[Korean Fanfiction/ Straight/ Series] Never Reachable (Chapter 4- Run With Me)

poster Never Reachable chapter 7-9 copy

Title       : Never Reachable

Author : Kim Saena a.k.a Devi

Rating   : PG13/ NC17 *SMUT SCENE, Straight

Length  : Series

Genre   : Romance, Angst, Drama, Family, Married Life, Tragedy

Cast       :

Main Cast : EXO M – Luhan

Han Heeyoung (Original Character)

Park Jihyo ( Original Character)

Support Cast      : EXO K – Oh Sehun, Park Chanyeol

Infinite – Kim Myungsoo and  Nam Woohyun

Other Cast          : FIND BY YOURSELF!

Disclaimer:           Infinite is belong to God, Woolim Entertainment, and their parents.

EXO is belong to God, SM Entertainment, and their parents.

It’s just for fun. Please don’t sue me.

 If you don’t like this fanfic please don’t bash. Don’t Like… Don’t Read.

Please don’t take this fanfic without permission from me.

If you want to take this fanfic, please take with full credit.

Summary :  Han Hee young selalu bermimpi untuk menjadi istri dari Luhan karena pria itu adalah satu-satunya manusia yang bisa membuatnya panas dingin setiap waktu. Apalagi pria itu merupakan oksigen dan obat penyembuh paling mujarab bagi dirinya yang mengalami broken home sejak smp dan terpaksa tinggal dengan ayahnya yang jarang pulang ke rumah karena terlalu patah hati akibat sang ibu yang meninggalkan ayahnya demi pria lain. Namun impian itu tidak akan pernah terwujud karena Luhan tiba-tiba  dijodohkan dengan Park Jihyo sahabat Heeyoung sendiri. Sakit hati dirasakan oleh Heeyoung melihat sahabat terdekatnya yang tahu semua kisahnya malah akan menikah dengan pria yang diperjuangkannya mati-matian.

Lalu bagaimanakah nasib Heeyoung selanjutnya?Bisakah ia merelakan pria yang dicintainya menikah dengan orang lain? Lalu bagaimana nasib persahabatannya dengan Jihyo akankah persahabatan mereka berdua benar-benar berakhir?

Chapter 4 – Run With Me

Heeyoung mendorong Myungsoo menjauh dari atas tubuhnya setelah beberapa detik mereka membisu, akhirnya atmosfer kembali mereka kuasai. Heeyoung tanpa berkata apa-apa segera mengumpulkan buku yang berserakan dibantu oleh Myungsoo, namun sudut matanya menangkap kehadiran sosok lain. Heeyoung menoleh dan melihat sosok Luhan di sana.

“ Luhan…”

Refleks pria itu terlalu bagus, ia berlari menghindar sebelum Heeyoung berhasil mengejar dan menyentuhnya. Heeyoung meninggalkan Myungsoo untuk berlari mengejar Luhan, tidak peduli pria itu memanggilnya berulang kali, yang ia ingat adalah ia harus menjelaskan sesuatu pada Luhan.

“ Luhan tunggu!”

Heeyoung terus berlari di sisa-sisa tenaganya yang mulai menipis karena kelelahan, namun sosok Luhan sudah menghilang dari hadapannya. Heeyoung duduk bersandar pada batang pohon yang berada tidak jauh darinya. Matanya memanas, Luhan pasti akan sangat marah padanya. Bagaimana mungkin ciuman pertamanya dicuri oleh pria yang belum lama dikenalnya? Walaupun itu terjadi tanpa unsur kesengajaan.

“ Heeyoung…”

Myungsoo berhasil menyusul gadis itu, Myungsoo segera menyentuh bahu Heeyoung yang sedang membenamkan wajahnya di atas kedua lututnya. Tanpa bertanya pun Myungsoo tahu gadis itu kembali menangis lagi-lagi karena objek yang sama.

“ Heeyoung… dia tidak pantas mendapatkan air matamu… untuk apa kau menangis? Bukankah kau ingin melupakannya?”

Heeyoung mengangkat wajahnya, menatap Myungsoo dengan tatapan yang tidak pernah gadis itu berikan padanya sebelumnya.

Plak!

Sebuah tamparan mengenai pipi Myungsoo tanpa pria itu memiliki persiapan sebelumnya, ia tercengang dengan tindakan Heeyoung.

“ Diam, Kim Myungsoo…”

“ Heeyoung, tapi…”

“ Mulai sekarang, jangan pernah berada di dekatku lagi!”

Heeyoung berlari meninggalkan Myungsoo yang terdiam sambil memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan Heeyoung.

Pria itu menatap Heeyoung di kejauhan dengan tatapan yang sulit diartikan.

***

” Bagaimana bisa kau sedekat itu dengannya?”

Myungsoo menolehkan dirinya saat merasa ada suara di sekitarnya. Ia termenung sessaaat sebelum menolehkan kepalanya kembali ke belakang dan tidak menemukan siapapun di sana. Ia kemudian menoleh ke sumber suara dan menatap sang pembicara sambil menunjuk dirinya sendiri.

” Kau bertanya padaku, nona Park?”

Jihyo duduk di sebelah Myungsoo tanpa disuruh. Gadis itu menyilangkan kakinya dan menghadap Myungsoo, memberikan tatapan kesal tanpa ditutupi.

” Jangan berpura-pura tidak tahu, Kim myungsoo… kau tahu siapa maksudku.”

” Siapa?” Myungsoo masih teguh mempertahankan sandiwaranya. Jihyo menyerah, tampaknya myungsoo memang ingin bermain-main dengannya.

” Heeyoung… Han heeyoung.” Akhirnya nama itu berhasil keluar dari bibir Jihyo, setelahnya tatapan mata gadis itu menjelaskan semuanya. Ia keberatan mengeluarkan nama itu lagi, nama yang membuatnya merasa sakit.

” Apa pedulimu tentang hal itu?” Seolah menantang, Myungsoo memberikan pertanyaan yang mungkin sudah jelas di mata Jihyo.

“Dia sahabatku…. hal itu tidak akan pernah berubah.”

” Walaupun pada kenyataannya, ia tidak lagi menganggapmu sahabat?”

” Tahu apa kau tentang hal itu ? Siapa kau yang berhak mengometari segalanya?”

Myungsoo terdiam, mencerna kata-kata Jihyo yang berhasih ditangkap indera pendengarannya. Semua hal tentang gadis bernama Han Heeyoung menjadi sesuatu yang tabu baginya. Apalagi ditambah hal yang terjadi dengannya dan Heeyoung beberapa saat yang lalu. Menambah masalah…

“ Jawab aku selagi kau bisa… Kim Myungsoo.”

“ Apa yang harus aku katakan? Kami bahkan hanya sebatas teman biasa…”

“ Berteman… lalu kenapa kau berciuman dengannya?”

Myungsoo terdiam, ia menatap Jihyo lekat-lekat.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

***

Kecewa…

Itu mungkin satu-satunya kata yang bisa mengungkapkan perasaan Luhan saat ini. Mungkin marah, kesal, emosi, bercampur daruk di dalam hatinya, tapi perasaan kecewalah yang paling utama dan menutupi semua perasaan yang tercampur aduk di dalamnya.

Luhan memegangi dadanya, ia bahkan bisa merasakan rasa sakit yang tidak dapat terdefinisikan olehnya. Ia tidak mengerti darimana sumber rasa sakit itu, ia hanya berusaha mengabaikannya.

“ LUHAN TUNGGU!”

Heeyoung berhasil menahan  tangan Luhan, dan memaksa pria itu membalikkan badannya. Heeyoung, dengan nafas tersenggal-senggal, berusaha menatap Luhan. Apa yang gadis itu dapatkan di sana?

Heeyoung tertegun, untuk beberapa saat ia dan Luhan hanya terdiam. Heeyoung meyakini bahwa penglihatannya tidak salah. Ia bahkan harus memicingkan matanya untuk melihat apa yang tergambar di wajah Luhan saat ini.

Perasaan sedih dan kecewa…

Heeyoung belum pernah melihat tatapan Luhan sekecewa itu, apalagi tatapan itu ditujukan padanya saat ini.

“ Kau salah paham…” Heeyoung menarik tiga kata itu keluar dari mulutnya dengan paksa. Ia tidak ingin sunyi menguasai keadaan.

“ Soal apa?” Luhan bertanya dengan nada sarkastik.

Heeyoung berani bersumpah, Luhan yang ada di hadapannya tidak seperti Luhan yang dikenalnya. Luhan yang lembut dan menenangkan, Luhan yang ada di hadapannya saat ini seperti Luhan yang lain. Sisi lain yang membuat pria itu terlihat menakutkan.

“ Soal…”

Sh*t!

Heeyoung bahkan tidak mampu berkata-kata, ia bingung bagaimana cara mengungkapkan apa yang barusan terjadi di antaranya dan Myungsoo. Hal yang memang murni kecelakaan dan sialnya lagi Luhan berada di saat yang tidak tepat.

“ Aku kecewa padamu, Heeyoung…”

“ Lu…”

“ Selama empat tahun aku berusaha menjagamu dengan baik, bahkan aku tidak pernah melakukan hal lebih jauh selain memelukmu. Kenapa aku melakukan itu Heeyoung? Karena aku mencintaimu, aku menganggapmu berharga… tapi apa yang aku lihat barusan? Kau bahkan berciuman dengan pria yang baru kau kenal! Sekarang di mataku… kau tidak lebih dari perempuan murahan!”

