[Korean Fanfiction/ Straight/ Series] Never Reachable (Chapter 6-Don’t Ever Let Go of My Hand)

poster Never Reachable chapter 7-9 copy

Title       : Never Reachable

Author : Kim Saena a.k.a Devi

Rating   : PG13/ NC17, Straight

Length  : Series

Genre   : Romance, Angst, Drama, Family, Married Life, Tragedy

Cast       :

Main Cast :  Luhan

Han Heeyoung (Original Character)

Park Jihyo ( Original Character)

Support Cast      :  Oh Sehun

Park Chanyeol

Kim Myungsoo

Nam Woohyun

Other Cast          : FIND BY YOURSELF!

Disclaimer :          The casts is belong to God, their entertainment, and their parents

It’s just for fun. Please don’t sue me.

 If you don’t like this fanfic please don’t bash. Don’t Like… Don’t Read.

Please don’t take this fanfic without permission from me.

If you want to take this fanfic, please take with full credit.

Summary :  Han Hee young selalu bermimpi untuk menjadi istri dari Luhan karena pria itu adalah satu-satunya manusia yang bisa membuatnya panas dingin setiap waktu. Apalagi pria itu merupakan oksigen dan obat penyembuh paling mujarab bagi dirinya yang mengalami broken home sejak smp dan terpaksa tinggal dengan ayahnya yang jarang pulang ke rumah karena terlalu patah hati akibat sang ibu yang meninggalkan ayahnya demi pria lain. Namun impian itu tidak akan pernah terwujud karena Luhan tiba-tiba  dijodohkan dengan Park Jihyo sahabat Heeyoung sendiri. Sakit hati dirasakan oleh Heeyoung melihat sahabat terdekatnya yang tahu semua kisahnya malah akan menikah dengan pria yang diperjuangkannya mati-matian.

Lalu bagaimanakah nasib Heeyoung selanjutnya?Bisakah ia merelakan pria yang dicintainya menikah dengan orang lain? Lalu bagaimana nasib persahabatannya dengan Jihyo akankah persahabatan mereka berdua benar-benar berakhir?

A/N : HALLLOOO SEMUA …. ya sebenernya saya udah lelah minta maaf T.T tapi serius kuliah di jurusan desain memaksa semua waktu luang saya bener2 habis jadi mumpung liburann saya baru bisa update padahal bikin ffnya uda lama -____-. Pengumuman sedihh saya baru dipecat dari blog sebelah jadi ff ini hanya bisa eksklusif di blog ini saja, sebenernya salah saya sih ga ngepost ff di sana selama hampir setahun ^^v jadi dipecat adalah suatu hukuman yang pantas hahaha… maaf yaa adegan awalnya agak menjurus nihh yang puasa bacanya pas buka aja yaa. Sekali lagi maafkan atas keterlambatan postnya

Satu hal lagii chapter ini mungkin kalian akan membencinya tapi saya tidak bisa merubah keputusan untuk tidak menikahkan Luhan dan Jihyo karena alur plot dan twistnya sudah mengarah ke sana sejak awal dannn tapi tentu saja akan banyak moment heeyoung dan luhan bertebaran di ff ini walaupun couplenya udah berubah ^^V dannn ada satu rahasia kecil(?) yang terungkap di sini jadi selamat membaca!

Reader baru silahkan mencari link sebelumnya di bagian fanfiction ya karena saya selalu update library-nya ^^

Chapter 6- Don’t Ever Let Go of My Hand

#NP

Taeyang- Eyes, Nose, Lips

Maroon 5 – Animals

John Legend – All of Me

Lyn-My Destiny

Author Pov

Mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Heeyoung, nafsu birahi Luhan sampai pada puncaknya, ia menginginkan Heeyoung begitu juga dengan gadis itu yang menginginkannya. Ia meraba-raba tubuh bagian bawah Heeyoung dan hampir melepaskan hot pants yang dikenakan gadis itu sementara Heeyoung tetap memeluk tubuh Luhan dan menahan debaran jantungnya yang seolah akan keluar dari rongga dadanya.

Ia berharap ini adalah keputusan terbaik yang pernah dibuatnya seumur hidupnya… Luhan membuka resleting hot pants milik Heeyoung namun tiba-tiba pria itu berhenti, membuat Heeyoung menatap Luhan dengan tatapan sulit untuk dijelaskan. Luhan melepaskan pelukannya dan berbalik, tidak sanggup menatap Heeyoung.

Heeyoung mendekati Luhan dan memeluk pria itu dari belakang, membuat tubuh Luhan memegang, namun ia tahu ini semua tidak benar. Ia tidak bisa berbuat lebih jauh lagi pada Heeyoung, ia tidak bisa merenggut kehormatan Heeyoung, gadis yang paling dicintainya, di saat besok, dirinya akan menikah dengan gadis lain. Ia tidak akan pernah tega menyakiti Heeyoung.

“ Lu, ada apa? Mengapa kau berhenti? Aku sudah memberikan izin padamu…”

“ Hee… maaf… maaf aku tidak bisa, aku tidak seharusnya melakukan ini padamu.”

Luhan memejamkan matanya, ia sudah terpancing, sangat sulit mengendalikan nafsunya saat ini di saat Heeyoung bahkan memberikannya izin untuk menyentuh gadis itu.        Namun Luhan tahu, bukan haknya untuk menyentuh Heeyoung di saat ia dan gadis itu belum meresmikan hubungan mereka ke dalam jenjang yang lebih serius.

“ Tapi… kenapa?” Heeyoung menatap Luhan dengan pandangan kecewa yang tidak dapat ia sembunyikan.

Luhan menarik Heeyoung dan memeluk gadis itu dari belakang, sementara Heeyoung hanya diam, menatap rembulan yang bersinar dengan terang, seolah mengejek kesedihannya saat ini.

“ Aku sangat mencintaimu, hee… aku tidak mungkin merenggut hal yang sangat berharga bagimu, aku tidak bisa merampasnya begitu saja di saat aku akan menikahi gadis lain besok… aku tampak sangat brengsek sekarang, aku…”

“ Aku juga sangat mencintaimu, lu… oleh karena itu aku memberikan bagian dari diriku yang paling berharga padamu, hanya padamu… tidak pada orang lain…”

Luhan melepaskan pelukannya dari tubuh Heeyoung, tampak jelas kesedihan terpeta pada raut wajah pria itu. Luhan meraih kemejanya yang berada tidak jauh dari tempatnya sekarang, ia mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah yang berada di saku kemejanya. Pria itu memandang dimensi kecil berbentuk kotak itu dalam diam yang menyiksa, sementara Heeyoung masih tidak berani membalikkan badannya untuk menatap pria itu.

Luhan segera menarik Heeyoung dan membuat gadis itu berdiri, Heeyoung menatap ke arah Luhan yang tiba-tiba berlutut di hadapannya. Gadis itu terhenyak saat Luhan membuka kotak beludru itu di depan matanya. Sebuah cincin emas putih dengan berlian kecil di tengahnya, sederhana namun mampu membuat Heeyoung menutup mulutnya, terperangah.

“ Han Heeyoung, aku tidak akan pernah bisa menjanjikan banyak hal padamu… aku tidak bisa berjanji akan membuatmu selalu tersenyum bahagia, aku bahkan tidak tahu bagaimana kehidupanku dan Jihyo nantinya… tapi aku ingin kau berjanji untukku, Heeyoung… kau akan terus menungguku… menunggu sampai saat itu tiba… saat di mana aku hanya akan menggeggam tanganmu saja… saat di mana aku bisa terus menjadi penjagamu sampai akhir hayat kita… jadi maukah kau Han Heeyoung, berjanji padaku untuk terus menunggu sampai aku bisa menggenapi itu semua?”

Heeyoung berlutut, menyamakan tingginya dengan Luhan saat ini, gadis itu memeluk Luhan. Isak tangisnya terdengar jelas memecah keheningan malam, Luhan membalas pelukan Heeyoung, berusaha membuat gadis itu tenang dalam pelukannya.

“ Aku berjanji, Luhan… aku berjanji akan menunggu sampai saat itu tiba, saat di mana kau tidak akan bisa pergi dari sisiku, tapi kau juga harus berjanji satu hal Luhan… bahwa kau tidak akan pernah lepas dari genggaman tanganku…”

Luhan melepaskan pelukannya dan segera mengambil cincin yang berada di kotak beludru itu dan menyematkannya ke jari manis Heeyoung.

“ Aku berjanji, Heeyoung… aku berjanji tidak akan pernah lepas dari genggaman tanganmu…”

***

Jihyo melemparkan dirinya ke atas tempat tidur dan menangis sepuasnya di sana. Ia tidak mengerti dengan apa yang ia rasakan. Ia belum pernah merasakan sesuatu yang seolah akan mencekiknya hingga seperti ini. Ia sendiri bingung dengan perasaannya, di satu sisi ia yakin 100% ia mencintai Luhan, tetapi satu sisi lainnya ia juga tidak ingin kehilangan Myungsoo, padahal perasaan sukanya pada Myungsoo mungkin sudah hilang karena sekian lama pria itu menghilang tanpa kabar.

Namun di saat ia bertemu dengan Myungsoo lagi, perasaan itu kembali. Perasaan yang lama ia pendam seolah muncul ke permukaan dan mengganggu sistem kerja otaknya sekarang. Ia bahkan tidak tahu mengapa ia harus menangis di saat besok adalah hari pernikahannya, seharusnya ia bahagia. Ataupun kalau ia harus menangis, ia pasti akan menangis karena terlalu bahagia. Bukan tangisan penuh kepedihan seperti yang dilakukannya saat ini.

Chanyeol memandangi Jihyo yang sedang menangis saat ini. Bukannya pria itu bermaksud tidak sopan dengan masuk ke kamar adiknya tanpa permisi, melainkan ia sudah lelah mengentuk pintu kamar Jihyo dan tidak mendapatkan respon dari gadis itu. Chanyeol memutuskan masuk, tetapi ia terdiam karena mendapati Jihyo yang sedang menangis.

Perlahan Chanyeol mendekati Jihyo dan memutuskan untuk duduk di sebelah gadis itu. Merasa mendapat tambahan lebih pada tempat tidurnya, Jihyo menoleh dan mendapati Chanyeol di sana. Jihyo segera menyamakan posisinya dengan Chanyeol, dengan cepat gadis itu beralih dan menghapus air mata yang masih tersisa di wajahnya.

Oppa, ada apa kau ke sini?”

“ Jihyo, apa kau tidak bahagia?”

Nde?”

“ Kupikir menikah dengan pria yang kau cintai akan membuatmu bahagia… lantas kenapa kau menangis di saat besok akan menjadi hari paling bahagia dalam hidupmu?”

Jihyo memutuskan untuk bangkit berdiri dari posisi duduknya saat ini, gadis itu dengan berani menatap bulan yang sedang bersinar terang dari balik kaca transparan yang melindungi jendela kamarnya. Gadis itu tersenyum penuh penekanan, ia berbalik dan menatap Chanyeol.

