[Korean Fanfiction/ Straight/ Series/ Remake] Life of Lies (Chapter 1)

Cover FF Life of Lies chapter 1

Title : Life of Lies [Remake Version of Love Scandal]

Author : Kim Saena a.k.a Devi

Rating  : PG 13/ Straight/ Series/ On Writing

Genre   : Romance, Angst, Comedy*Gagal, Star Life

Cast:

Main Cast :  Kim Saena(OC)

SHINee- Key, Minho

Support Cast : SHINee – Jonghyun,Taemin,Onew

Jung Yue Lee(OC)

Park Hye soo(OC)

Tvxq –  Jung Yunho

SNSD – Jessica, Tiffany, Seohyun

Other Cast : FIND BY YOURSELF!

Disclaimer:

SHINee,Tvxq, SNSD are belong to God, SM entertainment and their parents

It’s just for fun. Please don’t sue me. This story is mine.

Don’t take this fanfic without permission from me. If you want to take this fanfic.

Please take with full credit.

WARNING : AU, OOC

Summary : Saena – seorang gadis beruntung yang bisa bertemu dengan idolanya SHINee, tetapi hal itu malah membawanya ke dalam konflik cinta terlarang Choi Minho (SHINee) dan Seo JooHyun (SNSD) karena suatu ketidaksengajaan. Berawal dari fans fanatik SHINee, Saena harus pusing karena terlibat dalam konfik cinta yang terdapat di kehidupan para membernya.

Chapter 1 – Meet SHINee?! Is this a dream?

Author Pov

Ayolah kumohon!

Gadis berambut hitam sebahu itu menelusuri dengan teliti satu per satu deretan nama yang terpajang di salah satu website yang sedang dibukanya. Matanya bergerak gelisah ke kiri dan ke kanan, mencari namanya diantara puluhan nama yang disusun vertikal. Hatinya mulai diliputi perasaan gugup karena tidak kunjung menemukan nama yang dicarinya padahal daftar nama itu sudah mulai memendek dan hanya menyisakan beberapa nama lagi.

“ Padahal ini kuis terakhir dan aku berharap penuh. “ Mata gadis itu sudah berkaca-kaca, hatinya larut dalam kepedihan dan kekecewaan, menentang harapan yang dipendamnya kuat-kuat.

“ Nama terakhir… Kim Saena…Hah! Sudah kuduga, aku tidak berjodoh untuk  bertemu dengan mereka.”

Gadis itu hendak menutup tab yang masih menampilakan halaman website yang dibukanya sebelum satu kesadaran lain masuk ke otaknya.

MWO?! K… Kim… Kim Saena?” Gadis itu membuka matanya lebar-lebar dan memelototi nama terakhir yang dipajang di halaman website itu.

“ Kim Saena… umur 19 tahun… alamat email StrawberryYummGirlz@blacklist.com.”

Gadis itu terpaku beberapa saat di depan layar laptopnya yang menyala. Wajahnya ditempa ekspresi terkejut akibat sesuatu yang dibacanya.

“ AH! BENAR! Ini aku… aku menang! Aku bisa bertemu dengan mereka secara langsung.” Gadis itu bangkit dari posisi duduknya, posisi yang mengurungnya selama sepuluh menit terakhir, hanya untuk mencaritahu apakah namanya terpajang di sana atau tidak.

“YIHAAAAAAA! Aku akan bertemu SHINEE!!!!!”

Gadis itu melompat kegirangan, semua beban yang dipendamnya beberapa waktu seolah sudah terangkat. Beberapa gerakan tarian bahkan sempat dilakukannya untuk menunjukkan kebahagiaannya saat ini.

“ Saena-ah…”

Bruk!

 

“Awww…” gadis itu mendarat dengan suksesnya di lantai berkarpet abu-abu dengan motif lumba-lumba hijau. Perpaduan warna yang aneh memang, tetapi hebatnya lagi warna-warna unik seperti itulah yang disukai gadis ini.

“ Saena, gwenchanayo?” Sosok lain yang tiba-tiba membuka pintu kamar gadis itu dan membuatnya jatuh karena tertabrak pintu, bukannya membantu gadis yang tanpa sengaja dibuatnya tiduran di atas lantai, malah hanya berdiam diri dan menatap temannya yang sedang asyik ‘mencium’ lantai dengan tatapan bingung.

Gadis yang dipanggil Saena, segera bangkit dari posisi tidurnya dan menghampiri sosok yang masih setiap berdiri di depan kamarnya dan memegang handle pintu agar tidak tertutup.

“ Park Hyesoo-ssi… bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk? Apa kau tidak tahu tindakanmu tadi membahayakan nyawaku? Kalau tadi aku pingsan bagaimana? Kalau tadi aku cedera, terluka, atau kepalaku terbentur cukup keras dan lalu lupa ingatan apa yang akan kau katakan pada eomma dan appa-ku? La…”

Geumanhae! Kau ini kenapa jadi berlebihan seperti itu? Aku hanya khawatir karena kau tiba-tiba berteriak. Kupikir ada hantu…”

“ SSST! Kau ini, malah biacara yang tidak-tidak, ini sudah malam.”

“ Aishh, ne, ada apa kau berteriak begitu?”

“ Aku…” Saena sengaja menggantung kalimatnya, agar menimbulkan efek penasaran. Hyesoo memperhatikan wajah Saena masih dengan ekspresi yang sama, hanya saja kali ini ditambah ekspresi penasaran disertai kerutan kecil di dahinya, membuat ia terlihat beberapa tahun lebih tua dengan ekspresi serius seperti itu.

“ Aku apa?”

“ Tunggu! Aku sengaja membuatnya lebih dramatis.”

“ Hah! Kau ini cepatlah, aku mau tidur lagi.”

“ Aku memenangkan tiket…”

“ Halah… palingan juga tiket bisokop atau opera kacangan, tidak menarik.” Baru saja Hyesoo akan melangkah keluar, Saena menahannya dengan melanjutkan kata-katanya yang tadi dipotong.

“  Sayang sekali, bukan itu, baik kalau kau mau tidur, sana pergi, tapi jangan menyesal kalau kau tahu soal ini nanti…”

Mwo?”

Saena membalikkan badannya dan langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tidak memperdulikan Hyesoo yang masih berada di dalam kamarnya.

YAA! YAA! Kenapa kau malah tidur?” Hyesoo mengguncangkan badan Saena dengan semangat, padahal tadinya gadis itu sudah sangat lelah.

“ Katanya tidak mau tahu…” Saena dengan gaya santainya tetap bertahan di posisi tengkurapnya.

Aishhh, baiklah, katakan tiket apa yang kau dapat?”

“ Benar kau mau tahu?” Saena langsung bangkit dari posisi tidurnya dan menatap Hyesoo penuh harap.

Ne…” Hyesoo menjawab dengan nada malas melihat Saena yang entah kekuatan darimana menjadi kembali bersemangat.

“ Aku mendapat tiket SHINEE WORLD CONCERT ! AAAAA I can’t believe this!”

Life of Lies │© 2013 by Ksaena

Chapter 1 – Meet SHINee?! Is this a dream?

ALL RIGHT RESERVED

“ Apakah ini mimpi?” teriak Saena sambil terus memandangi tiket konser Shinee di tangannya.

