[Korean Fanfiction/ Straight/ Oneshoot] No Distance Left to Run

no distance left to run

Title       : No Distance Left to Run

Author  : Kim Saena a.k.a Devi

Rating   : PG17/ Straight

Length  : Oneshot

Genre   : Romance, Angst, Tragedy

Cast       :

Main Cast            : VIXX – Ken

Girls Day – Minah

Support Cast      : CN BLUE  -Kang Minhyuk

Girls Day – Hyeri

Other Cast          : FIND BY YOURSELF!

Disclaimer           : VIXX is belong to God, Jellyfish Entertaiment, and their parent.

Girls Day is belong to God, Dream Tea Entertainment, and their parents

CN Blue is belong to God, FNC Entertainment, and their parents.

It’s just for fun. Please don’t sue me.

Please don’t take this fanfic without permission from me. If you want to take this.

Please take with full credit.                    

If you don’t like this fanfic. Please No Bash.

Don’t like. Don’t Read.

WARNING : ALUR YANG SANGAT CEPAT SEKALI (LANGSUNG KONFLIK), Gaje, TYPO(S)

Author’s Note :Annyeongggg saya kembali membawa another my Vixxday fanfic collection setelah sebelumnya debut dengan Goodnight Kiss, saya ga tau sih apa kalian suka sama Vixxday atau engga tapi saya mohon jangan bashing, dari stat ff kemaren sih saya yakin banyak yang suka, antara emang couplenya apa ceritanya yang menjurus -___-, tapi sayang pada SR semua, jangan gitu dong… kalo udah baca biasain komen… ya kalo emang susah komen di WP, komen di twitter saya @Yunnie_Dv, kalo masih ga mau juga, ya terserah sih. Saya bikin ff bukan karena komen kok, tapi karena seneng aja… tapi ya lama2 kesel juga… kalo tetep banyak SR di blog ini, saya bisa apa, semoga cepet disentuh hatinya sama Tuhan deh yang masih jadi SR….

Ini ff juga masih jauh dari kata bagus T.T, saya hanya ingin melatih kemampuan menulis OS saya karena udah lama ga nulis OS, seperti biasa di semua ff OS saya, ff ini alurnya juga cepet, saya orangnya ga suka bertele2 kalo nulis OS, makanya OS saya ga ada yang bagus, saya lebih suka nulis series, tapi tetep ga semua cerita bisa dipanjangin…

akhir kata selamat membaca ^^

Author Pov

            Flat shoes milik gadis itu melangkah berirama di atas susunan batu alam yang membentuk jalan setapak yang makin lama makin mengecil. Langkahnya terdengar ragu-ragu, ia terdiam beberapa meter sebelum tempat perhentian terakhirnya. Ia melihat sosok seorang pria dalam balutan pakaian casual, jaket abu-abu, T-shirt hitam, jeans yang senada dengan T-shirt yang digunakannya, dan sepatu converse putihnya, terlihat samar diantara butiran salju yang menetes perlahan-lahan membasahi rambut dan pakaian pria itu.

Gadis itu melangkah semakin cepat menuju tempat di mana pria itu mengistirahatkan tubuhnya. Setelah ujung flat shoesnya menyentuh ujung sepatu converse pria itu, barulah sang pria menyadari kalau seseorang yang ditunggunya sejak tadi, akhirnya berada tepat di depannya.

“ Sudah lama menunggu?” Gadis itu terdengar ceria, berbeda dengan ekspresinya tadi saat memasuki taman teman di mana ia dan lawan bicaranya berjanji untuk bertemu.

“ Baru setengah jam, sayang… kau tidak usah khawatir…” pria itu menjawab dengan nada lembut, berhasil menenangkan gadis yang sedang gelisah itu.

YAA! Kau sudah sangat lama menunggu… maafkan aku…”

“ Tidak apa, Minah sayang… kau pasti memiliki alasan mengapa aku harus menunggu sampai selama ini…”

Tatapan lembut pria itu membiusnya, tatapan yang sangat ia rindukan walaupun ia bertemu dengan pria itu setiap hari di sekolah, tetapi tidak lagi, sejak pengumuman kelulusan mereka hampir satu bulan yang lalu. Mereka tidak semudah itu untuk bertemu setiap hari.

“ Ada yang ingin kubicarakan…”

Minah dan Ken, nama pria itu, sama-sama menutup mulut mereka saat menyadari kata-kata yang mereka ucapkan sama. Mereka berdua tertawa.

“ Kau duluan, sayang…”

Minah menggeleng entah mengapa ia menjadi khawatir, berita yang dibawanya sekarang bukanlah berita yang menyenangkan untuk didengar, setidaknya ia belum tahu rekasi pria itu tertapi ia yakin pria itu tidak akan senang.

“ Kau saja…”

“ Kau…”

“ Kau saja…”

“ Kau saja…”

Yaa! Hentikan! Kau saja duluan, lagipula berita yang kubawa tidak penting…” Minah berusaha tersenyum di saat debaran jantungnya mendadak berubah tak karuan.

“ Baiklah… aku tidak tahu apa kabar ini akan membuatmu bahagia atau tidak, tapi aku sangat bahagia, sayang… kuharap kau juga…”

“ Apa?” Minah tersenyum, tentu saja apa yang membuat Ken bahagia, ia seharusnya juga bahagia.

“ Aku… mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Jerman, sayang!”

Deg!

Minah merasakan jantungnya seolah berhentik berdetak, senyuman kaku terpatri di wajahnya. Namun rona kebahagiaan yang seharusnya ia rasakan sama sekali tidak ada. Gadis itu tidak berlama-lama, ia segera meraih tangan Ken.

“ Aku sangat bahagia! Jadi kapan… kapan kau akan pergi?”

“ Minggu depan…”

Otak Minah bekerja keras, ia harus menghasilkan keputusan yang cepat, ia tidak bisa menunggu lebih lama.

“ Kau tenang saja, sayang… aku akan terus menghubungimu dari sana, aku akan pulang ketika liburan…”

“ Ken, berapa lama kau pergi?”

“ Lima tahun, sayang…”

“ Se… selama itukah?”

“ Maaf aku harus meninggalkanmu selama itu, tetapi aku janji aku akan kembali untuk menikahimu, Minah…”

“ Ken, hubungan kita tidak akan berhasil, kau bisa menjanjikan banyak hal padaku, tapi nyatanya secara fisik kau tidak ada di sampingku… yang kubutuhkan saat ini adalah bukti kehadiranmu… bukan hanya kau yang mengunjungiku selama beberapa waktu… aku butuh kau setiap saat berada di dekatku…”

“ Ap… Apa maksudmu, Minah?”

“ Ayah dan ibumu pasti tidak akan mengizinkan kau menikahi wanita kelas rendahan sepertiku… mereka akan malu memiliki menantu hina seperti ini… Ken, harusnya kita tidak menjalin hubungan sejauh ini…”

“ Sejak awal aku serius, Minah… aku belum mengenalkanmu pada orang tuaku bukan berarti aku tidak serius, sayang… aku akan mengenalkanmu pada mereka di saat yang tepat, orang tuaku tidak memandang kasta…”

“ Tetap saja, Ken… aku hanyalah anak yatim piatu yang miskin… aku tidak akan pernah pantas bersanding denganmu…”

“ Minah, tolong jangan katakan hal-hal seperti itu, jangan katakan padaku bahwa kau ingin berpisah…”

Minah menggelengkan kepalanya, sejujurnya ia tidak pernah ingin mengambil keputusan yang hanya akan menyakiti hatinya tetapi ia tidak bisa bertahan lebih lama. Keadaannya saat ini hanya akan membuat impian Ken menjadi sia-sia.

“ Tidak, Ken, berbahagialah di sana… dengan wanita lain yang jauh lebih baik dan lebih pantas untukmu…”

Minah berdiri dari kursi yang didudukinya, gadis itu segera berlari meninggalkan Ken sebelum pria itu melihat air mata yang mengalir pelan membasahi wajahnya.

Ken hanya bisa terdiam di kursinya, ia ingin mengejar Minah tetapi langkahnya terpaku. Pria itu hanya bisa diam memandang Minah yang meninggalkannya di kejauhan.

“ Minah, aku tidak pernah menganggap hubungan kita adalah kesalahan…”

***

Setelah cukup lama berlari, Minah memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya disebuah kursi yang telah dipenuhi butiran salju, ia membersihkan butiran-butiran salju yang berada di atas kursi itu sebelum menjatuhkan tubuhnya di sana. Tangisan gadis itu sudah berhenti, berganti dengan rasa khawatir berlebihan yang perlahan mendera hatinya. Gadis itu tanpa sadar mengelus-elus perutnya, sebelum mengeluarkan benda berbentuk persegi panjang yang terdapat di saku dalam jaketnya.

Minah memandang benda itu dalam diam yang menyiksa, benda yang seakan memvonis bahwa saat ini ada nyawa lain yang bersemayam di dalam rahimnya. Nyawa yang sangat berharga tetapi Minah tidak tahu apa yang harus ia lakukan terhadap nyawa itu.

“ Apa yang harus aku lakukan?”

Minah hanyalah gadis berusia dua puluh tahun, ia seorang yatim piatu miskin yang hidup di panti asuhan, ia bisa sekolah karena beasiswa dan sekarang setelah ia lulus, ia terpaksa ‘pergi’ dari sana, karena sejak ia kecil tidak ada yang berniat mengadopsinya. Ia tidak ingin menambah beban ibu pemilik panti dengan keadaannya yang sekarang. Ia tahu jika ia melahirkan anak ini, tidak akan ada yang bisa membiayainya, ia tidak memiliki uang yang cukup bahkan untuk dirinya sendiri. Bagaimana kehidupan anak ini nantinya?

Palingan anak ini hanya akan berakhir sama sepertinya, hidup di panti asuhan, kalau ia beruntung, ia akan mendapatkan orang tua asuh yang baik hati, yang mau menganggap anak ini adalah anugerah yang harus mereka jaga. Tetapi bagaimana jika sebaliknya? Jika tidak ada yang berniat menjadikannya anak asuh mereka? Ia akan bernasib sama seperti Minah, terbuang.

Merutuki orang tua kandung yang tega membuangnya, kenapa ia harus dilahirkan ke dunia kalau ia harus semenderita ini?

Itulah yang sedang Minah pikirkan, ia tidak bisa membebani Ken. Ken hanyalah pria berusia dua puluh tahun yang berusaha mengejar impiannya. Pria kaya dengan keluarga sempurna, Minah yang tiba-tiba muncul dan mengaku sedang mengandung anak pria itu tidak lebih hanya seperti wanita murahan yang menginginkan uang dari keluarga kaya.

Minah tidak ingin dipandang serendah itu, walaupun sekarang ia telah kehilangan harga dirinya karena nyatanya ia bahkan memberikan kehormatannya pada pria yang meninggalkannya sekarang. Memang Ken tidak berkata akan meninggalkannya, tetapi Minah cukup tahu diri untuk tidak bersama dengan pria itu.

“ Jadi, kau sudah memberitahunya ? Apakah ia bersedia bertanggung jawab?”

