[Korean Fanfiction/ Straight/ Series] Never Reachable (chapter 3- A Shoulder to Cry On)

poster never reachable chap 4 5 6

Title       : Never Reachable

Author : Kim Saena a.k.a Devi

Rating   : PG13/ NC17 *SMUT SCENE, Straight

Length  : Series

Genre   : Romance, Angst, Drama, Family, Married Life, Tragedy

Cast       :

Main Cast : EXO M – Luhan

Han Heeyoung (Original Character)

Park Jihyo ( Original Character)

Support Cast      : EXO K – Oh Sehun, Park Chanyeol

Infinite – Kim Myungsoo and  Nam Woohyun

Other Cast          : FIND BY YOURSELF!

Disclaimer:           Infinite is belong to God, Woolim Entertainment, and their parents.

EXO is belong to God, SM Entertainment, and their parents.

It’s just for fun. Please don’t sue me.

 If you don’t like this fanfic please don’t bash. Don’t Like… Don’t Read.

Please don’t take this fanfic without permission from me.

If you want to take this fanfic, please take with full credit.

Summary :  Han Hee young selalu bermimpi untuk menjadi istri dari Luhan karena pria itu adalah satu-satunya manusia yang bisa membuatnya panas dingin setiap waktu. Apalagi pria itu merupakan oksigen dan obat penyembuh paling mujarab bagi dirinya yang mengalami broken home sejak smp dan terpaksa tinggal dengan ayahnya yang jarang pulang ke rumah karena terlalu patah hati akibat sang ibu yang meninggalkan ayahnya demi pria lain. Namun impian itu tidak akan pernah terwujud karena Luhan tiba-tiba  dijodohkan dengan Park Jihyo sahabat Heeyoung sendiri. Sakit hati dirasakan oleh Heeyoung melihat sahabat terdekatnya yang tahu semua kisahnya malah akan menikah dengan pria yang diperjuangkannya mati-matian.

Lalu bagaimanakah nasib Heeyoung selanjutnya?Bisakah ia merelakan pria yang dicintainya menikah dengan orang lain? Lalu bagaimana nasib persahabatannya dengan Jihyo akankah persahabatan mereka berdua benar-benar berakhir?

Chapter 3 – A Shoulder To Cry On

#NP Davichi – Do Men Cry?

Do men cry too?
Do they hurt because of break ups too?
Do they cry inside because they crazily miss that other person?
It feels like I’m only in pain and I’m the only sad one
I want to ask, are you okay?

Author Pov

Luhan memasang senyum terpaksa yang kelewat jelas saat memasangkan cincin di jari manis Jihyo. Ia masih merasa bahwa cincin itu harusnya tersemat rapi di jari manis Heeyoung bukan Jihyo dan gadis yang berdiri di hadapannya hari ini harusnya bukanlah Jihyo melainkan Heeyoung. Pikiran pria itu bahkan terlalu penuh dengan Heeyoung, bahkan ia bisa melihat Heeyoung berada dalam acara pertunangannya memandang pilu ke arahnya.

Luhan tersenyum, ia terlalu banyak mengkhayal, mana mungkin Heeyoung datang ke sana. Ia bahkan tidak mengirimkan undangannya, Heeyoung tidak akan datang, gadis itu tidak akan sanggup, sama seperti Luhan yang tidak akan sanggup dihujani tatapan sakit hati oleh gadis itu selama acara ini berlangsung.

Jihyo memasangkan cincin di jari Luhan hanya dengan sebuah senyuman kecil, perasaan bersalah kian mencekik lehernya, namun gadis itu tahu sudah terlalu terlambat untuk mengatakan ia ingin membatalkan pertunangannya dan Luhan saat ini. Gadis itu berusaha menjalani semuanya dengan baik, walaupun jauh di dalam lubuk hatinya, ia juga tersakiti oleh hal yang tidak kasat mata.

Sementara itu di sisi lain, Myungsoo tengah berlari menerobos kerumunan orang yang berjalan di koridor, sepertinya ingin menghadiri acara yang sedang berlangsung di ballroom hotel kelas bintang lima itu. Tidak jarang, Myungsoo mendapat teguran dari petugas menanyakan apakah keadaan gadis yang digendongnya baik-baik saja dan hanya ditanggapi singkat oleh Myungsoo.

Heeyoung yang tiba-tiba tidak sadarkan diri membuatnya luar biasa panik, berhasil mengalihkan keterkejutannya atas kemunculan Jihyo di sana. Pesta pertunangan? Lelucon macam apa ini?

“ Heeyoung bertahanlah…” Myungsoo menyadari tangan gadis itu sangat dingin, bahkan seolah kehangatan telah terlupakan olehnya.

Untunglah Heeyoung yang tiba-tiba tidak sadarkan diri, tidak menarik perhatian banyak orang, terutama dua orang yang menjadi bintang dalam acara itu.  Perhatian orang-orang lebih teralih pada kedua manusia yang berada di atas panggung, saling melemparkan senyuman satu sama lain dibandingkan keributan kecil diantara Myungsoo dan Heeyoung.

Myungsoo menambah kecepatan mobil Heeyoung yang sedang ia kendarai membelah jalanan kota Seoul yang lumayan padat. Tatapan khawatir terus ditujukannya untuk gadis itu. Tanpa henti…

***

Myungsoo menatap tembok putih yang berada di hadapannya dengan tatapan kosong. Ia sendirian, di koridor rumah sakit yang mulai sepi. Satu-satunya pemandangan yang bisa ia lihat hanyalah konter yang mulai sepi karena para suster jaga yang mulai bepergian satu per satui mengecek para pasien. Bahkan derap langkah kaki manusia tidak lagi terdengar.

Myungsoo mengalihkan padangannya pada pintu bercat putih yang berada di sampingnya, pintu yang belum terbuka sejak hampir satu jam yang lalu, membuatnya frustasi, karena mengkhawatirkan keadaan Heeyoung. Ia bahkan melupakan perasaan anehnya saat melihat Jihyo bersanding dengan Luhan, ia lebih memikirkan Heeyoung yang mungkin puluhan ribu lebih sakit daripadanya saat ini.

Chogi… Tuan Myungsoo-ssi?”

Myungsoo menolehkan kepalanya, ia menatap seorang wanita paruh baya yang berjalan menghapirinya dengan ekspresi khawatir yang kelewat jelas.

Ne… Jung ahjumma? Anda yang mengangkat teleponku tadi kan?”

Ne, tuan… bagaimana keadaan nona Heeyoung?”

“ Kita tunggu dokter keluar dari sana…”

“ Terima kasih sudah menghubungi saya, Tuan Myungsoo… nona Heeyoung memang mengurung diri sejak kemarin, ia baru keluar kamar tadi saat ingin pergi dengan tuan…”

“ Ah begitu… aku tidak tahu kenapa ia tiba-tiba pingsan… tadi kami sedang berada di pesta per…”

“ MYUNGSOO-SSI! Eh mak…maksudku… Kim Seongsaenim…”

Seulra berlari ke arah pria itu dan menggucangkan bahu Myungsoo dengan cukup heboh, bertanya mengenai keadaan Heeyoung. Memang selain menghubungi nomor rumah Heeyoung, mencari tahu apakah orang tua gadis itu ada di rumah, Myungsoo memutuskan untuk menghubungi Seulra, karena tidak mungkin ia menghubungi Luhan atau Jihyo. Setidaknya, Myungsoo tahu Seulra adalah gadis yang dekat dengan Heeyoung selain Jihyo.

“ Kita sedang tidak berada di area kampus, Seulra… kau boleh memanggilku Myungsoo.”

“ Sudah kuduga akan begini… seharusnya Heeyoung tidak datang ke pesta pertunangan Luhan…” Seulra terduduk lemas, setelah sebelumnya berlari dengan kecepatan penuh meninggalkan Amber di pusat pertokoan dan mungkin akan dikutuk oleh Amber setelah ia pulang nanti.

“ Apa? Apa maksud nona? Tuan Luhan bertunangan?”

Ne, ahjumma… apa Heeyoung tidak bercerita? Hari ini Luhan bertunangan… dia dijodohkan…”

“ Astaga… saya tidak tahu sama sekali, nona… pantas saja seminggu ini nona Heeyoung terlihat lebih murung… beberapa hari yang lalu… nona Heeyoung pulang diantar Tuan Luhan, saya pikir, hubungan mereka baik-baik saja…”

“ Tidak, ahjumma… mereka tidak baik-baik saja… Myungsoo-ssi, maaf kau jadi mengetahui macam-macam hal.”

“ Ahh gwenchana… aku tidak tahu Heeyoung akan datang ke pertunangan kekasihnya sendiri…”

“ Mantan kekasih… aku akan membuat Heeyoung melupakan Luhan… Heeyoung tidak bisa hidup seperti ini…”

Ne… nona Heeyoung pantas mendapatkan pria lain yang lebih baik dari Tuan Luhan…” Jung ahjumma berkomentar.

Krek!