Hyesoo dan Yuelee hanya saling melemparkan tatapan bingung satu sama lain melihat tingkah sahabat mereka yang tiba-tiba berubah menjadi ‘ajaib’ setelah tiket konser itu di kirim ke apartement mereka tadi pagi.

“ Aku jadi bingung… Kenapa kau ini beruntung sekali Aku ingin sekali seperti kau. Dulu kau terpilih untuk mendapatkan hadiah dari Yunho saat konser TVXQ. Sekarang kau berhasil mendapatkan tiket gratis VIP SHINee World Concent.” Kata Yuelee sambil memandang iri ke arah tiket di tangan Saena.

“ Ahh dewi fortuna memang selalu bersamaku.”

“ Eh nanti pasti ada fans meeting-nya kan?” kata Hyesoo dengan mata berbinar-binar.
“ Ah ne, lalu? “ Saena memandang curiga ke arah tatapan mata Hyesoo yang kelihatan aneh. Gadis itu sudah sangat hafal perilaku temannya, jika ia sudah melihat dengan tatapan seperti itu biasanya ia mengiginkan sesuatu dan menyulitkan.

Yaa! Mengapa kau memandangku seperti itu? ” kata Hyesoo tersinggung karena tatapan mata Saena yang seolah menghujam padanya.

“ Sudahlah katakan saja apa yang kau inginkan.”

“ Tolong mintakan tanda tangan Jonghyun di foto ini ya.” Kata Hye soo sambil menyerahkan foto Jonghyun. Foto itu diletakkan di dompetnya dan selalu dibawanya kemana-mana ketika bepergian dan di waktu-waktu tertentu, Hyesoo akan dengan senang hati memandangi foto itu dan perasaannya akan jauh lebih baik setelahnya.

Saena menjulurkan tangannya menerima foto yang disodorkan Hyesoo dan mengangguk pelan, tak kuasa menolak permintaan sahabatnya itu.

Gomawo Saena-ah. “ Hyesoo melompat dan memeluk Saena yang terkaget-kaget dengan tingkah Hyesoo.

Cheonma… tapi kalau aku tidak keburu pingsan melihat Key, hahahaha… ”

Yaaaa! Kau ini berlebihan sekali, kalau kau pingsan kau yang akan rugi tahu.”

“ Tapi berapa banyak shawol yang ada di sana. Bisa masuk ke dalam sana saja sudah bagus.”

Jebal, Saena-ah… Lakukan ini untukku.” Kata Hye soo sambil merajuk.

“ Tentu saja! Aku akan berusaha mendapatkannya untukmu.”

“ Yuelee-ah kenapa kau diam saja?”

Gwenchana, aku masih sedikit kesal karena iri padamu.” kata Yue lee sambil membalikkan badannya pada Saena. Pura-pura marah.

“ Hahahahahaha, kau tenang saja, nanti aku akan bawakan fotoku bersama Minho.” Kata Sae sambil mengedipkan matanya pada Hyesoo dan di balas Hyesoo dengan senyuman jahil.

Mendengar nama Minho disebut Yuelee langsung berbalik badan dan mendapati dua sahabatnya sedang tertawa cekikikkan. Yuelee mengambil bantal yang ada di sebelahnya dan melemparnya ke arah mereka. Tetapi mereka tidak juga berhenti tertawa.

Yaa! Geumanhaeyo.”  Yuelee berkata dengan nada kesal kemudian beranjak pergi meninggalkan Hye soo dan Sae na yang masih tertawa. Begitu menyadari Yuelee sudah tidak ada di hadapan mereka. Saena memandang Hyesoo dengan pandangan bertanya-tanya. Hyesoo pun mengangkat bahunya. Bingung dengan sikap Yuelee. Padahal mereka hanya berusaha bercanda.

***

          Gadis itu memandang gelisah ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sesekali ia melemparkan padangan ke seluruh penjuru café yang hanya terisi beberapa pengunjung. Gadis itu merasa lega dengan suasana café yang tidak terlalu ramai, sehingga tidak akan ada yang mengenalinya.

“ AHHH…” Gadis itu terlonjak kaget dan menoleh ke belakang di mana seorang pria dengan tinggi lebih dari 180 cm berdiri di belakangnya. Walaupun wajah pria itu tertutup topi dan kaca mata hitam yang dikenakannya, gadis itu mengenali siapa sosoknya.

“ Kenapa sepertinya kau kaget begitu?”

“ Kau tahu, Minho-ah, aku begitu takut kalau nanti ada paparazzi artau fans yang memergoki kita, semua ini bisa menjadi berantakan.”  Gadis itu merapikan topi dan masker yang sedang digunakannya, sehingga hanya menampilkan sepasang mata indahnya.

“ Tenang saja, chagi, café ini jauh dari keramaian, jarang sekali ada paparazzi yang ke sini.”

“ Tapi letaknya hanya beberapa ratus meter dari gedung SM, kau sudah gila memilih tempat seperti ini untuk bertemu? Bagaimana jika ada staff SM yang mengetahuinya?”

” Tenang saja… tidak akan ada yang tahu kita ada di sini. Lagipula aku tidak akan lama.”Pria bermata besar itu memainlan sedotan di gelasnya. Tampak bingung harus memulai pembicaraan dari titik mana, mengingat pembicaraan itu sangat sensitif.

” Aku tahu apa yang akan kau bicarakan…” Seohyun melambaikan tangannya, memanggil salah seorang pelayan yang kebetulan melintas di dekatnya.

Sang pelayan mendekat dan menyodorkan buku menu pada gadis itu. Cukup lama dang pelayan berada di sana, membuat Seohyun sedikit risih. Padahal harusnya pelayan itu sudah pergi setelah memberikan buku menu padanya. Tidak lama Seohyun menekuni buku itu, ia menunjuk asal pada sebuah menu yang terdapat di sana tanpa benar-benar melihatnya terlebih dahulu.

” Aku pesan yang ini satu…”

Seohyun sengaja merubah suaranya, ia merasa pelayan itu tahu siapa dirinya walaupun ia sudah memakai penyamaran sedemikian rupa. Sedangkan Minho berpura-pura meliaht ke arah lain. Padahal pria itu hanya berusaha menyembunyikan tawanya.

” Baiklah nona… silahkan tunggu sebentar.”

Begitu sang pelayan pergi dari sana, Seohyun langsung melemparkan tatapan kesal ke arah Minho. Namun sang objek seolah tidak menyadari arti tatapan itu. Ia malah masih fokus melanjutkan tawanya.

” Berhenti tertawa Choi…” Seohyun menutup mulutnya sendiri saat tanpa sadar ia berteriak pada pria itu.

” … Minho.” desis Seohyun melanjutkan kata-katanya yang sempat terputus tadi.

Ne… hahaha, aish…”

” Berhenti kubilang!”

” Baiklah Seohyun sayang… hmm kau tahu apa yang akan kubicarakan sekarang?”

Gadis itu mengangguk. Mendung kembali menguasai wajahnya, teringat dengan topik pembicaraannya saat ini.

“ Jadi, tentang peraturan baru…”

“ Aku tidak tahu harus mengatakan apa tentang hal itu… Aku masih ingin mempertahankan hubungan kita Minho… tapi… aku juga lelah jika seperti ini terus ditambah peraturan baru yang melarang… semua ini.”

