[Korean Fanfiction/ Straight/ Mini Drama] Without Words (chapter 4)

cover ff Without words chapter 4 (3)

 

Title       : Without Words

Author  : Kim Saena a.k.a Devi

Rating   : PG13/NC17/ Straight

Length : Mini Drama (8-10 Chapter)

Genre   : Romance, Married Life, Friendship, Hurt,  Angst, A Little Bit Comedy

Cast       :

Main Cast            : Super Junior- Lee Donghae

Kim Saena (OC)

Support Cast      : Ahn Seorin (OC)

Super Junior – Lee Sungmin, Lee Hyukjae a.k.a Eunhyuk

Han Sohee (OC)

Other Cast          : FIND BY YOURSELF!

Disclaimer          : Super junior is belong to God, SM Entertaiment, and their parents. It’s just for fun. Please don’t sue me. This story is mine. Don’t take this fanfic without permission from me. If you want to take this fanfic. Please take with full credit.          

#NP – Jang Geum Seuk & Park Shin Hye – Without Words (OST. You’re Beautiful)

Chapter 4- Step

Perlahan cinta mulai menunjukkan bagaimana taringnya dan menjeratku masuk ke dalam racunnya yang mematikan…

Sungmin meletakkan cangkir berisi teh panasnya yang mengepulkan asap ke atas meja kayu yang berada di ruang tamu apartementnya. Kali ini ia sendirian karena Junshin meminta izin untuk pergi tidur lebih cepat. Suatu keuntungan baginya karena ia sedang tidak ingin diganggu dengan pembicaraan mengenai pekerjaannya lagi. Entah mengapa Sungmin mulai jenuh dengan pekerjaannya sendiri.

Mungkin karena pekerjaannya, hidupnya menjadi tidak normal. Dikelilingi manusia-manusia yang selalu ingin tahu perihal kehidupannya.

Karena pekerjaannya juga, keinginan pria itu untuk menjalankan misinya jadi selalu tertunda dan karena pekerjaan itu pula Sungmin kehilangan sesuatu yang berharga.

Pria itu menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir bayangan tentang hal-hal yang mungkin akan mempengaruhinya. Jujur, sebagai manusia biasa, Sungmin merasa lelah namun ia juga tahu bahwa ini semua adalah mimpinya, ia tidak mungkin mau melepaskannya begitu saja setelah perjuangannya selama ini.

Sungmin mengambil tumpukkan koran yang tadi dipinjamnya dari perpustakaan nasional. Untung saja ia berhasil menemukan koran-koran lima tahun yang lalu, ia penasaran dengan bagaimana perusahaan milik ayah gadis yang dicarinya itu bisa bangkrut, sehingga menyebabkan gadis itu harus pindah dari rumahnya.

Sungmin penasaran dengan semua itu, mungkin membongkar arsip bisa sedikit membantu memuaskan hasrat penasarannya, anggap saja ia menebus kesalahannya selama lima tahun ini. Walaupun ia sendiri tidak yakin apakah ia bisa membantu atau tidak.

Sungmin membolak balikkan koran yang dibawanya dari sana dan belum berhasil menemukan apa-apa. Ia hanya menemukan selentingan pembicaraan kasus perusahaan itu namun tidak banyak membantunya. Sesuatu yang berhasil ditemukannya adalah perusahaan itu bangkrut karena sahamnya diambil alih perusahaan lain tanpa ada keterangan jelas mengapa saham perusahaan itu bisa hancur.

“ Tidak ada jalan lain… aku harus bertemu dengannya… Aku harus meminta maaf dan mengakui kesalahanku dengannya, mungkin hubungan kami bisa lebih baik dari sekarang.”

Sungmin berbisik pada angin yang berhembus di depannya. Ia memang sudah bertekad bertemu dengan gadis itu dan menjelaskan semuanya tetapi takdir sepertinya belum menghendakinya.

Sungmin kembali fokus pada koran yang dibawanya dan berhasil menemukan satu artikel yang menarik di sana dikatakan bahwa telah terjadi kecelakaan yang menewaskan sepasang suami istri dan yang membuat Sungmin terkejut adalah ia mengenal kedua orang itu.

Ahjussi dan Ahjumma…Tapi kenapa bisa?!”

Without Words │©2013 by Ksaena

Chapter 4- Step

ALL RIGHT RESERVED

          “ A… apa yang akan kau lakukan?” Saena memundurkan tubuhnya saat Donghae meletakkannya di atas tempat tidur. Baiklah gadis itu ketakutan sekarang, tadinya ia berpikir Donghae hanya ingin mengodanya karena itu adalah malam pertama mereka tapi nyatanya pria itu malah menciumnya dan berkata seolah-olah mengajaknya melakukan sesuatu? Jadi ciuman itu sebagai pemanasan?!

Donghae tidak menjawab, pria itu malah semakin mendekatkan wajahnya pada Saena, bersiap mendaratkan ciumannya lagi di sana. Namun kali ini Saena tidak tinggal diam, gadis itu mendorong tubuh Donghae yang berada di atasnya kuat-kuat sehingga pria itu jatuh ke belakang. Sementara Saena masih kesulitan mengatur degub jantungnya yang semakin kencang saat Donghae memperlakukannya sedemikian rupa tadi.

“ Kenapa kau mendorongku?!” Donghae sewot sendiri saat Saena dengan suksesnya menghancurkan moment romantis yang sedang berusaha dibangunnya.

“ Kau mau melakukan hal yang macam-macam padaku, iya kan?!” tuduh Saena sambil mengacungkan jari telunjuknya di wajah Donghae yang sedang meringis menahan sakit karena tubuhnya terlalu keras menghantam lantai.

“ Kalau iya memangnya kenapa?” entah kenapa mungkin nada suara Donghae terdengar terlalu keras baginya. Pada dasarnya Saena adalah gadis berhati lembut yang tidak bisa mendapat bentakkan, bahkan orang tuanya jarang sekali memarahinya dengan cara membentaknya. Terlebih ayahnya yang amat sangat menyanyanginya, jadi perkataan Donghae yang cukup keras berhasil membuat segala ketakutan Saena merajalela.

Mi… mianhae, Donghae-ssi… aku hanya jaga-jaga kalau saja tiba-tiba kau…” Saena tidak sanggup meneruskan perkataannya. Ia mati-matian menenguk air liurnya, suaranya tercekat di tenggorokkan.

“ Memangnya kenapa kalau aku melakukan sesuatu padamu?! Kita kan sudah menikah jadi sah-sah saja kan?”

Saena mengangguk, ragu-ragu mengankat wajahnya untuk menatap pria itu. Kenapa tiba-tiba Donghae jadi galak begini? Apa jangan-jangan memang ini sifat asli pria itu? Namun saat ia mendekati Saena, ia menutupi semuanya dan berhasil membuat Saena mau menikah dengannya walaupun tanpa cinta.

Sial… kalau benar begitu aku berhasil tertipu, lalu sekarang bagaimana?

“ Aku… aku hanya be… belum siap, kau pasti mengerti kan Donghae?”

Donghae hanya mengangkat bahunya, tatapannya masih sama. Pria itu marah dan hanya karena Saena menolak melakukan hubungan intim di malam pertama mereka? Heii! Ayolah ini bahkan bukan masalah yang benar-benar besar.

“ Aku lelah, aku mau tidur.” Donghae merangkak naik ke tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di sebelah Saena. Sementara gadis itu memandangi Donghae yang sekarang memunggunginya dengan tatapan aneh dan sedikit bersalah. Memang sudah kewajiban istri untuk melayani suaminya kan? Tapi Saena enggan memikirkan hal itu walaupun bisa dipastikan malam ini ia tidak akan bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkan Donghae yang marah padanya.

Sebenarnya ini cukup lucu, mengingat harusnya ia tidak bisa tidur karena gugup, maklum ini pertama kalinya ia tidur dengan lawan jenis. Selama ini ia terbiasa tidur sendiri atau paling hanya dengan ibunya, sepupunya, atau teman-temannya yang kebetulan sedang menginap. Bahkan dengan ayahnya saja tidak pernah namun kali ini ia tidur satu tempat dengan seorang pria asing yang tiba-tiba masuk ke kehidupannya.

Lalu entah bagaimana caranya bisa meluluhkan hati seorang Kim Saena, yahh… walaupun pernikahan itu lebih ke situasi ‘cari aman’ bagi seorang Kim Saena, karena ia bisa hidup dengan normal hanya dengan menikah dengan pria itu dan kalau ia tidak kunjung memperlakukan Donghae dengan baik, lama-lama juga pria itu yang tidak akan tahan dan akhirnya memutuskan untuk menceraikannya. Dengan begitu orang tuanya tidak akan menuntutnya lagi kan?

Saena tersenyum sendiri membayangkan khayalannya, ia menoleh ke arah Donghae. Tatapannya sudah berubah dari ketakutan menjadi tatapan penuh kemenangan.

Kita lihat Lee Donghae, siapa yang akan kalah? Apa mungkin kau bisa tahan hidup denganku?

Saena merebahkan tubuhnya dan berbailk memunggungi Donghae, tiba-tiba ia yakin bisa tidur nyenyak bahkan mimpi indah malam itu. Sementara Donghae yang tadinya hanya berniat mengerjai Saena dan berharap gadis itu akan meminta maaf padanya bahkan mungkin merengek-rengek, karena yang Donghae tahu dari ibu Saena, gadis itu jarang sekali dibentak, dan sekalinya dibentak, Saena akan benar-benar merasa bersalah bahkan sampai menangis untuk meminta maaf. Tadinya Donghae berharap Saena akan melakukan itu walaupun ia tidak tega jika Saena sampai menangis, tapi nyatanya ia yang dibuat bingung karena jangankan merengek-rengek Saena hanya mengucapkan maaf satu kali dan malah tersenyum mengejek ke arahnya.

Donghae tahu itu semua karena ia belum menutup kaca balkon kamar mereka dengan gorden sehingga tubuh Saena yang berada di belakangnya terpantul dari dinding kaca itu. Membuat Donghae sedikit heran.

Apa yang sebenarnya sedang kau rencanakan, Saena?

***

          “ ANDWAE! ANDWAE! ANDWAE! ANDWAE! ANDWAE!”

          Saena berlari sambil menutup mulutnya, keadaan kamar yang ukup luas namun dipenuhi berbagai barang, terlalu membatasi gerakannya sehingga seringkali ia harus tersandung dan hampir jatuh karena barang-barang itu sementara sang ibu dengan kekuatan penuh tidak akan melepaskan tubuh anak perempuannya yang berkelit menjauh.

YAA! Saena! Kau ini sudah menikah… jangan seperti anak kecil lagi, memangnya kau pikir eomma mau melakukan apa padamu? HUH?! Eomma hanya mau menyuruhmu makan… kau tahu, nanti resepsi pernikahanmu akan berlangsung lama, memangnya kau mau pingsan saat menyapa tamu-tamu nanti?”

Saena tetap pada prinsipnya untuk terus berlari menghidar sementara sang ibu yang sudah berumur, tentu saja kalah gesit dengan sang anak yang masih terbilang muda. Sebenarnya Saena bisa saja tidak menolak asupan makanan yang diberikan ibunya namun mengingat berapa lama ia harus terkurung dengan gaun pengantinnya yang terbilang cukup ‘wah’, ia tidak mau mengambil resiko harus mengalami kesulitan saat ingin ke kamar kecil dengan menggunakan gaun itu.

“ Tidak, eomma! Aku tidak mau, berapa kali sih aku harus bilang kalau aku tidak lapar?”

“ Tapi kau kan bisa…”

“ TIDAK! Aku tidak akan pingsan… aku ini supergirl lagipula kalau terlalu banyak makan dan minum aku bisa ingin ke kamar kecil nanti… menyusahkan!”

Aishh… kau ini! Terserahlah… pokoknya kalau nanti kau sampai kelaparan dan maag-mu kambuh, eomma tidak mau tahu lagi!”

BRAK!

Sang ibu akhirnya menyerah dan membiarkan Saena berdiam diri dalam kamar barunya. Sejak bangun tadi gadis itu sudah disibukkan dengan segala macam perawatan yang membuat tubuhnya hampir copot karena tidak kuat menahan lelah selama tiga hari berturut-turut harus melakukan banyak hal yang sebenarnya tidak diperlukan, menurutnya. Tapi mengingat keluarganya dan keluarga Donghae merupakan jajaran keluarga ternama, kemudian dikarenakan ia dan Donghae juga anak tunggal, orang tua mereka memutuskan untuk mengadakan resepsi yang benar-benar mewah.