Pintu ruangan itu akhirnya terbuka, membuat perhatian ketiga orang yang sedang duduk di ruang tunggu, beralih ke sana. Seorang dokter menghampiri mereka bertiga.

“ Keadaan nona Heeyoung sudah stabil, ia hanya terlalu stress dan juga kekurangan cairan sehingga mengalami dehidrasi, tetapi faktor utama adalah pikiran dan syok, sepertinya ada sesuatu yang membuat nona Heeyoung terlalu syok sehingga kehilangan kesadarannya… Tetapi tidak usah khawatir, keadaannya sudah membaik… maaf, apakah anda yang bernama Tuan Luhan?” Dokter muda berkacamata itu bertanya pada Myungsoo.

“ Maaf, uisa-nim… bukan saya yang bernama Luhan…”

“ Kalau begitu, bisa tolong panggilan Tuan Luhan karena sejak tadi nona Heeyoung menggumamkan namanya berkali-kali…”

“ Baik, uisa-nim, saya akan menghubungi Luhan…” Seulra menjawab, setelah itu sang dokter berlalu dari hadapan mereka semua.

“ Apa aku harus benar-benar memanggil Luhan ke sini?”

“ Panggil saja… tidak usah khawatirkan pesta pertunangannya… keadaan Heeyoung lebih penting.” Myungsoo menjawab.

“ Bukan masalah pesta pertunangannya… aku tidak pernah peduli akan hal itu… hanya saja, bukankah Luhan sumber masalahnya?”

“ Tapi, mungkin saja kehadirannya akan membuat nona Heeyoung lebih baik, nona…”

“ Baik, Jung ahjumma… aku akan menghubunginya.”

***

“ LUHAN! Angkat…” Seulra memandangi lantai yang berada di depannya dengan tatapan kesal. Ini sudah percobaan kelimanya untuk menghubungi Luhan, namun laki-laki itu tidak juga mengangkat panggilannya.

Yoboseyo…”

“ Ohh Thanks God! Luhan! Akhirnya…” Seulra menghela nafas lega mendengar suara Luhan mengalun memenuhi gendang telinganya.

“ Ada apa, Seulra-ah?”

“ Aku tidak peduli Luhan apa keluargamu dan tunanganmu akan membunuhmu setelah ini! Masa bodoh dengan pesta itu! Kau harus datang ke Seoul hospital sekarang…”

“ Ada apa? Siapa yang sakit?” nada suara Luhan berubah menjadi khawatir, terdengar jelas dari setiap helaan nafas yang coba diambil pria itu. Firasatnya mengatakan sesuatu sedang terjadi kepada Heeyoung.

“ Datanglah, Luhan… kalau kau masih mencintai Heeyoung…”

Seulra mematikan sambungan ponselnya tanpa menunggu jawaban dari Luhan, ia hanya sekedar ingin tahu bagaimana reaksi pria itu. Apa Luhan langsung datang ke sana dan membiarkan pesta pertunangannya atau pria itu menunda kedatangannya atau malah tidak datang sama sekali. Seulra ingin tahu kualitas cinta Luhan pada Heeyoung, sebesar apa pengorbanan pria itu.

“ Apakah pria itu akan datang?”

“ Ohh, Myungsoo-ssi… aku tidak tahu… kalau dia tidak datang pun… Heeyoung akan baik-baik saja tanpa pria itu.” Seulra menjawab, dengan nada tidak yakin.

“ Heeyoung pasti terluka… sangat terluka…”

Ne, Luhan tidak sebesar itu mencintai Heeyoung… buktinya dia menerima perjodohan itu…”

“ Apalagi Luhan bertunangan dengan… ahhh Heeyoung pasti sangat terluka…”

“ Kau mengenal tunangan Luhan?” Seulra memicingkan matanya menatap Myungsoo.

Myungsoo menatap balik Seulra dan menjadi salah tingkah akibat mulutnya yang tidka bisa dikontrol.

“ Myungsoo katakan…”

Ne, aku tahu…”

“ Si… Siapa?” Perasaan Seulra mulai tidak enak, firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk.

“ Tunangannya adalah…”

***

Luhan berlari diiringi tatapan heran semua tamu, bahkan panggilan orang tuanya, tidak lagi menjadi hal penting baginya. Jihyo berlari mengikuti Luhan di belakang, gadis itu tahu ada sesuatu yang tidak beres. Setelah menerima telepon, Luhan segera berlari meninggalkannya, bahkan ia tidak berpamitan pada tamu yang sedang mengajak ngobrol mereka.

“ Luhan! Tunggu…” Jihyo kesulitan karena heels dan gaun yang sedang dikenakannya. Dengan nekat, gadis itu melepas heels yang digunakannya dan melemparkannya ke sembarang arah sambil terus mengikuti Luhan yang sudah memencet tombol lift.

“ Luhan…”

“ Apa?” Luhan menjawab dengan nada ketus.

“ Kau mau kemana?”

“ Itu bukan urusanmu…”

“ Apa ada hubungannya dengan Heeyoung?”

Luhan tidak menjawab, begitu pintu lift terbuka, pria itu segera masuk, Jihyo mengikutinya dari belakang.

“ Luhan jawab…”

“ …”

“ Luhan! Aku tahu kau tidak pernah bisa sepanik ini kalau bukan hal yang berhubungan dengan Heeyoung, iya kan?”

Ne, bisakah kau diam?”

Luhan sedikit membentak Jihyo, namun gadis itu hanya diam dan menunduk. Ia merasa bersalah, tapi hari ini Luhan sudah menjadi tunangannya. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain mencoba menerima semuanya.

“ Aku ikut…”

Ting!

Begitu pintu lift terbuka Luhan berlari ke area parkir, ia tidak memperdulikan Jihyo yang berlari di belakangnya, kesulitan dan hampir beberapa kali terjatuh akibat gaunnya.

“ AWW!”

Satu teriakan berhasil memecah konsentrasi Luhan yang sudah bersiap untuk membuka pintu mobilnya. Ia melihat Jihyo menunduk dan menyentuh telapak kakinya yang berdarah akibat gadis itu berlari tanpa memakai alas kaki.

Gwenchanayo?”

Negwenchana…” Jihyo menjawab, namun ekspresi wajahnya tidak bisa berbohong, gadis itu kesakitan.

Tanpa mengatakan apapun Luhan mengangkat tubuh Jihyo dan memasukkan gadis itu ke dalam mobilnya. Lalu setelahnya, Luhan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

***

Luhan selalu benci bau rumah sakit… membuat kepalanya pusing ditambah lagi aura kesedihan yang tidak dapat dihindarinya.

“ Lukanya tidak parah, untunglah tidak terjadi infeksi karena pakunya tidak berkarat, pemberian obat dan antibiotic secara rutin akan membuat lukanya cepat mengering.”

Ne, uisanim, ghamsahamnida…”

Luhan tersenyum kaku saat sang dokter melewatinya. Ia memandang jam analog yang berada di dinding ruangan bercat putih itu, jam 9 tepat. Harusnya pesta pertunangannya dan Jihyo sudah selesai kalau saja mereka berdua masih di sana. Namun Luhan bahkan tidak lagi peduli seberapa malu orang tuanya dan orang tua Jihyo saat mengetahui mereka menghilang di malam pertunangan mereka sendiri.

“ Kau berbaring saja di sini… aku akan pergi.”

“ Tidak… aku ikut…”

“ Kau akan memperlambatku…”

“ Luhan, kumohon, kalau ada sesuatu yang terjadi dengan Heeyoung, aku juga harus tahu.”

“ Baiklah, terserah.” Luhan melangkah meninggalkan Jihyo. Gadis itu meringis ketika kakinya menyentuh lantai yang dingin, sensasi rasa sakitnya masih terasa walaupun sudah jauh berkurang. Ia memakai sandal rumah sakit yang berada di sana, dan segera berjalan mengikuti Luhan.

Luhan tidak bisa berlari, walaupun ia ingin melakukannya, sesekali ia menoleh ke belakang tepat di mana Jihyo masih mengikutinya walaupun dengan langkah tertatih-tatih, Luhan tidak tega melihatnya, ia ingin mengangkat gadis itu seperti yang dilakukannya beberapa saat yang lalu, tetapi logikanya bekerja terlalu cepat, ia tidak ingin memberikan terlalu banyak harapan pada Jihyo. Di saat ia sendiri masih tidak bisa merelakan Heeyoung.

Chogi… boleh saya tahu apa ada pasien bernama Han Heeyoung di sini?”

Luhan bertanya pada salah satu suster jaga yang berada tidak jauh darinya.

“ Tunggu sebentar, tuan…”

Luhan menunggu sementara Jihyo baru sampai di sisi kirinya, terlihat gadis itu menahan sakit ketika menggerakkan kakinya.

“ Harusnya kau tetap di kamarmu, Jihyo.”

“ Tidak… jika kau tidak berada di sana.”

“ Apa?”

“ Ma… maksudku… aku juga ingin bertemu dengan Heeyoung… Kau pikir hanya kau yang khawatir dengannya. Luhan, aku bahkan mengenalnya lebih dulu daripada kau mengenalnya.”