“ Kau harus bersabar, Seohyun-ah, kita harus berkorban untuk mendapatkan sesuatu. Mungkin hubungan kita memang tidak bisa dipublikasikan dan kita harus terus bersembunyi seperti ini.”

Seohyun menatap Minho dengan pandangan sedih. Dalam hati ia mengakui kebenaran kata-kata Minho. Mereka memang tidak bisa memberitahu publik soal hubungan mereka. Peraturan yang melarang artis dari satu entertainment untuk berpacaran memang menyulitkan posisi mereka.

“Aku tidak ingin kehilangan karierku. Tapi aku juga tidak ingin kehilangan dirimu.”

Gadis itu memalingkan wajahnya. Tidak ingin Minho melihat sesuatu yang akan menetes dari sudut matanya.

Minho menarik tubuh Seohyun dan mendaratkan tangannya di sana. Mengusap air mata gadis itu yang hampir menetes, kemudian pria itu memberikan pelukkannya.

“ Aku juga begitu, aku lelah jika harus menahan diri untuk tidak mendekatimu. Harus berpura-pura menganggapmu hanya teman. Padahal hubungan kita lebih dari itu,

tapi kita harus bertahan.”

Seohyun menghela nafas. Ia tidak mau keluar dari SNSD. Nama yang membawanya seperti sekarang, nama yang membawanya terkenal. Hampir enam bulan ia menjalani hubungan khusus dengan juniornya, Choi Minho SHINee. Di tengah kemantapan hati mereka untuk terus menjalankan hubungan rahasia itu, ada hal lain yang harus mereka hadapi.

Hanya ada dua pilihan, karier atau cinta?

Mereka harus tetap merahasiakan hubungan mereka bahkan dari anggota grup mereka masing-masing. Tidak ada yang boleh tahu kalau mereka ingin semuanya berjalan dengan aman dan lancar.

“ Untuk sementara waktu, kita harus tetap seperti ini.” Kata Minho sambil tetap memeluk Seohyun.

“ Maaf nona, ini pesanan anda…” seorang pelayan meletakkan piring di atas meja di samping Seohyun dan berhasil membuat gadis itu tersentak dan refleks melepaskan pelukannya dari Minho.

“ Ah, ne, gomawo…”

Seohyun memandangi isi pirinya dan terdiam beberapa saat. Sepertinya ia memesan makanan yang salah.

“ Ada apa, chagi?”

“ Makanan apa ini?” Seohyun bertanya polos. Ia memandangi isi piring di hadapannya dengan tatapan heran. Minho yang berada di sebelahnya langsung terlihat sama bingungnya dengan gadis itu.

“ Memangnya tadi kau pesan apa?”

Molla… aku kan hanya asal tunjuk saja tadi… sepertinya pelayan itu mengenaliku, padahal aku sudah bersusah payah menyamar seperti ini.”

“ Hahahahaha… jadi itu masalahnya, tunggu sebentar.”

Minho melambaikan tangannya untuk memanggil seorang pelayan mendekat. Salah satu gadis pelayan, untungnya bukan gadis pertama yang melayani Seohyun, mendekat.

“ Ada tambahan pesanan, tuan?”
“ Euhmm… aniya… bisa kau jelaskan makanan apa ini?” pelayan itu tampak bingung melihat isi piring yang ditunjuk Minho. Masih utuh dan belum tersentuh sama sekal.

“ Itu adalah voagra, olahan dari hati angsa.”

MWO?”

Seohyun melihat makanan itu dengan tatapan mengerikan. Sementara sang pelayan menatap mereka dengan pandangan bingung. Kalau ia tidak tahu jenis makanan itu, lalu kenapa ia memesannya?

“ Baiklah, terima kasih…”

Minho mati-matian menahan tawanya, sehingga suara pria itu terdengar aneh, sedangkan Seohyun berusaha menjauhkan piring makanan itu dari hadapannya. Begitu sang pelayan pergi, tawa yang ditahan pria itu meledak, membuat semburat merah di wajah Seohyun.

“ Choi Minho berhenti tertawa atau aku akan pergi!”

***

Pemandangan malam kota Seoul memang menakjubkan, lampu-lampu yang menyala hampir di setiap bangunan, layaknya ribuan bintang yang menghiasi mega malam. Pemandangan indah yang hampir selalu terlupakan, kesibukan para manusia untuk sekedar mengaguminya.

Yuelee berjalan sendirian menyusuri jalan ibukota Korea Selatan, yang menjadi tempatnya berdomisili. Gadis yang memiliki senyuman indah itu, kini tidak tersenyum. Bahkan senyuman yang selalu dilemparkannya pada setia orang itu, kini lenyap. Hanya tertinggal ekspresi kesal yang terpancar jelas dari sorot matanya.

” Huh… awas saja mereka berdua nanti!” Yuelee menggerutu sambil menendang benda apapun yang berada di dalam jangkauannya.

Jelas saja gadis itu kesal. Ia sedang termakan rasa iri yang kelwat besar, ini semua karena Saena memenangkan tiker konser idamannya. Baiklah ralat… bukan hanya idamannya, melainkan idaman mereka bertiga, namun Saena yang paling beruntung untuk mendapatkannya.

Iri adalah hal yang wajar bahkan mereka bertiga cukup sering saling iri satu ama lain. Entah dalam hal pelajaran, barang, dan lainnya sejak SMA hingga saat ini saat mereka duduk di bangku kuliah. Namun biasanya hal itu hanya candaan semata dan kalaupun mereka benar-benar bertengkar, paling lama satu minggu mereka akan seperti biasa lagi.

Hari ini entah kenapa saat Hyesoo dan Saena meledeknya soal Minho, ia merasa kesal walaupun ia tahu mereka hanya berusaha bercanda seperti biasa. Maka dari itu ia memutuskan untuk jalan-jalan sendirian, agar perasaannya bisa jauh lebih baik.

Yuelee melihat beragam toko yang berada di samping kanannya. Gadis itu tampak tertarik namun tidak memutuskan untuk masuk. Gadis itu hanya melihatnya sekilas dan kembali meneruskan langkahnya dan…

Bruk!

” Awwww…”

Yuelee mengusap lututnya yang terantuk aspal. Perih dan berdarah … sementara seseorang yang tanpa sengaja ditabrak atau menabraknya itu, terkapar di sebelahnya. Yuelee melihat wajah pria itu, tidak begitu jelas karena tertutup hodie yang dikenakan pria itu

Mianhae… apa anda baik-baik saja?”

Pria itu tidak menggubris pertanyaan Yuelee, ia malah mengambil kaca mata hitamnya yang terjatuh dan segera memakainya, kemudian berdiri dan meninggalkan Yuelee sendirian terduduk di atas aspal. Gadis itu mengerutkan keningnya dan segera berdiri sebelum mencuri perhatian orang lain. Sedang apa seorang gadis duduk di aspal malam-malam begini?

Yuelee membersihkan debu yang menempel di celananya kemudan melihat ke arah pria itu melangkah. Gadis itu sedikit kesal dengan sang pria yang cuek dengan permintaan maafnya.

” HUH! Kenapa dia? Aku kan sudah minta maaf dan bukannya sengaja menabraknya. Ish… dasar pria aneh.”