Oleh karena tamu yang diundang merupakan relasi bisnis mereka yang sangat penting, tentulah Donghae dan Saena, sebagai pusat perhatian, harus tampil sesempurna mungkin lebih dari pemberkatan pernikahan mereka kemarin dan itu mengakibatkan Saena sempat ketiduran saat facial, tidak peduli lagi dengan rasa sakit yang menghantam wajahnya saat bintil-bintil kecil tanda cinta (?), yang biasa disebut dengan jerawat habis dibabat oleh sang penata rias yang diundang ibunya khusus untuk me-make over Saena yang penampilannya selalu acak-acakkan.

“ HAAAAH! Untung saja pernikahan hanya berlangsung sekali seumur hidup, aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi kalau sampai aku harus mengulang semua ini! IHHH… amit-amit…”

Saena memandang wajanya di cermin, walaupun tanpa make up, gadis itu mulai menyadari efek berjam-jam yang dilaluinya tadi. Wajahnya yang selama ini tampak kusam mulai kelihatan lebih cerah, sehingga gadis itu bisa memuji dirinya sendiri dengan kata ‘cantik’.

“ Tapi kalau begitu aku tidak bisa meneruskan garis keturunan eomma dan appa! ARRGGHH… Kenapa sih eomma dan appa hanya memiliki aku seorang diri? Kalau nanti aku bercerai dari si Donghae itu, berarti aku harus menikah lagi kalau ingin memiliki keturunan dan itu berarti… HARUS SEPERTI INI LAGI?! AHHH… tidak… tidak…”

Saena melangkahkan kakinya menuju tempat tidurnya dan merebahkan dirinya di sana. Ia sendiri bingung memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi, bukan hanya masalah persiapan pernikahan yang rumit, tapi sesuatu di dalamnya, pernikahan hanyalah gerbang menuju kehidupan baru yang sebenarnya dan Saena baru saja akan memulainya, masa ia sudah berpikir untuk mengakhirinya?

“ CIEEEEE… yang baru saja jadi pengantin! Bagaimana semalam? Apa Donghae melakukannya dengan lembut atau kasar?”

Mendengar sebuah suara yang tidak asing di telinganya, sontak Saena bangun dari tidurnya dan melihat ke arah pintu dengan death glare-nya, apalagi pertanyaan yang diajukan orang itu benar-benar tidak mengenakkan di telinganya.

“ HIYAAAA! HAN SOHEEEEE…. Apa yang kau katakan, huh?! Apanya yang lembut dan kasar?” Saena histeris dan mengacak rambutnya, untung saja sang hair stylist belum menata rambutnya sama sekali, kalau tidak, Saena bisa diikat di kursi supaya tidak mengacak-acak tata rambunya sampai acara resepsi dimulai.

Sohee segera masuk ke kamar Saena dan menutup pintunya, ia yakin seratus persen seluruh keluarga besar Saena yang berada di luar sana, mendengar teriakan gadis itu dan untungnya mereka semua sedang sibuk untuk persiapan resepsi nanti malam, jadi walaupun Saena teriak-teriak sampai suaranya habis, tidak aka nada yang memperdulikan gadis itu.

“ Kau tahu maksudku, Saena… kau kan sudah besar, jangan berpikiran sok polos seperti itu.”

“ Dengar ya, Han Sohee… diantara aku dan Donghae tidak akan pernah terjadi apapun, jadi kau tidak usah berpikiran yang macam-macam, lagipula aku tidak menjamin pernikahan ini akan bertahan lama, aku akan membuat Donghae tidak betah mempunyai istri seperti aku!” Saena menunjuk-nunjuk wajah Sohee dengan heboh sehingga gadis itu harus mundur beberapa langkah karena takut, ia berpikir Saena stress karena menghadapi pernikahan. Ya, itu memang sudah terlalu sering didengarnya dari para manusia yang sudah menikah, sewaktu mereka mempersiapkan pernikahan, tidak jarang mereka terlalu gugup dan stress dan yah seperti itulah yang terjadi.

“ Nanti kalau kau sudah menjalani pernikahanmu dengannya, kau akan menikmati semuanya… lagipula pernikahan bukan main-main, Saena-ah… kau kan sudah janji di hadapan Tuhan, kau mau mengingkarinya? Aigoooo…”

Saena menganggukkan kepalanya, mungkin itu akan menjadi dosa terbesarnya karena mengingkari sesuatu yang tidak main-main. Tetapi gadis itu juga tidak mengerti dengan perasaannya sendiri, di satu sisi ia ingin terbebas dari Donghae, walaupun ia sendiri yang menerima lamaran pria itu. Saena mulai berpikir kehidupan tanpa cintanya dengan Donghae akan berjalan dengan rumit dan ia tidak tahu apakah ia bisa bertahan atau tidak?

“ Huh… aku tidak tahu, Sohee-ah, aku akan merasa bersalah pada Tuhan dan juga kedua orang tuaku kalau aku sampai bercerai tapi aku juga tidak tahu model pernikahan seperti apa yang aku jalani sekarang… aku tidak tahu kalaupun nanti aku bercerai dari Donghae apa aku bisa menikah lagi dan hidup bahagia…”

“ Saena…” Sohee mendekatkan tubuhnya pada Saena dan memeluk sahabatnya itu. Jujur Sohee merasa kasihan pada Saena, ia harus merelakan pilihannya dikekang karena ia menikah dengan dasar paksaan bukan cinta seperti mimpi kebanyakkan orang lain.

Saena melepaskan tubuhnya dari Sohee dan tersenyum pada gadis itu. Saena merasa sedikit lega bisa mengungkapkan pemikirannya. Setidaknya sekarang ia sudah menikah dan mau tidak mau ia harus melakukan yang terbaik, mungkin Donghae bisa dijadikan teman. Sehingga hidupnya dan pria itu tidak akan berjalan dengan aneh, lagipula Donghae mencintainya… itu yang dikatakan oleh Donghae, walaupun Saena belum percaya sepenuhnya.

“ Sudahlah! Jangan sedih! Ini kan salah satu hari bahagiamu… eh, Donghae di mana? Sejak aku datang, aku tidak bisa menemukan pria itu…”

Molla, sejak pagi aku juga tidak melihatnya, aku saja dibangunkan oleh eomma lalu langsung disibukkan dengan beragam persiapan untuk nanti malam, lagipula ia sedang marah denganku…”

Serasa ada yang mencabut sesuatu dari hatinya saat Saena mengatakan bahwa Donghae sedang marah padanya. Sensasi perasaan bersalah mungkin, tapi Saena merasa tidak seharusnya Donghae marah padanya. Pria itu terlalu berlebihan dalam bereaksi, memangnya kenapa kalau Saena menolak melakukan hubungan suami istri dengannya?

Mwo? Marah?! Kalian baru menikah semalam saja, ia sudah marah padamu? Kenapa bisa?”

“ Karena aku menolak bercinta dengannya.” Saena bisa jujur dengan Sohee, karena gadis itu yakin Sohee mengerti posisinya. Lain jika ia berbicara dengan ibunya, tentu saja Saena akan disalahkan.

MWOOO? Aishhh… kenapa kau menolaknya?”

PLETAK!

“ AWW! Kenapa kau memukul kepalaku? Aish…” Sohee mengusap-usap dahinya yang menjadi sasaran empuk tangan Saena.

“ Jelas saja! Aku itu tidak terlalu mengenalnya, masa iya sudah mau melakukan hal yang macam-macam padaku… itu namanya tidak sopan!”

“ Tapi dia suamimu…”

“ Kau tidak mengerti Sohee, lagipula sifatnya jelek sekali, apa aku bisa tahan menjadi istirinya?”

“ Lalu bagaimana nanti? Apa kalian tidak akan terlihat aneh kalau di depan tamu undangan malah berjauh-jauhan padahal harusnya bermesraan?”

Molla… yang jelas aku sih biasa saja…”

“ Minta maaf saja… kalau kau mengatakan baik-baik kalau kau belum siap dan sebagainya, aku yakin dia akan mengerti.”

“ IHHH! Minta maaf?! Shireo!”

“ Kau mau membuat orang tuamu malu?”

“ Apa hubungannya?” Saena mengerutkan dahinya, bingung. Sohee menggelengkan kepalanya, kenapa ia bisa mempunyai sahabat seperti Saena yang sangat tidak peka?

“ Begini, Saena sayang… Harusnya pasangan pengantin itu menunjukkan kemesraan mereka sehingga membuat orang lain yang melihatnya berdecak iri dan mengatakan ‘Aigooo, Saena dan Donghae serasi sekali… Tuan Kim anda beruntung memiliki putri yang cantik dan menantu yang tampan, mereka benar-benar cocok…’ seperti itu, bukannya malah ‘Tuan Kim, mengapa anak dan menantu anda berjauhan seperti itu? Apa mereka sedang berada dalam masalah?’ Apa yang akan dikatakan orang nanti, huh?! Appa dan eomma-mu bisa malu, kau dan Donghae kan baru menikah, bahkan bisa dihitung dengan jam, masa sudah bertengkar…”

Saena terdiam, memikirkan perkataan Sohee, memang benar apa yang dibilang oleh gadis itu. Mau tidak mau ia harus acting di depan orang tuanya dan para tamu, Saena yakin Donghae akan melakukan hal yang sama, pria itu juga pasti tidak ingin mengecewakan orang tuanya.

“ Baiklah! SAENA FIGHTING!” Gadis itu tersenyum dan berbicara pada dirinya sendiri.

***

          Beberapa jam telah berlalu dan sekarang Saena, Donghae, dan keluarga mereka sedang berada di ruang tunggu khusus untuk para keluarga sebelum acara resepsi benar-benar dimulai. Posisi mereka saat ini adalah Saena duduk manis sendirian di pojok ruangan sementara sebagian sepupu-sepupunya sedang siap-siap menjadi penerima tamu dan alhasil ia sendirian di sana, memanyunkan bibirkan karena bosan melanda. Sementara dengan sepupu-sepupu Donghae yang kebetulan berada di sana, belum dikenal Saena sama sekali dan menjadi canggung kalau ia harus mengajak mereka sekedar berbincang.

Eomma dan appa-nya juga sedang sibuk bersama ahjumma dan ahjussi-nya, sehingga saat ini gadis itu benar-benar sendirian. Harusnya kan ia yang menjadi pusat perhatian lalu kenapa malah jadi ia yang dicuekkin begini?

Diam-diam gadis itu melirik ke arah Donghae yang sedang bersenda gura dengan sepupu-sepupunya, sejujurnya gadis itu sangat ingin bergabung bersama mereka namun harga dirinya terlalu tinggi untuk sekedar mencairkan kekauan di antaranya dan Donghae bahkan ketika tanpa sengaja mata mereka bertemu, Donghae dengan sengaja memalingkan wajahnya membuat Saena ingin mencekik pria itu.

          Saena membentuk ekspresi horror di belakang Donghae saking kesalnya dengan pria itu. Untung saja, ia masih mempunyai rasa hormat pada orang tuanya, orang tua Donghae dan keluarga besar mereka, kalau tidak, mungkin ia sudah kabur dari sana dan sengaja membuat Donghae malu, tapi itu sama saja akan mencoreng nama kedua keluarga besar itu.

Saena tidak tahu kalau sejak tadi ada seorang pria yang memperatikannya dan menyadari ekspresinya, sehingga tanpa sadar pria itu tersenyum geli.

YAA! Kenapa kau tertawa? Memang ada yang lucu?” Donghae mendelik ke arah Eunhyuk karena tiba-tiba pria itu tertawa tanpa sebab.

“ Kau lihat ekspresi istrimu yang berada di sana? Dia terlihat bosan dan sejak tadi ia bolak-balik memperhatikanmu dengan tatapan mengerikan, hati-hati, hae-ah, bisa saja ia membunuhmu malam ini karena kesal… HAHAHAHAHAHA…”

Donghae melirik diam-diam ke arah Saena dan untunglah gadis itu sedang melihat ke arah lain. Ekspresi jenuh memang memenuhi raut wajahnya, Donghae merasa sedikit kasihan pada Saena dan ingin menyudahi kejahilannya dan mengajak Saena bergabung dengan mereka, tetapi pria itu masih penasaran. Ia ingin Saena yang meminta maaf padanya.

