[Korean Fanfiction/ Straight/ Series] Never Reachable (Chapter 1 – Silent)

Never Reachable prolog part 1 part 2

Title       : Never Reachable

Author : Kim Saena a.k.a Devi

Rating   : PG13/ NC17 *SMUT SCENE, Straight

Length  : Series

Genre   : Romance, Angst, Drama, Family, Married Life, Tragedy

Cast       :

Main Cast : EXO M – Luhan a.k.a Xi Luhan

Han Heeyoung (Original Character)

Park Jihyo ( Original Character)

Support Cast      : EXO K – Oh Sehun, Park Chanyeol

Infinite – Kim Myungsoo and  Nam Woohyun

Other Cast          : FIND BY YOURSELF!

Disclaimer:           Infinite is belong to God, Woolim Entertainment, and their parents.

EXO is belong to God, SM Entertainment, and their parents.

It’s just for fun. Please don’t sue me.

 If you don’t like this fanfic please don’t bash. Don’t Like… Don’t Read.

Please don’t take this fanfic without permission from me.

If you want to take this fanfic, please take with full credit.

Summary :  Han Hee young selalu bermimpi untuk menjadi istri dari Luhan karena pria itu adalah satu-satunya manusia yang bisa membuatnya panas dingin setiap waktu. Apalagi pria itu merupakan oksigen dan obat penyembuh paling mujarab bagi dirinya yang mengalami broken home sejak smp dan terpaksa tinggal dengan ayahnya yang jarang pulang ke rumah karena terlalu patah hati akibat sang ibu yang meninggalkan ayahnya demi pria lain. Namun impian itu tidak akan pernah terwujud karena Luhan tiba-tiba  dijodohkan dengan Park Jihyo sahabat Heeyoung sendiri. Sakit hati dirasakan oleh Heeyoung melihat sahabat terdekatnya yang tahu semua kisahnya malah akan menikah dengan pria yang diperjuangkannya mati-matian.

Lalu bagaimanakah nasib Heeyoung selanjutnya?Bisakah ia merelakan pria yang dicintainya menikah dengan orang lain? Lalu bagaimana nasib persahabatannya dengan Jihyo akankah persahabatan mereka berdua benar-benar berakhir?

Chapter 1 – Silent

Sometimes silent is just another word of pain – urbanlejen

 

Author Pov

” Nona, anda mau kemana?”

Heeyoung menghentikan langkahnya saat didengarnya sebuah suara memecah hentakan sepatu bertongkat dua belas cm miliknya. Gadis itu berbalik dan menatap wanita paruh baya yang telah menemaninya sejak ia masih bayi. Heeyoung ingin berteriak marah jika saja yang menghentikan langkahnya adalah salah seorang pelayannya yang lain, namun ia tidak berani dengan bibi Jung yang sudah seperti ibu kandungnya sendiri.

” Aku akan pergi berkencan dengan Luhan, ahjumma… Dia bilang hari ini akan nemberitahukan sesuatu yang penting padaku… Hahaha mudah-mudahan saja ia ingin melamarku.”

” Nona, anda masih terlalu muda untuk menikah… Kalau memang Tuan Luhan akan melamar anda… Suruh dia menunggu setidaknya sampai anda lulus kuliah nanti.”

” Hahaha… Tentu saja, ahjumma… Aku pergi dulu yaa.”

Chamkanmanyo, nona…”

Heeyoung menghentikan langkahnya lagi dan berbalik, menunggu kelanjutan ucapan bibi Jung yang menahannya untuk pergi.

” Hari ini jangan pulang terlalu larut, nona… Hari ini Tuan akan kembali dari perjalanan bisnisnya di Africa… Beliau ingin anda makan malam dengannya nona.”

Heeyoung terdiam beberapa saat, gadis itu menatap ragu lantai marmer yang dipijakinya. Seharusnya ia semang mengetahui  sang ayah akan pulang namun hati kecilnya mengatakan hal lain, ia tidak ingin bertemu dengan sang ayah yang tega sering meninggalkannya untuk mengurus pekerjaannya. Ayahnya tidak pernah sama dengan sosok pria yang sejak dulu selalu dikaguminya. Ayahnya berubah drastis sejak ayahnya dan ibunya bercerai.

” Katakan pada appa… Aku tidak bisa… Aku akan pergi sampai malam dengan Luhan.”

 

Tentu saja Heeyoung berbohong, ia bahkan tidak tahu sampai berapa lama ia akan pergi dengan Luhan. Tapi walaupun ia tidak akan pergi sampai malam, ia akan memaksa Luhan menemaninya kemanapun agar ia bisa melewati jam makan malam dengan ayahnya.

” Tapi, nona…”

Ahjumma, aku harus segera pergi.” Heeyoung meninggalkan Jung ahjumma, langkah kakinya kian menipis saat ferarri merahnya terlihat menyambut kedatangannya. Gadis itu segera membuka kunci mobilnya dan masuk ke dalam sana.

” Maaf, appa…”

 

***

” Sayang, maaf menunggu lama.” Heeyoung menghampiri Luhan yang sedang duduk membelakanginya. Gadis itu dengan riangnya memeluk dan mendaratkan ciumannya pada pipi mulus pria yang sudah menjadi kekasihnya selama 4 tahun itu. Salah satu orang yang paling berharga yang dimilikinya selain Jungahjumma dan ayahnya.

” Oh, gwenchana…”

Luhan terlihat aneh hari itu, Heeyoung menyadari perubahan Luhan. Biasanya pria itu akan membalas pelukan dan ciumannya. Tapi kali ini, Luhan hanya diam dan bahkan pria itu menolak untuk menatapnya, Heeyoung merasakan firasat buruk atas perilaku kekasihnya itu.

” Apa kau sudah makan ?”  Luhan memecah keheningan di antara mereka. Heeyoung mengangguk, ia merasa sangat canggung dengan suasana ini.

” Apa yang ingin kau bicarakan, Luhan ?”