“ Entahlah, oppa, aku sendiri bingung dengan apa yang aku rasakan… di satu sisi aku ingin sekali berbahagia, tetapi satu sisi lainnya, aku sama sekali tidak bisa bahagia…”

“ Apa karena Luhan belum mencintaimu? Hmm… memang sulit, hyo-ah, apalagi kau secara tidak langsung merebutnya dari Heeyoung…”

“ O…oppa, kau tahu?” Jihyo membelalakkan matanya, terkejut dengan satu fakta yang baru diketahuinya hari ini.

“ Aku tahu semuanya, hyo-ah, satu sisi kau ingin mempertahankan apa yang kau cintai tetapi di sisi satunya kau juga ingin mempertahankan persahabatanmu dengan Heeyoung… dalam kasus ini kau tidak bisa memilih keduanya, kau harus memilih salah satu atau kehilangan dua-duanya… kau sudah memilih Luhan… jalani itu… jalankan pernikahanmu dengan baik… oppa yakin suatu saat Heeyoung tidak akan sejahat itu untuk terus memusuhimu…”

Oppa, aku tidak pernah mengerti mengapa aku bisa sejahat ini pada Heeyoung… aku mengenalnya sangat baik, oppa, tidak akan semudah itu memaafkan apa yang aku lakukan padanya sekarang…”

“ Tidak semua hal di dunia ini bisa berjalan semestinya, hyo… kau harus mengerti terkadang ada hal-hal buruk yang bisa terjadi menimpamu… tanpa bisa kau cegah, syukuri saja keadaanmu sekarang… Jihyo-ah… oppa pergi dulu, sebaiknya kau segera beristirahat karena kau harus bangun pagi-pagi sekali… jaljayo nae dongsaengie…”

Ne, oppa, jaljayo…”

Chanyeol menutup pintu kamar Jihyo dengan pelan, sementara pria itu berdiri bersandar di luar pintu kamar Jihyo. Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana piyamanya kemudian ia menutup matanya. Pria itu merasakan adanya sesuatu yang tidak beres, ia berusaha menepis semuanya tetapi sesuatu itu terus menghantuinya.

“ Semuanya pasti akan baik-baik saja… ya… semuanya akan baik-baik saja…”

***

Myungsoo memandang undangan yang berada di depannya, kejadian tiga jam yang lalu bersama Jihyo, berhasil membuatnya tidak bisa memejamkan mata barang semenit, ia memutuskan mengerjakan seluruh pekerjaannya yang tersisa sambil menunggu pagi. Di saat matanya terasa berat, namun ia tidak memiliki kesempatan untuk tidur, karena setiap kali ia berusaha terlelap, maka bayangan Jihyo yang akan berada di sana.

Myungsoo mengelus nama Park Jihyo yang berada di atas lembaran berwarna emas itu. Hatinya terlampau sakit menyadari bahwa besok ia harus menghadiri pernikahan orang yang paling dicintainya. Andai saja namanya berhasil menggantikan nama Luhan pada undangan itu, mungkin malam ini ia bisa tidur dengan damai.

Myungsoo memutuskan untuk focus pada pekerjaannya. Namun setiap kali ia menatap layar laptopnya yang sedang menampilkan satu software building information modeling, maka pikirannya akan semakin kacau, sama seperti suasana hatinya yang sedang kacau.

Pria itu memustuskan untuk membuka laci kerjanya, mengambil beberapa dokumen lain yang harus dikerjakannya. Namun matanya tertambat pada satu kotak kecil dengan bagian depan kaca buram yang menampilkan bayangan benda di dalamnya. Pria itu segera mengambil kotak itu dari laci kerjanya dan membukanya. Ia tertegun mendapati sebuah benda mungil yang tidak lagi asing di matanya, hati pria itu kembali gusar tatkala ia menyadari benda apa yang ada di depannya saat ini.

Sebuah cincin yang sengaja dipesannya khusus untuk Jihyo ketika ia masih menyelsaikan study-nya. Cincin yang ia beli mati-matian dengan uangnya sendiri, uang hasil kerja part time selama ia kuliah, walaupun orang tuanya sangat mampu membiayai hidupnya selama di sana, ia tetap berusaha mandiri dengan mencari pekerjaan di sela-sela kesibukan kuliahnya. Hal itu ia lakukan untuk membeli cincin ini, cincin yang akan digunakannya untuk melamar Jihyo suatu saat nanti.

Namun sekarang semuanya tinggal angan yang tak berbekas, Myungsoo kecewa dengan dirinya sendiri, ia bahkan tidak bisa mempertahankan gadis yang dicintainya setengah mati. Pria itu mengambing cincin dengan desain sederhana itu dari kotaknya dan meraba bagian dalamnya.

Inisial nama mereka berdua dengan jelas tertera di sana…

“ Jihyo, apa aku masih bisa berharap melihat kau memakai ini? Apa harapanku terlalu berlebihan?”

Myungsoo tersenyum kecut, ia tahu ia tidak mungkin bisa menikahi Jihyo, bahkan dalam mimpipun hal itu tidak mungkin, karena Jihyo akan menjadi milik orang lain besok. Limit waktu Myungsoo telah usai, ia tidak bisa menggapai Jihyo lagi walaupun ia setengah mati berlari untuk mengejar langkah gadis itu yang semakin menjauh.

Myungsoo melemparkan benda kecil itu ke tumpukkan dokumennya, ia sama sekali tidak berminat menyimpannya lebih lama, hal itu hanya akan membuatnya terperangkap dalam masa lalunya yang menyakitkan. Ia tidak ingin merasakan hal itu lebih lama.

“ Jihyo, aku selalu mengharapkan kebahagiaanmu…”

***

The Day

Sejak pagi Jihyo harus bangun dan dijemput menuju salon di mana ia harus di make up karena pemberkatan akan dimulai jam sepuluh pagi. Jihyo memandang pantulan dirinya di cermin, lingkaran hitam dengan setia menemani matanya dan itu membuat sang penata rias mengoceh panjang lebar karena ia harus bekerja ekstra menutupi lingkaran itu.

“ Apa yang kukatakan soal tidur cukup, huh? Aku tahu kau gugup, hyo-ya… hahahaha… tapi lihat? Kau sungguh kacau, baby…”

“ Euh…. Eonni aku kan sudah mengatakan padamu kalau aku besok mulai UTS, dan kau tahu, eonni, aku mengerjakan tugas sampai larut malam.” Jihyo berdusta, tentu saja ia tidak mengerjakan tugas, ia bahkan tidak bisa berkonsentrasi sedikitpun untuk menghadapi hari ini.

Ne, tapi hari ini adalah your big day, Jihyo-ahpleasesmile…”

Jihyo berusaha tersenyum, setidaknya hari ini ia tidak boleh menunjukkan raut keputusasaan dan kesedihannya. Bagaimanapun juga ini adalah hari bahagia dalam hidupnya yang tidak bisa ia ulangi lagi. Walaupun sampai detik ini Luhan tidak mencintainya, setidaknya ia bisa memperlakukan Jihyo sebagaimana semestinya ia memperlakukan seorang istri.

Jihyo menghela nafas, ia tidak bisa memungkiri rasa gugup yang menderanya saat ini, sebentar lagi ia resmi menjadi Nyonya Lu Jihyo, gelar yang dulu rasanya hanya mungkin menjadi mimpi karena Jihyo yakin 100% Luhan akan menikahi Heeyoung setelah mereka lulus nanti. Dan kemudian Jihyo hanya bisa mengubur dalam-dalam perasaan cintanya selama ini, kemudian ia harus menelan pil pahit saat menyadari itu semua karena kebodohannya.

Flashback

Seorang gadis mengendap-endap menuju lorong loker di saat semua siswa dan siswi telah kembali ke rumah mereka masing-masing. Gadis itu sama sekali tidak berniat buruk, tetapi apa yang dilakukannya di salah satu loker memang mencurigakan.

           Ohh tidak!

           Gadis itu hanya berusaha menaruh selembar amplop berwarna pink ke dalam sebuah loker. Gadis itu tersenyum membayangkan bagaimana ekspresi sahabatnya nanti saat tahu apa yang ia lakukan ini. Gadis itu kembali ke tempat persembunyiannya dan mengamati dari jauh.

           Sejauh ini semuanya aman… rencananya berhasil…

           Seorang pria berjalan mendekati lokernya, tampaknya ia barus selesai mengikuti kegiatan ekstrakulikuler sehingga mengharuskannya pulang hingga sore hari. Dengan santai ia membuka lokernya dan terkejut mendapati benda asing berada di atas baju seragamnya. Pria itu mengambil benda itu dan menatapnya dalam diam sebelum memasukkan benda itu ke dalam saku celananya dan mengambil seragamnya yang berada di sana.

           Gadis itu terperangah, ia sama sekali tidak menyangka dengan hasil yang ia dapatkan dari perbuatannya.

           “ Lu… Luhan oppa, kenapa Luhan oppa?!”

           “ JIHYO-AH!” Heeyoung menepuk pundak gadis yang masih bersembunyi itu. Jihyo menoleh dan mengernyitkan dahinya karena setahunya, lima belas menit yang lalu Heeyoung sudah dijemput oleh supirnya.

           “ Heeyoungie, kenapa kau masih di sini? Bukannya tadi kau sudah dijemput?”

           “ Ne, aku harus kembali ke sini karena kotak pensilku tertinggal, sedangka USB berisi tugas biologiku ada di sana. Makanya aku harus kembali padahal aku sudah di jalan… huh…Ah iya, aku melihat Shim ahjussi, ia menunggumu di luar, kajja kita ke sana bersama-sama, aku sudah mengambil kotak pensilku…”

           Jihyo pun hanya bisa menurut saat Heeyoung menyeretnya pergi dari sana.

***

           “ Kau yang bernama Han Heeyoung?”

           Heeyoung menatap sengit seorang pria yang tiba-tiba menghampirinya saat jam istirahat sedang berlangsung  dan itu membuatnya dihujani belasan siswi yang sedang menggosip di salah satu sudut kelas.

           “ Ne, ada apa ya?”

           “ Kau yang menaruh surat ini di lokerku?”         

           DEG!

           Jihyo melotot, ia sama sekali tidak menyangka hasil perbuatannya akan seperti ini, tadinya ia berniat baik karena ia tahu Heeyoung menaruh hati pada salah satu senior mereka, Xiumin. Pasalnya ini tahun terakhir Xiumin berada di sekolah mereka dan kalau Heeyoung tidak juga menyatakan perasaannya, ia akan kehilangan Xiumin. Jadi Jihyo membuat sebuah surat atas nama Heeyoung dan bermaksud meletakkannya di loker Xiumin, ternyata surat itu malah masuk ke loker Luhan.

           “ Tidak, untuk apa aku meletakkan itu… tidak penting…” Heeyoung baru saja akan melangkah keluar saat tangannya ditahan oleh Luhan.

           “ Kau malu sudah menyatakan perasan padaku? Tenang saja, aku suka puisi buatanmu…”

           Jihyo kembali melotot, ia yakin ia menulis belasan kali nama Xiumin di surat itu tetapi kenapa Luhan mengira bahwa Heeyoung mengirimnya untuk Luhan?

