[Korean Fanfiction/ Straight/ Oneshoot/ Songfic] Be Mine

Cover ff Songfic Be mine (2013)

Title       : Be Mine

Author  : Kim Saena a.k.a Devi

Rating   : PG15/ Straight/ SongFic

Length  : Oneshoot

Genre   : Romance/Angst/ Comedy ( ga yakin lucu -______-)/ School Life

Cast       :

Main Cast            : Hwang Ri Young (Original Character)

EXO K – Park Chanyeol

Support Cast      : Kim Yeonra (Original Character)

EXO K – Byun Baekhyun

Other Cast          : FIND BY YOURSELF!

Disclaimer           :  The song is belong to Infinite – Be mine.

EXO is belong to God, SM entertainment, and their parents

It’s just for fun. Please don’t sue me. This story is mine.

Don’t take this fanfic without permission from me.

If you want to take this fanfic. Please take with full credit.

Warning              : PERUBAHAN ALUR YANG SANGAT CEPAT!

I watched over it, you love, the long farewell
 rather than always getting hurt, this is better
Look at me carefully. It’s because i don’t like you crying
Being hurt is tiring, yeah~ everytime i see you like that

Ri Young Pov

          Memendam perasaan itu menyedihkan… seperti yang kualami sekarang. Sakit dan lelah… Itulah yang selalu kurasakan sejak perasaan ini hadir kembali setelah sekian lama bungkam.                   

          Tapi perasaan ini tidak hadir dengan berjuta keindahannya. Keindahan yang mampu membuat setiap orang memekik kesenangan. Berteriak melepas perasaan haru karena terlalu bahagia. Cinta tidak adil… Mengapa ia tidak memberikan kebahagiaannya untuk semua orang? Kenapa ia hanya ‘terasa’ adil untuk orang-orang tertentu. Lalu bagaimana nasib orang-orang lainnya yang juga ingin merasakan indahnya cinta itu?

          Apa mereka harus menunggu sampai sesuatu yang disebut cinta itu bisa bersikap adil pada mereka? Pertanyaanku adalah kapan hari itu akan datang? Hari di mana cinta bisa adil untuk semua orang. Hari di mana cinta tidak lagi memberikan rasa pedih. Hari di mana tidak ada tangisan karena mencintai…

          Aku berhenti menulis dan menutup buku harianku. Hah! Kenapa aku merasa galau begini hanya karena menulis hal kacangan yang tiba-tiba mampir ke otakku. Aku tahu ini semua bermula dari hal yang membuatku uring-uringan sejak pagi. Hal yang mendasariku membuka kembali buku harianku yang sudah berdebu dan hampir terlupakan kalau saja hari ini aku tidak tiba-tiba ingin menulis di sana.

Aku bahkan harus mengangkat dus-dus berisi buku-buku SD dan SMPku yang bertumpuk di atas kardus khusus barang-barang pribadiku yang kini teronggok menyedihkan di sudut gudang. Bermain dengan tikus, kecoa, semut, dan berbagai serangga yang siap menggerogotinya hingga hancur, sama dengan debu.

Untungnya lagi benda-benda itu masih untuh sekarang! Ada beberapa tempat pensilku yang sudah usang, benda itu memang pantas dibuang. Namun entah kenapa aku tidak ingin membuangnya karena sayang dan sekarang malah kuabaikan dan baru kubuka hari ini. Kemudian ada beberapa tempelan rumus matematika dan fisika saat SMP yang dulu aku buat susah payah, mengandalkan kreatifitasku yang pas-pas-an dan hasilnya malah membuatku malas untuk sekedar melihat dan membacanya, apalagi menghafal.

Lalu ada buku agendaku. Ya, kuakui aku memang sedikit pelupa apalagi yang berhubungan dengan hal pelajaran macam ulangan dan tugas. Jadi tidak heran saat kecil, aku sering sekali dihukum karena lupa membuat tugas. Hahahahahaha… dan jangan lupa saat ulangan bahasa Inggrisku mendapat nilai 2 ! Ya benar! 2!

Itu semua terjadi karena aku lupa kalau hari itu ada ulangan bahasa Inggris menghafal pidato sepanjang dua halaman folio yang membuatku ingin muntah saat membuatnya dan bodohnya aku malah lupa menghafalnya saat ujian dan terpaksa mengarang bebas saat giliranku maju. Ck! Itu memalukan sekali dan menyedihkan tentunya karena saat nilai itu terpampang jelas di raport mid semesterku. Appa dan eomma langsung mengurungku di rumah halmoni dan tidak membiarkanku ikut mereka menjalankan tugas di Jepang seperti rencana semula. Hah! Benar-benar…

Iseng, aku membuka isi agenda yang mulai kupakai saat SMP itu dan menemukan isinya tidak seperti seharusnya. Memang ada beberapa coretan tanggal ujian dan juga beberapa tugas namun itu hanya sampai di halaman kesepuluh. Lalu halaman selanjutnya malah kugunakan menggambar –lagi-lagi dengan kemampuan payahku- muka seseorang. Seseorang yang…

Ah! Melihat gambar ini, aku jadi teringat hal yang membuatku kesal tadi pagi.

Harusnya aku menceritakan hal itu, kenapa malah membahas temuanku yang tidak penting itu yang akhirnya hanya membuka aib… Ckckckck…

Baiklah hal menyebalkan yang kulihat tadi pagi di sekolah ada hubungannya dengan Park Chanyeol!

Kuulangi sekali lagi…

PARK CHANYEOL!

Ya… Park Chanyeol, seorang pria yang kusukai saat masih duduk di bangku SMP, saat itu aku baru saja patah hati karena harus meninggalkan cinta lamaku saat SD karena kami berbeda sekolah sekarang malah dengan mudahnya jatuh cinta lagi saat melihat pria lain. Anak kecil memang labil.

Awalnya aku mengira rasa sukaku pada Chanyeol akan kandas sama seperti rasa yang kupunya untuk cinta pertamaku yang pupus saat aku masuk ke SMP. Tapi ternyata sampai kami sama-sama duduk di bangku SMA, rasa itu masih ada, bahkan bertumbuh setiap harinya. Aku juga tidak mengerti mengapa hal itu bisa terjadi. Apa mungkin karena kami satu sekolah. Tapi walaupun kami satu sekolah, kami ditakdirkan berneda kelas, jadi aku hanya bisa melihatnya saat istirahat dan pulang sekolah. Hanya kadang-kadang aku melihatnya saat pagi hari. Saat bel masuk belum berdentang, maklumlah karena kebiasaan bangun siangku, aku sering terlambat dan terpaksa berlari menuju gerbang sekolah yang nyaris tertutup.

Tapi kebiasaan terlambatku tidak terjadi hari ini dan akhirnya aku harus melihat pemandangan menyedihkan pagi hari. Uhhhh… apa-apaan mereka, pasti sengaja berlaku seperti itu agar membuat aku kesal. Aku meremas pulpen yang berada di tanganku karena kesal dan untungnya kekesalan itu tidak membuat pulpen mahalku patah. Hehehehehehe…

Tapi sebentar…

Kenapa aku jadi kepedean begini? Untuk apa mereka mencoba membuatku kesal? Ck… Aku bahkan tidak yakin Chanyeol punya perasaan khusus untukku. Aku dan dia hanya berteman biasa, bahkan kami tidak dekat. Kami hanya saling menyapa saat bertemu lalu mengobrol seperlunya dan sudah. Hal itulah yang membuatku tidak yakin kalau ia akan menaruh perasaan khusus padaku sama seperti perasaanku padanya. Ugh… menyedihkan sekali. Eh… tunggu dulu, sudah berapa banyak aku menambahkan kata menyedihkan di sini? Sepertinya banyak sekali… ck… tapi memang begitulah kenyataannya.

