[Korean Fanfiction/ Straight/ Series] Never Reachable (Chapter 2)

Never Reachable prolog part 1 part 2

Title       : Never Reachable

Author : Kim Saena a.k.a Devi

Rating   : PG13/ NC17 *SMUT SCENE, Straight

Length  : Series

Genre   : Romance, Angst, Drama, Family, Married Life, Tragedy

Cast       :

Main Cast : EXO M – Luhan a.k.a Xi Luhan

Han Heeyoung (Original Character)

Park Jihyo ( Original Character)

Support Cast      : EXO K – Oh Sehun, Park Chanyeol

Infinite – Kim Myungsoo and  Nam Woohyun

Other Cast          : FIND BY YOURSELF!

Disclaimer:           Infinite is belong to God, Woolim Entertainment, and their parents.

EXO is belong to God, SM Entertainment, and their parents.

It’s just for fun. Please don’t sue me.

 If you don’t like this fanfic please don’t bash. Don’t Like… Don’t Read.

Please don’t take this fanfic without permission from me.

If you want to take this fanfic, please take with full credit.

 

Summary :  Han Hee young selalu bermimpi untuk menjadi istri dari Luhan karena pria itu adalah satu-satunya manusia yang bisa membuatnya panas dingin setiap waktu. Apalagi pria itu merupakan oksigen dan obat penyembuh paling mujarab bagi dirinya yang mengalami broken home sejak smp dan terpaksa tinggal dengan ayahnya yang jarang pulang ke rumah karena terlalu patah hati akibat sang ibu yang meninggalkan ayahnya demi pria lain. Namun impian itu tidak akan pernah terwujud karena Luhan tiba-tiba  dijodohkan dengan Park Jihyo sahabat Heeyoung sendiri. Sakit hati dirasakan oleh Heeyoung melihat sahabat terdekatnya yang tahu semua kisahnya malah akan menikah dengan pria yang diperjuangkannya mati-matian.

Lalu bagaimanakah nasib Heeyoung selanjutnya?Bisakah ia merelakan pria yang dicintainya menikah dengan orang lain? Lalu bagaimana nasib persahabatannya dengan Jihyo akankah persahabatan mereka berdua benar-benar berakhir?

Chapter 2 – Change Everything

Author Pov

YAA! Dasar pria gila! Kau mau membawaku kemana? Aku akan menghubungi orang suruhan ayahku untuk melaporkanmu ke polisi! Yaa! Lepaskan!”

Heeyoung memberontak hebat, sementara pria itu, Kim Myungsoo, tidak melepaskan tangan gadis itu barang sedetik pun.

YAA!! Kau bisa mendengarku kan?”

Myungsoo menarik Heeyoung dalam diam, membuat gadis itu semakin ngeri, bagaimanapun juga walaupun dari segi penampilan, pria itu cukup menawan dan sepertinya tidak mencurigakan, tapi dari sikapnya, Heeyoung patut curiga.

“ Bisakah kau berhenti berteriak? Sepanjang jalan banyak yang memperhatikanmu…”

“ Siapa? Jalan yang kau lalui bahkan tidak ada manusia seorangpun… lagipula aku patut curiga… aku tidak mengenalmu! Lalu kau menarikku tiba-tiba dan membawaku ke jalanan yang bahkan kucing saja tidak melewatinya! Lantas bagaimana bisa aku tidak curiga padamu? Tsk…”

“ Nona Han, yang pertama adalah aku sudah menghubungimu tadi pagi dan mengatakan kau harus mau menjadi supir pribadiku… dan yang kedua ini adalah jalan pintas dari café tadi ke parkiran kampus! Sana… ambil mobilmu…” Myungsoo mendorong tubuh Heeyoung pelan.

“ Aku tidak mau! Kurasa jawabanku tadi pagi sudah cukup jelas kan, tuan yang bahkan tidak kuketahui namanya…”

“ Namaku Kim Myungsoo, harusnya kau mengenalku kalau kau cukup peduli pada lingkungan sekitar…”

“ Kau? Siapa? Murid popular di kampus ini? Satu jurusan denganku? Maaf… aku tidak peduli…”

“ Terserahlah… sana ambil mobilmu… aku akan menunggu di sini…”

“ Tidak akan! Pulang saja naik taxi!”

Heeyoung baru akan melangkah melewati pria itu saat tangannya digenggam, kali ini tidak sekuat tadi, namun tetap membuat Heeyoung tidak bisa melangkah.

“ Lepaskan, atau…”

Myungsoo diam, pria itu menatap Heeyoung dengan tatapan khasnya, tatapan yang membuat hampir seluruh wanita bertekuk lutut padanya, namun tidak dengan Heeyoung, gadis itu sudah terlalu dibutakan oleh pesona Luhan.

“ Tidak! Aku bilang tidak akan…”

“ Baiklah…”

Dengan satu tangan, Heeyoung merogoh tasnya, mencari sesuatu di sana. Gadis itu terdiam, lalu dengan kesadaran yang tersisa, ia mengingatnya. Handphonenya tertinggal di rumah.

Gadis itu mengumpat pelan, namun enggan terlihat bodoh di depan Myungsoo yang sudah memasang seringaian liciknya. Gadis itu tetap pada pendiriannya, berdiri menantang Myungsoo dengan tatapannya yang mematikan. Walaupun mungkin baru bertemu dua kali dengan pria itu, Heeyoung sudah benci dengannya.

“ Apa maumu sekarang?”

“ Sepertinya kau tidak punya pilihan, nona Han… kau mau mengadu ke ayahmu? Silahkan… karena kau akan menyesal… lihat saja besok.”

Masih dengan perasaan kesal, Heeyoung berjalan mendahului Myungsoo setelah sebelumnya menyentak kasar tangan pria itu. Untuk kali ini, ia kalah, walaupun ia masih belum mengerti maksud perkataan Myungsoo.

“ Besok? Memangnya ada apa dengan hari esok? Tsk…”

***

“ Kau mengenalnya?” Seulra berjalan berdampingan dengan Jihyo yang tiba-tiba mendadak pucat setelah bertemu dengan Myungsoo.

“ Siapa?”

“ Kim Myungsoo, Asisten Nam Seongsaenim yang baru saja lulus tahun kemarin, ahhh iyaaa… kau kan tidak masuk minggu lalu, jelas saja kau tidak tahu… hahahaha…”

MWO? Ja… jadi di… dia akan selalu ada pada jam pelajaran Nam Seongsaenim? Membantu Nam Seongsaenim begitu?”

Seulra mengernyitkan dahinya bingung, kenapa reaksi Jihyo sepertinya terlalu ganjil?

“ Nam Seongsaenim ada urusan di luar negeri sampai bulan depan… jadi Myungsoo yang akan mengajar kita menggantikan Nam seongsaenim… eh, dia hebat loh! Dia seumur kita tapi sudah lulus tahun lalu! Tsk… aku kagum… coba kau ada minggu lalu! Kau pasti tahu betapa banyak anak kelas kita yang tiba-tiba berubah menjadi centil.“

“ Ah… begitu…” Jihyo menganggukkan kepalanya, mendadak ia pusing, mengetahui ia mungkin akan sering bertemu dengan pria itu.

“ Kau kenal dengannya? Kok kau tahu namanya? Kenal di mana?” Seulra semakin bersemangat menanyakan berbagai macam hal pada Jihyo apalagi melihat reaksi Jihyo yang seperti habis bertemu hantu. Pucat dan sering melamun, walapun memang entah mengapa belakangan ini gadis itu terlalu sering melamun.

“ Ahhh itu… dia hanya teman SMP-ku….”

“ AH! Begitu… berarti kau kenal dengannya ya? Hebat…”

Ne, tapi sepertinya ia lupa padaku…”

“ Ahh, sayang sekali… padahal aku baru mau meminta tolong padamu untuk mencomblangkan aku dengan Myungsoo… dia mempesona sekali… astaga!”

Jihyo hanya tersenyum tipis, namun mendung belum hilang dari wajahnya. Apalagi ia kebingungan darimana Myungsoo bisa kenal dengan Heeyoung. Apa mungkin mereka teman?

You must not know ’bout me …. You must not know ’bout me….  I could have another you in a minute… Matter fact he’ll be here in a minute, baby

          Lagu Irreplaceable Beyonce yang menandakan dering ponsel Jihyo, berhasil menyadarkan gadis itu. Ia segera mengangkat panggilan yang berasal dari ibunya itu.

         “ Yoboseyo… Ada apa, eomma?”

           “….”

           “ Ahhh aku ingat, eomma… aku akan langsung ke sana…”

           “…”

           “ I… itu tidak mungkin, eomma… jadwal kami berbeda.”Jihyo meringis, setengah merajuk pada ibunya.