           “ Aku tidak mengerti… maaf siapa nama anda tuan sok tahu?” 

           “ Luhan…”

           “ Ne, tuan Luhan… aku tidak mengerti… jadi katakan saja apa maumu… kau mendekatiku karena ingin uangku kan…”

           “ Ikut aku…” Luhan segera menarik tangan Heeyoung dan meninggalkan Jihyo yang meringis sendirian.

           Ia baru menyadari kesalahan terfatalnya, ia meletakkan surat cinta yang ia buat untuk Luhan dan meletakkan nama Heeyoung di amplopnya. Padahal surat itu ia buat susah payah untuk ia berikan pada Luhan dan dengan bodohnya surat itu malah tertukar dan Luhan mengira Heeyoung menyukainya.

           “ Jihyo bodoh! Bodoh!”

***

End of the Flashback

             Setelah kejadian itu, tentu saja Luhan hampir terancam karena berani mengganggu seorang Han Heeyoung. Niatan awal Luhan hanya ingin mengerjai gadis yang ‘sok berkuasa’ itu namun bisa ditebak bagaimana akhir kisah mereka, ketika cinta mulai mengetuk pintu hati masing-masing. Kisah cinta yang berakhir bahagia di bawah janji yang mengikat. Sebuah janji yang telah usai, yang sekarang harusnya berganti lembaran kisah baru.

“ Nah sudah selesai…” Jihyo tersadar dari lamunannya, hal pertama yang ia lakukan adalah melihat ke arah cermin, di mana wajahnya terlihat jelas di sana, Jihyo tersenyum menyadari perubahan dirinya. Ini adalah hari terpenting yang menjadi sejarah dalam hidupnya, ia harus bahagia, setidaknya di depan orang tuanya.

Tok Tok Tok

“ Masuk…” Jihyo berseru saat mendengar ketukan di pintu ruang riasnya.

“ Nona Park, ada yang ingin bertemu dengan anda… saya sudah melarang karena anda meminta saya untuk memberikan anda privasi sampai upacara pernikahan tiba, tetapi tamu anda memaksa, nona…”

“ Apakah dia menyebutkan namanya?”

Ye, nona, nama tamu anda adalah Han Heeyoung…”

***

Chanyeol berdiri sendirian di depan Katedral Myeongdong, tempat dilaksanakannya upacara pernikahan Jihyo dan Luhan, tepat satu setengah jam lagi. Ia menyandarkan tubuhnya di saah satu tembok menara yang menjadi struktur bangunan gereja itu. Beberapa orang dari Wedding organizer yang bertugas mengurus pernikahan Jihyo dan Luhan terlihat mondar-mandir, beberapa yang mengenalinya sebagai kakak Jihyo bahkan menyapanya namun hanya dibalas Chanyeol dengan senyuman datar.

o

Pikirannya berkecamuk, memikirkan sesuatu yang akan mengubah hidup adik semata wayangnya lagi. Ia tidak habis pikir, bagaimana mungkin orang tuanya tega menjodohkan Jihyo pada Luhan yang jelas-jelas tidak mencintai gadis itu. Chanyeol tahu semuanya, tentang kemerosotan perusahaan keluarga Luhan yang membuat keluarga pria itu terpaksa ‘mengemis’ pada keluarganya untuk dimintai pinjaman sejumlah dana.

Orang tuanya setuju dengan syarat Luhan harus menikah dengan Jihyo, kemudian perusahaan keluarga Luhan akan dibantu secara finansial. Alasan klasik yang memuakkan bukan? Mengapa orang tuanya terkesan ‘menjual’ Jihyo padahal jelas-jelas keluarga Luhan yang meminta bantuan.

Chanyeol berusaha mentralkan pikirannya, ia akan mencari tahu mengenai hal itu nanti, sekarang tidak ada yang bisa ia lakukan untuk mencegah pernikahan Luhan dan Jihyo berlangsung. Tidak ada… ia memang pecundang.

Seandainya saja ia lebih berani menampakkan dirinya, bukan bersembunyi dalam sosoknya sekarang. Sosok berwibawa seorang Park Chanyeol, namun tidak ada satupun yang tahu mengenai isi hatinya.

Seandainya ia lebih berani untuk…

“ Chanyeol…”

Sesosok wanita paruh baya dengan hanbok berwarna biru bercampur pink menghampiri Chanyeol. Chanyeol membungkuk memberi hormat pada wanita yang merupakan ibu kandungnya itu.

“ Kau tidak marah kan kalau Jihyo mendahuluimu untuk menikah?”

Ne, eomma… tidak masalah…”

“ Pernikahan ini konyol… pasti itu yang sedang kau pikirkan… memang kalau hanya urusan bisnis dan perusahaan pernikahan ini sangat konyol… tapi eomma dan appa tidak akan semudah itu meminta keluarga Lu menikahkan Luhan dengan Jihyo kalau tidak ada alasan yang cukup kuat di baliknya…”

Chanyeol mengerutkan keningnya, apa ibunya tahu apa yang sedang ia pikirkan? Mengapa kata-kata wanita itu seperti mengandung sesuatu?

Eomma dan appa hanya membantu Jihyo mendapatkan impiannya… memiliki Luhan… kau mungkin tidak terlalu tahu mengenai bagaimana sikap Jihyo saat ia SMA karena kau masih berada di luar negeri… adikmu sangat menyedihkan… merelakan pria yang ia sukai demi sahabatnya… kami hanya membantu Jihyo mengembalikan impiannya…”

“ Bagaimana kalau ternyata ada pria lebih baik dibandingkan Luhan? Jihyo tidak akan bahagia bersamanya…”

Chanyeol tidak mudah mempercayai kata-kata ibunya, tidak mungkin hanya alasan sesederhana itu. Kebahagiaan Jihyo? Bukannya malah ayah dan ibunya sekarang menjerumuskan Jihyo ke dalam penderitaan berkedok kebahagiaan? Chanyeol sama sekali tidak percaya, ia benar-benar yakin ada sesuatu di balik ini semua.

Sesuatu yang dengan jelas diketahui orang tuanya, namun ia tidak tahu. Sesuatu yang penting…

“ Kau tidak berniat menyusul Jihyo dengan segera menikahi Grace, kau sudah melamarnya kan?”

“ Bagaimana eomma bisa tahu?” Chanyeol membelalakkan matanya, bahkan ibunya mengetahui sampai hal-hal sekecil itu.

Eomma tahu lebih banyak dari apa yang kau rencanakan, Chanyeol-ah, kau sudah mengenalkannya pada kami tahun lalu saat kau pulang… mengapa tidak segera kau resmikan saja hubungan kalian ke jenjang yang lebih serius?”

“ Belum saatnya, eomma… aku dan Grace masih dalam tahap saling mengenal…”

“ Kau sudah mengenalkannya pada appa dan eomma, itu artinya kau serius kan…”

Ne, aku memang serius tapi…”

“ Chanyeol, seorang wanita pantas untuk dicintai dan dihormati…. Kalau kau tidak mencintai Grace… lepaskan dia…”

“…”

Eomma masuk dulu…”

Chanyeol terdiam mendengar perkataan ibunya. Ia yakin semua kata-kata wanita itu mengandung petunjuk. Tetapi petunjuk seperti apa?

Chanyeol memutuskan untuk masuk ke dalam gereja, berdoa akan membuatnya lebih tenang, di samping itu, ia memang seharusnya membantu persiapan pernikahan adiknya, bukannya malah merenung di depan sana.

“ Apa yang eomma ketahui dan tidak kuketahui?” gumam pria itu sebelum masuk ke dalam gereja.

***

“ Mungkin kau sangat terkejut melihat kehadiranku di sini… kau memang tidak mengirimkan undangan pernikahanmu padaku… kau sangat sombong ternyata… hahaha… padahal dulu kita pernah berjanji, jika suatu hari kau menikah, ataupun jika suatu hari aku menikah, kita akan sama-sama saling menjadi pengiring pengantin, tapi apa yang kudapati sekarang… kau akan menikah dan kau tidak mengirimiku undangan…”

Jihyo menelan salivanya, ia tidak tahu apa maksud kedatangan Heeyoung menemuinya saat ini. Gadis itu mulai gemetaran, rasa takut menghantuinya, kalau-kalau Heeyoung akan mengacaukan pernikahannya.

“ Tidak usah khawatir, nona Park, aku tidak akan mengacaukan pernikahanmu dan Luhan seperti yang kau pikirkan… aku tidak sejahat itu membuat orang tuamu malu, bagaimanapun juga mereka seperti orang tuaku sendiri, walaupun hubungan kita tidak sebaik dulu…”

“ Langsung saja, Heeyoung… katakan apa maumu sebenarnya…”

“ Aku hanya ingin mengucapkan selamat, sebagai mantan sahabatmu…”

Heeyoung berjalan mendekati Jihyo, langkahnya gemetar, ia mungkin sebentar lagi akan meneteskan air matanya, tapi ia tidak ingin kelihatan lemah di depan Jihyo.

“ Selamat atas pernikahanmu dan Luhan , semoga kau bisa menjaga suamimu dengan baik, sehingga aku memerlukan usaha merebutnya… karena seperti yang aku bilang, hyo… aku akan merebut Luhan… Merebut seseorang yang sejak awal memang milikku…”

Heeyoung mengambil cluthnya dan melangkah keluar dari kamar rias Jihyo, meninggalkan gadis itu yang langsung memasang senyumnya.

“ Cih, lakukan saja jika kau bisa Han Heeyoung…”

Jihyo memang pada awalnya masih memaklumi sifat Heeyoung yang tidak bisa menerima hubungannya dan Luhan tetapi sekarang ia akan menikah dengan pria itu, menurutnya sangat tidak pantas Heeyoung datang dan mengancamnya seperti itu, seolah-olah ia akan takut dan malah menjauhi Luhan, calon suaminya sendiri.

“ Aku tidak takut lagi, Heeyoung… kau sudah melewati batas kesabaranku untuk memaklumi sifatmu, aku tidak lagi mau berbuat baik padamu… sudah cukup… Luhan akan segera menjadi suamiku… aku tidak akan rela ia disentuh wanita lain selain diriku, memang dulu Luhan adalah milikmu dan aku hanya bisa menangis merelakannya… tapi sekarang dia adalah calon suamiku dan akan menjadi suamiku… hanya aku yang boleh berada di dekatnya dan kau hanyalah akan menjadi parasit yang mengganggu… parasit tak ubahnya hanyalah sebuah sampah… sampah sangat pantas untuk dibuang.”

***

Dentingan piano terdengar, lagu pujian dinaikkan, semua jemaat berdiri, pertanda bahwa upacara sakral itu akan segera dimulai. Pintu berbahan kayu itu dibuka, dengan anggun Jihyo berjalan melewati karpet merah bersama ayahnya. Di depan sana, Luhan berdiri membelakangi Jihyo, ia sangat gugup dan juga tidak bisa ia pungkiri sensasi rasa sakit mengepungnya di sana. Luhan bahkan tidak sanggup menoleh pada barisan jemaat yang hadir. Di mana ia bisa melihat Heeyoung berada di sana.