Heeyoung tidak tahan dengan suasanan aneh itu, ia ingin Luhan mengakhiri permainannya, ia ingin Luhan menjentikkan jarinya dan muncul beberapa pemusik untuk mengiringi pernyataan manis lelaki itu. Sesuatu yang ditunggu gadis itu sejak semalam, saat pria itu mengatakan kalau ia ingin membicarakan sesuatu dengan Heeyoung.

 

” Sayang aku mencintaimu…” ucap Luhan dan membuat Heeyong tersenyum geli.

Ne, aku tahu… Kau tidak usah mengatakannya lagi.”

” Heeyoungie, aku akan menikah.”

Heeyoung terdiam. Mungkinkah luhan mencoba melamarnya dengan cara yang terkesan unik?

” Aku belum siap menikah, Luhan sayang… Bisakah kau menunggu setidaknya sampai aku lulus kuliah dua tahun lagi ?”

” Aku dijodohkan…”

Heeyoung terdiam, semua bayangan tentang Luhan yang akan melamarnya dengan sejuta cara romantis lenyap sudah seiring dengan tayapan mata pria itu yang penuh keseriusan.

” Hahahaha… Kau bercanda kan ?!”

” Tidak, sayang, appa dan eomma-ku menjodohkanku dengan gadis pilihan mereka. Aku sudah berusaha menolak tapi aku tidak bisa membujuk mereka lebih jauh. Mereka bilang ini adalah salah satu bentuk balas budiku pada mereka.”

” Luhan…”

” Maafkan aku sayang… Aku mencintaimu sampai kapanpun…”

” Kalau kau mencintaiku… Kau akan berusaha mempertahankan hubungan kita… Orang tuamu tahu kan kalau kau sudah memiliki kekasih? Mengapa mereka masih menjodohkanmu? Apa kurangnya aku?”

” Heeyoung, kau pasti bisa mencari pria yang lebih baik dariku.”

Tangisan gadis itu pecah, bulir air matanya menyakiti Luhan. Pria itu tidak akan tega melihat gadisnya menangis sedemikian perih. Tapi kali ini ia harus memberikan Heeyoung pengertian bahwa ia tidak bisa bersama gadis itu lagi.

“ Aku tidak tahu… Mungkin mereka merasa kalau gadis itu mungkin lebih baik untukku.” Luhan menjawab Heeyoung dengan nada yang lebih tenang dari sebelumnya. Ia berusaha menenangkan Heeyooung yang sekarang bersimbah air mata di hadapannya. Hati pria itu sakit tetapi ia berusaha meredamnya.

 

” Lalu kau menerima semuanya?! Luhan… Kau anggap apa hubungan kita selama 4 tahun ini ?! Aku pikir hubungan kita istimewa… Tapi aku salah besar… Kau bahkan tidak mencintaiku segitu besarnya… Sehingga kau tidak bisa mempertahankan hubungan kita.”

” Bu…bukan begitu maksduku, Heeyoung-ah, tapi aku…”

Luhan tidak bisa menjawab. Ia ingin menyangkal tapi kemudian kesadaran lain masuk ke otaknya. Mungkin dengan cara seperti ini, Heeyoung akan cepat membencinya. Gadis itu berhak mendapatkan pria yang jauh lebih baik darinya.

“ Mengapa diam? Baik, Luhan… Diammu kuanggap adalah jawaban ya… Terima kasih atas waktu 4 tahun yang kau sediakan untukku selama ini… Menemani gadis kesepian dan menyedihkan sepertiku.” Heeyoung mengusap air matanya kasar, kemudian berlari meninggalkan Luhan yang tetap mematung. Pria itu hanya bisa membiarkan gadis yang dicintainya pergi sebelum setetes air mata jatuh di pipi putihnya.

“ Heeyoung aku harap kau bahagia meski tanpaku…”

***

Heeyoung melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Ia bahkan tidak lagi peduli dengan nyanyian marah dari mobil-mobil yang berhasil disalipnya. Gadis itu tetap cuek bahkan ketika lampu hijau berganti merah, ia seolah lupa pelajaran tentang rambu lalu lintas. Dengan kecepatan membahayakan, ia melewati lampu merah dan hampir saja mencelakai beberapa motor dan mobil dari arah berlawanan. Tapi sekarang apa pedulinya? Ia bahkan tidak peduli jika hal yang dilakukannya saat ini bisa mengakibatkan ia kehilangan nyawanya.

Luhan adalah hidup bagi Heeyoung. Pria itu adalah segalanya. Kekasih, teman, sahabat, kakak, bahkan orang tua baginya. Saking berharganya Luhan di hidup Heeyoung, gadis itu bahkan bisa lupa caranya bernafas hanya karena ia berada di dekat Luhan. Heeyoung tidak pernah membayangkan hidupnya tanpa Luhan. Tidak pernah sekalipun.

Namun sekarang, ia harus hidup tanpa pria itu di sisinya. Heeyoung yakin Luhan masih mau menjadi kakak baginya tapi apa artinya semua itu jika Luhan tidak berada di sisinya. Jika Luhan bukanlah orang yang akan mendampingi hidupnya sampai tua nanti.

Tinnnnnnnn

Brak!

Heeyoung baru menghentikan laju mobilnya ketika satu klakson panjang dan akhirnya suara tabrakan masuk ke gendang telinganya. Gadis itu sadar ia baru saja menabrak seseorang. Ia menghapus air mata yang sejak tadi menghalangi pandangannya. Gadis itu segera meraih tasnya dan membuka pintu mobilnya tepat pada saat kaca mobilnya diketuk oleh seseorang.

Yaa! Agashi! Anda bisa menyetir atau tidak? Kau tidak tahu kalau kau baru saja menerobos lampu merah?! Kau merusak mobilku! Yaa agashi!!!”