           Hari ini ia dan Luhan harusnya mencari cincin tunangan mereka, namun Jihyo sepertinya melupakan hal tersebut karena sang ibu sampai harus menghubunginya. Sebenarnya tidak masalah, walaupun nanti Luhan akan bersikap acuh tak acuh padanya. Hanya saja permintaan ibunya yang menginginkan ia berangkat dari kampus bersama Luhan yang tidak mungkin dilakukannya, apalagi sekarang Seulra berada tepat di sampingnya. Jihyo harus berkata setengah berbisik agar Seulra tidak tahu apa yang dibicarakannya.

           “ …”

           “ Eomma! Yaa! Tidak bisa…”

           “…”

           “ Eomma saja yang pergi dengan… Ahh… pokoknya eomma saja, aku tidak mau dipaksa…”

           “…”

           “Aishne, aku ke sana…”

           Jihyo memutuskan sambungan teleponnya sambil menghentakkan kakinya. Ia kesal bukan main, sifat ibunya yang memang sedikit pemaksa menyulitkannya.

           “ Ada apa? Kau disuruh apa oleh ibumu?”

           “ Ah, eh, oh… hehehehe… tidak… ibu menyuruhku mengambil pesanan di butik langganannya dan sebelumnya aku disuruh menjemput keponakanku dulu dari sekolahnya… aku bilang aku ingin langsung ke butik… tapi ibu melarang… ia memaksaku menjemput keponakanku dulu.”

           “ Ah begitu… baiklah, aku pulang naik bis saja… sudah sana!”

           Seulra memang tidak membawa mobilnya, gadis itu sedang dihukum oleh ayahnya, selama seminggu, seluruh fasilitasnya dicabut, sehingga ia harus menumpang pada Heeyoung atau Jihyo, biasanya ia lebih sering menumpang pada Heeyoung karena mereka searah namun kali ini karena Heeyoung sedang menjadi korban penculikkan oleh seorang Kim Myungsoo, terpaksa Seulra menumpang pada Jihyo.

           “ Ahh, aku… aku benar-benar tidak enak, Seulra-ah…”

           “ Gwenchana…”

           “ Jeongmal Mianhae… aku benar-benar tidak enak, padahal janjinya aku mengantarkanmu sampai rumah kan…”

           “ Gwenchana… sudah sanaa! Nanti keponakanmu menunggu.”

           “ Ne, annyeong… aku duluan ya…” Jihyo melambaikan tangannya pada Seulra dan melangkah pergi dari sana, setengah berlari.

           Seulra menatap kepergian Jihyo dengan kening berkerut. Samar-samar ia mendengar suara ibu Jihyo dari sebrang sana menyebut-nyebut nama Luhan.

           “ Ahh mungkin hanya perasaanku saja… apa nama keponakan Jihyo Luhan ya? Wahh… kebetulan sekali… TskTskTsk…”

***

           “ Ada Apa?”

           Jihyo gugup mendadak, apalagi nada suara Luhan sangat tidak enak untuk didengar. Ia benci dengan nada suara Luhan yang tiba-tiba berubah padanya, padahal dulu, pria itu sangat lembut pada semua orang, termasuk Jihyo.

           “ I… itu, eomma meminta kita berangkat bersama ke toko untuk membeli cincin…”

           “ Aku membawa motor…”

           Jihyo menggigiti bibirnya, ia benar-benar takut ibunya akan marah, tetapi ia lebih takut jika Luhan yang marah, jika ia memaksa pria itu.

           “ T… tapi, Luhan…”

           “ Begini saja, kita bertemu di depan kedai ice cream yang beberapa blok jauhnya dari sana, aku akan meninggalkan motorku di sana dan naik ke mobilmu… seolah-olah kita pergi bersama, sekarang kita pergi sendiri-sendiri.”

           “ Baiklah…”

           Jihyo menghela nafas lega, suara Luhan mulai melunak padanya, walaupun masih terdapat nada kesal yang tersirat jelas dalam setiap ucapannya.

           “ Huft…”

           Jihyo mengemudikan mobilnya keluar dari parkiran kampus yang masih ramai karena jam kuliah terakhir sampai jam tujuh malam dan sekarang baru jam empat sore. Gadis itu menyetir sambil memainkan radio di mobilnya. Tanpa sadar, ia menoleh tempat ke samping kirinya saat mengantri di loket pembayaran karcis parkir. Mobil Heeyoung berada tepat di sebelahnya.

           Jihyo baru akan membuka kaca jendelanya saat ia menyadari Heeyoung tidak sendirian, ia bersama seorang pria, yang bahkan jika Jihyo hanya melihat siluetnya saja dari kaca jendela Heeyoung yang gelap, Jihyo bisa mengenali sosok pria itu.

           “ Heeyoung dan Myungsoo… mau kemana mereka?”

***

           “ Apa kau sudah menunggu lama?” Jihyo menghampiri Luhan yang sedang duduk di atas motornya, senyuman tidak pernah hilang dari wajah gadis itu.

           “ Belum begitu lama…” Luhan tidak membalas senyuman Jihyo, namun hal itu tidak mengurangi frekuensi senyuman Jihyo, memaklumi sikap Luhan yang masih dingin padanya.

           “ Berikan kunci mobilmu padaku…”

           “ Untuk apa?”

           “ Aku akan meninggalkan motorku di sini… lalu menyetir mobilmu sampai ke sana, itukan yang mereka mau… kita pergi bersama…”

           Jihyo menyerahkan kunci mobilnya dalam diam, gadis itu hanya pasrah. Luhan meninggalkannya dan masuk ke mobil duluan sementara Jihyo mengikutinya dari belakang. Sikap Luhan yang sama sekali tidak peduli padanya, perlahan membuat Jihyo merasa tersingkir.

           Waktu yang mereka perlukan dari kedai ice cream menuju toko perhiasan hanya lima menit, dalam sekejap mereka berdua sudah sampai di sana. Luhan turun duluan sementara Jihyo masih mematung di dalam mobilnya.

           “ Apakah ada cara yang bisa aku lakukan untuk membuatnya luluh padaku? Adakah?” Jihyo berkata lirih sebelum memutuskan keluar dari mobilnya.

           Grep!

           “ L… Luhan…” Jihyo membelalakkan matanya saat tiba-tiba pria itu merangkulnya. Didominasi kaget dan bingung, Jihyo hanya diam bahkan ketika matanya menangkap sosok ibunya dan ibu Luhan di kejauhan. Oh…

           “ Eomma, eommonim…” Luhan tersenyum, begitu hangat dan ramah, menenggelamkan kesan angkuh yang didapat Jihyo. Gadis itu terperangah menyadari Luhan sangat pintar memainkan perannya sebagai calon suami Jihyo.

           “ Ohh kalian sudah datang…”

           “ Minri-ah, lihat anak-anak kita sudah mulai akrab rupanya…” Ibu Luhan terkekeh sambil menunjuk ke arah Luhan dan Jihyo yang tersenyum ke arah mereka, tanpa kedua orang itu tahu, senyuman di wajah Luhan maupun Jihyo tidak lebih dari sekedar dusta belaka.

           “ Ne, kalian cepat sekali akrab… mungkin kalian memang berjodoh… Hahahah… ayo kita masuk.”

           Nyonya Park dan Nyonya Lu masuk terlebih dahulu, meninggalkan Jihyo dan Luhan di belakang. Luhan segera melepaskan rangkulannya dan masuk mengikuti kedua orang itu, sementara Jihyo terdiam di depan pintu.

           ‘Jihyo, sadarlah… perlakuannya tadi padamu tidak lebih dari hanyalah sebuah kebohongan…’

           Gadis itu menghela nafasnya, berusaha mengatur debaran jantungnya yang menggila akibat perlakuan Luhan barusan.

           “ Aku harus bisa!” gadis itu menyemangati dirinya sendiri sebelum melangkah masuk ke dalam, mengikuti jejak mereka.

***

                  “ Yaa! Kita mau kemana? Daritadi aku sudah berkeliling tapi kau hanya bilang belok kanan… belok kiri… kita tidak juga sampai daritadi! Sebenarnya kau ingat tidak di mana alamat rumahmu sendiri?”

           Heeyoung menatap Myungsoo kesal, hampir setengah jam mereka hanya berputar-putar tanpa arah tujuan yang jelas, Heeyoung menggerutu hampir sepanjang perjalanan sementara Myungsoo hanya focus pada tab-nya tanpa memperhatikan jalan yang dilalui Heeyoung, gadis itu curiga, jangan-jangan Myungsoo berniat mengerjainya.

           “ Yaa! Kau dengar tidak?”

           “ Berhenti mengoceh! Kau mengganggu pekerjaanku, cerewet…”

           “ Aku tidak akan mau tahu, jika kita tersesat… kau tidak memperhatikan jalan sama sekali… dasar…”

           Myungsoo melirik ke arah Heeyoung yang sedang focus menyetir, pria itu menyeringai lebar, ia memang sengaja mengajak Heeyoung berputar-putar karena kesal dengan gadis itu, sekalian menjalankan misinya untuk merubah sifat Heeyoung. Myungsoo tidak tahu mengapa ia harus melakukannya, ia senang melihat wajah kesal Heeyoung.