Luhan tidak akan setega itu melihat Heeyoung dengan tatapannya yang terluka tepat bertabrakkan dengan manik matanya. Rasanya ia ingin kabur dan membawa Heeyoung dari sana, tetapi ia tidak bisa. Ia tidak akan tega melihat ayah dan ibunya merasa sangat malu. Mendadak ia ragu, ia tahu pernikahannya tidak akan berjalan normal. Ia tidak bisa bersikap layaknya suami terhadap Jihyo, yang tidak dicintainya.

Luhan berbalik saat langkah Jihyo menaikki anak tangga pertama, ia segera memasang senyum terbaiknya walaupun penuh dengan kepalsuan.

“ Luhan, kuserahkan putriku, Park Jihyo, ke dalam tanganmu… berjanjilah untuk menjaganya selalu, mencintai seluruh baik dan buruknya, menjadikannya prioritas nomer satu bagimu dan setia padanya sampai akhir hayat memisahkan kalian.” Tuan Park menyerahkan tangan Jihyo pada Luhan dan disambut Luhan, ia membantu Jihyo naik agar berdiri di sebelahnya.

Ne, aboji, aku berjanji…” suara Luhan nyaris tenggelam, janji yang diucapkannya tanpa ikrar yang sesungguhnya.

“ Luhan dan Park Jihyo, hadirin yang berbahagia, hari ini kalian berdua datang ke hadapan Allah untuk memohon agar cinta kasih kalian berdua dikuduskan sebagai satu sakramen yang menandakan kehadiran kasih Tuhan di tengah keluarga yang akan kalian bangun bersama.” Sang Imam memulai upacara pernikahan itu, Luhan dan Jihyo menegang di tempat mereka masing-masing, Jihyo bahkan tidak berani menatap Luhan sedikitpun.

“ Sebelum pernikahan diresmikan, perkenankanlah saya menanyakan di hadapan para saksi, keikhlasan hati kedua mempelai… Saudara Luhan apakah sungguh dengan ikhlas hati saudara meresmikan perkawinan ini?

Luhan ragu-ragu, ia sudah mempersiapkan dirinya dengan baik untuk hari ini. Tetapi lidahnya terasa kelu untuk menjawab. Ia menarik nafas sebanyak mungkin sebelum memberanikan diri menjawab.

“ Ya, saya bersedia…”

“ Saudari Park Jihyo apakah sungguh dengan ikhlas hati saudari meresmikan perkawinan ini?”

“ Ya, saya bersedia…” Jihyo menjawabnya tanpa keraguan, seperti Luhan. Ia sudah yakin akan menjalani ini semua.

“ Bersediakah saudara berdua sepanjang hidup, cinta-mencintai, bantu-membantu dan hormat-menghormati?”

“ Ya, kami bersedia.”

“ Bersediakah saudara berdua menjadi Bapak Ibu yang baik bagi anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada saudara dan mendidik mereka menjadi orang Katolik sejati?”

“ Ya, kami bersedia.”

“ Sekarang tibalah saatnya meresmikan pernikahan saudara, saya persilahkan saudara berdua menumpangkan tangan kanan di atas kitab suci dan bergantian mengucapkan janji nikah.”

“ Dihadapan Imam dan Para Saksi, Saya, Luhan, menyatakan dengan tulus ikhlas bahwa Park Jihyo yang hadir di sini mulai sekarang ini menjadi istri saya. Saya berjanji setia kepadanya dalam untung dan malang dan saya mau menghormati dia seumur hidup.” Luhan mengucapkannya dengan suara yang bergetar, terdengar banyak keraguan, namun nada pasrah juga terpeta jelas di sana, seolah-olah ia harus mengucapkannya dengan segala keterpaksaan.

“ Di hadapan Imam dan Para Saksi, Saya, Park Jihyo, menyatakan dengan tulus ikhlas bahwa Luhan yang hadir di sini mulai sekarang ini menjadi suami saya. Saya berjanji setia kepadanya dalam untung dan malang dan saya mau mencintai dan menghormati dia seumur hidup.” Janji yang sama diucapkan Jihyo, kali ini benar-benar tanpa beban.

“ Atas nama Gereja Allah dan di hadapan para saksi serta hadirin sekalian, saya menegaskan bahwa pernikahan yang telah diresmikan ini adalah pernikahan yang sah menurut hukum Gereja Katolik. Semoga Sakramen ini menjadi sumber kekuatan dan kebahagiaan bagi kalian berdua, Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.”

“ Yang telah dipersatukan Allah, janganlah diceraikan oleh manusia.”

Setelah Imam berkata demikian, Jihyo dan Luhan segera berlutut, dan Imam merentangkan tangan di atas mempelai, para jemaat berdiri.

“ Saudara-saudara terkasih, marilah kita berdoa untuk kedua mempelai ini dan mohon berkat Allah bagi mereka. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya dengan murah hati.”

Para jemaat hening dan Imam melanjutkannya dengan doa untuk kedua mempelai. Selanjutnya petugas memberikan cincin kepada Imam, jemaat dipersilahkan duduk, Jihyo dan Luhan kembali berdiri, misdinar mengambil air suci.

“ Allah, sumber kesetiaan, berkatilah kedua cincin ini supaya menjadi lambang kesetiaan bagi Luhan dan Park Jihyo.” Imam memberkati dan memerciki cincin dengan air suci. Kemudian Imam menyerahkannya kepada Luhan.

“ Luhan, kenakanlah cincin ini pada jari manis istrimu sebagai lambang cinta kasih dan kesetiaan yang abadi.”

Dengan tangan gemetar Luhan mengambil cincin itu dari tangan Imam dan meriah tangan Jihyo, memasangkannya masih dengan tangannya yang bergetar hebat.

Setelah cincin dari Luhan terpasang pada jari Jihyo, Imam menyerahkan cincin pada Jihyo.

“ Park Jihyo, kenakanlah cincin ini pada jari manis suamimu sebagai lambang cinta kasih dan kesetiaan yang abadi.”

Jihyo meraih tangan Luhan dan memasangkan cincin itu di jari manis Luhan tanpa ragu-ragu, disertai sebuah senyuman, hanya Jihyo yang tahu makna senyuman itu. Luhan tidak membalasnya, ia malah segera menarik tangannya dari tangan Jihyo.

“ Semoga ikatan cinta kasih saudara berdua yang telah diresmikan dalam perayaan ini akan menjadi sumber kebahagiaan sejati.”

Setelah bertukar cincin, Jihyo dan Luhan, didampingi para saksi akan menandatangani surat nikah yang dibawa oleh salah satu petugas catatan sipil, yang mana ia juga menjadi saksi atas pernikahan Jihyo dan Luhan.

       (Sumber sakramen pernikahan : http://dinikawai.blogspot.com/2009/12/buku-panduan-sakramen-pernikahan.html)

Setelah melewati berbagai proses selanjutnya dari pemberkatan pernikahan  Jihyo dan Luhan. Luhan dan Jihyo akhirnya berjalan kelur dari gereja, bergandengan tangan, seolah menyambut kehidupan baru yang akan mereka jalani setekah mereka keluar dari sana. Diikuti orang tua Luhan, orang tua Jihyo, sanak saudara mereka dan satu per satu hadiri yang hadir ikut keluar dan memberikan selamat pada Jihyo serta Luhan.

Beberapa sahabat terdekat Luhan langsung menyerbu pria itu, memberikan ucapan selamat atas hari berbahagia milik Luhan dan Jihyo. Beberapa di antaranya meminta maaf karena nanti malam tidak bisa hadir pada resepsi karena tugas prasyarat UTS yang akan diadakan besok belum selesai mereka kerjakan.

Di sisi Jihyo, gadis itu hanya tersenyum getir karena tidak mengundang satupun teman pada pemberkatan pernikahannya. Dari kejauhan ia melihat Heeyoung dan Myungsoo berjalan menuju area parkir. Ia bisa merasakan sensasi aneh yang menyerbu dadanya tiba-tiba saat melihat kedekatan Myungsoo dan Heeyoung, ia merasa sakit, walaupun ia tahu, tidak seharusnya ia merasakan hal itu.

Yaa! Nae dongsaeng! Chukae… kau sudah menjadi seorang istri sekarang…” Chanyeol memeluk Jihyo, Jihyo segera membalas pelukan kakaknya itu. Setidaknya ia merasa senang karena ia sudah resmi menjadi istri Luhan mulai saat ini.

Ne, oppa… aku sangat bahagia…”

“ Syukurlah kalau kau bahagia, saeng…” Chanyeol melepas pelukannya, ia menatap manik mata Jihyo, terdapat kebahagiaan di sana, tak terkatakan, namun jelas tertera di sana.

Heeyoung melihat pemandangan kakak beradik itu dari jauh, Myungsoo sampai harus menghentikan langkahnya karena Heeyoung berhenti mendadak.

“ Ada apa?”

Myungsoo mengikuti arah pandang Heeyoung dan tatapannya terkunci pada Jihyo dan Chanyeol yang sedang bersenda gurau satu sama lain.

“ Jangan bilang kau sekarang melabuhkan rasa cintamu untuk Chanyeol hyung…”

“ Huh…” Heeyoung tersadar dari lamunannya.

“ Tidak, ayo kita pergi…” Heeyoung berjalan mendahului Myungsoo.

‘Chanyeol oppa, kau…belum berubah…’

Sebuah seringaian muncul di wajah Heeyoung…

***

Walaupun pernikahan Jihyo dan Luhan terkesan mendadak, dengan menyebar undangan seadanya, banyak tamu maupun rekan bisnis keluarga Lu dan Park yang datang setelah sebelumnya tersebar gosip, Jihyo hamil sehingga pernikahan mereka diadakan secara cepat dan terburu-buru. Namun gosip itu segera ditepis kedua pihak keluarga, sehingga tidak ada lagi kabar burung yang tersiar.

Woohyun melangkahkan kakinya masuk ke sana, dengan beberapa teman sekelasnya. Memang Luhan mengundang teman-teman satu kelasnya dalam resepsi pernikahannya. Walaupun memang pada kenyataannya ia tidak mencintai Jihyo, berita pertunangannya tersebar di mana-mana, Luhan akan menjadi sangat tidak enak, jika ia tidak mengundang teman-teman sekelasnya.

Pria itu terpaku memandang foto-foto pra-wedding yang tersebar di sepanjang lorong yang berada sebelum sampai pada ballroom tempat diadakannya pesta resepsi Luhan dan Jihyo.

“ Park Jihyo… jadi… Jihyo yang ini yang menikah dengan Luhan…” Woohyun tidak dapat menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Pria itu bahkan harus mengucek matanya beberapa kali agar ia yakin kalau ia tidak berhalusinasi.

