[26 Song Challenge-12] Gone

Gone

Title       : Gone

Author  : Kim Saena a.k.a Devi

Rating   : PG13/ Straight

Length  : Ficlet

Genre   : Romance, Angst, Comedy (dikit doang kok) (?)

Cast       :

Main Cast            :

Infinite – Kim Myungsoo

Apink – Son Naeun

Other Cast          : FIND BY YOURSELF!

Disclaimer           : Infinite is belong to God, Woolim Entertainment, and their parents.

Apink is belong to God, Cube Entertainment, and their parents.

It’s just for fun. Please don’t sue me.

If you don’t like this fanfic please don’t bash. Don’t Like… Don’t Read.

Please don’t take this fanfic without permission from me.

If you want to take this fanfic, please take with full credit.

Inspired : Jin-Gone

Warning           : Yaaa seperti biasa kalau saya ngetik ff oneshoot pasti begini jadinya -__- alur yang sangat cepat sekali (?), Ga ada nyambung2nya (?) sama lagu yang jadi inspirasi ff ini -_____-, Genre ff ini emang angst tapi jangan heran kalo ada beberapa  kegajean yang menghilangkan feel sad dari ff ini ^^V

A/N : Annyeong semuaa duhh udah lama saya ga ngepost ff di sini         :( yahh alasannya sama masih sibuk T.T nahh mumpung libur aku bisa ngepost yeayyyy… aku usahain ke depannya bakalan lebih sering 😄

nahhh ehemm bagi yang sering baca ff saya *emangada *plak ini adalah jajaran cast baru haha sebenernya udah lama saya demen pinkfinte cuma yaa belom sempet bkin ffnya… jadi anggap ini ff debut pinkfiniteku 😄

p.s : ceritanya panjang tapi pendek (?) dan banyak typo

selamat membaca 😄

Please look at me

I feel you

I tried to hold onto the way you speak, your smile

I tried to hold onto you

And you’re gone…

 

 

Love always like this… never can be fair…

 

Naeun Pov

            Aku memandang rintik hujan yang turun membasahi jendela kamarku. Huh… aku benci suasana ini! Di mana aku hanya dapat berdiam diri dengan selang ea ra menancap di lengan kiriku. Aku melirik jam analog yang berada di dinding kamar rawat inapku. Hampir dua jam eomma pergi dan meninggalkan aku sendiri.

Aku berusaha mengusir kebosanan dengan mengganti-ganti channel televisi yang berada di depanku, namun tidak ada acara yang benar-benar menarik, semuanya menjemukan. Astaga! Kenapa aku harus terkurung di sini? Mungkinkah aku memang ditakdirkan menunggu waktuku yang tersisa terkurung di tempat seperti ini? Wah! Menyedihkan sekali.

EH!

TUNGGU!

Aku hanya bercanda!

Aku tidak sedang terkena penyakit mematikan… jadi singkirkan raut wajah sedih kalian! Itu membuatku geli!

Ya, kalau kalian ingin tahu kenapa aku terjebak di sini jawabannya adalah karena penyakit typus…

Memang bukan jenis penyakit ringan yang wajib disepelekan, bukan juga jenis penyakit berat yang harus selalu dikhawatirkan… Tapi tetap saja! Karena penyakit ini aku terkurung selama beberapa hari di sini, terhitung sejak kemarin. Huh! Menyedihkan memang.

Aku kembali memandang jendela yang kini menampilkan tetesan-tetesan yang hanya berasal dari daun jendela yang terkena hujan. Langit memang masih kelabu, seolah turut berduka karena aku terkurung di sini, tapi hujan tidak lagi turun. Andai saja aku diperbolehkan keluar, sudah pasti aku akan menghirup sebanyak mungkin wangi favoritku.

Wangi tanah yang basah oleh hujan… menenangkan dan menyegarkan di saat yang bersamaan di bawah tetesan air samar yang masih sesekali turun dari benda-benda yang tersiram oleh derasnya hujan.

Klek!

Aku menoleh, aku benci kebiasaan ibuku yang tidak pernah mengetuk pintu terlebih dahulu jika ingin masuk, ia menganggu imanjinasiku yang sedang bergerak liar.

“ Naeun, lihat! Siapa yang datang?”

Aku memicingkan mataku, berusaha melihat lebih intens pada sesosok manusia yang berada di belakang punggung eomma.

Oh dia!

Aku mendengus pelan sebelum memberanikan diri tersenyum walaupun sebagian diriku menolak senyuman ini.

“ Bagaimana kabarmu, Naeun? Apa kau sudah merasa lebih baik?”

Cih… aku benci nada bicaranya yang terdengar seperti sedang mengejekku…

Tapi aku tahu ia tidak pernah bermaksud untuk mengejekku hanya saja kondisi tubuhku yang seperti ini seolah enggan untuk menerima kehadirannya. Jadi jangan salahkan aku kalau apapun yang ia katakana atau lakukan hanya akan kutanggapi dengan sinis.

“ Sudah… ada apa kau kemari?”

“ Naeun! Kenapa kau kasar sekali! Woohyun kan kesini untuk menjengukmu…”

“ Tidak apa, ahjumma… mungkin Naeun sedang tidak ingin diganggu…”

Pria itu tersenyum manis. Bagaikan tersihir, aku tidak pernah bisa melepaskan bola mataku pada sosoknya yang teramat memabukkan, aku bahkan bisa menghirup wangi parfum yang dikenakan pria itu dari jarak yang cukup jauh. Aku menyesal kenapa aku terkena typus, bukan flu saja yang akan melumpuhkan sementara indera penciumanku.

“ Tapi kau kan sudah repot datang ke sini, Woohyun, tapi sikapnya malah seperti itu.”

“ Tidak apa-apa, ahjumma… aku mengerti…”

Huh! Bisa-bisanya ia sok baik seperti itu… tapi dia memang baik sih… kebaikannya adalah salah satu hal yang membuatku tertarik padanya. Tapi…

“ Apa kau datang  ke sini sendiri?” Entah mengapa pertanyaan itu yang aku lontarkan padanya. Aku hanya penasaran.

“ Aku…”

“ Annyeong haseyo…”

Oh! Sudah kuduga!

End of the Pov

***

Author Pov

Naeun menatap dua manusia di depannya dengan tatapan benci yang terlihat jelas di kedua bola matanya yang berkilat marah. Naeun tidak mengerti dengan perasaannya sendiri, yang jelas ia amat sangat membenci keadaan ini. Keadaan yang membuatnya seperti obat nyamuk di antara dua sejoli yang sedang asyik bercinta di depannya.

“ Oppa, kalau kau mau pacaran dengan Chorong eonni, lebih baik kau lakukan itu di tempat lain! Aku mau istirahat! Kau meminta izin membawaku jalan-jalan keluar bukan hanya karena ingin aku menontonmu berpacaran kan? Huh! Membuang waktu istirahatku yang berharga…”

Naeun baru akan mendorong kursi rodanya menjauh saat tiba-tiba kursi rodanya ditahan oleh Woohyun, membuat gadis itu jengah.

“ Aku tidak bermaksud membuatmu kesal atau bermaksud membuatmu menjadi penonton, aku dan Chorong hanya bermaksud membuatmu senang, Naeun… ibumu bilang kau bosan berada seharian di kamar.”

“ Kalian bukannya membuatku senang, kalian hanya membuatku semakin kesal, aku mau kembali ke kamar…” Naeun berusaha melepaskan genggaman Woohyun pada kursi rodanya.

“ Woohyun-ah, mungkin Naeun tidak suka melihat kehadiranku di sini… Aku pulang saja…” Chorong mengambil tasnya, sebisa mungkin mengubah raut wajahnya menjadi prihatin walaupun dalam hati ia kesal dengan gadis itu. Gadis yang menurutnya adalah ‘pengganggu’ dalam hubungannya dengan Woohyun.

“ Tidak… sama sekali tidak, aku bukan hanya keberatan kau berada di sini,eonni, tapi aku juga tidak suka Woohyun oppa, ada di sini… jadi sebaiknya kalian pulang! Pulang sana!”

Woohyun akhirnya melepaskan tangannya dan membiarkan Naeun pergi, percuma saja menahan gadis itu lebih lama. Naeun akan semakin membencinya, ia mengenal gadis itu sejak kecil. Ia tahu bagaimana sikap Naeun berubah padanya sejak ia mengenalkan Naeun pada Chorong, kekasihnya. Naeun tidak menyukai Chorong, entah kenapa dan hal itu semakin memperburuk hubungan Woohyun dengan Naeun. Mereka yang tadinya sangat dekat sekarang malah seperti tidak saling mengenal, ditambah sikap Naeun yang selalu berusaha menjauh darinya.

Gadis itu seolah-olah membencinya, tanpa Woohyun tahu apa kesalahan yang ia perbuat. Parahnya lagi, saat menghadiri acara pertunangannya dua hari yang lalu, Naeun terlihat sangat kacau. Lalu kemudian ia mendapat kabar kalau Naeun masuk rumah sakit kemarin dan entah keyakinan dari mana pria itu tahu kalau penyebab Naeun sakit adalah dirinya.

“ Woohyun, jadi bagaimana?”

“ Kita pulang… mungkin kita bisa menengok Naeun besok saja…”

Chorong menggamit lengan Woohyun dan membawa pria itu pergi dari sana. Sementara tatapan pria itu tetap mengarah pada Naeun. Tatapan yang penuh dengan kekhawatiran.

***

“ Akhirnya mereka pergi juga…” Naeun mendorong kursi rodanya berlawanan arah dengan Woohyun dan Chorong. Ia malas untuk kembali ke kamar, namun ia juga terlalu malas untuk bergabung dengan Woohyun dan Chorong yang jelas-jelas pamer kemesraan di depannya.

Naeun tidak bisa berbohong, kalau ada bagian dari dirinya yang merindukan pria itu, bagaimanapun juga ia mengenal Woohyun hampir seumur hidupnya. Lalu perasaan itu mulai muncul, perasaan suka dari seorang wanita kepada pria. Sayangnya, Woohyun tidak pernah membalas perasaannya, pria itu mungkin selamanya menganggap Naeun sebagai adik. Suatu kenyataan yang membuat Naeun, perlahan menjauhi Woohyun. Naeun tidak membenci Woohyun maupun Chorong, tidak sama sekali, walaupun sikap gadis itu mengatakan demikian. Ia hanya ingin berjauhan dari mereka berdua sampai ia benar-benar merupakan perasaannya terhadap Woohyun seutuhnya. Entah sampai kapan…

Naeun mendorong kursi rodanya mungkin terlalu jauh, sampai gadis itu menemukan sudut lain dari taman rumah sakit, sudut yang sempit dan hening. Tempat yang mungkin dibutuhkannya untuk menenangkan diri. Menangis? Mungkin saja… tapi ia sudah terlalu lelah untuk melakukan hal itu. Jadi yang sekarang ia lakukan hanya melamun di atas kursi rodanya.

“ Uhukk… uhukk…”

Naeun tersentak dari lamunannya, ia segera menolehkan kepalanya ea rah lain, sepertinya tadi ia mendengar sesuatu.

“ Ahh, mungkin hanya perasaanku saja…hahahaha… aku mulai gila…” Naeun berusaha menghapus halusinasi yang tiba-tiba melintasi pikirannya. Mungkin saja taman sepi ini berhantu? Ini kan rumah sakit, salah satu tempat yang banyak dikunjungi bahkan didiami oleh hantu.

“ Uhuk… uhuk…uhuk…”

Naeun merasa kali ini ia tidak salah, suaranya sangat jelas, tapi di mana? Ia sama sekali tidak berani menoleh ke belakang. Walaupun sedang sedih dan galau (?), Naeun masih memiliki perasaan takut.

“ Ehmm… uhuk… uhuk…” kali ini bukan suara asing itu lagi yang terdengar menyerupai orang batuk, tapi Naeun sendiri yang terbatuk-batuk karena indera penciumannya menangkap aroma aneh yang terlalu menusuk.

Bau rokok…

“ Tidak mungkin hantu merokok… pasti ada manusia lain di sini…”

Naeun membalikkan kursi rodanya dan matanya segera menangkap sesosok pria yang berpakaian sama dengannya. Seragam rumah sakit…

Sosok pria itu terlihat pucat, kalau saja Naeun tidak menyadari kaki pria itu menapak tanah, mungkin saja ia sudah lari terbirit-birit karena mengira pria itu hantu -_-

“ Yaa! Kau!” Naeun mendekati sosok pria yang sedang duduk di bangku taman. Pria itu tampak tenang, bahkan ia tidak menoleh saat Naeun memanggilnya.

“ Yaa! Aku sedang berbicara padamu…” Naeun berhenti dalam jarak yang cukup dekat dengan pria itu. Ia tidak bisa berada lebih dekat lagi, bau asap rokok yang dikepulkan oleh pria itu, sangat mengganggu Naeun.

“ Hmm…”

“ Kau tahu ini area rumah sakit?”

“ Lalu?”

“ Kau ini pasien!”

“ Uhukk… uhuk… lalu?” walaupun terbatuk-batuk, pria itu tidak berhenti menghisap tembakau yang diapit oleh jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya itu.

“ Tsk! Bahkan sudah batuk-batuk seperti itu kau tidak berhenti merokok!”

“ Lalu?”

“ Bisakah kau mengatakan kata lain, selain kata lalu?” Naeun mulai kesal dengan tingkah pria itu yang kelewat cuek. Namun ia harus mengakui, ia cukup tertarik dengan wajah pria itu yang bisa dibilang tampan?

“ Coba tanyakan hal lain…”

“ Tsk! Kau ini! Sudah sakit malah nekat! Suara batukmu sudah separah itu masih tidak berhenti juga menghisap rokok! Kau pikir kalau kau merokok, kau hanya merusak dirimu sendiri, huh?! Kau merusak orang-orang disekitarmu… yang ikut menghirup asap dari batang putih menyedihkan itu!”

“ Tidak ada siapapun di sini, nona yang tidak kalah menyedihkan dengan batang rokok ini, saat aku merokok di sini… tidak ada yang akan terkena asapnya kecuali aku sendiri, setidaknya sebelum kau datang dan menggangguku di sini…”

“ Aku hanya sekedar mengingatkanmu, tuan yang sudah sakit tapi nekat, jangan merasa terganggu…”

“ Terima kasih, nona… tapi aku tidak perlu diingatkan oleh gadis yang sedang patah hati…”

“ Huh?!”

Naeun mulai merasa takut sekarang, bagaimana bisa pria itu tahu kalau ia sedang patah hati? Lagipula bagaimana bisa Naeun tidak menyadari ia telah melewati bangku yang sedang diduduki oleh pria itu saat ia melangkah menuju taman ini? Itu semua karena seorang pria bernama Nam Woohyun.

“ Kau ingin tahu bagaimana aku bisa menebak dengan tepat?”

“ Jangan… jangan sok tahu!”

“ Wajahmu mengisyaratkan kesedihan, melamun… wajah menahan tangis, kelihatan seperti orang depresi, lagipula tadi aku melihat dari jauh tampaknya kau sedang bertengkar dengan seorang pria dan seorang wanita. Biar kutebak lagi… dia pasti mantan kekasihmu yang sedang menjengukmu dengan pacar barunya…”

“ Y… Yaa! Jangan asal menebak! Aku tidak bersedih! Aku hanya sedang butuh ketenangan! Dia juga bukan mantan pacarku! Bahkan aku tidak pernah berpacaran dengannya!”

“ Caramu marah menandakan apa yang aku ea rah tadi adalah benar.”

“ Yaa! Siapa kau? Berani sekali mengatakan hal-hal yang tidak kauketahui dengan benar…”

“ Aku? Hanya seorang pria kesepian…”

Pria itu kembali menghisap rokoknya dan kali ini kembali terbatuk-batuk, Naeun memundurkan kursi rodanya dan berbalik. Ia tidak mau berlama-lama dengan pria aneh dan nekat yang sekarang sedang terbatuk-batuk dengan bisa dibilang… parah?

Naeun menghentikkan kursi rodanya sebelum terlalu jauh dari pria itu. Mengapa tiba-tiba ia merasa khawatir dengan sosok pria yang bahkan tidak ia kenal? Ia memandangi pria itu yang sekarang memukul dadanya dengan heboh. Ia bahkan harus membungkukkan badannya sambil memegangi dadanya, wajah pucatnya sudah berubah merah. Naeun mengerutkan dahinya, sepertinya pria itu berada dalam masalah.

“ Yaa! Kau… kau jangan bercanda! Kau baik-baik saja kan?” Naeun menyentuh bahu pria itu, namun pria itu menepisnya dengan kasar.

“…k…”

Pria itu tampaknya ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya.

“ Bertahanlah… aku akan memanggil perawat.”

Naeun berusaha bangkit dari kursi rodanya. Tentu saja kondisi gadis itu masih lemas, tetapi entah kekuatan darimana ia bisa berlari meninggalkan pria itu.