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Luhan bahkan pria itu sendiri tidak menyangka kata-kata seperti itu yang akan keluar. Penuh hujatan dan makian. Heeyoung menatap Luhan nyaris tanpa berkedip, lalu detik berikutnya, setelah gadis itu mengedipkan matanya, setetes air mata ikut turun.

Heeyoung mundur beberapa langkah sebelum berbalik dan berlari meninggalkan Luhan.

“ Heeyoung… maaf…” Luhan berbisik sambil memandang kepergian gadis itu.

***

“ Park Jihyo… Welcome Home!” Chanyeol menyambut kepulangan Jihyo sambil merentangkan kedua tangannya dan berharap Jihyo menyambut pelukannya.

“ Oppa… kenapa kau tidak ke kantor?”

“ Jihyo… come on… kau tidak lihat ini jam berapa? Tentu saja aku sudah pulang, sayang…”

Jihyo melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 7 malam, jelas saja oppa-nya sudah di rumah.

“ Oppa, minggir, aku mau mandi dan istirahat…” Jihyo berusaha menghindar dari Chanyeol yang menghalangi jalannya.

“ Baiklah, setelah ini kau harus memakai baju yang bagus dan jangan lupa dandan yang cantik karena oppa-mu yang tampan ini akan mengajakmu ke suatu tempat…”

“ Kemana?”

“ Sudah lihat saja nanti!”

“ Oppa, aku lelah…” Jihyo merengek, ia bahkan memasang puppy eyes terbaiknya, tapi sepertinya Chanyeol tidak lagi terpengaruh. Pria itu hanya menggeleng dan mendorong tubuh adiknya menaiki tangga.

“ Tidak ada penolakkan! Sejak aku pulang… kau selalu sibuk, padahal aku sangat merindukanmu…”

“ Tskk… baiklah, baik…”

***

Heeyoung mengurung dirinya di kamar, ia bahkan tidak menggubris panggilan Jung ahjumma sejak tadi yang memberitahukan bahwa ada yang ingin bertemu dengannya. Ia tidak peduli dengan siapapun, walaupun yang sekarang datang menemuinya adalah Luhan dan pria itu ingin meminta maaf padanya.

Jung ahjumma menyerah setelah hampir satu jam berdiri di depan pintu kamar Heeyoung, menunggu gadis itu membukakan pintu untuknya.

“ Maaf, tuan Myungsoo, nona Heeyoung tidak mau menemui siapapun.”

Myungsoo tersenyum pada Jung ahjumma, ia merasa sangat bersalah. Ia sadar, penyebab utama Heeyoung seperti ini adalah karena dirinya, tanpa pria itu tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Heeyoung dan Luhan. Myungsoo masih beranggapan kalau, kejadian tadi siang, di mana ia tidak sengaja berciuman dengan Heeyoung adalah penyebab utamanya.

“ Baiklah, Jung ahjumma, saya pamit pulang… Terima kasih, maaf sudah mengganggu…” Myungsoo membungkukkan badannya dengan sopan sebelum melangkah keluar dari pintu rumah Heeyoung.

“ Tunggu!”

Sebuah suara menghentikkan langkah Myungsoo, ia berbalik dan mendapati seorang pria paruh baya sedang berjalan ke arahnya. Myungsoo terdiam, ia mengira-ngira, mungkinkah pria itu adalah ayah Heeyoung? Jika ditelusuri dari lekuk wajahnya, pria itu memang memiliki konstur wajah 85% mirip dengan wajah Heeyoung.

“ Bisakah aku berbicara sebentar denganmu?”

***

Kepulan asap tipis menguar bebas dari dua buah cangkir yang baru saja diletakkan di atas meja yang terdapat di ruang kerja pribadi milik Tuan Han. Pria paruh baya itu berdiri membelakangi Myungsoo, entah apa yang sedang dilihatnya dari jendela besar bergaya Eropa yang terdapat di sana. Langit sedang tidak menampakkan apa-apa, hanya kekelaman tanpa dasar yang berhasil ditangkapnya sejauh matanya memandang.

“ Terima kasih sudah mau meluangkan waktu untukku…”

“ Kim Myungsoo… Kim Myungsoo imnida…” Myungsoo mengenalkan dirinya, Tuan Han hanya mengangguk.

“ Myungsoo-ssi, aku tahu beberapa waktu belakangan ini kau sedang dekat dengan Heeyoung… maaf karena kemarin gadis itu sudah merusak mobilmu, aku akan menggantinya dengan yang baru bila perlu…”

“ Eh, tidak usah, Tuan Han, mobil saya sudah selesai diperbaiki.”

“ Aku tahu mungkin kedekatanmu dan Heeyoung hanya sementara, setelah ini mungkin kau dan Heeyoung akan kembali tidak saling mengenal.”

Myungsoo bingung kemana arah pembicaraan ini akan bermuara, dari raut wajah Tuan Han yang terlihat dingin, hal yang akan dibicarakannya kali ini mungkin adalah sesuatu yang sangat serius.

“ Heeyoung sebenarnya adalah gadis yang baik, kalau saja sekarang sifatnya sangat buruk, egois, sombong, manja, pemarah, dingin, dan segudang sifat buruk lainnya, itu semua murni kesalahanku. Sejak kecil, aku selalu memanjakan Heeyoung, sehingga gadis itu tumbuh menjadi gadis yang manja, lalu sejak aku bercerai, sifat buruk lainnya mulai tumbuh dalam diri Heeyoung, walaupun sebenarnya ia adalah gadis baik, periang, dan penyanyang.”

“…”

“ Luhan… pria itu mampu membuat Heeyoung kembali tersenyum, aku sangat bahagia, setidaknya ketika aku tidak mampu melindungi putri kecilku, ada pria itu yang akan menjaganya… tapi kabar yang kudengar adalah pria itu sudah memutuskan hubungan dengan Heeyoung. Aku kecewa, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku hanya ingin putriku bahagia, dan aku senang ketika ia bertemu denganmu. Maaf, Myungsoo-ssi, bukannya aku ingin kau menjadi pelarian Heeyoung dari Luhan, tapi aku hanya ingin Heeyoung mendapat pelindung baru. Ia adalah gadis yang rapuh dan mudah hancur, aku hanya ingin ia aman berada di tangan seseorang.”

“…”

Myungsoo masih diam, dengan setia ia menunggu Tuan Han menyelesaikan semua kata-katanya, walaupun sampai di titik ini ia sudah bisa menangkap maksud Tuan Han ingin bertemu dengannya.

“ Jadi, aku langsung saja, Myungsoo-ssi, apa kau mau menjaga putriku dan bisa membuatnya tersenyum kembali seperti ketika Luhan berada di sampingnya? Tentu saja semua ini tidak gratis, aku akan memberimu imbalan yang setimpal… apapun yang kau minta… sebut saja…apapun akan aku penuhi.”

Myungsoo tersenyum tipis, ia mengerti sekarang darimana Heeyoung mewarisi sifat sombong dan angkuhnya.

“ Maaf, Tuan Han, saya bersedia menjaga Heeyoung bahkan tanpa dibayar sepeserpun.”

Myungsoo tidak menyadari kata-kata yang keluar dari bibirnya, ia sendiri bingung, bagaimana dengan mudahnya ia bisa berjanji, sedangkan di hatinya hanya ada satu nama.

Park Jihyo…

Nama itu bahkan tidak akan berubah entah sampai kapan, walaupun gadis itu sekarang sudah memiliki tunangan dan mungkin akan segera menikah.

“ Huh… baik, mungkin aku terlalu menganggap rendah dirimu… Aku pegang janjimu, Myungsoo-ssi, janji sebagai seorang laki-laki…”

***

“ Ini untukmu…” Chanyeol menyodorkan sebuah boneka penguin ke hadapan Jihyo dan disambut gadis itu dengan senyuman lebar. Gadis cantik berambut kecoklatan itu memang mencintai segala sesuatu berbentuk penguin. Ia tidak akan menyangka Chanyeol membawanya ke sini.

Jihyo kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru toko yang dipenuhi boneka dan mainan anak perempuan itu, tidak banyak yang berubah bahkan ketika sebelas tahun telah berlalu. Ia bukan lagi Jihyo yang berumur sepuluh tahun yang merengek pada orang tuanya untuk dibelikan boneka atau mainan lainnya ketika mereka melewati toko itu pada hari Minggu.

“ Pilih saja semua yang kau sukai, oppa yang akan membelikannya untukmu, jadi kau tidak perlu lagi merengek pada appa dan eomma untuk dibelikan mainan… hahahaha…AWW!” Chanyeol meringis ketika Jihyo menginjak kakinya keras-keras karena perkataan Chanyeol sukses membuatnya menjadi pusat perhatian di toko itu. Ada yang memandangnya sambil tersenyum geli, ada yang melihatnya dengan tatapan aneh, ada yang berbisik-bisik sambil menunjuk ke arahnya, dan sebagainya.