Pemandangan pertama yang Heeyoung lihat adalah penampakkan seorang pria berpostur tinggi dan berwajah tampan sebenarnya kalau saja Heeyoung tidak sedang dalam kondisi kacau, tentu ia akan terpesona dengan keadaan fisik yang dimiliki pria itu.

“ Maaf, aku akan mengganti semuanya… Aku akan mengirim orang suruhanku ke sini… Sekali lagi maafkan aku…” Heeyoung membungkukkan badannya ke arah pria itu dan meninggalkan mobilnya di sana.

Gadis itu bahkan tidak menoleh saat sang pria memanggilnya berulang kali. Heeyoung meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.

Yoboseyo, Seo ahjussi… Aku minta dikirimkan seseorang untuk memperbaiki mobilku sekaligus mobil seseorang yang tanpa sengaja kutabrak… Ne… Cepat bereskan semuanya… Gomawo… Aku ada di kawasan apgeujong…”

Heeyoung berjalan cepat ke arah halte bis terdekat dari sana membuat sang objek yang ditabraknya hanya bisa terdiam dengan mata melotot karena bisa-bisanya gadis itu bersikap santai setelah menabrak mobilnya. Tetapi melihat mata gadis itu yang memerah, sang pria tahu bahwa gadis itu habis menangis. Ia merasa sedikit tidak tega.

“ Hah! gadis yang aneh.” Pria itu berdecak.

“ Tapi sepertinya aku mengenal wajahnya…”

Pria itu memutar otaknya, mencari tahu di mana ia pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya, tidak sampai satu menit ingatan tentang gadis itu merasuki pikirannya.

“ Ah, dia gadis yang…”

***

“ Sudahlah… Terima saja nasibmu… Mungkin Luhan memang bukan jodohmu… Masih banyak pria tampan lain yang menginginkan gadis cantik sepertimu. Ayolah Heeyoung… Come on… Kau harus menerimanya.” Seulra membujuk Heeyoung yang masih menangis sambil meminum vodkanya. Gadis itu tampak berantakan, sama seperti saat ia tahu sang ayah berubah sejak ibunya pergi meninggalkan mereka. Heeyoung tidak akan menyangka bahwa Luhan bisa meninggalkannya juga sama seperti sang ibu meninggalkannya dan sang ayah yang seolah menghindarinya,

“ Aku tidak terima! Hiks.. Luhan milikku… Kalau perlu akan kubunuh gadis yang akan dijodohkan dengannya…” Heeyoung meracau sambil menuangkan minuman beralkohol itu kembali di gelasnya.

“Uhuk uhuk…” Jihyo tiba-tiba tersedak minuman beralkohol ringan miliknya dan berhasil membuat Seulra heran.

“ Kenapa kau?”

“ Ah… Tidak… Tidak… Aku hanya tersedak … Hehehehehe.” Jihyo cengengesan dan berhasil membuat Seulra geram.

“ Aku tahu kau tersedak -_- maksudku… Apa yang membuatmu tersedak?”

“ Sudahlah tidak penting…sampai mana tadi? Luhan akan dijodohkan ? Mungkin orang tuanya punya alasan lain…  ” Jihyo mengalihkan pembicaraan.

“ Alasan apa? Mereka bahkan mengenalku… Dan aku yakin mereka suka padaku… Lalu kenapa harus ada gadis lain?” Heeyoung, entah sejak kapan, sudah berhenti menangis. Rupanya gadis itu sadar kalau kepalanya mulai pusing akibat minumannya dan menangis hanya akan membuatnya bertambah pusing.

“ Mungkin perjanjian antar sahabat? Kau pasti pernah menonton dalam drama ketika dua orang dijodohkan karena orang tuanya bersahabat.”

“ Aku tidak peduli apapun alasannya… Aku hanya tidak ingin… Luhan meninggalkanku… Aku hancur tanpanya… Apa perlu aku memohon pada orang tua Luhan.”

“ Memangnya kau yakin… Orang tua Luhan akan mengabulkannya? Di mana harga dirimu, Heeyoung?! Yaaa! Sadarlahhh kau hanya membuang harga dirimu.” Seulra menarik gelas yang akan diminum Heeyoung membuat gadis itu menatapnya dengan tatapan kesal.

“ Aku akan membuat mereka mengabulkannya…“

“ Sudahlah, Heeeyoung… Kau hanya menyiksa dirimu sendiri, kau bilang kan tadi Luhan bahkan tidak terlihat ingin mempertahankan hubungan kalian. Kalau ia mencintaimu… Ia akan mati-matian mempertahankannya, tapu buktinya ia lebih memilih untuk meninggalkanmu kan ?” Jihyo ikut menjawab, rasa iba muncul saat melihat sahabatnya berada dalam kondisi sangat terpuruk seperti sekarang.

“ Tapi…”

“ Heeyoung, kau harus bisa melupakannya! Luhan tidak pantas mendapatkan cinta sebesar itu darimu… Kau pantas mendapatkan cinta yang lain… Jadi jalan satu-satunya adalah melepaskan dia.”

“ Ta… Tapi…” Heeyoung meraih Jihyo ke dalam pelukannya dan menumpahkan segala keluh kesahnya di sana.

“ Aku akan membantumu, Heeyoung…” Jihyo tersenyum tulus. Sementara di sisi lain, Seulra memandang Jihyo dengan tatapan curiga, ia merasa ada yang aneh dengan perilaku Jihyo. Kata-katanya seolah menyuruh Heeyoung cepat-cepat melupakan Luhan. Padahal dalam kondisi normal, Jihyo yang mungkin paling berapi-api mendukung Heeyoung merebut Luhan, tapi mengapa sekarang perilaku gadis itu terlihat ganjil?

“ Terimakasih… Jihyo, Seulra… Kalian memang sahabat terbaikku…” Heeyoung menyeka air matanya. Setidaknya ia masih memiliki dua orang sahabat dekat walaupun kehadiran mereka hanya memenuhi 1/4 ruang hatinya karena bagian lainnya sudah terlalu penuh dengan Luhan, hingga Heeyoung sendiri bingung bagaimana cara ia hidup tanpa pria itu lagi nantinya.