Pria itu memandang kepergian Naeun dengan mata berkunang-kunang, alat pernafasannya seolah tidak lagi berfungsi. Satu hal yang bisa diingatnya sebelum berubah menjadi gelap adalah, wajah khawatir gadis yang baru dikenalnya itu.

***

“ Sadarlah…”

          “ Kumohon bangunlah…”

          “ Ayo buka matamu…”

          Pria itu mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum benar-benar berhasil menangkap sesuatu. Dinding kamar rawatnya yang berwarna putih. Statis… selalu sama seperti itu. Tapi sepertinya tadi ia bisa mendengar suara seorang gadis yang menyuruhnya bangun. Apa itu semua hanya mimpi atau khayalannya belaka? Penyakit itu membuatnya mulai berhalusinasi rupanya.

“ Syukurlah kau sudah bangun!”

“ Myungsoo, apa kau sudah merasa lebih baik?”

Myungsoo mengerutkan dahinya, ia mengenal suara kedua. Tentu saja, itu ibunya yang berbicara, tapi suara pertama tadi sangat mirip dengan suara yang berada dalam mimpinya? Apa itu bukan mimpi atau sekedar halusinasinya?

“ Neeomma…”

Pria itu merasa jauh lebih baik sekarang setelah kemarin tiba-tiba saja ia kesulitan bernafas, bahkan untuk menghirup oksigen dalam jumlah normal seperti yang biasa ia lakukan, entah mengapa kemarin hal itu seperti kemustahilan baginya.

“ Nahh… Naeun, kau tidak perlu khawatir lagi… Myungsoo sudah sadar… Kau beristirahatlah di kamarmu… wajahmu masih sangat pucat.”

“ Ne, ahjumma… aku akan kembali lagi ke sini nanti.”

Naeun melepaskan senyumannya ea rah Myungsoo sebelum benar-benar pergi dari sana. Sebenarnya gadis itu ingin menanyakan berbagai macam hal tentang Myungsoo pada ibu pria itu, hanya saja tadi, Naeun terlalu khawatir dengan kondisi Myungsoo yang tiba-tiba drop, gadis itu tidak sempat bertanya apa-apa, hanya sepenggal informasi yang berhasil diketahuinya. Salah satunya adalah nama pria yang tadi sempat membuatnya kesal.

“ Jadi namanya Kim Myungsoo…”

Naeun tersenyum mengingat bagaimana wajah menyebalkan pria itu.

“ Untung saja dia tidak apa-apa, kalau tidak… aku sudah jadi saksi mata sekarang.”

Naeun menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, ia tidak habis pikir kenapa ia bisa begitu khawatir dengan pria yang bahkan baru dikenalnya bahkan ia sempat merasa kesal dengan pria itu.

“ Jadi namanya Son Naeun?”

“ Ne…ia sangat khawatir dengan keadaanmu tadi… sebenarnya kau kemana Myungsoo? Kau belum boleh pergi kemana-mana…”

“ Eomma tidak usah terlalu peduli padaku… bukankah selama ini eomma sibuk dengan urusan eomma sendiri, lalu kenapa sekarang tiba-tiba jadi peduli?”

“ Myungsoo…”

Pria itu membalikkan badannya, enggan berbicara lebih jauh dengan ibunya. Wanita paruh baya itu menjauh, memberikan ruang bagi anaknya untuk menyendiri, sambil mengusap air mata yang tiba-tiba muncul di pelupuk matanya.

 Son Naeun ya…

***

“ Naeun kau darimana saja?!”

Naeun langsung diberondong berbagai macam pertanyaan ketika gadis itu masuk ke kamar rawat inapnya. Ia tertegun melihat Woohyun dan Chorong masih ada di sana. Ia pikir Lovey Dovey Couple itu sudah pulang sejak beberapa jam yang lalu.

“ Memang kenapa?” Naeun bertanya cuek. Gadis itu langsung naik ke atas tempat tidurnya. Ia bahkan tidak peduli dengan Woohyun dan Chorong yang melihat ke arahnya dengan tatapan khawatir mungkin ? Entahlah Naeun tidak lagi peduli dengan kedua manusia yang membuat moodnya naik turun itu.

“ Kami semua mencarimu, Naeun! Kemana-mana! Bahkan mungkin satu rumah sakit sudah kami jelajahi!”

“ Eomma, aku baik-baik saja, eomma bisa lihat kan? Bahkan aku kembali ke sini tanpa kursi roda.  Berarti aku sudah jauh lebih baik. Lagipula kenapa Woohyunoppa dan Chorong eonni masih di sini?”

Nyonya Son memperhatikan gadis itu, sepertinya memang benar kondisi Naeun sudah jauh lebih baik. Wajah gadis itu memang masih pucat, tapi ia tidak selemah saat baru masuk ke rumah sakit. Diam-diam, nyonya Son menarik nafas lega.

“ Baiklah, kami akan pulang… cepat sembuh Naeun…” Woohyun menarik seulas senyum terbaiknya, senyum yang dulunya berhasil mempesona Naeun, namun kali ini tidak lagi, Naeun merasa lelah mendapatkan harapan dari senyuman yang bahkan sekarang tidak lagi hanya diperuntukkan padanya. Chorong yang sudah mencuri kebahagiaan dalam senyuman itu, bukan Naeun.

Setelah berbincang-bincang sebentar dengan Nyonya Son, Woohyun dan Chorong benar-benar meninggalkan kamar rawat inap Naeun dan membuat gadis itu mendesah lega. Ia merasa kurang nyaman dengan kehadiran Woohyun. Bahkan pria itu tidak tahu bagaimana rasa sakitnya sekarang. Memang bukan salah Woohyun kalau Naeun sampai masuk rumah sakit.

Itu salahnya sendiri… Naeun mengurung diri hampir seminggu setelah berita pertunangan Woohyun dan Chorong mampir ke pendengarannya. Berita yang menyebar cepat ke seluruh kampus, karena selain bertetangga dengan Woohyun, Naeun juga satu kampus dengan pria itu. Bukan tanpa sengaja…

Naeun memang mengejar pria itu bahkan belajar mati-matian agar bisa satu kampus dan satu jurusan dengan Woohyun, ia ingin selalu berada di dekat pria itu. Pria yang berhasil mencuri perhatiannya sejak pertama kali mengenalnya. Walaupun saat itu Naeun masih sangat kecil, ia bahkan tidak tahu apapun soal cinta. Ia baru menyadari perasaan itu ketika ia bertambah dewasa di mana keinginannya untuk memiliki Woohyun tidak lagi terbendung.

Ia mengatakannya langsung pada Woohyun dengan gamblang dan berani, tanpa sesuatu yang special. Ia mengatakannya dengan jujur, namun ia ingat bagaimana waktu itu Woohyun hanya tersenyum padanya dan menggelengkan kepala. Bagaimana pria itu seolah menganggap pengakuaannya tidak lebih dari sekedar ajakan bermain. Woohyun tidak menolak secara langsung memang, tapi sejak itulah Naeun tahu pria itu tidak memiliki perasaan yang sama dengannya.

Flashback

“ Oppa, aku menyukaimu…” Naeun yang saat itu duduk di kelas dua SMA memberanikan diri menyatakan sesuatu yang selama ini hanya disimpannya di dalam hatinya. Sesuatu yang selama ini menganggunya.

          “ Aku tahu, Naeunie… aku juga menyukaimu.” Woohyun membalas gadis itu sambil mengacak-acak rambutnya.

          “ Aku serius, oppa… belasan tahun aku mengenalmu, baru kali ini aku berani mengungkapkannya secara langsung… Aku menyukaimu bukan hanya sebagai perasaan biasa antara adik kepada kakaknya. Tapi aku menyukaimu sebagi wanita… perasaan wanita pada seorang pria… mungkin kau berpikir aku gadis tidak tahu malu yang berani mengungkapkan perasaan duluan pada seorang pria. Tapi rasa cintaku padamu tumbuh semakin besar dari hari ke hari. Aku tidak bisa menyimpannya lebih lama lagi… perasaan ini menyiksaku… kau tahu, oppa, semakin sering aku melihatmu, semakin besar keinginanku untuk memilikimu.”

          Woohyun terdiam… cepat atau lambat gadis itu pasti mengatakannya. Woohyun bukannya pria tanpa perasaan yang tidak peka terhadap apa yang dirasakan teman sepermainannya sejak kecil itu. Ia tahu, Naeun menyimpan perasaan khusus padanya tanpa gadis itu harus mengatakannya secara jujur. Tapi ia terus mengabaikan kenyataan itu sampai sekarang saat di mana Naeun mengungkapkan semuanya.

          “ Kau tahu, Naeun? Terkadang tidak semua hal di dunia ini bisa kau miliki… Tidak semua rencanamu bisa berjalan dengan mulus… tidak semua…”

          “ Apa maksudmu, oppa?” Naeun bisa merasakan kalau Woohyun berusaha menuntunnya perlahan-lahan pada suatu kenyataan. Kenyataan yang sama sekali ingin ia hindari sejak awal ia memiliki perasaan khusus pada Woohyun.

          “ Aku ingin kau mengerti, Naeun… hubungan kita istimewa di mataku, kau sudah kuanggap lebih dari sekedar adik… kau sangat berharga di mataku… tapi aku rasa hubungan istimewa kita tidak bisa lebih dari sekedar ini… kau tahu maksudku, Naeun… aku tidak bisa membalas perasaanmu…”

          Naeun terdiam, ia sudah bisa menduga jawaban ini sebelumnya. Sikap Woohyun memang baik padanya, kelewat baik malah. Tapi kebaikan itu tidak istimewa…

          Tidak istimewa…

          Sama seperti dirinya di mata Woohyun…

          Tidak istimewa…

          Kenyataan yang membuat Naeun membenci dirinya sendiri, kenapa ia harus merusak persahabatannya dengan Woohyun hanya karena perasaannya sendiri?

          Tapi ia hanya manusia biasa, ia tidak bisa menghindari dari cinta yang datang padanya.

          “ Tidak bisakah sedikit saja, oppa? Katakan kau akan berusaha membalasnya? Tidakkah kau mau berusaha?”

          “ Maaf Naeun, kurasa hubungan kita sudah istimewa… aku tidak mau merusaknya hanya dengan membalas perasaanmu…”

          “ Kenapa oppa?”

          Woohyun tidak lagi menjawab, ia malah menggelengkan kepalanya. Tidak ada senyuman di wajahnya.

          Naeun tahu jawabannya…

          Ia tidak memiliki kesempatan…

Flashback end

Naeun masih ingat dengan jelas kejadian itu, kejadian yang sudah lewat beberapa tahun yang lalu. Saat itu Naeun masih memegang teguh egonya, walaupun sudah ditolak Woohyun dengan sangat jelas. Naeun masih sering mengganggu Woohyun, bahkan ketika tahu Woohyun berpacaran dengan Bomi, Naeun tidak menyerah. Ia malah semakin gencar, bahkan membuat Bomi gemas karena gadis itu hampir selalu ikut acara kencannya dengan Woohyun dan berbuat seolah-olah Woohyun adalah kekasihnya dan Bomi pengganggu mereka.

Akhirnya Woohyun dan Bomi putus, bukan karena perbuatan Naeun sepenuhnya memang tapi hal itulah penyebab terbesarnya. Lalu datang Chorong dalam kehidupan Woohyun, sejak awal, Naeun tahu, Woohyun amat tergila-gila dengan Chorong. Gadis itu sempurna, Naeun iri padanya. Bahkan Naeun tahu, bahwa gadis itu bukan hanya akan menjadi penghalang hubungannya dan Woohyun tetapi gadis itu akan merebut Woohyun darinya.

Lalu sejak itulah, Naeun mulai menjauhi Woohyun. Sikap Woohyun tidak pernah berubah padanya, tetapi baik seperti dulu. Tetapi setiap mengingat pria itu bukan dan bahkan tidak akan pernah menjadi miliknya membuat Naeun merasa ia harus menjauh sebelum semakin merasa sakit.

Mengingat semua kejadian itu membuat Naeun merasa tersiksa, ia ingat bagaimana raut wajah Woohyun yang terlihat bahagia bersama Chorong sementara ia sendiri merasa hancur.

Tanpa Naeun sadari, setetes air mata meluncur turun membasahi pipinya.

“ Masuk…”

Naeun sedang berbaring di tempat tidurnya sambil bermalas-malasan, lagipula apa yang bisa dilakukannya di kamar rawat inapnya? Ibunya sedang pergi dan teman-teman kampus yang tadi datang menengoknya sudah pulang semua. Naeun mengira yang datang mungkin hanya dokter atau perawat yang akan mengecek kondisi tubuhnya. Gadis itu tetap memejamkan matanya.

Tapi tunggu…

Kenapa orang yang baru saja datang itu tidak mengucapkan apa-apa padanya?

Naeun membuka matanya dan melihat siapa yang baru saja masuk ke dalam kamar rawat inapnya. Sontak ia tertegun dan langsung merubah posisi tidurnya menjadi posisi duduk.

“ Annyeong, Naeun… maaf mengganggu istirahatmu…”

“ Kim Ahjumma! Hahaha… tidak, kau sama sekali tidak menganggu, bagaimana kondisi Myungsoo?”

“ Ia sudah jauh lebih baik… maaf aku menanyakan kamar rawat inapmu secara paksa kepada perawat, aku rasa aku butuh bantuanmu, Naeun… maaf kalau aku mengganggu…”

“ Ah tidak, ahjumma… lagipula aku sudah merasa lebih sehat kok… hehehe, kata dokter dua atau tiga hari lagi mungkin aku sudah boleh pulang.” Naeun tersenyum, entah kenapa walaupun baru bertemu sekali dengan Nyonya Kim, ia merasa bisa cepat mengakrabkan diri dengan wanita paruh baya itu.

“ Ohh syukurlah…”

“ Ada apa, ahjumma?”

“ Myungsoo… dia…”

“ Apa lagi yang dilakukannya?”

Walaupun baru bertemu satu kali dengan pria itu, entah mengapa Naeun bisa menebak kalau Myungsoo bukan tipe pria baik-baik, bahkan mungkin tipe pria brandal. Bisa dilihat kemarin, sudah jelas pria itu sedang sakit, malah merokok dengan seenak jidat (?)

“ Dia hilang…”

“ MWO?!” Naeun membulatkan matanya. Pria itu gila, dia kan baru saja melewati masa kritisnya kemarin, masa sekarang sudah hilang. Tsk…

“ Ne, Naeun maaf, ahjumma ingin minta tolong untuk membantu mencari Myungsoo, karena sepertinya hanya kau yang bisa membuatnya menurut.”

“ Hah? Aku?” Naeun kebingungan, sepertinya kemarin, Myungsoo saja tidak menurut saat ia memberikan ceramah panjang lebar (?) tentang merokok yang membuat kesehatan pria itu semakin buruk. Bagaimana bisa sekarang Nyonya Kim memintanya untuk mencari Myungsoo dan membujuk pria itu? Yang ada nanti merak berdua melanjutkan debat sesi dua -___-

“ Ne, Naeun… kau mau kan? Maaf ahjumma memaksa, tapi kali ini saja…”

“ Ahh, y… yeahjumma, aku akan membantu untuk mencari Myungsoo.”

Naeun tidak tega untuk menolak, lagipula ia juga masih penasaran dengan pria itu. Pria yang tanpa sadar membuatnya melupakan kesedihannya untuk sejenak.

***

“ Hih! Kemana sih dia? Jangan-jangan dia itu jin… menghilang tiba-tiba.” Naeun merasa kesal karena sudah hampir setengah jam ia memutari taman rumah sakit tempat di mana ia dan Myungsoo bertemu kemarin, tapi ia tidak juga menemukan sosok pria itu.

“ Naeun!”

Naeun berhenti, enggan berbalik, karena ia tahu siapa yang barusan memanggil namanya. Kenapa tiba-tiba pria itu ada di sini?

“ Naeun…”

Pria itu menyentuh bahu Naeun dan membalikkan badan gadis itu agar menghadap ke arahnya.

“ Ada apa? Kenapa oppa ke sini lagi? Mau pacaran dengan Chorong eonni lagi? Aku tidak mau jadi obat nyamuk kalian…” Naeun berkata dengan nada seketus mungkin agar Woohyun tahu kalau ia amat sangat tidak menyukai kehadiran pria itu di sini. Walaupun sebagian hatinya merasa senang karena Woohyun perhatian padanya.

Woohyun tersenyum sedih, Naeun benar-benar telah berubah menjadi sangat dingin padanya. Woohyun harusnya tahu seberapa besar cinta gadis itu padanya, tetapi tetap saja ia tidak bisa merubah keadaan.

“ Naeun… aku datang untuk menjengukmu, aku sendirian, tidak bersama Chorong…”

Dalam hati, Naeun bersorak karena pria itu datang sendirian. Ia sedang malas untuk bertemu dengan Chorong, melihat wajah gadis itu saja sudah membuat Naeun merasa kesal.