“ Oppa-ku yang tampan dan baiiiikkkkk hatiiii, harusnya kau tanyakan itu sebelas tahun yang lalu! Bukannya sekarang… aku sudah dewasa, oppaTsk…”

“ HAHAHAHAHA… Aku tahu, aku hanya merindukan saat-saat di mana kita kecil, di saat masalah tidak lagi berarti…”

“ Hmm…”

“ Aku tidak menyangka Jihyo, kau sudah dewasa sekarang bahkan kau akan menikah sebentar lagi… huu… aku iri…”

“ Hahahaha… bukankah kau sudah memiliki kekasih, oppa… kau kan yang bercerita padaku…”

Chanyeol hanya tertawa sebelum ia mengusap kepala adik perempuan satu-satunya yang paling ia sayangi.

“ Ya, tetapi Oppa tidak akan menikah sampai kau menemukan kebahagiaanmu, Jihyo…”

“ Uuuuuhh, so sweet sekali…”

“ Yasudah… cepat sana pilih, lalu aku akan mengajakmu ke tempat lain.”

***

“ Oppa, kau tahu, aku seperti sedang berkencan…” Jihyo terkaget-kaget karena Chanyeol sudah mem-booking sebuah tempat di salah satu café dengan suasana romantic.

“ Tidak, siapa juga yang mau berkencan dengan gadis bawel sepertimu. Aku mem-booking tempat di sini karena katanya makanannya enak.”

“ OPPAA!” Jihyo memukul lengan Chanyeol sedikit keras dan berhasil membuat pria itu tersedak.

“ Lagipula kau harus belajar, Jihyo-ah, nanti Luhan juga akan mengajakmu berkencan ke tempat seperti ini.”

Jihyo hanya tersenyum miris mendengarnya, mana mungkin Luhan akan mengajaknya makan malam romantic seperti ini, Luhan bahkan tidak pernah mengajaknya pergi keluar. Mungkin jika ia adalah Heeyoung, sudah pasti Luhan akan memperlakukannya dengan sangat manis.

“ Jihyo, ada yang ingin oppa tanyakan…”

“ Nde?” Jihyo merasa sedikit was-was, ia takut oppa-nya akan bertanya lebih jauh tentang hubungannya dan Luhan.

“ Apa kau masih menjalin hubungan dengan Myungsoo?”

“ Nde?!  Ahh tidak… aku bahkan tidak pernah bertemu lagi dengannya.”

“ Tadi aku melihatmu pulang diantar olehnya, Jihyo-ah… jangan berbohong.”

“ Ahhh itu…”

Jihyo memutar ingatannya, ia memang bertemu dengan Myungsoo tadi, hanya untuk sekedar membicarakan hubungan pria itu dan Heeyoung dan berakhir dengan Myungsoo mengantarkannya pulang dengan mengendarai mobil Jihyo karena pria itu tidak membawa mobilnya.

“ Oppa tidak salah lihat kan? Dia Kim Myungsoo kan?”

“ Ne, dia Myungsoo… tapi aku sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengannya, kami hanya sebatas teman.”

“ Kupikir setelah dia kembali kau akan menyambung janji kalian waktu itu…”

“ Hahahaha, tidak, itu hanya janji anak kecil kelas 3 SMP! Aku bahkan sudah lupa… lagipula sekarang aku sudah punya Luhan.”

Jihyo meminum Watermelon Lemonade miliknya sambil berusaha menenangkan hatinya yang tiba-tiba gelisah. Kenapa ia merasa janjinya belum tuntas dengan Myungsoo? Kenapa pria itu harus kembali ke kehidupannya setelah semuanya menjadi lebih baik?

***

Myungsoo melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota Seoul yang masih dipadati manusia walaupun jam sudah menunjukkan pukul 11 KST. Pria itu membelokkan mobilnya ke sebuah gang yang terlihat sepi sampai akhirnya dari kejauhan ia bisa melihat sebuah club malam yang cukup ramai di ujung gang.

Ya club itulah tujuannya saat ini…

Setelah memarkir mobilnya di tempat yang dirasanya cukup aman, Myungsoo segera mencari tempat yang agak sepi dan tertutup dari jangkauan pandang orang lain.

One Tanqueray, please…”

Selang beberapa menit kemudian, sang bartender meletakkan sebuah gelas ramping di hadapan Myungsoo. Pria itu meraih gelas berisi minuman beralkohol dengan kadar tinggi itu dan meminumnya dengan satu tenggakkan sampai tandas.

Myungsoo bukan tipe pria yang mudah bergaul dengan alkohol kalau tidak ada yang benar-benar mengganggunya. Saat ini pikirannya benar-benar kalut, ia tidak mempunyai pilihan selain menenangkan pikirannya di sini.

Park Jihyo…

Entah bagaimana takdir mempertemukannya lagi dengan gadis itu. Pada awalnya Myungsoo berpikir, ini adalah saat yang paling tepat untuk menebus semua waktu yang hilang antara dirinya dengan gadis itu. Satu-satunya gadis yang bisa membuat seorang Kim Myungsoo yang sempurna menjadi kacau.

Namun siapa sangka, sekarang keadaan telah berubah, gadis itu bukanlah Park Jihyo yang dulu amat memujanya. Gadis itu sudah melupakannya dan bahkan sudah berani mencintai pria lain. Hal yang paling menyakitkan adalah gadis itu sudah menjadi milik orang lain- secara harfiah- karena nyatanya Luhan tidak mencintai Jihyo sama sekali.Myungsoo bahkan berani menjamin itu, siapapun bisa melihat cinta di mata Luhan hanya unyuk Heeyoung.

Bruakk

Myungsoo tertegun saat sesosok tubuh mendarat tepat di sampingnya. Tampaknya pria  berambut cokelat gelap itu baru saja berkelahi karena hempasan tubuhnya yang tidak wajar seperti sehabis dilempar oleh seseorang. Refleks selepas keterkejutannya, myungsoo menolong orang itu.

“L… LUHAN?!”

***

Myungsoo menghentikan mobilnya di depan rumah keluarga Lu. Untunglah ia berhasil mendapatkan alamat Luhan dari kartu identitas yang di bawah pria itu. Sejujurnya Myungsoo merasa bingung, ia tidak seharusnya menolong Luhan yang notabene adalah rivalnya, penghalangnya untuk mendapatkan Jihyo, tetapi rasa kemanusiaan lebih merajalela dibandingkan dendam.

Jadi di sinilah Myungsoo terpaku di depan rumah Luhan tanpa berani memencet bel. Ia hanya memandang lurus ke depan, ke arah jalanan yang sepi seperti menunggu sesuatu. Menunggu Luhan sadar?!

Yang benar saja!

Ia harus berada di sana semalaman kalau menunggu pria itu sadar, tetapi ada beberapa hal yang harus dibicarakannya dengan Luhan. Mengenai Jihyo dan mungkin juga Heeyoung.

” Eughh”

Doa Myungsoo yang tanpa sadar terus –menerus diucapkannya dalam hati akhirnya terkabul. Luhan mulai mendapatkan kesadarannya sedikit demi sedikit walaupun matanya masih terpejam.

“ Lu…Luhan-ssi?” dengan sangat hati-hati Myungsoo menggumamkan nama Luhan.

Merasa namanya terpanggil oleh sebuah suara yang terdengar asing, mata Luhan langsung terbuka sempurna, ditengah kesadarannya yang baru terkumpul 50% Luhan bisa mengenali sosok Myungsoo. Dengan tangannya yang bebas, ia menepis tangan Myungsoo yang baru saja hendak menyentuh pundaknya.

“ KAU! Kenapa kau ada di sini?! Pergi kau… pergi!”

Luhan meracau sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing akibat minum terlalu banyak.

“ Neo… gwencahana?”

“ Mau apa kau di sini, huh?”

“ Aku baru saja mengantarkanmu pulang karena di bar tadi kau sudah sangat mabuk.”

“ Cihhh sok baik, tapi kuucapkan terima kasih padamu… “

“ Kim Myungsoo… Kim Myungsoo imnida.”

“ Ya, Myungsoo… atau siapapun itu namamu! Aku ucapkan terima kasih dan kuingatkan kau! Jangan sentuh Heeyoung! Dia milikku sampai kapanpun juga dan aku tidak akan sudi dia dekat dengan pria sepertimu.”

Myungsoo hanya tersenyum, penyebab Luhan yang mabuk sudah dapat diketahuinya. Tidak ada hal lain yang bisa membuat seorang Luhan menjadi sedemikian kacau, kalau tidak berhubungan dengan Han Heeyoung. Ya, pasti gadis itulah penyebabnya.

“ Aku mau membuat penawaran denganmu.”

Myungsoo tidak tahu apakah satu teguk tanquary yang diminumnya memiliki efek mabuk sama besarnya dengan Luhan atau tidak yang jelas sekarang ia sedang membuat penawaran dengan orang mabuk. Bahkan mungkin Luhan tidak akan ingat apa yang dikatakannya ketika pria itu sadar nantinya.

Tetapi Myungsoo tetap meneruskan kata-katanya.

“ Luhan-ssi, aku akan menjauhi Han Heeyoung… Tapi kau harus menjauhi Park Jihyo…”

Luhan tersenyum mengejek ke arah Myungsoo, walaupun kesadarannya belum pulih 100%, ia tetap mengerti tawaran macam apa yang coba ditawarkan Myungsoo padanya.