Aishh… biarkan sajalah…”

“ Kau masih mau mempermainkan dia, hae? Kau tidak kasihan padanya? Astaga… suami macam apa kau ini…” Eunhyuk berdecak sambil menggelengkan kepalanya, bingung melihat kelakukan Donghae.

“ Hahaha… aku hanya ingin ia meminta maaf padaku duluan, sudahlah, kita lihat saja nanti, siapa yang akan kalah duluan, dia atau aku…”

Eunhyuk mengerutkan dahinya, sedikit tidak setuju dengan pandangan Donghae, menurutnya Donghae sudah agak sedikit keterlaluan, Eunhyuk sepertinya lupa kalau Saena pernah lebih sadis dalam memperlakukan Donghae sehingga pria itu nyaris dimasukkan ke kantor polisi. Eunhyuk berjalan mendekati Saena dan duduk di samping gadis itu.

Pria itu mengulurkan segelas minuman ke arah Saena dan barulah gadis itu menyadari kehadiran orang lain di sana.

“ Ini minumlah… mungkin akan membuatmu lebih baik.” Saena melihat Eunhyuk dengan tatapan heran, seingatnya pria ini adlah salah satu sepupu Donghae, lalu kenapa ia malah ada di sini?

“ Kau… bukankah kau sepupu dari Donghae?”

Ne, namaku, Lee Hyukjae… tapi biasa dipanggil Eunhyuk… Yaa! Ayo minum ini, kau akan merasa lebih baik setelahnya, lupakan saja Donghae yang membuatmu kesal itu.”

“ Baiklah… terima kasih…”

Saena mengambil gelas dari tangan Eunhyuk dan meminumnya dalam diam. Ia merasa sedikit bersyukur karena pada akhirnya ada yang bersedia menemaninya.

“ Mau kuberitahu satu rahasia?” Eunhyuk tersenyum jahil ke arah Saena dan membuat gadis itu mengangkat sebelah alisnya, heran.

“ Soal apa?”

“ Donghae…”

“ Huh?! Bukankah kau sepupunya? Kenapa kau malah ingin membocorkan rahasia Donghae padaku?”

“ Kau kan istirnya…”

“ Tapi aku dan dia kan sedang… ah sudahlah!” Saena tidak jadi meneruskan kata-katanya, bagaimanapun juga Eunhyuk orang lain dalam pernikahannya dan Donghae, walaupun ia sepupu Donghae sendiri, menurut Saena, agak kurang pantas kalau ia memberitahu masalah pernikahannya.

“ Kau dan dia sedang bertengkar kan?”

“ Bagaimana kau… Aishh! Pasti dia yang memberitahumu, ne? Tidak etis sekali…” Saena tersenyum sinis sambil memandang Donghae.

Ne, dia yang memberitahuku… nah oleh karena itu aku ingin memberitahumu satu hal.” Eunhyuk mendekatkan bibirnya pada telinga Saena dan berbisik di sana.

“ Donghae tidak benar-benar marah padamu, ia melakukan itu hanya untuk mengerjaimu saja… ia ingin kau minta maaf padanya baru ia akan bersikap normal lagi padamu.”

Saena melotot mendengar apa yang dikatakan Eunhyuk, hampir saja ai berteriak, untung saja ia ingat kalau itu adalah rahasia.

Aishh jinjja! Lihat saja dia…” Saena menggeram kesal.

“ Aku harap kau tidak mencekiknya malam ini.” Eunhyuk berkata sedikit takut saat melihat ekspresi membunuh Saena.

“ AH! Terlihat sejelas itu ya? Hahahaha… mianhae, Eunhyuk-ssi, aku tidak akan mencekiknya walaupun aku ingin. Aku tidak mau jadi janda secepat itu.”

“ Jadi seperti itulah… aku harap kau tidak benar-benar marah padanya.”

“ TIDAK BISA!”

Saena buru-buru menutup mulutnya saat tanpa sadar ia berteriak dan berhasil mengundang perhatian beberapa orang ke arahnya, termasuk Donghae. Pria itu langsung terlihat bingung saat mendapati Eunhyuk berada di sana bersama dengan istrinya.

Memang ia menyadari kalau pria berambut setengah pirang itu menghilang entah kemana, tapi ia tidak menyangka kalau Eunhyuk akan menghampiri Saena lalu sekarang mereka berdua tertawa di sana, entah apa yang mereka bicarakan. Tapi satu hal, Donghae cemburu sekarang, jelas saja, ia mati-matian menahan keinginannya untuk menyapa Saena namun sekarang sepupunya itu sedang berakrab ria dengan istrinya.

“ Apa yang sedang mereka bicarakan?!”

***

          Saena menggeliat aneh dalam dekapan Donghae sementara pria itu terus berusaha mengetatkan pelukannya pada Saena, walaupun kentara jelas gadis itu ingin cepat-cepat lepas darinya. Tidak semudah itu Donghae menuruti keinginan Saena, apalagi di hadapan para tamu mereka. Tidak mungkin kan Donghae dan Saena berdiri berjauhan seperti dua orang yang tidak saling mengenal?

“ Bisa tidak sih kau diam dulu? Mereka semua masih memperhatikan kita dan ingin memberikan selamat pada kita dan kau mau mereka semua mengira kita sedang marahan?”

Saena mendelik ke arah Donghae saat mendengar bisikkan pria itu, tetapi mau tidak mau ia tetap memberikan senyuman terbaikknya pada semua tamu, seolah memberitahu tidak ada yang terjadi padahal ia sedang kesal setengah mati pada pria yang mungkin sedang mencuri kesempatan untuk memeluknya.

“ Bukankah kita memang sedang marahan?” sindir Saena dengan nada ketus.

Ne, tapi setidaknya bersikaplah professional di depan mereka.”

Saena menurut dan berusaha tenang walaupun sebenarnya ia ingin sekali pergi dari sana dan mengistirahatkan kakinya yang kelelahan memakain sepatu bertongkat 12 cm. Lalu ada satu hal yang sebenarnya cukup mengganggu dan ia mulai menyadari efek perkataan ibunya sekarang. Saena kelaparan dan mungkin sebentar lagi ia akan rebah di sana kalau tidak segera mendapatkan makanan, tapi bagaimana caranya ia makan kalau ia harus terus-terusan menemani para relasi ayah ibunya dan juga mertuanya dan sepertinya hal itu tidak akan berubah sampai tiga jam ke depan.

“ SAENAA-AAAAHH…”

Saena menoleh dan mendapati Sohee dan juga Yongguk berjalan ke arahnya, sontak gadis itu melepaskan tangan Donghae dari pinggangnya dan berlari ke arah Sohee setelah sebelumnya membungkukkan badannya dan pamit dari beberapa tamu yang sedang mengajak Donghae berbicara dan tugasnya hanya mendengarkan dan menganggukkan kepalanya atau menggelengkannya jika ditanya. Baiklah kali ini ia berhutang pada Sohee karena telah menyelematkannya dari lingkaran kebosanan.

“ Kenapa lama sekali?” protes Saena, kemudian dibalas dengan senyuman dan bentuk V-sign menggunakan jari tengah dan telunjuk dari Sohee.

Chukae, Saena-ah… Donghae-ssi.” Sohee melangkahkan kakinya ke arah Donghae yang berdiri di belakang Saena.

Ne, gomawo, Sohee-ssi…”

Chagi, Saena-ssi, Donghae-ssi, aku pergi ke sana sebentar ya?” Yongguk berlalu dari hadapan ketiga orang itu. Setidaknya ia tahu kalau kekasihnya itu akan berlama-lama jika sudah bertemu dengan sang sahabat. Lagipula sekarang ada sebuah panggilan masuk ke ponselnya.

“ Sohee, kajja… kita ke sana…” Saena menarik tangan Sohee dan tidak lagi memperdulikan tatapan Donghae ke arahnya yang penuh tanda tanya.

“ Eh? Tapi…” Sohee ingin menolak karena tidak enak pada Donghae, tapi Saena tidak mau mendengarkan kata-katanya dan terus saja menarik Sohee menjauh.

“ Kita mau kemana?”

“ Aku lapar… aku bisa mati kalau tidak segera makan.” Saena menampilkan puppy eyes-nya pada Sohee dan ditangkap gadis itu sebagai permohonan yang tidak bisa ditolak.

“ Lalu sekarang aku harus bagaimana? Kau kan masih harus menemani para tamu… Lagian kau juga sih yang salah… tadi ahjumma sudah memberikanmu makanan tapi kau menolaknya. Dasar!”

Saena menutup kedua telinganya dan berlagak cuek dengan semua celotehan Sohee, yang ia harapkan sekarang adalah gadis itu bisa membantunya bersembunyi dan makan, bukannya malah diceramahi.

“ Aku mau makan…” rengek Saena.

Aishh… kau mau makan di sini?” Sohee menunjuk deretan kursi yang diperuntukkan bagi para tamu yang sekarang sudah hampir kosong karena jam makan malam sudah lewat hampir 1 jam yang lalu namun para tamu undangan masih banyak yang berkeliaran karena belum memberi selamat pada Saena dan Donghae atau sekedar saling berbincang.

Andwae! Di sini banyak sekali yang berlalu lalang… kau kan tahu saat lapar aku akan menjadi rakus, bagaimana mungkin aku menunjukkan kelemahanku yang seperti itu di sini? Di hadapan banyak orang dan aku adalah bintang utamanya! Kalau aku tamu seperti kau sih… tidak apa-apa…”

“ Baiklah… baiklah… kajja… kita cari tempat aman untukmu, tapi bagaimana kalau Donghae mencarimu?”

“ Aku sengaja…”

MWO?! Waeyo?? Sengaja membuatnya kelabakan mencarimu?”

“ Akan kuceritakan semuanya padamu nanti, sekarang cari tempat aman dan bawakan makanan untukku!”

AISSH! Menyusahkan…”

***

          “ Donghae… kau tahu di mana Saena?”

Donghae menghentikan kegiatannya bercengkrama dengan beberapa sahabatnya saat sang ibu mertua menegurnya. Donghae memang tidak melihat Saena lagi sejak hampir setengah jam yang lalu, ia berpikir paling Saena sedang mengobrol bersama Sohee karena sejak tadi ia mengeluh bosan karena tidak ada teman. Memang tidak ada sahabat Saena yang diundang ke pernikahan mereka selain Sohee.

Mollayo, eommonim… tapi ia sedang bersama Sohee.” Donghae mulai merasa sedikit khawatir.

Aigooo… anak itu kalau sudah betemu Sohee pasti menghilang. Kemana dia? Padahal eommonim ingin mengenalkan kalian dengan beberapa relasi abeoji yang baru saja datang.”

“ Aku akan mencarinya, eommonim…”

“ Baiklah, hae, kalau sudah ketemu… katakan kalau eommonim mencarinya.”

Nan arraseo, eommonim…”

Donghae segera memisahkan dirinya dari gerombolan dan tak lupa turut serta menyeret Euhyuk untuk membantunya. Entah keyakinan dari mana, ia sepertinya tahu kalau Eunhyuk pasti adalah salah satu dalang dibalik hilangnya Saena.

“  Apa yang sebenarnya sudah kau katakan pada Saena tadi?”

Eunhyuk hanya menggelengkan kepalanya, menolak memberitahu apa yang sudah dikatakan atau lebih tepatnya ia bocorkan pada Saena. Jelas saja, ia pasti akan diamuk oleh sepupunya yang satu itu.

“ Berani bohong ya?”

MWO? Aku… A… aku benar-benar tidak memberitahukan pada Saena kalau kau sedang mengerjainya! Ups!” Eunhyuk menutup mulutnya karena ia malah membocorkan apa yang sudah dikatakannya pada Saena tadi.

“ AHA! Sudah kuduga… aishhh, kenapa kau beritahu padanya? Kau tidak ingat apa yang iya lakukan padaku bahkan lebih parah daripada yang aku lakukan padanya.”

“ Ah, iya juga ya… mianhae, Donghae-ah… baiklah sebagai penebus rasa bersalah aku akan membantumu mencari Saena. Jangan-jangan ia sudah kabur dengan temannya itu.”