“ Huh…”

“ Ada, tuan… nona Han Heeyoung dirawat dalam kamar VIP di lantai delapan, nomor kamarnya 309…”

“ Baik, terima kasih.”

Luhan menarik tangan Jihyo, tanpa kata-kata. Namun perlakuan sederhana itu mampu membuat semburat merah muncul di wajah Jihyo.

‘ Tidak, Jihyo, bukan saatnya kau senang sekarang…’

***

“ Seulra… bagaimana keadaan Heeyoung?”

Luhan menghampiri Seulra yang sedang memejamkan matanya di depan ruang tunggu bersama Myungsoo dan Jung ahjumma. Gadis itu terperangah saat mengetahui Luhan benar-benar datang ke sana, matanya langsung terpaku pada tangan pria itu yang bertautan dengan tangan seorang gadis. Seulra bangkit dari posisi duduknya, gadis itu menatap Jihyo, yang berada di sebelah Luhan, dengan tatapan kecewa yang sulit diartikan.

Plak!

Sebuah tamparan melayang ke pipi mulus Jihyo, membuat gadis itu terbelalak menatap Seulra tidak percaya. Sementara Seulra menatap Jihyo dan Luhan bergantian dengan tatapan sakit hati. Memang bukan dia yang disakiti melainkan Heeyoung, tetapi sebagai sahabat, Seulra sangat mengerti bagaimana rasa sakit Heeyoung saat ini.

“ Kau… masih berani kau menampakkan dirimu di sini? Kau menyebut dirimu sahabat, Park Jihyo? Kau tidak punya cermin di rumah? Lihat wajahmu! Nilai sendiri bagaimana dirimu saat ini… Huh! Kau bisa-bisanya merebut Luhan saat kau tahu Heeyoung hanya memiliki pria ini untuk tempat bersandar?! Kau keterlaluan!”

“ Seulra-ssigeumanhae…” Myungsoo menarik tangan Seulra untuk menjauh dari Jihyo, sementara Luhan membeku di tempat.

“ Kau! Kau!” Seulra tidak mampu melanjutkan kalimatnya, ia sangat tidak ingin melihat Jihyo saat ini.

Myungsoo maju dan melepaskan genggaman tangan Luhan dari tangan Jihyo. Ia segera membawa gadis itu menjauh sementara Luhan hanya terdiam di depan ruang tunggu berhadapan dengan Jung ahjumma.

“ Maaf, Tuan Luhan… saya tidak tahu ada masalah apa diantara Tuan Luhan, nona Heeyoung, dan nona Jihyo, tapi saya mohon… jangan sakiti nona Heeyoung, dia sudah cukup menderita tanpa tuan harus menambahkannya lagi.”

***

“ Ini… minumlah…” Myungsoo menyodorkan segelas cokelat panas ke hadapan Jihyo sementara gadis itu masih menunduk. Tetesan air matanya jatuh ke gaun yang dikenakannya.

“ Jihyo, berhenti menangis… itu tidak akan menyelesaikan apapun.”

“ Diam, Kim Myungsoo! Kau tidak tahu apapun.” Jihyo mengangkat wajahnya, barulah Myungsoo bisa melihat ekspresi menyakitkan yang dimiliki gadis itu.

“ Memang, tapi seperti yang kubilang… menangis tidak akan menyelesaikan masalah, Heeyoung mungkin tetap akan membencimu.”

Jihyo menatap Myungsoo tajam, ia tidak mengerti mengapa pria itu malah datang untuk memojokkannya bukan untuk membelanya atau menghiburnya.

“ Teman macam apa kau, Kim Myungsoo… kenapa kau malah memojokkanku? Huh?”

“ Justru aku adalah teman yang baik, Park Jihyo… aku mengingatkanmu sebelum terperosok semakin jauh. Kalau kau tidak mencintai pria itu, lebih baik kau melepaskannya, sebelum semuanya semakin rumit, aku tidak mengatakan Heeyoung akan kembali padamu, tapi setidaknya kau pantas berbahagia.” Myungsoo menyesap cairan hitam pekat yang berasal dari gelasnya, pandangan pria itu menerawang memandang langit-langit dalam koridor rumah sakit yang sepi.

“ Kau mengenalku dengan baik, Myungsoo, bahkan lebih baik dari siapapun walalupun sudah beberapa tahun berlalu sejak terakhir kali kita bertemu… tapi untuk kali ini kau salah.”

Myungsoo memandangi gadis yang berada di sebelahnya, cukup tersanjung mendengar pujian tidak langsung yang dilontarkan gadis itu untuknya. Sayang sekali, pertemuan mereka setelah sekian lama tidak bertemu harus dalam kondisi yang sama sekali tidak menguntungkan.

“ Salah mengenai apa? Aku tidak yakin Heeyoung akan memaafkanmu 100%… walaupun baru mengenalnya, aku paham dengan watak gadis itu.”

Jihyo mengerutkan keningnya, terlintas pertanyaan di benaknya, bagaimana bisa Myungsoo mengenal Heeyoung, namun urung dilontarkannya pertanyaan itu karena ia merasa bukan saat yang tepat untuk membahas sosok Heeyoung, gadis yang sekarang sakit karenanya.

“ Bahkan kau juga membelanya…”

“ Apa?”

“ Kau tidak tahu, Myungsoo, aku menyimpan ini sekian lama…”

“ Tentang apa?”

“ Kenyataan… bahwa aku mencintai Luhan, mencintai kekasih dari sahabatku sendiri.”

Kemudian jawaban Jihyo, terlalu singkat sebenarnya, berhasil membuat Myungsoo terdiam. Menikmati rasa sakit yang tiba-tiba muncul, entah apa penyebabnya.

“ Mencintai… Luhan?” lirih Myungsoo ditengah rasa kaget bercampur kecewa yang menderanya tanpa ampun.

“ Ya aku mencintainya, dan aku tidak pernah menyesal pernah mengalami hal itu.”

***

Luhan…

Pemandangan pertama yang dilihat Heeyoung begitu ia membuka matanya, seluruh rasa sakitnya muncul kembali. Entah apa yang dilihatnya beberapa jam lalu saat pingsan, ia tidak lagi peduli. Ia tidak akan sanggup berjalan satu langkah pun tanpa Luhan di sampingnya. Pria itu adalah candu terbesarnya, pria itu yang membuatnya merasa ‘hidup’ setiap waktu. Pria itu… hanya pria itu…

Namun pria itu jugalah yang menyakitinya lebih dari siapapun yang dikenalnya di dunia ini…

“Heeyoung kau sudah sadar? Mana yang sakit? Mau kupanggilkan dokter… Heeyoungie…”

Perkataan Luhan terputus begitu melihat tetesan air mata yang mengalir menuruni wajah pucat Heeyoung. Bukan sekedar air mata biasa, bukan juga air mata yang dilihatnya ketika pertama kali ia memberitahukan pada gadis itu mengenai keputusannya untuk menerima perjodohan yang dirancang orang tuanya.

Tatapan itu…

Tatapan penuh kebencian yang sekarang ditujukan padanya…

Tatapan yang menandakan rasa sakit yang dialami pemiliknya…

“ Luhan, pergilah… kumohon…”

“ Ta…”

“ Luhan, kumohon…”

Luhan menurut, ia meningglkan Heeyoung sendirian di dalam kamar rawatnya, seperti permintaan gadis itu. Luhan tahu cepat atau lambat Heeyoung akan mengetahui semuanya. Tentang perjodohannya dengan Jihyo, sesuatu yang tak termaafkan.

Sepeninggal Luhan, Heeyoung tidak menjadi lebih baik. Gadis itu hancur. Ia tahu, ia menginginkan Luhan tetap di sampingnya, tetapi setiap melihat wajah Luhan, yang terbayang dalam ingatannya adalah wajah Jihyo yang sedang tersenyum dalam balutan gaun berwarna senada dengan jas yang dikenakan Luhan. Heeyoung memendam wajahnya diantara kedua lututnya. Gadis itu menangis dalam diam, tidak peduli seberapa banyak air mata yang dkeluarkannya, ia tetap merasakan sakit yang sama.

“ Jihyo, aku percaya kau adalah sahabatku… tapi kenapa?”

Heeyoung merasa hidupnya tidak pernah adil, pertama ia kehilangan sosok ibunya. Ibu yang selalu ada untuknya, menemaninya belajar, membuat PR, mengikatkan rambutnya, memeluknya ketika ia tersenyum ataupun menangis. Sosok ibu sempurna yang selalu ada di benaknya. Kedua, ia kehilangan sosok ayahnya, ayahnya tidak pernah pergi, bahkan mereka masih tinggal satu rumah, tetapi kehangatan yang didambakannya lenyap seiring dengan langkah kaki ibunya yang pergi meninggalkannya dan juga sang ayah. Sesosok ayah yang tiba-tiba hilang dari hidupnya. Ketiga, ia kehilangan kekasihnya, hal terpenting dalam hidupnya setelah orang tuanya. Yang terakhir dan yang paling menyakitkan untuknya, ia kehilangan sosok sahabatnya. Semua orang tahu, bagaimana sosok Heeyoung yang dingin dan sombong, bisa menjadi sosok yang ramah dan baik hati di depan Jihyo, membuat gadis itu menjadi satu-satunya wanita yang membuat Heeyoung bisa tampil apa adanya, menjadi diri sendiri di saat orang lain hanya tahu cara untuk menghinanya.