“ Baiklah aku setuju, tapi kau harus memegang janji! Jangan dekati Heeyoung lagi…”

“ Tentu saja, laki-laki sejati tidak akan pernah mengingkari janjinya.”

***

“ Maaf ya Jihyo-ah, kau harus datang ke sini malam-malam…”

“ Tidak apa, eommonim, Luhan masih belum pulang juga?”

Jihyo tersenyum kaku pada calon ibu mertuanya yang sedang duduk persis di depannya saat ini. Wanita itu dengan anggunnya meletakkan cangkir berisi mint tea yang hampir lima menit yang lalu diletakkan oleh, Jinsu, pelayan pribadi nyonya Lu. Sedangkan Jihyo sama sekali belum menyentuh cangkirnya.

“ Ne, aku khawatir terjadi sesuatu dengannya, makanya aku memanggilmu ke sini, agar aku bisa merasa sedikit tenang.”

Jihyo menebak-nebak berapa lama wanita ini menjalani sekolah kepribadian, tampak pada guratan wajahnya yang jelas, tidak terselip sedikitpun raut kekhawatiran yang dikatakannya, Jihyo bisa menyimpulkan, bahwa wanita yang sebentar lagi resmi menyandang status sebagai ibu mertuanya itu sangat pandai dalam menyembunyikan perasaannya.

Jihyo hanya tersenyum, ia terlalu canggung untuk berada hanya berdua dengan Nyonya Lu. Tanpa bermaksud mengurangi kesopanannya, Jihyo mengalihkan perhatiannya pada jendela besar yang berada di ruang pribadi Nyonya Lu. Samar-samar gadis itu dapat menangkap siluet sebuah mobil yang terparkir di depan gerbang kediaman keluarga Lu.

Gadis itu terperangah, pikirannya menyeruak bebas, ia mengenali sosok mobil itu walaupun hanya dengan siluetnya saja. Gadis itu memberanikan diri melangkah mendekati jendela itu dan menyibak tirai tipis yang membungkusnya, sehingga tampak pada matanya, sesosok pria yang baru turun dari sana. Walaupun sang pria sedang memunggunginya, Jihyo tahu persis siapa pria itu.

“ Jihyo-ah, ada apa?”

Jihyo tidak menjawab, ia masih asyik memperhatikan sosok pria itu. Tidak lama kemudian, rasa penasarannya terjawab. Sosok pria itu tampak kesulitan membopong sesosok pria lain.

“ L… Luhan?!”

***

Myungsoo kesusahan membopong tubuh Luhan yang sejak tadi terus-menerus meronta. Walaupun pria itu sudah sedikit demi sedikit mengumpulkan kesadarannya, tetap saja ia masih belum mampu untuk berjalan masuk ke rumahnya sendirian. Myungsoo harus setengah mati menarik tubuh pria itu agar tidak ambruk dan menimpanya.

Baru saja Myungsoo akan menekan tombol intercom di depan gerbang rumah Luhan, gerbang rumah pria itu terlebih dulu terbuka dan menampilkan sosok Jihyo di sana.

“ Astaga Luhan! Neo… Gwenchana? Kenapa bisa sampai seperti ini?…” Jihyo segera menarik sebelah tangan Luhan, secara tidak langsung membantu Myungsoo untuk membopong tubuh Luhan yang sama sekali tidak stabil.

Myungsoo membeku, ia tidak tahu harus berkata apa di depan Jihyo, sudah sewajarnya Jihyo bersikap seperti itu. Bersikap sangat peduli pada Luhan, karena nyatanya Luhan  adalah tunangannya, calon suaminya. Myungsoo menghela nafas berat, ditengah perasaan cemburu yang menyeruak. Ia berusaha menetralisir emosinya. Pria itu hanya diam, bahkan ketika Jihyo masuk ke dalam dan membiarkan Luhan terduduk di kursi teras rumahnya dan Myungsoo yang hanya diam terpaku memandangi pintu kayu bergaya rustic yang ada di depannya.

“ Tuan Luhan! Astaga…” beberapa pelayan segera membopong tubuh Luhan dan membawanya masuk, diiringi dengan tatapan khawatir Jihyo.

“ Eh, Myungsoo, kenapa kau bisa bersama dengan Luhan?” mendadak perasaan gugup menguasai Jihyo. Ia tidak tahu mengapa perasaan itu tetap ada walaupun ia sudah sering bertemu dengan pria itu.

“ Aku hanya kebetulan berada di bar yang sama dengan Luhan… Aku melihatnya berada dalam keadaan terlalu mabuk untuk menyetir, oleh karena itu aku membawanya ke sini…”

“ Ke bar? Sejak kapan kau pergi ke bar?…ternyata kau sudah banyak berubah, Myungsoo…” Jihyo tersenyum sinis, tertera jelas dalam ekspresinya, ia bukan hanya sedang khawatir dengan Luhan, melainkan dengan Myungsoo. Jauh di dalam lubuk hatinya yang terdalam Jihyo tidak bisa memungkiri, ia masih sangat peduli dengan Myungsoo, bagaimanapun status mereka saat ini.

“ Aku pergi ke sana karena… memikirkanmu…”

Wajah Jihyo sedikit memerah, ia merasa sedikit tersanjung. Namun ia sadar kalau tidak seharusnya ia bersikap seperti itu pada Myungsoo. Hubungannya dan Myungsoo sudah berakhir sejak lama.

“ Aku masuk dulu.”

“ Siapa pria itu?” Nyonya Lu memandang Jihyo yang sedang berkomunikasi dengan Myungsoo dari kejauhan. Ia tahu ada sesuatu diantara Myungsoo dan Jihyo, sesuatu yang istimewa, kalau tidak, tatapan Myungsoo pada Jihyo tidak akan seperti itu dan ekspresi yang ditunjukkan Jihyo untuk Myungsoo tidak akan seperti itu. Pasti ada sesuatu diantara mereka berdua. Sesuatu yang harus diketahuinya.

“ Selidiki pria itu dan berikan datanya padaku secepatnya…” Nyonya Lu pergi meninggalkan Tuan Jung, salah satu tangan kanannya, orang yang paling dipercayainya melebihi siapapun juga. Tuan Jung hanya mengangguk patuh.

“ Baik, nyonya, perintah anda akan segera saya laksanakan.”

***

Jihyo memandang tubuh Luhan yang sedang berbaring dengan damai di tempat tidur setelah beberapa saat lalu membrontak hebat dan membuat kewalahan beberapa pelayan yang menyeret tubuhnya ke atas tempat tidur.

Jihyo menghela nafas berat, pertemuannya dengan Myungsoo kali ini tidak sama dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya yang bisa dilaluinya dengan damai. Pertemuan dengan Myungsoo kali ini membuat hatinya bergejolak hebat, seolah ingin mengeluarkan sesuatu dari sana.

Sebuah teriakan yang berasal jauh dari sana.

Teriakan apa?

Mungkin hanya sebuah teriakan dengan lafal yang tidak beraturan, tapi bukan-bukan seperti itu. Jihyo 100% sadar teriakan apa yang akan keluar dari lubuk hatinya. Namun Jihyo memendamnya dalam diam. Diam yang menyiksa, melumpuhkan setiap kata yang akan keluar dari bibirnya.

Di saat pernikahannya dengan Luhan kian mendekat, kenapa justru perasaan semacam ini yang senang mengurungnya dalam derita?

“ Tidak… aku tidak memiliki perasaan apapun pada Kim Myungsoo…” Jihyo bergetar, ia tidak yakin dengan apa yang baru saja diucapkannya. Perasaan bersalah menyeruak bebas mengalahkan perasaan sesaknya. Ia merasa ‘berselingkuh’ di depan calon suaminya sendiri. Tapi siapa peduli, bahkan Luhan dengan terang-terangan menunjukkan rasa cintanya pada Han Heeyoung tanpa memperdulikan perasaan seorang Park Jihyo.

Jadi apa ia harus memperhatikan perasaan Luhan juga? Ia rasa jawabannya adalah tidak…

Semakin lama memandang wajah Luhan, semakin banyak pula rasa bersalah yang menghantuinya. Jihyo memutuskan untuk memalingkan wajahnya dari wajah Luhan yang sedang tertidur dalam damai. Tetapi pikirannya sama sekali tidak bisa diam, bayangan wajah Myungsoo dan Luhan bergantian memenuhi otaknya dalam sekejap menjadi racun yang siap membunuhnya.

“ Aku harus memastikan apa aku benar mencintainya atau tidak.” Dengan tubuh yang gemetaran, Jihyo memberanikan diri mendekati Luhan dan berlutut di depan tempat tidur pria itu. Dengan gerakan yang sangat perlahan, Jihyo mendekatkan wajahnya dengan wajah Luhan dan membiarkan bibirnya mendarat pada bibir pria itu.

Cukup lama, membiarkan sensasi aneh itu menguasai dirinya. Jihyo mulai merasa nyaman karena ia masih bisa merasakan getaran-getaran itu saat bibirnya menyentuh bibir Luhan. Jihyo melepaskan ciumannya, namun Luhan menarik tangannya, entah sejak kapan pria itu sadar.