           “ Sudah jalan saja… nanti di depan belok kiri… lalu belok kanan.”

           Myungsoo meneruskan pekerjaannya yang tertunda, memasukkan nilai tugas mahasiswa mahasiswi Nam seongsaenim yang masih menjadi tanggung jawabnya selama P Nam Seongsaenim pergi. Myungsoo menelusuri daftar nilai yang ditinggalkan Nam seongsaenim untuk diurusnya.

           Park Jihyo…

           Myungsoo bahkan harus mengucek matanya agar ia tidak salah membaca nama, ia tertegun, bukan karena nilai gadis itu yang nyaris sempurna, tetapi karena ia mengenal nama itu.

           “ Park Jihyo… apa dia orang yang sama?”

           “ HEH! Kau kenal Jihyo di mana?” Heeyoung yang kebetulan mendengar gumaman Myungsoo, segera menyahuti perkataan pria itu.

           “ Jihyo siapa?”

           “ Tadi kau bilang Park Jihyo…”

           “ Ahh itu bukan siapa-siapa… lagipula nama Park Jihyo kan ada banyak di mana-mana…”

           “ Siapa tahu Jihyo yang kau maksud adalah temanku…”

           “ Teman?”

***

           “ Yang ini saja… ini bagus…”

           “ Tidak eomma, itu terlalu mewah…”

           “ Bagimana dengan yang ini?”

           “ Ne, aku s…”

           “ Jangan! Itu terlalu sederhana… cari yang lain…”

           Luhan menyandarkan tubuhnya pada salah satu sudut toko yang jarang dilalui pembeli, sambil menatap ibunya, ibu Jihyo dan juga Jihyo memilih cincin pertunangan mereka. Luhan mendengus ia bisa melihat Jihyo terlalu bersemangat untuk mengurus pertunangan mereka, bahkan sampai detik ini Luhan belum mengerti kenapa Jihyo sepertinya mudah sekali menerima perjodohan mereka.

           Luhan menggeser layar handphonenya, pria itu termenung melihat wallpapernya, foto dirinya dan Heeyoung. Luhan bahkan tidak berniat mengganti wallpaper yang baru dipasangnya sebulan yang lalu, sama seperti wallpaper handphone Heeyoung, foto itu diambil saat kencan terakhir mereka.

           Luhan memejamkan matanya, ia sama sekali tidak mood untuk mengingat kenangan pahit itu.

           “ Luhan… kemarilah… bantu kami memilih…”

           “ Ibu saja yang memilih… aku tidak bisa, seleraku buruk…”

           Luhan menolak secara halus, bagaimanapun juga wanita itu adalah ibunya, wanita yang dicintainya melebihi apapun lalu ditempat kedua ada Heeyoung. Mengingat gadis itu, Luhan kembali merasakan sakit yang sama.

           Jihyo melangkahkan kakinya ke arah Luhan, ia memperhatikan sosok pria itu, Jihyo melihat layar ponselnya yang masih menyala, menampilkan foto Luhan dan Heeyoung, gadis itu berdecak, ia cukup kesal melihat foto itu. Amarahnya bangkit seketika, namun ia mencoba menahan semua itu agar terpendam rapi dibalik senyuman. Senyum tanda rasa sakitnya.

           “ Luhan, ayo…”

           “ Apa?”

           “ Kita cari cincin tunangan kita… sebenci apapun kau padaku, kau tetap calon suamiku… aku berusaha membahagiakan mereka… kau juga harus, Luhan…” Jihyo berbisik, tangannya menarik tangan Luhan, pria itu menghempaskan tangan Jihyo kasar sebelum melangkah menuju tempat di mana ibunya dan ibu Jihyo berada.

           “ Aku akan melakukan apapun, untuk mendapatkanmu…”

           Luhan memandangi setiap cincin yang berada di sana. Ia terpaku menatap satu cincin yang ada di sana. Ingatannya melayang ke satu arah…

Flashback

           “ Aku mau itu…” Heeyoung menunjuk sebuah cincin yang ada di etalase depan sebuah toko perhiasan. Luhan memandangi cincin itu dan Heeyoung bergantian.

           “ Yasudah, ayo kita beli…”

           Luhan bersiap menarik Heeyoung, namun gadis itu malah diam di tempat, membuat Luhan kebingungan.

           “ Apa?”

           “ Aku tidak mau kau membelikannya…”

           “ Kenapa? Katanya kau mau itu?”

           Heeyoung mengerucutkan bibirnya, kesal, pria itu sangat tidak peka rupanya.

           “ Aku mau kau memberikannya padaku sebagai tanda untuk sesuatu Luhan…”

           Pria itu tertegun, kemudian ia tersenyum, ia menarik hidung mancung Heeyoung, kemudian tertawa. Ia mengerti maksud gadis itu.

           “ Nanti aku akan membelikannya ketika aku akan melamarmu, Heeyoung… tunggu saja…”

Flashback End

           Lagi-lagi Heeyoung yang masuk ke pikirannya, Luhan berusaha menepis kenangan itu, ia tidak ingin semakin larut dalam kesedihan.

           “ Aku mau lihat yang ini ya…” Jihyo tiba-tiba menunjuk cincin yang sejak tadi dilihat Luhan. Pria itu bingung.

           “ Baik, nona…” sang pelayan toko segera mengambilan cincin yang dimaksud Jihyo, gadis itu memperhatikan cincin yang baru disodorkan sang pelayan.

” Aku suka pilihanmu, Luhan…” Jihyo mencoba cincin itu di jari manisnya, Luhan hanya mematung, ia melihat cincin itu dengan tatapan sendu.

” Luhan, kemarikan tanganmu..”

Nde?”

” Tanganmu sini…”

Luhan menurut, ia menyodorkan tangannya ke arah Jihyo, gadis itu segera memasangkan cincin yang satunya ke jari Luhan.

” Kalian pasangan yang sangat serasi…jadi kalian akan menikah ? Selamat yaa.. Tuan dan nona…”

Sang pelayan toko tersenyum ke arah Jihyo dan Luhan. Mereka hanya membalasnya dengan senyuman singkat.

” Baru bertunangan…” Jihyo yang akhirnya menjawab.

” Wahh kalau begitu selamat…semoga langgeng sampai pernikahan.”

” Terima kasih…Luhan, bagaimana? Kita ambil yang ini?”

” Hmmm…Ne, kami ambil yang ini saja.” Luhan melepaskan cincin di jarinya dan meletakkan benda itu ke sembarang tempat di atas etalase lalu pergi begitu saja dari sana.

Sang pelayan langsung memasang wajah ingin tahu, Jihyo segera memberikannya sebuah senyuman.

” Dia memang sepeti itu, cuek dan dingin… tapi dia mencintaiku…”

Satu lagi dusta yang harus diucapkan Jihyo mentah-mentah.

***

” Di depan belok kiri….”

Ciiit

” HAH?!Loh! Kok mati?! Kenapa yaaa???” Heeyoung panic mendadak karena mobilnya berhenti pas di tengah jalan yang agak sepi, apalagi hari mulai beranjak malam dan sebentar lagi langit akan berubah gelap.

“ Kenapa?” dengan wajah polos Myungsoo bertanya.

“ Mati mesinnya!”

“ Biar aku periksa…” Myungsoo turun dan membiarkan Heeyoung sendirian di dalam mobil.

Sok tahu sekali dia… awas saja kalau mobilku tambah rusak karenanya…” Heeyoung mencibir sejurus kemudian ia melihat ke arah tab Myungsoo yang di letakkan begitu saja di kursi penumpang. Gadis itu penasaran dengan apa yang sejak tadi dikerjakan Myungsoo. Iseng, ia mengambil tab itu dan membukanya.

“ Yahhh… di password…” Heeyoung mendadak kesal karena ia tidak bisa melihat isi tab Myungsoo.

“ Eh tapi samar-samar tadi sepertinya aku melihat foto Jihyo jadi wallpaper…”

Didorong rasa penasaran, Heeyoung mengambil tab Myungsoo dan menyentuhnya, melihat wallpaper dibalik deretan kotak dan angka yang harus diisinya. Ia tidak begitu yakin, karena wajah gadis di dalam foto yang digunakan sebagai wallpaper oleh Myungsoo itu tidak terlalu jelas, seperti diambil dari kejauhan.

“ Bener Jihyo bukan ya? Memang mirip tapi… entahlah…”

Heeyoung buru-buru meletakkan tab Myungsoo di tempatnya, sebelum pria itu mengetahui kalau ia baru saja mengotak-atik benda itu.