“ Mung… AH! Itu Yongguk, kekasih Sohee, tidak mungkin Sohee pergi tanpa membawanya.” Donghae segera berlari menemui pria itu.

“ Yongguk-ssi…”

Yongguk menoleh dan seketika itu juga ekspresinya berubah, walaupun ia tersenyum, ekspresinya menunjukkan hal berbeda namun Donghae tidak terlalu peduli dengan hal itu.

Nde? Ada apa?”

“ Kau tahu di mana Sohee kekasihmu dan Saena istriku berada?”

Yongguk mengangkat sebelah alisnya, sebenarnya ia tidak terlalu peduli kemana perginya sang kekasih, bukannya tidak khawatir tetapi ia sudah tahu karena Sohee pernah memperingatkannya kalau ia sedang bersama Saena, ia pasti akan lupa diri.

Molla, memangnya kenapa?”

Aish! Bisa-bisanya Saena menghilang di pesta pernikahannya sendiri.” Donghae mengacak rambutnya kesal.

“ Lalu sekarang kita harus bagaimana?” Eunhyuk menatap Donghae takut-takut, bagaimanapun juga Donghae sedang marah padanya.

“ Cari dia sampai ketemu!”

Sementara itu…

YAA! Mau berapa piring lagi kau habiskan, hah?! Aigooo… kau ini seorang pengantin, mana ada pengantin yang makan dengan cara brutal seperti kau.”

Sohee berdiri dari posisi duduknya karena mulai ilfil dengan cara makan Saena yang terkesan brutal, bagaimana lagi, mungkin gadis itu benar-benar kelaparan karena sejak pagi perutnya belum diisi apapun kecuali air putih dan minuman soda yang diberikan Eunhyuk tadi. Jelas saja itu tidak mencukupi apa-apa.

“ ADA! Aku orangnya… sudahlah jangan berisik, tiga piring lagi aku habiskan lalu setelah itu kita keluar.”

MWO?? Tiga piring? Aku lelah tahu kau suruh-suruh mengambil makanan.”

Sohee protes dan melangkahnkan kakinya di sepanjang ruangan yang sepi itu. Ya, saat ini ia dan Saena bersembunyi di rungan khusus keluarga yang sedang kosong karena acara resepsi sedang dilaksanakan dan hal itu dimanfaatkan oleh Saena untuk menyuruh Sohee mengambilkan makanan untuknya.

“ Tsk! Tempat makanannya kan tidak jauh dari sini… Itu di sana! Masa kau tidak mau sih?” Saena ceberut sambil terus melahap makanan yang berada di piringnya.

“ NE! Aku akan mengambilnya… lain kali kau juga akan kusuruh-suruh seperti ini, biar kau tahu rasanya bagaimana…”

Saena menjulurkan lidahnya, gadis itu dengan santai menikmati makanannya sementara ia memikirkan Donghae yang kelabakkan setengah mati mencarinya yang tiba-tiba menghilang.

“ Rasakan kau! Siapa suruh kau berniat mengerjaiku…” Saena tersenyum jahil, sementara Sohee yang berada di ambang pintu masuk mendengar semua itu. Gadis itu hanya berdecak, ia memang sudah mengetahui semua ceritanya dari Saena dan akhirnya setuju membantu gadis itu, atas nama balas dendam.

“ Baiklah, Kim ehh salahh… Lee Saena, kali ini saja sebagai tanda persahabatan kita, aku mau membantumu, tapi lain kali… grrrr… kita lihat”

Sohee menggerutu, tangan-tangannya sibuk mengantur posisi piring yang akan dibawanya pada Saena. Sebenarnya ia kasihan juga dengan Saena yang sepertinya tersiksa karena kelaparan, mungkin saat ia menjadi pengantin, ia akan menjadi seperti Saena dan saat itulah mungkin ia bisa membalas dendam dengan menyuruh-nyuruh Saena.

“ HAN SOHEE!”

Sohee menoleh dan mendapati Yongguk, Donghae, dan juga seorang pria yang tidak dikenalnya berlari ke arahnya.

ADUH! Gawatt… kalau begini, aku tidak bisa menyembunyikan Saena lebih lama…

Chagi… kau darimana saja dan di mana Saena, Donghae mencarinya…” Yongguk segera menarik Sohee sementara gadis itu sibuk memikirkan alasan untuk menghindari jika ditanya mengenai Saena.

“ Ah itu… itu…”

“ Jawab saja, Sohee-ssi… Saena tidak bisa terus-terusan kabur dari pesta ini, dia bisa membuat keluarga kami malu.” Donghae berkata pada Sohee dengan nada mendesak.

“ Saena tidak kabur… ia hanya sedang makan… eh aduh…” Sohee sepertinya telah tertular dari Eunhyuk walaupun ia tidak mengenal pria itu, karena tiba-tiba ia malah membocorkan apa yang seharusnya tidak diketahui Donghae.

“ Saena makan di mana?”

“ Itu… itu…”

Sohee bingung mengarang alasan apalagi sekarang tatapan Donghae seperti mengancamnya. Pantas saja Saena ciut, jadi suaminya ini biarpun kelihatan baik ternyata cukup menyeramkan saat marah.

Chagi… katakan saja…”

“ Huh… baiklah ikut aku…” Sohee meninggalkan piring-piring yang hendak dibawanya dan malah membawa ketiga manusia itu ke tempat persembunyian Saena.

Ceklek!

“ Ohh… kenapa kau lama sekali? Mana makananku?” Saena berkata tanpa melihat siapa yang barusan membuka pintu.
“ Ehh itu…”

“ Ternyata kau di sini, sayang…”

“ UHUK! UHUK! UHUK!” Saena tersedak karena ia mendengar suara Donghae dan ketika mengangkat wajahnya ia bisa melihat Sohee dan ketiga manusia lainnya berada di sana. Apalagi ia bisa melihat Donghae menatapnya dengan aneh, mungkin bisa dibilang geli.

“ Kau umur berapa sih?” Donghae meraih tissue yang berada di meja, di samping tumpukkan piring yang terlihat menyeramkan bagi porsi makan seorang gadis.

“ Dua puluh enam…” Saena menjawab polos.

“ Sudah dewasa… tapi kenapa makan saja masih belepotan, huh?!” Donghae membersihkan sisa-sisa makanan di sekitar mulut dan pipi Saena, pria itu tersenyum geli melihatnya.

“ Apa yang kau tertawakan, huh?” Saena tersinggung dan ia menatap Sohee dengan pandangan ‘mengapa mereka yang kau bawa ke sini dan bukannya makanan? Kau mengira mereka bisa dimakan?’

“ Jangan salahkan, Sohee… harusnya kau bilang padaku kalau kau ingin makan, kami semua mencarimu, sayang…”

“ Ah sudahlah hentikan!” Saena merebut tissue dari tangan Donghae dan membersihkan wajahnya sendiri, ia tampak kesal sekarang.

“ Sini, aku bantu…” Donghae mengambil tissue lain dan ikut mengelap permukaan wajah Saena sehingga membuat keduanya berada dalam jarak yang sangat dekat. Saena dan Donghae merasa wajah mereka sama-sama memerah dan memanas berada dalam jarak seperti itu.

“ EHEM! EHEMM! Jadi kita di sini hanya sebagai penonton?”

***

          Gadis itu duduk sendirian, tatapannya mengarah pada kedua kakinya yang bergerak asal. Ia tidak mengerti apa yang sedang ditunggunya di sana, mengapa ia harus menunggu? Gadis itu menghela nafas, bingung dengan keputusannya sendiri. Harusnya ia berpikir lebih lama sebelum memutuskan untuk bolos kerja dan menunggu tanpa alasan di sini.

Mungkin rasa penasaran yang telah menuntunnya sampai ke sini, ke tempat yang sudah lama ia tinggalkan walaupun mungkin masih satu dua kali ia datangi. Apalagi kemarin ia sempat menemukan seseorang di sana, seseorang yang sangat berpengaruh atas hidupnya sekarang, sehingga tanpa sadar mata gadis itu berkaca-kaca, namun tidak ada setetes air bening pun yang mengalir menuruni pipinya.

“ Tidak! Aku tidak boleh cengeng… aku sudah terbiasa hidup seperti ini, jadi kenapa aku harus menangis?” gadis itu menyemangati dirinya sendiri. Jujur saja selama beberapa tahun hidup dengan bekerja keras seperti itu membuatnya lelah dan merasa jenuh. Ia merasa kesepian.

“ Ternyata memang benar… kau di sini…”

Sebuah suara mengangetkan gadis itu, sontak ia menoleh, matanya menabrak pemandangan seorang pria yang berada di dekatnya. Gadis itu tersenyum, sedikit menutup kenyataan bahwa ia hampir menangis.

“ Aku sengaja menunggumu…”

Pria itu tampak sedikit terkejut namun dengan cepat ia bisa menguasai dirinya. Langkah kakinya sengaja diperpanjang, mendekati gadis itu.

“ Menunggu?”

“ Aku tahu kemarin kau ke sini, Lee Sungmin…”

Getaran aneh segera menguasai gadis itu ketika ia menyebut sebuah nama yang selama beberapa tahun ini tidak pernah lagi sudi untuk disebutnya. Mati-matian gadis itu berusaha menguasai dirinya, bersikap tenang, padahal manusia yang berperan besar dalam menghancurkan hidupnya itu sedang berada di dekatnya. Semua luka yang bertahun-tahun coba ditutupinya seakan terbuka kembali.

“ Apa kabar, Ahn Seorin? Lama tidak bertemu…” Pria itu membuka percakapan, memecah kebisuan yang berada di sana.

“ CUKUP! Aku tidak mau mendengar lagi basa-basimu, Sungmin-ssi… mau apa lagi kau ke sini, Huh?! Tidak cukupkah selama ini kau sudah membuat kami menderita? Aku pikir kau tidak sekejam itu dengan kembali lagi ke sini… Tapi nyatanya aku salah… sekarang katakan! APA YANG KAU INGINKAN DARI KAMI LAGI?!”

Seorin tersenggal-senggal, dadanya naik turun, ia sendiri tidak begitu percaya kalau akhirnya ia berani mengungkapkan apa yang ia pendam selama ini. Pelajaran kehidupan membuatnya berubah, menjadi sosok Seorin yang sama sekali berbeda dari yang Sungmin kenal.

“ A… apa maksudmu, Seorin-ah? Aku benar-benar tidak mengerti…” Sungmin terkejut karena ini pertama kalinya gadis kecil dan manis yang dikenalnya beberapa tahu lalu, membentaknya. Bahkan dari kilatan matanya, Sungmin tahu gadis itu marah. Sungmin menghela nafas, ia tahu kesalahannya lima tahun yang lalu memang cukup berat dan Sungmin tahu ia pantas dimaki-maki, tapi haruskan Seorin sampai membencinya seperti ini?

“ KAU YANG MEMBUAT EONNI-KU SAMPAI SEPERTI INI! AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKANMU WALAUPUN KAU SAMPAI BERLUTUT DI KAKIKU DAN MEMOHON! INGAT LEE SUNGMIN! AKU AKAN MEMBALAS SEMUANYA, SAMPAI TUNTAS.”

Seorin tidak bisa lagi menahan air matanya, ia menumpahkan semuanya, beban hidup yang ditanggungnya sendirian. Ia merasa tidak sanggup lagi jika harus menyembunyikaannya, bagaimanapun juga, ia tidak peduli jika akan terlihat lemah di hadapan pria itu. Menurutnya, Sungmin harus tahu seberat apa dampak yang tertinggal karena perbuatan pria itu pada keluarganya.

“ Shi… Shinrin… apa yang terjadi padanya?”

Persetan dengan Seorin yang sejak tadi histerin melihat kedatangannya, Sungmin langsung mendekati gadis itu dan mencengkeram kedua bahunya. Mendengan sesuatu yang berhubungan dengan seseorang yang selama ini dicarinya, membuat Sungmin kehilangan kendali. Tidak peduli pada wajah pucat Seorin dan air mata yang menggenang di wajahnya.

“ Tidak usah sok peduli padanya… terlambat kalaupun memang sekarang kau mau peduli! Harusnya kau lakukan itu lima tahun yang lalu, bukannya malah menghilang tanpa jejak! Keterlaluan…”

“ Seorin… aku mohon, beritahu aku, apa yang sebenarnya terjadi padanya? Aku tahu aku memang salah dengan meninggalkannya tanpa kabar, tapi sekarang aku akan menebus semuanya.”