“ Biar kuantar kau pulang… Mana kunci mobilmu…” Seulra merasa kurang nyaman dengan kecurigaannya pada Jihyo. Namun ia berusaha mengunci pemikirannya agar tidak semakin banyak spekulasi negatif timbul akibat dugaannya sendiri.

“ Tidak bisa…”

Waeyo?”

“ Aku menabrak orang tadi… Mobilku sedang di bengkel… Hehehehehe…”

MWO?!! Aishh kau gila?! Hanya karena Luhan kau jadi seperti ini ?”

“ Kau tahu, Seulra… dia lebih dari sekedar hidupku…” Heeyoung menatap gelasnya dengan tatapan mata kosong, sementara Jihyo menyembunyikan wajahnya.

 

‘Maaf, Heeyoung…’

***

“ HAH! Sial sekali aku hari ini!” Myungsoo mengumpat setelah tahu mobilnya baru bisa diambil minggu depan, sedangkan sekarang ibunya sudah menghubunginya puluhan ribu (?) kali karena ia memang sedang ada janji makan malam dengan kakek dan neneknya. Myungsoo tahu, kakek dan neneknya adalah orang yang sangat menjunjung tinggi kedisiplinan, bisa-bisa sampai di sana, Myungsoo disate (?) karena kelamaan.

“ Maafkan Nona Han, tuan… kami akan melakukan yang terbaik untuk mobil anda. Tuan Seo membungkukkan badanya, mungkin ia tidak sengaja mendengar umpatan Myungsoo. Myungsoo merasa tidak enak, bagaimanapun juga itu bukan salah Tuan Seo.

“ Ahh gwenchana, ahjussi… boleh saya meminta kontak Nona Han Heeyoung, beliau yang harusnya bertanggung jawab atas semua ini…”

“ Ahh, tapi…”

“ Ini adalah kesalahannya… dan saya ingin dia yang bertanggung jawab…”

Tuan Seo kebingungan, satu sisi ia ingin melindungi anak dari bossnya tersebut dan mengatasi urusan yang sebenarnya sepele itu sendiri, di satu sisi ia juga membenarkan perkataan Myungsoo, siapa tahu dengan mengatasi masalah yang ditimbulkannya sendiri. Heeyoung bisa menjadi lebih dewasa.

“ Ba…baiklah Tuan Kim… tapi tolong jangan marahi nona Han…”

Myungsoo mengerutkan keningnya saat menemrima uluran sebuah kartu nama dari Tuan Seo. Matanya menyipit kala membaca nama yang tertera di sana.

“ Han Heeyoung ya?”

Sebuah seringaian muncul di wajah Myungsoo.

***

“ Terima kasih, nona Jihyo… Tuan Han sangat marah tadi saat tahu Nona Heeyoung tidak ada di rumah, sekarang beliau sudah berada di kamarnya…”

“ Ah, jeongmal? Harusnya aku mengantarkan Heeyoung pulang saat makan malam yaa…”

Jung ahjumma melepas sepatu yang dikenakan Heeyoung sementara gadis itu terus meracau tidak jelas akibat meminum banyak alcohol padahal Seulra dan Jihyo sudah melarangnya mati-matian. Jihyo menatap Heeyoung dengan pandangan prihatin. Ia memutuskan untuk duduk di sebelah Heeyoung setelah membantu Jung ahjumma mengangkut Heeyoung menuju kamar gadis itu yang berada di lantai tiga. Untung saja rumah lima lantai itu memiliki lift, kalau tidak, mungkin Jihyo sudah sakit pinggang (?) sejak tadi.

“ Memangnya nona Heeyoung tidak bersama tuan Luhan? Mengapa nona Jihyo yang mengantarkannya pulang?”

“ A… Ah itu… aku tidak tahu, tadi siang, Heeyoung meminta kami menemaninya di café langganan Heeyoung, lalu setelahnya kami pergi ke club malam… aku sama sekali tidak tahu-menahu soal Luhan.” Dusta Jihyo.

“ Ahh begitu… padahal tadi nona Heeyoung berpamitan untuk bertemu dengan Tuan Luhan… apa mereka tidak jadi bertemu ya?”

“ M… mungkin saja…” Jihyo mendadak gugup entah karena apa.

“ Ahh sayang sekali… padahal saya ingin mendengar cerita nona Heeyoung, katanya mungkin Tuan Luhan akan melamarnya hari ini…”

N… nde?!”

Ne, nona Heeyoung dan Tuan Luhan sudah berpacaran selama 4 tahun… mungkin tidak adalah salahnya mereka bertunangan dulu lalu menikah…”

Jihyo menatap karpet di kamar Heeyoung, perasaan bersalah langsung memenuhi hatinya. Gadis itu merasa gelisah, ia hanya tersenyum menanggapi pernyataan Jung Ahjumma. Ia tidak mau mengeluarkan kata-kata apapun yang bisa membuatnya merasa bersalah.

“ Untunglah nona Heeyoung memiliki Tuan Luhan… ia pria yang sangat baik dan sabar menghadapi nona Heeyoung. Kasihan nona Heeyoung, sejak nyonya dan tuan bercerai, ia kehilangan kebahagiaannya, ia hanya memiliki tuan Luhan yang membuatnya tetap bahagia, di saat orang lain mencemoohnya…”

Jung ahjumma menatap Jihyo yang sekarang sedang melamun, mata wanita itu menyipit, dan menyadari perubahan ekspresi Jihyo.

“ Ahh… dan tentu saja nona Jihyo dan nona Seulra, terutama nona Jihyo yang masih mau berteman dengan nona Heeyoung setelah kejadian itu… karena nona Seulra baru mengenal nona Heeyoung saat di universitas kan… nona Jihyo yang tentunya berjasa lebih banyak.”