Yuelee hendak melangkah dari sana saat kakinya menginjak sesuatu. Yuelee memperhatikan benda itu sebelum mengambilnya.

Sebuah kalung berbentuk beruang…

” Apa ini miliknya? Ah, sudahlah… aku ambil saja siapa tahu aku bisa bertemu lagi dengannya. Eh tunggu! Sepertinya aku pernah melihat wajahnya…”

Yuelee melihat ke arah yang sama, di arah pria itu menghilang… namun pria itu sudah tidak ada di sana.

” Siapa ya dia? Hmm… apa mungkin aku salah orang?”

***

Gadis itu membiarkan angin mengacak-acak rambutnya. Gadis itu tidak akan membiarkan angin merusak suasana bahagia yang mengurungnya. Gadis itu bahkan tersenyum tanpa henti. Ia melipat kedua tangannya di atas besi penyangga balkon. Tatapannya mengarah pada langit malam yang kelewat cerah, seolah turut berbahagia dengannya.

” Ah… Key, sebentar lagi aku bisa bertemu denganmu… Apa mungkin kita berjodoh?” Gadis itu tertawa dan menggelengkan kepalanya, mungkin ia sudah gila karena berbicara pada angin. Apalagi berharap angin menyampaikan pesannya pada sang idola. Khayalan yang terlalu tinggi.

Bruk!

“Ouch…”

Gadis itu menoleh ke belakang dan mendapati sahabat wanitanya tertawa dengan ekspresi polos. Seolah- olah tidak ada yang terjadi… padahal ia tahu persis kalau apa yang dilakukannya sudah menjurus tindak penganiayaan skala kecil, membuyarkan khayalan seseorang.

YAA! Hyesoo-ah, apa yang kau lakukan? Ih… kau tahu apa yang kau perbuat sudah berhasil membuyarkan imajinasi yang susah payah kubangun?!”

” Harusnya kau berterima kasih padaku… aku sudah menyadarkanmu…” Hyesoo menjawab dengan nada polos, membuat gadis itu merasa geram.

” Memangnya apa yang salah dengan mengkhayal?” Gadis itu mengambil bantal yang dilemparkan padanya dan melemparkan benda itu lembali ke Hyesoo namun gadis itu lebih beruntung, lemparan Saena hanya mendarat di tangannya.

Mwo? Aku pikir kau sedang kesurupan… habis… kau bicara sendiri…”

” Enak saja! Aku baik-baik saja… Aku hanya berpikir apa yang akan aku lajukan jika bertemu dengan Key…”

” Itu saja?! Nih ya… aku kasih daftarnya… tentu saja kau harus ke salon… creambath, medicure, pedicure, paket spa lengkap, facial dan…”

Stop! Stop! Apa-apaan itu? Aku kan hanya mau bertemu dengannya bukan menikah dengannya… walaupun aku berharap hal itu terjadi sih…”

” Tapi Saena kau haris tampil sempurna untuk menarik perhatiannya.”

” Kurasa itu terlalu berlebihan… ah ya, Yuelee kemana?”

” Pergi sejak satu jam yang lalu… memangnya kau tidak tahu?” Hyesoo mendaratkan dirinya di sofa dan mengambil remote tv dari atas meja.

Saena hanya menggelengkan kepalanya sebelum mengikuti jejak Hyesoo, duduk di sebelah gadis itu.

” Aku kan sejak tadi hanya yah kau tahu…”

” Terlalu sibuk mengkhayal, huh?!”

Ceklek!

Suara pintu yang dibuka mencuri perhatian kedua gadis itu. Yuelee muncul di sana dengan tampang sedatar mungkin, namun yang ditangkap oleh Hyesoo dan Saena adalah ‘ gadis itu masih marah’.

” Jangan tanya sekarang… hariku sangat berat.”

Yuelee segera menjawab tatapan kebingungan dua sahabatnya itu sebelum mereka sempat berkata apa-apa mengenai penampilannya yang sedikit kusut dan kakinya yang terluka.

” Baiklah… selamat tidur, Yuelee-ah.” Hyesoo berteriak sebelum Yuelee benar-benar menutup pintu kamarnya.

” Kira-kira apa yang terjadi padanya?”

Hyesoo hanya menanggapi pertanyaan Saena dengan mengangkat bahunya.

” Untuk saat ini… yang pasti jangan tanya apa-apa padanya, kalau kita tidak ingin dia mengamuk.”

***

” Kau tahu kenapa aku menyuruhmu datang ke sini?”

Jessica memandang gadis di depannya dengan tatapan datar. Ia sudah tahu apa alasannya mendekam sendirian di sana padahal teman-temannya sudah kembali ke dorm sejak latihan mereka berakhir setengah jam yang lalu. Namun ia hanya menggeleng pasrah, berpura-pura tidak tahu.

” Baiklah Jessica langsung saja… Aku melihat bakat yang luar biasa ada padamu, kau sudah mempunyai modal-modal yang cukup sebagai seorang bintang hanya saja… aku lihat kau tidak memaksimalkan potensi yang kau punyai… ada apa, Jessica?”

” Aku tidak mengerti maksudmu, eonni… aku rasa aku sudah maksimal saat latihan dance tadi. Aku sudah mengeluarkan semua yang aku punyai… adanya aku yang harus bertanya di mana letak kesalahanku, eonni? Sehingga kau harus menegurku terus-menerus?”

” Kau tidak sadar, jess… Kau harus melakukanya dengan hatimu. Kau bisa bernyanyi dengan sangat baik, semua orang tahu itu… tapi tidak halnya dengan menari… kau harus bekerja lebih keras untuk hal itu.”

” Tapi, Eunjae eonni, aku…”

Jessica hendak menlayangkan argumentnya namun Eunjae menahan luapan kata-kata gadis itu dengan menempelkan telunjuknya di bibir Jessica.

” Dengarkan, jess, sekarang bukan saatnya kau membantah argumentasiku. Aku hanya berusaha memperingatkannu, kalau performamu seperti ini terus, bukan tidak mungkin kau akan dikeluarkan dari grup… aku tidak ingin mengancammu… tapi kau harus berusaha lebih keras, jess. Ini semua ada pada keputusanmu sendiri.”

Jessica hanya terdiam mendengar kata- kata Eunjae padanya, ia mulai merenungkan kesalahannya sendiri.

” Aku harap kau merenungkan kata-kataku hari ini, kau boleh kembali ke dorm sekarang… besok kalian masih banyak kegiatan kan?”

Ne, eonniAnnyeong.” Jessica meninggalkan ruang latihan mereka dengan kepala tertunduk.

Semua bantahannya terasa salah, seharusnya ia merasa kesal karena hanya ia satu-satunya yang paling sering mendapat teguran. Padahal ia merasa tidak ada yang salah dengan gerakannya, namun berbeda dengan pemikiran koreografer grupnya itu. Ia merasa banyak hal yang harus diperbaiki dari seorang Jessica Jung, membuat Jessica gerah semua itu.