Kalau kalian penasaran apa yang membuatku kesal jawabannya adalah karena tadi pagi aku melihat Chanyeol dan Yeonra hampir berciuman. Ihh… mengingatnya saja sudah membuatku kesal dan kuakui…aku merasa hatiku sedikit perih… Sedikit… hanya sedikiiiiiitttt…

AIGOOO!

Baiklah aku akui bahwa aku tidak hanya merasa sedikit sakit… bahkan aku merasa hatiku tercabik-cabik. Perih… aku tidak mengerti mengapa aku merasa marah. Mungkin aku cemburu, tapi apa hakku? Aku bukan siapa-siapa bagi Chanyeol.

Tapiii apa yang terjadi berikutnya membuatku merasa euhmmm… senang. Sebenarnya senang sekaligus kecewa. Senang karena Yeonra mendorong Chanyeol tepat sebelum bibir mereka saling bersentuhan, namun aku kecewa karena saat Yeonra berlari meninggalkan Chanyeol, ekspresi pria itu sangat sulit ditebak. Campuran antara sedih dan kecewa dan marah? Entahlah… aku berharap mereka berpisah.

Bukannya aku jahat atau bagaimana, tapi Chanyeol dan Yeonra hampir satu tahun bersama dan selama ini hubungan mereka terlihat baik-baik saja di luar tetapi sepertinya rapuh di dalam. Ck… mengapa aku jadi puitis begini… Efek patah hati membuatku jadi aneh rupanya.

Memang Yeonra dan Chanyeol pasangan paling damai yang paling ada. Setidaknya begitulah gossip yang beredar dan yang aku dengar Chanyeol sangatlah pengalah pada Yeonra sehingga mereka jarang bertengkar…hampir tidak pernah malahan. Tapi karena aku tahu tempat persembunyian mereka saat bertengkar – di depan gudang sekolah yang katanya angker itu- yang tidak sengaja aku temukan saat aku bosan dan memutuskan tidak pulang dulu ke rumah. Entah angin apa yang membawaku menuju tempat itu.

Keuntungannya tentu saja adalah menemukan mereka berdua di sana dan sedang bertengkar tentunya, entah meributkan hal apa. Aku tidak berani mendekat ataupun menguping, bisa-bisa kalau ketahuan habislah aku. Chanyeol bisa saja membenciku karena merasa aku mencampuri urusan pribadinya. Hanya saja aku dapat melihat dengan jelas kalau Chanyeol sangat berusaha mengerti Yeonra, tidak seperti gadis itu yang sepertinya tidak berusaha membalas perlakuan Chanyeol.

Terkadang aku bingung, Yeonra tampak tidak menyukai Chanyeol, tidak sama seperti Chanyeol yang terlihat sangat menyukai gadis itu, terlihat jelas di matanya. Uhmmm… aku sebenarnya ingin mencari tahu apa yang terjadi di antara mereka. Tapi aku sama sekali tidak punya hak untuk itu.

Aku tahu… aku hanya bisa menunggu keajaiban… keajaiban agar Chanyeol tiba-tiba melihat ke arahku dan jatuh cinta padaku. Ohhh ibu peri dalam cerita cinderela, turunkan mantra sihirmu padaku… agar aku berubah menjadi putri secantik cinderela dan membuat pangeran Chanyeol jatuh cinta padaku. Ehh kenapa aku jadi ngomong ngelantur begini?

***

          Tuhan kumohon turunkan hujan salju sekarang juga! Ehhh tidak jangan… badai salju saja sekalian!!

Huhuhuhuhuhuhu…. rasa sakit ini semakin menggila, mungkin jika ada lubang di sini, aku akan masuk ke dalamnya dan terkubur dalam lautan rasa sakit selamanya!

EHHH! Jangan-jangan! Jangan selamanya!

Hilangkan saja rasa sakit ini, selamatkan aku. Aku benci melihat pemandangan mereka yang berada di depanku saat ini. Sebenarnya tidak hanya di depanku sih… Tapi di depan umum, menjadi tontonan public. Ck… bangga sekali sepertinya mereka. Tapi lihat tatapan mata Yeonra itu. Palsu! Kalau saja Chanyeol yang menggenggam tanganku seperti itu dan menciuminya seakan tangan itu adalah benda berharga. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.

Sudah pasti aku tidak akan seperti Yeonra, sudah pasti aku akan tersenyum tulus untuknya dan bukannya hanya acting seperti itu. Bukannya aku mau berburuk sangka atas perlakuan Yeonra, aku akui aku cemburu tapi bukan berarti aku bisa mengarang cerita. Ck… lihat saja Yeonra… kau akan menyesal karena sudah memperlakukan Chanyeol seperti itu.

Tunggu dulu!

Sepertinya tatapan mata Yeonra mengarah pada seseorang dan pasti bukan Chanyeol… ckckckckckckck… sayang sekali ada pemandangan indah di hadapannya dan ia bukannya menikmati tapi malah memandang ke arah lain. Tapi ke arah mana? Aku mengikuti arah pandang gadis itu dan tidak menemukan siapapun di sana. Uh… kenapa aku jadi penasaran dan kepo begini? Aku kan tidak berhak. Ck… sudahlah…

Aku berjalan meninggalkan pemandangan menyakitkan itu. Lebih baik tidak usah berlama-lama di sana daripada nanti aku semakin sakit hati. Hanya membuat moodku yang sudah terlanjur rusak ini menjadi semakin rusak! Aku benci pemandangan itu… Aku benci ketikan Chanyeol memandang Yeonra dengan penuh rasa cinta. Aku benci tatapan Yeonra yang datar. Aku benci ketika gadis itu memarahi Chanyeol. Aku benci ketika Chanyeol dengan sabar mengikuti keinginan gadis itu.

Oh Tuhan, kenapa aku harus jatuh cinta pada pria yang seduah memiliki kekasih sepertinya? Ehh tapi kan waktu aku jatuh cinta padanya, dia belum menjadi kekasih Yeonra… Hmmm aku jadi menyesal, kenapa dulu aku tidak melakukan pendekatan padanya. Siapa tahu kan dia jatuh cinta padaku! Ahh sudahlah… nasi sudah terlanjur menjadi bubur.

Tapi aku tetap saja merasa kesal kenapa rasa sakit ini tidak juga mau pergi? Kenapa Chanyeol tidak meninggalkan gadis itu? Kenapa ia harus secinta itu pada Yeonra? Kenapa aku harus ditakdirkan sering melihat mereka bersama? Kenapa aku harus marah pada Yeonra padahal ia tidak mengenalku? Kenapa terlalu banyak kata kenapa dalam otakku?

AHHH! Sudahlahh… aku bisa gila…

Bruk!

Tanpa sengaja aku menabrak seseorang… aishh… aku ini ceroboh sekali, hanya karena memikirkan Chanyeol yang bahkan tidak memikirkanku itu. Aku membuat pria ini terjatuh dan dengan bodohnya aku hanya menatapnya, tanpa berniat ingin membantunya sama sekali.