“ Ahh… a… aniyaaa… aku kan hanya sahabatnya… yang berjasa lebih banyak tentu saja Luhan, dia kan kekasih Heeyoung.” Jihyo mengatakan itu dengan berat hati, entah sejak kapan ia merasakan perasaan bersalah mulai merambati hatinya.

“ Ah jangan merendah, nona… kehadiran nona Jihyo, nona Seulra, dan Tuan Luhan sangatlah berarti… kasihan nona Heeyoung, saya mengenalnya dari kecil, dia gadis yang baik, entah sejak kapan dia mulai berubah menjadi pembangkang seperti ini, selalu bertengkar dengan Tuan… untung saja Tuan Luhan berhasil merubah sikap nona Heeyoung sedikit demi sedikit… alangkah bahagianya saya kalau Tuan Luhan benar-benar akan menikah dengan nona Heeyoung, dia pasti menjaga nona Heeyoung dengan baik.”

“ Begitukah? Hahahaa… semoga saja… Jung ahjumma, maaf saya harus pulang,eomma dan appa pasti menunggu…”

“ Ah, maaf, saya terlalu banyak berbicara… silahkan nona… sekali lagi terima kasih.” Jung ahjumma membungkuk sebelum mengantarkan Jihyo keluar dari kamar Heeyoung.

 

‘Tapi, Luhan akan menikah denganku, bukan dengan Heeyoung.’

***

Drrrt Drrt

Heeyoung menggeliat dalam tidurnya, gadis itu mendengar getaran handphonenya yang beradu dengan nakas. Hal itu berlangsung sejak hampir tiga puluh menit yang lalu dan itu sangat mengganggu. Akhirnya dengan segenap nyawa yang berhasil ia kumpulkan, ia bangkit dari tempat tidurnya dan mengambil ponselnya dari atas sana.

AISHH! Siapa yang berani menganggu tidurku, huh?!”

Gadis itu mengernyit heran saat mendapati ada nomor yang tidak dikenal yang menghubunginya pagi-pagi. Tadinya ia berpikir Luhan yang akan menghubunginya.

“ Yoboseyo… nuguya?”

“ Kau… jemput aku sekarang juga… aku akan mengirimkan alamatnya padamu… aku sudah terlambat… dan jika kau tidak segera datang… lihat saja apa yang akan kulakukan nanti…”

“ HAH?! Siapa kau dan kenapa kau dengan seenaknya menyuruhku? Aku tidak mengenalmu…”

“ Baiklah, nona Heeyoung yang terhormat, apa kau ingat kemarin kau sudah merusak mobilku? Huh? Kau membuatku kesulitan karena tidak memiliki mobil! Sampai mobil itu selesai diperbaiki, kau harus mau jadi supir pribadiku!”

“ Hah? Oh! Kau! Aku kan sudah menyuruh orang untuk memperbaikinya… jadi apalagi?”

“ Kan aku sudah bilang, sampai mobilku keluar dari bengkel, kau harus mau menjadi supir pribadiku…”

“ HAH? ENAK SAJA! Shireoo!”

“ Jadi kau mau lari dari tanggung jawab?”

“ Tidak! Aku kan sudah memperbaiki mobilmu… jadi apalagi?!” Heeyoung mulai kesal karena sosok yang kemarin ditabraknya entah kenapa ingin sekali mengganggunya.

Tsk! Apa kau tidak dengar? Sampai mobilku sembuh! Itu semua masih tanggung jawabmu!”

“ Baiklah… aku akan membelikan mobil baru untukmu, puas?!”

“ Jangan asal bicara, nona Han… mobilku tidak diproduksi di sini…”

“ Sombong sekali…”

“ Kau yang sombong! Apa susahnya menjadi supir pribadiku? Aku akan memberimu keuntungan.”

“ HAH! Berhenti main-main… berapa yang kau minta… kirimkan nomor rekeningmu…”

Heeyoung mematikan sambungan ponselnya, ia merasa kesal karena pria yang tidak dikenalnya itu tiba-tiba menghubunginya dan menyuruhnya menjadi supir pribadi pria itu. Memangnya dia pikir dia siapa?

OMONA! Sudah jam 10! Aigooo! Aku ada kelas jam 10.30!”

Heeyoung segera melompat dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi sambil menyerukan berbagai macam sumpah serapah.

***

“ LUHAN! KENAPA KAU TIDAK MENJEMPUTKU?! KAU KAN TAHU AKU ADA KELAS JAM 10.30 DAN AKU SUDAH TERLAMBAT! DATANG KE SINI! AH YAA… JANGAN GUNAKAN MOBIL…TERLALU LAMA… PAKAI MOTORMU SAJA… JEMPUT AKU…”

Heeyoung dengan panic memasukkan buku-buku kuliahnya ke dalam tas sambil menyisir rambutnya. Gadis itu panic luar biasa karena mengingat dosen di jam pertama adalah dosen yang sangat killer dan mungkin akan membunuhnya kalau sampai ia terlambat mengingat nilai Heeyoung untuk mata kuliah itu sangatlah minim.

Luhan terdiam sambil memegangi ponselnya, pria itu mengira Heeyoung akan marah padanya. Tapi nyatanya gadis itu tetap bersikap biasa pada Luhan, hal itu membuat Luhan menarik nafas lega. Setidaknya ia belum kehilangan Heeyoung sepenuhnya.

“ Heeyoung-ah… kau sudah tidak marah padaku?” nada suara Luhan terdengar riang.

“ Marah?! Yaa aku marah karena kau terlambat men… jem… put… ku…” Heeyoung meletakkan ponselnya di atas meja rias. Ia berhasil mengingat potongan kejadian yang terjadi kemarin siang, di mana Luhan memberitahukan padanya perihal rencana perjodohan pria itu. Heeyoung tahu harusnya ia tidak menghubungi Luhan lagi.

“ Heeyoung-ah… Heeyoung-ah… kau masih di sana? Aku akan menjemputmu sebentar lagi…”

Suara Luhan yang terdengar di ponselnya membuat Heeyoung tersadar , gadis itu segera mematikan sambungan teleponnya.