Namun kali ini hal itu turut mengganggu pikirannya, ia tidak bisa lagi cuek dan berpura-pura tidak ada hal yang terjadi sementara ia terancam kehilangan mimpinya. Tidak… Seorang Jessica Jung tidak akan semudah itu menyerah pada keadaan, ia akan membuktikan sesuatu

Jessica menapaki lorong yang sunyi, bahkan penerangan yang berada di sana mulai berkurang. Jelas saja… saat jam-jam segini tidak akan ada yang masih berada di sana. Bahkan mungkin hanya tertinggal dirinya di sana.

” Ugh… apa yang harus aku lakukan sekarang?” Jessica memegang kepalanya yang mendadak pusing.

Tiba-tiba matanya tertumbu pada satu ruangan yang masih terang. Gadis itu tertarik dan memutuskan melihat dari jendela yang berada di pintu ruang itu.

” Eh… ternyata masih ada yang latihan jam segini.” Jessica mengurungkan niatnya untuk kembali ke dorm. Gadis itu malah asyik memperhatiakn grup yang merupakan juniornya itu meliuk-liukkan tubuh mereka mengikuti irama.

Cukup lama Jessica memperhatikan mereka, melupakan ritme waktu yang semakin menjauh. Gadis itu terlalu terhanyut dalam kegiatannya dan berhasil melupakan  sejenak masalah yang sedang dihadapinya.

” Hmm… sepertinya dia yang paling menarik, gerakannya bebas tapi tetap sesuai ritme… Andai saja aku bisa sepertinya… menari tanpa beban.” tanpa sadar Jessica bergumam, menunjukkan kekagumannya. Satu pemikiran masuk ke dalam dirinya, gadis itu mulai tersenyum.

” Aku tahu apa yang harus aku lakukan.” Gadis itu menjentikkan jarinya, sebelum benar-benar pergi dari sana.

***

          “ YAA!Hyung, kenapa wajahmu kusut begitu?”

Minho menoleh pada Taemin yang berdiri di sebelahnya. Memang sejak latihan hingga sekarang ketika mereka telah sampai di apartement. Wajahnya tidak bisa ceria, memang hal itu sudah diketahui mereka semua. Minho memang terbiasa bersikap kalem dan bisa dibilang dingin. Namun kali ini ada sensasi yang berbeda dibalik sifat dinginnya yang mendominasi, hal itulah yang disadari Taemin.

“ Cuma sedikit lelah, Taemin-ah… aku tidak apa-apa…” Jawab Minho singkat. Saat ini memang ia sedang tidak ingin diganggu.

Taemin memandang Minho dengan alis berkerut. Tinggal bertahun-tahun dengan teman satu grupnya itu, membuat ia mengenal Minho dengan baik. Minho pasti menyembunyikan sesuatu. Entah apa itu, ia pun tidak tahu,yang jelas sesuatu itu telah membuat Minho kehilangan sinarnya.

“ Kau yakin, hyung?”

“ Ne. Aku cuma perlu waktu untuk menyendiri.” Minho berusaha tersenyum walaupun hal itu malah kelihatan semakin aneh di mata Taemin.

“ Baiklah. Segeralah beristirahat, hyung.Wajahmu pucat sekali. Annyeong…”

Ne, Gomawo.”

Taemin meninggalkan Minho, ia tahu tidak ada gunanya memaksa Minho bercerita sekarang. Ia ingin memberikan Minho kelonggaran untuk dapat merenungkan masalahnya sendirian. Walaupun akan jauh lebih baik jika Minho mau berbagi dengannya, Taemin mengerti Minho memiliki batas-batas privasinya sendiri. Minho memandang Taemin dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ia ingin sekali bercerita tentang masalahnya, perasaanya, keinginannya. Ingin rasanya ia berteriak dengan penuh kekesalan, namun tidak bisa dilakukannya. Ia menahan semua itu hingga membuatnya sesak.

Ia harus melindungi Seohyun apapun yang terjadi. Ia tidak ingin satu orang pun tahu hubungannya dengan Seohyun. Tidak seorangpun…

Hal itu yang membuatnya murung belakangan ini, walaupun ia masih bisa bertemu dengan gadis itu hampir setiap hari mengingat mereka berdiri dalam satu agensi. Justru di sanalah letak masalah mereka, karena mereka berada dalam satu agensi. Mereka sulit bersatu, seolah-olah mereka dihadapkan dengan beragam pilihan yang berat.

Tapi satu hal yang dapat menguntungkan mereka, mereka dapat bertemu cukup sering di sela-sela waktu latihan mereka. Berbeda hal jika mereka berdiri di agensi berbeda, mereka tentu akan mempunyai waktu yang sempit untuk bertemu dan itu hanya akan membuat hubungan mereka tidak bisa bertahan lama. Keterbatasan waktu untuk bertemu dan intensitas pertemuan mereka.

“ Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa yang bisa kuperbuat untuk mempertahankanmu tetap di sisiku?”

Tatapan pria itu kosong…

***

Annyeong…” Sapa Yue lee saat memasuki kelas. Tampaknya gadis itu sedang berada dalam suasana ceria, berbanding terbalik dengan keadaannya kemarin malam.

Saena dan Hyesoo yang sedang asyik membaca buku menoleh pada Yue lee yang baru datang. Mereka memang tidak berangkat bersama Yue lee karena tadi pagi Yue lee tidak bisa bangun. Mungkin semalam gadis itu tidur terlalu larut atau malah tidak bisa tidur, walaupun ia tidak keluar dari kamarnya lagi sejak ia masuk ke sana.

Saena menangkap sesuatu yang dipakai Yuelee. Seuatu yang berkilauan di leher gadis itu dan sebelumnya tidak ada di sana.

Kalung? Sejak kapan Yuelee memakai kalung?

 

“Yuelee, kalungmu bagus. Beli di mana? Kenapa aku baru melihatnya sekarang?” tanya Saena penasaran.

“ Ohh ini…Hahahaha… Kalung ini aku temukan kemarin saat sedang jalan-jalan… Bagus ya.” Yuelee memainkan kalung yang dikenakannya sambil tersenyum.

Hyesoo tertarik dengan perkataan Saena dan ikut menolehkan kepalanya ke arah Yuelee dan melihat kalung itu.

“ Wahh bagusnya…” pekik Hyesoo tanpa sadar, karena kekaguman gadis itu yang sedikit berlebihan. Hasil dari teriakan Hye soo itu, seluruh penghuni kelas, ralat… penghuni kelas berjenis kelamin perempuan, melihat ke arah Yuelee, ada yang berdecak kagum dan mulai mendekati gadis itu, ada pula yang hanya cuek dan merasa hal itu bukan sesuatu yang istimewa.

Yuelee merasa tersanjung karena biasanya ia dikenal dengan prestasinya yang cemerlang dalam bidang akademik. Namun hari ini hanya karena memakai kalung yang ditemukannya, ia menjadi pusat perhatian.

“ Eh ayo duduk semua. Kwon Seongsaenim sudah datang…” Teriak salah satu dari mereka sambil menunjuk pintu kelas.

Secepat kilat anak-anak berlari ke bangkunya masing-masing dan kehebohan pagi itu berakhir dengan dimulainya pelajaran.

Setelah pelajaran berakhir, seperti biasa ketiga sekawan itu berjalan beriringan menuju kantin. Mereka memang satu jurusan, jadi jadwal kuliah mereka sama, sehingga mereka terbiasa melakukan segala sesuatu bersama kecuali jika salah satu diantara mereka, sibuk dengan urusannya. Biasanya hal itu terjadi pada Yuelee, sebagai bintang campus, ia sering dipanggil untuk mengikuti berbagai macam kejuaraan.