“ Mesinnya baik-baik saja…”

“ Aku tidak berbohong!Mesin ini benar-benar mati! Tsk… Di sini sepi sekali…”

“ Kita pindahkan dulu mobilnya ke pinggir, jangan di tengah jalan seperti ini…”

“ Yasudah sekarang kau turun dan dorong mobilnya…” dengan seenaknya Heeyoung meminta Myungsoo mendorong mobilnya.  Myungsoo membuka pintu di sebelah Heeyoung dan menarik tangan gadis itu.

“ Kau ikut… ini mobilmu… bukan mobilku…”

“ Tapi kau yang memintaku mengantarmu tapi tidak jelas tujuannya kemana sampai akhirnya mobilku harus mogok di tengah jalan, ini salahmu, Kim Myungsoo!”

“ Makanya aku mau bertanggung jawab dengan membantumu mendorong mobil…”

“ APA?! Enak saj…”

“ Ayo cepat dorong… sebelum ada mobil lain lewat dan kau malah menambah kemacetan.”

Heeyoung menurut walaupun dalam hati ia tetap menggerutu, ia kesal bukan main terhadap pria itu. Pria yang baru saja ia kenal tapi sudah berani menyuruhnya ini itu.

“ Hah…. Hah… hah…”

Nafas Heeyoung tersenggal-senggal padahal ia dan Myungsoo hanya mendorong mobilny tidak sampai satu menit. Myungsoo tertawa mengejek, kentara sekali gadis itu tidak pernah melakukan pekerjaan berat sebelumnya.

Yaa! Gadis payah…”

“ APA KAU BILANG?!”

Heeyoung mendadak emosi, ia tidak pernah merasa sekesal ini pada seseorang, Myungsoo membuat emosinya naik sampai ke ubun-ubun.

“ Baru mendorong mobil sebentar saja kau sudah ngos-ngosan… pasti kau jarang melakukan pekerjaan berat…”

“ Untuk apa? Semuanya sudah tersedia di rumahku…”

“ Dasar manja!”

“ Biarkan saja… kau pikir kau siapa bisa menilaiku seenakmu?”

“ Coba lihat bensinnya… mesinnya baik-baik saja.” Myungsoo mengalihkan perhatian. Heeyoung menurut, masih setia menggurutu.

“ YAHHHH! BENSINNYA HABISSSS!!!!”

***

“ Luhan, tunggu sebentar…”

Luhan tidak jadi membuka pintu mobil Jihyo, ia menunggu gadis itu berbicara. Namun setelah satu mening keheningan tanpa henti, Luhan mulai gerah.

“ Apa yang ingin kau bicarakan? Aku ingin pulang.”

“ Terima kasih untuk hari ini…”

“ Hmm…” Luhan hanya menjawab singkat.

“ Ada lagi?”

“ Luhan, maaf…”

“ Untuk?” Pria itu menaikkan sebelah alisnya, bingung apakah ada alasan yang membuat Jihyo sampai harus meminta maaf padanya?

“ Aku tahu kau membenciku… aku memiliki alasan tersendiri kenapa aku menerima perjodohan ini…”

Luhan menghela nafas, ia tidak ingin bersikap seperti ini pada Jihyo, gadis itu tidak salah, malah harusnya ia berterima kasih karena secara tidak langsung Jihyo menyelamatkan perusahaan ayahnya yang di ambang kehancuran.

“ Maaf…”

          Luhan mengucapkan kata-kata itu, sikapnya masih sama, walaupun ia berusaha bersikap baik setidaknya ia mencoba berubah untuk mulai mendekat pada Jihyo, ia tidak bisa. Rasa cintanya pada Heeyoung melebihi apapun.

          “ Haahahaha… kita berdua bersalah… pada Heeyoung, aku tahu, Luhan, aku telah merusak semuanya, entah bagaimana reaksi Heeyoung saat tahu aku akan menikah denganmu…”

          “ Aku belum memberitahunya… mungkin aku…”

          “ Jangan! Jangan beritahu Heeyoung…” Jihyo mendadak panik, memang ia menginginkan pernikahannya dengan Luhan, ia juga menginginkan sikap Luhan berubah baik padanya, tapi ia belum siap jika Heeyoung mendadak membencinya.

          “ Tidak aku belum memberitahunya…”

          Jihyo bisa bernafas lega, setidaknya ia ingin memiliki banyak waktu bersama Heeyoung sebelum gadis itu tahu kenyataannya. Mustahil jika Heeyoung tidak membencinya karena hal ini.

          “ Kalau kau tahu Heeyoung bisa membencimu… mungkin juga aku… kenapa kau masih mau menikah denganku?”

          “ Suatu saat nanti… kau akan tahu Luhan…”

***

          “ Katanya kau orang kaya…beli bensin saja kau tidak sanggup…”Myungsoo tertawa mengejek ke arah Heeyoung yang berada di sebelahnya, gadis itu menggerutu, hari sudah gelap dan ia lupa membawa ponsel, bensin mobilnya habis, ia terjebak bersama Myungsoo yang sejak tadi mentertawakannya.

          What A Perfect Day!

          “ Aku tidak tahu jika bensinnya habis aku jarang membawa mobil ke kampus, biasanya kan aku…”

          Sh*t!

          Heeyoung mengumpat di dalam hati, ia kembali teringat dengan pria itu. Luhan… ia biasa pergi dan pulang bersama Luhan, kecuali pria itu tidak bisa menjemput atau mengantarnya, maka dari itu Heeyoung tidak pernah peduli pada kondisi mobilnya. Luhan… pria itu bagaikan candu baginya, Heeyoung tidak tahu bagaimana hari-harinya ke depan tanpa pria itu di sisinya.

          Tanpa Heeyoung sadari, Myungsoo memperhatikan gadis itu, begitu lekat, Myungsoo mengerutkan dahinya saat menyadari perubahan ekspresi Heeyoung. Ekspresi penuh kesakitan, bahkan Myungsoo bisa melihat air mata menggenangi pelupuk mata gadis itu, untuk alasa yang tidak diketahui Myungsoo. Pria itu penasaran apa alasan yang membuat Heeyoung kelihatan sedemikian rapuh? Kesombongan gadis itu bahkan di luar batas kesabaran Myungsoo, ia bahkan tidak berpikir Heeyoung bisa kelihatan sekacau waktu itu. Saat gadis itu tanpa sengaja menabrak mobilnya.

          “ Kau… baik-baik saja?”

          Heeyoung tersadar, ia mengedipkan mata berkali-kali dan air mata sialan itu sukses mendarat di pipinya. Heeyoung mengusapnya kasar, ia harus bisa menghadapi semuanya. Tapi itu terlalu sulit, ia hampir tidak pernah melewati satu haripun selama empat tahun ini tanpa Luhan, ia hampir selalu bersama pria itu. Kalaupun mereka terpaksa tidak bertemu, Luhan akan menghubunginya terlebih dahulu mengucapkan seribu kata cinta yang selalu ingin didengarnya. Namun sekarang semua itu hanyalah kenangan yang harus dilupakannya.

          “ Maaf, Heeyoung? Kau kenapa?” Myungsoo bertanya hati-hati, karena melihat gadis itu sedang dalam kondisi rapuh sepertinya.

          “ Nan gwenchana…”

          “ Ah…” Myungsoo sebenarnya penasaran, tapi ia berusaha memendam rasa penasarannya itu, karena tidak ingin mencampuri urursan Heeyoung.

          “ Huh… jalanan ini sepi sekali… apa kau tidak bisa menghubungi seseorang?”

          “ Baterai ponselku habis.”

          Myungsoo berbohong, entah kenapa ia masih ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan Heeyoung, gadis yang menurutnya unik. Sombong, angkuh, anggun, namun rapuh di saat yang bersamaan.

          “ Lalu bagaimana kita pulang?! Aku tidak bawa ponsel…” Heeyoung mengeluh… ia kembali melihat ke arah jalan yang lumayan sepi. Tiba-tiba dari kejauhan ia melihat seseorang mengendarai motor dari arah yang berlawanan dengan arah mobilnya. Ia mengenal sosok itu dengan jelas. Heeyoung bahkan masih hafal plat nomornya. Gadis itu enggan bergerak dari mobilnya, tapi ia butuh bantuan.

          Peduli setan dengan harga diri!

          Heeyoung tidak mau terjebak semalaman dengan Myungsoo di tempat itu, yang walaupun masih dalam lingkup perkotaan, cukup menawarkan suasana mistis yang dibencinya, apalagi Myungsoo tidak kalah menyeramkan dengan suasana mencekam itu sendiri. Bagaimana jika Myungsoo berniat jahat padanya?

          Heeyoung keluar dari mobilnya, menyebrang jalan dengan kecepatan penuh dan menghentikan laju sebuah motor yang hampir menabraknya kalau saja sang pengendara tidak memiliki mata yang jeli untuk segera mengerem motornya dan tanpa sengaja mengenai kaki Heeyoung, membuat kaki gadis itu berdarah karena tergores ban motor.