YAA! Kau memandang foto itu dengan sangat serius, istri Luhan memang cantik… luar biasa, Luhan pria yang beruntung, setelah sebelumnya berhasil mendapatkan Heeyoung…”

Tao, salah satu sahabat Luhan yang datang ke sana bersama Woohyun, segera menepuk pundak pria itu dan dibalas Woohyun dengan cengiran.

Ne, dia sangat beruntung…”

“ Kasihan Luhan, sebenarnya ia sangat mencintai Heeyoung, ia dan Jihyo menikah karena dijodohkan… huft, Heeyoung dan Luhan sangat cocok, sayang sekali kisah cinta mereka harus berakhir seperti ini.”

Woohyun menoleh, ia terkejut mendengar pernyataan dari Tao, pantas saja Heeyoung nekat berada tetap di sebelah Luhan, karena memang satu-satunya gadis yang dicintai Luhan hanyalah Heeyoung, bukan Jihyo. Perlahan-lahan ia mulai mengerti keputusan Heeyoung, walaupun ia masih merasa ada yang salah dengan gadis itu.

“ Ayo kita masuk…” Tao merangkul Woohyun dan membawa pria itu masuk ke dalam ballroom yang didominasi warna putih gading, peach, dan cokelat serta sentuhan aksen berwarna abu-abu pada karpetnya.

op

“ Selamat malam tuan, nyonya, dan hadirin yang saya hormati, marilah kita semua bangkit berdiri dan kita sambut mempelai yang paling berbahagia hari ini… Luhan dan Jihyo…”

Begitu Woohyun dan Tao masuk, suara MC yang menggema semakin meriuhkan suasana karena sebantar lagi Luhan dan Jihyo akan masuk ke dalam ballroom. Pertama-tama yang masuk adalah iring-iringan bridemaids, kemudian dilanjutkan dengan orang tua Luhan, orang tua Jihyo, dan Chanyeol, sebagai kakak kandung Jihyo, kemudian yang terakhir masuk barulah Jihyo dan Luhan.

Gaun yang dikenakan Jihyo sekarang sudah berbeda dengan yang dikenakannya saat pemberkatan pernikahannya tadi. Memang ia menggunakan dua buah gaun untuk pernikahannya. Gaun yang digunakannya sekarang tidak sesederhana saat pemberkatan tadi pagi. Seluruh mata tertuju padanya, decak kagum terdengar di mana-mana, gadis itu tersipu malu. Ia mengeratkan pegangannya pada Luhan, gaunnya memang tidak seberat gaun pra-wedding-nya tapi gaun ini cukup menyulitkan langkahnya, kalau ia tidak berhati-hati, ia akan terjatuh akibat gaunnya sendiri.

opp

Di sisi lain, Heeyoung dan Myungsoo baru tiba setelah Luhan dan Jihyo naik ke pelaminan mereka. Heeyoung memandang dengan tatapan iri bagaimana Jihyo terlihat sangat cantik di sana. Pertahanannya hampir runtuh, ia menggigit bibir bawahnya, merasa seolah-olah sekarang ia dipercundangi oleh takdir.

“ Silahkan bagi anda para tamu undangan sekalian, jika anda ingin memberikan selamat kepada Jihyo dan Luhan, anda bisa mengambil jalur di sebelah kiri…”

“ Myung, ayo kita berikan selamat pada mereka.” Suara Heeyoung tenggelam di antara semarak lautan manusia yang berada di sana. Suara-suara obrolan dan gelak tawa. Mungkin hanya ia sendiri yang bersedih di antara orang-orang yang bahagia di sini.

“ Kau yakin?” sepertinya pertanyaan ini harusnya ditujukan pada dirinya sendiri, karena nyatanya ia juga sama seperti Heeyoung, merasa hancur, dan ia harus menata hatinya, mempersiapkan kemungkinan terburuknya, terlihat menyedihkan di depan Jihyo.

Ne, ayo…” Heeyoung menggamit lengan Myungsoo dan berjalan penuh keyakinan ke arah antrian orang-orang yang ingin mengucapkan selamat kepada Jihyo dan Luhan.

Setelah hampir lima belas menit berjalan, akhirnya Heeyoung berhadapan dengan ayah Luhan. Pria itu tersenyum padanya, memang Heeyoung saat masih menjadi kekasih Luhan, cukup dekat dengan keluarga Luhan, termasuk ayah dan ibu pria itu. Hanya saja sejak Luhan dijodohkan dengan Jihyo, tiba-tiba, secara mendadak ibu Luhan menjadi memusuhinya.

Setelah bersalaman dengan ayah Luhan, tiba-tiba ibu Luhan memeluknya dan membisikkan sesuatu kepadanya.

“ Kau berani juga datang ke sini, tidak kusangka… tapi aku patut memuji keberanianmu, Han Heeyoung…”

Heeyoung hanya membalasnya dengan senyuman yang tak kalah sinis dengan senyuman yang diberikan Nyonya Lu.

Orang selanjutnya adalah Luhan, Heeyoung berusaha menormalkan ekspresinya. Ia menjabat tangan Luhan. Luhan terkejut melihat kehadiran Heeyoung, ia berusaha menyembunyikan perasaannya, ia mati-matian berusaha menolak sesuatu dalam dirinya yang menuruhnya membawa Heeyoung kabur dari sini. Logikanya masih berjalan untuk tetap berada di sana, meladeni seluruh tamu ayah ibunya dan juga mertuanya.

“ Selamat, Luhan…” Heeyoung menarik paksa tangannya dari tangan Luhan karena tampaknya Luhan enggan melepaskan tangannya.

Heeyoung menyalami Jihyo dengan singkat, ia berusaha terlihat netral, sementara Jihyo hanya membalas senyuman yang diberikan Heeyoung dengan terpaksa. Jujur ancaman gadis itu tadi pagi masih membekas di ingatannya.

“ Heeyoung-ah… terima kasih sudah datang…”

Tuan Park memeluk Heeyoung yang sudah seperti anak kandungnya sendiri karena Jihyo dan Heeyoung bersahabat sangat dekat. Heeyoung hanya tersenyum, sementara Nyonya Park gantian memeluknya. Nyonya Park, bahkan bisa merasakan rasa sakit yang diderita Heeyoung. Tatapan mata Nyonya Park mengisyaratkan maaf, namun Heeyoung hanya tersenyum.

Sementara Myungsoo yang berhadapan dengan Jihyo, hanya memberikan ucapan selamat, namun tidak dapat dipungkiri tangannya gemetar saat bersalaman dengan Jihyo, seluruh rasa sakitnya tumpah ruah di sana.

“ Kim Myungsoo, kapan kau pulang, nak?”

“ Belum lama ini, ahjussi…” Myungsoo tersenyum hormat pada Tuan Park, sementara pria itu tidak menyangka kalau Myungsoo sudah pulang setelah sekian lama menghilang. Sementara Jihyo sama sekali tidak memberitahu orang tuanya.

Ekspresi Nyonya Park tidak jauh berbeda dengan Tuan Park menanggapi kedatangan Myungsoo. Wanita itu bahkan tidak segan-segan memeluk Myungsoo dan Myungsoo membalas pelukan wanita itu.

Tanpa banyak kata-kata, Myungsoo menyusul Heeyoung yang sudah menunggunya di tangga bawah. Heeyoung bahkan tanpa ragu menggamit lengan Myungsoo di hadapan banyak teman sekelasnya yang diundang Jihyo. Beberapa di antara mereka memandang Heeyoung dengan sengit yang hanya dibalas tatapan yang tak kalah sengitnya oleh Heeyoung.

“ Myung, aku mengambil minum di sebelah sana dulu…” Heeyoung melepaskan genggaman tangannya pada lengan Myungsoo dan meninggalkan pria itu sendirian.

Yaa!” Woohyun menepuk pundak Myungsoo, pria itu menoleh dan tersenyum.

“ Mengapa kau tidak pernah bercerita kalau pacar si Heeyoung itu adalah calon suami dari Jihyo?!” Woohyun berbisik, sebagai teman Myungsoo sejak SMP, ia tentu juga mengenal Jihyo dengan baik. Bahkan ia tahu bagaimana hubungan Myungsoo dan Jihyo sebenarnya.

“ Memangnya kenapa?” Myungsoo membalas, berusaha kelihatan santai.

“ Kau sudah tidak ada perasaan padanya?”

“ Bisa dibilang begitu…”

“ Kau tidak pernah bisa berbohong, Myungsoo… kau harusnya merebut Jihyo sejak awal… Tsk…”

“ Sudahlah, mungkin ini jalan takdirku…” Myungsoo mencoba menenangkan hatinya yang tidak karuan.

“Kalau ia memang jodohmu, kau akan mendapatkannya kembali, Myungsoo…” Woohyun berusaha menghibur Myungsoo, walaupun ia tahu kata-kata penghiburan saat ini tidak ada artinya.

***

“ AAH!”

Heeyoung terkejut saat seseorang dengan sengaja menyenggol tubuhnya sehingga gaun hitam yang digunakannya saat ini basah dengan air putih yang baru diminumnya satu teguk. Untung saja ia memilih air putih dan bukannya minuman lain yang akan membuat gaun mahalnya rusak dan juga sepanjang pesta ini ia akan merasa malu karena gaunnya yang berbauh aneh.

“ Ups, maaf…” Jiyeon dengan sengaja berdiri di depan Heeyoung, gadis itu memasang senyuman sinisnya.

“ Tidak apa-apa, aku tahu harusnya kau memakai kacamata karena penglihatanmu kabur…” Heeyoung menyunggingkan senyumannya sebelum memutuskan berlalu dari sana. Jiyeon menahan tangan Heeyoung.

“ Kurasa saat ini kau tidak lagi berkuasa, nona Han…”

“ Terserah apapun yang akan kau katakan aku tidak peduli…”

“ Huh… buktinya kau tidak tahu apa-apa kan…”

“ …”

“ Kalaupun aku memberitahumu sekarang, kau juga tidak akan melakukan apapun, wahh sekarang Han Heeyoung berubah menjadi baik rupanya… kau ingin menarik perhatian Luhan lagi? Huh… terlambat… lihatlah ia tampak serasi dengan Jihyo, kau jangan pernah bermimpi…”

“ Nona Park Jiyeon, sepertinya anda belum puas…” Myungsoo dengan tiba-tiba muncul di sebelah Heeyoung, membuat Jiyeon terpaku.

“ Kim seongsaenim, apa maksud anda?”

“ Setelah menaruh bangkai di loker Heeyoung dan merusak mobilnya… kau mau mempermalukan Heeyoung di sini?”

Jiyeon tersentak sementara Heeyoung tampak tidak peduli, memang kejadian dua minggu yang lalu itu terkadang masih membekas di dingatannya, bagaimana darah tikus itu mengotori setiap sudut lokernya sampai harus mengajukan surat izin pindah loker. Karena loker lamanya walaupun sudah dibersihkan tetap masih menimbulkan bau dan trauma tersendiri.

“ Hukumanmu akan diumumkan besok, Jiyeon… sebaiknya kau berhati-hati…” Myungsoo segera menarik Heeyoung dari sana sementara Jiyeon memandang kepergian mereka berdua dengan tatapan benci.