“Halus, detailnya sempurna.” Gumam Hyesoo sambil memperhatikan baik-baik detail kalung itu.

“ Sudahlah…Nanti kau malah iri, lagipula mungkin aku tidak akan memakai kalung itu lagi…” kata Yue lee sambil tertawa.

Mwo? Kenapa? Bukankah kalung itu cocok untukmu?” Saena bertanya sambil memperhatikan diktat kuliahnya.

“ Bagaimanapun juga kalung itu bukan milikku… aku malas memakai barang milik orang lain, bagaimana kalau aku disangka mencuri? Aishh…”

“ Memangnya milik siapa?” Saena kembali bertanya. Hal itu segera mengingatkan Yuelee pada peristiwa yang dialaminya semalam. Gadis itu mengerutkan dahinya berusaha  mengingat-ingat wajah pria yang bertabrakan dengannya. Wajah yang tidak asing… sepertinya ia sering melihat wajah itu…

“ Entahlah, semalam saat aku pergi, tanpa sengaja aku bertabrakan dengan seorang pria dan aku rasa kalung itu miliknya.”

Saena hanya menganggukkan kepalanya, tanpa berniat bertanya lebih jauh. Sementara Hyesoo masih terus memperhatikan kalung itu. Ia mencoba mencari keunikan kalung yang dipegangnya dan ia berhasil menemukan sebuah tombol tersembunyi di dekat kaki beruang kecil itu. Memang kalau tidak teliti, tombol itu hanya seperti hiasan biasa.

Dengan penasaran Hyesoo menekan tombol itu dan ternyata boneka beruang, liontin kalung itu, mempunyai bagian dalam dengan ukiran hurus S besar di tengah-tengahnya. Hyesoo memandang benda itu dengan bingung.

“ Yaa! Huruf S… Apa maksudnya?” Hyesoo bergumam, namun cukup keras untuk didengar Yuelee dan Saena. Mereka berdua menghentikan kegiatan mereka dan menatap ke tempat yang ditunjuk Hyesoo lekat-lekat.

“ Mana?” tanya Yue lee yang penasaran.

Hyesoo menunjukkan bagian dalam liontin itu di sisi dalam liontin itu terdapat huruf S yang terukir sederhana namun sangat indah.

“Mungkin saja ini barang yang istimewa bagi pemiliknya. Siapa tahu ini adalah inisial dari nama seseorang…” Seru Saena setelah memperhatikan huruf S itu.

“ Mungkin juga, tapi aku tidak tahu siapa pemiliknya dan sekarang dia ada di mana. Bagaimana kita mengembalikan liontin ini?” Yuelee menatap kalung itu dengan perasaan campur aduk

“Hmm… Yasudahlah untuk sementara kau pakai saju dulu. Anggap saja rezeki untukmu…”

***

Annyeong… Apa aku mengganggumu?” sapa Jessica. Ragu-ragu gadis itu mendekati seorang pria yang tampaknya sedang sibuk dengan ponselnya. Key, nama pria itu, menoleh ke arah Jessica yang sudah duduk disampingnya. Pria itu mengernyitkan dahinya, cukup heran dengan kehadiran gadis itu di ruang latihan grupnya.

“ Ah… annyeong, noona. Kau tidak mengganggu, kebetulan aku juga sedang istirahat.” Kata Key sambil tersenyum hangat ke arah Jessica. Entah mengapa perasaannya mendadak tidak karuan saat melihat gadis itu. Namun Key berusaha untuk tenang.

“ Key maukah kau membantuku?” Jessica langsung mengutarakan alasan sebenarnya, mengapa memberanikan diri datang ke tempat itu di sela-sela waktu istirahat latihan vocalnya. Untung saja ia sudah mencaritahu jadwal latihan grup juniornya itu, sehingga ia bisa tahu kapan waktu yang tepat untuknya ke sana.

Key kembali mengerutkan keningnya. Sesuatu yang tidak biasa terjadi di sini. Bantuan? Untuk seorang Jessica? Apa yang bisa ia lakukan? Walaupun dalam hati Key mengakui dirinya senang, entah dorongan dari mana, ia menganggukkan kepalanya, walaupun Jessica belum memberitahukan apa yang harus dilakukannya.

Ia memiliki firasat, apapun yang akan diminta gadis itu, ia akan menyanggupinya. Senyuman gadis itu seolah mencanduinya, ia merasakan sensasi menggelitik di dalam dirinya setiap kali melihat senyuman itu. Memang ini bukan pertama kalinya ia melihat Jessica tersenyum, bahkan cukup sering. Ia memang sudah cukup lama mengidolakan gadis itu dan secara diam-diam memperhatikan gadis itu.

Namun untuk memulai pembicaraan, rasanya ia tidak mempunyai cukup keberanian. Sungguh bukan sifat asli seorang Key! Tetapi untuk berhadapan dengan seorang Jessica Jung, Key mampu berubah. Jadi cukup wajar jika ia heran, mengapa tiba-tiba seniornya itu datang dan meminta bantuan padanya?

“ Apa yang bisa aku lakukan untukmu, noona?” Key melemparkan senyumannya setelah sedari tadi diam dan terpaku.

“Ajari aku koreografi ya?”

Permintaan Jessica berhasil membuat lengkung tipis di wajah Key semakin mengembang.

***

“ Ugh… bosan, Bagaimana kalau hari ini kita pergi ke suatu tempat… Hitung-hitung refreshing, dua minggu lagi kita akan menghadapi ujian tengah semester…” Kata Saena ketika mereka sudah selesai mengikuti kelas yang terakhir.

“Tapi kemana?” Yuelee bertanya, namun tatapannya masih fokus pada ponsel yang ada dalam genggamannya.

“ Bagimana kalau kita ke K-pop corner? Siapa tahu ada barang baru di sana, lagipula aku rindu dengan Hyoree eonni…”  Kata Hye soo bersemangat.

“ Aku tahu! Pasti kau mau beli pernak-perni Jonghyun lagi kan?” ucap Saena sambil menyenggol lengan Hyesoo. Hyesoo hanya menganggukkan kepalanya, mata gadis itu berbinar-binar. Persis seperti anak kecil.

“ Baiklah… kajja… Aku juga mau lihat-lihat, mungkin saja ada barang yang menarik, lagipula kita sudah lama tidak ke sana…” Kata Yue lee sambil membetulkan letak kacamatanya.

At K-pop Corner

            

Annyeong eonni, nan bogoshippo… ada barang baru tidak? ” sapa Saena begitu memasuki toko pernak-pernik K-Pop langganan mereka.

Annyeong, Saena-ah, Yulee-ah, Hyesoo-ah… tumben kalian main ke sini lagi, aku kira kalian sudah lupa padaku… Hmm kebetulan sekali, ada tuh di ujung sana.” Hyoree, selaku pemilik toko, yang sudah akrab dengan ketiga gadis itu karena saking seringnya mereka datang ke sana sewaktu SMA dan lebih banyak menggosip daripada membeli. Untunglah Hyoree baik, mengizinkan anak-anak itu sering mampir di tokonya walaupun mereka jarang membeli, maklumlah uang jajan mereka sebagai anak SMA terbatas.