          Myungsoo yang melihat kejadian itu membelalakkan matanya, pria itu segera turun dan menghampiri Heeyoung yang meringis menahan sakit yang menderanya terlalu tiba-tiba.

          “ Heeyoung… kau tidak apa-apa?”

          Myungsoo memegang bahu Heeyoung sementara gadis itu hanya mengangguk, dengan langkah yang terpincang-pincang ia menghampiri sang pengendara motor yang baru saja meletakkan helmnya dan berlari ke arah Heeyoung.

          “ Heeyoungie… kenapa kau di sini? Kenapa kau belum pulang? Kau tidak apa-apa? ASTAGA! Kau berdarah… maaf… kau kenapa berlari tiba-tiba ke arahku? Itu berbahaya! Jangan lakukan lagi…”

          “ Luhan…” Heeyoung mendesis, ia menatap mata pria itu, semakin lama ia menatapnya, semakin ia tidak ingin kehilangan pria itu. Untuk kali ini saja, Heeyoung akan menahan dirinya untuk tidak berlutut dan memohon pada pria itu.

          “ Ne?”

          Heeyoung mendekatkan dirinya pada Luhan dan memeluk pria itu, Heeyoung membisikkan sesuatu.

          “ Antarkan aku pulang… untuk kali ini saja kau harus menolongku… aku akan melupakan semuanya dan kembali bersikap baik padamu.” Kata-kata itu meluncur turun dari bibir Heeyoung, ia sendiri kaget kenapa ia harus mengatakan itu pada Luhan. Berjanji untuk bersikap baik pada pria itu padahal ia harusnya tidak mengatakan hal yang akan membuatnya semakin terikat dengan pria itu. Tapi Heeyoung tidak bisa melawan keinginan hatinya yang sedemikian keras untuk bersama pria itu.

          “ Dengan senang hati, tuan putri, ayo naik… apa kau bisa naik motor dengan kakimu yang sedang sakit?”

          “ Aku tidak apa-apa?”

          Myungsoo menatap pemandangan yang berada di depannya dengan tatapan bingung, ia menebak-nebak kalau pria itu adalah kekasih Heeyoung. Myungsoo membulatkan matanya saat Heeyoung naik ke motor pria itu dan melaju meninggalkannya.

          “ YAA! HEEYOUNG! LALU BAGAIMANA DENGAN MOBILMU?! YAA! BAGAIMANA DENGANKU? YAA!”

***

          “ Ne, hahahaha… gaunnya pas sekali untuk Jihyo… gadis itu cantik sekali dan sangat pas dengan gaun yang kita pilih… ya… hahaha… aku juga tidak sabar menantikan hari pertunangan mereka… tinggal seminggu lagi kan…”

          Nyonya Lu tertawa, sambil bercengkrama dengan Nyonya Park, lewat jaringan telepon. Kedua wanita paruh baya itu masih asyik membicarakan persiapan pertunangan Jihyo dan Luhan yang tinggal seminggu lagi.

          “ Undangan akan mulai disebar besok…hahaha… padahal akan lebih baik jika mereka langsung menikah… apa? Ne… perkenalan dulu sambil mendekatkan mereka berdua… tapi tampaknya mereka sudah cukup akrab… aku senang sekali…”

          Mata Nyonya Lu mengawasi jalanan yang masih terbilang cukup ramai, senyuman tidak pernah lepas dari wajahnya mengingat anak satu-satunya akan segera melangkah ke jenjang yang lebih maju bersama gadis yang menurutnya tepat. Satu objek menangkap perhatiannya saat lampu hijau berubah menjadi merah. Tepat di sebelahnya, sebuah motor ikut berhenti.

          “ Luhan… Maaf, Nyonya Park… sudah dulu, ne… kita lanjutkan nanti…”

          Nyonya Lu baru saja akan membuka jendela mobilnya saat menyadari sesosok gadis yang memeluk tubuh Luhan dari belakang dan menyandarkan kepalanya pada punggung pria itu. Nyonya Lu tahu seseorang itu bukanlah Park Jihyo yang akan dinikahi putranya.

          “ Han Heeyoung… gadis itu… apa Luhan belum memutuskan hubungan dengannya?”

          Nyonya Lu menatap mereka berdua dengan tatapan tidak suka yang sulit untuk disembunyikannya. Memang Luhan dan Heeyoung sudah menjalin hubungan cukup lama dan selama ini ia tidak pernah mempermasalahkannya, hanya saja ketika menyadari Luhan semakin dekat dengan Heeyoung, ia tidak menyukainya. Ia tidak mau Luhan menikah dengan Heeyoung dengan alasan apapun.

          “ Mungkin harus aku yang memperingatkannya sendiri…”

***

          “ Terima kasih…” Heeyoung menyerahkan helm yang digunakannya ke arah Luhan, dengan terpincang-pincang gadis itu melangkah menuju gerbang rumahnya.

          “ Tunggu, Heeyoung… aku akan mengobati lukamu…”

          “ Tidak usah, Jung ahjumma akan mengobatinya, kau pulang saja sana…”

          Heeyoung baru saja akan melangkahkan kakinya, saat Luhan menarik tangannya. Mereka berhadapan cukup lama, setiap perkataan terlontar lewat tatapan mata mereka. Luhan salah tingkah dan mengusap kepalanya, sedangkan Heeyoung mengalihkan tatapannya.

          “ Kau sudah berjanji akan bersikap baik padaku, Heeyoung…”

          “ Maaf, aku harusnya tidak mengatakan itu, kau sudah milik orang lain, Luhan… aku…” suara Heeyoung mulai serak akibat air mata yang tiba-tiba menggenangi pelupuk matanya.

          Luhan menarik Heeyoung ke pelukannya, membiarkan gadis itu menangis sepuasnya di sana. Tanpa sadar Luhan menitikkan air mata, ia memiliki kesedihannya yang sama. Ia tidak ingin melepaskan Heeyoung, kalau bisa ia ingin mengorbankan perusahaan ayahnya hanya demi bersama Heeyoung, tapi ia tidak bisa, ia tahu ia akan menjadi anak yang egois kalau ia melakukan itu, ada hal lain yang mengganggu pemikirannya. Ibunya entah sejak kapan berubah, ia tidak lagi menyukai Heeyoung, untuk alasan yang belum diungkapannya.

          “ Aku akan tetap menjadi milikmu, sampai kapanpun…” Luhan mengelus rambut Heeyoung, membiarkan aroma anggur milik gadis itu menguar bebas memenuhi indera penciumannya. Ia tidak tahu bagaimana jika Heeyoung tahu siapa gadis yang akan dinikahinya nanti. Ia tidak sanggup membayangkan Heeyoung tersakiti beribu kali lipat dibandingkan dengan saat ini.

          “ Ayo kita masuk, kau tidak malu berpelukan di jalan?” Luhan menarik Heeyoung dari pelukannya. Heeyoung enggan melepaskan tubuh Luhan, ia sudah sangat terbiasa berada dalam dekapan pria itu.

          “ Heeyoung, ayo…”

          Heeyoung menurut, ia melepaskan pelukannya, namun baru berjalan beberapa langkah Heeyoung kembali meringis. Luhan melihat perubahan ekspresi Heeyoung, dengan sigap pria itu mengangkat tubuh Heeyoung.

          “ Masukkan Passwordnya…”

          Heeyoung memasukkan password untuk membuka pintu rumahnya dan juga memasukkan sidik jarinya, begitu gerbang rumahnya terbuka, Luhan segera membawa Heeyoung masuk.

***

          “ Nona!” Jung ahjumma berlari menghampiri Heeyoung yang masih berada dalam gendongan Luhan.

          “ Aku baik-baik saja, ahjumma…” Heeyoung menatap Jung ahjumma sambil tersenyum.

          “ Tapi kaki anda…”

          “ Aku tidak sengaja menabraknya… aku akan mengobati Heeyoung di kamarnya.”

          Jung ahjumma mengerutkan dahinya heran, ia berpikir Luhan dan Heeyoung berada dalam masalah karena tadi Luhan tidak menjemput Heeyoung tapi melihat mereka berdua sudah kembali bersama, masalah sudah selesai, setidaknya itu yang terdapat dalam pikiran Jung ahjumma.

          “ Baik, tuan… saya akan membawakan kotak P3K ke kamar nona Heeyoung.”

          Luhan melangkahkan kakinya memasuki kamar Heeyoung, ia sudah terbiasa berada di sana, menemani Heeyoung yang sendirian di rumahnya. Ayah gadis itu jarang sekali pulang ke rumah, kalaupun ia pulang, Heeyoung akan menghindari ayahnya sendiri. Seperti itulah kebiasaan Heeyoung yang Luhan tahu, entah sejak kapan hubungan ayah dan anak itu akan kembali normal. Setidaknya sebelum orang tua Heeyoung bercerai, sama seperti yang Jung ahjumma ceritakan padanya.