Minah menyadari seseorang yang berada di sebelahnya, gadis itu tidak segera menjawab, tangannya tetap memegang benda berbentuk persegi panjang yang menjadi penentu nasib masa depannya. Gadis itu menundukkan wajahnya, terlalu malu untuk dilihat dunia. Ia hanyalah gadis hina.

Sampah masyarakat…

“ Tidak, Ken akan pergi, hyuk…”

“ APA?! Brengsek! Jadi dia tidak mau bertanggung jawab atas hasil perbuatan kalian?”

Minhyuk berdiri, ia kehilangan kontrol atas dirinya sendiri. Sepuluh tahun ia menyimpan perasaan pada Minah, menjaga gadis itu, selalu berusaha berada di sampingnya. Di besarkan dalam panti asuhan yang sama, hanya saja Minhyuk jauh lebih beruntung, saat umurnya sebelas tahun, ada sepasang suami istri yang berbaik hati mengangkat Minhyuk menjadi anak mereka.

Lalu di saat ia sudah mengumpulkan keberanian untuk menyatakan perasaan terpendamnya pada Minah, ia harus ditampar kenyataan keras bahwa gadis itu sudah memiliki kekasih, Minhyuk kecewa, tetapi ia berada di belakang Minah untuk terus mendukung gadis itu.

Hingga ia mengetahui Minah sedang mengandung, hasil perbuatannya dengan Ken. Ia hancur… Minhyuk tahu kesempatannya untuk bersama Minah selamanya, musnah.

Ia tidak akan pernah bisa menggapai gadis itu, walaupun ia berusaha keras. Terus menunggu hingga Minah berpaling dan berlari padanya.

“ Ken tidak tahu… Ken tidak tahu aku sedang mengandung, hyuk… dia tidak tahu… aku tidak akan merusak masa depannya dengan beban seberat ini…”

“ Lalu kau merusak masa depanmu dengan membiarkannya hidup tenang bersama masa depannya? Kau bodoh, Minah! Kau bodoh! Memiliki anak adalah tanggung jawab besar yang harusnya kalian tanggung bersama!”

“ Aku tahu, hyuk, tapi aku tidak bisa…”

Minhyuk segera menarik Minah ke dalam pelukannya. Hatinya bergumul hebat, di satu sisi ia ingin melindungi Minah dengan seluruh hidupnya, dan ini adalah kesempatan yang mungkin tidak akan pernah datang dua kali. Ia bisa melindungin Minah sepenuhnya. Di satu sisi, ia memikirkan kondisi bayi yang dikandung Minah, ia tidak mungkin memikul tanggung jawab sebesar itu. Bayi itu bukanlah anak kandungnya, bohong kalau ia mengatakan ia bisa menerima bayi itu dengan tulus layaknya anak kandungnya sendiri. Ia tidak akan pernah bisa, bayangan wajah Ken akan terpatri jelas setiap kali ia melihat wajah anak itu nantinya.

“ Minah, izinkan aku bertanggung jawab… aku akan menikahimu dan aku berjanji akan menganggap anak itu layaknya anak kandungku sendiri…”

Minah terperangah, ia segera melepaskan pelukan Minhyuk, ia tidak menyangka kata-kata itu akan keluar semudah itu dari mulut sahabat terbaiknya. Minah menggelengkan kepalanya, ia menjauhkan tubuhnya dari Minhyuk.

“ Tidak, hyuk… aku tidak mungkin membebanimu dengan ini semua…”

“ Minah, kumohon… jangan tolak niat baikku… aku sudah mencintaimu sejak lama…”

Minah tahu perasaan Minhyuk, namun ia tidak bisa berbohong dengan mengatakan ia merasakan hal yang sama. Minah hanya menganggap Minhyuk sebagai sahabat, tidak lebih. Ia tahu ia hanya akan menyakiti pria itu lebih banyak dari sekarang kalau ia menerima lamaran Minhyuk. Apa yang akan dikatakan orang tua pria itu? Minah tidak bisa membebani Ken yang notabene adalah ayah kandung anak itu, mana mungkin ia tega membebani Minhyuk yang adalah sahabat terbaik yang pernah ia punya sepanjang hidupnya.

“ Tidak, hyuk… aku tidak bisa… biarkan aku berpikir apa yang harus aku lakukan dengan anak ini… jangan menambah beban pikiranku… kumohon…”

“ Baiklah, aku memberimu kesempatan berpikir, aku hanya ingin kau tahu aku tulus, Minah, aku tidak pernah bermain-main dengan janji yang kubuat untukmu…”

***

A Few Days Later…

“ Minah! Mulai besok kau bisa bekerja di café milik kakak sepupuku… dannn kau tahu apa kabar baik lainnya? Orang tuaku akan pulang besok! Aku sudah membicarakannya dengan orang tuaku, mereka bersedia membiayai kuliahmu… ditunjang dengan nilai akademismu yang sempurna!Kau senang kan? Kau bisa kuliah sepertiku!”

Kabar baik yang dibawa Yura tentu saja membuat Minah senang, tetapi ia tidak mau menerima bantuan orang tua Yura supaya ia bisa kuliah. Ia sudah cukup membuat mereka kesulitan karena ia yang terpaksa ‘tinggal’ di rumah Yura sementara waktu setelah ‘terusir’ dari panti asuhan setelah kelulusannya.

“ Tidak, Yura-ya… aku akan menerima kebaikannmu yang sudah menawariku pekerjaan, aku akan menerimanya… tetapi kuliah….tidak… tidak… aku sudah cukup banyak berhutang budi padamu…”

“ Hahahaha, astaga! Ini buka hutang budi! Ini adalah bentuk kebaikanku! Tidak! Aku hanya bercanda… ini semua kulakukan karena kau sahabatku, Minah, bukan karena apa-apa…. Kau ini kenapa sih, menolak semua bantuan?”

“ Aku hanya… sebenarnya ada yang ingin kukatakan padamu, Yura… aku… a… aku… Aku hamil…”

Yura membelalakkan matanya mendengar penuturan yang keluar dari mulut Minah, ia menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

“ Ka… Kau bercanda kan?”

“ Aku serius… itulah sebabnya aku tidak bisa menerima bantuan orang tuamu, Yura… aku tidak akan bisa kuliah dengan keadaan seperti ini, lagipula aku memang hanya berniat untuk kerja, bukan kuliah.”

“ Minah, apakah ayah bayi itu adalah Ken?”

“ Tentu saja…”

“ Kau bilang Ken akan pergi ke Jerman? Apa ia menolak untuk bertanggung jawab?”

“ Bukan begitu, hanya saja aku tidak memberitahunya, mimpinya terlalu berharga hanya untuk kutukar dengan kenyataan menyedihkan ini…”

“ Minah, tapi…”

“ Minhyuk sudah tahu, dan ia malah menawarkan bantuan untuk menikahiku… bertanggung jawab atas sesuatu yang tidak pernah ia lakukan… aku menolaknya…”

Yura mengusap pundak Minah, memberikan kekuatan pada sahabatnya itu. Ia sudah tahu Minhyuk menyukai Minah sejak lama tetapi gadis itu terus menolak Minhyuk bahkan ia malah berpacaran dengan Ken. Kalau boleh jujur, Yura lebih memilih Minah menjadi kekasih Minhyuk daripada kekasih Ken. Sekarang sahabatnya mendapatkan masalah yang lebih besar, memerlukan tanggung jawab dan ia membiarkan Ken pergi? Semudah itu?

“ Minah, keputusanmu untuk menolak bantuan Minhyuk sudah tepat tapi membiarkan Ken pergi tanpa tahu apa-apa?! Apa kau sudah gila?!”

“ Aku memang tidak akan pernah pantas untuknya, Yura, aku hanya akan menambahkan beban kehidupannya, aku tidak ingin menjadi parasit keluarganya… aku hanya wanita murahan sekarang…”

“ Jangan pernah berkata begitu! Aku memang menyesalkan tindakanmu yang memberikan harga dirimu pada pria seperti Ken, tapi kau bukan wanita murahan, Minah…”

“ Tetap saja, Yura, aku tidak akan sanggup melihat mimpi Ken berakhir…”

“ Lalu apa yang akan kau lakukan dengan bayi itu?”

Minah mengusap perutnya pelan, ia sudah memikirkan keputusan ini beberapa hari dan ia mulai mantap untuk melakukannya. Tidak peduli dengan berapapun caci maki yang akan terlontar untuknya, ia tidak akan sanggup hidup seperti ini. Ia harus mengambil tindakan atas perbuatannya sendiri.

“ Aku akan menggugurkan anak ini…”

Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut gadis itu, membuat Yura terperangah untuk yang kedua kalinya. Ia sama sekali tidak menyangka Minah akan berkata seperti itu, mengambil keputusan seberat itu.

“ Minah, kurasa kau benar-benar gila! Tidak cukupkah kau berdosa dengan menghadirkan anak itu dengan cara yang salah? Kau sekarang bahkan tidak akan membiarkannya hidup! Di mana hatimu?!”

“ Aku sudah memikirkannya, Yura, aku tidak akan bisa menanggung malu berkepanjangan karena memiliki anak di luar pernikahan, aku juga tidak akan bisa merawat anak ini sendirian, aku tidak akan mampu membiayainya, anak ini hanya akan berakhir sepertiku, sendirian di panti asuhan! Mencaci maki bahkan membenciku ketika ia beranjak dewasa dan tidak menemukan adanya orang tua di sisinya… ia hanya akan berakhir menderita… apa gunanya ia hidup seperti itu?!”

“ Tetapi bukan hakmu untuk mengambil nyawanya, Minah, Tuhan sudah berbaik hati memberikanmu anugerah memilikinya… tidak setiap wanita bisa hamil… kau bisa… dan kau ingin membuang kesempatan ini? Pikirkan lagi keputusanmu…”

“ Keputusanku sudah bulat, Yura, besok aku akan menggugurkan bayi ini, besok juga adalah hari kepergian Ken, terlambat untuk mencegahnya…”

“ Apa ia tidak berusaha menghubungimu?”

“ Aku sudah membuang simcard ponselku dan menggantinya dengan yang baru… ia tidak tahu di mana letak rumahmu…”

“ Minah, tidak bisakah kau pikirkan lagi keputusan untuk menggugurkan anak itu? Aku bisa membantumu merawatnya… Minhyuk juga… kau tidak akan sendirian…”

“ Tidak, kalian sudah terlalu baik… aku tidak bisa menyusahkan kalian terlalu jauh lagi… anak ini sepenuhnya tanggung jawabku… aku, ibu yang sangat buruk yang menyia-nyiakan kesempatan memiliki anak, aku tidak akan melupakan betapa berdosanya aku…”

Yura menggeser tubuhnya untuk memeluk Minah, bisa dirasakannya beban yang sangat berat yang berada di pundka gadis itu. Untuk gadis seusianya, Minah berpikir sangat dewasa, mungkin tekanan yang dialaminya sejak kecil yang mempengaruhi cara berpikirnya, ia menjadi terlalu dewasa dengan masa kanak-kanak yang terabaikan. Gadis itu sekuat tepian batu karang, tetapi rapuh seiring berjalannya waktu, termakan usia.