“ Ah ya?” Seorin tersenyum sinis, sudah terbayang olehnya scenario di mana Sungmin sampai memohon-mohon padanya. Tapi gadis itu tidak peduli dengan apa yang akan terjadi, ia sudah dikuasai amarah.

“ Sampai kau matipun, semua yang sudah terjadi tidak akan mampu kau tebus… Sungmin. Kau tunggu saja nanti, aku yang akan membalas semuanya… Satu hal! Jangan pernah menemuiku lagi ataupun kakakku, karena hidup kami sudah menderita tanpa harus ada kau sekalipun.”

Seorin berlari meninggalkan Sungmin sementara pria itu hanya bisa berlutut, mencerna semua informasi yang baru saja didapatkannya. Ia tidak berusaha mengejar Seorin, karena itu sia-sia, gadis itu bukanlah gadis lugu dan polos yang dulu sangat percaya padanya, gadis itu sudah berubah dan Sungmin sadar, lima tahun bukan waktu singkat untuk merubah jati diri seseorang.

“ Shinrin… Seorin… Mianhae…” Sungmin berkata lirih, walaupun ia masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi saat ia pergi. Ia merasa semua itu karena kesalahannya dan tidak ada yang bisa dilakukannya untuk menebus selain kembali menemui serpihan menyakitkan itu. Entah apa yang akan Seorin dan Shinrin lakukan padanya jika ia melanggar ancaman Seorin tadi.

“ ARRGGGGGGHHH…” Sungmin berteriak, melepaskan semua emosi yang coba ditahannya kuat-kuat namun malah semakin memperparah kondisi hatinya yang terluka. Siapa yang menginginkan posisi seperti ini?

Setekah menunggu beberapa saat untuk berdamai dengan hatinya, Sungmin mulai berpikir menggunakan logika dan akal sehatnya. Percuma membujuk Seorin pada saat-saat seperti ini, lagipula sepertinya mustahil Seorin akan menginjakkan kakinya diu tempat itu lagi. Ia telah mengetahui kalau Sungmin sudah kembali, ia akan terus menghindari pria itu.

Sungmin meraih ponselnya dan menekan nomor yang sudah dihafalnya di luar kepala. Menunggu beberapa saat sampai terdengar nada sambung…

“ Junshin… aku tidak mau tahu bagaimana caranya, kau harus dapatkan data tentang wanita ini, kalau perlu sewa dektektif ternama untuk menyeledikinya…”

“…”

“ Sudahlah aku tidak ada waktu untuk memberitahumu semuanya di sini… nanti aku akan menjelaskan setelah keadaan membalik.”

“…”

“ Ahn Seorin…”

***

          “ KYAAAA LEPASKAN AKU…LEPASKAN… LEPASKAN…” Saena histeris, tangannya menggapai-gapai ke udara, seolah meminta pertolongan, namun sayang sepertinya tidak ada satupun yang berniat memberikan pertolongan kepada gadis malang itu.

Saena sudah hampir kehabisan nafas karena tangan-tangan jahat itu tidak berhenti mencekiknya, seolah ingin menghisap sisa waktu hidupnya di dunia itu dan mengajak Saena bergabung bersama mereka. Tentu saja Saena yang merasa terlalu cantik untuk bergabung dengan mereka, menolak mati-matian. Namun sekarang gadis-gadis berwajah seram itu mulai menampar-nampar wajahnya dan membuat Saena menjerit sekeras-kerasnya.

“ Saena… ireona…”

Samar-samar Saena mendengar suara seorang pria yang tidak asing lagi baginya. Gadis itu mempertajam pendengarannya. Ia yakin, suara itu bukan hanya halusinasinya saja. Suara itu begitu nyata, namun jauh… seperti sayup-sayup.

“ Donghae…” tanpa sadar, ditengah siksaan para gadis hantu (?) itu, Saena menggumamkan nama Donghae. Lalu setelahnya ia kembali pada kegiatannya ditampar-tampar oleh mereka dengan sadis.

“ Halah… paling juga halusinasi…”

“ Saenaaaa… ayooo bangun…”

Suara tadi terdengar semakin jelas, bahkan Saena bisa merasakan kalau orang yang bersuara itu sedang berada di sebelahhnya, berbisik, sehingga ia merasakan jantungnya akan segera melompat dari rongga dadanya, bahkan seluruh persendiannya mati rasa. Tidak lagi dirasakannya sensasi perih, padahal jelas-jelas para gadis itu masih berusaha menyiksa tubuhnya.

Takut-takut Saena menoleh ke samping dan…

Ia melihat wajah pria itu dengan jelas, pria yang namanya baru saja ia sebut, namun yang membuatnya sangat syok adalah wajah pria itu tidak tampan seperti biasanya melainkan dipenuhi bercak-bercak darah mengerikan. Entah kekuatan dari mana, Saena lompat dari tempat duduknya dan berteriak, lebih keras dari sebelumnya.

“ TOLONGGGGG ADA HANTTTUUUUUUU!”

“ Kenapa sayang?”

“ Hah… Hah… Hah…” Saena memegang dada kirinya, tempat di mana organ penopang kehidupannya itu bersemayam. Ia merasa itu adalah mimpi terburuknya seumur hidup selain mimpinya bertemu dengan Donghae yang normal. Masih mending mimpi ditembak Donghae setiap malam daripada mimpi pria itu berubah menjadi hantu.

“ Kau kenapa sih?” Donghae yang hampir kehabisan akal untuk membangunkan Saena sekarang malah heran karena gadis itu melihat dirinya dengan tatapan horror padahal sudah jelas-jelas ia meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulang perbuatan jahilnya itu ada Saena semalam. Tapi kenapa sepertinya Saena masih marah padanya?

“ Kau Donghae apa hantu?” Saena bertanya polos, ia mengucek matanya, berniat memperjelas penglihatannya. Mimpi tadi membuatnya sedikit parno untuk bertemu dengan Donghae karena mengira pria itu adalah hantu.

MWO?? HUAAAHHHAAHAHAHAHAHA… Kau ini bicara apa sayang? Aku ini suamimu, masa kau lupa? Dua hari yang lalu kita menikah dan kemarin kita mengadakan resepsi pernikahan… Ah ya, memang sih kau menikah karena sedikit terpaksa tapi aku jamin suatu saat nanti kau akan jatuh cinta padaku, karena tidak ada gadis yang bisa menolak pesonaku dan yahh termasuk kau.”

“ Semua itu aku ingat! Tidak usah sampai seperti itu juga kali… Memangnya kau kira aku kenapa? Amnesia?” Saena merenggangkan tangannya dan menguap berkali-kali, sehingga ia memutuskan untuk kembali kea lam mimpi. Mudah-mudahan di mimpinya kali ini, ia yang jadi hantu dan mencekik Donghae sambil menampar-nampar pipinya. Imajinasi yang kejam tapi Saena berharap itu jadi mimpinya.

YAA! Jangan tidur lagi! Hampir dua jam aku di sini membangunkanmu, aku sudah mencubit hidungmu dan menepuk pipimu berkali-kali bahkan sampai tega mencubi kedua pipimu sampai merah begitu…”

MWO????”

Saena langsung melompat dari tempat tidurnya dan berlari ke arah cermin, memperhatikan wajahnya yang memang terlihat berbeda dengan rona kemerahan yang menghiasi kedua belah pipi dan hidungnya. Pantas saja tadi Saena mimpi buruk, ternyata Donghae yang secara ‘langsung’ menyebabkan mimpinya itu.

“ LEE DONGHAEEEE! KAU MEMANG HANTU DALAM KEHIDUPANKU… KYAAAAAAA! PERGII SANNNNAAAA PERGIIIII!”

Saena langsung histeris dan melempari Donghae yang sudah berbaik hati membangunkannya dengan cara ‘lembut’ itu dengan bantal dan segala macam benda yang ada di kamar mereka. Donghae yang ketakutan melihat Saena yang tiba-tiba ngamuk, segera pergi dari kamar itu.

Setelah menutup pintu kamar, Donghae barulah merasa lega, karena terbebas dari barang-barang yang tiba-tiba saja terbang karena Saena melemparnya dengan sekuat tenaga. Satu fakta yang baru Donghae tahu adalah ternyata kalau Saena sedang marah, ia bisa menjadi sangat-sangat menyeramkan.

Aigooo, aku benar-benar bisa gila… apa aku tahan menjadi suaminya dan hidup selamanya bersama wanita itu?”

Donghae sepertinya harus sering-sering menabahkan diri sampai Saena jinak (?) dengan sendirinya.

***

” Kau bisa memasak kan, sayang?” Donghae bertanya dengan nada kurang yakin saat melihat Saena malah menelungkupkan kepalanya di atas meja dan bukannya membuat sarapan seperti permintaan pria itu beberapa menit yang lalu sebelum ia meninggalkan Saena untuk pergi mandi.

” Tidak…” Saena bergumam dalam tidurnya, mungkin kali ini mimpi indah yang sedang datang menghampirinya, sehingga gadis itu sulit bangun.

MWO? Kau jangan berbohong padaku… selama ini kau hidup terpisah dari orang tuamu, kau pasti bisa memasak, kalau tidak, selama ini kau hidup dengan makan apa?” Donghae membulatkan matanya, dengan gemas pria itu kembali mencubit pipi Saena yang terlihat chubby, tapi tidak sekeras tadi pagi. Donghae tidak ingin pada akhinya Saena marah lagi padanya. Mereka baru resmi memulai kehidupan sebagai suami istri dan tidak baik jika mereka terlalu sering bertengkar.

” Batu…” Saena menjawab asal karena ia masih berada di persimpangan antara dunia mimpi dengan dunia nyata.

” Jangan bercanda…” Donghae mulai kehabisan jatah untuk bersabar, gadis itu benar-benar menyebalkan. Untungnya hari itu ia tidak harus pergi ke kantor karena mendapatkan jatah liburan. Walaupun ia dan Saena belum bisa pergi berbulan madu, lagipula gadis itu pasti akan menolaknya. Jadi untuk sementara waktu Donghae akan mendekatkan dirinya terlebih dahulu pada Saena.

” Saena-ah… kata eomma-mu kau pandai memasak… ayolah masakkan sesuatu untuk suamimu ini… apa kau tega melihat aku kelaparan?”

 

Donghae masih berusaha membujuk Saena, sebenarnya jika ia mau dan tidak bisa lagi kompromi dengan perutnya yang keroncongan, ia bisa membuat sarapan sendiri tetapi ia tidak ingin melakukannya karena ia ingin mendidik Saena menjadi seorang istri yang sempurna baginya.Terdengar egois memang, tapi bagaimanapun juga mereka sudah menikah, tidak seharusnya Saena bersikap seperti itu padanya, sebenci apapun gadis itu padanya.

Kali ini Saena benar-benar gerah dengan rengekkan sang suami. Ia tidak terlalu suka ketika Donghae menyebutkan fakta mengenai dirinya yang diketahui pria itu dari ibunya. Ada perasaan aneh saat mengetahui pria itu menyelidikinya melalui sang ibu dan bukannya berusaha sendiri mendekatinya dan mencari tahu.

” Kenapa sih kau selalu tahu apa-apa mengenai diriku dari eomma? Memang kau tidak punya keinginan mengetahui semuanya dariku langsung? Memang aku sebegitu menakutkanya untukmu?”

Saena merasa cukup tersinggung atas tindakan Donghae, sementara Donghae tersenyum saat mendengar teguran Saena. Itu pertanda positif baginya. Berarti Saena ingin ia lebih dekat lagi dengan gadis itu.

Ne, sayang… maafkan aku, aku akan berusaha mengenalmu lebih jauh. Bukan dengan cara yang kugunakan untuk mendapatkanmu. Aku tahu mungkin kau tersinggung dan menganggapku pecundang saat tahu kalau aku mendekati eomma-mu ketika ingin menikah denganmu dan bukannya langsung mendekatimu.”

” Kau pikir semudah itu meminta maaf…”

Saena tersenyum jahil, setelah kemarin gagal mengerjai Donghae dengan cara hilang dari pesta pernikahan mereka. Sekarang ia mendapat kesempatan untuk membalaskan dendamnya yang tertunda.

” Memangnya apa yang kau inginkan dariku?”