“ Hajima…”

Jihyo hanya bisa terpaku saat Luhan kembali menempelkan bibirnya pada bibir Jihyo. Lama-kelamaan ciuman mereka yang tadinya biasa berubah menjadi semakin liar, terlebih saat Luhan mulai memberikan gigitan-gigitan kecil pada bibir Jihyo, membuat gadis itu terpaksa membuka mulutnya dan membiarkan Luhan menjelajahi seluruh isi mulutnya, mereka bertukar saliva, dalam diam yang menyiksa.

“ Lu… hentikan…” Jihyo mendorong tubuh Luhan mati-matian ketika ia mulai kehabisan nafas ditambah pengaruh alcohol yang masih sangat kuat merajalela tubuh Luhan. Jihyo tidak menyukai bau alcohol yang menguar dari tubuh Luhan, membuatnya merasa pusing.

“ Kenapa kau sekarang juga ikut menjauhiku? Apa karena si brengsek itu?”

Luhan kembali menarik tubuh Jihyo, memeulknya dengan protektif, bahkan tidak membiarkan tubuh gadis itu bergerak 1 inchi pun. Luhan kembali mengecup leher Jihyo dan menghisapnya pelan. Jihyo memejamkan matanya, ia tidak yakin  Luhan benar-benar melakukan ini karena membayangkan dirinya. Hal yang paling ia takuti adalah kalau Luhan mungkin sedang membayangkan Heeyoung.

“ Eughh…aaaah…” akhirnya desahan itu keluar dari bibir Jihyo, saat Luhan menghisap lehernya semakin ganas bahkan memberikan gigitan-gigitan kecil di sana.

“ Luhan… kau tahu siapa aku?”

Jihyo bertanya dengan mata yang berkaca-kaca, mungkin ia sudah gila saat berpikir mungkin akan menyerahkan kehormatannya pada Luhan. Toh, mereka sudah akan menikah, sekarang atau nanti akan sama saja. Ia akan menyerahkan semuanya pada pria yang bahkan dikuasai alcohol itu dengan satu syarat yaitu ketika Luhan menyebutnya sebagai Park Jihyo bukan Han Heeyoung.

“ Heeyoungieee, tentu saja ini kau…”

Deg!

Tanpa sadar Jihyo meneteskan air matanya. Pemikiran yang bodoh ketika ia berharap Luhan menyebutkan namanya. Heeyoung… Heeyoung… hanya Han Heeyoung yang masih merajai pikiran Luhan.

Tangan Luhan mulai meraba masuk ke dalam dress yang dikenakan Jihyo, bahkan ia mulai mengusap bagian-bagian sensitive milik Jihyo. Jihyo terkesiap dan tersadar atas perlakuan Luhan. Gadis itu dengan sekuat tenaga mendorong Luhan.

“ Heeyoung! Kau kenapa, HUH? Kau bahkan rela memberikan ciuman pertamamu yang seharusnya menjadi milikku pada si brengsek Myungsoo! Aku menjagamu bahkan rela tidak berciuman denganmu sampai kita menikah! Tapi apa kau bahkan dengan mudahnya memberikan sesuatu yang seharusnya kau jaga hanya untukku pada orang lain!”

Luhan semakin ganas, ia mulai mencium Jihyo, kali ini semakin liar, tidak membiarkan Jihyo bernafas 1 detik pun. Jihyo tidak lagi pasrah mengikuti permainan Luhan, ia tidak tahan diperlakukan seseorang yang bahkan menganggapnya adalah orang lain.

“ LUHAN HENTIKAN!”

“ Bahkan sekarang kau berani berteriak di depanku?!”

“ AKU BUKAN HAN HEEYOUNG! KAU… BRENGSEK!” Jihyo terengah-engah setelah berhasil melepaskan jeratan Luhan  untuk yang kesekian kalinya.

Gadis itu segera merapikan dressnya yang separuh terbuka sambil sesekali menyeka air matanya, sebelum benar-benar keluar dari sana.

Luhan segera tersadar beberapa saat setelah Jihyo membanting pintu kamarnya. Gadis itu bukan Heeyoung yang dibayangkannya sejak tadi. Gadis itu ada Jihyo.

Kembali sekali lagi Luhan menyakiti Jihyo, gadis yang tidak tahu apa-apa.

“ ARRGGHHHHH…Kau benar-benar brengsek, Luhan…”

***

Three Days Later

Heeyoung berjalan agak sempoyongan sambil membawa sebuah maket berukuran kertas A2 yang baru saja selesai dikebutnya tadi malam. Selama dua hari sebelumnya ia tidak masuk sehingga tidak tahu perkembangan macam apa yang terjadi di kampusnya. Kalau saja kemarin, Seulra tidak menyeretnya dari tempat tidur dan heboh mengatakan kalau ada tugas untuk membuat maket ruangan apartement yang harus dikumpulkan pagi itu, ia tidak akan susah-susah untuk menyelesaikannya hanya dalam waktu semalam.

“ Nona, anda yakin baik-baik saja?”

“ Neahjumma… apakah Seo ahjussi sudah siap?”

“ Maaf nona, beliau sudah pergi tadi pagi mengantar tuan ke bandara…”

“ Hah… urusan bisnis lagi… baiklah aku akan menyentir sendiri saja…” Heeyoung memutuskan untuk membawa maket berukuran cukup besar itu ke dalam mobilnya. Namun tidak lama kemudian ia merasa sakit kepala melandanya. Hampir saja ia menjatuhkan maket yang dibuatnya susah payah kalau Jungahjumma tidak menahannya.

“ Nona, anda tidak akan bisa menyentir sendiri dalam kondisi seperti ini.”

“ Kau benar, ahjumma, bisa tolong panggilkan taxi?”

“ Tidak usah repot-repot memanggil taxi, ahjumma, aku akan mengantar Heeyoung dengan selamat sampai di kampus.”

“ Mau apa kau ke sini?!”

Myungsoo menepati janjinya dengan ayah Heeyoung, ia akan berusaha menjaga gadis itu dengan caranya sendiri. Satu hal yang patut diperhitungkannya adalah menjaga agar ia tidak harus melanggar perjanjiannya dengan Luhan. Maka dari itu setelah menerima telepon dari Jung ahjumma yang mengatakan bahwa Heeyoung akan masuk kuliah hari ini, ia segera memutuskan untuk menjemput Heeyoung.

“ Aku akan menjadi supirmu, anggap saja imbalan karena kau sudah mau menjadi supirku…”

“ HAHAHAHAH… Tidak usah bercanda, Myungsoo-ssi, aku tidak membutuhkan bantuanmu…”

“ Ma… Maaf nona, tuan berpesan agar anda berangkat bersama tuan Myungsoo, ka… kalau tidak segala fasilitas anda akan dicabut, nona…” Jung ahjummaberkata sambil mengernyitkan wajahnya, sedikit tidak enak menyampaikan kabar yang terdengar seenaknya itu kepada Heeyoung.

“ MWO???????!!”

***

Jadi beginilah nasib seorang Han Heeyoung, duduk manis di dalam mobil Myungsoo sambil memangku maketnya. Bukan sekali dua kali Myungsoo menawarkan agar maket itu diletakkan di kursi belakang yang kosong, tapi hanya ditanggapi oleh dengusan Heeyoung. Gadis itu bisa saja membantah perintah ayahnya, tetapi ia tidak tega untuk menolak permintaan Jung ahjumma, karena bisa saja Jung ahjumma yang terkena imbas, dimarahi ayahnya.

Heeyoung memandang jalanan di hadapannya tanpa minat, otaknya berpikir keras bagaimana cara ia bisa terbebas dari mobil Myungsoo. Karena tatapan Myungsoo yang sejak tadi seolah mengurungnya, membuatnya merasa sangat tidak nyaman, ditambah kejadian beberapa hari lalu yang masih terekam jelas di memorinya. Ia masih merasa risih untuk bertemu dengan Myungsoo, walaupun ia tahu, kejadian itu jelas-jelas bukan salah Myungsoo sepihak.

Kesempatan itu datang saat perlahan mobil Myungsoo berhenti di lampu merah, mata Heeyoung melihat sebuah bis yang baru saja berhenti di halte dan banyak orang masuk ke dalamnya. Tanpa membuang waktu lebih banyak, Heeyoung membuka autolock yang berada di mobil Myungsoo dan keluar dari sana, berlari menyebrangi jalan dan ikut masuk ke dalam bis yang belum sempat berjalan.

Kejadian itu terlalu cepat bahkan Myungsoo perlu dua detik untuk menyadari kalau Heeyoung sudah lenyap dari pandangannya.

“ HAN HEEEYOUNGGGG!”

Pria itu berteriak frustasi, dengan satu tangan ia menutup pintu mobilnya yang belum sempat ditutup Heeyoung, karena lima belas detik lagi, lampu merah akan berubah menjadi kuning dan akhirnya hijau. Ia mungkin bisa mengintrogasi Heeyoung di kampus nanti.

Myungsoo hanya berdecak kesal sambil menggelengkan kepalanya menyadari betapa unik kelakukan seorang Heeyoung.

“ Heeyoung… Tsk… kurasa aku mulai mengerti kenapa Luhan sangat mencintaimu.”