“ Minah, kau terlalu baik untuk mendapatkan semua ini…”

***

“ Kondisi bayi anda sangat sehat nyonya, usia kandungan anda sudah memasuki minggu kelima… anda yakin ingin menggugurkannya?”

Dokter menggerakan alat USG untuk memperlihatkan calon bayinya, hati Minah tergetar saat melihat bulatan kecil yang merupakan calon bayinya. Ia adalah wanita normal yang bahagia melihat bayi yang dikandungnya, terbesit pikiran untuk tidak menggugurkan anak itu, tetapi keputusannya sudah bulat. Ia tidak bisa mempertahankan anak itu lebih lama di dalam rahimnya.

Uisa-nim, boleh… bolehkan saya menyimpan foto USG anak ini? Saya akan tetap menggugurkannya… hanya saja saya ingin memiliki kenang-kenangan kalau saya pernah seberuntung ini bisa memilikinya…”

“ Kalau anda sangat menyayanginya, mengapa anda memutuskan untuk menggugurkannya? Di mana ayahnya? Apakah ia mengetahui keadaan anda?”

“ Ayahnya sudah pergi…” Minah berusaha tersenyum di tengah rasa sakit yang menyakiti hatinya. Ia tidak tega, sejujurnya ia tidak mau melakukan ini, bahkan Yura menangis tadi pagi, memaksanya tidak pergi. Tetapi ia tidak bisa, ia harus meneruskan hidupnya dan anak itu hanya akan memperlambat langkahnya, dengan wajah Ken yang akan terus membayanginya setiap waktu. Ia harus melepaskan semua yang berhubungan dengan Ken, termasuk merelakan anak itu untuk pergi.

“ Maaf, nyonya…”

“ Gwenchana…”

“ Baiklah, saya akan mempersiapkan alat-alatnya… Nyonya akan dibius selama proses ini berlangsung… ini tidak akan memakan waktu lama… tetapi saya sudah memberitahukan resikonya kepada nyonya, mungkin setelah janin anda diangkat, anda akan kesulitan untuk kembali hamil….”

Ne, saya akan menanggung semua resikonya, uisa-nim…”

Minah merasakan jarum suntik mulai dimasukkan ke dalam lengan kanannya, Minah memejamkan matanya. Setetes air jatuh membasahi pipi kirinya, disusul setetes lagi yang jatuh membasahi pipi kanannya.

‘Tuhan, maafkanlah kebodohanku ini… menyia-nyiakan anugerah terindah yang pernah Kau berikan dalam hidupku…. maafkan ibu, nak, ibu terpaksa melakukan ini, ibu tidak akan sanggup membiarkanmu hidup dan dihina orang lain karena ibu melakukan kesalahan dengan ayahmu… kesalahan yang harus kau tanggung seumur hidupmu…’

***

“ MINAH! Katakan padaku apa benar kau menggugurkan bayimu?!”

Minhyuk menatap Minah dengan tatapan kecewa luar biasa. Ia tidak menyangka sahabatnya itu akan melakukan tindakan sedemikan jauh dengan cara menggugurkan bayi yang berada di dalam kandungannya. Bayi tidak berdosa yang harus kehilangan nyawanya, karena ibunya tidak menginginkan bayi itu.

Ne, hyuk… aku terpaksa melakukannya.” Minhyuk meletakkan kedua tangannya di kedua sisi pundak Minah dan mengguncangkannya pelan.

“ Apa yang kau pikirkan, huh? Bukankah aku sudah mengatakannya padamu? Aku akan bertanggung jawab, aku bersedia menjadi ayah dari bayi itu! Ibu macam apa kau ini, Minah! Kau tega membunuh anakmu sendiri, bahkan ia belum sempat bernafas dan melihat indahnya dunia! Tapi kau sudah merenggut semuanya itu, kau sudah bersalah dengan menghadirkannya ke dunia, yang harusnya kau lakukan adalah mempertanggungjawabkan perbuatanmu! Bukannya malah membunuhnya!”

“ Hyuk, maafkan aku…” Minah meneteskan air matanya. Ia tidak menyangka Minhyuk akan sepeduli itu padanya. Nyatanya ia memang menyesal karena menggugurkan kandungannya, tetapi ia tidak memiliki pilihan lain.

“ Kata maaf tidak akan mengembalikan bayimu, Minah…”

“ Aku terpaksa! Aku tidak bisa mengandalkanmu dan Yura, kau bahkan bukan ayah kandungnya, bayi itu bukan darah dagingmu, aku tidak akan pernah tega membuat kau bertanggung jawab atas sesuatu yang tidak pernah kau lakukan! Bayi itu akan menderita ketika ia lahir! Ia tidak akan bisa sekolah karena tidak memiliki akta kelahiran, aku tidak pernah menikah! Aku tidak akan mendapatkan akta kelahiran, lalu apa yang bisa aku lakukan dengan anak itu? Membiarkannya hidup menderita? Serba kekurangan dan menjadi cemoohan semua orang? Hidup tidak semudah yang kau bayangkan, hyuk! Mungkin orang tua kita tidak berpikir sejauh itu saat meninggalkan kita di panti asuhan!”

“ Minah, setidaknya kau lupa satu hal… ada satu kebaikan yang orang tua kita lakukan walaupun pada akhirnya kita ditinggalkan… setidaknya mereka memberikan kita kesempatan hidup…”

“ Hyuk, kau tidak akan mengerti… hidupku sudah menderita, aku tidak ingin anak itu menderita sama sepertiku…”

Minhyuk meraih Minah ke dalam pelukannya, membenamkan kepala gadis itu di dadanya. Seluruh perasaan bertumpah ruah pada pelukan mereka, rasa kecewa, rasa marah, rasa sakit, rasa kasihan, bercampur menjadi satu. Minhyuk bisa mengerti keputusan Minah, hanya saja ia menyayangkan tindakan Minah yang terlalu gegabah untuk mengambil keputusan sebesar itu seorang diri.

“ Minah, aku berjanji, akan terus berada di sebelahmu… apapun yang terjadi… dan apapun yang akan kau lakukan…”

***

Ten Years Later…

Seorang gadis melangkah pasti, mengentukkan sepatu berhak dua belas centi miliknya pada lantai marmer, di belakangnya sesosok pria mengekor. Dengan menggeret sebuah koper besar, kaca mata hitamnya, berhasil membuat pesonanya berkali-kali lipat semakin besar.

Merasa langkahnya terlalu cepat, sang wanita segera berbalik dan mendapati sang pria tertinggal cukup jauh di belakangnya. Wanita itu melepaskan kaca mata hitam yang digunakannya, ia segera berjalan menghampiri sang pria.

“ Apa aku terlalu cepat?” Wanita itu menggamit lengan sang pria yang bebas dari koper, dan menariknya perlahan.

Ne, sayang… aku terkena jetlag… kau tahu seberapa jauh New York dan Seoul… ini sangat melelahkan…”

“ Hahahaha, maafkan aku, oke? Aku hanya terlalu bersemangat untuk menjemputmu… kau pergi tidak terlalu lama kan? Tetapi mengapa aku merasa tidak bertemu denganmu dalam jangka waktu tahunan…”

“ Kau terlalu berlebihan…” sang pria menyentuh wajah kekasihnya dan menyentil pelan hidung milik wanitanya itu.

Yaa! Euhm, apa habis ini kau akan pergi ke rumah sakit atau langsung pulang?”

“ Tentu saja aku harus ke rumah sakit, sayang… memangnya kenapa?”

“ Euh, kekasihku ini sangat sibuk ternyata, hahaha… padahal aku ingin kau menemaniku mempersiapkan pernikahan kita yang tinggal satu bulan lagi, Ken…”

Ken segera menarik tubuh gadis itu mendekat padanya, ia segera mendekapnya dan memberikan kecupan ringan pada dahi gadis itu.

“ Ne, aku tahu, sayang… hanya saja jangan terlalu lelah, oke? Aku tidak ingin terjadi apa-apa padamu dan…” Ken mengusapkan tangannya pada perut datar wanita itu. Memang secara kasat mata tidak ada yang berubah dari tubuh wanita itu, hanya saja siapa sangka kalau wanita itu ternyata sedang mengandung.

“… calon bayi kita…”

“ Tentu saja, sayang…”

Hyeri, nama gadis itu, segera memberikan senyuman terbaiknya, tentu saja ia tidak mungkin membahayakan calon bayinya sendiri. Ia hanya tersenyum, merasa bersyukur, walaupun calon suaminya memiliki banyak kesibukan dan waktunya banyak tersita sebagai dokter internis di sebuah rumah sakit besar di Seoul, hak tersebut tidak mengurangi bentuk perhatiannya pada Hyeri, terlebih wanita itu sedang mengandung sekarang.

“ Setelah ini kau akan kemana?”

“ Aku akan pergi ke butik, untuk mengurus beberapa hal…”

“ Ingat jangan terlalu sibuk, sayang dan tiga hari lagi adalah jadwal check up-mu kan? Jam berapa? Haruskah aku menemanimu?”

“ Aku ada janji dengan Jang uisa-nim, jam 1 siang… apa kau bisa? Kau bilang kau ada operasi…”

“ Aku ada operasi jam 4 sore, sayang, jam 1 masih jam waktu istirahat makan siang, aku akan menemanimu…”

“ Kalau begitu, terima kasih…”

“ Anything for you, dear…”

***

“ Ahh…”

“ Kau masih merasakan sakit di bagian perutmu?” Yura mengernyit heran ketika melihat Minah memegangi perut bagian bawahnya, sudah sejak lama, gadis itu mengeluh memiliki sakit di daerah sana, tetapi dulu hanya beberapa saat dan hilang, namun belakangan, rasa sakit itu kembali, lebih parah. Yura khawatir, Minah memiliki penyakit yang mengkhawtirkan dan gadis itu selalu menghindar jika ia menyuruh gadis itu memeriksakan dirinya ke rumah sakit.

Ne, rasanya seperti ada yang mencakar-cakar dari dalam…ahh…” Minah tidak bisa menikmati makan siangnya, memang ia sudah sering merasakan sakit seperti itu, tetapi tidak dapat dipungkirinya, ia merasa takut untuk memeriksakan dirinya. Takut terjadi hal yang buruk padanya.

“ Kau harus memeriksakan diri ke rumah sakit, Minah, aku sudah meminta kartu nama dokter Hwang Junsu, ia adalah dokter internis yang terkenal, Hongbin bilang kau harus membuat janji dari jauh-jauh hari untuk bertemu dengannya, ia sangat sibuk…”

Yura menyerahkan sebuah kartu nama dan Minah membacanya dalam diam. Pikiran gadis itu berkecamuk saat tiba-tiba rasa sakitnya hilang.

“ Aku sudah tidak apa-apa, Yura…”

“ Sekarang memang sakitnya hilang, tapi siapa yang akan tahu jika sakitnya kembali datang? Kau kan sudah mengeluh sakit perut seperti itu puluhan kali… setiap aku suruh ke rumah sakit, kau tidak mau… jadi maumu apa?” Yura menatap Minah dengan sinis sambil memotiong-motong beef wellington-nya menjadi bagian-bagian kecil, namun tidak bisa dipungkirinya, ada nada khawatir dalam suaranya. Oleh karena itu, kemarin ia meminta Hongbin, calon suaminya, yang bekerja sebagai dokter kardiologi, untuk memberikannya rekomendasi beberapa dokter terkenal yang sekiranya dapat membantu Minah.