***

Heeyoung melangkah menuju ballroom, sebenarnya ia sudah malas kembali ke dalam dengan bajunya yang masih basah, hanya saja ia ingin menikmati pernikahan Luhan sampai akhir, sekaligus menjaga kalau-kalau Luhan sudah berubah menjadi lebih dekat dengan Jihyo.

Tatapan matanya tertuju pada foto-foto pra-wedding yang terpajang di sepanjang lorong menuju ballroom, tadi saat datang ia terlalu terburu-buru sehingga tidak sempat melihat foto-foto itu.

Ada beberapa foto yang menarik perhatian Heeyoung, ia tahu Luhan masih sepenuhnya adalah miliknya, tetapi entah mengapa melihat kemesraaan mereka berdua dalam foto-foto pra-wedding itu mengubah persepsi Heeyoung pada hubungan keduanya.

Ia merasa perlahan tapi pasti Luhan sudah mulai bisa menerima kehadiran Jihyo, walaupun senyuman terpaksa tidak dapat dipungkiri oleh pria itu, tetapi Heeyoung sudah bisa melihat adanya ketulusan dalam tatapan mata Luhan. Hal itu tentu saja sangat mengganggunya, ia mulai mempertanyakan keseriusan Luhan. Sekarang ia bahkan mengusap cincin pemberian Luhan.

“ Mereka tampak serasi, itu kan yang dikatakan banyak orang…”

Myungsoo muncul di sebelah Heeyoung dan ikut mengomentari foto pra-wedding Luhan dan Jihyo, semakin menambah sengsara Heeyoung yang dalam hati mengakui hal yang sama.

Ne, mereka memang serasi…”

“ Lalu kalau kau sudah tahu mereka secocok itu, apa kau masih akan tetap nekat berada di sebelah Luhan?”

Ne, tentu saja, Luhan sudah berjanji akan terus berada di sampingku…”

“ Cinta bisa tumbuh kapan saja, mungkin Luhan sudah berjanji akan terus berada di dekatmu, tapi siapa yang bisa mengira apa yang terjadi nantinya… bagaimana jika Luhan telah benar-benar jatuh cinta pada Jihyo…”

“ Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan? Bukankah kau juga masih berharap Jihyo kembali padamu?”

“ Aku memang selalu berharap hal itu akan terjadi, tetapi aku juga bersiap-siap untuk kemungkinan yang terburuk, di saat mungkin Jihyo tidak akan kembali lagi padaku…”

“ Putus asa adalah sifat pengecut, Kim Myungsoo… aku tidak akan berputus asa, Luhan adalah takdirku… aku telah mempertahankannya sampai sejauh ini…”

“ Nyatanya kau tetap kalah, Han Heeyoung, Luhan tetap menikah dengan Jihyo…”

“ Apa maksudmu sebenarnya?”

“ Aku hanya berusaha memperingatimu, aku tidak mau kau hanya berdiam dan berharap pada sesuatu yang belum tentu bisa menjadi nyata…”

“ Aku sama sekali tidak mengerti, kau bilang kau mencintai gadis itu, Park Jihyo… tapi kau semudah ini melepaskannya, apa itu yang namanya jatuh cinta? Kau yakin?” Heeyoung melangkah meninggalkan Myungsoo.

Pria itu menatap ekspresi senang Jihyo pada setiap foto pra-wedding-nya dan Luhan, ia merasa kalah. Walaupun mungkin yang dikatakan Heeyoung ada benarnya, ia tetap merasa bahwa Jihyo semakin jauh dari genggamannya.

“ Hyo-ah, suatu saat nanti jika kau telah benar-benar lelah bersamanya, ketahuilah bahwa aku akan tetap di sini…”

***

“ Para hadirin sekalian, saat ini adalah waktunya untuk acara dansa, bagi anda sekalian yang ingin berdansa, silahkan turun ke lantai dansa yang ada di sebelah kanan ruangan.”

Luhan berjalan sendirian, meninggalkan Jihyo yang sedikit kesulitan dengan gaunnya. Pria itu bahkan tak tampak peduli pada gadis yang baru resmi menjadi istrinya kurang dari satu hari. Tentu saja hal itu menarik perhatian beberapa tamu yang melihatnya, mereka langsung membicarakan hal itu, dan membuat Jihyo terpaksa membungkukkan badannya kepada mereka, sambil menahan malu. Ia mempercepat langkahnya dan berhasil menyusul Luhan, Jihyo menarik tangan pria itu.

“ Tidak bisakah, setidaknya hanya di depan para tamu, kau bersikap baik padaku?” Jihyo berbisik, memaksa Luhan tetap berada di sampingnya.

Luhan menurut, ia berusaha  tetap berada di sebelah Jihyo, memasang senyum palsu, dan berjalan beriringan sambil menyapa rekan dan kerabat orang tua mereka. Sampai tatapan mata Luhan terkurung pada satu titik, di mana Heeyoung berdiri sendirian. Dengan sedikit hentakkan Luhan segera melepaskan tangannya dari tangan Jihyo dan berjalan mendekati Heeyoung.

“ Nona manis, mau berdansa denganku?” Luhan mengulurkan tangannya ke hadapan Heeyoung, gadis itu tersentak, ia segera menoleh dan memandang Luhan yang tengah berdiri di sampingnya.

Sure, please…”

Luhan segera menarik Heeyoung ke arena dansa, dan bergabung dengan belasan pasangan lainnya. Sontak hal itu membuat beberapa orang langsung membicarakannya. Betapa romantisnya Heeyoung dan Luhan, betapa cocoknya mereka, dan betapa mereka sangat membuat iri. Hal yang ganjil karena itu terjadi saat pernikahan Luhan yang seharusnya ia bermesraan seperti itu hanya dengan Jihyo, pengantinnya.

Dari kejauhan, Nyonya Lu memandang itu semua dengan tatapan benci yang tidak bisa ia sembunyikan. Berani sekali gadis itu merusak pesta pernikahan Luhan dan Jihyo. Ia mengepalkan tangannya.

“ Tenanglah, Heera…”

Nyonya Lu segera menoleh dan melihat besannya itu hanya terlihat biasa saja, tidak sedikitpun merasa marah.

“ Bagaiman aku bisa tenang, Saeri-ah? Kau lihat putrimu itu… Dia tampak menyedihkan, berdiri di sana sementara Luhan dan perempuan itu!”

“ Aku yakin Jihyo baik-baik saja…” Nyonya Park melihat putrinya yang sedang memandang Luhan dan Heeyoung dari kejauhan dengan tatapan iri yang kelewat jelas. Lalu tidak lama kemudian seseorang mendekati Jihyo dan berbincang dengan gadis itu.

“ Kim Myungsoo, kapan dia kembali?”

“ Kau kenal dengan pria itu?”

“ Tentu saja, dia adalah cinta pertama Jihyo… dia sudah lama menghilang, sayangnya sekarang dia kembali di saat yang tidak tepat.”

“ Huh… cinta pertama ya…”

“ Tenang saja, Heera, putriku tidak akan mengkhianati Luhan… tapi Kim Myungsoo, pria itu yang harusnya kau khawatirkan merusak pernikahan Luhan dan Jihyo, bukannya Han Heeyoung…”

“ Berbicara soal pria bernama Kim Myungsoo itu, aku punya sesuatu yang menarik tentangnya…”

“ Apa?”

***

“ Kau tidak takut akan merusak pernikahanmu sendiri, Lu? Kau berdansa denganku bukan dengan Jihyo…”

Luhan menarik tubuh Heeyoung dan membuat gerakan memutar sebelum Heeyoung kembali jatuh dalam pelukannya. Betapa pria itu terlalu kecanduan dengan aroma tubuh Heeyoung yang sekarang menggelitik indera penciumannya.

“ Tidak, mereka harusnya tahu kalau kau adalah gadis yang aku cintai… aku tidak ingin berpura-pura lebih banyak… aku lelah…”

“ Tapi nyatanya kau sudah menikah dengannya, Luhan…” Heeyoung menyeimbangkan langkahnya dengan langkah kaki Luhan, mereka berdansa diiringin musik waltz yang terdengar lembut dan memabukkan.

Ia bahkan bisa melihat beberapa pasang mata menghujamnya dari segala sisi. Ia tahu ia pasti akan mendapat hujatan saat masuk besok pagi, karena banyaknya orang yang tidak menyukainya, terutama ketika ia dekat dengan Luhan.

“ Berapa kali harus kubilang padamu? Walaupun aku sudah menikah, cintaku tidak akan pernah luntur padamu, Heeyoung… aku mencintaimu…”

Kata-kata itu adalah mantra sihir yang paling mujarab, mampu menenangkan hati yang gelisah, fatamorgana di tengah gurun pasir, setitik air pada kekeringan yang menyakitkan. Namun Heeyoung tidak lagi bisa percaya sepenuhnya, haruskah ia bertindak egois dengan benar-benar merebut Luhan dari Jihyo?

“ Bukankah mengatakan sesuatu jauh lebih mudah dari melakukannya Luhan? Aku ingin sekali percaya tapi…”

Luhan mendekatkan tubuhnya pada tubuh Heeyoung, mengunci pergerakan gadis itu. Heeyoung terperangah, ia berusaha menjauhkan tubuh Luhan, namun pesona pria itu tidak bisa dihindarinya. Luhan mendekatkan wajahnya pada wajah Heeyoung, otomatis gadis itu memejamkan matanya. Luhan mendaratkan bibirnya di sana, di bawah tatapan ribuan orang yang ada di pesta itu. Bahkan beberapa pasangan yang berada di sebelah Luhan dan Heeyoung, sontak menghentikan dansa mereka.

Mereka berdecak, penuh keheranan dan rasa marah, entah ditujukan untuk siapa, karena nyatanya Luhan tidak melepaskan ciumannya dari Heeyoung barang sedetikpun. Orang tua Luhan dan Jihyo memekik terkejut, Nyonya Lu hampir melangkahkah kakinya ke area dansa hanya saja Nyonya Park melarangnya.

“ Jaga emosimu, kau hanya akan semakin memperburuk keadaan kalau kau memutuskan ke sana…” Nyonya Park melepaskan genggaman tangannya.

Sementara di sisi lain, Jihyo meremas gaunnya, semua emosi bertumpu di sana, tidak cukupkah Luhan membuatnya malu berkali-kali karena sikap cuek pria itu? Lalu sekarang ia harus mempertegasnya dengan mencium Heeyoung di pesta pernikahan mereka sendiri?

“ Jangan melihat ke arah sana…” Myungsoo segera memeluk Jihyo dan menenggelamkan kepala gadis itu di dadanya. Untunglah mereka berada di balkon yang sepi dari tamu undangan, dan untungnya lagi pesta pernikahan Jihyo dan Luhan tertutup dari media. Tidak seperti pesta pertunangan mereka yang fantastis, pesta pernikahan mereka lebih private. Sehingga tindakan Myungsoo kali ini bisa dibilang aman karena hanya mereka berdua yang tahu.

Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang terus menatap mereka sejak tadi… tatapan penuh kecemburuan…

***

Noona, kau luar biasa… kau baru saja pulang tadi sore dan memutuskan untuk ke sini.” Sehun berjalan berdampingan dengan seorang wanita anggun, jangan lupakan postur tubuhnya yang mengangumkan. Tentu saja karena wanita itu berprofesi sebagai model taraf international yang mulai merambah ke dunia akting film layar lebar.

“ Tentu saja, aku juga ingin datang ke pesta pernikahan calon adik iparku…”

Setelah melewati lorong yang mulai dipadati beberapa tamu yang ingin pulang, Sehun dan Gracelyn Oh, nama gadis itu, akhirnya masuk ke dalam ballroom yang masih dipenuhi banyak tamu undangan. Beberapa diantara mereka mulau menggosip terutama karena kenekatan Luhan yang mencium Heeyoung diantara banyaknya tamu dan di pesta pernikahannya sendiri.

“ Kita berpencar…” Grace segera melangkah menuju satu titik di mana ia bisa menemukan tunangannya di sana. Mata tajam gadis itu segera menangkap objek yang dilihat oleh Chanyeol. Tetapi gadis itu hanya tersenyum sinis.

“ Sayang…” Chanyeol terperangah saat tangan seorang gadis tiba-tiba menahan lengannya. Sekaligus menahan langkahnya untuk mendekati Jihyo dan Myungsoo yang masih berpelukan.

“ Grace… kapan kau tiba di Seoul?”

“ Tadi sore… Sehun mendapat undangan pernikahan Jihyo karena appa yang menyuruhnya mewakili appa yang tidak bisa datang hari ini… lalu aku sengaja pulang hari ini… sebagai kejutan…”

“ Ini memang kejutan, Grace… Ingin berdansa denganku?” Chanyeol berusaha mengalihkan perhatiannya dengan mengajak kekasihnya masuk ke dance floor.

“ Tentu saja…” Grace menyambut tangan Chanyeol dan mengikuti langkah pria itu sampai ke lantai dansa.

Di sana, mata Grace bertubrukkan dengan mata Heeyoung. Grace melemparkan senyumkan terbaiknya pada gadis itu, namun tatapan matanya menyimpan sesuatu.

Heeyoung merasa diperhatikan oleh seseorang, gadis itu segera menoleh, matanya bertabrakkan dengan tatapan mata Grace yang seolah sedang mengintimidasinya. Heeyoung tidak pernah melihat gadis itu sebelumnya, sepertinya gadis itu adalah kekasih Chanyeol tetapi mengapa gadis itu harus melihatnya dengan tatapan yang demikian.

“ Ada apa, hee?”

Aniya… Lu, bisakah kita keluar dari sini? Sepertinya aku merasa sedikit pusing…”

Luhan menurut, ia segera menuntun Heeyoung keluar dari dance floor sementara beberapa pasangan lain baru masuk ke area dansa. Luhan mengambil segelas air putih dan memberikannya pada Heeyoung yang sedang bersandar di samping pintu yang menuju ke Family’s Corner.

“ Sudah merasa lebih baik?”

“ Lu, sebaiknya kau mencari Jihyo… sudah cukup aku merusak pesta pernikahanmu… kurasa aku akan pulang sebentar lagi…”

“ Hee, aku melakukannya untuk membuktikan kalau aku serius dengan perkataanku… kau belum percaya?”

“ Bukan, Lu, kurasa memang aku harus pulang… aku akan mencari Myungsoo dan sebaiknya kau mencari Jihyo…”

“ Baiklah… sampai bertemu besok, sayang…” Luhan mendaratkan ciuman di kening Heeyoung dan segera berlalu dari hadapan gadis itu.

Heeyoung baru saja akan melangkah pergi sebelum dirinya dikejutkan sesosok pria yang muncul tiba-tiba di hadapannya.

“ Lama tidak bertemu, Heeyoung…”

“ Oh Sehun… bagaimana kau bisa hadir di sini?”

***

Tidak banyak waktu yang dibutuhkan Luhan untuk menemukan Jihyo, gadis itu sedang bersama dengan pria yang tidak lain adalah Myungsoo, Luhan harusnya sudah bisa menduga. Kalau Myungsoo yang akan menghibur Jihyo, tetapi pemandangan ini, di mana Jihyo dan Myungsoo berpelukan, membuatnya tidak nyaman. Mungkin karena Jihyo adalah istrinya sekarang, bagaimanapun ia menyangkal keadaan ini. Harusnya memang ia tidak membiarkan Jihyo bersama pria lain, di pelukan pria lain.

“ Jihyo…”

Gadis itu menoleh dan segera melepaskan rangkulan Myungsoo di tubuhnya. Ia merasa tertangkap basah, namun seharusnya Luhan tidak marah karena pria itu bahkan melakukan hal yang lebih menyakitkan dari sekedar yang ia lakukan bersama Myungsoo.

“ Sebentar lagi waktunya foto… sebaiknya kita bersiap-siap…” Luhan meraih tangan Jihyo dan menariknya sedikit keras dari sebelah Myungsoo.

“ Dan kau… sebaiknya segera pulang… Heeyoung menunggumu…”

Setelah mengatakan hal itu, Luhan segera merangkul Jihyo dan membawanya pergi. Tindakan sederhana itu ternyata tidak membuat Jihyo merasa senang, dengan paksa ia melepaskan rangkulan Luhan dan berjalan mendahului pria itu.

Membuat Luhan entah mengapa merasakan sensasi aneh yang cukup membuatnya gelisah…

***

“ Kukira kau akan pingsan lagi… bahkan koma…ternyata prediksiku salah…”

Heeyoung mencubit lengan Myungsoo dan membuat pria itu tertawa. Ia hanya berusaha menggoda Heeyoung karena sepertinya mood gadis itu sedang baik.

“ Malahan tadinya kukira kau akan langsung mati, karena melihat Jihyo bersama Luhan…” Heeyoung tersenyum sinis.

“ Kurasa aku tahu apa penyebabnya… itu semua karena Luhan tadi menciummu kan. Wah… Wah… Wah… aku tidak tahu ia akan senekat itu…”

“ HUH… kau iri?”

Heeyoung, tidak bisa ia pungkiri, merasa senang, atas perbuatan Luhan yang sebenarnya kelewatan karena ia melakukan itu di acara pernikahannya sendiri tapi ia juga merasa kecewa karena ciuman Luhan terasa penuh nafsu bukan penuh cinta. Ada yang berbeda dari diri Luhan saat ini, entah apa.

“ Tidak, untuk apa aku iri?”

“ Aku tidak merasa senang, aku tidak sepantasnya melakukan hal itu… bagaimanapun juga Jihyo masih sahabatku, walaupun aku tidak bisa seperti dulu dengannya…”

“ Syukurlah kalau kau sadar… memang ada baiknya kita mulai menjaga jarak… tapi aku akan terus melihat bagaiman sikap Luhan terhadap Jihyo, jika Luhan masih terus menyakiti gadis itu, aku tidak akan segan untuk merebutnya…”

“ Kau berkata seolah-olah, akulah sumber masalahnya…”

“ Huh?”

“ Luhan bersikap seperti itu pada Jihyo karena aku… karena dia mencintaiku… jadi secara tidak langsung aku yang menyakiti Jihyo… lagipula aku tidak pernah marah jika Jihyo mencintai kekasihku sendiri… cinta bisa datang pada siapa saja dan di mana saja… aku hanya kecewa karena dia berbohong padaku… ini terlalu menyakitkan… dengan mudahnya ia menerima perjodohannya dan Luhan tanpa memikirkan bagaimana aku selanjutnya…”

Myungsoo terdiam, ia mengakui apa yang dikatakan Heeyoung ada benarnya. Ia juga merasa kalau sebenarnya Heeyoung tidak seperti apa yang selama ini orang katakan tentangnya.

“ Apa yang akan kau lakukan pada Jiyeon?”

“ Aku sudah melaporkannya pada rektor… sepertinya gadis itu dilarang mengikuti UTS…”

“APA? Tidak… jangan… maksudku… hal itu kan sudah berlalu… aku memang dendam dan kesal padanya, tapi aku tidak setega itu membuatnya tidak lulus satu semester…”

“ Jadi, kau mau hukumannya dicabut?”

“ Bisa dibilang begitu…”

“ Kau yakin?”

Ne, tolong yaa Kim seongsaenim…”

Myungsoo tersenyum dan mengacak-acak rambut Heeyoung, membuat gadis itu protes tetapi dalam hati ia cukup mengangumi Heeyoung. Perlahan gadis itu berubah, menjadi jauh lebih baik dan itu membuat dirinya juga ikut merasa nyaman berada di sebelah gadis itu.

***

Jihyo melangkah ragu-ragu mendekati Luhan yang sudah berbaring di tempat tidurnya. Memang kemarin Nyonya Lu sudah melakukan perombakkan besar-besaran pada kamar Luhan, termasuk mengganti tempat tidur dan lemari di kamar pria itu, bahkan mencopot semua poster MU di kamar Luhan dan pria itu tidak protes, terlalu malas berdebat dengan ibunya.

Pesta mereka sudah berakhir dua jam yang lalu, Jihyo dan Luhan sudah sampai di rumah keluarga Lu, satu jam yang lalu. Sekarang Jihyo berdiam diri, tidak berani merebahkan dirinya di sebelah Luhan. Masih canggung walaupun ia sudah resmi menjadi istri Luhan.

“ Tidurlah, aku tidak akan melakukan apa-apa padamu…” Luhan berbicara pada Jihyo dengan mata terpejam. Gadis itu terkejut… namun ia segera merebahkan dirinya di sebelah Luhan.

“ Aku seharusnya meminta maaf padamu, Jihyo, aku telah merusak pesta pernikahan kita…”

Jihyo tersenyum kaku, ia memang masih marah karena Luhan dengan mudahnya melakukan itu di saat ia mati-matian menjaga image keluarganya dan Luhan karena ia sendiri sejujurnya merasa cukup tersiksa dengan sikap Luhan padanya.

Namun pengakuan Luhan, membuatnya merasa lega…

“ Aku tahu…aku menganggap hal itu wajar, karena kau belum bisa menerimaku…”

“ Seberapa dekat hubunganmu dengan Myungsoo?”

“ Sekarang hanya sebatas teman, ada apa?” dalam hati Jihyo berharap Luhan cemburu namun nyatanya Luhan hanya diam.

“ Tidak, sebaiknya kau menjaga jarak… aku tidak mau banyak yang berbicara yang tidak-tidak tentangmu…”

Mendadak Jihyo bangkit dari posisi tidurnya, ia sejujurnya merasa kecewa, lalu bagaimana dengan Luhan? Bukankah pria itu juga melakukan hal yang lebih parah? Kenapa Luhan terdengar sangat egois.

“ Lalu bagaimana denganmu?”

“ Aku… cukup aku yang dinilai brengsek… jangan sampai kau merusak image-mu demi membalas dendam padaku…”

Jihyo cukup terkejut, ia tidak menyangka, Luhan akan memikirkan reputasinya, ia harusnya merasa senang, tetapi ia tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya.