“ Yaa! Kau ini bukannya minta maaf dan menolongku karena sudah membuatku terjatuh malah hanya melamun di sana! Yaa! Kau dengar aku tidak?”

Pria itu meringis dan masih mengoceh tidak jelas di depanku. Aku tahu, harusnya aku meminta maaf padanya tapi tatapan mataku terkunci pada satu arah. Chanyeol… tidak… dia bersama Yeonra. Mereka sedang mendekat ke sini. Aish… apa yang harus aku lakukan? Huwaaaa melihat mereka dari dekat saja sudah membuat hatiku sakit lagi, sepertinya aku harus segera pergi dari sini.

Tanpa pikir panjang, aku segera berlari dari sana dan meninggalkan pria yang berhasil kubuat terjatuh itu yang sekarang berhenti mengoceh dan hanya berdiri dengan mulut menganga, melihatku yang malah kabur saat ia sedang menceramahiku. Sebodo lah kalau nanti dia mengejarku. Saat ini yang kupikirkan adalah aku bisa kabur sejauh mungkin dari Chanyeol.

YAAA! Tunggu… kenapa kau malah kabur? Aku belum selesai bicara! Bahkan kau tak meminta maaf padaku… Aishhh…”

“ Baekhyun… kau tidak apa-apa? Aku melihatmu terjatuh jadi aku ke sini.”

Aku menoleh saat kulihat Yeonra memegang lengan pria yang ternyata bernama Baekhyun itu. Aku bisa melihat sinar kekhawatiran tercetak jelas di matanya. Aku menghentikan lariku dan segera bersembunyi di balik pintu kelas yang sedang terbuka dan untungnya kelas dalam keadaan kosong jadi aku bisa menggunakan pintunya untuk bersembunyi.

Ne, nan gwenchana… aku harus pergi.”

Baekhyun segera menepis tangan Yeonra dan pergi. Dari nada suaranya yang terdengar ketus, aku tahu, ia tidak menyukai perlakuan Yeonra. Tapi kenapa begitu? Lalu kenapa pula Yeonra bersikap lembut padanya? Ia bahkan tidak lagi memperhatikan Chanyeol yang sekarang mengelus pundaknya dengan lembut. Tatapan gadis itu terpaku pada Baekhyun yang sekarang berjalan mendekat ke arahku.

Ehhh tunggu dulu! Ke arahku?!

Aku segera menutup pintu kelas yang sedang kugunakan untuk bersembunyi dan masuk ke dalam kelas kosong itu. Berharap Baekhyun tidak melihatku. Aku malas mendengar ocehannya itu, lagipula sepertinya ia pria yang ceriwis lalu kenapa saat berhadapan dengan Yeonra ia menjadi pria kulkas? Eh maksudku pria yang dingin.

Aku menarik salah satu kursi yang berada di sana dan memutuskan untuk duduk selagi menunggu bayangan Baekhyun yang akan terlihat jelas dari jendela kaca. Semoga saja ia tidak melihatku yang sedang bersembunyi di sini.

Kriett…

Aduhh… ada yang masuk… bisa-bisa aku disangka pencuri kalau aku terus berada di sini. Ah aku bisa menjelaskannya… lagipula niatku kan hanya bersembunyi bukannya mencuri.

Aku menunduk untuk menyembunyikan wajahku. Bisa kurasakan langkah kaki seseorang mendekat ke arahku. Aishh semoga saja ia tipe orang cuek dan tidak akan bertanya kenapa aku ada di kelas ini padahal aku bukan penghuninya. Tapi aku merasa suara langkah kaki itu berhenti. Takut-takut aku mengangkat wajahku dan melihat wajah Baekhyun yang sedang keheranan berdiri di hadapanku saat ini.

Tamatlah sudah riwayatku…

End of the Pov

 

***

Author Pov

“ Berhenti mengikutiku, Chanyeol… aku sedang ingin sendirian.” Yeonra mempercepat langkahnya. Ia berusaha menyembunyikan tangisnya. Air matanya meleleh pelan seiring dengan langkahnya yang semakin cepat. Gadis itu tidak tahu mengapa air matanya dengan begitu mudah turun padahal ia sudah mati-matian menahannya. Ia bahkan menyeka air mata itu dengan kasar berkali-kali, tatapan sendunya bahkan sudah berubah menjadi tatapan tajam seperti biasa, seolah mengiba agar air matanya tidak jatuh berulang kali. Ia benci jika harus menangis, apalagi saat ini ada Chanyeol di dekatnya. Ia tidak ingin pria itu melihatnya menangis dan mengira bahwa ia adalah gadis yang lemah. Tidak… Yeonra tidak seperti itu…

“ Aku khawatir denganmu makanya aku mengikutimu…”

“ Kau hanya ingin melihat aku yang biasanya marah-marah padamu dan membentakmu sekarang terlihat rapuh, iya kan?” Yeonra membalikkan badannya dan menatap Chanyeol. Tidak lagi ragu memperlihatkan air matanya yang semakin deras. Entah apa yang membuatnya merasa sesakit ini. Mungkinkah perlakuan Baekhyun yang tadi memang sedikit kasar yang membuatnya merasa kesal hingga menangis seperti ini. Chanyeol segera mendekat dan menarik Yeonra ke dalam pelukannya. Gadis itu meronta, tentu saja… bukan pelukan Chanyeol yang diinginkannya.

“ Jangan seolah-olah menjadi kekasih yang baik dan peduli… kau tahu kan kenapa aku mau menjadi kekasihmu… Untunglah aku masih punya belas kasihan, Chanyeol… sekarang pergilah… aku benar-benar tidak mau melihatmu.” Yeonra berlari meninggalkan Chanyeol.

Pria itu menghela nafasnya berat. Ia memejamkan matanya sejenak, berusaha menetralkan rasa sakit yang kini kembali merambah bagian hatinya. Sudah terlalu sering rasa sakit itu datang dan penyebabnya adalah Yeonra. Namun entah kenapa ia selalu bertahan. Mungkinkah karena ia sudah dibutakan oleh wanita itu. Cinta memang buta. Tapi haruskah cinta juga sesakit ini.

Chanyeol melangkah perlahan, kali ini jauh di belakang Yeonra yang sudah merubah larinya menjadi berjalan cepat. Ia harus memastikan gadis yang sedang rapuh itu tetap baik-baik saja. Ia haruslah menjadi orang yang pertama untuk meminjamkan bahunya bagi gadis itu, walaupun ia tahu penolakan yang akan diterimanya.

***

Be mine, I love you, okay.. ou~?
I worry about you, okay..  ou~?
I’ll take care of you till the end
Be mine, you know me, right.. ou~?
You saw me right, eo?
I’ll protect you till the end

Setelah berulang kali meminta maaf pada Baekhyun, Riyoung tidak bisa begitu saja pergi dari sana. Bahkan sekarang setelah Baekhyun berhenti menceramahinya. Ia masih tetap berada di sana. Sekarang ia bahkan menonton adegan yang bisa dibilang cukup mesra antara Yeonra dan Chanyeol dari balkon yang berada di depan kelas Baekhyun. Padahal pria itu sudah membolehkannya pergi setelah hampir sepuluh menit menceramahinya tanpa henti.