Ne, terima kasih… mungkin aku akan menemuinya nanti…”

Minah kembali fokus pada Kare rice yang berada di depannya, gadis itu menghela nafas berat sebelum kembali menyuapkan makanan yang kini terasa hambar di mulutnya.

***

“ Ahh…” Minah meletakkan pulpen yang sedang dipegangnya saat rasa sakit kembali mendera perut bagian bawahnya. Gadis itu mengambil beberapa obat pereda rasa sakit yang sekiranya dapat meringankan rasa sakitnya.

Tok Tok Tok

“ Silahkan masuk…” Minah baru meletakkan gelasnya ketika ia mendengar suara ketukan di pintu ruang kerjanya.

“ Minah!”

“ SOJIN EONNI!”

Minah segera berlari memeluk sesosok wanita yang baru saja melangkahkan kakinya masuk ke ruang kerja gadis itu. Sojin balas memeluk Minah, kedua wanita itu memang sudah lama tidak bertemu. Terhitung sejak Sojin harus mengurus perluasan cabang café miliknya di Taiwan, Beijing, dan Shanghai bersama suaminya dan ia terpaksa meninggalkan Seoul selama hampir satu tahun.

“ Apa kabarmu? Bagaimana dengan cabang café yang berada di Taiwan, Beijing, dan Shanghai? Apa semuanya berjalan dengan lancar?”

Ne, untunglah semuanya lancar… hahaha… ini semua juga berkat kerja kerasmu yang mau mengurus cabang utama di Seoul, kalau saja tidak ada kau, aku akan semakin pusing…”

“ Ini semua berkat bimbinganmu, eonni, aku bisa memimpin dengan baik di sini, sepuluh tahun aku bekerja padamu! Aku mengangumi gaya kepemimpinanmu yang luar biasa…”

“ Ini semua juga berkat kerja kerasmu, Minah, kau wanita yang luar biasa… aku heran mengapa sampai sekarang kau memutuskan untuk sendirian…”

Kata-kata Sojin segera menohok Minah, gadis itu terdiam dan segera kehilangan suaranya. Pembicaraan mengenai masa depan, terutama pendamping hidup, memang masih menjadi masalah yang sensitif bagi Minah.

“ Hahahahah, tidak, eonni, aku masih betah sendirian…”

“ Bulan depan Yura akan menikah, apa kau tidak berniat menyusulnya?”

Memang hanya Yura dan Minhyuk yang tahu mengapa sampai detik ini ia memutuskan masih sendiri, Sojin tidak tahu-menahu soal masa lalu Minah yang bisa dibilang kelam. Gadis itu terlalu rapat menyembunyikan semuanya.

“ Ne, suatu saat nanti, eonni, kau doakan aku saja…”

“ Pasti! Aku akan mendoakanmu mendapatkan pria yang terbaik… eh, aku harus segera pergi, Minah-ah… aku harus ke cabang café yang berada di Gangnam dan juga menjemput Chaerin dari sekolahnya… Annyeong Minah, semangat!”

Minah hanya mengangguk dan membiarkan Sojin keluar dari ruangannya. Gadis itu kembali ke file-file yang menumpuk di depannya untuk diperiksa dan ditandatangani saat tiba-tiba rasa sakit di perutnya kembali mendera, Minah segera mengambil air putih dan meminumnya sampai tandas, rasa sakitnya berkurang namun Minah tahu rasa sakitnya akan kembali beberapa jam ke depan.

Minah meraih dompetnya dan mengeluarkan benda kecil berbentuk persegi panjang yang diberikan Yura padanya. Tidak ada salahnya berkonsultasi, mungkin rasa sakitnya bisa sembuh.

“ Jinhee-ah, buatkan aku janji dengan Hwang Junsu uisa-nim di Seoul Hospital besok pagi jam 9…” Minah segera menutup telepon yang berada di ruang kerjanya usai mengatakan itu.

‘Semoga aku baik-baik saja…’

***

Minah menatap hasil laboratorium di depannya, ia menjadi sangat khawatir sekarang. Tiga hari yang lalu ia sudah menemui dokter Hwang Junsu, dokter berkepala lima itu sepertinya banyak mengernyitkan dahi saat memeriksanya. Minah menjadi khawatir kalau-kalau ia menderita penyakit sedemikian parahnya.

Lalu di sinilah Minah sekarang, menunggu di depan ruang praktek, memejamkan matanya, menunggu namanya dipanggil. Diam-diam gadis itu berdoa di dalam hatinya, semoga tidak ada hal buruk yang akan menimpanya setelah ini.

“ Nyonya Bang Minah…”

Minah spontan membuka matanya, ia menatap suster yang sedang berdiri di depan ruang praktek dokter. Gadis itu segera bangkit dan meraih tasnya.

“Nyonya adalah pasien Hwang Junsu uisa-nim?”

“ Ne, ada apa?”

“ Hwang uisa-nim sedang ada tugas di cabang rumah sakit kami di Daegu, nyonya… prakteknya akan diganti oleh dokter lain…”

“ Ahh, gwenchana…”

Minah berusaha tersenyum walaupun terbesit perasaan kecewa, ia mengira-ngira apakah sang dokter pengganti lebih hebat atau malah berada di bawah kemampuan Hwang uisa-nim, karena bagaimanapun juga Minah menginginkan dokter terbaik yang mendiagnosa penyakitnya.

“ Selamat pagi, uisa-nim…”

Minah membungkukkan badannya pada seorang dokter yang kelihatan masih muda, Minah sedikit meragukan kemampuan dokter itu. Sang dokter mengangkat wajahnya dan ketika ia berniat membalas salam Minah, ia terkejut. Minah pun sama terkejutnya dengan sang dokter. Kedua mata mereka bertemu dalam diam.

Ken berusaha menormalkan detak jantungnya yang terdengar berlebihan, matanya menyapu keadaan gadis yang tidak lagi ditemuinya sejak sepuluh tahun terakhir, suara pria itu tenggelam. Ia tidak bisa berkata apa-apa pada seorang gadis yang pernah mengisi hari-harinya dulu, gadis yang masih memiliki tempat khusus di hatinya hingga saat ini.

“ Silahkan duduk…” Ken berusaha profesional dan mempersilahkan mantan kekasihnya itu untuk duduk.

Minah melangkah dengan kaku, kakinya serasa berat dan ia hanya bisa menundukkan wajahnya saat Ken menatapnya.

“ Menurut catatan kesehatan anda, anda adalah pasien baru Hwang uisa-nim dan hari ini anda akan memperlihatkan hasil laboratorium anda, bukankah begitu nyonya Bang?”

Ne, uisa-nim…” Minah segera menyerahkan amplop yang sejak tadi ia pegang ke hadapan Ken.

Pria itu mengambil beberapa data endoskopi dari map berisi catatan kesehatan Minah sebelum membuka amplop hasil laboratorium milik gadis itu. Kening pria itu berkerut membaca hasilnya, sedangkan Minah terpaku menatap pria itu. Pria yang masih setia mengisi relung hatinya hingga kini, pria yang tidak pernah berubah sejak sepuluh tahun yang lalu. Apakah pria itu masih Ken yang dulu? Atau waktu seupuluh tahu telah merubahnya?

“ Dari hasil endoskopi dan laboratorium, saya dapat menyimpulkan anda tidak memiliki masalah dengan organ lambung, usus, ginjal, dan sebagainya seperti yang anda khawatirkan, nyonya… masalah penyakit pada bagian bawah perut anda muncul dari rahim anda, oleh karena itu untuk lebih jelas anda bisa menghubungi ginekolog…”

Deg!

Minah tercengang, kekhawatirannya bertambah sepuluh kali lipat, mungkinkah hasil perbuatannya sepuluh tahun yang lalu menimbulkan masalah? Gadis itu berusaha menetralkan ekspresinya, namun tidak bisa disembunyikannya raut khawatir terpeta jelas di sana.

“ N… Ne, uisa-nim, saya akan segera mengunjungi ginekolog… te… terima kasih…” Minah segera berdiri dari kursinya dan membungkukkan badannya sebelum pergi dari sana.

Ken menatap kepergian Minah dengan tatapan nanar, sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Ia merasa kehilangan gadis itu, kenapa ia harus bertemu dengan Minah di saat ia sudah menata hatinya dengan baik selama ini? Kembali membuka hatinya untuk gadis lain dan berusaha melupakan Minah.

Takdir sekarang kembali mempertemukannya dengan Minah dengan kondisi berbeda. Ken tentu saja khawatir dengan gadis itu, apa yang Minah lakukan sehingga rahimnya berada dalam kondisi sedemikian rupa? Apa yang terjadi selama ia pergi?

Ia harus tahu semuanya…

***

Minah meremas-remas dress yang dikenakannya dengan gelisah, ia sangat khawatir sekarang. Gadis itu sedang menunggu hasil pemeriksaan Jang uisa-nim mengenai kondisi rahimnya saat ini. Sang dokter sejak tadi hanya mengerutkan dahinya dan mempelajari hasil print out USG kondisi rahim Minah yang baru didapatkannya tadi.

“ Maaf, nyonya, apakah anda pernah melakukan aborsi sebelumnya?”

“ N… Ne, saya pernah melakukan aborsi sepuluh tahun yang lalu, apakah itu berpengaruh pada kondisi rahim saya sekarang?”

“ Dengan sangat menyesal harus saya katakan pada anda, nyonya… kondisi rahim anda sekarang… sangat mengkhawatirkan… aborsi yang pernah anda lakukan berdampak besar merusak rahim anda, akan sangat sulit mungkin mustahil bagi anda untuk memiliki keturunan di kemudian hari dengan kondisi rahim anda seperti ini… untuk rasa sakit yang anda derita diakibatkan infeksi rahim anda yang semakin parah, hal yang bisa kami lakukan adalah memberikan obat untuk menyembuhkan infeksinya terlebih dahulu, tetapi tidak ada yang bisa kami lakukan dengan kerusakannya, hal terberat jika infeksinya bertambah parah adalah, kami terpaksa harus mengangkat rahim anda…”

Tes…

Minah tidak bisa lagi membendung air matanya, itu adalah keputusan terberat yang harus dialami olehnya sepanjang hidupnya. Bagi seorang wanita, bisa mengandung dan melahirkan adalah saat-saat istimewa dan ia tidak bisa mengalami dua fase itu. Ini sangat menyakitkan baginya. Minah tidak akan pernah bisa bermimpi memiliki anak dari rahimnya sendiri, mungkin ini adalah hukuman Tuhan yang harus diterimanya atas perbuatannya sepuluh tahun yang lalu.

“ Apa tidak ada cara untuk menyelamatkan rahim saya, uisa-nim?”

“ Untuk sementara hanya obat-obatan pereda rasa sakit dan obat untuk meredakan infeksi pada rahim anda yang bisa kami berikan, nyonya…”

“ Baiklah, saya permisi dulu…” Minah segera berdiri dan membungkukkan badannya, sebelum ia keluar dari ruang praktek dokter Jang.