“ Tuhan, apa Kau membenciku? Apa dosa yang kulakukan di masa lalu, sehingga harus Kau ambil semua orang yang paling berharga dalam hidupku? Mereka hidup dan berada di sekelilingku tapi bukan untukku…”

Heeyoung menarik nafasnya, ia lelah menangis setelah kemarin ia sudah menangisi Luhan seharian. Tapi air matanya enggan berhenti, seolah air mata adalah bagian dari kehidupannya sekarang. Seolah tanpa air mata, kehidupannya berakhir sampai di situ.

Perih, kecewa, sakit, amarah…

Luruh bersama jatuhnya air mata gadis itu untuk yang kesekian kalinya…

***

“ Cari Luhan dan Jihyo!  Mereka harus ditemukan malam ini juga! Sampai pelosok dunia sekalipun aku tidak mau tahu!”

Nyonya Lu memandang semua pria bersetelan jas hitam yang berada di depannya dengan tatapan murka yang teramat jelas. Wajahnya merah padam setelah beberapa jam lalu ia mendapatkan malu, anaknya dan tunangan anaknya, Park Jihyo, melarikan diri bersama saat acara masih berlangsung. Tidak terhitung berapa juta kali, ia dan keluarga Jihyo meminta maaf pada para rekan bisnis penting mereka yang hadir dalam pertunangan itu.

“ Baik, nyonya… kami sudah mendapatkan informasi Tuan Luhan dan nona Jihyo berada di Seoul hospital…”

“ Seoul Hospital? Untuk apa mereka ke sana?”

“ Sepertinya mengunjungi nona Han Heeyoung, nyonya…”

“ Heeyoung! Gadis itu… cepat seret Luhan ke sini dan antarkan Jihyo ke rumahnya! Sekarang…”

Wajah nyonya Lu bertambah merah mengetahui siapa penyebab kekacauan pesta pertunangan Luhan dan Jihyo. Wanita paruh baya itu merilekskan matanya dengan menatap bulan yang bertengger mesra dalam singgasananya dikelilingi bintang yang bersinar dalam mega malam. Tatapan benci tidak pernah lepas dari sana, ia amat sangat gerah dengan kelakuan putra tunggalnya.

“ Baik, nyonya…”

Setelah anak buahnya pergi, Nyonya Lu kedantangan seorang tamu. Seorang wanita paruh baya yang tetap cantik dalam usianya yang tidak lagi muda, menginjak lima puluhan, dengan balutan gaun modis yang membentuk tubuhnya sempurna. Wanita itu melangkah anggun mendekati Nyonya Lu yang belum beranjak satu inchi pun dari tempatnya berdiri.

Eonni, tenanglah…”

“ Bagaimana aku bisa tenang saat tahu putraku sendiri yang merusak pesta pertunangannya?!”

“ Pesta pertunangan macam apa ini… aku tidak bisa melihat cinta di mata Luhan.”

“ Memang Luhan tidak mencintai gadis itu…”

“ Lalu kenapa? Aku dengar dari gossip, kau menjual Luhan, agar perusaahan keluarga Park bisa menanamkan modalnya di perusahaan kita… ada apa denganmu, eonni? Dari yang aku tahu… perusahaan keluarga kita baik-baik saja.”

“ Memang… Tidak ada masalah, semuanya lancar…”

“ Lalu kenapa kau memaksa Luhan menikahi Park Jihyo?”

“ Ada alasan lain yang kau tidak tahu… aku membenci gadis itu.”

“ Siapa?”

“ Han Heeyoung… gadis yang masih berstatus kekasih Luhan sampai saat ini, gadis yang menyebabkan pesta pertunangan Luhan kacau balau seperti ini… siapa lagi… gadis itu…”

“ Han Heeyoung putri dari komisaris Han Kyujoong, bukankah kalau kau membiarkannya menikah dengan Luhan… perusahaan kita malah akan sangat terbantu?”

“ Tidak, sampai aku matipun, aku tidak akan membiarkan putraku menikah dengan gadis itu…”

“ Kenapa? Kelihatannya kau membencinya…”

“ Tidak secara langsung…”

“ Maksudmu?”

***

Plak!

“ Heeyoung, aku bisa menjelaskan semuanya…”Jihyo memegangi pipinya yang memerah dan memanas. Tamparan kedua yang didapatkannya hari itu setelah sebelumnya Seulra yang menamparnya.Tamparan Heeyoung tidak sekeras tamparan Seulra bahkan mungkin tidak sampai setengah kekuatan Seulra saat menamparnya. Tapi tamparan Heeyoung jauh lebih menyakitkan, berjuta-juta kali lipat lebih menyedihkan.

“ Aku percaya padamu, Jihyo…tapi kenapa kau lakukan ini padaku? Kenapa? KENAPA?” Heeyoung histeris bersamaan dengan luruhnya air matanya untuk yang kesekian kalinya. Jihyo berusaha mendekati Heeyoung, memeluk gadis itu, sama seperti yang dilakukannya bertahun-tahun lalu saat ibu Heeyoung pergi meninggalkan gadis itu, sendirian, tanpa adanya kasih sayang yang tersisa untuknya.

Heeyoung ingin menepis tangan Jihyo yang menyentuh tubuhnya, tetapi ia urung melakukan hal itu karena ia menikmati setiap pelukan yang Jihyo berikan untuknya. Hangat dan nyaman, di saat paling menyakitkan sekalipun.

“ Kami dijodohkan… aku tidak kuasa menolak perjodohan yang diatur oleh orang tuaku… bukankah kau sudah tahu ceritanya dari Luhan?”

“ Lantas kenapa kau tidak mengatakan kalau gadis itu adalah kau?! Aku hancur hanya untuk dilihat oleh calon istri dari kekasihku sendiri… kau benar-benar jahat, Jihyo-ah… aku kecewa padamu.”

“ Maaf, aku hanya belum siap mengatakannya… aku akan membuatmu sakit, Heeyoung…”

“ Tapi kalau seperti ini, kau bukan saja membuatku sakit, Jihyo, tapi kau membuatku hancur, hancur lebih dari yang kau tahu dan yang bisa kau pahami! Kau mengenalku sangat baik, Jihyo! Kenapa kau lakukan ini padaku?” Heeyoung histeris, ia sangat terguncang dengan kenyataan ini. Perasaan sakit menyiksanya sampai-sampai ia lupa apakah ia masih bisa bernafas atau tidak besok pagi. Terbangun dengan kenyataan pahit, kekasihnya bertunangan dengan sahabatnya.

Apakah ada yang lebih menyakitkan daripada itu?

Kalaupun ada, Heeyoung tidak tahu apakah ia masih bisa merasakan sakitnya atau tidak, karena menurutnya rasa sakit terparah yang bisa dialaminya adalah sekarang. Saat ini, saat di mana semuanya tiba-tiba terenggut paksa untuk yang kedua kalinya dalam kehidupannya. Di saat semua orang yang disayangi dan dipercayainya malah mengkhianatinya dengan cara yang tidak bisa diprediksinya.

“ Ini bukan kemauanku, Heeyoung! Bukan juga kemauan Luhan… kau harusnya mengerti, kalau kau mencintainya, kau pasti percaya padanya… bukan malah membuatnya dalam posisi sulit seperti ini!”

Plak!

Sebuah tamparan melayang dan mengenai pipi Jihyo untuk yang kedua kalinya, lebih keras dari yang pertama. Tapi gadis itu berusaha diam, menahan setiap emosi yang bergejolak di dalam dadanya.

“ Kau tidak pantas mengatakannya, Jihyo, kau tidak pantas mengatakan hal yang membuatmu seolah mengenal Luhan… aku adalah kekasihnya selama 4 tahun, aku tahu bagaimana aku harus memperlakukannya…”

Jeongmalyo? Kau kekasihnya… memang… tapi itu tidak menjamin kau mengenalnya dengan baik… kau kau mencintainya, harusnya kau percaya padanya dan bukan menjauhinya… kau merubah Luhan menjadi sosok yang tidak dikenal bahkan oleh dirinya sendiri, apa itu yang namanya kau mengenalnya? Tidak, Han Heeyoung…”

“ Bisakah kau tutup mulutmu?! Aku tidak merubahnya… ia yang berubah karena dirinya sendiri… dan pantaskah seorang pengkhianat berkata seperti itu padaku? Pergi! Aku tidak akan pernah sudi melihatmu lagi! Pergi!”

Heeyoung melempar bantal yang ada di belakangnya ke arah Jihyo. Membuat Jihyio memundurkan tubuhnya beberapa langkah namun belum keluar dari sana seperti perintah Heeyoung.

“ Pergi, Park Jihyo! Pergi!”

