya setelah memakai piyama dan bersiap tidur. Itu hanya kebiasaan kecil karena seumur hidupnya tidak pernah ada seorang pun yang mengatakan bahwa ia cantik, memang Saena menyadari ia tidak cantik, bahkan jika ia mengenakan pakaian feminin dan make up sekalipun.

Saena mengeringkan rambutnya dengan handuk sambil berjalan keluar dari kamar mandi. Ia cukup terkejut saat melihat Donghae duduk di tepi tempat tidur sambil melihat ke arahnya.

“ Kau lama sekali di dalam sana, malu ya padaku?”

“ Apa? Malu?! Untuk apa aku malu? Hahahahaha… kau aneh.”

“ Bagaimana pun juga ini malam pertama kita kan?”

Saena berjalan ke arah Donghae setelah meletakkan handuknya di towel rack, gadis itu tampak cuek untuk menyembunyikan kegugupanya.

“ Lalu?” ia bertanya santai.

Pertanyaannya menimbulkan senyuman di wajah Donghae. Pria itu berjalan mendekati Saena dan memeluknya dari belakang.

“ Karena ini malam pertama kita harusnya kau memakai pakaian yang lebih sexy untuk menggodaku, sayang… kita kan bisa lebih mudah memulainya kalau aku sudah terangsang…AWW!”

Saena menyiku perut Donghae yang berada di belakangnya sekuat tenaga, pria itu meringis kesakitan. Saena merasa merinding dengan kata-kata yang diucapkan Donghae padanya. Pria itu menyeramkan.

“ Jangan ucapkan hal-hal aneh! Kita tidak akan melakukan apa-apa malam ini…”

Jinjja?”

Donghae melangkah ke depan tubuh Saena dan mengajak gadis itu berdiri. Kemudian dengan gerakan cepat Donghae mendaratkan ciumannya pada gadis itu. Singkat dan bahkan Saena belum benar-benar sadar dari rasa terkejutnya. Tapi Saena mengakui bahwa ia menikmati ciuman Donghae yang kedua kalinya hari ini. Singkat namun membuat jantungnya berdebar tak karuan apalagi ketika tatapan Donghae mengunci kedua bola matanya.

Can we start?” Donghae berbisik padanya.

Namun Saena tidak mampu menjawabnya, ia merasa seluruh tubuhnya gemetar sementara Donghae mulai mengangkat tubuh gadis itu ke tempat tidur mereka dan…

***

To Be Continued

Hadehhhhh lagi-lagi aku telat nge-post ffnya, maaf ya kawan2 semua A.A walaupun lagi liburan aku sibuk jadi ga sempet mulu ngetiknya, tapiiiii tiap chapter aku bikin panjang, biar pada puas bacanya… maaf kalo adegan Saena Donghae agak kaku dann gimana gtu T__T entah mengapa aku susah nemu feel yang tepat buat mereka, mudah2an chap depan lebih bisa memuaskan. Ehh iyaa bagi yang penasaran soal Sungmin, udah bisa dinikmati (?) di chap depan clue-nya, maaf klo nanti alurnya kecepetan soalnya aku ga pinter milih scene T__T trus sebenernya konflik Sungmin agak rumit sih walaupun dia support cast jadi aku ga pengen FF ini terlalu lama aja alurnya kayak WIHYON ^^V

Satu hal lagi : Saya TIDAK akan peduli pada orang-orang yang tidak suka pada FF saya ini, saya akan meneruskannya sampai selesai, apapun tanggapan kalian! Jadi tolong hargai saya, kalau kalian tidak suka, silahkan pergi…

Next Without Words Series : Without Words Chapter 4- Step

Teaser Chapter 4 :

Aish! Saena! Di mana dia? Bagimana bisa ia menghilang di pesta pernikahannya sendiri?”

“ Shinrin eonni… Darimana kau dapatkan fotonya? Apa kau mengenalnya?”

Mianhae… aku tidak bisa membantu apa-apa, aku juga tidak tahu harus menemukannya di mana…”

“ Hahahaha… aku hanya bercanda… tapi aku pikir Donghae pria yang baik, sejak pertama aku melihatnya aku yakin ia sudah ditakdirkan untuk menjadi pelindungmu… Cobalah akui itu, Saena-ah…”

“ Aku merasa aneh setiap kali ia tersenyum untukku… Ada apa sebenarnya dengan diriku?”

“… berusaha mengingatkanmu sesuatu, tidakkah kau merasa familiar dengan semua ini, hippo?”

20 thoughts on “[Korean Fanfiction/ Straight/ Mini Drama] Without Words (Chapter 3)

  1. Eonnie , lanjutin donk eon, pnasaran banget lanjutannya, oya, aku juga e-mail ke eonnie abisnya mau minta pw buat the cruel destiny, mhon d balas ya eon scepatnya.. Thanks xx

    • Annyeoong saengi ^^
      sipp deh pasti aku lanjut kok😄

      the cruel destiny? o.O
      belom ada itu mah ffnya saeng hehe yang ada Whether I Hate You or Not
      itu ya maksud kamu?

      e-mail kamu apa ya?
      nanti aku krim pwnya😀

      makasih udah baca + komen😀

      • Eonnie, part 4 nya d post-in donk eon , bner” udh nunggu lama bangettt, penasaran ama lanjutannya, tiap hari buka web ini gara” pengen liat sequelnya eon😀
        Oya, e-mail aku : jesslynharbangshb@yahoo.com
        Aku mau minta pw buat yang sequel whether I hate you or not nya eon😀 gomawo eonnie

    • jingkrak2 kenapa? o.0
      hehehe emang sih saeng tp di chap ini dia ga banyak karena bukan main cast >.<
      chap 6 ke belakang mulai banyak😄 mudah2an kamu ga bingung ya ^^

      makasih udah baca + komen😀

  2. aaaaaaaahhh… devi eonni.. FF’mu memang selalu daebaak.. !!
    Donghae-saena, chuke ne.. Akhirnya Donghae oppa bsa nikah ma saena..
    Di tunggu next chap’a eonni..
    Oh iya, sequel WIHYON’a gimna eonni? Gk di pos” ??

    • Ahhh bisa aja kmu mah u.U
      biasa aja FF aku saeng! hahahaha
      hehe iya dong akhirnya Haena nikah
      oke sip

      hmm TCD ditunda ya saeng >.< maafin eonni, nanti eon usahain cepet kok😛

      makasih udah baca + komen😀

  3. Devi, eon baca di part ini. Saena dh mulai menyukai donghae tp masih samar2 ya… Sebenarnya ada apa ya dengan appanya saena n ibunya donghae nyembunyiin sesuatu…jd penasaran nieh.
    Waah first night nya jd kepotong…mkra bnr2 ngelakuin kan hehee *ngarepbgt hehehe.
    Dr teaser part 4 nya, konflik dh dimulai ya…

    • Yup! Bener banget eon hahaha
      hmm ada di chap 6 eonni kalo dikasih tau ga sru ah *plak
      iya ga ya? *plak
      hahaha

      iya eonni konflik sungmin apalagi eonn ribettt bawa2 Haena juga tapiiii semuanya bakalan berakhir bahagia😄

      makasih udah baca + komen😀

  4. hii author… tau blog kamu dari ffindo gara2 fict ini juga, kirain udah dipost ff lanjutannya ternyata blm.
    ya udah akuvtunggu kelanjutannya. fighting thor ‘-‘)9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s