Eonni, kau seperti tidak tahu saja… kami kan sekarang anak kuliahan dan sibuk.” Yuelee tertawa kecil sambil menghampiri rak yang paling dekat dengan meja kasir tempat Hyoree berada.

Aigooo… Baiklah, aku mengerti, kalian anak kuliahan yang sibuk.”

Eonni, aku ke sana dulu ya…” Hyesoo berjalan menuju rak yang di maksud Hyoree. Sementara Saena menyusuri setiap rak yang ada di bagian ujung toko tersebut. Mencari-cari barang yang hendak di belinya.

Yaa! Saena-ah… Yuelee-ah… coba lihat ini! Bagaimana menurut kalian?” Hyesoo berteriak dari arah sebrang dari rak tempat Saena berdiri. Saena dan Yue lee menghampiri Hyesoo dan memperhatikan sebuah kalung dengan liontin bunga matahari yang dipegang gadis itu.

“ Bagus…Hmm tapi ini sangat mirip seperti punya Shinra kan?” kata Saena sambil memperhatikan kalung itu baik-baik.

“ Iya benar-benar mirip… Aish, jadi mentang-mentang sekarang aku memakai kalung, kau ingin ikutan juga?” Yuelee berkata sambil melihat sekilas kalung itu kemudian berjalan ke arah lain.

Mwo? Ini kan tidak ada hubungannya denganmu… kalung ini akan selalu mengingatkanku dengan Jonghyun…AAA… Jonghyun.”

“ Kau beruntung, Hyesoo-ah… Kalung itu hanya di kirim tiga buah. Mungkin karena Shinra tidak akan suka barang-barang milikya ditiru. Apalagi yang memberikan itu kan Jonghyun kekasihnya.” kata Hyoree yang ternyata sudah berdiri di belakang mereka.

Eoonniiiii! Jangan ingatkan aku tentang hal itu, Ugh… coba saja Jonghyun memberikan kalung ini padaku.” kata Hyesoo dengan wajah penuh harap. Harapan yang mungkin hanya akan berada dalam alam imajinasinya.

“ Sudahlah, Siapa tahu setelah kau memakai kalung itu, Jonghyun langsung jatuh cinta padamu.” ucap Saena sambil tertawa. Anggap saja ia balas dendam karena kemarin Hyesoo sukses membuyarkan lamunannya tentang Key.

“ Hahaha… mianhae, Hyesoo-ah… coba saja kau ikuti kata-kata Saena, siapa tahu impianmu jadi kenyataan.”

“ Ah ya, soal mimpi jadi kenyataan… eonni, apa kau akan menonton SHINee World Concert bulan depan?” Saena berjalan menghampiri Hyoree, meninggalkan Hyesoo yang masih berimajinasi di sana.

Ne, tentu saja! Aku tidak akan melewatkan satu kesempatan pun untuk bisa bertemu dengan Onew… Memangnya kenapa? Kalian juga nonton?”

“ Bukan kami, eonni, tapi hanya dia… ugh… manusia beruntung.” Yuelee menunjuk Saena kemudian melanjutkan kegiatannya melihat-lihat barang yang ada di sana.

Ne, eonni! Coba tebak… aku menang tiket SHINee World Concert, eonni!”

Mwo? Jinjja?”

Ne, tapi sayang… mungkin aku hanya bisa bertemu dengan Key dua menit… Tidak sebanding rasanya.”

“ Sepupuku berkerja di perusahaan promotor SHINee World Concert nanti… aku saja mendapatkan tiket itu gratis, hahahaha… aku bisa meminta bantuannya kalau kau mau bertemu dengan Key sebelum konser dimulai, tapi paling hanya sekitar sepuluh menit, bagimana?”

“ WHOAAAAA… JINJJAYO EONNI?!” Saena terlalu bersemangat bahkan sampai menggoyang-goyangkan tubuh Hyoree ke kiri dan ke kanan. Untunglah saat itu sedang sepi dan hanya ada mereka bertiga di sana. Hanya Yuelee yang tertawa kecil melihat tingkah Saena sedangkan Hyesoo masih melamun sambil sesekali tersenyum-senyum sendiri.

Lagi-lagi, untung saja toko dalam keadaan sepi, kalau tidak pengunjung lainnya akan menganggap ketiga… ralat… kedua makhluk itu, Hyesoo dan Saena, tidak waras. Sementara Yuelee masih bersikap wajar.

Ne, Aish… Saena, hentikan!”

Saena menghentikan kegiatannya itu dan memandang Hyoree penuh harap. Dalam hatinya, ia sedikit menyesal memberitahu Saena mengenai hal itu, ternyata gadis itu bisa berubah menjadi ajaib dalam sekejap.

Eonniii, saranghae…” Saena mengganti kegiatan menggoyang-goyangkan tubuh Hyoree dengan memeluk gadis itu.

Aish! Saena-ah… Hentikan!! Kau membuatku sesak nafas!”

***

A Month Later…

“ Apa kalian semua sudah siap?” seorang pria bertubuh tinggi memasuki ruang tunggu berisi beberapa orang tersebut. Choijin, nama pria itu, berprofesi sebagai manager salah satu boyband terkenal, SHINee.

Jonghyun, Onew, Key dan Taemin mengangguk hampir bersamaan. Satu jam lagi konser mereka akan dimulai. Namun ada masalah lain yang harus mereka hadapi, Minho malah menghilang di saat-saat menjelang perdana mereka. Choijin sekarang sedang berusaha mencari ke mana hilangnya anak itu.

“Ke mana dia? Aishh… apa dia tidak tahu konser akan dimulai satu jam lagi? Menghilang di saat-saat tidak tepat… ” seru Onew geram.

Minho memang sudah biasa hilang secara misterius dan jika ditanya ia hanya menjawab sekedarnya tanpa benar-benar berkata yang sejujurnya. Namun kenapa ia harus menghilang di saat-saat penting seperti ini? Bisa-bisa para fans mereka kecewa saat Minho tidak hadir apalagi ini konser pertama mereka.

“Sudahlah, hyung…. Nanti Minho pasti akan kembali.”seru Key sambil menepuk pelan bahu Onew.

“Kalau iya seperti itu, kalau tidak? Bagaimana nasib kita nantinya?”

“Jangan berpikiran jelek tentang Minho, hyung. Selama ini ia tidak pernah mengecewakan kita kan? Dia pasti kembali…” kata Jonghyun berusaha tenang. Walaupun dalam hatinya, pria itu merasa cemas. Namun ia tidak ingin menunjukkannya di luar.

“ Sudahlah, hyung… kita tunggu saja Minho hyung… aku yakin dia tidak akan menghilang saat konser. Mungkin ia hanya pergi sebentar.” Kata Taemin sambil tersenyum kepada Onew dan Jonghyun. Pria itu memandang ke arah pintu masuk, ia mulai berpikir ada sesuatu yang disembunyikan Minho dan itu semua ada hubungannya dengan keanehan sifat Minho belakangan ini.

“ Baiklah…Kalau sampai dia tidak kembali. Kita lihat apa hukuman yang pantas untuknya.” Kata Jonghyun sambil berlalu meninggalkan Onew yang masih berdiri terpaku.