“ Baik, aku akan pergi…”

Sesaat setelah Jihyo menghilang di balik pintu, Heeyoung memejamkan matanya, menikmati setiap sensasi rasa sakit yang tercipta di sudut-sudut hatinya.

‘ Satu lagi orang yang kucintai harus pergi…’

***

“ Bawa saja mereka, kehadirannya tidak diharapkan di sini.” Seulra menatap sinis ke arah Jihyo dan Luhan yang sekarang sedang diseret oleh beberapa orang berpakaian rapi dan sepertinya sudah bisa ditebak mereka adalah orang suruhan dari orang tua Luhan atau orang tua Jihyo, mengambil kembali majikan mereka yang kabur pada saat pesta pertunangan mereka sendiri.

“ Aku masih ingin menemui Heeyoung, aku tidak akan pergi…” Luhan berteriak, menggali sisa-sisa nada keputusasaannya yang terdengar jelas dari setiap helaan nafasnya yang memburu tanpa ritme yang teratur.

“ Heeyoung tidak ingin bertemu denganmu, bisakah kau memberinya sebuah kesempatan untuk berpikir, Luhan-ssi?” Myungsoo memberanikan diri untuk berbicara setelah sebelumnya bungkam dan terlihat menunggu apa yang akan terjadi, bagaikan sebuah tontonan dan hiburan tersendiri baginya.

“ Siapa kau? Apa hakmu untuk ikut campur?”

“ Lebih baik kita pulang, Luhan…” Jihyo menarik tangan Luhan dan menenggelamkan jemari pria itu pada tautan jemarinya. Bisa dilihat dari ekspresi Luhan, pria itu tidak menyukai gaya bahasa Myungsoo yang terlalu frontal dan blak-blakan.

“ Tidak, Jihyo… aku…”

“ Sebaiknya kau turuti saja keinginan tunanganmu, Luhan-ssi…”Myungsoo melirik ke arah Jihyo diiringin sebuah smirk yang mungkin hanya diketahui oleh mereka berdua maknanya, hal yang membuat Jihyo pucat pasi seketika.

Seulra melihat senyuman aneh yang ditujukan Myungsoo pada Jihyo, ia semakin yakin ada sesuatu diantara kedua orang itu. Hal yang membuat mereka sedemikian dekat kemudian sesuatu itu jugalah yang membuat mereka semakin menjauh sampai hubungan mereka tak terdefinisi seperti saat ini.

“ Kau…”

“ Sudahlah, lebih baik kita pulang…”

Jihyo langsung menarik tangan Luhan menjauh, entah kekuatan darimana gadis itu berhasil membuat Luhan tetap berada di sampingnya, walaupun mulut pria itu tidak berhenti mengucapkan kata-kata bahwa ia ingin tetap berada di sana.

“ Jadi, ada hubungan apa diantara kau dan Jihyo sebenarnya, Myungsoo-ssi, maaf kalau aku lancang…”

Seulra, memang pada dasarnya gadis itu adalah tipe orang yang mudah penasaran. Walaupun tidak sepantasnya ia bertanya hal yang cenderung bersifat pribadi pada orang yang baru dikenalnya, ia tetap menanyakan hal itu pada Myungsoo, didorong rasa penasaran akut.

Ne? Ahh hanya teman biasa…”

“ Benarkah maksudku kau terlihat cemburu…”

“ Apa? Aku… hahahahaha… yang benar saja.” Myungsoo berusaha menutupi kekagetannya dengan tertawa canggung, apa perasaan cemburunya terlihat sebegitu jelasnya sampai Seulra bisa membacnya dengan mudah?

“ Ahhh… hahaha… maaf, Myungsoo-ssi, jangan buat nilaiku menjadi jelek karena kelancanganku ini…” Seulra baru ingat bahwa nasibnya untuk mata kuliah Nam Seongsaenim masih berada di tangan Myungsoo, tindakannya tadi bisa jadi membahayakan bagi nilainya.

“ HAHAHAHA… tentu saja tidak, aku tidak berhak atas nilai kalian, semuanya ada di tangan Nam seongsaenim… euhmm, Jihyo hanya temanku, benar, ya benar hanya teman…”

‘ Teman… ya hanya teman…’

***

Matahari menyapa dengan lembut, membangunkan sesosok gadis yang tengah bergelung di dalam selimutnya bertemankan bantal guling yang dengan setia menjadi tempat mencurahkan tangisan gadis itu semalam sampai ia benar-benar tertidur beberapa jam sebelumnya.

“ Eugh….” Jihyo membuka matanya, hal pertama yang ditangkap oleh retinanya adalah jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul 9 pagi. Ia tahu ia terlambat untuk masuk kelas pertama yang dimulai satu jam yang lalu, tapi apa pedulinya. Ia tidak lagi memiliki teman yang akan mengingatkannya untuk bangun pagi dan hal itu perlahan menyakiti Jihyo untuk yang kesekian kalinya.

“ Teman… aku tidak butuh mereka…”

Jihyo menggeliat malas sebelum beranjak dari tempat tidurnya. Moodnya masih hancur, ian tidak bisa berangkat kuliah karena ia sama sekali tidak akan bisa berkonsentrasi. Ia benar-benar bingung bagaimana harus menghadapi Heeyoung sekarang, selain berusaha memberikan gadis itu kesempatan untuk memikirkan ucapannya semalam. Lagipula luka di kakinya masih terasa ngilu walaupun ia sudah merasa jauh lebih baik dari kemarin, bahkan kata dokter mungkin besok perbannya bisa dibuka.

Jihyo memutuskan untuk keluar dari kamarnya, menghidup udara pagi yang masih tersisa di saat matahari kian meninggi. Rumahnya berada dalam keadaan sepi, wajar karena orang tuanya pasti sudah berangkat sejak beberapa jam yang lalu.

“ Selamat pagi, Park Jihyo… atau harus kupanggil Lu Jihyo mulai dari sekarang?”

Jihyo menoleh dan melihat sesosok pria yang tidak pernah lagi ditemuinya sejak dua tahun terakhir. Mata bening gadis itu membelalak lebar tatkala melihat sang pria yang mendekatinya. Jihyo bahkan harus mengucek matanya agar sosok itu real, bukan hanya sekedar ilusinya yang terlalu merindukan sosok itu.

Oppa… Chanyeol oppa?”

***

“ Nona, maaf saya harus meninggalkan anda sendirian di sini… saya harus mengambil beberapa keperluan nona di rumah, nanti siang saya akan kembali ke sini.”

Heeyoung menatap Jung ahjumma dengan matanya yang membengkak karena terlalu banyak mengeluarka air mata, gadis itu tersenyum dan mengangguk.

“ Kapan aku boleh keluar dari sini? Aku tidak tahan dengan bau obat yang terus-terusan menggelitikku.”

“ Kalau kondisi nona sudah membaik, mungkin besok atau lusa nona bisa keluar dari rumah sakit…”

“ Tidak bisakah hari ini saja? Aku sudah tidak apa-apa…”

“ Baiklah, nanti akan saya tanyakan…”

“ Terima kasih, Jung ahjumma…”

“ Saya mohon pamit, nona…”

Heeyoung mengangguk dan setelahnya Jung ahjumma segera meninggalkan gadis itu di ruangannya, kembali sendirian.

“ Huft…” Heeyoung memejamkan matanya dan rasa sakit itu kembali datang menderanya. Beberapa menit kemudian gadis itu membuka matanya kembali, matanya kembali memanas. Namun ia berusaha sangat keras untuk tidak kembali menangis.

Apalagi ia menangisi orang yang sama sekali tidak pantas mendapatkan air matanya. Walaupun Heeyoung menyadari betapa berartinya kedua orang itu dalam hidupnya. Bagaikan oksigen dan air, tanpa kedua benda itu, ia tidak dapat hidup.

“ Lantas bagaimana aku menjalani hidupku selanjutnya…” Heeyoung tertawa sinis, berusaha menertawai hidupnya sendiri yang terasa begitu menyedihkan. Mungkin ia melakukan dosa yang sangat besar di masa lalu, sehingga di masa sekarang, ia mendapatkan hukuman seberat ini.

Untunglah ia masih memiliki Seulra, walaupun mungkin ia harus sedikit menjaga jarak dengan gadis itu. Heeyoung trauma, ia tidak mungkin bisa mempercayai siapapun lagi setelah ini. Ia tidak siap mengalami rasa sakit yang lebih parah dibandingkan dengan rasa sakitnya sekarang.

“ Kau hanya perlu mensyukuri apa yang kau miliki sekarang… entah siapapun itu… belajarlah terbuka pada orang lain, Heeyoung…”

Gadis itu menoleh saat mendengar suara seseorang, ia mendapati Myungsoo berjalan ke arahnya. Tetap dengan tatapan yang sama, dingin namun lembut di saat bersamaan. Heeyoung hanya tersenyum ringan sebelum menanggapi ucapan Myungsoo.

“ Kenapa kau masih di sini?”

“ Memangnya tidak boleh?”