Riyoung kebingungan, baru kali ini ia berhadapan dengan pria sebawel Baekhyun. Ia merasa sangat lega ketika akhirnya ocehan pria itu terhenti saat tanpa sengaja melihat Yeonra yang melintas di balkon sebrang sambil menangis dan kemudian Chanyeol yang mengikuti gadis itu dari belakang. Baekhyun bahkan segera keluar dari kelas dan melihat pemandangan itu dari balkon diikuti Riyoung yang keheranan.

Kecurigaannya semakin kuat karena Baekhyun melihat Yeonra dengan tatapan aneh. Sulit diartikan, mungkin bisa dibilang sedikit menyesal karena memperlakukan gadis itu dengan sedikit cuek dan akhirnya membuat gadis itu sekarang menangis. Riyoung sama sekali tidak mengerti apa hubunga Yeonra dengan Baekhyun. Padahal ia sudah memiliki Chanyeol. Lalu kenapa sepertinya Chanyeol terlihat biasa saja dengan kelakukan Yeonra yang harusnya mampu membuatnya cemburu. Tanpa Riyoung tahu, Chanyeol sudah sering merasakan cemburu, namun pria itu berusaha kelihatan tegar, agar Yeonra mau bertahan di sebelahnya. Entah apa yang membuatnya berusaha kelihatan tabah dan kelihatan ‘bodoh’ seperti itu.

“ Kau kenal Yeonra?”

“ Apa?” Baekhyun menyahut pertanyaan Riyoung, namun tatapannya tetap ke arah Yeonra bahkan sekarang sedang dipeluk oleh Chanyeol.

“ Kau kenal Yeonra?” Riyoung mengulang pertanyaannya sekali lagi. Berharap Baekhyun mau memberikannya sedikit informasi. Walaupun mustahil, mengingat mereka baru saja berkenalan dengan cara aneh dan mengingat mungkin saja Baekhyun masih kesal dengannya. Padahal menurut Riyoung kesalahannya sangat sepele, hanya menabrak Baekhyun sampai jatuh. Ya walaupun ia tidak meminta maaf pada awalnya dan malah kabur.

“ Kenal… dia itu kan…Eh…” Baekhyun tersadar, ia menjawab pertanyaan Riyoung sambil melamun dan hampir saja mengatakan hal yang tidak-tidak kalau saja ia tidak tiba-tiba tersadar dari lamunannya.

“ Apa urusanmu dengan hal itu?Aku kenal atau tidak dengannya kan itu urusanku.” Baekhyun menjawab Riyoung dengan ketus, membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya. Kesal.

“ Ya kan aku hanya bertanya… kalau kau tidak mau menjawab ya tidak apa-apa.”

Baekhyun mendengus lalu meninggalkan Riyoung yang masih asyik menikmati pemandangan yang sebenarnya membuatnya sakit itu. Tetapi rasa penasaran mengalahkan rasa sakitnya. Ia bahkan melihat dengan jelas saat Yeonra memberontak dan mendorong Chanyeol hingga pria itu melepaskan pelukannya sedangkan gadis itu berlari lagi. Entah kemana.

“ Baekhyun… maaf aku mau tanya, sebenarnya kau tahu tidak mengapa Yeonra sampai menangis seperti itu?”

Riyoung rupanya belum sadar kalau Baekhyun sudah meninggalkannya sejak hampir tiga menit yang lalu.

Yaa! Kenapa kau di…”

Riyoung menoleh dan hanya mendapatkan ruang kosong di sebelahnya. Gadis itu mendengus kesal dan meninggalkan koridor kelas Baekhyun dengan rasa penasarannya yang belum terjawab.

“ Lihat saja nanti! Aku pasti tahu sesuatu…”

***

Riyoung Pov

Pelan-pelan, Riyoung… Pelan-pelan… jangan sampai ia melihatmu sebelum kau berhasil menghampirinya…

Aku berbicara terus di dalam hatiku sambil berusaha mengatur detak jantungku yang tidak normal ini. Bahkan sepertinya tulang-tulangku tidak lagi mampu menahan debarannya, bisa jadi jantungku akan keluar dari rongga dada. Jangan sampai hal itu terjadi! Tanpa jantung aku tidak bisa hidup! Jika aku tidak hidup bagaimana aku bisa menikah dengan Chanyeol!

Saking sukanya dengan dia dan saking tidak teganya melihat ia selalu disakiti oleh Yeonra. Atau mungkin setan apa yang sedang merasukiku saat ini. Aku berani mengambil langkah untuk mendekati Chanyeol. Lagipula walaupun aku tidak tahu hubungan apa yang terjalin antara Yeonra dan Baekhyun, aku sepertinya tahu kalau mereka memiliki hubungan khusus. Jadi daripada Chanyeol patah hati mendingan dia sama aku. Setidaknya aku akan memperlakukannya jauh lebih baik daripada Yeonra.

Dengan langkah kaki gemetar aku berjalan menghampiri Chanyeol yang sekarang terlihat seperti mayat hidup karena tatapannya kosong dan bisa terlihat dengan jelas kalau ia sedang melamun. Tanpa aku tanya pun, aku tahu ia sedang memikirkan Yeonra.

Annyeong… Chanyeol-ah…”

Nada bicaraku bahkan terdengar gugup! ckckckckckk…

“ Ohhh kau, euhmm… siapa ya namamu? Mianhae… aku lupa… hahahahaha….”

Aishhh! Bahkan namaku saja dia lupa. Padahal minggu lalu sepertinya ia masih ingat, pasti karena efek terlalu sering dimarahi Yeonra. Huwaaa Chanyeol, makanya kau bersamaku saja jangan dengan nenek lampir itu!

Yaa! Kau marah, ne?  Jeongmal Mianhae… aku sedang banyak pikiran akhir-akhir ini… Jadi aku sering lupa banyak hal yang kurang penting… hehehehehe…”

Jleb!

Aishhh pria ini… apa tidak bisa mencari kata-kata yang tidak terdengar menyakitkan. Jadi namaku saja dianggap tidak penting olehnya. Sakitttt sekali rasanya… Park Chanyeol kalau saja aku tidak mencintaimu mungkin sudah kujejalkan cokelat ini ke mulutmu sekarang juga. Sabar Riyoung…. sabar….

Aku berusaha tersenyum dan duduk di sampingnya tanpa permisi. Ah sedikit agresif tidak akan dosa kan?

“ Namaku Hwang Riyoung…”

“ Ahhh ne! Riyoung-ahh… Mianhae… euhmm… ah ya sedang apa kau di sini?”

Sedang pendekatan denganmu! Apa kau tidak sadar?

Aku berusaha tersenyum dan hanya memainkan cokelat di tanganku. Lalu setelah keheningan yang cukup lama. Sepertinya Chanyeol sadar kalau aku tidak ingin menjawab pertanyaannya barusan.

“ Ini untukmu…” Aku bersuara sangat pelan sambil menundukkan wajahku dalam-dalam. Tanganku mengulurkan sebatang cokelat untuknya.

Ia mengerutkan dahinya. Bingung dengan perlakuanku yang tiba-tiba…

“ Untukku?”