“ Aish… apa yang kulakukan, huh? Dia bukan milikku lagi…” Gadis itu memandang display ponselnya yang menampilkan fotonya dan foto Luhan.  Heeyoung menghela nafasnya, tangannya bergerak mencabut baterai ponselnya. Lalu menghempaskan benda itu ke atas meja riasnya.

Heeyoung segera beranjak dari sana, sebelum air matanya jatuh…

***

“ Han Heeyoung… saya sudah berbaik hati untuk memberikan anda tugas tambahan mengingat nilai anda yang sangat buruk di mata kuliah saya… tapi apa yang saya lihat sekarang adalah anda menyia-nyiakan kesempatan yang saya berikan pada anda. Saya kecewa… saya pikir anda bisa berubah tapi nyatanya… anda tidak melakukan itu dengan maksimal, berarti kesimpulannya adalah anda tidak berniat lulus di mata kuliah saya… dengan berat hati, nona Han, saya tidak bisa meluluskan anda di mata kuliah ini…”

Heeyoung hanya menunduk, ia tahu berpasang-pasang mata di dalam kelasnya, sedang menonton dan mentertawakan penderitaannya. Karena terlambat, Heeyoung lupa membawa tabung berisi gambar yang harus diserahkan pada Professor Yoon, akhirnya Heeyoung terpaksa mendapat malu dengan cara dipajang di depan kelas dan dinyatakan tidak lulus secara terang-terangan.

“ Baiklah… Terima kasih karena anda bersedia mengajar saya, prof… maaf karena saya bukan murid yang baik…”

Heeyoung mengangkat wajahnya, ekspresinya sangat datar, seolah-olah apa yang dikatakan Professor Yoon adalah hal yang biasa. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, maupun menunggu jawaban Professor Yoon, Heeyoung segera melangkahkan kakinya keluar kelas diiringi tatapan kaget dari semua murid yang ada di sana.

“ Baiklah, kita lanjutkan… jadikan ini pelajaran, jangan pernah main-main di kelas saya, saya tidak akan segan-segan untuk tidak meluluskan kalian di mata kuliah saya.”

Jihyo yang duduk tidak jauh dari jendela memandang kepergian Heeyoung dengan tatapan bersalah. Ia tahu kekacauan yang dialami Heeyoung saat ini tidak lain dan tidak bukan adalah karena kesalahan Luhan dan itu berarti juga kesalahannya.

“ Kasihan Heeyoung, ia tidak pernah sekacau ini sejak aku mengenalnya… Woah… apakah ia seperti ini juga saat ibunya bercerai dengan ayahnya?”

Nde?” Jihyo mengingat bagaimana kacaunya Heeyoung saat ibunya baru saja pergi dari rumah pasca perceraian dengan ayahnya. Bagaimana ekspresi terluka gadis itu yang tertera sangat jelas di wajahnya. Jihyo bisa merasakan aura itu kembali pada Heeyoung, aura kekelaman dan kepedihan yang luar biasa.

“ Aku sungguh ingin membunuh calon istri Luhan… Tsk… mudah-mudahan mereka tidak jadi menikah… aku kasihan pada Heeyoung, ia tidak memiliki banyak orang yang menyukainya… aku yakin mayoritas gadis-gadis di sini membencinya karena ia pacaran dengan Luhan, yang notabene popular,  pria-pria juga mendekatinya pasti karena harta yang dimilikinya… Tsk… yang dipunyai Heeyoung hanyalah kita… kita harus menghiburnya.”

Jihyo hanya tersenyum, ia tidak tahu harus mengatakan apa pada Seulra, ia sendiri mungkin sebentar lagi akan dibenci oleh Heeyoung, jadi apa yang harus dikatakannya untuk menghibur gadis itu.

“ Jihyo-ah… apa kau mendengarku?”

“ Ahh.. nde… kita harus menjadi sahabat yang baik untuknya…”

Ne, aku jadi ingin cepat-cepat mencarikan jodoh untuk Heeyoung, kasihan sekali dia.”

Jihyo menatap papan tulis dan Professor Yoon sudah menuliskan beberapa kata di sana. Ia segera mengambil buku catatannya dan membuka halamannya dengan terburu-buru, tanpa ia sadari sebuah foto jatuh dari salah satu halamannya. Jihyo mengambilnya dan memandang foto itu.

Foto dirinya, Heeyoung, dan Luhan yang merangkul Heeyoung, foto yang diambil saat mereka duduk di bangku SMA.

Jihyo tersenyum, sebentar lagi ia yang akan menggantikan posisi Heeyoung. Hal itu membuat perasaan bersalah di dadanya kian memudar.

 

          ‘Relakan dia untukku, Heeyoung-ah’

***

Myungsoo berlari memasuki pelataran kampus. Sesekali ia melirik arloji yang melingkari tangan kirinya. Ia sudah terlambat sepuluh menit, ini semua akibat ulah Heeyoung yang menolak untuk mengantarnya. Sudah ia duga wanita setipe Heeyoung tidak akan dengan mudah menuruti permintaannya.

Sebenarnya Myungsoo hanya iseng karena ia tidak sengaja mendengar pembicaraan Tuan Seo dengan pemilik bengkel langganan Heeyoung itu. Lebih tepatnya bengkel milik teman ayah gadis itu.

Flashback

“ Jadi ini ulah Heeyoung lagi?”

          “ Benar, Tuan Lee, nona Heeyoung tidak sengaja menabrak mobil orang dan akhirnya harus dikirim ke sini…”

          Tuan Seo menjelaskan duduk perkaranya dengan detail dari yang diketahuinya dari saksi mata dan Myungsoo karena sang tersangka sendiri, Heeyoung, langsung melarikan diri setelah Myungsoo menegur gadis itu. Tuan Lee tampaknya sudah paham tentang watak Heeyoung, pria bermata sipit itu hanya tertawa dan sesekali menanyakan kabar Tuan Han, ayah Heeyoung pada Tuan Seo.