Hawa panas menyelimuti keduanya, Saena merasa bodoh telah berbicara sembarangan, sekarang ia terjebak dalam perkataannya sendiri. Apalagi ketika dilihatnya wajah pria itu semakin mendekat padanya.

” Ti… tidak ada…” refleks Saena menjauhkan wajahnya selagi deru nafas Donghae tertiup ke arahnya, menciptakan jarak yang cukup diantara mereka.

 

” Benarkah?? Apa kau yakin tidak menginginkan sesuatu? Aku siap memenuhinya, sayang, apapun permintaanmu…” Donghae merasakan sensasi aneh dalam dirinya yang terasa menggelitik, apalagi saat tadi ia mendekatkan wajahnya pada wajah Saena. Niat awalnya hanya ingin menggangu gadis itu, tapi ia seperti kesulitan bernafas setiap kali melakukan hal itu. Donghae sangat takut ia lepas kendali dan akhirnya terjadi sesuatu yang belum disepakati antara dirinya dan Saena.

“ Tidak…tidak, kau sudah kumaafkan, Donghae, lain kali tanyakan apa saja denganku jangan dengan eomma lagi…”  Saena merubah posisi duduknya menjadi tegak dan berbicara terlalu cepat, menahan rasa gugup yang tiba-tiba mendera.

Jinjja? Padahal aku ingin memberikan sesuatu yang istimewa padamu…” Donghae mengambil tempat di samping Saena dan berbisik pelan di telinga gadis itu.

“ Tidak usah… kau simpan untukmu saja.” jawab Saena, berusaha tidak peduli padahal ia sudah merinding saat deru nafas pria itu lagi-lagi menyapu kulitnya.

“ Kau yakin?” Donghae merogoh sesuatu di saku celananya dan meletakkan benda itu di telapak tangannya. Namun ia tidak langsung menunjukkan benda itu pada Saena.

“ I… iya…” Saena menjawab, padahal dalam hati, ia penasaran dengan apa yang akan Donghae berikan padanya.

“ Yasudah, kalau begitu… benda ini akan jadi milikku…” Donghae menggantungkan sebuah benda di jari telunjuknya dan menunjukkan benda itu ke hadapan Saena. Hampir-hampir gadis itu tersedak angin (?) saat melihat benda yang dipegang Donghae.

Refleks gadis itu meraba lehernya yang… kosong…

“ HUWAAAAAA… BAGAIMANA BISA KALUNGKU ADA PADAMU?!” Saena histeris dan berusaha merebut kalung itu dari tangan Donghae, namun pria itu lebih cepat, Donghae berkelit dan menjauhkan dirinya dari jangkauan Saena.

“ Itu semua salahmu, Saena… Hahaha… siapa suruh jadi gadis yang ceroboh? Kau tidak pernah berubah sejak SMA…”

Aishhh… Apa pedulimu, huh?! Sekarang kembalikan kalungku!”

“ Baiklah… aku minta satu hal!” Donghae membalikkan badannya tiba-tiba sehingga hampir saja Saena menabrak tubuhnya. Untung saja, gadis itu mengerem tubuhnya tepat pada waktunya.

“ Apa?”

A Kiss…” Donghae menunjuk bibirnya.

MWO? Shireo…”

“ Baiklah, kalau begitu kalung ini tidak akan kembali padamu…” Donghae mengibaskan benda itu ke arah Saena, membuat gadis itu menggeram, kesal.

Ne, kalau itu maumu! Akan aku lakukan…” Saena berteriak penuh emosi, gadis itu mendekati tubuh Donghae dan menahan wajah pria itu dengan kedua belah tangannya, sebelum mendaratkan sebuah ciuman di sana.

Donghae yang terlalu terkejut dengan tindakan Saena, tidak sempat merasakan apa-apa walaupun bibir gadis itu sudah tertempel jelas di bibirnya, tidak ada tindakan apa-apa dari keduanya selama beberapa detik, sampai…

“ YEAYYY! Aku dapat kalungnya! Aku dapatkan kalungku kembali…” Saena menunjukkan kalung yang berhasil didapatkannya dengan mudah saat ia mencium pria itu dan karena Donghae terdiam kaku sangat mudah melepaskan kalung itu dari cengkraman tangannya. Saena segera berlari bahkan sebelum Donghae menyadari apa yang terjadi.

AISHH… Gadis licik, tapi ia kan sudah memberikan apa yang aku mau… jadi seharusnya tidak apa-apa jika kalung itu kembali padanya…”

Donghae tersenyum, ia menyentuh bibirnya, di bagian mana Saena sudah menempelkan sesuatu di sana. Kemudian berlari menyusul Saena yang menghilang menuju kamar mereka.

“ Sayang, terima kasih untuk morning kiss-nya…”

Donghae tersenyum jahil ke arah Saena yang sedang memeluk kalungnya dengan heboh sebelum memakai benda itu kembali.

“ Tidak usah… aku melakukannya tanpa perasaan apapun…”

Jleb!

Serasa ada yang mencabik-cabik hatinya saat dengan mudah gadis yang dicintainya mengatakan itu. Memang Donghae tahu apa yang dilakukan Saena tadi hanya sekedar hal yang sekiranya bisa membuat benda miliknya kembali, tanpa rasa apa-apa, berbeda jika ia yang melakukannya pada gadis itu, penuh cinta di setiap sentuhan yang terjadi di antara mereka.

Walaupun begitu, tetap menyakitkan mengetahui hal itu langsung dari bibir istirnya sendiri, orang yang dicintainya selama bertahun-tahun.  Namun Donghae berusaha tersenyum menanggapinya, ia memiliki keyakinan bisa meluluhkan gadis itu, secara perlahan, dengan caranya sendiri.

“ Lee Saena…”

Saena menoleh, walaupun nama itu pernah ditolaknya mati-matian, nama itu sekarang memanglah namanya. Saena melihat ada luka di mata pria itu, seketika itu juga, perasaan bersalah menguasai hatinya. Ia merasa aneh setiap melihat tatapan mata Donghae yang menyakitkan seperti itu.

“ Jangan hilangkan lagi, ne… selama ini kau sudah menjaganya dengan baik, aku bangga padamu…” Donghae menepuk pundak Saena sekilas sambil berbisik, setelahnya pria itu meninggalkan Saena sendirian.

Saena menyentuh liontin kalung yang dikenakanannya saat ini, kemudian memandangnya dalam diam. Perasaan yang lagi-lagi aneh mulai merambahi hatinya saat ini.

“ Sepertinya Donghae mengenal kalung ini…tapi bagaimana bisa? Lalu kenapa tatapannya mengarah seolah kalung ini sangat berarti baginya? Padahal ini kan kalungku… dan harusnya ia tidak mengetahui sama sekali cerita dibalik kalung ini…”

***

          “ EHEMM… CIEE… CIEEE… Ada pegantin baru nih…”

“ Iya nihh… kok udah masuk sih? Padahal kan harusnya masih di rumah, berbulan madu bersama suami tercinta…”

YAA! Kim Saena, kenapa kau tidak mengundangku? Aigoo… kau jahat sekali.”

“ Sebagai perayaan, bagaimana kalau jam makan siang ini, kita minta Saena mentraktir kita, sebagai tanggung jawab karena kita tidak diundang…”

“ SETUJU… SETUJU…”

YAAA! KALIAN SEMUA KENAPA MENGEROYOKKU SEPERTI INI SIH? ENAK SAJA! BAYAR MAKANAN KALIAN SENDIRI-SENDIRI NANTI…”

Saena merasa panas saat mendengar beberapa temannya meledeknya habis-habisan saat masuk kantor hari berikutnya, apalagi mereka semua memang tidak diundang dalam resepsi pernikahannya kemarin. Bukannya tidak mau, kalau saja pernikahan itu memang sengaja direncakanan olehnya bersama seseorang yang memang dicintainya, Saena tidak akan segan mengundang mereka semua.

Sayangnya ia tidak ingin semakin banyak manusia yang tahu kalau ia tidak terlihat bahagia malah terlihat risih pada saat pesta pernikahannya sendiri. Ia tidak mau menjadi bahan pembicaraan dan ejekkan saat di kantor.

“ HUUUU… yang pengantin baru pelit ih…”

“ Iya nih… Apa susahnya berbagi kebahagiaan dengan kami?”

“ Sudah semuanya sudah! Bubar sana… bubar…” Saena mengibas tangannya ke arah kumpulan rekan kerjanya yang terlihat masih semangat untuk meledeknya.

“ Sudahlah… biarkan saja mereka, kau ini… pagi-pagi sudah marah-marah, kau mau cepat tua?” Sohee menarik tangan Saena menjauh, sementara gadis itu masih menggerutu walaupun ia dan Sohee sudah berjalan cukup jauh dari sana.

“ Bukan begitu… aku sebenarnya merasa bersalah tidak mengundang mereka, jadi aku berusaha menutupinya dengan marah-marah, tidak kusangka mereka malah semakin jadi mengejekku… Huwaaaa… menyedihkan.”

Saena dan Sohee masih asyik berbincang di depan lift, tanpa mereka sadari ada dua orang pria yang juga sedang berbincang dan berjalan ke arah yang sama dengan mereka. Kelihatannya kedua pria itu sedang bertengkar, entah membicarakan apa. Saena yang tampaknya tertarik dengan pertengkaran itu menoleh ke belakang.

“ SUNGMIN?!”

***

          “ Kenapa kau tidak mencari EO lain saja? Bukankah sudah kubilang aku tidak ingin bertemu dengan gadis aneh itu lagi?! Bagaimana kalau ia mencari cara lain untuk menculikku? Bukankah itu tidak terdengar… menyeramkan?”

Sungmin terus menggerutu di sepanjang perjalanan mereka sampai akhirnya sampai di kantor itu sementara Junshin yang sudah kehabisan akal untuk menjawab pertanyaan pria itu yang terus saja berputar pada masalah yang sama, hanya diam. Enggan menjawabnya dengan sikap yang sama dengan Sungmin.

“ Choi Junshin! Jawab…”

“ Bukankah sudah kubilang berkali-kali kalau kita membatalkan kontrak kerja dengan mereka kita akan membayar royalty… Mungkin tidak masalah bagimu membayar, tapi bukan hanya soal uang! Tapi profesionalisme… kau tidak mau kan dibilang artis tidak professional yang hanya karena persoalan kecil akhirnya menolak kerjasama?”

“ Tapi kan…”

Sungmin berusaha menyela, namun Junshin berlagak cuek. Pria itu menekan tombol lift yang akan membawa mereka menuju ruang pertemuan.

“ SUNGMIN?!”

Sungmin menoleh dan mendapati gadis yang paling dihindarinya di kantor itu sekarang berada dalam jarak hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri.

“ Kau lagi?!” Sungmin baru berniat untuk kabur saat Saena keburu memegang tangan pria itu.

“ Sungmin-ssi… tolong maafkan aku atas kejadian hari itu, ne? Ayo maafkan ya? ya? ya?” Saena menggoyangkan tangan pria itu, sehingga membuat Sungmin bertambah risih padanya.

“ Lepaskan aku…” jawab pria itu, dingin.

“ Aku tidak akan melepaskan tanganmu sebelum kau maafkan aku…”

Sungmin merasa gerah dengan tingkah gadis aneh itu. Baiklah kalau begini, ia tidak akan mau menginjakkan kakinya di sana lagi. Biar saja Junshin yang mengurus semuanya sampai tuntas. Ia tidak mau mengambil resiko suatu saat nanti gadis itu alah benar-benar akan menculiknya.

Aish… kenapa aku harus berurusan dengan gadis sepertimu?” Sungmin berlari menghindar, sementara Saena yang pantang menyerah untuk memperbaiki image-nya yang terlanjur hancur karena kejadian kemarin, berusaha mengejar pria itu. Bahkan ia berhasil menarik baju sang idola sampai keduanya jatuh terjerembap di lantai. Menjadi tontonan para manusia yang berada di sana dan meledaklah tawa yang memenuhi lantai itu. Wajah Sungmin merah padam.

“ Apa sih yang kau inginkan dariku?!”

Masa bodoh dengan image-nya sebagai public figure akan hancur di tempat itu, memang sudah hancur karena kejadian kemarin dan untungnya mereka tutup mulut ke media perihal itu.