“ Sebaiknya kau tidak melakukan itu… aku bisa mengurus diriku sendiri.” Jihyo berbaring memunggungi Luhan, setetes air mata mengalir membasahi pipinya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi dalam hidupnya nanti, sekarang saja, di hari pertama mereka resmi menjadi sepasang suami istri, Luhan sudah mempermalukannya, bagaimana hari-hari nanti?

***

“ HAH! Aku bisa gila! Bagaimana mungkin dosen itu memberikan soal sedemikian sulitnya… tidak sesuai dengan kisi-kisi… ini menyedihkan…”

Seulra mengoceh tanpa henti, padahal ia semalaman sudah belajar demi ujian Pengantar Arsitektur yang menjadi pembuka di hari pertama UTS mereka, sedangkan Heeyoung malah belajar setengah-setengah karena sibuk datang ke acara pernikahan Luhan.

“ Sudahlah, hari ini kan sudah berlalu, masih ada besok… ujian Metodologi desain… soalnya jauhhh lebih sulit, lebih baik kita pulang dan belajar…” Heeyoung cukup pasrah menerima hasil ujiannya yang tidak maksimal nanti, tapi setidaknya ia sudah belajar.

“ HAN HEEYOUNG!”

Heeyoung menoleh dan mendapati seseorang berlari ke arahnya.

Ne, Jangmi, ada apa?

“ Kau dipanggil oleh Hwang seongsaenim di ruang dosen, sekarang…”

“ Ah begitu, baiklah, terima kasih…”

Setelah Jangmi berlalu, Seulra segera menahan tangan Heeyoung, sebelum gadis itu pergi.

“ Mau kutemani? Sepertinya gadis itu menyimpan sesuatu, terlihat jelas di matanya…”

“ Sudahlah tidak usah, kau duluan saja, siapa tahu Hwang seongsaenim lama… kau jangan curiga berlebihan… sudah ya, annyeong…” Heeyoung segera berlari menyusuri koridor sepi di sepanjang ruang dosen. Hanya ada beberapa mahasiswa yang sedang berjalan keluar dari kelas mereka masing-masing.

Tiba-tiba sebuah tangan menariknya, Heeyoung terperangah, namun dengan cepat seseorang lagi menutup mulutnya. Mereka menyeret Heeyoung dengan paksa ke arah sebuah lorong yang sepi, penghubung fakultas seni rupa dan desain dengan fakultas teknik. Mereka membawa tubuh Heeyoung ke sebuah gudang yang terletak di sisi kiri lorong.

Setelah mengunci pintu gudang, mereka segera melemparkan tubuh Heeyoung ke arah tumpukkan kursi yang  sudah usang. Heeyoung ketakutan melihat tiga orang pria di depannya, persis menyeringai seperti serigala yang baru melihat mangsanya.

“ Siapa kalian?” Heeyoung menjerit namu ketiga pria dengan wajah tertutup topeng itu hanya tertawa. Memang percuma saja berteriak karena ruangan tempat mereka menyekap Heeyoung saat ini adalah bekas ruangan latihan UKM seni musik, dengan panel akustik peredam suara yang masih menempel di dindingnya. Percuma saja berteriak karena tidak akan terdengar sampai ke luar.

Setelah bertahun-tahun ruang itu memang terbengkalai, karena kapasitasnya yang tidak bisa menampung seluruh anggota, ruang UKM seni musik akhirnya dipindahkan dan ruangan ini menjadi gudang tempat menyimpan kursi dan meja yang terbengkalai.

“ Tenang gadis manis, kami tidak akan melakukan apapun padamu kalau kau berjanji tidak berteriak…”

Heeyoung semakin brutal bahkan ketika salah seorang diantara mereka meraba kulit wajahnya, gadis itu segera mencakar sang pria hingga mengeluarkan darah.

“ Kau berani rupanya!”

Dua orang pria lain dengan sigap menyiksa Heeyoung, menarik rambut gadis itu, menampar pipinya berulang kali dan tanpa segan merobek baju yang dikenakannya sehingga menampakkan pakaian dalam milik gadis itu. Seorang pria lainnya segera mengeluarkan ponselnya dan memfoto keadaan Heeyoung yang cukup menyedihkan.

“ TIDAK! JANGAN…” Gadis itu berusaha menutupi bagian tubuhnya yang sudah setengah terbuka.

“ Hahaha, kami juga membawa pesan untukmu, cantik…”

Seorang pria yang sejak tadi menarik rambutnya, mengambil ponselnya dan memutar sebuah rekaman suara.

“ Kau bisa merasakan sakitnya, perempuan murahan… ini akibat yang harus kau alami kalau kau mendekati Luhan! Sekarang nikmatilah semuanya… karena ini memang pantas untumu…”

           Heeyoung terperangah karena ia tidak menyangka semua ini didapatkannya hanya karena menjadi kekasih Luhan padahal selama ini ia tidak pernah diperlakukan sekeji ini oleh siapapun. Tidak akan ada yang berani menyentuhnya.

“ Hahahah… kau tidak bisa lari…” seorang pria lainnya dengan sangat berani mendekati Heeyoung dan melucuti pakaian gadis itu.

“ APA YANG AKAN KALIAN LAKUKAN?!” Heeyoung tidak berdaya di bawah tiga orang pria bertubuh kekar yang mengelilinginya. Namun kehormatannya hampir terenggut, ia tidak bisa bertahan lebih lama.

“ TOLONG! SIAPAPUN! AKU MOHON TOLONG AKU!”

“ TERIAKLAH SEPUASMU! TIDAK AKAN ADA YANG MENOLONG! TIDAK AKAN ADA! HAHAHAHAHA…”

Heeyoung berusaha menendang setiap pria yang mendekati tubuhnya dan mengusap bagian-bagian sensitifnya.

“ SINGKIRKAN TANGAN KOTOR KALIAN DARIKU! TOLONGGGGGG! AKU MOHON! TOLONG AKU…”

***

Woohyun berjalan sendirian, ia berniat mengantarkan dokumen Myungsoo yang tertinggal di rumahnya karena kemarin pria itu memaksa untuk menginap dan alhasil Woohyun tidak bisa belajar karena Myungsoo yang memakai kamarnya untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Jalan yang menghubungkan fakultas teknik dan fakultas seni rupa dan desain memang ada beberapa tapi jalan yang digunakan Woohyun adalah yang tersingkat dengan rute terdekat dari program studinya. Tetapi jarang ada yang ingin melewati lorong itu karena akan bermuara dengan ruangan dosen fakultas seni rupa dan desain.

“ SINGKIRKAN TANGAN KOTOR KALIAN DARIKU! TOLONGGGGGG! AKU MOHON! TOLONG AKU…”

Woohyun tertegun, ia seperti mendengar teriakan. Bulu kuduknya meremang, ia tidak percaya hantu tetapi apa yang barusan ia dengar seperti nyata. Ia tidak percaya ada manusia di sekitar lorong karena nyatanya memang seluruh ruangan di lorong itu terkunci.

“ TOLONG! TOLONG AKU!”

Woohyun mendengar teriakan itu, kali ini didorong rasa penasaran, ia mendekati semua pintu yang ada di sana untuk mencari sumber suara. Ternyata teriakan itu berasal dari sebuah ruangan yang di atasnya bertuliskan gudang.

“ Siapa yang berada di gudang?”

Woohyun mengintip dari celah-celah jendela yang tidak sepenuhnya tertutup gorden dan ia terkejut mendapati sesuatu yang terjadi di dalam. Dengan berani ia mendobrak pintu gudang tersebut dan mendapati Heeyoung dalam keadaan terluka dan tubuhnya yang sedang dipegangi oleh beberapa pria sementara pria yang satunya hampir melucuti semua benang yang tersisa dari tubuh Heeyoung.

“ SIAPA KAU?! BERANI SEKALI KAU MASUK KE SINI!”

Woohyun sama sekali tidak gentar, ia segera menendang tubuh pria yang sedang berlutut di depan Heeyoung dan tentu saja perkelahian tiga lawan satu tidak bisa dihindari. Woohyun, walaupun ia pemegang sabuk hitam karate, tetap saja kewalahan jika harus menghadapi tiga orang pria sekaligus. Dengan cepat ia menghajar dua orang pria sekaligus, sementara satu orang pria lain hampir menusuknya dari belakang kalau saja Heeyoung tidak segera menendang kepala pria itu dengan telak.

Berhasil merubuhkan salah seorang pria, sementara dua orang lain walaupun butuh perjuangan, segera berhasil dilumpuhkan oleh Woohyun. Pria itu mengusap ujung bibirnya yang berdarah dan mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya, dan mengusap bagian tubuhnya yang terluka di sana sini. Ia segera mendekati Heeyoung yang sudah memakai pakaiannya kembali, hanya saja ia tetap harus menutupui bagian depan kaosnya yang sudah robek dan mempertontonkan tubuhnya.

Woohyun berlutut dan segera melepaskan jaketnya, ia memakaikan jaket itu ke tubuh Heeyoung sebelum menarik tubuh gadis itu.

“ Kau tidak apa-apa?”

Heeyoung menggeleng, ia masih terlalu syok dengan kejadian yang baru saja ia alami.

“ Kita harus cepat pergi… mereka akan segera bangun…”

Heeyoung menurut, ia segera berlari meninggalkan gudang bersama Woohyun yang terus menggenggam tangannya.

“ Tenang saja aku akan melindungimu…”

***

Chanyeol berjalan penuh amarah, ia bahkan tidak memperdulikan sapaan para pelayan di rumahnya. Hanya satu tempat yang berusaha ia tuju, kalau saja ayahnya tidak mendadak pergi ke luar kota, ia tentu tidak perlu sampai harus pulang ke rumah. Karena hanya satu orang yang bisa memberikannya penjelasan.

Eomma…”

“ Chanyeol… kau sudah pulang?” Nyonya Park mendekati putranya dan hendak menghapus peluh yang membanjiri wajah Chanyeol, hanya saja pria itu menolak dengan menepis tangan ibunya.

“ Ada apa, nak?”

“ APA MAKSUDNYA SEMUA INI? KELUARGA LU MENIPU KITA, PERUSAHAAN MEREKA BAHKAN TIDAK TERKENA MASALAH APAPUN!”

Chanyeol berteriak marah, ia melemparkan dokumen yang baru didapatkannya tadi pagi ke meja rias yang berada di kamar orang tuanya. Tanpa diduga sang ibu hanya tersenyum dan mengambil dokumen itu.

“ Kau memang cerdas, nak… memang bukan itu alasan yang sebenarnya mengapa kami menikahkan Jihyo dengan Luhan…”

Chanyeol terlihat tidak sabaran, pria itu menatap ibunya dengan marah.

“ Lalu kenapa?”

“ Kau memang tidak bisa lagi dibohongi, Chanyeol… alasan sebenarnya adalah…”

To Be Continued

One thought on “[Korean Fanfiction/ Straight/ Series] Never Reachable (Chapter 6-Don’t Ever Let Go of My Hand)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s