          “ Tuan Han jarang berada di rumah, tuan… sejak tuan bercerai dengan nyonya… Tuan Han hampir tidak pernah berada di rumah, ia selalu menyibukkan diri dengan mengambil banyak pekerjaan di luar negeri. Nona Heeyoung merasa kesepian karena sejak kejadian itu ia selalu diledek dan dihina olah teman-temannya… entah siapa pelakunya… dia jahat sekali… “

          “ Ahh ya kasus waktu itu yaa… Kyujoong banyak bercerita padaku…ia tidak tahu siapa pelakunya tapi yang jelas itu sangat mengganggu mental Heeyoung, harusnya Kyujoong lebih memperhatikan anaknya… bukannya malah seperti ini… aigooo… wajar kalau Heeyoung melampiaskan kekecewaannya seperti ini.”

          Myungsoo semakin tertarik menguping pembicaraan yang tidak sengaja didengarnya itu. Jadi gadis yang barusa menabraknya memang memiliki segudang masalah, Myungsoo prihatin mendengarnya. Entah mengapa ia merasa kasihan dengan gadis itu.

          “ Gadis itu sebenarnya baik… sayang hidupnya terlalu pahit…”

          “ Ne, tuan… nona Heeyoung sangat membutuhkan kasih sayang, untung saja ia memiliki kekasih yang baik.”

          “ Jinjja? Heeyoung sudah memiliki kekasih? Padahal aku baru saja berniat menjodohkannya dengan anakku… hahahahaha….”

          Tuan Lee kembali tertawa sampai matanya tenggelam. Myungsoo baru saja akan kembali menguping saat bunyi dering handphonenya memecah suasana, pria itu keluar dari ruangan dan mengangkat panggilan dari ibunya. Lima menit kemudian setelah ia kembali, Tuan Seo dan Tuan Lee sudah selesai berbicara.

End of the flashback

Hal itulah yang entah mengapa membuat Myungsoo penasaran dengan gadis itu, selain itu ada hal lainnya yang memicu Myungsoo ingin sedikit memberikan pelajaran pada gadis itu.

Bayangan gadis itu bahkan belum beranjak dari pikirannya saat ia melihat gadis itu benar-benar ada di depannya. Tidak jauh dari jalan setapak yang sedang dilaluinya menuju kelas. Myungsoo bahkan berhenti untuk memperjelas tatapannya, tapi ia tidak salah, itu memang gadis yang sama dengan gadis yang ada dipikirannya. Ia hafal dengan wajah gadis itu walaupun ia belum gadis itu secara langsung.

“ Han Heeyoung…”

Heeyoung menendang buah pinus yang berada di dekat kakinya. Gadis itu sama sekali tidak sedih karena terpaksa tidak lulus mata kuliah Professor Yoon, karena menurutnya itu sama sekali bukan hal yang penting. Selama ini ia kuliah, bukan untuk menyenangkan ayahnya, melainkan untuk menyenangkan Luhan, ia kuliah setelah dibujuk Luhan dan karena universitas yang dipilihnya sama dengan Luhan, gadis itu mau, dan hal lainnya adalah ia dan kedua sahabatnya berada di jurusan yang sama bahkan di kelas yang sama.

Myungsoo terus memandangi gadis itu, ia baru saja akan melangkah mendekati Heeyoung saat tiba-tiba ia tersadar, ia harus segera ke kelas. Myungsoo segera beranjak dari sana dan meninggalkan Heeyoung yang bahkan tidak menyadari kehadirannya.

***

“ Heeyoung, sudahlah! Kau harus terus menjalani hidupmu… Luhan dan Professor Yoon bukan segalanya.” Seulra menggamit lengan Heeyoung setelah kelas mereka berakhir siang itu.

“ Hih! Siapa juga kerajinan mikiran Prof Yoon, ogah amat kali…” Heeyoung melangkah malas-malasan. Ia sedang tidak mood sekarang ini. Sepanjang pelajaran tadi, yang untungnya adalah teori dan hanya satu pelajaran yang berhubungan dengan gambar, yakni pelajaran Professor Yoon, Heeyoung hanya menggores bukunya dengan tulisan-tulisan tidak jelas, ia bahkan tidak tahu apa yang dijelaskan dosen di depan sana. Pikirannya terlalu penuh dengan Luhan.

“ Jangan juga memikirkan Luhan…”

“ Seulra, Please… aku tidak ingin membahasanya…”

Heeyoung baru saja melaju beberapa langkah saat tiba-tiba seorang pria menabraknya dan langsung memeluknya. Heeyoung terpaku, begitu juga Seulra dan Jihyo yang langsung membeku di tempat. Tanpa melihat siapa sosoknya, Heeyoung sudah terlalu afal lekuk tubuh pria itu.

“ Luhan, lepaskan aku…” Heeyoung berusaha menormalkan suaranya, di tengah debaran detak jantungnya yang tidak normal.

“ Heeyoung aku mencarimu kemana-mana… kau tahu… sejak kau mematikan sambungan teleponmu dan aku mencoba menghubungimu kembali tapi tidak aktif… semua pikiran buruk tentangmu langsung bermunculan…” Luhan enggan melepaskan pelukannya, bagaimanapun juga wanita itu adalah wanita yang mengisi kehidupannya selama empat tahun. Tidak semudah itu ia melepaskan Heeyoung, gadis yang dicintainya mati-matian.

“ LUHAN! KUBILANG LEPAS!” Heeyoung berteriak, sehingga membuat beberapa pasang mata tertarik menyaksikan kejadian itu.

Luhan menurut, ia melepaskan pelukannya, tapi tatapannya tidak lepas dari Heeyoung, terlihat kalau Luhan sangat mengkhawatirkan gadis itu.