Ne… kudengar cokelat sangat bagus untuk…”

“ Hahahahaha… kau memberiku cokelat, seolah-olah aku sedang terlihat patah hati… kau lucu, Riyoung-ah…”

Chanyeol memotong perkataanku dan aku segera tersenyum menanggapinya. Aku tahu Chanyeol kau memang sedang patah hati hanya saja kau berusaha menutupinya kan? Aku tahu…

“ Wajahmu kusut sekali seperti orang sedang stress makanya aku memberikan cokelat ini untukmu… terimalah… anggap saja tanda pertemanan…”

“ Baiklah… terima kasihh…” Chanyeol menerima cokelat dariku dan memainkannya. Sepertinya ia enggan memakan cokelat itu. Jangan sampai ia memberikan cokelat itu pada Yeonra!

Bukan… bukan karena cokelat itu berisi racun –gila saja, mana tega aku meracuninya, aku kan suka padanya-. Bukan juga karena cokelat itu kuberi jampi-jampi (?) sehingga Chanyeol bisa suka padaku –hal ini lebih mungkin, tapi aku tidak akan melakukannya-. Tapi karena aku yakin Yeonra akan membuangnya dan itu artinya cokelat mahalku- yang kubeli dengan sisa uang jajanku minggu ini- akan berakhir di tempat sampah dan aku tidak rela!!

“ Kau ada masalah ya?”

Nde?”

“ Kau ada masalah?”

“ Ahh aniya … memangnya wajahku terlihat menyimpan masalah…”

Ne…” aku menjawab jujur. Berharap ia cerita sesuatu padaku.

Ne… aku memang ada masalah. Aku berusaha menutupinya tapi masih kelihatan yang ternyata? Hahahahahaha….”

Aku tersenyum miris karena melihatnya mengundang tawa yang dipaksa. Sisa-sisa keperihan itu bahkan terlihat jelas di kedua bola matanya. Seandainya aku bisa Chanyeol… aku ingin menggantikan dia. Tapi aku tahu hal itu sulit untuk menjadi mungkin.

YAA!”

“ Eh apa?”

Kenapa bisa-bisanya aku melamun saat bersamanya? Pasti mukaku sekarang terlihat memalukan… ckckckckckckck… Riyoung mengapa kau harus bertindak bodoh sih?

“ Kau melamun?”

Aniya… mau menceritakan masalahmu? Siapa tahu aku bisa membantu…” aku tersenyum dan bisa kulihat ia mulai tersenyum dengan tulus, bukan jenis senyuman yang dipaksakan. Ia memalingkan wajahnya dariku dan melihat ke arah lain. Aku mengikuti arah pandangnya.

“ Aku hanya ingin meminta pendapatmu… menurutmu, bagaimana jika kau mencintai seseorang dan berusaha memilikinya namun orang itu selalu menolak kehadiranmu? Bahkan tidak jarang ia menanggapmu seolah tidak ada?”

Aku bisa mendengar nada suara Chanyeol terdengar aneh, seperti menyimpan kesedihan di dalamnya. Aku berusaha mati-matian untuk tidak mengatakan apa-apa dan membiarkannya terus berbicara.

“ Hahahaha… pertanyaanku aneh ya… hmmm mungkin agak aneh bagiku untuk bercerita karena kita tidak pernah akrab sebelumnya tapi mungkin juga tidak ada salahnya aku menceritakan sedikit dari masalahku. Jadi pertanyaanku tadi ada hubungannya dengan diriku saat ini.”

“ Tinggalkan saja dia, Chanyeol… tinggalkan dia…”

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku tanpa bisa kucegah, entah kenapa aku sendiri bingung kenapa aku mengatakan hal itu padahal tadinya aku ingin mendukungnya untuk terus bersama Yeonra kekasihnya itu. Mungkin karena ketidaksinkronan antara otak, mulut, dan hatiku. Sehingga malah kata-kata yang seolah menyuarakan hatiku itulah yang keluar.

Mwo?”

“ Aku bilang… tinggalkan dia, Chanyeol… kalau kau selalu tersakiti saat bersama dengannya, untuk apa kau selalu bersamanya? Sia-sia… kau tahu… lebih baik kau mencari gadis lain yang mungkin bisa memperlakukanmu lebih baik dan yang pasti… juga mencintaimu.”

Chanyeol terdiam, mungkin merenungkan perkataanku yang sepertinya terdengar cukup frontal. Tapi apa daya, Chanyeol memang harus disadarkan. Kalau nanti ia mencari kekasih lain selain Yeonra dan orang itu bukan aku. Aku mungkin akan menyesali kata-kataku barusan. Ck… tapi setidaknya mungkin orang itu akan menjadi kekasih yang baik. Baiklahh aku akan siap patah hati lagi setelah ini.

Gomawo… aku akan memikirkan kata-katamu… terima kasih karena sudah mendengarkanku.”

Aku hanya mengangguk dan kami sama-sama kembali terdiam.

***

Do you hear me…? Do you hear me…? oh

the end of your wet eyes full of memories, I hope it dies in my embrace
I try to at least protect you, who quietly heard the falling tears being swallowed by ripped hearts

I think it’s over flowing, you were always like that to me
my heart expands as your hurt grows
come to me, it’s because I like when you smile

I’ll make comfortable dor you, yeah.. at least I can for you..

“ Baekhyun!!! Baekhyun!!! Geumanhae…”

Aku terus berteriak sementara pria yang kuteriaki namanya itu hanya diam dan melenggang pergi, seolah-olah aku adalah hantu tembus pandang yang tidak bisa didengar suaranya. Pria itu benar-benar menyebalkan. Ini pasti ada hubungannya dengan apa yang kutanyakan padanya beberapa saat yang lalu. Aku tahu ia menghindarinya, tapi aku tidak akan pantang menyerah untuk tahu.

“ Apa sih yang kau inginkan?” Ia berbalik dan tiba-tiba berhenti. Untung saja aku bisa mengerem kecepatan lariku untuk mengejarnya sehingga aku tidak menabraknya yang berhenti tiba-tiba.

“ Aku ingin kau menjawab pertanyaanku tadi. Apa susahnya kalau kau memang tidak ada hubungan khusus dengannya kau akan menjawabnya dan tidak kabur.”

“ Memang aku tidak ada hubungan khusus dengannya…” Baekhyun menjawab cuek. Namun nadanya lebih terdengar santai daripada tadi saat pertama kali aku bertanya padanya. Bahkan sekarang ia mendudukkan dirinya di kursi yang berada di sepanjang koridor kelas yang sepi. Memang ini sudah jam pulang. Ia meletakkan tas punggungnya di atas lantai. Aku mengikutinya duduk di kursi itu. Kami bergulat dalam diam yang panjang. Aku mulai gerah karena Baekhyun yang bawel sekarang berubah menjadi pendiam. Apa aku salah bertanya? Aku jadi tidak enak padanya.

“ Mengapa kau ingin tahu?”

Akhirnya dia buka suara juga!

“ Memangnya kenapa?”

AIGOOO! Kenapa kau malah balik bertanya? Aku kan yang sedang bertanya padamu…”

“ Yaaaa sepertinya kau merasa tidak nyaman saat bersamanya… ja…”

“ Bingo! Sejak kejadian itu aku membencinya. Sangat… aku kehilangan rasa kepercayaanku padanya bahkan kau bisa lihat mereka sekarang. Dengan mudahnya bermesraan seperti itu  padahal kemarin… Eh bicara apa aku ini?!” Baekhyun menutup mulutnya yang sedari tadi tidak berhenti. Yah… padahal hampir saja aku tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Baekhyun, Chanyeol, dan Yeonra. Walaupun hanya satu kali aku melihat bagaimana Baekhyun bersikap ketus pada Yeonra, aku bisa menyimpulkan mereka memiliki masalah di masa lalu apalagi Yeonra kemarin menangis seperti itu.