          “ Sekarang ceritakan semuanya, Luhan…”

          Luhan mengangkat sebelah alisnya, ia duduk di sebelah Heeyoung setelah meletakkan tubuh gadis itu di atas sofa yang berada di sudut kamar.

          “ Apa yang ingin kau ketahui, Heeyoungie?”

          “ Kenapa kau tidak menolak perjodohan itu? Kenapa kau dijodohkan? Siapa gadis yang akan dijodohkan denganmu?”

          “ Aku sudah menolaknya, tapi aku tidak tega dengan eomma dan appa-ku… aku hanya berusaha menjadi anak yang berbakti dengan menuruti keinginan mereka, Heeyoungie…”

          “ Huft… aku mengerti, mungkin di dunia ini, aku adalah anak paling durhaka, menghindari ayahku sendiri…” Heeyoung tertawa getir, di tengah rasa sakit yang dipendamnya sendirian.

          “ Heeyoung… aku kan sudah pernah bilang… berbagilah kesedihanmu denganku… jangan kau pendam sendirian…”

          “ Aku tidak bisa, Luhan… kesedihanku terlalu menyakitkan untuk diingat… ahh sudahlah… jadi kenapa kau dijodohkan?”

          “ Perusahaan ayahku nyaris bangkrut… hanya keluarga gadis itulah yang bisa membantu…”

          “Apa jadi hanya itu alasannya?! Berapa yang ayahmu butuhkan? Aku akan meminta appa membantu perusahaan ayahmu… kau tidak usah menikah, Luhan…”

          Luhan tersenyum maklum, gadis itu memang sedikit sombong, ia mengakuinya, namun ia sudah terbiasa dengan kesombongan Heeyoung, karena dibalik rasa sombong yang dimilikinya, gadis itu adalah gadis yang baik, hanya saja, kesombongan akan memulihkan sedikit rasa sakitnya.

          “ Tidak, sayang… aku tidak bisa…”

          “ Kenapa?”

          “ Aku tidak mau menyusahkanmu dan perusaahaan ayahmu… lagipula, aku sudah menerima perjodohan ini…”

          “ Kau tidak mencintaiku, Luhan?”

          “ Pertanyaan bodoh macam apa itu! Tentu saja aku mencintaimu…”

          “ Lalu kenapa kau menerima perjodohan itu?”

          “ Suatu saat kau akan mengerti, Heeyoung… aku mencintaimu… tapi aku tidak bisa memilikimu… mungkin kita tidak berjodoh.”

          “ Ta… tapi Luhan…”

          Luhan meletakkan jari telunjuknya di bibir Heeyoung, membuat gadis itu berhenti berbicara.

          “ Sekarang saatnya kita nikmati waktu kita berdua, jangan bahas hal lain yang akan membuatku bersedih.”

          “ Baiklah… siapa gadis itu?”

          Luhan memucat, ini adalah pertanyaan yang paling dihindarinya. Ia belum siapa memberitahu Heeyoung kalau gadis yang akan dinikahinya adalah Jihyo, sahabat Heeyoung sendiri.

          Tok tok tok

          “ Masuk…”

          Salah seorang pelayan masuk ke kamar Heeyoung dan meletakkan kotak P3K di atas meja di depan Heeyoung.

          “ Saya permisi keluar, nona…”

          “ Ne… Terima kasih…”

          Luhan tersenyum lega, ia terselamatkan. Ia segera mengambil kotak itu dan membukanya.

          “ Luhan…”

          “ Ne?”

          Luhan mengoleskan alcohol pada kaki Heeyoung yang terluka. Gadis itu meringis menahan sakit, tapi ia tahu, luka di kakinya tidak seberapa dibandingkan dengan luka di hatinya akibat kehilangan Luhan.

          “ Aku benar-benar mencintaimu… tidak bisakah kita berada di jalan takdir yang sama?”

          Luhan terdiam…

          Ia sendiri tidak tahu jawabannya…

***

          “ Hah? Jadi kau masih bertemu dengan Luhan? Bukankah kau bilang kau ingin melupakannya? Kalau kau masih bertemu dengannya bagaimana bisa kau melupakannya?”

          Heeyoung meminum jus jeruknya dengan santai sambil sesekali matanya menyapu sudut kantin yang mulai ramai karena jam istirahat baru dimulai.

          “ Yaa! Kau dengar?”

          “ Apa?”

          Seulra menggeram kesal, kenapa Heeyoung sangat sulit untuk diberitahu? Padahal gadis itu sendiri yang berkata ingin secepatnya melupakan Luhan. Seulra dan Jihyo bahkan sudah berjanji untuk membantunya. Tapi sekarang gadis itu sendiri yang membuat dirinya terikat kembali dengan Luhan.

          “ Kami sedang membantumu, Heeyoung…”

          “ Aku tahu… tapi aku juga tidak bisa membodohi diriku sendiri, aku berusaha melupakannya, tapi tiap detik dalam setiap helaan nafasku, aku mengingatnya… aku berusaha menepis semua bayangan tentangnya, tapi itu malah menyiksaku… lebih dalam, dan aku semakin tidak bisa melupakannya… aku mulai memahami… mungkin cara agar aku bisa melupakannya adalah dengan tidak lagi menghindarinya…”

          “ Jadi kalian kembali berpacaran?” suara Jihyo bergetar tanpa sebab, namun tidak ada yang menyadari getaran dalam suara gadis itu.

          Heeyoung tersenyum ke arahnya, gadis itu sesungguhnya tidak tahu apa yang akan dikatakannya. Namun kata-kata itu meluncur dengan sendirinya dari bibirnya.

          “ Kami tidak pernah putus… kata putus belum terucap dari bibir masing-masing… jadi sah-sah saja kalau kami masih jalan bersama, iya kan?”

          “ Iya memang… tapi bagaimana kalau calon istri Luhan itu tahu?”

          “ Aku tidak peduli, Seulra-ah… Luhan belum memberitahukannya padaku, siapapun gadis itu… aku yakin, aku lebih baik darinya.”

          Jihyo tersenyum pahit sambil memandangi cangkir berisi earl green tea-nya yang belum tersentuh sama sekali. Ia tahu, Heeyoung lebih baik darinya, setidaknya dalam merebut perhatian Luhan.

          “ Kau tidak berusaha mencari tahu, bukankah biasanya kau melakukan itu? Bahkan kau ingat tidak, saat kita SMA kau bahkan menyewa dektektif swasta karena kau mencurigai seorang gadis yang tiba-tiba dekat dan sangat manja dengan Luhan…” Jihyo mengganti senyum pahitnya menjadi senyuman geli.

          “ Ne, ternyata gadis bocah itu hanya sepupunya… huh… untung saja… kalau tidak bocah itu sudah aku jadikan perkedel…”

          “ Hah? Kau sampai menyewa dektektif swasta? Wow…” Seulra terkagum-kagum menyadari betapa kaya rayanya seorang Heeyoung, bukan hanya itu, satu hal lagi, betapa over protective-nya Heeyoung pada Luhan, Seulra tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jadi Heeyoung begitu tahu pria itu akan menikah dengan gadis lain.

          “ Iyaa… aku hanya ingin tahu… apakah dia selingkuh di belakangku atau tidak…”

          “ Buktinya dia tidak selingkuh kan? Hahaha…”

          “ Ne, tapii entah mengapa perasaanku tidak enak… aku seolah tidak ingin mengenal siapa gadis itu…makanya aku memutuskan untuk menikmati saja selama aku masih punya waktu bersama Luhan…”

          “ Jadi kau akan melupakannya ketika ia menikah?” nada senang tidak dapat disembunyikan dari suara Jihyo yang terdengar.

          “ Tidak tahu… aku merasa tidak sanggup kehilangannya, walaupun aku harus merelakannya, lihat saja nanti ke depannya bagaimana…”

          Jihyo mengangguk, setidaknya ia bisa merasa sedikit lega, Heeyoung tidak seambisi itu untuk menghancurkan gadis yang akan menikah dengan Luhan. Ia sudah merasa was-was sejak kemarin, bisa saja Heeyoung dengan mudah akan menemukan siapa gadis itu, tapu nyatanya Heeyoung memilih diam, hal itu membuat Jihyo menarik nafas lega.

***

          “ Selamat siang semuanya…”

          Heeyoung menoleh saat mendengar suara yang unfamiliar masuk ke dalam gendang telinganya. Ia melongo sejadi-jadinya melihat Myungsoo berdiri di depan kelas, diiringi jutaan tatap kagum dari hampir seluruh mahasiswi dan tatapan iri hampir seluruh mahasiswa. Sejak kapan Myungsoo ada di kelasnya dan kenapa ia berdiri di depan kelas?