Minah menghentikan langkahnya, beberapa meter di depannya Ken dan Hyeri sedang berjalan ke arahnya, lebih tepatnya mungkin ke arah ruang tunggu di depan ruang praktek dokter Jang. Minah berusaha tidak peduli, walaupun tiba-tiba dadanya terasa sesak, mengingat apa yang menimpanya sekarang, secara tidak langsung Ken yang harus bertanggung jawab, dan sekarang dengan mudahnya pria itu memilih gadis lain dan bermesraan di depan matanya.

Minah memutuskan untuk kembali berjalan, tidak lagi peduli dengan kemesraan dua orang yang semakin mendekat padanya. Minah menundukkan wajahnya, menghindari tatapan Ken yang seakan menuntutnya.

Ken tidak bisa melepaskan tatapannya dari Minah, raut khawatir tidak bisa dihindarinya, melihat ekspresi Minah yang tak terbaca. Entah gadis itu berada dalam ingkar kesedihan atau tidak.

“ Sayang, ayo…” Hyeri menarik tangan Ken, membuat pria itu sadar dan segera membalikkan badannya, menggenggam tangan Hyeri dan menghilang di balik pintu ruang praktek dokter Jang.

***

“ Sudah lama aku tidak melihatmu menangis…”

Minah tersentak, ia menoleh dan melihat Minhyuk sudah duduk di depannya. Kapan pria itu masuk? Mengapa Minah sama sekali tidak sadar saat Minhyuk masuk ke ruang kerjanya dan bahkan sudah duduk manis di depannya? Apa ia terlalu serius menangisi nasibnya yang menjadi begitu buruk?

“ Candaanmu tidak lucu, hyuk…”

Minah tertawa dan menghapus air matanya. Percuma saja menyesalkan apa yang terjadi padanya saat ini, karena apapun yang ia lakukan sekarang, ia tidak akan bisa mengembalikan waktu.

“ Jadi ada masalah?”

Minah menggelengkan kepalanya, ia belum siap menceritakan kondisinya pada siapapun supaya membuat mereka mengasihaninya. Ia tidak serendah itu.

“ Kau tidak pernah bisa berbohong padaku…” Minyuk mendekatkan tubunya pada tubuh Minah dan mengusap air mata yang masih tertinggal di pipi gadis itu. Minhyuk masih bisa merasakan getaran aneh saat ia menyentuh Minah, itu menandakan cintanya tidak pernah hilang.

Sayang sekali, walaupun sepuluh tahun telah berlalu, Minah masih tidak bisa melihat ketulusan Minhyuk, gadis itu masih menyimpan masalahnya seorang diri, enggan memberitahukannya kepada siapapun. Minhyuk sangat mengenal Minah, gadis itu hanya tidak ingin ia dikasihani oleh orang lain, walaupun Minhyuk mati-matian mengatakan semua bentuk ketulusannya adalah murni karena dasar persahabatan mereka dan bukannya karena ia merasa kasihan dengan Minah.

“ Kalau aku mengatakannya padamu, apa kau akan terus mengasihaniku? Huh…”

Minah meraih gelas berisi minuman beralkohol yang berada di depannya. Ia tidak pernah menyentuh alkohol, sedikitpun, karena ia benci baunya yang menyengat. Namun hari ini, ia merasa ia sangat membutuhkan cairan itu, membantu pikirannya agar lebih tenang.

“Kau tidak pernah menyentuh alkohol… jadi apa masalahmu sangat berat kali ini?” Minhyuk merampas gelas alkohol dari tangan Minah dan meletakkannya agak jauh dari jangkauan gadis itu. Minah mendelik, ia segera berdiri dan berusaha meraih gelas itu dari tangan Minhyuk.

“ Tidak! Kau akan sangat menyesal nantinya kalau kau mulai mengenal minuman beralkohol, Minah… kau tidak akan bisa lepas darinya…” Minhyuk tersenyum, Minah kembali duduk, kali ini ia sedang terlalu lelah untuk berdebat.

“ Jadi ada apa?”

“ Aku tidak bisa menikah…”

“ Omong kosong… sepuluh tahun telah berlalu, apa kau masih tidak bisa melupakan pria itu? Huh? Tidak cukupkah kau menderita selama ini di saat ia tidak ada di ujung keputusasaanmu?” Minhyuk merasakan sedikit sakit saat mengatakan hal itu, hal yang mengganggunya selama ini, Minah tidak pernah membuka hatinya untuk Minhyuk.

“ Bukan karena itu, hyuk… ada masalah lain…” Minah berusaha tersenyum, di tengah rasa sakit yang kembali mendera perut bagian bawahnya. Gadis itu meremas blazernya, setetes cairan bening kembali membasahi pipinya. Minhyuk tertegun, sepertinya apa yang akan dikatakan Minah kali ini adalah sesuatu yang benar-benar serius.

“ Katakanlah, Minah… katakan semuanya…”

“ Hyuk, aku tidak akan pernah bisa memiliki keturunan, itulah sebabnya aku tidak bisa menikah. Pria mana yang bisa menerima istrinya tidak bisa memberikannya keturunan. Rahimku rusak parah akibat aborsi yang aku lakukan sepuluh tahun yang lalu!”

Minhyuk tertegun, refleks ia mendekati Minah dan berlutut di samping gadis itu, lalu memeluk Minah dalam diam yang menyiksa. Membiarkan gadis itu berkeluh kesah dalam pelukannya dan membiarkan Minah menangisi nasibnya.

“ Semua yang kau lakukan telah mendapatkan hukuman yang setimpal, Minah, sekarang kau harus menjalani sisa hidupmu dengan baik… jangan ingat masa lalumu…” Minhyuk berucap dengan lembut, membuat Minah merasa lebih tenang dalam pelukan pria itu.

“ Aku… aku menyesal, hyuk… aku tahu… ini adalah hukuman atas perbuatanku, tetapi aku tidak menyangka, rasanya akan sesakit ini…”

Drrttt drrrt

Minhyuk meraih ponsel di sakunya. Setelah membaca pesan yang masuk, mendadak eskpresinya berubah ceria. Pria itu segera melepaskan pelukannya pada tubuh Minah.

“ Aku tahu hal yang akan membuatmu ceria malam ini… aku akan mengajakmu makan malam di luar, bagaimana?”

Minah tersenyum dan mengangguk, Minhyuk selalu tahu cara untuk menghiburnya, ia heran mengapa sampai saat ini ia tidak bisa jatuh cinta dengan pria itu.

***

Suasana malam itu terasa begitu memukau, dengan balutan pesona lilin-lilin di sepanjang koridor disertai iringan musik klasik yang terdengar sayup-sayup di kejauhan. Hyeri dan Ken berjalan beriringan, melewati pohon-pohon yang diberi hiasan lampu-lampu secara berderet, Hyeri tidak bisa tidak tersenyum dengan perlakuan Ken yang sangat manis.

“ Jadi kau memesan tempat ini khusus untuk makan malam kita?” Hyeri merasa sangat tersanjung, seumur hidupnya, ia tidak pernah diperlakukan lebih istimewa dari ini.

Ken membolak-balikkan buku menu di hadapannya, setelah mengucapkan pesanannya dan juga pesanan Hyeri, ia baru menatap mata tunangannya itu. Memberikan senyuman khasnya yang membuat banyak wanita lain bertekuk lutut di hadapannya.

Ne, aku hanya ingin menghabiskan malam ini denganmu…”

“ Satu jam yang lalu kau baru menyelesaikan operasi, sayangku, apa kau tidak lelah?”

Ken hanya mengangguk pasrah, sesungguhnya ia merasa lelah, tetapi terkurung di rumah dan memikirkan Minah akan membuatnya merasa semakin buruk.

“ Lalu kenapa kau memaksakan diri ingin ke sini?” Hyeri menyentil hidung Ken dan membuat pria itu tertawa.

Sejurus kemudian tawanya menghilang, saat indera pendengarannya menangkap tawa lain yang berada di sebelahnya. Pria itu segera menoleh, hatinya mencelos saat melihat sesosok wanita dalam balutan dress silver selutut sedang tertawa bersama partnernya hanya berjarak beberapa meja dari tempatnya dan Hyeri duduk.

Tiba-tiba sang wanita berdiri meninggalkan rekannya sendirian menikmati pesanan mereka. Ken refleks ikut berdiri dan mengejar langkah wanita itu, membiarkan Hyeri terperangah karena sikapnya yang tiba-tiba. Hyeri memalingkan wajahnya ke arah yang tadinya membuat Ken terpaku. Wanita itu terdiam sebelum sebuah senyuman terukir di sana.

Ia juga meninggalkan mejanya dan menghampiri meja di mana seorang pria sedang duduk. Hyeri menarik kursi di hadapan pria itu.

“ Minhyuk… kita bertemu di sini…”

Minhyuk tertegun ia melihat Hyeri persis di hadapannya. Pria itu menyunggingkan senyuman liciknya.

“ Oh kau… jadi kau dan tunanganmu makan malam di sini juga? Di restaurant favorit kita…”

“ Huh… aku tidak menyangka ini adalah restaurant favoritnya juga…”

“ Sudah berapa lama kau menjalin hubungan dengannya? Kau bahkan tidak tahu di mana tempat favoritnya…”

“ Itu tidak penting, hyuk… tidakkah kau merasa bersalah kau malah pergi dengan wanita lain dan bukannya mengunjungiku, Kang Minhyuk?” Hyeri dengan sengaja mengusap perutnya, membuat Minhyuk sadar, kalau sebenarnya wanita itu sedang mengandung.

“ Kau sendiri yang bilang padaku kalau malam ini aku tidak usah datang ke apartementmu, kau dan tunanganmu itu akan pergi…”

Sebersit rasa sakit segera menyentuh hati gadis itu, Hyeri terdiam, sekian lama ia menunggu, ternyata Minhyuk sama sekali tidak berubah. Pria itu tidak pernah bisa melihatnya, sekeras apapun Hyeri berusaha untuk muncul di hadapan pria itu. Hyeri berusaha tersenyum, menyembunyikan rasa sakitnya.

“ Seandainya kau mau memilihku, hyuk… aku akan meninggalkan Ken, demi bersamamu…”

***

Ken menarik tangan Minah, membuat gadis itu terpaksa berbalik dan terperangah mendapati Ken berdiri di depannya. Tidak cukupkah dua kali ia bertemu dengan pria itu? Haruskah ia bertemu untuk yang ketiga kalinya dengan Ken?

” Jangan berpura-pura lagi, Minah…”

“ Maaf, uisa-nim… saya rasa saya tidak lagi memiliki urusan dengan anda.” Minah mati-matian menahan degub jantungnya yang di luar batas normal.

Ken segera menarik Minah ke dalam pelukannya. Ken mengusap kepala Minah, tidak melepaskan gadis itu satu inchi pun dari pelukannya. Minah berusaha melepaskan pelukan Ken yang terasa menyakitkan, bahkan setelah sepuluh tahun berlalu. Minah berusaha menyembunyikan tangisnya, seluruh rasa kecewa tumpah ruah di sana.