“ Bukannya kau harus menggantikan Nam Seongsaenim? Dasar pemakan gaji buta…”

“ Hari ini aku tidak ada jadwal mengajar, gadis cerewet, kau sudah sembuh sepertinya, buktinya kau bisa bawel sekarang.”

Heeyoung tersenyum, kali ini tanpa paksaan atau rasa tidak enak karena pria itulah yang sudah menolongnya kemarin, Myungsoo berhasil merubah mood-nya sedikit demi sedikit. Sepertinya pria itu adalah pria yang menyenangkan.

“ Maaf…”

“ Kenapa tiba-tiba meminta maaf?”

“ Kau sudah tahu terlalu banyak, secara tidak langsung aku menyeretmu dalam masalah ini… Jinjja mianhae…”

Gwenchana… aku tidak keberatan… mungkin ini memang berat bagimu, tapi percayalah, selalu ada pelangi sehabis hujan.” Myungsoo tersenyum, senyuman pertamanya hari itu, ia memandang ke arah jendela, sinar matahari menerpa wajahnya secara langsung.

“ Tetapi aku sudah kehabisan matahariku…tanpa matahari hujan tidak akan berhenti…”

“ Tidak… kau hanya belum menemukannya… Aku juga sama-sama berusaha, sepertimu…”

“ Apa? Apa maksudmu?”

“ Bukan hanya kau sendirian yang merasakan sakit, Heeyoung… aku juga…”

Heeyoung mengerutkan keningnya, menunggu Myungsoo menyelesaikan kalimatnya.

“ Sebenarnya aku…”

***

Jihyo memandang pintu kayu di depannya dengan tatapan ragu, sebuket bunga Lily putih sudah berada di tangannya. Matanya memandang bunga itu dengan perasaan kagum. Namun kekagumannya memudar seiring dengan tatapannya yang bertabrakan dengan pintu kayu itu. Terlihat kokoh, kuat, namun juga terlihat menyedihkan di saat yang bersamaan jika mengingat siapa yang berada di baliknya.

Jihyo mungkin bisa disebut sebagai gadis tidak tahu diri karena masih berani menampakkan diri walaupun sudah diusir secara tidak hormat oleh Heeyoung kemarin. Namun persahabatannya terlalu berharga hanya untuk dirusak oleh kenyataan bahwa ia ‘merebut’ kekasih Heeyoung. Ia tidak mau disebut sebagai pencuri walaupun kenyataannya memang seperti itu.

Nyatanya ia tidak menolak perjodohan itu, walaupun dengan alasan masuk akal namun egois. Ia juga mencintai Luhan, bahkan sebelum Heeyoung mengatakan kalimat itu. Takdir yang berpihak pada Heeyoung membuatnya iri, namun sekarang takdir itu mempertemukannya dan Luhan. Apa ia salah jika ingin merubah jalan takdirnya sendiri? Dengan bersama Luhan, walaupun itu terasa menyakitkan.

Apa yang lebih menyakitkan dibandingkan melihat orang yang kita cintai tidak bahagia bersama kita?

Fighthing!”

Berusaha menebalkan mukanya, Jihyo bersiap menarik gagang pintu yang tak pernah luput dari pandangannya sejak hampir sepuluh menit yang lalu.

“ Jihyo-ah…”

Gadis itu menoleh dan terpaku mendapati seseorang yang berada di belakangnya, menatapnya dengan tatapan yang aneh, tidak pernah dilihat olehnya sebelum ini.

“ Untuk apa kau ke sini?”

Eo… Eommonim?”

***

Myungsoo menatap sebuket bunga Lily yang berada di ujung bangku yang berada di koridor depan kamar Heeyoung. Pria itu mengambil bunga malang yang ditinggalkan pemiliknya itu dan menatapnya dalam diam sebelum membawanya masuk ke dalam.

“ Kau perhatian sekali… katanya keluar untuk membeli kopi, tapi kau malah membawa bunga…”

“ Huh… ini? Aku tidak membelinya, aku menemukannya tergeletak di luar… aku belum membeli kopi, aku akan meninggalkannya untukmu, anggap saja bunga ini memang ditakdirkan menjadi milikmu karena diletakkan di depan pintu kamarmu.”

Myungsoo mengatakan itu sebelum memutuskan untuk pergi, sementara Heeyoung menatap bunga Lily putih yang ditinggalkan Myungsoo dalam diam. Bunga favoritnya sekaligus bunga yang selalu mengingatkannya dengan kenangan pahit.

Bunga itu selalu mengingatkannya dengan dua orang, Luhan, karena pria itu menyatakan perasaannya menggunakan bunga Lily dan ibunya sendiri. Sebenarnya ia menyukai bunga itu karena ibunya sangat menyukai Lily, bahkan dulu ibunya memiliki kebun bunga Lily di taman belakang rumah mereka, namun semua bunga itu sekarang tidak lagi menarik sejak ibunya pergi dari rumah.

“ Huh… lagi-lagi, kenapa aku harus mengingat mereka?”

Heeyoung mulai berpikir ke arah lain, kali ini Myungsoo yang menjadi sasarannya, ia penasaran mengapa pria itu tidak jadi menceritakan mengapa ia berkata kalau mereka sama. Heeyoung memiliki firasat kalau sebenarnya pria itu menyembunyikan sesuatu, antara dirinya dan Jihyo. Apalagi Heeyoung pernah melihat foto Jihyo yang disimpan pria itu.

Heeyoung ingat sebelum ia meminta Myungsoo menemaninya datang ke acara pertunangan Luhan, ia berjanji akan mendekatkan pria itu dan Jihyo. Apa mungkin hal itu yang akan dibicarakan Myungsoo? Kalau sebenarnya ia memang memiiki perasaan khusus terhadap Jihyo?

“ Hah! Lagi-lagi aku memikirkan hal yang tidak penting…”

Heeyoung mengambil ponselnya dan berusaha mengusir rasa bosan yang melandanya karena kepergian Myungsoo, walaupun hanya untuk membeli segelas kopi.

Kosong…

Heeyoung kecewa tidak menemukan satu pesan pun dari Luhan untuknya, memang ia masih sangat marah dan tidak ingin bertemu dengan pria itu sekarang, namun ia tetap berharap setidaknya pria itu mengirimkan pesan padanya, tanda kalau pria itu tetap peduli padanya walaupun ia sudah mengusir Luhan kemarin.

“ Apa kau mulai benar-benar pergi, Luhan?”

Heeyoung meletakkan ponselnya kembali, tidak mau mengingat apapun yang berhubungan dengan Luhan walaupun pada kenyataannya, pria itulah yang mendominasi isi pikirannya sekarang.

Yaa! Kau melamun? Ada apa?”

“ Oh, kau sudah kembali… bisa aku minta tolong?”

“ Apa?”

“ Aku tidak mau melihat bunga ini ada di kamarku…”

Myungsoo mengerutkan dahinya, kenapa tiba-tiba Heeyoung tidak ingin melihat bunga itu setelah sebelumnya baik-baik saja?

Please, Myungsoo-ssi…”

“ Baiklah… Aku akan membawanya nanti.”

“ Satu hal lagi, Myungsoo…”

“ Ya?”

“ Aku akan tetap menjadi supirmu, walaupun mobilmu sudah sembuh, aku tidak peduli.”

***

One Day Later…

“ Jihyo, chukaeee…”

Jihyo kebingungan melihat beberapa teman sekelasnya, mayoritas wanita, memberikan ucapan selamat padanya. Ia mengingat-ingat apa mungkin ia mendapatkan nilai bagus dalam kuis yang diumumkan kemarin saat ia tidak masuk? Mengapa tiba-tiba hampir semua wanita yang berada di kelasnya menghambur ke arahnya dan memberikan ucapan selamat. Ya, tidak semua wanita, karena Seulra tetap diam di tempatnya, memberikan tatapan sinis, namun Jihyo tidak lagi peduli.

“ Selamat untuk apa?”

“ Kau bertunangan dengan Luhan kan hari Minggu lalu? Kenapa tidak mengundang kami…”

Jihyo pucat pasi, ia tahu benar, Luhan memiliki banyak sekali penggemar. Jangan-jangan semua gadis ini berniat mem-bully-nya karena tidak suka dengan pertunangannya dan Luhan, mengingat Heeyoung saja dibenci karena ia berstatus kekasih Luhan, apalagi dia, sekarang statusnya adalah tunangan Luhan, bahkan sebentar lagi akan menjadi istri Luhan.

“ I… Itu…”

“ Kami senang karena Luhan berada di tangan yang tepat…”

“ Walaupun kami sedih karena Luhan tidak single, tapi setidaknya kau seribu kali lebih baik daripada Heeyoung…”

“ Kau tahu betapa senangnya aku saat tahu Luhan bertunangan bukan dengan Heeyoung?”

“ Kau pantas mendapatkannya, Jihyo-ah…”

Jihyo tersenyum walaupun ia merasa bersalah, ia senang setidaknya ia tidak akan dibenci walaupun statusnya adalah tunangan Luhan namun ia bersedih karena mereka semua adalah orang yang pernah membenci Heeyoung namun memujinya sekarang. Ia tidak suka nada bicara mereka saat menjelekkan Heeyoung. Heeyoung adalah sabahatnya, seseorang yang akan terus dijaga olehnya walaupun gadis itu sekarang membencinya.