“ Oh, lalu? Kau kan sudah lihat aku sehat, oppa! Pulang sana…”

Naeun berbalik, bersiap mencari Myungsoo lagi saat tangannya ditahan oleh Woohyun.

“ Naeun… tidak bisakah kau kembali seperti semula? Aku merindukan Naeun-kuyang seperti dulu. Naeun yang manis dan bukan yang pemarah dan dingin seperti ini.”

“ Apa? Huh… aku tetap Naeun yang sama… hanya saja aku sedang sibuk, jadi tidak bisa banyak bermain dengan oppa seperti dulu. Kita sudah sama-sama dewasa, bahkan kau sudah tunangan sekarang.” Naeun berusaha mengantur nafasnya yang tersenggal-senggal akibat mengatakan hal itu sambil menahan air mata yang tiba-tiba sudah menggenang di pelupuk matanya.

“ Naeun, oppa mohon, jangan seperti ini…”

“ Seperti apa? Seperti apa yang kau maksud, Woohyun-ssi? Aku sudah berusaha menjauhimu! Harusnya kau senang! Kenapa kau malah terus mendekatiku seperti ini seolah memberikan harapan padaku!”

Naeun tertegun dengan kata-kata yang baru saja diucapkannya. Apa itu artinya ia sedang mengatakan secara tidak langsung bahwa ia masih berharap pada Woohyun?

“ Na… Naeun, ada hal yang harus oppa jelaskan padamu… Oppa tidak bermaksud…” Woohyun meraih pergelangan tangan Naeun.

“ Lepas! Lepaskan aku!” Naeun meronta-ronta, namun semakin ia berusaha melepaskan genggaman Woohyun dari tangannya, semakin keras Woohyun mempertahankan tangan Naeun tetap berada dalam genggamannya.

“ Tidak, Naeun! Kau harus dengar!”

“ Lepaskan dia kalau memang dia tidak mau! Kalau kau memaksanya dia akan semakin meronta-ronta…”

Naeun menoleh ke belakang. Akhirnya ia menemukan Myungsoo, namun dalam keadaan yang sama sekali tidak diinginkannya. Pria itu akhirnya tahu bahwa Naeun memang berada dalam masalah. Masalah yang sudah ditebak oleh Myungsoo pada pertemuan awal mereka.

“ Siapa kau?” Woohyun melepaskan genggaman Naeun. Naeun segera berhambur ea rah Myungsoo dan malah memeluk pria itu.

“ Kau kemana saja?! Aku mencari-carimu kemana-mana!”

“ Aku di sini…” Myungsoo berusaha melepas pelukan Naeun namun Naeun malah semakin mengetatkan pelukannya pada pria itu.

“ Naeun, mungkin kita bisa bicara lain waktu.” Woohyun tersenyum dan meninggalkan Myungsoo dan Naeun, entah mengapa, hatinya panas melihat mereka berdua. Siapa pria itu?

“ Yaa! Lepas! Dia sudah pergi tuh!”

Naeun menggeleng, ia butuh seseorang untuk menjadi ‘A Shoulder to Cry On’ baginya. Myungsoo datang pada saat yang tepat.

“ Bi… bisakah aku memelukmu sebentar lagi? Kumohon…” Naeun membenamkan wajahnya di dada Myungsoo.

Myungsoo menatap gadis yang kini sedang memeluknya. Gadis itu menangis, lalu tanpa sadar Myungsoo mengayunkan kedua tangannya untuk membalas pelukan gadis itu.

“Menangislah sepuasmu…”

***

“ Classic tragic love story, huh?”

Naeun menunduk, tidak berani menatap langsung ea rah Myungsoo. Gadis itu sudah berhenti menangis,sekarang ia duduk bersebelahan dengan Myungsoo dan sejak hampir lima belas menit mereka duduk diam, Myungsoo memulai sesi tanya jawabnya (?) dan membuat Naeun menahan malu karena bisa-bisanya gadis itu menangis di pelukan laki-laki yang belum dikenalnya dengan baik.

“ Tidak… dia bukan siapa-siapaku…”

Naeun enggan menceritakan tentang Woohyun, karena selain itu akan merusak moodnya, ia merasa Myungsoo tidak perlu tahu.

“ Lalu kenapa kau menangis?”

“ Aku hanya terbawa perasaan saja…”

“ Yasudah kalau kau tidak mau cerita… tapi kurasa ia serius ingin meminta maaf padamu…”

“ Apa?! Jangan-jangan kau menguping selama aku bersama Woohyun oppa! Hihh! Tak kusangka kau selain hobi kabur (?) hobi menguping juga…”

“ Aku hanya tidak sengaja dengar… lagipula kalian kan sampai berteriak-teriak seperti itu, siapa yang tidak dengar omongan kalian, Tsk…”

“ Ahhh iya juga…” Naeun kembali menundukkan wajahnya, malu, Myungsoo yang notabene bukan siapa-siapanya, akhirnya tahu tentang masalah pribadinya. Bahkan masalah yang beberapa waktu belakangan menjadi masalah utamanya.

“ Dunia sudah gila…”

“ Hah?” Naeun merasa aneh karena Myungsoo tiba-tiba berkomentar hal yang sama sekali tidak nyambung dengan apa yang sedang mereka bahas.

“ Ne, kau jatuh cinta pada kakakmu sendiri kan? Tsk… kau adik macam apa? Apa kau tidak tahu kalau pernikahan sedarah dilarang?”

“ Hah? Ih! Siapa juga yang jatuh cinta pada kakak sendiri… asal kau perlu tahu, tuan Kim Myungsoo, aku dan Woohyun oppa sama sekali tidak ada hubungan darah setetespun (?) aku dan dia hanya bertetangga dan berteman sejak kecil. Itu saja…”

“ Ohh, jadi kau jatuh cinta padanya karena ia telah terbiasa bersama denganmu dalam waktu yang lama? Hahahaha… klasik…”

“ Kau sudah mengatakannya di awal, Myungsoo… tidak usah diulang…”

“ Ne, aku hanya ingin mengatakan padamu. Kalau memang ia ditakdirkan untukmu ia akan kembali, tapi kalau tidak… ya jangan terus-menerus memaksakan diri berada di dekatnya, sama saja kau menyakiti dirimu sendiri…”

Naeun hanya tersenyum mendengar penuturan Myungsoo, dalam hati ia menyetujui kata-kata Myungsoo tapi untuk menuruti perkataan pria itu, sepertinya ia belum bisa melakukan hal itu.

“ Terima kasih atas sarannya… Oh iya! Aku kan disuruh Kim ahjummamenyeretmu kembali ke kamar! Ayo kembali.” Naeun bangkit dari posisi duduknya dan berjalan mendahului Myungsoo. Baru tiga langkah berjalan, Naeun sadar Myungsoo tidak berjalan mengikutinya.

Naeun berbalik dan melihat pria itu malah asyik menyalakan sebatang rokok dan mengepulkan asapnya ke udara. Emosi Naeun memuncak melihat kelakuan pria itu.

“ Heh! Kau tidak ingat! Kemarin kalau saja tidak ada aku! Kau mungkin sudah mati… kenapa sih kau suka sekali menyalakan benda itu?” Naeun berkacak pinggang dan berdiri di depan Myungsoo sambil memasang tampang tidak sukanya.

“ Harusnya kemarin kau tidak usah menolongku, aku memang ingin cepat mati.”

“ Heh! Bicara apa sih kau ini? Kalau saja perkataanmu dicatat malaikat… mungkin kau akan mendapatkan penyakit yang sangat berat ea rah akan menyesal.”

Myungsoo hanya tertawa mengejek ea rah Naeun sementara ia tetap menghisap dan mengepulkan asap rokok dengan santainya.

“ Kajja! Matikan benda itu dan kita kembali!”

“ Kalau aku tidak mau bagaimana?” Myungsoo ngotot, ia tetap tidak bergerak seinci pun dari tempatnya duduk.

“ Aku akan memaksamu.”

Dengan nekat, Naeun merebut paksa rokok dari tangan Myungsoo dan membuangnya ke sembarang arah.

“ Yaa! Apa yang kau lakukan?”

“ Aku hanya ingin memaksamu untuk kembali! Ibumu sangat mengkhawatirkan keadaanmu, kenapa kau bersikap cuek sih di saat yang lain memperhatikanmu?”

“ Kau tidak tahu apapun tentangku, Son Naeun…” Myungsoo berjalan menjauhi Naeun, lama-lama ia gerah diceramahi terus oleh gadis yang bahkan baru dikenalnya.

Sekarang, Naeun yang terdiam sambil memandangi punggung Myungsoo yang terus menjauh. Ia merasa ada yang tidak beres antara hubungan pria itu dan ibunya sendiri.

“ Kenapa aku jadi ingin tahu urusannya?” Naeun bergerak menyusul pria itu.

“ Yaa! Tunggu!!”

***

A Few Days later

“ Naeun kau yakin mau pulang sendiri? Kau kan baru sembuh…”

“ Tidak apa-apa, eomma… aku mau pergi ke suatu tempat dulu sebelum pulang.”

Naeun tersenyum cerah, ia bahagia karena hari ini ia sudah boleh pulang. Namun masih ada yang mengganjal di hatinya. Tentu saja ada hubungannya dengan Myungsoo, sejak kejadian beberapa hari lalu, Naeun belum bertemu lagi dengan Myungsoo, selain karena ia yakin Myungsoo pasti masih marah padanya. Ia juga malas berdebat lagi dengan pria itu, jadi selama beberapa hari ini, ia tidak berusaha menemui Myungsoo. Walaupun ia sangat penasaran dengan keadaan pria itu.

“ Kemana?”

“ Menemui teman baru…”

“ Siapa?”

“ Nanti aku kenalkan pada eomma… sudah dulu ya, eomma duluan saja sana… nanti aku akan minta tolong Kwon ahjussi menjemputku lagi di sini.”

“ Tsk, menyusahkan saja… Kwon ahjussi kan jadi harus bolak-balik.” Nyonya Son menggelengkan kepala sambil membereskan beberapa barang Naeun yang akan dibawanya pulang.

Naeun melangkah ringan menuju kamar rawat inap Myungsoo, walaupun ia sedang marahan dengan pria itu, tetap saja tidak sopan jika ia pulang tanpa berpamitan. Setidaknya mungkin setelah ini, ia tidak bisa sering-sering mengunjungi Myungsoo karena  mulai besok ia akan kembali kuliah.

Naeun menyadari apa yang baru dipikirkannya, kenapa ia harus sering mengunjungi Myungsoo? Bukankah Myungsoo hanya sekedar teman sementara? Tapi entah mengapa walaupun pria itu menyebalkan Naeun merasa ada sesuatu yang menarik tentang pria itu. Pria yang cuek dan nekat.

“ Kim Ahjumma, kenapa kau di luar dan kenapa kau menangis?”

“ Ahh Naeun! Eoh… kau sudah boleh pulang?”

Nyonya Kim mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Wanita itu tersenyum ea rah Naeun, menyembunyikan tangisnya.

“ Neahjumma, aku datang ke sini untuk berpamitan…”

Naeun tersenyum, walaupun dalam hati ia merasa miris, melihat Nyonya Kim menangis membuatnya ikut merasa bersedih.

“ Syukurlah kalau kau boleh pulang…”

“ Kenapa ahjumma menangis dan berada di luar? Apa Myungsoo yang membuatahjumma seperti ini? Tskk… dasar pria itu… aku akan memberinya pelajaran.”

Naeun baru saja akan melangkah masuk saat tangannya ditahan oleh nyonya Kim. Naeun mengerutkan dahinya bingung.

“ Kita tidak boleh masuk, Naeun… Myungsoo… Myungsoo sedang kemoterapi…”

“ A… apa? Ke… Kemoterapi?”

***

“ Kanker paru-paru stadium akhir…”

Naeun terdiam di tempat duduknya, segelas matcha dengan setia menemaninya. Sementara orang yang duduk tepat dihadapannya baru saja menyelesaikan satu kalimat yang sukses membuat Naeun bungkam. Entah bagaimana ia harus menanggapinya. Perasaan aneh segera menyelimutinya, ia tahu harusnya ia memberikan kata-kata penuh simpati, atau semacamnya. Tapi yang bisa dilakukan gadis itu hanya diam, memandang gelas berisi matcha yang masih mengepulkan asap.

“ Kasihan Myungsoo… kami yang bersalah…”

Naeun mengalihkan tatapannya pada Nyonya Kim yang duduk persis di depannya. Saat ini mereka berada di kantin rumah sakit, mencari tempat yang sekiranya nyaman digunakan untuk melanjutkan pembicaraan mereka dibanding hanya duduk di koridor rumah sakit yang menawarkan hawa dingin yang aneh padahal saat ini baru memasuki pertengahan musim panas.

“ Maaf?”

“ Ah, ye, Naeun, mungkin tidak sepantasnya ahjumma bercerita seperti ini padamu, apalagi kau baru mengenal Myungsoo… hahaha… tapi sepertinya kau gadis yang baik dan sepertinya Myungsoo menyukaimu.”

“ A… apa?”

“ Sudah lama sekali sejak terakhir kali Myungsoo bisa mengakrabkan diri dengan seorang gadis…”

“ Benarkah? Memang kenapa, ahjumma…”

“ Gadis itu…”

Perkataan Nyonya Kim terpotong, wanita itu seperti menyadari sesuatu.

“ Maaf, Naeun, ahjumma sepertinya terlalu banyak bercerita…”

“ Gwenchanaahjumma…” Naeun tersenyum, walaupun dalam hati ia merasa sedikit kecewa karena ia sudah terlanjur penasaran. Ada sesuatu yang menggelitiknya dari dalam, ia seperti ingin tahu lebih banyak tentang Myungsoo. Mungkinkah ia sudah mulai sedikit tertarik dengan pria itu?

” Naeun, mungkin untuk sebuah awal ahjumma meminta terlalu banyak, tapi, bisakah kau menjadi teman yang baik untuk Myungsoo? Ia sangat kesepian setelah ia masuk rumah sakit, ia menjadi penyendiri, ia menghindari semua temannya, sampai akhirnya teman-temannya benar-benar menjauh darinya. Ia benar-benar sendirian sekarang.”

“ ….”

“ Setidaknya hanya sampai ia masih bisa bertahan hidup…”

Naeun kembali terdiam, lalu sejurus kemudian ia melemparkan senyumannya dan mengangguk. Perasaan sedih menyelimuti hatinya, tanpa bisa dicegah.

***

“ YAA! Naeun! Akhirnya kau kembali ke kampus…”

Naeun tersenyum sambil melambai ke arah Eunji, Namjoo, dan Hayoung yang sedang berjalan ke arahnya.

“ Aku senang akhirnya kau sembuh… tidak asyik kalau tidak ada kau…” Eunji merangkul Naeun dan membawa gadis itu ke kelas diikuti Namjoo dan Hayoung di belakang mereka. Sementara Naeun hanya tersenyum setiap kali menanggapi perkataan Eunji yang dengan heboh menceritakan setiap detail yang terjadi di kampus selama ia tidak ada.

“ Ya, jadi seperti itulah… Hoya, masih saja suka tebar pesona mentang-mentang ia baru menjuarai kompetisi dance antar kampus kemarin… kursa sekali-sekali boleh juga aku memberinya pe… Yaaa! Naeun! Kenapa kau malah melamun?!” Eunji menepuk-nepuk pipi Naeun dengan heboh karena merasa gadis itu sama sekali tidak mendengar ceritanya.

“ Nene… ada apa?” Naeun merasa kesal karena lamunannya terganggu oleh suara cempreng (?) Eunji sementara Hayoung dan Namjoo cekikikkan melihat ekspresi bodohnya.

“ Kau sedang memikirkan apa sih? OH! Aku tahu kau pasti masih memikirkan Woohyun oppa kan? Aish…. Kau ini kenapa? Woohyun oppa sudah memiliki tunangan, masa kau masih mau dengan tungan orang seperti gadis tidak laku saja…”

“ Yaa! Enak saja, aku tidak memikirkan Woohyun oppa lagi, aku sudah kapok, kau kan tahu kalau kemarin saja aku sakit karena terlalu banyak memikirkannya, daripada aku overdosis (?) dan masuk rumah sakit lagi mendingan aku tidak usah memikirkannya lagi.”

“ Baguslah kalau begitu lebih baik kau terima saja cinta Sungyeol, ia kan sudah seribu kali (?) menyatakan cintanya padamu. Kasihan dia…” Namjoo menanggapi ucapan Naeun.

“ HAH?! Tidak akan… aku tidak suka padanya.”

“ Lalu daritadi kau melamunkan siapa?”