“ Lepaskan Ken, lepas…” tubuh Minah menegang dalam pelukan Ken, namun permohonan gadis itu tidak digubris oleh Ken. Ken menyalurkan seluruh rasa rindunya di sana, dengan cara memeluk Minah.

Minah terus memukuli tubuh Ken, agar pria itu mau melepakan pelukannya. Tetapi sepertinya Ken terlalu kebal dengan semua itu, sampai akhirnya Minah luluh dan membiarkan pria itu memeluknya dengan seenaknya.

“ Maaf…” Ken berkata lirih di tengah-tengah pelukannya untuk Minah. Hasil check up gadis itu yang sampai di mejanya tadi siang, sangat menyakiti hatinya. Banyak hal yang ingin ia pertanyakan mengenai keadaan gadis itu.

“ Untuk apa kau meminta maaf? Kalau pada akhirnya nanti kau akan pergi…”

Kata-kata Minah yang mengalun lembut namun menusuk, membuat Ken melepaskan pelukannya. Ken segera menatap kedua mata Minah, mencari sisa-sisa jawaban di sana.

“ Kau yang memintaku untuk pergi, Minah… kau ingat itu!”

Minah tersenyum dan menghapus air matanya, membuat Ken ikut tersenyum.

“ Itu adalah masa lalu…”

“ Mengapa waktu itu kau membiarkanku pergi, Minah? Aku yakin sampai hari ini cinta itu tetap ada… aku bisa melihatnya di matamu…”

“ Apapun yang aku katakan dan aku perbuat sekarang, itu tidak akan berarti apa-apa padamu kan?”

Ken terhenyak, gadis itu sudah banyak berubah, kata-katanya mampu membuat Ken terdiam dan kehilangan jutaan kata-kata yang sudah disusunnya sejak lama, ketika suatu saat nanti ia bertemu lagi dengan Minah, menuntut waktu-waktu mereka yang terbuang.

“ Apa yang terjadi selama aku pergi?”

“ Apa maksudmu?” Minah mendadak khawatir, Ken tentu sudah tahu kalau terdapat masalah di rahimnya, tetapi pria itu tidak mungkin tahu apa-apa mengenai keputusannya untuk menggugurkan kandungannya.

“ Jangan berpura-pura lagi, Minah, aku sudah tahu kondisi rahimmu saat ini…”

“ Lalu kau mau apa? Kau mau mengasihaniku? Mengasihani kekuranganku? Huh… lucu sekali… aku tidak butuh, Ken…”

Ken tidak mengatakan apa-apa, ia kembali menarik Minah dan membenamkan tubuh mungil gadis itu ke dalam pelukannya, tidak ada kata-kata yang terucap dari bibirnya. Ken tahu akan menjadi percuma kalau ia berusaha mengorek apapun dari Minah saat ini. Maka yang ia lakukan hanya berusaha membuat gadis itu tenang dalam pelukannya.

Hyeri dan Minhyuk melihat pemandangan itu dari jauh. Kilatan kemarahan terpeta jelas dari raut wajah Minhyuk, ingin sekali ia memisahkan dua insan itu. Tetapi Hyeri mengeratkan pegangannya pada pria itu.

“ Lepasakan, Hyeri…”

“ Kau mau apa, huh?”

“ Kau tidak marah Ken memeluk gadis lain…”

“ Aku sudah tahu siapa Minah dan bagaimana masa lalu Ken dan gadis itu, jadi di mana masalahnya?”

“ Kau gila… kenapa kau malah membiarkan mereka bersama sekarang? Kau tahu Minah bisa merebut Ken kapan saja…”

“ Aku tidak peduli kalaupun Minah harus merebut Ken…” Hyeri mendorong tubuh Minhyuk ke dinding dan langsung menghimpit tubuh pria itu.

“ Apa maumu sebenarnya?”

“ Karena yang aku khawatirkan adalah jika Minah merebutmu dariku, bukan merebut Ken dariku…” Hyeri segera mendaratkan bibirnya pada bibir Minhyuk dan melumat bibir pria itu pelan, tidak memperdulikan Minhyuk yang bahkan tidak membalas ciumannya.

“ Kau gila…” Minhyuk mendesis sebelum akhirnya mendorong tubuh Minah menjauh.

***

Srek!

Minhyuk tersenyum sinis saat belasan lembar foto dilemparkan ke meja kerjanya. Ia tidka peduli bahkan ketika Ken menatapnya penuh amarah.

“ Aku tahu kau memiliki hubungan khusus dengan tunanganku, Kang Minhyuk…”

“ Lalu apa yang akan kau lakukan? Menuntutku ke polisi?”

Ken menyadarkan tubhnya pada lemari besar yang berad di ruang kerja Minhyuk. Pria itu harusnya merasa kesal karena Minhyuk dengan berani menyentuh calon istrinya, hanya saja ia tidak sedang berbicara soal Hyeri. Ia memang marah karena tindakan itu, namun ada hal lebih penting yang ingin ditanyakannya pada Minhyuk.

“ Tidak, aku tidak akan menyebarkan foto-foto itu dan membuatmu hancur, Kang Minhyuk, aku juga tidakan akan pernah melaporkanmu ke polisi, kau hanya perlu memberitahukan kondisi Minah padaku…”

“ Cih… setelah pergi, sekarang kau mau berpura-pura peduli padanya? Kau menjijikkan Ken… kau pikir aku takut dengan ancamanmu?! Kau juga akan hancur! Hyeri akan menikah denganmu… Lalu foto-foto Hyeri yang sedang tidur denganku akan tersebar luas?! Hahaha… apa kau tidak malu?”

“ Jangan bicaramu…” Ken melemparkan ponselnya ke tengah-tengah meja Minhyuk dan berhasil menghempas beberapa foto itu hingga berjatuhan ke lantai.

Minhyuk terdiam saat sebuah voice note terdengar di sana. Membuat pria itu membeku sejenak sebelum mengganti ekspresi wajahnya menjadi dingin, seperti semula.

“ Kau pikir selama aku pergi dan aku tidak bersama Hyeri… aku tidak tahu apa yang kau perbuat bersamanya… kau pikir… aku tidak tahu perasaanmu pada Minah, aku tahu semuanya, Minhyuk… bahkan aku tahu kalau calon istriku memiliki perasaan khusus kepadamu, bukan kepadaku… cih, wanita murahan itu…”

“ Kalau kau tahu Hyeri segitu rendahnya, kenapa kau masih mau menikahinya? Kau benar-benar bodoh… mau dikhianati perempuan sepertinya…”

“ Dia sedang mengandung anakku… apa aku tega meninggalkannya?”

“ Cih… kau masih memiliki hati untuk itu? Sepuluh tahun yang lalu kenapa kau tidak berpikiran hal yang sama?”

“ Apa maksudmu?”

“ Kenapa kau malah pergi dan bukannya mencari tahu kebenaran yang berusaha disembunyikan oleh Minah? Kenapa kau dengan mudahnya menerima keputusannya untuk memutuskan hubungan kalian? Huh… aku akan membeberkan semuanya, agar kau tahu… seberapa pantas dirimu untuk dihargai… Kau menyedihkan, Ken! Kau sangat menyedihkan… Kau tidak tahu kan apa yang dirasakan Minah saat ia tahu ia sedang mengandung? Kau tahu betapa menderitanya ia saat kau pergi? Kau tahu apa yang terjadi pada sekarang? Rahimnya rusak karena ia memutuska menggugurkan anaknya! Itu semua terjadi karena kau dan sekarang dengan mudahnya kau kembali! Kau pikir kau siapa yang bisa dengan seenaknya kembali seolah-olah apa yang kau lakukan sepuluh tahun yang lalu bukanlah sesuatu yang berarti!”

Minhyuk tersenggal-senggal saat menyelesaikan kalimatnya, kalimat yang dilontarkan penuh emosi.

“ Terima kasih…” Ken segera pergi dari sana setelah mendengar semua yang keluar dari mulut Minhyuk. Kebenaran itulah yang dicarinya selama ini.

***

“ Minah, kau serius tidak ingin berobat ke Jepang?” Yura menangis setelah mendengar kondisi Minah. Ia tidak menyangka hukuman seberat ini yang harus diterima Minah.

“ Tidak, Yura, aku tidak ingin Sojin eonni menjadi khawatir dan aku tidak mau mengacaukan persiapan pernikahanmu, Yura… kalau kau harus menemaniku berobat, persiapan pernikahanmu akan kacau balau…”

Ting tong!

Bel pintu di apartementnya membuat Minah tersentak, ia segera merapikan dirinya yang kusut akibat menangis bersama Yura sebelum melangkah menuju pintu depan.

“ Tunggu sebentar…” Minah segera membuka pintu apartementnya tanpa mengecek siapa yang datang dan alhasil ia terpaku mendapati Ken berada di depan wajahnya.

Minah hendak menutup pintu apartementnya sebelum Ken berhasil masuk namun tenaga Ken jauh lebih kuat dan alhasil pria itu berhasil masuk ke dalam tanpa bisa dicegah.

“ Apa maumu?”

“ Minah, aku minta maaf…” Ken menjatuhkan tubuhnya tepat di hadapan Minah, membuat gadis itu terpaku dengan perbuatan Ken. Ia mendadak kaku, dan hanya bisa membiarkan Ken bersimpuh dan menangis di hadapannya.

“ Aku tidak tahu kalau saat aku pergi kau sedang mengandung… aku seharusnya berusaha lebih keras untuk mencarimu dan bukannya pergi…”

“ Ken, sudahlah…” Minah meneteskan air matanya, untuk yang kesekian kalinya demi pria itu. Ia sudah lelah dengan semuanya, ia ingin memulai hidup baru tanpa Ken, tetapi sepertinya takdir tidak mengizinkannya untuk bahagia bersama pria itu.

“ Pergilah Ken, tidak ada gunanya kau di sini…” Yura keluar dari kamar Minah, gadis itu menyandarkan tubuhnya pada dinding di depan pintu kamar Minah.

“ Kau sudah memiliki tunangan dan akan segera menikah, beritamu sudah ada di mana-mana, percuma kau menyesal dan memohon pada Minah seperti itu, Minah tidak akan kembali padamu…”

“ Yura benar, ada baiknya kau pergi sekarang…”

Ken kehilangan kata-kata untuk yang kesekian kalinya, apa yang dikatakan Yura memang benar. Ia tidak bisa mengharapkan apa-apa lagi dari Minah di saat ia akan menikah dengan Hyeri.

“ Maafkan aku, Minah… maafkan aku…”

***

Hyeri tersenyum saat Ken tiba di apartement milik gadis itu. Hyeri menuntuk Ken masuk sebelum gadis itu melangkah ke dapur untuk membuat dua gelas hot chocolate di malam yang cukup dingin.

“ Hyeri, aku…” Ken merasa kesulitan menemukan kata-kata yang tepat untuk disampaikannya pada Hyeri. Ia dan Hyeri akan menikah tetapi ia sama sekali belum merasakan adanya cinta di antara mereka. Bahkan ia tahu Hyeri telah bermain api di belakangnya, berselingkuh dengan Minhyuk dan lalu apa artinya hubungan mereka saat ini.