***

“ SHINEE….SHINEE…SHINEE.” teriakan para shawol menggema di seluruh ruangan. Waktu konser memang masih satu jam lagi. Namun para Shawol sudah heboh meneriakkan nama artis idola mereka tersebut. Tak ketinggalan Saena dan Hyoree yang berada di sana, di tengah lautan manusia.

“Yaa! katanya kau mau meminta tanda tangan mereka?” seru Hyoree di tengah teriakan para shawol yang makin menggila.

“ Memangnya sekarang bisa, eon? Katamu kan sebelum konser dimulai…”

“ Aishh… ya sekarang waktu yang tepat, Saena… kau pikir kau akan bertemu mereka kapan? Pas acara fan meeting? Itu sama dengan fans lain… aku sudah menitipkanmu pada Jinra eonni… dia sepupuku yang waktu itu aku ceritakan.”

“ Ah iya! Aku lupa, hahahaha… aku terlalu bersemangat untuk konser ini. Kajja, eonni, pertemukan aku dengan sepupumu itu…” kata Saena bersemangat. Terbayang olehnya, bertemu langsung dengan SHINee, terutama dengan Key. Mudah-mudahan ia tidak pingsan di dalam saat melihat makhluk-makhluk indah itu. Rasanya ingin terbang begitu mengetahui ia bisa bertatap muka dengan mereka.

Hyoree dan Saena bangkit dari kursi yang mereka duduki, untung saja mereka duduk di kursi VVIP yang numbered seat, jadi mereka tidak usah takut berebut tempat duduk saat konser dimulai. Saena tersenyum penuh kemenangan. Dengan tergesa-gesa ia mengikuti langkah Hyoree  yang meyeruak diantara jutaan shawol.

Setelah berbicara dengan petugas pinu masuk. Akhirnya mereka diperbolehkan masuk.

“ Eh masuk sendiri sana.” Seru Hyoree. Saena mengerutkan dahinya, heran. Ia pikir tadinya ia akan bertemu dengan mereka bersama Hyoree.

“Lalu eonni bagaimana?”

“ Aku tidak usah. Foto dan tanda tangan mereka, aku sudah memilikinya. Hahaha… aku pernah bertemu langsung dengan mereka di acara lain, sekarang giliran kau… pergunakan kesempatan ini dengan baik, Saena-ah! Fighthing!” kata Hyoree sambil tersenyum menggoda.

“Tapi aku takut jika harus sendirian, eonni… kalau aku pingsan siapa yang akan menolong?”

“ Sudahlah bayangkan saja… Kau akan bertemu Key idolamu.”kata Hyoree berusaha meyakinkan Sae na.

“ Baiklah, gomawo, eonni…”

***

Saena terlihat kebingungan, saat ini ia berjalan di koridor yang sepi, semakin dalam ia masuk, semakin gelap lorong itu, membuat Saena mengerutkan dahinya. Heran… Masa iya, ruang tunggu SHINee di tempat gelap seperti itu?

“ Kata Jinra eonni tadi, SHINee ada di ruang bernomor 15. Tapi yang mana ya? Mulai dari sini tidak ada nomornya lagi. Papan petunjuk pun tidak ada.” Saena menolehkan kepalanya ke arah kiri dan kanan namun semuanya hanya ruangan-ruangan gelap. Mau bertanya juga sepi sekali tidak ada orang. Ia curiga jangan-jangan ia salah belok tadi.

“Tadi harusnya aku belok kiri apa kanan sih?” seru Saena sambil berpikir, gadis itu mulai ketakutan. Jangan-jangan ia tersesat…

Pabo pabo pabo.” Seru Saena sambil memukuli kepalanya. Saat akan melangkahkan kakinya kembali ke jalan tadi untuk memastikan apakah ia salah jalan atau tidak karena semakin melangkah ke sana Saena merasa ia tidak berjalan ke arah yang benar. Salah-salah ia malah terjebak dan ujung-ujungnya bukan hanya tidak bisa bertemu dengan SHINee melainkan malah ketinggalan konsernya juga. Tetapi ia penasaran dengan ruangan yang pintunya sedikit terbuka dan ruangan itu terang, kemungkinan besar ada orang di sana.

“Ahh aku ke sana saja… Siapa tahu ada orang yang bisa ku tanyai.” Kata Saena sambil berjalan perlahan menuju ruang itu.

Saat hendak masuk, Saena dikejutkan oleh sebuah pemandangan. Ia ingin berteriak melihatnya. Namun lidahnya terasa kaku, bibirnya terkunci rapat, nafasnya pun terasa berhenti,aliran darahnya membeku. Saena mematung di tempat.

“ Be… benarkan itu Minho SHINee? Lalu kenapa dia… kenapa dia?” Saena bergumam dalam keterkejutannya.

Sementara kedua manusia yang masih asyik dalam dunianya sendiri itu sama sekali tidak menyadari kehadiran Saena. Mereka terlalu hanyut dalam kegiatan duniawi mereka. Saena mematung, ia ingin lari sejauh mungkin namun kaki-kakinya terpaku pada lantai yang dipijakinya. Saena tidak mampu bergerak.

Tanpa sengaja, salah seorang dari mereka melihat Saena, refleks ia mendorong manusia yang tadi berada di depannya. Gadis itu memandang Saena dengan tatapan sulit diartikan.

“ SIAPA KAU?!”

***

To Be Continued

Maaf untuk nge-postnya yang ngaret ^^, tapi aku usahain chap depan ga akan selama ini kok ^^

Ehh iya, aku mau mengumumkan satu hal, yakni :

1. Aku ga akan nge-post FF apa-apa selain dua FF aku (Without Words dan Life of Lies) sampai kedua FF itu selesai, palingan kalo pun pengen cuma oneshoot, drabble, n ficlet aja ^^

2. The Cruel Destiny ditunda kemunculannya T,T maaf teman2 bukannya aku mau membuat kalian menunggu lama tapi, aku mau fokus buat FF req aku aja dulu buat para MLR😄 dan juga FF aku yang udah lumutan yakni Life of Lies ^^

3. Sebentar lagi aku kuliah *cieeee jadi mahasiswi* *plak, jadi karena waktu liburan aku tinggal dikit, aku bakalan lama nge-post ff kalo udah kuliah, jadi aku mohon maaf sebesar-besarnya kalo nanti aku cukup sering hiatus😄

Okeee segitu aja daaan karena ffnya lama terbit aku bakaln bkin chapnya panjang seperti ini, biar pada puas bacanya ^__^

Hmm satu hal lagi, sebenernya aku cukup sering membuat peraturan ini dan masihh akan aku buat selama SR di sini masih banyak, jika komennya dan jumlah views-nya tidak wajar, chapter depan akan aku protect, password tidak akan aku berikan pada reader yang tidak bisa menghargai author-nya.

Next Life of Lies Series : Life of Lies Chapter 2 – This is Trouble!

5 thoughts on “[Korean Fanfiction/ Straight/ Series/ Remake] Life of Lies (Chapter 1)

  1. Kalung key seharusnya yg nemuin saena dan saena juga lihat minho n seohyun lg kissing ya… Konflik di mulai part 2 ya… Jd pengen cpt lihat key n minho bnr jatuh cinta sama saena n ngerebutin saena. Lanjut ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s