Bukannya menjawab pertanyaan Hayoung, Naeun malah kembali melamun. Ini adalah pertama kali dalam hidupnya ia memikirkan seseorang yang bukan Woohyun, selama ini pikirannya terlalu sempit. Hanya Woohyun… Woohyun dan Woohyun, tetapi sekarang Myungsoolah yang mengambil alih semua tempat di pikirannya.

Tadinya ia mengira kemarin adalah pertemuan terakhirnya dengan pria itu, pria yang menyebalkan dan nekat, pria yang berhasil membuatnya kesal namun juga pria yang berhasil membuatnya tenang. Ia sudah memikirkan scenario untuk meledek Myungsoo karena ia bisa pulang lebih dulu dari pria itu. Tapi nyatanya, ia sama sekali tidak bertemu dengan Myungsoo, kenyataan tentang pria itulah yang membuatnya merasa sedih. Ada satu perasaan janggal yang tidak bisa dikatakannya, ia merasa aneh ketika mengetahui hidup pria itu mungkin tidak akan lama lagi.

“ Tuh kan bengong lagi! Lama-lama kesambet nih anak…” Eunji mencubit pipi Naeun dengan kesal.

“ AWWW! Appoyo… kau gila…”

Naeun mengusap-usap pipinya yang dicubit dengan ganas oleh Eunji sementara sang tersangka hanya cuek sambil meneliti (?) handphonenya.

“ Habis kau melamun terus daritadi…”

“ Aku sedang memikirkan seseorang…”

“ MWO?? Siapa? Cieee… akhirnya kau move on juga dari Woohyun… Chukae…” Namjoo memberikan selamat sambil cipika cipiki (?) dengan Naeun sementara Hayoung ikut-ikutan memeluk Naeun.

“ Biasa aja kali -___-“

“ Siapa pria itu?”

“ Aku baru mengenalnya di rumah sakit… ia salah satu pasien di sana. Namanya Kim Myungsoo, ia menyebalkan, awalnya aku sangat kesal dengannya, tapi setelah pertemuan kedua, semuanya berubah, ia mampu menenangkanku, kurasa ia bisa menjadi teman yang baik untukku.” Naeun tersenyum sambil mengenang pertemuan-pertemuannya dengan Myungsoo yang memang hanya berlangsung dua kali. Tapi memberikan kesan yang lumayan dalam pada Naeun.

“ Cieeeeee…. Love ini hospital… sama-sama sakit pula, kalian romantic tragis yee…” Hayoung memberikan komentar, sementara Namjoo dan Eunji menganggukan kepalanya setuju.

“ Yaa! Tidak begitu… aku juga baru mengenalnya, huft… lagipula aku tidak tahu bagaimana perasanku padanya, yang bisa aku lakukan sekarang hanya menikmati waktu-waktuku yang tersisa bersamanya…” Pandangan Naeun menerawang pada papan tulis putih, entah mengapa di sana malah tergambar wajah Myungsoo dengan senyuman mengejeknya yang Naeun benci, tapi kali ini Naeun tersenyum membayangkannya.

“ Hahahahahahaha… seperti kau akan mati saja, bicara seperti itu.” Eunji mengambil gelas berisi bubble milk tea-nya.

Naeun tersenyum pedih, ia menatap teman-temannya satu per satu.

“ Bukan aku yang akan mati… tapi dia…”

BYUR!

Eunji memuntahkan isi mulutnya ke wajah dan rambut Naeun, sehingga sekarang wajah Naeun dipenuhi bubble. Gadis itu segera berteriak kesal, kemudian Eunji, Namjoo, serta Hayoung membantu Naeun membersihkan sisa-sisa minuman itu di wajah dan rambutnya menggunakan Tissue basah.

“ Yaa! Lain kali hati-hati, aku baru saja keramas pagi ini tahu…” Naeun membersihkan rambutnya dengan kesal.

“ Ne, maaf, habisnya kau bercanda segala karena mengatakan dia akan mati… memangnya kau pikir ini apa? Drama, huh? Kalau benar… kisah cinta kalian tragis sekali…”

“ Memang benar… dia… dia… dia terkenak kanker stadium akhir.” Naeun meremas tissue di tangannya dengan gelisah, kenyataan itu seolah menghempaskannya pada dilemma.

“ MWO?!”

“ Kau tidak bercanda kan?”

“ Ne, ak….”

“ Pagi…”

Kata-kata Naeun terputus saat tiba-tiba Lee Seongsaenim masuk ke dalam kelas.

“ Pagi, seongsaenim…”

“ Kita lanjutkan nanti…” Naeun membuka tasnya dan mengeluarkan bukunya dari sana. Tapi sepanjang pelajaran hari itu, pikiran Naeun tidak bisa jauh dari Kim Myungsoo.

***

“ Katanya kau sudah pulang… kenapa kau masih ada di sini?” Myungsoo menatap Naeun dengan sinis, lalu pria itu memalingkan wajahnya dari Naeun.

“ Memangnya aku tidak boleh menjengukmu? Kim ahjumma sedang berada di kantor kan? Kau pasti kesepian karena tidak ada yang menemanimu, untuk itulah aku di sini.” Naeun tersenyum sambil membuka plastic buah yang dibawanya.

“ Jadi wanita itu yang menghubungimu? Huh… kau pasti sudah tahu semuanya… Aku tidak butuh rasa kasihanmu, Son Naeun… pulang sana…”

Naeun menghentikan kegiatannya yang baru saja ingin mengupas buah-buahan yang dibawanya. Ia menatap Myungsoo dengan tatapan malas, kenapa pria ini malah jadi seribu kali lebih menyebalkan ketika sedang berbaring tanpa daya seperti itu dibandingkan jika mereka sedang berada di taman rumah sakit dan dengan sombongnya Myungsoo masih bisa merokok walaupun pria itu tahu rokok akan membunuhnya.

“ Wanita itu ibu kandungmu, Kim Myungsoo. Pertama aku memang dihubungi Kim ahjumma, tapi aku tidak datang karena paksaannya… ia sama sekali tidak memaksa lagipula aku sudah pulang kuliah… kedua, aku tidak kasihan padamu Kim Myungsoo, kalau kau matipun aku tidak peduli… Aku hanya datang sebagai teman yang baik.” Naeun mengatakan itu semua dengan tatapan kesal, walaupun serasa ada yang mencubit hatinya ketika mengatakan semua itu pada Myungsoo.

“ Baguslah kalau begitu… dan lagi ibu macam apa yang meninggalkan anaknya?” Myugsoo menatap Naeun sambil menyeringai. Senyuman khasnya yang dibenci sekaligus dirindukan oleh Naeun.

“ Ia hanya meninggalkanmu pergi bekerja… hih… kenapa kau seperti anak kecil yang tidak mau ditinggal dengan ibunya? Hahahaha…” Naeun melanjutkan kegiatannya mengupas apel.

“ Kau tidak mengerti, nona Son… sudah pulang sana… kau lihat aku … ehek… baik-baik, saja kan?” Myungsoo mengatakan hal itu dengan sedikit terbata, pria itu segera mengambil selang oksigen yang berada tidak jauh dari ranjangnya. Pria itu benci ketika kondisinya yang sudah semakin parah dari hari ke hari malah disaksikan oleh seorang gadis yang baru dikenalnya. Itu akan menambah rasa kasihan pada Naeun, Myungsoo benci dikasihani.

“ Myungsoo, kau baik-baik saja? Hahahaha… makanya jangan bawel… tidur saja sana!” Naeun mengatakan hal itu seolah dia baik-baik saja, padahal hatinya miris melihat kondisi Myungsoo.

“ Kau … hh… pulang…”

“ Jadi kau mengusirku?!” Naeun sewot karena sejak awal datang, Myungsoo malah memberikannya tatapan tidak bersahabat dan sekarang pria itu mengusirnya secara langsung, Naeun benci keadaan itu.

“ Aku sudah berbaik hati datang ke sini sebagai teman tapi kau malah mengusirku, kau benar-benar baik, Kim Myungsoo…” Naeun ngambek dan memilih duduk di sofa yang ada di ruangan rawat Myungsoo sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ia tidak peduli pada pria yang sekarang sedang memejamkan matanya, seperti menahan sakit.

“ Baiklah, gadis cerewet, aku mengizinkanmu untuk sering-sering menengokku dan menjadi temanku dengan satu syarat.”

Naeun masih dengan posisi semula, tetapi telinganya tetap awas mendengar setiap perkataan yang akan keluar dari bibir Kim Myungsoo, diam-diam ia merasa lega karena sepertinya pria itu sudah lebih baik, ditilik dari cara berbicaranya yang sudah kembali normal.

“ Apa?”

“ Jangan… jatuh cinta padaku…”

***

Naeun memandangi langit-langit kamarnya yang dipenuhi bintang glow in the dark. Ia sama sekali tidak dapat memejamkan matanya setelah bertemu dengan Myungsoo tadi. Ia tidak habis pikir dengan permintaan aneh pria itu. Naeun hanya akan berteman dengannya, bukan berniat mendekatinya atau semacamnya.

“ Dia hanya salah paham…” Naeun tertawa geli, walapun hatinya tiba-tiba gelisah.  Ia membolak balikkan dirinya di atas tempat tidurnya, namun setelah sekian lama ia masih tidak bisa memejamkan matanya. Ia masih memikirkan pria itu, yang akhir-akhir ini malah menjadi nomor satu dalam urutan hal-hal yang harus dipikirkannya. Mungkin karena permintaan Kim ahjumma yang sederhana tapi memiliki beban tersendiri bagi seorang Son Naeun.

Naeun melirik jam dinding di kamarnya. Pukul Sembilan malam…

Terlalu dini untuk larut dalam alam mimpi, Naeun memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Dengan mengendap-endap tentu saja, ia tidak ingin jadi sasaran amukan dari ibunya karena harusnya ia memperbanyak waktu istirahatnya mengingat ia baru keluar dari rumah sakit kemarin.

Naeun melangkah pelan menuju taman rumahnya, lebih tepatnya ke arah ayunan yang dibuat oleh ayahnya ketika ia masih keci. Naeun duduk di sana, memandangi jalanan yang mulai sepi, ia lalu mengalihkan perhatiannya pada tempat lain. Samar-samar ia bisa mendengar suara orang yang sedang… bertengkar?

Dengan langkah hati-hati, Naeun melangkah menuju tembok pembatas rumahnya dan rumah Woohyun, ia yakin mendengar suara rebut-ribut dari sana. Naeun melongokkan kepalanya dan melihat sepertinya ada perdebatan antara Woohyun dan Chorong. Naeun bukannya bermaksud tidak sopan, rasa penasarannya mengalahkan segalanya.

“ Hih… mereka berdua baru seminggu yang lalu bertunangan sekarang sudah bertengar… terlalu buru-buru sih…”

Naeun tersenyum geli melihat pasangan itu yang entah sedang meributkan hal apa, Naeun tidak bisa mendengarnya karena walaupun mereka bertengkar di depan rumah Woohyun, mereka sengaja mengecilkan volume suara, mungkin agar tidak membangunkan tetangga-tetangga yang lain. Harusnya Naeun merasa senang karena inilah yang selalu ia doakan setiap malam -___- pertengkaran antara Woohyun dan Chorong yang selama ini selalu adem ayem (?). Tapi sejak beberapa hari yang lalu, Woohyun tidak lagi menjadi begitu penting bagi Naeun, mungkin karena kehadiran Myungsoo? Naeun juga tidak mengerti.

Naeun terus memperhatikan mereka sampai Chorong pergi meninggalkan Woohyun, kelihatan sekali wajah gadis itu kusut luar biasa, sepertinya masalah yang terjadi di antara mereka cukup berat, Naeun juga tidak mengerti, ia hanya penonton di sini dan ia tidak berhak mencampuri urusan mereka berdua.

Naeun baru saja akan melangkah menjauhi tembok pembatas saat matanya bertabrakkan dengan mata Woohyun, pria itu kelihatan sedikit terkejut namun berusaha menetralkan pandangannya dan merubahnya menjadi senyuman singkat sementara Naeun berusaha menjauh tanpa membalas senyuman Woohyun.

“ NAEUN! Maukah kau menemaniku sebentar?”

***

“ Apa yang ingin kau bicarakan, oppa? Aku mau tidur…” Naeun memutar bola matanya dengan malas. Saat ini mereka berada di taman depan rumah Woohyun. Naeun sebenarnya sudah menolak mati-matian saat diseret Woohyun menuju taman rumahnya tapi akhirnya Naeun menurut karena sedikit tidak tega dengan ekspresi Woohyun yang lumayan kacau.

“ Aku yakin kau tidak bisa tidur, kalau kau ingin tidur kau tidak perlu repot-repot mengintipku tadi…”

“ YAA! Aku tidak mengintip, aku hanya kebetulan lewat.”

Woohyun tersenyum, tentu saja ia tidak percaya dengan perkataan Naeun begitu saja. Ia mengacak rambut Naeun dengan gemas, namun kali ini Naeun menepis tangannya, kasar.

“ Kau pasti melihat tadi aku dan Chorong…yah, ini pertengkaran besar kami yang pertama…”

“ HAHAHAHAHA… Seperti kau dan dia sudah menikah saja, apa itu pertengkaran besar pertama?” Naeun tersenyum sinis.

“ Justru karena kami belum menikah, ini saatnya kami saling mengenal satu sama lain. Naeun maaf soal tempo hari…”

“ Gwenchana , aku sudah tidak memikirkannya lagi… lupakan saja, oppa…”

Woohyun sedikit bersyukur karena Naeun tidak sedingin dulu, walapun ia tidak sehangat Naeun yang biasanya. Naeun, gadis kecil yang selalu dilindunginya sejak kecil, gadis yang sekarang beranjak dewasa dan jatuh cinta padanya. Woohyun tersenyum miris, sebagian hatinya bergetar, entah untuk perasaan yang bagaimana.

“ Maafkan oppa, Naeun… Aku tidak menyadari perasanmu sejak awal, kalau aku menyadarinya, aku tidak akan memberimu terlalu banyak harapan.”

“ Sudahlah, oppa, sudah terlalu malam, aku permisi…” tanpa mengatakan apa-apa lagi, Naeun melangkah keluar dari rumah Woohyun. Perasaanya campur aduk, mengapa Woohyun tidak juga mengerti ia sama sekali tidak ingin membahas tentang perasaannya yang terlampau dalam kepada pria itu namun pria itu sama sekali tidak membalasnya?

Naeun melangkah masuk ke rumahnya dengan pandangan sedikit mengabur, ia sama sekali tidak menyangka kalau hanya dengan sedikit sentilan kecil dari pria itu, ia kembali menjadi lemah setelah sekian lama berusaha kelihatan tegar.

“ Naeun kau darimana? Bukannya eomma bilang kau harus tidur? NAEUN!YAA! NAEUN!”

Naeun tidak memperdulikan teriakan ibunya, gadis itu melemparkan dirinya ke atas tempat tidur, kembali memikirkan perasaannya yang kembali terusik. Woohyun adalah pria terpenting nomor dua dalam hidupnya setelah sang ayah. Namun pria itu sudah mengecewakannya, Naeun tahu ia harusnya bisa menerima kalau Woohyun tidak diciptakan untuknya. Tapi entah mengapa perasannya semakin sesak setiap mengingat pria itu bukan miliknya.

***

“ Yaa, Naeun! Kau kenapa?…” Myungsoo memandang wajah Naeun yang kusut dengan tatapan sinis sekaligus prihatin. Sudah empat hari sejak terakhir kali Naeun datang mengunjunginya, hampir saja Myungsoo ke-GR-an dengan mengira Naeun patah hati dengan syarat yang diberikannya waktu itu, makanya Naeun memutuskan untuk tidak mengunjunginya lagi. Tapi Myungsoo salah, gadis itu kembali datang, dan harus ia akui ia senang melihat gadis itu walaupun Naeun datang dengan tampang sekusut-kusutnya.

“ Myungsoo, kenapa kau di sini?! Memangnya kau sudah boleh jalan-jalan di luar?” Naeun tidak menyadari kehadiran Myungsoo, gadis itu berjalan dengan menundukkan wajahnya sehingga tidak tahu kalau Myungsoo ada di taman yang dilewatinya.

“ Boleh… sudah sini! Kau mau menjengukku kan?” Myungsoo menepuk-nepuk kursi kosong yang berada di sebelahnya. Naeun menurut ia melangkah menuju kursi itu, duduk dan terdiam di sana.

“ Bagaimana kabarmu? Sepertinya kau sudah sehat… syukurlah…” Naeun tersenyum dengan canggung, tadinya ia ingin menjenguk sekaligus curhat (?) dengan Myungsoo tapi nyatanya ia hanya bisa duduk diam dan membentuk atmosfer canggung dengan pria itu.

“ Huh… kau bisa lihat sendiri kan… Kau kenapa?”

“ Aku baik-baik saja…” Naeun menyembunyikan wajahnya murungnya di balik senyuman kepedihan yang coba dilemparkannya pada Myungsoo.