“ Aku hanya ingin meminta maaf… kumohon dengarkan penjelasanku…” Saena mengembalikan dompet Sungmin yang terjatuh di dekatnya saat mereka berdua sama-sama jatuh tadi.

“ Baiklah… tiga menit…” Sungmin luluh saat melihat tatapan mata Saena yang mengiba padanya.

“Jadi, Sungmin-ssi, aku ini adalah fans beratmu… tentu kau tahu kan bagaimana kelakukan fans, kadang suka aneh dan aku hanya ingin bersama denganmu lebih lama… aku tahu setelah dari ruang meeting aku belum tentu punya kesempatan untuk sekedar berbincang-bincang denganmu, jadi aku ingin bersama denganmu dalam jangka waktu cukup lama bukan hanya dua menit seperti fan meeting… walaupun hanya sekali seumur hidupku, aku mohon maafkan aku, Sungmin-ssi…”

Sungmin terdiam mendengar rentetan kalimat yang keluar dari mulut Saena, ia mengerti bagaimana perasaan gadis itu dan seharusnya ia tidak semarah sekarang. Ia menatap mata Saena dan mendapati bahwa gadis itu berbicara jujur, tidak ada kebohongan di sana. Rasa kasihan mulai menjalari hatinya.

“ Baiklah, kau kumaafkan… Tapi jangan ulangi lagi…”

Sungmin berdiri dan membersihkan sisa-sisa debu yang menempel di bajunya dan berjalan mengikuti Junshin yang sudah masuk sejak tadi ke dalam lift dan menunggu di sana.

Ghamsahamnida, Sungmin-ssi…”

Saena berdiri dan membungkukkan badannya sesaat sebelum pintu lift itu tertutup.

Aish… kau ini nekat sekali.”

Sohee mendekati Saena, namun ia berhenti sejenak saat kakinya hampir saja menginjak sesuatu. Sohee membungkuk dan mengambil benda itu.

“ Foto? Pasti ini milik Sungmin yang terjatuh dari dompetnya… Aigoo… gadis ini cantik sekali, jangan-jangan kekasihnya…”

Saena yang mendengar pekikkan Sohee segera mendekat. Penasaran dengan sosok dalam foto yang sedang dipegang oleh Sohee.

“ Mana? Mana? Coba kulihat! Cantikkan mana dia denganku?” Saena mengambil foto itu dan melihatnya dengan tampang penasaran. Namun tidak sampai semenit foto itu ditangannya, wajah Saena memucat.

“ Shi… Shinrin eonni?!”

***

Srakk!

Aish… di saat-saat seperti ini.” Dengan panik, Saena membereskan berkas-berkas yang dibawanya ke ruang meeting yang tanpa sengaja dijatuhkannya.

Sejak meeting dimulai sampai berakhir beberapa menit yang lalu, Saena sama sekali tidak bisa konsentrasi. Untunglah ada Sohee yang masih bisa sangat fokus untuk mendetail meeting mereka tadi. Saena terlalu sibuk memperhatikan Sungmin sampai pria itu memandangnya risih. Tapi bukan tatapan penuh kekaguman yang dilemparkan gadis itu, Saena masih bisa memegang profesionalismenya sebagai rekan kerja Sungmin dengan tidak tebar pesona pada pria itu.

Hal yang membuatnya memperhatikan pria itu secara konstan adalah selembar foto yang diyakini olehnya jatuh dari dompet Sungmin sewaktu mereka berdua jatuh tadi. Saena harus menayakan sesuatu pada pria itu, hal tersebut yang membuat kecerobohannya bertambah beberapa kali lipat sehingga ia harus kesulitan mengumpulkan berkas selagi langkah Sungmin semakin menjauh.

Aigoo… sini… biar aku saja…” Sohee mengumpulkan kertas-kertas yang berceceran sementara Saean segera berdiri dan membiarkan Sohee menyelesaikan semua kekacauan yang tanpa sengaja dilakukannya.

Gomawo… aku akan segera kembali.”

Saena berlari mengejar langkah pria itu dan berhasil menarik tangannya.

YAA! Mau apa lagi kau?” Sungmin histeris saat melihat wajah Saena terlebih saat gadis itu menahannya. Hal yang ada dalam pikiran Sungmin sekarang adalah Saena ingin menganggungnya lagi sebagai seorang fans, walaupun tadi gadis itu berhasil menahan diri saat meeting berlangsung, Sungmin sadar bahwa tatapan gadis itu selalu mengarah padanya.

“ Untuk kali ini aku benar-benar ingin berbicara satu hal denganmu… kumohon dengarkan aku, Sungmin-ssi…”

“ Tidak… aku banyak urusan…” Sungmin baru saja akan melangkah ketika Saena menahannya lagi, persis seperti yang dilakukan gadis itu tadi pagi. Hanya saja tatapan mata yang dilemparkan gadis ini berbeda, Sungmin bisa merasakannya. Bukan lagi tatapan penuh kekaguman atau tatapan memelas, namun tatapan mengintimidasi.

“ Baiklah, ada apa?”

Saena mengeluarkan sesuatu yang ia selipkan di ID Card yang terkalung di lehernya dan menunjukkan benda itu pada Sungmin. Mata Sungmin terbelalak melihatnya.

“ I… itu… bagaimana bisa kau mendapatkannya?” Sungmin menatap Saena bingung, benda itu herusnya masih terselip aman di dompetnya.

“ Shinrin eonni… Darimana kau dapatkan fotonya? Apa kau mengenalnya?” Saena bertanya pada Sungmin, bertubi-tubi. Hingga pria itu kesulitan mendapatkan jawabannya.

“ Apa kau mengenal Shinrin juga?”

“ Jadi kau kenal dia?” Saena meletakkan kedua tangannya di bahu Sungmin dan menatap pria itu dalam-dalam, mencari sesuatu di sana.

Ne, dia adalah…” Sungmin ragu untuk mengatakan siapa posisi gadis itu sebenarnya baginya, bagaimanapun juga Saena adalah orang yang baru dikenalnya.

“… seseorang yang aku kenal…”

“ Teman?”

Ne, bisa dibilang begitu…”

“ Kalau begitu, kau kenal juga dengan Seorin kan?”

Saena bertanya pada Sungmin penuh harap atas jawaban pria itu. Ia sungguh-sungguh menginginkan pria itu berkata ‘ya’.

“ Ne, dia adalah adik Shinrin temanku… tentu saja aku mengenalnya.” Sungmin menjawab dengan nada santai namun ada sedikit rasa penasaran, bagaimana bisa Saena mengenal mereka berdua.

“ Kau pasti tahu kan di mana mereka sekarang berada? Jadi aku mohon, Sungmin-ssi… beritahu aku.”

Sungmin menggelengkan kepalanya, ia merubah ekpresi wajahnya menjadi sedih. Ia tidak mungkin membantu Saena jika masalah yang ia hadapi dengan dua sosok itu belum menemukan pencerahan.

Mianhae… aku tidak bisa membantu apa-apa, aku juga tidak tahu harus menemukannya di mana…”

Kecewa…

Itulah hal pertama yang dirasakan Saena saat Sungmin menjawab bahwa ia tidak bisa mempertemukan Saena dengan dua orang itu. Ia tidak tahu apa hubungan Sungmin dengan keduanya tapi ia yakin Sungmin bisa membantunya. Tapi nyatanya pria itu sama dengannya.

“ Ah begitu… Maaf sudah mengganggu… Ini fotonya…” Saena mengembalikan foto Shinrin ke tangan Sungmin dan membungkukkan badannya kemudian melangkah pergi dari sana.

Yaa! Kenapa Saena bisa mengenal dua gadis yang kemarin kau suruh untuk kucari tahu?”  Junshin memotong keheningan yang memenjara Sungmin, sementara pria itu enggan menjawab.

“ Sebenarnya aku sudah mendapatkan data-datanya…” Junshin menambahkan.

“ Apa?! Kenapa kau tidak memberitahuku sejak tadi?!” Sungmin bereaksi, ia memandang Junshin dengan tatapan sarat emosi.

“ Aku baru akan memberitahumu sekarang…”

***

          Saena dan Sohee berjalan menuju café dekat kantor mereka. Kontras dengan Sohee yang kelihatan bahagia, Saena berjalan lunglai. Merasa gagal memperoleh sesuatu dari Sungmin padahal ia yakin pria itu tahu sesuatu, entahlah mungkin juga Sungmin tidak berkata jujur padanya, tapi ia sadar tidak mempunyai hak untuk menghakimi pria itu dan memaksanya. Atau bisa jadi pria itu jujur, ia benar-benar tidak mengetahui apapun. Tapi satu hal yang Saena yakin, Shinrin bukan gadis biasa bagi Sungmin, bukan hanya sekedar teman seperti yang dikatakan pria itu.

Kalau memang benar apa yang dikatakan oleh Sungmin perihal hubungan keduanya yang biasa, agak janggal apabila foto gadis itu ada di dompet Sungmin. Pasti ada sesuatu yang istiewa di antara keduanya. Bagaimana Saena harus membuktikan hal itu, itulah yang menjadi masalah sekarang.

“ Siapa sebenarnya Shinrin? Apa tadi kau berhasil tahu sesuatu tentangnya dari Sungmin?” Sohee bertanya, walaupun sebenarnya agak enggan melihat ekspresi Saena, tapi gadis itu sudah terlanjur dijanjikan sebuah penjelasan oleh Saena.

“ Ah ne… aku akan menceritakan semuanya kepadamu… jadi Shinrin eonni dan Seorin adalah kakak adik. Seorin adalah salah satu sahabatku sejak kami sama-sama duduk di bangku SD, kami bersahabat erat namun suatu prahara datang, Shinrin eonni mengalami kecelakaan dan akhirnya koma, setalah sadar Shinrin eonni lumpuh sehingga harus duduk di kursi roda dan tidak mau mengucapkan sepatah katapun, kata dokter ia mengalami shock yang sangat berat. Keluarga Seorin mati-matian membiayai pengobatan Shinrin eonni sampai harta keluarga mereka habis, tidak lama setelah perusahaan keluarga mereka bangkrut, orang tua mereka meninggal karena kecelakaan. Tadinya Shinrin eonni dan Seorin tinggal di rumahku, namun tidak lama karena mereka berdua kabur dan menghilang tanpa jejak, entah kenapa. Seorin hanya meninggalkan surat tanda terima kasih dan sampai sekarang aku tidak bisa menemukan mereka, padahal eomma dan appa sudah mencarinya kemana-mana. Akhirnya kami menyerah dan berpikir Seorin mungkin mau hidup sendirian tanpa bantuan kami, padahal kami tidak keberatan sama sekali. Lalu yang aneh adalah beberapa hari lalu saat kita pergi makan siang, aku melihatnya! Melihat Seorin dan aku segera mengejarnya namun entah kenapa ia tidak bisa menganaliku tapi sorot matanya mengatakan lain… ada  semacam perasaan takut lewat sorot matanya dan semacam perasan rindu… mungkin, entahlah mungkin aku salah lihat. Mungkin juga ia sudah melupakanku karena memang kami berpisah hampir dua tahun, tapi aku yakin Seorin tidak akan melupakanku semudah itu, kami berteman sangat lama. Jadi setelah aku melihat foto Shinrin eonni tadi, aku berpikir Sungmin tahu sesuatu.” Saena menyudahi ceritanya dengan tatapan sedih yang kelewat jelas. Sohee berinisiatif untuk menarik Saena ke dalam pelukannya.

“ Sudahlah, jangan sedih lagi… suatu saat kau pasti akan bertemu lagi dengannya, hmm… tapi kalau sampai ia tidak mengenalimu, sepertinya itu aneh, kenapa ya aku berpikir kalau sebenarnya ia sengaja menghindarimu?”

Saena melepaskan pelukannya dari Sohee dan melanjutkan langkah mereka dalam diam. Saena mulai berpikir kalau apa yang dikatakan Sohee benar, tapi apa yang membuat gadis itu menjauhinya? Bukankah mereka bersahabat dan Saena merasa tidak mempunyai kesalahan apapun pada Seorin sehingga harus membuat gadis itu menjauh darinya.

“ Mungkin… tapi kenapa ya?”