“ Aku tahu Ken cepat atau lambat kau harus mengetahui semua ini…”

“ Hyeri-ah…”

“ Aku tahu kau belum mencintaiku, kau hanya mencintai Minah dan aku juga belum mencintaimu… Oleh karena itu aku ingin memutuskan pertunangan kita…” Hyeri mengatakan itu seolah tanpa beban. Gadis itu menyeruput cokelat panas dalam genggamannya sebelum melanjutkan kata-katanya.

“…. Itu kan yang ingin kau sampaikan?”

“ Hyeri-ah, aku akan tetap menikahimu, aku telah berbuat kesalahan dengan meninggalkan Minah yang tengah hamil dan sekarang kau yang sedang mengandung anakku, jadi aku akan bertanggung jawab sepanuhnya.” Ken meraih tangan Hyeri dan menggenggamnya.

“ Kau tidak perlu bertindak sejauh itu, Ken… maafkan aku, aku bukan wanita baik-baik seperti Minah, aku tidak hanya tidur denganmu…”

“ Aku tahu, pekerjaanmu dulu membuatmu harus tidur dengan banyak pria, bukankah begitu? Tapi aku sudah memaafkan semua pekerjaanmu dulu…”

“ Aku tetap tidak bisa menikah denganmu, sejak awal aku hanya mencintai uangmu, aku tidak pernah mencintaimu layaknya seorang wanita mencintai pria. Aku hanya memanfaatkanmu, Ken… kau tahu sejak awal hanya Minhyuk yang kucintai sepenuhnya…”

“ Tapi kau sudah terlanjur mengandung anakku, Hyeri…”

“ Ini bukan anakmu, Ken… kau tidak bisa semudah itu percaya padaku… aku memang pernah tidur denganmu dan hanya sekali… kau pikir aku bisa hamil? Sedangkan dengan Minhyuk aku tidur berkali-kali bahkan ketika kau pergi? Usia kandunganku baru menginjak empat minggu, tidakkah itu aneh? Kita sudah berhubungan lima sampai enam bulan yang lalu, kau tidak heran kenapa aku baru hamil?” Hyeri tersenyum, ia meraih dagu Ken dan mengusap pipi pria itu pelan.

Ken tersentak, ia baru menyadari kelalaiannya, ia terlalu percaya pada Hyeri. Walaupun ia baru mengenal gadis itu di bar hampir dua tahun yang lalu, ia sudah sangat percaya pada Hyeri yang dianggapnya bisa menggantikan posisi Minah di hatinya. Tetapi ia salah, ia sama sekali tidak bisa melupakan Minah dan Hyeri hanya menjadi pelarian baginya.

“ Siapa ayahnya?”

“ Minhyuk…”

“ Kau yakin ia akan bertanggung jawab? Ia sangat mencintai Minah…”

Hyeri terdiam, ia sama sekali tidak berpikir sampai ke sana, ia pikir mengandung anak Minhyuk sudah cukup membuat pria itu berada dalam genggamannya, ia tidak menyadari kalau setelah Minhyuk tahu ia hamil, pria itu tidak melakukan tindakan berarti untuk peduli padanya dan bayinya.

“ Lalu aku harus bagaimana? Hubungan kita telah berakhir, Ken… ini semua tidak akan berakhir…”

“ Aku punya ide… Minhyuk tidak mau bertanggung jawab kan? Bagaimana kalau…”

***

“ Kau… Kau kan…”

“ Boleh aku masuk, aku akan menjelaskan beberapa hal padamu?”

Minah terdiam sebelum memundurkan tubuhnya beberapa langkah dan membiarkan Hyeri masuk ke apartementnya.

“ Apa Ken yang menyuruhmu datang ke sini? Apa yang kau inginkan? Aku tidak akan mengganggu Ken lagi… hubungan kami sudah berakhir… kudengar kalian akan segera memiliki bayi… aku ucapkan selamat…”

“ Anak ini bukan anak Ken, dia adalah anakku sendiri…”

Minah mengerutkan dahinya mendengar penuturan Hyeri, ia terdiam dan berusaha mencerna apa maksud sebenarnya gadis itu datang ke apartementnya kalau tidak berhubungan dengan Ken.

“ Ini anak kandung Minhyuk…”

Minah membelalakkan matanya, ia sama sekali tidak menyangka kalau Hyeri mengenal Minhyuk bahkan akan memiliki anak dari gadis itu. Minah, jujur saja, ia kecewa karena Minhyuk telah berjanji untuk menemaninya sampai kapapun dan hanya mencintainya. Walaupun ia kedengaran egois karena ia tidak bisa menikah dengan Minhyuk, ia tetap memegang janji pria itu sebagai sahabat. Lalu jika pria itu akan memiliki anak dari gadis lain, apa itu artinya semua ucapan Minhyuk hanyalah bualan belaka?

“ Aku tahu kau bingung dengan semua ini… aku akan menjelaskannya padamu… aku mengenal Minhyuk di bar hampir empat tahun yang lalu, kala itu, kau sudah menolak lamarannya entah untuk yang keberapa kalinya… ia mabuk dan bercerita padaku bahwa ada gadis yang amat dicintainya yang menolak lamarannya dan ia sangat kecewa… sejak itu ia sering datang ke bar dan mencariku, hanya untuk memuaskan hasratnya. Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai mencintainya, terlebih aku hanya wanita murahan yang bekerja sebagai gadis malam, aku tidak akan pernah pantas untuknya. Tetapi aku selalu berharap Minhyuk mau membuka hatinya padaku…”

“… kemudian aku bertemu Ken dan ia memperlakukanku sama seperti Minhyuk memperlakukanku, ia hanya menganggapku pelarian sampai suatu saat aku mengandung dan ia melamarku dua minggu yang lalu, ini bukan anak Ken, tentu saja aku pernah bercinta dengan banyak laki-laki termasuk Minhyuk dan Ken, tetapi aku yakin anak ini adalah anak kandung Minhyuk. Hanya ia yang masih berhubungan denganku setelah aku menjadi kekasih Ken karena aku sudah meninggalkan pekerjaanku…”

“ Hyeri, aku…”

“ Aku tahu Minhyuk hanya mencintaimu, Minah… tapi ia adalah ayah dari bayiku, bisakah aku memohon padamu agar ia bisa bertanggung jawab ? Selama ini ia mendukungku bersama Ken agar ia bisa terus bersamamu, Minah… namun setelah semua ini, apa kau bisa melepaskannya untukku?”

“ Tentu saja, Minhyuk tidak akan bisa bersamaku, aku akan mengatakan agar Minhyuk bertanggung jawab padamu… terima kasih, Hyeri-ah… maaf karenaku kau harus menderita sejauh ini, menjadi pelarian Ken dan juga Minhyuk…”

***

“ Minah, aku tidak tahu ada angin apa sehingga kau mengundangku ke sini…” Minhyuk tersenyum, kemudian duduk di sofa yang berada di apartement Minah.

“ Aku hanya rindu pada sahabatku…”

Minah meletakkan dua buah gelas berisi Wine di atas meja. Minhyuk mengambil salah satu gelas dan meminum isinya. Ia merasa ada sesuatu yang membuat Minah memanggilnya ke sini dan ia berharap gadis itu sudah memiliki jawaban atas pertanyaannya beberapa hari yang lalu.

“ Aku berharap kali ini jawabanmu berbeda, Minah…”

“ Aku hanya ingin bertanya, apa kau membenci Ken karena ia meninggalkanku yang saat itu mengandung anaknya?”

“ Ne, dia hanyalah pria brengsek, Minah, kau tidak pantas bersamanya…”

“ Lalu bagaimana kalau itu terjadi padamu, apa kau akan meninggalkan gadis yang sedang mengandung anakmu sendiri?”

Minhyuk mengernyitkan dahinya mendengar kata-kata Minah. Pria itu berusaha menangkap maksud gadis itu. Minhyuk segera melangkah dan menyingkirkan gelas Wine yang sedang dipegang Minah.

“ Jangan sentuh, Minah… kau kan sudah berprinsip untuk tidak menyentuh alkohol.”

Minah meletakkan gelasnya dan segera melangkah menuju jendela yang berada di apartementnya.

“ Kau belum  menjawab, hyuk…”

“ Tidak, tentu saja tidak…”

“ Kalau begitu aku sudah memiliki jawaban…” Minah mengambil sebuah cincin dari saku celananya, ia melangkah mendekati Minhyuk, membuat pria itu mengernyitkan dahi untuk yang kesekian kalinya.

“ Aku menolak lamaranmu… aku tidak bisa merebutmu dari ibu calon anakmu sendiri…”

“ Apa maksudmu?”

Minah segera berjalan menuju kamarnya, ia membuka pintu kamarnya dan membiarkan Hyeri berjalan keluar dari sana. Minhyuk tertegun, ia tahu Hyeri sudah mengatakan sesuatu pada Minah.

“ Kau… Kenapa kau berada di sini?”

“ Aku sudah mengatakan semuanya pada Minah…” Minhyuk berjalan cepat ke arah Hyeri, ia melayangkan tamparannya pada pipi Hyeri sehingga membuat gadis itu hampir terjerembap ke lantai. Minah buru-buru menahan tubuh Hyeri.

“ Kenap kau mengacaukan semuanya, Hyeri?! Kau menginginkan Ken?! Ambil! Jangan pernah mempengaruhi Minah agar ia menolak untuk hidup bersamaku!”

“ Orang yang pernah dan akan terus aku cintai adalah kau, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja…”

“ Kau pikir dengan hamil anak haram itu, kau bisa menjebakku?”

“ HYUK! Kau terlalu kasar, bagaimanapun Hyeri sedang mengandung anakmu sendiri, bagaimana kau bisa berkata seperti itu padanya?”

“ Aku sedang mabuk saat tidur dengannya, Minah, aku… aku tidak …”Minhyuk berusaha menjelaskan tetapi Minah malah membalikkan tubuhnya.

“ Minhyuk, aku minta maaf karena aku selalu menolakmu… kalau aku menerimamu sama saja aku akan menyakiti sahabatku… aku mencintaimu hanya sebagai sahabat, tidak lebih… sedangkan Hyeri, ia tulus mencintaimu… mengapa kau hanya bisa melihatku di saat ada wanita lain yang dengan tulus bisa memberikan cintanya padamu? Kau sendiri yang mengatakan kalau ada gadis yang mengalami nasib sepertiku, kau bersedia bertanggung jawab, kau sekarang berniat seperti Ken? Astaga bahkan Ken lebih baik darimu! Setidaknya ia tidak pernah tahu aku hamil sedangkan saat ia tahu Hyeri hamil, ia bersedia bertanggung jawab sedangkan kau? Kau malah melarikan diri! Bodoh…”

Minhyuk mendekati Minah dan memeluk gadis itu dari belakang. Namun Minah hanya diam, tidak membalas pelukan Minhyuk sama sekali.

“ Aku hanya mencintaimu, Minah… kumohon jangan suruh aku bersama gadis lain yang tidak aku cintai…”

“ Minhyuk kau egois!” Hyeri berteriak dengan penuh emosi.