Aku mengalihkan pandanganku ke arah lapangan basket. Di sana Chanyeol dan Yeonra sedang bermesraan. Yeonra meletakkan kepalanya dengan manja di bahu Chanyeol, tangan gadis itu menggamit mesra lengan Chanyeol. Cihh… aku muak dengan kelakuannya yang seperti itu. Aku benci mengakui ini… aku cemburu.

“ Kau suka dengan Chanyeol?”

Aniya…” Aku menjawab spontan saat Baekhyun bertanya. Tapi wajahku memerah karenanya. Aishh… semoga saja ia tidak sadar.

“ Mengaku sajalah… pantas kau ingin tahu… ternyata kau menyukainya… huh… Aku bisa melihatnya dari tatapan matamu saat melihat mereka. Aku tahu tatapan mata seseorang yang sedang cemburu. Sakit, kesal, kecewa, marah di saat yang bersamaan.”

“ Kau berkata seolah-olah kau pernah mengalaminya…”

“ Memang pernah… dengan Yoenra.” Baekhyun berkata dengan nada sekecil mungkin namun aku masih bisa menangkapnya dengan jelas.

Mwo?!”

“ Baiklah karena aku sudah tahu apa yang membuatmu bertanya… lagipula aku setuju jika kau bersama Chanyeol daripada Chanyeol bersama gadis sepertinya…”

End of the pov

 

***

Author Pov

Tuhan bolehkan aku minta hari ini tidak akan pernah berakhir?

Chanyeol menatap lapangan luas di hadapannya dengan tatapan mengiba. Ia bahagia hari ini. Bahagia karena akhirnya Yeonra bisa bersikap manis di hadapannya. Bukan hanya di depan public melainkan saat tadi pagi Chanyeol menjemput gadis itu ke rumahnya. Gadis itu menyapanya dengan suarah khasnya yang jernih. Oh… jangan lupakan senyumannya yang kelewat menawan itu.

“ Mau sampai kapan kita di sini? Kau tidak ingin pulang?” Chanyeol mengelus tangan Yeonra. Nada suaranya sangat lembut. Yeonra hanya menggeleng pelan. Kali ini ia tidak sedang berpura-pura. Ia benar-benar membutuhnya Chanyeol sebagai sandarannya.

Namun ia tahu, ia tidak akan pernah bisa membuka hatinya untuk Chanyeol, ia hanya memiliki perasaan untuk satu orang. Jahat memang, apalagi mengingat ia dan Chanyeol berhubungan hampir satu tahun. Selama ini ia tidak pernah memperlakukan Chanyeol dengan baik. Tetapi memang itulah dirinya yang sebenarnya, ia tidak ingin pura-pura bahagia bersama Chanyeol.

Gadis itu bahkan sudah berulang kali meminta Chanyeol mengakhiri hubungan mereka. Tetapi pria itu tidak pernah mau melepaskannya. Bahkan Yeonra sampai lelah meminta. Chanyeol hanya berusaha menegarkan dirinya sendiri agar ia bisa bersama dengan Yeonra walaupun gadis itu tidak memiliki perasaan khusus padanya.

Yeonra kembali menatap pemandangan dua orang yang sedang berada di hadapannya. Hatinya kembali panas tapi ia tidak ingin lagi gegabah. Ia tidak ingin pria itu semakin membencinya. Sudah cukup kesalahan yang ia lakukan beberapa tahun yang lalu dan sekarang saat ia sudah menyadari semuanya. Kenapa sangat sulit untuk mengharapkan sesuatu itu kembali padanya.

Ia bahkan berusaha bertahan untuk sesuatu yang sia-sia. Gadis itu tidak sanggup menahannya lebih lama lagi. Ia ingin mengeluarkan segala keluh kesahnya. Ia ingin mengatakan sejujurnya. Apa yang ia rasakan saat ini. Apa yang membuatnya kesakitan seperti ini.

“ Menangislah…”

Kata-kata Chanyeol membuatnya melepaskan lengannya dari lengan pria itu. Ia menatap Chanyeol dalam.

“ Chanyeol, lepaskan aku… aku mencintainya… aku akan menebus kesalahanku…”

Kata-kata itu mau tidak mau membuat Chanyeol merasa terpuruk. Ia kehilangan harapan yang baru saja tumbuh. Ia menatap Yeonra dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia membenci keadaan ini. Keadaan di mana ia telah kalah sepenuhnya.

“… kau tahu kan hubungan kita tak berarti apa-apa bagiku. Aku tidak mau menyakitimu semakin lama, lepaskan aku. Kau bisa mencari gadis lain dan aku akan kembali pada cintaku sendiri.” Yeonra melanjutkan. Tidak ada nada penyesalan dalam suaranya.

“ Tidak Yeonra! Sekali lagi tidak… aku tidak akan pernah melepaskanmu… apapun yang terjadi. Tidak apa-apa jika kau tidak mencintaiku, yang penting kau tahu aku mencintaimu dan rasa itu tidak akan pernah berubah… aku tidak peduli bahkan jika kau hanya bisa melihatnya.” Chanyeol berkata, mengeluarkan perihnya. Ia sendiri tidak mengerti mengapa ia bertahan padahal rasa sakit itu kian menyiksa.

Yeonra hanya menggelengkan kepalanya. Ia sama sekali tida mengerti jalan pikiran pria itu.

Maafkan aku, Chanyeol… jika rasa sakit ini bisa menghentikanmu… maka akan aku lakukan… sekaligus aku akan membuktikan kalau ia masih bisa kudapatkan…

“ Antar aku pulang…”

***

          Riyoung hanya bisa membulatkan matanya, sesekali bergumam ‘oh’ atau ‘ah’ atau paling panjang ‘aigooo’ dan ‘omonaaa’ saat Baekyun bercerita dengannya. Baekhyun kesal karena mengira gadis itu tidak serius saat mendengarkan ceritanya. Ia bahkan hanya menggumamkan kata-kata yang membuat Baekhyun semakin yakin kalau gadis itu tidak serius.

“ Kau dengar aku tidak sih?”

“ Aku mendengarkan ceritamu… kan daritadi aku sudah memberikan reaksi atas ceritamu yang lebih mirip drama kacangan itu.”

“ APA?! Beraninya kau menghina kisah cinta tragisku dan menyamakannya dengan drama-drama yang sering ditonton para gadis. Aku jadi heran, apa bagusnya drama seperti itu bukankah hanya akan meracuni pikiran para penontonnya ya ? Apalagi para gadis yang sekarang, mereka menyu…”

“ Sudah… hentikan, kenapa kau malah membahas soal drama? Lanjutkan cerita masa lalumu dengan Yeonra… Aku hanya tidak menyangka dulu kalian berpacaran dan Yeonra ternyata adalah playgirl.”

Ne, aku juga tidak menyangka kalau aku salah satu korban yang dimainkan olehnya. Aku sangat sakit hati waktu itu padahal ia adalah cinta pertamaku. Tapi kenapa ia begitu tega bahkan ia memutuskan dan menghinaku di depan pacar barunya. Lalu setelah kami lulus dari SMP kami bertemu lagi dan Yeonra tiba-tiba meminta maaf padaku dan minta kembali padaku. Aku menolaknya dengan tegas dan tidak lama setelahnya ia berpacaran dengan Chanyeol. Cih… apa itu yang namanya tulus. Aku tidak yakin ia sudah berubah.”