“ Aku punya pemikiran seperti ini, jika aku berada di posisi Seorin mungkin aku akan merasa malu dan agak risih kepadamu dan keluargamu karena walaupun kalian sangat, tidak sepantasnya kami menyusahkan kalian walaupun kalian tidak pernah merasa seperti itu… Yah… menurutku semacam mempertahankan gengsi dan harga diri, supaya ia terlihat mandiri dan tidak lagi memerlukan bantuan kalian, tadi kau bilang kakaknya sakit kan? Mungkin juga ia merasa kalau ia dan kakaknya malah akan menyusahkan kalian padahal kalian bukan siapa-siapa mereka, yang saudara saja belum tentu sampai seperti itu…”

Saena merenungkan kata-kata Sohee, ia merasa semuanya benar. Mungkin saja Seorin memang tidak ingin merepotkan ia dan keluarganya walaupun eomma dan appa-nya sudah menganggap Shinrin dan Seorin seperti anak mereka sendiri apalagi Saena adalah anak tunggal yang sering kesepian. Tetapi Saena sebagai manusia biasa memang mengakui ada kalanya ia merasa kesal pada Seorin yang dianggapnya ingin mengambil kasih sayang eomma dan appa-nya. Walaupun ia sudah dewasa, perasan seperti itu kerap muncul dan mungkin Seorin menyadarinya. Saena menghela nafas, sedikit menyesal dengan tingkahnya yang mungkin membuat Seorin serta Shinrin tidak betah.

“ DOR!”

“ KYAAAAAAA…” Saena menjerit dan berhasil mengundang perhatian hampir seluruh manusia yang kebetulan berada di sana.

PLETAK!

“ AWWW… APPO… kenapa kau memukul kepalaku?” Sohee melayangkan protes.

“ Habisss… kenapa kau malah mengagetkanku seperti itu?”

“ Kau terlalu seriuss berpikirnya… wajahmu terlihat lucu tahu… Hahahaha…”

“ Aish, aku pikir kau ada benarnya, tumben hari ini kau sepertinya mendapat banyak pencerahan…”

“ Jadi kau pikir selama ini aku selalu kelam? AISH! Kau tidak sopan… padahal sudah kubantu berpikir.”

Ne, baiklah… gomawo, Sohee-ah…”

Cheonmaneyo, ah iya bagaimana kelanjutan hubunganmu dan Donghae? Kalian sudah baikkan? Lalu apakah kalian sudah…”

STOP! STOP! STOP! Apa sih yang kau bicarakan? Kenapa setiap membahas tentang aku dan Donghae kau selalu mengatakan itu?”

“ Hahahaha… aku hanya bercanda… tapi aku pikir Donghae pria yang baik, sejak pertama aku melihatnya aku yakin ia sudah ditakdirkan untuk menjadi pelindungmu… Cobalah akui itu, Saena-ah…”

“ Kau ini bicara apa?”

Saena berusaha mengelak dan tertawa untuk menutupi kegugupannya, padahal dalam hati ia memikirkan kata-kata Sohee. Hari ini mungkin Sohee memberinya terlalu banyak batasan untuk berpikir.

“ Ayolah, Saena… You know what I mean… Why you don’t try to be a good wife for him? Although you forced to be his wife, Donghae still you husband, forever friends for you. Kau mau tidak mau, suka tidak suka, harus menjalankannya sebaik mungkin, setidaknya manfaatkanlah waktu yang ada untuk mengenalnya.”

“ Hahahaha… kau tidak pantas berbicara serius.” Saena berusaha memacah kekakuan.

“ Lakukan yang terbaik, ne? Jangan terlalu sering bertengkar dengannya, ia terlihat sekali ingin mengalah terus padamu. Cobalah menirunya…”

I know… what I should doing to our marriage…”

***

          Saena dikejutkan oleh sosok Donghae yang berada di ruang tamu apartement mereka, kentara sekali dengan tatapan dan posisi duduknya yang mengarah ke pintu masuk, ia sedang menunggu sesuatu… atau seseorang? Dengan santai dan berlagak cuek, Saena meletakkan alas kakinya di lemari khusus di dekat pintu dan melangkahkan kakinya ke arah Donghae.

“ Kau menunggu siapa?” Saena bertanya sambil mengerutkan keningnya, heran.

“ Siapa lagi yang tinggal di rumah ini selain aku dan… kau. Sudah jelas kan aku menunggu siapa.” Donghae menjawab dengan nada kesal, tatapan matanya mengarah pada kedua mata Saena yang sekarang berjarak beberapa meter darinya.

“ Ah, ada apa?”

Donghae merasa gerah dengan tingkah Saena yang terkesan tidak peduli. Gadis itu pada dasarnya tidak sedingin ini, namun entah apa yang membuatnya berbeda hari ini. Terlebih gadis itu terlambat pulang ke rumah dan membuatnya harus menunggu beberapa jam padahal ia ingin memberikan sesuatu untuk gadis itu.

“ Kenapa kau pulang terlambat?”

Mianhae… tadi aku lembur di kantor.” Saena menjawab singkat, ia kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar. Tadinya ia berpikir Donghae mempunyai sesuatu yang penting untuk disampaikan, tapi ternyata hanya untuk menanyakan alasannya pulang terlambat.

“ Jadi begitu tanggapanmu padaku yang sudah menunggumu sejak tadi?”

Saena menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Donghae. Di sana… pria itu berdiri dengan ekspresi yang sama. Walaupun ini bukan pertama kalinya Saena melihat Donghae dengan ekspresi menyakitkan seperti itu, seluruh tubuh Saena langsung kram melihatnya. Perasaan aneh lagi-lagi muncul menghantuinya. Tidak mau berlama-lama terkurung pada perasaan tidak mengenakkan itu, Saena segera menghampiri Donghae.

Ne, maaf tadi aku sedang lelah… hari ini sangat berat untukku…”

“ Baiklah… sepertinya aku punya sesuatu yang bisa membuatmu terhibur. Tunggu di sini…” Donghae tersenyum, dengan gemas ia mengacak rambut Saena, kemudian pergi meninggalkan gadis itu sendiri.

Saena merasa mulai terbiasa dengan melihat senyuman itu, senyuman yang mampu menghapus semua rasa gelisahnya, senyuman yang memberikan rasa aman padanya, senyuman yang mampu membuat Saena selalu ingin melihat sosoknya, sekedar melemparkan senyum magic itu padanya. Senyuman yang suatu saat, bukan tidak mungkin, malah akan menjadi senyuman favoritnya.

Aish! Apa yang sedang aku pikirkan? Kenapa aku malah jadi terpesona dengan senyumannya? Memang apa istimewanya senyuman itu? Aku juga bisa…”

Saena mempraktekkan beberapa jenis senyuman yang biasa ia tunjukkan pada orang lain. Namun ia menyadari satu hal, ia tidak memiliki sesuatu yang istimewa yang bisa membuat orang lain terpesona pada senyumannya. Bahkan mungkin baru Donghae, baru pria itu yang Saena tahu memilikinya dan lagi-lagi, untuk kesekian kalinya, ia merasakan debaran disertai perasaan aneh saat mengingat senyuman yang diberikan Donghae padanya.

“ Aku merasa aneh setiap kali ia tersenyum untukku… Ada apa sebenarnya dengan diriku?”

Mungkin tidak seharusnya ia bersikap terlalu dingin pada Donghae, benar kata Sohee, walaupun semua ini bukan kehendaknya, ia sudah menikah dengan pria itu. Harusnya ia belajar untuk setidaknya berteman baik dengan Donghae. Itu tidak akan buruk.

“ Pernikahan tanpa cinta… bisakah berjalan?” gadis itu tersenyum miris, mentertawakan dirinya sendiri.

“ TADAAA…”

Lamuyan Saena buyar saat tiba-tiba sebuah boneka mampir ke depan wajahnya dan seseorang yang dengan tidak sopannya menyodorkan boneka itu malah tersenyum jahil karena berhasil mengagetkan Saena yang sedang melamun sambil senyum-senyum, membuat Donghae sedikit merinding dengan tingkah istrinya.

“ Apa ini?”

“ Boneka…”jawab Donghae polos, tangannya tidak diam, ia mencubit pipi Saena, seperti yang ia lakukan tadi pagi, namun sekarang gadis itu tidak marah, malahan terdiam, sambil memandangi boneka pemberiannya. Donghae sedikit was-was, takut gadis itu tidak menyukai boneka yang ia beli dengan maksud tertentu. Ia penasaran dengan tanggapan Saena melihat salah satu benda kenangan masa kecil mereka. Benda yang dulu sering menjadi bahan olokkannya untuk gadis itu.

“ Kenapa kuda nil?” Saena mengingat sesuatu dengan melihat boneka kuda nil pemberian Donghae padanya.

“ Bukannya kau menyukai boneka ini? Aku hanya…” Donghae mendekat ke arah Saena dan membisikkan sesuatu ke telinga gadis itu.

“… berusaha mengingatkanmu sesuatu, tidakkah kau merasa familiar dengan semua ini, hippo?”

Saena menatap Donghae dengan pandangan bingung, namun gadis itu tidak asing dengan julukan yang mampir ke telinganya, ia pernah mendengar semua itu di satu tempat.

“ Hippo?” bisiknya, nyaris tanpa suara.

***

To Be Continued

Makin gaje ceritanya? hehehe maaf cuma itu yang bisa aku bilang T___T euhmmm alurnya akan aku cepetin mulai di chap depan dan kykny akan lama lagi updatenya maaf yaaa semuanya T__T

biar ga sedih dibonusin poster yang gajadi dipake karena jelek deh *udahtaujelekmasihdipajang *pundung T___T

cover ff without words chapter 4a

Next Without Words Series : Chapter 5 – When The Love Begin

10 thoughts on “[Korean Fanfiction/ Straight/ Mini Drama] Without Words (chapter 4)

  1. Emang kenapa koq Shirin benci sama Sungmin eon?? Trus Donghae itu temen masa kecil Saena ya, tapi Saena gak tau. Kek nya juga Saena udah mulai suka sama Donghae kan eon. FF nya seru cuma konfliknya belum keluar, next ne eon ke chap 5😉

    • Annyeongg ^^
      aduhh maaf ya baru bales komenmu
      aku jarang online sekarang T__T
      Ohhhoohooo soal Shinrin sama Sungmin bakalan sedikit demi sedikit (?) muncul di permukaan di tiap chapternyaa jdi tunggu aja yaaa ^^
      iyaaa Saena emang udah mulai sukaa ^^
      chapter 6 ya saeng mulai berkonflik banget (?)

      salam kenall
      makasih udah baca + komen ^^

  2. hahaha thor ffx seru,comedy dan romantis tp ada jg sedih. Pas wkt Saena cium Donghae dan blg kalau dy melakukan i2 tanpa rasa apapun. Aduh nyesek bcax thor,apalagi tatapan kesedihan Donghae wkt tatap istrix Saena dan bgmn bs Donghae msh bs tersenyum stlh disakiti? Aduh Donghae oppa kmu bnr2 pria yg bk, romantis dan sangat menghargai wanita. Mkin sayang dhe ma Donghae oppa #tatapan tajam dari yesung oppa.
    Pdhl sbnrx Lee Saena dah muka suka tuh ma suamix Donghae hax dy aja yg blm sadar n blm mw mengakuix mungkin terlalu takut mengakui perasaanx yg sbnrx.
    Thor,aku mw tax apa ff Without Words bru chapter 5? Dan mf bru bs dtg d blog mu thor pdhl dah lama author posting ff ini. Jujur aku SUKA BANGET dgn ff ini jd aku HARAP author mw lanjutkan chapter2 berikutx smpe end sm sprt ff thor lainx. Mianhae geurigo gomawo dah posting ff ini thor. Hwaiting.

    • Annyeong chingu🙂
      maaf ya baru balas komennya

      ohhh makasihh udahh sukaaa :* *hug
      iyaaa kasian sihh jdi donghaeee apalagi saenanya jahat bgtu -__-
      cieeee yesungg cemburu loh tuh *Plak

      iya chingu keseluruhan chap ff ini mungkin ada 10 mungkin juga lebih hahaha tergantung nantinya aku usahain setiap chap panjang kok walaupun yaaahhh lama updatenya T__T
      maaf yang sebesar2nya ya chinguu
      aku berusaha menyelesaikan kok
      hahahaha smua ff2ku walaupun bejibun dan banyak minta ampun u.u
      mohon doanya aja supaya aku kebanjiran ide jdi cepet updatenyaaa

      makasih udah baca + komen ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s