“ Kalian! Berhentilah menjilat… Heeyoung yang satu juta kali lebih baik dari pengkhianat itu!” Seulra berteriak dan berhasil membuat gadis-gadis itu menoleh kepadanya dan menatapnya sinis, namun Seulra tidak peduli, ia malah memasang headsetnya dan menyetel music dengan volume yang setidaknya dapat ‘menulikannya’ dari cercaan gadis-gadis itu.

“ Sudah, kalian semua… euhm, sebenarnya aku dijodohkan dengan Luhan, jadi pertunangan ini sebenarnya tidak kuinginkan…” Jihyo terpaksa berbohong, demi menjaga perasaan Seulra. Karena gadis itu tampaknya masih salah paham dan tidak mengerti kondisinya saat ini.

“ Walaupun begitu, kami akan tetap mendukungmu, Jihyo-ah… kau gadis yang baik, tidak seperti Heeyoung yang sombong, kami tidak tahu mengapa kau tahan berteman dengan Heeyoung… Kami akan menjadi temanmu, kau tenang saja…”

Ceklek!

Heeyoung masuk ke ruangan itu, tetap dengan tatapan arrogant-nya yang dibenci semua orang. Beberapa gadis menatapnya sinis, bahkan ada yang secara terang-terangan menyindir hubungannya dan Luhan yang sudah berakhir. Namun Heeyoung tidak peduli, ia mengambil tempat di sebelah Seulra dan membuka buku catatannya, berusaha menyibukkan diri dengan membaca berbagai jenis tulisan yang ada di sana walaupun ia tidak benar-benar berkonsentrasi. Ia memang tidak pernah peduli dengan perkataan gadis-gadis yang hanya iri dengannya, terutama dengan hubungannya dan Luhan. Tapi perkataan mereka kali ini, apalagi dengan membawa-bawa nama Jihyo, membuatnya risih, bukan hanya risih sebenarnya melainkan sakit.

“ Jangan dengarkan mereka.” Seulra memasangkan sebelah headsetnya ke telinga Heeyoung dan membuat gadis itu tersenyum ke arahnya dan mengangguk.

Sementara di sudut lain Jihyo menatapnya dengan kesedihan yang tidak bisa diartikan, ia kehilangan.

Kehilangan sahabat terbaik yang pernah ia dapatkan seumur hidupnya.

***

Luhan menguap untuk yang kesekian kalinya hari itu, ia tidak bisa tidur sejak dua hari yang lalu. Setiap ia berusaha memejamkan matanya, wajah Heeyoung dengan tatapan penuh luka akan muncul di sana. Luhan benci melihat Heeyoung menangis, terlebih alasan gadis itu adalah karenanya. Demi apapun, Luhan akan berusaha mendapatkan Heeyoung kembali, tidak peduli dengan pertunangannya dan Jihyo. Ia akan berusaha membuat Heeyoung memaafkannya. Terdengar egois?

Memang, tapi itulah jalan yang terbaik yang bisa dipikirkannya saat ini. Ia berusaha memberikan Heeyoung waktu untuk berpikir, namun ia sendiri hancur karena pikirannya. Ia tidak bisa melakukan apapun dengan tenang. Heeyoung dan Heeyoung lagi… wajar, selama hampir setiap hari ia bertemu dengan gadis itu, menciumi aroma tubuhnya yang seperti buah anggur, Luhan menyukainya, tidak… bukan hanya menyukai aromanya, tapi Luhan tegila-gila dengannya. Dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan Heeyoung.

“ Luhan…”

Oh Sh*t!

Luhan sedang tidak ingin mendengar suara itu sekarang, bukan karena ia membenci pemilik suara halus itu, namun mood-nya sedang berantakan hanya untuk sekedar melihat wajah gadis itu. Luhan butuh waktu untuk menghapus bayangan Heeyoung yang semakin lama membuatnya semakin menggila.

“ Apa?”

Jihyo sudah terlalu biasa mendengar Luhan berkata dengan nada sinis padanya. Ia bahkan berusaha menganggap itu adalah cara Luhan menunjukkan kasih sayangnya, terdengar tidak waras, tapi Jihyo berusaha berpikir positif walaupun ia merasa sebaliknya.

“ A… aku…” Jihyo mendadak lupa caranya berkata-kata, tatapan Luhan yang mengerikan membuatnya merasa pria itu bisa membunuhnya hanya dengan menatapnya, tentu saja dalam arti yang negative.

“ Aku sedang tidak ingin diganggu…”

Jihyo hampir menyerah kalau saja ia tidak ingat perkataan calon ibu mertuanya untuk semakin mendekatkan diri pada Luhan karena waktu pernikahan mereka yang sudah ditentukan. Tentu ia tidak mau hubungannya masih seperti ini walaupun ia sudah menikah dengan Luhan.

“ Aku ingin mengajakmu makan siang.” Jihyo memberanikan diri berbicara walaupun dengan suara bergetar.

“ Makan siang saja dengan temanmu yang lain…”

“ Kau lupa… aku tidak memiiki teman sekarang…”

Luhan tersentak, mendadak ia ingat, kalau dalam kasus ini, Jihyo sama menderita dengan dirinya. Sama-sama dijodohkan, sama-sama dibenci Heeyoung, tapi gadis itu tampaknya bersedia menerima semuanya dengan lebih sabar daripada ia sendiri. Luhan merasa sedikit simpati walaupun ia masih membenci perjodohannya dengan gadis itu.

“ Baiklah… terserah…” Luhan berjalan di depan Jihyo dan membuat gadis itu tersentak, secepat itukah Luhan berubah? Walaupun masih dengan gayanya yang dingin, setidaknya pria itu mau menerima ajakannya.

Jihyo mengikuti Luhan dari belakang dan dengan cepat menarik lengan pria itu dan mengalungkan lengannya di lengan Luhan yang terlihat kokoh. Mungkin akan menyenangkan jika lengan Luhan yang kuat itu memeluknya, melindunginya, menjadi tempatnya bergelayut manja seperti yang sering dilakukan Heeyoung.

Luhan hanya diam dengan tindakan Jihyo, ia terlalu lelah untuk sekedar memusingkan hal-hal kecil yang membuat pikirannya bercabang.

Mungkin memang jalan takdir mereka atau dunia yang terlalu sempit bagi kedua insan itu. Luhan dan Heeyoung kembali bertemu. Kali ini Heeyoung hanya bersama Seulra, keduanya bersenda gurau seolah tanpa bebas sebelum mata Heeyoung bertemu dengan mata Luhan.

Keduanya bertatapan dalam diam yang panjang, apalagi Heeyoung mengalihkan tatapannya pada tangan Jihyo yang kini melingkari lengan Luhan. Matanya mulai memanas, ia tidak terima dengan itu semua, namun ia harus kelihatan kuat di depan Luhan dan Jihyo, dua orang yang menjadi sumber masalahnya sekarang.

“ Jadi sekarang kalian sudah berani terang-terangan? Huh… baguslah… harusnya dari awal saja, Jihyo-ssi… jadi ini alasan mengapa sikapmu aneh belakangan…”

Heeyoung mendesis, ia mengeluarkan kata-katanya dengan pedas dan berhasil membuat Jihyo melepaskan lengannya dari lengan Luhan. Ia terlihat salah tingkah apalagi karena ia melihat dengan jelas mata Heeyoung memerah, seperti menahan tangis. Jihyo sendiri merasakan matanya mulai memanas. Sejak dulu setiap Heeyoung menangis, maka Jihyo juga akan menangis, seperti saudara kembar yang memiliki hati dan perasaan yang sama. Namun segalanya berubah ketika perasaannya tumbuh untuk Luhan, Jihyo hanya menangis sendirian di saat Heeyoung bahagia. Ia menangis saat Luhan menyatakan perasaannya pada Heeyoung. Ia menangis saat Heeyoung menceritakan setiap detail perlakuan Luhan padanya. Namun pada akhirnya, Jihyo menerima semuanya walaupun perasaannya pada Luhan tidak berubah sedikit pun. Ia menyimpannya dengan rapi bahkan dari siapapun kecuali Myungsoo.

“ Heeyoung, kajja, kita pergi…” Seulra menarik Heeyoung, tepat ketika gadis itu berbalik meninggalkan Luhan dan Jihyo, air matanya jatuh.

 

‘ Ini terlalu menyakitkan…’

***

“ Kau juga menangis, kenapa?”

Jihyo mengusap air matanya, ia menatap Luhan dengan sengit. Pertanyaan bodoh macam apa yang baru saja terlontar dari mulut pria itu.

“ Memangnya kau pikir kenapa?”

Luhan mengangkat bahunya, seolah tidak tahu apa yang terjadi dengan tunangannya tersebut. Tidak tahu atau tidak peduli, entahlah.

“ Bukan hanya kau, Luhan… yang menderita karena hal ini, bukan hanya kau… harusnya kau tahu, aku juga kehilangan seorang sahabat, bukan hanya kau yang kehilangan seorang kekasih.”