“ Jangan salah paham! Chanyeol hanyalah korbannya. Aku tahu Yeonra tidak mencintai Chanyeol. Aku merasa cinta tidak adil. Mengapa gadis yang suka mempermainkan perasaan orang seperti Yeonra bisa mendapatkan pria baik seperti Chanyeol? Padahal ada gadis lain yang menunggunya dan mencintainya sepenuh hati. Mengapa Chanyeol tidak bisa melihat bahwa masih ada gadis lainnya?” Riyoung semakin berapi-api saat mendengar cerita Baekhyun mengenai masa lalunya dengan Yeonra. Bahkan sekarang ia muncul dengan tekad baru untuk memisahkan Yeonra dari Chanyeol dan merebut Chanyeol dari gadis itu.

Ne, aku juga bingung apa yang dilihat Chanyeol dari gadis itu… Aku saja kapok.”

“ Tapi sepertinya Yeonra sudah menyesal dan sekarang ia ingin kembali padamu dengan tulus mungkin… siapa tahu?”

“ Tidak… aku tidak lagi percaya padanya. Bodoh sekali aku kalau sampai aku percaya… pokoknya aku mendukungmu untuk mendapatkannya kembali! Riyoung fighthing!!!” Baekhyun mengangkat kedua tangannya, tanda ia memberikan dukungan pada Riyoung.

“ Tapi aku tidak yakin… apalagi melihat betapa berusahanya Chanyeol untuk terus bersama Yeonra.” Riyoung menundukkan kepalanya. Tiba-tiba merasa tidak yakin dengan keputusannya sendiri.

“ Yakin saja… suatu saat Chanyeol pasti menyadari berapa besar cintamu itu. Lagipula dia itu bodoh atau bagaimana? Sudah jelas Yeonra hanya memainkannya tapi ia masih bersabar… sampai kapan?”

***

be mine, i love you, okay.. ou~?
I worry about you, okay..  ou~?
I’ll take care of you till the end

let’s go together, don’t walk onto the harder path, okay, eo?
it wasn’t easy, right eo?
I don’t want to see you like that ever again (Oh)
be mine, i love you, okay.. ou~?
I worry about you, okay..  ou~?
I’ll take care of you till the end

“ Baekhyun… aku benar-benar minta maaf padamu… aku tahu mungkin kesalahanku sangat besar, tapi waktu itu aku hanyalah anak SMP, anak kecil yang tidak tahu sama sekali soal cinta, aku hanya menganggapnya mainan, sama seperti bermain boneka, aku terhasut teman-temanku… namun sekarang aku tahu Baekhyun aku kehilangan sesuatu yang berharga saat aku kehilanganmu… aku sangat takut meminta maaf padamu, makanya aku diam sampai saat kita masuk SMA dan aku melihatmu perasaanku masih sama dan keinginanku sangat kuat sehingga aku memberanikan diri untuk meminta maaf padamu, tapi aku tahu kau tidak akan semudah itu percaya, makanya aku memancingmu dengan menjadi kekasih Chanyeol. Tak kusangka kau begitu dingin dan cuek bahkan saat aku dan Chanyeol bermesraan di depanmu. Aku tahu aku mulai kehilangan harapan tapi aku tidak ingin menyerah… aku ingin kau melihatku lagi… aku ingin menebus semua kesalahanku dan memutuskan untuk meninggalkan Chanyeol tapi ternyata pria itu tidak mau melepasku. Ia seolah ingin mengurungku di dalam perasaannya. Aku memang bisa merasakan cintanya padaku tapi aku tidak bisa membalasnya, perasaanku sudah kuhabiskan untukmu… aku mohon berikan aku kesempatan satu kali lagi Baekhyun… aku tahu perasaanmu padaku masih ada walaupun tinggal sedikit…”

“ Waktu lima menitmu habis, Yeonra… aku pergi…” Baekhyun berbalik, bersiap meninggalkan Yeonra. Sebenarnya apa yang dikatakan gadis itu benar, bahkan ia sudah mulai bisa memaafkan Yeonra tapi untuk kembali lagi pada gadis itu. Ia belum merasa yakin. Ia masih harus memikirkannya berulang kali. Setiap kali ia melihat wajah Yeonra, ia teringat tawa gadis itu saat memutuskannya dan menghinanya.

“ Baekhyun, tunggu… aku bisa membuktikan kalau kau masih memiliki perasaan untukku…”

Yeonra menahan tangan Baekhyun. Gadis itu memberanikan dirinya walaupun setelah ini Baekhyun akan kembali menjauhinya. Ia tidak akan peduli. Ia hanya ingin setidaknya untuk saat ini, ia tahu bagaimana perasaan Baekhyun. Ia tidak ingin kecewa hanya karena mengandalkan angan-angannya yang terlalu tinggi.

“ Tidak, Yeonra… perasaanku padamu hanya waktu kita masih menjadi sepasang kekasih… sekarang kita sudah tidak bisa bersama.”

“ Aku bisa membuktikannya…”

Dengan penuh percaya diri, Yeonra berjinjit dan menyamakan tingginya dengan tinggi Baekhyun, gadis itu meraih wajah Baekhyun dengan kedua telapak tangannya. Awalnya Baekhyun hanya diam saat Yeonra memandang matanya dalam. Ia terhipnotis. Tidak lama setelahnya, Yeonra mendekatkan wajahnya dan melekatkan bibirnya pada bibir Baekhyun, menciumnya dengan segenap perasaan yang ia punya. Baekhyun hanya diam. Ia bahkan tidak menepis Yeonra, ia memejamkan matanya dan menikmati sensasi aneh saat bibir keduanya bertemu. Ada getar-getar aneh saat bibir mereka bersentuhan, seperti sensasi aliran listrik yang timbul di antara keduanya.

“ YEONRAA!” Chanyeol kehilangan kesabarannya saat ia melihat gadis yang paling dicintainya itu dengan berani mencium pria lain. Bahkan Baekhyun yang tadinya ia kira akan menepis Yeonra, malah membalas ciuman gadis itu.

Chanyeol menarik Yeonra dan menyeretnya pergi sementara gadis itu meronta-ronta dalam genggaman Chanyeol. Yeonra kecewa karena momentnya bersama Baekhyun terganggu. Apalagi ia dapat merasakan Baekhyun mulai memperdalam ciuman mereka seolah ia memang menginginkannya juga.

“ Apa yang kau lakukan Chanyeol?!”

“ Kau kelewatan!!! Aku sudah bersabar selama ini, aku diam saja ketika kau secara terang menjelaskan rasa cintamu padanya. Selama ini aku bertahan karena ia selalu menjauhimu, tapi saat ini, saat aku melihatmu dan dia berciuman, bukan hanya kau yang menciumnya, aku tahu aku akan kehilanganmu! Aku tidak rela… ”

“ Aku tidak mencintaimu, Chanyeol… bisakah kau mengerti?” Yeonra ketakutan melihat sinar mata Chanyeol yang menyeramkan. Pria itu seolah kerasukan sesuatu bahkan saat ia meringis kesakitan karena tangannya yang digenggam terlalu kuat oleh Chanyeol, pria itu tidak melepaskannya malah semakin mempererat genggamannya.