***

Heeyoung menghembuskan nafas lega ketika ia berhasil mendapatkan bangku kosong setelah berdesak-desakkan masuk ke dalam bis. Bisa dibilang ia jarang sekali naik bis, hanya dengan hitungan jari mungkin. Tiga kali, empat kali, ah bahkan mungkin kurang dari itu. Sejak kecil Heeyoung selalu diantar jemput dan ketika kuliah dan ia sudah mendapatkan surat izin mengemudinya, ia langsung diberikan hadiah sebuah mobil oleh ayahnya.

“ Huh…” Heeyoung mulai mengeluarkan selembar kertas, ia merasa AC yang berada di atasnya tidak berfungsi dengan baik walaupun mungkin ACnya sudah berada pada volume maksimal. Hal itu dipengaruhi oleh banyaknya manusia yang berdesakan di dalam bus.

“ Chogiyo… apakah kursi ini kosong?” Seorang pria tanpa menunggu jawaban Heeyoung segera duduk di sana dan alhasil membuat gadis itu melotot sejadi-jadinya karena maket yang diperjuangkannya mati-matian harus hancur dalam hitungan detik.

“ HYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA………. MAKETKU!!!” Heeyoung dengan heboh mendorong pria yang baru saja duduk di sana dan segera meratapi maketnya yang sudah tidak berbentuk lagi.

Pria itu, entah mati rasa atau bagaimana, ia tidak menyadari kalau beberapa detik yang lalu ia sukses menghancurkan usaha Heeyoung dengan menduduki maketnya tanpa perasaan bersalah. Heeyoung menatap pria itu dengan murka.

“ KAU! HARUS BERTANGGUNG JAWAB!!!”

“ Wow, tunggu dulu, nona, apa maksudmu?”

“ Masih bisa bertanya apa maksudku?! Kau membuat maketku seperti ini! Lihatlah!! Ini semua kan ulahmu…” Heeyoung meledak-ledak karena pria di hadapannya ini sepertinya sama sekali tidak menyadari ulahnya.

“ A…pa?” pria itu sepertinya baru tersadar karena melihat sebuah maket berukuran cukup besar yang berada dalam pelukan Heeyoung. Maket yang sekarang sudah nyaris tidak berbentuk dan mungkin itu semua ulahnya.

“ Baiklah kau harus bertanggung jawab dengan datang ke kampusku dan mengatakan pada dosenku kalau kau merusak maketku!”

“ APA?! MANA BISA SEPERTI ITU?! AKU JUGA ADA KULIAH!”

“SSSSSTTTTTT….”

Keributan dua orang itu menjadi tontonan 1 bus dan alhasil mengganggu ketenangan penumpang dan supir bus yang ada di sana.

“ Ah, jeongmal mianhaeyo…” Heeyoung dan pria itu membungkuk bersamaan dan mengakhiri perang mulut mereka. Heeyoung menarik pria itu untuk duduk di sebelahnya dan tidak melepaskan tangannya sedetikpun dari jaket yang dikenakan pria itu.

Bagi sebagian orang yang melihat pemandangan itu, mungkin mereka akan tertawa geli karena mengira Heeyoung adalah tipe gadis yang over protective terhadap kekasihnya, tanpa mereka sadari ekspresi Heeyoung maupun pria itu sama sekali tidak enak untuk dilihat.

“ Yaa! Aku akan bertanggung jawab, aku akan memperbaiki maketmu tapi aku benar-benar ada ujian di jam pertama, setidaknya biarkan aku ikut ujian dulu.”

“ Aniya… aku tidak percaya padamu… dari wajahmu saja kau tidak bisa dipercayai begitu.”

“ Huh… terserah padamu! Kalau memang aku harus menjelaskan pada dosenmu, kau juga harus menjelaskan pada dosenku.”

“ Baik, aku setuju tapi kau harus ke kelasku dulu.”

***

Myungsoo menatap jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Heeyoung belum sampai padahal kelas sudah ia mulai sejak setengah jam yang lalu. Ia sedikit menyesal memaksa Heeyoung ikut dengannya tadi pagi padahal hubungan mereka berdua belum berjalan dengan baik. Mungkin saja sekarang Heeyoung bolos karena malas mengikuti kelasnya, padahal ia memuji gadis itu dalam hatinya tadi pagi karena melihat maket hasil kerja keras Heeyoung. Walaupun belum sempurna, tandanya gadis itu serius mengikuti kuliahnya. Karena memang maket itu adalah salah satu tugas yang diberikannya sewaktu gadis itu tidak masuk, sebagai prasyarat mengikuti UTS yang akan diadakan dua minggu lagi.

Tok Tok Tok

Myungsoo tersadar dari lamunannya dan melihat ke arah pintu.  Ia menghela nafas kasar, ia sangat tidak menyukai jika ada mahasiswanya yang terlambat, tetapi mungkin jika Heeyoung yang datang, ia bisa sedikit memberi kelonggaran pada gadis itu.

“ Masuk…”

Heeyoung membuka pintu kelasnya, tangan kirinya ia gunakan untuk membawa maketnya yang sudah berantakkan ke dalam kelas dan tangan satunya ia gunakan untuk menyeret seorang pria masuk. Myungsoo sangat terkejut melihat maket Heeyoung yang berantakkan ditambah ia datang dengan seorang pria yang tidak asing bagi Myungsoo. Sebenarnya apa yang terjadi?

“ Jeongmal jwesonghamnida, Kim Seongsaenim… pertama untuk keterlambatan saya dan yang kedua karena maket saya untuk tugas mata kuliah ini hancur berantakan, ini semua karena ulah pria ini.” Heeyoung segera mendorong pria itu dan menatapnya dengan kesal.

“ Myung… ma…maksudku, Kim Seongsaenim, aku mengakui ini adalah salahku, karena tidak berhati-hati, oleh karena itu aku akan bertanggung jawab dengan memperbaiki maket milik nona ini…”

“ Baiklah… kalian berdua temui aku di ruang dosen setelah kelas ini berakhir. Han Heeyoung kau boleh duduk dan… Nam Woohyun kau boleh kembali ke kelasmu.”

Heeyoung melotot, ia berpikir Myungsoo akan memarahi pria ini habis-habisan atau semacamnya. Ia tidak menyangka kalau hanya jawaban seperti itu yang akan diberikan oleh Myungsoo. Ditambah kenyataan bahwa sepertinya Myungsoo dan pria bernama Nam Woohyun ini saling mengenal karena Myungsoo bisa menyebutkan nama pria itu dengan lancar tanpa harus pria itu terlebih dahulu memberitahukan namanya.

“ Jeongma lGhamsahamnidaseongsaenim, tapi saya memohon izin untuk menculik mahasiswi anda, Han Heeyoung, karena saya seharusnya mengikuti ujian jam pelajaran ini dan dia sudah berjanji akan menjelaskan semua yang terjadi pada dosen saya.”

“ MWO?! Shireooo! Aku mau mengikuti kelas!” Heeyoung menolak dengan tegas, sebenarnya itu hanya alasannya saja karena ia malas membantu pria itu.

“ Kau sudah berjanji, nona Han…”

“ Tapi kau dengar kan, Kim Seongsaenim menyuruhku duduk!”

“ Lalu bagaimana dengan ujianku?”

Sontak pertengkaran mereka berdua berhasil mencuri perhatian seluruh mahasiswa dan mahasiswi yang berada di sana. Tugas yang diberikan oleh Myungsoo pun terabaikan, mereka lebih tertarik menonton pertengkaran seru yang diciptakan Woohyun dan Heeyoung.

“ KALAU AKU BILANG TIDAK MAU YA TIDAK MAU!”

“ KAU MAU MEMBUATKU TIDAK LULUS MATA KULIAH ITU, HUH?”

“ ITU KAN URUSANMU!!”

“ YAAA! KALIAN BERDUA HENTIKAN!!” Myungsoo berteriak, ia segera berdiri dan melangkah mendekati Heeyoung dan Woohyun hingga posisinya sekarang adalah berada di antara kedua orang itu.

“ Heeyoung, kau kuizinkan untuk menemui dosen Woohyun, sekarang pergilah, sebagai hukuman karena kau terlambat tanpa member kabar, kau akan mendapat tambahan tugas, sekarang pergilah…”

Woohyun tersenyum penuh kemenangan, ia meraih tangan Heeyoung dan membawanya keluar kelas diiringi tatapan dari seluruh kelas.

“ Hih, dasar ratu drama, ada saja yang dikerjakannya.”

“ Ne, semua yang dia lakukan hanya untuk mencari perhatian. Tskk… dasar sok…”

“ Aku heran mengapa Luhan oppa mau menjadi kekasihnya…”

“ Untunglah sekarang mereka sudah putus.”

“ HAHAHAH… Rasakan sekarang dia menderita, Jihyo jelas jauh lebih baik darinya… aku juga heran kenapa orang sesabar dan sebaik Jihyo mau berteman dengan gadis sepertinya…”

Seulra meremas kertas kosong yang berada di mejanya dan melemparkannya dengan tepat ke gerombolan mahasiswi yang sedang membicarakan Heeyoung.

“ AWWWWWW! Siapa yang berani melempar kertas ke arahku?” Jiyeon, salah satu dari gerombolan gadis itu segera berdiri.

Seulra juga ikut berdiri dan dengan berani menghampiri meja Jiyeon dan menatap langsung ke manik mata gadis itu.