Luhan terdiam, mencerna semua ucapan Jihyo namuan pria itu terlalu berdiam dalam egonya untuk mengakui bahwa ucapan Jihyo sama sekali tidak salah. Gadis itu benar, hanya saja Luhan tidak mau mengakui bahwa mereka senasib karena masalah perjodohan ini. Perjodohan yang membuatnya kehilangan gadis yang paling dicintainya setelah ibu kandungnya sendiri.

Lalu kemudian matanya menangkap sosok itu, sosok yang membuatnya harus menahan nafas hanya untuk melihat senyumannya yang sangat indah. Hanya saja senyuman gadis itu sekarang harus diiringi dengan tatapan terluka, Luhan tahu apa penyebabnya. Sesuatu yang tidak biasa merambati indra penglihatannya, ia merasa sesuatu membakar dadanya tanpa sebab yang jelas. Pria itu cemburu….

“ Siapa dia?”

“ Apa?” Jihyo mengikuti arah pandangan Luhan, hampir dua puluh menit yang lalu ia bertemu Heeyoung dan Seulra. Namun kenapa sekarang Heeyoung bersama dengan Myungsoo? Ditunjang dengan ekspresi gadis itu yang tiba-tiba terlihat lebih cerah walaupun mendung di sekelilingnya tidak dapat ditutupi dengan baik.

“ Han Heeyoung…. Kau tidak tiba-tiba lupa ingatan kan?” Jihyo memancing hanya untuk melihat reaksi pria itu dan seperti dugaannya, Luhan mendengus, memalingkan wajahnya yang memerah. Pria itu marah dan cemburu.

“ Kim Myungsoo… namanya Kim Myungsoo, asisten Nam Seongsaenim.”

“ Aku akan memastikan pria itu tidak berada dalam jarak yang lebih dekat dengan Heeyoung lagi.”

Jihyo menaikkan sebelah alisnya, menatap pria itu sambil menunjukkan seringainya, senyum mengejek yang kelewat jelas.

“ Apa pedulimu dan apa hakmu?”

“ Tidak peduli apa statusku di mata Heeyoung sekarang, bagiku, gadis itu tetap milikku, dan aku tidak akan melepaskannya sampai kapanpun…”

***

This is how women are: even if we break up,

We can’t easily love another person
Even if we are physically apart and can’t see the man,
Our hearts can’t let him go

 

Heeyoung tidak pernah bisa mengerti dengan dirinya sendiri, ia yang menjauhi pria itu, ia juga yang merasakan sakit. Belum genap seminggu setelah pertunangan Luhan dan Jihyo, Heeyoung sudah merasa semakin hancur. Ia berusaha menatap kepingan hatinya sampai bagian yang terkecil, tapi semakin ia berusaha menyentuh kepingan itu, semakin hancur kepingan-kepingan itu menjadi bagian yang lebih kecil sampai akhirnya hilang seperti debu, sampai di mana ia tidak bisa menatanya menjadi bagian yang untuh lagi.

Seperti itulah keadaan Heeyoung setelah tidak berkomunikasi dengan Luhan selama beberapa hari. Dulu sebelum ia mengetahui dengan siapa Luhan bertunangan, ia merasa sedikit lebih baik, tapi sekarang ia kehilangan jantung sekaligus paru-parunya, dua bagian vital dari tubuhnya. Ini baru hari berganti hari, bagaimana jika hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun? Masih bisakah ia menghirup udara yang sama dengan Luhan? Masih bisakah ia bertahan untuk berpura-pura tidak melihat pria itu walaupun ia merasa setiap detiknya ia bisa mati karena merindukan pria itu?

Because we want to hear his voice so badly
Because we want to see his face
We cry every day till our eyes get puffy

 

Heeyoung mengambil ponselnya yang terletak di sebelahnya, biasanya saat-saat seperti ini, saat-saat menjemukan yang memuakkan, Luhan selalu ada di sampingnya, menghiburnya. Bahkan hanya dengan mendengar suara pria itu, Heeyoung bisa merasakan ketenangan luar biasa, seolah ada sosok yang melindunginya. Namun sekarang semua itu telah hilang.

Heeyoung kecewa dengan pertemuan terakhirnya dengan Luhan. Pria itu tidak mengatakan sepatah katapun yang menyakininya bahwa pria itu tetap merindukannya. Bahkan dengan mudah, ia membiarkan Jihyo menyentuh tangannya dan melingkarkan lengan gadis itu di lengannya.

Heeyoung kecewa dengan Jihyo, bukan lagi perihal gadis itu dijodohkan dengan Luhan, melainkan dengan mudahnya ia bersikap seolah-olah Luhan miliknya. Heeyoung tahu, Jihyo mungkin memiliki perasaan terhadap Luhan entah apa, kalau tidak, ia tidak mungkin dengan mudahnya melingkarkan tangannya di lengan Luhan, tempat yang dulu selalu dimiliki Heeyoung.

Heeyoung menekan nomor satu pada panggilan cepatnya, sebelum benar-benar tersambung dan meninggalkan missed call, gadis itu memencet tombol reject, begitu seterusnya sampai ia lelah dan akhrinya meletakkan benda tidak bersalah itu dengan hentakkan yang keras ke atas tempat tidurnya.

I thought I knew the best
About you, about your heart
But I know the least

Did you love me?
Did you really love me?

Heeyoung terlalu lelah untuk sekedar memikirkan pria itu tapi nyatanya, pikiran tentang Luhan terlalu mendominasi bahkan untuk berkedip saja bayangan Luhan akan muncul. Berlebihan?

Segala hal tentang Luhan memang sudah terlalu mempengaruhi diri seorang Han Heeyoung. Luhan adalah segalanya. Walaupun ia tahu semua manusia akan meninggal suatu saat nanti dan ia berharap ia meninggal sebelum Luhan, jadi ia tidak akan merasakan bagaimana ketika ia harus kehilangan pria itu.

“ Luhan, lalu bagaimana denganku, sekarang?”

***

“ Dasar tidak berperasaan…” Heeyoung kesulitan membawa setumpuk buku sementara Myungsoo berada di depannya, membaca sesuatu di bukunya, entah apa… tapi yang jelas Heeyoung kebagian membawakan tumpukan buku milik pria itu.

“ Jangan mengeluh… kau sendiri yang menawarkan diri untuk tetap menjadi supirku walaupun mobilku sudah sembuh, sekarang kau yang mengeluh…”

Heeyoung mendengus, ia menyadari kebodohannya, ia pikir bisa memanfaatkan Myungsoo untuk menjadi pelariannya, setidaknya jika ia sibuk dengan pria itu, ia tidak akan mengingat-ingat sosok Luhan lagi, tapi nyatanya ia malah dimanfaatkan bukan hanya sebagai supir melainkan sebagai ‘pesuruh’ pria itu.

“ Tapi aku hanya meminta menjadi supir bukan pesuruh…”

“ Siapa bilang kau pesuruhku?” Myungsoo berkata sambil tetap berjalan di depan Heeyoung, tanpa menoleh untuk melihat ekspresi menderita gadis itu karena buku yang dibawanya walaupun hanya berjumlah empat buah, semuanya tebal dan tentu saja beratnya jangan ditanya.

“ Myungsoo!”

“ Apa?”

“ Setidaknya bawalah dua dan aku membawa dua… kan itu adil…”

“ Tidak… salahmu sendiri memarkir mobil cukup jauh dari gedung kampus…”

Heeyoung kembali mendengus, pria itu membuat emosinya naik, padahal beberapa hari yang lalu Heeyoung baru merasa kalau pria itu memang pada dasarnya baik hanya saja sifatnya yang terlalu dingin membuatnya terlihat jahat dan kejam, tapi ternyata pria itu memang kejam.

“ Myungsoo!” Heeyoung mempercepat langkahnya, ia berhasil menahan buku itu dengan satu tangannya walaupun tumpukannya sudah goyah, tangan yang satunya ia gunakan untuk menarik baju pria itu sampai akhirnya Myungsoo berbalik.

“ Apa?”

“ Bawa ini sendiri… AAAAH!”

Heeyoung yang berniat melemparkan tumpukan buku itu ke hadapan Myungsoo malah membuat tubuhnya juga ikut terlempar karena massa buku yang di bawanya terlalu berat untuk diimbangi dengan massa tubuhnya. Hal yang menjadi masalah adalah karena posisinya berada di atas Myungsoo dan bibir keduanya bersentuhan. Untuk beberapa detik mereka sama-sama terdiam, mencerna apa yang baru saja terjadi.

Beberapa meter dari sana, sepasang mata melihat kejadian itu dalam diam. Berbagai perasaan tergambar dari bola matanya yang diam di satu titik.

Marah.

Kecewa.

Kesal.

Benci.

Cemburu.

Sepasang mata itu milik Luhan…

***

To Be Continued

One thought on “[Korean Fanfiction/ Straight/ Series] Never Reachable (chapter 3- A Shoulder to Cry On)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s