“ Kau harus, Yeonra! Kau harus belajar untuk mencintaiku… sudah cukup aku berkorban sedemikian banyak padamu!”

“ A… aku…”

“ Lepaskan dia Chanyeol…” Baekhyun mengambil Yeonra dengan kasar. Gadis itu beringsut mundur dan bersembunyi di belakang Baekhyun.

“ Ini bukan urusanmu…” Chanyeol berkata sinis.

“ Memang… tapi aku tidak akan membiarkanmu berlaku kasar padanya… Aku benci pria yang kasar pada wanita.”

“ Cih… bukankah kau tidak mencintainya? Biarkan ia bersamaku…”

“ Ia tidak mencintaimu…” Baekhyun menolehkan wajahnya ke arah Yeonra dan memberi isyarat singkat agar gadis itu pergi. Kemudian ia memalingkan wajahnya lagi untuk menatap Chanyeol.

“ YEONRAAA! MAU KEMANA KAU?!!! YEONRAAA!” Chanyeol histeris saat gadis itu lari dari hadapannya. Baekhyun menahan tubuh Chanyeol yang ingin mengejar gadis itu.

“ Lepaskan dia… lepaskan…”

“ Brengsek! Kau yang akan merebutnya dariku kan? Kau yang harusnya melepaskan dia!”

Buagh!

Baekhyun tersungkur, darah mengalir dari sudut bibirnya. Pria itu bangun dan menghadapi Chanyeol. Kedua pria itu baru saja akan terlibat baku hantam kalau saja Riyoung tidak berteriak dan memisahkan keduanya.

“ Hentikan Chanyeol… hentikan!!”

Sekuat tenaga Riyoung menarik Chanyeol menjauh, walaupun pria itu mengumpat sepanjang jalan, ia bahkan meronta, entah kekuatan dari mana, Riyoung sanggup menarik pria itu.

***

 will you fight, will you hurt again. In an endless ring of hurt, it’s always a quiet war. That’s to much to you. With a shield of worry, i stand in front of you and.. i revolve around you like a moon. The light are turn off in your love, so leave it and look at me. I’ll cover your deep scars, and make you laugh. And make you mine..

“ Lepaskan aku, Riyoung! Lepaskan…”

Chanyeol masih meronta-ronta dalam genggaman Riyoung. Tapi gadis itu dengan nekat membawa Chanyeol ke halaman belakang sekolah yang cukup sepi. Ia melepaskan genggaman tangannya pada pria itu . Ia memandang Chanyeol dengan segala rasa sakit yang ia miliki.

PLAK!

Chanyeol mengusap pipinya yang terkena tamparan. Ia memandang Riyoung tidak percaya. Mengapa gadis itu menamparnya?

“ Kau sudah sadar? Huh?! Kau sudah tahu apa arti tamparan itu?”

Chanyeol hanya diam.

“ Kau bodoh, Chanyeol! Kau harusnya sadar… kau bilang kau mencintainya, tapi ia tidak mencintaimu! Kau harusnya tahu itu… kalau kau bilang kau mencintainya, lepaskan dia… aku tahu ia mencintai Baekhyun walaupun Baekhyun masih meragukan cintanya… Jangan sakiti dirimu sendiri Chanyeol… kau akan menyakiti Yeonra juga. Kau harus sadar.”

“ Kau tidak mengerti, Riyoung… kau tidak mengerti.” Chanyeol berkata pelan.

“ Aku mengerti! Rasanya sangat sakit saat melihat orang yang kau cintai bersama orang lain. Lebih sakit lagi saat tahu orang itu malah tersakiti oleh pasangannya sendiri.”

“ Apa maksudmu?”

“ Aku merasakannya sekarang… aku mencintai seseorang sejak lama tapi orang itu begitu buta sampai tidak tahu perasaanku yang sebenarnya. Orang itu adalah kau Chanyeol! Aku mencintaimu… sejak kelas 1 SMP… aku menunggumu melihat ke arahku. Tapi sekarang apa?! Kau malah menyakiti dirimu untuk seseorang yang bahkan tidak menganggapmu penting!” Riyoung menyeka air matanya yang menggenangi pelupuk matanya. Ia menatap Chanyeol lekat, berharap pria itu mengerti.

Chanyeol terkejut dengan pengakuan tiba-tiba Riyoung. Pria itu terdiam dan membiarkan Riyoung menangis di depannya.

Mianhae…”

“ Untuk apa kau minta maaf? Bisa kau gantikan rasa sakitku? Bisa?! Tidak Chanyeol… kau tidak akan bisa.”

“ Memang!” Chanyeol berteriak saat Riyoung perlahan berjalan menjauhinya. Gadis itu berhenti. Namun enggan berbalik.

“ Memang aku tidak akan bisa menggantikan rasa sakitmu selama ini…tapi aku akan melepskan Yeonra… dan berusaha melihat gadis lain yang mencintaiku sepenuh hatinya.” Chanyeol tersenyum dan mendekati Riyoung, lalu menarik gadis itu ke pelukannya. Pelukan yang sekarang tidak berarti apa-apa baginya, namun suatu saat pelukan itu yang akan membuatnya merasa nyaman.

***FIN***

Halohaaaaaa akhirnyaaaa aku bisa kembalii dtaang membawa fanfic setelah 4 bulan lebih blog ini aku biarin kosong ^^V… ehh iya selamat ulang tahun blog yang keduaaaa saking sibuknya aku sampe lupa -____- dengan ultah blog ini yang harusnya jatuh tanggal 13 Desember kemarin heehehehehehe

Yaa ini semua karena liburr yeaayyy dan aku tahu hutang aku banyak banget jadi yaaa karena lama ga nulis aku jadi bingung mau nulis apa

jadiii dikarenakan aku lagi demen banget sama Infinite dan lagu ini lagu fav aku! Aku belajar membangkitkan semangat nulis aku lagi dengan membawa songfic yang jauh dari kata bagus ini. Alurnya sengaja aku cepetin karena emang aku ga ada ide. Ini sih iseng doang ^^V

Tapi nanti aku bakalan bawa ff yang terinsipirasi dari lagu itu juga dannn mudah2an lebih bagus dari ff abal ini. Anggep ajalah pemanasan sebelum aku mulai nulis yang berat lagi xixixixix

Ehhh iya segala typo yang bertebaran mohon maklum yaaa abis lagi ga ada waktu buat ngedit -___- aku udah ga sabar ngepost soalnya wkwkwkwkwkwk dan lagi aku ga yakin ini ff nyambung ama cerita lagunya -___-

Jadwal ff :(tanggal tidak ditentukan, tergantung kesibukkan)

1. Without Words chapter 4A

2. Life of Lies chapter 2

3. NEW FF *yaelah ff masih banyak udah bawa new lagi -___-* 

Children Lover – Prolog + Summary

untuk TCD mohon maaf, ff ditunda sementara waktu sampai WW dan LoL selesai, mohon pengertiannya ^^ 

3 thoughts on “[Korean Fanfiction/ Straight/ Oneshoot/ Songfic] Be Mine

  1. Baekhyun sama riyoung aja hehehe.. Sedikit bingung sama hub ceritanya pas di awal n di akhir cerita. Dibuat sequelnya ya dv, menurut eon masih ngegantung nieh. Eon suka ceritanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s