“ Jangan cari aku lagi… Bukankah semuanya sudah jelas? ” Heeyoung mendesis, berusaha agar suaranya tidak terdengar, karena ia menyadari sejak tadi banyak fans Luhan yang menunjuk-nunjuk dirinya sambil tertawa geli, mereka tentu senang kalau hubungannya dan Luhan berada dalam masalah.

“ Heeyoung-ah…”

Luhan mengguncang tangan Heeyoung, entah mengapa ia bahkan tidak peduli pada tatapan sakit hati yang dilemparkan Jihyo padanya. Jelas, wanita mana yang tidak sakit hati di saat calon suaminya bahkan sampai harus memohon pada wanita lain?

“ Lepaskan dia Luhan…” Seulra menarik paksa Heeyoung dari genggaman Luhan, sementara Heeyoung terpaku, ia tidak bisa berkata-kata, air matanya sudah terlanjur menggenangi pelupuk matanya.

“ Luhan, kau tidak pantas berkata-kata di depan Heeyoung seolah semua baik-baik saja, oppa tidak usah dekati dia lagi… urusi saja calon istrimu…” Seulra menatap Luhan tajam sementara Luhan menatap Heeyoung dengan perasaan bersalah.

“ Heeyoung, ayooo…” Seulra menarik tangan Heeyoung kasar, sementara Jihyo masih tetap terpaku tanpa kata-kata.

“ JIHYO! Ayo…”

“ Ahhh ne…” Jihyo segera meninggalkan tempat itu tanpa menoleh pada Luhan ataupun sekedar menyapa pria itu.

Setelah beberapa langkah barulah Jihyo menoleh, ia menatap Luhan yang masih terdiam di sana. Tatapan pria itu… tatapan yang sangat terluka.

***

“ Heeyoung harusnya kau tepis saja dia… kenapa kau malah diam? Dia kan sudah menyakiti hatimu…”

Molla, mendengar nada memelasnya dan juga tatapannya yang tulus… aku tahu dia masih mencintaiku… mungkinkah aku harus mempercayainya?”

Seulra segera menghadap Heeyoung dan berdiri tepat di depan gadis itu, setengah tidak percaya dengan apa yang dikatakan Heeyoung.

“ Apa maksudmu?”

“ Aku… mungkin aku bisa… bisa tetap menjalin hubungan dengannya walaupun ia sudah menikah… lalu aku akan perlahan membujuk Luhan untuk menceraikan istrinya…”

PRANG!

“ JIHYO! Neo gwenchana?!”

Heeyoung yang berada tepat di sebelah Jihyo buru-buru membantu Jihyo membersihkan celana jeansnya yang terkena tumpahan Americano yang dipesannya. Tiba-tiba saja cangkir panas itu meluncur turun dari tangannya, memecah keheningan café itu dengan suara pecahannya.

Ne, aish… hahahaha… tanganku licin jadi tiba-tiba gelasnya jatuh…” Jihyo tersenyum kikuk sementara tangannya membersihkan tumpahan kopi itu di pakaiannya.

“ Lain kali hati-hati…” Heeyoung masih membantu Jihyo membersihkan tumpahan kopi itu yang mengenai tas Jihyo dan buku kuliahnya.

Seulra menatap Jihyo curiga, mungkin Jihyo bisa bersikap biasa saja di depan Heeyoung, tapi Seulra terlalu pintar untuk sekedar dibohongi.

“ Jihyo-ah… belakangan ini kau terlihat sering melamun, apa kau ada masalah?” Seulra menatap Jihyo dengan tatapan yang bisa dibilang sedikit curiga.

“ Ahh… hahahaha… tidak, memangnya kenapa?”

“ Hanya saja kau kuperhatikan sepertinya tidak lagi peduli pada masalah Heeyoung…”

Jihyo menggerutu dalam hatinya, kenapa harus selalu Heeyoung yang mendapat perhatian lebih? Apa ia tidak boleh memiliki masalah? Heeyoung… selalu Heeyoung…

“ Itu hanya perasaanmu saja…”

Jihyo baru saja menyelesaikan kalimatnya ketika tiba-tiba seorang pria menarik Heeyoung yang baru saja meletakkan cangkirnya. Jihyo terpaku menatap pria itu. Ia bahkan tidak mendengar pertengkaran antara Heeyoung dan pria itu. Hal yang membuat ia heran adalah bagaimana bisa pria itu ada di sana dan apa hubungan pria itu dengan Heeyoung. Beberapa saat kemudian, pria itu berhasil menarik Heeyoung dan membuat gadis itu mengumpat sepanjang jalan.

YAA! Kau mau membawaku kemana? Lepaskan! Seulra! Jihyo! Tolong aku… pria ini berusaha menculikku!” Heeyoung heboh sementara pria yang mengenakan hoodie untuk menutupi wajahnya itu hanya menyeringai kecil sambil tetap menyeret Heeyoung.

Seulra kebingungan, ia tidak bisa berteriak ataupun menolong, ia sendiri masih kaget karena ia mengenal sosok yang baru menarik Heeyoung keluar. Gadis itu hanya bisa diam sementara ia melirik Jihyo yang juga terpaku. Gadis itu mengernyitkan dahinya, harusnya Jihyo tidak mengenal sosok pria itu tapi kenapa tatapan gadis itu seolah-olah dia mengenalnya?

“K… Kim Myungsoo…”kata-kata itu meluncur turun dari bibir Jihyo tanpa bisa dicegah.

***

To Be Continued

 NEXT : Every Heart (Oneshoot) (Woorong)

2 thoughts on “[Korean Fanfiction/ Straight/ Series] Never Reachable (Chapter 1 – Silent)

  1. OMG DEMI AOAAAN GW LUPA NAKA SAHABAT NYA HEEYONG ITU JIYO YG DI JODOHKAN ㅋㅋㅋㅋ*plakkk cape deh
    Jiyooo kenang bnyak ya kali ini ck
    coba dia jujur pasti tuh persahabatan ancur detik itu juga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s