          “ Psst… kenapa Myungsoo ada di situ?” Heeyoung berbisik ke arah Seulra dan Jihyo.

          “ Dia kan asisten Nam Seongsaenim… dia menggantikan Nam seongsaenim untuk sementara waktu selama Nam seongsaenim pergi…” Seulra membalas bisikkan Heeyoung.

          “ Hah? Mengapa aku tidak tahu?”

          “ Minggu lalu dia sudah masuk ke kelas… aku yang ingin bertanya kenapa kau bisa kenal dengan Myungsoo? Lalu kemarin ia membawamu kemana?”

          Heeyoung mengingat-ingat kejadian minggu lalu saat pria itu masuk ke kelasnya, perlahan sebuah ingatan masuk. Minggu lalu saat kelas Nam seongsaenim, pria itu memberikan pengumuman kalau ia akan pergi beberapa waktu, lalu mengutus asistennya untuk menggantikannya mengajar selama ia pergi. Di saat semua memperhatikan, ia malah sibuk chatting dengan Luhan yang kebetulan tidak ada kelas, pantas saja ia tidak tahu, karena ia sama sekali tidak menoleh untuk sekedar melihat pria yang akan menggantikan Nam Seongsaenim mengajar.

          “ Nanti saja ceritanya…” Jihyo memberikan aba-aba pada kedua orang itu karena ia merasa tidak nyaman, sejak masuk Myungsoo memperhatikan ke arah mereka bertiga, entah ke Jihyo, ataupun Heeyoung. Karena hanya dua gadis itu yang mungkin dikenal Myungsoo secara pribadi.

          “ Ne, dia melihat ke arahku terus.” Heeyoung menunduk, menghindari tatapan Myungsoo. Gadis itu tidak tahu, Myungsoo hanya melihatnya sekilas, memberikan seringai khasnya, sebelum mengalihkan tatapannya pada Jihyo. Lalu tatapan pria itu terkunci di sana beberapa saat sebelum ia tersadar, saat ini tatapan semua orang bermuara padanya.

          “ Baiklah kita mulai pelajaran hari ini…”

***

          Heeyoung melangkahkan kakinya masuk ke rumahnya, ia terpaksa menumpang mobil Jihyo karena mobilnya masih berada di tempat kemarin, ia belum menyuruh Seo Ahjussi untuk mengambilnya, sedangkan Kwon ahjussi, supir pribadi keluarganya tidak bisa menjemputnya karena harus mengantarkan ayahnya ke bandara. Heeyoung tersenyum mengejek, ayahnya selalu seperti itu. Sibuk dan sibuk…

          Heeyoung terpaku saat menyadari ada sebuah mobil yang menarik perhatiannya, sebuah mobil yang tidak asing baginya. Heeyoung mengerutkan dahinya, mengingat kenapa mobil itu bisa berada di area halaman rumahnya.

          Mobil keluarga Lu…

          Heeyoung memutuskan untuk menuntaskan rasa penasarannya dengan masuk ke dalam rumah. Ia segera disambut Jung ahjumma dengan mengatakan Nyonya Lu sedang menunggunya di ruang tamu. Heeyoung hanya mengangguk sambil menyerahkan tasnya pada Jung ahjumma.

          “ Eommonim… kenapa kau tiba-tiba datang ke sini?”

          Nyonya Lu tersenyum pada Heeyoung, senyumannya berubah sinis tatkala mendengar panggilan gadis itu padanya. Gadis itu selalu memanggilnya begitu, berharap penuh ia bisa menjadi menantu dari keluarga Lu, walaupun kenyataannya tidak akan pernah seperti itu, seperti harapan Heeyoung.

          “ Apa kabar, Heeyoung?”

          Haeeyoung memicingkan matanya, ia bisa menangkap ada nada lain dari suara Nyonya Lu yang tiba-tiba seperti tengah mengejeknya.

          “ Aku… ba…baik… tentu saja…”

          “ Aku tahu, kau tidak baik-baik saja, Heeyoung… aku tahu kau sudah mengetahui Luhan akan segera menikah…”

          Heeyoung terdiam, ia hanya bisa menundukkan kepalanya, mendengar lanjutan penuturan Nyonya Lu.

          “ Maaf Heeyoung, kuharap kau tidak beralih menjadi seorang pembenci ketika mengetahui ini…”

          “ Ne, eommonim… aku tidak membenci Luhan tentu saja…”

          “ Lalu kau mencintainya?”

          “ Tentu saja…”

          “ Kalau begitu lepaskan dia… dia akan lebih bahagia dengan gadis itu nantinya… Jangan dekati dia lagi…”

          “ Tapi kenapa ia harus dijodohkan?”

          Nyonya Lu tersenyum, ia memainkan cincin di jarinya.

          “ Kau akan tahu nanti, ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa kita mengerti Heeyoung, kau sudah bersama dengan Luhan selama 4 tahun, tapi aku tidak pernah berharap hubungan kalian seserius ini… aku tidak mau Luhan menikah denganmu…”

          “ Kenapa?” suara Heeyoung mulai bergetar, seolah menahan tangis yang sebentar lagi akan luruh bersamaan dengan kata-kata yang menyusul keluar dari bibirnya.

          “ Datanglah ke pertunangan Luhan yang diadakan akhir minggu ini… Ballroom Skypark Central, jam tujuh malam…”

          “ Kenapa aku harus datang? Eommonim tahu… aku bahkan tidak akan sudi melihat Luhan bersanding dengan gadis lain.”

          “ Undangannya akan aku kirim besok… aku hanya ingin kau melihat sepantas apa gadis yang akan bersanding dengan Luhan nantinya… aku tahu kau penasaran…”

          Heeyoung terdiam, ia tergelitik rasa penasaran walaupun ia sendiri bingung apakah ia harus datang atau tidak? Walaupun ia ingin menolak ratusan juta kali, ia sesungguhnya ingin tahu bagaimana ekspresi Luhan nantinya, apakah bahagia atau menderita? Heeyoung tentunya berharap ekspresi menderita yang Luhan miliki, terdengar jahat, tapi itu menandakan Luhan masih miliknya.

          “ Tidak perlu repot-repot, eommonim… aku akan datang tanpa undangan sekalipun…”

***

          “ Heeyoung…”

          Heeyoung menoleh, ia melihat Myungsoo mengambil tempat di depannya. Ia memang sedang duduk sendirian karena Seulra dan Jihyo tidak bisa menemaninya. Tadinya Heeyoung kira Myungsoo akan marah karena ia meninggalkan pria itu dua hari yang lalu, nyatanya kemarin Myungsoo bahkan tidak mengganggunya sama sekali, selain kenyataan pria itu adalah asisten dosen Nam Seongsaenim.

          “ Kalau kau mau meminta pertanggungjawaban, aku bisa mengantarkanmu nanti asal kau jangan mengerjaiku lagi…”

          “ Hahahaha… maaf, aku memang iseng, kau sudah tahu kan siapa aku? Makanya jangan pernah macam-macam padaku, Heeyoung…” Myungsoo tersenyum licik, Heeyoung hanya mendengus, ia benar-benar kesal, moodnya bertantakan, mengingat empat hari lagi Luhan akan bertunagan. Hubungannnya dengan Luhan masih baik-baik saja, ia bahkan tidak menceritakan perihal kedatangan Nyonya Lu ke rumahnya. Ia bersikap seolah-olah ia tidak tahu apapun.

          “ Hanya karena kau asdos Nam Seongsaenim, bukan berarti kau bisa macam-macam padaku, Myungsoo-ssi…”

          “ Ah yaa… aku bisa membuatmu tidak lulus…” Myungsoo kembali menunjukkan senyumannya, tentu saja pria itu hanya bercanda, ia tidak mungkin tidak meluluskan Heeyoung hanya karena masalah pribadi.

          “ Aku tidak takut…”

          “ Heeyoung, Jihyo itu temanmu ya?” Myungsoo, entah kenapa malah membelokkan topic secara tiba-tiba membuat Heeyoung mengerutkan dahinya, bingung.

          “ Memangnya kau kenal? Ahhh iyaa waktu itu aku lihat di display tab-mu itu foto Jihyo kan? Eh!”

          Myungsoo memicingkan matanya ke arah Heeyoung. Pria itu bingung, darimana Heeyoung tahu kalau ia menyimpan foto Jihyo di sana?

          “ Kau mengotak-atiknya?”

          “ Apa? TIDAK! Aku hanya kebetulan melihatnya…”

          “ Untung saja aku password… menghindari orang yang sepertimu…”

          “ Huh… kau belum menjawab pertanyaanku…”

          “ Apa? Soal Jihyo? Aku hanya bertanya…” 

          “ Hmm… sepertinya ada sesuatu, kau mau aku mendekatkanmu pada Jihyo? Aku memang tidak tahu kau mengenal dia di mana… tapi sepertinya kau menyukainya… iya kan?” Heeyoung menebaknya asal tanpa gadis itu tahu hal itu membuat perubahan nyata dalam eskpresi Myungsoo.