“ Wajahmu sedih begitu, apanya yang baik-baik saja…” Myungsoo tertawa, mentertawakan Naeun yang sekarang terlihat begitu menyedihkan.

“ Aku ingin berkonsultasi tentang beberapa hal padamu…”

“ Hah? Konsultasi ? Memangnya kau kira aku apa?”

“ Maukah Kim Myungsoo sekali ini saja kau menjadi dokter cinta dan membantu menyelesaikan masalahku?” Naeun meminta dengan wajah memelas yang membuat Myungsoo tidak tega sekaligus bingung.

“ -____-“

“ Kenapa wajahmu berubah begitu?”

“ Aku hanya heran padamu, bukankah yang kukatakan tempo hari sudah jelas, jadi di mana lagi masalahnya?”

“ Aku… entahlah… aku masih belum bisa bertemu dengannya, emosiku masih belum stabil, saat bertemu dengannya, yang terbayang di wajahku adalah kenyataan kalau ia bukan ditakdirkan untukku, aku harusnya bisa menerima itu semua dan sebagai teman yang baik mendukungnya tapi rasa cintaku padanya, entahlah… aku tidak mengerti dengan diriku sendiri. Aku ingin berdamai dengannya tapi semakin aku dekat dengannya semakin aku ingin memilikinya. Apa perasaanku salah?”

“ Tidak ada yang salah dari kata mencintai… itu adalah takdir yang tidak bisa dihindari… yang bisa kau lakukan sekarang hanya mencoba menerimanya… menerima kenyataan kalau ia memang tidak bisa bersamamu, lagipula apa kau tidak pernah mendengar kalau hubungan persahabatan lebih istimewa dari hubungan cinta sepasang kekasih? Anggap saja kau benar-benar menjadi kekasihnya, lalu kalau kalian putus hubungan kalian tidak akan sama lagi… sedangkan dengan menjadi sahabatnya? Kau bisa terus berada di dekatnya…”

“ Hahahaha, tidak ada hubungan persahabatan antara laki-laki dan perempuan tanpa dibumbui cinta, itu mustahil… pasti salah satu diantaranya entah itu pihak laki-laki maupun perempuan, bisa merasakan cinta tumbuh atau kalau beruntung… keduanya… sayangnya aku tidak beruntung…”

“ Jangan begitu… carilah laki-laki lain, Naeun… hidupmu masih panjang, tidak sepertiku.” Myungsoo mengatakan itu dengan nada riang, seolah-olah apa yang dikatakannya adalah hal biasa. Naeun menatap pria itu sinis, entah mengapa kata-kata Myungsoo membuatnya merasakan sensasi aneh itu lagi. Perasaan tidak rela dan sedih yang mengikatnya, bahkan sedikit demi sedikit mengalahkan perasan sedihnya karena Woohyun.

“ Hahahahaha, maaf, Myungsoo, aku malah membawamu dalam suasana galau,kajja! Kita pergi ke tempat favoritmu…”

“ Mwo? Tempat favoritku?”

“ Ne, taman di belakang taman rumah sakit ini kan? Yang tempatnya terpencil, bukannya kau selalu ke sana?”

Naeun menggeret Myungsoo dengan mood yang sudah berubah hampir seratus delapan puluh derajat. Ia menyadari kalau bukan waktunya untuk bersedih atas masalahnya, lebih baik ia menikmati sisa waktunya bersama Myungsoo dengan sebaik mungkin.

***

“ Tempat ini tidak ada apa-apanya…” Naeun menyusuri tiap sudut taman kosong itu dengan rasa penasaran yang membuncah tapi ujung-ujungnya ia tidak menemukan apapun di sana dan mulai merasa kecewa. Tadinya ia kira ada sesuatu yang menarik yang bisa ditemukannya di sana, tetapi hanya taman kosong yang tidak terurus yang bisa dilihatnya, apalagi kondisi taman yang jika dilihat-lihat cukup menyeramkan itu, membuat buku kuduknya sedikit meremang.

“ Memang tidak ada…” Myungsoo menjawab santai sambil mencari tempat duduk yang nyaman, kemudian menghempaskan dirinya di sana.

“ Lalu kenapa kau sering pergi ke sini? Huh… tidak menarik ah…” Naeun ikut duduk di sebelah Myungsoo. Sebagian besar waktu pertemuan mereka memang dihabiskan di taman itu, walaupun taman tak terurus itu hanyalah sebuah taman yang tidak menarik. Bagi Naeun dan Myungsoo taman tersebut memberikan sebuah kenangan.

“ Aku ke sini hanya jika sedang ingin merokok…” Myungsoo tersenyum, Naeun memberengut kesal.

“ Kau ini kenapa sih? Kau kan tahu merokok akan memperburuk keadaanmu…”

“ Aku sudah pernah menjawabnya, nona Son…”

“ Apa? Karena kau ingin cepat mati? Kenapa kau tidak pernah bersyukur masih diberikan waktu untuk hidup? Banyak orang yang lebih membutuhkan tiap detik kesempatan untuk bernafas di dunia ini tetapi kenapa kau tidak mau hah?”

“ Untuk apa? Tidak akan ada yang peduli padaku…”

“ Kau punya ibu yang sangat peduli dan menyanyangimu… dan lagi kudengar kau yang menjauhi teman-temanmu, kenapa? Kenapa Myungsoo?”

“ Kau tidak tahu apapun, Son Naeun… kau tidak tahu seberapa hancurnya keluargaku… kau tidak tahu hidupku seperti apa! Kau hanya orang asing yang masuk ke kehidupanku di saat-saat terakhir… kau tahu apa?”

Naeun baru saja akan membalas perkataan Myungsoo, namun ia sadar tidak ada gunanya terus beradu pendapat dengan pria itu. Bisa-bisa kenangan yang tertinggal antara dirinya dan Myungsoo adalah pertengkaran mereka yang tidak ada habisnya.

“ Sudahlah… daripada membahas tentang hal itu… lebih baik membicarakan hal lain… kita kan teman… jadi tidak ada salahnya kau menceritakan sedikit tentang dirimu…”

“ Apa yang harus diceritakan? Kau sudah tahu kan bagaimana keadaanku sekarang?Itu saja yang harus kau tahu…”

” Ahh bukan itu maksudku hobimu dan sebagainya… aku kan ingin tahu…”

“ Huh… tidak penting…”

“ Myungsoo apa kau boleh keluar dari rumah sakit sebentar?”

“ Molla… aku juga sudah ingin kabur dari sini kalau saja aku tidak ingat aku membutuhkan peralatan di sini…”

“ Kalau begitu, besok ayo kita pergi…”

“ Tidak bisa, besok aku ada jadwal kemoterapi… aku tidak mengerti kenapa aku harus menjalani itu… aku kan sudah hampir mati…”

“ YAA! Berhenti menggunakan kata-kata itu, aku benci…”

“ Tapi memang itu kenyataannya Son Naeun…”

“ Karena kau sudah mau mati! Ayo kita buat kenangan indah sebanyak-banyaknya.” Naeun menarik tangan Myungsoo.

“ Kau mau membawaku kemana lagi?”

“ Kemana saja asal bersamamu!”

Myungsoo memandangi tubuh Naeun yang berada di depannya. Debaran jantungnya hampir membuat Myungsoo gila, ia sudah lama tidak merasakan sensasi itu memenuhi tubuhnya. Tapi dengan Naeun entah mengapa ia tidak mengerti, gadis itu special.

***

“ Maaf membuatmu menunggu lama, Naeun… pekerjaanku di kantor akhir-akhir ini semakin banyak.” Nyonya Kim menarik kursi di hadapan Naeun dan tersenyum.

“ Neahjummagwenchana… aku tahu ahjumma pasti sangat sibuk.” Naeun kembali duduk setelah sebelumnya membungkukkan badannya di depan nyonya Kim. Gadis itu bisa melihat raut kelelahan yang jelas dari wajah wanita itu, Naeun sedikit menyesal mengajaknya bicara di saat kondisi wanita itu terlihat sangat tidak memungkinkan.

“ Bagaimana keadaan Myungsoo?”

“ Dia tertidur… setelah disuntuk obat penenang…” Naeun mengatakan kata-kata terakhirnya dengan volume suara yang dikecilkan secara drastis.

“ Pasti dia menolak untuk dikemoterapi… anak itu…”

“ Tapi aku sudah memaksanya, ahjumma… dia tetap tidak mau…ujung-ujungnya, dia terpaksa dibuat seperti itu…”

“ Terima kasih, Naeun, kau sudah menjadi teman yang baik untuk Myungsoo walaupun kalian belum terlalu lama saling mengenal… Myungsoo sepertinya sangat senang mendapatkan teman, walaupun kau tahu dia orang yang seperti itu… sifatnya memang sedikit menyebalkan.”

Naeun tidak membalas, hanya sebuah senyuman singkat yang terukir di wajah cantiknya, sebelum berganti dengan tatapan sendu. Banyak hal yang ingin diketahuinya tentang seorang Kim Myungsoo, sosok misterius yang belakangan ini malah mengganggu pikirannya.

“ Ahjumma, maaf… kalau aku boleh tahu…” Naeun memutus perkataannya bingung harus mulai bertanya dari mana.

“ Kau tidak tahu apapun, Son Naeun… kau tidak tahu seberapa hancurnya keluargaku… kau tidak tahu hidupku seperti apa! Kau hanya orang asing yang masuk ke kehidupanku di saat-saat terakhir… kau tahu apa?”

Kata-kata Myungsoo beberapa jam yang lalu, terasa mengusiknya, memberikan sensasi kecemasan yang tidak terkatakan. Gadis itu mengetuk-ngetuk meja kayu yang ada di depannya, kebiasaan buruknya saat gelisah.

“ Kau pasti ingin tahu kenapa Myungsoo membenciku, kenapa dia sangat dingin dan kenapa dia selalu berkata ingin cepat mati?”

Bingo!

Wajah Naeun berubah cerah, Nyonya Kim sepertinya tahu isi pikirannya. Wajah lelah wanita itu berubah mendung.Naeun segera merubah air mukanya, cerita yang akan dindengarnya bukanlah sebuah cerita yang mengenakkan. Ia tahu itu.

“ Dulu Myungsoo adalah anak periang, ramah, baik, disukai semua orang, dia berprestasi dan menjadi kebanggan sekolah. Namun semua itu berubah ketika aku dan ayahnya Myungsoo memutuskan untuk bercerai. Hubunganku dan pria itu memang sejak awal tidak baik, sejak awal pernikahan, dia tidak pernah peduli padaku, namun aku berusaha bertahan karena aku mencintainya. Entah sejak kapan cinta yang dipunyainya untukku kandas dan berganti dengan perasaan benci yang tak terelakkan. Hubungan kami berubah mengerikan, namun demi Myungsoo, kami berusaha kelihatan harmonis, hanya di depan dia, namun ketika Myungsoo SMA, ia menemukan fakta bahwa hubungan orang tuanya hanyalah kebohongan belaka. Aku dan ayahnya sama-sama menodai ikatan suci pernikahan kami. Aku kembali pada mantan pacarku walaupun pria itu sudah memiliki istri sedangkan ayah Myungsoo menemukan wanita lain. Kami sama-sama tahu perihal hubungan kami masing-masing dengan pasangan kami dan sepakat tidak mencampuri hubungan satu sama lain. Lalu entah sejak kapan, kami mulai sering bertengkar dan Myungsoo adalah satu-satunya orang yang menderita karena keegoisan kami. Sampai akhirnya aku memutuskan pergi dari rumah dan tinggal di apartement pribadiku. Entah apa yang terjadi dengan Myungsoo dan ayahnya. Tepat satu tahun yang lalu aku memutuskan untuk bercerai dengan ayah Myungsoo, lalu aku tahu kondisi Myungsoo setelah kepergianku. Dia terlihat sangat menyedihkan, sekolahnya berantakkan, ia mulai mengenal rokok, minuman, keras, narkotika, dan obat-obatan yang dikiranya akan membuat rasa sakitnya berkurang. Memang itu mungkin sedikit meringankan pikirannya, tapi tidak dengan fisiknya, kondisi tubuhnya memburuk dan akhirnya…. Seperti inilah… Aku pikir Myungsoo masih memiliki harapan hidup, tapi nyatanya… setelah gadis itu meninggalkan dia… Myungsoo semakin kacau, ia menjauhi semua orang dan berubah menjadi seperti sekarang.”

Nyonya Kim menghapus air matanya yang luruh bersamaan dengan cerita yang mengalun pelan dari bibirnya. Wanita itu tampak berusaha kelihatan tegar walaupun ada luka di matanya. Ia tidak bisa menghindar dari kenyataan kalau luka itu kembali terbuka seiring dengan kata-katanya.

Naeun mendekati Nyonya Kim dan duduk di sebelah wanita itu, kemudian memeluknya, sekedar memberikan tambahan kekuatan. Nyonya Kim membalas pelukan tulus Naeun sambil membelai rambut hitam gadis itu, merasakan ketulusan yang coba ditawarkan Naeun dari bahasa tubuh gadis itu.

“ Ahjumma, jangan menangis lagi… aku berjanji akan menjadi teman yang baik bagi Myungsoo sebisaku…”

Naeun berbisik sebelum melepaskan pelukannya. Nyonya Kim mengangguk pelan, wanita itu meminum earl green tea dari cangkirnya sebelum melanjutkan ceritanya.

“ Gadis itu… cinta pertama Myungsoo, aku mengenalnya, namun hanya beberapa kali pertemuan kami sebelum aku memutuskan pergi dari rumah, aku tidak tahu seberapa besar pengaruh gadis itu dalam hidup Myungsoo, yang aku tahu adalah gadis itu mungkin satu-satunya tempat Myungsoo mendapatkan kasih sayang ketika kami orang tuanya, tidak dapat lagi memberikannya secara utuh… Ketika kondisi Myungsoo semakin buruk, aku memutuskan untuk membawanya tinggal bersamaku namun ia selalu menganggap sosokku tidak ada, hanya di depan gadis itu, Myungsoo mau berbicara padaku. Lalu setelah Myungsoo masuk rumah sakit, gadis itu hanya mengunjunginya sekali, untuk mengucapkan selamat tinggal. Aku tidak tahu apa alasannya meninggalkan Myungsoo hanya saja alasan yang kudengar darinya adalah ia tidak mau lagi bersama orang yang penyakitan seperti Myungsoo. Aku tidak menyalahkan keputusan gadis itu, ia mungkin berhak mendapatkan pria yang lebih baik. Ya, akhirnya bisa kau tebak Naeun, Myungsoo semakin terpuruk dan ia semakin ingin cepat mengakhiri hidupnya, namun setelah kau datang, Myungsoo kelihatan lebih ceria, walaupun aura kelam yang menyelubunginya tidak berkurang.”

Naeun menganggukkan kepalanya, tanda bahwa ia mengerti. Sekarang ia tahu kenapa Myungsoo menjadi sosok yang cukup menakutkan. Dingin dan terasing, pria itu hanya hampa, ia membutuhkan kehangatan.

“ Aku janji, ahjumma, aku akan mengembalikan sosok Myungsoo seperti dulu… bagaimanapun caranya.”

***

“ Eomonim bilang kau sering mengungungi temanmu di Seoul hospital… siapa dia?”

“ Apa pedulimu?”

Naeun berusaha cuek dengan membaca buku-buku kuliahnya, walaupun ia merasa terganggu dengan kehadiran Woohyun. Sudah hampir dua minggu sejak pertemuan terakhirnya dengan Woohyun dan berakhir dengan dirinya menangis di bawah bantal. Sejak itulah hampir setiap hari Woohyun menganggunya dengan segala hal yang dulu membuatnya menyukai pria itu. Pesona Nam Woohyun yang tidak pernah bisa ditolaknya, namun sekarang Naeun berjuang mati-matia tidak memperdulikan pria itu.

“ Tentu saja aku peduli, Son Naeun… aku kan kakakmu…”

Kakak? Tentu saja… jangan berharap lebih padanya, Naeun… dia hanya menganggapmu adik, tidak lebih.

          Woohyun menatap Naeun dengan pandangan yuang menyedihkan. Pria itu kehilangan sesuatu, entah sejak kapan kehadiran Naeun begitu dirindukannya. Ia ingin Naeun kembali seperti dulu dan sepertinya ia tahu alasan Naeun begitu menjauhinya sekarang adalah karena kehadiran sosok pria lain dalam hidup gadis itu.

Woohyun tersenyum kecut, kenapa ia begitu bodoh?

Beberapa hari yang lalu, ia mengikuti Naeun sepulang kuliah karena gadis itu mati-matian tidak mau dijemput olehnya. Ternyata gadis itu menemui seorang pria. Pria yang sama yang waktu itu membuatnya merasa kesal? Karena Naeun yang tiba-tiba memeluk sosok pria itu, pria yang tidak Woohyun kenal. Pria yang entah sejak kapan masuk ke dalam kehidupan Naeun.