“ Diam kau!”

“ Minhyuk, kalau kau mencintaiku, kau harus melepaskanku… nikahi Hyeri dan hidup bahagia bersamanya…”

“ Minah, kumohon…”

Minhyuk meringis, namun Minah hanya menggelengkan kepalanya, tanda bahwa gadis itu serius dengan kata-katanya agar Minhyuk segera menikahi Hyeri. Walaupun tidak dapat dipungkiri, Minah terlalu banyak meletakkan harapan di pundak pria itu dan alhasil ia mulai berharap Minhyuk adalah sumber kebahagiaannya namun sekarang semua ini hanyalah kehampaan.

***

A Few Month Later…

Hari-hari berlalu begitu cepat tanpa pernah kita sadari, bulan berganti bulan menjadi saksi bisu atas kisah sejumlah anak manusia yang terjebak dalam masalah hidup mereka masing-masing. Tentang cinta…

Semua berawal dari sebuah ikatan sederhana yang membawa anak-anak manusia ke dalam permasalahan hidup yang tidak bisa dibilang biasa… semuanya memiliki makna masing-masing untuk membawa tiap orang ke dalam pelajaran hidup yang berarti.

Minhyuk tidak menikahi Hyeri, pria itu tidak kabur dari tanggung jawabnya, hanya saja ia belum siap untuk menjalin ikatan dengan gadis itu, yang ia lakukan memang tindakan pengecut. Ia memilih mengurus cabang perusahaannya di Thailand dan hanya sesekali memberi kabar kepada Hyeri. Namun hal itu tidak membuktikan apa-apa… tidak juga membuktikan keseriusan pria itu yang sebenarnya.

Minah sudah berusaha membujuk Minhyuk agar tetap tinggal tetapi pria itu bersikeras menata hatinya dengan berjauhan dari segala hal yang berhubungan dengan Minah. Gadis itu kehabisan akal untuk membuat Minhyuk tetap berada di sini dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Suara langkah kaki penuh kepanikan terdengar di koridor, Minah dan Ken berlari saat mendapatkan kabar yang masuk ke ponsel mereka hampir satu jam yang lalu.

“ Ken, masuklah… Hyeri membutuhkanmu, aku yang akan menunggu Minhyuk di sini…”

“ Kau yakin Minhyuk akan datang?” Ken bertanya dengan nafas tersenggal-senggal. Minah mengangguk, walaupun ia tidak yakin karena selama kehamilan Hyeri, Minhyuk tidak menunjukkan batang hidungnya. Ken dan Minah yang mengurus Hyeri selama masa kehamilannya dan sampai saat ini, puncaknya, di mana Hyeri akan memperjuangkan anaknya dan Minhyuk sedangkan pria itu tidak juga datang. Setidaknya untuk melihat anaknya yang akan lahir.

“ Aku yakin dia tidak setega itu untuk melewatkan moment berharga ini…”

Ken mengecup kening Minah sebelum masuk ke ruang bersalin di mana teriakan Hyeri terdengar saat Ken membuka pintunya. Minah duduk dalam keheningan, berdoa agar Hyeri bisa melahirkan dengan lancar.

“ Aku bersumpah, hyuk… kalau kau tidak datang, aku akan membunuhmu…” Minah berusaha  menghubungi Minhyuk, walaupun hanya akan tersambung dengan operator.

Sementara itu…

Ribuan kilometer jauhnya dari Seoul, Minhyuk melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa, kabar mengenai Hyeri yang akan melahirkan membuatnya panik dan memesan tiket menuju Seoul, meninggalkan rapat, dan di sinilah ia sekarang, menunggu pesawat take off.

Ia memantapkan hatinya, ia akan menikahi Hyeri, walaupun ia tidak mencintai gadis itu, ia harus bertanggung jawab terhadap anak kandungnya sendiri. Minhyuk meraih ponselnya, ia membuka galery dan mendapati beberapa foto hasil USG yang dikirimkan Hyeri padanya.

“ Ayah tidak sabar untuk bertemu denganmu, nak… maafkan ayah…”

Minhyuk, entah mengapa tiba-tiba perasaannya menjadi keruh, sesuatu yang tidak biasa menghalangi kejernihan pikirannya. Ia merasa khawatir, entah untuk hal apa.

‘Semoga ini hanya perasaanku saja…’

***

“ Hyeri melahirkan bayi perempuan…”

Ken yang baru saja keluar dari ruang bersalin menghampiri Minah dengan senyuma hangat. Ia merasa bahagia bisa menemani Hyeri, walaupun anak yang dikandung Hyeri bukan anaknya. Ia pernah hampir menikahi Hyeri dan otomatis harusnya memang ia mengalami saat-saat mendebarkan seperti itu, walaupun harusnya Minhyuk yang berada di posisinya saat ini dan memang Minhyuk yang lebih berhak.

“ Syukurlah… apa aku boleh masuk?”

“ Jang uisa-nim mengatakan kita bisa menemuinya setelah ia dipindahkan ke ruang perawatan biasa…”

“ Baiklah…” Minah mengambil tempat duduk dan Ken segera duduk di sebelahnya, kedua pasangan itu terlihat bahagia.

“ Bagaimana dengan Minhyuk?”

“ Entahlah, aku harap ia segera tiba dan melihat putrinya…”

“ Maaf, apakah tuan Kang Minhyuk sudah datang?”

Seorang perawat menghampiri Ken dan Minah dengan raut khawatir yang terbaca jelas lewat bola matanya. Ken dan Minah otomatis berdiri.

“ Belum, apa terjadi sesuatu?”

“ Nyonya Hyeri terus menggumamkan nama Kang Minyuk, kondisinya kristis, ia kehilangan banyak darah saat proses persalinan…”

“ Astaga…” Minah hampir jatuh kalau Ken tidak menangkapnya, gadis itu segera menangis karena mendengar kondisi Hyeri. Padahal tadi ia baru merasa bahagia karena Hyeri sudah berhasil melahirkan bayinya.

“ Nyonya Minah, Tuan Ken…” seorang perawat lain datang dan memanggil nama mereka berdua. Sontak Ken dan Minah menoleh.

“ Nyonya Hyeri memanggil anda…”

***

“ Hyeri… jangan berbicara… kau harus istirahat…”

Minah meraih tangan Hyeri, namun gadis itu menggeleng, ia melepaskan selang oksigennya dan membuat Minah memekik.

“ Aku… aku… menitipkan putriku… dia sangat cantik… kalian sangat baik, aku ber… berterima… kasih… katakan pada Minhyuk, aku … aku…”

Mata Hyeri terpejam, otomatis Minah mengguncangkan tubuh Hyeri berharap gadis itu bangun dan melanjutkan apa yang ingin disampaikannya. Sementara Ken hanya bisa memeluk Minah dalam diam, pria itu menitikkan air matanya. Beberapa perawat segera masuk dan dokter Jang memeriksa kondisi Hyeri. Alat pengejut jantung dipasang, berusaha mengembalikan detak jantung Hyeri. Beberapa dokter lain segera masuk, berkerumun di sebelah gadis itu.

“ Maaf, tuan… nyonya, anda harus keluar…” seorang perawat memberitahu Ken dan Minah, membuat mereka berdua segera menyingkir.

Sesampainya di depan ruang bersalin, tangisan Minah pecah. Ia bersandar pada tubuh Ken.

“ Hyeri akan baik-baik saja kan?”

Ken mengangguk dalam hati ia berdoa untuk Hyeri. Pria itu mengelus rambut Minah, tatapannya terkunci pada ponsel Minah yang tergeletak di atas tas milik gadis itu. Ponsel milik Minah berkedip beberapa kali, tanda adanya sebuah pesan masuk.

From : Minhyuk

Aku akan pulang dengan penerbangan siang ini… katakan pada Hyeri untuk menunggu aku akan menikahi gadis itu dan memulai keluarga baru dengannya…

Ken terperangah pesan itu dikirimkan Minhyuk beberapa jam yang lalu saat ia dan Minah baru sampai ke rumah sakit ini. Berarti harusnya Minhyuk sudah menaiki pesawat saat ini.

“ Minah, Minhyuk akan pulang…” Ken memperlihatkan pesan yang Minhyuk tulis dan malah membuat tangisan Minah semakin tak terbendung.

“ Apa yang harus kita katakan padanya?”

Pintu ruang bersalin terbuka, dokter Jang muncul diikuti beberap dokter lain. Mengatakan sesuatu yang sudah diduga oleh Ken dan Minah. Bersamaan dengan itu, televisi di ruang tunggu menampilkan berita. Sebuah berita dadakan, menyelak acara talkshow yang sedang ditayangkan.

“ Permirsa saat ini kami menayangkan langsung dari tempat kejadian di mana terjadi kecelakaan peswat tujuan Bangkok-Seoul, saat terjadi pendaratan kaki pesawat tidak berfungsi sebagai mana mestinya, sehingga menyebabkan pesawat kehilangan kendali dan akhirnya menabrak landasan, berdecit dan terhempas beberapa meter sebelum meledak… belum dapat dipastikan berapa korban di dalam body pesawat… namun kemungkinan tidak ada yang selamat mengingat body pesawat yang langsung terbakar tanpa ada yang sempat  menyelamatkan diri…”

***

Three Years Later…

“ Lee Sooyeon… jangan berlari, sayang… nanti kau jatuh…” Minah menangkap tubuh seorang anak perempuan yang sedang berlari menyusuri taman. Sedangkan Ken duduk memperhatikan keduanya. Tatapan pria itu teduh memandang dua orang yang paling berarti baginya saat ini.

Eomma, aku mau bermain di sana…” Gadis kecil itu menunjuk bak pasir di mana di dalamnya sudah terpadat beberapa anak seumuran dengan gadis itu sedang bermain.

Ne, hati-hati, sayang… jangan berlari…”

Minah menghampiri Ken dan duduk di sebelah pria itu. Ia menatap Sooyeon dengan tatapan keibuan. Hyeri dan Minhyuk memberikannya dan Ken sebuah hadiah, gadis kecil yang manis yang memanggil mereka dengan sebutan ‘appa’ dan ‘eomma’.

“ Tidakkah kau mau menikah denganku?”

Minah menoleh dan menatap Ken. Ia sudah berulangkali menjelaskan pada Ken bahwa ia tidak bisa menerima tawaran pria itu, karena hubungan mereka sudah selayaknya hanya seperti ini. Bukan ikatan suci pernikahan…

“ Hanya bercanda…” Ken mengusap wajah Minah dan keduanya tertawa…

“ Hubungan kita cukup hanya menjadi ibu dan ayah bagi Sooyeon, kuharap kau mengerti, Ken…”

Ne, aku mengerti…”

Ken menatap langit biru di hadapannya, walaupun ia tidak bisa menikahi Minah, setidaknya hidup bersama gadis itu membuatnya merasa tenang. Kebahagiaan tidak bisa diukur dengan berapa banyaknya kata cinta yang kau ucapkan, kebersamaan adalah puncak dari segalanya…

Puncak dari rasa bahagia sekaligus rasa sakit itu sendiri…

***Fin***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s