“ AKU! Memangnya kenapa?”

“ Apa masalahmu, huh?”

“ Kau! Mulutmu dan antek-antekmu… apa yang kalian bicarakan tentang Heeyoung sama sekali salah! Dasar tukang gossip…”

“ Tahu apa kau!”

“ Kau yang harusnya aku tanya begitu! Tahu apa kau! Kau tidak mengenal Heeyoung dan Jihyo, jadi jangan pernah mengatakan hal yang macam-macam tentangnya!”

“ Shin Seulra! Park Jiyeon! Keluar dari kelas saya sekarang dan saya akan memberikan tugas tambahan pada kalian berdua.”

“ Baik, Kim seongsaenimjeongmal Jwesonghamnida…” Seulra mengambil tasnya dan keluar terlebih dahulu diiringi tatapan bersalah dari Jihyo.

“ Seulra, Heeyoung, mianhae…” lirih Jihyo sambil memejamkan kedua matanya.

***

Pria paruh baya dengan rambut yang hampir seluruhnya memutih itu memandang kedua anak muda yang berada di hadapannya bergantian. Ia sama sekali tidak tertarik dengan cerita sang pria yang terlambat mengikuti ujian yang diberikannya pagi ini.

“ Tidak ada alasan, Woohyun, kau tidak bisa mengikuti ujian dan persiapkan dirimu untuk kemungkinan terburuk.”

Pria itu memakai kacamata bacanya kembali dan duduk dengan tenang sambil membaca buku berukuran tebal miliknya.

“ Jwesonghamnida, prof, tapi saya…”

“ Silahkan keluar kalau sudah tidak ada yang ingin anda katakan…”

“ Prof, anda tidak bisa seperti ini… tidak adakah kesempatan kedua untuk mahasiswa anda? Saya tahu… saya salah satu penyebab keterlambatan Woohyun-ssi untuk mengikuti kelas anda, dosen saya telah memberikan kesempatan pada saya dengan konsekuensi saya harus mengerjakan tugas lebih banyak dari yang lainnya, tidak bisakah anda memberlakukan hal yang sama?”

“ Maaf anda…”

“ Han Heeyoung…”

“ Fakultas?”

“ Fakultas Seni Rupa dan Desain, Program Studi Desain Interior, Angkatan 2013…”

“ Baik nona Han Heeyoung, mungkin dosen anda bisa mengasihani anda, tapi saya tidak…”

“ Mengapa prof?”

“ Ada beberapa alasan tentunya…”

“ Bisakah anda kemukakan alasan anda, prof?”

Woohyun menarik lengan Heeyoung dan memberikan tatapan tidak setuju atas keberanian gadis itu yang menjurus pada tindakan tidak sopan. Woohyun bahkan dapat melihat dengan jelas Professor Jang mengerutkan dahinya, tanda ia tidak menyukai perkataan Heeyoung yang kelewat bebas.

“Maaf, prof, saya akan segera keluar.”

“ Tidak, Woohyun berhenti… Professor maaf mungkin saya telah melanggar batas-batas kesopanan menurut anda, tetapi saya minta anda memberikan kesempatan kedua pada Nam Woohyun…”

Heeyoung bahkan tidak sadar ia tidak lagi menggunakan embel-embel –ssi di belakang nama Woohyun, ia mungkin kelewatan tetapi inilah Han Heeyoung yang sesungguhnya, akan membela hal-hal yang menurutnya benar dengan caranya sendiri yang terkadang malah membawanya di dalam masalah.

“ Nona Han Heeyoung, saya akan mengirim surat pada rector anda yang mengatakan anda telah…”

“ Maaf prof…” seseorang menyela pembicaraan Professor Jang dan membuat ketiganya menoleh.

Heeyoung terperangah, ia sama sekali tidak menyangka bisa menemukan sosok Luhan di sana. Berdiri tegap dan melangkah ke arah mereka.

“ Maafkan atas kelancangan kekasih saya, prof, tetapi saya rasa argumennya ada yang benar. Woohyun pantas mendapatkan kesempatan.”

“ Kekasih? Bukankah anda sudah bertunangan, Luhan? Apakah dia tunangan anda, Luhan?”

“ Bukan, prof, tetapi dia adalah wanita yang saya cintai… jadi apakah Woohyun bisa mengikuti ujian susulan?”

Professor Jang memikirkan ucapan Luhan, terlebih pria itu adalah asisten mahasiswa kesayangannya. Ia terkesan dengan semua nilai akademik Luhan pada mata kuliahnya dan alhasil ia langsung merekrut Luhan menjadi asistennya. Dengan pertimbangan rekor perilaku baik Woohyun dan ditambah permintaan Luhan. Professor Jang menyetujui untuk memberikan ujian susulan pada Woohyun.

“ Baik, Woohyun, kau bisa mengikuti ujian susulan minggu depan pada saat mata kuliah saya berlangsung.”

“ Jeongmal ghamsahamnida, prof…” Woohyun membungkkukan badannya berkali-kali sementara Luhan kembali ke tampat duduknya, mengambil lembar jawabannya, dan mengembalikannya ke meja Professor Yoon.

“ Saya sudah selesai, saya permisi, prof…” Luhan menarik tangan Heeyoung sedikit kasar setelah membungkukkan badannya di hadapan Professor Jang.

***

“ Apa yang kau lakukan di sini?”

“ Luhan kau sudah tidak marah padaku?” mata Heeyoung berkaca-kaca, gadis itu mengakui ia sangat merindukan Luhan, walaupun ia seharusnya membenci pria itu. Tetapi pengakuan Luhan di hadapan Professor Jang membuatnya sedikit luluh dan akhirnya menaruh harapan yang besar pada pria itu.

Luhan terdiam, ia menundukkan kepalanya, menghindari tatapan Heeyoung, ia sama sekali belum siap untuk melihat gadis yang dicintainya mati-matian itu. Ia bahkan tidak sadar kalau sejak tadi Woohyun sudah keluar kelas dan akhirnya malah berdiri bersandar di pintu kelas memperhatikan mereka berdua dari kejauhan.

“ Lu, kau masih marah?” Heeyoung menggenggam kedua tangan Luhan dan menggoyangkannya ke kiri dan ke kanan.

“ Lu, katakan sesuatu…” suara Heeyoung bergetar. Luhan mengangkat wajahnya dan menemukan wajah Heeyoung di sana, menahan tangis yang sebentar lagi akan luruh dari matanya.

Luhan tidak mengatakan apapun untuk membalas perkataan Heeyoung, pria itu malah mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya pada bibir Heeyoung. Heeyoung terkejut namun ia menyadari ini adalah ciuman pertamanya dengan Luhan. Ia menyambut ciuman Luhan, ia membalasnya dengan perasaan yang membuncah.

Luhan memperdalam ciuman mereka namun beberapa bayangan berkelebat dalam benaknya. Tiba-tiba ia tersadar kejadian semalam, di mana ia mencium Jihyo dan berakhir dengan perbuatan kotornya pada gadis itu. Perasaan bersalah dan tatapan menyedihkan Jihyo membuatnya melepaskan ciumannya dengan Heeyoung secara sepihak.

“ Maaf, Hee…”

“ Kau tidak perlu meminta maaf, aku senang…”

Luhan tersenyum dan mengacak rambut Heeyoung pelan, mereka tertawa bersama dan melupakan kejadian yang menyebabkan pertengkaran mereka.

Woohyun memandang kejadian itu dari jauh dan mendengus. Ia memang baru mengenal Heeyoung tetapi ia sudah bisa menduga betapa rumit hidup gadis itu.

“ Hah, sebenarnya hubungan macam apa yang gadis itu jalani bersama Luhan? Luhan sudah memiliki tunangan tapi masih berhubungan dengan Heeyoung. Cih… tampangnya saja sok baik ternyata diam-diam Luhan pria seperti itu… dan Heeyoung entah bodoh atau apa… sudah tahu pria itu memiliki tunangan, ia masih mau menjadi kekasih pria itu… bagaimana kehidupan gadis itu nantinya ya… eh kenapa juga aku peduli?” Woohyun menggelengkan kepalanya, lalu segera berlalu dari sana sebelum Luhan dan Heeyoung tahu sejak tadi ia ‘menguping’ pembicaraan kedua orang itu bahkan menonton adegan ciuman mereka.

***

“ Jadi kau tidak sengaja berciuman dengan dosenmu itu? Hahahahaha…” Luhan tertawa geli sambil sesekali mengusap kepala Heeyoung. Ketakutannya ternyata sama sekali tidak beralasan, bahkan sepertinya gadis itu tidak merasa tertarik sedikitpun dengan Myungsoo, yang ternyata adalah dosennya.

“ Tapi, mengapa waktu itu kau pergi dengannya ?”

“ Hah, eh… oh… ah… itu…” Heeyoung bingung mencari alasan yang tepat karena ia sendiri tidak mau bercerita tentang ia yang menjadi supir pribadi Myungsoo. Bahkan sampai saat ini harusnya ia menjadi supir pribadi pria itu, hanya saja ia masih merasa canggung karena adegan ciuman tidak sengajanya dengan Myungsoo tempo hari.