          “ Tidak… aku hanya…”

          “ Mengaku sajalah!”

          “ YAA! Tidak, dia hanya temanku waktu SMP…”

          “ Teman apa teman?”

          “ Yaa! Hentikan… ayo kita pulang… aku janji tidak akan mengerjaimu lagi…”

          “ Tidak mau…”

          “ Kau tadi sudah berjanji akan menjadi supirku kan?”

          “ Aku akan menjadi supirmu sepuasmu dan juga akan mendekatkanmu dengan Jihyo dengan satu syarat…”

          Myungsoo menaikkan sebelah alisnya, menunggu Heeyoung melanjutkan kata-katanya.

          “ Temani aku akhir minggu ini ke suatu tempat…”

***

          “ HAH ? Serius kau akan pergi ke sana bersama Myungsoo?!”

          Seulra memoleskan eye shadow di bagian bawah mata Heeyoung yang terlihat sembab, gadis itu menangis semalaman sepertinya dan baru saja tertidur dua jam saat Seulra dengan heboh datang dan membantunya memilih gaun dan juga memoles wajah Heeyoung yang hancur-hancuran akibat efek tangisannya.

          “ Ne, aku tidak sengaja mengatakan itu padanya, lagipula aku sudah mengajak kau dan Jihyo… kalian kompak sekali mengatakan tidak bisa…”

          “ Aku memang ada acara setelah ini, sepupuku Amber baru datang dari New York, nanti dia marah-marah kalau aku tidak mengajaknya jalan-jalan padahal kan bisa besok…. TSK…” Seulra kesal, padahal ia ingin sekali mengetahui calon istri Luhan sekaligus menopang Heeyoung kalau gadis itu histeris nantinya. Tapi untunglah ada Myungsoo yang menemani gadis itu ke sana.

          “ Jihyo juga ada acara keluarga… Tsk…”

          “ Eh, iya apa benar kau dan Myungsoo tidak adak hubungan khusus begitu?”

          “ YAA! Tidak mungkin! Aku kan sudah memiliki Luhan, mana mungkin aku memiliki hubungan khusus dengan Myungsoo… tidak masuk akal.”

          “ Habis… dari ceritamu sepertinya ia ingin sekali dekat denganmu…”

          “ Tidak, itu hanya perkiraanmu saja.” Heeyoung menatap pantulan dirinya di cermin, ia sudah merasa wajahnya cukup mendingan, tertutup make up cukup tebal yang ditorehkan Seulra. Jelas saja, hal yang Heeyoung ketahui Myungsoo menyukai Jihyo.

          “ Jinjja? Tapi ia sepertinya…”

          “ Ahh sudah… berhenti mengira-ngira… setelah mobilnya sembuh besok aku akan berhenti menjadi supirnya… jadi kau diam saja…”

          “ Ne, Heeyoung kau sudah cantik… Kau harus tersenyum nanti, jangan kalah dengan gadis itu!”

          “ Ne, terima kasih, Seulra-ah…”

          “ Cheonmafighthing!”

          “ Ne, fighthing!”

***

          “ Pesta apa ini?” Myungsoo tidak henti-hentinya bertanya selama ia dan Heeyoung berada dalam perjalanan menuju Skypark Central Hotel.

          “ Sudah, diam saja…” Heeyoung menatap jalanan yang tercipta di depannya dengan tatapan malas. Hari ini Myungsoo yang membawa mobilnya, khusus malam ini, ia berhenti menjadi supir, lagipula Myungsoo tidak tega karena ia melihat wajah kusut Heeyoung. Ia tidak mau berdebat dan bertengkar dengan gadis itu.

          “ Kenapa kau kelihatan seperti habis menangis?”

          Heeyoung menatap pantulan dirinya dari kaca mobil, ia terlihat menyedihkan, karena sebelum Myungsoo datang dan Seulra sudah pulang. Ia kembali menangis sendirian, berhasil menghancurkan mahakarya Seulra dan ia terpaksa make up seadanya tanpa niat, ia terlihat menyedihkan.

          “ Tidak, sudah… ayo turun…” Heeyoung mendahului Myungsoo turun dari mobilnya dan berjalan menu lift yang terletak di area basement.

          Myungsoo berjalan mengikuti Heeyoung dari belakang, ia melihat jajaran bunga yang terletak di sepanjang jalanan menuju lift yang berderet dalam lorong. Tertarik, ia mendekati dan membaca salah satunya.

          “ Ahh… pesta pertunangan… jangan-jangan Luhan ini kekasih gadis sombong itu, kalau tidak kenapa ia menangis… Tsk…”

          Myungsoo menggelengkan kepalanya tidak habis pikir, kenapa Heeyoung mau datang ke sana padahal itu akan menyakitinya. Matanya tertumbuk pada karangan bunga yang menampilkan nama Luhan dan nama calon tunangannya. Mata Myungsoo membesar membaca nama gadis itu.

          “ Myungsoo!” Heeyoung memanggil pria itu dan berhasil menyadarkan Myungsoo.

          “ AH! Ne…” Myungsoo berjalan mendekati Heeyoung yang sudah masuk ke dalam lift.

          Hening menyelimuti mereka berdua. Heeyoung yang masih mengatur degub jantungnya yang tidak karuan dan Myungsoo yang masih kaget sekaligus bertanya-tanya. Apa ia tidak salah membaca nama tadi? Apa nama Park Jihyo di dunia ini sangat banyak? Kalau saja Jihyo yang akan bertunangan dengan Luhan adalah Jihyo yang merupakan teman Heeyoung, harusnya gadis itu tidak menjanjikan akan mendekatkan Myungsoo dengan Jihyo. Entahlah pria itu tidak tahu.

          Saat masuk ke dalam ballroom, acara sudah dimulai, Heeyoung dan Myungsoo datang terlambat. Mereka berdua menyelip di antara ratusan orang yang datang ke sana. Heeyoung menatap Luhan yang sudah berdiri di atas panggung dengan tatapan nanar, Myungsoo mendekatkan dirinya pada Heeyoung dan merangkul bahu gadis itu.

          “ Be Strong!” Myungsoo membisikkan kata-kata itu dengan lembut, sementara Heeyoung hanya diam menatap Luhan yang terlihat ribuan kali lebih tampan dalam balutan tuxedo silvernya.

          “ Berikutnya marilah kita sambut… Park Jihyo!”

          Heeyoung dan Myungsoo membeku di tempat. Heeyoung berharap nama Park Jihyo yang didengarnya bukan Jihyo sahabatnya.

          Tapi begitu gadis dengan balutan gaun silver itu naik ke atas panggung, Heeyoung maupun Myungsoo tidak dapat berkata-kata, mereka sangat mengenal gadis itu. Mata Heeyoung mulai memanas, ia tidak bisa mempercayai semua itu. Bibirnya yang bergetar membentuk serangkaian kata.

          “ Ji… Jihyo…tidak mungkin…”

          Itulah kata-kata terakhir yang diucapkan Heeyoung sebelum sakit kepala hebat menghantamnya, membuat pandangannya mengabur dan semuanya menjadi gelap. Teriakan Myungsoo adalah hal terakhir yang diingatnya.

***

To Be Continued

 

A/N : Maafff chapterr duanya lamaaa soalnya menjelang masuk kuliah banyakk banget acaraaa jadi susah nyari waktu buat ngetik >.< mulai besok saya kuliah jadi chapter tiga bakalan agak lamaa diusahain cepet tapi ga bakalan sepanjang ini atau bahkan mungkin lebih pendek dari chapter 1 sekali lagi maaf >.< Chapter 3 bakalan didominasi perasaan galau dari seorang Heeyoung, ga banyak momen di sini, lebih banyak narasi tentang perasaan Heeyoung🙂

Sampai jumpa di chapter selanjutnya daan selamat membaca XD 

 

 

 

 

2 thoughts on “[Korean Fanfiction/ Straight/ Series] Never Reachable (Chapter 2)

  1. GILAAAA

    SUKA part nya Myung am Heeyoung
    NYESEK si Luhan am Jihyo
    Ngena banget…
    Malah part Luhan sama Heeyoung kurang berasa emosi cintanya…. yg kerasa cuman kebencian heeyoung k tunangan Luhan n Luhan ny sendiri yg cuman bisa pasrah

    malah jauh lebih bagus si hee sama myung…. koplak koplakan… wkwkwkwkwwk

    NICE!! lanjut yeeeeee….. cepetaaannnn! Seru gilakk ~

  2. ANJIRRRRE GILAAA WTF !!!
    ibu luhan parah abis ck tersenyum diatas oenderitaaan seseorng itu gk baik ck
    gilaa dah kasihan bngettt ama heeyoung dan apa hungungan nya myung sama jiyong itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s