Woohyun cemburu…

Tidak usah dipertanyakan lagi, betapa ia merasa terbakar saat melihat Naeun tampak akrab dengan pria itu. Woohyun tidak tahu sejak kapan perasaannya kepada Naeun berubah. Ia tidak bisa lagi menganggap Naeun sebagai seorang adik. Ia tidak tahu apa yang terjadi apda dirinya sekarang, mungkin saja ia terkena karma karena menolak Naeun. Atau perasaan yang dirasakannya sekarang hanya refleksi dari rasa kecewanya saja karena Naeun yang tidak lagi seperti dulu, menceritakan tentang segala hal padanya.

“ Setidaknya kau harusnya bercerita padaku, Naeun… siapa dia dan bagaimana kau bisa kenal dengannya.”

“ Baiklah, kalau kau memaksa, dia hanya teman biasa…” Naeun membereskan buku-bukunya dan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Woohyun yang masih terdiam di teras rumahnya.

“ Teman biasa? Kenapa perasaanku mengatakan hal yang sebaliknya?”

***

“ Sebenarnya kau mau membawaku kemana? Kenapa aku harus menyamar segala?” Myungsoo menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal karena Naeun memaksanya memakai wig kribo (?) yang dibawa gadis itu dan katanya untuk penyamaran.

“ Sudah kau diam saja… kau pasti bosan kan berada di sini terus? Aku akan membawamu ke suatu tempat tapi yang jelas kau harus menyamar dulu untuk bisa keluar dari rumah sakit ini.” Naeun merapikan dandanannya yang sudah seperti penjahat (?) karena menggunakan pakaian serba hitam dan kacamata hitam.

“ Lalu kenapa kau ikut menyamar juga?” Myungsoo keheranan karena Naeun menggunakan penyamaran yang bahkan lebih heboh darinya.

“ Huh kau ini! Tentu saja agar mereka tidak bisa mengenaliku! Aku kan pengasuhmu… bagaimana kalau mereka mengenalku? Tsk…”

Naeun memasukkan beberapa alat penyamaran lainnya ke dalam tas sebelum menyeret Myungsoo keluar dari kamarnya.

“ Kau dibayar?”

“ Hah?”

Langkah Naeun terhenti di koridor, ia tidak bisa melangkah dengan bebas karena banyak perawat dan petugas yang berlalu-lalang di sepanjang koridor depan kamar rawat Myungsoo.

“ Kau dibayar berapa oleh ibuku untuk menjadi pengurusku?”

“ Hah?! Enak saja! Kau kira aku apa?!”

“ Habis kau sendiri yang menggunakan istilah pengurus, berarti kau kerja kan?”

Myungsoo kembali menggaruk kepalanya yang terasa gatal, ia jadi curiga Naeun berniat mengerjainya dengan memberikan wig yang aib (?) seperti itu padanya. Karena selain menurunkan tingkat kegantengannya sampai ke titik nol, wig itu juga berhasil membuat rambutnya kutuan.

“ YAA! Bisakah aku mengganti benda ini dengan hal lain? Topi misalnya? Kau berniat membunuhku pelan-pelan oleh benda ini?”

“ Ssssttt diamlah…”

Naeun kembali mengendap-endap layaknya maling jemuran (?) sambil sesekali ngumpet di balik tempat sampah yang ada di sepanjang koridor, tangannya tetap menggenggam tangan Myungsoo. Satu hal yang membuat pria itu diam dan menuruti tindakan Naeun yang mulai aneh-aneh (?)

“ Sedikit lagi… eh kau yakin kan kau boleh keluar dari sini?”

“ Boleh… lagipula untuk apa sebenarnya aku berlama-lama di sini, aku akan tetap mati.”

“ Bukankah sudah kubilang aku benci ketika kau mengatakan hal itu?”

“ Maaf, tapi aku hanya berusaha membeberkan kenyataan padamu, Son Naeun.” Myungsoo berkata dengan nada lirih dan membuat Naeun merasa kepedihan itu kembali datang padanya. Kemudian gadis itu berusaha kuat-kuat menahan air mata yang entah sejak kapan mulai menggenang di pelupuk matanya, ia menoleh ke arah Myungsoo lengkap dengan senyumannya yang membuat Myungsoo hampir gila.

“ Oleh karena itu, ayo kita manfaatkan waktu yang tersiksa dengan baik!”

Naeun kembali menarik tangan Myungsoo namun kali ini, pria itu membalas genggaman tangannya.

“ Ayo…”

***

“ Sudah berapa lama aku tidak ke sini?” Myungsoo memandang sekitarnya dengan perasan gembira, layaknya anak kecil yang baru pertama menginjakkan kakinya di taman ria.

“ Berapa lama? Jangan-jangan terkahir kau ke sini seabad yang lalu -__-“

“ -____- seabad yang lalu taman ini belum di bangun, lagipula kau kira umurku berapa, hah?”

“ Yasudah, kau mau bermain apa?”

Myungsoo mengedarkan pandangannya dan tertarik pasa satu permainan yang berada tidak jauh dari tempatnya dan Naeun berdiri. Wahana itu memang sedang sepi karena Naeun dan Myungsoo memutuskan datang ke sana pada hari biasa bukan weekend, Naeun sampai rela membolos kuliah hanya karena ingin mengajak Myungsoo ke tempat itu.

“ Itu…”

“ HAH?! Tidak boleh! Kau tidak baca peringatannya… wahana ini dilarang bagi orang yang lemah jantung, ibu hamil, penyan… “

“ Penyakitku tidak ada dalam daftar peringatan itu, Naeun! Kau takut aku mati di atas, huh? Hahahahaha… tidak bakalan…”

“ Tapi tetap saja aku tidak mau ambil resiko, bagaimana kalau kita naik itu saja? Sepertinya mengasikkan?”

Naeun menunjuk ke arah satu wahana yang sepertinya sangat umum berada di taman ria. Wahana yang lebih sering dipenuhi anak-anak ketimbang orang dewasa seperti mereka.

“ Carousel?”

“ Ne, itu mainan favoritku sejak anak-anak! Ayo kita naik itu!Ayooo…”

“ Kau tidak lihat berapa banyak anak-anak yang naik wahana itu? Sadar umur, Son Naeun… kau pikir kau anak SD, huh?”

“ Ahhh sudahlah… tidak usah dipikirkan!”

Naeun menarik Myungsoo dengan sekuat tenaga karena pria itu sama sekali enggan menuju wahana yang menurutnya kekanakkan itu. Tapi karena tidak tega dengan wajah memelas Naeun akhirnya Myungsoo menurut walaupun ia harus menahan malu karena sejak awal ia mengantri, banyak sekali yang memperhatikannya dan Naeun.

“ Huh, sudah kubilang jangan naik wahana ini…”

“Jangan cemberut, Myungsoo… tersenyumlah!”

Naeun memaksa Myungsoo untuk tersenyum bahkan sambil menarik-narik pipi pria itu dan berhasil membuat Myungsoo mau tidak mau tersenyum secara otomatis melihat tingkah Naeun yang menyenangkan.

“ Kajja! Kita naik!!”

***

“ Igeo…” Woohyun menyodorkan sebuah permen kapas ke arah Chorong yang sudah menunggunya di kursi, wajah gadis itu pucat setelah muntah habis-habisan karena memaksakan diri naik roller coaster padahal takut setengah hidup (?)

“ Terima kasih…” Chorong buru-buru menyerbu permen kapas itu dan tanpa menawari Woohyun, gadis itu memasukkan permen banyak-banyak ke mulutnya.

“ Yaa! Pelan-pelan, nanti kau tersedak…”

“ Uhuk-uhuk….”

Belum semenit Woohyun memperingatkannya, Chorong sudah batuk-batuk dengan heboh sambil menepuk-nepuk dadanya. Woohyun segera mengambil botol air mineral yang sudah dibelinya dan memberikan botol itu kepada Chorong, yang langsung disambut gadis itu dengan gembira (?)

“ Habis ini kita mau kemana lagi?”

“ Hmmm.. jangan wahana ekstrim lagi.” Chorong trauma akibat wahana roller coaster yang berhasil mengaduk-aduk isi perutnya.

“ Apa ya?”

“ Bagaimana kalau itu?”

Woohyun menunjuk ke arah satu wahana yang menyerupai roda raksasa. Chorong melihat ke arah wahana itu dan tersenyum, salah satu wahanan favoritnya. Ferris Wheel.

“ Kajja! Kita naik.” Chorong menarik tangan Woohyun.

Woohyun mengacak rambut Chorong dengan gemas karena tingkah gadisnya itu sampai tatapan matanya terkunci pada satu arah.

“ Itu…”

***

“ Sudah puas naik carouselnya?”

“ Belum, nanti sebelum pulang kita ke sana lagi ya!”

“ Kau saja sendiri aku tidak mau mendapat tatapan seperti tadi, Tsk…benar-benar menganggu…”

“ Ahh, Myungsoo kau ini sensitive sekali! Mereka tidak membicarakan kita kok…”

“Bagaimana tidak?! Bahkan beberapa dari mereka dengan terang-terangan menunjuk kita, berbisik-bisik, lalu tertawa…” Myungsoo sedikit kesal, walaupun harus ia akui ia merasa puas karena bisa melihat ekspresi Naeun yang dipenuhi kebahagiaan itu.

“ Ne, baiklah… kali ini aku akan menurutimu… kau mau naik apa, terserah…”

“ Nah! Aku mau naik i…”

“ STAND PHOTOBOOK! AYO KITA KE SANA!”

Belum sempat Myungsoo menjelaskan keinginannya, Naeun keburu menariknya ke salah satu stand photo yang ada di sana. Myungsoo ingin menolak, walaupun dulu sebelum ia jatuh sakit, ia adalah seseorang yang sangat tergila-gila akan dunia fotografi, tapi sekarang ia merasa melihat fotonya sendiri dengan keadaan tubuhnya yang pucat dan bibir yang membiru bukan hal yang menyenangkan.

“ Naeun, kau sendiri saja sana yang foto… aku tidak…” Myungsoo menolak dengan halus.

“ Ghamsahamnida…” Naeun mengambil empat buah koin yang baru ditukarkannya pada penjaga stand sebelum menarik Myungsoo ke area foto.

“ Naeun, kau saja…”

“ Tidak ! Kita kan belum pernah berfoto bersama! Lagipula, hal yang sangat jarang sekali kau bisa keluar seperti ini… kalau Kim ahjumma tahu, mungkin aku akan disemur (?) karena membawa anaknya jalan-jalan ke luar rumah sakit tanpa izin, makanya mumpung kita di sini, ayo kita lakukan hal yang menyenangkan sebanyak mungkin…”

Akhirnya Myungsoo menurut dan mereka masuk ke stand fotobook itu. Myungsoo memperhatikan Naeun yang sedang memilih-milih model dan desain foto yang akan mereka gunakan. Gadis itu terlihat sangat cantik dengan senyumannya yang menawan, Myungsoo tidak bisa menghindar dari debaran jantungnya yang tidak normal seakan ingin melompat keluar dari rongga dadanya setiap kali melihat gadis itu.

‘Tidak Myungsoo, kau tidak boleh jatuh cinta padanya… kau sudah berjanji untuk tidak jatuh cinta pada siapapun lagi…’

Myungsoo merasa pedih saat tahu mungkin cintanya pada Naeun tidak akan pernah berbalas. Ia memang baru mengenal Naeun selama satu bulan belakangan dan itu adalah waktu yang sangat singkat untuk membuatnya membuka hati dan membiarkan Naeun masuk ke dalamnya.

“ Myungsoo-ah… kau setuju dengan pilihanku?” Naeun menatap Myungsoo lekat-lekat dan pria itu segera tersadar dari lamunannya.

“ Ah, ne…”

***

“ Tidak, aku tidak mau naik wahana ekstrim semacam itu lagi… kurasa nyawaku tertinggal di atas.”

Myungsoo menatap Naeun geli, setelah dari area photobook, sesuai perjanjian kali ini Myungsoo yang memilih wahana untuk dimainkan mereka berdua dan pilihan Myungsoo jatuh pada Bungee drop, wahana permainan yang diadaptasi dari bungee jumping dan sukses membuat Naeun gemetar setelah turun dari sana.

“ Tsk! Bilang saja kau takut! Pakai alasan bahaya untuk kesehatanku segala… kau lihat kan? Uhuk… aku… masih k…kuat… Uhuk…”

“ Myungsoo kau tidak apa-apa kan?” Naeun khawatir setengah mati karena melihat Myungsoo yang tiba-tiba memegangi dadanya. Sepertinya pria itu kesulitan bernafas lagi. Naeun segera membantu Myungsoo duduk.

“ Aku baik-baik saja…”jawab Myungsoo dengan nafas tersenggal-senggal, layaknya orang yang habis menempuh lomba lari. Naeun menggigiti kukunya dengan panic, tidak seharusnya ia membawa Myungsoo ke sana. Apa yang harus ia katakan pada Kim ahjumma kalau tiba-tiba Myungsoo sakit ketika berada di luar rumah sakit? Siapa yang bisa menjamin kondisinya?

“ Aku akan mencari bantuan! Kau butuh sesuatu? Air? Ah… kau butuh selang oksigen… ah, eottokhe?”

“ Aku tidak butuh apapun, Naeun, jangan khawatir… aku tidak apa-apa… yang kubutuhkan adalah kau tetap di sini, di sampingku…” Myungsoo menarik tangan Naeun dan memaksa gadis itu duduk di sebelahnya, sementara pria itu memejamkan matanya beberapa saat, hal pertama yang dilihatnya saat membuka mata adalah Naeun. Myungsoo merasakan hal yang sudah lama hilang di hatinya mulai kembali, ia menginginkan Naeun.

“ Myungsoo, tenanglah, aku tetap di sini…”

***

“ Kau membuatku hampir mati dua kali, Kim Myungsoo, kau berhutang nyawa padaku… yang pertama karena bungee drop itu dan yang kedua adalah karena kau tiba-tiba seperti itu! Bagaimana kalau tiba-tiba aku yang mati?” Naeun menyodorkan segelas minuman hangat ke tangan Myungsoo sementara tangan satunya memegang gelas miliknya sendiri. Hari sudah menjelang sore, Naeun harus segera mengembalikan Myungsoo ke tempatnya sebelum hari menjadi gelap dan nyonya Kim sudah pulang dari kantor. Untunglah saat Naeun membawa Myungsoo tadi siang, pria itu sudah selesai dengan check up hariannya, kalau tidak mungkin saja Naeun sekarang sudah menjadi tersangka utama kasus penculikkan pasien dari rumah sakit.

“ Hahahah, tenang saja, Naeun… aku tidak akan mati, setidaknya tidak sampai…”

“ Sampai apa?” Naeun penasaran dengan kelanjutan perkataan Myungsoo, gadis itu mulai gelisah di bangkunya. Sebenarnya ada tujuan lain mengajak Myungsoo ke sana, bukan hanya sekedar memberikan hiburan pada pria itu yang hari-harinya hanya dihabiskan di rumah sakit.

“ Ahh, lupakan saja…”

Setelah itu keheningan panjang menyeruak di antara mereka, Naeun mengusap kedua tangannya dengan gelisah. Tujuannya harus tersampaikan, tapi ia ragu untuk mengatakannya. Ia masih ingat kata-kata yang diucapkan Myungsoo pada pertemuan ketiga mereka.

‘Jangan jatuh cinta padaku…’

Naeun tahu perasaannya tidak bisa berbohong, ia mulai tertarik dengan Myungsoo mungkin karena jangka waktu pertemuan mereka yang bisa dibilang sering. Naeun hampir setiap hari mengunjungi Myungsoo bahkan sambil membawa buku pelajarannya dan buku tugasnya. Hari-harinya banyak dihabiskan dengan belajar bersama Myungsoo, membuat perasaan lain tumbuh di hati Naeun, perlahan-lahan tapi pasti.

“ Myungsoo-ah… maaf…”

“ Untuk apa?”

Myungsoo menatap Naeun intens, membuat gadis itu ragu untuk mengatakan tujuannya. Gadis itu bukan hanya malu, tetapi juga takut, ia takut membuat Myungsoo marah dan akhirnya menjauhinya, gadis itu takut malah akan kehilangan Myungsoo karena keegoisannya.

“ A… aku… aku… se… sebenarnya aku…”

“ Ya?”

Myungsoo menanti jawaban Naeun dengan sabar walaupun sebenarnya ia sudah bisa menebak, namun ia tidak ingin terlalu keegeran dengan tebakannya yang belum pasti walaupun ia snagat ingin tebakannya menjadi kenyataan.