“Hee-ah, yang penting sekarang kau sudah tidak marah denganku.” Luhan memeluk Heeyoung dan menenggelamkan kepala gadis itu di dadanya. Ia merasa lega karena Heeyoungnya yang dulu telah kembali. Sosok Heeyoung yang periang dan tersenyum dengan cerah. Senyuman yang selalu disukai Luhan sampai kapanpun.

“ Ne…” Heeyoung tersenyum namun dalam hatinya ia menjerit, ia mengakui tindakannya sekarang adalah salah. Ia seperti sedang berselingkuh dengan tunangan orang lain, tetapi ia tidak sudi mengakui kalau Luhan sudah bertunangan terlebih tunangan pria itu adalah sahabatnya sendiri.

“ Hee, maaf harus bertanya hal ini padamu, tapi kenapa kau bisa datang saat pertunanganku?”

“ I… itu karena eo…eommonim mengundangku.”

Hati Luhan mencelos, mengapa ibunya dengan sengaja mengundang Heeyoung seolah dengan sengaja membiarkan gadis itu tahu mengenai rencana pernikahannya dengan Jihyo.

“ Lalu kenapa kau mau datang? Hal itu akan menyakitimu, sayang…”

“ Kalau saja aku tidak datang hari itu aku tidak akan pernah tahu kau bertunangan dengan sahabatku sendiri, Luhan…”

Heeyoung sengaja menekankan kata sahabat, walaupun setiap inchi hatinya teriris karena membongkar kembali kenyataan yang ingin dibuangnya jauh-jauh, namun setiap kali mengingat bagaimana Jihyo tersenyum pada acara pertunangannya dengan Luhan, Heeyoung merasa kesulitan untuk bernafas, gadis itu tersenyum seolah tanpa beban, seolah-olah apa yang dilakukannya benar, seolah ia senang bertunangan dengan Luhan.

Apa memang sebenarnya Jihyo senang telah ‘merebut’ Luhan darinya, tapi kenapa?

Pertanyaan itu terus berputar di benak Heeyoung secara tiba-tiba, ia tidak mau menuduh tapi firasatnya mengatakan hal itu. Ada sesuatu yang selama ini disembunyikan Jihyo darinya dan ia harus tahu hal apa itu, karena sepertinya hal itu menyangkut Luhan. Apapun tentang Luhan, Heeyoung harus tahu, sekecil apapun itu.

YAAA! Heeyoung! Kau mau aku memperbaiki maketmu tidak? Kau ditunggu Myung… eh… Kim Seongsaenim di ruang dosen sejak tadi, kau malah asyik berpacaran di sini…”

“ HWAAAA! Aku lupa… Luhan, maaf aku harus menemui Myungsoo, aku harus meminta bocah ini memperbaiki maketku yang dirusak olehnya.”

“ Yaa! Kau berkata seolah-olah aku sengaja…”

“ Memang tidak… tapi karena kecerobohanmu, aku yang susah…”

“ Aku kan su…”

“ Sayang, apa maksudmu Woohyun sudah merusak maketmu?” Luhan bertanya dengan tatapan bingung ia melihat Woohyun dan Heeyoung bergantian.

“ Nanti akan aku jelaskan… aku pergi dulu ya, annyeong!”

Heeyoung menarik tangan Woohyun menjauh dan Woohyun hanya sempat melambaikan tangannya pada Luhan dan dibalas pria itu dengan senyuman.

“ Luhan masih berhubungan dengan Heeyoung…”

“ Cih… wanita busuk sialan… penganggu hubungan orang… aku yakin dia yang memaksa Luhan masih menjalin hubungan dengannya padahal jelas-jelas Luhan memiliki tunangan.”

“ Kasihan Jihyo… sahabat macam apa si Heeyoung itu…”

“ Memang, Luhan dan Jihyo pasti tertipu tampang manis si ratu drama …”

“Bagaimana kalau kita kerjai dia?”

“ Ide bagus…”

Segerombolan mahasiswi yang kebetulan menyaksikan adegan Lovely Dovey Luhan dan Heeyoung, segera pergi dari tempat persembunyian mereka, sebelum Luhan menyadari kehadiran mereka.

***

“ Baiklah, kalian berdua… karena Woohyun tidak sengaja merusak maket Heeyoung, maka kuputuskan agar kalian mengerjakan maket itu berdua.”

“ APA?! Myungsoo, kau tidak bisa menyuruhku seperti itu… aku punya tugas yang lain.” Heeyoung berani memanggil Myungsoo bukan dengan sebutan KimSeongsaenim karena ruang dosen sedang sepi siang itu. Hanya ada mereka bertiga di sana.

“ Terserah kalau kau tidak mau…”

“ Apa maksudmu?”

“ Aku tinggal melaporkan pada Nam seongsaenim dan kau bisa terancam tidak lulus, Heeyoungie sayang…”

Heeyoung bergidik ngeri, bukan karena diancam tidak bisa lulus, melainkan karena Myungsoo memanggilnya dengan panggilan sayang yang terdengar mengerikan.

“ Hahahahaha… “ tawa Woohyun meledak, membuat Myungsoo dan Heeyoung terheran-heran memandang pria itu.

Yaa! Kau tidak tiba-tiba berubah gila kan?”

“ Aku tidak menyangka Myungsoo, kau ternyata asisten dosen ayahku… hahaha.. sudahlah, hanya kita bertiga di sini, lidahku gatal memanggilmu KimSeongsaenim!”

“ Sialan… memangnya aku tidak pantas dihormati?” Myungsoo tertawa lepas bahkan ia berdiri dan memeluk Woohyun.

Heeyoung memandang kedua makhluk di depannya dengan berbagai macam perasaan. Ayah? Apa Woohyun adalah anak dari Namseongsaenim? Kebetulan yang sangat menarik dan apa pula ini? Woohyun dan Myungsoo saling mengenal?

“ Baiklah kalian berdua… aku butuh penjelasan… kenapa kalian bisa saling mengenal?”

Woohyun dan Myungsoo saling bertatapan dan kembali tertawa bersama, membuat Heeyoung semakin keheranan karena tingkah kedua orang itu sama sekali tidak wajar.

“Jadi, kami adalah…”

***

Tin Tin

Jihyo mengangkat wajahnya yang sejak satu jam yang lalu ditekuk, ia sedang menunggu Luhan yang tidak kunjung datang padahal gadis itu sudah memberitahu jam pulangnya dengan tepat.

“ Myungsoo?”

“ Naiklah, aku akan mengantarmu pulang…”

“ Terima kasih, tapi aku sudah ada janji dengan Luhan.” Jihyo tersenyum berusaha menahan debaran jantungnya yang kembali tidak normal ketika ia berhadapan dengan Myungsoo, entah karena alasan apa.

“ Luhan tidak akan datang…”

Jihyo menaikkan sebelah alisnya mendengar penuturan Myungsoo, ia heran darimana pria itu tahu.

“ Bagaimana bisa kau begitu yakin?”

“ Naiklah… aku sebenarnya tidak enak mengatakan ini padamu, tapi… yasudahlah naik saja…”

Perasaan Jihyo mendadak berubah menjadi gelisah, ia tidak mempercayai Myungsoo 100% tetapi perasaannya mengatakan hal lain, seolah-olah ada yang memaksanya untuk percaya. Dengan berat hati, ia melangkah masuk ke dalam mobil Myungsoo.

“ Apa yang sebenarnya kau ketahui?”

Myungsoo hanya menaikkan sebelah alisnya, perasaannya mendadak keruh, ia sama sekali tidak enak memperlihatkan kejadian itu di hadapan Jihyo, tapi ia hanya tidak ingin gadis itu terus-menerus berharap dikarenakan Luhan memang sama sekali tidak menyimpan perasaan khusus padanya.

“ Jihyo, kurasa mulai saat ini, harusnya kau tidak lagi banyak berharap.” Myungsoo menghentikan mobilnya dan menunjuk ke satu arah.

Tanpa banyak bertanya, Jihyo menoleh dan apa yang dilihatnya, sekali lagi berhasil mementalkan kepercayaan dirinya sampai ke dasar. Ia pikir ia bisa melewati semuanya dengan mudah, tapi ternyata masih banyak kerikil yang harus disingkirkannya sebelum ia bisa mendapatkan kebahagiaannya.

Di sana…

Hanya berjarak beberapa meter di depannya, sekali lagi Luhan menyakiti hatinya, ia dan Heeyoung tampak begitu akrab, tampak begitu dekat, memang selama ini keduanya selalu seperti itu hanya saja tidak saat ini, saat Luhan sudah berstatus sebagai tunangannya, calon suaminya. Bisakah Luhan mengerti sekali saja?

“ Menangislah…”

Satu kata itu mampu menjebolkan pertahanan Jihyo, gadis itu terisak, menenggelamkan wajahnya ke atas kedua telapak tangannya. Dengan hati-hati Myungsoo menarik Jihyo ke dalam pelukannya.

“ Jihyo… satu hal yang harusnya kau tahu… aku akan terus… menunggumu…”

***

To Be Continued

One thought on “[Korean Fanfiction/ Straight/ Series] Never Reachable (Chapter 4- Run With Me)

  1. Myung and wohyun itu kakak adik kah ?? Saudara kah or GAY ?? tp bukan ah marga pun beda mungkin saudara
    muatahil klo Mereka GAY jelas myung suka jihyoo itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s