“ Myungsoo, aku… aku jatuh cinta padamu… maafkan aku, aku tahu kita mempunyai perjanjian di awal dan aku sudah menyetujuinya… aku setuju untuk tidak jatuh cinta padamu, tapi aku tidak bisa berbohong, Myungsoo, aku mencintaimu… aku selalu memikirkanmu dan kau tidak tahu betapa menderitanya aku setiap kali kau berbicara tentang kematianmu… kau seolah-olah ingin… meninggalkanku…” Naeun mengucapkan itu semua dalam satu tarikan nafas dan akhirnya air mata gadis itu lurus, tanpa bisa dicegah.

Myungsoo hampir melompat saking gembira, ia seolah bisa menebak perasaannya pada Naeun mungkin tidak bertepuk sebelah tangan, Naeun mungkin saja memiliki perasaan yang sama padanya. Namun ada bagian dari dirinya yang tidak bisa menerima semua itu, ia tahu cepat atau lambat ia akan meninggalkan Naeun. Jadi tidak ada yang bisa dilakukannya selain menuntun gadis itu menemukan pria lain yang disukainya.

“ Myungsoo, ma… maukah kau menjadi… ke … kekasihku?”

Naeun membuang semua gengsinya, ia hanya ingin mengungkapkan semua perasaannya. Segala resiko yang mungkin terjadi setelah ini, Naeun pasrah, ia menyerahkan semuanya ke tangan Tuhan, sang pengatur segala takdir. Naeun yakin perasaannya timbul bukan tanpa maksud dan tujuan yang jelas.

“ Naeun kukira… kukira sudah jelas di awal, aku menegaskan padamu untuk tidak jatuh cinta padaku.”

“ Myungsoo maaf, dalam hal ini aku sudah tahu kondisimu kan, kukira tidak masalah untuk terus bersamamu sampai… akhir…”

“ Ada alasan yang membuatku tidak ingin jatuh cinta lagi, bukan karena cinta itu pernah memberikanku kepahitan, namun untuk apa aku memberikan rasa cintaku kalau pada nantinya aku akan meninggalkan orang itu?”

“ Myungsoo, aku tidak keberatan… sungguh…”

“ Untuk apa, Naeun ? Untuk apa kau menjadi kekasihku kalau pada akhirnya aku tidak akan bisa menemanimu dalam waktu lama? Kau yang akan sakit karena hal itu… kukira walaupun hubungan kita hanya teman, kurasa itu tidak kalah istimewa dibanding hubungan sepasang kekasih.”

“ Ta… tapi… Myungsoo…”

“ Aku sudah bahagia dengan adanya kau di sisiku, Naeun… carilah pria lain, kalau kau memang mencintaiku… carilah dan temukanlah kebahagiaanmu sendiri.”

***

Naeun sudah menghapus sisa-sisa air matanya, walaupun sebenarnya ia belum puas menangis karena penolakan halus yang dilontarkan oleh Myungsoo bahkan mungkin semalaman ini setelah kembali dari mengantar Myungsoo, ia akan memuaskan dirinya menangis di dalam kamar sampai pagi.

“ Loh, Naeun! Kau di sini?”

Naeun mengangkat kepalanya yang tertunduk dan ia cukup terkejut mendapati Woohyun berdiri di depannya, bersama Chorong. Naeun tahu walaupun gadis itu tersenyum sebenarnya Chorong tidak begitu suka menyadari kalau Naeun ada di sana.

“ Neoppa, oh… kau bersama Chorong eonni?”

“ Annyeong Naeun…”

“ Annyeong eonni…” Naeun tersenyum kaku, walaupun sisa air mata masih sedikit menggenang di pelupuk matanya.

“ Naeun kau ke sini dengan siapa dan oh! Naeun kau habis menangis?” Woohyun mengusap mata Naeun dengan perasaan khawatir, sementara Myungsoo dan Chorong hanya dapat menelan perasaan cemburu mereka bulat-bulat.

“ Tidak, oppa, aku tidak apa-apa… hahaha… aku ke sini bersama temanku, Myungsoo.”

Naeun segera menarik Myungsoo. Ada perasaan sakit yang menelusup di dadanya saat mengatakan ‘teman’ harusnya status itu berubah beberapa saat yang lalu kalau saja Myungsoo menerima perasaannya. Hanya saja sekarang Naeun harus bersyukur karena Myungsoo tidak menjauhinya seperti pikiran gadis itu sebelumnya.

“Annyeong naenun Nam Woohyun imnida, sahabat Naeun sejak kecil, namun aku sudah menganggap Naeun sebagai adikku sendiri dan ini kekasihku, Park Chorong.”

Woohyun mengulurkan tangannya dan disambut oleh Myungsoo kemudian ia beralih ke arah Chorong dan bersalaman dengan gadis itu.

“ Bagaimana kalau kita makan malam bersama?” tawar Chorong dan disambut anggukan kepala oleh Woohyun.

“ Aku tid…”

“ Maaf, oppaeonni, aku dan Myungsoo harus pulang… mungkin lain waktu kita bisa makan bersama.” Naeun membungkukkan badannya dan langsung menarik Myungsoo menjauhi kedua orang itu bahkan tanpa menunggu jawaban dari Woohyun maupun Chorong.

Woohyun melihat kepergian mereka berdua dalam diam, tatapannya terasa lain. Chorong melihatnya dengan jelas, apalagi saat Woohyun memperhatikan secara rinci bagaimana Naeun bergelayut manja pada Myungsoo. Chorong tahu sesuatu yang tidak benar terjadi di antara Woohyun dan Chorong.

“ Woohyun, kita mau makan malam dulu atau pulang?”

“ Ah, eh… oh… “

“ Aku tidak keberatan kalau kau mau langsung pulang.”

***

Hari demi hari berlalu dan tanpa terasa sudah hampir seminggu Naeun tidak mengunjungi Myungsoo. Satu dua hari pertama adalah karena ia tidak sanggup melihat wajah pria itu, perasaan sakit selalu menyiksanya bahkan lebih parah dari kehilangan Woohyun dulu.

Namun sekarang apa daya, karena Naeun terlalu memikirkan pria itu, Naeun kembali terkulai lemas di ranjang kamarnya. Gadis itu demam, untungnya tidak terlalu parah sampai ia harus masuk rumah sakit. Bahkan kondisinya sudah jauh lebih baik setelah meminum obat dan beristirahat. Saat ini, Naeun menyendiri di ayunan sambil memeluk boneka teddy bear miliknya.

Gadis itu merindukan Myungsoo namun entah mengapa ia belum memiliki keberanian untuk menemui pria itu, walaupun perasaan rinduk kian menyiksanya. Naeun hanya belum bisa menerima keputusan pria itu untuk tidak bersamanya.

“ Huh, Myungsoo, apa kau merindukanku juga?” Naeun berucap dengan nada yang luar biasa perih.

“ Yaa! Jangan patah hati terlalu lama! Nanti kau masuk rumah sakit lagi!” Woohyun tiba-tiba duduk di ayunan yang berada di sebelah Naeun. Gadis itu menoleh dan tersenyum, ia memang membutuhkan seseorang saat ini, setidaknya agar ia tidak merasa semakin kacau karena memikirkan Myungsoo.

“ Tidak akan…hahaha… kau tau darimana aku sedang patah hati?”

“ Kelakuanmu saat patah hati tidak pernah berubah… kali ini bukan aku kan penyebabnya?”

“ Hah?”

“ Walaupun kau menjauh dariku, aku tahu, Naeun, segala sesuatu yang terjadi padamu, kau jatuh cinta pada pria itu, pria yang  kau temui di rumah sakit, Kim Myungsoo… Aku benar kan?” Woohyun tertawa pahit, ia menyadari kebodohannya. Saat tahu Naeun menyukai Myungsoo, ia merasakan sakit yang sama, sakit yang mungkin juga dialami Naeun saat tahu ia berpacaran bahkan bertunangan dengan Chorong.

Woohyun menyukai Naeun, bahkan mungkin diam-diam mencintai gadis itu dan perasaan itu baru disadarinya setelah Naeun menjauh darinya. Woohyun yang bodoh.

“ Ne, apa dosaku, oppa? Kenapa aku tidak pernah bisa mencapai seseorang yang kucintai? Kenapa mereka selalu menolakku? Apa salahku? Apa aku jelek? Apa aku terlalu bawel? Apa aku menyebalkan?”

Air mata Naeun luruh seiring dengan perkataannya. Woohyun mendekatkan tubuhnya pada Naeun dan memeluk gadis itu, membiarkan Naeun menangis di pelukannya.

“ Naeun, bukan seperti itu…”

“ Lalu kenapa?”

“ Naeun, oppaoppa minta maaf karena waktu itu menolakmu, oppa bodoh karena tidak menyadari perasaan oppa sendiri.”

“ Apa maksud oppa?” Naeun melepas pelukannya dari Woohyun dan menatap pria itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

Woohyun tersenyum pahit, mungkin ia adalah pria paling berengsek karena menyakiti dua orang yang dicintainya tapi perasannya tidak bisa dicegah. Ia mencintai Chorong sekaligus Naeun. Egois bukan? Di saat ia tidak bisa memilih salah satu diantara mereka.

“ Naeun… aku mencintaimu… kali ini bukan sebagai kakak kepada adiknya melainkan rasa yang dipunya seorang pria pada wanita, aku tidak tahu apakah ini karma atau semacamnya tapi perasaan ini muncul tanpa bisa kucegah dan baru kusadari belakangan di mana aku tidak lagi bahagia bersama Chorong dan yang kuinginkan adalah bersamamu.”

Naeun tersentak, ia memundurkan tubuhnya dan menatap Woohyun tidak percaya. Apakah yang dikatakan pria itu sungguh-sungguh ataukah hanya kebohongan belaka yang coba ditawarkan Woohyun untuk menghiburnya?

“ HAHAHAHA… OPPA, ini tidak lucu! Bagaimana mungkin kau bisa mengatakan cinta pada wanita lain sementara kau sudah memiiki kekasih? Kau gila!”

“ Aku memang sudah gila, Naeun, gila karena kehilanganmu… gila karena aku sudah menolakmu bahkan sempat membuatmu menderita karena menolakmu tapi kali ini aku serius Naeun aku benar-benar memintamu dengan tulus, menjadi kekasihku.”

“ Tapi Chorong eonni?” Naeun mulai goyah, jauh di lubuk hatinya walaupun Myungsoo adalah yang mengambil porsi terbanyak, Naeun masih menyimpan sedikit rasa untuk Woohyun ditambah kemungkinan Myungsoo yang tidak akan bisa bersamanya, Woohyun mungkin bisa mengobati rasa sakitnya.

“ Aku tidak tahu, di satu sisi aku mencintainya, tapi di sisi lain aku juga mencintaimu, aku akan rela melepaskannya jika kau mau bersamaku, Naeun…”

“ Apa aku bisa percaya kau mencintaiku, oppa?”

Woohyun mendekatkan wajahnya pada wajah Naeun. Gadis itu tersentak, ia sama sekali tidak siap ketika tiba-tiba bibir Woohyun bersentuhan dengan bibirnya bahkan cukup lama sampai Naeun gemetar dan tidak mampu menutup matanya. Ia tidak membalas ciuman Woohyun tetapi tidak juga menolaknya. Gadis itu bingung.

“ Apakah kau merasakan getaran yang sama, Naeun?” Woohyun bertanya, ia kecewa karena Naeun yang sepertinya menolak ciuman yang ia berikan karena gadis itu tidak membalasnya.

Naeun tidak mengiyakan namun juga tidak bisa mengatakan tidak. Ia benar-benar dilema dengan perasannya sendiri.

“ Oppa, a… aku…”

‘Maafkan aku Myungsoo, aku mencintaimu…’

          Naeun berusaha menghapus bayangan Myungsoo yang tercipta dalam otaknya. Walaupun ia tidak bisa bersama pria itu, ia akan menemukan kebahagaiannya sendiri.

“ Aku mau menjadi kekasihmu asal… kau tidak memutuskan hubungan dengan Chorong eonni sampai aku benar-benar yakin bagaimana perasaanku padamu.”

Woohyun terlonjak, ia tersenyum, dalam sekejap tubuh Naeun berada dalam pelukannya, ia benar-benar bahagia. Namun Naeun hanya membalas pelukan Woohyun dengan berat hati. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia terluka sekaligus merasakan sedikit kesenangan.

Namun apa benar Woohyun adalah kebahagiaannya?

***

“ Naeun, tumben…”

“ Apanya?” Naeun meletakkan tasnya dan meminum jus strawberry yang dipesannya sambil membolak-balikkan essay tugasnya yang akan dikumpulnya nanti setelah jam makan siang berakhir. Mengejar ketinggalannya selama tiga hari tidak masuk ke kampus minggu lalu, melelahkan memang tapi Naeun sadar itu tanggung jawabnya.

“ Aku perhatikan sudah beberapa hari ini, Woohyun oppa selalu mengantarmu ke kampus? Kalian sudah berbaikan… baguslah…” Eunji membolak balikkan buku menu sebelum memutuskan akan memesan apa.

“ Ah itu, aku memang sudah berbaikan dengannya bahkan bukan hanya itu… Eunji-ah, ada beberapa hal yang harus kuceritakan padamu, tapi aku mohon jangan dulu menyelak ceritaku.”

“ Ne, apa yang akan kau ceritakan? AH! Soal Myungsoo ya?” mata Eunji berbinar-binar, ia memang penasaran bagaimana kelanjutan hubungan Naeun dan Myungsoo karena gadis itu enggan membicarakannya dan membuat Eunji berspekulasi gadis itu ditolak oleh Myungsoo.

“ Aku… sebenarnya aku sudah berpacaran dengan Woohyun oppa?”

“ HAH???????? APA KAU SUDAH GILA?!” Eunji berteriak dan membuat seisi kantin sukses melihat ke arah mereka berdua.

“ Hehehehehe… maaf…lanjutkan lagi makannya…” Eunji tersenyum salting sambil membungkukkan badannya karena malu. Sementara Naeun pura-pura membaca essaynya lagi.

“ Yaa! Jangan bercanda…”

“ Siapa yang bercanda? Aku serius… beberapa hari yang lalu aku dan Woohyunoppa jadian.”

“ Lalu Myungsoo dan Chorong eonni?”

“ Myungsoo menolakku… aku tahu perjanjian awal kami adalah aku tidak boleh jatuh cinta padanya tapi kukira ia sudah berubah terlebih sikapnya belakangan tidak dingin padaku, tapi aku salah… ia tetap tidak mau menerimaku.” Naeun menghempaskan map biru berisi essaynya ke atas meja, ia mengusap wajahnya. Membicarakan Myungsoo membuatnya frustasi.

“ Lalu bagaimana kau bisa jadian dengan Woohyun oppa? Bukankah dia sudah memiliki Chorong eonni?”

“ Ceritanya panjang… pada intinya dia bilang dia mencintaiku dan ia baru sadar belakangan setelah aku jauh darinya, lalu ia menyatakan perasaan padaku dan begitulah… aku sendiri bingung.”

“ Naeun, kau salah kalau mengira bisa menjadikan Woohyun oppa sebagai pelarian, kau juga salah dengan mengira kau akan melupakan Myungsoo dengan bersama Woohyun oppa. Myungsoo pasti punya alasan kuat mengapa ia tidak bisa bersamamu, kenapa kau malah menjauhinya?!Kau harusnya berada di dekatnya di saat-saat terakhirnya bukannya malah berpacaran dengan Woohyun oppa.”

“ Yaa! Aku tidak menjadikan Woohyun oppa pelarian…”

“ Lalu apa? Kau menyakiti Chorong eonni sekaligus Woohyun oppa… saranku, akhiri hubunganmu secepatnya dengan Woohyun oppa sebelum Chorong eonni tahu, lalu bertemanlah dengan Myungsoo seperti biasa. Setidaknya walaupun ia bukan milikmu, kau masih bisa melihatnya setiap hari. Bukankah kalau kau mencintainya kau justru bisa merasa bahagia hanya dengan melihatnya setiap hari?”

Naeun merenungkan kata-kata Eunji. Ia sendiri bingung dengan perasaannya yang mulai labil. Mungkin tidak ada salahnya kalau ia menemui Myungsoo, bukankah ia sudah berjanji pada Kim ahjumma untuk menjadi teman Myungsoo?

Bukan hanya untuk Kim ahjumma melainkan untuk dirinya sendiri juga.

***

“ Oppa, aku tidak akan lama kok… aku hanya akan menjenguk Myungsoo sebentar.” Naeun memelas, ia tidak ingin Woohyun ikut dengannya, ia ingin menghabiskan waktunya bersama Myungsoo berdua saja seperti dulu.

“ Hahahaha, aku kan ingin menjenguknya, chagi, sekalian mengantarmu.”

“ Ta… tapi, oppa, aku…” Naeun memutar otak, mencari alasan agar Woohyun tidak ikut dengannya.

“ Sudah, kajja…” Woohyun merangkul bahu Naeun sambil menyusuri lorong rumah sakit.

Naeun menarik nafas dan menghelanya kasar sebelum mengetuk pintu kamar Myungsoo. Ketika mendengar suara Myungsoo menyuruhnya masuk, Naeun segera membukanya dan berjalan pelan ke arah pria itu yang sekarang sedang memejamkan matanya. Naeun menggigit bibir bawahnya, kondisi Myungsoo sangatlah menyedihkan. Tubuh pria itu kurus, entah mengapa Naeun merasa pria itu kehilangan berat badannya secara drastic walaupun baru hampir dua minggu Naeun tidak bertemu dengannya.

“ M…Myungsoo-ah…”

Myungsoo membuka matanya, ia yakin, ia tidak salah dengar, itu suara Naeun. Suara gadis yang dirindukannya selama ini, gadis yang coba untuk dilupakannya namun ia tidak yakin sanggup untuk menghapuskan bayangan gadis itu.

“ Naeun?”

Myungsoo bangkit dari posisi tidurnya, Naeun bisa melihat cukup banyak helaian rambut pria itu yang terjatuh saat Myungsoo merubah posisinya dari tidur menjadi duduk. Sebenarnya sudah separah apa kondisi Myungsoo?

“ Apa kabar, Myungsoo?” Naeun menyentuh tangan pria itu dan menggenggamnya erat.

Woohyun yang berdiri di sudut tirai pembatas antara ranjang Myungsoo dengan ruanga tamu hanya bisa terdiam, ia bisa melihat ada cinta di mata kedua orang itu. Namun keegoisannya bertindak, Naeun sudah menyetujui untuk menjadi kekasihnya berarti wajar kan kalau ia menunjukkan kecemburuannya terhadap perilaku Naeun pada Myungsoo?

“ Myungsoo, bagaimana keadaanmu?”

Myungsoo menoleh dan mendapati Woohyun berjalan ke arahnya. Myungsoo tersenyum, ini pertama kali Naeun menjenguknya dengan membawa Woohyun.

“ Baik… tumben kalian datang bersama.”

“ Ne, sebagai kekasih yang baik, aku mengantarkan Naeun menemuimu.” Woohyun merangkul pundak Naeun dan seketika itu juga wajah Naeun memucat. Ia menatap Myungsoo yang memberikannya pandangan bingung, sedih, kecewa, dan terluka yang menjadi satu. Gadis itu ingin berteriak member penjelasan namun Myungsoo tersenyum ke arahnya, bukan jenis senyuman yang mudah dicernanya karena Myungsoo memberikannya senyum penuh luka.

“ Ah, kalian sekarang berpacaran? Hahaha baguslah… aku kira gadis ini akan terus bersedih karena patah hati denganmu…”

“ Tentu saja tidak, karena aku sudah menyadari perasaanku padanya, aku tidak akan pernah menyia-nyiakan Naeun lagi.” Woohyun tersenyum, ada ketegasan dalam kata-katanya. Walaupun sakit, Myungsoo bisa bernafas lega, setidaknya Naeun sudah menemukan kebahagaiaannya.

“ Kalau begitu selamat…”

***

Naeun mengusap air matanya, entah mengapa ia merasa kesal. Ia tidak suka tindakan Woohyun yang memberitahu Myungsoo kalau ia dan Woohyun sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Naeun benci ekspresi terluka Myungsoo, Naeun bahkan bisa menyadarinya, kalau ada cinta yang tertinggal di sana. Tapi kenapa Myungsoo tidak mengakuinya?

“ Myungsoo kau membuatku gila… aku mencintaimu… aku mencintaimu…”

Naeun duduk di sudut kamarnya yang dingin, ia menekuk kedua kakinya dan menenggelamkan wajahnya di sana. Entah sudah berapa lama ia berada di dalam posisi seperti itu. Namun air matanya tidak kunjung berhenti walaupun ia sudah lelah menangis dan ia sudah lelah mengusap air matanya.

“ Apakah aku harus mengakhiri hubunganku dan Woohyun?”

Naeun bangkit dari posisi duduknya, ia mengambil dua bingkai foto yang berada di atas meja belajarnya. Ia mengusap fotonya bersama Woohyun ketika mereka masih kecil, kemudian ia beralih pada fotonya dan Woohyun ketika ia masih SMA. Ia merindukan masa-masa itu, di mana ia dan Woohyun bisa secara bebas bersama tanpa ada perasaan mengikat sedikit pun. Lalu tangan Naeun beralih ke bingkai sebelahnya di mana ia memajang fotonya dan Myungsoo.

Ia kembali merasakan getaran itu, getaran aneh yang menghantuinya selama ini. Ia menginginkan Myungsoo lebih dari apapun juga.Tapi ia tahu, Myungsoo tidak mau mereka memiliki hubungan khusus. Hanya teman dan tidak lebih. Naeun harus menghargai keputusan Myungsoo seberat apapun itu.

“Myungsoo, benarkah hatimu tidak terbuka sedikit saja untukku?”

***

“ Aku datang sendiri…” Naeun tersenyum dan duduk di samping Myungsoo, pria itu tersenyum. Naeun menyadari tatapan Myungsoo  yang seolah mencari-cari kehadiran sosok lain di belakang gadis itu.

“ Ahahahah… kukira kau datang dengan kekasihmu…” Myungsoo tertawa getir walaupun dalam hati ia menangis.

“ Tidak, aku merindukan saat-saat di mana kita hanya berdua…”

Myungsoo tersentuh ia mengingat semua kenangannya bersama Naeun, perasaan sakit itu tak lagi terbendung. Myungsoo juga menginginkan kehadiran Naeun, tetapi ia tidak bisa menjangkau gadis itu. Gadis itu sudah menjadi milik orang lain.

“ Naeun, bolehkah aku tidur di pangkuanmu? Maaf mungkin permintaanku terdengar lancang apalagi kau sudah memiliki kekasih…”

“ Tidak apa-apa…”

Myungsoo merebahkan kepalanya di pangkuan Naeun sementara gadis itu mengusap rambut pria itu dan menyadari seberapa banyak rambut Myungsoo yang tertinggal di tangannya. Gadis itu terkejut dan ia buru-buru menghepaskan helaian rambut itu ke tanah dan tersapu angin. Gadis itu mati-matian menahan tangisnya saat ia tahu kondisi Myungsoo semakin memburuk.

“ Aku lelah, Naeun… jujur saja, aku lelah… pengobatanku seolah tidak ada artinya.” Myungsoo memandang langit biru yang terbentang luas di depan matanya.

“ Ja… jangan berkata seperti itu, Myungsoo, kau tahu kan semua itu akan ada artinya…”

Myungsoo tersenyum, ia mulai malas menjalani pengobatan namun setiap mengingat Naeun ia akan berusaha semangat walaupun ia tahu sekarang gadis itu telah menjadi milik orang lain.

“ Naeun…”

“ Ya?”

“ Bahagialah bersama Woohyun, ia mencintaimu… kau juga harus mencintainya, jangan cintai aku…”

“ …”

Setitik air mata jatuh di pipi Naeun. Gadis itu menghapusnya dengan cepat dan kembali membelai kepala Myungsoo, kali ini jauh lebih pelan karena tidak ingin membuat rambut Myungsoo rontok semakin banyak.

“ Aku tidak bisa membahagiakanmu, Naeun… apa yang kau harapkan dari pria sepertiku? Aku hanya pria penyakitan yang rusak. Masa depanku tidak ada…”

“ Myungsoo! Geumanhae! Aku benci kau mengatakan kata-kata seperti itu!”

“ Aku…”

“ Jangan bilang kau mengatakan kenyataan, aku yakin semua itu bisa dirubah, Myungsoo, kau harus semangat… aku akan tetap bersamamu…”

“ Aku melihat kau tidak bahagia bersama Woohyun, kenapa?”

“ Aku tidak mencintainya lagi, Myungsoo, aku hanya membohongi diriku dengan berpacaran dengannya. Aku hanya ingin menemukan kebahagiaanku tapi aku tidak bisa.”

“ Naeun kau pasti bisa…”

“ Aku hanya mencintaimu, Myungsoo…”

“ Sudah kukatakan cintai dia, Naeun… mencintai orang yang tidak mencintainya adalah hal yang menyakitkan… jadi cintai dia…”

“ Apa kalau aku mencintainya aku akan bahagia?”

“ Ne dan kalau kau bahagia… aku juga bahagia…”

***

Hari demi hari berlalu begitu cepat, demikian juga minggu demi minggu, tanpa terasa sudah satu bulan Naeun resmi berpacaran dengan Woohyun dan selama itu juga ia lumayan sering mengunjungi Myungsoo bersama Woohyun dan akhirnya mereka tertawa bersama, tidak secanggung dulu. Naeun bahagia bisa menempatkan dirinya di antara Woohyun dan Myungsoo walaupun ia masih tidak bisa mencintai Woohyun, ia hanya bisa mencintai Myungsoo.

Tetapi setidaknya di depan Myungsoo Naeun berusaha memberikan senyuman terbaiknya, memastikan ia bahagia bersama Woohyun. Ia ingin Myungsoo percaya kalau ia bahagia dan ia ingin Myungsoo juga bahagia.

“ Kulihat hubunganmu dan Woohyun semakin baik.”

Myungsoo berkata di sela-sela rasa sakit yang ditimbulkan oleh fisiknya dan juga hatinya. Pria itu bahkan semakin brutal. Dalam sehari ia bisa menghabiskan tujuh sampai sepuluh punting rokok walapun ia harus berakhir di ruang ICU, ia tidak peduli, ia menginginkan Naeun, tapi ia tidak bisa mencapai gadis itu. Hal itu membuat Myungsoo menjadi semakin sakit. Obat dokter tidak lagi berpengaruh baginya, walapun kemoterapi masih terus dijalankan.

“ Ne, aku menuruti kata-katamu. Aku berusaha baik padanya dan berusaha mencintainya, kau benar, ia mencintaiku dengan tulus… aku bahagia bersamanya…”

“ Benarkah? Aku senang mendengarnya…”

“ Kau sudah berjanji, Myungsoo, kau akan bahagia juga karena aku sudah bahagia bersama Woohyun. “

Nada suara Naeun bergetar, namun ia berusaha tersenyum demi meyakinkan actingnya di depan Myungsoo.

“ Jadi kau sudah berhasil menghapus perasanmu padaku?” Myungsoo bertanya dengan nada was-was. Satu sisi ia ingin Naeun mengatakan tidak, satu sisi ia ingin Naeun bahagia dan itu artinya Naeun harus mengatakan iya.

“ N… Ne, aku berusaha… ahahahaaa… se… sejauh ini berhasil.”

“ Baguslah…” Myungsoo berusaha tersenyum sebisa mungkin ia menunjukkan bahwa ia tidak hancur di depan Naeun.

“ Aku sudah bahagia dan kau harus bahagia.”

Bagaimana bisa aku bahagia, kalau sumber kebahagiaanku tidak bisa kumiliki?’

          Myungsoo mengangguk, Naeun langsung menghambur ke pelukan pria itu. Melepaskan semua perasaanya, perasaan yang berkecamuk di dadanya, perasaan yang menyiksanya seakan ingin membunuhnya.

“ Myungsoo, berjanjilah… berjanjilah…” Naeun menangis dalam diam, entah mengapa perasannya tidak enak. Ia merasakan sesuatu seolah tercabut paksa dari hatinya dan ia benci perasaan itu.

“ Aku berjanji, Naeun…”

***

Setelah kepulangan Naeun, keadaan Myungsoo tidak lebih baik. Ia tidak ingin melepaskan gadis itu. Myungsoo mengambil rokok dari dalam saku bajunya, walaupun ibunya sering menyita habis semua rokoknya, Myungsoo selalu punya cara untuk mendapatkan benda itu. Benda yang dibutuhkannya untuk menghilangkan beban pikirannya.

“ Naeun, aku juga mencintaimu.”

Myungsoo tidak bisa menahan perasaannya lebih lama, ia tidak akan pernah bisa mencapai gadis itu, ia tidak mau Naeun terseret ke dalam penderitaannya. Penderitaannya yang panjang dan melelahkan.

Naeun merubah 180 derajat hidupnya menjadi lebih baik, ia mulai bisa berdamai dengan ibunya dan itu adalah kemajuan yang baik. Namun Myungsoo merasa hidupnya tidak lagi berarti tanpa ada Naeun di sisinya. Pria itu merasa hampa, namun ia juga tidak ingin egois.

Myungsoo membuang puntung rokoknya yang baru ia hisap satu kali, menginjaknya sambil meraih ponselnya. Menghubungi seseorang yang sudah lama tidak dihubunginya, namun kali ini ia membutuhkannya.

“ Aku Kim Myungsoo, kau masih mengingatku? Aku membutuhkannya sekarang dalam jumlah yang banyak…”

***

Naeun tidak bisa tidur malam itu, entah mengapa perasaannya terus-menerus gelisah. Gadis itu bolak-balik antara tempat tidurnya dan jendela kamarnya memandang langit yang mendung malam itu. Tidak ada satupun bintang yang biasanya selalu menemani malam-malamnya. Gadis itu kebingungan, ia tidak mengerti kenapa ia tidak bisa memejamkan matanya.

Drrrt

Dering ponsel mengalihkan perhatiannya. Nama Kim ahjumma tertera di displaynya, kegelisahan Naeun berlipat ganda, berkali-kali lipat dari sebelumnya, ia merasa ada yang tidak beres.

“ Yoboseyo… neahjumma ada apa?”

Naeun memasang telinganya baik-baik, tanpa bisa dicegah ponselnya meluncur turun menghantam keramki lantai kamarnya. Gadis itu kehilangan pandangannya karena air mata yang menyeruak tanpa henti.

“ TIDAK TIDAK MUNGKIN!!! KIM MYUNGSOO!”

***

“ Penyakitnya memang semakin parah, tapi bukan itu penyebab kematiannya yang mendadak… Kim Myungsoo meninggal akibat Over dosis obat-obatan terlarang…”

          Naeun tidak bisa lagi menangis, ia berdiri di depan tanah merah yang ditaburi dengan bunga. Gadis itu bahkan tidak bisa menumpahkan emosinya pada setiap orang yang memandang prihatin padanya. Kim ahjumma bahkan masih bisa menangis walaupun ia sudah menangis ribuan kali bersama Naeun.

Gadis itu sangat terpukul, ia tidak bisa menyalurkan air matanya lagi. Air matanya seolah kering. Ia benci akan hal itu, ia ingin meraung dan berteriak sama seperti malam meninggalnya Myungsoo. Namun ia tidak bisa melakukan itu, yang bisa ia lakukan sekarang ada berada di pelukan ayah dan ibunya dan juga Woohyun selama prosesi pemakaman Myungsoo masih dilakukan.

Gadis itu meremas potongan kertas berisi tulisan Myungsoo, untuknya….

Tentu ada penyebab kenapa tiba-tiba Myungsoo overdosis, kenapa pria itu melakukannya? Apa sebab utamanya? Bukankah pria itu baik-baik saja ketika Naeun bertemu dengannya pada siang harinya?

Naeun kembali membuka lipatan kertas yang berisi tulisan tangan Myungsoo yang rapi, membacanya kesekian kali, dan kali ini ia berhasil meneteskan air matanya. Melihat isi tulisan itu ia harusnya senang, tapi kesedihan memayunginya. Ia sama sekali tidak bisa berbahagia, mengetahui penyebab kematian Myungsoo adalah dirinya.

Naeun, aku mencintaimu…

          Aku tahu kau sangat ingin mendengar itu kan? Hahahaha… tapi jangan senang, aku menulis ini bukan untuk memberikanmu harapan palsu, tapi aku ingin mengucapkan selamat tinggal…

          Aku tahu, Naeun… waktu yang Tuhan berikan untukku tidak banyak untuk bersamamu… makanya aku tidak mau kau bersamaku…

          Kau harus bahagia, Naeun… kau sudah berjanji

          Maaf aku tidak dapat memenuhi janjiku, aku tidak bisa bahagia walaupun kau bahagia, karena sumber kebahagiaanku adalah kau…

          Selamat tinggal, Naeun

          Aku berjanji satu hal dan kali ini aku pasti menepatinya…

          Di kehidupan selanjutnya, aku akan menjadi orang yang lebih baik dan aku pasti akan merebutmu dari Woohyun! Hahahaha aku janji

          Ingat, Naeun, berbahagialah!

Kim Myungsoo

“ Aku tunggu janjimu, Kim Myungsoo, aku akan berbahagia untukmu…” Naeun berbisik di pusara Myungsoo sebelum mengikuti langkah kedua orang tuanya yang berjalan lebih dulu sementara Woohyun memeluknya dalam diam.

“ Myungsoo, aku janji…”

Naeun berbisik sebelum masuk ke dalam mobil, ia menghapus air matanya dan tersenyum. Senyum kebahagiaan untuk Myungsoo.

***FIN***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s